Anda di halaman 1dari 42

TUGAS ELEMEN MESIN II PADA MESIN GERINDA TANGAN

TUGAS ELEMEN MESIN II PADA MESIN GERINDA TANGAN DI SUSUN :OLEH NAMA:LAMHOT OLODONGAN.S. NIM:12C1008 JURUSAN :TEKNIK

DI SUSUN :OLEH

NAMA:LAMHOT OLODONGAN.S.

NIM:12C1008

JURUSAN :TEKNIK MESIN

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL JAMBI 2014

4

5

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat dan karunia- Nya jugalah penulis dapat menyelesaikan Tugas Elemen Mesin II dengan judul “Perencanaan Roda Gigi Kerucut Pada Mesin Gerinda Tangan”. Sehubungan dengan penyelesaian tugas ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

Bapak, Lasro sitohang,S.T. selaku dosen pengasuh mata kuliah Tugas Elemen Mesin II ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam tugas perencanaan ini, oleh karena itu penulis mengharapkan saran maupun kritik yang membangun dari para pembaca.

Akhirnya penulis berharap kiranya tugas perencanaan ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan rekan-rekan mahasiswa terutama di lingkungan Jurusan Teknik mesin STITKNAS

JAMBI, APRIL 2015

Penulis

6

DAFTAR ISI

Halaman Sampul

i

Halaman Judul

ii

Halaman Pengesahan

iii

Kata Pengantar

iv

Daftar Isi

v

Daftar Tabel

vii

Daftar Gambar

viii

Daftar Lampiran

ix

BAB

I.

PENDAHULUAN

1

  • A. Latar Belakang

1

  • B. Tujuan dan Manfaat

2

  • C. Pembatasan Masalah

3

  • D. Metode Penulisan

3

II.

TINJAUAN PUSTAKA

4

  • A. Klasifikasi Roda Gigi

4

  • B. Tata Nama Roda Gigi

7

  • C. Roda Gigi Kerucut

9

7

III. PERHITUNGAN

15

  • A. Perencanaan Roda Gigi

15

  • B. Perencanaan Poros dan Pasak

21

  • 1. Perencanaan Poros

24

  • 2. Perencanaan Pasak

28

  • C. Perencanaan Bantalan

30

IV. KESIMPULAN

32

Daftar Pustaka

Lampiran

8

DAFTAR TABEL

TABEL

Halaman

  • 1. Klasifikasi Roda gigi

..........................................................

4

9

DAFTAR GAMBAR

Halaman

GAMBAR

  • 2. Klasifikasi Roda gigi

5

  • 3. Tata Nama Roda Gigi

7

  • 4. Nama Bagian-bagian Roda Gigi Kerucut

10

  • 5. Roda Gigi Kerucut Istimewa

11

  • 6. Roda Gigi dan Pinyon Kerucut Lurus

11

  • 7. Alat Pemarut Es Mekanik

13

10

DAFTAR LAMPIRAN

 

Halaman

  • 1. Kartu Asistensi

Lampiran

  • 2. Pengesahan Judul

Lampiran

11

  • A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Suatu mesin terdiri dari elemen-elemen yang jumlahnya relatif besar mencapai lebih

dari ribuan. Kesemuanya itu saling mendukung untuk menghasilkan suatu gerak yang

terpadu. Untuk terjadinya kesinambungan antar komponen mesin tersebut haruslah

direncanakan terlebih dahulu. Hal yang perlu untuk diperhatikan dalam perencanaan adalah

kesesuaian antar komponen, faktor keamanan, umur, efisiensi, dan biaya serta ketahanan

komponen tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

Pada tugas perencanaan elemen mesin ini, kami mengambil

judul

“Perencanaan Roda Gigi Kerucut Pada Mesin Gerinda Tangan ”.

Roda gigi adalah suatu komponen mesin yang berfungsi untuk meneruskan daya yang

besar dari roda gigi ke roda gigi yang lain untuk digerakkan dengan melalui motor.

Dalam ilmu elemen mesin dikenal beberapa cara pembuatan roda gigi atau

penggabungan dua atau lebih komponen mesin yang terpisah. Pada dasarnya roda gigi terbagi

atas beberapa terminologi utama, yaitu :

  • a. Adendum yaitu jarak radial antara bidang atas (top land) dengan lingkaran puncak.

  • b. Dedendum yaitu jarak radial dari bidang bawah (bottom land) dengan lingkaran puncak.

12

  • c. Circular Pitch (Jarak Lengkung Puncak) adalah jarak yang diukur pada lingkaran puncak, dari satu titik pada sebuah gigi ke satu titik yang berkaitan pada gigi sebelahnya.

Jadi, roda gigi termasuk juga pada jenis sambungan tidak tetap, karena roda gigi

merupakan pemindah daya dari putaran poros roda gigi yang dihasilkan oleh motor

penggerak ke motor yang digerakkan dan juga sebagai alat yang berfungsinya menghentikan

roda gigi yang digerakkan meskipun motor penggerak tetap bekerja.

Mesin Gerinda Tangan merupakan satu alat dari beberapa alat yang menggunakan

perencanaan roda gigi kerucut dengan pengerjaan mekanik. Dikatakan sebagai roda gigi

kerucut Spiral karena bentuk visualnya yang mirip dengan kerucut dan alur giginya yang

berbentuk spiral. Selain itu pada mesin gerinda tangan ini bila ditinjau dari letak poros roda

giginya adalah termasuk roda gigi dengan poros berpotongan dengan sudut porosnya

sebesar 90°.

  • B. Tujuan dan Manfaat

    • 1. Tujuan Penulisan

      • a. Untuk memenuhi kurikulum mata kuliah Elemen Mesin II.

      • b. Untuk menerapkan kajian teoritis yang diperoleh dari kuliah ke dalam bentuk rancangan elemen mesin.

      • c. Untuk menghitung bagian-bagian roda gigi dan mengetahui cara kerjanya.

  • 2. Manfaat Penulisan

    • a. Melatih kami mendalami dan memahami fungsi dan karakteristik dari suatu elemen mesin.

  • 13

    • b. Mampu merencanakan elemen mesin (roda gigi) yang berdasarkan atas perhitungan- perhitungan yang bersumber dari literatur.

    • C. Pembatasan Masalah

    Dalam tugas perencanaan elemen mesin II ini kami hanya akan membahas mengenai

    roda gigi kerucut Spiral (hipoid) pada mesin gerinda tangan.

    • D. Metode Penulisan

    Pada tugas perencanaan ini pembahasan dilakukan dengan menggunakan literatur dan

    buku-buku yang memuat data serta rumus-rumus yang berkaitan dengan masalah yang kami

    bahas.

    14

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    Jika dari dua buah roda berbentuk silinder atau kerucut yang saling bersinggungan pada

    kelilingnya salah satu diputar, maka yang lainnya akan ikut berputar pula. Alat yang

    menggunakan cara kerja semacam ini untuk mentransmisikan daya disebut roda gesek. Hal ini

    untuk meneruskan daya kecil dengan putaran yang tidak perlu tepat.

    Namun untuk menghasilkan daya yang besar dan putaran yang tepat, kedua roda gesek ini

    harus dibuat bergigi pada kelilingnya sehingga penerusan daya dilkukan oleh gigi-gigi kedua

    roda yang saling berkait. Roda gigi semacam ini, yang dapat berbentuk silinder atau kerucut

    disebut roda gigi.

    • A. Klasifikasi Roda Gigi

    Klasifikasi Roda Gigi

    No

    .

    Letak Poros

    Roda Gigi

    Keterangan

     

    Roda gigi dengan

    Roda gigi lurus (a) Roda gigi miring (b) Roda gigi miring ganda (c)

    (Klasifikasi atas dasar bentuk alur gigi)

    1.

    poros sejajar

    Roda gigi luar Roda gigi dalam dan pinyon (d)

    Arah putaran berlawanan Arah putaran sama

    Batang gigi dan pinyon (e)

    Gerakan lurus dan berputar

    15

    Roda gigi kerucut lurus (f) Roda gigi kerucut spiral (g)    Roda gigi kerucut
    Roda gigi kerucut lurus (f)
    Roda gigi kerucut spiral (g)
    Roda gigi kerucut Zerol
    Roda gigi kerucut miring
    Roda gigi kerucut miring
    ganda
    Roda gigi permukaan dengan
    • 2. Roda gigi dengan poros berpotongan

    poros berpotongan (h)

    (Klasifikasi atas dasar bentuk jalur gigi)

    No

    .

    Letak Poros

    Roda Gigi

    Keterangan

       

    Roda gigi miring silang (i) Batang gigi miring silang

    Kontak titik Gerakan lurus dan berputar

    Roda gigi cacing silindris (j) Roda gigi cacing selubung ganda

     
    • 3. Roda gigi dengan poros silang

    (globoid) (k) Roda gigi cacing samping

    Roda gigi hiperboloid Roda gigi hipoid (l) Roda gigi permukaan silang

     

    Tabel 1. Klasifikasi Roda Gigi

    16

    16 Gambar 1. Klasifikasi Roda Gigi Roda gigi pada umumnya dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu

    Gambar 1. Klasifikasi Roda Gigi

    Roda gigi pada umumnya dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu :

    a

    Roda gigi lurus (Spurs gear)

    Roda gigi lurus, yaitu suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus

    daya dan putaran dari poros penggerak ke poros yang digerakkan tanpa terjadi

    slip, dimana sumbu kedua poros tersebut terletak saling sejajar.

    Roda gigi ini bersifat tetap yang mana dalam artinya tidak dapat dilepas

    pada saat mesin dalam keadaan berputar.

    b

    Roda gigi miring (Helical)

    17

    Roda gigi miring yaitu elemen mesin yang mempunyai jalur gigi yang

    membentuk ulir pda siloinder jarak bagi, berfungsi sebagai penghubung antara

    roda gigi yang digerakkan dengan roda gigi penggerak dengan putaran dan daya

    yang sama serta dapat dilepaskan dari kedua.

    • c Roda gigi Cacing

    Roda gigi ini meneruskan putaran dengan perbandingan reduksi yang

    besar. Tetapi untuk beban yang besar roda gigi cacing dapat dipergunakan dengan

    perbandingan sudut kontak yang lebih besar. Roda gigi ini meliputi roda gigi

    cacing slindris, selubung ganda (globoid), roda gigi cacing samping.

    • d Roda gigi kerucut

    Merupakan roda gigi yang paling sering dipaka tetapi roda gigi ini sangat

    berisik dengan perbandingan kontak yang kecil, macam-macam roda gigi ini

    meliputi roda gigi kerucut lurus, spiral, miring, Zerol.

    • B. Tata Nama Roda Gigi

    Terminologi dari roda gigi digambarkan pada (Gambar 2). Lingkaran Puncak (pitch

    circle) dari sepasang roda gigi yang berpasangan adalah saling bersinggungan satu terhadap

    yang lain.

    18

    18 Gambar 2. Tata Nama Roda Gigi Pinyon adalah roda gigi yang terkecil diantara dua roda

    Gambar 2.

    Tata Nama Roda Gigi

    Pinyon adalah roda gigi yang terkecil diantara dua roda gigi yang berpasangan. Yang

    lebih besar sering disebut Roda Gigi (Gear).

    Jarak Lengkung Puncak (circular pitch), p adalah jarak yang diukur pada lingkaran

    puncak, dari satu titik pada sebuah gigi ke suatu titik yang berkaitan pada gigi di sebelahnya.

    Jadi jarak lengkung puncak adalah sama dengan jumlah tebal gigi (tooth-thickness) dan lebar

    antara (width of space).

    d

    p

    N

    m

     

    p

    jarak lengkung puncak

    • d

    diameter puncak mm

    (

    )

    N

    jumlah gigi

     
    • m mod

    ule mm

    (

    )

    Modul (module), m adalah perbandingan antara diameter puncak dengan jumlah gigi.

    Modul adalah indeks dari ukuran gigi pada standar SI.

    19

     

    d

    m

     
     

    N

    m

    mod

    ule

    Puncak diametral (diametral pitch), P adalah perbandingan antara jumlah gigi pada

    roda gigi dengan diameter puncak. Atau kebalikan dari module. Puncak diametral dinyatakan

    dalam jumlah gigi per inci (dalam satuan Inggris).

    P

    N

    d

    P

    puncak diametral gigi per inci

    (

    )

    maka :

     

    pP

    Addendum a adalah jarak radial antara bidang atas (top land) dengan lingkaran

    puncak. Dedendum b adalah jarak radial dari bidang bawah (bottom land) ke lingkaran

    puncak. Tinggi keseluruhan (whole depth) h t adalah jumlah addendum dan dedendum.

    Lingkaran kebebasan (clearance circle) adalah lingkaran yang yang bersinggungan

    dengan lingkaran addendum dari pasangan roda gigi tersebut. Kebebasan (clearance), c

    adalah an-punggung (bock-lash) adalah besaran yang diberikan oleh lebar antara dari satu

    roda gigi kepada tebal gigi dari roda gigi pasangannya diukur pada lingkaran puncak.

    • C. Roda Gigi Kerucut

    Roda gigi yang termasuk dasar adalah roda gigi dengan poros sejajar, dan dari jenis

    ini yang paling dasar adalah roda gigi lurus. Namun, bila diingini transmisi untuk putaran

    tinggi, daya besar dan bunyi kecil antara dua poros sejajar, pada umumnya roda gigi yang

    dipakai adalah roda gigi miring.

    20

    Sedangkan untuk roda gigi kerucut biasanya dipakai untuk memindahkan gerakan

    antara poros yang berpotongan. Dengan sudut perpotongan antara kedua poros sebesar 90°.

    Namun roda gigi bisa dibuat untuk semua ukuran sudut. Giginya bisa dituang, dimilling, atau

    dibentuk.

    Jarak Kebebasan pada roda gigi kerucut adalah merata (Uniform Clearance).

    Roda gigi kerucut lurus adalah jenis roda gigi kerucut yang mudah dan sederhana

    pembuatannya dan memberikan hasil yang baik dalam pemakaiannya bila dipasangkan secara

    tepat dan teliti. Sama halnya dengan roda gigi lurus, roda gigi ini menjadi bising pada harga

    kecepatan garis puncak yang tinggi.

    • 1 Profil Roda Gigi Kerucut Lurus

    Sepasang roda gigi kerucut yang saling berkait dapat diwakili oleh dua bidang

    kerucut dengan titik puncak yang berhimpit dan saling menggelinding tanpa slip. Kedua

    bidang kerucut ini disebut “kerucut jarak bagi”. Besarnya sudut puncak kerucut

    merupakan ukuran bagi putaran masing-masing porosnya. Roda gigi kerucut yang alur

    giginya lurus dan menuju ke puncak kerucut dinamakan “roda gigi kerucut lurus”.

    Keterangan lebih lanjutnya dapat dilihat pada (Gambar 3).

    21

    21 Gambar 3. Nama Bagian-bagian Roda Gigi Kerucut Sumbu poros pada roda gigi kerucut biasanya berpotongan
    21 Gambar 3. Nama Bagian-bagian Roda Gigi Kerucut Sumbu poros pada roda gigi kerucut biasanya berpotongan

    Gambar 3.

    Nama Bagian-bagian Roda Gigi Kerucut

    Sumbu poros pada roda gigi kerucut biasanya berpotongan dengan sudut 90°.

    Bentuk khusus dari roda gigi kerucut dapat berupa “roda gigi miter” yang mempunyai

    sudut kerucut jarak bagi sebesar 45° dan roda gigi mahkota dengan sudut kerucut jarak

    bagi sebesar 90°. Dimana diperlihatkan pada (Gambar 4).

    21 Gambar 3. Nama Bagian-bagian Roda Gigi Kerucut Sumbu poros pada roda gigi kerucut biasanya berpotongan

    Gambar 4.

    22

    Roda Gigi Kerucut Istimewa

    Sudut puncak pada roda gigi kerucut dapat dihitung dengan menggunakan

    persamaan sebagai berikut :

    tan

    N

    P

    N

    G

    dan

    tan

    

    N

    G

    N

    P

    dim

    ana

    :

    P

    pinyon

    G

    roda gigi gear

    (

    )

    sudut puncak pinyon

     sudut puncak roda gigi

    Berikut ini adalah gambar roda gigi dan pinyon kerucut lurus.

    22 Roda Gigi Kerucut Istimewa Sudut puncak pada roda gigi kerucut dapat dihitung dengan menggunakan persamaan

    Gambar 5.

    Roda Gigi Dan Pinyon Kerucut Lurus

    Gigi lurus standar dari roda gigi kerucut dipotong dengan menggunakan sudut

    tekan 20°, addendum dan dedendum yang tidak sama, dan kedalaman gigi yang penuh.

    Hal ini menambah perbandingan kontak, menghindari kurang potong, dan menambah

    kekuatan dari pinyon.

    Pada suatu pemasangan roda gigi kerucut yang khas yaitu satu diantara luar dari

    bantalan. Ini berarti bahwa lendutan poros bisa lebih nyata dan mempunyai pengaruh

    yang lebih besar dari pada persinggungan gigi tersebut. Kesulitan yang timbul dalam

    memperkirakan tegangan pada gigi roda gigi kerucut adalah bahwa gigi ini berbentuk

    tirus. Jadi untuk mendapatkan persinggungan garis yang sempurna melalui pusat kerucut

    gigi tersebut haruslah melentur yang lebih besar dibandingkan pada ujung yang kecil.

    23

    Untuk mendapatkan kondisi ini memerlukan adanya keseimbangan yang lebih besar pada

    ujung yang besar. Karena variasi beban di sepanjang muka gigi ini, maka dianjurkan

    untuk lebar muka sedikit pendek.

    • 2 Cara Kerja Alat Pemarut Es

    Cara pengoperasian alat pemarut es mekanik adalah dengan cara menghubungkan

    motor dengan sumber arus, motor tersebut menghasilkan daya yang kemudian

    dittansmisikan ke pully alat pemarut es melalui sabuk. Daya yang ditransmisikan oleh

    sabuk pemutar poros horizontal. Roda gigi kerucut yang dipasang pada poros tersebut

    akan ikut berputar dan akan mengerakkan pinyon yang terhubung dengan roda gigi. Pada

    diameter dalam dari pinyon dimasukkan batang penekan dan diberi pasak. Batang

    penekan berulir memutar turun karena diberi pasangan, yaitu roda gigi miring yang

    letaknya di atas pinyon dan dikunci oleh baut pengunci roda gigi miring. Batang penekan

    berulir turun sambil memutar balok es. Pada landasan tempat balok es tersebut diputar

    terdapat mata pisau bergigi pada suatu tempat dan diberi lubang persegi empat untuk

    menurunkan potongan-potongan es. Balok es yang berputar akan menjadi potongan-

    potongan kecil yang kemudian akan turun melalui lubang ke tempat penadah. Jika balok

    es sudah menjadi tipis, maka pedal gas akan dilepas untuk menghentikan kerja dari alat

    tersebut. Kemudian baut pengunci dari roda gigi dikendurkan dan dengan memutar roda

    kemudi yang dihubungkan dengan roda gigi miring pada pinyon sehingga akan memutar

    batang penekan berlawanan arah kerja tadi, maka batang penekan berulir akan naik ke

    atas ke posisi semula.

    24

    24 Gambar 6. Alat Pemarut Es Mekanik Keterangan gambar pemarut es mekanik adalah : 1. Roda

    Gambar 6.

    Alat Pemarut Es Mekanik

    Keterangan gambar pemarut es mekanik adalah :

    • 1. Roda gigi miring

    • 2. Batang tekan

    • 3. Pinyon kerucut

    • 4. Roda gigi kerucut

    • 5. Poros

    • 6. Pasak

    • 7. Bantalan

    25

    BAB III PERHITUNGAN

    • A. Perencanaan Roda Gigi

    Pada

    perencanaan roda gigi ini

    dipakai dua buah roda

    gigi

    kerucut lurus, dimana

    satu roda gigi

    berfungsi sebagai roda gigi penggerak (gear) dan yang lainnya sebagai

    roda

    gigi yang digerakkan (pinyon).

    Adapun bahan dari roda

    gigi

    dan pinyon adalah

    besi cor

    FC 18 dengan kekuatan lentur 4,0 kg/mm 2 .

    Data perencanaan adalah :

    • 1. Putaran motor (n c )

    =

    1500 rpm

    • 2. Daya motor (P)

    =

    0,25 kW

    • 3. Reduksi transmisi

    =

    5

    • 4. Reduksi roda gigi kerucut

    =

    1,5

    • 5. Faktor koreksi (f c )

    =

    1 (untuk daya nominal)

    • 6. Jumlah roda gigi kerucut (Ng)

    =

    27

    • 7. Jumlah roda gigi pinion (Np)

    =

    18

    • 8. Puncak diametral (P)

    =

    3 gigi/in

    • 9. Sudut tekan (α)

    =

    20 o

    Maka daya penggeraknya (Pd) adalah :

    Pd

    = P x f c

    = 0,25 x 1

    = 0,25 kW

    26

    Dari harga reduksi puli dan sabuk yang telah diketahui, maka putaran roda gigi kerucut

    dapat diketahui pula, yaitu :

     

    I

    n

    c

     

    n

    i

    dimana :

    n c = putaran motor listrik = 1500 rpm

    n i = putaran roda gigi kerucut

    I

    = reduksi puli = 5

    Sehingga :

     

    5

    1500

     

    n

    i

     

    i

    n 300rp

    Reduksi pada roda gigi kerucut :

    Dimana :

    Z

    1

    Z

    2

    1,5

    Z

    1

    Z

    2

    n

    1

    n

    2

    n 1 = putaran roda gigi kerucut

    n 2 = putaran pinion

    Maka :

    1,5 = n 1 /n 2

    n 2 = 300 x 1,5

    n 2 = 450 rpm

    Torsi pada roda gigi kerucut :

    T = 9,74 x 10 5 x Pd/n 1

    Sehingga : T

    = 9,74 x 10 5 x 0,25/300

    = 811,6 kg mm

    27

    • 1. Sudut puncak pinion tan -1 δ 1 = Np/Ng

    ................................................

    (Shigley hal. 239)

    = 18/27

    δ 1 = 33,6

    • 2. Sudut Puncak roda gigi tan -1 δ 2 = Ng/Np

    ...............................................

    (Shigley hal. 239)

    = 27/18

    δ 2 = 56,3

    • 3. Diameter puncak pinion (dp)

    ........................

    (Shigley hal. 175)

    dp = Np/P

    = 18/3 = 6 in = 152,4 mm

    • 4. Diameter puncak roda gigi (dg) dg = Ng/P

    = 27/3 = 9 in = 228,6 mm

    • 5. Lebar muka gigi (F) F = 10/P

    = 10/3 = 3,33 in = 84,67 mm

    • 6. Faktor perubahan kepala (X 1 dan X 2 ) X 1 = 0,46 [1-(18/27) 2 ]

    = 0,46 [1-0,4]

    = 0,276

    X 2 = - 0,276

    28

    Tinggi kepala (Adendum)

    hk 1 = (1 + X 1 ) m

    Dimana : m = modul

    = dp/Np

    = 152,2 /18 = 8,46 mm

    hk 1 = (1 + 0,276) 8,46 = 10,8 mm

    Tinggi kaki (dedendum)

    hf 1 = (1 – 0,276) m + Ck

    Dimana : Ck = kelonggaran puncak

    C k = 0,188 P0,0508mm = 0,188 30,0508mm

    28 Tinggi kepala (Adendum) hk = (1 + X ) m Dimana : m = modul
    28 Tinggi kepala (Adendum) hk = (1 + X ) m Dimana : m = modul

    = 0,11 mm

    hf 1 = (1 – 0,276) x 8,46 + 0,11

    = 6,23 mm

    • 8. Untuk roda gigi Tinggi kepala (adendum) hk 2 = (1 – X 1 ) m

    = (1 – 0,276) 8,46

    = 6,12 mm

    Tinggi kaki (dedendum)

    hf 2 = (1 + X 1 ) m + C k

    = (1 + 0,276) 8,46 + 0,11 = 10,9 mm

    29

    dp 1 = dp + 2hk 1 cos δ 1

    = 152,4 + 2 .10,8 cos 33,6

    = 170,3 mm

    • 10. Diameter lingkaran roda gigi dg 2 = dg + 2hk 2 cos δ 2

    = 228,6 + 2 . 6,12 cos 56,3

    = 235,33 mm

    • 11. Jarak dari puncak kerucut sampai puncak luar gigi untuk pinion X 1 = (dp/2) – hk 1 sin δ 1

    = (152,4/2) – 10,8 sin 33,6

    = 70,26 mm

    • 12. Jarak kerucut (R) R = d p /2 sin δ 1

    = 152,4/2 sin 33,6

    = 138,5 mm

    • 13. Pemeriksaan keamanan terhadap tegangan dan kekuatan lentur W t = 60 . 10 3 . H/π dn

    H

    = P . f c

    = 0,25 kW

    W t = 60 . 10 3 . 0,25/3,14 . 12 . 1500

    = 0,26 kN

    • 14. Diameter puncak rata-rata dari roda gigi besar

      • d av = dg – F sin δ 2

    ..............................................

    (Shigley hal 244)

    30

    = 228,6 – 84,67 sin 56,3

    = 158,16 mm = 6,23 in

    • 15. Kecepatan garis puncak pada puncak rata-rata V = dav . π . n/12

    ..............................................

    (Shigley hal 175)

    = 6,23 . 3,14 . 300/12

    = 489,06 ft/menit

    • 16. Faktor kecepatan Kv =

    50 / 50

    • (Shigley hal 181)

    ............................................

    =

    50 / 50

    489,56
    489,56

    = 0,693

    • 17. Tegangan lentur pada roda gigi σ = Wt . P/kv . F . J

    ..........................................

    (Sularso hal 242)

    J = 0,22 ; untuk faktor geometri

    0,22.3

    gigi

    /

    in

    .1/ 25,4.10

    3

    σ =

    0,693.84,67.0,22.10

    3

    = 0,698 kPa

    • 18. Tegangan yang diizinkan : σ a = 4 kg/mm 2

    4

    x

    9,81

    kg

    =

    1.10

    6

    2

    m

    = 3,924 . 10 4 kPa

    Karena σ < σ a maka roda gigi dalam keadaan sangat aman.

    • B. Perencanaan Poros dan Pasak

    31

     Puli D = 100 mm I = 5 Dimana : D = diameter puli I
    Puli
    D = 100 mm
    I
    = 5
    Dimana : D = diameter puli
    I
    = reduksi puli
    Maka : d = D/I
    = 100/5 = 20
    Sehingga : V =
    π . d . n/(60x1000)
    3,14x20x1500
    60000
    =
    = 1,57 m/s
    F1 F2 V
    102
    Po =
    ...........................................
    Dimana : Po = Daya yang direncanakan
    Po = 0,25 kW
    V
    = kecepatan
    F1 F2 1,57
    102
    Maka : 0,25 =
    F1-F2 = 16,24
    Sabuk

    (Sularso hal. 166)

    (Sularso hal. 166)

    (Sularso hal. 171)

    32

    Panjang sabuk (L) dipilih panjang 1016 mm

    Jarak sumbu C dapat diketahui dengan menggunkan persamaan sebagai berikut :

     

    b

    b

    2

    8

    D d

    2

    C

    =

    8

    Dimana :

     

    b = 2L – π(100 + 20)

     

    b = 2L – π(100 + 20)

     

    = 2(1016) – 3,14(120)

    = 2032 – 376,8

     

    = 1655,2

     

    Maka :

     
     

    b

    b

    2

    8

    D d

    2

    C

    =

    8

     

    1655,2

    

    1655,2

    2

     

    =

    8

    = 411,85

     

    ..............................

    ........................................

    8 100

    20

    2

    (Sularso hal. 170)

    (Sularso hal. 170)

    Besarnya sudut kontak adalah :

    θ

    180

    o

    θ

    180

    o

    θ

    168,93

    θ

    ≈ 169 o

     

    Maka :

     

    F 1 /F 2 = e μ.θ

    57(D

    d)

    C

    57(100

    20)

    411,85

    o

    33

    Dimana : μ = koefisien gesek = 0,2

    F 1 /F 2 = e μ.θ

    F 1 /F 2 = e 0,2.169

    F 1 /F

    2

    = e 33,8

    F 1 = 4,78 F 2

    16,24 = F 1 – F 2

    16,24 = (4,78 F 2 – F 2 )

    F

    2

    16,24

    3,78

    F

    2

    4,30 kg

    F

    1

    20,54 kg

    Sehingga jumlah sabuk yang diperlukan adalah :

    N

    P

    d

     

    P .K

    o

     

    N

     

    0,25

     

    0,25x 0,97

    N

    1,03

    1buah

    .......................................................

    (Sularso hal. 173)

    Dengan jenis sabuk yang dipakai adalah sabuk V dengan tipe sabuk sempit 3 V.

    • 1. Perencanaan Poros

    Wt = T/r av

    .........................................................

    (Shigley hal. 238)

    34

    Dimana r av = d av /2

     

    dp F

    sin

    =

    2

    =

    = 52,77 mm

    1

    152,4 84,67sin 33,6

    2

    Wt = 811,6/52,77

    = 15,4 kg

    Wa = Wt tan Ф sin γ

    ........................................

    (Shigley hal. 238)

    = 15,4 tan 20 sin 33,6

    = 3,10 kg

    Wr = Wt tan Ф cos γ

    .......................................

    (Shigley hal. 238)

    = 15,4 tan 20 cos 33,6

    = 4,67 kg

    34 Dimana r = d /2 dp  F sin = 2 = = 52,77 mm

    Momen di titik C

    F1 . CD + Wr . AC + Rby . BC = Wa . AE

    Rby = Wa . AE – Wr . Ac – F1 . CD

    35

    3,10x5,277 4,67x14 18,64x32

    Rby =

     

    = - 12,07 kg

    Σfy = 0

    9

    Wr + Rby + Rcy = Ftot

    Rcy = 18,64 – 4,67 + 12,07

    = 26,04 kg

    ΣMcz = 0

    Rby . BC = Wt . AC

     

    15,4.14

    Rbz =

    9

     
     

    = 24 kg

    ΣFz = 0

    Rby + Rcz = Wt

     

    Rcz = 15,4 – 24

     

    = -8,6 kg

    ΣT = 0

    T = Wt . AE

    (dimana AE = r av )

    = 15,4 . 52,77

    = 804,96 kg.mm 2 2 Rby  Rbz Rb =   2 2 12,07 
    = 804,96 kg.mm
    2
    2
    Rby
     Rbz
    Rb =
    2
    2
    12,07
     24
    =

    36

    = 26,8 kg

     

    Rc =

     

    Rcy

    2

     
     

    =

    

    26,04

    2

    8,6

    2

    = 25,5 kg

     

    W =

    • 2

    Wt

    Wr

    2

    = 16,09 kg

    36 = 26,8 kg Rc = Rcy 2  26,04  2    8,6

    37

    37 Selanjutnya : Wt = T/r T = 811,6 kgmm = 70,46 lb.in n = 2,6

    Selanjutnya :

    Wt = T/r av

    T = 811,6 kgmm = 70,46 lb.in

    n = 2,6

    M tot =

    37 Selanjutnya : Wt = T/r T = 811,6 kgmm = 70,46 lb.in n = 2,6

    (233,5)

    2

    (770)

    2

    804,63kg.mm

    69,93 Ib.in

    Dengan perencanaan :

    Bahan G 10500 AISI 1050 ditarik dingin

    S ut = 100 kpsi

    S y = 84 kpsi

    38

    K b = 0,865

    K c = 0,868 , faktor keandalan 95 %

    K d = K e = 1

    K f = 1,33

    S e = 0,5 S out = 50 kpsi

    S e = K a K b K c K d K e K f S e

    = 0,75.0,865.0,868.1.1.1,33.50

    = 37,45 kpsi  48 n  T S ds =  y =  48x2,6
    = 37,45 kpsi
    
    48 n 
    T
    S
    ds = 
    y
    = 
    48x2,6 / 3,14
      2  1/ 2   2  M S e   2
    2
    1/ 2
    2
    M
    S
    e
    
    2
    3
    70,46 /84x10

    1/ 3

    ............

    (Shigley hal. 270)

    69,93/ 37,45x10

    3

    2

    1/ 2

    1/ 3

    = 0,43 in = 10,92 mm ≈ 11 mm

    • 2. Perencanaan Pasak

    Dalam pasak poros transmisi baja karbon AISI 1010 diroll panas

    σut = σB = 47.000 psi

    σ B = 33,06 kg/mm 2

    diameter poros 11 mm

    penampang pasak b x h = 3mm x 3mm

    tegangan geser yang diijinkan pada pasak

    σ ka = σ b/ Sfk 1 . Sfk 2

    .....................................

    (Sularso hal 27)

    Sfk 1 = 6

    Sfk 2 = 2,5 ; untuk tumbukan ringan

    39

    Panjang pasak (li) berdasarkan tegangan geser pasak yang diizinkan

    T = 811,6 kg.mm

    F = T/r

    = 2T/d

    = 811,6 . 2 / 11

    =147,56 kg

    σka ≥ F/li . b

    (Sularso hal. 25)

    2,2 ≥ 147,56 / li . 3

    li ≥ 22,4 mm

    panjang pasak (l2) berdasarkan tekanan permukaan yang diizinkan :

    Pa = 8kg / mm

    t 1 = 2,5 mm

     

    F

    Pa ≥

    l.t

    1

    2

    8 ≥ 147,56 / l 2 . 2,5

    l 2 ≥ 7,4 mm

    Maka dapat diambil ketentuan

    • a. Ukuran pasak = b x h = 5 x 5 (mm)

    • b. Lebar pasak adalah = 5 mm

    • c. Panjang pasak yang dipakai adalah L = 15 mm L k /d s = 13/11 = 1,2

    (0,75 < 1,36 < 1,5 adalah baik)

    40

    • C. Perencanaan Bantalan

    Dalam perencanaan ini jenis bantalan yang digunakan yaitu bantalan gelinding bola tunggal.

    • 1. Bantalan pada titik B

    Beban ekivalen dinamis (Pr)

    Pr = XVFr + Yfa

    .............................................

    (Sularso hal. 135)

    Dimana : Fr = beban radial = 24,4 kg

    Fa = beban aksial = 3,10 kg

    X = 1 ; V = 1 ; Y = 0

    e ≥ Fa / V. Fr

    ..................................................

    (Sularso hal. 135)

    = 3,10 /1 . 24,4

    = 0,13

    Pr = 1 . 1 . 24,4 + 0,310

    Pr = 24,4 kg

    Umur bantalan : L = 60 . n2 . Lh

    .....................

    (Sularso hal. 136)

    Dimana : Lh = 5 x 365

    = 1825 jam

    Maka L = 60. 450 . 1825

    = 49,275 . 10 6 rev

    C/Pr = L 1/3

    C = Pr.L 1/3

    = 24,4(49,275) 1/3

    = 89,45 kg

    • 2. Bantalan di titik C

    Beban ekvivalen dinamis (Pr)

    41

    Pr = XVFr + Yfa

    Dimana : Fr = beban radial = 13,6 kg

    Fa = beban aksial = 3,10 kg

    X = 1 ; V = 1 ; Y = 0

    e ≥ Fa/VFr = 3,10/13,6.1 = 0,227

    Pr = 1.1.13,6 + 0.3,10

    = 13,6 kg

    Umur bantalan : L = 60.n 2 . Lh

    Dimana : Lh = 5 x 365 = 1825 jam

    Maka : L = 60.450.1825 = 49,275. 10 6 rev

    • C / Pr = L 1/3

    • C = Pr. L 1/3 = (49,275) 1/3 .13,6

    • C = 49,85 kg

    42

    BAB IV KESIMPULAN

    Berdasarkan hasil perhitungan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa

    kesimpulan mengenai ukuran bagian-bagian roda gigi pada mesin gerinda tangan , yaitu sebagai

    berikut :

    • 1. Alat penggerak

    Daya motor

    = 0,25 kW

    Putaran motor

    = 1500 rpm

    Reduksi transmisi

    sabuk

    = 5

    Reduksi transmisi roda gigi

    = 1,5

    • 2. Roda gigi kerucut

    Jumlah roda gigi (gear)

    = 27 gigi

    Jumlah roda gigi (pinion)

    = 18 gigi

    Modul

    = 8,46 mm

    Bahan roda gigi

    = FC 18

    Kekuatan tegangan izin

    = 3,924.10 4 kPa

    • 3. Poros

    Bahan poros

    = G 10500 AISI 1050 ditarik dingin

    Panjang poros

    = 172 mm

    Diameter poros

    = 11 mm

    43

     

    Penampang pasak

    = 5 x 5 (mm)

    Panjang pasak

    = 15 mm

    Kedalaman pada poros

    = 3 mm

    Kedalaman pada naf

    = 2 mm

    5.

    Bantalan

    Bahan bantalan

    = JIS 6001

    Umur bantalan

    = 49,275 , 10 6 rev

    Beban dinamis

    = 69,65 kg

    DAFTAR PUSTAKA

    44

    • 1. Shigley, J.E dan LD. Mitchell, “Perencanaan Teknik Mesin”, Jilid 2, Edisi Keempat, Erlangga, Jakarta, 1984.

    • 2. Sularso, Ir, MSME dan K. Suga, “Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin”, Cetakan Kesembilan, Pradnya Paramita, Jakarta, 1997.

    • 3. Daryanto, Drs, “Pengetahuan Dasar Teknik”, Cetakan Pertama, Bina Aksara, Jakarta, 1988.

    45

    LAMPIRAN