Anda di halaman 1dari 3

Spondilitis Ankilosa

Definisi
Spondilitis ankilosa (SA) merupakan penyakit jaringan ikat yang ditandai dengan peradangan
pada tulang belakang dan sendi-sendi yang besar, menyebabkan kekakuan progresif,nyeri dan
dengan penyebab yang tidak diketahui. Penyakit ini dapat melibatkan sendi-sendi perifer,
sinovia, dan rawan sendi, serta terjadi osifikasi tendon dan ligamen yang akan mengakibatkan
fibrosis dan ankilosis tulang. Terserangnya sendi sakroiliaka merupakan tanda khas penyakit ini.
Ankilosis vertebra biasanya terjadi pada stadium lanjut dan jarang terjadi pada penderita yang
gejalanya ringan. Nama lain SA adalah Marie Strumpell disease atau Bechterew's disease.

Insidens

2-10 kali lebih banyak pada pria dibanding pada wanita

Umur 15-25 tahun

Lebih bayak pada orang Eropa daripada orang Jepang dan Negro

Etiologi
Faktor predisposisi genetik memegang peranan pada spondilitis ankilosa. Penyakit ini sering
ditemukan pada kelompok keluarga dengan HLA B-27, meskipun demikian tidak setiap orang
dengan HLA B-27 menderita spondilitis ankilosa sehingga diduga ada faktor pemicu lainnya.

Gejala Klinis
1. Peradangan ringan sampai menengah biasanya bergantian dengan periode tanpa gejala.
Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri punggung, yang intensitasnya
bervariasi dari satu episode ke episode lainnya dan bervariasi pada setiap penderita. Nyeri
sering memburuk di malam hari.

2. Kekakuan di pagi hari yang akan hilang jika penderita melakukan aktivitas,juga sering
ditemukan.
Nyeri punggung dan kejang otot-ototnya seringkali bisa berkurang jika penderita
membungkukkan badannya ke depan. Karena itu penderita sering mengambil posisi
membungkuk, yang bisa menyebabkan bungkuk menetap bila tidak diobati.
3. Tulang belakang dengan jelas tampak lurus dan kaku.
4. Nyeri punggung bisa disertai dengan hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan,
kelemahan dan anemia.
5. Jika sendi yang menghubungkan tulang iga dan tulang belakang meradang, rasa nyeri
akan membatasi kemampuan dada untuk mengembang dan untuk menarik nafas dalam.
6. Kadang-kadang nyeri dimulai di sendi yang besar, seperti panggul, lutut dan bahu.
7. Sepertiga penderita mengalami serangan berulang dari peradangan mata (iritisakut),yang
biasanya tidak mengganggu penglihatan.
8. Pada penderita lainnya, peradangan bisa menyerang katup jantung. Jika kerusakan tulang
belakang menekan saraf atau urat saraf tulang belakang, bisa timbul mati rasa, kelemahan
atau nyeri di daerah yang dipersarafinya.
9. Sindroma kauda equina (Sindroma Ekor Kuda) merupakan komplikasi yang jarang,
berupa gejala yang timbul jika kolumna tulang belakang yang meradang, menekan
sejumlah saraf yang berjalan dibawah ujung urat saraf tulang belakang.
Gejalanya berupa impotensi, inkontinensia uri di malamhari, sensasi yang berkurang pada
kandung kemih dan rektum dan hilangnya refleks mata kaki.

Manifestasi pada Tulang.

Keluhan yang umum dan karakteristik awal penyakit ialah nyeri pinggang dan sering menjalar ke
paha. Nyeri biasanya menetap lebih dari 3 bulan, disertai dengan kaku pinggang pada pagi hari,
dan membaik dengan aktivitas fisik atau bila dikompres air panas. Nyeri pinggang biasanya
tumpul dan sukar ditentukan lokasinya, dapat unilateral atau bilateral. Nyeri bilateral biasanya
menetap, beberapa bulan kemudian daerah pinggang bawah menjadi kaku dan nyeri. Nyeri ini
lebih terasa seperti nyeri bokong dan bertambah hebat bila batuk, bersin, atau pinggang
mendadak terpuntir. Inaktivitas lama akan menambah gejala nyeri dan kaku. Keluhan nyeri dan
kaku pinggang merupakan keluhan dari 75% kasus di klinik. Nyeri tulang juksta-artikular dapat
menjadi keluhan utama, misalnya entesis yang dapat menyebabkan nyeri di sambungan
kostosternal, prosesus spinosus, krista iliaka, trokanter mayor, tuberositas tibia atau tumit.
Keluhan lain dapat berasal dari sendi kostovertebra dan manubriosternal yang menyebabkan
keluhan nyeri dada, sering disalahdiagnosiskan sebagai angina.

Manifestasi di Luar Tulang

Manifestasi di luar tulang terjadi pada mata, jantung, paru, dan sindroma kauda ekuina.
Manifestasi di luar tulang yang paling sering adalah uveitis anterior akut, biasanya unilateral, dan
ditemukan 25--30% pada penderita SA dengan gejala nyeri, lakrimasi, fotofobia, dan penglihatan
kabur. Manifestasi pada jantung dapat berupa aorta insufisiensi, dilatasi pangkal aorta, jantung
membesar, dan gangguan konduksi. Pada paru dapat terjadi fibrosis, umumnya setelah 20 tahun
menderita SA, dengan lokasi pada bagian atas, biasanya bilateral, dan tampak bercak-bercak
linier pada pemeriksaan radiologis, menyerupai tuberculosis

Diagnosis.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pola gejala-gejalanya dan foto rontgen dari tulang belakang
dan sendi yang terkena, dimana bisa dilihat adanya erosi pada persendian antara tulang belakang
dan tulang panggul (sendi sakroiliaka) dan pembentukan jembatan antara tulang belakang, yang
menyebabkan kekakuan pada tulang belakang. Laju endap darah cenderung meningkat. Pada
90% penderita ditemukan gen spesifik HLA-B27.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Tidak ada uji diagnostik yang spesifik. Terdapat anemia normositik ringan dan laju endap darah
ynag meninggi. Faktor reuma negatif. HLA-B27 pada keadaan tertentu dapat membantu
diagnosis.
2. Pemeriksaan radiologi
Perubahan yang karakteristik terlihat pada sendi aksial, terutama pada sendi
sakroiliaka. Pada bulan-bulanpertama perubahan hanya dapat dideteksi
dengan tomografi komputer. Perubahan yang terjadi bersifat bilateral
dan simetris, dimulai dengan kaburnya gambaran tulang
subkondral diikuti erosi. Selanjutnya terjadi
penyempitan celah sendi akibat adanya jembatan
interoseus dan osifikasi. Beberapa tahun kemudian
terjadi ankilosis komplit. Pemeriksaan anteroposterior sederhana sudah cukup untuk
mandeteksi sakroilitis yang merupakan awal perubahan. Terlihat pengapuran
ligamen-ligamen spina anterior dan posterior disertai
demineralisasi korpus vertebra membentuk gambaran bamboo spine.

Pengobatan
1. mengurangi/menghilangkan nyeri serta tidak ada pengobatan yang kausatif
2. mencegah progresivitas penyakit
3. fisioterapi berupa latihan tulangbelakang untuk mencegah deformitas
terapi okupasi

Prognosis

Prognosis dari SA sangat bervariasi dan susah diprediksi. Secara umum, penderita lebih
cenderung dengan pergerakan yang normal daripada timbulnya restriksi berat. Keterlibatan
ekstraspinal yang progresif merupakan determinan penting dalam menentukan prognosis.
Beberapa survei epidemiologis menunjukkan bahwa apabila penyakitnya ringan, berkurangnya
pergerakan spinal yang ringan, dan berlangsung dalam 10 tahun pertama maka perkembangan
penyakitnya tidak akan memberat. Keterlibatan sendi-sendi perifer yang berat menunjukkan
prognosis buruk. Sebagian besar penderita dengan SA memperlihatkan keluhan serta
perlangsungan yang ringan dan dapat dikontrol sehingga dapat menjalankan tugas dan kehidupan
sosial dengan baik.

Secara umum, wanita lebih ringan dan jarang progresif serta lebih banyak memperlihatkan
keterlibatan sendi-sendi perifer. Sebaliknya, bamboo spine lebih sering terlihat pada pria.
Terdapat dua gambaran yang secara langsung berpengaruh terhadap morbiditas, mortalitas, dan
prognosis. Keduanya dianggap sebagai akibat dari trauma, baik yang tidak disadari maupun
trauma berat. Awalnya, terjadi lesi destruksi pada salah satu diskovertebra, biasa terjadi pada
segmen spinal yang bisa dilokalisir, dan ditandai dengan nyeri akut atau berkurangnya tinggi
badan yang mendadak. Skintigrafi dan tomografi tulang memperlihatkan kelainan, baik elemen
anterior maupun posterior. Imobilisasi yang tepat dan diperpanjang dapat memberikan
penyembuhan pada sebagian besar kasus. Komplikasi kedua yang menyusul trauma berat
maupun yang ringan berupa fraktur yang dapat menyebabkan koropresi komplit atau inkomplit.