Anda di halaman 1dari 37

Tata Cara Penyusunan Proposal Karya

Ilmiah
01:13:00 muwasaun niam 2 makalah

Tata Cara Penyusunan Proposal Karya Ilmiah - Sebagaimana penulisan karya


ilmiah pada umumnya, dalam penulisan karya ilmiah hukum terdapat etika yang
memuat berbagai norma pembatas yang harus diperhatikan serta dipegang teguh oleh
mahasiswa ketika menulis karya ilmiah. Norma ini berkaitan dengan pengutipan,
perujukan, perijinan terhadap bahan yang dipergunakan, dan penyebutan sumber data
atau informan.

Penulisan karya ilmiah hukum harus dilakukan secara jujur dengan menyebutkan
sumber rujukan atau hasil pikiran orang lain yang dikutip dan dimasukkan dalam
bagian karya ilmiahnya. Dalam menggunakan bahan dari suatu sumber, misalnya
tabel, model dan skema, penulis harus menyebutkan sumbernya dengan menjelaskan
apakah bahan tersebut diambil secara utuh, diambil sebagian, dimodifikasi, atau
dikembangkan.

Pengutipan bahan atau hasil pikiran orang lain yang tidak disertai dengan menyebut
sumbernya yang diakui sebagai hasil pikirannya sendiri dapat dinyatakan sebagai
perbuatan plagiat Oleh karena itu, khusus penulisan skripsi ilmu hukum dan legal
memorandum, wajib mencantumkan pernyataan bahwa karyanya bukan merupakan
pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain.

Untuk itu mengetahui aturan-aturan dalam penelitian hukum merupakan hal yang
wajib diketahui oleh mahasiswa, mengingat pembuatan skripsi adalah salah satu
syarat wajib untuk mendapat gelar sarjana, dan itu dimulai dari pembuatan proposal
penelitian.

Rumusan Masalah

1. Apa saja bagian-bagian yang harus ada dalam suatu proposal penelitian
hukum?

2. Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan proposal


penelitian?

Tujuan Penulisan

1. Mengetahui bagian-bagian yang harus ada dalam suatu proposal


penelitian hukum.

2. Mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan proposal


penelitian.

1. Judul Penelitian

Dalam suatu penelitian judul merupakan kalimat dalam bentuk satu kalimat
pernyataan (bukan kalimat pertanyaan), terdiri dari kata-kata yang jelas (tidak kabur),
singkat (tidak bertele-tele), deskriptif (berkaitan atau runtut) dan pernyataan tidak
terlalu puitis atau bombatis. Judul merupakan pencerminan atau identitas dari seluruh
isi karya tulis, yang dapat menjelaskan dan menarik, sehingga semua orang dapat
dengan segera menduga tentang penelitian tersebut.[1]

2. Latar Belakang Masalah

Masalah adalah Kesenjangan antara rencana (sesuatu yang diinginkan ) dengan


keadaan yang ada (realitas). Oleh sebab itu dalam bagian ini dikemukakan adanya
kesanjangan antara harapan dengan kenyataan, baik kesenjangan teoritis maupun
praktis yang melatarbelakangi masalah yang diteliti.[2]

Atau bisa diartikan bagian dalam proposal penelitian yang berisi tentang gambaran
umum, paparan, atau uraian seputar masalah atau topik yang dikaji, yang bisa
diperoleh dari berbagai sumber, misalnya buku, laporan penelitian dan lain
sebagainya. Tujuan dari adanya latar belakang adalah untuk memperoleh pemahaman
betapa pentingnya masalah atau topik tersebut dikaji.[3]

3. Rumusan Masalah

Merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan yang


hendak dicarikan jawabanya, lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah.

Masalah akan menarik untuk diselidiki apabila:

1. Masalah itu menyangkut kepentingan umum ( masyarakat )

2. Masalah itu merupakan mata rantai, apabila tidak dipecahkan banyak masalah
lain yang terbengkelai.

3. Masalah itu penting dimana pemecahanya dapat mengisi kekosongan atau


kekurangan ilmu dan pengetahuan atau sebagainya.[4]

4. Tujuan dan Manfaat

Manfaat penelitian menguraikan dan menjelaskan kegunaan secara teoritik dan


aplikatif dari penelitian yang telah dilakukan. Manfaat atau Kontribusi Penelitian,
memuat 2 hal yang mendasar:

1. Manfaat Teoritik apabila hasil penelitian akan menghasilkan sebuah pendapat


baru atau hasil penerapan hukum.

2. Manfaat Aplikatif apabila terdapat manfaat atau nilai guna hasil penelitian
bagi stakeholders atau pihak-pihak yang terkait langsung dengan hasil
penelitian, seperti: 1. pembuat kebijakan, 2. dunia usaha atau industri 3.
meningkatkan pelayanan, 4. pemecahan masalah ditingkat operasional, 5.
kelompok masyarakat yang menjadi sasaran penelitian.[5]

5. Telaah Pustaka

Berisi landasan teori, pendapat para ahli, doktrin, hasil penelitian atau informasi
lainnya yang dijadikan pedoman bagi pemecahan masalah. Perumusan tinjauan
pustaka hendaknya memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1. Usahakan pustaka yang digunakan terbaru, relevan, dan asli dari karya
ilmiah; - Apabila sumber informasi dan data yang dirujuk berasal dari buku,
usahakan mencari terbitan edisi paling akhir, (minimal 5 tahun terakhir);
2. Uraikan dengan jelas kajian pustaka yang menimbulkan gagasan dan
mendasari penelitian yang akan dilakukan;

3. Tinjauan pustaka menguraikan teori, temuan, dan bahan penelitian lain yang
diperoleh dari acuan, yang dijadikan landasan untuk melakukan penelitian
yang diusulkan;

Uraian dalam tinjauan pustaka diarahkan untuk menyusun kerangka atau konsep yang
akan digunakan dalam penelitian. Tinjauan pustaka mengacu pada daftar pustaka.

6. Konsep dan Devinisi Operasional

Diperlukan apabila diperkirakan akan timbul perbedaan pengertian atau kekurangan


makna seandainya penegasan istilah tidak diberikan. Devinisi operasional adalah
devinisi yang didasarkan atas sifat-sifat yang didevinisikan yang dapat diamati,
contoh kompetensi dalam bidang aritmatika yang meliputi menambah, mengurangi,
mengalikan, membagi, dan mengunakan desimal. Sifat dari devinisi operasional oleh
peneliti terbuka untuk diuji kembalioleh orang lain.[6]

7. Konsep / Pembatasan Masalah

Adalah suatu kondisi atau keadaan yang tidak bisa dihindari dalam penelitian yang
harus dihadapi. Keterbatasan penelitian bisa berkaitan dengan ruang lingkup kajian
dan kondisi lingkungan dan dilakukan karena alasan teknik maupun prosedur
penelitian karena alasan waktu, biaya, adat, etika, kepercayaan atau alasan logistik
lainya.[7]

8. Kerangka Teori

Menempatkan masalah yang telah diindenfikasi itu pada kerangka teoritis dan konsep
yang revelan, mampu menangkap, menerangkan, dan menunjukkan perspektif
tersebut. Hal ini ditujukan agar dapat menjawab atau menerangkan masalah yang
telah diidentifikasi itu.

Cara berfikir seperti ini adalah mengarah memperoleh jawaban dengan cara berfikir
deduktif. Cara berfikir seperti ini, bertolak pada hal yang bersifat general (berlaku
umum) kepada hal-hal yang lebih spesifik. Hal yang berlaku umum itu adalah teori
(dalil, hukum, kaidah dan sebagainya), sedangkan yang bersifat spesifik itu
merupakan masalah yang telah diidentifikasi itu. Ada tiga tahap berfikir:

1. Tahap conception (tahap menyusun konsepsi)

2. Tahap judgement (tahap menyusun ketentuan)


3. Tahap reosoning (tahap menbuat pertimbangan atau membuat argumentasi)[8]

9. Perumusan Kerangka Berfikir

Yaitu menguraikan cara pelaksanaan penelitian, mulai dari merumuskan pendekatan


penelitian yang digunakan hingga bagaimana menganalisis hasil penelitian. Metode
Penelitan memuat uraian tentang:

1. Metode pendekatan yang digunakan, apakah yuridis sosiologi dan/atau yuridis


normatif, serta memberikan alasan mengapa pendekatan tersebut digunakan.

2. Jenis/macam dan sumber data atau bahan hukum, menjelaskan berbagai


macam data atau bahan hukum yang diperlukan dalam penelitian baik yang
sifatnya primer maupun sekunder.

3. Metode penelusuran atau perolehan data atau bahan hukum. Menjelaskan


tentang bagaimana data atau bahan hukum, baik primer maupun sekunder
diperoleh.

4. Data sekunder dalam penelitian hukum empiris diperoleh dengan


menggunakan studi kepustakaan atau literatur, penelusuran internet, klipping
koran dan/atau studi dokumentasi berkas-berkas penting dari institusi yang
diteliti serta penelusuran peraturan perundang-undangan dari berbagai sumber.

10. Hipotesis

Merupakan pernyataan tentang karakteristik populasi yang berkaitan dengan suatu


tujuan khusus tertentu. Contoh dengan tujuan khsus mempelajari korelasi antara
variabel x dengan y dikemukakan hipotesis variabel x dan y berkorelasi positif.
Walaupun demikian, tidak semua pasangan variabel penelitian harus di nyatakan
dalam bentuk hipotesis.

Banyaknya hipotesis yang sebenarnya tidak perlu dinyatakan sebagai hipotesis lagi
dalam skripsi, tesis maupun disertasi, karena apa yang dinyatakan tersebut umumnya
telah bisa diterima kebenaranya.[9]

11. Metodologi

a. Tentukan Tipe Penelitian


Metodologi adalah suatu studi sistematis mengenai prosedur dan teknik yang
dihubungkan dengan sesuatu.Dalam menguraikan metode penelitian, pertama-tama
harus disebut secara eksplisit tipe penelitian.hal ini perlu diketahui agar peneliti tidak
kesasar.

b. Prosedur Penarikan sampel


Diperlukan untuk menekan sejauh mungkin terjadi bias dan veriabilitas.

c. Devinisi operasional Variabel Penelitian

d. Teknik Pengumpulan Data

e. Rancangan Analisis[10]

12. Garis Besar Isi

Bab inti biasanya bab 2-4 masing-masing berisi gagasan atau masalah pokok yang
terdapat dalam topik.

Cara pembahasan yaitu sebagai berikut:

1. Merumuskan pengertian atau definisi

2. Memberikan klasifikasi, rincian, atau indikator

3. Mendiskripsikan proses dan langkah-langkah

4. Menampilkan ilustrasi, contoh, bukti, fakta atau data

5. Menjelaskan kaitan atau hubungan dengan gagasan atau hal lain

6. Menjelaskan peran, kedudukan, atau posisi terhadap gagasan atau hal lain

7. Menjelaskan dampak atau efek terhadap gagasan atau hal lain.[11]

C. PENUTUP

1. Kesimpulan

Dalam penyusunan proposal karya ilmiah penelitian hukum terdiri dari Judul
Penelitian, Latar Belakang Penelitian, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat,
Telaah Pustaka, Konsep dan Devinisi Operasional, Konsep / Pembatasan Masalah,
Kerangka Teori, Perumusan Kerangka Berfikir

dan Hipotesis.

2. Saran
Dalam penyusunan karya ilmiah baik berupa proposal, skripsi maupun yang lainya
seorang peneliti harus memperhatikan dan mempraktikan aturan-aturan yang ada.

1. Nur Tanjung, B. dan Ardial. 2005. Pedoman Penulisan karya ilmiah, Jakarta:
Kencana. hal 20

2. Dwiloka, B. dan Riana, R. 2005. Teknik Menulis Karya ilmiah, Jakarta:


Rineka Cipta. hal 33

3. Muslich, Masnur. 2010. Bagaimana Menulis Skripsi, Jakarta: Bumi Aksara.


hal 29

4. Nur Tanjung, B. Opcit. hal 24

5. http://www.academia.edu/7304617/PEDOMAN_PENULISAN_SKRIPSI
(17/04/2015,10:35)

6. Nur Tanjung, B.opcit .hal 60

7. Muslich, opcit . hal 37

8. Nur Tanjung, opcit .hal 32

9. Ngurah Agung, Gusti. 2007.Menejemen Penulisan Skripsi, Tesis, Dan


Disertasi, Jakarta: Rajawali Press. Hal 156

10. Nur Tanjung, op.cit .hal. 39-43

11. Muslich, opcit hal 31-32

CARA PRAKTIS MENYUSUN KARYA ILMIAH REMAJA (KIR)


06 Agu
Capung

1. Apa Karya Ilmiah Remaja (KIR)?

Karya ilniah remaja (KIR), adalah karya ilmiah yang ditulis atau dikerjakan oleh
kalangan remaja. Karya ilmiah maksudnya karya tulis yang penggarapannya
mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Bukan dibuat dengan cara menghayal, bukan karya
fiksi, bukan karya rekaan seperti; puisi, cerpen, novel, cerita bersambung, dongeng,
dll. Karya ilmiah setidak-tidaknya harus mempunyai 3 (tiga) syarat, yakni: (1) isi
kajiannya berada dalam lingkup pengetahuan ilmiah, (2) cara penggarapannya
menggunakan metode ilmiah, dan (3) cara penyajiannya/ penulisannya memenuhi
syarat sebagai karya ilmiah.

2. Apa Modal Utama agar Bisa Menyusun Karya ilmiah Remaja (KIR)?

KIR bukan karya hayalan. Oleh karena itu seorang yang ingin menyusun KIR tidak
bisa hanya dengan menghayal langsung bisa menyusun KIR. Mereka harus
membekali diri dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan sesuai dengan bidang garapan
KIR yang akan dikerjakan. Yang paling penting untuk diperhatikan yang ingin
menyusun KIR harus menanyakan dirinya sendiri: Apakah saya punya modal
motivasi yang cukup besar untuk bisa menyusun KIR? Yang dimaksud modal
motivasi adalah: (1) Mempunyai keinginan dari kesadaran sendiri untuk bisa
menyusun KIR? (2) Mempunyai semangat pantang menyerah mengumpulkan teori-
teori untuk menyusun KIR baik dari buku-buku, majalah, internet, atau bertanya dan
berdiskusi dengan orang-orang yang ahli dalam bidang garapan KIR? (3) Mempunyai
rasa ingin tahu dan tidak mudah percaya dengan hal-hal yang ada di sekitar kita
sebelum ditelusuri secara detail dari segi ilmiahnya? (4) Mempunyai kemampuan
mensintesa antar teori-teori yang dipahami dan mengkaitkan fenomena-fenomena
yang ada di sekitar kita?

3. Bagaimana Langkah-langkah Menyusun KIR?

Untuk menjamin hasil KIR yang baik, maka perlu disiapkan langkah-langkah utama
dalam kegiatan penelitian ilmiah sebagai berikut.

1. Memilih Ide Penelitian

2. Studi Pendahuluan

3. Merumuskan Masalah

4. Merumuskan Manfaat Penelitian


5. Memilih Tinjauan Pustaka / Landasan Teori

6. Merumuskan Hipotesis (Jika perlu)

7. Memilih Metode Penelitian

8. Menentukan Variabel atau Sumber Data

9. Menentukan dan Menyusun Intrumen

10.Mengumpulkan Data

11.Menganalisis Data

12.Menarik Kesimpulan

13.Menulis Laporan KIR

14.Melengkapi lampiran-lampiran

4. Bagaimana Cara Memilih Ide Penelitian?

Memilih ide penelitian memerlukan suatu kepekaan dari calon peneliti. Ide atau
masalah penelitian bisa diperoleh dari berbagai cara. Di antaranya:

1. Dari membaca laporan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan


oleh peneliti sebelumnya dirasakan perlu dilakukan penelitian
lanjutan, penelitian pendalaman, atau penelitian pengembangan;

2. Dari mengamati: (a) fenomena-fenomena atau kejadian yang


terjadi di alam sekitar kita; (b) kegiatan yang dilakukan masyarakat
untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidupnya; (c) cara
kerja yang dilakukan orang untuk mempercepat proses atau
meningkatkan mutu hasil produksinya; (d) hasil diskusi orang-orang
sekitar kita atau forum ilmiah yang membahas tentang mencari
solusi suatu masalah.

3. Mencari titik-titik singgung atau kesesuaian secara logika dua atau


lebih teori-teori yang diketahui. Contoh: Dari teori menyebutkan
lapisan ozon menipis sehingga terjadinya global warming salah satu
penyebabnya adalah adanya gas buang N2O dan CO2 ke udara.
Teori lain menyebutkan bahwa gas N2O dan CO2 dihasilkan oleh
banyak hal, di antaranya oleh tanaman yang diberikan pupuk kimia
(Urea atau NPK) yang digunakan petani. Titik singgungnya adalah:
adakah jenis pupuk lain (ramah lingkungan) yang tidak terlalu
banyak menghasilkan gas N2O dan CO2?
4. Mencari cara-cara baru atau teknologi baru untuk mempermudah
cara kerja dari pada cara-cara kerja yang selama ini secara tradisi
dilakukan orang atau masyarakat. Cara-cara baru untuk
meningkatkan jumlah hasil produksi dari pada cara-cara yang
selama ini secara tradisi dilakukan orang atau masyarakat. Cara-
cara baru untuk meningkatkan mutu hasil produksi dari pada cara-
cara yang selama ini secara tradisi dilakukan orang atau
masyarakat.

5. Memanfaatkan suatu bahan yang selama ini terbuang menjadi


limbah oleh masyarakat padahal secara teori suatu bahan itu
mengandung unsur-unsur yang dapat dimanfaatkan jika dilakukan
pengolahan seperti limbah dapur atau pedagang sayur untuk
kompos, limbah serbuk gergaji kayu untuk media tanaman atau
bahan bakar kompor, tai ternak untuk bio gas, tombong kelapa
untuk selai, dll.

6. Pesanan pihak luar untuk dilakukan penelitian. Dalam hal ini dapat
dicontohkan dari tema atau topik penelitian yang sudah ditetapkan
oleh pihak panitia Lomba KIR karena ada kepentingan khusus.
Misalnya perusahan TELKOMSEL mengadakan lomba KIR berjudul
Keunggulan Produk Telkomsel dalam Persaingan Media Komunikasi
di Indonesia

5. Apakah Setiap Ide Penelitian dapat Dijadikan Penelitian?

Ide penelitian yang akan diteliti untuk menjamin akan menghasilkan KIR yang baik
minimal harus:

(1) Sesuai dengan minat peneliti sehingga peneliti lebih bersemangat dan dengan
senang hati mengerjakan penelitian tersebut

(2) Memiliki potensi besar penelitian bisa dikerjakan dengan modal dasar:

1. Peneliti mempunyai kemampuan, landasan teori, dan pengalaman


pengetahuan dalam bidang yang akan diteliti tersebut.

2. Tersedia waktu yang cukup untuk melakukan penelitian sehingga


penelitian tidak asal selesai.

3. Peneliti siap secara fisik untuk mengobservasi, mengumpulkan


data, dan menyusun laporan penelitian.

4. Peneliti siap secara material atau dana untuk biaya-biaya yang


dibutuhkan.

(3) Tersedia faktor pendukung. Pendukung utama adalah:


1. Tersedia data yang bisa diperoleh baik data primer (digali sendiri)
maupun sekunder (dikutip dari data yang sudah ada).

2. Ada ijin dari pihak berwenang. Walaupun ide atau masalah


penelitian sangat menarik untuk diteliti namun jika tidak dapat ijin
dari pihak yang berwenang.

3. Keamanan peneliti terjamin. Maksudnya, meskipun data awal ada,


minat ada, kemampuan juga ada, tetapi jika dalam penelitian
mengancam keselamatan peneliti sebaiknya penelitian dikaji ulang.

(4) Hasil penelitian harus bermanfaat bagi kelompok masyarakat tertentu atau
masyarakat umum.

6. Jika telah ada Ide atau Masalah yang Diteliti, Bisakah Penelitian Langsung
Dilakukan?

Sebaiknya jangan terburu-buru langsung melakukan penelitian ke lapangan. Sebab


resikonya akan menghadapi banyak hambatan dan kebingungan menggali data yang
belum tentu cocok atau sesuai dengan yang dibutuhkan dalam penelitian.

Sebelum melakukan penelitian yang sesungguhnya, seharusnya dilakukan studi


pendahuluan, yakni observasi awal menjajagi kemungkinan penelitian dapat
dilakukan. Observasi awal ini penting dilakukan untuk mencari informasi awal guna
mempertajam atau memperjelas ide atau masalah yang akan diteliti.

Fungsi studi pendahuluan adalah:

1. untuk mengetahui dengan pasti hal-hal yang akan diteliti.

2. untuk mengetahui dengan pasti siapa informan (yang akan dimintai


keterangan) dan mereka mau memberikan informasi.

3. untuk mengetahui dengan pasti cara-cara mendapatkan data atau


informasi.

4. untuk mengetahui dengan pasti cara-cara menganalisis data

Sesuai dengan fungsinya, studi pendahuluan harus dilakukan pada: (1) rencana lokasi
penelitian, (2) calon-calon informan, (3) alat-alat yang akan digunakan dalam
penelitian, (4) lembaga-lembaga yang akan memberikan data penelitian, (5) sumber-
sumber hasil-hasil penelitian sebelumnya, (5) buku-buku / internet yang dibutuhkan
teori-teori pendukungnya, dan (6) kesanggupan pembimbing yang akan memberikan
bimbingan selama melakukan penelitian.
7. Bagaimana Merumuskan Judul dan Masalah Penelitian?

Apabila telah diperoleh ide penelitian dan informasi yang cukup dari studi
pendahuluan maka langkah berikutnya adalah merumuskan judul dan masalah
penelitian. Judul dan masalah penelitian adalah hal yang terpenting dilakukan agar
penelitian yang dilakukan lebih terarah dan akurat dalam pengumpulan teori
penelitian serta data pendukung.

Judul penelitian dirumuskan dari ide penelitian. Judul karya ilmiah hendaknya
dinyatakan dengan akurat dan padat permasalahan serta bentuk tindakan yang
dilakukan peneliti sebagai upaya pemecahan masalah. Formulasi judul hendaknya
singkat, jelas, dan sederhana namun secara tersirat telah menampilkan sosok karya
ilmiah. Dari kalimat judul penelitian sudah dapat digambarkan hal yang diteliti dan
secara tidak langsung dapat diketahui manfaatnya bagi masyarakat tertentu atau
masyarakat umum. Inti kalimat judul penelitian adalah Hal yang diteliti dan
objeknya dapat ditambah manfaatnya jika dipandang perlu.

Contoh judul penelitian KIR:

1. Pengaruh Pemanfaatan Kompos Daun Nangka dan Limbah Sayuran


terhadap Kadar N2O Tanah Sawah Subak Wos Teben di Desa
Batuan, Kecamatan Sukawati

2. Pemanfaatan Tombong Buah Kelapa sebagai Alternatif Bahan


Pembuat Selai yang Bergizi dan Disukai Konsumen.

3. Pemanfaatan Minyak Jinten untuk Meningkatkan Kemampuan Otak

4. Pemanfaatan Sabut Kelapa Sebagai Agregat Dalam Pembuatan


Beton

5. Pemanfaatan Jantung Pisang (Musa paradisiaca) Sebagai Bahan


Pengawet Daging.

6. Studi Komparasi Antara Kualitas Salak Bali dengan Salak Bangkalis.

Merumuskan masalah penelitian dilakukan dengan memilah judul penelitian yang


mengandung beberapa variabel yang harus dicarikan jawaban berdasarkan data-data
yang nanti akan dikumpulkan.

Kita ambil contoh judul nomor (1) di atas Pengaruh Pemanfaatan Kompos Daun
Nangka dan Limbah Sayuran terhadap Kadar N2O Tanah Sawah Subak Wos Teben di
Desa Batuan, Kecamatan Sukawati . Dari judul itu dipilah menjadi 3 variabel, yakni
1. kadar kadar N2O yang dihasilkan kompos daun nangka.

2. kadar kadar N2O yang dihasilkan kompos limbah sayuran.

3. pengaruh kompos daun nangka dan limbah sayuran terhadap kadar


N2O dalam tanah

Dari pemilahan judul penelitian menjadi 3 variabel tersebut sebut tinggal dirumuskan
menjadi kalimat pertanyaan yakni:

1. Bagaimana kadar kadar N2O yang dihasilkan kompos daun nangka?

2. Bagimana kadar kadar N2O yang dihasilkan kompos limbah


sayuran?

3. Bagaimana pengaruh kompos daun nangka dan limbah sayuran


terhadap kadar N2O dalam tanah?

Rumusan masalah penelitian ini khusus untuk point (3) dapat ditambah dengan
tempat penelitian yakni Bagaimana pengaruh kompos daun nangka dan limbah
sayuran terhadap kadar N2O dalam tanah Sawah Subak Wos Teben di Desa Batuan,
Kecamatan Sukawati?

Jika sudah sampai pada tahap perumusan masalah penelitian langkah selanjutnya
yakni merumuskan tujuan penelitian dapat dilakukan dengan sangat mudah yakni
mengubah rumusan masalah penelitian menjadi tujuan dengan menghilangkan kata
bagaimana menjadi kalimat untuk mengetahui dan di akhir kalimat rumusan
masalah ada tanda tanya ? dalam rumusan tujuan penelitian dihilangkan atai diganti
dengan tanda titik (.).

Lihatlah sekali lagi rumusan masalah penelitian tersebut di atas. Bandingkan dengan
rumusan tujuan penelitian berikut ini.

1. Untuk mengetahui kadar kadar N2O yang dihasilkan kompos daun


nangka.

2. Untuk mengetahui kadar kadar N2O yang dihasilkan kompos limbah


sayuran.

3. Untuk mengetahui pengaruh kompos daun nangka dan limbah


sayuran terhadap kadar N2O dalam tanah.
Jadi rumusan tujuan penelitian dalam karya tulis ilmiah berkaitan langsung dengan
masalah penelitian. Sebab rumusan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui atau
menjawab masalah yang diajukan dalam penelitian.

8. Perlukah Dirumuskan Masalah Penelitian?

Jawabnya perlu. Sebab sekecil apapun atau sederhana apapun penelitian yang
dilakukan pasti ada manfaat dari hasil yang nantinya dicapai. Paling tidak bermanfaat
bagi penulis/ peneliti bahwa penelitian itu untuk menambah wawasan tentang hal
yang sedang diteliti. Penelitian ilmiah yang baik adalah penelitian yang memberikan
manfaat yang cukup besar bagi banyak orang. Bahkan penelitian Albert Einstein
memberikan manfaat sangat besar dan mengubah cara pandang orang di muka bumi
ini tentang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jadi rumusan manfaat penelitian dapat diformulakan sebagai berikut.

1. Bagi Masyarakat

2. Bagi Pemerintah (jika dipandang perlu)

3. Bagi penulis

9. Bagaimana Caranya Menyusun Tinjauan Pustaka atau Landasan Teori?

Tinjauan pustakan atau bisa disebut landasan teori masuk ke Bab II dalam karya tulis
ilmiah. Ada juga tinjauan pustaka digabungkan dengan Bab I yaitu Pendahuluan.
Tetapi hal itu tidak terlalu prinsip. Artinya tidak karena beda penempatan tinjauan
pustaka menyebabkan karya tulis ilmiah itu didiskualifikasikan oleh juri atau panitia
lomba karya tulis ilmiah.

Yang penting untuk dipahami adalah bagaimana cara menyusun tinjauan pustaka.
Cara atau tips yang praktis untuk menyiapkan diri dalam menyusun tinjauan pustaka
dapat dijelaskan sebagai berikut.

(1) Pahami betul judul penelitian dan masalah penelitian. Apakah variabel-variabel
yang ada dalam judul penelitian atau masalah penelitian. Sebab tinjauan pustakan
pada dasarnya adalah teori-teori yang perlu dipahami atau diketahui terlebih dahulu
oleh peneliti sebelum dilakukan penelitian sehingga penelitian tidak salah arah. Jika
teori belum diketahui peneliti atau penulis mana mungkin dia bisa melakukan
peneliti.
Contoh pembanding dalam kegiatan sehari-hari kita, suatu hari kita disuruh orang
mencari seseorang ibu di pasar karena anak bayinya dititipkan sedang menangis.
Sedangkan kita tidak tahu dan tidak pernah mengenal si ibu bayi itu. Kalau sosok ibu-
ibu di pasar banyak tetapi manakah ibu yang diperlukan oleh bayi itu. Jika kita
langsung mencari sosok ibu yang dimaksud di kerumunan orang-orang di pasar sama
saja dengan buang-buang waktu dan tenaga dan kemungkinan besar kita akan
kehilangan arah pencarian. Oleh karena itu yang perlu dilakukan sebelum mencari
sosok ibu yang dimaksud adalah menanyakan ciri-ciri si ibu. Dalam penelitian ilmiah
ciri-ciri si ibu itu disebut dengan tinjauan pustaka. Dari ciri-ciri si ibu atau dari
tinjauan pustakan itulah kita akan memiliki kesiapan melakukan penelitian.

(2) Dari variabel-variabel dalam judul dan masalah penelitian dapat dicatat pointer-
pointer tinjauan pustaka yang perlu dicari atau diburu baik di perpustakaan, toko
buku, menanyakan orang-orang sekitar yang mungkin punya buku yang berkaitan,
dan melacak di media internet. Bahan dari buku-buku, majalah, atau internet paling
tidak untuk satu pointer variabel didukung oleh 2 (dua) sumber. Kalau terpaksa hanya
dapat 1 (satu) sumber masih bisa diterima daripada tidak ada tinjauan pustaka sama
sekali.

Dari judul yang dijadikan contoh tersebut di atas: Pengaruh Pemanfaatan Kompos
Daun Nangka dan Limbah Sayuran terhadap Kadar N2O Tanah Sawah Subak
Wos Teben di Desa Batuan, Kecamatan Sukawati. Rumusan tinjauan pustaka
yang mesti dicari adalah:

Gas N2O yang dihasilkan tanah sawah

Pupuk organik kaitannya dengan gas N2O yang dihasilkan

Pupuk Anorganik kaitannya dengan gas N2O yang dihasilkan

(3) Tinjauan pustaka dirumuskan secara berurutan sesuai dengan variabel-variabel


yang terkandung dalam judul dan masalah penelitian sehingga menjadi satu
rangkaian logika kerangka berpikir ilmiah si peneliti. Dari kemampuan mengurutkan
tinjauan pustakan itulah tim juri atau penguji Lomba Karya Tulis Ilmiah dapat
mengetahui keteraturan cara berpikir dan logika ilmiah yang dimiliki si peneliti atau
penulis. Jika landasan teorinya tidak teratur dan berurutan serta memasukkan teori-
teori yang tidak perlu (asal penuh atau asal berisi teori) maka tim penguji dapat
menebak si peneliti Karya Tulis ilmiah itu jalan pikirannya ngawur dan kacau.
Berikutnya dapat diprediksi hasil penelitian ilmiahnya tidak dapat
dipertanggungjawabkan keilmiahannya.
Contoh judul di atas: Pengaruh Pemanfaatan Kompos Daun Nangka dan Limbah
Sayuran terhadap Kadar N2O Tanah Sawah Subak Wos Teben di Desa Batuan,
Kecamatan Sukawati. Tinjauan pustakanya secara teori gas N2O adalah salah satu
penyebab rusaknya lapisan Ozon di permukaan bumi yang menyebabkan terjadinya
pemanasan global. Teori lain menyebutkan Gas N2O salah satu sumber penghasilnya
adalah tanah pertanian yang digarap petani selama ini menggunakan pupuk kimia
seperti Urea, NPK. Dari teori lain menyebutkan pupuk alam atau organik dapat
mengikat mikroorganisme tanah dan gas N2O yang dihasilkan tergolong rendah. Dari
tinjauan pustaka dan teori-teori tsb dapat ditarik logika, jika petani menggunakan
pupuk organik akan mengurangi gas buang N2O ke udara berarti kerusakan lapisan
ozon dapat dikurangi sehingga pemanasan global tidak lebih parah.

Untuk membuktikan seberapa besar gas N2O yang dihasilkan pupuk alami dan pupuk
alami jenis mana yang lebih kecil menghasilkan N2O maka perlu dilakukan
penelitian eksprimen

Langkah-Langkah Menulis dan Membuat Karya Tulis Ilmiah Yang Baik dan
Benar

Pokok pembahasan kali ini adalah tentang langkah-langkah membuat


karangan, langkah-langkah membuat karya tulis ilmiah, contoh karangan
ilmiah, langkah-langkah penelitian ilmiah, sistematika penulisan karya
ilmiah, tata cara penulisan karya ilmiah.

Kerangka karya ilmiah, judul karya ilmiah, cara membuat artikel ilmiah,
cara penulisan artikel ilmiah, contoh penulisan karya ilmiah, cara
membuat karya tulis dan langkah-langkah penulisan karya ilmiah.

Cara Membuat Karya Tulis Ilmiah


Karya tulis merupakah bentuk karangan yang mengungkapkan ide,
pikiran, dan perasaan penulisnya dalam satu kesatuan tema yang utuh.
Karya tulis yang digolongkan sebagai karya ilmiah merupakan karangan
yang didasarkan pada kegiatan ilmiah.

Kegiatan ilmiah dalam hal ini dapat berupa penelitian lapangan,


percobaan laboratorium, atau telaah buku.

Unsur-unsur karya karya tulis ilmiah

Sebuah tulisan disebut karya tulis ilmiah apabila mengandung usnur-unsur


berikut.
1. Didasarkan pada fakta dan data.

2. Disajikan secara objektif atau apa adanya.

3. Menggunakan bahasa yang lugas dan jelas.

Kemampuan membuat karya tulis ilmiah sangat kalian perlukan dalam


proses pembelajaran. Selain itu, karya tulis ilmiah yang baik akan
memberikan banyak manfaat bagi diri kalian sendiri dan masyarakat
umumnya.

Sumber informasi yang digunakan dalam sebuah karya tulis ilmiah, baik
berupa teori, pendapat, atau kutipan lain, harus diungkapkan dengan jelas
dan dicantumkan sumber pengambilan tersebut.

Sumber tulisan dapat ditulis secara langsung setelah kutipan atau


diletakkan di dalam bagian daftar pustaka. Sebelum berlatih membuat
karya tulis ilmiah sederhana yang didasarkan dari berbagai sumber
tertulis, perhatikan contoh karya tulis ilmiah di bawah beserta
penjelasannya.

Informasi beserta sumber informasi:


Internet adalah sebuah jaringan multimedia yang pengoperasiannya
memerlukan seperangkat komputer, modem, dan jaringan telepon atau
satelit. (www.juice-boosted.com)
Dengan hanya berbekal Rp2.000,00 sampai dengan Rp3.500,00 untuk
setiap jam di warung internet (warnet), kita memperoleh banyak data
yang kita perlukan baik untuk penulisan artikel maupun penelitian.
(Berinternet Gratis dengan JUICE dalam Suara Merdeka, 30 Agustus
2004).

Contoh Penulisan Karya Ilmiah


Berdasarkan informasi dan sumber informasi di atas, kalian dapat
menyusun sebuah tulisan ilmiah sederhana seperti contoh berikut.

=======================================

Pemanfaatan Internet
I. Pendahuluan
Berkembangnya teknologi informatika telah membuka wawasan baru bagi
dunia pendidikan di Indonesia. Betapa tidak, berbagai sumber informasi
yang kita perlukan kini tersedia di depan mata. Maka, tidaklah
mengherankan jika ada yang menyatakan siapa yang menguasai
teknologi, dialah yang memainkan peranan penting di kemudian hari.

Keterbukaan akses internet membuka peluang besar bagi dunia


pendidikan untuk terus meningkatkan mutunya. Dengan demikian,
dituntut peran serta semua civitas akademik mulai guru, siswa, orang tua
siswa, dan pemerintah untuk memanfaatkan peluang-peluang yang
tersedia melalui media internet.

II. Permasalahan

Bagaimana pola pemanfaatan media internet yang ideal bagi dunia


pendidikan?

III. Pembahasan

Pengertian internet Internet adalah sebuah jaringan multimedia yang


pengoperasiannya memerlukan seperangkat komputer, modem, dan
jaringan telepon atau satelit. Internet merupakan salah satu jendela kita
untuk dapat mengetahui berbagai perkembangan dunia ilmu
pengetahuan di dunia luar.

Prosedur pencarian data di internet

Cukup hanya memasukkan kata kunci dari data yang kita perlukan, secara
otomatis jaringan internet akan mencari dan menampilkan data-data yang
kita perlukan. Dengan hanya berbekal Rp2.000,00 sampai dengan
Rp3.500,00 untuk setiap jam di warung internet (warnet), kita
memperoleh banyak data yang kita perlukan baik untuk penulisan artikel
maupun penelitian.
IV. Penutup

Kesimpulan

1. Teknologi internet merupakan perkembangan yang harus diikuti oleh


setiap civitas akademik, sehingga kehadirannya mampu memberikan nilai
tambah bagi dunia pendidikan.

2. Perlu kesadaran semua pihak bahwa penerapan teknologi multimedia


dalam dunia pendidikan penting untuk segera dilakukan sehingga
terbentuk sebuah komunitas atau jaringan belajar yang interaktif.

3. Dengan berhasilnya pemanfaatan internet, diharapkan dapat


menunjang kreativitas remaja dalam dunia penulisan ilmiah.

Saran

Mengingat pemanfaatan internet masih memerlukan biaya yang tidak


sedikit, alangkah baiknya jika pihak sekolah untuk sementara waktu ini
memanfaatkan akses internet yang berlangganan. Di tahun 2008,
teknologi internet akan lebih mudah dan gratis dengan cara bergabung
dalam komunitas JUICE, karena komunitas JUICE mempunyai program
khusus yang hanya memanfaatkan line telepon tanpa menggunakan
pulsa.

V. Daftar Pustaka

Junaedi, Fajar. 2004. Berinternet Gratis dengan JUICE dalam Suara


Merdeka. Semarang: Suara Merdeka, 30 Agustus 2004.
sumber: http://www.juiceboosted.com.
=======================================

Contoh karya tulis di atas menggunakan format ilmiah, yaitu dengan


menggunakan bahasa baku dan sistematika ilmiah.

Membuat Karya Ilmiah

Langkah-langkah membuat karya tulis ilmiah


Berdasarkan daftar pustaka, dapat kalian lihat bahwa karya tulis tersebut
menggunakan dua sumber, yaitu dari media massa dan internet.
Beberapa hal yang perlu kalian perhatikan dalam membuat karya tulis
adalah berikut.

1. Tentukan objek yang akan dikaji.

2. Tentukan permasalahan yang akan dibahas dari objek kajian.

3. Kumpulkan sumber-sumber bacaan pendukung baik berupa informasi


maupun teori.

4. Analisislah objek kajian dengan mengulas permasalahan yang


dikemukakan.

5. Buatlah kesimpulan berdasarkan hasil analisis.

6. Tulislah sumber bacaan dan lainnya dalam daftar pustaka.


Sistematika penulisan ilmiah.

1. Pendahuluan.

2. Permasalahan.

3. Pembahasan.

4. Penutup: kesimpulan dan saran.

5. Daftar pustaka.

Langkah-langkah menulis karya tulis ilmiah.

1. Menentukan topik yang akan dibahas.

2. Menentukan tujuan pembahasan.

3. Mengumpulkan bahan.

4. Membuat kerangka tulisan.

5. Menyusun kerangka tulisan menjadi karya tulis ilmiah yang utuh dan
lengkap.

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH YANG BAIK DAN BENAR 2015

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH


(LAPORAN PENELITIAN)

oleh

Mukhlish

1. Pengertian Karya Ilmiah


Karya ilmiah adalah sebuah tulisan yang berisi suatu permasalahan yang
diungkapkan dengan metode ilmiah (Soeparno, 1997:51); karangan ilmu
pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang
baik dan benar (Arifin, 2003:1). Artinya, pengungkapan permasalahan dalam karya
ilmiah itu harus berdasarkan fakta, bersifat objektif, tidak bersifat emosional dan
personal, dan disusun secara sistematis dan logis. Bahasa yang digunakan adalah
bahasa Indonesia ragam baku dengan memperhatikan kaidah EYD dan
Pembentukan Istilah.

2. Sikap Ilmiah

Orang yang berjiwa ilmiah adalah orang yang memiliki tujuh macam sikap ilmiah.
Ketujuah macam sikap ilmiah itu adalah (1) sikap ingin tahu, (2) sikap kritis, (3) sikap
terbuka, (4) sikap objektif, (5) sikap rela menghargai karya orang lain, (6) sikap
berani mempertahankan kebenaran, dan (7) sikap menjangkau ke depan
(Brotowidjoyo, 1985:33-34).

3. Jenis Karya Ilmiah

Berdasarkan tingkat akademisnya, karya ilmiah dapat dibedakan atas lima macam,
yaitu (1) makalah, (2) laporan penelitian, (3) skripsi, (4) tesis, dan (5) disertasi.
Makalah adalah karya tulis yang memerlukan studi, baik secara langsung maupun
tidak langsung; dapat berupa kajian pustaka/buku, kajian suatu masalah, atau
analisis fakta hasil observasi. Laporan penelitian merupakan sebuah tulisan yang
dibuat setelah seseorang melakukan penelitian, pengamatan, wawancara,
pembacaan buku, percobaan, dan lain-lain. Adapun skripsi merupakan jenis karya
ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa strata satu (S1) untuk memperoleh gelar sarjana;
tesis ditulis oleh mahasiswa strata dua (S2) untuk memperoleh gelar magister; dan
disertasi ditulis oleh mahasiswa strata tiga (S3) untuk memperoleh gelar doktor.
Namun, untuk keperluan diklat ini, pembicaraan selanjutnya akan difokuskan pada
penulisan laporan penelitian.
4. Sistematika Laporan Penelitian

Komponen-komponen penting dalam laporan penelitian dan muatan tiap-tiap bagian disusun dengan
urutan sebagai berikut.

(1) Bagian awal

(a) Halaman sampul/judul

(b) Halaman Pengesahan (Jika diperlukan)

(c) Abstrak

(d) Kata pengantar

(e) Daftar isi

(f) Daftar tabel (jika ada)

(g) Daftar gambar (jika ada)

(2) Bagian pokok/utama

(a) Pendahuluan (berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian)

(b) Kajian pustaka, kerangka teoretik, dan pengajuan hipotesis (jika diperlukan)

(c) Metode penelitian

(d) Hasil penelitian, pengujian hipotesis, dan pembahasan


(c) Penutup (berisi simpulan, dan saran)

(3) Bagian akhir

(a) Daftar pustaka

(b) Lampiran-lampiran (jika ada)

5. Cara Penulisan Karya Ilmiah

5.1 Topik dan Judul

Kegiatan yang pertama kali dilakukan sebelum menulis adalah menentukan topik. Hal ini berarti bahwa
harus ditentukan terlebih dahulu apa yang akan dibahas dalam tulisan. Dalam memilih topik perlu
dipertimbangkan beberapa hal, yaitu:

(1) topik itu ada manfaatnya dan layak dibahas,

(2) topik itu cukup menarik terutama bagi penulis,

(3) topik itu dikenal dengan baik,

(4) bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai, dan

(5) topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.

Contoh: Usaha kecil dan menengah (terlalu luas)

Pengembangan usaha kecil dan menengah (terbatas)

Setelah diperoleh topik, dalam pelaksanaannya topik yang dipilih itu harus dinyatakan dalam suatu
judul. Topik ialah pokok pembicaraan dalam keseluruahan karangan yang akan digarap, sedangkan
judul adalah nama, titel, atau semacam label untuk suatu karangan. Pernyataan topik mungkin sama
dengan judul, tetapi mungkin juga tidak, misalnya dalan karya sastra. Namun, dalam karya ilmiah judul
harus tepat menunjukkan topiknya. Penentuan judul harus memenuhi beberapa persyaratan, antara
lain:
(1) judul harus sesuai dengan topik atau isi karangan,

(2) judul sebaiknya dinyatakan dalam bentuk frasa, bukan kalimat,

Contoh: Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah di Yogyakarta ( baik)

Usaha Kecil dan Menengah di Yogyakarta Perlu Dikembangkan (tidak baik)

(3) judul diusahakan singkat,

(4) judul harus dinyatakan secara jelas.

5.2 Abstrak

Abstrak berisi intisari menyeluruh tentang isi tulisan, mulai dari judul, tujuan, metode, dan rumusan
hasil/temuan. Abstrak ditulis dengan spasi tunggal. Untuk makalah, abstrak cukup satu paragraf,
sedangkan untuk laporan penelitian terdiri atas tiga paragraf yang masing-masing memuat hal-hal di
atas.

5.3 Kata Pengantar

Kata pengantar berisi puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, ucapan terima kasih kepada
pihak-pihak yang secara langsung atau tidak langsung berperan dalam kegiatan penulisan tersebut,
dan permintaan kritik dari pembaca demi perbaikan.

5.4 Pendahuluan

Pendahuluan berfungsi menyadarkan pembaca akan pentingnya topik yang dibahas sehingga
pembaca merasa perlu mengetahui topik itu lebih jauh dan pembahasannya. Oleh karena itu, dalam
pendahuluan perlu dikemukakan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat
penelitian.
5.5 Kajian Pustaka dan Kerangka Teoretik

Pengertian kajian pustaka dan kerangka teoretik itu berbeda. Kajian pustaka berisi pembahasan
tentang kajian-kajian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian, sedangkan kerangka teoretik
adalah seperangkat teori yang dipakai sebagai landasan penelitian. Oleh karena itu, pemecahan
masalah penelitian harus berlandaskan pada teori dan kajian terhadap hasil-hasil penelitian
sebelumnya yang terkait dengan permasalahan yang dibahas. Dari kajian itu didapatkan jawaban
sementara atas permasalahan yang telah dirumuskan. Jawaban sementara tersebut biasa disebut
hipotesis.

5.6 Metode Penelitian

Setelah kajian teoretik dirumuskan, langkah selanjutnya adalah merumuskan metode yang dipakai
dalam penelitian. Metode penelitian tersebut meliputi apa atau siapa yang diteliti, bagaimana memilih
sampel dari populasinya, data apa saja yang harus dikumpulkan dan dengan metode apa data itu
dikumpulkan, teknik analisis data yang manakah yang digunakan.

5.7 Pembahasan

Bagian ini berisi analisis, pembahasan, dan pemaknaan data yang yang telah dikumpulkan.
Kelengkapan data yang diperoleh sangat mendukung kesahihan hasil analisis. Dan, kecermatan
analisis dan pemaknaan data sangat menentukan kualitas hasil kajian.

5.8 Simpulan
Simpulan merupakan hasil yang diperoleh dari pembahasan masalah sesuai dengan tujuan penelitian.
Oleh karena itu, simpulan harus menjawab permasalahan dan harus sesuai dengan tujuan.

6. Teknik Penulisan Karya Ilmiah

Ketentuan-ketantuan yang harus diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah meliputi (1) penggunaan
kertas, (2) teknik pengetikan, (3) penomoran, (4) penulisan sumber rujukan atau referensi, dan (5)
penulisan daftar pustaka.

6.1 Penggunaan Kertas

Kertas yang dipakai adalah kertas HVS, berwarna putih, berat 80 gram, dan berukuran kuato (21.5 x 28
cm). Naskah ditulis pada satu sisi.

6.2 Teknik Pengetikan

1) Penggunaan Huruf

Naskah karya ilmiah diketik dengan huruf standar (Times New Roman 12) dan dengan pita atau tinta
berwarna hitam.

2) Jarak Spasi

Jarak antarbaris adalah satu setengah spasi, kecuali abstrak, terusan nama bab, terusan nama judul
tabel, terusan nama judul grafik/gambar, dan kutipan langsung yang lebih dari empat baris harus diketik
dengan jarak satu spasi. Penulisan antarbaris pada setiap sumber pustaka diketik dengan jarak satu
spasi, sedangkan penulisan antarsumber dalam daftar pustaka deketik dengan jarak dua spasi.

3) Batas Tepi Pengetikan

Batas tepi pengetikan adalah sebagai berikut.


(1) Tepi atas : 4 cm

(2) Tepi bawah : 3 cm

(3) Tepi kiri : 4 cm

(4) Tepi kanan : 3 cm

4) Penulisan Judul, Bab, dan Subbab

Penulisan judul, bab, subbab, dan anak subbab mengikuti ketentuan berikut ini.

(1) Judul dan bab ditulis dengan huruf kapital semua, tidak diakhiri tanda baca apa pun, dan ditulis pada
posisi tengah. Nomor bab ditulis dengan angka romawi.

(2) Penulisan subjudul, subbab, dan anak subbab menggunakaan huruf kapital pada setiap awal kata
kecuali kata tugas; dan dimulai dari batas tepi kiri dan tidak menggunakan garis bawah serta tidak
diakhiri tanda baca apa pun.

5) Penulisan Paragraf Baru

Penulisan paragraf baru dimulai setelah ketukan kelima dari tepi kiri atau dengan sistem lurus, tetapi
harus diberi jarak spasi dua kali lipat.

6) Penulisan Nama

Penulisan nama pengarang, baik yang diacu dalam tubuh karangan maupun yang dicantumkan pada
daftar pustaka mengikuti ketentuan berikut ini.

(1) Nama pengarang yang diacu dalam tubuh tulisan hanya ditulis nama pokoknya. Misalnya, Ahmad
Sudargo, yang ditulis hanya Sudargo.
(2) Pada daftar pustaka, nama yang terdiri atas dua penggal nama atau lebih ditulis nama pokok
(belakang), kemudian tanda koma dan diikuti nama depanya. Misalnya, Ahmad Sudargo
penulisannya menjadi Sudargo, Ahmad.

(3) Pengarang buku yang terdiri atas dua orang ditulis secara lengkap.

(4) Pengarang buku yang lebih dari tiga orang ditulis nama pengarang pertama dan diikuti singkatan
dkk.

(5) Gelar kesarjanaan atau jabatan akademis tidak dicantumkan.

7) Penulisan Tabel dan Grafik

Penulisan tabel dan grafik mengikuti ketentuan berikut.

(1) Penulisan tabel diupayakan jangan ganti halaman.

(2) Nomor dan judul tabel ditempatkan simetris di atas tabel.

(3) Nomor dan judul grafik ditempatkan simetris di bawah grafik.

(4) Penulisan judul tabel dan grafik tidak diakhiri tanda baca apa pun.

(5) Penulisan nomor urut tabel menggunakan angka Arab, sedangkan penulisan nomor urut grafik
menggunakan angka Romawi.

6.3 Sistematika Penomoran

Sistematika penomoran mengikuti ketentuan berikut.

(1) Penomoran bab, subbab, dan anak subbab dapat dilakukan dengan dua cara.

Cara Pertama

Sistem campuran, yakni dimulai dari angka romawi besar (untuk bab), huruf kapital (untuk subbab),
angka arab (untuk anak subbab), huruf kecil (untuk anak-anak subbab), angka arab diikuti satu kurung,
dan seterusnya. Contoh:
BAB III

A.

B.

1.

2.

a.

b.

1)

2)

a)

b)

C. dst.

Cara kedua

Sistem angka penuh, yaitu dimulai dari angka romawi besar (untuk bab), kemudian menggunakan
angka arab semua, dan seterusnya.

Contoh:

BAB III

3.1

3.1.1
3.1.2

3.1.3

3.2

3.2.1

3.2.2

3.2.2.1

3.2.2.2

3.2.2.3

3.3 dst.

(2) Penomoran halaman pada naskah utama menggunakan angka arab.

(3) Penomoran halaman pelengkap, seperti halaman judul, halaman pengantar, dan halaman daftar isi
menggunakan angka romawi kecil ( i, ii, iii, iv, v, vi, dst.) dan diletakkan pada bagian bawah tengah.

(4) Penulisan daftar pustaka tidak diperbolehkan menggunakan nomor.

(5) Penomoran bab, subbab dan seterusnya dalam daftar isi dituliskan di tepi sebelah kanan sesuai
dengan penulisan bab atausubbab yang bersangkutan.

6.4 Penulisan Sumber/Referensi

Penulisan sumber atau referensi bacaan yang dikutip dalam naskah karya ilmiah mengikuti ketentuan
berikut.

(1) Sumber bacaan yang ditulis di antara tanda kurung pada akhir kutipan terdiri atas nama pokok
pengarang, tahun penerbitan, dan nomor halaman. Tanda koma digunakan di antara nama pokok dan
tahun penerbitan, sedangkan tanda titik dua di antara tahun penerbitan dan nomor halaman.

Contoh:
Surat adalah satu sarana untuk menyampaikan pernyataan atau informasi secara tertulis dari pihak
yang satu kepada pihak yang lain (Bratawidjaja, 1995:5).

(2) Apabila nama pengarang sudah disebutkan lebih dahulu, sumber yang ditulis di antara tanda kurung
hanyalah tahun penerbitan dan nomor halaman yang diacu.

Contoh:

Menurut Bratawidjaya (1995:5) surat adalah satu sarana untuk menyampaikan pernyataan atau
informasi secara tertulis dari pihak yang satu kepada pihak yang lain.

6.5 Penulisan Daftar Pustaka

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun daftar pustaka:

(1) daftar pustaka tidak diberi nomor urut,

(2) daftar pustka disusun secara alfabetis (menurut abjad),

(3) gelar penulis tidak dicantumkan.

Daftar pustaka dapat berupa penulisan buku, penulisan artikel, dan penulisan publikasi lain.

1) Buku

Penulisan buku dalam daftar pustaka disusun mengikuti urutan: (1) nama
pengarang, (2) tahun penerbitan, (3) judul buku, (4) tempat penerbitan, dan (5)
nama penerbit. Di antara satuan itu dipergunakan tanda titik, kecuali di
antara tempat penerbitan dan nama penerbit digunakan tanda titik dua.
Judul buku dicetak miring dan setiap awal kata ditulis dengan huruf kapital, kecuali
kata depan.

Contoh penulisan buku dengan seorang pengarang

Keraf, Gorys. 1993. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.
Contoh penulisan buku dengan dua atau tiga pengarang

Akhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1992. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa
Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Contoh penulisan buku lebih dari tiga orang

Alwi, Hasan dkk. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

2) Artikel

Penulisan artikel dalam daftar pustaka menggunakan urutan (1) nama pengarang, (2) tahun penerbitan,
(3) judul artikel, (4) nama majalah, (5) volume atau halaman dimuatnya artikel, (6) tempat penerbitan,
dan (7) nama penerbit. Judul artikel ditulis di antara tanda petik dua; nama majalah dicetak
miring; di antara satuan digunakan tanda titik, kecuali di antara nama editor dan nama majalah,
di antara nama majalah dan volume atau halaman digunakan tanda koma; di antara tempat
penerbitan dan nama penerbit digunakan tanda titik dua.

Contoh penulisan artikel dalam majalah

Madya, Suwarsih. 1994. Penelitian Tindakan dalam Pendidikan. dalam Diksi, No.4, Tahun II, halaman 67-
82. Yogyakarta: FPBS IKIP Yogyakarta.

3) Penerbitan Pemerintah, Lembaga-Lembaga Ilmiah, dan Organisasi Lainnya

Penulisan daftar pustaka untuk penerbitan pemerintah, Lembaga-lembaga ilmiah, dan organisasi
lainnya menggunakan urutan: (1) lembaga yang bertanggung jawab atas penulisan dokumen, (2) tahun
penerbitan, (3) judul tulisan, (4) tempat penerbitan, dan (5) nama penerbit.

Contoh:

Depdikbud. 1975. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa.

7. Ragam Bahasa Ilmiah


Bahasa Indonesia ragam ilmiah adalah bahasa Indonesia yang digunakan oleh para cendekiawan
untuk mengomonikasikan ilmu pengetahuan.

Ragam bahasa ilmiah tersebut memiliki sifat-sifat berikut.

(1) Ragam bahasa ilmiah termasuk ragam bahasa baku. Oleh karena itu, penulisan karangan ilmiah
mengikuti kaidah-kaidah bahasa baku, yaitu dalam ragam tulis menggunakan ejaan yang baku (EYD),
menggunakan kata-kata, struktur frasa, dan kalimat yang baku atau sudah dibakukan.

(2) Dalam ragam bahasa ilmiah banyak digunakan kata-kata istilah. Kata-kata tersebut digunakan dalam arti
denotatif, bukan dalam arti konotatif.

(3) Dalam ragam bahasa ilmiah digunakan kalimat yang efektif, yaitu kalimat yang secara tepat dapat
mewakili gagasan pembicara atau penulis, dan dapat menimbulkan gagasan yang sama tepatnya
dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.

(4) Ragam bahasa ilmiah lebih berkomunikasi dengan pikiran daripada dengan perasaan; bersifat tenang,
jelas, hemat, dan tidak emosional.

(5) Hubungan gramatik antara unsur-unsurnya, baik dalam kalimat maupun dalam paragraf, dan hubungan
antara paragraf satu dan paragraf yang lain bersifat padu. Untuk menyatakan hubungan digunakan
alat-alat penghubung, seperti kata-kata penunjuk, kata-kata penghubung, pengulangan kata atau frasa,
penggantian, dll.

(6) Hubungan semantis antara unsur-unsurnya bersifat logis. Penggunaan kalimat yang bermakna ganda
atau ambiguous harus dihindari.

(7) Penggunaan kalimat pasif lebih diutamakan karena dalam kalimat pasif peristiwa lebih dikemukakan
daripada pelaku perbuatan.

(8) Konsisten dalam segala hal, misalnya dalam penggunaan istilah, singkatan, tanda-tanda, dan kata ganti
diri.

Daftar Pustaka

Akhadiah, Sabarti., Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1988. Pembinaan Kemampuan
Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Alwi, Hasan dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arifin, E. Zaenal. 2004. Dasar-Dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Grasindo.

Brotowidjoyo, Mukayat D. 1985. Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Akademika Pressindo.

Effendi, S. 1987. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.

Keraf, Gorys. 1993. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

Parera, J.D. 1982. Menulis Tertib dan Sistematis. Jakarta: Erlangga.

Ramlan,M. dkk. 1992. Bahasa Indonesia yang Salah dan yang Benar. Yogyakarta: Andi
Offset.

Soeparno, Haryadi, dan Suhardi. 1997. Bahasa Indonesia untuk Ekonomi. Yogyakarta:
Ekonisia.

Sugono, Dendi. 1997. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara.

Langkah-Langkah Membuat Latar Belakang Karya Tulis Ilmiah

agnas setiawan

Pada postingan kali ini saya akan berikan sedikit tips mengenai tata cara membuat
latar belakang suatu karya ilmiah
, tapi sebelumnya saya akan berikat sedikit penjelasan terlebih dahulu tentang apa
itu karya ilmiah. Karya ilmiah atau karya tulis ilmiah ada dasarnya adalah tulisan
yang dihasilkan seseorang dari hasil penelitian, uji laboratorium, observasi,
maupun studi pustaka dengan kaidah-kadiah keilmuan yang berlaku. Jadi membuat
karya tulis itu tidak boleh sembarangan harus ada aturannya mulai dari Halaman
Judul sampai Daftar Pustaka. Menulis karya ilmiah memang bisa dibilang suatu
tantang terutama bagi siswa sekolah menengah. DI kurikulum 2013 ini khususnya di
pelajaran geografi materi karya ilmiah disisipkan dalam silabus kelas X. Hal
tersebut merupakan langkah baik pemerintah agar lebih meningkatkan minat riset
siswa-siswi Indonesia.

Memang bagi siswa sekolah menengah, membuat karya ilmiah masih termasuk hal
sulit dan banyak kebingungan terutama membuat LATAR BELAKANG. Sebagai
gambaran begini saja, seorang mahasiswa S1, S2 pun kadangkala pusing
memikirkan apa yang harus ditulis dalam latar belakang apalagi seorang siswa SMA.
Namun hal tersebut merupakan tantangan agar siswa semakin antusias belajar
sehingga kelak ketika kuliah sudah paham ketika mengerjakan hal yang sama.

Latar belakang merupakan landasan utama dibuatnya sebuah karya tulis dan
merupakan hal kedua yang harus ditulis setelah judul. Untuk siswa SMA biasanya
saya hanya menargetkan penulisan latar belakang maksimal satu halaman dan
minimal setengah halaman dengan spasi 1,5. Selama saya mengajar dan menjadi
tutor karya tulis siswa memang siswa kebanyakan mengalami kesulitan dalam
membuat latar belakang. Mereka sering bertanya kepada saya tentang "apa yang
harus saya jelaskan dalam latar belakang, pak?". Saya sering memberikan
pemahaman kepada siswa bahwa sebelum membuat bagian lain dari karya tulis,
buatlah dulu latar belakang yang baik dan jangan sampai mengerjakan yang lain
dulu karena itu akan merusak karya tulis itu sendiri.

Latar belakang pada dasarnya adalah suatu "sebab-sebab " kalian kok mau
menulis/merencanakan kegiatan penelitian dengan "judul" tersebut. Dalam latar
belakang biasanya akan digambarkan kondisi-kondisi yang dapat berupa data
statistik, data observasi, data hasil penelitian sebelumnya yang relevan dan
mendukung terhadap judul yang seseorang tulis. Jadi siapkanlah data pendukung
yang menguatkan bahwa memang terjadi keganjilan dalam hal tertentu yang perlu
dicari solusinya.

Membuat paragraf latar belakang biasanya akan mengikuti alur deduktif atau
menjelaskan dari sesuatu yang umum menuju khusus. Saya ambil contoh begini
misalkan akan mennulis karya tulis dengan judul "OPTIMALISASI PEMANFAATAN
TANAH KARST DI GUNUNG KIDUL". Di latar belakang maka saya akan menuliskan hal
berikut per paragraf dari atas ke bawah.
Kunci utama dari membuat latar belakang adalah rajin membaca latar belakang
karya tulis orang lain. Jika sering membaca maka dengan sendirinya alur paragraf
akan hafal dengan sendirinya. Setiap paragraf dalam latar belakang pasti akan
memiliki keterkaitan atau tidak terputus. Hal inilah yang sering membuat
mahasiswa atau siswa sekolah merasa kesulitan membuatnya. Tapi yakinlah bahwa
dengan kerja keras, keuletan, pantang menyerah dan rajin membaca kalian akan
menjadi pembuat karya tulis yang handal suatu saat nanti. Nanti di postingan
selanjutnya saya akan mejelaskan kembali tentang cara membuat rumusan
masalah. SELAMAT BERLATIH.