Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Upaya untuk menurunkan angka infeksi yang didapat di rumah sakit (Hospital
acquired infections, HAIs) merupakan upaya yang wajib dilakukan oleh setiap rumah
sakit karena merupakan salah satu indikator penting dari mutu pelayanan keselamatan
pasien yang saat ini menjadi prioritas bagi setiap rumah sakit (RS). Upaya tersebut
dapat dicapai dengan memasukkan unsur pencegahan dan pengendalian infeksi di
RS (PPIRS) dalam setiap pelayanan yang dilakukan di rumah sakit. Untuk itu kegiatan
PPIRS perlu membudaya dan menjadi bagian dari prosedur pelayanan yang diilakukan
oleh setiap pegawai RS. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 382/Menkes/SK/III/2007 tentang Pedoman Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan Lainnya dan
keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 270/Menkes/SK/III/2007
tentang Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit
dan Fasilitas Kesehatan Lainnya.

Pelaksanaan tugas dan fungsi Sub Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
(PPI) beserta segenap sumber daya yang digunakan perlu dipertanggungjawabkan.
Untuk itulah disusun laporan triwulan Sub Komite Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi tahun 2014.

B. Maksud dan tujuan

Laporan triwulan 1 pencegahan dan pengendalian infeksi tahun 2014 sebagai


bentuk pertanggungjawaban secara tertulis atas pelaksanaan tugas-tugas sub komite
PPI yang telah dilaksanakan pada triwulan 1 tahun 2014.

C. Tugas pokok dan fungsi

Dengan dikeluarkannya keputusan menteri kesehatan nomor


382/Menkes/SK/III/2007 dan nomor 270/Menkes/SK/III/2007 maka rumah sakit di
seluruh Indonesia harus menerapkan dan melaksanakan pencegahan dan
pengendalian infeksi di semua area pelayanan..................... Sesuai dengan tugas
pokoknya :
1. Membuat program tahunan pengendalian infeksi.

1
2. Melaksanakan program pengendalian infeksi.
3. Berkoordinasi dengan unit kerja dalam implementasi program pengendalian
infeksi.
4. Penyempurnaan standar prosedur operasional perencanaan, pelaksanaan ,
pengawasan dan pelaporan dalam pengendalian infeksi.
5. Melaksanakan surveilans infeksi secara berkesinambungan.
6. Memberikan edukasi kepada staf tentang pengendalian infeksi
7. Membuat rekomendasi kepada pimpinan terkait pencegahan dan pengendalian
infeksi.
8. Mengevaluasi dan memonitor hal-hal yang berkaitan dengan infeksi.
9. Membuat laporan program pengendalian infeksi

D. Sistematika penulisan
Sistematika penulisan laporan tahunan tahun 201.., ................adalah sebagai berikut :
- Kata pengantar
- Daftar isi
- Pendahuluan
- Latar belakang
- Maksud dan tujuan
- Tugas pokok dan fungsi
- Sistematika penulisan
- Hasil kerja komite pencegahan dan pengendalian infeksi.
- Laporan surveilans tahun...
- Penutup

BAB II
HASIL KERJA

I. SDM dan Pengorganisasian

a. Kondisi saat ini di.........


Sampai dengan akhir bulan Maret 2014 masih berbentuk sub komite
PPIRS dibawah komite mutu. Pembentukan menjadi komite masih
dalam proses.
Dalam rangka persiapan menjadi komite dan peningkatan pengetahuan
anggota komite dan tim PPIRS terhadap pencegahan dan pengendalian

2
infeksi maka diselenggarakan pelatihan in house training PPI dasar
pada tanggal 18 sampai dengan 20 Maret 2014.
Diharapkan setelah terbentuk komite dan tim PPIRS dapat bekerja
sesuai dengan tugas dan fungsinya serta mempunyai persepsi dan ilmu
yang memadai.

b. Evaluasi
1. IPCO: yang ada saat ini hanya belum ada,
2. IPCN : sesuai surat tugas 2 orang dengan 1 orang IPCN yang
purnawaktu dan 1 masih bertugas di unit CLP dan paruh waktu.
3. IPCLN : belum terbentuk tim IPCLN,
4. Sedang proses pembentukan Komite PPI yang anggotanya
terdiri dari berbagai profesi dan bidang ilmu seperti dari dokter
ahli infeksi, dokter perwakilan SMF, petugas farmasi, rumah
tangga, sanitasi, CSSD & laundry, petugas laboratorium,
petugas kamar jenazah dan perawat .
c. Rencana tindak lanjut :
1. Tindak lanjut pembentukan komite PPIRS dan tim PPI.
2. Menyusun dan merevisi program kerja , menyusun pedoman
pengorganisasian dan tata hubungan kerja komite PPIRS,
menyusun Renstra komite PPIRS, menyusun RBA Komite
PPIRS, menyusun ABK komite PPIRS, menyusun indikator
kinerja unit dan indikator kinerja individu komite dan Tim PPIRS.

II. Kegiatan program PPIRS.


A. Surveilans.
a. Surveilans Infeksi Rumah Sakit (IRS) dilakukan dalam dua bentuk
kegiatan, surveilans pasif melalui formulir surveilans IRS pada semua
pasien rawat inap dan surveilans aktif di ruang NICU dan ICU oleh IPCN.
Surveilans pasif dikerjakan oleh IPCN dibantu oleh kepala ruangan dan
clinical instruktur di ruangan rawat inap dan rawat jalan serta perawat
penanggung jawab pasien.surveilans pasif dilakukan terus menerus
terhadap kejadian IADP, ISK HAP dan IDO. Surveilans aktif dilakukan oleh
IPCN setiap hari terus menerus pada pasien NICU dan ICU terhadap
angka kejadian IADP,ISK, HAP, IDO dan VAP.

b. Penyusunan laporan surveilans dilakukan secara bulanan, triwulan,


semester dan tahunan. Laporan surveilan sudah dibuat secara triwulan dan
tahunan untuk tahun 2014, untuk data lengkap hasil surveilans dapat dilihat
pada laporan surveilans.

c. Surveilans IDO secara aktif dilakukan mulai dari kamar operasi sampai
dengan poliklinik, untuk lengkapnya dapat dilihat di laporan surveilans.

3
d. Evaluasi kegiatan surveilans :

- Pelaksanaan surveilans dengan menggunakan formulir pada semua pasien


rawat inap masih mengalami kendala terkait kelengkapan pengisian
formulir surveilans akibat belum ditetapkannya IPCLN di ruangan terkait
berdasarkan Surat Keputusan Direktur, dan belum dapat
disosialisasikannya uraian tugas dan fungsi IPCLN. Masih jarangnya
pelaporan kejadian infeksi oleh Ka Ru mengingat tugas Ka. Ru sangat
banyak sehingga sistem pelaporan untuk surveilans pasif belum maksimal
dan esadaran mengisi formulir surveilans masih rendah.
- Terkait pencegahan infeksi rumah sakit sudah dilakukan sosialisasi standar
operasional prosedur pencegahan IDO, IADP, ISK, HAP dan VAP melalui
pelatihan PPI tentang pencegahan IRS pada 206 perawat. IPCN masih
belum mampu melakukan monitoring yang terus menerus terutama dalam
hal praktik-praktik keperawatan yang berhubungan dengan pencegahan
infeksi karena ruang lingkup yang terlalu luas.
- Belum dilakukan monitoring pengisian formulir secara rutin dan
berkesinambungan sebagai cara untuk melakukan bimbingan tentang
pengisian formulir.

e. Rencana tindak lanjut


1. Melaksanakan surveilans IRS secara berkesinambungan sesuai dengan
standar yang ditetapkan.
2. Memberikan pelatihan dan desiminasi praktik pencegahan infeksi dalam
hal pencegahan IADP, ISK, HAP, IDO dan VAP.
3. Melakukan sosialisasi ulang tentang pengisian formulir surveilans
kepada IPCLN.
4. Melakukan monitoring dan evaluasi pengisian formulir surveilans.
5. Penyusunan laporan surveilans triwulan, semester dan tahunan.
6. Melakukan rapat jika terjadi KLB berdasarkan hasil surveilans.
7. Mengikuti seminar, workshop terkait surveilans.
8. Menyusun ICRA tentang HAIs.
9. Menyusun program kerja surveilans berdasarkan ICRA.

B. Kebersihan tangan.
a. Pengadaan fasilitas handrubs untuk rawat inap dan rawat jalan memasuki
pengadaan fasilitas handrubs tahap 2 sebanyak 200 titik pemasangan
handrubs, dan diharapkan target 500 titik yang direncanakan dapat
terpenuhi. Selain itu mendorong unit terkait dalam hal melengkapi dan
mengadakan fasilitas kebersihan tangan sesuai standar yang sudah
ditentukan.

4
b. Audit kepatuhan cuci tangan untuk petugas kesehatan sudah dilakukan di
ruang rawat inap dan audit akan diulang setiap 3 bulan sekali.
Hasil audit cuci tangan pada bulan Februari selama 1 minggu di ruangan
rawat inap dan rawat jalan terhadap dokter, perawat, pekarya dan petugas
kesehatan lain (petugas laboratorium, petugas fisioterapi, petugas
radiologi) adalah ;
- Prilaku cuci tangan sebelum menyentuh pasien untuk dokter ...%,
perawat ...%. Pekarya ..% dan petugas kesehatan lain ...%.
- Prilaku cuci tangan setelah menyentuh pasien untuk dokter ....%,
perawat ....%, pekarya ..% dan petugas kesehatan lain ...%.
- Prilaku cuci tangan sebelum dan sesudah memakai sarung tangan
untuk dokter ...%, perawat ...%, pekarya ....% dan petugas kesehatan
lainnya ...%.
- Prilaku cuci tangan setelah melakukan tindakan invasif untuk dokter ...
%, perawat .....%, petugas kesehatan ....%.
- Prilaku cuci tangan setelah kontak dengan cairan tubuh pasien untuk
dokter ..%, perawat ...%, pekarya ....% dan petugas kesehatan
lainnya .......%.
- Prilaku cuci tangan setelah kontak dengan lingkungan pasien untuk
dokter .....%, perawat .....%, pekarya .....% dan petugas kesehatan
lainnya .......%.
- Prilaku cuci tangan sesuai standar 6 langkah untuk dokter .....%,
perawat .....%, pekarya ....% dan petugas kesehatan lain .......%.
c. Diseminasi dan sosialisasi kebersihan tangan sudah dilaksanakan dengan
berkoordinasi dengan komite mutu dalam bentuk sosialisasi, pelatihan
ataupun perlombaan kebersihan tangan dengan 6 langkah.
d. Telah disusun panduan kebersihan tangan dan standar prosedur
operasional tentang kebersihan tangan untuk Evaluasi kegiatan
kebersihan tangan.
- Pengadaan fasilitas handrubs belum menyeluruh ke semua area
pelayanan........... Sebagian besar fasilitas cuci tangan masih tidak
memenuhi standar kelengkapan fasilitas cuci tangan terutama fasilitas
cuci tangan di pelayanan umum, seperti toilet umum dan toilet di bagian
non pelayanan pasien. Masih terbatasnya kelengkapan fasilitas cuci
tangan terutama tissu towel untuk mengeringkan tangan, tempat
sampah injak untuk unit pelayanan pasien dan poster-poster tatacara
kebersihan tangan.
- Ketersediaan handrubs di ruang rawat inap belum berkesinambungan
karena proses pengamprahan handrubs memerlukan waktu minimal 3
hari dan jumlah handrubs sama dengan jumlah bracket sehingga
bracket akan kosong selama proses amprahan.

5
- Beberapa bracket rusak dan tidak dapat digunakan dan beberapa
handrubs hilang terbawa pasien pulang.
- Kegiatan audit kebersihan tangan belum dilaksanakan secara
menyeluruh dan berkesinambungan serta ditindak lanjuti dalam kegiatan
peningkatan mutu program PPI. Hal ini dikarenakan kurangnya SDM
dalam pelaksanaan audit kepatuhan cuci tangan yang harus
dilaksanakan dalam jam sibuk.
e. Rencana tindak lanjut.
1. Rekomendasi pengadaan fasilitas kebersihan tangan sesuai standar di
seluruh area........ Persyaratan yang perlu dilengkapi:
a. Satu hand rub berikut bracket untuk setiap tempat tidur. Bracket yang
patah atau belum terpasang akan diupayakan diganti dengan bahan
logam sedangkan bracket yang masih baik tetap dipertahankan.
b. Setiap bak cuci tangan dilengkapi dengan keran khusus yang tidak perlu
diputar, sabun cuci tangan, tissue kertas, tempat sampah injak serta
poster tatacara cuci tangan 6 langkah.
c. Ada petugas khusus yang setiap hari memiliki tugas mengganti botol
handrubs yang sudah kosong, mengecek ketersediaan sabun dan tissue
kertas.
d. Ada unit kerja yang bertanggung jawab dengan ketersediaan handrubs
terutama pada area publik.
2. Koordinasi dalam penyusunan standar prosedur operasional
ketersediaan handrubs di rawat inap.
3. Melaksanakan program audit kebersihan tangan di rawat inap.
4. Percepatan terbentuknya tim PPI dan IPCLN agar program dapat
dilaksanakan dan dimonitoring dengan baik.
5. Pelaporan .

C. Penyusunan pedoman, panduan dan SOP.


Penyusunan pedoman pengorganisasian dan tata hubungan kerja komite
PPIRS dalam proses penyusunan. Penyusunan dan revisi standar operasional
prosedur PPI yang sudah disusun ulang adalah 48 standar operasional
prosedur (SOP) disusun oleh sub komite PPI dan beberapa sudah ditanda
tangani. Beberapa standar prosedur operasional unit kerja yang terkait dengan
PPI sudah disusun dan sedang proses penyusunan oleh masing-masing unit
kerja (Instalasi sarana sandang dan CSSD, IKLPS, Subbag Rumah Tangga).

D. Pendidikan dan pelatihan.


Pelatihan in house training PPI dasar dilakukan pada tanggal 18 sampai
dengan 20 Maret 2014 di ruang auditorium lantai 1 gedung Administrasi .
Pelatihan PPI dasar dilakukan untuk anggota komite PPIRS dan tim PPIRS
sebanyak 37 orang perawat selama 3 hari kerja dengan materi kebersihan

6
tangan, Alat Pelindung Diri, Dekontaminasi, Kebersihan Lingkungan, Prosedur
Isolasi, ICRA, keselamatan kerja tenaga kesehatan, mikrobiologi dasar,
pengawasan penggunaan antimikroba yang rasional, pengelolaan KLB dan
Pencegahan HAP,VAP, IADP, ISK dan IDO. Di hari terakhir dilakukan telaah
lapangan terhadap masalah-masalah PPI di ruang pelayanan ICU, NICU,
Seruni , Gambir dan Kantil.

Rencana tindak lanjut ;


Pelatihan PPI untuk tenaga prakarya kesehatan, pelatihan PPI terkait petugas
cleaning service, pelatihan PPI (kebersihan tangan) untuk petugas penunjang
medis dan administrasi, pelatihan PPI untuk perawat dan pelatihan prosedur
invasif untuk perawat.
Peningkatan pengetahuan PPI terkini dengan workshop dan seminar serta
pelatihan PPI advance untuk anggota sub komite PPIRS dan tim PPI .

E. Pencegahan Kejadian infeksi


Pelayanan Pasien
Angka kejadian Infeksi Rumah Sakit (IRS) di lingkungan pelayanan di ambil
berdasarkan data surveilans aktif yang dilakukan di ruang ICU dan NICU
Kemuning.
Angka kejadian IRS .....................pada triwulan 1 tahun 2014 adalah HAP ......
, angka VAP .... , angka IADP ....., dan ISK ........
angka IDO didapatkan data 3 kasus per 648 tindakan operasi di ..........Kita
sejak bulan Januari sampai Maret 2014 atau .... %.

F. Kejadian terpajan benda tajam/tertusuk jarum.

Unit Kerja Data kejadian keterangan

Instalasi bedah sentral 2 kasus tertusuk jarum Sudah dilakukan telaah


(Anaesthesi) dan pada perawat dengan oleh IPCN dan tim HIV
Instalasi Rawat Inap (R. katagori paparan serta terapi oleh dokter
Tanjung) terhadap HIV dengan poli kinik Pey .Dalam
KS 1 tinggi dan tim HIV, ARV
selama 1 bulan,
kemudian kontrol ulang
untuk pemeriksaan
laboratorium 3 dan 6
bulan kemudian.

G. Data pola kuman

7
Pola kuman sudah disusun oleh unit laboratorium tetapi belum dilakukan telaah
oleh ahli mikrobiologi , sehinggga belum dapat disusun. Saat ini belum
dibentuk panitia pengawasan resistensi antimikroba. Sehingga untuk
pemantauan penggunaan antibiotika terkait pencegahan infeksi belum
dilakukan
Rencana tindak lanjut adalah koordinasi dalam pembentukan panitia PPRA

BAB III
LAPORAN SURVEILANS

TABEL

Sumber ; laporan IRS tw 1, thn 2014

8
Analisa data :
Angka kejadian infeksi rumah sakit pada bulan Januari sampai dengan Maret 2014
didapatkan angka VAP sebesar 0%, angka IADP sebesar 0,0..........., angka
kejadian ISK sebesar 0....., serta angka IDO sebesar 0........%.

Rencana tindak lanjut :


Penyusunan ICRA HAIs untuk tahun 2014 dan perencanaan program kegiatan
pencegahan HAIs 2014 .
Peningkatan kemampuan IPCN dan IPCLN dalam melakukan pengambilan data,
pengisian formulir dan penegakan diagnosa terkait VAP, IADP, ISK, HAP dan IDO.
Mekanisme koordinasi dalam penentuan diagnosa lebih ditngkatkan. Peningkatan
kemampuan IPCN dan IPCLN untuk melakukan monitoring evaluasi terhadap
pencegahan IRS.
Peningkatan kemampuan IPCN dalam penyusunan laporan IRS.

9
BAB IV
PENUTUP

Pelaksanaan program PPIRS di ..................perlu direncanakan, dan disusun


kembali mengingat sebagian besar program ini terhenti. Diperlukan peranan
manajemen dalam menggiatkan program PPI dan menyiapkan sumber daya terkait
pelaksanaan PPI di ......................Berdasarkan panduan dan borang penilaian
akreditasi nasional KARS 2012 dan JCI masih banyak program PPI yang harus
direncanakan, dilaksanakan, diawasi dan dievaluasi secara berkesinambungan.
Laporan tahunan PPI dibuat berdasarkan kemampuan dari sub komite PPIRS
untuk melaksanakan program PPI yang sudah diinstruksikan oleh Kementerian
Kesehatan RI dengan harapan kedepannya sub komite PPIRS dapat lebih
meningkatkan kemampuannya dan difasilitasi dalam melaksanakan program-program
PPIRS sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan ditindak lanjuti untuk meningkatkan
pelayanan rumah sakit ....................yang berfokus pada keselamatan pasien.

Jakarta, Februari 2014


Sub Komite PPIRS

10