Anda di halaman 1dari 30

Laporan Kasus

Hernia Inguinalis

PEMBIMBING:
Prof. dr. Bachtiar Surya, Sp.B-KBD

PENYUSUN:
Carvin Herryanto 110100204
Kyna Troeman 110100115
Devandran Mahendran 110100403
Pieter Lumbanraja 110100366
Try Yudia Ramadhany 110100118
Choky Lumban Gaol 110100338
Angelia Sitanggang 110100277
Regina Tambunan 110100097
Puvana Subramaniam 110100503
Hemakanen Nair 110100413

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT RUJUKAN HAJI ADAM MALIK
DEPARTEMEN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan kasus yang berjudul Hernia Inguinalis.
Penulisan laporan kasus ini adalah salah satu syarat menyelesaikan
Kepaniteraan Klinik Senior Program Pendidikan Profesi Dokter di Departemen
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. dr.
Bachtiar Surya, Sp. B-KBDselaku supervisor pembimbing dan dr. Owen Sitompul
selaku dokter pembimbing yang telah meluangkan waktu danmemberi masukan
dalam penyusunan laporan kasus ini sehingga penulis dapat menyelesaikannya
dengan baik.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan kasus ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca demi perbaikan dalam penulisan laporan kasus selanjutnya. Semoga
laporan kasus ini bermanfaat. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Januari 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................................. 1
Kata Pengantar............................................................................................ 2
Daftar Isi....................................................................................................... 3
Bab 1 Pendahuluan...................................................................................... 4
1.1.Latar Belakang.................................................................................... 4
Bab 2 Tinjauan Pustaka.............................................................................. 5
2.1.Hernia.................................................................................................. 5
2.1.1.Definisi Hernia................................................................................. 5
2.1.2. Klasifikasi Hernia............................................................................ 6
2.2. Hernia Inguinalis................................................................................ 8
2.2.1. Definisi............................................................................................ 8
2.2.2. Etiologi............................................................................................ 9
2.2.3. Diagnosa.......................................................................................... 10
2.2.4. Diagnosa Banding........................................................................... 12
2.2.5. Penatalaksanaan............................................................................... 12
2.2.6. Komplikasi...................................................................................... 20
2.2.7. Prognosis......................................................................................... 21
Bab 3 Laporan Kasus.................................................................................. 22
Bab 4 Diskusi................................................................................................ 28
Bab 5 Kesimpulan........................................................................................ 30
Daftar Pustaka............................................................................................. 31

3
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Di Indonesia hernia menempati urutan kedelapan dengan jumlah 292.145
kasus per tahun. Peningkatan angka kejadian Hernia Inguinalis di Indonesia bisa
disebabkan karena ilmu pengetahuan dan tehnologi semakin berkembang dengan
pesat sejalan dengan hal tersebut, maka permasalahan manusiapun semakin
kompleks salah satunya kebutuhan ekonomi yang semakin mendesak. Hal tersebut
menuntut manusia untuk berusaha mencukupi kebutuhannya dengan usaha yang
ekstra, tentunya itu mempengaruhi pola hidup dan kesehatannya yang dapat
menyebabkan kerja tubuh yang berat yang dapat menimbulkan kelelahan dan
kelemahan dari berbagai organ tubuh. Penyebab penyakit hernia yaitu dengan
bekerja berat untuk memenuhi kebutuhannya seperti mengangkat beban berat,
biasa
mengkonsumsi makanan kurang serat, yang menyebabkan konstipasi sehingga
mendorong mengejan saat defekasi.
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi rongga melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Hernia disebabkan karena adanya
tekanan intra abdomen seperti batuk dan mengejan. Hernia apabila tidak segera
ditangani akan menyebabkan terjadinya perlengketan antara isi hernia dengan
dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dikembalikan lagi.
Penderita hernia memang kebanyakan laki-laki, kebanyakan penderitanya akan
merasa nyeri, jika terjadi infeksi didalamnya. Hernia yang terjadi pada anak
anak lebih disebabkan karena kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk
menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Sementara pada orang
dewasa, karena adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan karena faktor
usia yang menyebabkan lemahnya dinding otot perut.

4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hernia
2.1.1. Definisi
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek
atau bagian yang lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen,
isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-
aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri dari cincin, kantong dan isi hernia.1,2

Gambar 1. Anatomi anterior3

Gambar 2. Anatomi posterior3

5
2.1.2. Klasifikasi1,2
1. Berdasarkan terjadinya,
a. Hernia Kongenital,
i. Hernia kongenital sempurna: karena adanya defek pada
tempat-tempat tertentu.
ii. Hernia kongetital tak sempurna: bayi dilahirkan normal
(kelainan belum tampak) tetapi mempunyai defek pada
tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan
setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut
karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal.
b. Hernia Akuisita
2. Berdasarkan klinis,
a. Hernia reponibilis: bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar
jika berdiri atau mengejan dan masuk lagi jika berbaring atau
didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi
usus. Dapat direposisi tanpa operasi.
b. Hernia irreponibilis: organ yang mengalami hernia tidak dapat
kembali ke cavum abdominal kecuali dengan bantuan operasi.
Tidak ada keluhan rasa nyeri atau tanda sumbatan usus. Jika telah
mengalami perlekatan organ disebut hernia akreta.
c. Hernia strangulata: hernia dimana sudah terjadi gangguan
vaskularisasi viscera yang terperangkap dalam kantung hernia (isi
hernia). Pada keadaan sebenarnya gangguan vaskularisasi telah
terjadi pada saat jepitan dimulai, dengan berbagai tingkat gangguan
mulai dari bendungan sampai nekrosis.
d. Hernia inkarserata: isi kantong terperangkap, terjepit oleh cincin
hernia, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut, dan sudah
disertai tanda-tanda ileus mekanis (usus terjepit sehingga aliran
makanan tidak bisa lewat).

3. Berdasarkan arah hernia,


a. Hernia eksterna:Hernia yang penonjolannya dapat dilihat dari luar
karena menonjolnya ke arah luar, misalnya:Hernia inguinalis
medialis (15%) dan lateralis (60%), Hernia femoralis, Hernia

6
umbilicalis, Hernia epigastrika, Hernia lumbalis, Hernia
obturatoria, Hernia semilunaris, Hernia parietalis, Hernia
ischiadica

Gambar 3. Hernia Eksterna1,2


b. Hernia
interna
adalah jika
isi hernia
masuk ke
dalam rongga
lain, misalnya ke
cavum thorax, bursa omentalis,
atau masuk ke dalam recessus
dalam cavum abdomen. Pada
cavum abdominalis (Hernia
epiploica Winslowi, Hernia bursa omentalis, Hernia mesenterika,
Hernia retro peritonealis). Pada cavum thorax (Hernia
diafragmatika traumatika, Hernia diafragmatika non-
traumatika:Kongenital: misalnya hernia Bochdalek dan hernia
Morgagni, Akuisita: misalnya hernia hiatus esophagus)

2.2. Hernia Inguinalis


2.2.1. Definisi1,2
Hernia inguinalis adalah hernia yang paling sering kita temui. Menurut
patogenesisnya hernia ini dibagi menjadi dua, yaitu hernia inguinalis lateralis
(HIL) dan hernia inguinalis medialis (HIM). Ada juga yang membagi menjadi
hernia inguinalis direk dan hernia inguinalis indirek. Meskipun terapi terbaik
pada hernia ini adalah sama yaitu herniotomi dan herniorafi, tapi penting untuk

7
mengetahui perbedaannya karena akan mempengaruhi pada teknik operasinya
nanti.
Hernia inguinalis lateralis timbul karena adanya kelemahan anulus intenus
sehingga organ-organ dalam rongga perut (omentum, usus) masuk ke dalam
kanalis inguinalis dan menimbulkan benjolan di lipat paha sampai skrotum.
Sedangkan hernia ingunalis medialis timbul karena adanya kelemahan dinding
perut karena suatu sebab tertentu. Biasanya terjadi pada segitiga hasselbach.
Secara anatomis intra operatif antara HIL dan HIM dipisahkan oleh vassa
epigastrika inferior. HIL terletak di atas vassa epigastrika inferior sedang HIM
terletak di bawahnya

Kanalis inguinalis dibatasi di kraniomedial oleh annulus internus yang


merupakan bagian terbuka dari fascia transversalis dan apponeurosis m.
transverses abdominis. Di medial bawah, di atas tuberkulum pubikum kanal ini
dibatasi dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus, bagian terbuka dari
appoeurosisi m. obliges eksternus. Atapnya adalah apponeurosis m. obliges
eksternus , dan di dasarnya terdapat ligamentum inguinale. Kanal berisi tali
sperma pada laki laki dan ligamentum rotundum pada perempuan

8
2.2.2. Etiologi4,5
Secara fisiologis, kanalis inguinalis merupakan kanal atau saluran yang
normal. Pada fetus, bulan kedelapan dari kehamilan terjadi descensus
testiculorum. Penurunan testis yang sebelumnya terdapat di rongga
retroperitoneal, dekat ginjal, akan masuk kedalam skrotum sehingga terjadi
penonjolan peritoneum yang dikenal sebagai processus vaginalis peritonei. Pada
umumnya, ketika bayi lahir telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut
tidak dapat melalui kanal tersebut. Biasanya obliterasi terjadi di annulus inguinalis
internus, kemudian hilang atau hanya berupa tali. Tetapi dalam beberapa hal
sering belum menutup yang hasilnya ialah terdapatnya hernia didaerah tersebut.
Setelah dewasa kanal tersebut telah menutup. Namun karena daerah
tersebut ialah titik lemah, maka pada keadaan yang menyebabkan peningkatan
tekanan intraabdomen kanal itu dapat terbuka kembali dan timbul hernia
inguinalis akuisita. Sementara di usia ini seseorang lebih produktif dan melakukan
banyak aktivitas. Sehingga penyebab hernia pada orang dewasa ialah sering
mengangkat barang berat, juga bisa oleh karena kegemukan, atau karena pola
makan yang tinggi lemak dan rendah serat sehingga sering mengedan pada saat
BAB.
Hernia pada orang tua terjadi karena faktor usia yang mengakibatkan
semakin lemahnya tempat defek. Biasanya pada orang tua terjadi hernia medialis
karena kelemahan trigonum Hesselbach. Namun dapat juga disebabkan karena
penyakit-penyakit seperti batuk kronis atau hipertrofi prostat.

2.2.3. Diagnosis1,2,4,5
1. Anamnesis
Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha yang hilang timbul,
muncul terutama pada waktu melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan
tekanan intra-abdomen seperti mengangkat barang atau batuk, benjolan ini hilang
pada waktu berbaring atau dimasukkan dengan tangan (manual). Terdapat faktor-
faktor yang berperan untuk terjadinya hernia. Dapat terjadi gangguan passage

9
usus (obstruksi) terutama pada hernia inkarserata. Nyeri pada keadaan strangulasi,
sering penderita datang ke dokter atau ke rumah sakit dengan keadaan ini.

2. Pemeriksaan Fisik
Ditemukan benjolan lunak di lipat paha di bawah ligamentum inguinale di
medial vena femoralis dan lateral tuberkulum pubikum. Benjolan tersebut
berbatas atas tidak jelas, bising usus (+), transluminasi (-).
Tabel 1. Hernia inkarserata dengan obstruksi usus dan hernia strangulata yang
menyebabkan nekrosis atau ganggren
Gejala/tanda Obstruksi usus pada hernia Nekrosis/gangren pada
inkarserata hernia strangulata
Nyeri Kolik Menetap
Suhu badan Normal Normal/meninggi
Denyut nadi Normal/meninggi Meninggi/tinggi sekali
Leukosit Normal Leukositosis
Rangsang peritoneum Tidak ada Jelas
Sakit Sedang/berat Berat sekali/toksik

Teknik pemeriksaan
Hernia yang melalui annulus inguinalis abdominalis (lateralis/internus) dan
mengikuti jalannya spermatid cord di canalis inguinalis serta dapat melalui
annulus inguinalis subcutan (externus) sampai scrotum. Mempunyai LMR (Locus
Minoris Resistentie Secara klinis HIL dan HIM dapat dibedakan dengan tiga
teknik pemeriksaan sederhana yaitu finger test, Ziemen test dan Tumb test. Cara
pemeriksaannya sebagai berikut:
1. Pemeriksaan Finger Test:
a. Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.
b. Dimasukkan lewat skrortum melalui anulus
eksternus ke kanal inguinal.
c. Penderita disuruh batuk
i. Bila impuls diujung jari berarti Hernia
Inguinalis Lateralis.
ii. Bila impuls disamping jari Hernia
Inguinnalis Medialis.
2. Pemeriksaan Ziemen Test:

10
a. Posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan dulu
(biasanya oleh penderita).
b. Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan.
c. Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada:
i. Jari ke 2: Hernia Inguinalis Lateralis.
ii. Jari ke 3: hernia Ingunalis Medialis.
iii. Jari ke 4: Hernia Femoralis
3. Pemeriksaan Thumb Test
a. Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan
penderita disuruh mengejan.
b. Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis
medialis.
c. Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia
Inguinalis Lateralis.

2.2.4. Diagnosis Banding6


1. Limfadenitis yang disertai tanda radang lokal umum dengan sumber
infeksi di tungkai bawah, perineum, anus, atau kulit tubuh kaudal dari
tingkat umbilikus.
2. Lipoma kadang tidak dapat dibedakan dari benjolan jaringan lemak
preperitoneal pada hernia femoralis.
3. Abses dingin yang berasal dari spondilitis torakolumbalis dapat menonjol
di fosa ovalis.
Untuk membedakannya perlu diketahui bahwa munculnya hernia erat
hubungannya dengan aktivitas seperti mengedan, batuk, dan gerak lain yang
disertai dengan peninggian tekanan intra-abdomen, sedangkan penyakit lain
seperti limfadenitis femoralis tidak berhubungan dengan aktivitas demikian

2.2.5. Penatalaksanaan1,4,5,7
1. Penatalaksanaan Konservatif

11
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan
pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang
telah direposisi.
a. Reposisi
Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali pada
pasien anak-anak. reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi
hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya kearah cincin
hernia dengan tekanan lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi. Pada anak-
anak inkarserasi lebih sering terjadi pada umur dibawah dua tahun. Reposisi
spontan lebih sering dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi
jika dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia
yang lebih elastis dibandingkan dengan orang dewasa.
Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative
dan kompres es diatas hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil anak disiapkan

untuk operasi pada hari berikutnya. Jika reposisi hernia tidak berhasil dalam
waktu enam jam harus dilakukan operasi segera. Pada tindakan reposisi ini posisi
penderita dapat dilakukan denagn posisi seperti pada gambar :
Gambar Reposisi dengan posisi Trendelenburg
b. Bantalan penyangga (Sabuk Truss)
Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang
telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harusdipakai seumur
hidup. Namun cara yang berumur lebih dari 4000 tahun ini masih saja dipakai
sampai sekarang.

12
Sebaiknya cara ini tidak dinjurkan
karena mempunyai komplikasi, antara lain merusak kulit dan tonus otot dinding
perut didaerah yang tertekan sedangkan strangulasi tetap mengancam. Pada anak-
anak cara ini dapat menimbulkan atrofitestis karena tekanan pada funikulus
spermatikus yang mengandung pembuluh darah dari testis.

2. Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis
yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip
dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan
hernioplasti.
a. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke
lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan,
kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
Indikasi:
i. Hernia Inkarserata / Strangulasi (cito)
ii. Hernia Irreponabilis (Urgen, 2 x 24 jam)
iii. Hernia Reponabilis dilakukan atas indikasi sosial: pekerjaan (elektif)
iv. Hernia Reponabilis yang mengalami incarserasi (HIL,Femoralis)
Prinsip semua hernia harus dioperasi, karena dapat menyebabkan
inkarserasi / strangulasi. Herniotomy pada dewasa lebih dulu faktor-faktor
penyebab harus dihilangkan dulu, misal BPH harus dioperasi sebelumnya.

13
Tehnik Operasi
i. Incisi inguinal 2 jari medial SIAS sejajar ligamentum inguinale ke
tuberculum pubicum
ii. Incisi diperdalam sampai sampai nampak aponeurosis MOE: tampak crus
medial dan lateralis yang merupakan anulus eksternus
iii. Aponeurosis MOE dibuka kecil dengan pisau , dengan bantuan pinset
anatomis dan gunting dibuka lebih lanjut ke kranial sampai anulus internus
dan ke kaudal sampai membuka annulus inguinalis eksternus. Hati2
dengan N.Ilioinguinalis dan N.Iliohypogastrik. M.cremaster disiangi
sampai nampak funiculus spermaticus
iv. Funiculus dibersihkan dicantol dengan kain kasa dibawa ke medial,
sehingga nampak kantong peritoneum
v. Peritoneum dijepit dengan 2 bh pinset kemudian dibuka selanjutnya usus
didorong ke cavum abdomen dengan melebarkan irisan ke proksimal
sampai leher hernia, kantong sebelah distal dibiarkan
vi. Leher hernia dijahit dengan kromik dan puntung ditanamkan di bawah
conjoint tendo dan digantungkan
Selanjutnya dilakukan hernioplasty secara :
1) Ferguson
Funiculus spermaticus ditaruh disebelah dorsal MOE dan MOI abdominis.
MOI & transversus dijahitkan pada ligamentum inguinale dan meletakkan
funiculus di dorsalnya. kemudian aponeurosis MOE dijahit kembali, sehingga
tidak ada lagi canalis inguinalis.
2) Bassini
MOI dan transversus abdominis dijahitkan pada ligamentum inguinal,
Funiculus diletakkan disebelah ventral, aponeurosis MOE tidak dijahit, sehingga
canalis inguinalis tetap ada. Kedua musculus berfungsi memperkuat dinding
belakang canalis,sehingga LMR hilang.
Gambar 13:Teknik bassini

14
3) Halsted
Dilakukan penjahitan MOE, MOI dan m.transversus abdominis, untuk
memperkuat / menghilangkan LMR. Funiculus spermaticus diletakkan di subcutis
Cara Ferguson dan Bassini dilakukan pada orang dewasa. Cara Halsted dilakukan
pada orang tua, supaya dinding perut lebih kuat
vii. Kemudian luka ditutup lapis demi lapis
viii. Aponeurosis MOE jahit simpul dengan cromic catgut
ix. Subcutan fat dijahit simpul dengan catgut
x. Kulit dijahit dengan zyde secara simpul

Tehnik operasi Herniotomi Herniorafi Lichtenstein


Hernia inguinalis lateralis dan medialis

15
i. Penderita dalam posisi supine dan dilakukan anestesi umum, spinal
anestesi atau anestesi lokal
ii. Dilakukan insisi oblique 2 cm medial sias sampai tuberkulum pubikum
iii. Insisi diperdalam sampai tampak aponeurosis MOE (Muskulus Obligus
Abdominis Eksternus)
iv. Aponeurosis MOE dibuka secara tajam
v. Funikulus spermatikus dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan dikait pita
dan kantong hernia diidentifikasi
vi. Isi hernia dimasukan ke dalam cavum abdomen, kantong hernia secara
tajam dan tumpul sampai anulus internus
vii. Kantong hernia diligasi setinggi lemak preperitonium , dilanjutkan dengan
herniotomi
viii. Perdarahan dirawat, dilanjutkan dengan hernioplasty dengan mesh
ix. Luka operasi ditutup lapis demi lapis

b. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis
internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih
penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan
herniotomi. Dikenal berbagai metode hernioplasti seperti memperkecil anulus
inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia
transversa, dan menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m.
oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke
ligamentum inguinale poupart menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia
tranversa m. transversus abdominis, m.oblikus internus abdominis ke ligamentum
cooper pada metode Mc Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang
diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau marleks
untuk menutup defek.

Tehnik Shouldice
Menurut Abrahamson (1997) prinsip dasar tehnik Shouldice adalah
Bassini multilayer, di klinik khusus hernia Shouldice digunakan kawat baja no 32
atau 34 untuk menjahit defek dinding posterior kanal inguinal. Tetapi penggunaan

16
benang monofilamen sintetis non absorbsi lebih biasa dipakai diluar Toronto.
Adapun tahapan hernioplasty menurut Shouldice:
i. Langkah pertama, setelah dilakukan insisi garis kulit sampai fasia, dengan
preparasi saraf ilioinguinal dan iliohipogastrika, bebaskan funikulus dari
fasia transversalis sampai ke cincin interna, membuang kantong dan ligasi
setinggi mungkin.
ii. Dilanjutkan dengan memotong fasia transversalis dan membebaskan
lemak preperitoneal.

iii. Langkah berikutnya dilakukan rekonstruksi dinding belakang inguinal


dengan jahitan jelujur membuat suatu flap dari tepi bawah fasia ke bagian
belakang flap superior, usahakan titik jahitan tidak segaris dengan jarak 2-
4 mm.

17
Bagian flap superior yang berlebih dijahitkan kembali pada lapisan
dibawahnya dengan jelujur membentuk lapisan ke dua (gambarA).
Demikian seterusnyadengan menjahit tendon konjoin ke ligamentum
inguinal membentuk lapisan ke tiga (gambar B). Kemudiaan penjahitan
aponeorosis obliqus eksterna membentuk lapisan ke empat (gambar C).
Bagian flap superior yang berlebih dijahitkan kembali pada lapisan
dibawahnya dengan jelujur membentuk lapisan ke dua (gambarA).
Demikian seterusnya dengan menjahit tendon konjoin ke ligamentum
inguinal membentuk lapisan ke tiga (gambar B). Kemudiaan penjahitan
aponeorosis obliqus eksterna membentuk lapisan ke empat (gambar C).

Tehnik Lichtenstein Tension free


Tehnik pemasangan mesh pada Lichtenstein seperti berikut (Wexler,
1997):
i. Dilakukan terlebih dahulu herniotomy

18
ii. Letakkan bahan mesh ukuran 10x5 cm diletakkan di atas defek, disebelah
bawah spermatik kord.
iii. Dilakukan penjahitan dengan benang non absorbsi 3-0 ke arah:
a. Medial: perios tuberkulum pubikum.
b. Lateral: melingkari spermatik kord.
c. Superior: pada konjoin tendon.
d. Inferior: pada ligamentum inguinal.

Karena penjahitan pada tehnik Shouldice dilakukan cara jelujur tidak


terputus pada titik yang berbeda kesegarisannya menyebabkan tarikan yang terjadi
menyebar dan terdistribusi dibanyak titik sehingga rasa nyeri menjadi tidak
dominan disatu tempat. Hal inilah yang menyebabkan keluhan rasa nyeri pasca
operasi menjadi lebih ringan dibanding tehnik konvensional lainnya.
Penggunaan material sintetis sebagai penutup defek miopektineal dinding
belakang kanalis inguinal memerlukan persyaratan tertentu, prostesis yang dipakai
harus cukup kuat sebagai penyangga, tidak bersikap alergen, mempunyai potensi
untuk menimbulkan respon inflamasi dan cepat berintegrasi dengan jaringan
sekitar. Agar integrasi menjadi solid, prostesis berupa anyaman yang berpori
sehingga jaringan tumbuh diantara pori-pori tersebut. Polypropylene mesh
dikategorikan memiliki sifat tersebut serta mampu bersifat permanen sehingga
tidak diperbolehkan kontak langsung dengan organ visera karena akan
menimbulkan perlengketan serta obstruksi atau pembentukan fistula. Saat ini
polypropylen mesh dipilih sebagai prostesis baku dalam petatalaksanaan hernio
plasty.

19
Hernioplasty dengan polypropylene mesh mencegah terjadinya
peregangan sewaktu rekonstruksi dinding belakang kanalis inguinal sehingga
perasaan nyeri pasca operasi dapat berkurang dengan nyata. Diikuti pemulihan
dan kembali kepada aktivitas rutin yang lebih dini, serta pencegahan rekurensi
jangka panjang. Pemulihan dan kemampuan kerja setelah operasi ternyata sangat
dipengaruhi oleh rasa sakit. Bax melaporkan dengan polypropylene mesh lebih
dari 60% pekerja kasar dan lebih dari 90% pekerja kantoran telah dapat bekerja
dalam 10 hari. Ismail (2000) melaporkan 74 % penderita telah kembali
mengemudikan mobil dalam 10 hari, 49 % diantaranya dalam 7 hari.
Untuk mencegah rekurensi jangka panjang penggunaan material harus
cukup lebar untuk menutup seluruh defek miopektineal (dengan ukuran 10 x 5
cm), tidak terjadi lipatan-lipatan, melingkari bagian dari spermatik kord di daerah
kanalis inguinal interna.

2.2.6. Komplikasi5,7
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia.
Isi hernia dapat tertahan di dalam kantong hernia pada hernia irreponibilis, hal ini
terjadi jika hernia terlalu besar atau terdiri dari omentum, organ ekstraperitoneal,
atau hernia akreta. Di sini tidak timbul gejala klinik kecuali berupa benjolan.
Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi
hernia strangulata yang menimbulkan obstruksi usus yang sederhana. Jepitan
cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada
permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi oedem organ atau struktur di
dalam hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia. Timbulnya oedem
menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah sehingga akhirnya
peredaran darah jaringan terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong
hernia akan berisi transudat berupa cairan serosanguinus. Kalau isi hernia terdiri
dari usus, dapat terjadi perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal,
fistel, atau peritonitis jika terjadi hubungan dengan rongga perut.
Hernia inguinalis dapat menjadi inkarserata dan strangulata. Mual,
muntah, dan nyeri abdomen yang berat dapat terjadi pada hernia strangulata.

20
Hernia strangulata merupakan suatu kondisi yang mengancam jiwa (gawat
darurat) yang membutuhkan pembedahan segera.

2.2.7. Prognosis4,7
Prognosis biasanya cukup baik bila hernia diterapi dengan baik. Angka
kekambuhan setelah pembedahan kurang dari 3%.

BAB 3
STATUS PASIEN

3.1. STATUS ORANG SAKIT


Identitas Pasien
Nama : Arifin Simanjuntak

21
No. RM : 69.50.64
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal Lahir : 31 Oktober 1950
Usia : 67 tahun
Alamat : Pematang Siantar, Simalungun
Agama : Kristen Protestan
Suku : Batak
Status Pernikahan : Duda
Jumlah Anak : 3 orang
Pendidikan Terakhir : Tamat SLTA
Pekerjaan : Buruh
Status Sosial-Ekonomi : Menengah Kebawah
Tinggi Badan : 168 cm
Berat Badan : 68 kg
Tanggal Masuk Rumah Sakit : 23 Januari 2017

Anamnesis
Keluhan Utama : Benjolan di lipat paha
Telaah : Hal ini telah dialami pasien sejak kurang lebih 1
tahun yang lalu. Benjolan ini muncul dari lipatan paha kirinya. Jika pasien berdiri
dan mengejan benjolan tersebut keluar, namun saat berbaring dapat masuk lagi.
Benjolan tidak pernah nyeri dan tidak pernah merah. Sejak 1 hari sebelum masuk
rumah sakit, benjolan tidak dapat dimasukkan lagi. Pasien tidak merasa mual,
tidak muntah, tidak mengalami gangguan BAB dan masih bisa kentut. Pasien
bekerja sebagai seorang buruh bangunan selama 20 tahun dan sering mengangkat
beban berat. Pasien menyangkal mempunyai riwayat batuk lama, DM,
tumor/kanker. Nafsu makan pasien baik, berat badan tidak pernah menurun.
Pasien sering mengejan saat BAB, karena konsistensi yang keras. BAB biasanya 2
hari sekali. Pasien tidak mempunyai riwayat hipertensi. Tidak ada keluarga yang
menderita penyakit yang sama seperti pasien.

22
Status Presens
Sensorium : Compos Mentis
Karnofsky skor : 80
VAS :01
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Frekuensi nadi : 84 x/menit
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu : 37.1oC

Status Generalisata
Kepala
Mata : konjungtiva palpebra inferior pucat (-/-),sklera ikterik (-/-)
refleks cahaya (+/+), pupil isokor 3 mm/ 3 mm
Telinga : dalam batas normal
Hidung : dalam batas normal
Tenggorokan: dalam batas normal
Mulut : dalam batas normal
Leher : dalam batas normal
Thorax
Paru : Inspeksi : simetris fusiformis, tidak ada ketinggalan
pernafasan
Palpasi : stern fremitus kanan = kiri
Perkusi : sonor pada kedua lapangan paru
Auskultasi : suara pernafasan vesikuler (+/+), suara
tambahan (-/-)
Jantung :Batas Jantung
Batas Atas : Intercosta III
Batas Kiri : Intercosta V, 1 cm lateral
miclavicular sinistra
Batas Kanan : Intercosta II LPSD
Auskultasi : S1 normal, S2 normal, Murmur (-)

23
Abdomen
Inspeksi : simetris, distensi (-)
Palpasi : soepel, hepar/lien/renal tidak teraba
Perkusi : timpani
Auskultasi : peristaltik (+) normal
Genitalia : laki-laki, sesuai status lokalisata
Ekstremitas : Atas : oedem (-), sianosis (-)
Bawah : oedem (-), sianosis (-)

Status Lokalisata
Region Inguinalis Sinistra
Inspeksi: Tampak benjolan dibawah lig. inguinale, diameter 8 cm x 4 cm,
permukaan rata, warna sesuai warna kulit, tidak kemerahan.
Palpasi: Tidak teraba hangat, kenyal, batas atas tidak jelas, tidak dapat
dimasukkan, transiluminasi (-), tidak nyeri.
Auskultasi: Bising usus (+)

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium (23/01/2017)

Jenis Pemeriksaan Hasil Rujukan


HEMATOLOGI
Hemoglobin (HGB) 11 1318 g/dl

24
Eritrosit (RBC) 3,7 x106 (4,5 6,5) x106/l
Leukosit (WBC) 13560 4.00011.000 /l
Hematokrit 33 3647
Trombosit (PLT) 355 x103 150450 x103
GINJAL
Ureum 101 mg/dL 18 55 mg/dL
Kreatinin 3,79 mg/dL 0,7 1,3 mg/dL
Blood Urea Nitrogen 47 mg/dL 8 26 mg/dl
ELEKTROLIT
Natrium (Na) 139 mEq/L 135155 mEq/L
Kalium (K) 3.7 mEq/L 3,65,5 mEq/L
Klorida (Cl) 113 mEq/L 96106 mEq/L
METABOLISME KARBOHIDRAT
Glukosa darah (sewaktu) 82 mg/dL <200
HATI
Albumin 4,1 g/dL 3,5 5,0 g/dL

Pemeriksaan Penunjang:
Foto thorax PA erect (22-12-2016): Tidak tampak kelainan pada cor dan
pulmo
EKG (22-12-2016): Sinus Rythm

Diagnosis:
(L) Hernia Inguinal Lateralis Ireponible

Penatalaksanaan:
Paracetamol 3x1000mg

Rencana:
Hernioraphy 24 Januari 2017

25
3.2. Follow Up
Tangg Subjecti Objective Assessment Plan
al ve
24/01/ Nyeri TD: 130/80 Post - IVFD RL 20 gtt/i
- Inj Ceftriaxone 1
17 luka mmHg Hernioraphy d/t
gr/ 12 jam
operasi: RR: 18 x/i (L) Hernia
- Inj Ketorolac 30
+ HR: 80 x/i Inguinalis
mg/ 8 jam
Temp: 36, Lateralis - Inj Ranitidin 50
8C Ireponibel (H0) mg/ 12 jam
25/01/ Nyeri TD: 130/80 Post - IVFD RL 20 gtt/i
- Inj Ceftriaxone 1
17 luka mmHg Hernioraphy d/t
gr/ 12 jam
operasi RR: 18 x/i (L) Hernia
- Inj Ketorolac 30
berkura HR: 80 x/i Inguinalis
mg/ 8 jam
ng Temp: 36, Lateralis - Inj Ranitidin 50
8C Ireponibel (H1) mg/ 12 jam
26/01/ - TD: 120/80 Post - IVFD RL 20 gtt/i
- Inj Ceftriaxone 1
17 mmHg Hernioraphy d/t
gr/ 12 jam
RR: 20 x/i (L) Hernia
- Inj Ketorolac 30
HR: 80 x/i Inguinalis
mg/ 8 jam
Temp: 36,8C Lateralis - Inj Ranitidin 50
Ireponibel (H2) mg/ 12 jam
R/ PBJ

26
BAB 4
DISKUSI DAN PEMBAHASAN

Teori Kasus
Hernia merupakan protrusi atau Os datang ke RSUP HAM Adam
penonjolan isi suatu rongga melalui Malik dengan keluhan benjolan
defek atau bagian yang lemah dari dilipatan paha yang dialami sejak 1
dinding rongga bersangkutan. Pada tahun yang lalu.Jika pasien berdiri dan
hernia abdomen, isi perut menonjol mengejan benjolan tersebut keluar,
melalui defek atau bagian lemah dari namun saat berbaring dapat masuk
lapisan muskulo-aponeurotik dinding lagi.
perut. Hernia reponibilis adalah bila isi
hernia dapat keluar masuk. Usus keluar
jika berdiri atau mengejan dan masuk
lagi jika berbaring atau didorong
masuk, tidak ada keluhan nyeri atau
gejala obstruksi usus.
Pada pasien didapati factor resiko
Penyebab hernia pada orang dewasa
seorang laki laki yang berusia 67
ialah sering mengangkat barang berat,
tahun dengan pekerjaan seorang buruh
juga bisa oleh karena kegemukan, atau
yang bekerja mengangkat barang
karena pola makan yang tinggi lemak
berat sehari hari.
dan rendah serat sehingga sering
mengedan pada saat BAB. Hernia pada
orang tua terjadi karena faktor usia
yang mengakibatkan semakin
lemahnya tempat defek. Biasanya pada
orang tua terjadi hernia medialis
karena kelemahan trigonum
Hesselbach. Namun dapat juga
disebabkan karena penyakit-penyakit
seperti batuk kronis atau hipertrofi

27
prostat.

Penatalaksanaan Pada pasien dilakukan tindakan


1. Konservatif (reposisi, penggunaan operatif Hernioraphy.
penyangga)
2. Operatif (Herniotomi)

28
BAB 5
KESIMPULAN

Seorang laki-laki berusia 67 tahun didiagnosis dengan Hernia Inguinalis Lateralis


Kiri Ireponibel dan ditatalaksana defenitif dengan tindakan Hernioraphy beserta
tatalaksana farmakologis:
- IVFD RL 20 gtt/i
- Inj Ceftriaxone 1 gr/ 12 jam
- Inj Ketorolac 30 mg/ 8 jam
- Inj Ranitidin 50 mg/ 12 jam

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Karnadihardja, W, 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. EGC: Jakarta.


2. Schwartz, S.I., 2004. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. EGC: Jakarta.
3. Snel, R.S., 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Ed.6.
Jakarta: EGC.
4. Jong, W.D., 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC, 519-537.
5. Mansjoer, A. 2010. Kapita Selekta Kedokteran. In: Mansjoer, A, ed. Bedah
Digestif. Jakarta: Media Aesculapius, 302328.
6. Grace, P.A. 2002. Surgery at a Glance Second Edition. United Kingdom:
Blackwell Publishing Company.
7. Sari, D.K, et al. 2005. Chirurgica. Yogyakarta: Tosca Enterprise.

30