Anda di halaman 1dari 11

KONSEP PERIODE INTRANATAL

A. Konsep Dasar Persalinan


1. Pengertian
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi

(janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar

kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan

bantuan atau tanpa batuan(kekuatan sendiri (Manuaba, 1998

dalam Padila 2014).


Persalinan merupakan keadaan yang normal terjadi

pada siklus reproduksi wanita. Pada masa ini setiap sistem

dalam tubuh mengalami perubahan baik secara fisik maupun

psikologis. Persalinan dari segi fisik dapat digambarkan sebagai

proses ketika janin, plasenta dan membran dikeluarkan melalui

jalan lahir. Bersamaan dengan perubahan fisik yang terjadi, ibu

dapat mengalami perasaan yang intensitasnya sangat bervariasi,

dari antisipasi sukacita sampai penantian yang penuh dengan

ketakutan. Transisi fisiologis dari wanita hamil menjadi seorang

ibu merupakan peristiwa besar dalam kehidupan seorang wanita.

Segala sesuatu yang terjadi selama persalinan dapat

mempengaruhi hubungan antara ibu dan bayi, serta persalinan di

masa yang akan datang. (Mc Cormick, 2009 dalam Pramatasari,

2105.).

2. Jenis persalinan
2.1 Berdasarkan cara persalinan
Menurut Padila (2015) berdasarkan caranya, persalinan

dibagi menjadi dua cara yaitu:


a) Persalinan biasa atau normal (eutosia) adalah proses kelahiran

janin pada kehamilan cukup bulan (aterm: 37-42), pada janin letak

memanjang, presentasi belakang kepala yang disusul dengan

pengeluaran plasenta dan seluruh proses kelahiran itu berakhir

dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tindakan/pertolongan buatan

dan tanpa komplilkasi.


b) Persalinan abnormal adalah persalinan pervaginam dengan

bantuan alat-alat maupun melalui dinding perut dengan operasi

caesarea.
2.2 Berdasarkan usia kehamilan dan berat janin yang dilahirkan
a) Abortus (keguguran)
- Terhentinya dan dikeluarkannya hasil konsepsi

sebelum mampu hidup di luar kandungan.


- Usia kehamilan sebelum atau dibawah 28 minggu
- Berat janin kurang dari 1.000 gram
b) Persalinan prematuritas
- Persalinan sebelum umur hamil 28-36 minggu
- Berat janin kurang dari 2.499 gram
c) Persalinan aterm (cukup bulan)

- Persalinan antara umur hamil 37-42 minggu

- Berat janin di atas 2.500 gram

d) Persalinan serotinus

- Persalinan melampaui umur hamil 42 minggu


- Pada janin terdapat tanda post maturitas
3. Penyebab terjadinya persalinan (teori persalinan)
Menurut Rinungki (2013) hal yang menjadi penyebab mulainya

persalinan belum diketahui secara pasti, yang ada hanyalah

merupakan teori-teori yang kompleks sebagai berikut :


a) Teori keregangan
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas

tertentu. Setelah melewati batas tersebut, maka akan terjadi

kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai.


b) Teori penurunan progesteron
Progesteron menimbulkan relaksasi otot rahim, sebaliknya

estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama

kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesterone

dan estrogen didalam darah, tetapi pada akhir kehamilan

kadar progesteron menurun sehingga menimbulkan his.


c) Teori oksitosin
Pada akhir kehamilan kadar oksitosin bertambah. Oleh

karena itu timbul kontraksi otot otot rahim.


d) Teori prostaglandin
Prostaglandin dianggap sebagai pemicu terjadinya

persalinan. Konsentrasi Prostaglandin meningkat sejak umur

kehamilan 15 minggu, yang dikeluarkan oleh desidua.

Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan

kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dapat

dikeluarkan.
e) Teori placenta menjadi tua
Plasenta yang tua akan menyebabkan turunnya kadar

estrogen dan progesteron yang akan menyebabkan

kekejangan pembuluh darah. Hal ini akan menimbulkan his.


4. Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan
Proses persalinan dapat berjalan dengan baik bila terdapat kerja

sama yang baik antara beberapa pihak yaitu ibu, bidan, dokter,

bayi dalam kandungan dan bahkan suami. Menurut Manuaba


(2007) dalam Padila (2014) persalinan normal ditentukan oleh 5

faktor utama yaitu:


a) Tenaga atau kekuatan (power) : his (kontraksi uterus),

kontraksi otot dinding perut, kontraksi diafragma pelvis,

ketegangan, kontraksi ligamentum rotondum, efektivitas

kekuatan mendorong dan lama persalinan.


b) Janin (passenger) : letak janin, posisi janin, presentasi janin

dan letak plasenta.


c) Jalan lahir (passage) : ukuran dan tipe panggul, kemampuan

serviks untuk membuka, kemampuan kanalis vaginalis dan

introitus vagina untuk memanjang.


d) Kejiwaan/psikologis (psyche) : persiapan fisik untuk

melahirkan, pengalaman persalinan, dukungan orang

terdekat dan integritas emosional.


e) Penolong : kesiapan alat dan tenaga medis yang akan

membantu jalannya persalinan.


5. Tanda persalinan
5.1 Tanda permulaan persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu

sebelumnya wanita memasuki bulannya atau mingggunya

atau harinya yang disebut kala pendahuluan (prepatory

stage of labor). Ini memberikan tanda-tanda sebagai berikut:


a) Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun

memasuki pintu atas panggul terutama pada

primigravida. Pada multipara tidak begitu terlihat karena

kepala janin baru masuk pintu atas panggul menjelang

persalinan.
b) Perut kelihatan lebih melebar dan fundus uteri menurun.
c) Perasaan sering atau susah kencing (polakisuria) karena

kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.


d) Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya

kontraksi-kontraksi lemah dari uterus (fase labor pains).


e) Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya

bertambah bisa bercampur darah (bloody show).


5.2 Tanda in-partu
a) Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat,

sering, dan teratur. Dengan sifat his persalinan sebagai

berikut:
1) Pinggang terasa sakit yang menjalar kedepan
2) Sifatnya teratur, interval makin pendek, dan

kekuatannya makin besar.


3) Mempunyai pengaruh terhadap pembukaan serviks.
4) Makin beraktivitas (jalan), kekuatan makin bertambah.
b) Keluar lendir bercampur darah yang lebih banyak karena

robekan-robekan kecil pada serviks.


c) Dapat disertai ketuban pecah dini.
d) Pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan terjadi

pembukaan serviks.

6. Tahap persalinan
Tahap persalinan dibagi menjadi 4 fase/kala yaitu:
a) Kala I
Dinamakan kala pembukaan, pada kala ini serviks

membuka sampai terjadi pembukaan 10 cm. Proses

membukanya serviks dibagi atas 2 fase:


1) Fase laten : periode waktu dari awal persalinan hingga ke

titik ketika pembukaan mulai berjalan secara progresif,

yang umumnya dimulai sejak kontraksi muncul hingga

pembukaan 3 cm dan berlangsung selama 7-8 jam.

Selama fase ini presentasi mengalami penurunan sedikit

hingga tidak sama sekali.


2) Fase aktif : periode waktu dari awal kemajuan aktif

pembukaan menjadi komplit. Pembukaan pada umumnya

dimulai dari 4 cm hingga 10 cm dan berlangsung selama 6

jam. Fase aktif dibagi dalam 3 fase, antara lain :


a) Fase akselerasi, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan

3 cm menjadi 4 cm.
b) Fase dilatasi, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan

sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.


c) Fase deselerasi, yaitu pembukaan menjadi lambat

kembali dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi

lengkap 10 cm.
Kala I ini selesai apabila pembukaan serviks uteri

telah lengkap. Pada primigravida kala 1 berlangsung kira-kira

12 jam sedang pada multigravida 8 jam. Pembukaan

primigravida 1 cm tiap jam dan multigravida 2 cm tiap jam

(Padila, 2015).
b) Kala II
Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks

sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi.

Diagnosis ditegakkan atas dasar pemeriksaan dalam yang

menunjukkan perubahan serviks telah lengkap dan bagian

kepala bayi terlihat pada introitus vagina (Ilham, 2011).


His terkoordinir cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3

menit sekali, kepala janin telah turun dan masuk ruang

panggul, sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar

panggul yang secara reflek menimbulkan rasa ngedan karena

tekanan pada rectum sehingga merasa seperti BAB dengan

tanda anus membuka. Pada waktu his kepala janin mulai

kelihatan, vulva membuka dan perineum menonjol. Dengan

his mengedan yang terpimpin akan lahir dan diikuti oleh

seluruh badan janin. Kala II pada primigravida berlangsung

1.5-2 jam dan pada multigravida berlangsung 0.5 jam (Utami,

2014).
Kala II persalinan dirasakan oleh ibu bersalin sebagai

hal yang lebih berat beban penderitaannya dibandingkan

dengan kala I. Transisi kala II ini biasanya berlangsung

singkat dan umumnya terjadi hanya dalam tempo beberapa

menit saja. Periode ini dapat menakutkan karena onsetnya

yang begitu cepat. Sehingga pada saat ini banyak ibu

mengatakan saya mau pulang dan ibu kehilangan kendali


atas dirinya dan akan merasa tertekan sehingga

pengendalian saat ini sangat penting bagi ibu (Padila, 2015)


c) Kala III
Kala III dimulai dari lahirnya bayi sampai lahirnya

plasenta. Menurut Depkes RI (2002), tanda-tanda lepasnya

plasenta mencakup beberapa atau semua hal dibawah ini:

Perubahan bentuk dan tinggi fundus, tali pusat memanjang,

semburan darah tiba-tiba.


Setelah bayi lahir kontraksi rahim istirahat sebentar.

Uterus teraba keras dengan fundus uterus setinggi pusat, dan

berisi plasenta yang menjadi tebal 2 kali sebelumnya.

Beberapa saat kemudian timbul his pelepasan dan

pengeluaran uri. Dalam waktu 5-10 menit plasenta terlepas,

terdorong ke dalam vagina akan lahir spontan atau sedikit

dorongan dari atas simfisis atau fundus uteri. Seluruh proses

biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.

Pengeluaran plasenta disertai pengeluaran darah kira-kira

100-200 cc (Mochtar, 2002 dalam Utami, 2014).


d) Kala IV
Pengawasan, selama 2 jam setelah bayi dan

plasenta lahir dengan mengamati keadaan ibu terutama

terhadap bahaya perdarahan post partum (Utami, 2014).


Obeservasi yang dilakukan melihat tingkat kesadaran

penderita, pemeriksaan tanda-tanda vital (tekanan darah,

nadi, dan pernapasan), kontraksi uterus dan terjadinya

perdarahan (Padila, 2015).


7. Proses persalinan kala II
8. Faktor-faktor yang mempengaruhi lama persalinan
Menurut liewellyin (2002) dalam Padila (2015) ada beberapa

faktor yang mempengaruhi lama persalinan antara lain:


a) Usia
Usia ibu merupakan salah satu faktor resiko yang

berhubungan dengan kualitas kehamilan atau berkaitan

dengan kesiapan ibu dalam bereproduksi. Usia kurang dari

20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, sehingga sering

timbul komplikasi persalinan. Umur lebih dari 35 tahun

berhubungan dengan mulai terjadinya regresi sel-sel tubuh

terutama dalam hal ini adalah endometrium (Cuningham,

2005)
Pada umur ibui kurang dari 20 tahun rahim dan

panggul belum tumbuh mencapai ukuran dewasa. Akibatnya

apabila ibu hamil pada umur ini mungkin mengalami

persalinan lama atau macet, karena ukuran kepala bayi lebih

besar sehingga tidak dapat melewati panggul. Sedangkan

pada umur ibu lebih dari 35 tahun, kesehatan ibu sudah mulai

menurun, jalan lahir kaku, sehingga rigiditas tinggi. Selain itu

beberapa penelitian yang dilakukan bahwa komplikasi

kehamilan seperti preeklampsi, abortus, partus lama lebih

sering terjadi pada usia dini dan usia lebih dari 35 tahun.
b) Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan ibu.

Sampai dengan paritas tiga rahim ibu bisa kembali seperti

sebelum hamil. Setiap kehamilan rahim mengalami


pembesaran, terjadi peregangan otot-otot rahim selama 9

bulan kehamilan. Akibat regangan tersebut elastisitas otot-

otot rahim tidak kembali seperti sebelum hamil setelah

persalinan. Semakin sering ibu hamil dan melahirkan,

semakin dekat jarak kehamilan dan kelahiran, elastisitas

uterus makin terganggu, akibatnya uterus tidak berkontraksi

secara sempurna dan mengakibatkan perdarahan pasca

kehamilan (Prawirohardjo, 2005).


c) Keadaan his
Proses persalinan dipengaruhi oleh banyak faktor,

salah satunya adalah faktor power. Power adalah kekuatan-

kekuatan yang ada pada ibu seperti kekuatan his dan

mengejan yang dapat menyebabkan servik membuka dan

mendorong janin keluar.


Faktor power atau kekuatan yang mendorong janin

keluar adalah faktor yang sangat penting dalam proses

persalinan, his yang tidak normal baik kekuatan maupun

sifatnya dapat menghambat kelancaran persalinan

(Manuaba, 2003).
d) Keadaan letak janin
Letak dan presentasi janin dalam rahim (passanger)

merupakan salah satu faktor penting yang sangat

berpengaruh terhadap proses persalinan, menurut Fraser

(2009), 98% persalinan terjadi dengan letak belakang kepala.


Mekanisme persalinan merupakan suatu proses

dimana kepala janin berusaha meloloskan diri dari ruang


pelviks dengan menyesuaikan ukuran kepala janin dengan

ukuran pelviks melalui proses sinklitismus, asinklitismus

posterior, asinklitismus anterior, fleksi maksimal, rotasi

internal, ekstensi, ekspulsi total, namun pada beberapa kasus

proses ini tidak berlangsung dengan sempurna, karena

adanya kelainan letak dan presentasi sehingga proses

tersebut pada umumnya berlangsung lama, akibat ukuran

dan posisi ukuran kepala janin selain presentasi belakang

yang tidak sesuai dengan ukuran rongga panggul

(Wiknjosastro, 2002).
e) Keadaan panggul
Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian

tulang padat, dasar panggul, vagina, introitus (lubang luar

vagina). Meskipun jaringan lunak, khususunya bayi, tetapi

panggul ibu jauh lebih berperan dalam proses persalinan.

Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya terhadap jalan

lahir yang relative kaku. Oleh karena itu ukuran dan bentuk

panggul harus ditentukan sebelum persalinan dimulai.

(Varney, 2008).
B. Asuhan Keperawatan Periode Intranatal