Anda di halaman 1dari 4

Bagian Ilmu Kedokteran Maret 2015

Keluarga dan Komunitas


Fakultas Kedokteran
Universitas Halu Oleo

LAPORAN ANALISIS PROFIL PUSKESMAS TANJUNG MORAWA, KAB.


DELI SERDANG, SUMATRA UTARA

Oleh:
Zurezki Yuana Yafie, S.Ked
K1A2 10 019

Pembimbing:
dr.I Putu Sudayasa,M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KELUARGA DAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
2015
BAB IV
ANALISIS

Setelah membaca dan membandingkan profil puskesmas tanjung morawa


dan profil puskesmas abeli sendiri maka dapat penulis jelaskan yaitu profil
puskesmas morawa masih kurang dalam hal menjelaskan lebih inti mengenai
begaimana letak geografis puskesmas sendiri, bagaimana proporsi tenaga
kesehatan yang tidak dibedakan antara tenaga kesehatan yang sudah berstatus
PNS dan yang masih mengabdi di puskemas tanjung morawa sehingga untuk
mengetahui jumlah pasti dari pegawai tetap dipuskesmas tanjung morawa masih
kurang jelas bagi pembaca. Begitu halnya dengan sarana prasarana di puskesmas
yang tidak di jelaskan dengan lengkap sehingga pembaca sulit untuk
mendiskripsikan dengan jelas kemungkinan puskesmas tanjung morawa seperti
apa baik dari segi jumlah ruangan dan kondisi ruangan dan gedung puskesmas
tanjung morawa itu sendiri.

Setelah itu, penulis juga membandinkan mengenai program KIA, pada


program KIA di puskesmas tanjung morawa di jelaskan mengenai bagaimana
pencapaian suatu program dalam suatu narasi tapi tidak disertakan tabel dan data
lengkap mengenai pencapaian program tersebut. Selain itu pada program KIA
tidak semua di sertakan dalam hasil pencapaian misalnya saja pertolongan
kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Pada pembahasan program KIA
juga tidak dibahas mengenai apakah terdapat program poned untuk mengatasi
adanya komplikasi pada persalinan baik itu untuk ibu maupun bayi. Selain hal
tersebut pada profil kesehatan tidak disertakan apakah pencapaian disetiap
program telah memenuhi target atau tidak, dan program apa yang menjadi
permasalahan dari program KIA itu sendiri.

Dari hasil analisis yang ditemukan penulis maka kemungkinan besar


program yang bermasalaha untuk program KIA adalah cakupan untuk penggunaan
KB baru, dimana cakupan untuk program tersebut hanya 639 (3,71%) dari jumlah
PUS yang ada di Keceamatan Tanjung Morawa dengan 16 desa, sedangkan
jumlah masyarakat di wilayah kerja kecamatan ini sangat besar yaitu memiliki
47104 orang penduduk yang berjenis kelamin laki laki dan 51710 orang
penduduk yang berjenis kelamin perempuan. Kemungkinan besar terjadinya hal
tersebut bisa dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya saja, kurangnya
pengetahuan dari masyarakat mengenai program keluarga berencana itu sendiri
dan kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh petugas kesehatan di lingkungan
tersebut. Selain hal tersebut adanya faktor kepercayaan yang mungkin dimiliki
oleh masyarakat di wilayah kerja Tanjung Morawa mengenai program keluarga
berencana, mungkin juga bisa disebabkan oleh kurangnya petugas kesehatan yang
berwenag dalam program ini, karna diprofil di sebutkan bahwa 1 bidan desa
memegang 2 desa yang dimana 1 desa saja jumlah penduduknya sudah banyak
sekali. Dan yang terakhir kurangnya dilakukan pertemuan lintas sektor untuk
membicarakan kemungkinan masalah apa yang terjadi di wilayah kerja puskesma
Tanjung Morawa dan pemecahan masaha yang akan dilakukan.
BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Adapun yang menjadi kemungkinan besar masalah di wilayah kerja


Puskesmas Tanjung Morawa adalah Cakupan pengguna KB baru yang
hanya 639 (3,71%) dari jumlah PUS yang ada di Keceamatan Tanjung
Morawa dengan 16 desa dari 51710 orang penduduk yang berjenis kelamin
perempuan.

Kemungkinan besar prioritas masalah untuk hal tersebut adalah

1. Kurangnya tenaga kesehatan yang bertanggung jawab untuk program


tersebut

2. Kurangnya media penyuluhan yang berhubungan dengan program KIA


khususnya KB, misalnya flip chart pamphlet, leaflet, dll
3. Tingkat kesadaran, pengetahuan dan peran aktif masyarakat masih
sangat rendah dalam menyadari pentingnya program keluarga
berencana.
4. Faktor-faktor sosial misalnya adanya kepercayaan tertentu yang tidak
membolehkan partisipasi dalam program KB.
B. Saran
Alternatif pemecahan masalah, yaitu:

a) Dibutuhkannya tenaga medis tambahan, setidaknya 1 desa memiliki 1


bidan penanggung jawab.
b) Menambah media penyuluhan khususnya tentang KB seperti flip chart,
pamphlet, leaflet, dll.
c) Memberikan pemahaman secara terus-menerus kepada masyarakat tentang
KB berupa penyuluhan dan sosialisasi
d) Dilakukan pertemuan lintas sektoral untuk bersama memecahkan masalah
kepercaayan yang sudah tumbuh dalam masyarakat.