Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


1. Dapat menimbang dengan menggunakan timbangan biasa dan neraca digital dan
membedakannya.
2. Dapat membedakan larutan standar primer dan larutan standar sekunder.
3. Dapat membuat larutan NaOH dan asam oksalat.
4. Dapat melakukan standarisasi larutan.
5. Menentukan kadar asam asetat yang terdapat dalam asam cuka yang beredar
dipasaran.

1.2 Dasar Teori


1.2.1 Asam Asetat
Asam asetat adalah salah satu contoh dari asam karboksilat yang
mempunyai gugus fungsi COOH yang disebut gugus karboksil karena
merupakan gugus dari karbonil (-CO-) dan gugus hidroksil (-OH). (Tim
Penyusun,2013). Asam cuka memiliki rumus empiris C 2H4O2. Rumus ini
seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH,CH3COOH atau CH3CO2N. Asam
asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak

berwarna dan memiliki titik beku 16,7 . Larutan asam asetat dalam air

merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi


ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku
industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti
polietilena terftalat, selulosa asetat dan polivinil asetat maupun berbagai
macam serat dan kain. (Anonim,2013)
Asam asetat dalam cuka makan memiliki kadar sekitar 20-25%. Asam
asetat murni disebut asam asetat glasial merupakan campuran bening tak

berwarna, berbau sangat tajam dan membeku pada suhu 16,6

membentuk kristal yang menyerupai es atau gelas. Selain itu, asam asetat
digunakan sebagai pereaksi kimia yang menghasilkan berbagai senyawa lain.
Sebagian besar 40-45% dari asam asetat di dunia digunakan sebagai bahan
untuk memproduksi monomer vinil asetat (vinyl acetate monomer). Asam
asetat juga digunakan untuk industri anhidrida asetat dan ester.

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
1
Berdasarkan Badan Standarisasi Nasional (BSN), kadar asam asetat yang
baik untuk dikonsumsi oleh tubuh adalah 3% maksimum 60 mg/kg. (Tim
Penyusun,2013).
Asam asetat merupakan nama trivial atau nama dagang dari senyawa
ini, dan merupakan nama yang paling dianjurkan oleh IUPAC. Nama ini
berasal dari kata Latinacetum, yang berarti cuka. Nama sistematis dari
senyawa ini adalah asam etanoat. Asam asetat glasial merupakan nama trivial
yang merujuk pada asam asetat yang tidak bercampur air. Disebut demikian
karena asam asetat bebas air membentuk kristal mirip es pada 16,7 C, sedikit
di bawah suhu ruang. Singkatan yang paling sering digunakan, dan merupakan
singkatan resmi bagi asam asetat adalah AcOH atau HOAc dimana Ac berarti
gugus asetil, CH3C(=O). Pada konteks asam-basa, asam asetat juga sering
disingkat HAc, meskipun banyak yang menganggap singkatan ini tidak benar.
Ac juga tidak boleh disalahartikan dengan lambang unsur Aktinium (Ac).
Asam asetat diproduksi secara sintesis maupun secara alami melalui
fermentasi bakteri. Sekarang hanya 10% dari produksi asam asetat dihasilkan
melalui jalur alami, namun kebanyakan hukum yang mengatur bahwa asetat
yang terdapat dalam cuka berasal dari proses biologis. Dari asam asam asetat
oleh industri kimia, 75% diantaranya diproduksi melalui karbonilasi metanol.
Sisanya dihasilkan melalui metode-metode alternatif. Produksi total asam
asetat dunia diperkirakan 5 Mt/a (juta ton per tahun), setengahnya di Amerika
Serikat. Eropa memproduksi sekitar 1 Mt/a dan terus menurun, sedangkan
Jepang memproduksi sekitar 0,7 Mt/a. 1,51 Mt/a dihasilkan melalui daur
ulang sehingga total pasar asam asetat mencapai 6,51 Mt/a. Kebanyakan asam
asetat murni dihasilkan melalui karbonilasi. Dalam reaksi ini, metanol dan
karbon monoksida bereaksi menghasilkan asam asetat.

CH3OH + CO CH3COOH .... (1)

Selain itu asam asetat dapat dibuat melalui oksidasi asetaldehida.


Sekarang oksidasi asetaldehida merupakan metode produksi asam asetat kedua
terpenting, sekalipun tidak kompetitif bila dibandingkan dengan metode
karbonilasi metanol. Asetaldehida yang digunakan dihasilkan melalui oksidasi
butana atau nafta ringan, atau hidrasi dari etilena. Saat butana/naftha ringan
dipanaskan bersama udara disertai dengan beberapa ion logam, termasuk ion

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
2
mangan, kobalt, dan kromium, terbentuk peroksida yang selanjutnya terurai
menjadi asam asetat sesuai dengan persamaan reaksi di bawah ini:

2C4H10 + 5O2 4CH3COOH + 2H2O ....(2)

Cuka telah dikenal manusia sejak dahulu kala. Cuka dihasilkan oleh
berbagai bakteria penghasil asam asetat, dan asam asetat merupakan hasil
samping dari pembuatan bir atau anggur. Penggunaan asam asetat sebagai
pereaksi kimia juga sudah dimulai sejak lama. Pada abat ke-3 Sebelum
Masehi, Filsuf Yunani kuno Theophrastos menjelaskan bahwa cuka bereaksi
dengan logam-logam membentuk berbagai zat warna, misalnya timbal putih
(timbal karbonat), dan verdigris, yaitu suatu zat hijau campuran dari garam-
garam tembaga dan mengandung tembaga (II) asetat. Bangsa Romawi
menghasilkan sapa, sebuah sirup yang amat manis, dengan mendidihkan
anggur yang sudah asam. Sapa mengandung timbal asetat, suatu zat manis
yang disebut juga gula timbal dan gula Saturnus. Akhirnya hal ini berlanjut
kepada peracunan dengan timbal yang dilakukan oleh para pejabat Romawi.
Pada abad ke-8, ilmuwan Persia Jabir ibn Hayyan menghasilkan asam asetat
pekat dari cuka melalui distilasi. Pada masa renaisans, asam asetat glasial
dihasilkan dari distilasi kering logam asetat. Pada abad ke-16 ahli alkimia
Jerman Andreas Libavius menjelaskan prosedur tersebut, dan membandingkan
asam asetat glasial yang dihasilkan terhadap cuka. Ternyata asam asetat glasial
memiliki banyak perbedaan sifat dengan larutan asam asetat dalam air,
sehingga banyak ahli kimia yang mempercayai bahwa keduanya sebenarnya
adalah dua zat yang berbeda. Ahli kimia Prancis Pierre Adet akhirnya
membuktikan bahwa kedua zat ini sebenarnya sama. Pada 1847 kimiawan
Jerman Herman Kolbe mensintesis asam asetat dari zat anorganik untuk
pertama kalinya. Reaksi kimia yang dilakukan adalah klorinasi karbon
disulfida menjadi karbon tetraklorida, diikuti dengan pirolisis menjadi tetra
kloro etilena dan klorinasi dalam air menjadi asam trikloroasetat, dan akhirnya
reduksi melalui elektrolisis menjadi asam asetat.
Sejak 1910 kebanyakan asam asetat dihasilkan dari cairan piroligneous
yang diperoleh dari distilasi kayu. Cairan ini direaksikan dengan kalsium

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
3
hidroksida menghasilkan kalsium asetat yang kemudian diasamkan dengan
asam sulfat menghasilkan asam asetat.
Atom hidrogen (H) pada guguskarboksil (COOH) dalam asam
karboksilat seperti asam asetat dapat dilepaskan sebagai ion H+ (proton),
sehingga memberikan sifat asam. Asam asetat adalah asam lemah monoprotik
dengan nilai pKa=4.8. Basa konjugasinya adalah asetat (CH3COO). Sebuah
larutan 1.0 M asam asetat (kira-kira sama dengan konsentrasi pada cuka
rumah) memiliki pH sekitar 2.4.
Asam asetat cair adalah pelarut protik hidrofilik (polar), mirip seperti air
dan etanol. Asam asetat memiliki konstanta dielektrik yang sedang yaitu 6.2,
sehingga ia bisa melarutkan baik senyawa polar seperi garam anorganik dan
gula maupun senyawa non-polar seperti minyak dan unsur-unsur seperti sulfur
dan iodin. Asam asetat bercambur dengan mudah dengan pelarut polar atau
nonpolar lainnya seperti air, kloroform dan heksana. Sifat kelarutan dan
kemudahan bercampur dari asam asetat ini membuatnya digunakan secara luas
dalam industri kimia.
Asam asetat bersifat korosif terhadap banyak logam seperti besi,
magnesium, dan seng, membentuk gas hidrogen dan garam-garam asetat
(disebut logam asetat). Logam asetat juga dapat diperoleh dengan reaksi asam
asetat dengan suatu basa yang cocok. Contoh yang terkenal adalah reaksi soda
kue (Natrium bikarbonat) bereaksi dengan cuka. Hampir semua garam asetat
larut dengan baik dalam air. Salah satu pengecualian adalah kromium (II)
asetat. Contoh reaksi pembentukan garam asetat:

Mg+ 2 CH3COOH (CH3COO)2Mg + H2


.... (3)

NaHCO3 + CH3COOH CH3COONa + CO2 + H2O


.... (4)

Asam asetat mengalami reaksi-reaksi asam karboksilat, misalnya


menghasilkan garam asetat bila bereaksi dengan alkali, menghasilkan logam
etanoat bila bereaksi dengan logam, dan menghasilkan logam etanoat, air dan
karbon dioksida bila bereaksi dengan garam karbonat atau bikarbonat. Reaksi
organik yang paling terkenal dari asam asetat adalah pembentukan etanol

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
4
melalui reduksi, pembentukan turunan asam karboksilat seperti asetil klorida
atau anhidrida asetat melalui substitusi nukleofilik. Anhidrida asetat dibentuk
melalui kondensasi dua molekul asam asetat. Ester dari asam asetat dapat
diperoleh melalui reaksi esterifikasi Fischer, dan juga pembentukan amida.
Pada suhu 440 C, asam asetat terurai menjadi metana dan karbon dioksida,
atau metena dan air.

Gambar 1. Esterifikasi Fischer


Asam asetat dapat dikenali dengan baunya yang khas. Selain itu, garam-
garam dari asam asetat bereaksi dengan larutan besi (III) klorida, yang
menghasilkan warna merah pekat yang hilang bila larutan diasamkan.
(Anonim,2013)
Asam asetat dapat dikenali dengan baunya yang khas. Selain itu, garam-
garam dari asam asetat bereaksi dengan larutan besi (III) klorida, yang
menghasilkan warna merah pekat yang hilang bila larutan diasamkan. Garam-
garam asetat bila dipanaskan dengan arsenik trioksida (AsO 3) membentuk
kakodil oksida ((CH3)2As-O-As(CH3)2), yang mudah dikenali
dengan baunya yang tidak menyenangkan. Gugus asetil yang terdapat pada
asam asetat merupakan gugus yang penting bagi biokimia pada hampir
seluruh makhluk hidup.
Gugus asetil yang terikat pada koenzim A (Asetil-KoA),
merupakan enzim utama bagi metabolisme karbohidrat dan lemak. Namun
demikian, asam asetat bebas memiliki konsentrasi yang kecil dalam sel,
karena asam asetat bebas dapat menyebabkan gangguan pada mekanisme
pengaturan pH sel. Berbeda dengan asam karboksilat berantai panjang
(disebut juga asam lemak), asam asetat tidak ditemukan

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
5
pada trigliserida dalam tubuh makhluk hidup. Sekalipun demikian, trigliserida
buatan yang memiliki gugus asetat, triasetin (trigliserin asetat), adalah zat
aditif yang umum pada makanan, dan juga digunakan dalam kosmetika dan
obat-obatan. Asam asetat diproduksi dan diekskresikan oleh bakteri dari genus
Acetoacter dan spesies Clostridium acetobutylicum.
1.2.2 Asam Oksalat
Asam oksalat adalah asam dikarboksilat yang hanya terdiri dari dua
atom C pada masing masing molekul, sehingga dua gugus karboksilat berada
berdampingan. Asam oksalat dalam keadaan murni berupa senyawa kristal,

larut dalam air (8% pada 10 ) dan larut dalam alkohol. Asam oksalat

membentuk garam netral dengan logam alkali (NaK) yang larut dalam air (5-
25%). Sementara itu dengan logam alkali tanah, termasuk Mg atau dengan
logam berat, mempunyai kelarutan yang sangat kecil dalam air. Asam oksalat
terionisasi dalam media asam kuat. Asam oksalat dapat ditemukan dalam
bentuk bebas ataupun dalam bentuk garam. Bentuk yang banyak ditemukan
adalah bentuk garam. Kedua bentuk asam oksalat tersebut terdapat baik dalam
bahan nabati maupun hewani. (Andri, 2013)
1.2.3 Natrium Hidroksida (NaOH)
Natrium Hidroksida (NaOH) berwarna putih atau praktis putih, massa
melebur, berbentuk pellet, serpihan atau batang atau bentuk lain. NaOH sangat
basa, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur. Bila dibiarkan dalam
udara akan cepat menyerap karbon dioksida dan lembab. Kelarutan mudah
larut dalam air dan dalam etanol tetapi tidak larut dalam eter. Titik leleh 318

serta titik didih 1390 . NaOH membentuk basa kuat bila

dilarutkan dalam air, NaOH murni merupakan padatan berwarna putih,


densitas NaOH adalah 2,1 gr/ml. Senyawa ini sangat mudah membentuk ion
natrium dan hidroksida. (Anonim,2013)
1.2.4 Indikator PP (Phenolptalein)
Indikator PP adalah asam dwiprotik yang tak berwarna. Mula-mula zat
ini berdisosiasi menjadi suatu bentuk tak berwarna dan kemudian dengan
kehilangan proton kedua, menjadi ion dengan sistem konjugasi maka
timbullah warna merah.

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
6
Dalam titrasi asam lemah, pemilihan indikator lebih terbatas. Untuk
suatu asam dengan Pka 5 kira-kira Pka asam asetat, pH akan lebih tinggi
daripada 7 pada titik kesetaraan dan perubahan pH relatif kecil. Phenolptalein
berubah warna kira-kira pada titik kesetaraan itu dan merupakan suatu
indikator yang cocok.
Maka sebagai aturan umum, orang sebaiknya memilih suatu indikator
yang berubah warna kira-kira pada pH kesetaraan titik titrasi. Untuk asam-
asam lemah, pH titik kesetaraan diatas 7 dan biasanya dipilih phenolptalein.
Untuk basa lemah, dimana pH titik kesetaraan dibawah 7, biasanya digunakan
metal merah, bromtimol biru, dan phenolptalein. (Tim Penyusun, 2013)
1.2.5 Larutan Standar
Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya diketahui secara
pasti atau dapat pula diartikan sebagai bahan kimia yang digunakan untuk
menetapkan konsentrasi larutan standar sekunder atau larutan yang harga
konsentrasinya masih dapat berubah karena pengaruh lingkungan.
Dengan demikian, maka dikenal ada dua jenis larutan yaitu larutan
standar primer dan larutan standar sekunder. Sedangkan proses penetapan
konsentrasinya (biasanya dalam sistem kenormalan). Larutan standar sekunder
dengan menggunakan larutan standar primer disebut proses standarisasi. Cara
ini harus dilakukan mengingat jumlah pereaksi kimia yang diperoleh dengan
keaadan yang sangat murni jumlahnya terbatas.

Reaksi antara titran dengan zat yang dipilih sebagai standar primer harus
memenuhi syarat untuk analisa titrasi volumentri, yaitu:

1. Harus mudah diperoleh dalam bentuk murni atau dalam keadaan


kemurniaan konsentrasinya diketahui dengan harga yang wajar. Pada
umumnya zat pemotong r tidak melebihi 0,01 sampai 0,02% dan harus
mungkin diuji ketidakmurniannya dengan uji-uji yang diketahui
kepekatannya.
2. Zat itu harus tetap, harus mudah dikeringkan dan tidak terlalu
hidroskopis, tidak berkurang beratnya jika terkena udara, garam
hidratnya biasanya tidak dipergunakan dengan standar primer.
3. Mempunyai bobot ekuivalen tinggi agar dapat mengurangi konsentrasi
kesalahan pada penimbangan.

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
7
Terdapat bermacam-macam larutan standar, antara lain sebagai berikut:
1. Standar primer asam
KH C 8 H 4 O4
(kalium hydrogen phatalat)
C8 H 8 COOH
(asam benzoat)
NH 4 . SO 3 H
(asam sulfamat)
H 2 C 2 O 4 .2 H 2 O
(asam oksalat)
2. Standar primer basa
NaCO3
( natrium karbonat)
Na2 B4 O 7 . H 2 O
(boraks)

(Tim penyusun, 2013)

1.2.6 Dasar Volumetri


Volumetri (titrasi) dilakukan dengan cara menambahkan (mereaksikan)
sejumlah volume tertentu (biasanya dari buret) larutan standar (yang sudah
diketahui konsentrasinya dengan pasti) yang diperlukan untuk bereaksi secara
sempurna dengan larutan yang belum diketahui konsentrasinya. Untuk
mengetahui reaksi berlangsung sempurna, maka digunakan larutan indikator
yang ditambahkan ke dalam larutan yang dititrasi. (Wiryawan A, 2013)
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis volumetrik
adalah sebagai berikut:
1. Reaksinya harus berlangsung sangat cepat.
2. Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan
reaksi yang kuantitatif/stoikiometrik.
3. Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen tercapai,
baik secara kimia maupun secara fisika.
4. Harus ada indikator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan secara
kimia atau fisika.
5. Indikator potensiometrik dapat digunakan.

1.2.7 Titik Ekuivalen


Titik ekuivalen adalah titik akhir titrasi, yaitu dimana suatu titrasi akan
dihentikan karena telah mencapai suatu kesetaraan. Untuk mengetahui kapan
suatu titrasi dikatakan setara ialah bila pada larutan titrit telah terjadi
perubahan warna. Hal ini disebabkan karena penambahan indikator sebagai
petunjuk. (Tim Penyusun, 2013)

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
8
1.2.8 Titrasi Asam Basa (Asidimetri-Alkalimetri)
Titrasi asam-basa sering disebut asdimetri-alkalimetri. Kata metri barasal
dari Yunani yang berarti ilmu, proses atau seni mengukur. (Ulanisa, 2013)
Reaksi dasar dari titrasi asam basa yaitu penetralan atau netralisasi yang
menghasilkan garam dan air. Misalnya reaksi antara natrium hidroksida dan
asam klorida.

NaOH +CH 3 COOH CH 3 COONa+ H 2 O .... (5)

Bila diukur berapa melarutan asam dengan titar tertentu diperlukan


untuk menetralkan suatu larutan basa, kadarnya atau titarnya dicari maka
pekerjaan itu disebut asidimetri sedangkan penitaran sebaliknya, asam dengan


basa yang titarnya diketahui disebut alkalimetri. Ternyata ion OH setara

+
dengan 1 ion H , maka dapat disimpulkan bahwa 1 gram setara asam atau

+
basa adalah jumlah asam yang mengandung ion H atau 1 gram ion


OH , dengan kata lain 1 gram setara (1 gram ekuivalen) asam atau basa

yang berkedudukan n adalah 1/n gram mol zat terlarut.

Rumus umum yang digunakan dalam penentuan kadar asam asetat adalah:
V 1 N 1 =V 2 N 2 .... (6)

Keterangan:
V 1=Volume penitar (ml)

N 1=Normalitas penitar

V 2=Volume Sampel(ml )

N 2=Normalitas sampel

(Tim Penyusun, 2013)

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
9
1.2.9 Cara Mengetahui Titik Ekuivalen
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa:
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi
dilakukan, kemudian membuat plot antara pH denan volume titran
untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut
adalah titik ekuvalen.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titran
sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna
ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi dihentikan.
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak
diperlukan alat tambahan dan sangat praktis.
Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang
perubahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indikator diusahakan
sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes. Untuk
memperoleh ketetapan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedikit
mungkin dengan titik ekuivalen, hal ini dapat dilakukan dengan memilih
indikator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Keadaan
dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator
disebut sebagai titik akhir titrasi. (Indigo Morie, 2013)

BAB II

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
10
METODOLOGI

2.1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan

1. Labu ukur 100 ml 9. Klem

2. Neraca digital 10. Statif

3. Pipet volume 10 ml 11. Bulp

4. Pipet volume 25 ml 12. Corong

5. Pipet ukur 10 ml 13. Kaca arloji

6. Gelas kimia 250 ml 14. Spatula

7. Erlenmeyer 250 ml 15. Batang pengaduk

8. Buret 16. Botol Aquadest

II. Bahan yang digunakan


1. Padatan NaOH
2. Padatan asam oksalat ( C2H2O4 )
3. Indikator PP
4. Aquadest
5. Sampel cuka (cuka makan dixie, cuka masak segitiga 79,
dan cuka masak mangga)

III. 2.2 Prosedur kerja


IV.
V. 2.2.1 Pembuatan larutan NaOH 0,1 N

1. Menimbang padatan NaOH sebanyak 0,4 gram dengan menggunakan


neraca digital.
2. Memasukkan padatan NaOH ke dalam gelas kimia dan menambahkan
air lalu diaduk hingga padatan terlarut sempurna.

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
11
3. Memasukan larutan NaOH ke dalam labu ukur dan menambahkan
aquadest sampai tanda batas 100 ml.

VI.

2.2.2 Pembuatan Larutan Asam Oksalat 0,1 N


VII.
1. Menimbang padatan asam oksalat sebanyak 0,63 gram dengan
menggunakan neraca digital.
2. Memasukkan padatan asam oksalat ke dalam gelas kimia dan
menambahkan aquadest lalu diaduk hingga padatan terlarut sempurna.
3. Memasukan larutan asam oksalat ke dalam labu ukur dan
menambahkan aquadest sampai tanda batas 100 ml.
VIII.
2.2.3 Standarisasi NaOH 0,1 N dengan H2C2O4 0,1 N
IX.
1. Memipet larutan NaOH 0,1 N sebanyak 10 ml menggunakan pipet
volume dan memasukkannya ke dalam Erlenmeyer 250 ml.
X. 2. Kemudian menambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes.
3. Menitrasi dengan menggunakan penitar asam oksalat 0,1 N hingga
terjadi perubahan warna menjadi merah muda.
4. Mencatat volume penitar yang digunakan.
5. Percobaan ini dilakukan secara duplo.
6. Selanjutnya menentukan konsentrasi NaOH dengan rumus pada
persamaan 6.

XI. 2.2.4 Penentuan Kadar Asam Asetat (CH3COOH) dalam


Cuka Perdagangan

1. Memipet larutan cuka perdagangan sebanyak 10 ml (cuka makan


dixie, cuka masak segitiga 79, dan cuka masak mangga) dengan
menggunakan pipet ukur lalu memasukkan ke dalam labu ukur dan
mengencerkan hingga tanda batas labu ukur 100 ml.
2. Memipet larutan tersebut sebanyak 10 ml dengan menggunakan pipet
volume lalu memasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml.
3. Menambahkan Indikator PP sebanyak 3 tetes.
4. Menitrasi dengan NaOH 0,1 N yang telah di standarisasi hingga
terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda.
5. Mencatat volume NaOH 0,1 N yang digunakan.
6. Percobaan ini dilakukan secara duplo.
7. Mencatat kadar asam asetat yang terdapat dalam asam cuka.

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
12
XII. 2.3 Diagram Alir

XIII. 2.3.1 Pembuatan Larutan NaOH 0,1 N


XIV.
Menimbang padatan NaOH sebanyak 0,4 gram dengan kaca
arloji dan menggunakan neraca digital
XV.
XVI.
Memasukkan ke dalam gelas kimia, dan melarutkan dengan
aquadest menggunakan batang pengaduk
XVII.
XVIII.
Mengencerkan Larutan NaOH ke dalam labu ukur hingga
tanda batas
XIX.

XX. 2.3.2 Penentuan Kadar Asam Asetat dalam Cuka Perdagangan

XXI.
Memipet larutan cuka perdagangan sebanyak 10 ml dengan
menggunakan pipet ukur ke dalam labu ukur 100 ml dan
XXII.
menambahkan aqudest hingga tanda batas

Memipet larutan tersebut sebanyak 10 ml dengan pipet ukur


dan memasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml kemudian
menambahkan 3 tetes indikator PP

Menitrasi dengan NaOH yang telah distandarisasi hingga


terjadi perubahan warna larutan menjadi warna merah muda
XXIII.

XXIV. Melakukan percobaan pada masing-masing sampel secara


duplo kemudian menghitung kadar asam asetat dalam asam
XXV. 2.3.3 Pembuatan Larutan Asam Oksalat

XXVI. Menimbang padatan asam oksalat sebanyak 0,63 gram dengan


kaca arloji dan menggunakan neraca digital
XXVII.
XXVIII.
memasukkan ke dalam gelas kimia, melarutkan dengan
XXIX. aquadest menggunakan batang pengaduk

XXX.
Memasukan campuran asam oksalat dan aquadest ke dalam
labu ukur lalu menambahkan aquadest hingga tanda batas
Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar
Politeknik Negeri Samarinda
13
XXXI.

XXXII.

XXXIII. 2.3.4 Standarisasi NaOH 0,1 N dengan Asam Oksalat

XXXIV. Memipet larutan NaOH 0,1 N sebanyak 10 ml dengan


menggunakan pipet ukur ke dalam labu ukur 100 ml dan
XXXV. menambahkan 3 tetes indikator PP

XXXVI.
Menitrasi dengan menggunakan penitrat asam oksalat 0,1 N
XXXVII. hingga terjadi perubahan warna larutan dari merah muda ke
bening (tidak berwarna)
XXXVIII.

XXXIX.
Mencatat berapa banyak volume penitrat yang digunakan,
XL. kemudian percobaan dilakukan secara duplo, konsentrasi
NaOH ditentukan dengan rumus: V1.N1 = V2.N2
XLI.

2.4 Safety Alat dan Bahan


XLII. 1. Jas Lab
XLIII. Pada setiap praktikum yang dilaksanakan, dibutuhkan jas
lab untuk melindungi tubuh dari cairan asam atau larutan yang berbahaya
lainnya. Selain itu jas lab berfungsi sebagai safety yang wajib digunakan
saat praktikum.
XLIV.
XLV.
XLVI. 2. Sepatu
XLVII. Pada setiap praktikum yang dilaksanakan, diwajibkan untuk
memakai sepatu untuk melindungi bagian kaki dari cairan asam atau
larutan yang berbahaya lainnya. Selain itu sepatu berfungsi sebagai safety
yang wajib digunakan saat praktikum.
XLVIII.

XLIX. 3 Masker
L. Pada praktikum ini, digunakan larutan asam asetat
(CH3COOH). Larutan asam asetat (CH3COOH) memiliki bau yang sangat
tajam, sehingga dalam praktikum ini diwajibkan untuk memakai masker

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
14
sebagai safety agar tidak terhirup aroma asam asetat yang sangat
menyengat.

LI.
LII.
LIII.
LIV.
LV.
LVI.
LVII.
LVIII.
LIX.
LX.
LXI.
LXII.
LXIII.
LXIV.
LXV. BAB III
LXVI. HASIL DAN PEMBAHASAN
LXVII. 3.1 Data Pengamatan
LXVIII. 3.1.1 Pembuatan Larutan
LXIX. Tabel 1 Pembuatan Larutan
LXX.
LXXI. Padatan LXXII. Massa (gram)
No.
LXXIII.
LXXIV. NaOH LXXV. 0,4
1.
LXXVI.
LXXVII. Asam Oksalat LXXVIII. 0,63
2.
LXXIX.

LXXX. 3.1.2 Standarisasi NaOH 0,1 N dengan Asam Oksalat


LXXXI. Tabel 2 Standarisasi NaOH 0,1 N dengan Asam Oksalat
LXXXII. LXXXIII.
T Volu
LXXXIV. Volu
LXXXV. Rat
i me me a-
t Rat
LXXXVI. Pengamat
LXXXVIII. Titra
LXXXIX. Titras
r a an
si 1 i2
i (ml
(ml) (ml)
t )
XCVI. Larutan
XCII. N NaOH
a XCV. 9,9
XCIII. 10 XCIV. 9,9 CI. berubah
O 5 menjadi
H
CVI. Bening
CVII.
CVIII. 3.1.3 Penentuan Kadar Asam Asetat Dalam Cuka Perdagangan

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
15
CIX. Tabel 3 Penentuan Kadar Asam Asetat dalam Cuka
Perdagangan
CXII. Volume Penitrat CXIII. Pengamatan
CXI. SamCXVI. V
CX. pel 1

No. Cuk (
CXIX.
a m
CXVII.
l CXVIII. V Rata-
) V2(ml) rata (ml)
CXX.CXXI. DixiCXXII. CXXIII.
4 CXXV. Larutan cuka
1. e 5 45 CXXIV. 45 perdagangan
CXXVII. Segi
CXXVIII. 1
CXXVI. tiga CXXIX.
6 CXXXI. berubah warna
2. 79 16,3 CXXX. 16,15 menjadi
CXXXIV. 1
,
CXXXII.
CXXXIII. Man CXXXV.
2
3. gga 1,4 CXXXVI. 1,3 CXXXVII. merah muda
CXXXVIII.
CXXXIX. 3.2. Hasil perhitungan
CXL. Tabel 4 Hasil Perhitungan Kadar Asam Asetat

CXLVII. V
CXLVI. V
CXLV. N S
CXLIV. BM
CXLII. Sa N CXLVIII.
a Kada
CH N
m a m r
3C a
pe O p Asa
CXLI. CXLIII. OO O
l H e m
No. Fp H H
C l Aset
(gr/ (
u ( at
mol m (
ka N (%)
) l m
)
) l
)
CLIII. 0
,
CL. Di CLIV. 4 CLV. 1
CXLIX. CLI. 0
xi CLII. 60 5 CLVI.
0 26,86
1. 10 9
e
9
5
CLXI. 0
CLXII. 1
CLVIII. Se
, 6
git CLXIII. 1
CLVII. CLIX. 0 ,
ig CLX. 60 CLXIV.
0 9,64
2. 10 9 1
a
9 5
79
5
CLXV.
CLXVI. CLXVII.
M CLXVIII. 60
CLXIX. C
0 LXX. CLXXI.
1 CLXXII.
1 0,77

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
16
,
an 0 ,
1 0
3 gg 9 3
a 9
5

CLXXIII.
CLXXIV.
CLXXV. 3.3 Pembahasan
CLXXVI. Pada praktikum ini dilakukan beberapa proses, seperti
pengenceran, titrasi, dan standarisasi larutan. Pengenceran dilakukan untuk
memperkecil kesalahan pada saat titrasi, karena semakin encer larutan asam
cukanya, maka semakin teliti dalam proses titrasi. Standarisasi dilakukan
untuk mengetahui konsentrasi NaOH yang sebenarnya. NaOH tidak dapat
dipakai sebagai larutan standar primer disebabkan karena NaOH bersifat
hidroskopis. Oleh sebab itu NaOH harus dititrasi terlebih dahulu dengan
larutan asam oksalat agar dapat dipakai sebagai larutan standar primer. Asam
oksalat digunakan sebagai peniternya, karena asam oksalat merupakan
larutan standar primer. Berdasarkan perhitungan, normalitas NaOH yang
didapat dari standarisasi adalah 0,0995 N.
CLXXVII. Pada percobaan yang dilakukan diperoleh kadar asam asetat yang
terdapat pada cuka dixie sebesar 26,86%, pada cuka segitiga 79 sebesar
9,64%, dan pada cuka manga sebesar 0,77%. Kadar asam asetat yang
terdapat pada cuka dixie lebih besar daripada kadar asam asetat yang
terdapat pada asam segitiga 79 dan asam cuka mangga. Hal ini dikarenakan
volume peniter pada asam cuka dixie lebih besar dari volume peniter pada
cuka segitiga 79 dan cuka mangga. Volume peniter asam cuka dixie sebesar
45 ml, segitiga 79 sebesar 16,15 ml, dan pada asam cuka mangga sebesar 1,3
ml. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kadar asam asetat pada asam cuka
berbanding lurus dengan volume peniternya.
CLXXVIII. Berdasarkan Badan Standarisasi Nasional, kadar asam asetat yang
baik untuk dikonsumsi oleh tubuh adalah dengan kadar 3%. Oleh karena itu
untuk pemakaian cuka Dixie dan cuka segitiga 79 sebaiknya diencerkan
terlebih dahulu, sedangkan untuk cuka mangga dapat dikonsumsi tanpa
harus diencerkan karena kadar asam asetat yang terdapat pada cuka mangga
dibawah 3 % yaitu sebesar 0,77%.
CLXXIX.

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
17
CLXXX. BAB IV
CLXXXI. PENUTUP
CLXXXII.
CLXXXIII. 4.1 Kesimpulan

1. Standarisasi larutan NaOH bertujuan untuk menentukan konsentrasi


larutan NaOH yang sebenarnya.
2. Dari hasil percobaan diperoleh konsentrasi NaOH yang telah distandarisasi
sebesar 0,0995 N.
3. Pada pembuatan larutan NaOH 0,1 N massa padatan NaOH yang
diperlukan sebanyak 0,4 gram dan pada pembuatan larutan asam oksalat
0,1 N massa padatan asam oksalat yang diperlukan sebesar 0,63 gram.
4. Kadar asam asetat yang terdapat pada cuka makan dixie sebesar 26,86%,
pada cuka masak segitiga 79 sebesar 9,64%, dan pada cuka masak
mangga sebesar 0,77%.
4.2 Saran
CLXXXIV.
1. Pada setiap materi pembelajaran yang memungkinkan untuk diadakan
praktikum, diharapkan untuk dilakukan praktikum untuk membuktikan
kesesuaian materi dengan teori-teori yang ada pada setiap bab.
2. Pada saat melakukan titrasi, diharapkan harus cermat dan teliti agar pada
saat perhitungan di dapat hasil yang sesuai pada teori yang ada.
3. Sebelum praktikum, diharapkan mahasiswa mengetahui mengenai materi
yang akan di ujikan.
4. Mahasiswa diharapkan menggunakan alat safety pada saat praktikum.

CLXXXV.
CLXXXVI.
CLXXXVII.
CLXXXVIII.
CLXXXIX. DAFTAR PUSTAKA
CXC. Andri. 2013. Asam oksalat versus
kalsiumhttp://www.snapshots/asam_oksalat_versus_ted. Diakses 17
Desember 2013.20.15 WITA.
CXCI.

CXCII. Anonim. 2013. Asam Asetat.


CXCIII. http://id.wikipedia.org/wiki/Asam-Asetat. Diakses 17 Desember 2013.
17.07 WITA.
CXCIV.
CXCV. Anonim. 2013. Sifat-sifat Bahan Kimia.
CXCVI. http://www.snapshots/sifat-sifat-bahan-kimia-ki.ted. Diakses 18 Desember
CXCVII. 2013. 22.35 WITA.
CXCVIII.

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
18
CXCIX. Morre Indigo. 2013. Titrasi Asam Basa.
http://www.belajarkimia.com./2008/04/titrasi-asam-basa. Diakses 18
Desember 2013. 23.20 WITA.
CC.
CCI. Tim Penyusun. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Samarinda: Polnes.
CCII.
CCIII. Utonira. 2013. Asidi-alkali metri. http://www/snapshots/asidi-alkali-metri-
%C2%-ab.ted. Diaskes 20 Desember 2013. 08.05 WITA.
CCIV.
CCV. Wiryawan A. 2013. Prinsip Titrasi. http://www.chem-is-try.org. Diaskes : 20
Desember 2013. 10.30 WITA.
CCVI.
CCVII.
CCVIII.
CCIX.
CCX.
CCXI.
CCXII.

XIII.
XIV.
CXV. LAMPIR
AN
CCXVI.
CCXVII.
CCXVIII.
CCXIX.
CCXX.

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
19
CCXXI.
CCXXII.
CCXXIII. PERHITUNGAN
CCXXIV.

Massa padatan NaOH 0,1 N Massa padatan As.Oksalat 0,1 N


Diket : Mr NaOH = 40 gr/mol Diket : MrAs.Oksalat = 126
gr/mol
N NaOH = 0,1 N
V NaOH = 100 ml = N As.Oksalat = 0,1 N
0,1 L VAs.Oksalat = 100 ml = 0,1
Ditanya : Massa NaOH L
= ............? Ditanya : Massa
Jawab : n 1 = n2 As.Oksalat= .......?
MxV= Jawab : n 1 = n2
Massa NaOH MxV=
Mr NaOH Massa As . Oksalat
Mr As .Oksalat
NxV=
Massa NaOH NxV=
Mr NaOH Massa As . Oksalat
Mr As .Oksalat
0,1
1 x 0,1 = 0,1
2 x 0,1 =
Massa NaOH
40 Massa As . Oksalat
126
M
assa NaOH = 0,4 gram Mass
a NaOH = 0,63 gram

Praktikum Kimia Dasar Laboratorium Kimia Dasar


Politeknik Negeri Samarinda
20


Konsentrasi NaOH yang telah distandarisasi

Diket : V NaOH = 10 ml

V1 H2C2O4 = 10 ml

V2 H2C2O4 = 9,9 ml

V rata-rata = 9,95 ml

N H2C2O4 = 0,1 ml

Ditanya : N NaOH = ...............?

Jawab : N1 As.Oks x V As.Oks = N NaOH x V NaOH

0,1 x 9,95 = N NaOH x 10

N NaOH = 0,0995 N



Kadar Asam Asetat Dalam Cuka Perdagangan
Volume Pengenceran 100 ml
Diket : Fp = Volume Sampel = 10 ml = 10

BE CH3COOH = BM CH3COOH : Valensi = 60 : 1


= 60
Rata-Rata V NaOH (Cuka Dixie) = 45 ml
Rata-Rata V NaOH (Cuka segitiga 79) = 16,15 ml
Rata-Rata V NaOH (Cuka Mangga) = 1,3 ml
N NaOH = 0,0995 N
V Sampel = 10 ml

Dit :a) Kadar CH3COOH pada cuka DIXIE = ...............?
b) Kadar CH3COOH pada cuka SEGITIGA 79 = .?
c) Kadar CH3COOH pada cuka MANGGA = ..?
Jawab :
a) Kadar CH3COOH pada cuka Dixie =
Fp x V NaOH x N NaOH x BE CH 3 COOH
x 100
V Sampel x 1000
10 x 45 x 0,0995 x 60
= 10 x 1000 x 100 %

= 26,86 %

b) Kadar CH3COOH cuka segitiga 79 =
Fp x V NaOH x N NaOH x BE CH 3 COOH
x 100
V Sampel x 1000

10 x 16,15 x 0,0995 x 60
= 10 x 1000 x 100 %

= 9,64 %

c) Kadar CH3COOH cuka Mangga =
Fp x V NaOH x N NaOH x BE CH 3 COOH
x 100
V Sampel x 1000

10 x 1,3 x 0,0995 x 60
= 10 x 1000 x 100 %

= 0,77 %