Anda di halaman 1dari 17

HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KOGNITIF DENGAN

KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA DI


KELURAHAN MANDAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS
SUKOHARJO

NASKAH PUBLIKASI

Disusun Oleh :

MARLINA DWI ROSITA


J 210 080 012

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
2
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)
1
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KOGNITIF DENGAN


KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANSIA DI
KELURAHAN MANDAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS
SUKOHARJO
Marlina Dwi Rosita.*
Arif Widodo, A.Kep., M.Kes.**
Okti Sri Purwanti, S.Kep., Ns.***
Abstrak

Salah satu gangguan mental pada lansia adalah gangguan fungsi kognitif. Pada
lansia perlu dilakukan pengkajian fungsi kognitif untuk mengidentifikasi terjadinya penurunan
fungsi kognitif. Dampak dari menurunnya fungsi kognitif akan menyebabkan bergesernya
peran lansia dalam berinteraksi sosial, sehingga mengakibatkan lansia merasa terisolir dan
merasa tidak berguna. Lansia yang tinggal di Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas
Sukoharjo, ketika dilakukan pengkajian fungsi kognitif (MMSE), 4 dari 5 lansia termasuk
dalam kategori buruk dan interaksi sosial mereka juga berbeda-beda, ada yang senang
berbicara tetapi ada juga yang hanya diam saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia
di Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo. Jenis penelitian ini merupakan
penelitian kuantitatif yang menggunakan rancangan diskriptif korelatif dengan pendekatan
cross sectional. Sample penelitian ini berjumlah 80 responden dengan menggunakan teknik
simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah pengkajian fungsi kognitif
(MMSE) dan kuesioner kemampuan interaksi sosial. Teknik analisa data menggunakan uji
Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi kognitif sebagian besar lansia
mempunyai fungsi kognitif baik yaitu sejumlah 43 responden (53,8%), sedangkan
kemampuan interaksi sosial sebagian besar lansia mempunyai kemampuan interaksi sosial
2
baik yaitu sejumlah 47 responden (58,8%). Hasil uji Chi Square diperoleh X = 6,830 dan p =
0,009, maka H0 ditolak. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan
antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di Kelurahan Mandan
wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo.

Kata kunci : Fungsi Kognitif, Kemampuan Interaksi Sosial, Lansia.


2
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

THE CORRELATION BETWEEN COGNITIVE FUNCTION WITH


SOCIAL INTERACTION ABILITY OF THE ELDERLY IN THE
MANDAN VILLAGE PUBLIC HEALTH CENTER WORKING
AREA SUKOHARJO
Abstract

One of mental disorder in the elderly is cognitive dysfunction. Elderly need to be


done the assessment of cognitive function to identify the cognitive dysfunction. The impact of
the cognitive dysfunction in elderly will lead to the shifting role of social interactions in the
elderly, causing the elderly to feel isolated and feel useless. Elderly who live in the Mandan
Village Public Health Center working area Sukoharjo, when be done the assessment of
cognitive function (MMSE), four from five elderly included in the bad category and their social
interaction is also different, there are to talks but there are just too quiet. The purpose of this
research is to determine the correlation between cognitive function with social interaction
ability of the elderly in the Mandan Village Public Health Center working area Sukoharjo.
This type of research is a quantitative study using correlative descriptive design with a cross
sectional approach. Study sample consists of 80 respondents using simple random sampling
technique. The instrument used is the assessment of cognitive function (MMSE) and a
questionnaire of social interaction ability. Techniques of data analysis using Chi Square test.
The results showed most of the cognitive functions of elderly people have good cognitive
function, namely a number of 43 respondents (53.8%), whereas the ability of social
interaction most elderly have good social interaction ability, namely a number of 47
2
respondents (58.8%). Chi Square test results obtained X = 6.830 and p = 0.009, then H0 is
rejected. The conclusions of this research is there is a significant correlation between
cognitive function with social interaction ability of the elderly in the Mandan Village Public
Health Center working area Sukoharjo.

Keywords: Cognitive Function, Social Interaction Ability, Elderly.


3
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

PENDAHULUAN Salah satu gangguan


kesehatan yang dapat muncul pada
Di seluruh dunia saat ini jumlah lansia adalah gangguan mental.
lanjut usia diperkirakan lebih dari 629 Gangguan mental yang sering muncul
juta jiwa (satu dari 10 orang berusia pada masa ini adalah depresi dan
lebih dari 60 tahun) dan pada tahun gangguan fungsi kognitif. Sejumlah
2025 jumlah lanjut usia diperkirakan faktor resiko psikososial juga
akan mencapai 1,2 milyar. Secara mengakibatkan lansia pada gangguan
demografis, berdasarkan sensus fungsi kognitif. Faktor resiko tersebut
penduduk pada tahun 2000 jumlah adalah hilangnya peranan sosial,
penduduk berusia 60 tahun ke atas hilangnya ekonomi, kematian teman
sejumlah 17,8 juta jiwa (8%) dari atau sanak saudaranya, penurunan
jumlah penduduk, pada tahun 2005 kesehatan, peningkatan isolasi karena
meningkat menjadi 20 juta jiwa (8,5%) hilangnya interaksi sosial dan
dari jumlah penduduk dan pada tahun penurunan fungsi kognitif. Lansia yang
2010 meningkat menjadi 24 juta jiwa mengalami kesulitan dalam mengingat
(9,8%) dari jumlah penduduk. Jumlah atau kurangnya pengetahuan penting
penduduk pada tahun 2020 dilakukan pengkajian fungsi kognitif
diperkirakan meningkat menjadi 28,9 dengan tujuan dapat memberikan
juta jiwa (11,4%) dari jumlah informasi tentang fungsi kognitif lansia.
penduduk. Hal ini membuktikan bahwa Pengkajian fungsi kognitif pada lansia
jumlah lanjut usia terus mengalami berfungsi untuk membantu
peningkatan setiap tahunnya mengidentifikasi lansia yang berisiko
(Nugroho, 2008). mengalami penurunan fungsi kognitif
Peningkatan populasi lansia ini (Gallo, Reichel & Andersen, 2000).
dapat menyebabkan permasalahan. Dampak dari menurunnya
Permasalahan yang berkaitan dengan fungsi kognitif pada lansia akan
perkembangan kehidupan lansia salah menyebabkan bergesernya peran
satunya adalah proses menua, baik lansia dalam interaksi sosial di
secara fisik, mental maupun masyarakat maupun dalam keluarga.
psikososial. Semakin lanjut usia Hal ini didukung oleh sikap lansia yang
seseorang, maka kemampuan fisiknya cenderung egois dan enggan
akan semakin menurun, sehingga mendengarkan pendapat orang lain,
dapat mengakibatkan kemunduran sehingga mengakibatkan lansia
pada peran-peran sosialnya. Hal ini merasa terasing secara sosial yang
mengakibatkan pula timbulnya pada akhirnya merasa terisolir dan
gangguan dalam hal mencukupi merasa tidak berguna karena tidak ada
kebutuhan hidupnya, sehingga dapat penyaluran emosional melalui
meningkatkan ketergantungan yang bersosialisasi. Keadaan ini
memerlukan bantuan orang lain. menyebabkan interaksi sosial menurun
Mengantisipasi kondisi ini pengkajian baik secara kualitas maupun kuantitas,
masalah-masalah usia lanjut perlu karena peran lansia digantikan oleh
ditingkatkan, termasuk aspek generasi muda, dimana keadaan ini
keperawatannya agar dapat terjadi sepanjang hidup dan tidak
menyesuaikan dengan kebutuhan dapat dihindari (Stanley & Beare,
serta untuk menjamin tercapainya usia 2007).
lanjut yang bahagia, berdaya guna Berdasarkan studi pendahuluan
dalam kehidupan keluarga dan yang dilakukan oleh peneliti di
masyarakat di Indonesia (Tamher & posyandu wilayah kerja Puskesmas
Noorkasiani, 2009). Sukoharjo, jumlah lansia di Kecamatan
4
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

Sukoharjo sampai bulan Januari tahun fungsi kognitif dengan kemampuan


2012 mencapai 7.372 lansia. Di interaksi sosial pada lansia di
Kecamatan Sukoharjo terdiri dari 14 Kelurahan Mandan wilayah kerja
kelurahan antara lain Kelurahan Puskesmas Sukoharjo.
Sukoharjo, Kelurahan Gayam,
Kelurahan Bulakrejo, Kelurahan LANDASAN TEORI
Kriwen, Kelurahan Dukuh, Kelurahan
Bulakan, Kelurahan Sonorejo, Fungsi Kognitif
Kelurahan Kenep, Kelurahan Banmati,
Kelurahan Mandan, Kelurahan Menurut Suharnan (2005),
Begajah, Kelurahan Joho, Kelurahan psikologi kognitif mempelajari tentang
Jetis dan Kelurahan Combongan. Dari proses-proses mental/aktifitas pikiran
beberapa kelurahan tersebut jumlah manusia yang menekankan pada
lansia di Kelurahan Mandan mencapai peran-peran persepsi, pengetahuan,
395 lansia. Di Kelurahan Mandan ingatan dan proses-proses berpikir
terdapat 5 posyandu lansia antara lain bagi perilaku manusia. Hal ini meliputi :
posyandu lansia Suko Lestari I terdiri bagaimana seseorang memperoleh
dari 85 lansia, posyandu lansia Suko informasi, bagaimana informasi itu
Lestari II terdiri dari 55 lansia, kemudian direpresentasikan dan
posyandu lansia Suko Maju terdiri dari ditransformasikan sebagai
90 lansia, posyandu lansia Ngudi pengetahuan, bagaimana
Waras terdiri dari 43 lansia dan pengetahuan itu disimpan di dalam
posyandu Budi Sehat terdiri dari 122 ingatan kemudian dimunculkan
lansia. kembali, bagaimana pengetahuan itu
Berdasarkan hasil wawancara digunakan seseorang untuk
peneliti dengan 5 lansia di posyandu mengarahkan sikap-sikap dan
menunjukkan bahwa berdasarkan perilaku-perilakunya.
pengkajian fungsi kognitif dengan Menurut Desmita (2010),
menggunakan MMSE, fungsi kognitif 4 perkembangan kognitif pada lansia
dari 5 lansia dalam kategori buruk pada umumnya proses kognitif,
dengan skor kurang dari 21. memori dan inteligensi mengalami
Sedangkan berdasarkan hasil penurunan bersamaan dengan terus
pengamatan peneliti di posyandu bertambahnya usia. Perkembangan
menunjukkan bahwa di posyandu kognitif pada lansia meliputi 3
terdapat berbagai tingkah laku lansia perkembangan yaitu :
yang berbeda-beda. Hal ini dapat 1. Perkembangan pemikiran
dilihat dengan adanya lansia yang postformal (kemampuan kognitif
senang berbicara dan bersendau mengalami kemerosotan seiring
gurau dengan temannya tetapi ada dengan pertambahan usia).
juga lansia yang memilih untuk diam 2. Perkembangan memori (berbagai
dan langsung pulang. Perilaku menarik kesulitan kognitif misalnya
diri ini dapat menyebabkan halusinasi mengalami kemunduran dalam
karena terjadi persepsi dalam kondisi perkembangan kemampuan mental,
sadar tanpa adanya rangsang nyata termasuk kehilangan memori,
terhadap indera yang dapat disorientasi dan kebingungan).
mempengaruhi kehidupannya bahkan 3. Perkembangan intelegensi (dalam
jika berkelanjutan akan menyebabkan proses penuaan terjadi kemunduran
resiko bunuh diri. dalam intelegensi umum).
Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui hubungan antara
5
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

Instrumen pengkajian fungsi kalimat dan memerintah


kognitif (Gallo, Reichel & Andersen, (membaca, menulis dan meniru
2000) terdiri dari : gambar), skor maksimal 9.
1. Pemeriksaan Status Mental Mini Berdasarkan ada tidaknya
Foldstein (MMSE) gangguan fungsi kognitif dapat
Mini Mental Stase Examination dibagi menjadi :
(MMSE) terdiri dari dua bagian yaitu a. Nilai 22 = tidak mengalami
bagian pertama hanya gangguan fungsi kognitif/baik.
membutuhkan respon-respon verbal b. Nilai 21 = mengalami
saja dan hanya mengkaji orientasi, gangguan fungsi kognitif/buruk.
ingatan serta perhatian. Bagian 2. Pengujian Status Mental Portebel
kedua adalah memeriksa Singkat (SPMSQ)
kemampuan untuk menuliskan Short Portable Mental Status
suatu kalimat, menamai objek, Questionaire (SPMSQ) merupakan
mengikuti perintah verbal dan salah satu pengujian sederhana
tertulis, serta menyalin suatu desain yang telah dipergunakan secara
poligon yang kompleks. Skor 1 luas untuk mengkaji status mental.
untuk jawaban yang benar dan skor Pengujian ini terdiri dari 10
0 untuk jawaban yang salah. Nilai pertanyaan yang berkenaan dengan
maksimum untuk pemeriksaan orientasi, riwayat pribadi, ingatan
MMSE adalah 30. jangka pendek, ingatan jangka
Menurut Foldstein dalam buku panjang dan perhitungan.
Mubarak, dkk (2006), MMSE terdiri
dari : Kemampuan Interaksi Sosial
a. Orientasi, meliputi pertanyaan
tentang orientasi waktu dan Menurut Walgito (2003),
orientasi tempat, skor maksimal interaksi sosial adalah hubungan
10. antara individu satu dengan individu
b. Registrasi, meliputi pertanyaan yang lain, individu yang satu dapat
tentang mengatakan 3 benda mempengaruhi individu yang lain atau
yang kita sebutkan, 1 detik untuk sebaliknya, jadi terdapat adanya
masing-masing benda kemudian hubungan yang saling timbal balik.
meminta untuk mengulang, skor Menurut Soekanto (2005),
maksimal 3. syarat-syarat terjadinya interaksi sosial
c. Perhatian dan Kalkulasi, meliputi harus memenuhi 2 syarat yaitu :
pertanyaan tentang hitungan 1. Adanya kontak sosial.
(menghitung mundur dari 100 Kontak sosial dapat berlangsung
dengan selisih 7, berhenti dalam 3 bentuk antara lain : antara
setelah 5 jawaban), skor orang perorangan, antara orang
maksimal 5. Apabila tidak perorangan dengan suatu kelompok
mampu menghitung, mintakan manusia atau sebaliknya dan antara
untuk mengeja suatu kata yang suatu kelompok manusia dengan
terdiri dari 5 huruf dari belakang. kelompok manusia lainnya.
d. Mengingat, meliputi pertanyaan 2. Adanya komunikasi.
tentang daya ingat, menyebutkan Seseorang memberikan tafsiran
3 benda yang disebutkan pada pada perilaku orang lain (yang
poin registrasi, skor maksimal 3. berwujud pembicaraan, gerak-gerak
e. Bahasa, meliputi pertanyaan badaniah atau sikap), perasaan-
tentang menyebutkan 2 benda perasaan apa yang ingin
yang kita tunjuk, mengulang disampaikan oleh orang tersebut,
6
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

kemudian orang yang bersangkutan tujuan yang lebih luas daripada


memberikan reaksi terhadap tujuan penyesuaian.
perasaan yang ingin disampaikan Menurut Santoso (2010), tahap-
oleh orang lain tersebut. tahap interaksi sosial antara lain :
Menurut Ahmadi (2007), faktor- 1. Tahap pertama (ada
faktor yang mendasari berlangsungnya kontak/hubungan baik langsung
interaksi sosial antara lain : maupun tidak langsung).
1. Faktor imitasi (contoh-mencontoh 2. Tahap kedua (ada bahan dan waktu
yang dilakukan individu dari individu untuk berinteraksi sosial).
lain dalam kehidupan). 3. Tahap ketiga (timbul problema pada
2. Faktor sugesti (seseorang yang bahan-bahan interaksi sosial bagi
memberikan pandangan atau sikap individu-individu yang ada).
dari dari dirinya, lalu diterima oleh 4. Tahap keempat (timbul ketegangan
orang lain). masing-masing individu dituntut
3. Faktor identifikasi (dorongan untuk mencari penyelesaian terhadap
menjadi identik/sama dengan orang problem yang ada).
lain, baik secara lahiriah maupun 5. Tahap kelima (ada integrasi yaitu
secara batiniah). perasaan tentram dan perasaan
4. Faktor simpati (perasaan tertariknya siap untuk menjalin proses interaksi
orang yang satu terhadap orang sosial berikutnya).
yang lain).
Menurut Santoso (2010), Hipotesis
bentuk-bentuk interaksi sosial terdiri
dari 4 macam yaitu : H0 : Tidak ada hubungan antara
1. Kerjasama (cooperation) fungsi kognitif dengan
Kerjasama adalah usaha yang kemampuan interaksi sosial
dikoordinasikan yang ditujukan pada lansia di Kelurahan
kepada tujuan yang dapat Mandan wilayah kerja
dipisahkan. Puskesmas Sukoharjo.
2. Persaingan (competition) H1 : Ada hubungan antara fungsi
Persaingan adalah bentuk interaksi kognitif dengan kemampuan
sosial dimana seseorang mencapai interaksi sosial pada lansia di
tujuan, sehingga individu lain akan Kelurahan Mandan wilayah kerja
dipengaruhi untuk mencapai tujuan Puskesmas Sukoharjo.
mereka.
3. Pertentangan (conflic) METODE PENELITIAN
Konflik adalah proses yang
berselang seling dan terus menerus Pendekatan Penelitian
serta mungkin timbul pada
beberapa waktu dari sama sekali, Jenis penelitian ini merupakan
lebih stabil berlangsung dalam penelitian kuantitatif yaitu data
proses interaksi sosial. penelitian berupa angka-angka dan
4. Persesuaian (accomodation) analisis menggunakan statistik
Persesuaian adalah suatu proses (Sugiyono, 2010), yang menggunakan
peningkatan saling adaptasi atau rancangan diskriptif korelatif yaitu
penyesuaian. Persesuaian mengacu pada kecenderungan bahwa
mempunyai tingkatan yang lebih variasi suatu variabel diikuti oleh
tinggi daripada penyesuaian, variasi variabel yang lain, dengan
karena persesuaian mempunyai pendekatan cross sectional yaitu
menekankan waktu
7
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

pengukuran/observasi data variabel Kemampuan Interaksi Sosial


independent dan dependent hanya
satu kali pada satu saat (Nursalam, Kemampuan Interaksi Sosial
2008). diukur dengan menggunakan
kuesioner yang dimodifikasi oleh
Tempat dan Informan Penelitian peneliti dari penelitian yang telah
dilakukan oleh Susanto (2009) dengan
Penelitian ini dilaksanakan di bentuk skala likert dengan parameter
Kelurahan Mandan wilayah kerja bentuk-bentuk interaksi sosial,
Puskesmas Sukoharjo, pada bulan meliputi: kerjasama, persaingan,
April 2012, yaitu minggu pertama pertentangan dan persesuaian.
sampai minggu keempat. Instrumen ini terdiri dari 20
Populasi dalam penelitian ini pernyataan, yaitu masing-masing
adalah lansia yang mengikuti kegiatan indikator terdiri dari 5 pernyataan.
posyandu lansia di Kelurahan Mandan Data diolah dengan ketentuan:
wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo a. Bila pernyataan positif (favourable)
berjumlah 395 lansia. alternatif jawaban yang diberikan :
Teknik sampling yang Sangat Setuju (SS) skor 4
digunakan dalam penelitian ini adalah Setuju (S) skor 3
simple random sampling (acak Tidak Setuju (TS) skor 2
sederhana) yaitu setiap anggota dari Sangat Tidak Setuju(STS)skor 1
populasi mempunyai kesempatan yang b. Bila pernyataan negatif
sama untuk diseleksi sebagai sampel (unfavourable) alternatif jawaban
(Notoatmodjo, 2010). Sampel dalam yang diberikan :
penelitian ini adalah 80 lansia. Sangat Setuju (SS) skor 1
Setuju (S) skor 2
Teknik Pengumpulan Data Tidak Setuju (TS) skor 3
Sangat Tidak Setuju(STS)skor 4
Fungsi Kognitif Interpretasi kriteria adalah
sebagai berikut:
Fungsi Kognitif diukur dengan 1. Interaksi sosial baik jika (x) >
menggunakan MMSE (Mini Mental (mean) 55,975.
Stase Examination) menurut Foldstein 2. Interaksi sosial kurang jika (x) <
dalam buku Mubarak, dkk (2006) yang (mean) 55,975.
terdiri dari 30 pertanyaan meliputi :
orientasi, registrasi, perhatian & Teknik Analisa Data
kalkulasi, mengingat dan bahasa.
Kriteria skor adalah sebagai Teknik statistik yang digunakan
berikut : adalah statistik nonparametris karena
1. Skor 1 untuk jawaban yang benar. untuk menganalisis data yang
2. Skor 0 untuk jawaban yang salah. berbentuk nominal dan persyaratan
Interpretasi kriteria adalah data tidak harus berdistribusi normal.
sebagai berikut (Mubarak, dkk, 2006) : Teknik analisa data yang digunakan
1. Tidak mengalami gangguan fungsi dalam penelitian ini menggunakan
kognitif/baik jika skor 22. rumus korelasi Chi Square yang lebih
2. Mengalami gangguan fungsi mudah dalam mengerjakan hubungan
kognitif/buruk jika skor 21. antara dua variabel dengan skala data
nominal (Sugiyono, 2009).
Syarat uji Chi Square adalah
apabila skala data yang digunakan
8
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

salah satunya berbentuk nominal dan Fungsi Kognitif


sampelnya besar (>40), sampel dipilih
secara acak, semua pengamatan Tabel 2. Distribusi Fungsi Kognitif
dilakukan secara independen, setiap Responden
sel paling sedikit berisi frekuensi Fungsi Prosentase
No Jumlah
harapan sebesar 1, sel-sel dengan Kognitif (%)
frekuensi harapan < 5 tidak melebihi 1. Fungsi
20% dari total sel, untuk tabel 2x2 tidak Kognitif Baik 43 53,8
boleh ada frekuensi harapan < 5 2. Fungsi
(Sugiyono, 2009). Kognitif Buruk 37 46,2
Apabila X2 hitung < X2 tabel, maka Total 80 100
H0 diterima, artinya tidak ada
hubungan antara variabel bebas dan Kemampuan Interaksi Sosial
variabel terikat. Sedangkan apabila
X2hitung > X2 tabel, maka H0 ditolak, Tabel 3. Distribusi Kemampuan
artinya ada hubungan antara variabel Interaksi Sosial Responden
bebas dan variabel terikat (Sugiyono, Kemampuan Prosentase
2009). No Jumlah
Interaksi Sosial (%)
Sedangkan untuk mengetahui 1. Kemampuan Interaksi
kekuatan hubungan baris dengan Sosial Baik 47 58,8
kolom dapat diukur menggunakan r 2. Kemampuan Interaksi
hitung/Value Contingency Coefficient. Sosial Kurang 33 41,2
Hubungan baris dengan kolom Total 80 100
dikatakan kuat apabila r hitung > 0,5,
sedangkan hubungan baris dengan Hubungan Antara Fungsi Kognitif
kolom dikatakan lemah apabila r hitung < Dengan Kemampuan Interaksi
0,5 (Santosa, 2000). Sosial

HASIL PENELITIAN Tabel 4. Tabel Silang Antara Fungsi


Kognitif Dengan Kemampuan
Karakteristik Responden Interaksi Sosial Responden
Kemampuan Interaksi
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Sosial 2
Responden Baik Kurang Total X p
Prosentase n % n % n %
No Karakteristik Uraian Jumlah
(%) Fungsi Baik 31 38,8 12 15,0 43 53,8 6,830 0,009
1. Jenis Laki-laki 25 31,2 Kognitif Buruk 16 20,0 21 26,2 37 46,2
Kelamin Perempuan 55 68,8 Total 47 58,8 33 41,2 80 100
2. Umur 60 - 69 43 53,8
(tahun) 70 - 79 28 35,0 Tabel 4. menunjukkan bahwa
80 - 89 9 11,2 responden yang mempunyai fungsi
> 90 0 0 kognitif baik dengan kemampuan
3. Status Kawin 54 67,5 interaksi sosial baik lebih banyak
Perkawinan Tidak Kawin 0 0
Janda/Duda 26 32,5
dibandingkan dengan yang lainnya
4. Pendidikan Tidak
yaitu sejumlah 31 responden (38,8%),
Sekolah 58 72,5 responden yang mempunyai fungsi
Sekolah 22 27,5 kognitif buruk dengan kemampuan
interaksi sosial baik sejumlah 16
responden (20,0%), responden yang
mempunyai fungsi kognitif baik dengan
9
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

kemampuan interaksi sosial kurang meningkatkan resiko penyakit neuro


sejumlah 12 responden (15,0%), degeneratif, karena hormon ini
sedangkan responden yang diketahui memegang peranan penting
mempunyai fungsi kognitif buruk dalam memelihara fungsi otak. Selain
dengan kemampuan interaksi sosial itu, usia harapan hidup perempuan
kurang sejumlah 21 responden juga lebih tinggi dibandingkan dengan
(26,2%). usia harapan hidup laki-laki, sehingga
Hasil analisa data dengan uji populasi lansia perempuan lebih
Chi Square di peroleh hasil X2 = 6,830 banyak daripada lansia laki-laki (Hesti,
dimana X2 hitung > X2 tabel , (df:1, X2 tabel dkk, 2008).
dengan tingkat signifikasi 5% = 3,481) Distribusi responden
dan p = 0,009 dimana p < 0,05, maka berdasarkan umur menunjukkan
H0 ditolak sehingga terdapat bahwa responden umur diantara 60-69
hubungan yang signifikan antara cenderung lebih banyak dibandingkan
fungsi kognitif dengan kemampuan dengan responden umur 70 tahun ke
interaksi sosial pada lansia di atas yaitu sejumlah 43 responden
Kelurahan Mandan wilayah kerja (53,8%). Berbagai penelitian
Puskesmas Sukoharjo. Sedangkan menunjukkan bahwa faktor umur
untuk pengukuran kekuatan hubungan sangat berpengaruh terhadap fungsi
antara fungsi kognitif dengan kognitif pada lansia. Pada umumnya
kemampuan interaksi sosial diperoleh lansia cenderung sulit untuk mengingat
hasil Value Contingency Coefficient hal-hal yang baru atau hal-hal yang
sebesar 0,28 dengan tingkat lama karena lansia tidak termotivasi
signifikansi sebesar 0,009. Hal ini untuk mengingat sesuatu.
menunjukkan bahwa kekuatan Ketidakmampuan dalam mengingat ini
hubungan antara fungsi kognitif salah satunya dipengaruhi oleh faktor
dengan kemampuan interaksi sosial usia. Bertambahnya umur merupakan
cukup lemah karena Value faktor resiko mayor terjadinya
Contingency Coefficient < 0,5. penurunan fungsi kognitif karena otak
mengalami beberapa perubahan.
PEMBAHASAN Terbentuknya flaq disekitar area otak
menyebabkan sel mitikondria otak
Karakteristik Responden lebih mudah rusak dan berpengaruh
juga terhadap terjadinya peningkatan
Distribusi responden inflamasi (Yuniati & Riza, 2004).
berdasarkan jenis kelamin Distribusi responden
menunjukkan bahwa responden berdasarkan status perkawinan
perempuan cenderung lebih banyak menunjukkan bahwa sebagian besar
dibandingkan dengan responden laki- responden berstatus kawin yaitu
laki yaitu sejumlah 55 responden sejumlah 54 responden (67,5%).
(68,8%). Berbagai penelitian Berbagai penelitian menunjukkan
menunjukkan bahwa faktor jenis bahwa faktor status perkawinan sangat
kelamin sangat berpengaruh terhadap berpengaruh terhadap fungsi kognitif
fungsi kognitif pada lansia. Perempuan pada lansia. Pada tahap
cenderung mempunyai resiko lebih perkembangan masa usia lanjut, lansia
besar terjadinya gangguan fungsi mengharapkan adanya seseorang
kognitif dibandingkan dengan laki-laki, yang berarti bagi dirinya untuk
hal ini disebabkan karena adanya menemani hingga akhir hayat.
penurunan hormon estrogen pada Seseorang yang belum menikah atau
perempuan menopouse, sehingga tidak memiliki pasangan cenderung
10
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

merasa kesepian dihari tuanya Fungsi Kognitif


dibandingkan dengan seseorang yang
mempunyai pasangan. Faktor ini Distribusi fungsi kognitif
sangat berpengaruh karena dengan responden menunjukkan bahwa
memiliki pasangan seseorang akan sebagian besar responden mempunyai
mendapatkan dukungan dari pasangan fungsi kognitif baik yaitu sejumlah 43
terutama saat mengalami tekanan responden (53,8%). Kemampuan
emosi baik stres maupun gejala kognitif terus berkembang selama
depresi yang muncul karena masa dewasa, tetapi tidak semua
perubahan pola hidup dan konflik yang perubahan kognitif pada masa dewasa
muncul (Rahmawati & Puspitawati, mengarah pada peningkatan potensi.
2010). Bahkan kadang-kadang beberapa
Distribusi responden kemampuan kognitif mengalami
berdasarkan pendidikan menunjukkan kemerosotan seiring dengan
bahwa responden yang tidak sekolah pertambahan usia. Meskipun demikian,
cenderung lebih banyak dibandingkan sejumlah ahli berpendapat bahwa
dengan responden yang tamatan SD kemunduran keterampilan kognitif
yaitu sejumlah 58 responden (72,5%). yang terjadi terutama pada masa
Berbagai penelitian menunjukkan dewasa akhir, dapat ditingkatkan
bahwa faktor pendidikan sangat kembali melalui serangkaian pelatihan
berpengaruh terhadap fungsi kognitif (Desmita, 2010).
pada lansia. Hal ini disebabkan karena Selain itu tinggi rendahnya nilai
pada jaman dahulu pendidikan masih fungsi kognitif dipengaruhi oleh faktor-
rendah. Hanya orang-orang tertentu faktor yang mempengaruhi fungsi
saja yang bisa sekolah sampai kognitif, antara lain jenis kelamin,
melanjutkan pendidikan yang lebih umur, status perkawinan dan
tinggi. Begitu juga lansia laki-laki pendidikan. Hal ini sesuai dengan
cenderung lebih banyak melanjutkan penelitian yang dilakukan oleh Yuniati
pendidikan yang lebih tinggi & Riza (2004), bahwa faktor-faktor
dibandingkan dengan lansia yang berhubungan dengan keluhan
perempuan. Tingkat pendidikan yang subyektif gangguan kognitif pada
tinggi mempunyai resiko lebih rendah lansia antara lain adalah faktor umur,
terjadinya penurunan fungsi kognitif faktor kesulitan merawat diri, faktor
karena dengan proses pendidikan perasaan sedih, rendah diri dan
yang berjalan terus menerus tertekan, faktor kesulitan
seseorang akan cenderung melaksanakan fungsi sosial, faktor
mempunyai kemampuan dalam uji pendidikan, faktor status perkawinan
fungsi kognitif. Tingkat pendidikan juga dan faktor konsumsi buah dan sayur.
merupakan hal terpenting dalam Responden yang mempunyai
menghadapi masalah. Semakin tinggi fungsi kognitif buruk salah satunya
pendidikan seseorang, semakin dipengaruhi karena adanya perubahan
banyak pengalaman hidup yang fungsi kognitif. Konsep bahwa
dilaluinya, sehingga akan lebih siap gangguan kognitif sering terjadi pada
dalam menghadapi masalah yang lansia merupakan konsep yang salah,
akan terjadi (Tamher & Noorkasiani, karena dengan konsep itu
2009). mengakibatkan lansia khawatir kalau
fungsi kognitifnya akan terganggu.
Beberapa perubahan struktur dan
fisiologis otak yang dihubungkan
dengan gangguan kognitif bisa terjadi
11
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

pada lansia yang mengalami pendapat Soekanto (2005), yang


gangguan fungsi kognitif atau tidak, menyatakan bahwa syarat-syarat
karena gejala gangguan kognitif adanya interaksi sosial antara lain
seperti disorientasi, kehilangan adalah adanya kontak sosial dan
keterampilan, berbahasa dan adanya komunikasi. Tanpa kedua
berhitung, serta penilaian yang buruk syarat tersebut maka seseorang tidak
bukan merupakan proses penuaan bisa dikatakan berinteraksi sosial
yang normal. Keadaan yang karena yang dimaksud dengan
mempengaruhi fungsi kognitif lansia interaksi adalah apabila ada dua orang
antara lain adalah delirium, demensia atau lebih.
dan depresi (Potter & Perry, 2009) Pada lansia yang mengalami
interaksi sosial kurang disebabkan
Kemampuan Interaksi Sosial karena adanya beberapa faktor yang
mengganggu mereka, seperti
Distribusi kemampuan interaksi jarangnya berkomunikasi, sedikit
sosial responden menunjukkan bahwa berbaur dengan yang lain dan suka
sebagian besar responden mempunyai menarik diri. Hal ini sesuai dengan
kemampuan interaksi sosial baik yaitu teori psikososial menurut Tamher &
sejumlah 47 responden (58,8%). Noorkasiani (2009), yang menyatakan
Interaksi sosial yang baik tersebut bahwa individu atau masyarakat
didukung oleh sikap lansia yang mengalami keadaan menarik diri.
tinggal di Kelurahan Mandan wilayah Memasuki usia tua, individu mulai
kerja Puskesmas Sukoharjo yang rata- menarik diri dari masyarakat, sehingga
rata mempunyai sikap terbuka dan memungkinkan individu untuk
tidak mengucilkan dirinya terhadap menyimpan lebih banyak aktivitas-
kegiatan-kegiatan atau hubungan aktivitas yang berfokus pada dirinya
berinteraksi dengan orang lain yang dalam memenuhi kestabilan pada
menyebabkan lansia mudah bergaul stadium ini. Perubahan psikis lansia
dengan teman-teman atau tetangga. yang dapat menyebabkan kemunduran
Hal ini sesuai dengan pendapat dalam berinteraksi sosial adalah lansia
Santosa (2010), yang menyatakan yang mengalami perasaan rendah diri,
bahwa kemampuan interaksi sosial bersalah atau merasa tidak berguna
dipengaruhi oleh bentuk-bentuk lagi, apalagi apabila lansia sudah
interaksi sosial yang terdiri dari ditinggal pasangan hidupnya. Kondisi
kerjasama, persaingan, pertentangan kondisi seperti ini membuat lansia
dan persesuaian mengingat responden menutup diri dengan orang muda atau
tinggal dalam lingkup bermasyarakat. sebayanya, sehingga sudah tidak
Selain itu lansia yang tinggal di berminat untuk kontak sosial dan
Kelurahan Mandan wilayah kerja menghabiskan waktu untuk tidur
Puskesmas Sukoharjo ini tetap (Pieter & Lubis, 2010)
melakukan sosialisasi atau interaksi
satu sama lain dan didukung dengan
adanya posyandu-posyandu lansia di Hubungan Antara Fungsi Kognitif
Kelurahan Mandan. Dengan Kemampuan Interaksi
Hasil penelitian menunjukkan Sosial
lansia yang mempunyai kemampuan
interaksi sosial adalah lansia yang Hubungan antara fungsi kognitif
masih mampu melakukan interaksi dengan kemampuan interaksi sosial
sosial yang masih sehat fisik maupun menunjukkan bahwa responden yang
psikisnya. Hal ini sesuai dengan mempunyai fungsi kognitif baik dengan
12
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

kemampuan interaksi sosial baik berpengaruh secara langsung


cenderung lebih banyak dibandingkan terhadap kemampuan interaksi sosial
dengan yang lainnya yaitu sejumlah 31 pada lansia yang tinggal di Kelurahan
responden (38,8%). Seseorang yang Mandan wilayah kerja Puskesmas
berpartisipasi secara aktif dalam Sukoharjo. Hal ini dapat diketahui
berinteraksi sosial dengan baik seperti bahwa semakin tinggi nilai fungsi
kontak mata dan mempunyai kognitif pada lansia menjadi acuan
keterikatan emosional dengan teman dalam meningkatnya kemampuan
dekat atau ikut serta dalam interaksi sosial pada lansia atau
memberikan respon terhadap suatu sebaliknya. Hal ini dibuktikan dengan
situasi yang santai akan mempunyai hasil uji hipotesis penelitian yang
fungsi kognitif yang baik. Sedangkan menyatakan bahwa H0 diterima,
seseorang yang tidak mau berinteraksi sehingga interpretasinya adalah ada
sosial dengan baik dan tidak mampu hubungan antara fungsi kognitif
beradaptasi dengan perubahan sosial dengan kemampuan interaksi sosial
akan menimbulkan reaksi stres dimulai pada lansia di Kelurahan Mandan
dengan meningkatnya produksi wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo.
glukocorticoid dan ini berpengaruh Sedangkan berdasarkan pengukuran
terhadap hipotalamus dan secara kekuatan hubungan membuktikan
perlahan akan mempengaruhi fungsi bahwa hubungan antara fungsi kognitif
kognitifnya (Hesti, dkk, 2008). dengan kemampuan interaksi sosial
Responden yang mempunyai cukup lemah.
fungsi kognitif baik tetapi mempunyai Hasil penelitian ini searah
kemampuan interaksi sosial yang dengan penelitian yang dilakukan oleh
kurang disebabkan responden Susanto (2009), dengan hasil
mempunyai pendidikan yang tinggi penelitian ada hubungan antara status
tetapi tidak mau berinteraksi dengan mental dengan kemampuan interaksi
orang lain. Hal ini terjadi karena faktor sosial pada lansia. Hasil uji spearman
kesehatan yang membuat mereka rho didapatkan p = 0,002 dan r =
terpaksa untuk mengundurkan diri dari 0,425. Hasil penelitian menunjukkan
kegiatan sosial yang dianggap sudah bahwa status mental sangat
tidak cocok dengan kebutuhan berpengaruh terhadaap kemampuan
mereka. Sedangkan responden yang interaksi sosial lansia. Hal ini dapat
mempunyai fungsi kognitif buruk tetapi diketahui bahwa tingginya nilai pada
mempunyai kemampuan interaksi pengkajian status mental lansia dapat
sosial yang baik disebabkan menjadi acuan meningkatnya
responden merasa dirinya masih kemampuan interaksi sosial lansia
kurang pengetahuan sehingga mereka atau sebaliknya.
berusaha untuk mencari tambahan Sedangkan penelitian ini tidak
pengetahuan dengan cara berinteraksi sebanding dengan penelitian yang
sosial, baik yang dengan orang yang dilakukan oleh Asminatalia (2008),
sudah dikenal atau belum dikenal dengan hasil penelitian tidak ada
sebelumnya. Semakin tinggi hubungan status interaksi sosial
pendidikan seseorang, semakin dengan derajat depresi pada lanjut
banyak pengalaman hidup yang usia. Hasil penelitian menunjukkan
dilaluinya, sehingga akan lebih siap bahwa faktor status interaksi sosial
dalam menghadapi masalah yang tidak berpengaruh secara langsung
terjadi (Tamher & Noorkasiani, 2009). terhadap derajat depresi lansia. Hal ini
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa tingginya nilai
menunjukkan bahwa fungsi kognitif pada interaksi sosial tidak dapat
13
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

menjadi acuan dalam meningkatnya kognitif pada lansia yang berusia


derajat depresi lansia atau sebaliknya. 60 tahun atau lebih.
b. Pada instrumen fungsi kognitif
KESIMPULAN DAN SARAN lebih baik dilakukan pada
responden yang minimal
Kesimpulan pendidikan adalah SD.
c. Perlu dilakukan penelitian yang
1. Fungsi kognitif pada lansia di bersifat bukan di dalam
Kelurahan Mandan wilayah kerja masyarakat seperti di lingkungan
Puskesmas Sukoharjo sebagian panti pada kemampuan interaksi
besar mempunyai fungsi kognitif sosial sehingga dapat dijadikan
dalam kategori baik. sebagai bahan pembanding
2. Kemampuan interaksi sosial pada dengan kemampuan interaksi
lansia di Kelurahan Mandan wilayah sosial pada lansia di masyarakat.
kerja Puskesmas Sukoharjo d. Perlu dilakukan penelitian
sebagian besar mempunyai tentang faktor-faktor yang
kemampuan interaksi sosial dalam mempengaruhi kemampuan
kategori baik. interaksi sosial pada lansia
3. Terdapat hubungan yang signifikan selain tentang kerjasama,
antara fungsi kognitif dengan persaingan, pertentangan dan
kemampuan interaksi sosial pada persesuaian.
lansia di Kelurahan Mandan wilayah e. Pada instrumen kemampuan
kerja Puskesmas Sukoharjo. interaksi sosial lebih baik diukur
Semakin tinggi fungsi kognitif pada dengan observasi karena
lansia maka semakin tinggi kemampuan interaksi sosial lebih
kemampuan interaksi sosial pada cenderung masuk ke dalam
lansia di Kelurahan Mandan wilayah perilaku sehari-hari serta untuk
kerja Puskesmas Sukoharjo. lebih mengerti keadaan setiap
lansia dalam berinteraksi sosial
Saran dengan yang lainnya.

1. Bagi kader posyandu DAFTAR PUSTAKA


Hasil penelitian menunjukkan
hampir setengah persen lansia Ahmadi, Abu. 2007. Psikologi Sosial.
mempunyai kemampuan interaksi Jakarta: Rineka Cipta.
sosial kurang, sehingga perlu
dilakukan pendekatan-pendekatan Asminatalia, D. 2008. Hubungan Status
untuk meningkatkan kemampuan Interaksi Sosial Dengan Derajat
Depresi Pada Lanjut Usia di Panti
interaksi sosial seperti
Sosial Tresna Werdha Abiyoso
meningkatkan komunikasi dengan Pakem Yogyakarta. Skripsi.
lansia dan mengadakan kegiatan Program Studi Ilmu Keperawatan
berkumpul bersama seperti Fakultas Kedokteran Universitas
kegiatan senam lansia. Gajah Mada Yogyakarta.
2. Bagi peneliti selanjutnya
a. Perlu dilakukan penelitian yang Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan.
berusia kurang dari 60 tahun Bandung: Remaja Rosdakarya.
pada fungsi kognitif sehingga
dapat dijadikan sebagai bahan Gallo, J.J., Reichel, W. & Andersen, L.M.
2000. Buku Saku Gerontologi
pembanding dengan fungsi
14
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

(edisi 2). Jakarta: Penerbit Buku Santoso, Slamet. 2010. Teori-Teori


Kedokteran EGC. Psikologi Sosial. Bandung: Refika
Aditama.
Hesti., Harris, S., Mayza, A. & Prihartono,
J. 2008. Pengaruh Gangguan Soekanto, Soerjono. 2005. Sosiologi Suatu
Kognitif Terhadap Gangguan Pengantar. Jakarta: RajaGrafindo
Keseimbangan Pada Lanjut Usia. Persada.
Artikel Penelitian, Neurona, vol 25,
no 3, April 2008, 26-31. Stanley, M. & Beare, P.G. 2007. Buku Ajar
Keperawatan Gerontik (edisi 2).
Mubarak, W.I., Santoso, B.A., Rozikin, K. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
& Patonah, S. 2006. Ilmu EGC.
Keperawatan Komunitas 2 (Teori &
Aplikasi Dalam Praktik Dengan Sugiyono. 2009. Statistik Nonparametris
Pendekatan Asuhan Keperawatan Untuk Penelitian. Bandung:
Komunitas, Gerontik dan Alfabeta.
Keluarga). Jakarta: Sagung Seto.
. 2010. Metode Penelitian
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Bandung: Alfabeta.
Rineka Cipta.
Suharnan. 2005. Psikologi Kognitif.
Nugroho, Wahjudi. 2008. Keperawatan Surabaya: Srikandi.
Gerontik dan Geriatrik (edisi 3).
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran Susanto, Joko. 2009. Hubungan Antara
EGC. Status Mental Dengan
Kemampuan Interaksi Sosial Pada
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Lansia di Unit Pelaksana Teknis
Metodologi Penelitian Ilmu Pelayanan Sosial Lanjut Usia
Keperawatan Pedoman Skripsi, Pasuruan di Lamongan. Skripsi.
Tesis dan Instrumen Penelitian Program Studi Ilmu Keperawatan
Keperawatan (edisi 2). Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Salemba Medika. Gajah Mada Yogyakarta.

Pieter, H.Z. & Lubis, N.L. 2010. Pengantar Tamher, S. & Noorkasiani. 2009.
Psikologi Dalam Keperawatan. Kesehatan Usia Lanjut Dengan
Jakarta: Kencana. Pendekatan Asuhan Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Potter, P.A. & Perry, A.G. 2009.
Fundamental Keperawatan (buku Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial
1 edisi 7). Jakarta: Salemba (suatu pengantar). Yogyakarta:
Medika. Penerbit ANDI.

Rahmawati, R. & Puspitawati, I. 2010. Yuniati, F. & Riza, M. 2004. Faktor-faktor


Pengatasan Kesepian Pada yang Berhubungan Dengan
Warakawuri di Usia Lanjut. Jurnal Kesulitan Mengingat dan
Psikologi volume 3, no 2, Juni Konsentrasi Pada Usia Lanjut di
2010, 160-171. Indonesia Tahun 2004. Jurnal
Pembangunan Manusia, 9-25.
Santosa, Singgih. 2000. Buku Latihan
SPSS Statistik Parametrik.
Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.
15
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di
Kelurahan Mandan wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo (Marlina Dwi Rosita)

*Marlina Dwi Rosita : Mahasiswa S1


Keperawatan FIK UMS. Jln. A. Yani
trompol Pos 1 Kartasura
**Arif Widodo, A.Kep., M.Kes : Dosen
Keperawatan FIK UMS Jln. A. Yani
trompol Pos 1 Kartasura
***Okti Sri Purwanti, S.Kep., Ns : Dosen
Keperawatan FIK UMS Jln. A. Yani
trompol Pos 1 Kartasura