Anda di halaman 1dari 12

Agrium, April 2011 Volume 16 No 3

EVALUASI PROGRAM PENYULUHAN PERTANIAN DAN


PENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP
PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH

Muhammad Thamrin1, Hadriman Khair2 dan Ade Ryantika1


1
Jurusan Agrobisnis, 2Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian UMSU, Medan
Email: mhdthamrin@ymail.com

Abstract
The results of research using descriptive analysis shows that the agricultural extension program
in Medan Krio Kecamatan Sunggal BPP is Legowo 4:1 cropping system, establishment of Gapoktan,
Integrated Crop Management Field School (SLPTT), RDKK Subsidized Fertilizer and Agribusiness
Program Rural (PUAP). While the research results obtained using multiple linear regression that
simultaneously socioeconomic factors, education, experience, area and number of dependents are able to
explain changes in income of paddy farmers at 99%. Partial factors of education and area of land
affected by the real-value t count> t-table and the experience factor and the number of dependents does
not affect real with t-values calculated <t-table on the income of paddy farmers at 95% confidence level
(=5%).
Key Words : Agricultural Extension Program, Income Farmers Rice

Abstrak
Hasil penelitian dengan menggunakan analisis deskriptif menunjukkan bahwa program
penyuluhan pertanian di BPP Medan Krio Kecamatan Sunggal adalah Sistem Pertanaman Legowo 4:1,
Pembentukan GAPOKTAN, Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT), RDKK Pupuk
Bersubsidi dan Program Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). Sedangkan hasil penelitian yang
menggunakan regresi linier berganda diperoleh bahwa secara simultan faktor sosial ekonomi,
pendidikan, pengalaman, luas lahan dan jumlah tanggungan mampu menjelaskan perubahan pendapatan
petani padi sawah sebesar 99%. Secara parsial faktor pendidikan dan luas lahan berpengaruh nyata
dengan nilai t-hitung > t-tabel dan faktor pengalaman dan jumlah tanggungan berpengaruh tidak nyata
dengan nilai t-hitung < t-tabel pada terhadap pendapatan petani padi sawah pada taraf kepercayaan 95
% ( = 5%).
Kata kunci : Program Penyuluhan Pertanian, Pendapatan Petani Padi

A. PENDAHULUAN tidak dapat disaingi oleh berbagai jenis


Luas lahan sawah Indonesia mencapai komoditi yang lain.2
8,3 juta hektar. Kontribusi padi sawah pada Beras merupakan komoditas yang
produksi padi nasional mencapai kurang lebih memegang posisi strategis. Beras disebut
95%. Produksi padi Sumatera Utara untuk tahun komoditas politik karena menguasai hajat hidup
2006 berdasarkan data dari DEPTAN, luas areal rakyat Indonesia. Selain lebih dari 90 persen
pertanaman padi sawah seluas 492.822 hektar penduduk Indonesia menjadikan beras makanan
sedangkan tahun 2007 turun sekitar 4,22% atau pokoknya, beras juga menjadi industri yang
menjadi 472.014 hektar. Untuk tahun 2008, strategis bagi perekonomian nasional.
pertanaman lahan sawah menjadi 427.358 Kebijakan perberasan di Indonesia meliputi
hektar sedangkan untuk tahun 2009 turun kebijakan produksi, distribusi, impor dan
menjadi 406.256 hektar.1 pengendalian harga domestik dalam rangka
Padi (Oryza sativa L) merupakan menjaga ketahanan pangan nasional. Kebijakan
tanaman utama yang penting dan banyak produksi pangan, terutama padi, telah
dikonsumsi oleh manusia terutama di benua dituangkan melalui Inpres No. 9 Tahun 2002
Asia. Diperkirakan lebih dari 1,75 milyar tentang dukungan dalam rangka meningkatkan
manusia menghuni Negara-negara Asia produktivitas padi di Indonesia.
sekarang termasuk lebih 235 juta penduduk Sebelumnya pemerintahan orde baru
Indonesia. Dari seluruh macam tanaman yang juga telah mengeluarkan berbagai paket
dibudidayakan di Indonesia, tanaman padi teknologi seperti Bimbingan Masal (Bimas)
sangat berperan strategis baik ekonomis tahun 1965, Intensifikasi Khusus (Insus) tahun
maupun politis dalam perekonomian negara. 1979 dan Supra Insus tahun 1987. Sehingga
Hal ini dapat dibuktikan dengan jumlah lahan mampu mengantarkan Indonesia mencapai
yang ditanami padi seluas 15,4 juta hektar yang swasembada beras pada tahun 1984. Namun
kondisi tersebut hanya berlangsung sementara
179
Muhammad Thamrin dkk

karena setelah itu Indonesia harus mengimpor hasil kerja berarti menilai atau menaksir hasil
beras untuk memenuhi kebutuhannya.3 kerja penyuluhan itu, apakah menimbulkan
Istilah university extension atau kesan, kesadaran, minat untuk mengikuti dan
extension of the university dipergunakan di melaksanakan pesan-pesan yang terangkum
Inggris pada tahun 1840-an. Sekitar tahun 1867- dalam materi penyuluhan.7
1868, James Stuart dari Trinity College Keberhasilan pertanian tidak terlepas
(Cambridge) untuk pertama kalinya dari kemampuan petani dalam menerapkan
memberikan ceramah kepada perkumpulan teknologi pertanian secara efektif dan penyuluh
wanita dan perkumpulan pekerja pria di Inggris dalam hal ini bertindak sebagai jembatan dan
Utara. Stuart kemudian dianggap sebagai bapak sekaligus penghantar teknologi. Penyampaian
penyuluhan. Menjelang tahun 1880 kegiatan ini teknologi ini dapat dilakukan secara langsung
telah merupakan gerakan penyuluhan tempat maupun tidak langsung dalam proses
perguruan tinggi melebarkan sayapnya ke luar komunikasi dimana penyuluh sebagai pihak
kampus. Sejak awal abad ke-20 istilah yang mempunyai inisiatif untuk mengadakan
penyuluhan pertanian mulai digunakan secara komunikasi dapat mengirimkan berupa berita
umum di Amerika Serikat untuk menunjukkan kepada pihak yang dituju dalam ini yaitu
bahwa sasaran pengajaran di universitas tidak petani.8
hanya terbatas di lingkungan kampus tetapi Pada dasarnya perilaku petani
diperluas hingga semua pihak yang hidup di dipengaruhi oleh pengetahuan, kecakapan dan
lingkungan mana pun.4 sikap mental petani itu sendiri. Pada umumnya
Penyuluhan pertanian adalah suatu karena tingkat kesejahteraan hidupnya dan
pandangan hidup atau landasan pemikiran yang keadaan lingkungan menyebabkan pengetahuan
bersumber pada kebijakan moral tentang segala dan kecakapannya tetap berada dalam tingkatan
sesuatu yang akan dan harus diterapkan dalam rendah dan keadaan seperti ini akan menekan
perilaku atau praktek kehidupan sehari-hari. sikap mentalnya. Dengan adanya informasi baru
Penyuluhan pertanian harus berpijak kepada yang diterima daripada penyuluh diharapkan
pengembangan individu bermasyarakat, akan terjadi perubahan, terutama cara berfikir,
berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, cara kerja, pengetahuan dan sikap mental yang
penyuluhan pertanian sebagai upaya membantu lebih baik.7
masyarakat agar mereka dapat membantu Meningkatkan efektifitas sistem kerja
dirinya sendiri dan meningkatkan harkatnya latihan dan kunjungan dari kegiatan penyuluhan
sebagai manusia.5 dan guna menumbuhkan serta mengembangkan
Pada hakekatnya penyuluhan adalah peran serta petani dalam pembangunan
suatu kegiatan komunikasi. Proses yang dialami pertanian, perlu untuk dilakukan pembinaan
mereka yang disuluh sejak mengetahui, terhadap kelompokkelompok tani yang
memahami, meminati, dan kemudian terbentuk secara rutin dan reguler agar
menerapkannya dalam kehidupan yang nyata, kelompok tani dapat berkembang menjadi
adalah suatu proses komunikasi. Dengan kekuatan ekonomi yang mampu
demikian, dapat dilihat bagaimana pentingnya mensejahterakan anggotanya.9
memenuhi persyaratan komunikasi yang baik Di Indonesia penyuluhan berkembang
untuk tercapainya hasil penyuluhan yang baik. dengan sangat pesat di berbagai sektor
Seperti mana suatu komunikasi baru berhasil pembangunan, penyuluhan di Indonesia
bila kedua belah pihak sama-sama siap untuk diartikan sebagai pendidikan di luar sekolah
itu, demikian pula dengan penyuluhan. Ini bagi para petani dan keluarganya dengan tujuan
berarti kegiatan penyuluhan menuntut suatu agar mereka mampu berswadaya. Kegiatan
persiapan. Perlu suatu perencanaan yang penyuluhan dilakukan dengan tujuan
matang, dan bukan dilakukan secara asal-asalan menyelenggarakan alih pengetahuan dan
saja. Persiapan dan perencanaan inilah yang keterampilan dari petugas kepada anggota
hendak dipenuhi dengan menyusun lebih dahulu kelompok tani serta mengubah sikap dalam
suatu disain komunikasi penyuluhan.6 berusaha tani.10
Pelaksanaan program kegiatan Berdasarkan undang-undang No 16
penyuluhan pertanian merupakan pelaksanaan Tahun 2006 pelaksanaan penyuluhan pertanian
kegiatan penyuluhan yang jenis dan waktu dilakukan harus sesuai dengan program
penyuluhannya tidak boleh menyimpang dari penyuluhan pertanian. Program penyuluhan
yang telah ditentukan pada program. Jadi apa pertanian dimaksudkan untuk memberikan
yang dikerjakan oleh seorang penyuluh haruslah arahan, pedoman, dan sebagai alat pengendali
sesuai dengan rencananya. Selesai menjalankan pencapaian tujuan penyelenggaraan penyuluhan
tugas penyuluhan pada hari/tanggal, tempat dan pertanian, Program penyuluhan pertanian terdiri
kegiatan tertentu sesuai dengan program dari program penyuluhan pertanian desa,
kerjanya, penyuluh harus dapat mengevalusi program penyuluhan pertanian kecamatan,

180
EVALUASI PROGRAM PENYULUHAN PERTANIAN

program penyuluhan pertanian kabupaten/kota, Metode ini menggunakan metode studi


program penyuluhan pertanian propinsi dan kasus (case study) yaitu penelitian yang
program penyuluhan pertanian nasional. digunakan dengan melihat langsung
Setiap program kegiatan yang kelapangan, karena studi kasus merupakan
direncanakan seharusnya diakhiri dengan metode yang menjelaskan jenis penelitian
evaluasi dan dimulai dengan hasil evaluasi mengenai suatu objek tertentu selama kurun
kegiatan sebelumnya. Evaluasi yang dilakukan waktu, atau suatu fenomena yang ditentukan
dimaksudkan untuk melihat kembali apakah pada suatu tempat yang belum tentu sama
suatu program atau kegiatan telah dapat dengan daerah lain.
dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan
tujuan yang diharapkan. Dari kegiatan evaluasi Metode Penentuan Daerah Penelitian
tersebut akan diketahui hal-hal yang telah Penentuan daerah penelitian ini
dicapai, apakah suatu program dapat memenuhi ditentukan secara sengaja (Purposive Sampling)
kriteria yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil yaitu di Desa Sei Beras Sekata Kecamatan
evaluasi itu kemudian diambil keputusan, Sunggal Kabupaten Deli Serdang. Adapun
apakah suatu program akan diteruskan, atau alasan peneliti memilih daerah tersebut karena
direvisi, atau bahkan diganti sama sekali. Hal daerah penelitian ini merupakan sentra produksi
ini didasarkan pada pengertian evaluasi, yaitu padi.
suatu proses pengumpulan informasi melalui
pengumpulan data dengan menggunakan Metode Penarikan Sampel
instrumen tertentu untuk mengambil suatu Sampel yang digunakan dalam penelitian
keputusan. Jadi, pada dasarnya evaluasi adalah ini adalah masyarakat petani yang ada di
suatu kegiatan yang menguji atau menilai Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang.
pelaksanaan suatu program.11 Pengambilan sampel 30 orang secara acak
Evaluasi program biasanya dilakukan sederhana (simple random sampling), karena
untuk kepentingan pengambilan keputusan setiap petani mempunyai kesempatan yang
dalam rangka menentukan kebijakan sama untuk dipilih sebagai sampel.
selanjutnya. Dengan melalui evaluasi suatu
program dapat dilakukan secara sistematis, rinci Metode Pengumpulan Data
dan menggunakan prosedur yang sudah diuji Data yang dikumpulkan dalam penelitian
secara cermat. Dengan metode tertentu akan ini terdiri dari data primer dan data sekunder.
diperoleh data yang handal, dapat dipercaya Data primer diperoleh dari petani responden
sehingga penentuan kebijakan akan tepat, melalui wawancara dengan menggunakan
dengan catatan apabila data yang digunakan kuesioner yang telah dipersiapkan. Data
sebagai dasar pertimbangan tersebut benar, sekunder diperoleh dari Dinas Pertanian, Balai
akurat dan lengkap.12 Penyuluhan Pertanian (BPP) Tanaman Pangan
Tujuan evaluasi akan menentukan data dan Hortikultura dan juga dari Kantor Kepala
yang harus dikumpulkan untuk mengevaluasi Desa di daerah penelitian.
program penyuluhan. Dikenal dua jenis evaluasi
: evaluasi formatif yang mengumpulkan Metode Analisis Data
informasi untuk pengembangan program Pelaksanaan program yang diberikan
penyuluhan yang efektif dan evaluasi summatif oleh PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan)
yang mengukur hasil akhir suatu program agar kepada petani budidaya padi sawah
dapat memutuskan apakah program akan menggunakan analisis deskriptif.
diteruskan, diperluas, atau diperkecil. Data yang Menjawab hipotesis penelitian ini
dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif atau menggunakan analisis Regresi Linear Berganda
data kualitatif. Data kuantitatif berguna untuk dengan rumus sebagai berikut:
mengukur perubahan-perubahan yang terjadi
karena program penyuluhan, sedangkan data Y = b0 + b1x1 +b2x2 +b3x3+b4x4 + e
kualitatif memberikan informasi mengenai
alasan mengapa agen penyuluhan dan petani Di mana :
mengambil tindakan tertentu. Pada tahun-tahun Y = Pendapatan
belakangan ini, kian bertambah kepentingan b0 = Konstanta regresi
untuk menggunakan data kualitatif karena data X1 = Pendidikan (Tahun)
itulah yang selama ini paling banyak membantu X2 = Pengalaman (Tahun)
dalam meningkatkan program penyuluhan.4 X3 = Luas Lahan (ha)
X4 = Jumlah Tanggungan (Orang)
B. METODE PENELITIAN b1,b2,b3 dan b4 = Koefisien regresi
e = error
Metode Penelitian

181
Muhammad Thamrin dkk

Menguji faktor-faktor sosial ekonomi mengikuti diskusi dan melakukan petak


petani secara keseluruhan antara semua variable percobaan langsung kelapangan untuk
independen dan dependen digunakan uji F mempraktekkan cara menanam sistem tanam
statistik yaitu : legowo 4:1 ini. Dalam percobaannya digunakan
tali pembantu untuk memudahkan petani
Fhit =
melakukan penanaman. Petak percobaan yang
Dimana: dilakukan adalah sistem kooperatif, jadi petani
JK reg = Jumlah kuadrat regresi sebagai kooperator bekerjasama dengan pihak
JK sisa = Jumlah kuadrat sisa terkait diatas melakukan perjanjian untuk
n = Jumlah sampel melaksanakan penerapan teknologi legowo 4:1
k = Jumlah variabel dilahan percobaannya.
1 = Konstanta Adapun hasil dari kegiatan petak
percobaan ini adalah baik, dimana dengan
Menguji nilai F hitung ini dilakukan penerapan teknologi legowo 4:1 terjadi
kriteria pengujian sebagai berikut: peningkatan produksi padi sawah. Dalam
penerapan teknologi diperlukan pemantauan
Jika F hitung > F tabel = H1 diterima Ho ditolak oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Jika F hitung < F tabel = H1 ditolak Ho diterima (BPTP), selaku pemonitor yang berasal dari
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera
Uji pengaruh secara parsial digunakan Utara. Dan sampai saat ini Tahun 2010, pihak
uji t dengan rumus: BPTP masih memberikan masukan-masukan
thit baik dalam pemecahan masalah-masalah
maupun dalam pemberian upaya pemecahan
masalah-masalah tersebut.
Dimana: bi = Koefisien regresi Berdasarkan penerapan paket teknologi
Se = Simpangan baku BPTP agar pemanfaatan dan pendayagunaan
paket teknologi pertanian dapat mencapai
Kriteria Pengujian : sasaran, maka prosedur penerapan paket
teknologi tersebut dilakukan sebagai berikut:
Jika t hitung > t tabel = H1 diterima Ho ditolak 1. Dinas daerah lingkup pertanian, menyusun
hipotesis diterima. petunjuk teknis pelaksanaan penerapan
paket teknologi pertanian dan
Jika t hitung < t tabel = H1 ditolak Ho diterima menyampaikannya kepada Balai Penyuluh
hipotesis ditolak. Pertanian (BPP).
2. Penyuluh Pertanian Lapangan yang berada
C. HASIL DAN PEMBAHASAN di Balai Penyuluh Pertanian menggunakan
paket teknologi pertanian yang telah
Program Penyuluhan direkomendasikan menjadi materi
Program penyuluhan di BPP Medan Krio penyuluhan.
Kecamatan Sunggal antara lain: sistem 3. Materi penyuluhan tersebut diperbanyak dan
pertanaman legowo 4:1, Pembentukan disebarluaskan oleh BPP dalam bentuk
Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN), bahasa yang sesuai dengan kondisi setempat
Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu serta disampaikan kepada kelompok tani
(SLPTT), Rencana Defenitif Kebutuhan (KT) untuk diterapkan.
Kelompok (RDKK) Pupuk Bersubsidi dan 4. Penyebarluasan paket teknologi pertanian
Program Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). dilakukan melalui kegiatan penyuluhan,
antara lain: melalui kegiatan demonstrasi,
1. Sistem Pertanaman Legowo 4:1 kaji terap teknologi anjuran ditingkat
Pada sistem petanaman legowo dibuat usahatani, dan bimbingan penerapan
kelompok barisan tanaman yang terdiri dari 4 teknologi anjuran kepada petani melalui
baris dengan jarak 10 cm. Antara kelompok temu lapang dan petak percobaan.
dikosongkan satu baris tanam. Kelebihan sistem 5. Sistem kerja Latihan Kunjungan Situasi dan
ini antara lain populasi tanaman dan tanaman Kondisi ( LAKUSUSI ) adalah jalur terbaik
pinggir dalam 1 hamparan lebih banyak, dalam rangka diseminasi paket teknologi
pemeliharaan tanaman lebih mudah, pertanian spesifik lokasi kepada para petani,
kelembaban dan penerimaan sinar matahari baik dalam latihan maupun supervisinya
lebih merata dan dapat mengurangi serangan (BPTP, 2003).
tikus. Awal penerapan teknologi legowo 4:1
Pada awal penerapan teknologi legowo telah sesuai dengan prosedur penerapan paket
4:1 diperlukan keuletan. Petani dipanggil untuk teknologi (Diseminasi) BPTP. Walaupun dalam

182
EVALUASI PROGRAM PENYULUHAN PERTANIAN

hal penerapan teknologinya Desa Sei Beras usahatani ke sektor hulu dan hilir, pemasaran
Sekata dipilih oleh BPTP dan pihak terkait serta kerjasama dalam peningkatan posisi tawar.
lainnya, namun dalam prosedur pelaksanaannya Pengembangan kelompok tani diarahkan
tetap melalui prosedur dalam pedoman tata pada peningkatan setiap kelompok tani dalam
laksana penyiapan dan penerapan paket melaksanakan fungsinya, peningkatan
teknologi pertanian. Adapun ketentuan lain kemampuan para anggota dalam
yang harus dilaksanakan petani kooperator mengembangkan agribisnis, penguatan
adalah bahwa penerapan teknologi legowo 4:1 kelompok tani menjadi organisasi petani yang
harus dibarengi dengan penerapan komponen kuat dan mandiri, kelompok yang berkembang
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) lainnya. bergabung ke dalam gabungan kelompok tani.
Tujuannya adalah agar diperoleh peningkatan Pembentukan GAPOKTAN dalam suatu
produktivitas yang maksimal. Adapun tujuh musyawarah yang dihadiri minimal oleh para
komponen PTT lainnya yang akan diterapkan kontak tani/Ketua kelompok tani yang akan
sejalan dengan penerapan teknologi legowo 4:1 bergabung, setelah sebelumnya di masing-
adalah: masing kelompok telah disepakati bersama para
1. Varietas unggul: varietas padi merupakan anggota kelompok untuk bergabung ke dalam
salah satu teknologi utama yang mampu GAPOKTAN. Dalam rapat pembentukan
meningkatkan produktivitas padi dan GAPOKTAN sekaligus disepakati bentuk,
pendapatan petani. susunan, dan jangka waktu kepengurusannya,
2. Persemaian: lokasi persemaian kira-kira 4% ketentuan-ketentuan yang menjadi hak dan
atau 1/25 dari luas pertanaman. kewajiban anggota GAPOKTAN. Ketua
3. Bibit muda: gunakan bibit berumur 10-15 GAPOKTAN dipilih secara musyawarah dan
hari, 1-2 batang per rumpun. demokrasi oleh para anggotanya.
4. Pemupukan berimbang Sebagai sebuah lembaga, GAPOKTAN
5. Penggunaan bahan organik: berasal dari adalah milik masyarakat desa sehingga seluruh
limbah pertanaman, kotoran hewan atau masyarakat berhak untuk terlibat dalam
hasil pengomposan seperti kotoran hewan, program yang dimotori oleh GAPOKTAN
kotoran ayam, jerami atau sisa tanaman lain. mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan /
6. Pengendalian penyakit: strategi pemanfaatan, pengawasan / monitoring dan
pengendalian yaitu; gunakan varietas tahan, evaluasi. Atas dasar itulah harus muncul
tanam bibit sehat termasuk pengendalian sebagai suatu kebutuhan masyarakat maupun
dari aspek kultur teknis seperti pola tanam pengurus GAPOKTAN untuk dapat mereview
tepat, pegiliran tanaman, kebersihan kembali kelembagaan GAPOKTAN secara
lapangan, waktu tanam yang tepat, berkala sehingga apa yang menjadi harapan
pemupukan yang tepat, pengolahan tanah masyarakat tani, khususnya mensejahtrakan
dan irigasi, perangkap untuk tikus dan para petani dapat terwujud.
pengamatan berkala di lapangan. Munculnya berbagai peluang dan
7. Panen dan pasca panen: perlu ditangani hambatan sesuai dengan lingkungan sosial
secara tepat karena kehilangan hasil dan ekonomi setempat, membutuhkan adanya
penurunan untuk selama proses panen dan pengembangan kelompok tani ke dalam suatu
pasca panen masih tinggi (sekitar 20%). organisasi yang jauh lebih besar. Beberapa
Panen dilakukan 30-35 hari setelah padi kelompok tani bergabung ke dalam gabungan
menguning atau jika 95% mulai menguning kelompok tani (GAPOKTAN). Penggabungan
(BPTP, 2007). kelompok tani ke dalam GAPOKTAN
dilakukan agar kelompok tani dapat lebih
2. Pembentukan GAPOKTAN berdaya guna dan berhasil guna, dalam
Penggabungan dalam GAPOKTAN penyediaan sarana produksi pertanian,
terutama dapat dilakukan oleh kelompok tani permodalan, peningkatan atau perluasan usaha
yang berbeda dalam satu wilayah administrasi tani ke sektor hulu dan hilir, pemasaran serta
pemerintahan untuk menggalang kepentingan kerja sama dalam peningkatan posisi tawar.
bersama secara kooperatif. Wilayah kerja Dalam mendapatkan legitimasi,
GAPOKTAN sedapat mungkin di wilayah kepengurusan GAPOKTAN dikukuhkan oleh
administratif desa/kecamatan, tetapi sebaiknya pejabat wilayah setempat. GAPOKTAN
tidak melewati batas wilayah Kabupaten/Kota. melakukan fungsi-fungsi,sebagai berikut:
Penggabungan kelompok tani kedalam 1. Merupakan satu kesatuan unit produksi
GAPOKTAN dilakukan agar kelompok tani untuk memenuhi kebutuhan pasar (kuantitas,
dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna kualitas, kontinuitas dan harga).
dalam penyediaan sarana produksi pertanian, 2. Penyediaan Sarana Produk Pertanian
permodalan, peningkatan atau perluasan (SAPROTAN) yaitu pupuk bersubsidi, benih
bersertifikat, pestisida dan lainnya serta

183
Muhammad Thamrin dkk

menyalurkan kepada para petani melalui menerapkan sistem jajar legowo yang
kelompoknya. merupakan salah satu komponen teknologi
3. Penyediaan modal usaha dan menyalurkan dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).
secara kredit/ pinjaman kepada para petani SL-PTT adalah bentuk sekolah yang
yang memerlukan. seluruh proses belajar-mengajarnya dilakukan di
4. Melakukan proses pengolahan produk para lapangan. Melalui SL-PTT diharapkan terjadi
anggota (penggilingan, grading, pengepakan percepatan penyebaran teknologi PTT dari
dan lainnya) yang dapat meningkatkan nilai peneliti ke petani peserta dan kemudian
tambah; berlangsung difusi secara alamiah dari alumni
5. Menyelenggarakan proses perdagangan SL-PTT kepada petani disekitarnya. Petani
dengan memasarkan/menjual produk petani peserta SL-PTT diberi kebebasan memfokuskan
kepada pedagang/industri hilir. ide, rencana dan keputusan bagi usahataninya
sendiri. Mereka dilatih agar mampu membentuk
Tabel 1 dibawah dapat diketahui bahwa Desa dan menggerakkan kelompok tani dalam alih
Sei Beras Sekata memiliki 9 kelompok tani teknologi kepada petani lain. Melalui SL-PTT,
yang terdiri dari 208 orang yaitu Sekata, Tani petani diharapkan terpanggil dan bertanggung
makmur, Karya tani, Mbuah pane, Tani jaya, jawab untuk bersama-sama meningkatkan
Nakmur tani, Karya jaya, Aritha dan Tani karya. produksi padi dalam mewujudkan swasembada
Awal pembentukan pada tahun 1988. 5.Sekolah beras.
Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL- Adanya program pengelolaan tanaman
PTT) terpadu diharapkan mampu meningkatkan
Pelaksanaan SL-PTT menggunakan produktivitas padi serta mampu meningkatkan
sarana kelompok tani yang sudah terbentuk dan pendapatan petani. Demi kesuksesan program
masih aktif. Kelompok tani yang dimaksud tersebut diperlukan partisipasi dari para petani
adalah kelompok tani yang dibentuk agar kegiatan dapat berjalan sesuai dengan yang
berdasarkan domisili atau hamparan, diinginkan. Akan tetapi, kegiatan ini juga
diusahakan yang lokasi lahan usahataninya mempunyai kendala seperti kurangnya
masih dalam satu hamparan. Hal ini perlu untuk kesadaran dari beberapa petani untuk ikut
mempermudah interaksi antar anggota karena berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan.
mereka saling mengenal satu sama lainnya dan Kegiatan SL-PTT merupakan salah satu
tinggal saling berdekatan sehingga bila upaya pendampingan petani dalam rangka
teknologi SL-PTT sudah diadopsi secara pelaksanaan program Peningkatan Produksi
individu akan mudah ditiru oleh petani lainnya. Beras Nasional (P2BN). Salah satu bentuk
Peranan masyarakat dalam kegiatan SL- pendampingannya berupa kegiatan sekolah
PTT sangatlah diperlukan, tanpa ada partisipasi lapangan. Tujuannya yaitu: meningkatkan
masyarakat dalam kegiatan tersebut maka pengetahuan dan keterampilan petani, kelompok
program tersebut tidak akan berjalan. Adapun tani dalam budi daya padi, memantapkan
fasilitas dalam SL-PTT berupa benih unggul, kesadaran petani dalam peningkatan melalui
pupuk organik dan pupuk anorganik. Dalam P2BN.
pelaksanaan SLPTT di Desa Sei Beras Sekata Pelaksanaan kegiatan sekolah lapang
masih memiliki kendala. Dalam penelitian awal dalam 1x musim tanam terdiri dari 8x
yang dilakukan oleh peneliti kendala yang pertemuan dimana lokasi pertemuan itu
dihadapi yaitu tidak semua petani mampu dilaksanakan di laboratorium lapang (LL) yang

Tabel 1. GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) Desa Sei Beras Sekata.

N0 Kelompok Tani Jumlah Anggota (orang) Tahun Pembentukan


1 Sekata 20 1988
2 Tani Makmur 23 1988
3 Karya Tani 27 1988
4 Mbuah Page 25 1988
5 Tani Jaya 30 1988
6 Nakmur Tani 24 1988
7 Karya Jaya 26 1988
8 Aritha 23 1988
9 Tani Karya 20 1988
Jumlah 208
Sumber : BPP Medan Krio, 2010

184
EVALUASI PROGRAM PENYULUHAN PERTANIAN

dimiliki setiap kelompok ada juga spesifik lokasi mulai dari pengolahan tanah,
pertemuannya dilaksanakan di rumah kelompok budidaya, penanganan panen dan pasca panen.
tani untuk mensosialisasikan kegiatan tersebut Adapun penentuan calon petani/kelompok tani
kepada petani lain serta mengatur waktu SL-PTT adalah kelompok tani/petani yang
pertemuannya sehingga ada kesepakatan antara dinamis dan bertempat tinggal dalam satu
petani dan penyuluh wilayah yang berdekatan, petani yang dipilih
Komponen dasar Sekolah Lapang adalah petani aktif yang memiliki lahan ataupun
Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) terdiri penggarap/penyewa dan mau menerima
dari 12 komponen yaitu : teknologi baru, bersedia mengikuti seluruh
a. Varietas unggul rangkaian kegiatan SL-PTT serta kelompok tani
b. Benih bermutu SL-PTT ditetapkan dengan surat keputusan
c. Pengolahan tanah terpadu kepala dinas pertanian tanaman pangan/yang
d. Persemaian yang baik dengan benih efisien membidangi tanaman pangan kabupaten/kota.
e. Pola tanam jajar legowo Mekanisme pelaksanaan SL-PTT
f. Penggunaan pupuk organic meliputi persiapan SL-PTT untuk
g. Penggunaan pupuk an organik yang sesuai mengorganisasikan kelas SL-PTT; menerapkan
kebutuhan metode belajar orang dewasa, adapun tahapan
h. Pengairan yang intermiten (terputus putus) belajar dalam SL-PTT adalah peserta memilih
i. Pengendalian gulma materi sesuai dengan teknologi spesifik lokasi,
j. Pengendalian hama dan penyakit memacu peserta untuk berperan aktif dalam
k. Panen dan pasca panen berdiskusi kelompok ataupun kegiatan lain
Luas satu unit SL-PTT adalah berkisar dalam SL-PTT dan proses belajar melalui
antara 10-25 ha, satu unit Laboratorium pengalaman dimulai dengan penghayatan
Lapangan (LL) seluas minimal 1 ha. Pemilihan langsung (pengamatan langsung) diikuti dengan
letak petak LL yang berada didalam areal SL- pengungkapan pengalaman, pengkajian hasil
PTT terpilih dengan prioritas pertimbangan dan pengambilan kesimpulan; menciptakan
terletak dibagian pinggir areal SL-PTT sehingga suasana yang menyenangkan; menghidupkan
berbatasan langsung dengan areal diluar SL- dinamika kelompok; monitoring dan evaluasi
PTT, diharapkan penerapan teknologi SL-PTT oleh pemandu lapangan, kegiatan monitoring
mudah dilihat dan ditiru oleh petani diluar SL- dan evaluasi ditujukan untuk mengikuti,
PTT. Lokasi LL dapat berupa persawahan yang mengetahui kemajuan, pencapaian tujuan
beririgasi, sawah tadah hujan, lahan kering dan ataupun sasaran serta memberikan umpan balik
pasang surut yang produksinya masih bisa upaya-upaya mengatasi permasalahan yang
ditingkatkan, diprioritaskan bukan daerah dihadapi dalam SL-PTT dengan langkah-
endemis hama dan penyakit, bebas dari bencana langkah: menilai tingkat partisipasi peserta pada
kekeringan kebanjiran dan sengketa, unit SL- setiap periode maupun selama periode kegiatan
PTT diusahakan berada dalam satu hamparan dari tingkat kehadiran maupun pencapaian
yang stategis dan muda dijangkau petani serta materi, membandingkan ketepatan penerapan
dipasang papan pelaksanaan SL/LL. Areal yang teknologi oleh peserta antara petunjuk dengan
digunakan sebagai unit SL-PTT mendapat praktek lapang dalam LL, membandingkan
bantuan benih dan areal yang digunakan sebagai tingkat pemahaman dan ketrampilan peserta
unit LL akan mendapat bantuan benih, pupuk sebelum dengan sesudah mengikuti kegiatan,
urea, NPK dan pupuk organik. Tiap unit SL- menyusun pertanyaan berdasarkan pengetahuan
PTT terdiri dari petani peserta yang berasal dari dan ketrampilan lapangan yang berkaitan
satu kelompok tani yang sama. dengan penerapan teknologi budidaya setelah
Dalam setiap unit SL-PTT perlu itu pertanyaan diberikan secara tertulis maupun
ditetapkan seorang ketua peserta yang bertugas lisan kepada peserta sebelum dan sesudah
mengkoordinasikan aktivitas anggota kelompok, melakukan kegiatan. serta membuat laporan
seorang sekretaris yang bertugas sebagai oleh pemandu lapangan.
pencatat kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan Di dalam SLPTT evaluasi dapat
pada setiap pertemuan dan seorang bendahara dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
yang bertugas mengurusi masalah yang a. Evaluasi petani
berhubungan dengan keuangan. Peserta SL-PTT Evaluasi proses belajar (alih teknologi)
akan mengadakan pengamatan bersama-sama di dilakukan untuk mengetahui tingkat
petak percontohan/laboratorium lapangan, kehadiran, aktivitas, dan pemahaman peserta
mendeskripsikan dan membahas temuan- terhadap materi yang dipelajari dalam
temuan lapangan. SLPTT, serta tingkat implementasinya di
Peserta SL-PTT wajib mengikuti setiap lahan sekolah lapang. Evaluasi dilakukan
tahap pertanaman dan mengaplikasikan melalui pengamatan dan wawancara
kombinasi komponen teknologi yang sesuai langsung

185
Muhammad Thamrin dkk

b. Evaluasi pelaksanaan SLPTT 4. Meneliti seluruh kelengkapan RDKK dan


Evaluasi pelaksanaan pelatihan dilakukan penandatanganan RDKK oleh kontak
berjenjang. Bagi pemandu lapang tingkat tani/ketua kelompok tani yang diketahui
kecamatan/desa, evaluasi dilakukan oleh PL oleh Kepala Desa dan disetujui oleh Kepala
II, evaluasi terhadap pelaksanaan pelatihan Cabang Dinas Pertanian (KCD) atau Mantri
bagi PL II dilakukan oleh PL I, sedangkan Tani (MANTAN) atau PPL.
pelaksanaan pelatihan bagi PL I dievaluasi Pada dasarnya RDKK disusun dan
oleh narasumber. diajukan oleh petani bertujuan untuk
mendapatkan pupuk bersubsidi yang diberikan
3. Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok oleh pemerintah dengan harga yang terjangkau.
(RDKK) Pupuk Bersubsidi Adapun jenis pupuk bersubsidi yang disalurkan
Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok produsen adalah urea, pupuk SP- 36, ZA, NPK-
(RDKK) merupakan rencana kebutuhan P dan pupuk organik. Syarat untuk dapat
kelompok tani untuk 1 (satu) musim tanam yang mengajukan RDKK adalah petani harus
disusun berdasarkan musyawarah anggota tergabung dalam salah satu kelompok tani di
kelompok tani, meliputi kebutuhan benih, desa petani tersebut tinggal. RDKK yang akan
pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian serta diajukan oleh petani harus memenuhi syarat
modal kerja. Tujuan dari penyusunan RDKK pengisian yang lengkap dan sesaui kebutuhan.
(Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompak) Apabila RDKK yang diajukan tidak di isi
tersebut adalah: dengan lengkap dan jelas maka akan dilakukan
1. Merencanakan kebutuhan riil pupuk untuk revisi/perbaikan ulang oleh ketua kelompok tani
usahatani tanaman pangan, hortikultura, dan PPL.
perkebunan rakyat/kecil, tanaman hijauan Setelah RDKK tersusun dengan lengkap
makanan ternak sesuai azas 6 (enam) tepat serta sesuai kebutuhan dan telah disetujui oleh
waktu yaitu tepat jumlah, tepat jenis, tepat Mantan/KCD/PPL dan deketahui oleh Kepala
mutu, tepat waktu, tepat tempat dan tepat Desa dan Ketua kelompok tani, maka
hijau. selanjutnya adalah mengajukan RDKK tersebut
2. Menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai kepada pedagang pengecer/kios yaitu UD.
dengan peruntukkannya. Bulan Purnama, UD. Garta dan UD. Makmur
3. Membina petani dalam usahatani secara Jaya.
berencana. Pada daerah penelitian di Desa Sei Beras
Memperoleh pupuk subsidi, petani yang Sekata proses pengajuan RDKK mulai dari
telah tergabung dalam kelompok tani harus petani sampai kepada produsen sudah berjalan
menyusun kebutuhan pupuk mereka dalam dengan lancar dan terkoordinir dengan baik oleh
RDKK. Adapun tahapan penyusunan RDKK kelompok tani dan PPL. Semua petani
menurut Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan mengajukan RDKK telah tergabung dalam
RDKK Pupuk Bersubsidi adalah sebagai sebuah kelompok tani dan dalam pengisian data
berikut: RDKKnya pun sudah sesuai dengan kebutuhan.
1. Pertemuan pengurus kelompok tani yang Adapun Jumlah kebutuhan pupuk subsidi pada
terdiri dari kontak tani/ketua kelompok tani, setiap pedagang pengecer yang ada di Desa Sei
kelompok tani, sekretaris, bendahara dan Beras Sekata ditunjukkan pada Tabel 2 berikut
kepala-kepala seksi. ini :
2. Musyawarah anggota kelompok tani Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk
dipimpin oleh kontak tani/ketua kelompok Bersubsidi ditetapkan sebagai berikut :
tani untuk menyusun daftar kebutuhan - Pupuk Urea = Rp.1.600/ kg
pupuk riil yang akan digunakan dari tiap - Pupuk SP-36 = Rp.2.000/ kg
anggota kelompok tani dan menetapkan - Pupuk ZA = Rp.1.400/ kg
jumlah, jenis dan waktu pupuk tersebut - Pupuk NPK = Rp.2.300/ kg
dibutuhkan. Daftar yang disusun akan - Pupuk Organik = Rp. 700/ kg
berfungsi sebagai pesanan petani/kelompok (Sumber: Permentan N0.06/Permentan/SR.130).
tani kepada pengecer resmi yang ditunjuk Syarat petani membeli pupuk
oleh produsen pupuk. bersubsidi sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET)
3. Pertemuan pengurus kelompok tani untuk yaitu:
membahas dan merumuskan RDKK dengan 1. Petani membeli dan membawa pupuk sendiri
menampung hasil musyawarah anggota dari kios pengecer.
kelompok tani tentang rencana kebutuhan 2. Membeli secara cash (tunai).
kelompok tani. 3. Membeli per karung.

186
EVALUASI PROGRAM PENYULUHAN PERTANIAN

Tabel 2. Kebutuhan Pupuk Subsidi Kelompok Tani


N0. Pengecer Kelompok Tani Kebutuhan Pupuk (Kg)
1. UD.Bulan Purnama - Sekata 75.000
- Mbuah Page
- Tani Jaya
2. UD.Garta - Tani Makmur 97.000
- Nakmur Jaya
- Tani Karya
3. UD.Makmur Jaya - Karya Tani 118.000
- Aritha
- Karya Jaya
Jumlah 290.000
Sumber : BPP Medan Krio, 2010

5. PUAP (Program Usaha Agribisnis dikirimkan kepada Tim PUAP Pusat dan
Pedesaan) Pemberian dana BLM-PUAP dilakukan dengan
PUAP merupakan bentuk fasilitasi dari mekanisme Surat Perintah Pembayaran
pemerintah yaitu bantuan modal usaha untuk Langsung (SPP-LS) ke rekening GAPOKTAN.
petani anggota, baik petani pemilik, petani Dana BLM-PUAP yang diberikan
penggarap, buruh tani maupun rumah tangga sebesar Rp.100 juta ; Rp. 90 juta untuk usaha on
tani. Operasional penyaluran dana PUAP farm (Budidaya Padi Sawah) dan Rp. 10 juta
dilakukan dengan memberikan kewenangan untuk jenis usaha off farm (Industri Rumah
kepada GAPOKTAN yang telah memenuhi Tangga Pertanian dan lain-lain). Di Desa Sei
persyaratan. GAPOKTAN juga didampingi oleh Beras Sekata 9 kelompok tani yang
tenaga penyuluh pendamping dan penyelia mendapatkan masing-masing Rp. 10 juta. Tiap
mitra tani. anggota juga mendapatkan dana yang berbeda-
Tujuan utama program Pengembangan beda tergantung dari Rencana Usaha Anggota
Usaha Agribisnis Perdesaan berdasarkan (RUA) dalam bentuk proposal yang diberikan
pedoman umum PUAP adalah untuk: kepada Kelompok Tani dan dilanjutkan kepada
1. Mengurangi kemiskinan dan pengangguran GAPOKTAN karena Dana BLM-PUAP
melalui penumbuhan dan pengembangan tersebut sepenuhnya dikelola oleh
kegiatan usaha agribisnis di perdesaan sesuai GAPOKTAN. Banyaknya dana yang diperoleh
dengan potensi wilayah. tergantung banyaknya jumlah anggota yang ada
2. Meningkatkan kemampuan pelaku usaha di kelompok tani tersebut karena jumlah
agribisnis, pengurus GAPOKTAN, penyuluh anggota pada masing-masing kelompok tani
dan penyelia mitra tani. juga berbeda. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat
3. Memberdayakan kelembagaan petani dan pada Tabel 3.
ekonomi perdesaan untuk pengembangan Dana BLM-PUAP ini merupakan dana
kegiatan usaha agribisnis. bergulir artinya pemakaiannya dapat dilakukan
4. Meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi berulang-ulang, setelah dikembalikan kepada
petani menjadi jejaring atau mitra lembaga GAPOKTAN kemudian dapat dipinjam kembali
keuangan dalam rangka akses ke dengan membuat proposal baru mengenai jenis
permodalan. usaha yang akan diusahakan. Tetapi, sebelum
Desa Sei Beras Sekata memiliki 1 diberikan diadakan perjanjian/kesepakatan.
GAPOKTAN yang terdiri dari 9 kelompok tani Anggota dimana setiap pemakaian dana BLM
yang kesemuanya berjumlah 208 0rang. tersebut dikenakaan jasa sebesar 2,5% dari dana
Sebelum mendapatkan Bantuan Langsung yang dipakai. Apabila ada anggota yang tidak
Masyarakat (BLM)-PUAP, GAPOKTAN harus dapat mengembalikan dana yang dipakai, sanksi
terlebih dahulu membuat proposal yang berisi akan dibebankan kepada kelompok tani dimana
Rencana Usaha Bersama (RUB) dimana di anggota tersebut bernaung sedangkan sanksi
dalam RUB tersebut berisikan data untuk anggota tidak ada. Peminjaman kembali
GAPOKTAN, Jenis Usaha Produktif dan dapat dilakukan setelah 2 minggu
Nomor Rekening GAPOKTAN. pengembalian. Karena adanya jasa
Kemudian diberikan kepada PPL pengembalian yang dikenakan, kas
setempat untuk kemudian dilanjutkan kepada GAPOKTAN terus bertambah. Di Desa Sei
Ketua Tim Teknis Kabupaten/Kota dan akan Beras Sekata, penggunaan dana BLM-PUAP ini
dilakukan verifikasi dokumen. Apabila ada yang dilaporkan penggunaannya per empat bulan
belum memenuhi syarat maka akan oleh GAPOKTAN yang dibantu oleh PPL
dikembalikan untuk diperbaiki dan dilengkapi. setempat yang kemudian dilaporkan ke Tingkat
Apabila semuanya sudah lengkap akan kabupaten/kota.

187
Muhammad Thamrin dkk

Mekanisme Penyaluran Dana BLM berikan kepada Ketua GAPOKTAN. Yang


PUAP yaitu: kemudian direkap oleh Ketua GAPOKTAN dan
1. GAPOKTAN Membuat surat pengajuan diberikan kepada Penyuluh Pendamping dan di
pencairan dana awal sebesar 40 Juta Rupiah teruskan ke Tim Penyelia Mitra Tani. Dimana
kepada Tim teknis Kabupaten. fungsi dari laporan ini adalah untuk
2. Pencairan melalui Bank BRI tempat pertanggung jawaban apabila dilakukan
pembuatan Rekening GAPOKTAN. supervisi oleh Tim Teknis Dinas Pertanian.
3. Penyaluran BLM PUAP Tahap I (prioritas
Tanaman pangan dan ON Farm) kepada Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Sosial
petani anggota GAPOKTAN sesuai RUK Ekonomi (Pendidikan, Pengalaman, Luas
dan RUA yang telah diajukan dan Lahan, Jumlah Tanggungan) Terhadap
disepakati. Pendapatan Petani Padi Sawah.
4. Pembuatan laporan pencairan BLM PUAP Menguji kebenaran hipotesis dalam
Tahap I GAPOKTAN kepada PMT untuk penelitian ini yaitu adanya pengaruh faktor-
diteruskan kepada Tim teknis. faktor sosial ekonomi (pendidikan, pengalaman,
5. Pengajuan dan Pencairan BLM PUAP Tahap luas lahan, jumlah tanggungan) terhadap
II sebesar 30 Juta Rupiah kepada Tim pendapatan padi sawah yang diusahakan oleh
Teknis. petani di Desa Sei Beras Sekata Kecamatan
6. Pelaporan pencairan BLM PUAP Tahap II. Sunggal ini digunakan Rumus Regresi linier
7. Pengajuan dan Pencairan BLM PUAP Tahap berganda dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini:
III sebesar 30 Juta Rupiah. Dari hasil analisis diatas diperoleh nilai
8. Pelaporan pencairan BLM PUAP tahap III. koefisien determinasi (R2) dari penelitian ini
adalah 0,99 dimana nilai ini mengartikan bahwa
Pelaksanaan BLM PUAP di Desa Sei secara simultan (serempak) faktor-faktor sosial
Beras Sekata ini baru sejak tahun 2010 yaitu ekonomi Pendidikan, Pengalaman, Luas Lahan,
pada bulan Desember. Berhubung pada bulan Jumlah Tanggungan mampu menyebabkan
desember belum ada musim tanam maka perubahan tingkat pendapatan padi sawah
pencairan dana BLM PUAP ke kelompok tani sebesar 99%, sisanya sebesar 1% dipengaruhi
ditundah setelah kelompok tani melakukan oleh faktor-faktor lain diluar variabel yang
musim tanam.yaitu di bulan april 2011 baru diteliti.
dilakukan pencairan dana BLM PUAP. Dari hasil pengujian secara statistik
Dikarenakan pencairan dana BLM PUAP diperoleh nilai Multiple R square sebesar 0,99
dilakukan bulan april 2011 jadi belum ada mengartikan bahwa secara menyeluruh ada
pengembalian dana BLM PUAP ke hubungan yang erat antara pendidikan,
GAPOKTAN. Pengembalian dana BLM PUAP pengalaman, luas lahan dan jumlah tanggungan
biasanya dilakukan 2 minggu setelah panen. terhadap pendapatan padi sawah yaitu sebesar
Pelaksanaan evaluasi ini dilakukan seminggu 99%.
sekali dengan mendatangi petani langsung ke Nilai F-hitung 1643,84> F-tabel 2,70
lapangan dan juga dengan mengadakan pada taraf kepercayaan 95% ( 0,05), dengan
pertemuan dengan para petani oleh Penyuluh demikian H 1 diterima dan H0 ditolak, yang
Pendamping dan Tim Penyelia Mitra Tani. berarti ada pengaruh nyata antara pendidikan,
Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui pengalaman, luas lahan dan jumlah tanggungan
perkembangan yang terjadi dilapangan agar terhadap pendapatan padi sawah. Untuk melihat
tetap berjalan sesuai dengan tujuan utama dari pengaruh secara parsial pendidikan,
Program PUAP. Setelah dilakukannya evaluasi, pengalaman, luas lahan dan jumlah tanggungan
setiap kelompok tani membuat laporan tentang terhadap pendapatan padi sawah dapat dilihat
perkembangan usaha kelompoknya dan di pada uraian dibawah ini :
Tabel 3. Kelompok Tani dan Penyaluran Dana BLM-PUAP
N0 Kelompok Tani Jumlah Anggota On Farm Off Farm
1 Sekata 20 Orang 10 juta 2 juta
2 Tani Makmur 23 Orang 10 juta -
3 Karya Tani 27 Orang 10 juta 2 juta
4 Mbuah Page 25 Orang 10 juta 2 juta
5 Tani Jaya 30 Orang 10 juta 2 juta
6 Nakmur Tani 24 Orang 10 juta -
7 Karya Jaya 26 Orang 10 juta 2 juta
8 Aritha 23 Orang 10 juta -
9 Tani Karya 20 Orang 10 juta -
Total 208 Orang 90 juta 10 juta
Sumber : Data Penerima PUAP Desa Sei Beras Sekata, 2010

188
EVALUASI PROGRAM PENYULUHAN PERTANIAN

Tabel 4. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda


Variabel Koefisien Standart t-hitung
Penelitian Regresi Error
Pendidikan X1 (tahun) 111202,84 62984,35 1,76
Pengalaman X2 (tahun) -28043,57 50019,55 -0,56
Luas Lahan X3 (ha) 11289159,97 541729,64 20,84
Jumlah Tanggungan X4 (orang) -178326,471 162134,95 -1,10
Konstanta 354600,709
R-Square 0,99
Multiple R 0,99
F-hitung 1643,84
F-tabel 2,70
t-tabel 1,70

tentunya semakin besar pula peluang untuk


Pengaruh Pendidikan Terhadap Pendapatan Padi menghasilkan pendapatan yang lebih besar.
Sawah Hasil pengujian dengan uji t untuk luas
Hasil pengujian dengan uji t untuk lahan diperoleh nilai t-hitung 20,84 > t-tabel
pendidikan diperoleh nilai t-hitung 1,76 > t- 1,70 pada tingkat kepercayaan 95%. Dengan
tabel 1,70 pada tingkat kepercayaan 95%. demikian H1 diterima dan H0 ditolak yang
Dengan demikian H1 diterima dan H0 ditolak berarti berpengaruh nyata antara luas lahan
yang berarti berpengaruh nyata antara terhadap pendapatan padi sawah. Rata-rata luas
pendidikan terhadap pendapatan padi sawah. lahan yang dimiliki oleh petani padi sawah
Rata-rata pendidikan yang dimiliki oleh adalah sebesar 0,89 Ha dengan rata-rata jumlah
petani padi sawah adalah sebesar 8,7 tahun. bibit padi sawah yang ditanam adalah 22,17
Petani yang memiliki tingkat pendidikan yang tanaman dan produksi rata-rata petani padi
lebih tinggi memiliki kemampuan yang lebih sawah adalah 5360 kg dengan tingkatan harga
baik dalam memahami dan menerapkan Rp 2750 /kg ini menunjukkan bahwa lahan yang
teknologi sehingga produktivitasnya menjadi dipakai petani padi sawah sudah cukup baik.
tinggi. Selain itu juga dengan pendidikan maka Dengan demikian bahwa luas lahan
akan memberikan atau menambah kemampuan berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani
dari petani untuk dapat mengambil keputusan padi sawah. Karena tidak selamanya lahan yang
dalam mengatasi masalah-masalah yang terjadi. luas akan meningkatkan pendapatan apabila
lahan tersebut tidak digunakan dengan
Pengaruh Pengalaman Terhadap Pendapatan ketentuan dan pemakaian faktor produksi yang
Padi Sawah sesuai seperti penggunaan bibit yang tidak
Pengalaman berusahatani merupakan sesuai aturan jarak tanam yang digunakan,
faktor yang tidak kalah pentingnya dalam penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat
menunjang kegiatan usahatani. Pengalaman waktu dan tepat dosis yang diberikan.
berusahatani yang lebih lama akan lebih mudah
mengantisipasi berbagai kendala yang dihadapi Pengaruh Jumlah Tanggungan Terhadap
dalam berusahatani. Petani yang memiliki Pendapatan Padi Sawah
pengalaman kerja yang lebih lama akan lebih Hasil pengujian dengan uji t untuk
mudah mengambil keputusan yang terbaik jumlah tanggungan diperoleh nilai
pada saat paling tepat. t-hitung -1,10 < t-tabel 1,70 pada tingkat
Hasil pengujian dengan uji t untuk kepercayaan 95%. Dengan demikian H1 ditolak
pengalaman diperoleh nila t-hitung -0,56 < t- dan H0 diterima yang berarti tidak berpengaruh
tabel 1,70 pada tingkat kepercayaan 95%. nyata antara jumlah tanggungan terhadap
Dengan demikian H1 ditolak dan H0 diterima pendapatan padi sawah.
yang berarti tidak berpengaruh nyata antara Hal ini disebabkan karena petani yang
pengalaman terhadap pendapatan padi sawah.. memiliki jumlah tanggungan banyak ataupun
sedikit di daerah penelitian tidak begitu aktif
Pengaruh Luas Lahan Terhadap Pendapatan membantu dalam berusahatani. Apabila
Padi Sawah semakin banyak tenaga kerja semakin tinggi
Lahan merupakan tempat pula biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi
berlangsungnya kegiatan usahatani padi sawah. sehingga semakin kecil dana yang dapat
Lahan merupakan salah satu faktor penentu dialokasikan untuk biaya usahatani, tetapi di sisi
tinggi rendahnya produksi yang dihasilkan. lain semakin banyak anggota keluarga yang
Semakin besar luas lahan yang ditanami, aktif berusahatani berpeluang memperoleh
pendapatan yang lebih tinggi.
189
Muhammad Thamrin dkk

D. KESIMPULAN dan Pengembangan Tanaman Pangan.


1. Program penyuluhan di BPP Medan Krio Cibogo, 5-6 April 1982, Bogor.
Kecamatan Sunggal antara lain: Sistem
Pertanaman Legowo 4:1, Pembentukan 4. Van den Ban dan Hawkins, 1990.
Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN), Penyuluhan Pertanian. Kanisius.
Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Yogyakarta.
Terpadu (SLPTT), Rencana Defenitif
Kebutuhan Kelompok (RDKK) Pupuk 5. DEPTAN, 2009. Agribisnis. Jakarta.
Bersubsidi dan Program Usaha Agribisnis (http//www.deptan.go.id/feati/tampil.file)
Pedesaan (PUAP). diakses pada 11 November 2010.
2. Secara simultan (serempak) ada pengaruh
6. Mardikanto T, 1993. Penyuluhan
antara tingkat pendidikan, pengalaman, luas
Pembangunan Pertanian. Surakarta. Sebelas
lahan dan jumlah tanggungan terhadap
Maret Press.
pendapatan petani padi sawah berpengaruh
sebesar 99 % selebihnya 1% dipengaruhi 7. Kartasapoetra, A.G, 1988. Pengantar
oleh faktor lain yang tidak diteliti. Ekonomi Produksi Pertanian. Bina Aksara.
3. Secara parsial ada pengaruh variabel Jakarta.
pendidikan dan luas lahan. Sedangkan
variabel pengalaman dan jumlah tanggungan 8. Soekartawi, 1993. Analisis Usahatani. UI-
tidak berpengaruh terhadap pendapatan Press. Jakarta.
petani padi sawah.
9. Wiroatmadja, dkk, 1982. Penyuluhan
E. DAFTAR PUSTAKA Pertanian. Departemen P&K. Jakarta.
1. DEPTAN, 2010. Agribisnis. Jakarta.
(http//www.deptan.go.id/feati/tampil.file) 10. Hermanto, F. 1994. Ilmu Usaha Tani.
diakses pada 27 November 2010. Penebar Swadaya. Jakarta.
2. Irawan, A. 1997. Kebijakan Harga dan
Keberlanjutan Produksi Padi. Ekonomi dan 11. Wibowo, S. 1995. Diktat Evaluasi
Keuangan Indonesia (EKI):15(4):579-586. Penyuluhan Pertanian APP. Yogyakarta
3. Rumiati dkk, 1989. Evaluasi Hasil Penelitian
Peningkatan Mutu Padi dan Palawija. 12. Padmowiharjo, S, 1996. Evaluasi
Risalah Tanaman Pangan. Pusat Penelitian Penyuluhan Pertanian. UT. Jakarta

190