Anda di halaman 1dari 3

KAPAL TAK BERNAKHODA

By Repo
Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu yang menimbulkan ketakutan dan

harapan, dan Dia menjadikan mendung (Q.S. Ar-Rad 13:12).

Malam ini, seorang wanita paruh baya berdua dengan anak laki-lakinya

terlihat sibuk di dapur. Rupanya mereka mengerjakan pesanan kue orang untuk

esok hari, 200 roti kukus dan 200 donat ayam. Keduanya dengan cekatan

melakukan tugas masing-masing seperti telah dibagi saja. Sang ibu membuat

bulatan-bulatan adonan dan mengisinya dengan abon ayam sementara anaknya

menggoreng calon donat ayam lainnya yang telah mengembang akibat

metabolisme yeast atau ragi terhadap tepung. Kondisi dapur beralas tanah dengan

dinding permanen separuh tinggi bangunan, dan separuh lainnya bagian atas berupa

kawat membuat udara tidak terlalu panas akibat perpindahan kalor dari penggorengan

jumbo dengan minyak goreng penuh di atas kompor menuju udara sekitar. Bulatan

adonan berbalut tepung panir yang awalnya berdiameter 6 cm tersebut pada suhu sedikit

di atas suhu ruang selama 30 menit saja bisa menjadi 10 cm. Kini bulatan yang telah

mengembang tersebut berguling-guling ringan di permukaan minyak goreng seperti ubur-

ubur di lautan: ringan tak berdaya.


Panirnya habis, aku ambilkan dulu buk ujar singkat Sugeng si anak bungsu

sambil mengangsurkan sepasang spatula dan penirisnya pada ibu lalu beranjak. Besok

sebelum berangkat, kuenya biar aku yang mengantar ya bu, kata Sugeng. Jangan! Nanti

kamu bisa terlambat nak. Biar ibu saja yang mengantar, masak kamu baru diterima kerja

sudah mau terlambat, ibu menyahut sambil membolak-balik donat ayam. Pukul 06.00

aku berangkat bu, sambil bawa kuenya sekalian agar tidak terlambat, jawab Sugeng lagi.
Dini hari 400 pesanan kue baru selesai dibungkus plastik dan ditata ke dalam

kardus-kardus besar seukuran kardus mie instan. Ibu Titik, ibu paruh baya tersebut

merasa puas karena menyelesaikan pesanan lagi setelah lama tidak ada rejeki seperti ini

setelah beliau bekerja menjadi pembantu rumah tangga di rumah adiknya sendiri.
Awalnya Indun, adik bungsunya itu menawarkan membantunya secara finansial secara

cuma-cuma setiap bulan namun dia bukan pengemis, itulah prinsipnya. Selama ototnya

masih membungkus tulang dan masih bisa bekerja, beliau akan berusaha seberat apa pun

itu. Meski pernah terpaksa puasa karena tidak ada sisa beras di gentong penyimpanannya,

merahasiakan kepada anak sulungnya mengenai kondisi kesehatannya yang menurun

akibat depresi, bahkan sampai beberapa kali ditemukan tetangga terbaring pingsan di

dapur atau di lantai kamarnya. Sungguh badai kehidupan tengah menerpa Bu Titik setelah

suaminya meninggalkan rumah tanpa pesan karena permintaan cerainya diabaikan wanita

itu.
Terhitung telah 7 tahun sejak krisis dalam rumah tangganya, beliau telah bangkit

dan tak lagi mengharap nakhoda kapal rumah tangganya kembali setelah lebih dari 1

tahun ini meninggalkan rumah. Peristiwa ini membuatnya semakin dekat dengan

Rabbnya. Beliau semakin rajin mengasah imannya melalui kehadirannya pada banyak

majelis dan kajian, memperbanyak amalan sunah dan menjaga yang wajib, serta berusaha

tabah meski menangis dalam hati. Beliau sadar, menangis dan mengeluh pada manusia

tidak sebanding dengan bersimpuh dan membasahi sajadahnya di saat sujud-sujud

malamnya. Semua orang di lingkungan rumahnya tahu dan bersimpati akan keadaannya,

ditinggalkan suami yang telah 5 tahun berselingkuh. Tapi, tatapan simpati itu terkadang

bahkan bagai belati yang mengoyak sayapnya yang telah cidera, membuatnya tambah

parah. Allah lah tempatnya mengadu, Pemilik kekuatan yang tak terbatas.
Sambil merapatkan selimut bergaris, bu Titik berdikir hingga tertidur. Air mata

menetes dari ekor matanya, berakhir di kurung bantal. Tinggal 4 bulan lagi semua

tanggung jawabnya sebagai orang tua 2 anak akan tuntas. Sugeng, anak bungsunya akan

segera menikah di bulan Desember. Terselip rasa bangga dan hampa dalam waktu

bersamaan.

Anissa Puspitawangi
Jl. Sumba No.115, RT. 2 RW. 8, Karangtengah-Blitar