Anda di halaman 1dari 5

NAMA : DITA JULIANTI

NIM : 301 14 11 021


TUGAS REVIEW JURNAL PERENCANAAN PAJAK

1. Judul : PERENCANAAN PAJAK MELALUI METODE PENYUSUTAN AKTIVA


TETAP UNTUK MENGHITUNG PPH BADAN PADA PT. BANK SULUT
2. Oleh : Giantino A. Ratag
3. Variabel:
Variabel Independen : X1 Perencanaan Pajak
X2 Metode Penyusutan Aktiva Tetap
Variabel Dependen : Y PPh Badan PT. Bank Sulut
4. Teori:
Pajak menurut Widyaningsih (2011:2) mendefinisikan pajak adalah iuran
kepada kas negara berdasarkan undang-undang sehingga dapat dipaksakan
dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung.
Mardiasmo (2008:9) menyatakan ada dua fungsi pajak, yaitu:
1. Fungsi Budgetair
Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-
pengeluarannya.
2. Fungsi Mengatur
Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan
pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.
Pada umumnya penekanan perencanaan pajak (tax planning) adalah untuk
meminimumkan kewajiban pajak. Zain (2008:28) menyatakan strategi umum
perencanaan pajak yaitu sebagai berikut:
Tax saving,
Tax saving merupakan upaya efisiensi beban pajak melalui pemilihan
alternatif pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah.
Tax avoidance
Tax avoidance merupakan upaya efisiensi beban pajak dengan
menghindari pengenaan pajak melalui transaksi yang bukan
merupakan objek pajak.
Menghindari pelanggaran atas peraturan perpajakan dengan menguasai
peraturan pajak yang berlaku
Menunda pembayaran kewajiban pajak tanpa melanggar peraturan
yang berlaku dapat dilakukan melalui penundaan pembayaran PPN.
Mengoptimalkan kredit pajak yang diperkenankan
IAI melalui PSAK No.16 (2012) mengemukakan pengertian aset tetap sebagai
berikut: Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan
dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa untuk direntalkan kepada
pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan diharapkan untuk digunakan
selama lebih dari satu periode.
Suandy (2011:33) menyatakan mulai tahun 1995 [sampai Kini] wajib pajak
diperkenankan untuk memilih metode penyusutan fiskal, untuk aset tetap
berwujud bukan bangunan, yaitu saldo menurun ganda atau metode garis
lurus. Dalam sistem penyusutan UU PPh No.36 tahun 2008 menyatakan
semua aset tetap berwujud yang memenuhi syarat penyusutan fiskal harus
dikelompokan terlebih dahulu menjadi dua golongan sebagai berikut.
1. Harta berwujud kelompok bukan bangunan.
2. Harta berwujud kelompok bangunan.
Tabel 1. Kelompok Masa Manfaat dan Tarif Penyusutan Harta
Berwujud
Kelompok harta Masa manfaat Tarif penyusutan
berwujud Garis lurus Saldo menurun

1. Bukan
Bangunan
4 tahun 25% 50%
Kelompok I
8 tahun 12,5% 25%
Kelompok II
16 tahun 6,25% 12.5%
Kelompok III
20 tahun 5% 10%
Kelompok IV
2. Bangunan
20 tahun 5% -
Permanen
16 tahun 10% -
Tidak
permanen
Pasal 2 ayat 1 UU PPh No.36 tahun 2008 menyatakan Subjek PPh badan
meliputi Perseroan Terbatas (PT), Perseroan Komanditer (CV), perseroan
lainnya, Badan Usaha Milik Negara maupun Daerah (BUMN/D) dengan nama
dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan,
perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau
organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak
investasi kolektif dan Bentuk Usaha Tetap (BUT/permanent establishment).
Pasal 4 ayat 1 UU PPh No.36 tahun 2008 menyatakan objek pajak adalah
penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa
pun, termasuk laba usaha.
Berdasarkan UU PPh No.36 tahun 2008 Tarif PPh untuk WP Badan terdiri dari
3 (tiga) tarif, yaitu tarif sesuai Pasal 17 ayat (2a) UU PPh, tarif sesuai Pasal 17
ayat (2b) UU PPh, dan tarif sesuai Pasal 31E UU PPh.
5. Sampel:
PT. Bank Sulut 2012.
6. Metodologi:
Penelitian ini mengambil objek Pada PT. Bank Sulut yang berlokasi di Jl. Sam
Ratulangi No.9 Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Waktu dilaksanakan
penelitian pada bulan Maret s.d Mei 2013.
Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil data sekunder, yaitu berupa
data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, seperti laporan keuangan dan
daftar rincian aktiva tetap PT. Bank Sulut 2012.
Penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif. Dimana peneliti akan
mengumpulkan, menyusun, mengolah dan menganalisis data, agar dapat memberikan
gambaran mengenai suatu keadaan tertentu maka dapat ditarik kesimpulan sehingga
dapat diketahui apakah perusahaan sudah melakukan perencanaan pajak melalui
metode penyusutan akiva tetap.
7. Perbandingan Hasil Dengan Teori Yang Telah Dipelajari:
Perbandingan Hasil Teori yang telah dipelajari
Perpajakan Laba kena pajak PT. Bank Sulut tahun 2012 Jika peredaran bruto > Rp4.8
menjadi sebesar Rp.236,056,312,758 yang M, maka tarif pajaknya 1 %
sebelumnya berdasarkan komersial laba sebelum dari Peredaran Bruto.
manfaat (beban) pajak adalah sebesar
Apabila 'gross income' > Rp4.8
Rp.196,712,987,395.
M dan < Rp50 M, tarif
Berdasarkan laba kena pajak perusahaan maka
pajaknya {0.25 - (0.6
dapat dihitung PPH badan yang langsung
Miliar/Gross Income)} dikali
dikalikan tarif tunggal 25% yang disebabkan
dengan Penghasilan Kena
peredaran bruto PT bank sulut lebih dari 50M
Pajak (PKP).
sehingga tidak dapat pengurangan 50% seperti
yang tercatat pada pasal 31E undang-undang Apabila 'gross income' > Rp50
PPh No.36 tahun 2008. Penghitungan PPh badan M, maka tarif pajaknya 25%
PT. Bank Sulut yaitu sebagai berikut. dari penghasilan kena pajak
Laba Kena Pajak x tarif PPh badan = Rp.
(PKP).
236,056,312,758 x 25% = Rp. 59,014,078,190
dan dikurangi dengan pajak tangguhan
perusahaan sebesar Rp.1,492,280,143. Maka
besar beban PPh perusahaan menjadi
Rp.57,521,798,047.
Akuntansi Hasil penelitian yang dilakukan, PT. Bank Sulut Metode Penyusutan aktiva
menggunakan metode saldo menurun untuk tetap menggunakan metode
aktiva tetap non bangunan dan metode garis saldo menurun dan metode
lurus untuk bangunan baik dalam laporan garis lurus untuk laporan
komersial maupun laporan fiskal komersial maupun fiskal

Menurut IAI ( 2007 ) dalam PSAK 2016 penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang
dapat disusutkan dari suatu aset selama umur manfaatnya. Menurut Akuntansi metode-
metode penyusutan yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
1. Metode garis lurus, menghasilkan pembeban yang tetap selama umur manfaat aset
jika nilai residunya tidak berubah.
2. Metode saldo menurun, menghasilkan pembebanan yang menurun selama umur
manfaat aset.
3. Metode jumlah unit, menghasilkan pembebanan berdasarkan pada penggunaan atau
output yang diharapkan dari suatu aset.
Metode penyusutan yang diperbolehkan dalam ketentuan fiskal adalah sebagai berikut:
1. Garis lurus, digunakan untuk kelompok bangunan yang bukan bangunan.
2. Metode saldo menurun digunakan untuk kelompok bukan bangunan saja, dan pada
saat akhir masa manfaat disusutkan sekaligus.
Menurut peraturan perpajakan penyusutan aset tetap dimulai pada saat tahun
pengeluaran.,untuk tahun 2000 dan sebelumnya ( UU PPh No. 17 Tahun 1983 ). Sementara
itu untuk tahun 2001 ( UU PPh No. 17 Tahun 2000 ) Sampai dengan sekarang ( UU PPh
No.36 Tahun 2008) Penyusutan dimulai pada saat bulan pengeluaran aset tetap tersebut,
kecuali apabila aset yang masih dalam proses pengerjaan, Yaitu pada bulan selesainya
pengerjaan aset tersebut.