Anda di halaman 1dari 17

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Komunikasi Verbal

2.1.1 Pengertian Komunikasi Verbal

Komunikasi adalah suatu proses menstimulasi dari seorang individu terhadap


individu lain dengan menggunakan lambing-lambang yang berarti, berupa lambang
kata untuk mengubah tingkah laku (Zamroni, 2009).

Menurut Raymond S. Ross (dalam Mulyana, 2007:) komunikasi adalah suatu


proses menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa
sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya
yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikan.

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan symbol-simbol


verbal, baik secara lisan maupun tertulis. Simbol atau pesan verbal adalah semua
jenis simbil yang menggunakan satu kata atau lebih (Mulyana, 2012).

Menurut Arni Muhammad (2009) komunikasi verbal adalah komunikasi yang


menggunakan symbol-simbol atau kata-kata, baik yang dinyatakan secara lisan
maupun secara tertulis.

2.1.3 Ciri-ciri Komunikasi Verbal

Menurut Helina (2013), komunikasi verbal ditandai dengan ciri-ciri sebagai


berikut:

1. Disampaikan secara lisan atau bicara atau tulisan.

2. Proses komunikasi eksplisit dan cenderung dua arah.

3. Kualitas proses komunikasi seringkali ditentukan oleh komunikasi nonverbal.


2.1.4 Bentuk Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal terkait dengan pemakaian symbol-simbol bahasa yaitu


berupa kata atau rangkaian kata yang mengandung makna tertentu. Makna kata tidak
semata terletak dalam kata itu sendiri, melainkan ada dalam diri manusia. Jadi
manusia yang memberi makna terhadap kata (Mashoedi dan Wisnuwardhani, 2012
dalam Kurniawati, 2013).

Secara umum bentuk-bentuk komunikasi verbal (Surya, 2003 dalam Aeni,


2011) memiliki karakter sebagai berikut:

1. Tatap muka (Face to face)

Dalam berkomunikasi, biasanya kesadaran terjadi pada saat-saat


khusus, seperti bercakap-cakap dan dialog. Komunikasi tatap muka terjadi
langsung antara dua orang atau lebih.

2. Bermedia (Mediated)

Komunikasi yang dilakukan dengan media menuntut seorang mampu


menguasai teknologi komunikasi, juga keterampilan untuk berkomunikasi
dalam bentuk tulisan.

3. Verbal

Komunikasi verbal menggunakan simbol-simbol verbal. Simbol verbal


bahasa merupakan pencapaian manusia yang paling impresif. Ada
beberapa aturan untuk bahasa, yaitu fonologi dan sintaksis.

2.1.5 Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Verbal

Menurut Kurniawati (2014), komunikasi verbal dipengaruhi oleh beberapa


faktor yaitu:
1. Kemaknaan (Denotative and connotative meaning)

2. Perbendaharaan kata (vocabulary)

3. Kecepatan (Pacing)

4. Kejelasan dan keringkasan (Clarity and brief)

5. Waktu dan relevansi (Timing and relevance)

Sedangkan bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran,


perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang
merepresentasikan berbagai aspek realitas individual kita. Komunikasi verbal ternyata
tidak semudah yang kita bayangkan. Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis
simbol yang menggunakan satu kata atau lebih (Mulyana, 2012).

2.2 Konsep Skizofrenia Hebefrenik

2.2.1 Pengertian Skizofrenia Hebefrenik

Skizofrenia adalah suatu penyakit yang memengaruhi otak dan menyebabkan


timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang aneh dan terganggu.
Skizofrenia tidak dapat didefinisikan sebagai suatu penyakit yang mencakup banyak
jenis dengan berbagai gejala

Skizofrenia Hebefrenik: ditandai dengan afek datar atau afek yang tidak
sesuai secara nyata, inkoherensi, asosiasi longgar, dan disorganisasi perilaku yang
ekstern (Videbeck, 2008).
2.2.3 Gejala-gejala Skizofrenia Hebefrenik

Gejala psikotik ditandai oleh abnormalitas dalam bentuk dan isi pikiran,
persepsi, dan emosi serta perilaku. Berikut ini beberapa gejala yang dapat diamati
pada Skizofrenia (Maramis dan Willy F., 2009) :

1. Penampilan dan Perilaku umum

Tidak ada penampilan atau perilaku yang khas skizofrenia. Beberapa bahkan
dapat berpenampilan dan berperilaku normal. Mungkin mereka tampak
berpreokupasi terhadap kesehatan, penampilan badan, agama atau minatnya.

Klien dengan skizofrenia kronis cenderung menelantarkan penampilannya.


Kerapian dan hygiene pribadi juga terabaikan. Mereka juga cenderung
menarik diri secara social

2. Gangguan Pembicaraan

Pada skizofrenia inti gangguan memang terdapat pada proses pikiran. Yang
terganggu terutama adalah asosiasi. Asosiasi longgar berarti tidak adanya
hubungan antar ide. Kalimatnya tidak saling berhubungan, Kadang-kadang
satu ide belum selesai diutarakan, sudah dikemukakan ide lain. Atau terdapat
pemindahan maksud, misalnya maksud tani tetapi dikatakan sawah.
Bentuk yang lebih parah adalah inkoherensi.

Tidak jarang juga digunakan arti simbolik, seperti dikatakan merah bila
dimaksudkan berani. Atau terdapat asosiasi bunyi (clang association) oleh
karena pikiran sering tidak mempunyai tujuan tertentu, misalnya piring-
miring, atau dulu waktu hari, jah memang matahari, lalu saya lari
. Semua ini menyebabkan bahwa jalan pikiran pada skizofrenia sukar
atau tidak dapat diikuti dan dimengerti.
Neologisme yaitu kadang-kadang klien dengan skizofrenia membentuk kata
baru untuk menyatakan arti yang hanya dipahami oleh dirinya sendiri.

Kadang-kadang pikiran seakan berhenti, tidak timbul ide lagi. Keadaan ini
dinamakan blocking, biasanya berlangsung beberapa detik saja, tetapi kadang-
kadang sampai beberapa hari.

3. Gangguan Perilaku

Gangguan perilaku yaitu stereotipi dan manerisme. Berulang-ulang


melakukan suatu gerakan atau mengambil sikap badan tertentu disebut
stereotipi; misalnya menarik-narik rambutnya, atau tiap kali bila mau
menyuap nasi mengetuk piring dulu beberapa kali. Keadaan ini dapat
berlangsung beberapa hari sampai beberapa tahun. Stereotipi pembicaraan
dinamakan verbigerasi, kata atau kalimat diulang-ulangi. Hal ini sering
terdapat pada gangguan otak organic. Manerisme adalah stereotipi tertentu
pada skizofrenia, yang dapat dilihat dalam bentuk grimas pada mukanya atau
keanehan berjalan dan gaya berjalan.

4. Gangguan Afek

Kedangkalan respon emosi (emotional blunting), misalnya penderita menjadi


acuh tak acuh terhadap hal-hal yang penting untuk dirinya sendiri seperti
keadaan keluarganya dan masa depannya. Perasaan halus sudah hilang. Juga
sering didapati anhedonia.

Parathimi yaitu apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang atau gembira,
pada penderita timbul rasa sedih atau marah.

Paramimi yaitu penderita merasa senang atau gembira, akan tetapi ia


menangis. Parathimi dan paramimi bersama-sama dinamakan incongruity of
affect.
Kadang-kadang emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai kesatuan,
misalnya seperti sesudah membunuh anaknya penderita menangis berhari-
hari, tetapi mulutnya seperti tertawa. Semua ini merupakan gangguan afek dan
emosi yang khas untuk skizofrenia. Gangguan afek dan emosi lain adalah:

Emosi yang berlebihan, sehingga kelihatan seperti dibuat-buat, seperti


penderita sedang bersandiwara.

Yang penting juga pada skizofrebua adalah hilangnya kemampuan untuk


mengadakan hubungan emosi yang baik (emotional rapport). Karena itu
sering kita tidak dapat merasakan perasaan penderita.

Sensitivitas emosi, penderita skizofrenia sering menunjukkan hipersensitivitas


terhadap penolakan, bahkan sebelum menderita sakit. Sering hal ini
menimbulkan isolasi sosial untuk menghindari penolakan.

5. Gangguan Persepsi

Halusinasi: Pada skizofrenia, halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran


dan hal ini merupakan suatu gejala yang hampir tidak dijumpai pada keadaan
lain. Paling sering dijumpai pada skizofrenia adalah halusinasi pendengaran
(audiotorik atau akustik) dalam bentuk suara manusia, bunyi barang-barang
atau siulan.

6. Gangguan Pikiran

Waham: Pada skizofrenia waham sering tidak logis sama sekali dan sangat
bizar. Penderita tidak menginsafi hal ini dan baginya wahamnya merupakan
fakta yang tidak dapat diubah oleh siapapun. Sebaliknya ia tidak mengubah
sikapnya yang bertentangan, misalnya penderita berwaham bahwa ia raja,
tetapi ia bermain-main dengan air ludahnya dan mau disuruh melakukan
pekerjaan kasar. Mayer-Gross membagi waham dalam 2 kelompok; yaitu
waham primer dan waham sekunder. Mungkin juga terdapat waham
sistematis. Ada juga tafsiran yang bersifat waham (delusional interpretations).

Waham primer timbul secara tidak logis sama sekali, tanpa penyebab apa-apa
dari luar. Menurut Mayer-Gross halnini hampir patognomonik buat
skizofrenia. Misalnya waham bahwa istrinya sedang berbuat serong sebab ia
melihat cicak berjalan dan berhenti dua kali, atau seorang penderita berkata
dunia akan kiamat sebab ia melihat seekor anjing mengangkat kaki terhadap
sebatang pohon untuk kencing.

Waham sekunder biasanya logis kedengarannya: dapat diikuti dan merupakan


cara bagi penderita untuk menerangkan gejala-gejala skizofrenia lain. Waham
dinamakan menurut isinya: waham kebesarab atau expansif, waham nihilistic,
waham kejaran, waham sindirian, waham dosa, dan sebagainya.

Waham primer jarang terjadi dan lebih sulit ditentukan dengan pasti. Waham
kejaran sering didapatkan tetapi tidak spesifik untuk skizofrenia. Waham
referensi dan waham kendali serta waham pikiran sisipan atau pikiran siaran
lebih jarang terjadi tetapi tidak mempunyai arti diagnostik yang lebih besar
untuk skizofrenia.

Menurut Kraepelin (2010), Gejala skizofrenia hebefrenik permulaannya


perlahan-perhalan atau sub-akut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15-
25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses berpikir, gangguan kemauan
dan adanya depersonalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti
mannerism, neologisme atau perilaku kenak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia
hebefrenik. Waham dan halusinasi juga sering kali terjadi.

Contoh perkataan klien skizofrenia hebefrenik:

Saya dengar-dengar suara breznev melalui lalat, cicak, serangga, nyamuk: Kamu
anti soviet, berulang-ulang. Suara breznev, Mao Tse Tsung, Kruchev. Direkam
dengan microphone, tidak masuk, mungkin telinga saya lebih peka, microphone
hanya 16H-20KH. Bagaimana kalau ditangkap dengan oscilloscope? Bukan PM
(phase modulation)? Biasanya AM (amplitude modulation) atau FM (frequency
modulation) bukan?

3.3 Konsep Halusinasi Pendengaran

3.3.1 Pengertian Halusinasi Pendengaran

Persepsi adalah proses diterimanya rangsang samoai rangsang tersebut


disadari dan dimengerti penginderaan / sensasi. Gangguan persepsi : halusinasi adalah
ketidakmampuan manusia dalam membedakan antar rangsang yang timbul dari
sumber internal (pikiran, perasaan) dan stimulus eksternal (Dermawan dan Rusdi,
2013).

Menurut Keliat (2010) Halusinasi adalah suatu gejala gangguan jiwa pada
individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu
berupa suara,penglihatan,pengecapan,perabaan atau penghiduan.

Adapun menurut Yosep (2011) Halusinasi dapat didefinisikan sebagai suatu


persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya rangsangan dari luar.

Menurut Darmawan dan Rusdi (2013), Halusinasi Pendengaran adalah klien


mendengar suara dan bunyi tidak berhubungan dengan stimulasi nyata dan orang lain
tidak mendengarnya.

3.3.2 Rentang Respon Halusinasi

Rentang respon Neurobiologis menurut Stuart dan Laraia (2005) (dalam


Dermawan dan Rusdi, 2013) :

a. Respon Konflik : Distorsi pikiran, ilusi, reaksi emosi, perilaku aneh / tidak
biasa, dan menarik diri.
b. Respon Adaptif : Pikiran logis, persepsi akurat, emosi konsisten dengan
pengalaman, perilaku sesuai, dan berhubungan social.
c. Respon Maladaptif: Gangguan pikir / delusi, sulit merespon emosi,
perilaku disorganisasi, isolasi Sosial

3.3.3 Fase-Fase Halusinasi

Fase-fase Halusinasi yaitu (Kusumawati dan Rusdi, 2010) :


1. Fase Pertama
Fase pertama disebut fase comforting yaitu fase menyenangkan. Pada
tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik. Karakteristik : klien mengalami
stress, cemas, perasaan perpisahan, rasa bersalah, kesepian yang memuncak,
dan tidak dapat diselesaikan. Klien mulai melamun dan memikirkan hal-hal
yang menyenangkan, cara ini hanya menolong sementara. Perilaku klien
menggerakan bibir tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik
sendiri, respon verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya.
2. Fase Kedua
Fase Kedua disebut fase condemming atau ansietas berat. Pengalaman
sensori yang menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan
mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang
diekspresikan. Fase ini bersifat psikotik ringan. Perilaku klien yaitu
meningkatkan tanda-tanda system saraf otonom akibat ansietas seperti
peningkatan denyut jantung, pernafasan, dan tekanan darah. Rentang perhatin
menyempit, asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan
membedakan halusinasi dan realita.
3. Fase Ketiga
Fase Ketiga disebut fase controlling. Klien mengalami ansietas berat dan
pengalaman sensorik menjadi berkuasa. Klien berhenti menghentikan
perlawanan kesepian jika sensori halusinasi berhenti. Fase ini bersifat
psikotik. Perilaku klien yaitu kemauan klien yang dikendalikan halusinasi
akan lebih diikuti, kesukaran berhubungan dengan orang lain, rentang
perhatian hanya beberapa detik atau menit.
4. Fase Keempat
Fase keempat disebut fase Conquering. Klien mengalami panik dan
umumnya menjadi melebur dalam halusinasi. Pengalaman sensori menjadi
mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Karakteristik : halusinasi
berubah menjadi mengancam, memerintah, dan memarahi klien. Klien
menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol. Perilaku klien yaitu perilakunya
teror akibat panik, potensi bunuh diri, perilaku kekerasan, menarik diri.
3.3.4 Etiologi Halusinasi
Menurut Rawlins dan Heacock (dalam Darmawan dan Rusdi, 2013)
etiologi halusinasi dapat dilihat dari 5 dimensi, yaitu:
1. Dimensi Fisik
Halusinasi dapat meliputi kelima indera, tapi yang paling sering
ditemukan adalah halusinasi pendengar, halusinasi dapat ditimbulkan dari
beberapa kondisi seperti kelelahan yang luar biasa. Pengguna obat-obatan
demam tinggi hingga terjadi delirium intoksikasi, alcohol, dan kesulitan-
kesulitan untuk tidur dan dalam jangka waktu yang lama.
2. Dimensi Emosional
Terjadinya halusinasi karena ada perasaan cemas yang berlebihan yang
tidak dapat diatasi. Isi halusinasi yaitu perintah memaksa dan menakutkan,
tidak dapat dikontrol dan menentang. Sehingga menyebabkan klien berbuat
sesuatu terhadap ketakutan tersebut.
3. Dimensi Intelektual
Penunjukkan penurunan fungsi ego. Awalnya halusinasi merupakan usaha
ego sendiri melawan impuls yang menekan sehingga menimbulkan
kewaspadaan mengontrol perilaku dan mengambil seluruh perhatian klien.
4. Dimensi Sosial
Halusinasi dapat disebabkan oleh hubungan interpersonal yang tidak
memuaskan sehingga koping yang digunakan untuk menurunkan kecemasan
akibat hilangnya control terhadap diri sendiri. Harga diri, maupun interaksi
social dalam dunia nyata sehingga klien cenderung menyendiri dan hanya
bertuju pada diri sendiri.
5. Dimensi Spiritual
Klien yang mengalami halusinasi yang merupakan makhluk social,
mengalami ketidakharmonisan berinteraksi. Penurunan kemampuan untuk
menghadapi stress dan kecemasan sera menurunnya kualitas untuk menilai
keadaan sekitarnya. Akibat saat halusinasi menguasai dirinya, klien akan
kehilangan control terhadap kehidupannya.
Menurut Stuart dan Sundden (dalam Darmawan dan Rusdi, 2013),
terjadi halusinasi dapat disebabkan karena:
1. Teori Psikoanalisa
Halusinasi merupakan pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari
luar yang mengancam, ditekan untuk muncul akan sabar.
2. Teori Biokimia
Halusinasi terjadi karena respon metabolism terhadap stress yang
mengakibatkan dan melepaskan zat halusinogenik neurokimia seperti
bufotamin dan dimetyltransferase.
Sedangkan Mc. Forlano dan Thomas (dalam Darmawan dan Rusdi, 2013)
mengemukakan beberapa teori yaitu:
1. Teori Psikofisiologi
Terjadi akibat ada fungsi kognitif yang menurun karena terganggunya
fungsi luhur otak, oleh karena kelelahan, keracunan dan penyakit.
2. Teori Psikodinamik
Terjadi karena ada isi alam sadar dan akan tidak sadar yang masuk dalam
alam tak sadar merupakan sesuatu / respon terhadap konflik psikologi dan
kebutuhan yang tidak terpenuhi sehingga halusinasi adalah gambaran /
proyeksi dari rangsangan keinginan dan kebutuhan yang dialami oleh
klien.
3. Teori Interpersonal
Teori ini menyatakan seseorang yang mengalami kecemasan berat dalam
situasi yang penuh dengan stress akan berusaha untuk menurunkan
kecemasan dengan menggunakan koping yang biasa digunakan.

3.3.5 Pengkajian
Menurut Darmawan dan Rusdi (2013) pada pengkajian klien halusinasi
pendengaran didapatkan data sebagai berikut:
1. Faktor Presipitasi
a. Sosial Budaya
Teori ini mengatakan bahwa stress lingkungan dapat
menyebabkan terjadi respon neurobiologis yang maladaptive, misalnya
lingkungan yang penuh dengan kritik (bermusuhan), kehilangan
kemandirian dalam kehidupan, kehilangan harga diri, kerusakan dalam
hubungn dapan interpersonal dan gangguan dalam hubungan
interpersonal, kesepian, tekanan dalam pekerjaan, dan kemiskinan.
Teori ini mengatakan bahwa stress yang menumpuk dapat menunjang
terhadap terjadi gangguan psikotik tetapi tidak diyakini sebagai
penyebab utama gangguan.
b. Biokimia
Dopamine, norepineprin, zat halusinogen dapat menimbulkan
persepsi yang dingin oleh klien sehingga klien cenderung
membenarkan apa yang dikhayal.
2. Faktor Predisposisi
a. Faktor Biologis
Adanya hambatan dalam perkembangan otak khusu konteks lobus
provital, temporal dan limbik yang disebabkan gangguan
perkembangan dan fungsi susunan saraf pusat. Sehingga menyebabkan
hambatan dalam belajar, berbicara, daya ingat dan mungkin perilaku
menarik diri, perilaku menarik diri dapat menyebabkan orang tidak
mau bersosialisasi sehingga kemampuan dalam menilai dan berespon
dengan realita dapat hilang dan sulit membedakan rangsang internal
dan eksternal.
b. Faktor Psikologis
Halusinasi dapat terjadi pada orang yang mempunyai keluarga
overprotektif sangat cemas. Hubungan dalam keluarga yang dingin dan
tidak harmonis, perhatian dengan orang lain yang sangat berlebih
ataupun yang sangat kurang sehingga menyebabkan koping individu
dalam menghadapi stress maladaptif.
c. Faktor Sosial Budaya
Kemiskinan dapat sebagai faktor terjadi halusinasi bila individu
mempunyai koping yang tidak efektif maka ia akan suka berkhayal
menjadi orang kaya dan lama-kelamaan akan terjadi halusinasi.
3. Perilaku
Pengkajian pada klien dengan halusinasi perlu ditekankan pada
fungsi kognitif (proses piker), fungsi persepsi, fungsi emosi, fungsi
motorik dan fungsi sosial.
a. Fungsi Kognitif
Pada fungsi kognitif terjadi perubahan daya ingat, klien
mengalami kesukaran dalam menilai dan menggunakan memorinya
atau klien mengalami gangguan daya ingat jangka panjang/pendek.
Klien menjadi pelupa dan tidak berminat.
1) Cara berpikir magis dan primitive
Klien menganggap bahasa diri dapat melakukan sesuatu yang
mustahil bagi orang lain, misalnya dapat berubah menjadi
spiderman. Cara berpikir klien seperti anak pada tingkat
perkembangan anak pra-sekolah.
2) Perhatian
Klien tidak mampu mempertahankan perhatiannya atau mudah
teralih, serta konsentrasi buruk, akibatnya mengalami kesulitan
dalam menyelesaikan tugas dan berkonsentrasi terhadap tugas.
3) Isi Pikir
Klien tidak mampu memproses stimulus interna dan eksterna
dengan baik sehingga terjadi curiga, siar piker, sisip pikir, dan
somatic.
4) Bentuk dan Pengorganisasiaan Bicara
Klien tidak mampu mengorganisasian pemikiran dan menyusun
pembicaraan yang logis serta kohern. Gejala yang sering timbul
yaitu kehilangan asosiasi, kongensialm inkoheren/neologisme,
sirkumtansial, dan tidak masuk akal. Hal ini dapat
diidentifikasikan dari pembicaraan klien yang tidak relevan, tidak
logis, dan bicara yang terbelit-belit.
b. Fungsi Emosi
Emosi digambarkan dengan istilah mood, yaitu suasana emosi
sedangkan efek adalah mengacu pada ekspresi yang dapat diamati
dalam ekspresi wajah. Gerakan tangan, tubuh dan nada suara ketika
individu menceritakan perasaannya.
Pada proses neurobiologis yang maladaptif terjadi gangguan
emosi yang dapat dikaji melalui perubahan afek:
1) Afek tumpul
Kurangnya respon emosional terhadap pikiran, orang lain atau
pengalaman klien tampak apatis.
2) Afek datar
Tidak tampak ekspresi aktif, suara menahan, wajah datar, tidak
ada keterlibatan perasaan.
3) Afek tidak sesuai
Afek tidak sesuai dengan isi pembicaraan.
4) Reaksi berlebihan
Reaksi emosi yang berlebihan terhadap suatu kejadian.
5) Ambivalen
Timbulnya dua perasaan yang bertentangan pada saat yang
bersamaan.
c. Fungsi Motorik
Respon neurobiologis maladaptif menimbulkan perilaku yang
aneh, membingungkan dan kadang nampak tidak kenal dengan
orang lain. Perubahan tersebut adalah:
1) Impulsif : cenderung melakukan gerakan yang tiba-tiba
dan spontan.
2) Manerisme : dilihat melalui gerkan dan ucapan seperti
grimasentik.
3) Stereotipi : Gerakan yang diulang tidak bertujuan dan
tidak dipengaruhi oleh stimulus yang jelas.
4) Katatonia : Kekacauan psikomotor pada skizofrenia tipe
katatonik (imobilitas karena faktor psikologis, agitasi, klien
tampak tidak bergerak, seolah-olah dalam keadaan setengah
sadar).
d. Fungsi Sosial
Perilaku yang terkait dengan hubungan sosial sebagai akibat
orang lain respon neurobiologis yang maladaptif adalah sebagai
berikut:
1) Kesepian
Perasaan terisolasi dan terasing, perasaan kosong dan
merasa putus asa sehingga klien terpisah dengan orang lain.
2) Isolasi sosial
Terjadi ketika klien menarik diri secara fisik dan
emosional dari lingkungan. Isolasi diri klien tergantung pada
tingkat kesedihan dan kecemasan yang berkaitan dalam
berhubungan dengan orang lain. Rasa tidak percaya pada orang
lain merupakan masalah inti pada klien. Pengalaman hubungan
yang tidak menyenangkan menyebabkan klien menganggap
hubungan saat ini berbahaya. Klien merasa terancam setiap
ditemani orang lain karena ia menganggap orang tersebut akan
mengontrolnya, mengancam, menuntutnya oleh karena itu klien
tetap mengisolasi diri dari pada pengalaman yang menyedihkan
terulang kembali
3) Harga diri rendah

4. Persepsi-Sensori
Pada proses pengkajian persepsi-sensori, data penting yang perlu
didapatkan yaitu:
a. Jenis Halusinasi
Pada Halusinasi pendengaran didapatkan data obyektif yaitu klien
bicara atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, menyedengkan
telinga ke arah tertentu dan menutup telinga.
Sedangkan pada halusinasi pendengaran didapatkan data subyektif
yaitu klien mendengar suara-suara atau kegaduhan, mendengar suara
yang mengajak bercakap-cakap dan mendengar suara menyuruh
melakukan sesuatu yang berbahaya.
b. Isi Halusinasi
Data tentang isi halusinasi dapat diketahui dari hasil
pengkajian tentang jenis halusinasi, misalnya melihat sapi yang
sedang mengamuk padahal sesungguhnya adalah pamannya yang
sedang bekerja di ladang. Bisa juga mendengar suara yang menyuruh
untuk melakukan sesuatu, sedangkan sesungguhnya hal tersebut tidak
ada.
c. Waktu, frekuensi dan situasi yang menyebabkan munculnya
halusinasi.
Perawat juga perlu mengkaji wakti, frekuensi dan situasi
munculnya halusinasi yang dialami oleh klien. Kapan halusinasi
terjadi? Frekuensi terjadinya itu terus-menerus atau sesekali saja?
Situasi terjadinya saat sendiri atau setelah terjadi kejadian tertentu.
Hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus pada waktu
terjadinya halusinasi, sehingga klien tidak larut dengan halusinasinya.
Dengan mengetahui frekuensi terjadinya halusinasi, dapat
direncanakan frekuensi tindakan untuk mencegah terjadinya
halusinasi.
d. Respon halusinasi
Untuk mengetahui apa yang dilakukan klien ketika halusinasi
itu muncul. Perawat dapat menanyakan pada klien hal yang dirasakan
atau dilakukan saat halusinasi timbul. Perawat juga dapat
menanyakan kepada keluarga atau orang terdekat dengan klien.
Selain itu dapat dengan mengobservasi perilaku klien saat halusinasi
timbul. Kecermatan perawat akan meningkatkan kualitas asuhan
Ciri-ciri Komunikasi Verbal:
terhadap klien dengan gangguan ini.
Faktor-faktor
Disampaikan secara lisan komunikasi verbal:
atau bicara atau tulisan.
Kemaknaan
2.4 Kerangka
Proses Konseptual
komunikasi eksplisit
Perbendaharaan kata
dan dua arah.
Kecepatan
Kualitas proses komunikasi
seringkali ditentukan oleh Kejelasan dan
komunikasi nonverbal. keringkasan
Sirkumtansial
Skizofrenia Gambaran Komunikasi
Hebefrenik: Halusinasi Verbal
pendengaran 2.
Inkoheren

Gambar 2.4 Bagan Keranagka Konsep Penelitian Gambaran Komunikasi Verbal


Pada Klien Halusinasi Pendengaran : Skizofrenia Hebefrenik di Rumah Sakit Jiwa
Menur Surabaya. Sumber: Kerangka konsep teori komunikasi verbal (Surya, 2003
dalam Aeni, 2011); (Kurniawati, 2014); teori halusinasi pendengaran: (Darmawan
dan Rusdi, 2013); teori skizofrenia hebefrenik (Maramis dan Willy F., 2009).