Anda di halaman 1dari 19
  • A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Seiring bertambahnya usia, toleransi tubuh terhadap glukosa akan

menurun, sebagai akibatnya banyak orang tua yang tidak sadar adanya

kemungkinan berkembang penyakit diabetes mellitus. Setelah seseorang

mencapai umur 30, kadar glukosa darah akan meningkat 1-2 mg %/tahun saat

puasa dan sekitar 5,6-13 mg %/tahun pada 2 jam setelah makan. Separuh dari

populasi orang dengan diabetes mellitus, terjadi pada usia >60 tahun dengan

prevalensi terbesar ditemukan pada usia >80 tahun, jumlah ini diperkirakan

akan mencapai 40 juta pada tahun 2050. Diabetes mellitus sendiri merupakan

faktor risiko terhadap munculnya berbagai penyakit terutama stroke dan gagal

jantung, dua penyebab kematian tertinggi di Indonesia (1).

Orang tua lebih berisiko terjadi peningkatan risiko kegagalan mendapat

terapi yang tepat, diet, dan pengobatan-pengobatan yang dapat

menyelamatkan hidupnya. Oleh karena itu, diagnosa sedini mungkin,

tatalaksana serta pengawasan timbulnya komplikasi harus lebih diperhatikan.

Sehingga meskipun angka harapan hidup naik, kualitas hidup juga akan naik.

Sehingga dicapai usia tua yang tetap berkualitas (1).

  • B. Tujuan

Memberikan

Informasi

kepada

masyarakat

tentang

diabetes (kencing

manis) sehingga diharapkan angka keberhasilan pengontrolan kencing manis

akan meningkat.

  • C. Tempat

1

Posyandu lansia Puskesmas Banjarbaru Utara

  • D. Pelaksana Dokter muda Fakultas Kedokteran Unlam yang sedang menjalani stase Ilmu Kesehatan Masyarakat

  • E. Metode

Ceramah

  • F. Media

Leaflet

 

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  • A. Definisi

2

Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang

ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.

Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang

yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah

akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relative (2).

  • B. Klasifikasi

Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut (2):

  • 1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)

  • 2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)

  • 3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya

  • 4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)

  • C. Epidemiologi

Prevalensi DM pada lanjut usia cenderung meningkat, hal ini dikarenakan

DM pada lanjut usia bersifat muktifaktorial yang dipengaruhi faktor intrinsik

dan ekstrinsik. Umur ternyata merupakan salah satu faktor yang bersifat

mandiri dalam pengaruhnya terhadap perubahan toleransi tubuh terhadap

glukosa. Umumnya pasien diabetes dewasa 90% termasuk diabetes tipe 2.

Dari jumlah tersebut dikatakan 50% adalah pasien berumur > 60 tahun.

Penelitian epidemiologi lain menyebutkan di antara individu yang berusia

lebih dari 65 tahun, 8,6 % menderita diabetes tipe 2 (1, 3).

  • D. Etiologi Berikut ini adalah penyebab dari diabetes (3, 4):

3

1.

Diabetes tipe 1

  • a. Faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.

  • b. Faktor-faktor imunologi Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap

jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.

Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.

  • c. Faktor lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.

    • 2. Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor risiko :

      • a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun

      • b. Obesitas

      • c. Riwayat keluarga

E.

Patofisiologi

4

Pada populasi orang tua terjadi perubahan-perubahan terkait bertambahnya

usia, seperti regulasi-regulasi terkait genetik, kebiasaan, dan pengaruh

lingkungan yang berkontribusi pada munculnya diabetes mellitus. Pada

pembahasan patofisologi ini, Kami akan fokuskan pada DM tipe 2, dimana

terutama terkait dengan perubahan-perubahan pada tubuh terkait usia.

Pada DM tipe 2 terjadi resistensi insulin yang mana pada usia lanjut

disebabkan oleh 4 faktor yaitu, yaitu (5):

  • 1. Terjadi perubahan komposisi tubuh yaitu penurunan jumlah massa otot dan peningkatan jumlah jaringan lemak yang mengakibatkan menurunnya

jumlah serta sensitivitas reseptor insulin.

  • 2. Penurunan aktivitas fisik yang mengakibatkan penurunan jumlah reseptor

insulin.

  • 3. pola

Perubahan

makan

akibat

berkurangnya

jumlah gigi sehingga

persentase asupan karbohidrat meningkat.

  • 4. Perubahan neuro-hormonal khususnya insulin-like growth factor-1 (IGF-1) dan dehydroepandrosteron (DHEAS) turun sampai 50% pada usia lanjut yang mengakibatkan penurunan ambilan glukosa karena menurunnya sensitivitas reseptor insulin serta turunnya aksi insulin.

5

Gambar 1. Patofisilogi Diabetes Mellitus (5) F. Manifestasi klinis Proses menua yang terjadi pada usia lanjut

Gambar 1. Patofisilogi Diabetes Mellitus (5)

  • F. Manifestasi klinis

Proses menua yang terjadi pada usia lanjut dapat mempengaruhi

penampilan klinis DM pada lansia. Gejala klasik DM berupa poliuri, polidipsi

dan polifagi tidak selalu tampak pada lansia dengan DM karena seiring dengan

bertambahnya usia akan terjadi kenaikan ambang batas ginjal untuk glukosa

6

sehingga glukosa baru dikeluarkan melalui urin bila glukosa darah sudah

cukup tinggi (6).

DM pada lansia yang baru timbul saat tua umumnya bersifat asimptomatis

atau ditemui gejala tidak khas seperti kelemahan, letargi, perubahan tingkah

laku, menurunnya status kognitif atau kemampuan fungsional berupa delirium,

demensia, depresi, agitasi, mudah jatuh dan inkontinensia urin. Hal ini

menyebabkan diagnosa DM pada lansia sering terlambat (6).

Manifestasi klinis pasien sebelum diagnosis DM dapat berupa (6, 7):

  • 1. Kardiovaskuler: hipertensi arterial, infark miokard.

  • 2. Kaki: neuropati, ulkus.

  • 3. Mata: katarak, retinopati proliferatif, kebutaan.

  • 4. Ginjal: infeksi ginjal dan saluran kemih, proteinuria. Gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah (8):

  • 1. Katarak

  • 2. Glaukoma

  • 3. Retinopati

  • 4. Gatal seluruh badan

  • 5. Pruritus Vulvae

  • 6. Infeksi bakteri kulit

  • 7. Infeksi jamur di kulit

  • 8. Dermatopati

  • 9. Neuropati perifer

    • 10. Neuropati

    • 11. Penyakit koroner

    • 12. Penyakit pembuluh darah otak

    • 13. Hipertensi Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal

yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau

bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang

dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi.

Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.

7

Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada

pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami

infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi

absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan

dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia.

Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan

berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya

tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.

Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala

kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral

tampak lebih jelas (8).

E. Diagnosis

Kriteria diagnosis DM pada lansia baik yang baru timbul setelah tua

ataupun yang diderita sejak muda dengan melihat kadar glukosa darah menurut

American Diabetes Association yakni (1, 9):

  • 1. HbA1C ≥6,5 % atau

  • 2. Gula darah puasa ≥126 mg/dL atau

  • 3. Gula darah 2 jam pp ≥200 mg/dL pada tes toleransi glukosa oral

  • 4. Gula darah sewaktu≥200 mg/dL pada pasien dengan gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia.

G. Komplikasi

8

Berbagai komplikasi akibat DM sering diklasifikasikan secara berbeda,

antara lain penggolongan antara komplikasi akut (ketoasidosis, koma

hiperosmolar non ketotk) dan kronik (retinopati diabetika, neuropati diabetika,

nefropati diabetika dan penyakit kardiovaskuler), klasifikasi berdasarkan

komplikasi spesifik dari diabetesnya (nephropati, retinopati dan neuropati) dan

komplikasi makrovaskuler (penyakit jantung koroner, penyakit

serebrovaskuler dan penyakit perifer) yang mungkin terjadi pada penderita

non diabetik akan tetapi tampil lebih dini dan lebih berat pada penderita

diabetes (10).

  • 1. Risiko Kardiovaskuler

Faktor-faktor

risiko

kardiovaskuler

harus segera diatasi mengingat

kebanyakan pasien dengan diabetes banyak yang meninggal akibat

penyakit kardiovaskuler. Faktor-faktor risiko ini diatasi dengan

menggunakan statin, antihipertensi, dan antiplatelet. Penggunaan obat-

obatan ini juga harus diawasi efek sampingnya seperti hipotensi postural,

bradikardia dan mialgia, pendarahan, serta risiko terjatuh dan fraktur pada

orang tua yang lemah (10).

  • 2. Peripheral arterial disease (PAD) Risiko PAD meningkat pada usia yang lebih tua dan 3-6 kali lebih sering dijumpai pada yang diabetes. Akibat kalsifikasi pada pembuluh darah pada ekstremitas bawah, tekanan disana cenderung meninggi. PAD menyebabkan kaki sakit saat digunakan, ulserasi, dan gangrene, atau nyeri saat istirahat akibat iskemia, dengan potensi amputasi pada ekstremitas bawah. Penatalaksanaan PAD diawali dengan pemberian obat-obatan seperti antiplatelet, antihipertensi, statin, dan pengkontrolan diabetes.

9

Program olahraga untuk berjalan dapat dicoba, termasuk menggunakan

sepatu yang sesuai dan nyaman, perhatikan juga higienis kaki dan

pencegahan yang tepat apabila terdapat infeksi, untuk meminimalkan

risiko amputasi (10).

  • 3. Komorbiditas dan kelemahan fungsional

Masalah-masalah

pada

orang

tua

termasuk

lemahnya

penglihatan,

kelemahan kognitif, dan masalah sendi, yang mana dapat menghambat

kemampuan pasien untuk mengkontrol glukosa darah atau menginjeksi

insulin. Mereka lebih mudah terkena defisiensi nutrisi dan mungkin

melewatkan makan yang membuat mereka berisiko terkena serangan

hipoglikemi. Infeksi yang rekurens biasa terjadi pada orang tua dengan

episode hiperglikemia sebagai akibat polifarmasi, yang berbarengan

dengan kelemahan ginjal dan hati, yang menyebabkan efek samping obat

dapat meningkat (10).

  • 4. Kehilangan penglihatan Risiko berkembangnya retinopati dapat diminimalisir oleh pengkontrolan

kadar glukosa darah yang baik dan penatalaksanaan dengan menggunakan

ACE inhibitor dianjurkan. Untuk memonitor terjadinya ini, skrining retina

harus dilakukan secara rutin (2, 10).

  • 5. Perawatan kaki Masalah-masalah di kaki mungkin akan menyebabkan rasa sakit,

morbiditas, dan kelainan fungsional. Lemahnya penglihatan,

berkurangnya ketangkasan, dan kelemahan kognitif mungkin akan

memperlambat rekognisi adanya masalah pada kaki yang akhirnya

memperlambat untuk mendapat penanganan yang sesuai, akhirnya

menyebabkan komplikasi yang membahayakan tungkai. Sebagai

10

tambahan untuk melihat adanya risiko kaki diabetic, pasien harus di

edukasi untuk bisa memeriksa kakinya, memperhatikan kebersihan daerah

kaki, dan penggunaan sandal atau sepatu yang nyaman (9, 10)

  • 6. Gait dan Keseimbangan Neuropati perifer, penyakit vascular perifer, penglihatan yang berkurang

serta polifarmaasi pada pasien diabetes orang tua dapat berkontribusi pada

peningkatan risiko terjatuh dengan konsekuensi fisik dan psikologik.

Dalam hal ini dibutuhkan peranan dari berbagai multidisiplin (9, 10).

  • 7. Kelemahan Pasien diabetes dengan kelemahan fisik dan kognitif harus diperhatikan

karena pasien-pasien ini rentan terhadap infeksi (10).

G. Tatalaksana Hal pertama yang disarankan pada penderita diabetes usia lanjut adalah

perubahan pola hidup dan pengurangan berat badan. European Diabetes

Working Party Guidelines menyarankan HbA1c <7.0% pada orang tua dengan

komorbiditas minimal dan <8.0% pada orang tua yang lemah, meskipun

standar ini dapat berubah-ubah pada setiap orangnya, dan harus

mempertimbangkan berbagai faktor lain seperti tingkat disabilitas, angka

harapan hidup, dan ketaatan dalam pengobatan (11).

  • 1. Monitoring kadar glukosa darah Monitoring kadar glukosa darah penting sebagai edukasi ke pasien dan membantu mereka untuk memahami penyakitnya, hal ini juga dapat membantu mengidentifikasi apabila terjadi hipoglikemia (11).

  • 2. Agen hipoglikemik oral National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) merekomendasikan metformin sebagai lini pertaa terapi kecuali mereka yang mempunyai kontraindikasi seperti kerusakan ginjal, tanda-tanda

11

kerusakan hati atau hipoksia. Hal ini disebabkan metformin memiliki

keuntungan kardiovaskular dan risiko terjadi hipoglikemia yang rendah. Sulfonilurea atau berbagai sediaan insulin secretagogues rapid-acting

termasuk repaglinide dan nateglinide, dapat digunakan sebagai lini

pertama apabila penggunaan metformin dikontraindikasikan atau dapat

juga dengan pengkombinasian dengan metformin saat target glikemik

tidak tercapai. Hipoglikemia merupakan efek samping serius pada orang

tua, dan edukasi kepada pasien atau keluarga pasien merupakan hal yang

penting. Agen-agen long-acting seperti Glibenclamide sebaiknya dihindari

akibat risiko hipoglikemia yang cukup tinggi (11). Thiazolidinediones dapat diberikan sebagai terapi tambahan atau juga

dapat diberikan sebagai monoterapi. Ia kontraindikasi pada penyakit hati

atau NYHA 3 dan NYHA 4, dan penggunaannya harus diawasi pada

mereka yang kehilangan tulang atau fraktur. Satu-satunya alpha-

glucosidase yang dapat diterima adalah acarbose. Ia tidak menyebabkan

penambahan berat badan ataupun hipoglikemia saat digunakan

monoterapi. Ia dapat digunakan saat agen-agen lain tidak bisa ditoleransi,

tetapi penggunaannya terbatas akibat efek sampingnya pada

gastrointestinal. Agen-agen terbaru seperti Exenatide (analog glucagon-

like peptide-1) dan Sitagliptin (dipeptidyl peptidase-4 inhibitor). Exenatide

dapat digunakan pada pasien obesitas. Apabila agen ini digunakan sebagai

monoterapi tidak menyebabkan hipoglikemia. Akan tetapi, data keamanan

3.

mengenai obat-obat ini belum banyak (11). Insulin

12

Keputusan penggunaan insulin harus didiskusikan bersama antara pasien

dan keluarga. Bagi orang tua yang tergantung kepada orang lain untuk

memberikan insulin, pemberian dosis long acting akan lebih nyaman,

meskipun cara ini tidak akan memberikan kontrol yang baik. Agen insulin

terbaru yang long acting seperti Giargine dan Detemir dapat memperbaiki

control glikemi dengan frekuensi hipoglikemia yang lebih jarang (8, 11).

  • H. Olahraga pada orang tua dengan diabetes Sebagaimana diketahui olahraga baik bagi kita, dan juga pada orang tua dengan diabetes. Fakta yang didapatkan dari National Institutes of Health menunjukkan orang dari semua usia dan berbagai kondisi fisik dapat memperoleh keuntungan dengan olahraga dan aktivitas fisik (12). Kekuatan otot menurun 15% setiap decade setelah usia 50 tahun dan 30% setiap decade setelah usia 70 tahun, dan dengan olahraga untuk meningkatkan kekuatan secara regular, kekuatan otot dapat dipulihkan. Olahraga juga dapat menjaga kekuatan, keseimbangan, fleksibilitas, dan daya tahan, yang mana semuanya berguna untuk menjaga kesehatan dan hidup mandiri. Terakhir, olahraga dapat memperbaiki sensitivitas insulin dan dapat meningkatkan respon terhadap medikasi (12). Ada beberapa olahraga yang aman dilakukan untuk orang-orang berusia > 65 tahum, tapi ingatlah sebelum memulai olahraga sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter (12).

    • 1. Olahraga untuk keseimbangan dapat mengurangi risiko terjatuh, olahraga

2.

yang sekarang mulai ramai seperti tai chi juga aman. Fleksibilitas, stretching dapat membantu pemulihan dari cedera dan

menjaga dari cedera di kemudian hari.

13

3.

Penguatan atau resisten dapat juga dilakukan untuk memperbaiki

keseimbangan, tapi ini jangan dilakukan pada orang-orang dengan

retinopati diabetic.

  • 4. Daya tahan, seperti berjalan, jogging, atau berenang dapat meningkatkan

jantung, paru-paru dan sistem sirkulasi. Olahraga jenis ini juga dapat

memperlambat atau mencegah kanker kolon, penyakit jantung,

osteoporosis, stroke, dan berbagai penyakit serius lainnya.

Mungkin olahraga jenis penguatan baik untuk penderita diabetes. Olahraga

aerobic seperti berjalan atau berenang dapat membantu menurunkan berat

badan, meningkatkan kesehatan jantung, dan merupakan kontrol yang baik

untuk gula darah. Olahraga penguatan dapat memperbaiki kualitas hidup

karena memungkinkan untuk tetap melakukan aktivitas harian seperti berjalan,

mengangkat. Olahraga penguatan juga membantu menurunkan risiko

osteoporosis dan patah tulang. Selain itu, penelitian membuktikkan bahwa

olahraga penguatan dapat (11, 12):

  • 1. Memperbaiki sensitivitas insulin

  • 2. Memperbaiki toleransi glukosa

  • 3. Membantu menurunkan berat badan

  • 4. Menurunkan risiko peyakit jantung Periode olahraga penguatan yang lama dapat meningkatkan kontrol kadar

gula sebaik apabila meminum obat-obatan diabetes. Faktanya, pada orang-

orang dengan diabetes, olahraga penguatan yang dikombinasikan dengan

aerobik lebih menguntungkan (12).

I.

Nutrisi

14

Diberikan diet dengan jumlah kalori sesuai BMI, dengan pembatasan

sesuai penyakit komorbid atau faktor resiko atherosklerosis lain yang ada.

Komposisi normal biasanya 60-65% karbohidrat komplek, 20% protein dan

15-20% lemak. Disamping itu juga diberikan suplemen dan vitamin A, C, B

komplek, E, Ca, selenium, zinc dan besi. Untuk hasil yang baik pada terapi

diet ini perlu perhatian khusus pemberian makanan pada lansia dengan

diabetes (13).

Nutrisi pada pasien diabetes tidak jauh berbeda antara geriatri dengan

rentang usia lainnya, biasanya geriatri menghadapi masalah nutrisi seperti

(13):

  • 1. Kurangnya motivasi

  • 2. Perubahan persepsi rasa

  • 3. Kehilangan berat badan dan malnutrisi

  • 4. Penyakit lain yang menyertai

  • 5. Gigi yang berkurang

  • 6. Tidak mau makan akibat disfungsi kognitif atau depresi

  • 7. Perubahan fungsi gastrointestinal

  • 8. Berkurangnya kemampuan berbelanja makanan sendiri

  • 9. Keuangan yang terbatas Saat ini yang dibutuhkan adalah pendistribusian intake karbohidrat,

edukasi diperlukan mengenai kedisiplinan intake karbohidrat dan waktu

makan untuk menghindari fluktuasi hebat pada level gula darah (13).

15

Diet untuk menurunkan berat badan terutama direkomendasikan pada

remaja, dan pada lansia harus diresepkan dengan kehati-hatian, karena

malnutrisi lebih merupakan masalah dibanding obesitas. Pada kondisi kronik,

tidak perlu pembatasan rencana makanan. Makanan sehari-hari yang

konsisten, intake karbohidrat yang cukup lebih utama untuk menghindari

terjadinya kekurangan nutrisi (13).

16

BAB III

PENUTUP

Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai

oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.

Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang

disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat

kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Usia merupakan salah satu faktor

risiko terjadinya diabetes mellitus. Semakin tua usia seseorang, semakin tinggi

risiko terkena diabetes mellitus. Oleh karena itu, perlu perhatian khusus pada para

lansia untuk mencegah dan mengenali diabetes mellitus. Hal yang perlu diingat

adalah, diabetes mellitus tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol.

17

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Martono H, Pranaka K, Rahayu RA, et al. Diabetes melitus pada lanjut usia. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2007.

Diabetes.

  • 3. 2011.

Exercises

for

Older

Adults

with

Diabetes.

2014).

epidemic: diabetes in older adults:

demography, economic impact, and pathophysiology. Diabetes Spectrum 2006; 19:4.

10. Medscape.

2003.

The

Geriatric

Depression

Scale

(GDS).

11. Medscape.

2009.

Differences

in

Clinical

Decision

Making

for

the

Management

of

Diabetes

Among

Older

Adults.

18

12. Peterson & Shulman. 2006. Etiology of insulin resistance. Am J Med 2006;

119:10S-16S.

13. Rochmah W. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi IV. Jilid III. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2006.

19