Anda di halaman 1dari 3

Perimping.

id

Tujuan Nilai
Setiap orang pasti memiliki kehidupan yang diimpikan masing-masing. Dengan minat dan hasrat
yang berbeda, kita semua terus maju ke depan untuk menjalani kehidupan. Namun, masih ada
orang yang masih bingung, mau kemana sih hidup kita? atau untuk apa hidup kita ini? Nah, kalo
mau tahu, yuk kita pahamin perbedaan tujuan hidup dan makna hidup.

Benang Tipis antara Tujuan Hidup dengan Makna Hidup terletak dari kesungguhan niat untuk
berbagi dengan sesama (sharing to the others). Secara umum manusia hampir dipastikan
memiliki tujuan hidup yang hampir sama antara satu dengan lainnya, seperti; harta melimpah;
rumah, sawah spread up every where in every location, deposito bejibun tidak habis 7 turunan,
istri cantik full-pressed body yang patuh pada suami, anak yang sholih/sholihah, bekerja tidak
bersusah payah tetapi besar gajinya dan lain-lain. Itulah alasan mengapa orang dengan mudah
dan lugas akan menjawab ketika ditanyakan: apa tujuan hidup saudara?. Tetapi coba anda
rubah pertanyaannya dengan format yang kurang lebih sama tapi kaya makna, seperti apa
makna hidup buat saudara?, saya yakin jawaban yang diberikan tidak akan semudah ia
menjawab pertanyaan tujuan Hidup seperti tersebut diatas.

Pertanyaannya mengapa begitu sulit menjawab pertanyaan apa makna hidup buat anda?
dengan apa tujuan hidup anda?. Jawabannya terletak pada muatan nilaivalueantara tujuan
hidup dan makna hidup, nilai kemaslahatan dan asas kemanfaatan yang hadir pada masyakarat
dengan eksistensi, kehadiran diri kita yang mempribadi. Mudah saja bagi orang mencapai
kejayaan dan mencapai kekayaan, walau harus diakui upaya yang dilakukan terkadang dicapai
dengan langkah tertatih-tatih bahkan bisa jadi mereka mencari jalan tercepat mencapai kekayaan
dengan melacurkan harga dirinya dengan tindakan manipulasi anggaran, rekayasa proyek, mark-
up pengeluaran, menistakan harga diri dengan menjadi mafia anggaran, preman proposal dan
calo proyek dari beraneka ragam kegiatan yang dialokasikan pusat untuk daerah.

Tapi coba Saudara pikir dan renungkan pertanyaan berikut; mudahkan membuat membuat
teman kita tersenyum?, atau mudahkah membuat si miskin tertawa-tawa bahagia ?, atau atau
mudahkah kita sebagai pendidik membuat para siswa, mahasiswa, santri kita bebas menyuarakan
aspirasi, hati nurani tanpa tertekan oleh status penguasa yang kita miliki? Tentu sangat berat
jawabannya, disamping itu diperlukan kesabaran diri serta kemahiran mengesampingkan ego kita
sebagai manusia yang seringkali menjelma menjadi sosok homo homini lupus.

Tujuan hidup kita, saya dan saudara, selalu, selalu dan selalu individualistik-minded !,
pertanyaannya apakah mungkin kita mau merubah paradigma berpikir dari tujuan hidup ke
makna hidup tentunya tanpa memalingkan diri sepenuhnya dari tujuan hidup kita yang
sentralistik dan individualistik. Memang diperlukan sikap yang bijaksana untuk memahaminya
dan salah satu yang menjadi kekuatan kita dalam mensikapi hidup adalah karena kita adalah
pribadi yang peduli dengan orang lain

Arti Tujuan Hidup Manusia


Manusia kadang melupakan identitas sejati dan Penciptanya.
Berbagai target, visi, dan ambisi duniawi yang disalahartikan sebagai "tujuan hidup" adalah salah
satu indikasinya. Kadang kita sebagai pelajar termakan oleh target pencapaian nilai terbaik,
sebagai pekerja terhanyut oleh besarnya nominal gaji, dan banyak aspek kehidupan lainnya yang
menunjukkan bahwa kita terikat nilai duniawi.

Saya belajar memahami kehidupan ini. Kehidupan dunia yang sebenarnya penuh
ketidakpentingan yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Dan menemukan fakta-fakta mencelikkan
dari ini semua. Beberapa pertanyaan yang menampar saya untuk belajar memahami kehidupan
ini antara lain :
1. Saya ada karena siapa?
2. Saya ada untuk siapa?
3. Jika saya sudah tiada, bagaimanakah saya?

Sebagian dari kita lupa bahwa manusia adalah ciptaan yang dilengkapi dengan suatu tujuan dari
Sang Pencipta. Tujuan tersebut tersemat dan terancang secara matematis menurut perhitungan-
Nya sebelum kita terbentuk atau bahkan dipikirkan orang tua kita. Dan bentuk ucapan terima
kasih atas hal itu adalah kita "hidup untuk Sang Pencipta". Hidup untuk Dia berarti hidup
menurut kehendak-Nya. Semua garis hidup dan tujuan hidup kita ternyata sudah ada dalam
sketsa-Nya, jadi adalah suatu kebodohan bila seseorang mencoba membangun tujuan hidupnya
sendiri tanpa memperhatikan kehendak-Nya.

Lalu apa kaitannya dengan "dunia"? Kita dilahirkan di dunia, tapi tujuan yang merupakan akhir
hidup kita bukanlah di sini. Mengapa? Karena dunia ini diciptakan oleh Dia untuk sementara,
artinya dunia akan berlalu (hancur) dan semua makhluk yang hidup di dunia masih bisa mati
pastinya. Tuhan Sang Pencipta menyediakan suatu tempat akhir bagi ciptaanNya
yaitu kekekalan. Inilah yang menjadi akhir hidup kita. Sembilan bulan kita dikandung ibu dan
keluar ke dunia. Selama n tahun kita di dunia nanti akhirnya kita akan keluar menuju perhentian
terakhir kita. Segala ukuran, nilai, dan harta duniawi akan dilepas di sini dan kita akan berada di
kekekalan (surga atau neraka).

Bagaimana mendapatkan tujuan hidup kita? Jawabannya simpel, tanyakan pada Yang
Menciptakan pribadi kita. Menyerahkan hidup kita untuk dipakai bagi tujuan-Nya, bukannya
malah menggunakan Sang Pencipta bagi tujuan kita sendiri. Jadi mulailah berpikir 2x untuk
"mengejar" semua yang ada di dunia ini, karena tujuan hidup kita bukan di sini, melainkan
kekekalan.

Beri Nilai