Anda di halaman 1dari 12

PROFESI KEGURUAN

1. PENDAHULUAN
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Pendidikan adalah suatu
bentuk investasi jangka panjang yang penting bagi seorang manusia.
Pendidikan yang berhasil akan menciptakan manusia yang pantas dan
berkelayakan di masyarakat seta tidak menyusahkan orang lain.
Masyarakat dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju
mengakui bahwa pendidik / guru merupakan satu diantara sekian banyak
unsure pembentuk utama calon anggota masyarakat. Namun, wujud
pengakuan itu berbeda-beda antara satu masyarakat dan masyarakat yang
lain. Sebagian mengakui pentingnya peranan guru itu dengan cara yang
lebih konkrit, sementara yang lain masih menyangsikan besarnya tanggung
jawab seorang guru, termasuk masyarakat yang sering menggaji guru lebih
rendah daripada yang sepantasnya.
Demikian pula, sebagian orang tua kadang-kadang merasa cemas
ketika menyaksikan anak-anak mereka berangkat ke sekolah, karena masih
ragu akan kemampuan guru mereka. Di pihak lain setelah beberapa bulan
pertama mengajar, guru-guru pada umumnya sudah menyadari betapa
besar pengaruh terpendam yang mereka miliki terhadap pembinaan
kepribadian peserta didik. Kesadaran umum akan besarnya tanggung jawab
seorang guru serta berbagai pandangan masyarakat terhadap peranannya
telah mendorong para tokoh dan ahli pendidikan untuk merumuskan ruang
lingkup tugas, tanggung jawab dan kualifikasi yang seharusnya dipenuhi
oleh guru, sebagai pengajar guru mempunya tugas menyelenggarakan
proses belajar-mengajar tugas yang mengisi porsi terbesar dari profesi
keguruan ini pada garis besarnya meliputi minimal empat pokok, yaitu :
1. menguasai bahan pengajaran
2. merencanakan program belajar-mengajar
3. melaksanakan, memimpin dan mengelola proses belajar-mengajar serta,
4. menilai dan mengevaluasi kegiatan belajar-mengajar
Kemudian aspek-aspek apa saja yang dapat mendorong seorang guru
dapat mengembangkan proses belajar mengajar? Apa indikatornya? Serta
kompensasi macam apa yang dijalankan guna tercapainya proses belajar
mengajar dalam upaya mengembangkan profesionalismenya?
1. LANDASAN
Profesi Keguruan, Kata Profesi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian
(ketrampilan, kejuruan, dsb) tertentu. Di dalam profesi dituntut adanya
keahlian dan etika khusus serta standar layanan. Pengertian ini
mengandung implikasi bahwa profesi hanya dapat dilakukan oleh orang-
orang secara khusus di persiapkan untuk itu. Dengan kata lainprofesi bukan
pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak memperoleh
pekerjaan lain.
Suatu profesi memerlukan kompetensi khusus yaitu kemampuan
dasar berupa ketrampilan menjalankan rutinitas sesuai dengan petunjuk,
aturan, dan prosedur teknis. Guru memerlukan kompetensi khusus yang
berkenaan dengan tugasnya. Hal itu karena pendidikan tidak terjadi secara
alami, tetapi dengan disengaja (disadari). Hubungan yang sederhana dan
akal sehat saja belum cukup untuk melaksanakan pengajaran yang baik.
Kompetensi guru tentu saja sinkron dengan bidang tugasnya, yaitu
pengajaran, bimbingan dan administrasi. Ada anggapan bahwa untuk
menjadi guru tidak perlu mempelajari metode mengajar, karena kegiatan
mengajar bersifat praktis dan alami, siapapun dapat mengajar asalkan
memiliki pengetahuan tentang apa yang akan diajarkan. Dari
pengalamannya, orang kelak akan dapat meningkatkan kualitas
pengajarannya. Memang ada orang yang kebetulan dapat mengajar dengan
baik tanpa mempelajari metode mengajar, tetapi ada pula yang juga
kebetulan tidak dapat mengajar dengan baik karena tidak memperlajarinya.
Pada dasarnya, guru-guru kebetulan itu bersandar kepada pengalaman
pribadinya di dalam mengajar. Pada dasrnya pula, metodologi pengajaran
merupakan hasil pengkajian dan pengujian terhadap pengalaman yang
tidak lagi kebetulan, tetapi pengalaman yang mempunyai kebenaran
berdasarkan metode ilmiah. Dengan demikian, metodologi pengajaran jauh
lebih memberikan kemudahan kepada guru dalam menjalankan tugas
mengajar. Di samping itu, ilmu pengetahuan dan orientsai pendidikan di
zaman sekarang mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini menuntut
guru untuk memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan orientasi
pendidikan yang baru serta metode-metode mengajar yang sesuai dengan
perkembangan baru tersebut. Keberadaan metodologi pengajaran
menunjukkan pentingnya kedudukan metode dalam system pengajaran.
Tujuan dan isi pengajaran yang baik tanpa didukung metode penyampaian
yang baik dapat melahirkan hasil yang tidak baik. Atas dasar itu,
pendidikan penaruh perhatian yang besar terhadap masalah metode.
1. PROSES PERKEMBANGAN DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR
Para ahli mengumakakan definisi belajar yang berbeda-beda, namun
tampaknya ada semacam kesepakatan di antara mereka yang menyatakan
bahwa perbuatan belajar mengandung perubahan dalam diri seseorang
yang telah melakukan perbuatan belajar. Perubahan itu bersifat intensional
berarti perubahan itu terjadi karena pengalaman atau praktik yang
dilakukan pelajar dengan sengaja dn disadari bukan kebetulan. Sifat positif
berarti perubahan itu bermanfaat sesuai dengan harapan pelajar. Sifat aktif
berarti perubahan itu terjadi karena usaha yang dilakukan pelajar, bukan
terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan. Sifat efektif
berarti perubahan itu memberikan pengaruh dan manfaat bagi pelajar.
Adapun sifat fungsional berarti perubahan itu relative ttap serta dapat
diproduksi atau dimanfaatkan setiap kali dibutuhkan.
Perubahan dalam belajar bisa berbentuk kecakapan, kebiasaan,
sikap, pengertian, pengetahuan atau apresiasi (penghargaan) perubahan
tersebut bisa meliputi keadaan dirinya, pengetahuannya, atau
perbuatannya. Artinya; Orang yang sudah melakukan perbuatan belajar
bisa merasa lebih bahagia, lebih pandai menjaga kesehatan,
memanfaatkan alam sekitar, meningkatkan pengabdian untuk kepentingan
umum, dapat berbicara lebih baik dapat memainkan suatu alat musik atau
melakukan suatu perbedaan, perubahan tersebut juga bisa bersifat
pengadaan penambahan ataupun perluasan, pendek kata, di dalam diri
seorang pelajar terdapat perbedaan keadaan antara sebelum dan sesudah
melakukan kegiatan belajar.
Pengertian di atas memberi petunjuk bahwa keberhasilan belajar
dapat diukur berdasarkan perbedaan cara berpikir merasa dan berbuat
sebelum dan sesudah memperoleh pengalaman belajar dalam menghadapi
situasi yang serupa. Umpamanya sebelum belajar pelajar belum dapat
berwudlu, kemudian terjadi proses belajar mengajar, guru memberitahukan
kepada pelajar syarat, rukun, bacaan dan tata cara berwudlu lalu pelajar
mempraktikannya dan berlatih sampai akhirnya pelajar mampu berwudlu.
Contoh lain pelajar diminta guru untuk berenang dari satu tepi kolam ke
tepi yang lain, pelajar yang belum mengenal sama sekali situasi kolam
renang langsung terjun dan hampir tenggelam. Guru yang memang sudah
mengantisipasi bahwa hal itu akan terjadi segera membantunya dan
mengajarinya cara berenang. Setelah belajar ia akhirnya dapat berenang,
dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan pada cara pendekatan pelajar
yang bersangkutan dalam menghadapi tugas-tugas selanjutnya merupakan
bukti bahwa kegiatan belajar telah berhasil.
Bagaimana manusia belajar atau bagaimana belajar terjadi? Apa
tanda-tanda bahwa ia telah belajar atau apa saja manifestasi belajar itu?
Persoalan pertama berkaitan dengan perbuatan belajar, sedangkan
persoalan kedua mengenai hasil belajar. Dengan mengetahui dua persoalan
tersebut guru diharapkan dapat menentukan strategi dan langkah-langkah
taktis pengajaran karena pengajaran adalah membuat pelajar belajar.
Istilah pelajar dipilih ketimbang pelajar untuk menekankan pengertian
tersebut.
Ada kecenderungan di masa sekarang untuk melupakan bahwa
hakikt pendidikan adalah belajarnya pelajar, bukan mengajarnya guru, guru
mendapat posisi yang istimewa dalam proses pendidikan sementara
keinginana dan kemampuan pelajar secara mandiri untuk menciptakan,
menemukan dan belajar untuk dirinya sendiri diabaikan. Hal itu telah
merendahkan peranan pelajar dalam proses pendidikan, padahal belajar,
sebagaimana ditekankan oleh John Dewey, menyangkut apa yang harus
dikerjakan oleh pelajar untuk dirinya sendiri.
Oleh sebab itu, inisiatif belajar harus dating dari pelajar sendiri, guru
hendaknya memposisikan diri sebagai pembimbing dan pengarah yang
mengemudikan perahu, sedangkan tenaga untuk menggerakkan perahu
tersebut berasal dari pelajar. Guru harus mendorong pelajar untuk belajar
mandiri dengan dan bagi diri mereka sendiri, dengan kata lain, guru harus
menjamin bahwa pelajar mampu menerima tanggung jawab untuk belajar
dengan mengembangkan sikap dan antusiasnya. Dipandang dari
pengertian di atas, barangkali tidak berlebihan jika dikatakan bahwa
sebenarnya tidak ada tujuan pengajaran yang ada hanyalah tujuan
belajar dilihat dari posisi guru sebagai pendorong kegiatan belajar maka
tujuan trsebut tujuan pembelajaran.
Untuk mencapai interaksi belajar mengajar dibutuhkan komunikasi
anatra guru dan peserta didik yang memadukan dua kegiatan. Yaitu
kegiatan mengajar (usaha guru) dan kegiatan belajar (tugas peserta didik).
Guru perlu mengembangkan pola komunikasi yang efektif dalam proses
belajar mengajar, karena seringkali kegagalan pengajaran disebabkan oleh
lemahnya system komunikasi. Tujuan yang telah dirumuskan dengan jelas
sangat membantu guru dalam membuat perencanaan, demikian halnya
dengan prinsip-prinsip psikologi. Dalam perencanaan program pengajaran,
banyaknya pengalaman guru dalam memilih prosedur pengajaran akan
sangat membantunya dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkan.
Sistem pengajaran di sekolah sekarang ini mengelompokkan tujuan
pendidikan yang hendak dicapai ke dalam tiga bidang, yaitu :
1. segi kognitif yang meliputi pengetahuan, pemahaman, penerapan
(aplikasi), analisis, sintesis dan evaluasi.
2. Segi efektif yang meliputi memperhatikan, merespon, menghayati dan
menginternalisasi nilai.
3. Segi psikomotorik yang meliputi persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing,
gerakan terbiasa dan gerakan (respons) kompleks.
1. PENUTUP / KESIMPULAN
Aspek-aspek yang berhubungan dengan kediatan belajar mengajar
jika diidentifikasi melalui cirri-ciri kegiatan yang disebut belajar adalah
suatu aktivitas yang menghasilakn perubahan pada diri individu yang
belajar baik actual maupun potensial, perubahan itu pada pokoknya adalah
didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relative
lama dan yang jelas perubahan itu terjadi karena proses dan usaha.
Kondisi fisiologis juga sangat berpengaruh terhdap belajar seseorang,
orang yang sehat jasmaninya akan lain belajarnya dari orang yang kurang
sehat. Dan yang tidak kalah penting adalah kondisi panca indera terutama
penglihatan dan pendengaran.
Semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja berpengaruh
terhadap proses belajar, beberapa factor psikologis yang utama meliputi,
minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif.
Msseski diakui tujuan pendidikan itu meliputi 3 aspek yaitu aspek kognitif,
aspek afektif dan aspek psikomotor namun yang terutama adalah aspek
kognitif, dan bahkan aspek kognitif sajalah yang perlu dikembangkan.
REFERENSI
1.
1. Syah, Muhibin. 2003. Psikologi Belajar, Jakarta PT Raja Grafindo
Persada.
2. Winkel, WS. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta Gramedia
Widiasarana Indonesia.
3. Purwanto, M. Ngalim. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung PT
Remaja Rosdikarya.
4. DR. H. A. Qodri A. Azizy, MA. 2002. Psikologi Pendidikan Agama.
Departemen Agama RI.

PENGERTIAN DAN CIRI-CIRI PROFESI KEGURUAN


A. PENGERTIAN PROFESI GURU

Menurut Amitai Etzioni (1969:89) guru adalah jabatan semiprofesional karena:


"...The training (of teacher) is shorter, their status less legitimated (low or moderate), their right to
privilege communication less established; there is less of a specialized knowledge, and they have less
autonomy from supervision or societal control than 'the professions'..."

Guru harus dilihat sebagai profesi yang baru muncul, dan karena itu mempunyai status yang lebih tinggi
dari jabatan semiprofesional, bahkan mendekati jabatan profesi penuh. Pada saat sekarang, sebagian
orang cenderung menyatakan guru sebagai suatu profesi, dan sebagian lagi tidak mengakuinya. Oleh
sebab itu, dapat dikatakan jabatan guru sebagian, tetapi bukan seluruhnya adalah jabatan profesional,
namun sedang bergerak ke arah itu. Kita di Indonesia dapat merasakan jalan ke arah itu mulai ditapaki,
misalnya dengan adanya peraturan dari Mentri Pendidikan dan Kebudayaan bahwa yang boleh menjadi
guru hanya yang mempunyai akta mengajar yang dikeluarkan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan (LPTK). Selain itu juga guru diberi penghargaan oleh pemerintah melalui Keputusan
Menpan No. 26 tahun 1989, dengan memberikan tunjangan fungsional sebagai pengajar dan dengan
kemungkinan kenaikan pangkat yang terbuka.

Setelah kita bahas profesionalisasi, mungkin dalam hati Anda timbul pertanyaan, untuk apa dibicarakan
profesionalisasi dunia kependidikan? Kalau dipahami secara baik, kriteria jabatan profesional yang
telah dibicarakan di atas, maka jelaslah bahwa jabatan profesional sangat memprhatikan layanan ini
secara optimal, serta menjaga agar masyarakat jangan sampai dirugikan oleh orang-orang yang tidak
bertanggung jawab, tuntutan jabatan profesional harus sangat tinggi. Profesi kependidikan, khususnya
profesi keguruan, tugas utamanya adalah melayani masyarakat dalam dunia pendidikan.

B. CIRI-CIRI PROFESIONAL KEGURUAN

Ciri-ciri profesionalisasi jabatan guru akan mulai nampak, seperti yang dikemukakan oleh Robert W.
Richey (1974) sebagai berikut.
1. Para guru akan bekerja hanya semata-mata memberikan pelayanan kemanusiaan daripada
usaha untuk kepentingan pribadi.

2. Para guru secara hukum dituntut untuk memenuhi berbagai persyaratan untuk mendapatkan
lisensi mengajar serta persyaratan yang ketat untuk menjadi anggota organisasi guru.

3. Para guru dituntut memiliki pemahaman serta keterampilan yang tinggi dalam hal bahan
pengajar, metode, anak didik, dan landasan kependidikan.

4. Para guru dalam organisasi profesional, memiliki publikasi profesional yang dapat melayani
para guru, sehingga tidak ketinggalan, bahkan selalu mengikuti perkembangan yang terjadi.

5. Para guru, diusahakan untuk selalu mengikuti kursus-kursus,workshop, seminar, konvensi serta
terlibat secara luas dalam berbagai kegiatan in service.

6. Para guru diakui sepenuhnya sebagai suatu karier hidup (a life career).

7. Para guru memiliki nilai dan etika yang berfungsi secara nasional maupun secara lokal.

Khusus untuk jabatan guru ini sebenarnya juga sudah ada yang mencoba menyusun ciri-ciri.
Misalnya National Education Association(NEA) (1948) menyarankan ciri-ciri sebagai berikut.

1. Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual.

2. Jabatan yang meliputi batang tubuh ilmu yang khusus.

3. Jabatan yang memerlukan persiapan latihan yang lama.

4. Jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.

5. Jabatan yang menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen.

6. Jabatan yang menentukan bakunya sendiri.

7. Jabatan yang mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi.

8. Jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin rapat.
1. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG mengembangkan keagamaan, potensi
pengendalian diri, dirinya untuk memiliki kepribadian, kecerdasan kekuatan akhlak
spiritual mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara. Lebih lanjut mengenai organisasi profesi keguruan di jelaskan dalam
undangundang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dalam pasal 41
dijelaskan bahwa guru membentuk organisasi profesi yang brsifat andependent dan
berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan
kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan dan pengabdian kepada
masyarakat. Dalam pasal ini dijelaskan juga bahwa guru wajib menjadi anggota
organisasi profesi. Berdasarkan dua batasan di atas, maka organisasi profesi di
Indonesia ini tidak hanya memprioritaskan memajukan profesi, meningkatkan
kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan dan
pengabdian kepada masyarakat tetapi perkembangan individu (siswa) sebagai
pribadi yang unik secara utuh. Oleh karena setiap satuan pendidikan harus
memberikan layanan yang dapat memfasilitasi perkembangan pribadi siswa secara
optimal berupa pengajaran kelas, Pemahaman mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan profesi keguruan juga harus di prioritaskan. Hal ini merupakan bagian dari
kompetensi yang juga harus dikuasai oleh siswa. B. TUJUAN Untuk mengetahui
materi tentang profesi Keguruan. ii
2. BAB II PEMBAHASAN A. KONSEP ORGANISASI KEGURUAN Kelahiran suatu
organisasi keprofesian tidak terlepas dari perkembangan jenis bidang pekerjaan
yang bersangkutan, karena organisasi tersebut pada dasarnya dan lazimnya dan
dapat terbentuk atas prakarsa dari pengemban bidang pekerjaan tadi.[1] Beberapa
organisasi profesi kependidikan di indonesia, disamping PGRI, yang sudah rilatif
berkembang pesat diantaranya Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI).
Organisasi ini beranggotakan para sarjana pendidikan dari berbagai bidang
pendidikan, yang didalamnya mempunyai sejumlah himpunan sejenis seperti
Himpunan Sarjana Pendidikan Biologi, Himpunan Sarjana Pendidikan Bahasa dan
sebagainya. Organisasi lain yang sudah lebih berkembang ialah Asosiasi Bimbingan
dan Konseling Indonesia (ABKIN) yang dulu bernama Ikatan Petugas Bimbingan
Indonesia (IPBI).[2] Kedua organisasi ini menaruh perhatian pada pendidikan
kebutuhan khusus, terutama bagi kelompok yang mengalami gangguan dalam
perkembangan baik secara fisik, mental, maupun sosial. Organisasi apapun yang di
bentuk oleh sebuah profesi, tujuan akhirnya adalah memberi manfaat kepada
anggota profesi itu terutama di dalam meningkatkan kemampuan profesional,
melindungi anggota dalam melaksanakan layanan profesional, dan melindungi
masyarakat dari kemungkinan melapraktek dari layanan profesional. B.
PENGERTIAN, FUNGSI, DAN TUJUAN ORGANISASI PROFESIONAL Organisasi profesi
merupakan organisasi yang anggotanya adalah para praktisi yang menetapkan diri
mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk melaksanakan fungsi-fungsi
sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam kapasitas mereka sebagai
individu. Sebagaimana dijelaskan dalam PP No. 38 tahun 1992, pasal 61 ada lima
misi dan tujuan organisasi kependidikan, yaitu meningkatkan dan atau
mengembangkan: karier, kemampuan, kewenangan profesional, martabat dan
kesejateraan seluruh ii
3. tenaga kependidikan. Sedangkan visinya secara umum adalah terwujudnya
tenaga kependidikan yang profesional. Organisasi profesi kependidikan memiliki
fungsi tersendiri yang bermanfaat bagi anggotanya. Organisasi profesi kependidikan
berfungsi sebagai berikut: 1. Fungsi pemersatu Kelahiran suatu organisasi profesi
tidak terlepas dari motif yang mendasarinya, yaitu dorongan yang menggerakan
para profesional untuk membentuk suatu organisasi keprofesian. Organisasi profesi
kependidikan merupakan wadah pemersatu berbagai potensi profesi kependidikan
dalam menghadapi kompleksitas tantangan dan harapan masyarakat pengguna
jasa kependidikan. Dengan mempersatukan potensi tersebut diharapkan organisasi
profesi kependidikan memiliki kewibawaan dan kekuatan dalam menentukan
kebijakan dan melakukan tindakan bersama, yaitu uaya untuk melindungi dan
memperjuangkan kepentingan para pengemban profesi kependidikan itu sendiri dan
kepentingan masyarakat pengguna jasa profesi ini. 2. Fungsi peningkatan
kemampuan profesional fungsi ini secara jelas tertuang dalam PP No. 38 tahun
1992, pasal 61 yang berbunyi tenaga kependidikan dapat membentuk ikatan
profesi sebagai wadah untuk meningkatkan dan mengembangkan karier,
kemampuan, kewenangan profesional, martabat dan kesejahteraan tenaga
kependidikan peraturan pemerintah tersebut menunjukan adanya legalitas formal
yang secara tersirat mewajibkan anggota profesi kependidikan untuk selalu
meningkatkan kemampuan profesionalnya melalui organisasi atau ikatan profesi
kependidikan. Bahkan dalam UUSPN Tahun 1989 : pasal 31 ayat 4 menyatakan
bahwa, tenaga kependidikan berkewajiban untuk berusaha mengembangkan
kemampuan profesionalnya sesuai dengan perkembangan tuntutan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta pembangunan bangsa.[3] Dalam PP No. 38 1992,
pasal 61, ada 5 misi dan tujuan organisasi pendidikan, yaitu ; meningkatkan dan
mengembangkan, a. Karier anggota b. Kemampuan anggota c. Kewenangan
professional anggota d. Martabat anggota e. Kesejahteraan anggota Selain itu
organisasi profesi guru juga mempunyai kewenangan : a. Menetapkan dan
menegakkan kode etik guru. b. Memberikan bantuan hukum kepada guru. ii
4. c. Memberikan perlindungn profesi guru. d. Melakukan pembinaan dan
pengembangan profesi guru. e. Memajukn pendidikan nasional.[4] C. BENTUK,
CORAK, STRUKTUR, KEDUDUKAN, DAN KEANGGOTAAN 1. Bentuk dan corak
organisasi kependidikan Bentuk organisasi kependidikan begitu bervariasi
dipandang dari segi derajat dan keterkaitan antar anggotanya. Ada tiga bentuk
organisasi profesi kependidikan : a. Pertama, bentuk persatuan ( union), antara lain
di Australia, singapura, dan Malaysia. Misalnya : Australian education union (AUE).
b. Kedua, berbentuk federasi ( federation) antara lain di india dan Bangladesh,
misalnya : all india primary teachers federation (AIPTF). c. Ketiga, berbentuk aliansi
(alliance), antara lain di Filipina, seperti national alliance of teachers and office
workers (NATOW). d. Keempat, berbentuk asosiasi ( association ), seperti yang
terdapat dikebanyakan Negara, misalnya, brunei malay teachers association (BMTA)
di brunei. 2. Struktur dan kependudukan organisasi kependidikan Berdasarkan
struktur dan kependudukannya, organisasi kependidikan terbagi tiga kelompok,
yaitu : a. Organisasi profesi kependidikan yang bersifat local (kedaerahan dan
kewilayahan). b. Organisasi profesi kependidikan yang bersifat nasional. c.
Organisasi kependidikan yang bersifat internasional. 3. Keanggotaan organisasi
profesi kependidikan Dengan adanya keragaman bentuk dan corak serta struktur
kedudukan organisasi profesi kependidikan/keguruan seperti telah dipaparkan
dimuka, dengan sendirinya keanggotaan organisasi kependidikan ini beragam pula.
Akan tetapi pada umumnya organisasi profesi kependidikan yang bersifat asosiasi
atau persatuan langsunga dari setiap pribadi pengamban profesi yang
bersangkutan. Sedangkan keanggotaan organisasi profesi kependidikan yang
bersifat federasi cukup terbatas oleh pucuk organisasi yang berserikat saja. ii
5. D. RAGAM BENTUK PARTISIPASI GURU Bentuk partisipasi anggota profesi tidak
sebatas terdaftar menjadi anggota dengan memberikan sejumlah iuran rutin,
namun lebih dalam bentuk nyata yang bersifat professional. Beberapa bentuk
partisipasi guru dalam profesi guru pendidikan bisa berupa : a. Aktif
mengomunikasikan berbagai pikiran dan pengalaman yang mengarah kepada
pembaharuan dan perbaikan mutu pendidikan. Komunikasi ini bisa dalam bentuk
seminar, symposium, dan sejenisnya atau komunikasi tertulis dalam bentuk jurnal
profesi atau media lainnya. b. Secara aktif melakukan evaluasi diri, baik secara
perorangan maupun kelompok dalam hal praktek professional (pendidikan) dengan
mengacu kepada standar profesi yang telah ditetapkan oleh organisasi profesi.
Setiap profesi mesti memiliki standar profesi baik untuk praktik maupun proses
pendidikan, dan standar ini dijadikan patokan bagi praktik dan layanan profesi
dimasyarakat. Seorang guru professional mesti secara aktif melakukan evaluasi
apakah dirinya sedah melakukan praktik atau layanan pendidikan dengan mengacu
kepada standar professional itu. c. Mewujudkan prilaku dan sikap professional
dalam kehidupan dan lingkungan kerja guru itu sendiri. Partisipasi ini ialah dalam
bentuk mewujudkan prilaku dan sikap professional dalam kehidupan dan lingkungan
kerja guru. Ini merupakan partisipasi kedalam diri tetapi memiliki dampak besar
terhadap organisasi profesi. Disiplin, tanggung jawab, sikap professional yang
dilakukan guru didalam melaksanakan layanan pendidikan kepada anak akan
memperkokoh eksistensi dan identitas profesi, dan akan membentuk rekognisi atau
pengakuan masyarakat terhadap pekerjaan guru sebagai suatu profesi bahwa
pekerjaan guru tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang karena terikat pada
standar prilaku profesi.[5] E. ORGANISASI PROFESIONAL KEGURUAN DI INDONESIA
1. PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia lahir pada 25 November 1945, setelah
100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI adalah
diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian
berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932. Pada saat
didirikannya, organisasi ini disamping memiliki misi profesi juga ada tiga misi
lainnya, yaitu misi politis-deologis, misi peraturan organisaoris, dan misi
kesejahteraan. ii
6. a. Misi profesi PGRI adalah upaya untuk meningkatkan mutu guru sebagai
penegak dan pelaksana pendidikan nasional. Guru merupakan pioner pendidikan
sehingga dituntut oleh UUSPN tahun 1989: pasal 31; ayat 4, dan PP No. 38 tahun
1992, pasal 61 agar memasuki organisasi profesi kependidikan serta selalu
meningkatkan dan mengembangkan kemampuan profesinya. b. Misi politis teologis
tidak lain dari upaya penanaman jiwa nasionalisme, yaitu komitmen terhadap
pernyataan bahwa kita bangsa yang satu yaitu bangsa indonesia, juga penanaman
nilai-nilai luhur falsafah hidup berbangsa dan bernegara, yaitu pancasila. c. Misi
peraturan organisasi PGRI merupakan upaya pengejawantahan peaturan
keorganisasian , terutama dalam menyamakan persepsi terhadap visi, misi, dan
kode etik keelasan sruktur organisasi. d. Dipandang dari segi derajat keeratan dan
keterkaitan antaranggotanya, PGRI berbentuk persatuan (union). Sedangkan
struktur dan kedudukannya bertaraf nasional, kewilayahan, serta kedaerahan.
Keanggotaan organisasi profesi ini bersifat langsung dari setiap pribadi pengemban
profesi kependidikan. Dengan demikian PGRI merupakan organisasi profesi yang
memiliki kekuatan dan mengakar diseluruh penjuru indonesia. Arrtinya, PGRI
memiliki potensi besar untuk meningkatkan hakikat dan martabat guru,
masyarakat, lebih jauh lagi bangsa dan negara. 2. MGMP Musyawarah Guru Mata
Pelajaran (MGMP) didirikan atas anjuran pejabat-pejabat Departemen Pendidikan
Nasional. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan mutu dan profesionalisasi
dari guru dalam kelompoknya masing-masing. 3. KKG Kelompok Kerja Guru (KKG)
sebagai kelompok kerja seluruh guru dalam satu gugus. Pada tahap
pelaksanaannya dapat dibagi ke dalam kelompok kerja guru yang lebih kecil, yaitu
kelompok kerja guru berdasarkan jenjang kelas, dan kelompok kerja guru
berdasarkan atas mata pelajaran. Tujuan organisasi Kelompok Kerja Guru (KKG)
yaitu : a. Memfasilitasi kegiatan yang dilakukan di pusat kegiatan guru berdasarkan
masalah dan kesulitan yang dihadapi guru. b. Memberikan bantuan profesional
kepada para guru kelas dan mata pelajaran di sekolah. c. Meningkatkan
pemahaman, keilmuan, keterampilan serta pengembangan sikap profesional
berdasarkan kekeluargaan dan saling mengisi (sharing). ii
7. d. Meningkatkan pengelolaan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, dan
menyenangkan (Pakem).[6] Melalui KKG dapat dikembangkan beberapa
kemampuan dan keterampilan mengajar, seperti yang di ungkapkan Turney (Abin,
2006), bahwa keterampilan mengajar guru sangat memengaruhi terhadap kualitas
pembelajaran di antaranya; keterampilan bertanya, keterampilan memberi
penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan,
keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan memimpin diskusi
kelompok kecil dan perorangan. ii
8. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Organisasi profesi adalah suatu wadah
perkumpulan orang-orang yang memiliki suatu keahlian khusus yang merupakan
ciri khas dari bidang keahlian tertentu. Profesionalisme guru dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya adalah: a. Kepuasan kerja b. Supervisi pendidikan c.
Komitmen Kepuasan kerja diartikan sebagai cerminan sikap dan perasaan dari
individu terhadap pekerjaannya, atau keadaan emosional menyenangkan dan tidak
menyenangkan para pegawai memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja yang
tinggi sangat diperlukan dalam setiap usaha kerjasama guru untuk mencapai tujuan
sekolah, yang seperti kita ketahui bahwa pencapaian tujuan sekolah ini adalah
sesuatu yang diidam-idamkan. Tetapi sebaliknya dengan guru yang memiliki
kepuasan kerja yang rendah akan sangat sulit mencapai hasil yang baik. Seseorang
guru memiliki hak B. SARAN Untuk orang tua, serta pihak yang terkaik dengan
organisasi profesi guru, maupun pelaksanaan guru dalam kesehariannya yang
kurang sesuai dengan kode etik guru, bisa ikut andil dalam memecahkan
masalahnya. ii
9. DAFTAR PUSTAKA 1. Satory, Djaman dkk. 2008. Profesi Keguruan. Jakarta:
Universitas Terbuka 2. Kosasi Raflis, soetjipto. 2009. Profesi Keguruan. Jakarta:
Rineka Cipta 3. Mulyasa, E. 2009. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya Offset. 4. Prof. Soetjipto. 2004. Profesi keguruan. Jakarta: PT Rineka
Cipta 5. Udin Saud & cicih sutarsih. 2007. Pengembangan profesi keguruan. Jakarta:
Upi Press ii
10. ii