Anda di halaman 1dari 35

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Infeksi saluran napas bawah merupakan masalah utama dalam bidang
kesehatan, baik di negara yang berkembang maupun di negara maju. Laporan
WHO 1999 menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat penyakit
infeksi di dunia adalah infeksi saluran napas akut termasuk pneumonia dan
influenza. Di Indonesia, influenza dan pneumonia merupakan penyebab kematian
nomor enam1.
Pneumonia merupakan infeksi di ujung bronkhiol dan alveoli yang dapat
disebabkan oleh berbagai patogen seperti bakteri, jamur, virus dan parasit.
Pneumonia menjadi penyebab kematian tertinggi pada balita dan bayi serta
menjadi penyebab penyakit umum terbanyak. Pneumonia dapat terjadi sepanjang
tahun dan dapat melanda semua usia. Manifestasi klinik menjadi sangat berat
pada pasien dengan usia sangat muda, manula serta pada pasien dengan kondisi
kritis2.
Pneumonia hingga saat ini masih tercatat sebagai masalah kesehatan utama
pada anak di Negara berkembang. Pneumonia merupakan penyebab utama
morbiditas dan mortalitas anak berusia dibawah lima tahun. Diperkirakan hampir
seperlima kematian anak diseluruh dunia, lebih kurang 2 juta anak balita,
meninggal setiap tahun akibat pneumonia, sebagian besar terjadi di afrika dan asia
tenggara. Menurut survey kesehatan nasional (SKN) 2001, 27,6% kematian bayi
dan 22,8% kematian balita Indonesia disebabkan oleh penyakit system respiratori,
terutama pneumonia3.
Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 prevalensi pneumonia tahun
2013 sebesar 4,5 persen. Lima provinsi yang mempunyai insiden dan prevalensi
pneumonia tertinggi untuk semua umur adalah Nusa Tenggara Timur (4,6% dan
10,3%), Papua (2,6% dan 8,2%), Sulawesi Tengah (2,3% dan 5,7%), Sulawesi
Barat (3,1% dan 6,1%), dan Sulawesi Selatan (2,4% dan 4,8%). Period prevalensi
pneumonia balita di Indonesia adalah 18,5 per mil. Balita dengan pneumonia yang

1
berobat hanya 1,6 per mil. Insiden tertinggi pneumonia balita terdapat pada
kelompok umur 12-23 bulan (21,7%)2. Melihat prevalensi pneumonia yang cukup
tinggi, maka diperlukan penanganan secara tepat dan cepat. Oleh karena itu
diperlukan pengetahuan yang lebih banyak mengenai pneumonia4.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru. Sebagian
besar disebabkan oleh mikroorganisme (virus/bakteri) dan sebagian kecil
disebabkan oleh hal lain (aspirasi, radiasi, dll). Pneumonia adalah infeksi akut
yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak
seringkali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkus yang
disebut bronchopneumonia. Secara klinis anak pada anak sulit membedakan
pneumonia bacterial dengan pneumonia viral. Demikian pula pemeriksaan
radiologis dan laboratorium tidak menunjukkan perbedaan nyata. Namun sebagai
pedoman dapat disebutkan bahwa pneumonia bacterial awitannya cepat, batuk
produktif, pasien tampak toksik, leukositosis dan perubahan nyata pada
pemeriksaan radiologis2.

2.2. Epidemiologi
Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada anak
di bawah usia 5 tahun. Di Negara berkembang, dari 1000 anak terdapat 100-150
kasus pneumonia berat dalam 5 tahun pertama kehidupan dan 21% berakibat
kematian. Di Negara maju seperti Eropa dan Amerika Utara dilaporkan insidensi
pneumonia berkisar 34-40 kasus per 1000 anak. Berdasarkan profil kesehatan
Indonesia tahun 2007, dari 31 Provinsi di Indonesia terdapat 477.420 balita
pneumonia dan berturut-turut menyebabkan kematian bayi dan balita sebesar
22,3% dan 23,6%.5

Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 prevalensi pneumonia tahun


2013 sebesar 4,5 persen. Lima provinsi yang mempunyai insiden dan prevalensi
pneumonia tertinggi untuk semua umur adalah Nusa Tenggara Timur (4,6% dan
10,3%), Papua (2,6% dan 8,2%), Sulawesi Tengah (2,3% dan 5,7%), Sulawesi
Barat (3,1% dan 6,1%), dan Sulawesi Selatan (2,4% dan 4,8%). Period prevalensi

3
pneumonia balita di Indonesia adalah 18,5 per mil. Balita dengan pneumonia yang
berobat hanya 1,6 per mil. Lima provinsi yang mempunyai insiden pneumonia
balita tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (38,5%), Aceh (35,6%), Bangka
Belitung (34,8%), Sulawesi Barat (34,8%), dan Kalimantan Tengah (32,7%).
Insidens tertinggi pneumonia balita terdapat pada kelompok umur 12-23 bulan
(21,7%)4.

2.3. Faktor Resiko


Faktor dasar (fundamental) yang menyebabkan tingginya morbiditas dan
mortalitas pneumonia anak-balita di negara berkembang adalah :
1. Kemiskinan yang luas.
Kemiskinan yang luas berdampak besar dan menyebabkan derajat
kesehatan rendah dan status sosio-ekologi menjadi buruk.
2. Derajat kesehatan rendah.
Akibat derajat kesehatan yang rendah maka penyakit infeksi termasuk
infeksi kronis dan infeksi HIV mudah ditemukan. Banyaknya
komorbid lain seperti malaria, campak, gizi kurang, defisiensi vit A,
defisiensi seng (Zn), tingginya prevalensi kolonisasi patogen di
nasofaring, tingginya kelahiran dengan berat lahir rendah, tidak ada
atau tidak memberikan ASI dan imunisasi yang tidak adekuat
memperburuk derajat kesehatan.
3. Status sosio-ekologi buruk.
Status sosio-ekologi yang tidak baik ditandai dengan buruknya
lingkungan, daerah pemukiman kumuh dan padat, polusi dalam-ruang
akibat penggunaan biomass (bahan bakar rumah tangga dari kayu dan
sekam padi), dan polusi udara luar-ruang. Ditambah lagi dengan
tingkat pendidikan ibu yang kurang memadai serta adanya adat
kebiasaan dan kepercayaan lokal yang salah.
4. Pembiayaan kesehatan sangat kecil.
Di negara berpenghasilan rendah pembiayaan kesehatan sangat kurang.
Sebagai gambaran kesenjangan pembiayaan kesehatan adalah sbb: di

4
seluruh dunia 87% pembiayaan kesehatan di pakai hanya untuk 16%
jumlah penduduk di negara berpenghasilan tinggi. Sisanya (13%)
pembiayaan di pakai untuk sebagian besar (84%) penduduk di negara
berpenghasilan rendah. Pembiayaan kesehatan yang tidak cukup
menyebabkan fasilitas kesehatan seperti infrastruktur kesehatan untuk
diagnostik dan terapeutik tidak adekuat dan tidak memadai, tenaga
kesehatan yang terampil terbatas, di tambah lagi dengan akses ke fasilitas
kesehatan sangat kurang
5. Proporsi populasi anak lebih besar.
Di negara berkembang yang umumnya berpenghasilan rendah
proporsi populasi anak 37%, di negara berpenghasilan menengah 27%
dan di negara berpenghasilan tinggi hanya 18% dari total jumlah
penduduk. Besarnya proporsi populasi anak akan menambah tekanan
pada pengendalian dan pencegahan pneumonia terutama pada aspek
pembiayaan.

Faktor-dasar di atas tidak berdiri sendiri melainkan berupa sebab-


akibat, saling terkait dan saling mempengaruhi yang terkait sebagai faktor-
risiko pneumonia pada anak. Rudan, et al 2008 melaporkan 3 kelompok faktor-
risiko yang mempengaruhi insidens pneumonia pada anak. Faktor-risiko tersebut
adalah faktor-risiko yang selalu ada (definite risk factors), faktor-risiko yang
sangat mungkin (likely risk factors), dan faktor risiko yang masih mungkin
(possible risk factors). Faktor-risiko yang selalu ada (definite) meliputi gizi
kurang, berat badan lahir rendah, tidak ada/tidak memberikan ASI, polusi
udara dalam-ruang, dan pemukiman padat. Faktor-risiko ini seharusnya
diperhatikan secara serius dan perlu intervensi-segera agar penurunan
insidens pneumonia berdampak signifikan pada penurunan Angka Kematian
Anak-Balita8.

5
2.4. Etiologi
Usia pasien merupakan factor yang memegang peranan penting pada
perbedaan dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spectrum etiologi,
gambaran klinis dan strategi pengobatan. Spectrum mikroorganisme penyebab
pada neonatus dan bayi kecil berbeda dengan anak yang lebih besar. Etiologi
pneumonia pada neonatus dan bayi kecil meliputi Streptococcus group B dan
bakteri gram negative seperti E. colli, Pseudomonas sp, atau Klebisella sp. Pada
bayi yang lebih besar dan anak balita, pneumonia sering disebabkan oleh infeksi
Streptococcus pneummoniae,, Haemophillus influenza tipe B dan Staphylococcus
aureus, sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja selain bakteri tersebut,
sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumonia3.

Tabel 2.1. Etiologi Pneumonia pada Anak


Usia Etiologi yang sering Etiologi yang jarang
Lahir (0 hari) Bakteri Bakteri
E. colli Bakteri anaerob
sampai 20 hari
Streptoccus group B Streptoccous group D
Listeria monocytogenes Haemophilllus
influenzae
Streptococcus
pneumoniae
Ureaplasma urealyticum
Virus
Virus sitomegalo
Virus Herpes simpleks
3 minggu Bakteri Bakteri
Chlamydia trachomatis Bordetella pertusis
sampai 3 bulan
Streptococcus pneumoniae Haemophilus influenzae
tipe B
Virus Moraxella catharalis
Virus Adeno Staphylococcus aureus
Virus Influenza Ureaplasma urealyticum
Virus Parainfluenza 1,2,3 Virus
Respiratory Syncytial Virus sitomegalo
Virus
4 bulan sampai Bakteri Bakteri
Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae

6
5 tahun tipe B
Mycoplasma pneumoniae Moraxella catharalis
Streptococcus pneumoniae Neisseria meningitidis
Virus Staphylococcus aureus
Virus Adeno Virus
Virus Influenza Virus Varisela-Zoster
Virus Parainfluenza
Virus Rino
Respiratory Syncytial
virus
5 tahun sampai Bakteri Bakteri
Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae
remaja
Mycoplasma pneumoniae Legionella sp
Streptococcus pneumoniae Staphylococcus aureus
Virus
Virus Adeno
Virus Epstein-Barr
Virus Influenza
Virus Parainfluenza
Virus Rino
Respiratory Syncytial
Virus
Virus Varisela-Zoster
Tanda serta gejala yang lazim dijumpai pada pneumonia adalah demam,
tachypnea, takikardia, batuk yang produktif, serta perubahan sputum baik dari
jumlah maupun karakteris tiknya. Selain itu pasien akan merasa nyeri dada seperti
ditusuk pisau, inspirasi yang tertinggal pada pengamatan naik-turunnya dada
sebelah kanan pada saat bernafas. Mikroorganisme penyebab pneumonia meliputi:
bakteri, virus, mycoplasma, chlamydia dan jamur. Pneumonia oleh karena virus
banyak dijumpai pada pasien immunocompromised, bayi dan anak. Virus-virus
yang menginfeksi adalah virus saluran napas seperti RSV, Influenza type A,
parainfluenza, adenovirus2.
2.5. Patofisiologi
Umumnya mikroorganisme terhisap ke paru bagian perifer melalui saluran
napas. Selanjutnya akan terjadi respon berupa empat tahap dari penumonia yaitu5:
1. Kongesti (4-12 jam), ditandai dengan adanya eksudat serosa yang masuk
ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor.

7
2. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya), ditandai dengan tampakan paru
yang merah dan bergranula karena sel darah merah, fibrin, PMN, cairan
edema, dan mikroorganisme mengisi alveoli.
3. Hepatisasi kelabu (3-8 hari), yaitu ditandai dengan paru yang tampak
kelabu karena deposisi fibrin semakin bertambah, terdapat leukosit PMN
di alveoli dan terjadi proses fagositosis yang cepat.
4. Resolusi (7-11 hari), ditandai dengan eksudat yang mengalami lisis,
jumlah makrofag meningkat di alveoli, sel akan mengalami degenerasi,
fibrin menipis, mikroorganisme penyebab dan debris menghilang.
Pemberian antibiotik sedini mungkin dapat memotong perjalanan
penyakit, sehingga stadium khas yang telah diuraikan tadi tidak terjadi lagi.
Beberapa bakteri tertentu sering menimbulkan gambaran patologis tertentu bila
dibandingkan dengan bakteri lain. Infeksi Streptococcus pneumoniae biasanya
bermanifestasi sebagai bercak-bercak konsolidasi merata diseluruh lapangan paru
(bronkopneumonia), dan pada anak yang lebih besar atau remaja dapat berupa
konsolidasi pada satu lobus (pneumonia lobaris). Pneumotokel atau abses kecil
sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus pada neonatus atau bayi kecil,
karena Staphylococcus aureus menghasilkan berbagai toksin dan enzim seperti
hemolisin, lekosidin, stafilokinase, dan koagulase. Toksin dan enzim ini
menyebabkan nekrosis, perdarahan, dan kavitasi. Koagulase berinteraksi dengan
faktor plasma dan menghasilkan bahan aktif yang mengkonversi fibrinogen
menjadi fibrin, sehingga terjadi eksudat fibrinopurulen. Terdapat korelasi antara
produksi koagulase dan virulensi bakteri. Staphylococcus yang tidak
menghasilkan koagulase jarang menimbulkan penyakit yang serius. Penumotokel
dapat menetap selama berbulan-bulan, tetapi biasanya tidak memerlukan terapi
lebih lanjut3.
2.6. Klasifikasi
Klasifikasi untuk Pneumonia yang terjadi pada bayi usia < 2 bulan

Perjalanan penyakit lebih bervariasi, mudah terjadi komplikasi, dan sering


menyebabkan kematian. Klasifikasi pada kelompok usia ini adalah:

8
Pneumonia, adanya nafas cepat (frekuensi pernafasan > 60 x/menit) atau
sesak napas. Dan harus dirawat serta diberikan antibiotic.

Bukan pneumonia, tidak ada napas cepat atau sesak napas. Tidak perlu
dirawatm hanya diberikan obat simptomatis.1,4

b. Klasifikasi untuk Pneumonia yang terjadi pada bayi dan anak usia 2 bulan
5 tahun:

Pneumonia berat, adanya nafas sesak atau tarikan dinding dada bagian
bawah. Dan harus dirawat serta diberikan antibiotic.

Pneumonia, bila tidak ada sesak napas, atau ada nafas cepat, usia 2 bulan -
1 tahun > 50 kali permenit, untuk usia 1 tahun - 5 tahun > 40 kali
permenit. Dan pasien tidak perlu dirawat, dapat diberikan antibiotic oral.

Bukan pneumonia, bila tidak ada napas cepat dan sesak napas, hanya batuk
pilek biasa tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.dan
pasien tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotic, hanya diberikan
pengobatan simtomatis seperti penurun panas.1,4

2.7. Manifestasi Kinis


Manifestasi klinis pneumonia diklasifikasi menjadi 2 kelompok.
Pertama, gejala umum misalnya demam, sakit kepala, maleise, nafsu makan
kurang, gejala gastrointestinal seperti mual, muntah dan diare. Kedua, gejala
respiratorik seperti batuk, napas cepat (tachypnoe/ fast breathing), napas
sesak (retraksi dada/chest indrawing), napas cuping hidung, air hunger dan
sianosis. Hipoksia merupakan tanda klinis pneumonia berat. Anak pneumonia
dengan hipoksemia 5 kali lebih sering meninggal dibandingkan dengan
pneumonia tanpa hipoksemia8.
Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada
anak adalah imaturitas anatomik dan imunologik, mikroorganisme penyebab yang
luas, gejala klinis yang kadang-kadang tidak khas terutama pada bayi, terbatasnya
penggunaan prosedur diagnostik invasif, etiologi nonifeksi yang relatif lebih

9
sering, dan faktor patogenesis. Secara umum gambaran klinis pneumonia adalah
sebagai berikut3:
Gejala infeksi umum: demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan
nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah, atau diare,
kadang-kadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.
Gejala gangguan respiratori, yaitu batuk, sesak napas, retraksi dinding
dada, takipnea, napas cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda klinis seperti perkusi pekak,
suara napas melemah, dan ronki. Akan tetapi pada neonatus dan bayi kecil, gejala
biasanya lebih beragam dan tidak selalu jelas terlihat.

2.8. Diagnosis
Diagnosis etiologi berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis dan serologis
merupakan dasar untuk terapi yang optimal. Akan tetapi, penemuan bakteri
penyebab tidak selalu mudah karena memerlukan pemeriksan laboratorium
penunjang yang memadai. Oleh karena itu, diagnosis pneumonia pada anak
umumnya didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang menunjukan keterlibatan
sistem respiratori, serta gambaran radiologis. Prediktor paling kuat adanya
pneumonia adalah demam, sianosis, lebih dari satu gejala respiratori berikut:
takipnea, batuk, sesak, napas cuping hidung, retraksi dinding dada, ronki, dan
suara napas yang melemah3.
Gejala pneumonia bervariasi tergantung pada umur penderita dan
penyebab infeksinya. Pneumonia karena infeksi bakteri biasanya
menyebabkan anak sakit berat mendadak dengan demam tinggi dan napas
cepat. Infeksi karena virus umumnya lebih gradual dan bisa memburuk setiap
saat. Gejala - gejala yang sering ditemui pada anak dengan pneumonia adalah
napas cepat dan sulit bernapas, batuk, demam, menggigil, sakit kepala, nafsu
makan hilang, dan mengik. Balita yang menderita pneumonia berat bisa
mengalami kesulitan bernafas, sehingga dadanya bergerak naik turun dengan
cepat atau tertarik ke dalam saat menarik napas/inspirasi yang dikenal sebagai
lower chest wall indrawing. Gejala pada anak usia muda bisa berupa kejang,

10
kesadaran menurun, suhu turun (hipotermia), tidak bereaksi (letargi) dan
minum terganggu9.
Diagnosis pneumonia dipastikan dengan foto dada (X-ray) dan uji
laboratorium, namun pada tempat-tempat yang tidak mampu
melaksanakannya, kasus dugaan pneumonia dapat ditetapkan secara klinis dari
gejala klinis yang ada. Pedoman untuk temuan kasus pneumonia dari WHO
telah ada sehingga dengan cara yang sederhana dan mudah, pemberi pelayanan
dapat berperan penting dalam mengenal secara dini gejala pneumonia pada
balita dan memberikan pengobatan secara tepat. Pelaksanakan tatalaksana
pneumonia secara efektif telah diteliti di banyak negara berkembang akan
menurunkan kejadian dan kematian karena pneumonia10.
Hal yang penting untuk diperhatikan adalah apabila seorang anak batuk
dan sulit bernapas, untuk mencegah menjadi berat dan kematian, anak
tersebut harus segera mendapatkan pertolongan sesuai dengan pedoman
tatalaksana9.

Pneumonia ringan

Disamping batuk atau kesulitan bernapas, hanya terdapat napas cepat


saja. Napas cepat:

Anak umur 2 bulan 11 bulan : 50 x/menit

Anak umur 1 tahun - 5 tahun : 40 x/menit

Pastikan anak tidak mempunyai tanda-tanda pneumonia berat.3

Pneumonia Berat

Batuk dan atau kesulitan bernapas ditambah minimal salah satu hal berikut ini:

11
Kepala terangguk-angguk

Pernapasan cuping hidung

Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam

Foto dada menunjukkan gambaran pneumonia (infiltrate luas,


konsolidasi, dll).

Selain itu bias didapatkan pula tanda berikut ini:

Napas cepat

Anak umur < 2 bulan : 60 x/menit

Anak umur 2 11 bulan : 50 x/menit

Anak umur 1 5 tahun : 40 x/menit

Anak umur 5 tahun : 30 x/menit

Suara merintih (grunting) pada bayi muda

Pada aukultasi terdengar:

Crackles (ronki)

Suara pernapasan menurun

Suara pernapasan bronchial

Dalam keadaan sangat berat dapat dijumpai:

Tidak dapat menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan


semuanya.

Kejang, letargi atau tidak sadar.

Sianosis

12
Distress pernapasan berat.3,7

2.9. Pemeriksaan Penunjang


o Darah Perifer Lengkap
Pada pneumonia yang disebabkan oleh virus dan mikoplasma umumnya
leukosit dalam batas normal atau sedikit meningkat. Akan tetapi, pada
pneumonia bakteri didapatkan leukositosis yang berkisar antara 15.000-
40.000/mm3 dengan predominan PMN. Leukopenia (<5.000/mm3)
menunjukan prognosis yang buruk.
o C-Reactive Protein
C-reactive protein adalah suatu protein fase akut yang disintesis oleh
hepatosit sebagai respon infeksi atau inflamasi jaringan, produksi CRP
secara cepat distimulasi oleh sitokin, terutama interleukin (IL)-6, IL-1, dan
tumor nekrosis faktor (TNF). Secara klinis CRP digunakan untuk
membedakan antara faktor infeksi dan noninfeksi, infeksi virus dan
bakteri. Kadar CRP lebih rendah pada infeksi virus dan bakteri
superfisialis daripada bakteri profunda. CRP kadang-kadang digunakan
untuk evaluasi respon terapi antibiotik3.
o Uji Serologis
Uji serologis untuk mendeteksi antigen dan antibodi pada infeksi bakteri
tipik mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang rendah. Akan teteapi,
diagnosis infeksi Streptokokus grup A dapat dikonfirmasi dengan
peningkatan titer antibodi seperti titer antistreptolisin O, streptozim, atau
antiDnase B. Peningkatan titer dapat juga berarti adanya infeksi terdahulu.
Untuk konfirmasi diperlukan serum fase akut dan serum fase konvalesen.
Secara umum, uji serologis tidak terlalu bermanfaat untuk mendiagnosis
infeksi bakteri tipik. Akan tetapi, untuk deteksi bakteri atipik seperti
Mikoplasma dan Klamidia, serta beberapa virus seperti RSV, Sitomegalo,
Campak, Parainfluenza 1,2,3, Influenza A dan B, dan Adeno, peningkatan
antibodi IgM dan IgG dapat mengkonfirmasi diagnosis3.

13
o Pemeriksaan Mikrobiologis
Pemeriksaan mikrobiologis tidak rutin dilakukan kecuali untuk
pneumonia berat yang dirawat di rumah sakit. Untuk pemeriksaan
mikrobiologik, spesimen dapat berasal dari usap tenggorokan, sekret
nasofaring, bilasan bronkus, darah, pungsi pleura, atau aspirasi paru.
Diagnosis dikatakan defenitif bila ditemukan mikroorganisme penyebab
pada darah, cairan pleura, atau aspirasi paru3.
o Pemeriksaan Roentgen Toraks
Foto roentgen toraks pada pneumonia ringan tidak rutin dilakukan, hanya
direkomendasikan pada pneumonia berat yang dirawat. Kelainan pada foto
toraks tidak selalu berhubungan dengan gambaran klinis. Secara umum
gambaran pada foto toraks adalah sebagai berikut3:
1. Infiltrat interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan
bronkovaskular, peribronchial cuffing, dan hiperaerasi
2. Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air
bronchogram. Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan
pneumonia lobaris, atau biasanya terlihat sebagai lesi tunggal yang
biasanya cukup besar, berbentuk sferis, berbatas tidak terlalu tegas, dan
menyerupai lesi tumor paru, dikenal sebagai round pneumonia.
3. Bronkopneumonia, ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua
paru, berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah
perifer paru, disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.

2.9. Tatalaksana
Penatalaksanaan pneumonia menurut panduan WHO di bagi menjadi dua
yaitu tatalaksana pneumonia ringan dan pneumonia berat6:
a. Pneumonia ringan
1. Pasien dirawat jalan
2. Diberikan antibiotik: Kotrimoksasol (4 mg TMP/kg BB/kali) 2 kali sehari
selama 3 hari atau amoksisilin (25mg/kg BB/kali) 2 kali sehari selama 3
hari. Untuk pasien pneumonia dengan HIV diberikan selama 5 hari.

14
3. Anjurkan ibu untuk memberi makan anak. Nasihati ibu untuk membawa
kembali anaknya setelah 2 hari, atau lebih cepat kalau keadaan anak
memburuk atau tidak bisa minum atau menyusu.
4. Ketika anak kembali jika pernapasannya membaik (melambat), demam
berkurang, nafsu makan membaik, lanjutkan pengobatan sampai
seluruhnya 3 hari.
b. Pneuomonia Berat
1. Anak dirawat di rumah sakit
2. Terapi antibiotik :
a. Beri ampisilin atau amoksisilin (25-50 mg/kgBB/kali IV atau IM
setiap 6 jam), yang harus dipantau dalam 24 jam selama 72 jam
pertama. Bila anak memberi respon baik maka diberikan selama 5
hari. Selanjutnya terapi dilanjutkan dirumah atau dirumah sakit
dengan amoksisilin oral (15 mg/kgBB/kali tiga kali sehari) untuk 5
hari berikutnya.
b. Bila keadaan memburuk sebelum 48 jam, atau terdapat keadaan
yang berat (tidak dapat menyusu atau minum/makan, atau
memuntahkan semuanya, kejang, letargis atau tidak sadar,
sianosis, distres pernapasan berat) maka ditambahkan
kloramfenikol (25 mg/kg BB/kali IM atau IV setiap 8 jam).
c. Bila pasien datang dalam keadaan klinis berat, segera berikan
oksigen dan pengobatan kombinasi ampisilin-kloramfenikol atau
ampisilin-gentamisin.
d. Sebagai alternatif diberikan, beri seftriakson (80-100 mg/kgBB IM
atau IV sekali sehari).
e. Bila anak tidak membaik dalam 48 jam, maka bila memungkinkan
buat foto dada.
f. Apabila diduga pneumonia stafilokokal, ganti antibiotik dengan
gentamisin (7,5 mg/kgBB IM sekali sehari) dan klosasilin (50
mg/kgBB IM atau IV setiap 6 jam) atau klindamisin (15
mg/kgBB/hari 3 kali pemberian). Bila keadaan anak membaik,

15
lanjutkan kloksasilin (atau diklosasilin) secara oral 4 kali sehari
sampai secara keseluruhan mencapai 3 minggu, lalu klindamisin
oral selama 2 minggu.
3. Terapi oksigen
a. Beri oksigen pada semua anak dengan pneumonia berat.
b. Bila tersedia pulse oximetri, gunakan sebagai panduan untuk
terapi oksigen (berikan pada anak dengan saturasi oksigen <
90%). Lakukan periode tanpa oksigen setiap harinya pada anak
yang stabil, hentikan pemberian bila saturasi tetap >90%.
Pemberian oksigen setelah saat ini tidak berguna lagi.
c. Gunakan nasal prongs, kateter nasal, atau kateter nasofaringeal.
d. Pengggunaan nasal prongs adalah metode terbaik untuk
menghantarkan oksigen pada bayi muda. Masker wajah atau
masker kepala tidak direkomendasikan. Oksigen harus tersedia
secara terus-menerus setiap waktu.
e. Lanjutkan pemberian oksigen sampai tanda hipoksia (seperti
tarikan dinding dada bagian bawa ke dalam yang berat atau napas
>70/menit) tidak ditemukan lagi.
f. Sebaiknya memeriksa setiap 3 jam bahwa kateter atau prongs
tidak tersumbat oleh mukus dan berada ditempat yang benar serta
memastikan semua sambungan baik.
4. Perawatan penunjang
a.Bila anak disertai demam ( 39 C) beri parasetamol.
b. Bila ditemukan adanya wheezing, beri bronkodilator kerja
cepat
c.Bila terdapat sekret kental ditenggorokan yang tidak dapat
dikeluarkan oleh anak, hilangkan dengan alat penghisap secara
perlahan.
d. Pastikan anak mendapatkan kebutuhan cairan rumatan
sesuai umur anak, tetapi hati-hati terhadap kelebihan cairan.
e.Anjurkan pemberian ASI dan cairan oral.

16
f. Jika anak tidak bisa minum, pasang pipa nasogastrik dan berikan
cairan rumatan dalam jumlah sedikit tetapi sering, jika asupan
cairan oral mencukupi, jangan menggunakan pipa nasogastrik
untuk meningkatkan asupan, karena akan meningkatkan resiko
pneumonia aspirasi.
g. Bujuk anak untuk makan, segera setelah anak bisa menelan
makanan. Beri makanan sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan anak dalam menerimanya.
5. Pemantauan
a.Anak diperiksa perawat paling sedikit setiap 4 jam dan oleh
dokter paling sedikit 1 kali sehari.
b. Jika tidak ada komplikasi maka dalam 2 hari akan tampak
perbaikan klinis (bernapas tidak cepat, tidak adanya tarikan
dinding dada, bebas demam, anak dapat makan dan minum)
6. Kriteria pulang menurut idai
a.Gejala dan tanda pneumonia menghilang
b. Asupan per oral adekuat
c.Pemberian antibiotik dapat dilanjutkan dirumah (peroral)
d. Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan
rencana kontrol
e.Kondisi rumah memadai perawatan lanjutan dirumah

2.10. Pencegahan
Upaya pencegahan merupakan komponen strategis pemberantasan
pneumonia pada anak terdiri dari pencegahan melalui imunisasi dan non-
imunisasi. Imunisasi terhadap patogen yang bertanggung jawab terhadap
pneumonia merupakan strategi pencegahan spesifik. Pencegahan non-imunisasi
merupakan pencegahan non-spesifik misalnya mengatasi berbagai faktor-risiko
seperti polusi udara dalam-ruang, merokok, kebiasaan perilaku tidak sehat/bersih,
perbaikan gizi dan dan lain-lain9.

17
Pencegahan pneumonia selain dengan menghindarkan atau mengurangi
faktor risiko dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu dengan
pendidikan kesehatan di komunitas, perbaikan gizi, pelatihan petugas kesehatan
dalam hal memanfaatkan pedoman diagnosis dan pengobatan pneumonia,
penggunaan antibiotika yang benar dan efektif, dan waktu untuk merujuk yang
tepat dan segera bagi kasus yang pneumonia berat. Peningkatan gizi
termasuk pemberian ASI eksklusif dan asupan zinc, peningkatan cakupan
imunisasi, dan pengurangan polusi udara didalam ruangan dapat pula
mengurangi faktor risiko. Penelitian terkini juga menyimpulkan bahwa mencuci
tangan dapat mengurangi kejadian pneumonia9.

2.11. Komplikasi
Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empyema torasis, pericarditis
purulenta, pneumotoraks atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis purulenta.
Empyema torasis merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia
bakteri3.
Ilten F dkk. melaporkan mengenai komplikasi miokarditis (tekanan
sistolik ventrikel kanan meningkat, kreatinin kinase meningkat, dan gagal
jantung) yang cukup tinggi pada seri pneumonia anak berusia 2-24 bulan. Oleh
karena miokarditis merupakan keadaan yang fatal, maka dianjurkan untuk
melakukan deteksi dengan teknik noninvasive seperti EKG, ekokardiografi dan
pemeriksaan enzim3.

2.12. Prognosis
Sebagian besar anak-anak yang mengalami peumonia sembuh dengan
cepat dan sempurna. Kelainan pada radiografi kembali normal dalam waktu 6
sampai 8 minggu. Dalam beberapa kasus, pneumonia dapat bertahan lebih dari 1
bulan atau mungkin berulang. Pneumonia berat yang disebebabkan oleh
adenovirus dapat mengakibatkan obliterans bronkiolitis, merupakan suatu proses
inflamasi subakut di mana saluran udara kecil digantikan oleh jaringan parut.

18
Sindrom paru hiperlusen unilateral, atau Swyer-James Syndrome merupakan
gejala sisa dari pneumonia yang menyebabkan nekrosis jaringan paru dikaitkan
dengan infeksi adenovirus tipe 217.

BAB 3
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas
a. Identitas Pasien
Nama lengkap : M. Aizi
Umur : 1 bulan
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Gunung Sari
Status dalam Keluarga : Anak Kandung
No RM : 583492
b. Identitas keluarga :

19
Ibu Ayah
Nama Laelawati Hulaimi
Umur 23 tahun 30 tahun
Pendidikan SMA SMA
Pekerjaan IRT Wiraswasta

c. Masuk RS tanggal : 13 Oktober 2016


d. Diagnosis Masuk : Pneumonia
e. Keluar RS tanggal : 20 Oktober 2016
f. Lama Perawatan : 8 hari
g. Keadaan saat KRS : Rawat jalan

3.2. Anamnesis
Tanggal 14 Oktober 2016 , Heteroanamnesis dari ibu pasien
a. Keluhan Utama: Sesak Nafas
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien rujukan dari Puskesmas Penyambung dengan diagnosa pneumonia.
Pasien mengeluhkan sesak yang sudah dirasakan sejak kemaren sore pukul 16.00
sebelum masuk rumah sakit. Sesak yang dirasakan tidak disertai dengan adanya
bunyi ngik ataupun ngok. Sesak dengan tubuh kebiruan disangkal oleh keluarga
pasien. Sesak dirasakan semakin memberat dan akhirnya pasien dibawa ke
puskesmas dan diberikan oksigen hingga sesak berkurang dan pasien dipulangkan.
Pada malam harinya pada pukul 21.00 pasien kembali mengeluh sesak. Sesak
dirasakan semakin memberat hingga pasien tampak kebiruaan. Kemudian ibu
pasien membawa pasien kembali ke puskesmas dan disana diberikan oksigen dan
kemudian langsung dirujuk ke RSUP NTB.
Satu minggu sebelumnya pasien sempat mengalami batuk dan pilek yang hilang
timbul dan tidak diobati. Keluhan demam yang naik turun juga dirasakan oleh
keluarga pasien, ibu pasien mengaku beberapa kali merasakan badan pasien yang
lebih hangat dari biasanya.
Keluhan sepermi mual muntah disangkal, BAB dan BAK lancar dan masih dalam
batas normal. Menurut ibu pasien, pasien buang air besar lancar dan normal,

20
sehari pasien buang air besar 1-2 kali, dengan konsistensi lunak, berwarna kuning
kecoklatan, tidak ditemukan darah (buang air besar berwarna merah atau hitam),
tidak ditemukan lendir. Pasien buang air kecil lancar dan normal, 3-4 kali perhari,
berwarna kuning jernih, dan tidak berwarna merah seperti teh. Menyusu dirasakan
berkurang sejak pasien sakit.

c. Riwayat Penyakit Sebelumnya


Pasien pernah dirawat intensif di NICU karena terdapat masalah
pernafasan. Pasien tidak pernah mengalami sesak lagi sejak terakhir kali di rawat
di NICU.

d. Riwayat Penyakit Keluarga dan Sosial


Keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa, rimwayat batuk lama
disangkal, penyakit hipertensi dan diabetes juga disangkal.

e. Riwayat Keluarga (Ikhtisar)


Pasien merupakan anak pertama .

f. Riwayat Pengobatan
Sebelum pasien dibawa ke RSUP NTB, pasien sempat berobat ke
Puskesmas Penyambung dan diberikan oksigen sebanyak 2 liter/menit.

g. Riwayat Pribadi

Riwayat Kehamilan dan Persalinan


Selama mengandung, ibu pasien rutin memeriksakan kehamilannya di polindes
sebanyak 10x selama hamil. Ibu pasien mengaku tidak pernah sakit berat selama
mengandung. Ibu pasien mengaku pernah demam namun tidak tinggi saat usia
kehamilan sekitar 3 bulan. Selain itu ibu pasien juga sering keputihan sejak awal
kehamilan sampai usia 5 bulan, berwarna kekuningan, berbau, namun tidak
disertai dengan rasa gatal.

21
Pasien merupakan anak pertama. Pasien lahir cukup bulan. Pasien lahir spontan
pervaginam dengan berat 3100 gr di Puskesmas dan ditolong oleh bidan. Saat
lahir pasien langsung menangis spontan, tonus otot baik, riwayat sianosis maupun
ikterik disangkal.

2. Riwayat Nutrisi
Sampai saat ini pasien hanya mengonsumsi ASI

3. Riwayat Vaksinasi
Pasien baru mendapatkan imunisasi hepatitis B dan BCG

4. Riwayat Sosial
Ayah pasien adalah seorang perokok, sehari ayah pasien dapat
menghabiskan 3-4 batang rokok. Ibu pasien sehari-hari memasak dengan
menggunakan kompor.

3. 3. Pemeriksaan Fisik
Tanggal 14 Oktober 2016
a. Status Present
KU : Sedang
Kesadaran : Compos Mentis
RR : 52 kali permenit
Nadi : 124 kali permenit
T ax : 36,7 C
SPO2 : 99% dengan O2 1 lpm
Usia : 1 bulan
b. Status Gizi
Berat badan lahir : 3100 gram
Berat badan sekarang : 3650 gram

22
Panjang badan : 52 cm
Lingkar kepala : 36 cm
Usia lahir : 40 minggu
Usia sekarang : 1 bulan
Kesimpulan status gizi :
o BB/U = 0 SD sampai -2 SD
o PB/U = -2 SD sampai 0 SD
o BB/PB = 0 SD sampai -2 SD

c. Status General :
Kepala dan Leher
1. Kepala
Bentuk : normochepali (-2SD sampai dengan 0 SD menggunakan
kurva nellhaus)
2. Mata
a. Konjungtiva kanan dan kiri tidak tampak anemis
b. Sklera kanan dan kiri tidak tampak ikterus
c. Pupil kanan dan kiri isokor
d. Refleks pupil kanan dan kiri normal
e. Kornea tampak jernih
3. Telinga
a. Bentuk: telinga kanan dan kiri tampak simetris, tidak ditemukan
deformitas
b. Sekret: tidak ditemukan adanya sekret pada telinga kanan dan kiri
4. Hidung
a. Bentuk : hidung tampak simetris
b. Pernafasan cuping hidung: tidak ada
c. Tidak tampak sekret pada lubang hidung kanan dan kiri
5. Mulut

23
a. Bibir: mukosa bibir berwarna kemerahan dan basah dengan
6. Leher
Tidak tampak pembesaran kelenjar getah pada leher pasien

Thorak
1. Inspeksi: pergerakan dinding dada tampak simetris antara kanan dan
kiri, tampak retraksi subcostal minimal
2. Palpasi: pergerakan dinding dada simetris, tidak ada ketertingaalan
gerak
3. Perkusi: sonor di kedua lapang paru
4. Auskultasi :
i. Pulmo: terdapat rhonki basah halus di kedua lapang paru,
tidak terdengar wheezing di kedua lapang paru.
ii. Cor : S1 dan S2 tunggal, Murmur (-), Gallop (-)
Abdomen
1. Inspeksi: perut tidak tampak distensi, tidak tampak adanya masa
2. Auskultasi: Bising usus normal
3. Perkusi: Timpani di semua kuadran
4. Palpasi: tidak teraba masa, turgor normal

Ekstremitas
Tungkai Atas Tungkai Bawah
Kanan Kiri Kanan Kiri
Akral hangat + + + +
Edema - - - -
Kelainan - - - -
bentuk

3.4. Pemeriksaan Penunjang


Darah Lengkap (tanggal 13 Oktober 2016)
Parameter Nilai Rujukan
HGB 18,4 g/dl L 13,0 - 18,0
RBC 6,20 x 106/uL L 4,5 - 5,5

24
HCT 56,6 % L 40,0 - 50,0
MCV 91,3 fL 82,0 - 92,0
MCH 29,7 pg 27,0 - 31,0
MCHC 32,5 g/dl 32,0 - 37,0
WBC 7,86 x 103/uL 4,0 11,0
PLT 171 x 103/uL 150 400
EO 5%
LYMP 60,9 %
NEUT 20,3 %
GDS 62

Pemeriksaan Radiologi

o Tampak infiltrate parahiler pada daerah dextra, sela iga melebar


o Kesan : bronchopneumonia dextra

3.5. Resume
Pasien rujukan dari Puskesmas Penyambung dengan diagnosa pneumonia.
Pasien mengeluhkan sesak yang sudah dirasakan sejak kemaren sore pukul 16.00

25
sebelum masuk rumah sakit. Sesak yang dirasakan tidak disertai dengan adanya
bunyi ngik ataupun ngok. Sesak dirasakan semakin memberat dan akhirnya pasien
dibawa ke puskesmas dan diberikan oksigen hingga sesak berkurang dan pasien
dipulangkan. Pada malam harinya pada pukul 21.00 pasien kembali mengeluh
sesak. Sesak dirasakan semakin memberat hingga pasien tampak kebiruaan.
Kemudian ibu pasien membawa pasien kembali ke puskesmas dan disana
diberikan oksigen dan kemudian langsung dirujuk ke RSUP NTB. Satu minggu
sebelumnya pasien sempat mengalami batuk dan pilek yang hilang timbul dan
tidak diobati. Pasien pernah dirawat intensif di NICU karena terdapat masalah
pernafasan. Pasien tidak pernah mengalami sesak lagi sejak terakhir kali di rawat
di NICU.
Didapatkan keadaan umum sedang, RR: 52 kali permenit, nadi: 124 kali
permenit, Tax: 36,7C dan SPO2 99% dengan O2 1 lpm. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan retraksi subcostal minimal, rhonki basah halus di kedua paru pada
bagian basal.

3.6 Diagnosis
Bronchopneumonia

3.7 Terapi
Terapi IGD
o O2 nasal kanul 1 lpm
o D5 NS 10 tpm mikro
o Cefotaxim 3 x 125 mg
o Gentamisin 1 x 10 mg

Terapi Sp.A
o O2 nasal kanul 1 lpm
o D5 NS 10 tpm mikro
o Cefotaxim 3 x 125mg

26
o Gentamisin 2 x 10 mg
o Ampisilin 3 x 150 mg
o Combivent 3 x ampul
o Paracetamol k/p 2 m
3.8 Follow UP Pasien
13/10/ 2016
Subyektif Obyektif Assessment Planning
Sesak (+) Ku: sedang Bronchopneumonia a. O2 nasal

Batuk (+) Nadi: 120 x / kanul 1 lpm

menit b. D5 NS 10
Pilek (+)
RR: 48 x/menit tpm mikro
Pasien
c. Cefotaxim 3
tidak Tax: 36,8 C
x 125mg
demam SPO2 : 98%
d. Gentamisin 2
dengan O2 2lpm
x 10 mg
Tidak tampak
e. Ampisilin 3 x
napas cuping
150 mg
hidung
f. Combivent 3
Tampak retraksi x ampul
subcostal g. Paracetamol
minimal k/p 2 ml
Terdengar
rhonki basah
halus di kedua
paru
14/10/ 2016
Subyektif Obyektif Assessment Planning
Batuk (+) Ku : sedang Bronchopneumoni o O2 nasal

Sesak (+) Nadi : 148 x / a kanul 1 lpm

Pilek (-) menit o D5 NS 10

RR : 42 x/menit tpm mikro


Pasien

27
tidak Tax : 36,4 C o Cefotaxim 3
demam SPO2: 92% x 125mg
pasien dengan oksigen o Gentamisin
masih mau 1 liter per menit 2 x 10 mg
menyusu Tidak tampak o Ampisilin 3

napas cuping x 150 mg

hidung o Combivent
3 x ampul
o Paracetamol

Tampak retraksi k/p 2 ml

subcostal
minimal
Terdengar
rhonki basah
halus di kedua
paru
15 /10/ 2016
Subyektif Obyektif Assessment Planning
Batuk (+) Ku : sedang Bronchopneumoni o O2 nasal

Sesak (+) Nadi : 145 x / a kanul 1 lpm

Pilek (-) menit o D5 NS 10

RR : 46 x/menit tpm mikro


Pasien
o Cefotaxim 3
tidak Tax : 36,8 C
x 125mg
demam SPO2 : 99%
o Gentamisin
pasien dengan oksigen
2 x 10 mg
masih mau 1 liter permenit
o Ampisilin 3
menyusu Tidak tampak
x 150 mg
muntah(-) napas cuping
o Combivent
hidung
3 x ampul
retraksi
o Paracetamol

28
subcostal k/p 2 ml
minimal
Terdengar
rhonki basah
halus di kedua
paru
16/10/2016
Subyektif Obyektif Assessment Planing
Batuk (-) Ku : sedang Bronchopneumoni O2 nasal kanul
Sesak (+) Nadi : 158 x / a 1 lpm

Pilek (-) menit D5 NS 10

Pasien RR : 52 x/menit tpm mikro

tidak Tax : 36,4 C Cefotaxim 3 x

demam SPO2 : 99% 125mg

Pasien dengan oksigen Gentamisin 2 x

masih mau 1 liter permenit 10 mg

menyusu Tidak tampak Ampisilin 3 x

napas cuping 150 mg

hidung Combivent 3 x

retraksi ampul

subcostal Paracetamol

minimal k/p 2 ml

Terdengar
rhonki basah
halus di kedua
paru

17/10/2016
Subyektif Obyektif Assessment Planing
Batuk (-) Ku : sedang Bronchopneumoni O2 nasal kanul
Sesak (+) Nadi : 137 x / a 1 lpm

29
Pilek (-) menit D5 NS 10
Pasien RR : 54 x/menit tpm mikro
tidak Tax : 36,9 C Cefotaxim 3 x
demam SPO2 : 98% 125mg
Pasien dengan oksigen Gentamisin 2 x
masih mau 1 liter permenit 10 mg
menyusu Tidak tampak Ampisilin 3 x
napas cuping 150 mg
hidung Combivent 3 x
retraksi ampul
subcostal Paracetamol
minimal k/p 2 ml
Terdengar
rhonki basah
halus di kedua
paru

18/10/2016
Subyektif Obyektif Assessment Planing
Batuk (-) Ku : sedang Bronchopneumoni O2 nasal kanul
Sesak (+) Nadi : 138 x / a 1 lpm

Pilek (-) menit D5 NS 10

Pasien RR : 50 x/menit tpm mikro

tidak Tax : 36,8 C Cefotaxim 3 x

demam SPO2 : 99% 125mg

Pasien dengan oksigen Gentamisin 2 x

masih mau 1 liter permenit 10 mg

menyusu Tidak tampak Ampisilin 3 x

napas cuping 150 mg

hidung Combivent 3 x

30
retraksi ampul
subcostal Paracetamol
minimal k/p 2 ml
Terdengar
rhonki basah
halus di kedua
paru yang mulai
berkurang
19/10/2016
Subyektif Obyektif Assessment Planing
Batuk (-) Ku : sedang Bronchopneumoni Aff O2 nasal
Sesak Nadi : 158 x / a kanul 1 lpm
berkurang menit (k/p)

Pilek (-) RR : 40 x/menit D5 NS 10

Pasien Tax : 36,6 C tpm mikro

tidak Cefotaxim 3 x
SPO2 : 99%
demam 125mg
dengan oksigen
Pasien 1 liter permenit Gentamisin 2 x

masih mau Tidak tampak 10 mg

menyusu napas cuping Ampisilin 3 x

hidung 150 mg

retraksi Combivent 3 x

subcostal (-) ampul

Terdengar Paracetamol

rhonki basah k/p 2 ml

halus di kedua
paru minimal
20/10/2016
Subyektif Obyektif Assessment Planing
Batuk (-) Ku : sedang Bronchopneumoni Aff O2 nasal
Sesak (-) Nadi : 118 x / a kanul 1 lpm

31
Pilek (-) menit (k/p)

Pasien RR : 40 x/menit Aff infus

tidak Tax : 36,6 C


demam SPO2 : 99%
Pasien Tidak tampak
masih mau napas cuping
menyusu hidung
retraksi
subcostal (-)
Terdengar
rhonki basah
halus di kedua
paru minimal

BAB 4
PEMBAHASAN

4.1. Pembahasan
Pada kasus ini, pasien didiagnosis dengan bronchopneumonia. Pneumonia
adalah peradangan pada parenkim paru, (sebelah distal dari bronkiolus terminalis
bronkiolus respirtorius dan alveoli) disertai konsolidasi jaringan paru. Pneumonia
masih menjadi masalah kesehatan utama masyarakat indonesia karena pneumonia

32
merupakan penyebab kematian kedua tertinggi setelah diare diantara balita.
Secara garis besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur.
Diagnosis pneumonia ditegakan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang telah dilakukan. Diagnosis bronchopneumonia didapat berdasarkan
hasil anamnesis bahwa pasien dikeluhkan menderita sesak napas. Pasien juga
mengalami batuk dan pilek sebelum masuk rumah sakit. Sedangkan dari
pemeriksaan fisik didapatkan napas cepat (berjumlah 52 kali permenit) diseratai
rhonki basah halus di kedua lapang paru. Pada pemeriksaan radiologi ditemukan
infiltrate parahiler pada daerah dextra dan batas jantung yang tidak jelas sehingga
menunjukkan kesan bronchopneumoni.
Penatalaksanaan bronchopneumonia dilakukan dengan pemberian oksigen untuk
mengatasi sesak, pemberian cairan intravena bertujuan untuk pemberian nutrisi
parenteral (langsung masuk ke dalam sistem sirkulasi), jalur pemberian obat.
Pemberian antibiotik, dipilih ampicillin dan gentamisin karena merupakan
antibiotic lini pertama dalam mengobati pneumonia. Combivent dipilih karena
memiliki efek bronkodilator yang lebih baik karena memiliki dua mekanisme
kerja yang berbeda yaitu memiliki efek antikolinergik (ipratropium bromide) dan
simpatomimetik (albuterol sufate).

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair. Buku Ajar Ilmu


Penyakit Paru, Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair-RSUD
Dr. Soetomo, Surabaya. 2010.
2. DEPKES RI. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran
Pernapasan. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Departemen Kesehatan RI. 2005.
3. Said, M. Buku Ajar Respirologi Anak. ED Pertama. Ikatan Dokter
Anak Indonesia. 2010.
4. Riset Kesehatan Dasar. Period Prevalence Pneumonia Balita, dan
Prevalensi Pneumonia Menurut Provinsi, Indonesia 2013. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan
RI, Jakarta. 2013.
5. Price, Sylvia A, Wilson, Lorraine M., Patofisiologi Ed 6, Jakarta:
EGC. 2004.
6. WHO Indonesia. Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah
Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota, Alih bahasa:
Tim Adaptasi Indonesia, Jakarta: Depkes RI. 2008.

34
7. Behrman RE, Vaughan VC. Nelson Ilmu Kesehatan Anak, Bagian
II, Ed 12, Jakarta: EGC. 1992.
8. Said, M. Pengendalian Pneumonia Anak-Balita dalam Rangka
Pencapaian MDG4. Buletin Jendela Epidemiologi, Volume 3,
September. 2010.
9. Lichenstein R, Suggs AH, Campbell J. Pediatric pneumonia.
Emerg Med Clin N Am 2003; 21 : 437-51.

35