Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi

2.1.1. Etiologi

Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah

meningkat secara kronis. Hal tersebut dapat terjadi karena jantung bekerja lebih

keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh. Jika

dibiarkan, penyakit ini dapat mengganggu fungsi organ-organ lain, terutama

organ-organ vital seperti jantung dan ginjal. Didefinisikan sebagai hipertensi jika

pernah didiagnosis menderita hipertensi/penyakit tekanan darah tinggi oleh tenaga

kesehatan (dokter/perawat/bidan) atau belum pernah didiagnosis menderita

hipertensi tetapi saat diwawancara sedang minum obat medis untuk tekanan darah

tinggi (minum obat sendiri) (1).

Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam.

Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologinya tidak diketahui (essensial atau

hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat

dikontrol. Banyak penyebab hipertensi sekunder; endogen maupun eksogen. Bila

penyebab hipertensi sekunder dapat diidentiikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini

dapat disembuhkan secara potensial (2).

Menurut The Seventh of The Joint National Committee on Prevention,

Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi

tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal,

prehipertensi, hipertensi derajat 1, dan hipertensi derajat 2 (3).


Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7

Klasifikasi Tekanan
TDS (mmHg) TDD (mmHg)
Darah

Normal < 120 Dan < 80

Prehipertensi 120-139 Atau 80-90

Hipertensi derajat 1 140-159 Atau 90-99

Hipertensi derajat 2 160 Atau 100

2.1.2. Epidemiologi

Diperkirakan sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi terutama di negara

berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, di perkirakan

menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka

penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini. Hipertensi

merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni

mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, diketahui lebih seperempat

(25,8%) penduduk Indonesia usia di atas 10 tahun mengkonsumsi makanan asin

setiap hari, satu kali atau lebih. Sementara prevalensi hipertensi di Indonesia

mencapai 31,7% dari populasi pada usia 18 tahun ke atas. Dari jumlah itu, 60%

penderita hipertensi berakhir pada stroke. Sedangkan sisanya pada jantung, gagal

ginjal, dan kebutaan. Pada orang dewasa, peningkatan tekanan darah sistolik
sebesar 20 mmHg menyebabkan peningkatan 60% risiko kematian akibat

penyakit kardiovaskuler. Data Riskesdas menyebutkan hipertensi sebagai

penyebab kematian nomor tiga setelah stroke dan tuberkulosis, jumlahnya

mencapai 6,8% dari proporsi penyebab kematian pada semua umur di

Indonesia.1,2,3

2.1.3. Faktor Resiko

Hipertensi disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat dimodifikasi atau

dikendalikan serta faktor yang tidak dapat dimodifikasi : (3)

a. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi atau dikendalikan

1. Genetik

Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga

tersebut mempunyai resiko menderita hipertensi. Individu dengan orangtua

hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi

daripada individu yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi.

Pada 70-80% kasus Hipertensi primer, didapatkan riwayat hipertensi di dalam

keluarga. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka

dugaan Hipertensi primer lebih besar. Hipertensi juga banyak dijumpai pada

penderita kembar monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita

Hipertensi. Dugaan ini menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran

didalam terjadinya Hipertensi.

2. Umur

Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia. Individu

yang berumur di atas 60 tahun, 50-60% mempunyai tekanan darah lebih besar
atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang

terjadi pada orang yang bertambah usianya.

3. Jenis Kelamin

Laki-laki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih

awal. Laki-laki juga mempunyai resiko yang lebih besar terhadap morbiditas dan

mortalitas kardiovaskuler. Sedangkan di atas umur 50 tahun hipertensi lebih

banyak terjadi pada perempuan.

4. Etnis

Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada yang

berkulit putih. Belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun dalam orang

kulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sensitifitas terhadap

vasopresin lebih besar.

5. Penyakit Ginjal

Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah,

karena itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya

tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu

ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan

cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan

darah.

6. Obat-obataan

Penggunaan obat-obatan seperti beberapa obat hormon (Pil KB),

Kortikosteroid, Siklosporin, Eritropoietin, Kokain, dan Kayu manis (dalam jumlah

sangat besar), termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) secara terus


menerus (sering) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Minuman yang

mengandung alkohol juga termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan

terjadinya tekanan darah tinggi.

7. Preeklampsi pada kehamilan

Preeklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah

140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai

triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi. Preeklamsi terjadi sebagai akibat dari

gangguan fungsi organ akibat penyempitan pembuluh darah secara umum yang

mengakibatkan iskemia plasenta (ari-ari) sehingga berakibat kurangnya pasokan

darah yang membawa nutrisi ke janin.

8. Keracunan timbal akut

Timbal bisa menyebabkan lesi tubulus proksimalis, lengkung henle, serta

menyebabkan aminosiduria, sehingga timbul kelainan pada ginjal (Peradangan

dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal) bisa menyebabkan terjadinya

tekanan darah tinggi.

b. Faktor yang dapat dimodifikasi atau dikendalikan

1. Stress

Stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah

jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatetik. Adapun stres ini

dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik

personal. Mekanisme hubungan antara stress dengan Hipertensi, diduga melalui

aktivasi saraf simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita

beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita tidak
beraktivitas. Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan

darah secara intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat

mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti,

akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan

dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang

dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota.

2. Obesitas

Penelitian epidemiologi menyebutkan adanya hubungan antara berat badan

dengan tekanan darah baik pada pasien hipertensi maupun normotensi. Pada

populasi yang tidak ada peningkatan berat badan seiring umur, tidak dijumpai

peningkatan tekanan darah sesuai peningkatan umur. Obesitas terutama pada

tubuh bagian atas dengan peningkatan jumlah lemak pada bagian perut.

3. Nutrisi

Sodium adalah penyebab penting dari hipertensi esensial, asupan garam

yang tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik

yang secara tidak langsung akan meningkatkan tekanan darah. Asupan garam

tinggi yang dapat menimbulkan perubahan tekanan darah yang dapat terdeteksi

adalah lebih dari 14 gram per hari atau jika dikonversi kedalam takaran sendok

makan adalah lebih dari dua sendok makan.

4. Merokok

Penelitian terakhir menyatakan bahwa merokok menjadi salah satu faktor

risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi. Merokok merupakan faktor risiko yang
potensial untuk ditiadakan dalam upaya melawan arus peningkatan hipertensi

khususnya dan penyakit kardiovaskuler secara umum di Indonesia.

5. Kurang olahraga

Gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga) bisa memicu terjadinya

hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan.

2.1.4. Gejala dan Tanda

Hipertensi diduga dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang

lebih serius dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Seringkali hipertensi

disebut sebagai silent killer karena dua hal, yaitu: (4)

Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejala

khusus. Gejala ringan seperti pusing, gelisah, mimisan, dan sakit kepala

biasanya jarang berhubungan langsung dengan hipertensi. Hipertensi dapat

diketahui dengan mengukur tekanan darah secara teratur.


Penderita hipertensi, apabila tidak ditangani dengan baik, akan mempunyai risiko

besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti stroke,

serangan jantung, gagal jantung, dan gagal ginjal.

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala;

meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya

berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala

yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah

kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi,

maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal (4).

2.1.5. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin

II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE

memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah

mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon,

renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang

terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II

inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua

aksi utama. Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik

(ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan

bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan

meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh

(antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk

mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara

menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat, yang

pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah menstimulasi

sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid

yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan

ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara

mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan

kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada

gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah (5).

2.1.6. Komplikasi
Komplikasi terbanyak yang ditemui pada pasien hipertensi adalah

gabungan antara strok, gagal jantung dan penyakit ginjal kronis 39-47,4%.

Sedangkan komplikasi strok mencapai 23,3-28,4%, gagal jantung 5,9-6,2% dan

penyakit Ginjal 2,6-2,8%. Angka komplikasi yang cukup tinggi hingga saat ini

masih menjadi permasalah yang berat dan harus dimulai dengan penatalaksanaan

hipertensi yang benar (6).

2.1.7 Pencegahan

Berbagai cara yang terbukti mampu untuk mencegah terjadinya hipertensi,

yaitu pengendalian berat badan, pengurangan asupan natrium kloride, aktifitas

alcohol, pengendalian stress, suplementasi fish oil dan serat The 5-year primary

prevention of hypertension meneliti berbagai faktor intervensi terdiri dari

pengurangan kalori, asupan natrium kloride dan alcohol serta peningkatan

aktifitas fisik. Hasil penelitian menunjukkan penurunan berat badan sebesar 5,9

pounds berkaitan dengan penurunan TDS (tekanan darah sistol) dan TDD

(tekanan darah diastol) sebesar 1,3 mmHg dan 1,2 mmHg (7). Penelitian yang

mengikut sertakan sebanyak 47.000 individu menunjukan perbedaan asupan

sodium sebanyak 100 mmo1/hari berhubungan dengan perbedaan TDS sebesar 5

mmHg pada usia 15-19 tahun dan 10 mmHg pada usia 60-69 tahun.

Meningginya TDS dan TDD, meningkatnya sirkulasi kadar kateholamin,

cortisol, vasopressin, endorphins, andaldosterone, dan penurunan ekskresi sodium

di urine merupakan respons dari rangsangan stress yang akut. Intervensi

pemnegdalian stress seperti relaksasi,meditasi dan biofeedback mampu mencegah

dan mengobati hipertensi (7).


2.1.8 Tatalaksana

Tujuan pengobatan adalah menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat

hipertensi dengan memelihara tekanan darah sistolik dibawah 140 mmHg, tekanan

diastolic dibawah 90 mmHg disamping mencegah resiko penyakit kardiovaskuler

lainnya. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pada penggunaan obat anti

hipertensi, yaitu : i) saat mulai pengobatan gunakanlah dosis yang kecil, ii) bila

efek tidak memuaskan tambahkan obat untuk kombinasi, dan iii) pergunakan obat

long acting dengan dosis tunggal yang dapat mencakup efek selama 24 jam (6).

Berikut ini merupakan bagan algoritma penanganan hipertensi menurut

JNC VIII : (8)

Dewasa 18 tahun + Hipertensi

Pengaturan Lifestyle
(terus berlangsung sepanjang terapi)

Mengatur tekanan darah sesuai target dan memulai terapi obat sesuai dengan usia, diabtes, CKD

Semua umur + DM tanpa Semua umur +


Umur 60 tahun Umur < 60 tahun
CKD CKD dengan/tanpa DM

Target TD Target TD Target TD Target TD


SBP < 150 mmHg SBP < 140 mmHg SBP < 140 mmHg SBP < 140 mmHg
DBP < 90 mmHg DBP < 90 mmHg DBP < 90 mmHg DBP < 90 mmHg

Non Kulit Hitam Kulit Hitam Semua Kasus

ACEI atau ARB,


de-type diuretic atau ACEI atau ARBInisiasi thiazide-type
atau CCB, diuretic
sendiri atau atau CCB, sendiri atau kombinasi
kombinasi
sendiri atau kombinasi dengan obat golongan
Pilih strategi terapi titrasi obat
Dosis maksimum obat pertama sebelum tambahkan obat ke
Tambahakan obat kedua sebelum mengunakan obat pertam
Mulai dengan 2 kelas obat terpisah atau mengunakan kom

Apakah tujuan TD tercapai ?

Tidak
Memperkuat terapi dan mengatur agar pola lifestyle tetap sesuai
Untuk strategi A dan B tambahakan dan titrasi thiazide-type diuretic atau ACEI atau ARB atau CCB (gunakan terapi ke
Untuk strategi C, dosis dititrasi dan inisiasi medikasi sampai maksimum

Tidak
Apakah tujuan TD tercapai ?

Tidak
Gambar. Allogaritma Penatalaksanaan Hipertensi JNC 8

Tabel. Dosis Obat Hipertensi JNC 8

Obat Antihipertensi Inisial Dosis Target Jumlah


Dosis Harian, mg RCT, mg Obat / Hari
ACE inhibitors
1. Captopril 50 150-200 2
2. Enalapril 5 20 1-2
3. Lisinopril 10 40 1
Angiostensi receptor blockers (ARB)
1. Eprosartan 400 600-800 1-2
2. Candesartan 4 12-32 1
3. Losartan 50 100 1-2
4. Valsartan 40-80 160-320 1
5. Irbesartan 75 300 1
-Blockers
1. Atenolol 25-50 100 1
2. Metoprolol 50 100-200 1-2
Calcium Channel Blockers
1. Amlodipine 2,5 10 1
2. Diltiazkem extended release 120-180 360 1
3. Nitredipine 10 20 1-2
Thiazide-type diuretics
1. Bendroflumethiazide 5 10 1
2. Chlorthalidone 12,5 12,5-25 1
3. Hydrochlorothiazide 12,5-25 25-100 1-2
4. Indapamide 1,25 1,25-2,5 1
2.2. STRESS

2.2.1. Definisi Stres

Kata stres bisa diartikan berbeda bagi tiap-tiap individu. Sebagian

individu mendefinisikan stres sebagai tekanan, desakan atau respon emosional.

Para psikolog juga mendefinisikan stres dalam berbagai bentuk. Stres bisa

mengagumkan, tetapi bisa juga fatal. Semuanya tergantung kepada para penderita

(9).

Lazarus dan Folkman, 1984 menyatakan, stres psikologis adalah sebuah

hubungan antara individu dengan lingkungan yang dinilai oleh individu tersebut

sebagai hal yang membebani atau sangat melampaui kemampuan seseorang dan

membahayakan kesejahteraannya (9).

Stres juga bisa berarti ketegangan, tekanan batin, tegangan, dan konflik

yang berarti (10):

a. Satu stimulus yang menegangkan kapasitas-kapasitas (daya) psikologis

atau fisiologis dari suatu organisme.


b. Sejenis frustasi, di mana aktifitas yang terarah pada pencapaian tujuan

telah diganggu oleh atau dipersukar, tetapi terhalang-halangi; peristiwa ini

biasanya disertai oleh perasaan was-was kuatir dalam percapaian tujuan.


c. Kekuatan yang diterapkan pada suatu sistem, tekanan-tekanan fisik dan

psikologis yang dikenakan pada tubuh dan pada pribadi.


d. Satu kondisi ketegangan fisik atau psikologis disebabkan oleh adanya

persepsi ketakutan dan kecemasan.

Menurut Robert S. Fieldman (1989) stress adalah suatu proses yang

menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, ataupun

membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis,


emosional, kognitif dan perilaku. Peristiwa yang memunculkan stress dapat saja

positif (misalnya: merencanakan perkawinan) atau negatif (contoh: kematian

keluarga). Sesuatu didefinisikan sebagai peristiwa yang menekan (stressfull event)

atau tidak, bergantung pada respon yang diberikan oleh individu (11).

Stres adalah stimulus atau situasi yang menimbulkan distres dan

menciptakan tuntutan fisik dan psikis pada seseorang. Stres membutuhkan koping

dan adaptasi. Sindrom adaptasi umum atau Teori Selye, menggambarkan stres

sebagai kerusakan yang terjadi pada tubuh tanpa mempedulikan apakah penyebab

stres tersebutpositif atau negatif. Respons tubuh dapat diprediksi tanpa

memerhatikan stresor atau penyebab tertentu (11).

Stres adalah reaksi atau respons psikososial (tekanan mental atau beban

kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan

berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons

fisiologis, perilaku, dan subyektif terhadapat stres. Konteks yang menjembatani

pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres, semuanya

sebagai sistem (11).

Menurut Hans Selye dalam bukunya Hawari (2001) stres adalah respon

tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila

seseorang telah mengalami stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ

tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjelaskan fungsi

pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut distres. Pada gejala stres, gejala yang

dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi

dapat pula disertai keluhankeluhan psikis. Tidak semua bentuk stres mempunyai
konotasi negatif, cukup banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres

(12).

Stress adalah suatu tuntutan yang mendorong organisme untuk beradaptasi

atau menyesuaikan diri. Sedangkan stressor adalah suatu sumber stres. Maka

peneliti dapat menyimpulkan tentang definisi stres di atas yaitu: stres adalah suatu

keadaan yang membebani atau membahayakan kesejahteraan penderita, yang

dapat meliputi fisik, psikologis, sosial atau kombinasinya (13).

2.2.2. Tahap-Tahap Stres

Menurut Hans Selye, 1950 stress adalah respon tubuh yang bersifat non-

spesifik terhadap setiap tuntutan beban di atasnya. Selye memformulasikan

konsepnya dalam General Adaptation Syndrome (GAS). GAS ini berfungsi

sebagai respon otomatis, respon fisik, dan respon emosi pada seorang individu.

Selye mengemukakan bahwa tubuhkita bereaksi sama terhadap berbagai stressor

yang tidak menyenangkan, baik sumber stress berupa serangan bakteri

mikroskopi, penyakit karena organisme, perceraian ataupun kebanjiran. Model

GAS menyatakan bahwa dalam keadaan stress, tubuh kita seperti jam dengan

system alarm yang tidak berhenti sampai tenaganya habis (13).

Respon GAS ini dibagi dalam tiga fase, yaitu (14):

a. Reaksi waspada (alarm reaction stage)

Adalah persepsi terhadap stresor yang muncul secara tiba-tiba akan

munculnya reaksi waspada. Reaksi ini menggerakkan tubuh untuk

mempertahankan diri. Diawali oleh otak dan diatur oleh sistem endokrin
dan cabang simpatis dari sistem saraf autonom. Reaksi ini disebut juga

reaksi berjuang atau melarikan diri (fight-or-flight reaction).

b. Reaksi Resistensi (resistance stage)


Adalah tahap di mana tubuh berusaha untuk bertahan menghadapi

stres yang berkepanjangan dan menjaga sumber-sumber kekuatan

(membentuk tenaga baru dan memperbaiki kerusakan). Merupakan tahap

adaptasi di mana sistem endokrin dan sistem simpatis tetap mengeluarkan

hormon-hormon stres tetapi tidak setinggi pada saat reaksi waspada.


c. Reaksi Kelelahan (exhaustion stage)
Adalah fase penurunan resistensi, meningkatnya aktivitas para

simpatis dan kemungkinan deteriorasi fisik. Yaitu apabila stresor tetap

berlanjut atau terjadi stresor baru yang dapat memperburuk keadaan.

Tahap kelelahanditandai dengan dominasi cabang parasimpatis dari ANS.

Sebagai akibatnya, detak jantung dan kecepatan nafas menurun. Apabila

sumber stres menetap, kita dapat menngalami penyalit adaptasi (disease

of adaptation), penyakit yang rentangnya panjang, mulai dari reaksi alergi

sampai penyakit jantung, bahkan sampai kematian.

2.2.3. Sumber Stres

Stresor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan menghasilkan

reaksi stres, misalnya jumlah semua respons fisiologik nonspesifik yang

menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis. Stres reaction acute (reaksi stres

akut) adalah gangguan sementara yang muncul pada seorang individu tanpa

adanya gangguan mental lain yang jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau mental

yang sangat berat, biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan
kemampuan koping (coping capacity) seseorang memainkan peranan dalam

terjadinya reaksi stres akut dan keparahannya (14).

Empat variabel psikologik yang dianggap mempengaruhi mekanisme

respons stres (15):

a. Kontrol: keyakinan bahwa seseorang memiliki kontrol terhadap stresor

yang mengurangi intensitas respon stres


b. Prediktabilitas: stresor yang dapat diprediksi menimbulkan respons stres

yang tidak begitu berat dibandingkan stresor yang tidak dapat diprediksi.
c. Persepsi: pendangan individu tentang dunia dan persepsi stresor saat ini

dapat meningkatkan atau menurunkan intensitas respon stres.


d. Respons koping: ketersediaan dan efektifitas mekanisme mengikat

ansietas, dapat menambah atau mengurangi respon stres.

Sumber stres yang dapat menjadi pemicu munculnya stres pada individu

yaitu (15):

a. Stressor atau Frustrasi Eksternal (Frustrasi = kekecewaan yang

mendalam).
b. Stressor eksternal : berasal dari luar diri seseorang, misalnya perubahan

bermakna dalam suhu lingkungan, perubahan dalam peran keluarga atau

sosial, tekanan dari pasangan.


c. Stressor atau Frustrasi Internal
d. Stressor internal : berasal dari dalam diri seseorang, misalnya demam,

kondisi seperti kehamilan atau menopause, atau suatu keadaan emosi

seperti rasa bersalah).

2.2.4. Tipe Kepribadian yang Rentan Terkena Stres

Beberapa tipe kepribadian yang rentan menderita gangguan stres adalah

(16):
a. Ambisius, agresif dan kompetitif (suka akan persaingan)
b. Kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung dan marah (emosional)
c. Kewaspadaan berlebihan, kontrol diri kuat, percaya diri berlebihan (over

convidence)
d. Cara bicara cepat, bertindak serba cepat, hiperaktif, tidak dapat diam
e. Bekerja tidak mengenal waktu (workholic)
f. Pandai berorganisasi, memimpin dan memerintah (otoriter)
g. Lebih suka bekerja sendirian bila ada tantangan
h. Kaku terhadap waktu, tidak dapat tenang (tidak rileks) dan serba tergesa-

gesa.
i. Mudah bergaul (ramah), pandai menimbulkan perasaan empati dan bila

tidak tercapai maksudnya mudah bersikap bermusuhan


j. Tidak mudah dipengaruhi, kaku (tidak fleksibel)
k. Bila berlibur pikirannya ke pekerjaannya, tidak dapat santai.
l. Berusaha keras untuk dapat segala sesuatunya terkendali.

2.2.5. Gejala Stres

Menurut Robert S. Fieldman (1989) stress adalah suatu proses yang

menilai suatu peristiwa bebagai sesuatu yang mengancam, menantang, ataupun

membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis,

emosional, kognitif dan perilaku (17).

Taylor (1991) menyatakan, stress dapat menghasilkan berbagai respon.

Berbagai peneliti telah membuktikan bahwa respon-respon tersebut dapat berguna

sebagai indikator terjadinya stres pada individu, dan mengukur tingkat stres yang

dialami individu. Respon stres dapat terlihat dalam berbagai aspek, yaitu (18):

a. Respon fisiologis, dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah,

detak jantung, detak nadi, dan sistem pernapasan.


b. Respon kognitif, dapat terlihat lewat terganggunya proses kognitif

individu, seperti pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi,

pikiran berulang, dan pikiran tidak wajar.


c. Respon emosi, dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang

mungkin dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah, dan

sebagainya.
d. Respon tingkah laku, dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan situasi

yang menekan, dan flight, yaitu menghindari situasi yang menekan.

Gejalagejala lain yang dapat dilihat dari orang yang sedang mengalami

stres antara lain (19):

a. Cemas
b. Depresi
c. Makan berlebihan
d. Berpikiran Negatuf
e. Tidur Berlebihan
f. Diare
g. Konstipasi atau sembelit
h. Kelelahan yang terus menerus
i. Sakit kepala
j. Kehilangan Nafsu Makan
k. Marah
l. Tegang
m. Mudah Tersinggung
n. Gatal-gatal
o. Alergi
p. Merokok
q. Nyeri persendian
r. Berdebar-debar
s. Sesak napas

Apabila seseorang mengalami satu atau lebih dari gejala-gejala di atas,

maka kemungkinan orang tersebut mengalami stres.

Stres juga dapat dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi pada

anggota tubuh, diantaranya (20):

a. Rambut
Warna rambut yang semula hitam pekat, lambat laun mengalami

perubahan warna menjadi kecoklat-coklatan serta kusam. Ubanan (rambut

memutih) terjadi sebelum waktunya, demikian pula dengan kerontokan

rambut.
b. Mata
Ketajaman mata seringkali terganggu misalnya kalau membaca tidak jelas

karena kabur. Hal ini disebabkan karena otot-otot bola mata mengalami

kekenduran atau sebaliknya sehingga mempengaruhi fokus lensa mata.


c. Telinga
Pendengaran seringkali terganggu dengan suara berdenging (tinitus).
d. Daya pikir
Kemampuan bepikir dan mengingat serta konsentrasi menurun. Orang

menjadi pelupa dan seringkali mengeluh sakit kepala pusing.


e. Ekspresi wajah
Wajah seseorang yang stres nampak tegang, dahi berkerut, mimik nampak

serius, tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum atau tertawa dan kulit

muka kedutan (tic facialis).


f. Mulut dan bibir terasa kering sehingga seseorang sering minum.
Selain daripada itu pada tenggorokan seolah-olah ada ganjalan sehingga ia

sukar menelan, hal ini disebabkan karena otot-otot lingkar di tenggorokan

mengalami spasme (muscle cramps) sehingga serasa tercekik.


g. Kulit
Pada orang yang mengalami stres reaksi kulit bermacam macam, pada

kulit dari sebahagian tubuh terasa panas atau dingin atau keringat

berlebihan. Reaksi lain kelembaban kulit yang berubah, kulit menjadi

lebih kering. Selain daripada itu perubahan kulit lainnya adalah merupakan

penyakit kulit, seperti munculnya eksim, urtikaria (biduran), gatal-gatal

dan pada kulit muka seringkali timbul jerawat (acne) berlebihan; juga

sering dijumpai kedua belah tapak tangan dan kaki berkeringat (basah).
h. Sistem Pernafasan
Pernafasan seseorang yang sedang mengalami stres dapat terganggu

misalnya nafas terasa berat dan sesak disebabkan terjadi penyempitan pada

saluran pernafasan mulai dari hidung, tenggorokan dan otot-otot rongga

dada. Nafas terasa sesak dan berat dikarenakan otot-otot rongga dada

(otototot antar tulang iga) mengalami spasme dan tidak atau kurang elastis

sebagaimana biasanya. Sehingga ia harus mengeluarkan tenaga ekstra

untuk menarik nafas. Stres juga dapat memicu timbulnya penyakit asma

(asthma bronchiale) disebabkan karena otot-otot pada saluran nafas

paruparu juga mengalami spasme.


i. Sistem Kardiovaskuler
Sistem jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskuler dapat terganggu

faalnya karena stres. Misalnya, jantung berdebar-debar, pembuluh darah

melebar (dilatation) atau menyempit (constriction) sehingga yang

bersangkutan nampak mukanya merah atau pucat. Pembuluh darah tepi

(perifer) terutama di bagian ujung jari-jari tangan atau kaki juga

menyempit sehingga terasa dingin dan kesemutan. Selain daripada itu

sebahagian atau seluruh tubuh terasa panas (subfebril) atau sebaliknya

terasa dingin.
j. Sistem Pencernaan
Orang yang mengalami stres seringkali mengalami gangguan pada sistem

pencernaannya. Misalnya, pada lambung terasa kembung, mual dan pedih;

hal ini disebabkan karena asam lambung yang berlebihan (hiperacidity).

Dalam istilah kedokteran disebut gastritis atau dalam istilah awam dikenal

dengan sebutan penyakit maag. Selain gangguan pada lambung tadi,

gangguan juga dapat terjadi pada usus, sehingga yang bersangkutan


merasakan perutnya mulas, sukar buang air besar atau sebaliknya sering

diare.
k. Sistem Perkemihan.
Orang yang sedang menderita stres faal perkemihan (air seni) dapat juga

terganggu. Yang sering dikeluhkan orang adalah frekuensi untuk buang air

kecil lebih sering dari biasanya, meskipun ia bukan penderita kencing

manis (diabetes mellitus).


l. Sistem Otot dan tulang
Stres dapat pula menjelma dalam bentuk keluhan-keluhan pada otot dan

tulang (musculoskeletal). Yang bersangkutan sering mengeluh otot terasa

sakit (keju) seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang. Selain daripada itu

keluhan-keluhan pada tulang persendian sering pula dialami, misalnya rasa

ngilu atau rasa kaku bila menggerakan anggota tubuhnya. Masyarakat

awam sering mengenal gejala ini sebagai keluhan pegal-linu.


m. Sistem Endokrin
Gangguan pada sistem endokrin (hormonal) pada mereka yang mengalami

stres adalah kadar gula yang meninggi, dan bila hal ini berkepanjangan

bisa mengakibatkan yang bersangkutan menderita penyakit kencing manis

(diabetes mellitus); gangguan hormonal lain misalnya pada wanita adalah

gangguan menstruasi yang tidak teratur dan rasa sakit (dysmenorrhoe).

2.2.6. Stres Berdasarkan Jenis Kelamin

a. Stres pada Wanita

Fluktuasi estrogen dalam tubuh wanita dapat membuat parasaannya

berubah-ubah. Selama periode stres, kadar estrogen menurun. Kelenjar

adrenalin menghasilkan hormon stres lebih banyak dari pada estrogen. Selama

fase ini, ketika kadar estrogen menurun, terjadi pembentukan plak pembuluh
darah yang meningkatkan resiko terjadinya peyakit jantung. Setelah mencapai

masa menopouse, kadar estrogen pada wanita menurun hingga 80%. Ini

adalah masa titik balik yang penting pada kehidupan wanita. Banyak

perubahan besar yang terjadi seperti muka kemerahan dan terasa panas, masa

tulang yang rendah hingga mengalami osteoporosis. Selain itu estrogen

melindungi sistem jantung dan pembuluh darah sampai pada masa

menopouse. Setelah menopouse, wanita menjadi rentan terhadap masalah

jantung, yang kemungkinan sama dengan pria (20).

b. Stres pada Laki-Laki

Penurunan kadar testosteron berpengaruh pada stres fisik dan psikologis.

Testosteron adalah hormon yang memberi tanda maskulinitas pada pria,

seperti rambut, suara yang berat, dan figur tubuh (20).

Testosteron berkaitan dengan dominan pria. Hormon ini juga berkaitan

dengan pola pikir sifat mereka dengan wanita. Cara mereka belajar,

rasionalitas, dan keengganan untuk menunjukkan perasaannya merupakan ciri

khas pria. Kedua jenis kelamin ini memang benarbenar berbeda, baik secara

fisik maupun mental (20).

2.2.7. Jenis Stres

Jenis-jenis Stres menurut Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis

stres menjadi dua, yaitu (21):

a. Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif,

dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk

kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan


pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance

yang tinggi.
b. Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat,

negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk

konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular

dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan

dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian. Dalam hal ini, gejala stres

yang akan diteliti merupaka gejala stres yang bersifat distress, sebagai

akibat dari sebuah stres akut yang berkepanjangan dihitung mulai dari 3

bulan pasca kejadian (stressor) muncul.

2.3. Hubungan stres dengan hipertensi

Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui saraf simpatis

yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Stres yang berlangsung

lama akan dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang menetap (Susalit

dkk,2001). Dalam keadaan stres pembuluh darah akan menyempit sehingga

menaikkan tekanan darah

Menurut Depkes RI (2006) dan Sutanto (2010), stres atau ketegangan jiwa

(rasa murung, tertekan, marah, dendam, takut dan bersalah). Ketika otak

menerima sinyal bahwa seseorang sedang stres, perintah untuk meningkatkan

sistem simpatetik berjalan dan mengakibatkan hormon stres dan adrenalin

meningkat. Lever melepaskan gula dan lemak dalam darah untuk menambah

bahan bakar. Nafas menjadi lebih cepat sehingga jumlah oksigen bertambah.

Sehingga menyebabkan kerja jantung menjadi semakin cepat. (3,4)


Sutanto (2010) menjelaskan bahwa pelepasan hormon adrenalin oleh anak

ginjal sebagai akibat stres berat akan menyebabkan naikknya tekanan darah dan

meningkatkan kekentalan darah yang membuat darah mudah membeku atau

menggumpal. Adrenalin juga dapat mempercepat denyut jantung, menyebabkan

gangguan irama jantung dan mempersempit pembuluh darah koroner. Dengan

demikian aliran darah ke otot jantung akan berkurang atau terhambat sehingga

dapat menyebabkan kematian. Seseorang dalam kondisi stres akan mengalami

hal-hal seperti mudah jenuh, mudah marah, bertindak secara agresif dan defensif,

sulit konsentrasi, pelupa serta selalu merasa tidak sehat. Syaifudin (2006)

menambahkan bahwa hubungan stres dengan hipertensi juga dapat meningkatkan

retensi air dan garam.

Menurut Sarafindo (1990) dalam Smet (1994), stres adalah suatu kondisi

disebabkan oleh transaksi antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan

persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi dengan sumber

daya sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Selain itu, stres dapat

meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan bila stres sudah hilang

tekanan darah bisa normal kembali. Peristiwa mendadak menyebabkan stres dapat

meningkatkan tekanan darah. Baliwati (2004) mengungkapkan bahwa pekerjaan

juga berhubungan dengan tingkat penghasilan. Sementara itu, penghasilan

berhubungan dengan gaya hidup seseorang. Berbagai jenis pekerjaan akan

menimbulkan respon stress atau tekanan psikis yang berbeda akibat pengahasilan

yang dimiliki. Pegawai tetap cenderung lebih stabil daripada pegawai tidak tetap.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Penelitian Caval Cante (1995) dalam
Hasirungan (2002), melihat dari 1766 responden, 76 diantaranya hipertensi. Dari

observasi diketahui bahwa sebagian besar individu dengan hipertensi memiliki

pendapatan keluarga yang rendah dan tingkat pendidikan yang rendah.

Sutanto (2010), stres dianggap sebagai suatu yang buruk ketika seseorang

tidak mampu menanggulangi stressor dengan baik. Stressor dapat menggangu

kesehatan emosi maupun fisik. Berikut ini adalah beberapa cara untuk melepaskan

diri dari stres, yaitu : Pertama, memperbaiki kondisi emosi, merelaksasikan tubuh

dan otak serta pikirkan hal-hal yang menyenangkan. Berbagai penelitian

mengenai bio-feedback telah menunjukkan bahwa manusia sebenarnya memiliki

kamampuan untuk mengendalikan respons relaksasinya dan sejumlah orang yang

melakukan bio-feedback, kunci untuk memicu munculnya respons relaksasi

ternyata sederhana, yaitu memikirkan hal-hal yang menyenangkan dan bernapas

dengan tenang secara teratur. Hal ini bermanfaat mengatasi stres dengan cepat dan

mengurangi jumlah kejadian yang dipersepsikan sebagai stresor. Kedua,

aromaterapi. Ketiga, keluar dari stresor atau pemicu stress serta putuskan

lingkaran stres. Keempat, seimbangkan pola makan. Untk melakukan diet sehat

konsumsilah makanan bergizi tinggi, rendah lemak dan kolesterol, banyak serat,

tidak mengandung pengawet, kurangi junkfood serta banyak minum air putih.

Kelima, tidur yang berkualitas. Dan Keenam, hindari alkohol dan merokok. Hasil

penelitian Sigarlaki (2006) di Desa Bocor, Kecamatan Bulus Pesantren,

Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah didapatkan bahwa responden yang mengalami

stres terhadap jenis hipertensi, didapatkan bahwa responden prehipertensi yang

mengaku tidak mengalami stres (6,86%), sementara yang menderita hipertensi


grade I (37,25%), dan yang menderita hipertensi grade II (22,57%). Dari hasil

pengolahan penyebab stres terhadap hipertensi, didapatkan bahwa sebagian besar

responden mengaku penyebab stres terbanyak yang dialami adalah karena

ekonomi (47,05%). Hal ini disebabkan karena mereka berpenghasilan rendah.

Tingkat pendidikan, status ekonomi dan lingkungan sosial kultural dari seseorang

merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan program

kesehatan masyarakat (Baliwati, 2004). Penelitian Yuliarti (2007) menunjukkan

bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara stres dengan kejadian

hipertensi. Namun, penelitian Hasirungan bahwa terdapat hubungan yang

bermakna antara stres dengan kejadian hipertensi.