Anda di halaman 1dari 21

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode merupakan salah satu bagian penting dalam melakukan penelitian

yang berfungsi sebagai strategi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Metode

yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis

kuantitatif dan verifikatif. Mengenai metode penyelidikan deskriptif, Surakhmad

(1994: 143) mengemukakan bahwa Metode penyelidikan deskriptif berusaha

mencari pemecahan masalah melalui analisis tentang perubahan-perubahan sebab

akibat yakni meneliti faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau

fenomena yang diselidiki dan membandingkan sesuatu faktor dengan yang

lainnya. Sedangkan mengenai metode penelitian deskriptif analitik kuantitatif,

Trisnamansyah (2007: 40) mengemukakan bahwa

Penelitian deskriptif kuantitatif yang lebih intensif, dilakukan dengan


menggunakan metode deskriptif analitik. Penelitian ini bersifat deskriptif
karena mendeskripsikan keadaan yang ada, tetapi juga analitis karena
menganalisis fokus masalah atas aspek atau variabel-variabel, dan antara
aspek atau variabel-variabel tersebut dicari hubungannya. Pada dasarnya
ada dua bentuk hubungan antar variabel, yaitu hubungan sebab-akibat,
tetapi hanya saling berhubungan. Hubungan yang menunjukkan pengaruh,
diteliti dengan metode eksperimen dan dianalisis dengan uji perbedaan
atau analisis varians.

Menurut Sugiyono (2011:29) mendefinisikan bahwa :

Metoda Deskriftif adalah metoda yang digunakan untuk menggambarkan atau

menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat

94
95

kesimpulan yang lebih luas. Sedangkan metoda verifikatif menurut Mashuri

(2008) yang dikutif kembali oleh Umi Narimawati (2011:29) menyatakan bahwa :

penelitian verifikatif yaitu memeriksa benar tidaknya apabila dijelaskan untuk

menguji suatu cara dengan atau tanpa perbaikan yang telah dilaksanakan di tempat

lain dengan mengatasi masalah yang serupa dengan kehidupan. Penelitian ini

dimaksudkan untuk menguji hipotesis dengan menggunakan perhitungan statistik.

Dan penelitian ini digunakan untuk menguji pengaruh variabel X terhadap Y yang

diteliti. Verifikatif berarti mengujin teori dengan pengujian suatu hipotesis apakah

diterima atau tidak. Dengan menggunakan metode penelitian akan diketahui

hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti sehingga menghasilkan

kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti.

3.2 Unit observasi dan Lokasi

Dalam penelitian ini penulis mengambil obyek penelitian mengenai

Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Budaya Sekolah Terhadap Kinerja

Guru Serta Dampaknya Pada Prestasi Belajar Siswa, (Studi Deskriftif Analitis

dan verifikatif di SMP Negeri 19 Bandung).

3.3 Variabel Penelitian

3.3.1 Definisi Variabel dan Pengukurannya

Variabel dalam penelitian dapat dibedakan atas variabel bebas dan variabel

terikat. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Nana Sudjana (1988: 24) yang

mengemukakan bahwa Variabel bebas adalah variabel perlakuan atau segala


96

yang dimanipulasi untuk diketahui intensitasnya atau pengaruhnya terhadap

variabel terikat. Sedangkan variabel terikat adalah variabel yang timbul akibat

variabel bebas atau respon dari variabel bebas.

Di dalam penelitian ini penulis menggunakan 4 (empat) variabel, yang

terdiri atas 2 (dua) variabel bebas (independen) dan 1 (satu) intervening, dan 1

(satu) variabel terikat (dependen) sebagai berikut :

1. Variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) sebagai variabel bebas

(independen)

2. Variabel Budaya Sekolah (X2) sebagai variabel bebas (independen)

3. Variabel Kinerja Guru (Y) sebagai variabel intervening/antara

4. Variabel Prestasi Belajar Siswa (Z) sebagai variabel dependen

Pengukuran Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data

dalam penelitian ini adalah kuisioner, wawancara dan studi dokumenter. Kuisioner

dimaksudkan untuk menjaring data tentang Bagaimana Kepemimpinan sekolah

dan Budaya Sekolah , Kinerja Guru dan prestasi Belajar Siswa, sementara

wawancara dimaksudkan untuk menjaring data kelima variabel penelitian yang

tidak dapat dijaring dengan kuisioner, wawancara dan dokumentasi.

Dalam penyususnan instrumen digunakan model dari Likert yakni dengan

option sebagai berikut :

SS = Sangat setuju
S = Setuju
CS = Cukup setuju
KS = Kurang setuju
TS = Tidak Setuju
97

Kemudian masing-masing option diberikan bobot yang merentang

sebagaimana tercantum dalam label sebagai berikut :

Tabel : 3.1

Pembobotan masing-masing option

Nomor Option Skor


1. (SS) Sangat Setuju 5
2. (S) Setuju 4
3. (CS) Cukup Setuju 3
4. (KS) Kurang Setuju 2
5. (TS) 1

3.3.2 Operasionalisasi Variabel

Variabel segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut,

kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan definisi operasionalisasi variable

menurut Nur Indriantoro (2002) yang dikutif kembali oleh Umi Narimawati

(2011;31) sebagai berikut:

Definisi operasional adalah penetuan contruct sehingga menjadi variabal


yang dapat diukur. Definisi operasional menjelaskan cara tertentu dapat digunakan
oleh peneliti dalam mengoperasionalisasikan construct, sehingga memungkinkan
bagi peneliti yang lain untuk melakukan replikasi pengukuran dengan cara yang
sama atau mengembangkan cara pengukuran construct yang lebih baik.

Operasionalisasi variable diperlukan dalam menentukan jenis indicator,

serta skala dari variable-variabel yang terkait dalam suatu penelitian, sehingga

pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar

(Sugiyono, 2007) dalam Aditya (2009:1), Murti (1996) dalam Aditya (2009:2),

Variabel didefinisikan sebagai fenomena yang mempunyai variasi nilai.


98

Variasi nilai itu bisa diukur secara kualitatif atau kuantitatif.

Adapun operasioanal variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel 3.2
Operasionalisasi Variabel Penelitian
No
Variabel /Konsep Dimensi Indikator Pengukuran Skala
Kuis
Kepemimpinan Kepala 1. Pengambilan 1. Pengambilan Kepala sekolah melibatkan o 1
Sekolah Keputusan keputusan dila- guru dan TU dalam r
(Variabel X1) kukan secara mengambil kebijaksanaan d
partisipatif yang penting di sekolah i
Cara atau usaha Kepala 2. Pengambilan Kepala sekolah memutuskan n 2
Sekolah dalam mempe- keputusan bersifat suatu masalah berdasarkan a
ngaruhi, mendorong, objektif fakta data dilapangan. l
membimbing, mengarah- 3
Kepala sekolah mengambil
kan dan menggerakkan
keputusan sesuai dengan
guru, staf, siswa, orang tua
peraturan yang berlaku
siswa, dan pihak-pihak lain
3. Pengambilan Kepala Sekolah menetapkan 4
yang terkait, untuk bekerja/
keputusan relevan keputusan terhadap keber-
berperan serta guna
dengan kondisi hasilan siswa sesuai dengan
mencapai tujuan yang telah
siswa kondisi kemampuan siswa
ditetapkan. Singkatnya,
bagaimana cara kepala 2. Keterbukaan & 1. Kepala sekolah Kepala sekolah selalu terbuka 5
sekolah untuk membuat demokratis menjalankan kepe- terhadap masukan dan saran
orang lain bekerja untuk mimpinannya dari bawahan
mencapai tujuan sekolah secara terbuka. Kepala sekolah memberikan 6
(Dep-dikbud, 2000: 11). kesempatan kepada guru
bekerja secara optimal
2. Kepala sekolah Kepala sekolah dalam 7
memiliki memimpin berdasarkan
akuntabilitas peraturan yang berlaku
Semua keputusan Kepala 8
sekolah harus bisa di
pertanggungjawabkan
Kepala sekolah, guru dan TU 9
bersama-sama melakukan
evaluasi terhadap realisasi
RAPBS
3. Budaya demokrasi Kepala sekolah siap dikritisi 10
terbentuk diling- oleh bawahan atas kebijakan
kungan sekolah yang dibuatnya
Semua warga sekolah memiliki 11
kesempatan yang sama
dalam memberikan masukan
untuk kemajuan sekolah.
3. Pola Hubu- 1. Ada keakraban Kepala sekolah memberi 12
ngan atasan antara kepala kesempatan kepada guru dan
bawahan sekolah, guru, staf, TU untuk menyampaikan
dan siswa masalah-masalah yang
dihadapinya.
Kepala sekolah memperha- 13
tikan hubungan baik antar
pribadi kepada guru.
2. Kepala sekolah Kepala Sekolah terbuka terbuka 14
menerima kritikan menerima kritikan dari
dan saran bawahan
3. Ada kejelasan Kepala sekolah memberi aturan 15
pendelegasian dan prosedur secara rinci
tugas sehingga guru tinggal
mengikuti
99

No
Variabel /Konsep Dimensi Indikator Pengukuran Skala
Kuis
Kepala sekolah melakukan 16
instruksi kepada para guru
sesuai dengan tugas pokok
dan fungsinya
4. Kepala sekolah Kepala sekolah memberikan 17
memberikan ke- kesempatan yang sama
sempatan yang kepada semua guru dan staf
sama kepada se-
mua guru dan staf
Budaya Sekolah (X2) 1.Visi Sekolah 1. Mampu membe-rikan Sekolah mampu memberikan 18
Budaya sekolah adalah inspirasi, motivasi, inspirasi, motivasi, dan
pola makna yang dan kekuatan pada kekuatan pada warga sekolah
dipancarkan secara historis warga sekolah dan dan segenap pihak yang
yang mencakup norma, segenap pihak berkepentingan.
nilai, keyakinan, visi, misi yang berkepen-
dan tujuan, seremonial, tingan.
ritual, tradisi dan mitos 2. Merupakan ma-sukan Visi sekolah merupakan 19
dalam derajat yang dari berbagai masukan dari berbagai warga
bervariasi oleh warga warga satuan pen- satuan pendidikan dan pihak-
sekolah, oleh Stolp dan didikan dan pihak- pihak yang berkepentingan
Smith (Adi Kurnia dan pihak yang
Bambang Qomaruzzaman, berkepentingan
2012:25) 2. Misi Sekolah 1. Rumusan misi Rumusan misi memberikan 20
memberikan arah arah dalam mewujudkan visi
dalam mewujud- sekolah sesuai dengan tujuan
kan visi sekolah pendidikan nasional
sesuai dengan
tujuan pendidikan
nasional
2. Menekankan pada Misi Sekolah menekankan pada 21
kualitas layanan kualitas layanan peserta didik
peserta didik dan dan mutu luluan yang
mutu luluan yang diharapkan oleh satuan
diharapkan oleh pendidikan.
satuan pendidikan.
3. Dirumuskan ber- Misi Sekolah dirumuskan ber- 22
dasarkan masukan dasarkan masukan dari
dari segenap pihak segenap pihak yang berkepen-
yang berkepen- tingan termasuk komite
tingan termasuk sekolah dan diputuskan dalam
komite sekolah rapat dewan pendidik yang
dan diputuskan dipimpin oleh kepala sekolah
dalam rapat dewan
pendidik yang
dipimpin oleh
kepala sekolah.
3.Tujuan Sekolah 1.Mengacu pada misi Tujuan Sekolah mengacu pada 23
dan visi dan misi dan visi dan kebutuhan
kebutuhan masyarakat
masyarakat
2.Mengacu pada SKL Tujuan Sekolah mengacu pada 24
yang sudah SKL yang sudah ditetapkan
ditetapkan oleh oleh sekolah
sekolah
4.Fisik Sekolah 1.Simbol-simbol Warga sekolah membuat 25
memberikan simbol-simbol yang dapat
dorongan untuk memberikan memberikan
mencapai prestasi dorongan untuk mencapai
lebih tinggi prestasi lebih tinggi

2.Artifak membe-rikan Warga sekolah membuat artifak 26


nuansa belajar dengan tujuan memberikan
lebih baik dan nuansa belajar lebih baik dan
terarah terarah
7.Tradisi Sekolah 1. Sekolah sebagai pusat Sekolah menjadi tempat yang 27
100

No
Variabel /Konsep Dimensi Indikator Pengukuran Skala
Kuis
pembelajaran representatif untuk pem-
belajaran
2. Siswa menjadikan Suasana yang nyaman di 28
perpustakaan seba- perpustakaan membuat siswa
gai tempat belajar betah berlama-lama membaca
3. Kegiatan ekstra Kegiatan ekstra kulikuler 29
kulikuler menjadi menjadi sarana pembelajaran
sarana pembela- siswa.
jaran siswa
4. Ruang guru, ruang Ruang guru, BP/BK dan 30
BK dan sejenisnya sejenisnya menjadi solusi
menjadi pusat peningkatan belajar siswa.
pembelajaran
11. Nilai-nilai 1. Kepala sekolah, Kepala sekolah, tenaga 31
dan norma tenaga pengajar, pengajar, staf, siswa dan
staf, siswa dan orang tua memberikan
orang tua membe- partisipasinya dalam pengam-
rikan bilan keputusan sekolah
partisipasinya
dalam
pengambilan
keputusan sekolah
2. Nilai-nilai kerja-sama Nilai-nilai kerja-sama seluruh 32
seluruh kom-ponen komponen sekolah mendo-
sekolah rong proses pembelajaran
mendorong proses lebih sinergis
pembelajaran lebih
sinergis
3. Nilai-nilai sema-ngat Nilai-nilai semangat dari 33
dari seluruh seluruh komponen akan
komponen akan memotivasi siswa belajar
memotivasi siswa lebih baik
belajar lebih baik
14. Kepercayaan1. Seluruh siswa Seluruh siswa sesungguhnya 34
/keyakinan sesungguhnya dapat belajar dengan baik
dan asumsi- dapat belajar
asumsi dengan baik
2. Orang tua siswa Orang tua siswa meng-inginkan 35
menginginkan putra-putrinya sukses dalam
putra-putrinya belajar dan berbudi pekerti
sukses dalam luhur
belajar dan berbudi
pekerti luhur
3. Keyakinan agama Keyakinan agama mendorong 36
mendorong proses proses belajar agar lebih baik.
belajar agar lebih
baik.
4. Orang tua siswa Orang tua siswa adalah mitra 37
adalah mitra sekolah dalam pendidikan.
sekolah dalam
pendidikan.
5. Ekspektasi Siswa optimis dapat mencapai 38
keberhasilan, cita-citanya jika belajar di
sekolah ini
6. Disiplin sekolah Aturan yang dibuat sekolah 39
mendorong siswa mengem-
bangkan kemampuannya

Kinerja Guru 1. Kualitas kerja, 1. Merencanakan Guru mempunyai komitmen 40


(Y) program penga- dalam melaksanakan tugas
Kinerja adalah akumulasi jaran dengan tepat. mengajar siswa di kelas
101

No
Variabel /Konsep Dimensi Indikator Pengukuran Skala
Kuis
dari tiga elemen yang Guru menggunakan metode 41
saling berkaitan yaitu yang sesuai ketika melak-
keterampilan, upaya, dan sanakan kegiatan belajar
sifat-sifat keadaan mengajar
eksternal. 3. Melakukan penilaian Guru melakukan tes formatif 42
Suprapto (1999:14) hasil belajar. pada akhir pokok bahasan
Guru melakukan koreksi hasil 43
ulangan dan
mengkomunikasikannya
dengan siswa.
5. Berhati-hati dalam Guru menguasai bahan 44
menjelaskan materi pelajaran yang akan
ajar. disampaikan kepada siswa
Guru menggunakan bahan 45
pelajaran dari beberapa
sumber
Guru melaksanakan kegiatan 46
belajar mengajar dengan cara-
cara kreatif untuk memotivasi
siswa.
Guru melakukan bimbingan 47
kepada siswa secara baik
dalam kegiatan belajar
mengajar
9. Menerapkan hasil Guru melaksanakan penelitian 48
penelitian dalam tindakan kelas
pembelajaran
Hasil Penelitian dilakukan 49
untuk perbaikan belajar
mengajar
12.kecepatan dan1. menerapkan hal-hal Hasil penelitian dijadikan 50
ketepatan kerja baru dalam bahan untuk perbaikan guru
pebelajaran. Guru memiliki tingkat ke- 51
mampuan yang dikembang-
kan untuk meningkatkan
mutu pembelajaran
Tingkat kemampuan me- 52
nyampaikan materi pelajaran
selalu ada perbaikan untuk
meningkatkan mutu
pendidikan
4. memberikan materi Dalam program pembela-jaran 53
ajar sesuai dengan selalu Merencanakan
karakteristik yang program kegiatan pembe-
dimiliki siswa. lajaran terlebih dahulu.
Perencanaan pembelajaran 54
dibuat sesuai dengan materi
yang akan disampaikan dan
disesuaikan dengan karak-
teristik siswa
Dalam membimbing siswa 55
Guru menggunakan pengem-
bangan bakat dan minat
3. menyelesaikan Dalam menentukan program 56
program pembelajaran guru selalu
pembelajaran mengalokasikan waktunya
sesuai kalender secara tepat
akademik. Guru merencanakan program 57
secara efektif
Materi yang diberikan sesuai 58
dengan RPP yang telah
dibuat.
102

No
Variabel /Konsep Dimensi Indikator Pengukuran Skala
Kuis
30.inisiatif dalam 1. menggunakan media Guru menggunakan media 59
kerja dalam belajar dalam proses
pembelajaran pembelajaran.
2. menggunakan Guru menyesuaikan metode 60
berbagai metode pembelajaran dengan kebu-
dalam tuhan dan situasi kelas.
pembelajaran.
3. Menyelenggarakan Guru disekolah ini menyajikan 61
administrasi materi dengan baik.
sekolah dengan
baik.
4. Menciptakan hal-hal Pembelajaran yang sesuai 62
baru yang lebih dengan PAKEM dikembang-
efektif dalam kan oleh guru di sekolah ini.
menata Guru berusaha mengem- 63
administrasi bangkan kemampuannya de-
sekolah ngan pelatihan dan sekolah.
40. kemampuan 1. Mampu dalam Bagaimana Kualitas guru di 64
kerja memimpin kelas. sekolah ini dalam mengguna-
kan bahasa yang komunikatif
dalam KBM
2. Mampu melakukan Mampu melakukan penilaian 65
penilaian hasil hasil belajar siswa.
belajar siswa. Guru secara rutin mengeva- 66
luasi perkembangan afektif
dan kognitif siswa
4. Mampu mengelola Guru dapat memotivasi siswa 67
ino-vasi belajar untuk belajar lebih baik
mengajar.
5. Menguasai landasan Guru mengorganisasikan materi 68
pendidikan pembelajaran sebelum
membuat RPP
Guru di sekolah ini dalam 69
menyesuaikan materi pelaja-
ran dengan kebutuhan siswa.
Guru disekolah ini telah 70
mengikuti kegiatan pengem-
bangan kurikulum
Kemampuan guru di sekolah ini 71
dalam memahami visi dan
misi
56. Komunikasi 1. melaksanakan Guru mengarahkan siswa untuk 72
layanan mempelajari pokok bahasan
bimbingan yang diberikan
belajar. Guru memberikan penga-rahan 73
kepada siswa yang
mengulangi materi Pelajaran
yag telah dipelajari
3. Menggunakan Guru memberikan penga-rahan 74
berbagai teknik kepada siswa dalam
dalam mengelola memecahkan pokok bahasan
proses belajar yang belum dipahami
mengajar.
4. Terbuka dalam Guru memberikan member-kan 75
menerima pelatihan kepada siswa dalam
masukan untuk memecahkan pokok bahasan
perbaikan yang belum dipahami
pembelajaran Guru memberikan pelatihan 76
dalam mengembangkan bakat
dan minat para siswa.

Prestasi Belajar Siswa 1. Perilaku keter- 1. kehadiran dalam Siswa ikut belajar dikelas 77
(Z) libatan dalam belajar, dengan nyaman.
103

No
Variabel /Konsep Dimensi Indikator Pengukuran Skala
Kuis
Hasil yang telah dicapai belajar siswa 2. pemahaman materi Materi yang disampaikan guru 78
dilakukan, dikerjakan, dan pelajaran; dapat dengan mudah
sebagainya. (Depdiknas, dipahami.
2002:895). Belajar adalah proses 79
mendewasakan diri
2. Kerjasama 1. ikut serta dalam Belajar secara berkelompok 80
dalam kelom- belajar kelompok, lebih menyenangkan daripada
pok belajar belajar sendiri..

2. menyumbangkan Mengemukakan pendapat 81


beberapa dalam diskusi merupakan
pemikiran apabila suatu yang harus dilakukan.
ada tugas tentang
materi pelajaran,
3. selalu aktif dalam Dengan belajar berkelompok 82
kerjasama memudahkan pemahaman
kelompok belajar; dalam belajar.
3. Hasil belajar 1. rata-rata nilai Untuk melihat hasil belajar
raport semester siswa di lihat dari nilai raport
pertama, siswa dan rata-rata nilai UN
2. rata-rata nilai dan US
raport semester
kedua
3 rata-rata nilai hasil
UN dan US

3.4 Populasi dan penentuan sampel


104

Populasi adalah semua individu untuk setiap kenyataan-kenyataan yang

diperoleh dari sampel untuk digeneralisasikan (Hadi, 1986: 70). Pengertian

tersebut sejalan dengan pendapat yang tersurat dalam Kamus Besar Bahasa

Indonesia (1988: 695) dikemukakan bahwa Populasi adalah sekelompok orang,

benda atau hal yang menjadi sumber pengambilan sampel; sekumpulan yang

memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian.

Berdasarkan uraian di atas, yang menjadi populasi dalam penelitian ini

adalah Guru SMPN 19 Bandung. Populasi adalah keseluruhan nilai atau objek

yang mungkin untuk diukur atau digeneralisasikan baik secara kuantitatif atau

secara kualitatif. Sugiyono (1994: 57) Mengatakan bahwa, Populasi adalah

wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang mempunyai kuantitas

dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan

kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-

benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada

obyek/subyek. Tetapi meliputi seluruh karakteristik/ sifat yang dimiliki oleh

subyek atau itu.

Berdasarkan hal tersebut, yang menjadi populasi penelitian adalah guru

SMP Negeri 19 Kota Bandung.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi. sedangkan sampling merupakan suatu proses memilih sebagian dari

unsur populasi yang jumlahnya mencukupi secara statistik sehingga dengan

mempelajari sampel serta memahami karakteristik-karakteristiknya akan diketahui


105

tentang keadaan populasi. Dalam menentukan sampel dalam penelitian ini

menggunakan rumus Slovin ( Riduwan , 2005:65), yaitu sebagai berikut:

N
n= 2
1+ N ( d)

Ket. :l
n = sampel
N = populasi
d = nilai presisi 95 % atau sig. = 0.05

Populasi dalam penelitian ini adalah guru yang berjumlah 44 orang sehingga

jumlah sampel dapat ditetapkan sebanyak 40 orang melalui rumus Slovin berikut:

44
n= 2
1+ 44(0.05)
= 39,639 (dibulatkan ke atas)
= 40 orang

3.5 Teknik Pengumpulan Data

3.5.1. Prosedur Pengumpulan Data

Adapun langkah-langkah yang peneliti lakukan dalam pengumpulan data

terbagi menjadi dua adalah sebagai berikut :

a. Data Primer

Yang dimaksud data primer adalah data yang akan diteliti dimana

objek yang dikumpulkan secara langsung dengan cara

- Wawancara

Menurut sukardi (2003; 79), Wawancara berfungsi untuk

pengambilan data dilapangan sehingga berhadapan langsung

dengan responden

- Observasi
106

b. Data Sekunder

Data Sekunder merupakan data penunjang penelitian yang diperoleh

drai berbagai sumber, yang salah satunya adalah kajian kepustakaan

yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.

- Kuisioner

Kuisioner merupakan satu media mengumpulkan data penelitian

pendidikan maupun sosial.

- Studi kepustakaan

3.5.2. Uji Validitas dan Uji Rehabilitas

1. Uji Validitas

Validitas menggunakan bagaimana kuisioner (pertanyaan atau item)

sungguh-sungguh mampu mengukur apa yang akan diukur. Sehingga dapat

dikatakan bahwa semakin tingggi valididtas suatu tes maka alat tes tersebut

semakin tepat megenai sasarannya, Nilai validitas pada dasarnya adalah nilai

korelasi , untuk menghitug item yang digunakan dapat memakai metode item

dimesination (daya pembeda item). Oleh karena itu tidak pernah disaarankan

untuk mengadakan uji signifikan pada analisis item yang digunakan adalah

korelasi item total yaitu konsistensi antara skor item secara keseluruhan yang

dapat dilihat besarnya koefisien korelasi antara setiap item dengan skor secara

kesaeluruhan yang mearupakan dasar dari korelasi Pearson (product moment).

Adapun rumus korelasi pearson product moment :


107

x


y


2


y 2
n
( 2 )
n x2


n xy ( x ) ( y )
rxy=

Keterangan :
R = Koefisien korelasi
x = Jumlah scor item
y = Jumlah scor total item
n = Banyaknya responden

Menurut Sugiono, bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan besarnya 0,3

keatas, maka factor tersebut merupakan contruct yang kuat (Sugiyono).

Selain itu American Psycological Association (1985) menetapkan bahwa

koefisien validitas yang berkisar antara 0,3 0,4 dianggap cukup tinggi untuk

digunakan dalam suatu penelitian. Digunakan software SPSS untuk mengukur

tingkat valliditas dari seatiap item kuisioner yang merupakan alat ukur

penelitian.

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adlah tingkat kepercayaan terhadap hasil suatu pengukuran,

pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi merupakan pengukuran yang

mampu memberikan hasil ukur terreliabel (percaya). Reliabelitas disebut juga


108

sebagai kepercayaaan, keajegan, konsisteansi, kestabialan, dan sebagainya,

Namun ide pokok dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana pengukuran

terbebasi kekeliruan pengukuran. Tinggi rendahnya reliabilitas secara empiris

ditunjukkan oleh besarnya koefisien reliabilitas yang berkisar anatar 0,00

1,00, pada kenyataannya Koefisien reliabilitas sebesar 1,00 tidak pernah

tercapai dalam pengukuran psikologis menirukan sumber kekeliruan potensial.

Di samping ini walaupun dalam koefisien reliabilitasi dapat bertanda positif

(+) atau negatif (+) tetapi dalam hal reliabilitas, koefisien reliabilitas yang

besarnya kurang dari nol tidak ada srtinya karena interpretasi reabilitas selalu

realibilitas mengacu kepada koefisien reliabilitas yang positif. Realiblitas

adalah teknik yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya

atau dapat diandalkan. Dalam penlitian ini reliabilitas dihitung dengan

menggunakan teknik belah dua dari Spearman Brown. Adapun rumusnya

adalah sebagai berikut:

2 rb
rI =
I + rb

Keterangan :
rI = Koefisien reliabilitas internal seluruh item
rb = Koefisien product moment antara belahan ( ganjil genap )
Selanjutnya menghitung korelasi Product Moment dengan rumus :
109

x


y


2


y 2
n
( 2 )
n x2


n xy ( x ) ( y )
rxy=

Koefisien realibiltas yang besarnya antara 0,7 0,8 diangap baik untuk

digunakan menurut skala Guilford (Kaplan dan Sacuzzo, 1993 ; 49)

3.6 Rancangan Analisis data dan uji Hipotesis

Rancangan analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriftif

dan teknik analisis inferensial. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk

mendeskrifsikan variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1), Budaya Sekolah

(X2), Kinerja Guru (Y), dan prestasi belajar siswa ( ) dengan cara menghitung

rata-rata masing-masing variabel penelitian, seperti pada tabel 3.3 sebagai berikut:

Tabel 3.3
Kriteria Penafsiran Kondisi Variabel Penelitian

Rata-Rata Skor Penafsiran


4,21 5,00 Sangat Baik
3,41 4,20 Baik
2,61 3,40 Cukup Baik
1,81 2,60 Kurang Baik
110

1,00 1,80 Sangat Kurang baik

Untuk teknik analisis integrasi ada dua teknik analisis yang digunakan,

yaitu rancangan analisis inferensial ada dua teknik analisi yang digunakan yaitu :

1. Teknik Analisis Korelasi

Teknik analisis korelasi yakni untuk mengetahui derajat keeratan hubungan

antara variabel penelitian, dengan rumus sebagai berikut :

x


y


2

y 2
n
( 2 )
n x2


n xy ( x ) ( y )
rxy=

Sifat korelasi akan menentukan arah korelasi itu sendiri, keeraran korelasi

dapat dikelompokan sebagai bearikut :

Tabel 3.4
Tingkat Koefisien Korelasi

Interval koefisien Tingkat Hubungan


0,00 0,199 Sangat Rendah
0,20 0,399 Rendah
0,40 0,599 Sedang
0,60 0,799 Kuat
0,80 1,000 Sangat Kuat
Sumber Sugiyono, 2009 : 23
111

2. Analisis Jalur

Analisis Jalur digunakan untuk menunjukkan hubungan yang

memperlihatkan seberapa besar pengaruh sebuah variabel tertentu baik

pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap variabel lainya. Jadi

yang menjadi persoalannya adalah sebab akibat. Istilah yang akan digunakan

dalam analisi jalur ini adalah variabel eksogen yang merupakan variabel

penyebab (X), variabel endogen yang merupakan akibat (Y) dan variabel

implisit ( ) yang merupakan faktor-faktor lain dari variabel eksogen.

Pengolahan data direncanakan dengan menggunakan SPSS release 17,0

dengan langkah-langkah analisi berikut :

a) Menggambarkan analisis jalur sehingga sesuai dengan pardigma penelitian

yang mewakili hipotesis penelitian seperti pada gambar berikut :

1 2
zx1
X1
yx1
rx1x2 Y Z
yz

X2 yx2 zx2

Gambar 3.1
Bentuk Persamaan Analisis Jalur (path analysis)

Keterangan :
Z = nilai nilai taksiran variabel untuk variabel prestasi siswa
X1 = nilai-nilai kepemimpinan sekolah
X2 = nilai-nilai budaya sekolah
Y = nilai-nilai kinerja guru
112

1 = variabel Epsilon/residu yaitu variabel diluar X1 dan X2


yang mempengaruhi Y
2 = variabel Epsilon/residu yaitu variabel diluar X1 dan X2
yang mempengaruhi Z

Gambar 3.1 diatas merupakan diagram jalur antar variable yang

mencerminkan hubungan antar variabel, dan pengaruh variabel X terhadap

variabel Y, dan variabel Y terhadap variabel Z. Gambar di atas menunjukkan

bahwa antar variabel X1 dengan Y, X2 dengan Y, Y dengan Z, merupakan

hubungan kausual, sementara variabel X1, X2 merupakan hubungan

korelasional.

Dalam penelitian yang penyusun lakukan terdapat dua variable independen,

yaitu kepemimpinan kepala sekolah (X1), budaya sekolah ( X2), dengan

variabel intervening kinerja guru (Y), serta satu variabel dependen yaitu

prestasi siswa (Z), dengan persamaan struktur yang bentuk sebagai berikut :

Y^ = yx1 X1 + yx2 X2+ 1

Sub struktur kedua yaitu :

1
X1 yx1

rx1x2 Y

X2 yx2

Gambar 3.2
Persamaan Struktur hubugan (X1, X2, ) ke Y

Persamaan jalurnya adalah :


113

y = yx1 X1 + yx2 X2+ 1

Sub Struktur ke dua, dengan persamaan jalurnya sebagai berikut :

y z
yz

Gambar 3.3
Persamaan Struktur hubungan y ke z

Persamaan Jalurnya adalah

Z = zy. Y + 2

Keterangan :
Z : Nilai-nilai taksiran untuk variabel prestasi siswa (Z)
X1 : Nilai-nilai variable kepemimpin kepala sekolah (X1)
X2 : Nilai-nilai budaya sekolah (X2)
Y : Nilai-nilai taksiran untuk kinerja guru (Y)
1 : variabel epsilon/reisudu yaitu variabel diluar X1 dan X2
2 : variabel epsilon/reisudu yaitu variabel diluar Y yang
mempengaruhi Z

b) Menghitung dan menyusun matrik koefisien kolrelasi untuk mengetahui

korelasi antar variabel.

c) Menghitung koefisien jalur

d) Menghitung koefisien jalur epsilon yang tidak diteliti melalui rumus :

= 1R2 y (x1 x 2)

e) Melakukan uji signifikan koefisien jalur serta keseluruhan melalui uji F

dengan kriteria tolak H0 bila Fhitung > Ftabel


114

f) Melakukan uji signigikansi koefisien jalur secara parsial melalui uji t

dengan tolak H0 bila Fhitung >Ftabel . Sedangkan teknik analisis regresi

digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel y terhadap z.

3.6.1 Rumusan Hipotesis

Hipotesis Parsial adalah sebagai berikut :

1. Kepemimpinan kepala sekolah dan budaya sekolah dapat berpengaruh

terhadap kinerja guru serta berdampak pada prestasi belajar siswa.

2. Kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh sama dengan 75 % terhadap

kinerja guru.

3. Budaya sekolah berpengaruh sama dengan 75 % terhadap kinerja guru dari

yang diharapkan.

4. Kepemimpinan dan budaya sekolah berpengaruh secara simultan terhadap

kinerja guru.

5. Kinerja Guru berdampak terhadap prestasi belajar siswa.