Anda di halaman 1dari 47

Bab I

Pendahuluan

Batuk merupakan sebuah gejala penyakit yang paling umum. Satu dari
sepuluh pasien yang berkunjung ke praktek dokter setiap tahunnya memiliki
keluhan utama batuk. Batuk merupakan refleks fisiologis kompleks yang
melindungi paru dari trauma mekanik, kimia dan suhu dengan cara ekspirasi yang
keras. Batuk juga merupakan mekanisme pertahanan paru yang alamiah untuk
menjaga agar jalan nafas tetap bersih dan terbuka.

Batuk dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman, gangguan tidur,


mempengaruhi aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup. Batuk dapat
juga menimbulkan berbagai macam komplikasi seperti pneumotoraks,
pneumomediastinum, sakit kepala, pingsan, herniasi diskus, hernia inguinalis,
patah tulang iga, perdarahan subkonjungtiva, dan inkontinensia urin.

Pada keluhan batuk yang disertai darah merupakan salah satu gejala yang
paling penting pada penyakit paru. Oleh karena batuk darah mempunyai potensi
untuk terjadi kegawatan akibat perdarahan yang terjadi, bila tidak segera ditangani
secara tepat dan intensif, batuk darah yang masif akan menyebabkan angka
kematian yang tinggi.

Pada umumnnya, pasien dengan batuk darah telah mempunyai penyakit


yang mendasari dengan gejala lain sebelumnya, seperti batuk atau sesak. Tetapi
gejala ini tidak sampai mendorong pasien untuk datang berobat. Hingga muncul
gejala batuk darah, yang merupakan keadaan yang menakutkan bagi pasien dan
keluarga, hingga akan mendorong pasien untuk datang berobat.

Batuk darah ini harus segera ditangani dan dicari penyakit yang
mendasarinya dengan cepat dan tepat. Penegakan diagnosis dapat dilakukan
dengan anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Batuk adalah tindakan refleks dari saluran pernapasan yang digunakan untuk
membersihkan saluran napas atas. batuk kronis yang berlangsung selama lebih
dari 8 minggu adalah umum di masyarakat. 1

Batuk adalah pengeluaran sejumlah volume udara secara mendadak dari rongga
toraks melalui epiglotis dan mulut 2

Batuk adalah refleks fisiologis kompleks yang terdiri dariberakhirnya kekerasan


untuk melepaskan sekresi, benda asing, mengatasibronkospasme atau
meringankan penyakit dari saluran udara dan melindungi sistem pernafasan 3

Patofisiologi

Batuk merupakan salah satu refleks pelindung yang paling penting, dan
memberikan kontribusi signifikan terhadap kekebalan bawaan dari sistem
pernapasan dengan meningkatkan pembersihan mukosiliar .Batuk berada di
bawah kedua kontrol volunter dan involunter. Batuk merupakan suatu refleks
kompleks yang melibatkan banyak sistem organ. Batuk akan terbangkitkan
apabila ada rangsangan pada reseptor batuk yang melalui saraf aferen akan
meneruskan impuls ke pusat batuk tersebar difus di medula. Dari pusat batuk
melalui saraf eferen impuls diteruskan ke efektor batuk yaitu berbagai otot
respiratorik. Bila rangsangan pada reseptor batuk ini berlangsung berulang maka
akan timbul batuk berulang, sedangkan bila rangsangannya terus menerus akan
menyebabkan batuk kronik.2

Reseptor batuk terletak dalam epitel respiratorik, tersebar di seluruh saluran


respiratorik, dan sebagian kecil berada di luar saluran respiratorik misalnya di
gaster. Lokasi utama reseptor batuk dijumpai pada faring, laring, trakea, karina,
dan bronkus mayor. Lokasi reseptor lainnya adalah bronkus cabang, liang telinga
tengah, pleura, dan gaster. Ujung saraf aferen batuk tidak ditemukan di bronkiolus
respiratorik ke arah distal. Berarti parenkim paru tidak mempunyai resptor
batuk.Reseptor ini dapat terangsang secara mekanis (sekret, tekanan), kimiawi
(gas yang merangsang), atau secara termal (udara dingin). Mereka juga bisa
terangsang oleh mediator lokal seperti histamin, prostaglandin, leukotrien dan
lain-lain, juga oleh bronkokonstriksi 2.Reseptor ini mengirim sinyal kembali ke
pusat batuk di medulla oblongata, yang kemudian memicu urutan peristiwa yang
merupakan batuk 5.

Mekanisme
Batuk dimulai dari suatu rangsangan pada reseptor batuk. Reseptor ini
berupa serabut saraf non mielin halus yang terletak baik di dalam maupun di luar
rongga toraks. Yang terletak di dalam rongga toraks antara lain terdapat di laring,
trakea, bronkus, dan di pleura. Jumlah reseptor akan semakin berkurang pada
cabang-cabang bronkus yang kecil, dan sejumlah besar reseptor di dapat di laring,
trakea, karina dan daerah percabangan bronkus. Reseptor bahkan juga ditemui di
saluran telinga, lambung, hilus, sinus paranasalis, perikardial, dan diafragma.4

Serabut afferen terpenting ada pada cabang nervus vagus yang


mengalirkan rangsang dari laring, trakea, bronkus, pleura, lambung, dan juga
rangsangan dari telinga melalui cabang Arnold dari nervus vagus. Nervus
trigeminus menyalurkan rangsang dari sinus paranasalis, nervus glosofaringeus,
menyalurkan rangsang dari faring dan nervus frenikus menyalurkan rangsang dari
perikardium dan diafragma.

Oleh serabut afferen rangsang ini dibawa ke pusat batuk yang terletak di
medula, di dekat pusat pernafasan dan pusat muntah. Kemudian dari sini oleh
serabut-serabut efferen nervus vagus, nervus frenikus, nervus interkostalis dan
lumbar, nervus trigeminus, nervus fasialis, nervus hipoglosus, dan lain-lain
menuju ke efektor. Efektor ini berdiri dari otot-otot laring, trakea, bronkus,
diafragma,otot-otot interkostal, dan lain-lain. Di daerah efektor ini mekanisme
batuk kemudian terjadi.4

Gambar 1. Reseptor batuk 4

Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi empat fase yaitu :
1. Fase iritasi
Iritasi dari salah satu saraf sensoris nervus vagus di laring, trakea,
bronkus besar, atau serat afferen cabang faring dari nervus
glosofaringeus dapat menimbulkan batuk. Batuk juga timbul bila
reseptor batuk di lapisan faring dan esofagus, rongga pleura dan
saluran telinga luar dirangsang.
2. Fase inspirasi
Pada fase inspirasi glotis secara refleks terbuka lebar akibat kontraksi
otot abduktor kartilago aritenoidea.Inspirasi terjadi secara dalam dan
cepat, sehingga udara dengan cepat dan dalam jumlah banyak masuk
ke dalam paru. Hal ini disertai terfiksirnya iga bawah akibat kontraksi
otot toraks, perut dan diafragma, sehingga dimensi lateral dada
membesar mengakibatkan peningkatan volume paru. Masuknya udara
ke dalam paru dengan jumlah banyak memberikan keuntungan yaitu
akan memperkuat fase ekspirasi sehingga lebih cepat dan kuat serta
memperkecil rongga udara yang tertutup sehingga menghasilkan
mekanisme pembersihan yang potensial. Volume udara yang
diinspirasi sangat bervariasi jumlahnya, berkisar antara 200 sampai
3500 ml di atas kapasitas residu fungsional. Penelitian lain
menyebutkan jumlah udara yang dihisap berkisar antara 50% dari tidal
volume sampai 50% dari kapasitas vital. Ada dua manfaat utama
dihisapnya sejumlah besar volume ini. Pertama, volume yang besar
akan memperkuat fase ekspirasi nantinya dan dapat menghasilkan
ekspirasi yang lebih cepat dan lebih kuat. Manfaat kedua, volume yang
besar akan memperkecil rongga udara yang tertutup sehingga
pengeluaran sekret akan lebih mudah.
3. Fase kompresi
Fase ini dimulai dengan tertutupnya glotis akibat kontraksi otot
adduktor kartilago aritenoidea, glotis tertutup selama 0,2 detik.Pada
fase ini tekanan intratoraks meninggi sampai 300 cmH2O agar terjadi
batuk yang efektif. Tekanan pleura tetap meninggi selama 0,5 detik
setelah glotis terbuka .Batuk dapat terjadi tanpa penutupan glotis
karena otot-otot ekspirasi mampu meningkatkan tekanan intratoraks
walaupun glotis tetap terbuka.
4. Fase ekspirasi/ekspulsi
Pada fase ini glotis terbuka secara tiba-tiba akibat kontraksi aktif otot
ekspirasi, sehingga terjadilah pengeluaran udara dalam jumlah besar
dengan kecepatan yang tinggi disertai dengan pengeluaran benda-
benda asing dan bahan-bahan lain. Gerakan glotis, otot-otot pernafasan
dan cabang-cabang bronkus merupakan hal yang penting dalam fase
mekanisme batuk dan disinilah terjadi fase batuk yang
sebenarnya.Suara batuk sangat bervariasi akibat getaran sekret yang
ada dalam saluran nafas atau getaran pita suara.7

Gambar 2. Fase batuk.

Etiologi

Reflek batuk dapat dipicu oleh beberapa inflamasi atau reaksi mekanis
pada slauran pernafasan, dengan cara menghisap senyawa kimia atau mekanis
yang bersifat iritan, biasanya pada laring, carina, dan beberapa tempat bronkus.
Reseptor saraf sensori menilainya dengan rapidly adapting receptors (RARs),
slowly adapting receptors (SARs) atau C-Fibre receptors. RARs distimulasi oleh
asap rokok, senyawa asam, dan cairan basa (cairan hipotonik, hipertonik,
stimulasi mekanis, congesti paru, atelektasis, bronkokonstriksi, dan pengurangan
tahanan paru yang menyebabkan batuk. C-fibre receptors sangat sensitive dengan
senyawa kimia seperti bradykinin (mediator sel yang keluar saat inflamasi),
capsaidn (ekstrak cabai), dan ion hydrogen, sering kali disebut chemosensor.4
Klasifikasi

Berdasarkan Waktu
a Akut 12,13
Fase awal dan mudah untuk disembuhkan. Jangka waktunya kurang dari 3
minggu dan terjadi karena iritasi, bakteri, virus, penyempitan saluran napas atas:

- ISPA(common cold, - Eksaserbasi COPD


sinusitis,dll) - Eksaserbasi
- Pneumonia bronkiektasis
- Emboli paru - Rinitis alergi
- Gagal jantung kongestif - Sindrom aspirasi, dll
b Subakut12,13
c Fase peralihan dari akut menjadi kronis. Dikategorikan
subakut bila batuk sudah 3-8 minggu. Terjadi karena gangguan pada epitel.

- Gelaja post-infeksi
- Peradangan saluran napas persisten
- Post nasal drip (infeksi virus, bakteri, pertusis, Chlamydia spp), dll
d Kronis
e Batuk yang sulit untuk disembuhkan dikarenakan
penyempitan saluran nafas atas dan terjadi lebih dari 8 minggu. Batuk
kronis biasanya adalah tanda adanya penyakit lain yang lebih berat

- Asma bronkial - ACE-inhibitor


- GERD - Sarcoidosis
- Eosinofilik bronkitis - Chronic interstitial pneumonia
- Bronkitis kronis - kanker paru, dll
-

2.2.1 Berdasarkan Produktifitas


a Batuk Berdahak14
- Jumlah dahak yang dihasilkan sangat banyak, sehingga menyumbat
saluran pernapasan. Normalnya, orang dewasa menghasilkan mukus sekitar 100ml
dalam saluran nafas setiap hari. Mukus ini diangkut menuju faring dengan
gerakkan pembersihan normal silia yang melapisi saluran pernapasan. Bila
terbentuk mukus yang berlebihan, proses normal pembersihan mungkin tidak
efektif lagi, sehingga akhirnya mukus tertimbun. Lalu membran mukosa akan
terangsang, dan mukus dibatukkan keluar sebagai sputum.

- Kondisi sputum bermacam-macam yaitu:

1. Purulen yaitu kondisi sputum dalam keadaan kental dan lengket.


2. Mukopurulen yaitu kondisi sputum dalam keadaan kental, berwarna
kuning kehijauan.
3. Mukoid yaitu kondisi sputum dalam keadaan berlendir dan kental.
4. Hemoptisis yaitu kondisi sputum dalam keadaan bercampur darah.
5. Saliva yaitu Air liur.
- Warna sputum juga merupakan hal penting untuk dinilai,
klasifikasi warna sputum dan kemungkinan penyebabnya menurut Price Wilson:

1. Sputum yang dihasilkan sewaktu membersihkan tenggorokan


kemungkinan berasal dari sinus atau saluran hidung bukan berasal dari
saluran napas bagian bawah.
2. Sputum banyak sekali dan purulen kemungkinan proses supuratif
3. Sputum yg terbentuk perlahan dan terus meningkat kemungkinan tanda
bronkitis /bronkhiektasis
4. Sputum kekuning-kuningan kemungkinan proses infeksi
5. Sputum hijau kemungkinan proses penimbunan nanah, warna hijau ini
dikarenakan adanya verdoperoksidase, sputum hijau ini sering
ditemukan pada penderita bronkhiektasis karena penimbunan sputum
dalam bronkus yang melebar dan terinfeksi
6. Sputum merah muda dan berbusa kemungkinan tanda edema paru akut.
7. Sputum berlendir, lekat, abu-abu/putih kemungkinan tanda bronkitis
kronik
8. Sputum berbau busuk kemungkinan tanda abses paru/bronkhiektasis
9. Berdarah atau hemoptisis sering ditemukan pada Tuberculosis.
10. Berwarna-biasanya disebabkan oleh pneumokokus bakteri (dalam
pneumonia).
11. Bernanah mengandung nanah, warna dapat memberikan petunjuk untuk
pengobatan yang efektif pada pasien bronkitis kronis.
12. Warna (mukopurulen) berwarna kuning-kehijauan menunjukkan bahwa
pengobatan dengan antibiotik dapat mengurangi gejala.
13. Warna hijau disebabkan oleh Neutrofil myeloperoxidase
14. Berlendir putih susu atau buram sering berarti bahwa antibiotik tidak
akan efektif dalam mengobati gejala. Informasi ini dapat berhubungan
dengan adanya infeksi bakteri atau virus meskipun penelitian saat ini
tidak mendukung generalisasi itu.
15. Berbusa putih-mungkin berasal dari obstruksi atau bahkan edema.
b Batuk Kering
- Batuk tanpa ada sputum yang dikeluarkan, tenggorokan terasa
gatal, sehingga merangsang timbulnya batuk. Batuk ini mengganggu dan bila
batuk terlalu keras mungkin dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah mata
tenggorokan.

c Batuk Darah
- Batuk darah adalah ekspektorasi darah atau dahak yang
mengandung bercak darah dan berasal dari saluran pernafasan bawah. Sinonimnya
adalah hemaptoe atau hemoptisis.5 Berdasarkan jumlah darah yang keluar dibagi
menjadi:
a. Bercak (streaking) : <15-20 ml/24 jam, darah bercampur dengan
sputum (bronkitis)
b. Hemaptosis : 20600 ml/24 jam, berdarah pada pembuluh darah
yang lebih besar, contohnya seperti: kanker, pneumonia, TB, Emboli paru.
c. Hemaptosis massif : >600 ml/24 jam, pada kanker paru, kanker pada
TB, bronkietaksis.
d. Pseudohemoptis : batuk darah dari stuktur sel napas bagian
atas (diatas laring) / di saluran cernaatas / ini dapat berupa perdarahan
buatan (factitious)
- Batuk darah merupakan kegawatan paru yang paling sering terjadi
diantara betuk klinis lainnya. Tingkat kegawatannya ditentukan 3 faktor yaitu:

1. Terjadinya asfiksia oleh karena terdapatnya bekuan darah di dalam saluran


pernapasan.
2. Jumlah darh yang dikeluarkan selama hemoptisi dapat menimbulkan
renjatan hipovolemik.
3. Adanya pneumonia aspirasi, yaitu suatu infeksi yang terjadi beberapa
jam/hari setelah perdarahan. Keadaan ini merupakan keadaan gawat,
karena baik bagian jalan napas maupun fungsionil paru tidak dapat
berfungsi sebagaimana mestinya akibat terjadinya obstruksi total.
-

- Diagnosis

- Anamnesa

- Perlu ditanyakan apakah batuk produktif atau kering, tunggal atau


berturutan. Anak kecil tidak selalu bisa mengekspektorasikan dahak, biasanya
mereka akan menelan apa yang dibatukkan atau kemudian
memuntahkannya.Pertanyaan lain meliputi kapan batuk, apakah lebih sering
terjadi dari pada biasa, apakah timbul pada malam hari, apakah mengganggu tidur,
bagaimana bunyi batuk, apakah ada gejala penyerta, (demam, mengi, sesak),
apakah sebelumnya pernah terjadi dengan pola yang sama? Hal lain yang perlu
digali, apakah ada hal yang memperberat atau meringankan gejala. Secara khusus
tanyakan pencetus yang lazim pada asma (aktivitas, tertawa, menangis, pajanan
udara dingin, perubahan cuaca, debu, asap rokok, asap dapur, asap obat nyamuk,
atau rontokan bulu binatang) dan apakah memperburuk gejala.2

- Pertanyaan lain meliputi terapi apa yang pernah didapat, dan


bagaimana hasilnya. Respons yang kurang terhadap bronkodilator pada asma
seringkali dijumpai akibat dosis tidak adekuat dan waktu pemberian yang tidak
tepat. Perlu digali pula adanya gejala lain yang menyertai batuk, apakah anak
mengalami gangguan tumbuh kembang, apakah batuk mengganggu aktivitas
sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup anak.

- Anamnesis yang baik akan memberikan petunjuk berharga.


Sebagai contoh, batuk produktif yang timbul setelah posisi berbaring mengarah ke
kemungkinan PND atau refluks GE. Batuk paroksismal mungkin disebabkan oleh
pertusis, klamidia, atau benda asing yang terhirup. Batuk berulang disertai mengi
disebabkan oleh obstruksi trakeobronkial (misalnya karena asma, benda asing,
tumor mediastinum). Batuk yang berkaitan dengan makan atau proses menelan
menunjukkan aspirasi ke dalam trakeobronkus. Ini dapat disebabkan oleh refluks
GE, gangguan menelan karena kelainan saraf, atau mungkin karena fistel trakeo-
esofagus. Batuk disertai suara serak atau hilang mungkin karena benda asing di
laring, papiloma laring, atau croup. Batuk darah dapat disebabkan oleh batuk
hebat yang ditimbulkan oleh sebab apapun. Namun kemungkinan tuberkulosis,
bronkiektasis, atau benda asing perlu dipertimbangkan. 2

- Pemeriksaan fisis

- Unsur penting dalam pemeriksaan fisis dapat dilihat dalam Tabel 4.


Pada batuk kronik semata tanpa kelainan paru yang serius, pemeriksaan
fisis anak dapat normal, tanpa kelainan yang khusus. Namun tetap perlu
dicari berbagai kelainan fisis yang khas misalnya nyeri tekan paranasal,
tanda cairan atau infeksi di telinga tengah. Tanda-tanda alergi bila
ditemukan akan membantu penegakan diagnosis. Pada anak asma,
pemeriksaan fisis mungkin menunjukkan peningkatan diameter
anteroposterior toraks, retraksi, mengi, atau ronki. 2 Temuan klinis lain
seperti deviasi trakea menunjukkan paru kolaps ipsilateral, atau masa di
kontralateral. Gambaran cobblestone di retrofaring, menunjukkan
kemungkinan PND kronik. Telinga juga perlu diperiksa secara khusus atas
kemungkinan adanya benda asing. Anak balita kadang memasukkan
benda-benda kecil ke dalam lubang tubuh termasuk telinga. Seperti kita
ketahui, pada sebagian orang di liang telinga tengah dijumpai ujung saraf
aurikular (Arnold nerve) yang akan meneruskan rangsangan mekanik ke
pusat batuk. Benda asing di telinga atau kadang serumen yang mengeras
dapat menimbulkan gejala batuk kronik.

- Pemeriksaan penunjang

- Foto toraks perlu dibuat pada semua pasien batuk kronik, bila ada
foto lama ikut dievaluasi. Foto toraks perlu dibuat pada hampir semua
anak dengan batuk kronik untuk menyingkirkan kelainan respiratorik
bawah dan patologi kardiovaskular. Uji fungsi paru dilakukan pada semua
anak yang sudah mampu laksana (di atas lima tahun), sebelum dan setelah
pemakaian bronkodilator. Peran uji fungsi paru pada anak terbatas karena
banyak anak tidak mampu melakukannya, dan hasil positif tidak selalu
menegakkan diagnosis atau memprakirakan respons positif terhadap terapi
tertentu.

- Prevalens tuberkulosis di Indonesia termasuk yang tertinggi di


dunia; oleh karena itu skrining tuberkulosis dengan uji tuberkulin perlu dilakukan
pada anak-anak, terlebih dengan gejala batuk kronik. Bila dicurigai adanya refluks
gastro-esofagus, perlu dilakukan pemeriksaan monitoring 24 jam pH esofagus,
bila perlu dilakukan pemeriksaan endoskopi. Foto sinus paranasalis terindikasi
pada pasien dengan IRA disertai sekret purulen, batuk yang bertambah pada posisi
telentang, nyeri daerah frontal, dan nyeri tekan / ketok di atas sinus. CT scan sinus
lebih dianjurkan terutama untuk anak kecil yang sinusnya belum berkembang
sepenuhnya. Foto dengan kontras barium diperlukan pada kasus batuk yang
berhubungan dengan pemberian makanan, batuk yang disertai stridor atau mengi
yang terlokalisir di saluran respiratorik besar. Pemeriksaan imunologis (IgG, IgE,
IgM, IgA) perlu dilakukan pada kasus batuk yang berhubungan dengan otitis
berulang, bronkiektasis, atau batuk produktif yang tidak responsif dengan
antibiotik.2

- Diagnosis Banding

1. Tuberkulosis 7
- Batasan
- Tuberkulosis adalah penyakit akibat infeksi kuman mycobacterium
tuberkulosis yang bersifat sistemik sehingga dpat mengenai hampir semua
organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru yang biasa merupakan lokasi
infeksi primer.
-
- Patogenesis
- Penularan TBC terjadi karena menghirup udara yang mengandung
micobacterium tuberkulosa (M.TB). di alveolus M.Tb difagositosis oleh
makrofag alveolus dan dibunuh, tetapi bila M.Tb yang dihirup virulen dan
makrofag alveoulus lemah maka M.Tb dapat berkembangbiak dan
mengahancurkan makrofag, Monosit dan makrofag dari darah ditarik
secara kemotaksis kearah M.Tb berada, kemudian memfagositosi M.Tb
tetapi tidak dapat membunuhnya. Makrofag dan M.Tb membentuk
tuberkel yang mengandung sel sel epiteloid, makrofag yang menyatu (sel
raksasa langhans) dan limfosit. Tuberkel akan menjadi tuberkuloma
dengan nekrosis dan fibrosis didalamnya dan dapat juga terjadi kalsifikasi.
Lesi pertama di alveolus ( fokus primer ) menjalar kekelenjar limfe hilus
dan terjadi infeksi kelenjar limfe M.Tb dapat langsung menyebabkan
penyakit diorgan organ tersebut atau hidup dorman dalam mikrofag
jaringan dan dapat aktif kembali bertahun tahun kemudian. Tuberkel dapat
hilang dapat hilang dengan resolusis atau terjadi kalsifikasi atau terjadi
nekrosis dengan masa keju yang dibentuk oleh makrofag. Masa keju dapat
mencair dan M.Tb dapat berkembang biak ektraselular sehingga dapat
meluas dijaringan paru dan terjadi pneumonia, lesi endobronkial, pleuritis
atau Tb milier, juga dapat menyebar secara bertahap menyebabkan lesi di
organ organ lain.
-
- Diagnosis
- Diagnosis yang paling tepat dengan ditemukan basil Tb dari bahan yang
diambil dari pasien misalnya sputum, bilasan lambung, biopsi dll. Pada
anak hal ini sulit didapat, sehingga sebagian besar diagnosis tb anak
didasarkan gambaran gambaran radiologis, dan uji tuberkulin.
- Untuk itu penting memikirkan Tb pada anak kalau terdapat keadaan atau
tanda tanda yang mencurigakan seperti:
1. Pada anak harus dicurigai menderita Tb kalau:
a. Kontak erat (serumah) dengan penderita TB dengan sputum
BTA (+)
b. Terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikan BCg
dalam 3-7 hari
c. Terdapat gejala umum
2. Gejala gejala yang harus dicurigai TB:
a. Gejala umum / tidak spesifik
i. Berat badan turun atau malnutrisi tanpa sebab yang
jelas atau tidak naik dalam 1 bulan dengan penangan
gizi
ii. Nafsu makan tidak ada (anoreksia) dengan gagal
tumbuh dan berat badan tidak bertambah (failure to
thrive) dengan adekuat
iii. Demam lama / berulang tanpa sebab yang jelas (bukan
difus, malaria, atau infeksi saluran nafas akut), dapat
disertai keringat malam
iv. Pembesaran kelenjar limfe superficial yang tidak sakit,
biasa multiple, paling sering didaerah leher,axila,dan
inguinal
v. Gejalan respiratorik:
1. Batuk lama >3minggu
2. Tanda cairan di dada, nyeri dada
vi. Gejala gastrointestinal:
1. Diare persisten yang tidak sembuh dnegan
pengobatan diare
2. Benjolan/ massa di abdomen
3. Tanda tanda cairan dalam abdomen
-
b. Gejala spesifik
i. Tb Kulit/ skofuloderma
ii. Tb tulang dan sendi
1. Tulang punggung (spondilitis ): gibus
2. Tulang panggul (coxytis): pincang
3. Tulang lutut: pincang dan/atau bengkak
4. Tulang kaki dan tangan
iii. Tb otak dan saraf
1. Meningitis dengan gejala iritable (kaku kuduk,
muntah, kesadaran menurun )
iv. Gejala mata : konjungtivitis phlyctenulars,
v. Lain lain
c. Uji tuberculin (mantoux )
- Uji tuberkulin dilakukan dengan cara mantoux (penyuntkan
intracutan ). Tuberkulin yang digunakan adalah tuberkulin PPD
RT 23 kekuatan 2TU atau PPD-S kekuatan 5TU. Pembacaan
dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan. Diukur diameter
transversal dari indurasi yang terjadi. Ukuran dinyatakan dalam
mm, disebut positif bila indurasi: 10 mm.
d. Reaksi BCG
- Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat berupa
kemerahan dan indurasi 5mm (dalam 3-7 hari ) maka
dicurigai telah terinfeksi M.TB.
e. Foto rotgen paru : sering kali tidka khas
- Pembacaan sulit, hati hati kemungkinan overdiagnosis atau
underdiagnosis. Paling mungkin kalo ditemukan infiltrat denga
pembesaran kelenjar hilus atau kelenjar paratrakeal. Gambaran
rotgen pada TB : milier, atelektasis, infiltrat, pembesara
kelenjar hilus atau paratrakeal, konsolidasi (lobus), reaksi
pleura dan/atau efusi pleura, kalsifikasi, brokiektasis, kavitas,
destroyed lung.
f. Pemeriksaan mikrobiologi
- Pemeriksaan langsung BTA (mikroskopis) dan kultur
sputum (pada anak bilasan lambung karena sputum sulit
didapat)
g. Pemeriksaan serologi (ELISA, PAP, Mycodot,dll) masih
memerlukan penelitian lebih lanut
h. Pemeriksaan PA
i. respon terhadap OAT
- kalau dalam 2 bulan terdapat perbaikan klinis nyata, dapat
menunda atau memperkuat diagnosis TB
-

- Penatalaksaan

- Obat harus diminum teratur setiap hari, dan dalam waktu


yang cukup lama dosis obat harus disesuaikan dengan BB.secara garis
besar dapat dibagi menjadi penatalaksaan untuk :

1. TBC paru tidak berat


2. TBC paru berat/ ekstrapulmonal

- Pada TB yang tidak berat cukup diberikan 3 jenis obat anti


tuberkolosis (OAT) dengan jangka waktu terapi 6 bulan. Tahap intensif
terdiri dari isoniazid (INH), rifampycine, pyrazynamide selama 2 bulan
diberikan setiap hari ( 2HRZ). Tahap lanjutan terdiri INH, rifampicine,
selama 4v bulan diberikan setiap hari (4HR)

- Pada TBC berat (tbc milier, maeningitis dan tb tulang)


maka juga diberikan streptomicine, etambutol pada permulaan
pengobatan. Jadi pada TBC berat baisanya pengobatan dengan kombinasi
4-5 obat dalam 2 bulan, kemudia dilanjutkan dengan INH dan rifampicin
selam 10 bulan lagi atau lebih, sesuai dengan perkembangan klinis.

- Obat yang digunakan:

1. INH (selama 6-12 bulan )


a. Dosis terapi : 5-10 mg/kgbb/hari sekali sehari
b. Dosis profilaksis: 5-10 mg/kgbb/hari sekali sehari
c. Dosis maksimum : 300 mg/hari
2. Rifampicine: (6-10 bulan)
a. Dosis : 10-20 mg/kgbb/hari sekali sehari
b. Dosis maksimum : 600mg/hari
3. Pirazinamide : (2-3 bulan pertama)
a. Dosis : 25-35 mg/kgbb/hari 2 kali sehari
b. Dosis maksimum : 2 gr/ Hari
4. Etambutol : (2-3 bulan pertama)
a. Dosis: 5-20 mg/kgbb/hari sekali sehari atau 2kali sehari
b. Dosis maksimum : 1250 mg/hari
5. Streptomycine (1-3 bulan pertama)
a. Dosis: 14-40 mg/kgbb/hari sekali sehari IM
b. Dosis maksimum : 1 gr/hari

- Kortikosteroid diberikan pada keadaan khusu seperti tb milier, Tb


meningitis, TB endobronkial TB pleuritis, Tb perikarditis, TB peritonitis

- Boleh diberikan prednison 1-2 mg/kgbb/hari selam 1-2 bulan

- Penghentian pengobatan

1. Bila setelah 6 bulan evaluasi membaik :

- Batuk menghilang, klinis membaik, anak menjadi lebih aktif, bb


meningkat, TF mebaik , penurunan LED
2. Bila setelah 6 bulan tidak ada perbaikan, kemungkinan:
a. Kepatuhan minum obat kurang
b. MDR (multi drug resistent)
c. Bukan TBC

- Obat pencegahan denga INH: 5-10 mg/kgbb/hari diberikan


pada:

1. Profilaksi primer: anak yang kontak erat dengan penderita TB menular


(Bta (+), tetapi belum terinfeksi)
2. Profilaksis sekunder: anak dengan infeksi TB yaitu tuberkulin(+) dan
klinis baik dengan faktor resiko yang memungkinkan menjadi TB
aktif.
a. Umur dibawah 5 thn
b. Menderita penyakit infeksi (morbili atau varicela)
c. Mendapat obat imunosupresive (sitostatik, steroid,dll)
d. Umur akil balik
e. Kalau ada infeksi HIV

- Komplikasi

- Biasa terjadi pada 5 tahun pertama setelah infeksi terutama 1 tahun


pertama. Penyebaran limfohematogen menjadi TB milier, meningitis TB,
bisa terjadi 3-6 bulan setelah infeksi primer. Tb tulang dan sendi terbanyak
terjadi dalam 3 tahun pertama dan Tb ginjal dan kulit terbanyak setelah
5tahun infeksi primer

-
-

-
- Catatan:

- Jika dijumpai skofuloderma, langsung di diagnosis TB


- Bb dinilai saat datang
- Demam dan batuk tidak ada respon terhdap sesuai baku
- Foto rontgen thorax bukan alat diagnostik utama TB anak
- Semua anak dengan reaski BCG harus dievaluasi dengan sistem scoring
Tb anak
- Di diagnosis Tb 6 (score maksimal 14) ini masih bersifat sementara.
-
2. Bronkitis 7
- Batasan
- Bronkitis merupakan proses keradangan pada bronkus dengan manifestasi
utama berupa batuk, yang dapat berlangsung secara akut maupun kronis.
Proses ini dapat disebabkan karena perluasan dari proses penyakit yang
terjadi dari saluran napas atas maupun bawah.
-
- Etiologi
1.Infeksi :
a. Virus RSV, Parainfluenza, Influenza, Adeno, morbilli
b. bakteri H.influenza B, Staphylococcus,
Streptococcus pertusis, tuberculosis, mycoplasma
c. fungi monilia
-
2. Alergi : asma
3.Kimiawi :
aspirasi susu, aspirasi
asap rokok
uap/gas yang merangsang

- Gejala Klinis Bronkitis akut

didahuiui infeksi saluran nafas atas (terutama virus)


batuk pilek 3-4 hari

Sifat batuk : batuk kering disertai nyeri/ panas substernal;


beberapa hari : riakjernih purulen setelah 10 hari riak menjadi
encer kemudian hilang, batuk dapat disertai muntah-muntah

- PEMERIKSAAN FISIS BRONKITIS AKUT


Keadaan urnum baik, anak tidak tampak sakit

Panas sub febris seringkali terjadi


Tidak didapatkan sesak. pada pemeriksaan paru didapatkan ronki
basah kasar, dapat terdengar ronki kering (coarse moist rales) yang
tidak tetap
Dapat ditemukan nasofaringitis, kadang conjunctivitis
Pemeriksaan penunjang .
o foto toraks dapat normal atau peningkatan corak
bronkovaskuler.
pada pemeriksaan laboratorium lekosit dapat normal
atau meningkat
- Penatalaksaan Bronkitis Akut

Mengontrol batuk agar sekret menjadi lebih encer/lebih mudah


dikeluarkan :

o Anak dianjurkan untuk minum lebih banyak


o Pemberian uap atau mukolitik, bila perlu diikuti
fisioterapi dada.
o Hati-hati dalam pemberian antitusifdan antihistamin
karena dapat mengakibatkan sekret menjadi lebih kental
sehingga dapat menimbulkan atelektasis atau pneumonia

Antibiotik ditErikan apabila ada kecurigaan infeksi sekunder,


der,gan pilihan antibiotik : Ampicilline, CloxacilIine,
Chloramphenicol, Erythromycine
-
-
-
-
- Komplikasi Bronkitis akut
-
- Komplikasi bronkitis akut jarang didapatkan. Pada anak dengan
status gizi kurang, dapat terjadi komplikasi berupa otitis media,
pneumonia, sinusitis.
- Pada bronkitis berulang, harus dipikirkan
kemungkinan:
Tuberkulosis
Alergi
Sinusitis
Bronkiektasis
Kelainan kongenital

Benda asing/corpus alienum


Tonsilitis adenoid
-
3. Bronkiolitis
- Batasan 7
- Bronkiolitis adalah penyakit obstruktif akibat inflamasi akut pada saluran
nafas kecil (bronkiolus) yang terjadi pada anak < 2 tahun dengan insidens
tertinggi pada usia sekitar 2-6 bulan dengan penyebab tersering respiratory
sincytial virus (RSV), diikuti dengan parainfluenzae dan adenovirus.
Penyakit ditandai oleh sindrom klinis yaitu, napas cepat, retraksi dada dan
wheezing
-
- Patofisiologi 7
- Mikroorganisme masuk melalui droplet mengadakan kolonisasi dan
replikasi di mukosa bronkioli terutama pada terminal bronkiolus sehingga
terjadi kerusakan/nekrosis sel-sel bersilia pada bronkioli. Respons imun
tubuh yang terjadi ditandai dengan proliferasi limfosit, sel plasma dan
makrofag. Akibat dari proses tersebut terjadi ederm sub mukosa, kongesti
setta penumpukan debris dan mukus (plugging), sehingga terjadi
penyempitan lumen bronkioii. Penyempitan ini mempunyai distribusi
tersebar dengan derajat yang bervariasi (totaVsebagian). Gambaran yang
terjadi adalah atelektasis yang tersebar dan distensi yang berlebihan
(hyperaerated) sehingga dapat terjadi gangguan penukaran gas serius,
gangguan ventilasi/perfusi dengan akibat terjadi hipoksemia (Pa O2 turun)
dan hiperkapnea (Pa CO2 meningkat). Kond;si yang berat dapat terjadi
gagal nafas.

- Diagnosis
- Anamnesis 8

Sering terjadi pada anak berusia <2 tahun. Sembilan


puluh persen (90%) kasus yang membutuhkan
perawatan di rumah sakit terjadi pada bayi berusia < I
tahun. Insidens tertinggi terjadi pada usia 3-6 bulan.
Anak yang menderita bronkiolitis mengalami demam
atau riwayat demam, namun jarang terjadi demam
tinggi.
Rhinorrhea, nasal discharge (pitek), sering timbul
sebelum gejala Iain seperti batuk, akipne, sesak napas,
dan kesulitan makan.
Batuk disertai gejala nasal adalah gejala yang pertama
muncul pada bronkiolitis. Batuk kering dan mengi khas
untuk bronkiolitis.
Poor feeding. Banyak penderita bronkiolitis mempunyai
kesulitan makan yang berhubungan dengan sesak napas,
namun gejala tersebut bukan hal mendasar untuk
dagnosis bronkiolitis
Bayi dengan bronkiolitis jarang tampak "toksik". Bayi
dengan tampilan toksik seperti mengantuk, letargis,
gelisah, pucat, motling, dan takikardi membutuhkan
penanganan segera.

- Pemeriksaan Fisis 8
Napas cepat merupakan gejala utama pada lower
respiratory tract infection (LRTI), teruuma pada
bronkiolitis dan pneumonia.
Retraksi dinding dada (subkosta, interkosta, dan supraklavikula)
sering terjadi pada penderita bronkiolitis.
Bentuk dada tampak hiperinflasi dan keadaan tersebut
membedakan bronkiolitis dari pneumonia.
Fine inspiratory crackles pada seluruh lapang paru sering
ditemukan (tapi tidak selalu) pada penderita bronkiolitis. Di
UK, crackles merupakan tanda utama bronkiolitis. Bayi dengan
mengi tanpa crackles lebih sering dikelompokkan sebagai viral-
induced wheeze dibandingkan bronkiolitis.
Di UK, high Pitched expiratory wheeze merupakan gejala yang
sering ditemukan pada bronkiolitis, tapi bukan temuan
pemeriksaan fisis yang mutlak. Di Amerika, diagnosis
bronkiolitis lebih ditekankan pada adanya mengi.
Apnea dapat terjadi pada bronkiolitis, terutama pada
usia yang sangat muda, bayi prematur, atau berat badan
lahir rendah.

- Pemeriksaan Penunjang 8
Saturasi oksigen
Pulse oximetry harus dilakukan pada setiap anak yang
datang ke rumah sakit dengan bronkiolitis. Bayi dengan
saturasi oksigen 920/0 membutuhkan perawatan di
ruang intensif. Bayi dengan saturasi oksigen >94% pada
udara ruangan dapat dipertimbangkan untuk
dipulangkan.
Analisis gas darah

Umumnya tidak diindikasikan pada bronkiolitis.


Pemeriksaan tersebut berguna untuk menilai bayi
dengan distres napas berat dan kemungkinan mengalami
gagal napas.

Foto toraks

Foto toraks dipertimbangkan pada bayi dengan


diagnosis meragukan atau penyakit atipikal. Foto toraks
sebaiknya tidak dilakukan pada bronkiolitis yang tipikal.
Foto toraks pada ronkiolitis yang ringan tidak
memberikan informasi yang dapat memengaruhi
pengobatan.
Pemeriksaan virology
Rapid diagnosis infeksi virus pada saluran napas adalah
cost effective karena mengurangi lama perawatan,
penggunaan antibiotik, dan pemeriksaan mikrobiologi.
Pemeriksaan bakteriologi
Pemeriksaan bakteriologi secara rutin (darah dan urin)
tidak diindikasikan pada penderita bronkiolitis
bakteriologi tipikal. Pemeriksaan bakteriologi dari urin
dipertimbangkan pada bayi berusia <60 hari
Hematologi
Pemeriksaan darah lengkap tidak diindikasikan dalam
menilai dan menata laksana bayi dengan bronkiolitis
tipikal.
C-reactive protein (CRP)
Penelitian yang ada merupakan penelitian retrospektif
atau penelitian dengan kualitas yang buruk dan tidak
memberikan bukti yang cukup berhubungan dengan
bronkiolitis
-
- Tata laksana 8

- Medikamentosa
-
- Bronkiolitis pada umumnya tidak memerlukan
pengobatan. Pasien bronkiolitis dengan klinis ringan dapat rawat
jalan, jika klinis berat harus rawat inap.Terapi suportif seperti
pemberian oksigen, nasal suction masih dapat digunakan. Fisioterapi
dada dengan vibrasi dan perkusi tidak direkomendasikan untuk
pengobatan penderita bronkiolitis yang tidak dirawat di ruang intensif.
-
- Menurut penelitian, pemberian antiviral, antibiotik,
inhalasi 2-agonis, inhalasi antikolinergik (iprqtropium) dan inhalasi
kortikosteroid tidak direkomendasikan. Belum ada penelitian yang dapat
menunjang rekomendasi pemberian leukotriene receptor antagonist
(Montelukast) pada pasien dengan bronkiolitis.
- Indikasi rawat di ruang rawat intensif
- Gagal mempertahankan saturasi oksigen > 92%
dengan terapi oksigen
- Perburukan status pernapasan, ditandai dengan
peningkatan distres napas dan/atau kelelahan
- Apnea berulang.

- Faktor resiko bronkiolitis berat


- Usia
- Bayi usia muda dengan bronkiolitis mempunyai risiko lebih tinggi
untuk mendapat perawatan di rumah sakit
- Prematuritas
- Bayi lahir prematur kemungkinan menderita RSV-associated
hospitalization lebih tinggi daripada bayi cukup bulan.
- Kelainan jantung bawaan
- Chronic lung disease of prematurity
- Orangtua perokok
- Jumlah saudara/berada di tempat penitipan
- Sosioekonomi rendah
-
4. Pneumonia 7

- Batasan
- Pneumonia adalah penyakit peradangan paru yang disebabkan oleh
bermacam etiologi seperti bakteri, virus, mikoplasma, jamur atau bahan
kimia/benda asing yang teraspirasi dengan akibat timbulnya
ketidakseimbangan ventilasi dengan perfusi (ventilation perfusion
mismatch )
-
- Patofisiologi
- Paru terlindung dari infeksi melalui beberapa mekanisme: filtrasi
partikel di hidung, pencegahan aspirasi dengan relek epiglotis. Ekspulsi
benda asing melalui refleks batuk, pembersihan ke arah kranial oleh
mukosilier, fagositosis kuman oleh makrofag alveolar,netralisasi kuman
oleh substansi imun lokal dan drainase melalui sistemik limfatik. Faktor
predisposisi pneumonia: aspirasi, gangguan imun,septisemia,
malnutrinisi, campak, pertusis,benda asing atau disfungsi silier.
- Mikroorganisme mencapai paru melalui jalan nafasm aliran darah,
aspirasi benda asing, transplasental atau selama persalinan pada
neonatus. Umumnyanya pneumonia terjadi akibat inhalasi atau aspirasi
mikroorganisme, sebagian kecil terjadi melalui aliran darah. Secara klinis
sulit membedakan peumonia bakteri dan virus. Bronkopneumonia
merupakan jenis pneumonia tersering pada bayi dan anak
kecil.penumonias lobaris lebih sering ditemukan dengan pertambahan
umur pada pneumonia berat bisa terjadi hipoksemia, hiperkapnea,
asidosis respiratorik, asidosis metabolik dan gagal nafas. (PDT)
-
- Diagnosis 8
- Anamnesis
Batuk yang awalnya kering,kemudian menjadi produktif dengan
dahak purulen bahkan bisa berdarah
Sesak nafas
Demam
Kesulitan makan/minum
Tampak lemah
Serangan pertama atau berulang, untuk membedakan dengan
kondisi imunokompromais kelainan anatomi bronkus, atau asma
- Pemeriksaan Fisis(PPM)
Penilain keadaan umum anak, frekuensi nafas dan nadi harus dilakukan
pada saaat awalpemeriksaan sebelum pemeriksaan lain yang dapat
menyebabkan anak gelisah atau rewel
Penilaian keadaan umum anatara lain meliputi kesadaran dan
kemampuan makan/minum
Gejala distres pernapasan seperti takipnea, retraksi subkostal, batuk,
krepitasi dan penurunan suara paru
Demam dan sianosis
- Anak dibawah 5 tahun mungkin tidak menunjukan gejala
pneumonia yang klasik. Pada anak yang demam dan sakit akut, terdapat
gejala nyeri yang diproyeksikan ke abdomen. Pada bayi muda, terdapat
gejala pernapasan tak teratur dan hypopnea
-
- Pemeriksaan penunjang 8
- Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan foto dada tidak direkomendasikan secara rutin pada
anak dengan infeksi saluran napas bawah akut ringan tanpa
komplikasi
Pemeriksaan foto dada direkomendasikan pada penderita pneumonia
yang dirawat inapa atau bila tanda klinis yang ditemukan
membingungkan
Pemeriksaan foto dada follow up hanay dilakukan bila didaptkan
adanya kolaps lobus, kecurigaan terjadinya komplikasi, pneumon ia
berat, gejala yang menetap atau memburuk atau tidak respon
terhadap antibiotik
Pemeriksaan foto dada tidak dapat mengidentifikasi agen penyebab
-
- Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis leukosit perlu
dilakukan untuk membantu menentukan pemberian antibiotik
Pemeriksaan kultur dan pewarnaan gram sputum dengan kualitas
yang baik direkomendasikan dalam tatalaksana anak dengan
pneumonia yang berat
Kultur darah tidak direkomendasikan secara rutin pada pasien rawat
jalan, tetapi direkomendasikan pada pasien rawat inap dengan
kondisi berat dan pada setiap anak yang dicurigai menderita
pneumonia bakterial
Pada anak kurang dari 18 bulan, diakukan pemeriksaan untuk
mendeteksi antigen virus dengan tanpa kultur virus jika fasilitas
tersedia
Pemeriksaan uji tuberkulin selalu dipertimbankan pada anak dengan
riwayat kontak dengan penderita TBC dewasa
-
- Pemeriksaan lain
-
- Pada setiap anak yang dirawat inao karena oneumonia, seharusnya
dilakukan pemeriksaan pulse oxymetry
-
-
- Klasifikasi penumonia (berdasarkan WHO):
1. Bayi kurang dari 2 bulan
Pneumonia berat: napas cepat atau retraksi yang berat
Pneumonia sangat berat: tidak mau menetek/minum, kejang,
letargis demam atau hipotermia,bradipnea atau pernapan ireguler
2. Anak umur 2 bilan 5 tahun
Pneumonia ringan: napas cepat
Pneumonia berat : retraksi
Pneumonia sangat berat : tidak dapat minum/makan, kejang,
letargis malnutrisi
-
- Tatalaksana
- Kriteria rawat inap
1. Bayi:
saturasi oksigen 92%, sianosis
frekuensi napas > 60x/menit
distress pernapasan, apnea intermiten atau grunting
tidak mau minum/menetek
keluarga tidak bisa merawat dirumah
- 2 Anak
saturasi oksigen < 92%, sianosis
frekuensi napas > 50x/menit
distress pernapasan
grunting
terdapat tanda dehidrasi
keluarga tidak bisa merawat di rumah
-
-
-
- Tatalaksana Umum
- Pasien dengan dengan saturasi oksigen <92% pada saat +bernapas
dengan udara kamar harus diberikan terapi oksigen dengan kanul nasal,
head box, atau sungkup untuk mempertahankan saturasi oksigen >92%
Fisioterapi dada tidak bermanfaat dan tidak direkomendasikan untuk
anak dengan pneumonia
Antipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk menjaga kenyamanan
pasien dan mengontrol batuk
Nebulisasi dengan f32 agonis dan/atau NaCl dapat diberikan untuk
memperbaiki mucoci//iary clearance
Pada pneumonia berat atau asupan per oral kurang, diberikan cairan
intravena dan dilakukan balans cairan ketat
-

- Pemberian Antibiotik
Amoksisilin merupakan pilihan pertama untuk antibiotik oral pada anak
<5 tahun karena efektif melawan sebagian besar patogen yang
menyebabkan pneumonia pada anak, ditoleransi dengan baik, dan murah.
Alternatifnya adalah co-amoxiclav, ceflacor, eritromisin, claritromisin,
dan azitromisin
M. Pneumoniae lebih sering terjadi pada anak yang lebih tua maka
antibiotik golongan makrolid diberikan sebagai pilihan pertama secara
empiris pada anak 5 tahun
Makrolid diberikan jika M. Pneumoniae atau C. Pneumonia dicurigai
sebagai penyebab
Amoksisilin diberikan sebagai pilihan pertama jika S. Pneumoniae sangat
mungkin sebagai penyebab
Jika S. aureus dicurigai sebagai penyebab, diberikan makrolid atau
kombinasi flucloxacillin dengan amoksisilin
Antibiotik intravena yang danjurkan adalah: ampisilin dan kloramfenikol,
co-amoxiclav, ceftriaxone, cefuroxime, dan cefotaxime
Pemberian antibiotik oral harus dipertimbangkan jika terdapat perbaikan
setelah mendapat antibiotik intravena
Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak dapat
menerima obat per oral (misal karena
- muntah) atau termasuk dalam derajat pneumonia berat
-

- Rekomendasi UKK Respirologi


- Antibiotik untuk community acquired pneumonia

Neonatus - 2 bulan: Ampisilin + gentamisin


> 2 bulan:
o Lini pertama Ampisilin bila dalam 3 hari tidak ada perbaikan dapat
ditambahkan kloramfenikol
o Lini kedua Seftriakson

- Bila klinis perbaikan antibiotik intravena dapat diganti preparat


oral dengan antibiotik golongan yang sama dengan antibiotik intravena
sebelumnya

- Nutrisi
- Pada anak dengan distres pernapasan berat, pemberian makanan per
oral harus dihindari. Makanan dapat diberikan lewat nasogostric tube
(NGT) atau intravena.Tetapi harus diingat bahwa pemasangan NGT
dapat menekan pernapasan, khususnya pada bayi/anak dengan ukuran
lubang hidung kecil. Jika memang dibutuhkan, sebaiknya mengunakan
ukuran yang terkecil.
- Perlu dilakukan pemantauan balans cairan ketat agar anak tidak menga!

ami overhidrasi karena pada pneumonia berat terjadi peningkatan sekresi


hormon antidiuretik.

- Kriteria pulang

Gejala dan tanda pneumonia menghilang


Asupan per oral adekuat
Pemberian antibiotik dapat diteruskan di rumah (per oral)
Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana
kontrol
Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan di rumah
-
5. Asma
- Definisi
-
Asma merupakan suatu penyakit gangguan jalan napas
obstruktif intermiten yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya
periode bronkospasme, peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap
berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas.9
-
- Manifestasi klinis
-
Keluhan utama penderita asma ialah sesak napas
mendadak, disertai fase inspirasi yang lebih pendek dibandingkan
dengan fase ekspirasi, dan diikuti bunyi mengi (wheezing), batuk yang
disertai serangan napas yang kumat-kumatan. Pada beberapa penderita
asma, keluhan tersebut dapat ringan, sedang atau berat dan sesak napas
penderita timbul mendadak, dirasakan makin lama makin meningkat
atau tiba-tiba menjadi lebih berat. 10
-
-
Wheezing terutama terdengar saat ekspirasi. Berat
ringannya wheezing tergantung cepat atau lambatnya aliran udara yang
keluar masuk paru. Bila dijumpai obstruksi ringan atau kelelahan otot
pernapasan, wheezing akan terdengar lebih lemah atau tidak terdengar
sama sekali. Batuk hampir selalu ada, bahkan seringkali diikuti dengan
dahak putih berbuih. Selain itu, makin kental dahak, maka keluhan sesak
akan semakin berat. 9
-

-
Dalam keadaan sesak napas hebat, penderita lebih
menyukai posisi duduk membungkuk dengan kedua telapak tangan
memegang kedua lutut. Posisi ini didapati juga pada pasien dengan
Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Tanda lain yang
menyertai sesak napas adalah pernapasan cuping hidung yang sesuai
dengan irama pernapasan. Frekuensi pernapasan terlihat meningkat
(takipneu), otot bantu pernapasan ikut aktif, dan penderita tampak
gelisah. Pada fase permulaan, sesak napas akan diikuti dengan
penurunan PaO2 dan PaCO2, tetapi pH normal atau sedikit naik.
Hipoventilasi yang terjadi kemudian akan memperberat sesak napas,
karena menyebabkan penurunan PaO2 dan pH serta meningkatkan PaCO2
darah. Selain itu, terjadi kenaikan tekanan darah dan denyut nadi sampai
110-130/menit, karena peningkatan konsentrasi katekolamin dalam darah
akibat respons hipoksemia.10
-

- Pemeriksaan fisik
- Penemuan tanda pada pemeriksaan fisis pasien asma,
tergantung dari derajat obstruksi saluran napas. Ekspirasi memanjang,
mengi, hiperinflasi dada, pernapasan cepat sampai sianosis dapat
ditemukan pada pasien asma. Dalam praktek jarang dijumpai kesulitan
dalam membuat diagnosis asma, tetapi sering pula dijumpai pasien
bukan asma mempunyai mengi, sehingga diperlukan pemeriksaan
penunjang untuk menegakkan diagnosis.
-

- Pemeriksaan penunjang
- Spirometri
-
Cara paling cepat dan sederhana untuk menegakkan
diagnosis asma adalah melihat respons pengobatan dengan
bronkodilator. Pemeriksaan spirometri dilakukan sebelum dan sesudah
pemberian bronkodilator hirup (inhaler atau nebulizer) golongan
adrenergic beta. Peningkatan VEP atau KVP sebanyak 20%
menunjukkan diagnosis asma.
- Uji provokasi bronkus
-
Jika pemeriksaan spirometri normal, untuk menunjukkan
adanya hiperaktivitas bronkus dilakukan uji provokasi bronkus. Ada
beberapa cara untuk melakukan uji provokasi bronkus seperti uji
provokasi dengan histamine, metakolin, kegiatan jasmani, udara dingin,
larutan garam hipertonik dan bahkan dengan aqua destilata penurunan
VEP sebesar 20% dianggap bermakna.
- Pemeriksaan sputum
-
Sputum eosinofil sangat karakteristik untuk asma,
sedangkan neutrofil sangat dominan pada bronchitis kronik.
- Pemeriksaan eosinofil total
-
Jumlah eosinofil total dalam darah sering meningkat pada
pasien asma dan hal ini dapat membantu dalam membedakan asma dari
bronchitis kronik.
- Foto dada
-
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan penyebab
lain obstruksi saluran napas dan adanya kecurigaan terhadap proses
patologis di paru atau komplikasi asma seperti pneumotoraks,
pneumomediastinum, atelektasis, dan lain-lain.
- Analisis gas darah
-
Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada asma yang berat.
Pada fase awal serangan, terjadi hipoksemia dan hipokapnia (PaCO2 <
35 mmHg) kemudian pada stadium yang lebih berat PaCO 2 justru
mendekati normal sampai normokapnia. Selanjutnya pada asma yang
sangat berat terjadinya hiperkapnia (PaCO2 45 mmHg), hipoksemia
dan asidosis respiratorik.9
-
-
-
-
6. Pertusis11
- Pertusis yang berat terjadi pada bayi muda yang belum pernah
diberi imunisasi. Setelah masa inkubasi 7-10 hari, anak timbul demam,
biasanya disertai batuk dan keluar cairan hidung yang secara klinik sulit
dibedakan dari batuk dan pilek biasa. Pada minggu ke-2, timbul batuk
paroksismal yang dapat dikenali sebagai pertusis. Batuk dapat berlanjut
sampai 3 bulan atau lebih. Anak infeksius selama 2 minggu sampai 3
bulan setelah terjadinya penyakit. 11

- Diagnosis

- Curiga pertusis jika anak batuk berat lebih dari 2 minggu, terutama
jika penyakit diketahui terjadi lokal. Tanda diagnostik yang paling
berguna:

Batuk paroksismal diikuti suara whoop saat inspirasi, sering disertai


muntah

Perdarahan subkonjungtiva

Anak tidak atau belum lengkap diimunisasi terhadap pertusis

Bayi muda mungkin tidak disertai whoop, akan tetapi batuk yang diikuti
oleh berhentinya napas atau sianosis, atau napas berhenti tanpa batuk

Periksa anak untuk tanda pneumonia dan tanyakan tentang kejang.

- Tatalaksana

- Kasus ringan pada anak-anak umur 6 bulan dilakukan secara


rawat jalan dengan perawatan penunjang. Umur < 6 bulan
dirawat di rumah sakit, demikian juga pada anak dengan pneumonia,
kejang, dehidrasi, gizi buruk, henti napas lama, atau kebiruan setelah
batuk.
-

- Antibiotik

Beri eritromisin oral (12.5 mg/kgBB/kali, 4 kali sehari) selama 10 hari


atau jenis makrolid lainnya. Hal ini tidak akan memperpendek lamanya
sakit tetapi akan menurunkan periode infeksius.

- Oksigen

Beri oksigen pada anak bila pernah terjadi sianosis atau berhenti napas
atau batuk paroksismal berat.

Gunakan nasal prongs, jangan kateter nasofaringeal atau kateter nasal,


karena akan memicu batuk. Selalu upayakan agar lubang hidung bersih
dari mukus agar tidak menghambat aliran oksigen.

Terapi oksigen dilanjutkan sampai gejala yang disebutkan di atas tidak ada
lagi.

Perawat memeriksa sedikitnya setiap 3 jam, bahwa nasal prongs berada


pada posisi yang benar dan tidak tertutup oleh mukus dan bahwa semua
sambungan aman.

- Tatalaksana jalan napas

Selama batuk paroksismal, letakkan anak dengan posisi kepala lebih


rendah dalam posisi telungkup, atau miring, untuk mencegah aspirasi
muntahan dan membantu pengeluaran sekret.

o Bila anak mengalami episode sianotik, isap lendir dari hidung dan
tenggorokan dengan lembut dan hati-hati.
o Bila apnu, segera bersihkan jalan napas, beri bantuan pernapasan
manual atau dengan pompa ventilasi dan berikan oksigen.

- Perawatan penunjang

Hindarkan sejauh mungkin segala tindakan yang dapat merangsang


terjadinya batuk, seperti pemakaian alat isap lendir, pemeriksaan
tenggorokan dan penggunaan NGT.

Jangan memberi penekan batuk, obat sedatif, mukolitik atau antihistamin.

Obat antitusif dapat diberikan bila batuk amat sangat mengganggu.

Jika anak demam ( 39 C) yang dianggap dapat menyebabkan distres,


berikan parasetamol.

Beri ASI atau cairan per oral. Jika anak tidak bisa minum, pasang pipa
nasogastrik dan berikan makanan cair porsi kecil tetapi sering untuk
memenuhi kebutuhan harian anak. Jika terdapat distres pernapasan,
berikan cairan rumatan IV untuk menghindari risiko terjadinya aspirasi
dan mengurangi rangsang batuk. Berikan nutrisi yang adekuat dengan
pemberian makanan porsi kecil dan sering. Jika penurunan berat badan
terus terjadi, beri makanan melalui NGT.

- Pemantauan

- Anak harus dinilai oleh perawat setiap 3 jam dan oleh dokter sekali
sehari. Agar dapat dilakukan observasi deteksi dan terapi dini terhadap
serangan apnu, serangan sianotik, atau episode batuk yang berat, anak
harus ditempatkan pada tempat tidur yang dekat dengan perawat dan
dekat dengan oksigen. Juga ajarkan orang tua untuk mengenali tanda
serangan apnu dan segera
memanggil perawat bila ini terjadi.

- Komplikasi

- Pneumonia. Merupakan komplikasi tersering dari pertusis yang


disebabkan oleh infeksi sekunder bakteri atau akibat aspirasi muntahan.

Tanda yang menunjukkan pneumonia bila didapatkan napas cepat di antara


episode batuk, demam dan terjadinya distres pernapasan secara cepat.

- Kejang. Hal ini bisa disebabkan oleh anoksia sehubungan dengan


serangan apnu atau sianotik, atau ensefalopati akibat pelepasan toksin.

Jika kejang tidak berhenti dalam 2 menit, beri antikonvulsan; lihat Bab 1
Pediatrik Gawat Darurat bagan 9 halaman 17.

- Gizi kurang. Anak dengan pertusis dapat mengalami gizi kurang


yang disebabkan oleh berkurangnya asupan makanan dan sering muntah.

Cegah gizi kurang dengan asupan makanan adekuat, seperti yang


dijelaskan pada perawatan penunjang.

- Tindakan Kesehatan masyarakat

Beri imunisasi DPT pada pasien pertusis dan setiap anak dalam keluarga
yang imunisasinya belum lengkap.

Beri DPT ulang untuk anak yang sebelumnya telah diimunisasi.


Beri eritromisin suksinat (12.5 mg/kgBB/kali 4 kali sehari) selama 14 hari
untuk setiap bayi yang berusia di bawah 6 bulan yang disertai demam
atau tanda lain dari infeksi saluran pernapasan dalam keluarga.

-
-
-
-
-
-
-
-
- Tatalaksana

- Common cold: Penyebab paling sering dari batuk akut. Obat rekomendasi
dari batuk akibat Infeksi saluran nafas atas:
Ipratropium bromide (20 mcg / semprot)
Antihistamin / Dekongestan lama: bromfeniramin dan pseudoefedrin.
Naproxen.
- Walaupun ada generasi antihistamin baru dan lama, generasi baru bekerja
hanya pada kongesti akibat histamine yang terjadi akibat alergi, tetapi generasi
lama memiliki efek pada antihistamin sekaligus dengan antikolinergik.

- Naproxen hanya satu-satunya NSAID yang dipakai untuk mengobati batuk


akibat common cold. Pengobatan untuk anak kecil atau dibawah 15 tahun adalah
dengan tanpa obat-obatan. Pengobatan dengan deksometrofan tidak dianggap
efektif untuk mengobati batuk akibat common cold.
- Bronkitis akut : Penyebab tersering lainnya. Banyak terdiagnosis karena
batuk 3 hari dengan atau tidak dengan produksi dahak. Diagnosis ini
ditegakkan setelah penyakit lain telah disingkirkan yaitu pneumonia,
common cold, asma eksaserbasi akut, PPOK eksaserbasi akut.
- Bronkitis dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus. Guidelines tidak
menganjurkan memberikan antibiotik pada bronkitis akut. Antitusif hanya dipakai
sebagai pengobatan simptomatik jangka pendek.
- Batuk Sub-akut

- Batuk lebih dari 3 minggu tetapi tidak lebih dari 8 minggu digolongkan
subakut. Post infeksi paling sering menyebabkan batuk sub akut. Jika batuknya
dirasakan setelah infeksi saluran nafas atas (ISPA) dirasakan kemungkinan besar
adalah post infeksi. Jika tanpa gejala ISPA sebelumnya, kemungkinan permulaan
dari batuk kronis.

- Batuk post infeksi : Pada dewasa, terapi empirik, lini pertama dengan
percobaan dengan inhalasi ipratropium, dilanjutkan dengan kortikosteroid
inhalan jika batuk tidak berhenti. Antitusif sentral dipakai jika lini lain
tidak berhasil. Antibiotic tidak disarankan untuk pengobatan batuk post
infeksi.
- Pada anak dengan batuk lebih dari 4 minggu, harus dicurigai
menjadi batuk kronis. Terapi diberikan jika sudah ada diagnosis penyebab batuk.
Jika tidak terdiagnosis dapat dipantau untuk melihat perkembangan batuk atau
penyakitnya.

- Pertusis :
- Antibiotik makrolide efektif terhadap pertusis. Efektifitas hanya pada saat
minggu pertama fase serangan setelah itu bakteri telah mati oleh antibodi tubuh
tetapi gejala berat masih terjadi.

-
Pengobatan batuk kronik dengan penyebab yang telah diketahui biasanya
dapat dengan mudah terobati. Tetapi disaat penyebab tidak diketahui, pengobatan
menjadi lebih rumit.
-
-
Gambar 14 : Jalur Terapi Batuk Kronis.12
- Penatalaksanaan batuk yang paling baik yang paling baik adalah
pemberian obat spesifik terhadap etiologinya. Tiga bentuk penatalaksanaan batuk
adalah :
1. Tanpa pemberian obat
-
Penderita-penderita dengan batuk tanpa gangguan yang disebabkan oleh
penyakit akut dan sembuh sendiri biasanya tidak perlu obat.
2. Pengobatan Spesifik
-
Apabila penyebab batuk diketahui maka pengobatan harus ditujukan
terhadap penyebab tersebut. Dengan evaluasi diagnosis yang terpadu, pada
hampir semua penderita dapat diketahui penyebab batuk kroniknya.
-
-
Pengobatan spesifik batuk tergantung dari etiologi atau mekanismenya.
Asma diobati dengan bronkodilator atau kortikosteroid. Post nasal drip karena
sinusitis diobati dengan antibiotik, obat semprot hidung dan kombinasi
antihistamin-dekongestan, post nasal drip karena alergi atau rinitis non alergi
ditanggulangi dengan menghindari lingkungan yang mempunyai faktor pencetus
dan kombinasi antihistamin-dekongestan.
- Refluks gastroesofageal diatasi dengan meninggikan kepala, modifikasi
diet, dengan proton pump inhibitor, dimana dapat menghambat produksi asam dan
memungkinkan jaringan esophageal untuk sembuh. Obat proton pump inhibitor
meliputi:
- Esomeprazole (Nexium)
- Lansoprazole (Prevacid)
- Omeprazole (Prilosec)
- Pantoprazole (Protonix)
- Rabeprazole (Aciphex)
-
-
Batuk pada bronkitis kronis diobati dengan menghentikan merokok.
Antibiotik diberikan pada pneumonia, sarkoidosis diobati dengan kortikosteroid
dan batuk pada gagal jantung kongestif dengan digoksin dan furosemid.
-
3. Pengobatan Simptomatik
-
Pengobatan simptomatik diberikan apabila penyebab batuk yang pasti
tidak diketahui, sehingga pengobatan spesifik tidak dapat diberikan dan batuk
tidak berfungsi baik dan komplikasinya membahayakan penderita.
-
- Obat yang digunakan untuk pengobatan simptomatik ada dua jenis yaitu
antitusif, dan mukokinesis :
a. Antitusif
- Antitusif adalah obat yang menekan refleks batuk, digunakan pada
gangguan saluran nafas yang tidak produktif dan batuk akibat teriritasi.
-
- Secara umum berdasarkan tempat kerja obat antitusif dibagi atas antitusif
yang bekerja di perifer dan antitusif yang berkerja di sentral. Antitusif yang bekerja
di sentral dibagi atas golongan narkotik dan non-narkotik.
- Antitusif yang bekerja di perifer
- Obat golongan ini menekan batuk dengan mengurangi iritasi lokal
di saluran nafas, yaitu pada reseptor iritan perifer dengan cara anastesi
langsung atau secara tidak langsung mempengaruhi lendir saluran nafas.
Demulcent
- Obat ini bekerja melapisi mukosa faring dan mencegah kekeringan
selaput lendir. Obat ini digunakan sebagai pelarut antitusif lain atau sebagai
lozenges yang mengandung madu, akasia, gliserin dan anggur. Secara objektif
tidak ada data yang menunjukkan obat ini mempunyai efek antitusif yang
bermakna, tetapi karena aman dan memberikan perbaikan subjektif obat ini
banyak dipakai.
-
- Antitusif yang bekerja sentral.
- Obat ini berkerja menekan batuk dengan meninggikan ambang
rangsangan yang dibutuhkan untuk merangsang pusat batuk dibagi atas
golongan narkotik dan non-narkotik.
-
Golongan narkotik
- Opiat dan derivatnya mempunyai berbagai macam efek
farmakologi sehingga digunakan sebagai analgesik, antitusif, sedatif,
menghilangkan sesak karena gagal jantung dan anti diare. Diantara alkaloid ini
morfin dan kodein sering digunakan. Efek samping obat ini adalah penekanan
pusat nafas, konstipasi, kadang-kadang mual dan muntah, serta efek adiksi.
Opiat dapat menyebabkan terjadinya brokospasme karena pelepasan histamin.
Tetapi efek ini jarang terlihat pada dosis terapi untuk antitusif.
- Kodein merupakan antitusif narkotik yang paling efektif dan salah
satu obat yang paling sering diresepkan. Pada orang dewasa dosis tunggal 20-
60 mg atau 40-160 mg per hari biasanya efektif. Kodein ditolerir dengan baik
dan sedikit sekali menimbulkan ketergantungan. Disamping itu obat ini sangat
sedikit sekali menyebabkan penekanan pusat nafas dan pembersihan
mukosiliar.
-
Antitusif Non-Narkotik
Dekstrometorfan
- Obat ini tidak mempunyai efek analgesik dan ketergantungan. Obat
ini efektif bila diberikan dengan dosis 30 mg setiap 4-8 jam, dosis dewasa 10-
20mg setiap 4 jam. Anak-anak umur 6-11 tahun 5-10mg. Sedangkan anak
umur 2-6 tahun dosisnya 2,5 5 mg setiap 4 jam.
-
Butamirat sitrat
- Obat ini bekerja pada sentral dan perifer. Pada sentral obat ini
menekan pusat refleks dan di perifer melalui aktifitas bronkospasmolitik dan
aksi antiinflamasi. Obat ini ditoleransi dengan baik oleh penderita dan tidak
menimbulkan efek samping konstipasi, mual, muntah dan penekanan susunan
saraf pusat. Butamirat sitrat mempunyai keunggulan lain yaitu dapat
digunakan dalam jangka panjang tanpa efek samping dan memperbaiki fungsi
paru yaitu meningkatkan kapasitas vital dan aman digunakan pada anak. Dosis
dewasa adalah 3x15 ml dan untuk anak-anak umur 6-8 tahun 2x10 ml
sedangkan anak berumur lebih dari 9 tahun dosisnya 2x15 ml.
-
-
Difenhidramin
- Obat ini tergolong obat antihistamin, mempunyai manfaat
mengurangi batuk kronik pada bronkitis. Efek samping yang dapat
ditimbulkan ialah mengantuk, kekeringan mulut dan hidung, kadang-kadang
menimbulkan perangsangan susunan saraf pusat. Obat ini mempunyai efek
antikolinergik karena itu harus digunakan secara hati-hati pada penderita
glaukoma, retensi urin dan gangguan fungsi paru. Dosis yang dianjurkan
sebagai obat batuk ialah 25 mg setiap 4 jam, tidak melebihi 100 mg/ hari
untuk dewasa. Dosis untuk anak berumur 6-12 tahun ialah 12,5 mg setiap 4
jam dan tidak melebihi 50 mg/ hari. Sendangkan untuk anak 2-5 tahun ialah
6,25 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 25 mg / hari
b. Mukokinesis
- Retensi cairan yang patologis di jalan nafas disebut mukostasis.
Obat-obat yang digunakan untuk mengatasi keadaan itu disebut mukokinesis.
Obat mukokinesis dikelompokkan atas beberapa golongan :
- Diluent ( cairan )
- Air adalah diluent yang pertama berguna untuk
mengencerkan cairan sputum. Cairan elektrolit : larutan garam faal
merupakan larutan yang paling sesuai untuk nebulisasi dan cairan lavage ,
larutan garam hipotonik digunakan pada pasien yang memerlukan diet
garam
-
- Surfaktan
- Obat ini bekerja pada permukaan mukus dan menurunkan
daya lengket mukus pada epitel. Biasanya obat ini dipakai sebagai
inhalasi, untuk itu perlu dilarutkan dalam air atau larutan elektrolit lain.
Sulit dibuktikan obat ini lebih baik daripada air atau larutan elektrolit saja
pada terapi inhalasi.
-
- Mukolitik
- Obat ini memecah rantai molekul mukoprotein sehinggaa
menurunkan viskositas mukus. Termasuk dalam golongan ini antara lain
ialah golongan thiol dan enzim proteolitik.
-
Golongan Thiol
- Obat ini memecah rantai disulfida mukoprotein, dengan akibat
lisisnya mukus. Salah satu obat yang termasuk golongan ini adalah
asetilsistein.
-
Asetilsistein
- Asetilsistein adalah derivat H-Asetil dari asam amino L-sistein,
digunakan dalam bentuk larutan atau aerosol. Pemberian langsung ke dalam
saluran napas melalui kateter atau bronkoskop memberikan efek segera, yaitu
meningkatkan jumlah sekret bronkus secara nyata. Efek samping berupa
stomatitis, mual, muntah, pusing, demam, dan menggigil jarang ditemukan.
- Dosis yang efektif ialah 200 mg, 2-3 kali per oral. Pemberian
secara inhalasi dosisnya adalah 1-10 ml larutan 20% atau 2-20 ml larutan 10%
setiap 2-6 jam. Pemberian langsung ke dalam saluran napas menggunakan
larutan 10-20% sebanyak 1-2 ml setiap jam. Bila diberikan sebagai aerosol
harus dicampur dengan bronkodilator oleh karena mempunyai efek
bronkokonstriksi.
- Obat ini selain diberikan secara inhalasi dan oral, juga dapat
diberikan secara intravena. Pemberian aerosol sangat efektif dalam
mengencerkan mukus. Di samping bersifat mukolitik, N-Asetilsistein juga
mempunyai fungsi antioksidan. N-Asetilsistein merupakan sumber glutation,
yaitu sumber yang bersifat antioksidan. Pemberian N-Asetilsistein dapat
mencegah kerusakan saluran napas yang disebabkan oleh oksidan. Pada
perokok kerusakan saluran napas terjadi karena zat-zat oksidan dalam asap
rokok mempengaruhi keseimbangan oksidan dan antioksidan. Dengan
demikian pemberian N-Asetilsistein pada perokok dapat mencegah kerusakan
parenkim paru terhadap efek oksidan dalam asap rokok, sehingga mencegah
terjadinya emfisem.
- Penelitian pada penderita penyakit saluran pernapasan akut dan
kronik menunjukkan bahwa N-Asetilsistein efektif dalam mengatasi batuk,
sesak napas dan pengeluaran dahak. Perbaikan klinik pengobatan dengan N-
Asetilsistein lebih baik bila dibandingkan dengan bromheksin.
-
Enzim Proteolitik
- Enzim protease seperti tripsin, kimotripsin, streptokinase,
deoksiribonuklease dan streptodornase dapat menurunkan viskositas mukus.
Enzim ini lebih efektif diberikan pada penderita dengan sputum yang purulen.
Diberikan sebagai terapi inhalasi. Tripsin dan kimotripsin mempunyai efek
samping iritasi tenggorokan dan mata, batuk, suara serak, batuk darah,
bronkospasme, reaksi alergi umum, dan metaplasia bronkus.
Deoksiribonuklease efek sampingnya lebih kecil, tetapi efektifitasnya tidak
melebihi asetilsistein.
- Bronkomukotropik
- Obat golongan ini bekerja langsung merangsang kelenjar bronkus.
Zat ini menginduksi pengeluaran seromusin sehingga meningkatkan
mukokinesis. Umumnya obat-obat inhalalasi yang mengencerkan mukus
termasuk dalam golongan ini. Biasanya obat ini mempunyai aroma. Contoh
obat ini adalah mentol, minyak kamper, balsem dan minyak kayu putih.
- Vicks vapo Rub mengandung berbagai minyak yang mudah
menguap, adalah bronkomukotropik yang paling populer.
-
- Bronkorrheik
- Iritasi permukaan saluran napas menyebabkan pengeluaran cairan.
Saluran napas bereaksi terhadap zat-zat iritasi yang toksik, pada keadaan berat
dapat terjadi edema paru. Iritasi yang lebih ringan dapat berfungsi sebagai
pengobatan, yaitu merangsang pengeluaran cairan sehingga memperbaiki
mukokinesis. Contoh obat golongan ini adalah larutan garam hipertonik.
-
- Ekspektoran
- Ekspektoran adalah obat yang meningkatkan jumlah cairan dan
merangsang pengeluaran sekret dari saluran napas. Hal ini dilakukan dengan
beberapa cara, yaitu melalui :
Refleks vagal gaster
Stimulasi topikal dengan inhalasi zat
Perangsangan vagal kelenjar mukosa bronkus
Perangsangan medulla
- Refleks vagal gaster adalah pendekatan yang paling sering
dilakukan untuk merangsang pengeluaran cairan bronkus. Mekanisme ini
memakai sirkuit refleks dengan reseptor vagal gaster sebagai afferen dan
persarafan vagal kelenjar mukosa bronkus sebagai efferen.
- Termasuk ke dalam ekspektoran dengan mekanisme ini adalah :
Amonium klorida
-
Kalium yodida, obat ini adalah ekspektoran yang sangat tua dan telah
digunakan pada asma dan bronkitis kronik. Selain sebagi ekspektoran obat
ini mempunyai efek menurunkan elastisitas mukus dan secara tidak
langsung menurunkan viskositas mukus. Mempunyai efek samping
angioderma, serum sickness, urtikaria, purpura trombotik trombositopenik
dan periarteritis yang fatal. Merupakan kontraindikasi pada wanita hamil,
masa laktasi dan pubertas. Dosis yang dianjurkan pada orang dewasa 300 -
650 mg, 3-4 kali sehari dan 60-250 mg, 4 kali sehari untuk anak-anak.
-
Guaifenesin ( gliseril guaiakolat ), selain berfungsi sebagai ekspektoran
obat ini juga memperbaiki pembersihan mukosilia. Obat ini jarang
menunjukkan efek samping. Pada dosis besar dapat terjadi mual, muntah
dan pusing. Dosis untuk dewasa biasanya adalah 200-400 mg setiap 4 jam
dan tidak melebihi 2-4 gram per hari. Anak-anak 6-11 tahun, 100-200 mg
setiap 4 jam dan tidak melebihi 1-2 gram per hari, sedangkan untuk anak 2-
5 tahun, 50-100 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 600 mg sehari
Sitrat ( Natrium sitrat )
Ipekak
- Mukoregulator
- Obat ini merupakan mukokinetik yang bekerja pada kelenjar
mukus yang mengubah campuran mukoprotein sehingga sekret menjadi lebih
encer, obat yang termasuk golongan ini adalah bromheksin dan S-karboksi
metil sistein.
Bromheksin
-
Bromheksin adalah komponen alkaloid dari vasisin dan ambroksol
adalah metaboliknya. Obat ini meningkatkan jumlah sputum dan menurunkan
viskositasnya. Juga ia merangsang produksi surfaktan dan mungkin
bermanfaat pada sindrom gawat napas neonatus. Kedua obat ini ditoleransi
dengan baik, tetapi dapat menyebabkan rasa tidak enak di epigastrium dan
mual. Harus hati-hati pada penderita tukak lambung. Dosis bromheksin
biasanya 8-16 mg 3 kali sehari, sedangkan ambroksol 45-60 mg sehari.9
-