Anda di halaman 1dari 76

Penawaran Teknis

Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)


APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

A PENDAHULUAN

A.1 Latar Belakang


Tingginya tingkat kemiskinan di Indonesia masih
menjadi tantangan pembangunan nasional,
khususnya di wilayah perdesaan. Sebagai upaya
melakukan pelaksanaan penanggulangan
kemiskinan, pemerintah menerbitkan Peraturan
Presiden Nomor 15 Tahun 2010, tentang
percepatan penanggulangan kemiskinan yang
merupakan penyempurnaan dari Peraturan
Presiden Nomor 13 Tahun 2009 tentang
koordinasi penanggulangan kemiskinan.

Dalam rangka mendukung pengurangan kemiskinan di perdesaan serta meningkatkan


kesejahteraan dan kesempatan kerja bagi masyarakat miskin, maka pemerintah
meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Mayarakat Mandiri (PNPM Mandiri) oleh
Presiden Republik Indonesia pada tanggal 30 April 2007. Pemerintah Indonesia mengadopsi
pendekatan program sebagai strategi kunci untuk pengurangan kemiskinan dan inisiatif
pembangunan dengan pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat. Inpres No. 3 Tahun
2010 tentang Program Pembangunan yang berkeadilan, meliputi program pro rakyat,
keadilan untuk semuadan pencapaian tujuan pembangunan milenium.

Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013 masih memberikan
alokasi yang cukup besar terhadap subsidi energi, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM).
Sekitar Rp. 193,8 Triliun atau 11.5% dialokasikan untuk subsidi BBM pada APBN 2013
dimana lebih dari 50% subsidi BBM tersebut dinikmati oleh 20% orangterkaya di Indonesia.
Pemerintah melalui APBN P Tahun Anggaran 2013 mengatur untuk mengurangi alokasi
terhadap subsidi BBM.
Kebijakan pengurangan subsidi BBM dalam jangka pendek akan diikuti dengan peningkatan
harga yang akan menekan daya beli masyarakat, terutama rumah tangga miskin dan rentan.
Karena itu, diperlukan inisiatif kebijakan jangka pendek yang dapat mempertahankan daya
beli kelompok Rumah Tangga miskin danrentan.

Program jangka pendek yang akan dilaksanakan oleh pemerintah adalah Bantuan Langsung
Sementara Masyarakat (BLSM) dan Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Infrastruktur (P4I), yang mencakup Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan

1
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Infrastruktur Permukiman (P4-IP), Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan


Sistem Penyediaan Air Minum (P4-SPAM), dan Program Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air (P4-ISDA).

Sebagai program relokasi subsidi BBM, Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Infrastruktur Permukiman (P4-IP). Program ini merupakan program pemberdayaan
masyarakat melalui penyediaan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang dapat
digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat (skala
lingkungan), seperti: jalan dan jembatan, titian perahu, sarana penyediaan air minum,
sanitasi, dan jaringan irigasi.

Dalam kurun waktu pelaksanaan RPIJMN tahun 2005-2009, Program Pembangunan


Infrastruktur Perdesaan telah dilaksanakan di 21.837 desa yang meliputi beberapa program
antara lain melalui Program Kompensasi Pengurangan Subsidi-Bahan Bakar Minyak bidang
Infrastruktur Perdesaan (PKPS-BBM IP) pada tahun 2005 dengan jumlah sasaran sebanyak
12.384 desa, Program Peningkatan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)/Rural Infratsructure
Support (RISP) pada tahun 2006 dengan jumlah sasaran sebanyak 1.840 desa, dan PPIP
pada tahun 2007 dengan jumlah sasaran sebanyak 2.060 desa, PPIP tahun 2008 dengan
jumlah sasaran sebanyak 2.289 desa. Pada tahun 2009 Direktorat Jenderal Cipta Karya
melaksanakan program pembangunan infrastruktur perdesaan di 3.624 desa dengan rincian
desa dengan sumber dana dari APBN tahun 2009 di 1.900 desa dan yang dibiayai Loan ADB
INO-2449 (SF) di 1.724 desa. Kegiatan pembangunan infrastruktur perdesaan yang berasal
dari Loan ADB tersebut dikenal dengan nama Rural Infrastructure Support to PNPM Mandiri
(RIS-PNPM Mandiri). Program PPIP di 2.200 desa sasaran di 214 kabupaten yang tersebar
di 28 Provinsi. PPIP pada tahun 2012 kemudian dilaksanakan pada 7.400 desa, dimana
2.400 desa merupakan lanjutan pelaksanaan tahun 2011 Sedangkan pada Tahun 2013,
PPIP reguler menangani 6.040 desa sasaran.

Pada Tahun 2013 melalui APBN P Tahun 2013, Program P4IP yang diluncurkan sebagai
program relokasi pengurangan subsidi BBM dilakukan melalui beberapa program
diantaranya PPIP. Berdasarkan hal tersebut maka akan dialokasikan desa tambahan
sebanyak 9.000 desa sasaran melalui APBN-P Tahun 2013 pada program PPIP.

Untuk lebih jelasnya mengenai latar belakang adanya Program Pembangunan Infrastruktur
Perdesaan (PPIP) APBN-P 2013 dapat dilihat diagram dibawah ini .

2
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Gambar 1.1 Latar Belakang

Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan ini dimaksudkan untuk meningkatkan


kesejahteraan masyarakat desa melalui peningkatan akses masyarakat miskin terhadap
pelayanan infrastruktur dasar perdesaan, melalui peningkatan akses masyarakat miskin
terhadap infrastruktur dasar di wilayah perdesaan dan meningkatkan peran serta masyarakat
dalam penyediaan infrastruktur perdesaan.
Untuk mendukung pelaksanaan program agar sesuai dengan pedoman umum dan pedoman
pelaksanaan yang telah ditetapkan maka perlu dilakukan pendampingan oleh konsultan
dalam pelaksanaannya. Adanya konsultan dikarenakan diperlukannya advise teknis dan
manajemen sesuai pedoman, pemantauan intensif, serta evaluasi kuantitatif dan kualitatif
terhadap penyelenggaraan program. Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) ini akan
melakukan pendampingan pelaksanaan program yang dibiayai melalui DIPA APBN P TA
2013 pada Satuan Kerja Pembinaan Pembangunan Infrastruktur Perdesaan.
Dalam melaksanakan tugas dari pihak proyek untuk mengelola PPIP APBN-P TA. 2013,
maka peranan KMW Kalimantan dan Sulawesi sebagai pelaksana diupayakan memiliki
suatu pemahaman program, strategi dan rencana kerja yang inovatif, konstruktif dan
integratif secara keseluruhan dan berkesinambungan.
Dalam penyusunan dokumen teknis ini, pihak konsultan KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan
Sulawesi TA. 2013 akan membahas secara sistematis yang mengandung unsur-unsur :
Pemahaman terhadap program PPIP

3
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Pemahaman terhadap wilayah kerja, dimana mencakup wilayah Kalimantan dan


Sulawesi yang syarat dengan konflik antar etnis, sehingga diperlukan strategi khusus
dalam memfasilitasi program.
Mengangkat isu-isu strategis sebagai titik sentral dalam mengeluarkan strategi dan
rencana penanganan disamping menggunakan panduan-panduan yang sudah
disediakan oleh pihak proyek.
Penyusunan strategi dan rencana yang akan menjadi acuan kerja konsultan sebagai
wahana komunikasi antar personil KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi
terhadap multipihak yang terkait, termasuk pihak proyek, KMP dan KMW lainnya.
Strategi dan rencana meliputi kegiatan utama dalam :
Lingkup siklus proyek (hasil yang diinginkan per tahap kegiatan), seperti tahap
persiapan, tahap sosialisasi, tahap perencanaan, tahap pelaksanaan fisik, tahap
pasca pelaksanaan fisik, dan tahap pemantauan dan evaluasi yang menerus /
berkala.
Lingkup manajemen proyek, dimana setiap lingkup produk yang dihasilkan akan
melalui proses tahapan manajemen proyek, yaitu : tahapan (inisiasi, perencanaan,
pelaksanaan, monitoring/ pengendalian dan terminasi).

A.2 Tujuan dan Sasaran


Tujuan :
Tujuan dari penyusunan usulan teknis ini adalah menyusun dokumen kinerja KMW PPIP
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi yang mampu menunjukkan tingkat pemahaman
(familiaritas) terhadap konteks Proyek PPIP dan tingkat kesiapan dalam mengelola
(manajerial) pelaksanaan proyek PPIP.

Sasaran :
Sasaran dari penyusunan dokumen usulan teknis ini adalah :
Dipahaminya dengan jelas visi, misi, prinsip, nilai, tujuan, sasaran, strategi dan
pendekatan, komponen proyek, indikator keberhasilan dan langkah-langkah
kebijaksanaan serta manajemen proyek PPIP
Dipahaminya dengan jelas lingkup tugas dan lingkup kegiatan yang dibebankan oleh
pihak proyek kepada KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi, yang meliputi :
i. Lingkup siklus proyek (hasil yang diinginkan per tahap kegiatan), seperti tahap
persiapan, tahap sosialisasi, tahap perencanaan, tahap pelaksanaan fisik, tahap
pasca pelaksanaan fisik, dan tahap yang menerus / berkala (monitoring dan
evaluasi).
ii. Lingkup wilayah kerja (lokasi sasaran)
iii. Lingkup manajemen proyek, dimana setiap lingkup produk yang dihasilkan akan
melalui proses tahapan manajemen proyek, yaitu : tahapan (inisiasi, perencanaan,
pelaksanaan, monitoring/ pengendalian dan terminasi).
Diperolehnya kesamaan gerak dan bahasa bagi seluruh komponen kepada KMW PPIP
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi dalam mengimplementasikan konsep PPIP ke dalam
bahasa yang riil.

4
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

B DATA ORGANISASI PERUSAHAAN

B.1 Latar Belakang PT. Maju Jaya


PT. MAJU JAYA didirikan tahun 1974 dengan lingkup layanan jasa konsultansi meliputi studi
pra-investasi seperti perencanaan proyek, desain dan pelaksanaan, pemantauan dan
supervisi pelaksanaan proyek, jasa pengelolaan dan pengembangan sumber daya manusia,
desain program pelatihan untuk para staf manajemen dan staf inti, pengembangan sistem
manajemen informasi, sistem akuntansi dan audit, studi pengembangan sosial-ekonomi-
budaya, pertanian, studi dan riset industri, serta pengelolaan lingkungan. Juga untuk
Program Pengembangan Perkotaan (UDP) mencakup bidang sistem penyediaan air bersih,
air limbah, pengelolaan persampahan, drainase, sistem penyaluran limbah serta bidang lain
yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan, konstruksi jalan dan jembatan dan sektor
Pengembangan Sarana dan Prasarana Perkotaan. Layanan jasa konsultansi tersebut telah
diberikan kepada beberapa Perusahaan Swasta dan sebagian besar Pemerintah termasuk
dari Departemen Dalam Negeri dan Departemen Pekerjaan Umum, terutama dari Direktorat
Jenderal Cipta Karya.

B.2 Lingkup Layanan Jasa


PT. Maju Jaya merupakan Perusahaan Konsultan Nasional Indonesia ini didukung para
Tenaga Ahli Indonesia yang memenuhi syarat dalam berbagai bidang keahlian dan bergerak
di bidang utamanya dalam :
Pengembangan Wilayah & Perkotaan
Pemberdayaan Masyarakat
Jasa Manajemen dan Sistem Informasi
Studi dan Pelatihan Kepemimpinan
Studi dan Pengelolaan Lingkungan

Sampai saat ini PT. Maju Jaya telah berhasil menyelesaikan tugas-tugas layanan jasa
konsultansinya untuk bermacam proyek yang berkaitan dengan ke-empat bidang utama
tersebut diatas, untuk keperluan para klien-nya termasuk untuk proyek-proyek berbantuan
dana dari Organisasi Keuangan Internasional seperti Bank Dunia (IBRD),ADB, UNDP,
USAID, dan dari beberapa Lembaga Keuangan Bilateral, seperti DANIDA ,AIDAB, OECF,
Negeri Belanda, Jepang, Jerman dan dari beberapa Negara lainnya.
Dibidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Sosial-Ekonomi-Budaya, PT.
Unisystem Utama juga sangat berpengalaman dalam pemberian layanan jasa management

5
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

advisory, pemantauan dan evaluasi, pengembangan organisasi dan kelembagaan,


persyaratan tenaga kerja, pelatihan dan alih teknologi, research design & evaluation, risk
management advice, pengelolaan lingkungan, asuransi, studi pasar, studi sosiologi dan jasa-
jasa lainnya yang terkait.
Keahlian tersebut diatas telah berhasil dilaksanakan untuk bermacam-macam proyek baik
dari swasta maupun dari Pemerintah untuk proyek-proyek yang dibiayai oleh Pemerintah
Indonesia sendiri, maupun yang berbantuan dana dari Organisasi Keuangan Internasional
(IBRD, ADB dan lain-lain).
Didukung para Tenaga Ahli dari berbagai disiplin ilmu, PT. Maju Jaya telah berhasil
menghimpun pengalaman luas didalam membantu program Pemerintah untuk
Pengembangan Perkotaan dan Daerah, Konservasi Lingkungan, Pengembangan Sumber
Daya Manusia termasuk pelatihan dan alih teknologi.

B.3 Struktur Organisasi Perusahaan


Secara sistematis struktur organisasi perusahaan PT. Maju Jaya ditunjukkan pada halaman
berikut ini.

6
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

B.4 Pengalaman Perusahaan


Pengalaman kerja PT. Maju Jaya kurun waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir yang terkait
dengan Jasa Konsultan Manajemen dan Jasa Survey (Pendataan) antara lain:
1. Oversight Consultants (OC) Regional Management for Package 3 (DKI Jakarta, Banten
and West Kalimantan) Satker Non Vertikal Tertentu Penanggulangan Kemiskinan
Perkotaan, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum (2013)
2. Impact Evaluation Study on Rural Infrastructure Support to The PNPM Mandiri Project II,
Directorate of Settlements Development, Directorate General of Human Settlements,
Ministry of Public Works (2012)
3. Konsultan Manajemen Tenaga Pendamping Masyarakat (KMTPM) Provinsi Jawa
Tengah 01 (P-17), Kementerian Perumahan Rakyat, Deputi Bidang Perumahan
Swadaya (2012)
4. Pengelolaan Data dan Informasi Keterpaduan Prasarana Kawasan Perumahan dan
Permukiman (KPK-2) Kementerian Negara Perumahan Rakyat (2008)
5. Panduan Penyerahan Aset Rusunawa (Paket DF 72-5), Kementerian Negara
Perumahan Rakyat (2007).
6. Masukan Teknis Pedoman Penetapan Lokasi Perumahan Rumah Susun Menengah
Mewah (Paket DF-26), Kementerian Perumahan Rakyat Deputi Bidang Perumahan
Formal (2006)
7. Penyusunan Dokumen Pendukung Reformasi Birokrasi Direktorat Jenderal Cipta Karya,
Kementerian Pekerjaan Umum (2012)
8. Penyusunan Modul Pembekalan Teknis Pemetaan dan Pengelolaan Batas Wilayah Laut
dan Udara di Provinsi dan Kabupaten/Kota, Badan Nasional Pengelola Perbatasan
(2011)
9. Konsultan Manajemen Teknis Provinsi Sulawesi Barat, Satker Non Vertikal Tertentu
Pembinaan Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah Dirjen Cipta Karya,
Dep. Pekerjaan Umum (2008-2012)
10. Jasa Konsultansi Independen Monitoring dan Evaluasi, Zona 4 (empat) Provinsi Jawa
Barat dan Jawa Tengah, Departemen Pendidikan Nasional (2007)
11. Kajian Pengembangan Poverty Reduction Trust Fund, Kementerian Bidang Koordinasi
Bidang Kesejahteraan Rakyat (2006)
12. Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Proyek Penanggulangan Kemiskinan di
Perkotaan Tahap I, Paket Kalimantan Tengah, P2KP Pusat Ditjen Perumahan dan
Permukiman Dep. Kimpraswil (2003-2011).

7
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

C PEMAHAMAN KERANGKA ACUAN


KERJA

Pemahaman terhadap Kerangka Acuan Kerja (KAK) untuk menterjemahkan kedalam materi
pekerjaan, konsultan berusaha memberikan penjelasan tentang materi kegiatan sebagai
pemahamannya sebagai berikut.

C.1. Pemahaman Terhadap Substansi


Program
C.1.1. Latar Belakang PPIP
Dalam rangka mendukung upaya penanggulangan kemiskinan di wilayah perdesaan,
Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya telah
melaksanakan berbagai program, antara lain : Program Kompensasi Pengurangan
Subsidi-Bahan Bakar Minyak di bidang Infrastruktur Perdesaan (PKPS-BBM IP)
pada tahun 2005, Rural Infrastucture Support (RSIP) pada tahun 2006 serta Program
Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) yang telah dimulai sejak tahun 2007
sampai sekarang.
Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan atau yang lebih dikenal sebagai
PPIP bertujuan menciptakan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, baik
secara individu maupun kelompok sehingga mampu memecahkan berbagai
permasalahan terkait kemiskinan dan ketertinggalan yang ada di desanya.
PPIP merupakan program berbasis pemberdayaan masyarakat di bawah paying
PNPM Mandiri, yang komponen kegiatannya meliputi fasilitasi dan mobilisasi
masyarakat sehingga mampu melakukan identifikasi permasalahan ketersediaan dan
akses ke infrastruktur dasar, menyusun perencanaan dan melaksanakan
pembangunan infrastruktur dasar.
Lokasi PPIP tersebar di 32 provinsi, dengan sasaran lokasi mengikuti ketetapan SK
Menteri Pekerjaan Umum.
Dalam pelaksanaannya, PPIP terus berupaya meningkatkan kapasitas dan peran
masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholder) dalam pelaksanaan program.
Hal-hal tersebut dilakukan melalui :
a) Peningkatan kepedulian dan kesadaran mengenai pentingnya ketersediaan dan
akses terhadap infrastruktur desa di semua tingkatan pelaku.
b) Peningkatan partisipasi masyarakat secara aktif dalam pelaksanaan program
khususnya peran serta perempuan dan masyarakat kelompok miskin, terutama
dalam proses pengambilan keputusan.

8
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

c) Peningkatan kapasitas penyelenggara melalui pelatihan yang terintegrasi dalam


system penyelenggaraan program.
d) Peningkatan kualitas kerja, melalui pemantauan kinerja yang akan dilakukan
secara berjenjang dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten, sampai di tingkat desa.
e) Penilaian kinerja yang dikaitkan dengan system, penghargaan, dan sanksi bagi
penyelenggara program, dari tingkat provinsi, kabupaten, dan tingkat desa, dan
f) Penguatan mekanisme serta pelaksanaan penanganan pengaduan masyarakat.

Dengan upaya tersebut, diharapkan dapat mendorong keterlibatan masyarakat


secara optimal dalam semua tahapan kegiatan, mulai dari pengorganisasian
masyarakat, penyusunan rencana program, penentuan jenis kegiatan pembangunan
infrastruktur perdesaan, sera rencana pengelolaannya.
Disamping dengan peningkatan kapasitas pemangku kepentingan (stakeholder)
lainnya maka diharapkan terjadi percepatan proses kemandirian masyarakat dan
terwujudnya sinergi berbagai pelaku pembangunan dalam rangka penanggulangan
kemiskinan di perdesaan.

C.1.2. Maksud dan Tujuan PPIP

Maksud PPIP adalah sebagai upaya untuk mengurangi kemiskinan dan


memperkuat implementasi tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).

Tujuan : untuk mewujudkan peningkatan akses masyarakat miskin, hampir miskin,


dan kaum perempuan, termasuk kaum minoritas ke pelayanan infrastruktur dasar
perdesaan-perdesaan, dengan berbasis pada pendekatan pemberdayaan
masyarakat dan peningkatan tata kelola pemerintahan yang baik.

C.1.3. Komponen Program

a) Penguatan Kapasitas Perencanaan Masyarakat


Program ini akan mendukung dan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk
memprioritaskan, merencanakan, melaksanakan, mengelola dan memantau
pelaksanaan pembangunan infrastruktur dasar. Penguatan dilaksanakan melalui :
(i) memposisikan masyarakat sebagai penentu/pengambil kebijakan dan pelaku
utama pembangunan, (ii) mengutamakan nilai-nilai universal dan budaya serta
kearifan local dalam pelaksanaan tahapan kegiatan, sesuai dengan karakteristik
sosial, budaya dan geografis.
Secara khusus, hal-hal yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Peningkatan kapasitas masyarakat melalui pendampingan Organisasi
Masyarakat Setempat (OMS), Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP)
dan Kader Desa (KD) untuk :
i. Melakukan penyebaran informasi tentang PPIP secara luas di tataran
desa;
ii. Melakukan survey desa;
iii. Mengidentifikasi masalah, kebutuhan dan kesempatan untuk
mengentaskan kemiskinan serta meningkatkan pembangunan desa;

9
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

iv. Menilai tingkat partisipasi masyarakat dan kelemahan-kelemahan dalam


pelaksanaannya;
v. Meningkatkan mekanisme perencanaan dan proses-proses pembuatan
keputusan;
vi. Merumuskan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) dan Rencana
Operasi dan Pemeliharaan (O&P) dengan memperhitungkan secara rinci
kebutuhan pendanaan dan pembiayaannya;
vii. Melaksanakan RKM yang telah ditetapkan oleh masyarakat dengan
memanfaatkan dana BLM sesuai dengan prinsip dan mekanisme
program;
viii. Menyelenggarakan kegiatan secara transparan dan akuntabel termasuk
dalam pelaksanaan pemantauan dan pelaporan kemajuan fisik dan
keuangan, audit fisik dan keuangan;
ix. Melaksanakan rencana O&P guna memastikan keberlanjutan program
prasarana terbangun;
b. Pendampingan masyarakat oleh Fasilitator Masyarakat (FM);
c. Penguatan kapasitas pemerintah daerah (provinsi, kabupaten, kecamatan
dan desa) dalam pelaksanaan pembangunan partisipatif berbasis
pemberdayaan masyarakat. Pemerintah daerah diharapkan mampu menjaga
keberlanjutan proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan
partisipatif yang diperoleh dari program. Kegiatan terkait dengan hal tersebut
antara lain:
i. Pelaksanaan pelatihan untuk memperkuat kapasitas perencanaan mulai
dari tingkat komunitas hingga tingkat daerah dan penganggaran yang pro
masyarakat miskin, serta pengintegrasian rencana desa ke dalam rencana
dan anggaran kabupaten;
ii. Melaksanakan orientasi dan lokakarya, pelatihan singkat mengenai fungsi-
fungsi tertentu, serta materi-materi infomasi dan komunikasi.

b) Peningkatan Layanan dan Penyediaan Infrastruktur Desa Melalui Bantuan


Langsung Masyarakat (BLM)
Dana BLM disalurkan langsung ke desa sasaran untuk mendukung pelaksanaan
rencana pembangunan sesuai dengan RKM yang ditetapkan masyarakat.
Komponen Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) adalah dana stimulan
keswadayaan yang diberikan kepada kelompok masyarakat untuk membiayai
sebagian rencana kegiatan yang disusun oleh masyarakat.
Masyarakat dapat menyepakati apakah BLM dipergunakan untuk membiayai satu
jenis kegiatan atau lebih sesuai dengan penilaian prioritas dan keputusan
musyawarah desa.

c) Peningkatan Kapasitas Pelaksanaan dan Pengendalian Program


Peningkatan dan penguatan kapasitas pelaksanaan program dilakukan dari tingkat
pusat, provinsi dan kabupaten, dengan kegiatan antara lain :
a. Pendampingan oleh konsultan manajemen untuk mendukung Tim Pelaksana
Pusat, Tim Pelaksana Provinsi dan Tim Pelaksana Kabupaten serta Satuan
Kerja di setiap level. Pendampingan konsultan aka mencakup bantuan teknis,
manajemen dan dukungan pengembangan kapasitas dalam perencanaan

10
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

program; pengelolaan dan koordinasi; pelaksanaan penanganan pengaduan;


desain teknis kualitas konstruksi; manajemen keuangan dan akuntansi; serta
pelatihan pengembangan sumber daya manusia. Pendampingan mencakup
juga peningakatan kapasitas untuk pemantauan dan evaluasi.
b. Peningkatan pelaksanaan pengendalian dengan memberikan ruang kepada
seluruh lapisan masyarakat termasuk LSM dalam melakukan pemantuan dan
evaluasi, yang dilakukan sebagai bagian dari tim Koordinasi Provinsi atau
Kabupaten, maupun sebagai pihak independen. Pengendalian dan monitoring
mengacu pada pedoman pelaksanaan.

C.1.4. Prinsip dan Pendekatan

a) Prinsip
Prinsip-prinsip penyelengaraan PPIP adalah :
i. Dapat diterima (Acceptable), pemilihan kegiatan
dilakukan berdasarkan musyawarah desa sehingga
dapat diterima oleh masyarakat secara luas
(acceptable). Prinsip ini berlaku dari sejak pemilihan
lokasi pembangunan infrastruktur, penentuan
spesifikasi teknis, penentuan mekanisme
pengadaan dan pelaksanaan kegiatan, termasuk
pada penetapan mekanisme pemanfaatan dan
pemeliharaannya.
ii. Transparansi, penyelenggaraan kegiatan dilakukan bersama masyarakat
secara terbuka dan diketahui oleh semua unsur masyarakat (transparent).
Transparansi antara lain dilakukan melalui penyebaran informasi terkait
program secaraakurat dan mudah diakses oleh masyarakat.
iii. Akuntabel, penyelenggaraan kegiatan yang dilaksanakan masyarakat harus
dapat dipertanggungjawabkan (accountable), dalam hal ketepatan sasaran,
waktu, pembiayaan, dan mutu pekerjaan.
iv. Berkelanjutan, penyelenggaraan kegiatan dapat memberikan manfaat
kepada masyarakat secara berkelanjutan (sustainable) yang ditandai dengan
adanya rencana pemanfaatan, pemeliharaan dan pengelolaan infrastruktur
terbangun secara mandiri oleh masyarakat.

b) Pendekatan
i. Pemberdayaan Masyarakat, artinya seluruh proses pelaksanaan kegiatan
(tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan
pemeliharaan) melibatkan peran aktif masyarakat.
ii. Keberpihakan kepada orang miskin, artinya orientasi kegiatan baik dalam
proses maupun pemanfaatan, hasil diupayakan dapat berdampak langsung
bagi penduduk miskin.
iii. Otonomi dan desentralisasi, artinya pemerintah daerah dan masyarakat
bertanggung jawab penuh atas penyelenggaraan program dan keberlanjutan
infrastruktur terbangun.
iv. Partisipatif, artinya masyarakat, khususnya kelompok miskin, kaum
perempuan serta kelompok minoritas, diberikan kesempatan untuk terlibat

11
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

secara aktif dalam kegiatan mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan,


pengawasan, pemeliharaan dan pemanfaatan, serta memberikan kesempatan
secara luas partisipasi aktif dari.
v. Keswadayaan, artinya kemandirian masyarakat menjadi faktor utama dalam
keberhasilan pelaksanaan tahapan kegiatan PPIP.
vi. Keterpaduan program pembangunan, artinya program yang direncanakan
dan dilaksanakan dapat ber sinergi dengan program pembangunan
perdesaan lainnya.
vii. Penguatan Kapasitas Kelembagaan, artinya pelaksanaan kegiatan
diupayakan dapat mendorong terwujudnya kemandirian pemerintah daerah,
organisasi masyarakat, dan stakeholders lainnya dalam penanganan
permasalahan kemiskinan.
viii. Kesetaraan dan keadilan gender, artinya pelaksanaan kegiatan mendorong
terwujudnya kesetaraan antara pria dan perempuan dalam setiap tahap
kegiatan dan pemanfaatannya.

C.1.5. Indikator Kinerja PPIP


Keberhasilan PPIP dapat diukur dari ketercapaian indikator kinerja, seperti disajikan
pada table 3.1. berikut :

Tabel C.1 Indikator Kinerja PPIP

12
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

C.2. Pemahaman Terhadap Lingkup Kegiatan


C.2.1. Ruang Lingkup Kegiatan Konsultan
Pelaksanaan PPIP dilaksanakan secara bertahap dengan proses-proses yang telah
ditetapkan dalam pedoman, dimana dalam penyelenggaraan tahapan tersebut sering
ditemukan permasalahan-permasalahan teknis maupun, manajemen dan pengaduan
masyarakat, sehingga diperlukan adanya advise teknis dan manajemen dari KMW
sehingga pelaksanaan program dapat berjalan efektif, efisien dan sesuai dengan
pedoman. Selain itu, penyelenggaraan program akan dilakukan berbagai koordinasi
baik di tingkat pusat dan daerah sehingga diperlukan adanya peran KMW untuk
memberikan Advise Teknis dan Manajemen serta Pendampingan dalam setiap
proses tahapan program.
Sesuai dengan sasaran kegiatan yang akan dicapai maka, ruang lingkup konsultan
adalah sebagai berikut:

a) Penyebarluasan Informasi Program

13
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Penyebarluasan program dan sosialisasi merupakan aspek penting yang harus


berjalan dengan baik di tingkat pusat dan daerah. Kampanye penyadaran publik
dan penyebarluasan informasi pelaksanaan program dilakukan di tingkat pusat
dan daerah serta tingkat desa. Peran KMWbersama-sama KMP dalam
penyebarluasan informasi program adalah:
- Pemantauan terhadap pelaksanaan proses sosialisasi di tiap tingkatan pada
wilayah kerjanya
- Penilaian terhadap proses sosialisasi di tiap tingkatan
- Pemantauan terhadap pemasangan poster dan media lainnya
- Penilaian terhadap efektifitas media informasi, distribusi dan pemasangannya
- Rekomendasi advise teknis dan non teknis terkait informasi program.

b) Pengendalian Program
Peran KMW yang sangat penting adalan pengendalian program. KMW harus
dapat menjaga proses pelaksanaan program sesuai dengan pedoman
pelaksanaan. Pengendalian yang dilakukan oleh KMW akan mencakup:
- Pelaporan rutin kemajuan pelaksanaan kepada KMP dan Tim Pelaksana Pusat
- Pelaporan rutin kinerja TAMPr di lapangan kepada KMP
- Melakukan konsolidasi dan konsinyasi terkait laporan progres lapangan
- Inventarisasi permasalahan di lapangan dan rekomendasi T3
- Kunjungan lapangan dalam pemantauan dan pengendalian program
- Penilaian terhadap proses pengendalian program di tiap lini
- Random checking kualitas UPD dan RKM disesuaikan dengan desa yang
dikunjungi.
- Rekomendasi advise teknis dan non teknis terkait pengendalian program yang
akan datang.

c) Monitoring Pelaksanaan Program


Monitoring Pelaksanaan Program yang dilakukan oleh KMW mencakup :
- Melakukan kunjungan lapangan untuk sosialisasi, pelatihan, sampling, skala
urgent T3, pengaduan, permintaan dan dokumentasi
- Pelaporan hasil kunjungan lapangan
- Penilaian terhadap proses pelaksanaan program yang terjadi pada desa-desa
yang dikunjungi
- Rekomendasi advise teknis dan non teknis pelaksanaan monitoring

d) Konsolidasi Data
KMW dalam penugasannya terkait konsolidasi data mencakup :
- Penyusunan format baku terkait konsolidasi data yang disepakati
- Melakukan analisa dan penilaian terhadap setiap data yang diperoleh
- Pemutakhiran data akhir terkompilasi
- Menyampaikan desa-desa sebagai best practice yang direkomendasikan untuk
dapat diresmikan
- Kesimpulan dan rekomendasi terkait konsolidasi data

e) Evaluasi Pelaksanaan Program

14
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

KMW harus melakukan evaluasi pelaksanaan program untuk memberikan input


kepada KMP dan Tim Pelaksanaan di tingkat pusat pada setiap pelaksanaan
tahapan. Evaluasi pelaksanaan program yang dilakukan oleh KMW mencakup:
- Evaluasi terhadap kemajuan progres per dua mingguan
- Evaluasi terhadap tiap tahapan proses pelaksanaan
- Evaluasi terhadap partisipasi pemda dan komitmen BOP
- Evaluasi terhadap kuantitas dan kualitas infrastruktur terbangun dibandingkan
dengan realisasi biaya
- Evaluasi terhadap rencana dan realisasi O&M masyarakat dan potensi
keberlanjutannya

f) Pelaporan dan Dokumentasi


Pelaporan adalah penyampaian informasi yang dilakukan secara
berjenjang dari tingkat desa, kabupaten, provinsi dan sampai ke pusat.
Pelaporan konsultan terdiri dari laporan pendahuluan, laporan mingguan,
bulanan, draft final dan laporan akhir.
Laporan mingguan menjadi laporan yang sangat penting, karena akan
memuat informasi proses pelaksanaan sesuai dengan capaian pada
minggu yang bersangkutan dan berbagai permasalahan yang perlu
ditindaklanjuti. Laporan bulanan KMW merupakan konsolidasi dari laporan
monitoring dan evaluasi oleh KMK yang dikonsolidasikan oleh TAMPr.
Tugas KMW juga antara lain adalah memastikan bahwa pelaporan ini
dapat tersampaikan secara rutin, tepat waktu dan akurat mulai dari tingkat
desa, kabupaten, provinsi dan pusat. KMW menyampaikan rekomendasi
tindak turun tangan jika penyampaian pelaporan mengalami
keterlambatan.
KMW PPIP APBN P TA 2013 berkewajiban untuk menyerahkan laporan
pelaksanaan tugasnya yang mencakup :
- Asistensi setiap draft laporan sebelum diserahkan
- Pemenuhan kuantitas dan substansi laporan sebagaimana yang
ditentukan dalam kontrak
- Kompilasi dokumentasi minimal 8 megapixel berupa foto-foto :
kegiatan-kegiatan persiapan, pra dan pasca konstruksi (0%, 50%,
100%).

15
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Gambar C.1 Ruang Lingkup Kegiatan Konsultan

Berdasarkan lingkup tugas dan tanggung jawab tersebut, maka tugas KMW adalah
sebagai berikut :
1. Memberikan Advise teknis sesuai pedoman-pedoman pelaksanaan dan petunjuk
teknis yang sudah ditetapkan.
2. Memberikan advise manajemen sesuai pedoman.
3. Berkoordinasi dengan seluruh stakeholder di pusat dan daerah agar program
dilaksanakan dengan efektif, efesien dan tepat sasaran.
4. Pendampingan proses dalam tiap tahapan PPIP mulai dari tahapan persiapan,
sosialisasi sampai dengan pelaksanaan fisik serta pasca pelaksanaannya pada
seluruh desa sasaran PPIP tahun 2013.

C.2.2. Tahapan Kegiatan PPIP APBN-P TA.2013

Tahapan pelaksanaan kegiatan utama PPIP APBN-P Tahun Anggaran 2013


meliputi rangkaian kegiatan yang dapat saja bersifat urutan (sekuensial)
atau bersamaan (paralel) atau bahkan ada yang menerus seperti antara
lain pemantauan dan pendampingan. Disamping itu kelompok kegiatan
tersebut dapat juga dipilahkan menjadi persiapan dalam arti tidak
langsung terkait dengan pelaksanaan dan tahap pelaksanaan.
Uraian berikut akan menjelaskan secara ringkas tahap-tahap kegiatan
tersebut disertai bahasan yang berkaitan dengan peran dan lingkup tugas
KMW serta hasil yang diharapkan pada setiap tahap tersebut.

16
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Gambar C.2 Tahapan Kegiatan Konsultan

a) Tahap Persiapan
Kegiatan awal yang dilaksanakan KMW PPIP APBN- P
Kalimantan dan Sulawesi adalah tahap persiapan.
Pada tahap ini strategi utama yang dilakukan
adalah koordinasi secara berjenjang dari tingkat
pusat, provinsi, kabupaten dan desa untuk
melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Penetapan desa sasaran
2. Penetapan Pejabat Inti Satker
3. Pembentukan tim pelaksana
4. Penyusunan rencana kerja

Output dalam tahapan ini adalah:


1. Daftar desa sasaran PPIP APBN-
P 2013
2. Keputusan Penetapan Pejabat
Inti Satker
3. Terbentuknya Tim Pelaksana
4. Rencana strategi pelaksanaan
PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Laporan Kegiatan tahap
persiapan yang telah berjalan efektif

Outcome : KMW memiliki daftar desa sasaran, Pejabat Inti Satker dan
Tim Pelaksana yang tetap untuk pelaksanaan kegiatan tahap berikutnya
dalam kegiatan KMW PPIP ABPN-P.

b) Tahap Sosialisasi dan Penyebarluasan Informasi


Sosialisasi kegiatan dilaksanakan untuk menyebarluaskan konsep,
mekanisme penyelenggaraan program serta menyatukan persepsi

17
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

dalam pelaksanaan kegiatan Program Pembangunan Infrastruktur


Perdesaan. Sosialisasi dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat
propinsi, kabupaten dan desa sasaran.
Penyebarluasan informasi dalam PPIP dilakukan di tingkat pusat,
propinsi, kabupaten dan desa sasaran. Penyebarluasan informasi dalam
PPIP dilakukan melalui koordinasi, forum komunikasi dan media lainnya.

Output dalam tahapan ini adalah:


1. Tersebarnya konsep, mekanisme penyelenggaraan program ke
seluruh pemangku kepentingan pelaksanaan PPIP ABN-P
Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013
2. Terbentuknya forum komunikasi dan media komunikasi

Outcome : KMW dan seluruh pemangku kepentingan dalam kegiatan


PPIP ABPN-P memiliki persamaan persepsi dalam pelaksanaan kegiatan
Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan.

c) Tahap Perencanaan
KMW melakukan perencanaan terhadap
strategi pelaksanaan PPIP di desa
sasaran program, yang kemudian di
sosialisasikan kepada instansi Pemda
setempat dan masyarakat calon
penerima manfaat di lokasi sasaran,
serta membuat rencana kegiatan yang
lebih rinci dengan melibatkan pihak
instansi pemerintah daerah dan
penyusunan rencana dan strategi
pelaksanaan kerja komunitas setempat yang akan
dilaksanakan selama masa tugas yang
diberikan. Seluruh rencana kerja dan
strategi pelaksanaan yang dibuat oleh KMW dikonsultasikan dan harus
mendapat persetujuan KMP. Secara Secara garis besar tahapan
perencanaan akan mencakup kegiatan di tingkat desa sebagai berikut:
1. Sosialisasi tingkat desa;
2. Rembug Persiapan Warga
3. Musyawarah Desa I (Pembentukan OMS/Pokmas/LKD dan Kader
Desa);
4. Identifikasi Permasalahan;
5. Musyawarah Desa II
6. Penyusunan UPD dan RKM
7. Verifikasi UPD dan RKM
8. Pembuatan Rencana Teknis dan RAB
Perencanaan juga merupakan proses pembelajaran kepada masyarakat
agar lebih memahami kondisi ketertinggalannya dan dapat melakukan
identifikasi potensi, menyepakati kebutuhan serta menyepakati

18
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

rencana kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan sebagai salah satu


solusi dalam menangani permasalahannya.
Pengembangan kapasitas masyarakat akan tercermin pada
pelaksanaan setiap tahapan dalam perencanaan. Untuk itu, tugas
fasilitator sebagai pendamping dan pembimbing masyarakat dalam
pelaksanaan program menjadi sangat penting. Kapasitas fasilitator
akan menjadi tolok ukur dalam keberhasilan pelaksanaan program di
tingkat desa.

Output dalam tahapan ini adalah:


1. Telah tersosialisasikannya PPIP di tingkat desa
2. Terlaksananya setiap proses tahapan perencanaan dalam kegiatan
PPIP di desa
3. Laporan Kegiatan sosialisasi dan penyelesaian tahapan
perencanaan kegiatan PPIP di desa yang telah berjalan efektif
4. Rencana Strategi pelaksanaan pembangunan infrastruktur

Outcome : KMW memiliki perencanaan pelaksanaan kegiatan yang


matang dan menyeluruh yang setiap saat berdasarkan indikator
keberhasilan yang ditetapkan, dapat dibandingkan dengan hasil
pelaksanaan sebenarnya.

d) Tahap Pelaksanaan Fisik


Pelaksanaan fisik infrastruktur
perdesaan dilakukan melalui
beberapa tahapan yang telah
ditentukan dalam Pedoman
Pelaksanaan PPIP, tahapa tersebut
adalah :
1. Musyawarah Desa III (rencana
pelaksanaan pembangunan infrastruktur);
2. Penandatanganan Kontrak Kerja
3. Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur
4. Pengawasan Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur
5. Informasi Pelaksanaan / Pelaporan Kegiatan
6. Rembug Warga Pelaksanaan
Proses pelaksanaan fisik meliputi beberapa kegiatan yang terkait di
dalamnya, seperti penyiapan lokasi, pengadaan material, pelaksanaan
konstruksi, pengadaan barang, sewa alat, dan pengendalian tenaga
kerja, pengendalian waktu pelaksanaan serta pengendalian
pengeluaran dana.
Output :
1. Laporan hasil verifikasi ulang rencana pelaksanaan pembangunan
infrastruktur);
2. Laporan pelaksanaan tahapan program pelaksanaan fisik
infrastruktur (disertai indikator efektifitasnya)

19
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Outcome : Terlaksananya seluruh tahapan Pelaksanaan Fisik


Infrastruktur secara baik dan benar

e) Tahap Pasca Pelaksanaan Fisik

Pada tahap pasca pelaksanan fisik, kegiatan yang dilakukan adalah :


1. Musyawarah Desa IV (laporan pertanggung jawaban OMS tentang
hasil pelaksanaan kegiatan);
2. Serah Terima Infrastruktur Terbangun
3. Operasi dan Pemeliharaan.
Setelah tahap konstruksi fisik dan pengadaan selesai selanjutnya
dilakukan serah terima pekerjaan dari OMS/Pokmas/LKD kepada
PPK/Satker. Selanjutnya pengelolaan infrastruktur terbangun diserahkan
dari Satker kepada Pemerintah Kabupaten, untuk kemudian diserahkan
kepada Pemerintah Desa untuk dimanfaatkan, dikelola, dan dilestarikan
oleh masyarakat melalui KPP. Pada tahap pasca konstruksi, Pemerintah
Kabupaten sebagai pembina dan fasilitator PPIP diharapkan
meneruskan dukungannya pada tahap pelestarian. Bentuk pembinaan
dan dukungan yang diberikan dapat berupa bantuan teknis dan/atau
bantuan pendanaan.

Output :
1. Konstruksi fisik dan pengadaan selesai
2. Serah terima pekerjaan dari OMS/Pokmas/LKD kepada PPK/Satker.
3. Pemerintah Kabupaten sebagai pembina dan fasilitator PPIP
meneruskan dukungannya pada tahap pelestarian

Outcome : Pelaksanaan kegiatan pasca pelaksanaan fisik dapat


terkendali dengan baik
f) Tahap Pengendalian dan Monitoring

KMW melakukan pengendalian


terhadap pelaksanaan kegiatan yang
dilakukan oleh Fasilitator Masyarakat
(FM), OMS, KD dan KPP. Kegiatan
pengendalian meliputi beberapa hal
sebagai berikut :
1. Melakukan kunjungan secara
berkala ke lokasi sasaran.
Bimbingan teknis kepada fasilitator sebagai
2. Memberikan arahan dan bagian dari kegiatan pengendalian
bimbingan teknis kepada
Fasilitator Masyarakat (FM), OMS, KD dan KPP dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya.
3. Berpartisipasi dalam monitoring dan supervisi yang dilakukan oleh
Pemerintah (baik Pusat dan Daerah).

20
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Selain kegiatan pengendalian yang


dilakukan KMW, juga secara terus
menerus dilakukan monitoring terhadap
seluruh kegiatan pelaksanaan PPIP
dengan membuat laporan yang
didasarkan pada data SIM sebagaimana
sistem yang telah ada. Kegiatan lain
yang terkait dengan monitoring adalah Evaluasi dan Monitoring

sebagai berikut:
1. Melaksanakan monitoring di wilayah kerjanya yang didasarkan
pada perencanaan induk dalam rangka melakukan evaluasi dan
penilaian terhadap pelaksanaan secara kwantitatif dan kwalitatif
dengan menggunakan data SIM.
2. Mengoperasionalkan sistim manajemen terhadap penggunaan
dana bantuan untuk keperluan replenishment .
3. Melaksanakan monitoring terhadap permasalahan dan pengaduan
yang timbul di lapangan dan penanganan penyelesaiannya.

Output :
1. Laporan hasil kunjungan lapangan secara berkala
2. Laporan hasil monitoring pelaksanaan kegiatan termasuk
permasalahan yang dihadapi di lapangan dan rencana
penanggulangannya

Outcome : Menguasai dengan baik seluruh permasalahan pelaksanaan


yang ada di wilayahnya dan pelaksanaan kegiatan oleh Tim Fasilitator
dapat terkendali dengan baik

C.3. Dana Bantuan Langsung Masyarakat


(BLM) dan Bantuan Teknis

KOMPONEN DANA BANTUAN LANGSUNG MASYARAKAT (BLM)

Komponen dana BLM (bantuan


langsung masyarakat) PPIP berasal
dari :
a) Dana Pemerintah (APBN) yang
dipergunakan untuk membiayai
BLM, gaji dan pelatihan fasilitator
serta operasional Satker Provinsi Dana bergulir sebagai dana stimulan
dalam program PPIP

21
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

dalam pengendalian dan pengawasan yang teralokasi di DIPA SNVT di


tingkat provinsi.
b) Dana Pemerintah Provinsi (APBD) sebesar 1% dari total BLM yang
diterima untuk membiayai operasional Tim Pelaksana Provinsi dalam
penyelenggaraan program yang teralokasi di DIPA SKPD di tingkat
provinsi
c) Dana Pemerintah Kabupaten (APBD) minimal sebesar 5 % dari total BLM
yang diterima untuk membiayai operasional Satker, Tim Pelaksana
Kabupaten dalam pengendalian dan pengawasan yang teralokasi di DIPA
SKPD di tingkat Kabupaten.
d) Dana swadaya masyarakat untuk mendukung pelaskanaan musyawarah
dan rembug-rembug desa, pemeliharaan dan pengembangan manfaat
infrastruktur yang dibangun melalui PPIP.
Penerima manfaat dana BLM untuk pembangunan infrastruktur perdesaan
adalah masyarakat desa yang nama desanya termasuk dalam daftar Desa
Sasaran PPIP 2013 yang ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum.
Jumlah dana untuk tiap desa sasaran ditetapkan sebesar Rp 250 juta. Dana ini
sudah termasuk dana operasional OMS sebesar Rp 5 juta untuk melaksanakan
persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pelaporan.

BANTUAN TEKNIS KMW PPIP APBN-P KALIMANTAN DAN SULAWESI

KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi bertugas untuk memberikan


pendampingan manajemen dan dukungan teknis kepada Tim Pelaksana Pusat dalam
penyelenggaraan program di tingkat regional.
Pedoman yang akan dijadikan rujukan bagi KMW PPIP Kalimantan dan Sulawesi adalah
Indikator Keluaran dan Keluaran yang temuat dalam Kerangka Acuan Kerja, yaitu :
a) Indikator Keluaran
Indilkator keluaran kegiatan Konsultan Manajemen Wilayah Program Pembangunan
Infrastruktur Perdesaan (PPIP) APBN P Kalimantan dan Sulawesi Tahun 2013 adalah
:
- Terselenggaranya Penyebarluasan Informasi Program di Pusat dan daerah
mengenai program PPIP melalui media sosialisasi pemasangan poster mulai dari
tingkat pusat, provinsi, kabupaten dan desa dan penilaian terhadap efektifitas
media penyebarluasan informasi tersebut dalam bentuk laporan informasi
pelaksanaan PPIP TA. 2013.

22
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

- Terselenggaranya pembekalan dan pelatihan KMK dan TAMPr dalam bentuk


laporan pelaksanaan pembekalan dan pelatihan KMK dan TAMPr termasuk
didalamnya kontribusi KMW dalam penyiapan Pelatihan FM.
- Terkendalinya program dengan koordinasi yang baik mulai dari pengendalian
program, kinerja KMK dan TAMPr, pemantauan progres dan UPD di lapangan
dan permasalahannya dalam bentuk laporan pengendalian program PPIP.
- Termonitornya pelaksanaan program PPIP di propinsi, kabupaten desa melalui
kunjungan di lapangan untuk sosialisasi, pelatihan, sampling, pengaduan,
permintaan dan dokumentasi dalam bentuk laporan monitoring pelaksanaan
PPIP.
- Terkonsolidasinya dan teranalisisnya setiap data yang dikumpulakan oleh KMW
termasuk data desa best practise dan disampaikan dalam bentuk laporan
konsolidasi data PPIP Tahun 2013.
- Terselenggaranya evaluasi pelaksanaan terhadap progres, kinerja KMK dan
TAMPr, BOP, Infrastruktur terbangun, eksistensi OMS dan KPP serta rencana
pemeliharaannya dalam bentuk laporan evaluasi program.
- Terselenggaranya pelaporan dan dokumentasi KMW dengan efektif dan tepat
waktu dalam bentuk laporan pendahuluan, mingguan, bulanan, draft final, final.
b) Keluaran
Keluaran kegiatan Konsultan Manajemen Wilayah Program Pembangunan
Infrastruktur Perdesaan (PPIP) APBN P Tahun 2013 adalah:
- Terselenggarannya pelaksanaan program yang sesuai dengan pedoman umum
dan pedoman pelaksanaan yang sudah ditetapkan.
- Laporan Pelaksanaan Tugas dan Tanggungjawab KMW PPIP TA. 2013 sesuai
dengan ruang lingkup penugasan konsultan.

D.4. MASA PENUGASAN KMW DAN TENAGA AHLI

Penugasan KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013 selama 4 (empat)
bulan kalender, didukung oleh tim tenaga ahli di tingkat propinsi. Secara detail, tenaga
ahli KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013 berikut masa
penugasannya disajikan pada tabel berikut ini :

Tabel D.2. Tenaga Ahli dan Penugasannya.

Masa
No Posisi Tenaga Ahli Jumlah Kedudukan
Penugasan
1. Team Leader 1 4 Provinsi

23
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

2. TA Pemberdayaan Masyarakat 2 8 Provinsi


3. TA Monitoring & Evaluasi 5 20 Provinsi
4. TA Data Base 2 8 Provinsi

D.5. PELAPORAN

Pelaporan kegiatan KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013
merupakan kewajiban KMW terhadap Satuan Kerja Pembinaan Pembangunan
Infrastruktur Perdesaan Ditjen Cipta Karya, meliputi laboran-laporan seperti tersaji
pada tabel berikut :

Tabel D.3. Pelaporan dan Waktu Penyampaian.

Jumlah Batas Waktu


No Jenis Laporan Durasi
Eksemplar Penyampaian
1. Laporan Pendahuluan 1 kegiatan 10 1 bulan paska SPMK
2. Laporan Mingguan 1 per minggu 40 Setiap hari Senin
3. Laporan Bulanan 1 kegiatan 10 Setiap tanggal 1
4. Laporan Draft Final 1 kegiatan 10 3 bulan paska SPMK
5. Laporan Final 1 kegiatan 10 4 bulan paska SPMK

D.5. MANAJEMEN PROYEK

Struktur Organisasi Proyek menggambarkan pola hubungan pelaku atau


pelaksana PPIP dari tingkat pusat sampai dengan daerah. Direktorat
Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, cq. Satker Pembinaan
Pembangunan Infrastruktur Perdesaan, Kegiatan Pembangunan
Infrastruktur Perdesaan, Direktorat Pengembangan Permukiman
bertanggung jawab terhadap keseluruhan penyelenggaraan proyek PPIP.
Dibawah ini gambar (D.3) Stuktur Organisasi Proyek yang menggambarkan
pola hubungan pelaku atau pelaksana PPIP dari tingkat Pusat sampai
dengan tingkat daerah dan dari posisi Pemerintah hingga komunitas
(masyarakat).

24
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

GAMBAR D.3 STRUKTUR ORGANISASI MANAJEMEN PPIP

PAK NGATIOOO...DIMASUKKANN YA....

25
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

TANGGAPAN TERHADAP
E KERANGKA ACUAN KERJA

Tanggapan terhadap KAK merupakan interpretasi Konsultan terhadap materi yang tercakup
dalam KAK mengenai PPIP APBN-P TA.2013. Konsultan menganggap bahwa ada beberapa
hal yang perlu dipertimbangkan dan ditanggapi baik permasalahan yang ada di dalam KAK
maupun ide-ide Konsultan sebagai KMW Kalimantan dan Sulawesi dalam menjalankan
program PPIP. Kesemua hal tersebut diatas akan dibahas dalam sub bab tanggapan
terhadap KAK dibawah ini :

E.1. TANGGAPAN TERHADAP KAK

Ada beberapa hal penting dalam usulan teknis yang akan disajikan sebagai tanggapan
atas KAK, yaitu:
1 Tanggapan konsultan terhadap hakekat PPIP APBN-P;
2 Tanggapan konsultan tentang lingkup, tugas utama, dan kunci keberhasilan KMW
PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013;
3 Strategi konsultan untuk keberlanjutan hasil pelaksanaan program;
4 Pendekatan manajemen yang secara khusus akan digunakan konsultan untuk
menjamin keberhasilan tugas KMW;
5 Strategi konsultan dalam monitoring dan evaluasi pelaksanaan, mengingat lokasi
daerah sasaran sangat berjauhan dan kemungkinan belum tersedianya teknologi
sistem informasi manajemen.
6 Strategi konsultan untuk meningkatkan pelibatan pemerintah-daerah.

Untuk penjabarannya adalah sebagai berikut :

TANGGAPAN TENTANG HAKEKAT DAN TUJUAN PPIP

a) Pemberdayaan masyarakat merupakan hakekat dan tujuan utama PPIP.


Mengacu pada Pedoman Pelaksanaan PPIP, akan jelas terlihat bahwa jiwa dari
PPIP adalah pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dalam
konteks PPIP ini diartikan sebagai upaya untuk membuka wawasan masyarakat
agar mampu merumuskan prioritas persoalan yang mereka hadapi dan selanjutnya

26
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

mampu melihat potensi yang mereka miliki serta mengakses ke pelayanan


infrastruktur dasar perdesaan dan mengorganisasikan sumberdaya-sumberdaya
kunci di sekitarnya sebagai bagian dari pemecahan persoalan mereka tersebut.
Untuk dapat menciptakan masyarakat yang berdaya tersebut, PPIP menggunakan
strategi pemberdayaan yang berbasis pada kelompok. Pemberdayaan dilakukan
dalam bentuk pengembangan kelembagaan (institutional development) di tingkat
komunitas (dalam hal ini di tingkat desa). Pendekatan ini lebih menjamin
terwujudnya keberlanjutan dibandingkan dengan pendekatan proyek (ad hoc) yang
digunakan pada waktu lalu. Oleh karena itu -pada akhir PPIP- terciptanya
organisasi masyarakat yang berdaya di tingkat perdesaan (yang mampu secara
mandiri dan berlanjut mengelola program-program di masyarakat) merupakan
indikator penting keberhasilan PPIP.

b) PPIP menciptakan iklim yang menunjang tumbuhnya keberdayaan masyarakat.


Seperti telah disebutkan sebelumnya, komponen pengembangan masyarakat
merupakan komponen paling penting dari PPIP, karena pada intinya merupakan
upaya-upaya intervensi proyek dalam rangka pemberdayaan masyarakat.
Sedangkan komponen lainnya penyediaan dana Bantuan Langsung Masyarakat
(BLM) untuk pembangunan infrastruktur persedaan dan juga dukungan
pelaksanaan proyek (berupa konsultan dan fasilitator), pada prinsipnya hanya
merupakan sumberdaya-pendukung yang disediakan PPIP untuk menunjang
keberhasilan kegiatan pengembangan masyarakat. Secara keseluruhan,
komponen-komponen proyek tersebut lebih tepat bila dianggap sebagai bagian dari
upaya PPIP untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuhnya keberdayaan
masyarakat. Disadari benar bahwa, terjadi atau tidaknya proses pemberdayaan
sangat bergantung pada keterbukaan dan keterlibatan aktif masyarakat dalam
PPIP itu sendiri.

TANGGAPAN TENTANG TUGAS UTAMA DAN KUNCI KEBERHASILAN KMW

a) Tugas utama KMW adalah mengelola pemanfaatan sumberdaya yang tersedia


secara efektif dan efisien untuk melaksanakan kegiatan PPIP, sedemikian sehingga
dapat tercipta masyarakat yang berdaya.

Agar tujuan akhir proyek PPIP tercapai dengan benar dan tepat dalam jangka
waktu yang telah ditetapkan, maka telah disusun pedoman/ arahan/ rujukan bagi

27
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan PPIP, termasuk pula pedoman bagi
penugasan Konsultan Manajemen Wilayah (KMW). Pedoman Pelaksanaan PPIP
tersebut dapat dipandang sebagai salah satu acuan yang benar dalam kerangka
pelaksanaan proyek, disadari bahwa -dalam prakteknya- beberapa penyesuaian
pedoman terhadap kondisi lokal dan persoalan unik di lapangan tetap saja
diperlukan dan dimungkinkan untuk dilakukan oleh KMW.

Berdasarkan pada asumsi bahwa telah tersedia pedoman-pedoman pokok bagi


hampir seluruh kegiatan PPIP, maka tugas KMW berkaitan dengan upaya
men-desain proyek PPIP relatif sangat kecil dibandingkan dengan tugas KMW
yang berkaitan dengan pengelolaan (manajemen) penyelenggaraan kegiatan PPIP
itu sendiri. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa tugas utama dari KMW
adalah mengelola pemanfaatan sumberdaya yang tersedia secara efektif dan
efisien agar pelaksanaan kegiatan PPIP di masyarakat dapat berhasil secara
maksimal (terciptanya masyarakat yang berdaya).
Dipandang dari dimensi proses maupun keluarannya, proyek PPIP sangat berbeda
dengan proyek lainnya. Muatan pemberdayaan masyarakat PPIP sangat menuntut
iklim manajemen proyek yang lebih bersifat partisipatif. Oleh karenanya, konsultan
menganggap perlu untuk menerapkan pendekatan manajemen KMW yang khusus,
yang sesuai dengan muatan pemberdayaan yang ada.

b) Kinerja Tim Fasilitator merupakan kunci utama keberhasilan penugasan KMW.

Walaupun tugas utama KMW adalah berkaitan dengan manajemen proyek, namun
bentuk deliverable utama dari sebuah KMW adalah keberdayaan yang diberikan
kepada masyarakat. Dengan demikian, indikator keberhasilan sebuah KMW tidak
hanya berkaitan dengan aspek-aspek manajerial namun yang terlebih penting
justru berkenaan dengan tingkat keberdayaan masyarakat yang berhasil
dimunculkan KMW tersebut di wilayah penugasannya.

Tim Fasilitator merupakan ujung-tombak KMW, yang secara langsung melakukan


pemberdayaan masyarakat. Oleh karenanya, kunci utama keberhasilan sebuah
KMW justru terletak pada Tim-tim Fasilitator yang ada. Dengan demikian -bagi
sebuah KMW- sudah seharusnya bila Tim Fasilitator dijadikan basis dari kegiatan
perencanaan, monitoring dan pengendalian yang lazimnya ada dalam sebuah
manajemen proyek.

28
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

STRATEGI KEBERLANJUTAN HASIL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

PPIP telah mencoba meninggalkan pendekatan lama di bidang pemberdayaan


masyarakat yang cenderung bersifat ad-hoc (proyek), dan beralih kepada pendekatan
institutional development yang lebih menjamin terjadinya keberlanjutan
pengembangan keberdayaan melalui pembangunan sarana infrastruktur dasar yang
telah diupayakan dimunculkan di masyarakat. Namun pada kenyataan nuansa
pendekatan proyek masih kental mewarnai proses pelaksanaan PPIP tahun-tahun
yang lalu, sehingga tingkat keberlanjutan program-program PPIP di masyarakat masih
rendah.

Sebagai antisipasi terhadap isu keberlanjutan tersebut, maka pada PPIP APBN-P TA.
2013 ini konsultan mengajukan strategi khusus berkaitan dengan proses
penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat itu sendiri. Konsultan mengusulkan
pendekatan Belajar Praktis untuk pengembangan kelembagaan masyarakat. Tujuan
pendekatan ini adalah mengembangkan OMS yang ada sehingga memiliki karakter
sebagai sebuah organisasi pembelajaran (learning organization) dari masyarakat.
Dengan demikian diharapkan keberlanjutan program PPIP di masyarakat (atau bahkan
pengembangan lebih jauh lagi dari program PPIP tersebut) dapat terjadi. Selain itu
rendahnya tingkat keberlanjutan program-program tersebut, karena minimnya kegiatan
yang melibatkan peran serta perempuan.

MANAJEMEN KMW YANG DIUSULKAN

a) Pendekatan budaya pemberdayaan (empowerment culture) pada manajemen


KMW

Mengacu pada ketentuan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) terkait batasan
waktu selama 4 bulan untuk menyelesaikan kegiatan dengan cakupan wilayah yang
cukup luas meliputi 10 provinsi untuk regional Kalimantan dan Sulawesi, dengan
sumber daya tenaga ahli yang terdiri dari satu orang Team Leader; 2 orang Ahli
Pemberdayaan; 5 orang Ahli Monitoring dan Evaluasi serta 2 orang Ahli
Database/Informatika, maka konsultan mengusulkan pendekatan manajemen KMW
yang berbeda dengan manajemen proyek pada umumnya, yaitu: pendekatan
budaya pemberdayaan pada manajemen.

Struktur hirarki manajemen proyek pada umumnya biasanya berbentuk piramida


yang melambangkan jenjang kekuasaan (power) dan tugas (task) yang ada.

29
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Namun pada pendekatan budaya pemberdayaan, piramida yang ada akan


dipandang secara terbalik (inverted pyramid) dimana Tim Fasilitator yang
merupakan ujung tombak (front-line officers) dari KMW dalam upaya
memberdayakan masyarakat justru akan diletakkan di bagian utama (lapis atas).
Sedangkan Team Leader, dan Tenaga-tenaga ahli yang ada justru akan berperan
melayani (bukan dilayani) dan memfasilitasi seluruh Tim Fasilitator agar mereka
dapat optimal melakukan pemberdayaan masyarakat (sebagai prime custommer
mereka).

Selanjutnya, pendekatan piramida terbalik ini juga akan berimplikasi pada


berbagai fungsi manajemen proyek seperti perencanaan, monitoring, dan kontrol.
Staff manajemen lainnya dan para tenaga ahli selain tetap harus menjalankan
fungsi-fungsi manajemen pada umumnya (misalnya: strategic planning,
communicating, co-ordinating, motivating, dan directing), dalam pendekatan
budaya pemberdayaan mereka dituntut pula untuk menjalankan fungsi-fungsi
pemberdayaan, misalnya: fungsi enabling, facilitating, dan consulting bagi para FM.
Oleh karenanya, selain ketrampilan manajerial, penguasaan akan teknik-teknik
pemberdayaan merupakan kriteria penting bagi penugasan Team Leader, dan tim
ahli.

b) Domisili / Penempatan Personil KMW

Tim akan berdomisili di Kota Makassar. Pemilihan domisili di kota tersebut selain
merupakan ketentuan yang telah dijelaskan dalam Rapat Penjelasan Proyek juga
pertimbangan aksebilitas dalam melaksanakan program yang tersebar di 10
(sepuluh) propinsi untuk regional Kalimantan dan Sulawesi.

E.2. ISU-ISU SEPUTAR PENYELENGGARAAN PROGRAM

Isu-isu lokal adalah isu-isu yang tumbuh dari kegiatan-kegiatan yang bersifat lokalistik
tetapi merupakan hal-hal yang cukup penting dan harus diperhatikan demi kelancaran
jalannya program PPIP, yaitu :

a) Masih belum optimalnya penerapan strategi pemberdayaan masyarakat, penguatan


institusi lokal dan transformasi nilai-nilai serta prinsip-prinsip PPIP.
b) Masih terdapat sejumlah Kabupaten yang belum memiliki komitmen baik untuk
perencanaan partisipatif dalam penyusunan RIPJM di daerah, sehingga indikasi
kegiatan yang digali melalui perencanaan partisipatif oleh masyarakat belum cukup

30
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

kuat diakomodir dalam rencana pembangunan daerah Kabupaten. Kolaborasi


berbagai stakeholders di tingkat Kabupaten belum menunjukkan agregat seperti
diharapkan, sehingga jaringan kebersamaan atau kepedulian dari berbagai
kalangan belum cukup efektif pergerakannya untuk penanggulangan kemiskinan di
daerah.
c) Adanya kelengkapan data SIM dan kualitasnya yang belum memenuhi target
menjadi penting dikaji agar jaminan atas kelengkapan dan kualitas data lebih pasti,
sehingga konsolidasi data berjalan optimal.

Sejalan dengan hal di atas, kapasitas KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi
harus mampu melakukan kerjasama yang kondusif dengan Satker Provinsi, Satker
Kabupaten, dan seluruh pemangku kepentingan. Kooperatif ini berguna untuk
memastikan terlaksananya lingkup pekerjaan KMW, yang mencakup berbagai usaha
untuk terlaksananya seluruh kebijakan yang telah diputuskan di tingkat Pusat, program
kegiatan persiapan, perencanaan, pelaksanaan konstruksi infrastruktur, pelaksanaan
pasca konstruksi infrastruktur, pengelolaan data dan informasi, penyebarluasan media-
media dan penyelenggaraan sosialisasi, serta terkendalinya kegiatan pembangunan
infrastruktur di perdesaan. Secara detail, lingkup pekerjaan tersebut meliputi
pengendalian program, mencakup pengendalian kinerja pada tingkat propinsi,
kabupaten dan desa, pengelolaan early warning system, evaluasi kinerja fasilitator dan
staf, pengendaliann pencairan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM),
pengendalian pelaksanaan kegiatan pembangunan infrastruktur perdesaan,
pengelolaan dan pemecahan pengaduan masyarakat, pengendalian dan fasilitasi audit
internal penggunaan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM), serta pengendalian
terhadap berjalannya kontrol masyarakat, baik melalui peran serta LSM maupun media
massa.

31
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

F APRESIASI DAN INOVASI

Dalam melaksanakan tugas dari pihak proyek dalam mengelola KMW PPIP APBN-P
Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013 dituntut untuk memiliki satu strategi dan rencana kerja
yang konstruktif dan integratif. Strategi dan rencana ini menjadi acuan kerja dan juga
wahana komunikasi bagi seluruh personil KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi,
khususnya para Tenaga Ahli KMW dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai
dengan bidang kerjanya masing-masing. Strategi dan rencana kerja ini dapat pula menjadi
bahasa kerja PPIP APBN-P Kalimantan Sulawesi terhadap multipihak yang terkait dengan
PPIP, termasuk pihak proyek, KMP maupun dengan KMW lain.

F.1. CARA PANDANG KMW KALIMANTAN DAN SULAWESI TERHADAP PPIP

Kemiskinan dipandang suatu lingkaran setan dari berbagai faktor yang menyebabkan
buruknya kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang ditandai oleh standard hidup
yang rendah, seperti pendapatan kecil dan tak menentu, perumahan tidak layak,
kesehatan buruk dan tingkat pendidikan rendah. Faktor-faktor penyebab seperti
kemalasan, kebodohan, produktivitas rendah, kesehatan buruk, lingkungan kumuh
dan lainnya yang terdapat pada diri manusia dan lokasi tempat tinggalnya dianggap
sebagai mata rantai yang saling mempengaruhi proses terjadinya kemiskinan.

Negara berkembang umumnya terjerat dalam lingkaran setan kemiskinan. Lingkaran


setan mengandung arti Akses Sarana Infrastruktur
Produktivitas Dasar Terbatas
deretan melingkar Rendah

kekuatan-kekuatan yang Kurangnya Pendapatan Keterbelakangan Sumber


Modal Rendah Daya
satu sama lain beraksi
dan bereaksi Investasi Permintaan
Rendah Rendah Keterbelakangan Manusia
sedemikian rupa
Gambar F.1
sehingga menempatkan Lingkaran Setan Kemiskinan
suatu negara miskin

32
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

tetap berada dalam keadaan melarat. Gambar berikut melukiskan beberapa contoh
lingkaran setan kemiskinan.

Dibawah ini gambaran kondisi masyarakat Indonesia saat ini dimana keadaan/
kemampuan masyarakat digambarkan seperti piramida sedangkan sumber daya yang
dimiliki per individu/keluarga umumnya digambarkan sebagai piramida terbalik.

Penguasaan sumber daya besar di seluruh aspek


Masyarakat kehidupan : ekonomi, sosial, budaya, politik dll
tergolong
mampu

Masyarakat sejahtera : Penguasaan sumber daya cukup :


keluarga yang sudah dapat pendidikan, lap. Kerja, kesehatan dll
memenuhi kebutuhan dasar
hidup (basic neers) dan
sosial psikologis .

Penguasaan
sumber daya
Masyarakat miskin : keluarga yang kurang kurang :
pendidikan,
mam pu karena han ya dapat meme nuhi lap. Kerja dll
kebutuhan dasar hidup (basic neers) secara
minimal.

Gambar F.2 Piramida Terbalik

Berdasarkan penyebabnya, kemiskinan dapat dibedakan dalam tiga pengertian yang


mencakup multi dimensi (ekonomi, sosial, politik dan lain-lain), yaitu sebagai berikut :

Kemiskinan alamiah timbul akibat sumber daya alam, manusia dan sumber daya
pembangunan lainnya yang langka jumlahnya dan/atau karena perkembangan
teknologi yang sangat rendah, sehingga mereka tidak dapat berperan aktif dalam
pembangunan.

Kemiskinan struktural disebabkan hasil pembangunan yang belum merata.


Kepemilikan sumber daya tidak merata, kemampuan tidak seimbang dan
ketidaksamaan kesempatan akses terhadap infrastruktur dasar, menyebabkan
kesertaan masyarakat dalam pembangunan tidak merata.

Kemiskintan kultural disebabkan pemahaman suatu sikap, kebiasan hidup dan


budaya seseorang atau masyarakat yang merasa kecukupan dan tidak
kekurangan. Kelompok ini tidak mudah untuk diajak berpartisipasi dalam
pembangunan dan cenderung tidak mau berusaha memperbaiki tingkat
kehidupannya. Dengan ukuran absolut mereka dapat dikatakan miskin, tetapi
mereka tidak merasa miskin dan tidak mau disebut miskin.

Apabila tingkat pendapatan seseorang di bawah garis kemiskinan, sehingga jumlahnya


tidak dapat memenuhi hidup minimumnya, disebut sebagai kemiskinan absolut.

33
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Kebutuhan hidup manusia antara lain diukur dengan kebutuhan pangan, sandang,
kesehatan, perumahan dan pendidikan. Apabila masyarakat sudah dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya secara layak, namun masih rendah kualitasnya dibandingkan
masyarakat lainnya disebut sebagai kemisikinan relatif. Kemiskinan absolut dan
kemiskinan relatif bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan ekonomi dan
peradaban manusia. Namun, kemiskinan absolut dengan menggunakan suatu ukuran
minimum tertentu, keberadaannya masih dapat dihilangkan (power allevation).
Kemiskinan relatif senantias terjadi jika perbedaan tingkat kesejahteraan antar
golongan masyarakat terlihat secara nyata, sehingga keberadaannya tidak dapat
dihilangkan, tetapi hanya dapat dikurangi intensitasnya (power reduction).

F.2. VISI DAN MISI KMW PPIP APBN-P KALIMANTAN DAN SULAWESI

Fenomena kemiskinan di Indonesia merupakan kemiskinan struktural ditambah lagi


akibat dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak sehingga mengakibatkan
meningkatnya jumlah masyarakat miskin. Menanggapi permasalahan tersebut KMW
PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi memiliki visi dan misi melalui PPIP untuk
menciptakan tatanan sosial yang diinginkan, yang mampu menanggulangi kemiskinan
secara mandiri dan berkelanjutan.

Visi: Terciptanya Tatanan Sosial yang Lebih Berkemampuan Menanggulangi


Persoalan Kemiskinan Melalui Peningkatan Akses ke Pelayanan
Infrastruktur Dasar Perdesaan

PPIP pada dasarnya merupakan proses perubahan sosial di masyarakat. Melalui PPIP
diharapkan dapat diwujudkan tatanan sosial yang diinginkan, yang lebih
berkemampuan untuk menanggulangi masalah kemiskinan di tingkat masyarakat
dibandingkan dengan tatanan sosial yang kini ada (lihat Gambar F - 3).

KMW bersama para Fasilitator


Masyarakat akan berperan
memfasilitasi masyarakat di
tingkat lokal dalam mengalami
proses perubahan sosial
tersebut. Oleh karenanya,
perlu disusun dengan cermat
strategi untuk memfasilitasi

34
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

proses perubahan sosial ini, agar tujuan PPIP (tatanan sosial yang diinginkan) dapat
dicapai dengan optimal.

Misi : Intervensi pada Proses Pembangunan

Dalam mengupayakan terjadinya proses perubahan sosial untuk mewujudkan tatanan


sosial yang lebih berkemampuan untuk menanggulangi masalah kemiskinan di
masyarakat perdesaan, KMW akan melakukan berbagai intervensi pada proses-proses
pembangunan yang ada di berbagai tingkatan masyarakat. Dalam konteks PPIP,
pembangunan melalui peningkatan akses ke pelayanan infrastruktur dasar dipandang
sebagai proses pengembangan masyarakat, yang mendudukkan masyarakat sebagai
pelaku utama pembangunan.
Intervensi KMW akan difokuskan pada aspek penggorganisasian masyarakat dalam
melakukan proses-proses pembangunan di tingkat desa,. Hal ini dilakukan, karena
diyakini fenomena kemiskinan yang terjadi selama ini merupakan implikasi dari
tatanan/ struktur sosial yang ada. Perubahan tatanan sosial di perdesaan ini
diharapkan dapat lebih berkemampuan untuk menciptakan kesejahteraan bagi
masyarakat perdesaan.

Gambar F-4 : Jenjang intervensi PPIP APBN-P dalam proses pembangunan

35
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

g) Titik-titik Intervensi KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi :


Tatanan Sosial, Proses Perencanaan, dan Pelaksanaan Pembangunan
Infrastruktur

Selain melakukan upaya-upaya pengorganisasian masyarakat (merubah tatanan


sosial), KMW juga akan mendampingi masyarakat dalam mencoba menerapkan
proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur dasar perdesaan
yang baru. Proses perencanaan yang akan diperkenalkan pada masyarakat ini akan
bersifat: partisipatif dan lebih berpihak pada yang lemah. Sedangkan proses
pelaksanaan pembangunan yang akan diperkenalkan lebih bersifat transparan dan
akuntabel.

Intervensi di ke-tiga titik di atas (tatanan sosial, proses perencanaan, dan pelaksanaan)
merupakan hal yang sangat penting bagi pencapaian tujuan PPIP (baca:
kesejahteraan), karena ternyata proses pembangunan (tatanan sosialnya maupun
mekanisme pembangunan infrastruktur dasar perdesaan) selama ini lebih banyak
memunculkan fenomena kemiskinan ketimbang kesejahteraan.

Melalui tatanan sosial yang baru, yang menerapkan proses perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan yang baru tersebut, diharapkan proses-proses
pembangunan di masa yang kan datang akan lebih dapat menciptakan kesejahteraan.

Gambar F-5 : Titik-titik intervensi KMW PPIP APNP-P : tatanan sosial, proses
perencanaan, dan pelaksanaan pembangunan

36
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

F.3. STARTEGI PADA ISU-ISU STRATEGIS


Pada bagian ini akan dibahas strategi penanganan terhadap isu-isu strategis PPIP
khususnya untuk regional Kalimantan dan Sulawesi seperti yang telah dibahas pada
bab sebelumnya. Pertama-tama akan disajikan strategi pemberdayaan masyarakat
yang diusulkan konsultan untuk menjawab isu belum optimalnya penerapan strategi
pemberdayaan masyarakat, penguatan institusi lokal dan transformasi nilai-nilai serta
prinsip-prinsip PPIP. Berikutnya dibahas strategi manajemen organisasi KMW untuk
memecahkan persoalan berkaitan dengan keterlambatan respon yang dapat
berdampak pada stagnasi implementasi, sehingga perlu diantisipasi oleh KMW agar
penjaminan pengendalian sesuai target waktu yang ditetapkan dapat tercapai.
Sedangkan pada bagian akhir akan diuraikan strategi yang diusulkan konsultan
untuk mengatasi persoalan rendah tingkat keterlibatan Pemerintah daerah.

STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Memberdayakan mengandung arti mengembangkan dan mendayagunakan potensi


yang dimiliki dari sesuatu yang akan diberdayakan. Dalam kaitannya dengan
pemberdayaan masyarakat, maka potensi dapat ditemui dalam beberapa lokus:

Individu, dalam bentuk individual talent

Masyarakat, dalam bentuk sinergi antar anggota dalam organisasi masyarakat

Wilayah, dalam bentuk sumberdaya alam dan manusia

pemberdayaan potensi
(empowerment)

individu:
efektifitas akan
semakin tinggi bila diintervensi
1 dalam bentuk individual talent
sebagai

satu-kesatuan masyarakat:
2 dalam bentuk sinergi dalam organisasi

wilayah:
3 dan manusiasumberdaya alam
dalam bentuk

Gambar F.6 Pemberdayaan dan potensi

37
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Oleh karenanya, upaya-upaya pemberdayaan hendaknya senantiasa memperhatikan 3


(tiga) locus potensi tersebut sebagai satu kesatuan.
Empowerment diartikan pemberdayaan merupakan sebuah konsep untuk memotong
lingkaran setan yang menghubungkan kekuasaan dengan pembagian kesejahteraan.
Keadaan di atas terjadi karena adanya ketidak-seimbangan dalam pemilikan atau
akses pada sumber-sumber power. Proses historis yang panjang, telah menyebabkan
terjadinya dispowerment, yakni peniadaan kekuasaan pada sebagian besar
masyarakat. Akibatnya, maka lapisan masyarakat tidak memiliki akses yang memadai
terhadap aset produktif yang umumnya dikuasai oleh mereka yang memiliki
kekuasaan. Pada gilirannya keterbelakangan secara ekonomi mengakibatkan mereka
makin jauh dari kekuasaan. Begitulah lingkaran itu berputar terus.
Konsep pemberdayaan masyarakat yang merupakan sebuah konsep pembangunan
ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial dan budaya. Upaya pemberdayaan
masyarakat dapat dilihat tiga sisi, yakni:
Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi
masyarakat berkembang (Enabling).
Memperkuat potensi/daya yang dimiliki oleh masyarakat (Empowering)
dengan langkah-langkah nyata seperti memberi masukan serta
pembukaan akses ke dalam berbagai peluang.
Memberdayakan mengandung pula arti melindungi untuk mencegah
terjadinya persaingan yang tidak seimbang, serta eksploitasi yang kuat
atas yang lemah.

Berdasarkan konsep demikian, dikembangkan berbagai pendekatan:


1. Upaya memberdayakan masyarakat harus terarah (targetted), atau lebih
populer disebut pemihakan
2. Harus menggunakan pendekatan kelompok dan melakukan
pengorganisasian masyarakat
3. Adanya pendampingan kepada masyarakat

Sehingga tujuan akhir dari pemberdayaan masyarakat sebenarnya adalah:


1. Untuk memandirikan masyarakat
2. Membangun dan mengembangkan kemampuan masyarakat

38
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

3. Membangun sinergi (saling ketergantungan)

STRATEGI PENGEMBANGAN INSTITUSI MASYARAKAT

Pemberdayaan masyarakat untuk konteks yang lebih luas yaitu di tingkat komunitas,
oleh karena itu strategi dasar yang digunakan PPIP untuk pemberdayaan masyarakat
adalah strategi pengembangan organisasi masyarakat di tingkat komunitas
(community institutional development), dalam hal ini di tingkat desa.
Berdasarkan strategi dasar tersebut, konsultan telah mengidentifikasi 3 (tiga) fungsi
penting yang harus dijalankan oleh KMW agar dapat mengembangkan organisasi
masyarakat di tingkat komunitas, yaitu:
1) Empowering: membangun potensi dan kapasitas komunitas.
Pada intinya adalah membangun kapasitas (capacity building) manusia, kapasitas
ekonomi (peningkatan penghasilan), kapasitas sosial (kelembagaan) dan
kapasitas politik artinya kemampuan untuk berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan penting yang menyangkut diri mereka.
Upaya ini secara nyata dapat dilakukan KMW dalam program PPIP APBN-P
antara lain dengan :
Program-program pendidikan, pelatihan, bimbingan, penyuluhan, pembinaan
serta supervisi yang intinya meningkatkan kemampuan individu, keluarga dan
kelompok serta mempersiapkan agar mampu berperan serta (partisipasi)
sebagai pelaku utama.
Pengembangan komunitas (community development), seperti a.l. menggalang
potensi kelompok baik potensi sosial dan fisik lingkungan termasuk lokasi.
Pengembangan potensi lingkungan, seperti a.l. peningkatan prasarana,
peruntukan lokasi, dsb
2) Enabling: Menciptakan kondisi yang memungkinkan/ mendorong pengembangan
potensi masyarakat
Hal tersebut dapat dilakukan melalui perbaikan/penyempurnaan organisasi kerja
dan tatalaksana mencakup pranata pembangunan, mekanisme, aturan main,
piranti lunak, dsb sehingga memberi banyak kesempatan bagi masyarakat miskin
kota untuk tumbuh dan berkembang. Dalam P2KP upaya ini dilakukan antara lain
dengan:
Pengembangan forum-forum atau organisasi jaringan masyarakat yang lebih
aplikatif

39
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Membuka akses kepada sumber daya-sumber daya kunci lain selain yang
telah ada dalam program PPIP.
Peningkatan akses layanana ke infrastruktur dasar pedesaan
3) Consultating &Fasilitating: melakukan pendampingan secara nyata dan langsung
kepada masyarakat
Upaya ini dilakukan langsung oleh tim fasilitator yang akan terus berada di lokasi
pekerjaan sebagai ujung tombak KMW dalam melakukan pemberdayaan kepada
masyarakat.
Untuk dapat menjalankan ketiga fungsi utama KMW di atas dan dalam rangka
mendukung upaya-upaya keberlanjutan program, maka Konsultan menawarkan
strategi pendekatan yang disebut dengan BELAJAR PRAKTIS (Learning by
doing).

STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN PEMERINTAH DAERAH

Setelah mempelajari pedoman pelaksanaan PPIP, isu rendahnya keterlibatan


pemerintah daerah pada PPIP tampaknya telah dicoba untuk. Berbagai kegiatan
mensyaratkan adanya keterlibatan pemerintah daerah, misalnya: Pembentukan Forum
OMS salah satunya juga didorong oleh keinginan untuk membuat saluran komunikasi
antara OMS dengan Pemerintah Daerah. Oleh karenanya, dari rancangan pedoman
PPIP tampaknya telah dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan keterlibatan
Pemerintah Daerah (dan bahkan stake-holders lainnya).

Walaupun begitu, adanya komponen pelibatan Pemerintah Daerah (dan berbagai


stake-holders lainnya) dalam rancangan (desain) PPIP belum menjamin terjadi
peningkatan keterlibatan Pemerintah Daerah.

(1) Kesadaran aparat pemda terhadap pemberantasan kemiskinan belum optimal,


masih menganggap suatu program yang kurang menguntungkan. Namun
seiring dengan perjalanan waktu, kesadaran dan pemahaman akan perubahan
peran ini semakin meluas di kalangan aparat. Kesadaran akan peran baru ini,
merupakan prasyarat bagi terjadinya keterlibatan Pemerintah Daerah dalam
PPIP, mengingat kentalnya jiwa pemberdayaan dalam program ini. Tanpa
pemahaman yang baik tentang peran baru pemerintah daerah ini, maka
keterlibatan pemda dalam PPIP justru dapat terjadi dalam bentuk dan arah yang
kurang tepat (merugikan).

(2) Kesadaran dan pemahaman yang ada tentang pemberdayaan masyarakat masih
perlu dilengkapi oleh pengetahuan tentang dan ketrampilan untuk

40
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

menggunakan teknik-teknik pemberdayaan masyarakat dalam tugas-tugas rutin


mereka sehari-hari.

(3) Di sisi lain kesadaran dan ketrampilan masyarakat untuk mengkoordinasikan


program-program mereka dengan program pemda juga masih rendah.
Keterlibatan pemerintah daerah (sebagai enabler) tentunya hanya akan terjadi
jika masyarakat juga memahami peran yang harus mereka jalani dalam proses
pembangunan (sebagai pelaku utama).

Strategi yang diusulkan untuk mengurangi atau menghilangkan kendala-kendala


tersebut adalah :

(1) Mengadakan rapat koordinasi/ workshop bagi aparat Pemerintah Daerah dan
stake-holders lainnya, tidak saja tentang pemahaman akan pemberdayaan
masyarakat, namun juga tentang ketrampilan (kemampuan untuk melakukan)
menggunakan teknik-teknik pemberdayaan masyarakat.

(2) Mangadakan pelatihan praktis bagi para pengurus OMS agar memiliki
ketrampilan untuk mengkoordinasikan program mereka dengan program-program
stake-holder lainnya.

41
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

G PENDEKATAN DAN METODOLOGI

Mencermati kembali KAK KMW PPIP APBN-P TA. 2013 sebagaimana pemahaman
Konsultan yang tersaji pada bagian terdahulu, serta substansi materi pada RKS (Rencana
Kerja dan Syarat) serta Pedoman Pelaksanaan PPIP berikut penjelasannya, merupakan
bagian terpenting yang patut dijadikan referensi untuk menyusun pendekatan, metodologi,
rencana kerja dan organisasi Konsultan. Pemahaman terhadap target dan output yang
diharapkan, lingkup pekerjaan, struktur organisasi, personil dan waktu secara mutlak telah
dapat dipahami. Atas dasar tersebut, Konsultan menawarkan kerangka strategi pendekatan
dan metodologi, rencana kerja, serta organisasi.

G.1. STRATEGI PENDEKATAN & METODOLOGI

G.1.1. Orientasi Konsultan terhadap Pelaksanaan Kegiatan dan Output


Memperhatikan Kerangka Acuan Kerja dan Berita Acara Penjelasan
Aanwijzing untuk pekerjaan Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program
Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP) APBN-P Kalimantan dan
Sulawesi Tahun Anggaran 2013, tentunya sangat dibutuhkan pemahaman
yang konfrehensif dan utuh terhadap kegaiatan yang akan dilaksanakan oleh
konsultan agar keluaran (output) yang dihasilkan sesuai dengan maksud dan
tujuan Pihak Pemberi Kerja.

Salah satu model untuk mendapatkan pendekatan dan metodologi yang


konfrehensif dan utuh terhadap rancangan usulan teknis konsultan adalah
menyusun Kerangka Operasional dengan seperti Tahapan Kegiatan PPIP
APBN-P TA. 2013; Ruang Lingkup Kegiatan KMW PPIP APBN-P; Batas
Kegiatan KMW PPIP APBN-P; Tugas KMW PPIP APBN-P; Indikator Keluaran
dan Keluaran.

Dengan Kerangka Operasioanl diatas, akan dihasilkan pendekatan,


metodologi, rencana kerja dan organisasi konsultan secara maksimal untuk

42
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

pelaksanaan kegiatan. Model perbandingan tersebut disajikan pada tabel


dibawah ini.

43
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Tabel G.1 Kerangka Operasional KMW PPIP APBN-P


Tahapan Kegiatan
PPIP Batas Kegiatan Indikator Keluaran Keluaran
Ruang Lingkup Kegiatan KMW PPIP Tugas KMW
APBN- KMW PPIP Kegiatan KMW PPIP Kegiatan KMW
APBN-P TA. 2013 PPIP APBN-P
P TA. APBN-P APBN-P PPIP APBN-P
2013

Tahap Persiapan Penyebarluasan Informasi Program 1. Advise 1. Menumbuh 1. Terselenggaranya 1. Terselenggar


1. Penetapan desa sasaran 1. Menumbuhkan semangat Pemantauan terhadap teknis sesuai kan Memberikan Penyebarluasan Informasi annya pelaksanaan
2. Penetapan Pejabat Inti Satker pelaksanaan proses sosialisasi di tiap tingkatan pada pedoman Pedoman Advise teknis Program di Pusat dan daerah program yang sesuai
3. Pembentukan tim pelaksana wilayah kerjanya Pelaksanaan PPIP sesuai pedoman- mengenai program PPIP dengan pedoman
4. Penyusunan rencana kerjai. 2. Penilaian terhadap proses sosialisasi di tiap Tahun 2013 pedoman melalui media sosialisasi umum dan pedoman
tingkatan 2. Advise pelaksanaan dan pemasangan poster mulai dari pelaksanaan yang
Tahap Sosialisasi dan 3. Pemantauan terhadap pemasangan poster dan manajemen sesuai petunjuk teknis tingkat pusat, provinsi, sudah ditetapkan.
Penyebarluasan informasi media lainnya Pedoman yang sudah kabupaten dan desa dan
Pelaksanaan PPIP ditetapkan. penilaian terhadap efektifitas 2. Laporan
1. Dilaksanakan secara 4. Penilaian terhadap efektifitas media informasi, Pelaksanaan Tugas
berjenjang dari tingkat distribusi dan pemasangannya Tahun 2013 2. Memberika media penyebarluasan
3. Koordinasi n advise informasi tersebut dalam dan Tanggung-jawab
provinsi, kabupaten dan desa 5. Rekomendasi advise teknis dan non teknis terkait KMW PPIP TA. 2013
sasaran dengan seluruh manajemen sesuai bentuk laporan informasi
informasi program pelaksanaan PPIP TA. 2013. sesuai dengan ruang
2. Dilakukan melalui Koordinasi stakeholder di pusat pedoman.
dan daerah di 3. Berkoordin 2. Terselenggaranya lingkup penugasan
3. Forum Komunikasi Pengendalian Program pembekalan dan pelatihan konsultan.
4. Media lainnya untuk provinsi wilayah asi dengan
1. Pelaporan rutin kemajuan pelaksanaan kepada Sumatera. seluruh KMK dan TAMPr dalam
sosialisasi KMP dan Tim Pelaksana Pusat stakeholder di bentuk laporan pelaksanaan
4. Pendamping
2. Pelaporan rutin kinerja TAMPr di lapangan kepada an proses tiap pusat dan daerah pembekalan dan pelatihan
Tahap Perencanaan KMP tahapan PPIP mulai agar program KMK dan TAMPr termasuk
1. Sosialisasi tingkat desa; 3. Melakukan konsolidasi dan konsinyasi terkait didalamnya kontribusi KMW
dari perencanaan dilaksanakan
2. Rembug Persiapan Warga laporan progres lapangan dengan efektif, dalam penyiapan Pelatihan
sampai operasi dan
3. Musyawarah Desa I 4. Inventarisasi permasalahan di lapangan dan pemeliharaan oleh efesien dan tepat FM.
(Pembentukan OMS/ rekomendasi T3 KPP desa setempat. sasaran. 3. Terkendalinya program
Pokmas/ LKD dan Kader 5. Kunjungan lapangan dalam pemantauan dan 4. Pendampin dengan koordinasi yang baik
Desa); 5. Menganalisi
pengendalian program s permasalahan gan proses dalam mulai dari pengendalian
4. Identifikasi Permasalahan; 6. Penilaian terhadap proses pengendalian program yang menghambat tiap tahapan PPIP program, kinerja KMK dan
5. Musyawarah Desa II di tiap lini proses mulai dari tahapan TAMPr, pemantauan progres
6. Penyusunan UPD dan RKM 7. Random checking kualitas UPD dan RKM pelaksanaannya persiapan, dan UPD di lapangan dan
7. Verifikasi UPD dan RKM disesuaikan dengan desa yang dikunjungi. sekaligus sosialisasi sampai permasalahannya dalam
8. Pembuatan Rencana Teknis 8. Rekomendasi advise teknis dan non teknis terkait merumuskan dengan bentuk laporan pengendalian
dan RAB pengendalian program yang akan dating solusinya. pelaksanaan fisik program PPIP.
serta pasca 4. Termonitornya
Tahap Pelaksanaan Fisik pelaksanaannya pelaksanaan program PPIP di
Monitoring Pelaksanaan Program pada seluruh desa propinsi, kabupaten desa
1. Musyawarah Desa III 1. Melakukan kunjungan lapangan untuk sosialisasi, sasaran PPIP melalui kunjungan di lapangan
(rencana pelaksanaan pelatihan, sampling, skala urgent T3, pengaduan, tahun 2013. untuk sosialisasi, pelatihan,
pembangunan infrastruktur); permintaan dan dokumentasi sampling, pengaduan,
2. Penandatanganan 2. Pelaporan hasil kunjungan lapangan permintaan dan dokumentasi
Kontrak Kerja 3. Penilaian terhadap proses pelaksanaan program dalam bentuk laporan
3. Pelaksanaan yang terjadi pada desa-desa yang dikunjungi monitoring pelaksanaan PPIP.
Pembangunan Infrastruktur 4. Rekomendasi advise teknis dan non teknis 5. Terkonsolidasinya dan

44
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

4. Pengawasan pelaksanaan monitoring teranalisisnya setiap data


Pelaksanaan Pembangunan Konsolidasi Data yang dikumpulakan oleh KMW
Infrastruktur 1. Penyusunan format baku terkait konsolidasi data termasuk data desa best
5. Informasi yang disepakati practise dan disampaikan
Pelaksanaan / Pelaporan 2. Melakukan analisa dan penilaian terhadap setiap dalam bentuk laporan
Kegiatan data yang diperoleh konsolidasi data PPIP Tahun
6. Rembug Warga Pelaksanaan 3. Pemutakhiran data akhir terkompilasi 2013.
4. Menyampaikan desa-desa sebagai best practice 6. Terselenggaranya
Tahap Pasca Pelaksanaan yang direkomendasikan untuk dapat diresmikan evaluasi pelaksanaan
Fisik terhadap progres, kinerja KMK
5. Kesimpulan dan rekomendasi terkait konsolidasi dan TAMPr, BOP, Infrastruktur
1. Musyawarah Desa IV data terbangun, eksistensi OMS
(laporan pertanggung dan KPP serta rencana
jawaban OMS tentang hasil Evaluasi Pelaksanaan Program pemeliharaannya dalam
pelaksanaan kegiatan); 1. Penyusunan format Evaluasi terhadap kemajuan bentuk laporan evaluasi
2. Serah Terima progres per dua mingguan program.
Infrastruktur Terbangun 2. Evaluasi terhadap tiap tahapan proses 7. Terselenggaranya
3. Opeasi & pelaksanaan pelaporan dan dokumentasi
Pemeliharaan 3. Evaluasi terhadap partisipasi pemda dan KMW dengan efektif dan tepat
komitmen BOP waktu dalam bentuk laporan
4. Evaluasi terhadap kuantitas dan kualitas pendahuluan, mingguan,
infrastruktur terbangun dibandingkan dengan realisasi bulanan, draft final.
biaya
5. Evaluasi terhadap rencana dan realisasi O&M
masyarakat dan potensi keberlanjutannya

Pelaporan dan Dokumentasi


1. Asistensi setiap draft laporan sebelum diserahkan
2. Pemenuhan kuantitas dan substansi laporan
sebagaimana yang ditentukan dalam kontrak
3. Kompilasi dokumentasi minimal 8 megapixel
berupa foto-foto : kegiatan-kegiatan persiapan, pra dan
pasca konstruksi (0%, 50%, 100%).

45
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Jika dikomparasikan dengan pemahaman, tanggapan serta apresiasi dan


inovasi Konsultan terhadap tujuan penugasan KMW PPIP APBN-P Kalimantan
dan Sulawesi TA. 2013, dapat difokuskan ke dalam 3 (tiga) tugas utama,
menjadi mutlak bertumpu pada kekuatan menajerial, leadership dan kepekaan
KMW terhadap berbagai situasi krisis yang berpotensi terjadi. Oleh karena itu,
KMW harus konsiten mengawal pekerjaan tersebut dengan orientasi atau
tujuan seperti berikut ini :

a. Menjamin seluruh personil tenaga ahli di bawah kendali KMW memiliki


kapabilitas melaksanakan kegiatan pendampingan PPIP.
b. Memastikan Tim KMW dapat melaksanakan peran pengendalian secara
efektif dari segi proses dan output, sehingga memenuhi ketentuan
Pedoman Pedoman Pelaksanaan PPIP yang berlaku dan memiliki kinerja
yang baik berdasarkan indikator yang telah ditetapkan, berbasis pada
sistem informasi manajemen (SIM) yang dijamin lengkap dan akurat
(valid) data-datanya.
c. Memberikan dukungan terhadap Tim Koordinasi Propinsi maupun
Kabupaten dan Satker PPIP Pusat Direktorat Jenderal Cipta Karya
Kementerian Pekerjaan Umum, menyangkut aspek manajerial
pelaksanaan program, termasuk pengendalian dalam pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi, pengendalian serta pengorganisasian berbagai
kegiatan di level regional maupun provinsi atau kabupaten.

Sejalan dengan hal di atas, kapasitas KMW harus mampu melakukan


kerjasama yang kondusif dengan Satker PPIP Pusat, Provinsi dan Satker
Kabupaten, dan seluruh Konsultan Manajemen baik KMPr, KMK maupun
Fasilitator Masayarakat. Kooperatif ini berguna untuk memastikan
terlaksananya lingkup pekerjaan KMW, yang mencakup berbagai usaha untuk
terlaksananya seluruh kebijakan yang telah diputuskan di tingkat Pusat,
program kegiatan pelatihan, pengelolaan data dan informasi, penyebarluasan
media-media dan penyelenggaraan sosialisasi, pendistribusian buku-buku
pedoman/panduan, serta terkendalinya kegiatan pembangunan infrastruktur
di perdesaan. Secara detail, lingkup pekerjaan tersebut meliputi pengendalian
program, mencakup pengendalian kinerja pada tingkat propinsi, kabupaten
dan kecamatan, pengelolaan early warning system, evaluasi kinerja fasilitator
dan staf, pengendaliann pencairan dana Bantuan Langsung Masyarakat

46
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

(BLM), pengendalian pelaksanaan kegiatan pembangunan infrastruktur


perdesaan, pengelolaan dan pemecahan pengaduan masyarakat,
pengendalian dan fasilitasi audit internal penggunaan dana Bantuan
Langsung Masyarakat (BLM), serta pengendalian terhadap berjalannya
kontrol masyarakat, baik melalui peran serta LSM maupun media massa.

Quality insurence merupakan pilihan pendekatan yang mutlak dilakukan


oleh KMP terhadap seluruh target output yang diharapkan. Quality insurence
tersebut mencakup 2 aspek yang saling terkait, yaitu penjaminan mutu dalam
capacity building dan penjaminan mutu dalam pengendalian kegiatan
pendampingan, termasuk dalam urusan manajemen data dan informasi.

Kegiatan capacity building mencakup rangkaian kegiatan pelatihan, sosialisasi


dan lesson learned yang berjalan secara integratif. Output dari kegiatan
capacity building tersebut adalah pemahaman atas konsep substansi program
dan konsep bekerja/bersikap dari para pelaku (Konsultan Pendamping) dan
kelompok sasaran program baik pada level komunitas maupun level
Kabupaten.

Teknis metodologi penjaminan mutu kegiatan pendampingan dan


manajemen data dirancang secara khusus untuk menjamin 4 (tiga) aspek
output, yakni : (1) kualitas proses pendampingan, (2) pencapaian target waktu
sesuai master schedule nasional, (3) keberadaan data yang lengkap, update
dan akurat, serta (4) kualitas hasil memenuhi indikator kinerja diharapkan.
Gambar 5 :
SMART Inspiration Strategi ini berjalan simultan dengan teknis metodologi pelaksanaan capacity
building dan monitoring evaluasi dimana komponen Konsultan (mulai dari
KMP, KMW, KMPr, Tim Konsultan Manajemen Kabupaten maupun Tim
Fasilitator) merupakan input utama dari serangkaian proses untuk
memfasilitasi dan sekaligus mengendalikan 3 (tiga) komponen sasaran PPIP,
yaitu : komponen sasaran komunitas, dalam berbagai kategori unsur-unsur
dalam komunitas, komponen sasaran program kegiatan pembangunan
infrastruktur perdesaaan agar sesuai dengan standar kualitasnya, dan
komponen sasaran stakeholders pemerintahan kabupaten.

Sejalan dengan pemahaman terhadap tujuan penugasan KMW dan mapping


persoalan strategis seperti diuraikan di atas, maka perlu diusulkan pola dasar
pendekatan teknis yang perlu dikuatkan oleh KMW, yaitu :

47
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

a. Penjaminan kualitas kegiatan capacity building agar mampu


memastikan bahwa TA KMW memiliki kapabilitas yang baik untuk
melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.

b. Penjaminan kualitas kegiatan pengendalian pendampingan pada level


komunitas dan kota-kabupaten, baik dari segi proses maupun outputnya,
sehingga mampu mencapai target kinerja yang ditetapkan dan berlangsung
sesuai koridor dalam pedoman pelaksanaan,

c. Fungsionalisasi fasilitas data SIM yang update, lengkap dan akurat.

G.1.2. Kerangka Umum Metodologi

Mengacu pada analisis terhadap mapping persoalan strategis dan orientasi


Konsultan terhadap output sebagaimana diuraikan di atas, maka dapat
disusun kerangka umum metodologi seperti tersaji pada Gambar F.1.
Kerangka umum metodologi tersebut merupakan konstruksi pemikiran
Konsultan untuk memastikan bahwa orientasi outputs seperti diharapkan
dapat direalisasikan dengan metodologi yang dibangun, berbasis pada
analisis terhadap persoalan strategis dan pemahaman atas penugasan
Konsultan maupun outputs yang harus direalisasikan. Strategi pendekatan
dan teknis metodologi dirancang sebagai solusi yang ditawarkan Konsultan
agar memenuhi harapan klien sebagaimana dituangkan dalam TOR maupun
Pedoman-pedoman yang ada.

48
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Gambar G.1
Kerangka Umum Metodologi KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013

Tujuan/Orientasi KMW MEMASTIKAN


KINERJA PELAKSANAAN PROGRAM
BAIK, KAPASITAS TENAGA AHLI
MEMADAI DAN PAHAM KEBIJAKAN
PROGRAM SERTA DATA SIM
FUNGSIONAL

Kerangka Operasional KMW PPIP APBN-P:

Tahapan Kegiatan PPIP APBN-P TA. 2013; Lesson


CHECK Ruang Lingkup Kegiatan KMW PPIP APBN-P TA. 2013; Learned
RECHECK Batas Kegiatan KMW PPIP APBN-P TA. 2013;
Tugas KMW PPIP APBN-P TA. 2013; dan
Indikator Keluaran

Target Strategi pada level Manajemen


Program Operasional : SMART APPROACH

Methodology :
Interaksi antar stakeholders secara intensip
Pendekatan sharing informasi secara efektif
Pemastian kualitas & kapasitas Konsultan
Quality control pelaksanaan program
Pengembangan kapasitas sasaran Program
Quality control seluruh output tenaga ahli
Pengembangan SIM yang update, lengkap dan
akurat

Output diharapkan :
Terselenggarannya pelaksanaan program yang sesuai
dengan pedoman umum dan pedoman pelaksanaan
yang sudah ditetapkan.

Laporan Pelaksanaan Tugas dan Tanggungjawab


KMW PPIP TA. 2013 sesuai dengan ruang lingkup
penugasan konsultan.

G.1.3. Usulan Strategi Pendekatan dan Metodologi

49
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

1. Pemahaman terhadap Peta Lokasi Sasaran

KMW PPIP APBN-P TA. 2013 membawahi lokasi sasaran di 10 wilayah


Propinsi, secara detail tersaji pada tabel berikut ini :

Tabel G.1
Data Jumlah Lokasi Sasaran KMW PPIP APBN-P TA. 2013
TARGET PENGENDALIAN
No NAMA PROPINSI
WILAYAH
1. Kalimantan Barat
2. Kalimantan Tengah
3. Kalimantan Selatan Regional Kalimantan
4. Kalimantan Timur
5. Gorontalo
6. Sulawesi Utara
7. Sulawesi Tengah
8. Sulawesi Selatan Regional Sulawesi
9. Sulawesi Tenggara
10. Sulawesi Barat

Lokasi sasaran pada propinsi tersebut, pada pada masa sebelumnya telah
memperoleh fasilitasi dari Konsultan Manajemen Kabupaten dan Tim Fasilitator.
Oleh sebab itu, Konsultan perlu melakukan kajian bersama dengan Konsultan
Pendamping existing terkait dengan status pencapaian progress kegiatan dan
kinerja terkini. Dengan demikian, Konsultan dapat menindaklanjuti berbagai hal
yang belum dapat diselesaikan pada masa sebelumnya, baik dari segi
pencapaian target waktu maupun pencapaian kinerja yang diharapkan.

50
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

G.2. STRATEGI PENDEKATAN

Secara konsepsional, PPIP sebagai program inti PNPM Mandiri mengembangan


strategi pendekatan dalam rangka memberdayakan masyarakat miskin (termasuk
perempuan) dan pelaku-pelaku pembangunan strategis, agar mampu membangun dan
menanggulangi kemiskinan secara mandiri, mencakup usaha-usaha untuk :

a. Peningkatan peran serta masyarakat terutama rumah tangga miskin dan


perempuan dalam pengambilan keputusan perencanaan, pelaksanaan,
pemantauan, dan pelestarian pembangunan, khususnya pembangunan
infrastruktur

b. Melembagakan manajemen perencanaan pembangunan secara partisipatif


dengan mendayagunakan sumber daya lokal,

c. Mengembangkan kapasitas pemerintah lokal dalam memfasilitasi pengelolaan


pembangunan perdesaan yang berkelanjutan,

d. Penyediaan prasaranan infrastruktur dasar di perdesaan secara berkualitas, yang


menjadi kebutuhan prioritas masyarakat,

e. Melembagakan kualitas organisasi atau kelembagaan komunitas dalam


penguatan nilai dan prinsip kemasyarakatan dan pengelolaan kegiatan-kegiatan
penanggulangan kemiskinan, khususnya dalam kegiatan pembangunan
infrastruktur.

Terhadap pencapaian target sasaran, yaitu : (1) Rumah Tangga Miskin (RTM) sebagai
penerima manfaat utama, (2) Organisasi atau Kelembagaan Masyarakat di Perdesaan,
dan (3) stakeholders Pemerintahan Lokal, PPIP perlu menggunakan prinsip-prinsip dan
pendekatan yang mutlak menjadi inspirasi dalam seluruh rangkaian proses usaha
sebagaimana tujuan di atas, prinsip-prinsip tersebut yakni : (1) Dapat diterima
(Acceptable), (2) Transparansi, (3) Akuntabel, (4) Berkelanjutan dengan pendekatan
meliputi : (1) Pemberdayaan Masyarakat, (2) Keberpihakan kepada orang miskin, (3)
Otonomi dan desentralisasi, (3)Partisipatif, (4) Keswadayaan, (5) Keterpaduan program
pembangunan, (6) Penguatan Kapasitas Kelembagaan, (7) Kesetaraan dan keadilan
gender..

Keseluruhan prinsip dan pendektan di atas dikelola dalam koridor teknis pendampingan
yang mengacu pada Pedoman Umum dan Pedoman Teknis Pelaksanaan PPIP,

51
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

meliputi : (1) desa partisipatif, (2) swadaya masyarakat dan kontribusi desa, (3) menu
atau jenis-jenis kegiatan, (4) jenis kegiatan terlarang (negative list), (5) mekanisme
dalam pengusulan kegiatan, (6) keberpihakan kepada perempuan, (7) ketentuan
sanksi, (8) standar peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintah lokal, serta (9)
standar kualitas organisasi atau kelembagaankomunitas. Standarisasi menyangkut
tugas pokok dan fungsi para pelaku juga diberlakukan untuk menjamin pengendalian
mutu dalam pengelolaan sumber daya manusia yang terlibat dalam seluruh rangkaian
kegiatan PNPM Mandiri Pedesaan.

Alur kegiatan PPIP merupakan bagian penting dalam pendampingan dan proses
pemberdayaan masyarakat, yang diawali dengan Tahap Persiapan. Melalui kegiatan
tersebut dapat dicapai output, yaitu :

1) Daftar desa sasaran PPIP APBN-P 2013

2) Keputusan Penetapan Pejabat Inti Satker

3) Terbentuknya Tim Pelaksana

4) Rencana strategi pelaksanaan PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013
5) Laporan Kegiatan tahap persiapan yang telah berjalan efektif.

Selesainya Tahap Persiapan dilanjutkan dengan Tahap Sosialisasi dan Penyebarluasan


informasi dengan output :

1) Tersebarnya konsep, mekanisme penyelenggaraan program ke seluruh pemangku


kepentingan pelaksanaan PPIP ABN-P Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013
2) Terbentuknya forum komunikasi dan media komunikasi

Berbasis pada 7 (empat) output hasil tahap persiapan dan sosialisasi serta penyebaran
informasi, maka kegiatan pendampingan dan proses pemberdayaan masyarakat
dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu (1) tahap perencanaan pendampingan
Konsultan, (2) tahap pelaksanaan, dan (3) tahap paska pelaksanaan. Secara detail,
pada masing-masing tahap dapat diidentifikasi langkah operasinalnya seperti tersaji
pada tabel berikut ini :

52
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

TAHAP KEGIATAN PENDAMPINGAN & PROSES PEMBERDAYAAN


TAHAP PERENCANAAN TAHAP PELAKSANAAN FISIK TAHAP PASCA
PELAKSANAAN FISIK
Sosialisasi tingkat desa; Musyawarah Desa III Musyawarah Desa
(rencana pelaksanaan IV (laporan pertanggung
Rembug Persiapan Warga
pembangunan infrastruktur); jawaban OMS tentang
Musyawarah Desa I hasil pelaksanaan
Penandatanganan
(Pembentukan OMS/ kegiatan);
Kontrak Kerja
Pokmas/ LKD dan Kader
Serah Terima
Desa); Pelaksanaan
Infrastruktur Terbangun
Pembangunan Infrastruktur
Identifikasi Permasalahan; Operasi & Pemeliharaan
Pengawasan
Musyawarah Desa II
Pelaksanaan Pembangunan
Penyusunan UPD dan Infrastruktur
RKM
Informasi
Verifikasi UPD dan RKM Pelaksanaan / Pelaporan
Pembuatan Rencana Kegiatan
Teknis dan RAB Rembug Warga
Pelaksanaan

Secara konsepsional, seluruh rangkaian pendekatan seperti diuraikan di atas, dapat


disederhanakan melalui Gambar G.2. Intinya, usaha-usaha mencapai tujuan program
diperlukan langkah awal melalui pendekatan capacity building dan proses-proses
penyadaran kritis, baik pada level komunitas, kelembagaan komunitas dan pemerintah
local/daerah. Model pemberdayaan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan peran
serta yang proaktif dari berbagai potensi (pemerintah daerah, masyarakat dan
lembaga-lembaga desa) untuk memastikan berjalannya prinsip-prinsip PPIP serta
ketentuan dasar maupun alur kegiatannya. Kader Desa dan Organisasi atau
Kelembagaan Komunitas merupakan potensi strategis untuk menumbuhkan
keberdayaan masyarakat miskin, sehingga akses pengambilan keputusan bagi warga
miskin pada saat perencanaan, pelaksanan, pemantauan dan evaluasi kegiatan
pembangunan di wilayahnya berjalan lebih efektif.

53
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Gambar G.2.
Usulan Model Pendekatan PPIP ABN-P Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013

Perencanaan pembangunan
Manajemen perencanaan dan secara partisipatif yang
PRINSI
pelaksanaan pembangunan melembaga DAN
pedesaan yang berkelanjutan
P
pengelolaan infrastruktur
berkelanjutan

LOCAL LEMBAGA
GOV. DESA

Pemberdayaan
Masyarakat
melalui PNPM
PPIP
KETENTUAN
DASAR &
TY
A CI RAN ALUR
AP DA KEGIATAN
t : C YA
in EN
Po & P TIS Tersedia
try G RI prasarana
En LDIN K (infrastruktur)
I KOMUNITAS
BU dasar di
perdesaan
RumahTangga Miskin &
perempuan memiliki akses
pengambilan keputusan yang
lebih baik

54
Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

G.3. USULAN METODOLOGI DALAM PENJAMINAN MUTU

(QUALITY INSURENCE)

Sejalan dengan kerangka umum metodologi dan strategi pendekatan seperti telah
dirumuskan di atas, dapat disusun usulan teknis metodologi, yang meliputi 2 (dua)
teknis dalam penjaminan mutu. Pertama, penjaminan mutu dalam kegiatan capacity
building, dan kedua, penjaminan mutu dalam pengendalian kegiatan pendampingan
dan pengelolaan data. Penjaminan mutu tersebut diorientasikan untuk mencapai
standar kinerja yang diharapkan, baik dari segi proses dan ouputnya, berbasis pada
data yang lengkap, update dan akurat.

Penjaminan Mutu Dalam Kegiatan Capacity Building

Kegiatan capacity building mencakup rangkaian kegiatan pelatihan dan sosialisasi


yang berjalan secara integratif. Output dari kegiatan capacity building tersebut adalah
pemahaman atas konsep substansi program dan konsep bekerja/bersikap dari para
pelaku (Konsultan Pendamping) dan kelompok sasaran program baik pada level
komunitas maupun level Kabupaten.

Cakupan kegiatan capacity building meliputi (1) kegiatan Lokakarya, (2) sosialisasi
dan (3) pelatihan klasikal maupun non - klasikal (on the job training atau praktek
lapang). Peran KMW dalam capacity building ini adalah sebagai pelaksana, fasilitator
dan sekaligus supervisor. Dari segi kewilayahan, kegiatan capacity building
dilaksanakan di tingkat Propinsi sampai dengan tingkat kelurahan.

Dalam capacity building tersebut terdapat pula tanggung jawab KMW untuk
memastikan ketepatan sasaran dalam pemanfaatan bahan-bahan pelatihan maupun
media-media sosialisasi, yang sasaran targetnya mencakup 3 target sasaran besar,
yakni (1) komunitas, terdiri dari Relawan atau potensi Kader Desa, Lembaga Desa,
dan masyarakat terbatas (Rumah Tangga Miskin, komunitas perempuan), (2) aparat
Pemerintah Kabupaten terkait, baik dari kalangan ekskutif maupun legislatif, dan (3)
stakeholders dalam hal ini masyarakat luas, pemerintahan daerah dan swasta,
utamanya menyangkut konsep, tujuan, nilai-nilai dan aturan main PPIP.

Pada level propinsi menjadi tanggungjawan KMPr, sedangkan pada level Kabupaten
menjadi tanggungjawab Konsultan Manajemen Kabupaten (KM Kab). Tim Fasilitator
bertanggungjawab pada level Desa hingga Kecamatan. Dengan demikian, setiap
bagian dari Konsultan Pendamping adalah agen inti di dalam kegiatan capacity
building tersebut.

PT. UNISYSTEM UTAMA 55


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Secara spesifik, Tim Fasilitator memiliki peran kunci dalam melakukan capacity
building untuk memastikan tercapainya kinerja program yang baik. Oleh sebab itu,
dukungan media sosialisasi massal penting direkomendasikan tepat penyampaian
baik dari segi momentumnya maupun sasarannya. Media sosialisasi massal tersebut
meliputi; (1) media massa (radio, koran, majalah, konferensi pers), (2) melalui
publikasi bahan cetakan seperti poster, pamflet, brosur, serta (3) melalui presentasi
tentang proyek di lokakarya, rapat atau pertemuan warga, FGD, baik ditingkat
pemerintahan maupun masyarakat.

Gambaran operasional dari teknis metodologi penjaminan kualitas kegiatan capacity


building tersaji pada Gambar G.4.

Gambar G.4
Model Pengendalian Kegiatan Capacity Building
PPIP ABN-P Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013

UJI PETIK, MONITORING-EVALUASI, REVIEW


HASIL CAPACITY BUILDING
QUALITY CONTROL TERHADAP KEGIATAN SOSIALISASI

QUALITY CONTROL TERHADAP CAPACITY BUILDING


Realisasi Outputs :
Kapabilitas KMPr dan KM Kab secara Tim Kerja BAIK
Pemahaman Komunitas sasaran BAIK, partisipasi & kepedulian positif
Pemahaman Aparat Pemda sasaran BAIK, support & akomodatif

APARAT PEMDA PROPINSI & ORGANISASI ATAU LEMBAGA


KAB DESA

TARGET SASARAN
SATKER PIP PROPINSI RELAWAN (KADER DESA)

SATKER PIPI KABUPATEN KMPr APARAT KEL/DESA


KMK
STAKEHOLDER KOTA-KAB Tim Fasilitator KOMUNITAS TERKAIT

BAHAN/MATERI & TIM PENGENDALI TIM KERJA CAPACITY


MEDIA PROGRAM BUILDING

KMW KMPr KMK TIM FASILITATOR

PT. UNISYSTEM UTAMA 56


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Penjaminan Mutu Dalam Pengendalian Kegiatan Pendampingan &


Manajemen Data

Metode SMART (Specific, Measurable, Affordable, Realistic, Time Bounding)


seperti tersaji pada Gambar G.5, di dalam manajemen penjaminan mutu
pengendalian pendampingan, menjadi inspirasi Konsultan untuk memastikan
berjalannya proses-proses yang efektif dalam pengendalian dan check-re-chek
dalam memastikan kualitas proses dan hasil. Berbagai kegiatan yang dilakukan
guna mencapai dan sasaran yang ditetapkan harus pula memenuhi kaidah QQT
(Quality, Quantity, Time Standart).

Teknis metodologi penjaminan mutu kegiatan pendampingan dan manajemen data


dirancang secara khusus untuk menjamin 4 (empat) aspek output, yakni : (1)
kualitas proses pendampingan, (2) pencapaian target waktu sesuai master
schedule nasional, (3) data yang lengkap, update dan akurat, serta (4) kualitas
hasil memenuhi indikator kinerja diharapkan.
Gambar 5 :
SMART Inspiration
Strategi ini berjalan
simultan dengan teknis
metodologi pelaksanaan
capacity building, dimana
komponen Konsultan
(mulai dari Tim KMW, Tim
KMPr, Tim KMK dan Tim
Fasilitator Masyarakat)
merupakan input utama
dari serangkaian proses
Gambar G.5
Pendekatan untuk memfasilitasi dan
SMART sekaligus mengendalikan 2
(dua) kelompok sasaran program, yaitu :
kelompok sasaran komunitas, dalam berbagai kategori lokasi sasaran, dan
kelompok sasaran pemerintahan kabupaten.

Dari segi substansi program, fasilitasi Konsultan meliputi 5 (lima) orientasi target,
yaitu (1) penguatan organisasi atau lembaga komunitas, (2) peningkatan akses
Gambar 4.5
Pendekatan rumah tangga miskin & perempuan dalam pengambilan keputusan pembangunan
SMART
infrastruktur, (3) terbangun dan terpelihara prasarana sarana dasar di perdesaan

PT. UNISYSTEM UTAMA 57


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

yang dibutuhkan masyarakat, (4) terwujudnya sistem perencanaan pembangunan


partisipatif yang melembaga, serta (5) menguatnya manajemen pembangunan
pedesaan yang partisipatif dan berkelanjutan. Orientasi target substansi tersebut
menjadi dasar dalam proses penguatan dan pengendalian yang dilakukan dengan
berbagai pendekatan (check re-check, uji petik, refleksi, wrap up hasil check
recheck dan hasil uji petik, serta konsistensi atas tindak lanjut yang
direkomendasikan). Skema penjaminan mutu dalam pengendalian kegiatan
pendampingan dan manajemen data tersaji pada Gambar G.6.

Gambar G.6 :
Skema Penjaminan Mutu Pengendalian Pendampingan & Manajemen Data
PPIP ABN-P Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013

PT. UNISYSTEM UTAMA 58


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

QUALITY CONTROL TERHADAP KELENGKAPAN & AKURASI DATA


QUALITY CONTROL PENGENDALIAN PENDAMPINGAN

TARGET SASARAN PADA TARGET SASARAN KOMUNITAS


TINGKAT KABUPATEN DESA

UJI PETIK, MONITORING-EVALUASI, REVIEW/WRAP-UP

Realisasi Outputs :
Indikator Kinerja PNPM Mandiri PPIP tercapai
TAMP, KM Kab, Tim Fasilitator memiliki kinerja andal dan baik
SIM Fungsional : data SIM lengkap, update dan akurat

MANAJEMEN TERSEDIA PRASARANA AKSES RTM DALAM


PEMBANGUNAN DASAR PERDESAAN YANG PENGAMBILAN
PEDESAAN YG MEMADAI MELALUI KEPUTUSAN
PARTISIPATIF & MEKANISME PARTISIPATIF MENINGKAT
BERKELANJUTAN YANG MELEMBAGA

RMC PROVINCE COORDINATOR KM KAB. & TEKNIK TIM FASILITATOR KEC.

PT. UNISYSTEM UTAMA 59


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Sebagai penunjang teknis metodologi di atas, maka Konsultan merekomendasikan 2


(dua) teknis suplemen, terdiri (1) teknis pengendalian data maupun pelaporan, lihat
pada Gambar G.7, dan (2) teknis pengakhiran pekerjaan (terminasi proyek) yang
terintegrasi dalam rencana kerja.

PT. UNISYSTEM UTAMA 60


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Gambar G.7
ALUR KENDALI PELAPORAN DAN DATA/INFORMASI PPIP APBN-P KALIMANTAN DAN SULAWESI TA. 2013

TL KMP TA PEMBERDAYAAN TA MONEV TA DATA BASE


TIM FASILITATOR

Master Plan Nasional

Rencana Kerja Action Action Plan Action Plan Action Plan


KMW 1 bulanan 1 bulanan 1 bulanan 1 bulanan

Report dan koordinasi Report dan koordinasi Report dan koordinasi Review dan koordinasi
mingguan 1 mingguan 1 mingguan mingguan/harian

Masala Yes
h /
Hamba
tan No
Yes
Master
Plan
No

Indicator Indicator Indicator Log Book


Performance Performance Performance Fasilitator

Laporan & Input data Laporan & Input data Laporan & Input data Laporan & Input data

TRANSFER TEKNIS PELAPORAN DARI TIM FASILITATOR KEPADA AKTIVIS ORG/LEMBAGA KOMUNITAS

PT. UNISYSTEM UTAMA 61


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

H RENCANA KERJA

Atas dasar Kerangka Operasional KMW PPIP APBN-P pada tabel G. 1 serta pendekatan
teknis dan metodologi sebagaimana tersaji di atas, maka dapat disusun rencana kerja
Konsultan selama 4 (empat) bulan kalender.
Secara detail work scheedule kegiatannya sebagaimana lingkup kegiatan di atas tersaji
pada Gambar H.1.

Gambar H.1
Rencana Kerja Konsultan KMW PPIP APBNP
Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

PT. UNISYSTEM UTAMA 62


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

I TENAGA AHLI

I.1. ORGANISASI DAN STAFFING

Gambar I.1 memperlihatkan struktur organisasi KMW untuk melaksanakan kegiatan


KMW PPIP APBN-P Tahun Anggaran 2013. Tim Tenaga Ahli KMW terdiri atas Team
Leader dan 2 orang TA Pemberdayaan Masyarakat, 5 orang TA Monitoring dan
Evaluasi, 2 orang TA Data Base/ Informatika.

Tenaga Ahli KMW yang diajukan oleh Perusahaan Konsultan diperhitungkan telah
memenuhi kelayakan kualifikasi sebagaimana ketentuan yang ditetapkan dalam
standar Proyek. Seluruh Tenaga Ahli tersebut juga dijamin oleh Perusahaan
Konsultan mampu memenuhi derajad kompetensi yang diharapkan. Kualifikasi dan
kompetensi tersebut signifikan untuk mengambil tanggungjawab yang menjadi tugas-
tugasnya, sehingga memiliki kapasitas untuk merealisir target kinerja Proyek, baik
dalam proses implementasi maupun hasilnya. Komposisi personil KMW yang
diusulkan berikut uraian tugas dan tanggungjawabnya tersaji pada Gambar I.2.
Mencermati rencana kerja KMW, maka dapat diusulkan jadwal penugasan tenaga
ahli sebagaimana tersaji pada Gambar I.3.

PT. UNISYSTEM UTAMA 63


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Gambar I.1.
STRUKTUR ORGANISASI KONSULTAN
KMW PPIP APBN-P KALIMANTAN DAN SULAWESI TA. 2013

PT. UNISYSTEM UTAMA 64


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Gambar I.2
Pembagian Kerja Tenaga Ahli KMW PPIP APBN-P Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013

PT. UNISYSTEM UTAMA 65


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

PT. UNISYSTEM UTAMA 66


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

H.2. KOMPOSISI TENAGA AHLI

Tenaga Ahli yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan ini sesuai yang
dijelaskan dalam kerangka kerja adalah :

1. Team Leader (1 orang).


2. Tenaga Ahli Pemberdayaan (2 orang).
3. Tenaga Ahli Monitoring Dan Evaluasi (5 orang).
4. Tenaga Ahli Data Base/ Informatika (2 orang).

Daftar Riwayat Hidup Tenaga Ahli yang diusulkan dapat dilihat pada Lampiran.
Untuk tenaga pendukung sebagai pembantu kelancaran tenaga ahli agar
pelaksanaan pekerjaan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar konsultan
mengusulkan beberapa tenaga pendukung yang disesuaikan dengan komposisi dan
kebutuhan tenaga ahli yaitu :

1. Asisten Ahli Monitoring dan Evaluasi (5 orang)


2. Asisten Ahli Data Base / Informatika (5 orang)
3. Sekretaris, (1 orang).
4. Operator Komputer (2 orang)
4. Pesuruh Kantor (1 orang).

Tenaga Ahli yang diusulkan berdasarkan pada nama, posisi yang diusulkan,
kualifikasi tenaga, lokasi penugasan dan lama penugasan terlihat pada tabel berikut:

Tabel H.1. : Kualifikasi dan Penugasan Tenaga Ahli.


Nama Posisi Jabatan Kualifikasi Lokasi Lama
No
Diusulkan Tugas Tugas
1 Team Leader. S1, Sarjana Teknologi Jakarta
Ahli Manajemen Perencanaan Wilayah, ITB
Pembangunan 1986,
Perdesaan S2, Magister Teknik dan
Manajemen Industri ITB,
1999
2

PT. UNISYSTEM UTAMA 67


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Nama Posisi Jabatan Kualifikasi Lokasi Lama


No
Diusulkan Tugas Tugas
4

10

11

I.3. TANGGUNG JAWAB TENAGA AHLI

Tanggung jawab tenaga ahli berdasrkan pada posisi jabatan dalam pelaksanaan
pekerjaaan ini dapat diuraikan dan terlihata pada tabel berikut

PT. UNISYSTEM UTAMA 68


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Tabel I.2 -1. : Team Leader dan Tanggung Jawabnya.

Posisi Tangggung Jawab tenaga Ahli


No
Jabatan
1 Team Leader Mengkoordinasikan pelaksanaan seluruh
tugas dan tanggungjawab Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) PPIP APBN-P
Kalimantan dan Sulawesi TA. 2013 dan Menjamin tugas-tugas dan tanggungjawab
KMW dapat dilaksanakan dengan baik.
Mengkoordinir pelaksanaan persiapan-
persiapan program, penyebarluasan informasi serta sosialisasi pedoman umum
dan pedoman pelaksanaan secara luas ditingkat pusat dan daerah.

Mengkoordinir pelaksanaan pendampingan


sosialisasi di tingkat propinsi oleh TAMP dan pelaksanaan sosialisasi di tingkat
Kabupaten oleh TAMK.
Mengkoordinir dalam penanganan
pengaduan, serta alternatif tindak lanjut penanganannya
Mengkoordinir dalam konsolidasasi data-data
hasil pelaksanaan mulai dari tahap pelaksanaan pensiapan, sosialisasi dan
penyebarluasan informasi, pemberdayaan dan penencanaan dan tahap
pelaksanaan fisiknya.
Mengkoordinir dalam pelaksanaan
penyusunan database hash pelaksanaan program.
Mengkoordinir dalam pelaksanaan evaluasi
dan menumuskan berbagai input serta rekomendasi yang dapat mendukung
~eIancaran pelaksanaan dan masukan bagi penyempurnaan pelaksanaan
progrram tahun berikutnya.
Mendampingi Ditjen Cipta Karya program
PPIP dan melakukan koordinasi pelaksanaan program di daerah
Mengakomodir dalam membantu penyusunan
laporan Monitoring
Menyampaikan laporan konsolidasi
pencapaian kemajuan pelaksanaan setiap bulannya kepada Dirjen Cipta Karya me!
alui Satker PPIP Pusat.
Memberikan informasi dan laporan dalam
setiap bulannya serta menyiapkan laporan yang bersifat mendesak sesuai dengan
petunjuk pimpinan.
Melakukan pengendalian terhadap seluruh
personil konsultan.
Membnikan masukan dan rekomendasi
pengembangan program ke depan.

PT. UNISYSTEM UTAMA 69


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Table I.2- 2. : Ahli Pemberdayaan dan Tanggung Jawabnya.

Posisi Tangggung Jawab tenaga Ahli


No
Jabatan
2 Ahli Memberikan dukungan kepada TAMPr dalam
Pemberdayaan melaksanakan pendampingan di tingkat propinsi dan KMK.
Membenikan dukungan kepada KMK dalam
melaksanakan pendampingan di tingkat propinsi, kabupaten dan masyarakat.
Menyiapkan modul-modul dan materi
pelatihan.
Memberikan pelatihan dan pengembangan
kapasitas para pelaku program di tingkat pusat dan propinsi.
Melakukan pengendalian dan monitoring
terhadap proses pelaksanaan pembendayaan.
Melakukan analisis pelaksanaan
pembendayaan terhadap pencapaian sasanan program.
Mengembangkan jaringan kerja dengan
lembaga-lembaga yang memiliki kompetensi dalam pemberdayaan masyarakat;
Melakukan monitoring pengembangan masyarakat paska pelaksanaan program.

Tabel I. 2 - 3. : Ahli Monitoring dan Evaluasi dan Tanggung Jawabnya.

PT. UNISYSTEM UTAMA 70


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

Posisi Tangggung Jawab tenaga Ahli


No
Jabatan
3 Ahli Monitoring Mengkoordinasikan pengembangan materi /
dan Evaluasi format monitoring dan evaluasi pelaksanaan program
Melakukan koordinasi dengan Tim Pelaksana
dalam persiapan dan pefaksanaan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program.
Melaksanakan monitoring ke lapangan dan
koordinasi secara berkala dan terus menerus serta menyusun laporan secara rutin
kemajuan penyerapan dan fisik
Melakukan monitoring terhadap petaksanaan
Musyawarah Desa dan proses perencanaan di tingkat desa secara sampling.
Melakukan pengendalian terhadap
pengembangan masyarakat, pelaksanaan pernbangunan fisik dan peningkapan
kapasitas para pelaku program.
Menyampaikan laporan konsolidasi
pencapaian kemajuan pelaksanaan setiap bulannya kepada Di~en Cipta Karya
melalui Direktur Bina Program
Melakukan evaluasi pelaksanaan program
yang mencakup efek~fitas dan efesiensi pelaksanaan program terkait dengan
pelaksanaan Musyawarah Desa I IV, Pelaksanaan Fisik.
Melakukan evaluasi terhadap pantisipasi
masyarakat dalam pelaksanaan PPIP baik dalam proses pemberdayaan maupun
dalam pelaksanaan fisiknya.

Table I.2- 5. : Ahli Data Base dan Tanggung Jawabnya

Posisi Tangggung Jawab tenaga Ahli


No
Jabatan
4 Ahli Data Base Menyusun system database pelaporan
pelaksanaan program yang dapat mengcover setiap tahapan pelaksanaan program
serta progress fisik dan keuangan.
Membuat buku manual dan memberikan
training kepada pelaku di tingkat pusat dan propinsi
Mengupdate data-data perkembangan
pelaksanaan program secara kontinyu
Menyampaikan laporan reguler dan insidentil
pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya kepada Team Leader;
Bekerja sama dengan tenaga ahli Jainnya
dalam mefaksanakan tugas dan tanggungjawabnya

PT. UNISYSTEM UTAMA 71


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

PT. UNISYSTEM UTAMA 72


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

J FASILITAS PENUNJANG LAINNYA

J.1. FASILITAS PENUNJANG


Dalam melaksanakan pekerjaan ini dengan fasilitas pendukung kegiatan yang
diberikan oleh pemberi jasan maupun dengan beberapa fasilitas yang harus
disediakan perusahaan yang harus disewa secara bulanan maupun yang harus
dibeli, seperti diuraikan sebagai berikut :

1. Kantor
Untuk kegiatan pekerjaan proyek ini, kantor disediakan oleh perusahaan dan
berlokasi di Makassar yang fasilitas kerja disediakan sesuai dengan
kebutuhan dan untuk tenaga ahli yang ditugaskan di propinsi disesuaikan
dengan kebutuhan.

2. Transportasi
Untuk kepentingan koordinasi sehari hari maupun kelancaran yang dilakukan
di Makassar konsultan mengusulkan untuk dengan kendaraan 1 buah mobil
kijang selama periode pelaksanaan 4 bulan, sementara kegiatan kunjungan
lapangan di beberapa propinsi lokasi proyek, pemberi jasa seperti yang
disebutkan dalam KAK memberikan biaya uang harian dan transportasi
kunjungan dan kebutuhan untuk tenaga ahli propinsi selama di tugaskan
disesuaikan dengan kondisi lapangan dan Konsultan mengusulkan setiap
konsultan propinsi sebagai alat transportasi sewa kendaraan motor roda 2.

3. Akomodasi
Perusahaan tidak menyediakan akomodasi kepada staff pendukung baik
untuk Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung, namun didalam kepentingan
kunjungan lapangan survey pengumpulan data, perusahaan memberikan
biaya akomodasi.

PT. UNISYSTEM UTAMA 73


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

4. Perjalanan Dinas
Dalam rangka melaksanakan kegiatan tersebut konsultan diharuskan untuk
melakukan perjalanan kunjungan kerja, rapat kordinasi maupun monitoring
kegiatan diluar kegiatan di pusat Jakarta. Biaya transportasi dan perjalanan
dinas diperlukan ke luar Jakarta dilengkapi dengan biaya Daily Allowance
perdiem

5. Peralatan
Beberapa fasilitas kerja yang disediakan dan harus disewa bulanan selama
periode kegiatan untuk tenaga ahli di pusat / Jakarta yaitu :
1. Komputer ( set ) 3 unit.
2. Printer 1 unit.

Untuk Propinsi, konsultan mengusulkan untuk perlatan kerja setiap propinsi


adalah :
1) Komputer ( set ) 1 unit.
2) Printer 1 unit.

Disamping itu juga konsultan akan melakukan pengadaan dan pemakaian


peralatan habis pakai seperti supplies komputer dan printer, kertas, toner,
catridge dan alat tulis kantor lainnya dan untuk penggandaan laporan, gambar
dan data kiranya dilaksanakan di luar kantor melalui opersional ATK.

6. Komunikasi
Untuk kelancaran dan mempercepat koordinasi dan komunikasi diperlukan
biaya biaya telepon, fax, dan juga yang berhubungan dengan e mail
pemberi jasa memberikan melalui biaya opersional selama periode pekerjaan.

7. Pengambilan Data dan Penggandaan Data


Konsultan melakukan kunjungan lapangan yang dibutuhkan dalam
kepentingan proyek dan juga ada kemungkinan kepentingan data yang harus
dimiliki terkait pekerjaan yang dimana memerlukan penggandaan fotocopy
data dan pengadaan peralatan survai sendiri serta peralatan untuk analisanya
hal ini akan diusulkan konsultan menghitung dalam operasional ATK.

PT. UNISYSTEM UTAMA 74


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

J.2. PELAPORAN
Konsultan harus menyerahkan hasil laporan pekerjaan kepada pemberi jasa selama
periode pelaksanaan yang terdiri dari :

1. Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan dibuat dan disampaikan 1 bulan setelah SPMK kepada
PPK Pusat sebanyak 10 eksemplar . Laporan ini berisikan sebagai berikut:
Metodologi pelaksanaan, jadwal pelaksanaan konsultan serta persiapan-
persiapannya.
Rencana kerja konsultan dalam melaksanakan pendampingan.

2 Laporan Mingguan
Konsolidasi capaian progres yang telah dilaksanakan.

Keterlambatan pelaksanaan di setiap tahapan.

Berbagai permasalahan yang timbul.

Kinerja KMK dan TAMPr.

3 Laporan Bulanan
Laporan bulanan dibuat dan disampaikan setiap awal bulan pada bulan
berikutnya kepada PPK Pusat sebanyak 10 eksemplar. Laporan ini berisikan
sebagai berikut:
1. Konsolidasi hasil pendampingan TAMPr dan progres yang dapat dicapai baik
dalam aspek pemberdayaan, perencanaan, pelaksanaan fisik atau pasca
pelaksanaan di bulan berjalan.
2. Analisis keterlambatan, permasalahan dan pengaduan masyarakat.
3. Menjelaskan proses pendampingan dan pemberdayaan yang telah
dilaksanakan
4. Identifikasi permasalahan dan pengaduan serta tindaklanjut yang dilakukan.
5. Review jadwal dengan pelaksanaan di lapangan.
6. Status Laporan SAI dan E Monitoring.
7. Konsolidasi Laporan Mingguan TAMPr.

PT. UNISYSTEM UTAMA 75


Penawaran Teknis
Konsultan Manajemen Wilayah (KMW) Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP)
APBN-P Kalimantan dan Sulawesi Tahun Anggaran 2013

4 Laporan Draft Final


Laporan Draft Final dibuat dan disampaikan setelah 3 Bulan sejak SPMK kepada
Satuan Kerja Pusat sebanyak 10 eksemplar. Laporan ini berisikan sebagai
berikut:
1. Konsolidasi laporan bulanan/data hasil pelaksanaan secara up to date.
2. Analisis pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dan proses perencanaan
yang telah dilaksanakan.
3. Analisis pelaksanaan fisik dan pasca pelaksanaan fisik.
4. Konsep monitoring dan Evaluasi.
5. Hasil Pelaksanaan monitoring dan Evaluasi.
6. Analisis pencapaian program PPIP.
7. Rekomendasi, input dan masukan atas hasil pelaksanaan untuk
pengembangan program.

5 Laporan Final
Laporan Pelaksanaan Program adalah laporan ini merupakan penyempurnaan
diserahkan pada akhir proyek sebanyak 10 eksemplar

PT. UNISYSTEM UTAMA telah menyelesaikan usulan proposal dan dokumen lainnya
dalam keikut sertaan proyek ini dan sepenuhnya bertanggung jawab kepada penjabat
Pembuat Komitmen dengan sebaik baiknya dan selengkap lengkapnya sesuai permintaan
yang telah dibahas dalam penjelasan anwizjing dan dalam dokumen Kerangka Acuan Kerja
dan usulan proposal ini selanjutnya akan dijadikan pedoman pelaksanaan apabila proposal
ini telah lulus seleksi, Amin.
Terima Kasih.

PT. UNISYSTEM UTAMA 76

Anda mungkin juga menyukai