Anda di halaman 1dari 4

Laparotomi dan laparoskopi untuk miomektomi dalam

meningkatkan kesuburan

DALAM BAHASA INDONESIA TABELNYA

Efek miomektomi, dalam kasus infertil pada hasil reproduksi

Pada tabel tersebut menjelaskan tentang pasien post laparotomy miomektomi bahwa pasien dapat hamil
sekitar 54% sampai 78,9% dari jumlah kasus dengan 12%-22% mengalami keguguran.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, menyatakan bahwa miomektomi merupakan metode yang dipercaya
akan meningkatkan kehamilan, terutama sangat berefek untuk pasien yang masih berusia muda dengan
satu fibroid. Sedangkan sumber tersebut juga menyatakan bahwa miomektomi dengan metode laparotomi
cocok untuk kasus dengan ukuran fibroid sub serosa yang besar atau terdapat mioma lebih dari 5.

Hal tersebut dikarenakan mungkin karena pada usia muda didapati tanpa adanya faktor-faktor lain yang
juga membantu menimbulkan wanita tersebut infertil, hal ini dapat meningkatkan hasil operasi sukses.

Waktu yang tept untuk tindakan pembedahan juga sangat menentukan dalam memberikan hasil setelah 1
tahun pasca operasi. Dengan disertai mengikuti aturan yg sesuai dalam proses pembedahan dengan
pembedahan kecil.

Sayatan vertikal yang sedikit dapat di lakukan dan sayatan posterior harus dapat dihindari jika
memungkinkan. Prosedur ini akan memberikan informasi yang kuat mengenai ruang dalam suatu cavitas
dan memungkinkan

Hasil lain dianggap lebih relevant dari pada temuan lain seperti mendeteksi adanya sub mukosa fibroid
dan penjelasan mengenai tertekannya mioma ke ruang endometrium.
Miomektomi dengan metode laparoskopi adalah suatu metode yg mengobati mioma tanpa adanya gejala
yg berhubungan dengan ketidak suburan.

Hasil penelitian dari Dubuisson & Faucooniere pada tahun 2007 menyatakan pasien mengalami
kehamilan setelah menjalanai prosedur miomektomi.

Miomektomi dengan metode laparoskopi juga diakui dapatlebih sebentar waktu berada di rumah saat
dalam hal pemulihan pasca operasi, optimal dalam penyembuhan, sedikit kemungkinan terjadinya
perlengketan, ridak ada nyeri setelah operasi, meminimalisir perdarahan dan estetik dibandingkan metode
sebelumnya. Walaupun demikian, hal tersebut harus dilakukan oleh ahli ginekologist terlatih dan tanpa
paksaan untuk pasien. Terdapat satu hal penting yang harus diperhatikan setelah operasi adalah adanya
skar dn efek2 lain.

Hurst et al miomektomi dengan metode laparoskopi bahwa prosedur ini lebih dapat diterima dibanding
tindakan infasif lainnya, terutama untuk pasien yang akan berencana hamil (Hurst et al 2005).

Serachioli et almeneliti dengan 514 pasien yang menjalani miomektomi dengan metode laparoskopi, 158
wanita yang berhasil hamil, didapati hasil 27,2 % mengalami abortus spontan dengan 2,6 % nya
mengalami kehamilan ektopik. 25 % melahirkan pervaginam dan 74,5% melahirkan dengan sectio
caesarea. Namun tidak ada catatan bahwa terdapat ruptur uteri pada penelitian ini (Seracchioli et al, 2006)

Hingga saat ini hasil menunjukan fungsi reproduksi setelah menjalani prosedur miomektomi dengan
metode laparoskopi atau laparotomi. Bagaimanapun, banyak tipe mioma yang di angkat dengan
miomektomi metode laparoskopi juga lebih banyak yang menggunakan prosedur invasif, meskipun hal ini
tidak dapat di aplikasikan untuk kondisi sebaliknya.

Dalam kasus 2 atau lebih mioma dengan ukuran besar seperti ukuran uterus 12 minggu pada kehamilan,
maka seorang ginekologis harus memberikan saran kepada pasien untuk melakukan laparoskopi
dibandingkan laparoskopi.

Penelitian dengan randomized controlled trial (n+109) dalam berbagai metode pembedahan menunjukan
miomektomi (abdominal vs laparoskopi) disimpulkan memberikan hasil tidaksignifikan yang berbeda
pada terjadinya kehamilan (55,9% dengan miomektomi abdominal vs 53,6 % laparoskopi) atau abortus
(12% vs 20%) pada wanita dengan ukuran mioma yang besar. Perbedaan yang sangat signifikan pasca
operasi dengan kemungkinan adanya demam dan lamanya waktu rawat inap di rumah sakit ditemukan
pada wanita yang sebelumnya menjalani miomektomi abdominal (Seracchioli et al, 2000).

Pada penelitisn dengan 91 wanita infertil 41% dari jumlah tersebut dinyatakan hamil setelah 2 tahun
menjalani miomektomi denngan metode laparoskopi. Hasil tersebut meningkatkan 70% keberhasilan
dalam menciptkan hamil pada wanita dengan mioma dan menurunkan hingga 32% faktor-faktor yang
dianggap sebagai pencetus terjadinya mioma. Hasil menunjukan meningkatnya tingkat kesuburan pada
wanita infertil yang sebelumnya pernah menjalani laparotomi. Terutama jika pasien dianggap tidak
memiliki faktor-faktor yang dianggap dapat menyebabkan infertil, sehingga hasil akan menunjukan hasil
yang sedikit berbeda dengan wanita yang menjalani laparotomi ???
Pada penelitian randomized clinical trial yang dilakukan olehseracchielli et al, pasien dengan infertil atau
setidaknya dengan ukuran mioma lebih dari 4 cm telah didapatkan hasil sama dengan kesuburan antara
grup dengan tindakan operasi laparotomi dan laparoskopi.

Tabel berikut akan membandingkan mengenai prosedur laparoskopi dan laparotomi beserta efek
kesuburan

Abdominal Laparoskopi
myomectomy ?????
Kehamilan % 55,9 53,6
Keguguran % 12,1 20
Sedang hamil 2 3
Kehamilan ektopik 0 1
Melahirkan ????? 27 20
Lahir preterm % ??? 7,4 5,0
Pervaginam % ??? 22,2 35,0
Sectio caesarea % 77,8 65
Ruptur uteri 0 0

Peran Histeroskopi dalam meningkatkan kesuburan


Penelitian Tipe fibroid Number of Kehamilan % Melahirkan % Keguguran %
women
Narayn (1994) Histeroskopi SM 27 13/27 (48,2) X X/(23)
Bernard (2000) Histeroskopi SM 31 11/31 (35,5) 9/13 (69,3) 3/13 (23)
Varasteh (1999) Histeroskopi SM 36 19/36 (53) 13/36 (36) (31,5)
Garcia and tureck Open SM 15 8/15 (53) 7/15 (46) 1/16 (6)
(1984)
Vercellini (1999) Histeroskopi SM 108 15/40 (38) 14/40 (35) 1/15 (6)
Goldenberg Histeroskopi SM 15 7/15 (47) 6/15 (40) X
(1995)
Fernandez (2001) Histeroskopi SM 59 16/59 (27) 6/59 (10) X

Banyak kasus mengenai sub mukosa fibroid yang mudah di sayat dengan histerektomi trans cervical
dengan tingkat morbiditas relatif lebih rendah dibandingkan dengan metode lain dari miomektomi.
Dibandingkan dengan laparotomi dan miomektomi lain, histeroskopi dikaitan dengan rendahnya
terjadinya ruptur pada uteri selama kehamilan maupun saat melahirkan secara pervaginam. Perlengketan
pada panggul sudah biasa terjadi setelah menjalani miomektomi, namun dapat dicegah. Pada berbagai
penelitian, beberapa penulis menyatakan bahwa reseksi mioma sub mukosa dapat meningkatkan angka
kehamilan.

Pada penelitian dengan menggunakan 134 wanita infertil yang menjalani histeroskopi dan miomektomi
dengan laser atau pembedahan, Ubaldi et al menyatakan 58,9% dapat hamil. Penelitan ini menyimpulkan
bahwa histeroskopi dan miomektomi adalah aman dan merupakan suatu prosedur yang efektif dalam
meningkatkan kehamilan (Ubaldi et al, 1995).
Ketsz et al melaporkan terdapat peningkatan kehamilan pada wanita yang menjalani polymectomy dan
miomektomi dengan histeroskopi selama menjalani pemeriksaan histeroskopi rutin untuk menilai rongga
intra uterin sebagai parameter infertilitas, dibandingkan dengan wanita infertil dengan rongga intra uterin
normal (Ketsz et al, 1998). Bernard et al melaporkan kesuburan dan kehamilan setelah menjalani
histeroskopi dan miomektomi suitable to the characteristics observed from the association between sub mucosal
myomas and
intramural myomas. Higher pregnancy rates were observed in women with a single sub mucosal myoma
resection compared to 2 subjects with 2 or more fibroids (P 0.02). No significant difference was observed in
pregnancy and births rates based on the size and anatomical site of the sub mucosal myoma involved. Likewise,
patients with an absent associated intramural myoma were observed with a significantly higher birth rate (P <
0.03) and a significantly shorter delay in the fertilizing process (P 0.05) compared to pati ents with sub mucosal
and intramural myomas (3.1 months and 4.8 months respectively). This paper concluded that the apparent
advantage of hysteroscopy and myomectomy include lower surgical risks, resulting in selecting sub mucosal
myoma resection as a procedure that could enhance fertility in an infertile women (Bernard et al, 2000).