Anda di halaman 1dari 9

Nama peserta :

dr. Budi Kusumah


Nama wahana: Rumah Sakit Muhammadiah Lamongan
Topik: Skizofrenia
Tanggal (kasus): 29 Oktober 2016
Nama Pasien: Tn L No. RM:
Tanggal presentasi: Nama pendamping:
1. dr. Hj Umi Aliyah, MARS
2. dr. Suhariyanto SpBS
Tempat presentasi:
Obyektif presentasi:
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi:
Tn. L usia 42 tahun datang ke poli umum puskesmas kembangbahu untuk kontrol rutin
mengambil obat, saat ini pasien memiliki keluhan tangan dan kaki terasa kaku serta sulit
digerakkan, terkadang tangan pasien juga bergetar, pasien juga mengeluh tidak bisa tidur malam.
Pasien juga mengatakan akhir-akhir ini merasa cemas dan ketakutan. Pasien merasa ada bisikan
yang mengatakan bahwa ada yang mengancam membunuh dia, Pasien juga mengatakan sering
melihat bayangan-bayangan. Alloanamnesis dengan anak pasien, anak pasien mengatakan
sebelum mendirita sakit ini pasien dikejar-kejar penagih hutang sampai ketakutan.
Tujuan: mengobati pasien dengan skizofrenia
Bahan bahasan: Tinjauan pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas: Diskusi Presentasi Email Pos
dan diskusi
Data pasien: Nama: Tn. L Nomor RM: 00.21.XX.X
Nama klinik: Puskesmas Telp: - Terdaftar sejak: 29 Oktober
Kembangbahu 2016
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/ gambaran klinis:
Skizofrenia
2. Riwayat kesehatan/ penyakit:
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
3. Riwayat keluarga:
tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien
4. Riwayat pekerjaan: pekerjaan pasien supir
5. Kondisi lingkungan sosial dan fisik :
Pasien tinggal serumah bersama istri dan dua anaknya. Status sosial pasien termasuk
dalam keluarga kurang mampu.
6. Lain-lain:
Pemeriksaan fisik
Kesadaran : compos mentis
Keadaan umum : tampak bingung, afek datar
Tanda vital : TD : 110/70 mmHg
N : 87 x/m
RR : 20 x/m
S : 36,0 0C
Mata : A-I-C-D-
Thoraks :
Cor dalam batas normal
Pulmo , inspeksi = simetris kanan dan kiri
Palpasi = vokal fremitus sama kanan dan kiri
Perkusi = sonor kanan dan kiri
Auskultasi = suara napas vesikuler +/+ , rh -/- wh -/-
Abdomen : inspeksi = normal
Auskultasi = BU (+) normal
Palpasi, perkusi tidak dilakukan
Ekstremitas : dalam batas normal, AHKM

Hasil pembelajaran:
1. Subyektif :
Tn. L usia 42 tahun datang ke poli umum puskesmas kembangbahu untuk kontrol rutin
mengambil obat, saat ini pasien memiliki keluhan tangan dan kaki terasa kaku serta sulit
digerakkan, terkadang tangan pasien juga bergetar, pasien juga mengeluh tidak bisa tidur malam.
Pasien juga mengatakan akhir-akhir ini merasa cemas dan ketakutan. Pasien merasa ada bisikan
yang mengatakan bahwa ada yang mengancam membunuh dia, Pasien juga mengatakan sering
melihat bayangan-bayangan. Alloanamnesis dengan anak pasien, anak pasien mengatakan
sebelum mendirita sakit ini pasien dikejar-kejar penagih hutang sampai ketakutan.
Pembahasan
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindroma dengan variasi penyebab (banyak yang belum
diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau "deteriorating") yang luas,
serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan social
budaya.
Diagnosis skizofrenia
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
(a) - Thought echo : isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak
keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau
- Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya
(insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
- Thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya.
(b) - Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar, atau
- Delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar; atau
- Delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap sesuatu
kekuatan dari luar.
- Delusional perception : pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas
bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
(c) Halusinasi auditorik:
- suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau
- mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara).
- jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagi tubuh
(d) Waham - waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar
dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau
kekuatan dam kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau
komunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).
Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
(a) halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang
mengambang maupun setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai
ide-ide berlebihan (over- valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus berulang.
(b) Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat
inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
(c) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu
(posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
(d) Gejala-gejala "negatif", seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respon emosional
yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan
sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak
disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu
bulan atau lebih.
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dari beberapa aspek kehidupan perilaku pribadi (personal behaviour),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut
dalam diri sendiri (self absorbed atitude), dan penarikan diri secara sosial.---

sindrom ekstrapiramidal

Sindrom ekstrapiramidal merupakan suatu gejala atau reaksi yang ditimbulkan oleh penggunaan
jangka pendek atau jangka panjang dari medikasi antipsikotik golongan tipikal dikarenakan
terjadinya inhibisi transmisi dopaminergik di ganglia basalis. Adanya gangguan transmisi di
korpus striatum yan mengandung banyak reseptor D1 dan D2 dopamin menyebabkan depresi
fungsi motorik sehingga bermanifestasi sebagai sindrom ekstrapiramidal.

Gejala ekstrapiramidal sering dibagi dalam beberapa kategori yaitu reaksi distonia, tardive
dyskinesia, akatisia, dan Sindrom Parkinson.

Sindrom Parkinson

Faktor risiko antipsikotik menginduksi parkinsonism adalah peningkatan usia, dosis obat, riwayat
parkinsonism sebelumnya, dan kerusakan ganglia basalis. Terdiri dari akinesia, tremor, dan
bradikinesia. Akinesia meliputi wajah topeng, jedaan dari gerakan spontan, penurunan ayunan
lengan saat berjalan, penurunan kedipan, dan penurunan mengunyah yang dapat menimbulkan
pengeluaran air liur. Pada suatu bentuk yang lebih ringan, akinesia hanya terbukti sebagai suatu
status perilaku dengan jeda bicara, penurunan spontanitas, apati dan kesukaran untuk memulai
aktifitas normal, kesemuanya dapat dikelirukan dengan gejala skizofrenia negatif. Tremor dapat
ditemukan pada saat istirahat dan dapat pula mengenai rahang. Gaya berjalan dengan langkah
kecil dan menyeret kaki diakibatkan karena kekakuan otot.

Tardive Dyskinesia

Disebabkan oleh defisiensi kolinergik yang relatif akibat supersensitif reseptor dopamin di
puntamen kaudatus. Merupakan manifestasi gerakan otot abnormal, involunter, menghentak,
balistik, atau seperti tik mempengaruhi gaya berjalan, berbicara, bernafas, dan makan pasien dan
kadang mengganggu. Faktor predisposisi dapat meliputi umur lanjut, jenis kelamin wanita, dan
pengobatan berdosis tinggi atau jangka panjang. Gejala hilang dengan tidur, dapat hilang timbul
dengan berjalannya waktu dan umumnya memburuk dengan penarikan neuroleptik. Diagnosis
banding jika dipertimbangkan diskinesia tardive meliputi penyakit Hutington, Khorea
Sindenham, diskinesia spontan, tik dan diskinesia yang ditimbulkan obat seperti Levodova,
stimulant, dan lain-lain.

Perlu dicatat bahwa tardive diskinesia yang diduga disebabkan oleh kesupersensitivitasan
reseptor dopamin pasca sinaptik akibat blockade kronik dapat ditemukan bersama dengan
sindrom parkinson yang diduga disebabkan karena aktifitas dopaminergik yang tidak mencukupi.
Pengenalan awal perlu karena kasus lanjut sulit diobati. Banyak terapi yang diajukan tetapi
evaluasinya sulit karena perjalanan penyakit sangat beragam dan kadang-kadang terbatas.
Diskinesia tardive dini atau ringan mudah terlewatkan dan beberapa merasa bahwa evaluasi
sistemik, Skala Gerakan Involunter Abnormal (AIMS) harus dicatat setiap enam bulan untuk
pasien yang mendapatkan pengobatan neuroleptik jangka panjang

Reaksi Distonia

Merupakan spasme atau kontraksi involunter satu atau lebih otot skelet yang timbul beberapa
menit dan dapat pula berlangsung lama, biasanya menyebabkan gerakan atau postur yang
abnormal. Kelompok otot yang paling sering terlibat adalah otot wajah, leher, lidah atau otot
ekstraokuler, bermanifestasi sebagai tortikolis, disastria bicara, krisis okulogirik dan sikap badan
yang tidak biasa hingga opistotonus (melibatkan seluruh otot tubuh). Hal ini akan menggangu
pasien, dapat menimbulkan nyeri hingga mengancam nyawa seperti distonia laring atau
diafragmatik. Reaksi distonia akut sering terjadi dalam satu atau dua hari setelah pengobatan
dimulai, tetapi dapat terjadi kapan saja. Distonia lebih banyak diakibatkan oleh psikotik tipikal
terutama yang mempunyai potensi tinggi dan dosis tinggi seperti haloperidol, trifluoroperazin
dan fluphenazine. Terjadi pada kira-kira 10% pasien, lebih lazim pada pria muda. Otot-otot yang
sering mengalami spasme adalah otot leher (torticolis dan retrocolis), otot rahang (trismus,
gaping, grimacing), lidah (protrusionI, memuntir) atau spasme pada seluruh otot tubuh
(opistotonus). Pada mata terjadi krisis okulogirik. Distonia glosofaringeal yang menyebabkan
disartri, disfagia, kesulitan bernafas hingga sianosis bahkan kematian. Spasme otot dan postur
yang abnormal, umumnya yang dipengaruhi adalah otot-otot di daerah kepala dan leher tetapi
terkadang juga daerah batang tubuh dan ekstremitas bawah. Kriteria diagnostik dan riset untuk
distonia akut akibat neuroleptik menurut DSM-IV adalah Posisi abnormal atau spasme otot
kepala, leher, anggota gerak, atau batang tubuh yang berkembang dalam beberapa hari setelah
memulai atau menaikkan dosis medikasi neuroleptik (atau setelah menurunkan medikasi yang
digunakan untuk mengobati gejala ekstrapiramidal).

a. Satu (atau lebih) tanda atau gejala berikut yang berkembang berhubungan dengan medikasi
neuroleptik:
1. Posisi abnormal kepala dan leher dalam hubungannya dengan tubuh (misalnya
tortikolis)

2. Spasme otot rahang (trismus, menganga, seringai)

3. Gangguan menelan (disfagia), bicara, atau bernafas (spasme laring-faring,


disfonia)

4. Penebalan atau bicara cadel karena lidah hipertonik atau membesar (disartria,
makroglosia)

5. Penonjolan lidah atau disfungsi lidah

6. Mata deviasi ke atas, ke bawah, ke arah samping (krisis okulorigik)

7. Posisi abnormal anggota gerak distal atau batang tubuh.

b. Tanda atau gejala dalam kriteria A berkembang dalam tujuh hari setelah memulai atau dengan
cepat menaikkan dosis medikasi neuroleptik, atau menurunkan medikasi yang digunakan untuk
mengobati (atau mencegah) gejala ekstrapiramidal akut (misalnya obat antikolinergik).

c. Gejala dalam kriteria A tidak diterangkan lebih baik oleh gangguan mental (misalnya gejala
katatonik pada skizofrenia). Tanda-tanda bahwa gejala lebih baik diterangkan oleh gangguan
mental dapat berupa berikut : gejala mendahului pemaparan dengan medikasi neuroleptik atau
tidak sesuai dengan pola intervensi farmakologis (misalnya tidak ada perbaikan setelah
menurunkan neuroleptik atau pemberian antikolinergik).

d. Gejala dalam kriteria A bukan karena zat nonneuroleptik atau kondisi neurologis atau medis
umum. Tanda-tanda bahwa gejala adalah karena kondisi medis umum dapat berupa berikut :
gejala mendahului pemaparan dengan medikasi neuroleptik, terdapat tanda neurologis fokal yang
tidak dapat diterangkan, atau gejala berkembang tanpa adanya perubahan medikasi.

Akatisia
Manifestasi berupa keadaan gelisah, gugup atau suatu keinginan untuk tetap bergerak, atau rasa
gatal pada otot. Manifestasi klinis berupa perasaan subjektif kegelisahan (restlessness) yang
panjang, dengan gerakan yang gelisah, umumnya kaki yang tidak bisa tenang. Penderita dengan
akatisia berat tidak mampu untuk duduk tenang, perasaannya menjadi cemas atau iritabel.
Akatisia sering sulit dinilai dan sering salah diagnosis dengan anxietas atau agitasi dari pasien
psikotik, yang disebabkan dosis antipsikotik yang kurang. Pasien dapat mengeluh karena anxietas
atau kesukaran tidur yang dapat disalah tafsirkan sebagai gejala psikotik yang memburuk.
Sebaliknya, akatisia dapat menyebabkan eksaserbasi gejala psikotik yang memburuk. Sebaliknya
akatisia dapat menyebabkan eksaserbasi gejala psikotik akibat perasaan tidak nyaman yang
ekstrim. Agitasi, pemacuan yang nyata, atau manifesatsi fisik lain dari akatisia hanya dapat
ditemukan pada kasus yang berat.

Assestment:
Skizofrenia dengan Extrapiramidal Syndrome

Plan:
Haloperidol 2x1
THP 1x1
Bcomp 1x1
Pendamping 1, Pendamping 2,

(dr. Hj Umi Aliyah, MARS)


(dr. Suhariyanto SpBS)
PORTOFOLIO
Skizofrenia dengan Extrapiramidal Syndrome

SEBAGAI SALAH SATU TUGAS UNTUK MELAKSANAKAN PROGRAM DOKTER


INTERNSHIP
RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2017