Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN

PRESENTASI KASUS

INTOKSIKASI ORGANOFOSFAT

Disusun oleh :
dr. Catharini Kitri Fiana

DOKTER INTERNSIP RSUD SEJIRAN SETASON


BANGKA BARAT
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KASUS

INTOKSIKASI ORGANOFOSFAT

Oleh:

dr. Catharini Kitri Fiana

Internsip RSUD Sejiran Setason, Bangka Barat

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Program Internsip Dokter Indonesia di RSUD Sejiran Setason, Bangka Barat
periode 23 Februari 2016 - 23 Februari 2017

Muntok, Januari 2017

Mengetahui,

Pembimbing,

dr. Zainal Fahmi, Sp.PD

Pendamping I, Pendamping II,

dr. Femmy Vionita K. dr. Erwin Sumardi

LAPORAN KASUS

2
I IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. WD
Usia : 32 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Mentok
Status Pernikahan : Menikah
Pekerjaan : Buruh harian lepas
Agama : Islam
Tanggal Masuk : 19 Desember 2016
Nomor RM : 030343
Ruang Perawatan : Ruang Anggrek PDL

II ANAMNESIS (Autoanamnesis)

Keluhan Utama
Minum racun rumput 3 jam SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUD Sejiran Setason diantar istrinya dengan
keluhan muntah-muntah setelah meminum racun rumput + 3 jam SMRS .
Pasien mengatakan meminum racun rumput sebanyak satu botol kecil
dicampur air, Namun karena pahit pasien tidak menghabiskan semuanya.
Pasien mengeluh nyeri ulu hati dan terasa panas (+), mual (+) muntah
sudah tidak terhitung, sakit tenggorokan (+), sesak (-), dan lemas (+) .
Pasien mengaku sempat tidak sadar , dan sudah meminum susu beruang
sebanyak 6 kaleng sebelum datang ke rumah sakit. Muntah darah (-). BAK
dan BAB tidak ada kelainan.

3
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Hipertensi (-), DM (-), Jantung (-), Asma (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit keluarga tidak diketahui

Riwayat Medikasi
Pasien belum pernah berobat sebelumnya, hanya minum susu beruang
6 kaleng

Riwayat Kebiasaan
Pasien perokok aktif +1 bungkus per hari. Tidak mengkonsumsi
alkohol.

III PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis, GCS : 15
Antropometri : BB: 75 kg, TB: 170 cm

Tanda Vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Suhu : 36.8C
Respirasi : 20 kali/menit
Nadi : 108 kali/menit

Status Generalis
Kepala : Normochepali

4
Mata : Pupil bulat isokor, konjungtiva anemis -/-, sklera
ikterik -/-, RC +/+, 2mm=2mm
Hidung : Simetris, pernapasan cuping hidung (-).
Mulut : sietris, sianosis (-), tonsil T1-T1 tenang, arkus faring
simetris, hiperemis (-), oral hygiene baik
Telinga : Normotia, liang telinga lapang, serumen (-), sekret
(-)
Leher : KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak
teraba membesar, JVP 5+2 cm, deviasi trakea (-)
Toraks
Paru
- Inspeksi : Gerakan dada simetris kanan dan kiri, retraksi (-)
- Palpasi : Gerak napas simetris
- Perkusi : Sonor pada kedua hemitoraks
- Auskultasi : Suara napas vesikuler pada kedua lapang paru,
ronki -/-, wheezing -/-
Jantung
- Inspeksi : Pulsasi ictus cordis tidak terlihat
- Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V 1 cm medial linea
midklavikularis sinistra
- Perkusi : Batas paru dan jantung normal
- Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 normal reguler, splitting (-),
S3 (-), S4 (-), murmur (-)
Abdomen
Inspeksi : tampak datar
Palpasi : Supel pada seluruh kuadran abdomen, nyeri tekan
epigastrium (+), nyeri lepas (-), hepar dan lien
tidak teraba membesar.
Perkusi : timpani pada seluruh kuadran abdomen, shifting
dullness (-)
Auskultasi : Bising usus (+) meningkat

5
Ekstremitas : Akral hangat (+), edema (-), CRT < 2 detik

IV PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan tanggal 19 Desember 2016


Hemoglobin 16,3 13,2-17,3
Leukosit 10.830 5.000-10.000
Trombosit 312.000 150.000-440.000
Hematokrit 43% 40-52
Diff Count
Basofil 0 0-1
Eosinofil 1 1-3
Batang 0 2-6
Segmen 27 50-70
Limfosit 27 20-40
Monosit 8 2-8

V RESUME

Seorang laki-laki, 32 tahun datang dengan keluhan muntah-muntah


setelah minum pestisida ( racun rumput ) 3 jam SMRS, Pasien mengatakan
meminum racun rumput sebanyak satu botol kecil dicampur air, Namun
karena pahit pasien tidak menghabiskan semuanya. Pasien mengeluh nyeri
ulu hati dan terasa panas (+), mual (+) muntah sudah tidak terhitung, sakit
tenggorokan (+) dan lemas (+) . Pasien mengaku sempat tidak sadar , dan
sudah meminum susu beruang sebanyak 6 kaleng sebelum datang ke rumah
sakit.

6
Dari pemeriksaan fisik didapat kelainan berupa nyeri tekan epigastrium
pada saat palpasi daerah abdomen dan bising usus meningkat pada saat
auskultasi abdomen. Dari pemeriksaan laboratorium dalam batas normal.

VI DIAGNOSIS
Diagnosis Kerja : Intoksikasi Organofosfat ( Pestisida )

VII PENATALAKSANAAN

Nonmedikamentosa
- Tirah baring
- Pasang NGT
- Bilas Lambung 1000cc Nacl 0,9 % : cairan putih keruh + gumpalan
putih seperti susu
- Edukasi : Pasien dipuasakan

Medikamentosa
- IVFD Nacl 0,9 % 20 tpm
- Inj. Omeprazol 1 amp (I.V.)
Konsul dr. Zainal Sp.Pd, advice :
- Inj. Dexametason 1x1 amp (I.V)
- Inj. Ceftriaxone 2x1gr (I.V) (skintest)
- Suckralfat Syr 4x10cc
- Terapi lain lanjut

VIII. FOLLOW UP

20 Desember 2016
S Nyeri perut (+), muntah (-), mual (+) , sakit tenggorokan (+), Telinga kiri
berdenging (+)

7
O KU: CM, TSS
TD: 100/70 mmHg
Nadi: 72x/menit
Suhu: 36,30C
Pernafasan: 20x/menit
PF: NTE (+)
A Intoksikasi (Pestisida Organofosfat)
P -IVFD D5% 20 tpm
-Inj. Ceftriaxone 2x1gr (I.V)
-Inj. Omeprazol 2 x 1 amp (I.V)
-Inj. Dexamethasone 1 x 1 amp (I.V)
-Suckralfat syr 4x10cc
- NGT-up
-Diet cair 500cc/hr
-Setelah visite pasien minta pulang (PAPS)
Obat pulang :
- Cefadroxil tab 3x500
- Dexamethasone 1x1tab
- Omeprazole tab 2x1tab
- Suckrafat Syr 4x 10cc

IX. PROGNOSIS

Ad vitam : Ad bonam
Ad functionam : Ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam

8
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 PENGERTIAN PESTISIDA

Pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan sida yang
berasal dari kata caedo berarti pembunuh. Pestisida dapat diartikan secara
sederhana sebagai pembunuh hama. Secara umum pestisida dapat
didefenisikan sebagai bahan yang digunakan untuk mengendalikan populasi
jasad yang dianggap sebagai pest (hama) yang secara langsung maupun
tidak langsung merugikan kepentingan manusia (Sartono, 2001). USEPA
dalam Soemirat (2005) menyatakan pestisida sebagai zat atau campuran zat
yang digunakan untuk mencegah, memusnahkan, menolak, atau memusuhi
hama dalam bentuk hewan, tanaman, dan mikroorganisme penggangu.
Pestisida adalah subtansi yang digunakan untuk membunuh atau
mengendalikan berbagai hama. Kata pestisida berasal dari kata pest yang
berarti hama dan cida yang berarti pembunuh. Jadi secara sederhana
pestisida diartikan sebagai pembunuh hama yaitu tungau, tumbuhan
pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi, bakteri, virus,
nematoda, siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.
Menurut Permenkes RI, No.258/Menkes/Per/III/1992 Semua zat kimia/bahan
lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk membrantas atau
mencegah hama-hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian
tanaman atau hasil pertanian, memberantas gulma, mengatur/merangsang
pertumbuhan tanaman tidak termasuk pupuk, mematikan dan mencegah
hama-hama liar pada hewan-hewan peliharaan dan ternak,
mencegah/memberantas hama-hama air, memberantas/mencegah binatang-
binatang dan jasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan alat-alat
angkutan, memberantas dan mencegah binatang-binatang termasuk

9
serangga yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang
yang perlu dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah dan air.
Pengertian pestisida menurut Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973
dalam Kementrian Pertanian (2011) dan Permenkes RI
No.258/Menkes/Per/III/1992 adalah semua zat kimia dan bahan lain serta
jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
1. Memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman,
bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian.
2. Memberantas rerumputan
3. Mengatur atau merangsang pertumbuhan yang tidak diinginkan
4. Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan peliharaan
atau ternak
5. Memberantas atau mencegah hama-hama air
6. Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik
dalam bangunan rumah tangga alat angkutan, dan alat-alat pertanian
7. Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat
menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungi
dengan penggunaan tanaman, tanah dan air.
Menurut PP RI No.6 tahun 1995 dalam Soemirat (2005), pestisida juga
didefinisikan sebagai zat atau senyawa kimia, zat pengatur tubuh dan
perangsang tubuh, bahan lain, serta mikroorganisme atau virus yang
digunakan untuk perlindungan tanaman.

2.1. KERACUNAN KRONIK PESTISIDA ORGANOFOSFAT

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahun


terjadi tiga juta kasus keracunan pestisida pada pekerja pertanian dengan
tingkat kematian mencapai 220.000 jiwa. Sebagian besar dari kasus
keracunan yang fatal terjadi di negara berkembang dan ditemukan terutama
pada petani.1, 11 Jumlah keracunan pestisida organofosfat diperkirakan tiga
juta per tahun, dan jumlah kematian dan korban sekitar 300.000 per tahun.2
Keracunan pestisida organofosfat dan karbamat telah diteliti oleh
Departemen Kesehatan pada tahun 1996/1997 menunjukkan 61,8% petani

10
mempunyai aktivitas kolinesterase normal, 1,3% keracunan berat dan 26,9%
keracunan ringan. Penelitian yang serupa pada tahun 1997/1998
menunjukkan hasil 65,91% petani mempunyai aktivitas kolinesterase normal,
2,14% keracunan berat, 8,01% keracunan sedang, dan 21,27% keracunan
ringa
Pestisida khususnya insektisida yang merupakan kelompok pestisida
terbesar dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai komponen kimianya,
yaitu organoklorin, organofosfat, karbamat, piretiroid, rotenone, produk
protein yang dihasilkan Bacillus thuringiensis

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PESTISIDA ORGANOFOSFAT

Racun adalah zat atau bahan yang bila masuk ke dalam tubuh melalui
mulut, hidung, suntikan dan absorpsi melalui kulit atau digunakan terhadap
organisme hidup dengan dosis relatif kecil akan merusak kehidupan atau
mengganggu dengan serius fungsi hati atau lebih organ atau jaringan(Mc
Graw-Hill Nursing Dictionary).
Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia
dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang
menggunakannya. Keracunan adalah keadaan sakit yang ditimbulkan oleh
racun. Bahan racun yang masuk ke dalam tubuh dapat langsung
mengganggu organ tubuh tertentu, seperti paru-paru, hati, ginjal dan
lainnya. Tetapi zat tersebut dapat pula terakumulasi dalam organ tubuh,
tergantung sifatnya pada tulang, hati, darah atau organ lainnya sehingga
akan menghasilkan efek yang tidak diinginkan dalam jangka panjang.

11
Organofosfat adalah insektisida yang paling toksik di antara jenis
pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada manusia.Bila
tertelan, meskipun hanya dalam jumlah sedikit, dapat menyebabkan
kematian pada manusia.Organofosfat menghambat aksi
pseudokholinesterase dalam plasma dan kholinesterase dalam sel darah
merah dan pada sinapsisnya. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis
acetylcholine menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim dihambat,
mengakibatkan jumlah acetylcholine meningkat dan berikatan dengan
reseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer. Hal
tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada
seluruh bagian tubuh.
Walaupun memiliki sifat toksisitas yang tinggi, tetapi penggunaan
organofosfat untuk pengobatan pada manusia tetap dilakukan berbagai studi
untuk mengambil efek terapeutik dari organofosfat (Lindell, 2003).Pada
sekitar tahun 1930 sintesis penghambat kolineterase pertama kali dipakai
untuk penyakit gangguan otonom pada otot rangka pada pengobatan
Parkinsonisme. Studi kemudian dilanjutkan pada takrin yang merupakan
penghambat kolineterase pertama pada pengobatan penyakit Alzheimerdan
dilepaskan pada pengobatan klinik pada tahun 1993 (Dyro, 2006).

B. PESTISIDA GOLONGAN ORGANOFOSFAT

Pestisida yang termasuk ke dalam golongan organofosfat antara lain :


Azinophosmethyl, Chloryfos, Demeton Methyl, Dichlorovos, Dimethoat,
Disulfoton, Ethion, Palathion, Malathion, Parathion, Diazinon, Chlorpyrifos.
Senyawa Organofosfat merupakan penghambat yang kuat dari enzim
cholinesterase pada syaraf. Asetyl cholin berakumulasi pada persimpangan
persimpangan syaraf (neural jungstion) yang disebabkan oleh aktivitas
cholinesterase dan menghalangi penyampaian rangsangan syaraf kelenjar
dan otot-otot. Golongan ini sangat toksik untuk hewan bertulang belakang.
Organofosfat disintesis pertama kali di Jerman pada awal perang dunia ke-II.

12
Struktur umum organofosfat

Gugus X pada struktur di atas disebut leaving group yang


tergantikan saat organofosfat menfosforilasi asetilkholin serta gugus ini
paling sensitif terhidrolisis. Sedangkan gugus R1 dan R2 umumnya adalah
golongan alkoksi, misalnya OCH3 atau OC2H5. Organofosfat dapat
digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain, fosfat, fosforothioat,
fosforamidat, fosfonat, dan sebagainya.

Pestisida yang termasuk dalam golongan organofosfat antara


lain :

1. Asefat
Diperkenalkan pada tahun 1972. Asefat berspektrum luas untuk
mengendalikan hama-hama penusuk-penghisap dan pengunyah seperti
aphids, thrips, larva Lepidoptera (termasuk ulat tanah), penggorok daun dan
wereng. LD50 (tikus) sekitar 1.030 1.147 mg/kg; LD50 dermal (kelinci) >
10.000 mg/kg menyebabkan iritasi ringan pada kulit (kelinci)

2. Kadusafos
Merupakan insektisida dan nematisida racun kontak dan racun perut.
LD50 (tikus) sekitar 37,1 mg/kg; LD50 dermal (kelinci) 24,4 mg/kg tidak
menyebabkan iritasi kulit dan tidak menyebabkan iritasi pada mata.
3. Klorfenvinfos

13
Diumumkan pada tahun 1962. Insektisida ini bersifat nonsistemik serta
bekerja sebagai racun kontak dan racun perut dengan efek residu yang
panjang. LD50 (tikus) sekitar 10 mg/kg; LD50 dermal (tikus) 31 108 mg/kg.
4. Klorpirifos
Merupakan insektisida non-sistemik, diperkenalkan tahun 1965, serta
bekerja sebagai racun kontak, racun lambung, dan inhalasi. LD50 oral (tikus)
sebesar 135 163 mg/kg; LD50 dermal (tikus) > 2.000 mg/kg berat badan.
5. Kumafos
Ditemukan pada tahun 1952. Insektisida ini bersifat non-sistemik untuk
mengendalikan serangga hama dari ordo Diptera. LD50 oral (tikus) 16 41
mg/kg; LD50 dermal (tikus) > 860 mg/kg.
6. Diazinon
Pertama kali diumumkan pada tahun 1953. Diazinon merupakan
insektisida dan akarisida non-sistemik yang bekerja sebagai racun kontak,
racun perut, dan efek inhalasi. Diazinon juga diaplikasikan sebagai bahan
perawatan benih (seed treatment). LD50 oral (tikus) sebesar 1.250 mg/kg.
7. Diklorvos (DDVP)
Dipublikasikan pertama kali pada tahun 1955. Insektisida dan akarisida
ini bersifat non-sistemik, bekerja sebagai racun kontak, racun perut, dan
racun inhalasi. Diklorvos memiliki efek knockdown yang sangat cepat dan
digunakan di bidang-bidang pertanian, kesehatan masyarakat, serta
insektisida rumah tangga.LD50 (tikus) sekitar 50 mg/kg; LD50 dermal (tikus)
90 mg/kg.
8. Malation
Diperkenalkan pada tahun 1952. Malation merupakan pro-insektisida
yang dalam proses metabolisme serangga akan diubah menjadi senyawa
lain yang beracun bagi serangga. Insektisida dan akarisida non-sistemik ini
bertindak sebagai racun kontak dan racun lambung, serta memiliki efek
sebagai racun inhalasi. Malation juga digunakan dalam bidang kesehatan
masyarakat untuk mengendalikan vektor penyakit. LD50 oral (tikus) 1.375
2.800 mg/lg; LD50 dermal (kelinci) 4.100 mg/kg.

14
9. Paration
Ditemukan pada tahun 1946 dan merupakan insektisida pertama yang
digunakan di lapangan pertanian dan disintesis berdasarkan lead-structure
yang disarankan oleh G. Schrader. Paration merupakan insektisida dan
akarisida, memiliki mode of action sebagai racun saraf yang menghambat
kolinesterase, bersifat non-sistemik, serta bekerja sebagai racun kontak,
racun lambung, dan racun inhalasi. Paration termasuk insektisida yang
sangat beracun, LD50 (tikus) sekitar 2 mg/kg; LD50 dermal (tikus) 71 mg/kg.
10. Profenofos
Ditemukan pada tahun 1975. Insektisida dan akarisida non-sistemik ini
memiliki aktivitas translaminar dan ovisida. Profenofos digunakan untuk
mengendalikan berbagai serangga hama (terutama Lepidoptera) dan
tungau. LD50 (tikus) sekitar 358 mg/kg; LD50 dermal (kelinci) 472 mg/kg.
11. Triazofos
Ditemukan pada tahun 1973. Triazofos merupakan insektisida,
akarisida, dan nematisida berspektrum luas yang bekerja sebagai racun
kontak dan racun perut. Triazofos bersifat non-sistemik, tetapi bisa
menembus jauh ke dalam jaringan tanaman (translaminar) dan digunakan
untuk mengendalikan berbagai hama seperti ulat dan tungau. LD50 (tikus)
sekitar 57 59 mg/kg; LD50 dermal (kelinci) > 2.000 mg/kg.

C. DIAGNOSIS KERACUNAN PESTISIDA ORGANOFOSFAT

Penegakan diagnosa dari keracunan seringkali dengan mudah dapat


ditegakkan karena keluarga atau pengantar penderita sudah mengatakan
penyebab keracunan atau membawa tempat bahan beracun kepada dokter.
Tapi kadang-kadang kita menemui kesulitan dalam menentukan penyebab
keracunan terutama bila penderita tidak sadar dan tidak ada saksi yang
mengetahui kejadiannya. Diagnosa dari keracunan terutama didasarkan
pada anamnesa yang diambil dari orang tua, keluarga,pengasuh atau orang
lain yang mengetahui kejadiannya.

15
Pada anamnesa ditanyakan kapan dan bagaimana terjadinya, tempat
kejadian dan kalau mungkin mencari penyebab keracunan. Ditanya pula
kemungkinan penggunaan obat-obatan tertentu atau resep yang mungkin
baru didapat dari dokter. Diusahakan sedapat mungkin agar tempat bekas
bahan beracun diminta untuk melihat isi bahan beracun dan kemudian
diselidiki lebih lanjut. Pemeriksaan fisik sangat penting terutama pada
penderita-penderita yang belum jelas penyebabnya.
1. BAU:
o Aceton : Methanol, isopropyl alcohol, acetyl salicylic acid
o Coal gas : Carbon monoksida
o Buah per : Chloralhidrat
o Bawang putih : Arsen, fosfor, thalium, organofosfat
o Alkohol : Ethanol, methanol
o Minyak : Minyak tanah atau destilat minyak

2. KULIT:
o Kemerahan : Co, cyanida, asam borax, anticholinergik
o Berkeringat : Amfetamin, LSD, organofosfat, cocain, barbiturate
o Kering : Anticholinergik
o Bulla : Barbiturat, carbonmonoksida
o Ikterus : Acetaminofen, carbontetrachlorida, besi, fosfor, jamur
o Purpura : Aspirin, warfarin, gigitan ular
3. SUHU TUBUH :
o Hipothermia: Sedatif hipnotik, ethanol, carbonmonoksida, clonidin,
fenothiazin
o Hiperthermia : Anticholinergik, salisilat, amfetamin, cocain,
fenothiazin, theofili.
4. TEKANAN DARAH :
o Hipertensi : Simpatomimetik, organofosfat, amfetamin .
o Hipotensi : Sedatif hipnotik, narkotika, fenothiazin, clonidin, beta-
blocker
5. NADI:
o Bradikardia : Digitalis, sedatif hipnotik, beta-blocker, ethchlorvynol.
o Tachikardia : Anticholinergik, amfetamin, simpatomimetik, alkohol,
cokain, aspirin, theofilin

16
o Arithmia : Anticholinergik, organofosfat, fenothiazin,
carbonmonoksida, cyanida, beta-blocker.
6. SELAPUT LENDIR :
o Kering : Anticholinergik
o Salivasi : Organofosfat, carbamat

D.DAMPAK PENGGUNAAN PESTISIDA ORGANOFOSFAT

1. Parathion
Parathion merupakan phenyl organfosfat yang paling dikenal pada
tahun 1946.Ethyl parathion merupakan derivate phenyl yang pertama
dikenalkan secara komersial, karena sifatnya yang sangat toksik tidak
digunakan di rumah.Methyl parathion dikenalkan 1946 dan lebih banyak
digunakan daripada ethyl parathion, karena methyl parathion kurang toksik
untuk manusia dan hewan piaraan.

2. Demeton
Demeton adalah organofosfat pestisida peringkat 10% bahan kimia yang
paling berbahaya teratas. Ini adalah racun bagi manusia, mamalia lain,
organisme air, dan spesies nontarget. Demeton adalah campuran isomer
yang tidak berwarna dan memiliki bau belerang yang kuat dan
sebagai Inhibitor Cholinesterase dan serius menekan sistem saraf.
Cholinesterase, atau acetylcholine, yang diproduksi di hati, adalah salah satu
dari banyak enzim penting yang dibutuhkan untuk berfungsinya sistem saraf
manusia, vertebrata lainnya, dan serangga. Hal ini digunakan
sebagai acaricide dan insektisida pada berbagai tanaman untuk
mengendalikan kutu daun, tungau, lalat putih, thrips, dan leafminers.
Demeton sangat beracun bagi manusia. Sejumlah keracunan dan bahkan
beberapa kematian pekerja yang terpapar dalam jumlah besar demeton
telah diamati. Gejala awal keracunan mungkin termasuk keringat berlebihan,
sakit kepala, lemah, pusing, mual, muntah, hiper-air liur, sakit perut,

17
penglihatan kabur, lakrimasi cadel bicara, buang air kecil, diare dan otot
berkedut. Kemudian mungkin ada kejang-kejang dan koma

3. Malathion
Malathion termasuk golongan organofosfat parasimpatomimetik, yang
berarti berikatan irreversibel dengan enzim kolinesterase pada sistem saraf
serangga.Akibatnya, otot tubuh serangga mengalami kejang, kemudian
lumpuh, dan akhirnya mati. Malathion digunakan dengan cara pengasapan
(fogging). Dosis yang dipakai adalah 5% yaitu campuran antara malathion
dan solar sebesar 1:19
Malathion membunuh insekta dengan cara meracun lambung, kontak
langsung dan dengan uap/pernapasan. Malathion, mempunyai sifat yang
sangat khas, dapat menghambat kerja kolinesterase terhadap asetilkolin
(Asetilcholinesterase Inhibitor) di dalam tubuh. Insektisida mengalami proses
biotransformation di dalam darah dan hati. Sebagian malathion dapat
dipecahkan dalam hati mamalia dan penurunan jumlah dalam tubuh terjadi
melalui jalan hidrolisa esterase.

E. MEKANISME KERJA PESTISIDA ORGANOFOSFAT

Pestisida golongan organofosfat dan karbamat adalah persenyawaan


yang tergolong antikholinesterase seperti physostigmin, prostigmin,
diisopropylfluoropphosphat dan karbamat.
Dampak pestisida terhadap kesehatan bervariasi, antara lain
tergantung dari golongan, intensitas pemaparan, jalan masuk dan bentuk
sediaan. Dalam tubuh manusia diproduksi asetikolin dan enzim
kholinesterase. Enzim kholinesterase berfungsi memecah asetilkolin menjadi
kolin dan asam asetat.
Asetilkolin dikeluarkan oleh ujung-ujung syaraf ke ujung syaraf
berikutnya, kemudian diolah dalam Central nervous system (CNS), akhirnya
terjadi gerakan-gerakan tertentu yang dikoordinasikan oleh otak. Apabila

18
tubuh terpapar secara berulang pada jangka waktu yang lama, maka
mekanisme kerja enzim kholinesterase terganggu, dengan akibat adanya
ganguan pada sistem syaraf.
Di seluruh sistem persyarafan (the nervous system), terdapat pusat-
pusat pengalihan elektro kemikel yang dinamakan synapses, getaran-
getaran impuls syaraf elektrokemis (electrochemical nerve impulse), dibawa
menyeberangi kesenjangan antara sebuah syaraf (neuron) dan sebuah otot
atau sari neuron ke neuron. Karena getaran syaraf (sinyal) mencapai suatu
sypapse, sinyal itu merangang pembebasan asetilkolin.
Asetikholinesterase adalah suatu enzim, terdapat pada banyak
jaringan yang menghidrolisis asetilkholin menjadi kholin dan asam asetat.
Sel darah merah dapat mensintesis asetilkholin dan bahwa kholin asetilase
dan asetilkholinesterase keduanya terdapat dalam sel darah merah. Kholin
asetilase juga ditemukan tidak hanya di dalam otak tetapi juga di dalam otot
rangka, limpa dan jaringan plasenta. Adanya enzim ini dalam jaringan seperti
plasenta atau eritrosit yang tidak mempunyai persyaratan menunjukkan
fungsi yang lebih umum bagi asetilkholin dari pada funsi dalam syaraf saja.
Pembentukan dan pemecahan asetilkholin dapat dihubungkan dengan
permeabilitas sel. Perhatian lebih diarahkan pada sel darah merah, telah
dicatat bahwa enzim kholin asetilase tidak aktif baik karena pengahambatan
oleh obat-obatan maupun karena kekurangan subtrat, sel akan kehilangan
permeabilitas selektifnya dan mengalami hemolisis.
Asetilkholin berperan sebagai jembatan penyeberangan bagi
mengalirnya getaran syaraf. Melalui sistem syaraf inilah organ-organ di
dalam tubuh menerima informasi untuk mempergiat atau mengurangi
efektifitas sel. Pada sistem syaraf, stimulas yang diterima dijalarkan melalui
serabut-serabut syaraf (akson) dalam betuk impuls.
Ketika pestisida organofosfat memasuki tubuh manusia atau hewan,
pestisida menempel pada enzim kholinesterase. Karena kholinesterase tidak
dapat memecahkan asetilkholin, impuls syaraf mengalir terus (konstan)
menyebabkan suatu twiching yang cepat dari otot-otot dan akhirnya

19
mengarah kepada kelumpuhan. Pada saat otot-otot pada sistem pernafasan
tidak berfungsi terjadilah kematian.
Patofisiologi Intoksikasi Organofosfat :

F. GEJALA KERACUNAN PESTISIDA ORGANOFOSFAT

Gejala keracunan organofosfat sangat bervariasi. Setiap gejala yang


timbul sangat bergantung pada adanya stimulasi asetilkholin persisten atau

20
depresi yang diikuti oleh stimulasi saraf pusat maupun perifer. Gejala awal
seperti salivasi, lakrimasi, urinasi dan diare (SLUD) terjadi pada keracunan
organofosfat secara akut karena terjadinya stimulasi reseptor muskarinik
sehingga kandungan asetil kholin dalam darah meningkat pada mata dan
otot polos.
Racun pestisida golongan organofosfat masuk kedalam tubuh melalui
pernafasan, tertelan melalui mulut maupun diserap oleh tubuh. Masuknya
pestisida golongan orgaofosfat segera diikuti oleh gejala-gejala khas yang
tidak terdapat pada gejala keracunan pestisida golongan lain. Gejala
keracunan pestisida yang muncul setelah enam jam dari paparan pestisida
yang terakhir, dipastikan bukan keracunan golongan organofasfat.
Organofosfat menyebabkan fosforilasi dari ester acetylcholine esterase
(sebagai choline esterase inhibitor ) yang bersifat irreversibel sehingga
enzim ini menjadi inaktif dengan akibat terjadi penumpukan acetylcholine.
Reaksi-reaksi yang terjadi dapat digolongkan menjadi:

1. Perangsangan terhadap parasimpatik postganglionik, yang berefek pada


beberapa organ, antara lain kontriksi pada pupil (miosis), perangsangan
terhadap kelenjar (salivasi, lakrimasi, dan rhinitis), nausea, inkontinensia
urin, muntah, nyeri perut, diare, bronkokontriksi, bronkospasme, peningkatan
sekresi bronkus, vasodilatasi, bradikardia, dan hipotensi.
2. Efek nicotinik, terjadi akibat penimbunan asetilkolin pada hubungan otot
skeletal dan simpatism preganglionik. Gejal-gejala yang muncul
sepertimuscular fasciculations, kelemahan, midriasis, takikardia, dan
hipertensi.
3. Efek pada sistem saraf pusat terjadi akibat penimbunan asetilkolin pada
tingkat cortical, subcortical, dan spinal, terutama pada korteks serebral,
hipocampus, dan sistem motorik ekstrapiramidal. Gejala-gejalanya seperti
depresi pernafasan, cemas, insomnia, nyeri kepala, lemas, gangguan mental,
gangguan konsentrasi, apatis, mengantuk, ataksia, tremor, konvulsi, dan
koma.

21
Efek Toksikologi :

1.Hambatan aktivitas AChE berhubungan dengan stres oksidatif pada sel


darah. Jika antioksidan dalam tubuh tidak mampu menangani radikal bebas
yang terbentuk akibat terhambatnya AChE, radikal bebas ini akan merusak
sel-sel, dan menyebabkan terjadinya stres oksidatif.
2.Efek toxic organophosphate juga terjadi pada sel hati, dimana
organophosphate juga meningkatkan pelepasan glukosa ke darah dengan
jalan mengaktifkan glikogenolisis dan glukoneogenesis, sehingga menjadi
predisposisi terjadinya Diabetes Mellitus.

G. TATALAKASANA KERACUNAN ORGANOFOSFAT

Penanganan keracunan Organophosphate ialah:

1. Basic Support live


Merupakan tindakan penyelamatan pertama agar para korban
keracunan dapat tetap hidup.misalnya: Infuse, Pemberian O 2, ventilator jika
terjadi depresi pernafasan dan bila pasien terkena organophosphate dengan
kontaminasi kulit, maka baju dibuang dan untuk menghilangkan jejak dapat
dicuci dengan air dan sabun yang lembut.
2. Early Managemen
Terapi awal dilakukan agar racun tidak di absorbsi lebih lanjut, langkah-
langkah yang dilakukan ialah:
- bilas lambung. Bila gejala-gejala keracunan belum muncul, bilas dengan air
hangat, atau induksi muntah dengan sirup ipekak.
- berikan laksatif Magnesium sulfat 25 gr dalam 1 gelas air. Dalam kasus ini
Castrol oil merupakan kontra indikasi karena mempermudah racun untuk
melarut.

3. Antidotum
Antidotum merupakan penawaran racun, sedangkan antidotum yang
digunakan ialah :

22
Agen Antimuskarinik

Agen antimuskarinik seperti atropine, ipratopium, glikopirolat, dan


skopolamin biasa digunakan mengobati efek muskarinik karena keracunan
organofosfat. Salah satu yang sering digunakan adalah Atropin karena
memiliki riwayat penggunaan paling luas. Atropin melawan tiga efek yang
ditimbulkan karena keracunan organofosfat pada reseptor muskarinik, yaitu
bradikardi, bronkospasme, dan bronkorea.

- Atropine
Merupakan antagonizes ACH pada reseptor muscarinic, dengan
meninggalkan reseptor nicotinic. Atropine diberikan sampai gejala
muscarinic mengalami perbaikan , yang dapat diukur dengan peningkatan
kemudahan bernapas pada pasien sadar atau perbaikan dalam kemudahan
ventilasi pasien. Segera diberikan antidotum Sulfas atropin 2 mg IV atau IM
sampai teratropinisasi. Dosis besar ini tidak berbahaya pada keracunan
organofosfat dan harus dulang setiap 5 10 menit sampai terlihat gejala-
gejala keracunan atropin yang ringan berupa wajah merah, kulit dan mulut
kering, midriasis dan takikardi. Kemudian atropinisasi ringan ini harus
dipertahankan selama 24 48 jam, karena gejala-gejala keracunan
organofosfat biasanya muncul kembali. Pada hari pertama mungkin
dibutuhkan sampai 50 mg atropin. Kemudian atropin dapat diberikan oral 1
2 mg selang beberapa jam, tergantung kebutuhan. Atropin akan
menghilangkan gejala gejala muskarinik perifer (pada otot polos dan
kelenjar eksokrin) maupun sentral. Pernafasan diperbaiki karena atropin
melawan brokokonstriksi, menghambat sekresi bronkus dan melawan depresi
pernafasan di otak, tetapi atropin tidak dapat melawan gejala kolinergik
pada otot rangka yang berupa kelumpuhan otot-otot rangka, termasuk
kelumpuhan otot-otot pernafasan.
dosis yang digunakan :
Dewasa
1-2 mg / dosis IV , kemudian 0,5-1mg setiap 5-10 menit sampai

23
teratropinisasi, interval pengulangan diperpanjang setiap 15-30-60 menit
selanjutnya 2-4-6-8 dan 12 jam , tidak melebihi 50 mg dalam 24 jam
pertama (atau 2 g selama beberapa hari jika mabuk berat) .

Pemberian SA dihentikan minimal setelah 2x24 jam, Penghentian yang


mendadak dapat menimbulkan rebound effect berupa edema paru dan
kegagalan pernafasan akut yang sering fatal

Pediatric
0,02-0,05 mg / kg IV pengulangan 10-20 menit sampai teratropinisasi,
kemudian pengulangan 1-4 jam paling sedikit selama 24 jam.

Oxime

Oxime adalah salah satu agen farmakologi yang biasa digunakan untuk
melawan efek neuromuskular pada keracunan organofosfat. Terapi ini
diperlukan karena Atropine tidak berpengaruh pada efek nikotinik yang
ditimbulkan oleh organofosfat. Oxime dapat mereaktivasi enzim
kholinesterase dengan membuang fosforil organofosfat dari sisi aktif enzim.
Pralidoxime adalah oxime yang tersedia. Efek samping yang dapat
ditimbulkan karena pemakaian Pralidoxime meliputi dizziness, pandangan
kabur, pusing, drowsiness, nausea, takikardi, peningkatan tekanan darah,
hiperventilasi, penurunan fungsi renal, dan nyeri pada tempat injeksi. Efek
samping tersebut jarang terjadi dan tidak ada kontraindikasi pada
penggunaan Pralidoxime sebagai antidotum keracunan organofosfat.

- Pralidoxime klorida (Protopam, klorida 2-PAM)

Diberikan segera setelah pasien diberi atropin yang merupakan


reaktivator enzim kolinesterase. Jika pengobatan terlambat lebih dari 24 jam
setelah keracunan, keefektifannya dipertanyakan

Dosis dewasa

24
1-2 g bolus IV dengan kecepatan tidak melebihi 500 mg per menit dan
selama 15-30 menit saat pasien telah fasikulasi, kelemahan otot, atau
depresi pernafasan pada pemeriksaan; dapat diulangi pengulangan 8-12 jam
untuk 3 dosis. Dosis yang direkomendasikan WHO, minimal 30mg/kg BB IV
bolus diikuti >8mg/kg/jam dengan infus
Pediatric
25-50 mg / kg IV diberikan sebagai solusi 5% dalam saline isotonik, ulangi
dalam 12 jam jika gejala menetap atau berulang
Pralidoxime tidak melintasi sawar otak sehingga beberapa hari dan bahkan
sampai berminggu-minggu , gangguan psikis masih pada pasiean tersebut.
Pengobatan alternatif yang bisa menembus sawarotak dan bekerja lebih
cepat serta efek samping yang minimal adalah obidoksim (toksogonin).

- Obidoxime
Dosis yang diberikan adalah 3 mg/kgBB IM

G.PENCEGAHAN KERACUNAN PESTISIDA

Pengetahuan tentang pestisida yang disertai dengan praktek


penyemprotan akan dapat menghindari petani/penyemprot dari keracunan.
Ada beberapa cara untuk meghindari keracunan antara lain :
1. Perlakuan sisa kemasan
Bekas kemasan sebaiknya dikubur atau dibakar yang jauh dari sumber
mata air untuk mengindai pencemaran ke badan air dan juga jangan sekali-
kali bekas kemasan pestisida untuk tempat makanan dan minuman.
2. Penyimpanan
Setelah menggunakan pestisida apabila berlebih hendaknya di simpan
yang aman seperti jauh dari jangkauan anak-anak, tidak bercampur dengan
bahan makanan dan sediakan tempat khusus yang terkunci dan terhindar
dari sinar matahari langsung.
4. Penatalaksanaan Penyemprotan
Pada pelaksanaan penyemprotan ini banyak menyebabkan keracunan
oleh sebab itu petani di wajibkan memakai alat pelindung diri yang lengkap

25
setiap melakukan penyemprotan, tidak melawan arah angin atau tidak
melakukan penyemprotan sewaktu angin kencang, hindari kebiasaan makan-
minum serta merokok di waktu sedang menyemprot, setiap selesai
menyemprot dianjurkan untuk mandi pakai sabun dan berganti pakaian serta
pemakain alat semprot yang baik akan menghindari terjadinya keracunan.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pestisida Organofosfat adalah insektisida yang paling toksik di antara jenis
pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada manusia.Bila
tertelan, meskipun hanya dalam jumlah sedikit, dapat menyebabkan
kematian pada manusia.Organofosfat menghambat aksi
pseudokholinesterase dalam plasma dan kholinesterase dalam sel darah
merah dan pada sinapsisnya. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis
acetylcholine menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim dihambat,
mengakibatkan jumlah acetylcholine meningkat dan berikatan dengan
reseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer. Hal
tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada
seluruh bagian tubuh.
Agen antimuskarinik seperti atropine, ipratopium, glikopirolat, dan
skopolamin biasa digunakan mengobati efek muskarinik karena keracunan
organofosfat. Salah satu yang sering digunakan adalah Atropin karena
memiliki riwayat penggunaan paling luas. Atropin melawan tiga efek yang
ditimbulkan karena keracunan organofosfat pada reseptor muskarinik, yaitu
bradikardi, bronkospasme, dan bronkorea. Oxime adalah salah satu agen
farmakologi yang biasa digunakan untuk melawan efek neuromuskular pada
keracunan organofosfat. Terapi ini diperlukan karena Atropine tidak
berpengaruh pada efek nikotinik yang ditimbulkan oleh organofosfat. Oxime
dapat mereaktivasi enzim kholinesterase dengan membuang fosforil

26
organofosfat dari sisi aktif enzim. Pralidoxime adalah oxime yang tersedia.
Efek samping yang dapat ditimbulkan karena pemakaian Pralidoxime
meliputi dizziness, pandangan kabur, pusing, drowsiness, nausea, takikardi,
peningkatan tekanan darah, hiperventilasi, penurunan fungsi renal, dan nyeri
pada tempat injeksi. Efek samping tersebut jarang terjadi dan tidak ada
kontraindikasi pada penggunaan Pralidoxime sebagai antidotum keracunan
organofosfat.

B. SARAN
Untuk mencegah diri dari keracunan Pestisida organofosfat ini sebaiknya
di sarankan untuk melakukan Tindakan perawatan spesifik bertujuan :
1. Pencegahan terjadinya keracunan
2. Mempertahankan saluran pernafasan yang bersih
DAFTAR PUSTAKA

- Klein, G.M., Rama B.R., Neal E.F., Lewis S.N., dan Brenna M.F. 2008.
Disaster Preparedness : Emergency To Response Organophosphorus
Poisoning. New York : King Pharmaceuticals, Inc.
- Katz, K.D. 2010.
ToxicityOrganophosphate.http://emedicine.medscape.com/article/16772
6-overview diakses tanggal 30 Mei 2010.
- Anonim. Health Situation and Trend Assessment, Health Situation In The
South-East Region, 1998-2000, Trends in Health Status.
http://www.searo.who.int/EN/Section1243/Section1382/Section1386/Sect
ion1898_9443.htm diakses tanggal 30 Mei 2010.
- http://luviony.blogspot.com/2011/06/asuhan-keperawatan-
keracunan.html

27
28