Anda di halaman 1dari 36

Gampong Pusong: Museum Sanitasi:

Labirin Kumuh Tak Mengapa Tidak ?


Berujung
12 23

Edisi 07/Tahun XII/Juli 2014 Karya Cipta Infrastruktur Permukiman

Permukiman Layak Huni


dan Berkelanjutan
dalam Kacamata
100-0-100

LENSA CK Pelantikan Pejabat Eselon 2 dan 3 dan Serah Terima


Jabatan di lingkungan Ditjen Cipta Karya
daftar isi Edisi 074Tahun XII4Juli 2014

Berita Utama

4 Permukiman Layak Huni


dan Berkelanjutan dalam
Kacamata 100-0-100

7 Menuju
100%
Akses Air Minum

9 Indonesia Bebas Kumuh


pada 2019

11 100%
Hak
Sanitasi Layak Jadi

liputan khusus

12 Gampong Pusong: Labirin


Kumuh Tak Berujung 4
info baru
9
15 Kementerian PU dan
UGM Kerjasama Bangun
Air Minum
Perdesaan Lewat KKN
Tematik

18 Cipta Karya Kembali


Berpartisipasi Dalam
Ekspedisi Bhakesra IV
2014

21 Berbasis
Groundbreaking TPS 3R
Masyarakat
Kabupaten Tapin
21
22 Delegasi Bangladesh
Belajar Penanganan
Permukiman Kumuh
Indonesia
26
23 Kementerian PU Fasilitasi
Kerjasama CSR PT
Semen Padang
23
inovasi

24 Museum Sanitasi:
Mengapa Tidak ? 30
26 Kegiatan 3R Sampah:
Antara Teknis Teknologis
dan Sinergitas

Gema PNPM

30 Kandang Sapi Sehat


yang Ramah Lingkungan
Berkat PLPBK

32 Sumbar Jalankan
Program Penataan
Lingkungan

2
Pelindung
editorial
Pelindung

Kemitraan
Budi Yuwono P
Imam S. Ernawi
Penanggung Jawab
Antonius Budiono
Penanggung Jawab

Akan Antarkan
Dewan Redaksi
Antonius Budiono
Susmono, Danny Sutjiono,
M. Sjukrul Amin, Amwazi Idrus,
GuratnoRedaksi
Dewan Hartono, Tamin MZ. Amin,

Keberhasilan 100-0-100
Nugroho
Dadan Tri UtomoMochammad Natsir,
Krisnandar,
M. Maliki Moersid,
Pemimpin RedaksiHadi Sucahyono,
Adjar Prajudi, Tamin MZ. Amin,
Dian Irawati, Sudarwanto
Nugroho Tri Utomo
Penyunting dan Penyelaras Naskah
T.M. Hasan, Bukhori
Pemimpin Redaksi Kinerja Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan
Bagian Produksi
Sri Murni Edi K, Sudarwanto
Erwin A. Setyadhi, Djoko Karsono, Umum dalam membangun infrastruktur permukiman dapat dilihat dari Rencana
Diana Kusumastuti, Bernardi Heryawan, Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ke-1 tahun 2004-2009 dan RPJMN
M. Sundoro, Redaksi
Penyunting Chandra RP. Situmorang,
ke-2 tahun 2010-2014. Dalam RPJMN ke-3 2015-2019, ada tiga output prioritas nasional
Fajar Santoso,
Bhima IlhamBuchori
Dhananjaya, Muhargiady,
Sri Murni Edi K, Desrah, di bidang Cipta Karya untuk mewujudkan kawasan permukiman yang layak huni
Wardhiana Suryaningrum, R. Julianto, dan berkelanjutan, yaitu pelayanan air minum, penanganan kawasan kumuh, dan
Bhima Dhananjaya,
Bagian Produksi Djati Waluyo Widodo, pelayanan sanitasi.
Indah Raftiarty,
Elkana Catur H.,Danang Pidekso
Dian Ariani,
Djati Waluyo Widodo
Pemerintah menetapkan target terhadap indikator outcome 2015-2019 antara lain
Bagian Administrasi & Distribusi 100% capaian pelayanan akses air minum, 0% proporsi rumah tangga yang menempati
Luargo, Joni Santoso, Nurfathiah
hunian dan permukiman tidak layak (kumuh) di kawasan perkotaan, dan 100% capaian
Bagian Administrasi & Distribusi
Kontributor
Luargo, Joni SantosoHadi Sucahyono,
pelayanan akses sanitasi. Terhadap target tinggi RPJMN 2015-2019 tersebut, Direktorat
Dwityo A. Soeranto,
Nieke Nindyaputri, R. Mulana MP. Sibuea, Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum menyebutnya dengan Key
Adjar Prajudi, Rina Farida, Didiet A. Akhdiat, Performance Indicators 100-0-100 sebagai aktualisasi visi Cipta Karya untuk mewujud
Kontributor
RG. Eko Djuli S, Dedy Permadi, Th Srimulyatini
Dwityo
kan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan pada lima tahun ke depan.
Respati,A. Soeranto,
Joerni R. MulanaSyamsul
Makmoerniati, MP. Sibuea,
Hadi,
M. Sundoro, Dian Irawati, Nieke Nindyaputri, Dalam pencapaian target 100-0-100, Ditjen Cipta Karya akan melibatkan semua
Hendarko Rudi S, Iwan Dharma S, Rina Agustin,
Prasetyo, Oloan MS., Hosen Utama, pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah, dunia usaha, maupun masyarakat,
Handy B. Legowo, Dodi Krispatmadi,
Aswin G. Sukahar, TM. Hasan, Kusumawardhani,
RudiSyaiful
Ade A. Arifin, Endang Setyaningrum,
Rachman, Aryananda Sihombing,
mengingat target yang sangat tinggi dan dibutuhkan dana yang sangat besar.
Alex A.
Dian Chalik,
Suci Djoko Mursito, N. Sardjiono,
Hastuti. Dirjen Cipta Karya, Imam S. Ernawi, menegaskan kemitraan menjadi kunci penting
Oloan M. Simatupang, Hilwan, Kun Hidayat S,
dalam menjalankan quick win 100-0-100 Cipta Karya dalam mewujudkan cita-cita
Deddy Sumantri, Halasan Sitompul,
Sitti Bellafolijani,
Alamat Redaksi M. Aulawi Dzin Nun,
permukiman layak huni dan berkelanjutan. Resources APBN ditegaskan tidak akan
Ade
Jl. Syaiful Rahman,
Patimura Aryananda
No. 20, Kebayoran Sihombing,
Baru 12110 sanggup mendukung target yang ditetapkan. Dari kebutuhan sekitar Rp770 triliun
Telp/Fax.
Agus Achyar,021-72796578
Ratria Anggraini, Dian Suci Hastuti, untuk 100-0-100, kemampuan APBN hanya sepertiganya. (Teks : Buchori)
Emah Sudjimah, Susi MDS Simanjuntak,
Didik S. Fuadi, Kusumawardhani, Airyn Saputri,
Email
Budi Prastowo, Aswin G. Sukahar,
publikasi_djck@yahoo.com
Wahyu K. Susanto, Putri Intan Suri,
Siti Aliyah Junaedi
website
http://ciptakarya.pu.go.id
Alamat Redaksi
Jl. Patimura No. 20, Kebayoran Baru 12110
Telp/Fax. 021-72796578
twitter
Email
@ditjenck
publikasi_djck@yahoo.com

Cover :
Ruang Terbuka Hijau di kawasan
permukiman di Kota Banjarmasin
(Foto : Buchori)

Buletin ini menggunakan 100%


kertas daur ulang (cyclus paper) Redaksi menerima saran maupun tanggapan terkait bidang Cipta Karya ke email publikasi_djck@yahoo.com
atau saran dan pengaduan di www.pu.go.id

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 3


berita utama

Permukiman Layak Huni


dan Berkelanjutan
dalam Kacamata
100-0-100
K
Lebaran masih menyisakan lantunan lagu awasan kumuh, baik di atas tanah legal (slum area)
maupun di atas tanah illegal (squatter), akan terus
lama bernama urbanisasi. Di tengah- berkembang biak apabila tidak dikondisikan.
tengah syair lagu tersebut, lazimnya akan Tantangan di depan mata semakin jelas, pemerintah
harus mengelola kawasan kumuh tersebut dengan
menyinggung kota-kota besar yang harus kebijakan yang tepat program-program yang terukur. Direktorat
bersiap dengan kualitas permukiman yang Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum mendapatkan
peran untuk menghilangkan kawasan kumuh tersebut dengan
turun akibat makin meluasnya hunian tidak melakukan penataan lingkungan maupun penyediaan Rumah
layak yang tercipta oleh kaum urban yang Susun Sederhana Sewa (Rusunawa).
Dalam Rencana Program Jangka Menengah Nasional
biasanya akan dijuluki kawasan kumuh. (RPJMN) ke-2, pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya
diarahkan untuk mewujudkan peningkatan akses penduduk ter
hadap lingkungan permukiman yang berkualitas. Pemerintah
SPAM IKK Aceh Besar

4
berita utama

mengidentifikasikan beberapa isu strategis untuk mewujudkan Sedangkan di sektor sanitasi, target akses 100% baru bisa tercapai
kawasan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan, dengan pendanaan Rp295 triliun yang diharapkan dari APBN
diantaranya yaitu rendahnya layanan air minum aman, rendahnya sebesar Rp94 triliun.
layanan sanitasi layak, meluasnya kawasan kumuh, dan pe Terhadap target berat pada 2019, Direktorat Jenderal Cipta
nanggulangan kemiskinan. Karya Kementerian Pekerjaan Umum menyebutnya dengan Key
Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah memberikan Performance Indicators 100-0-100. Bahasa sederhana tersebut
fasilitasi pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman merupakan aktualisasi visi Cipta Karya untuk mewujudkan per
seperti air minum, sanitasi, jalan lingkungan dan peningkatan mukiman yang layak huni dan berkelanjutan pada lima tahun ke
kualitas permukiman serta penyediaan rumah susun sederhana depan.
sewa (Rusunawa). Pelaksanaan pembangunan prasarana dan Tahun 2015 adalah tahun pertama dari periode pelaksanaan
sarana dasar permukiman tersebut juga dilaksanakan dengan RPJMN ke-3 tahun 2015-2019. Ditjen Cipta Karya bertekad bekerja
model pemberdayaan yang melibatkan masyarakat sejak pe tidak sekedar as usual, tidak bisa hanya bekerja berbasis output
rencanaan sampai dengan operasi dan pemeliharaan infrastruktur. tanpa penyempurnaan perangkat dan melakukan terobosan.
Pembenahan yang sedang dijalankan Ditjen Cipta Karya
Capaian dan Tantangan diantaranya adalah meluruskan pendekatan pembangunan yang
Capaian penyediaan akses air minum sampai dengan akhir tahun bersifat entitas yang menjadi payung program keterpaduan
2013 telah mencapai 67,7% penduduk. Berdasarkan perkiraan bidang Cipta Karya dalam menentukan delivery program. Dalam
maju hingga tahun 2015, Pemerintah optimistis target Millennium pendekatan entitas yang terpadu-baik aras spasial permukiman
Development Goals (MDGs) untuk sektor air minum sebesar 68,87% regional, kota, kawasan, maupun lingkungan- Ditjen Cipta Karya
dapat tercapai. Sedangkan capaian pelayanan sanitasi meningkat sudah mendesain program dan anggaran berdasarkan nilai
hingga 59,7% dari target MDGs sebesar 62,4% penduduk yang strategis kawasan dan kelengkapan peraturan yang dimiliki
diperkirakan dapat terwujud pada tahun 2015. Sementara menurut Pemda, yaitu Perda Rencana Tata Ruang Wilayah dan Perda
data Susenas 2011, luasan kawasan kumuh tersisa sebesar 12,75% Bangunan Gedung.
atau menurun 8,18% dari kondisi tahun 1993. Dalam pencapaian target 100-0-100, Ditjen Cipta Karya akan
Setelah hampir dipastikan mencapai target MDGs tahun 2015, melibatkan semua pemangku kepentingan, baik pemerintah
tantangan berat Indonesia di bidang infrastruktur permukiman daerah, dunia usaha, maupun masyarakat, mengingat target yang
sangat tinggi dan dana yang sangat besar.
Khusus untuk penanganan kumuh, akan diprioritaskan pada
kawasan-kawasan permukiman kumuh di kawasan strategis
kabupaten/kota dan kabupaten/kota KSN yang akan ditangani
secara terpadu sehingga dapat menjadi kawasan pemukiman
yang layak huni dan berkelanjutan. Sedangkan untuk air minum
dan sanitasi akan dilaksanakan dengan pendekatan entitas yang
diprioritaskan pada kawasan regional dan daerah-daerah rawan
air.

Kemitraan
Dirjen Cipta Karya, Imam S. Ernawi, menegaskan kemitraan
menjadi kunci penting dalam menjalankan quick win 100-0-100
Cipta Karya dalam mewujudkan cita-cita permukiman layak huni
dan berkelanjutan. Resources APBN ditegaskan tidak akan sanggup
mendukung target yang ditetapkan. Dari kebutuhan sekitar Rp770
triliun untuk 100-0-100 , kemampuan APBN hanya sepertiganya.
Karena itu, melalui Habitat Agenda Partners Indonesia, Ditjen
Cipta Karya sudah menggalang para mitra untuk mendaklarasikan
diri dalam kemitraan agenda habitat di Indonesia untuk terus
Pemanfaatan Air Minum di Kab Manokwari menggalang potensi dan memberikan kontribusi dalam pelak
sanaan Agenda Habitat, serta mendorong dan memperkuat upaya
adalah memberikan akses air minum 100%, mengurangi kawasan pemerintah dalam mewujudkan kehidupan masyarakat Indonesia
kumuh hingga 0%, dan menyediakan akses sanitasi layak 100% yang sehat, aman, nyaman, produktif, dan sejahtera baik secara
untuk masyarakat Indonesia pada 2019 atau di akhir RPJMN ke-3 fisik, ekonomi, maupun sosial budaya.
tahun 2015-2019. Semambat kemitraan juga digelorakan Walikota Bandung,
Ditjen Cipta Karya mengidentifikasi kebutuhan pendanaan Ridwan Kamil. Dengan lantang dia mempromosikan Bandung
untuk mencapai targat 100-0-100 tersebut. Di sektor air minum, Juara, termasuk di bidang permukiman yang layak untuk Masya
Indonesia membutuhkan Rp274,8 triliun untuk mencapai akses rakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Selain peraturan dan peren
100% yang diharapkan dari APBN sebesar Rp90,7 triliun. Untuk canaan yang kuat, Bandung tidak meremehkan kemitraan dengan
menurunkan luasan kawasan permukiman kumuh hingga 0%, para pemangku kepentingan.
Ditjen Cipta Karya memperkirakan kebutuhan pendanaan sekitar Di tangannya, kebijakan pro peningkatan kualitas permukiman
Rp200 triliun yang diharapkan dari APBN sebesar Rp65 triliun. semakin terlihat dengan meningkatnya nilai alokasi APBD untuk

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 5


berita utama

Dalam pencapaian target 100-0-100, Ditjen


Cipta Karya akan melibatkan semua pemangku
kepentingan, baik pemerintah daerah, dunia
usaha, maupun masyarakat, mengingat target
yang sangat tinggi dan dana yang sangat besar.

pengelolaan perumahan dan permukiman dari Rp14,6 miliar pada kawasan kumuh miskin, melibatkan masyarakat pemilik lahan dan
2013 menjadi Rp46,8 miliar pada 2014. Besaran alokasi anggaran bangunan sebagai shareholder.
memang menjadi variable penting untuk mendukung kebijakan Komitmen senada disuarakan Walikota Bogor, Bima Arya
dan program. Sugiarto. Ketika Tata Ruang sudah kalah oleh masyarakat,
Kota Bandung yang memiliki dokumen Strategi Pem urbanisasi, dan kolaborasi penguasa dan pengusaha, we are
bangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP) going no where, jelasnya di hadapan peserta kuliah umum
untuk pembangunan 13 Kawasan strategis, dokumen Rencana Direktur Eksekutif UN Habitat, Dr. Joan Clos bertema Sustainable
Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP) untuk Urbanization for Development, di Jakarta akhir Juni lalu.
Revitalisasi Kawasan Cikapundung (percontohan Nasional), dan Disebutnya, tantangan urbanisasi untuk permukiman per
Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan kotaan yang berkelanjutan harus didukung dengan perencanaan,
Permukiman Daerah (RP4D) menjadi salah satu kota sasaran desain, dan pembiayaan, serta kepemimpinan yang kuat. Dengan
prioritas penanganan kawasan kumuh. keempat elemen tersebut, Kota Bogor atau yang dulu dikenal
Kota Bandung juga sudah mempunyai Kelompok Kerja dengan Buitenzorg, bertekad menjadikan Kota Bogor sebagai
(Pokja) Revitalisasi. Tugasnya antara lain melakukan revitalisasi kota berkelanjutan dengan tulang punggung sosial budaya
Cikapundung tanpa menggusur, bedah rumah warga miskin, dan lingkungan. Kota yang menyumbang 600 ribu commuter ke
Gerakan Membangun tanpa Menggusur, Rumah Susun untuk Jakarta (separuh lebih dari total penduduk 1.004.831 jiwa) itu
warga miskin dan untuk guru buruh/honorer. telah mendeklarasikan diri untuk bergabung dalam Program
Kemitraan juga diusung Ridwan untuk menangani kawasan Pengembangan Kota Hijau (P2KH). (Teks : Buchori)
kumuh. Mulai tahun 2014 ini Pembangunan Hunian Vertikal untuk

6
berita utama

Menuju Akses Air Minum


100%
Baru saja bernafas lega, tanggung jawab
pemerintah untuk mengembangkan
pelayanan akses air minum kepada
masyarakat Indonesia dihadapkan pada
target 2019 yang lebih berat.

L
ega karena komitmen internasional Indonesia un acces, kantong APBN hanya mampu dirogoh sebanyak Rp90,7
tuk memberikan akses air minum kepada 68,87% triliun. Sisanya didapat dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp24,7
masyarakatnya sudah hamper dilewati. Berat karena triliun, APBD/CSR/PIP (Pusat Investasi Pemerintah) Rp98,9 triliun,
lima tahun ke depannya (2015-2019) ditarget mem PDAM Rp33 triliun, dan Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) Rp27,5
berikan universal acces (100%) untuk air minum dan triliun.
sanitasi. Laju pertumbuhan layanan akses air minum di Indonesia
Direktur Pengembangan Air Minum Ditjen Cipta Karya, telah tumbuh dengan cepat dalam delapan tahun terakhir.
Mochammad Natsir, mengungkapkan kemampuan APBN lima Capaian ini tidak terlepas dari dukungan RI 1 melalui Direktif
tahun ke depan diharapkan hanya sepertiga dari kebutuhan. Dari Presiden untuk pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum,
perkiraan kebutuhan Rp274,8 triliun untuk memenuhi universal baik jaringan perpipaan maupun bukan jaringan perpipaan (BJP)

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 7


berita utama

disebut dengan tujuh pilar Jakstranas. Tujuh pilar itu mencakup


Peningkatan Akses Air Minum, Peningkatan Kemampuan Pen
danaan, Peningkatan Kapasitas Kelembagaan, Pengembangan
dan Penerapan Norma Standar Pedoman dan Kriteria (NSPK),
Peningkatan Penyediaan Air Baku, Peningkatan Keterlibatan
Swasta dan Masyarakat (kemitraan), dan Inovasi Teknologi.
Tahun anggaran 2015 nanti dengan dukungan APBN Rp4,7
triliun, kegiatan pembinaan dan pengembangan SPAM akan
menyasar SPAM di 261 kawasan Masyarakat Berpenghasilan
Rendah (MBR), 237 SPAM di Ibu Kota Kecamatan (IKK), 1.622 SPAM
perdesaan, 177 SPAM Kawasan Khusus, dan 5 SPAM Regional.
Seiring target 100-0-100 Cipta Karya yang terus meng
gelinding, prioritas program pengembangan air minum dan
sanitasi kemudian diarahkan untuk mendukung pengurangan
kawasan permukiman kumuh menjadi 0% pada 2019. Strateginya
dukungan SPAM menurut Natsir adalah dengan Pengembangan
SPAM di perkoraan melalui PDAM terfasilitasi untuk SPAM di
kawasan MBR perkotaan, dan pembangunan SPAM baru berupa
SPAM di kawasan khusus dan SPAM perdesaan.
Spam petanu bali 300 liter per detik Lokasi yang menjadi sasaran pun tidak sembarangan. Saat
ini kebijakan delivery program Ditjen Cipta Karya mengarah pada
terlindungi. Presiden mengharapkan seluruh lapisan masyarakat prioritas penanganan kumuh di Klaster A dan B. Klaster A adalah
Indonesia sudah mendapat akses air minum aman pada 2020. pioritas Kabupaten/Kota Strategis Nasional (KSN) yang termasuk
Harapan presiden dijawab dalam Rancangan Rencana Program dalam Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Strategis
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ketiga (2015-2019) yang Nasional (PKSN), Kawasan Strategis Nasional (KSN), Masterplan
mencanangkan target akses 100% untuk air minum. Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
Natsir mengurai tantangan pencapaian target 2019 yang (MP3EI), dan Kawasan Perhatian Investasi (KPI). Kabupaten/kota
digolongkan dalam empat tantangan besar. Pertama, kondisi tersebut juga memiliki Perda RTRW dan Perda Bangunan Gedung.
PDAM sehat baru 50%, tarif belum full cost recovery (FCR), Klaster B adalah kabupaten/kota dengan kriteria yang sama
kehilangan air rata-rata nasional 33% dan idle capacity 22.000 dengan Klaster A dengan hanya memiliki Perda RTRW.
liter/detik. Kedua, rendahnya komitmen Pemda untuk pendanaan Kelima dukungan prioritas program sektor air minum antara
air minum. Ketiga, masih harus ditingkatkannya peran serta lain kegiatan multiyears, regional, dukungan program investasi
masyarakat melalui program-program pemberdayaan masyarakat (pinjaman perbankan, KPS, dll), Bantuan Program Penyehatan
seperti Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat PDAM, dan kabupaten/kota yang memiliki Rencana Induk Sistem
(PAMSIMAS) dan SPAM Bukan Jaringan Perpipaan (BJP). Keempat, Penyediaan Air Minum (RISPAM).
keterbatasan air baku. Selain itu, tahun 2015 juga memiliki program unggulan
Lebih detail Natsir memaparkan tujuh kebijakan dan strategi berupa kerjasama peningkatan SPAM Perdesaan melalui pelibatan
nasional dalam pemenuhan target akses air minum 100% yang mahasiswa KKN Tematik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk me
ningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui partisipasi aktif
mahasiswa dalam program KKN. Sedangkan tujuannya untuk
mewujudkan sistem penyediaan air minum perdesaan yang
berkelanjutan, mengingkatkan rasa memiliki masyarakat akan
sistem penyediaan air minum yang terbangun, dan mendorong
terwujudnya pengelolaan sarana dan prasarana sistem penyediaan
air minum yang baik oleh masyarakat.
Salah satunya melalui kerjasama antara Kementerian Pekerjaan
Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya dengan
Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum (SPAM) Perpipaan Berbasis Masyarakat di
perdesaan dengan pola Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, pada 10
Juli 2014.
Selain melalui KKN Tematik, program unggulan lainnya di
tahun 2015 ini adalah pengembangan SPAM Kampus. Rencana
Pembangunan SPAM Kampus akan dilaksanakan di Universitas
Gajah Mada (UGM) sebagai Pilot Project. SPAM yang akan
dibangun meliputi unit pengolahan air, jaringan distribusi hingga
fasilitas water tap (air minum) yang berada di lingkungan kampus.
Pengelolaan SPAM tersebut akan dilakukan oleh Perguruan Tinggi
Pemanfaatan Keran Air Minum dari PAMSIMAS di Sulteng yang bersangkutan. (Teks : Buchori)

8
berita utama

Indonesia Bebas Kumuh


pada 2019
S
Rencana penghapusan kawasan alah satu langkahnya adalah penghapusan wilayah
kumuh yang ditargetkan akan bersih pada 2020
permukiman kumuh menjadi 0% pada nanti, tentunya tanpa penggusuran.
2019 sudah menyebar luas ke tingkat Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama
(Ahok) menegaskan hal tersebut sangat mungkin
daerah. Reaksi cepat dilakukan Gubernur dilakukan. Caranya dengan membangun kampung deret, seperti
DKI Jakarta yang bertekad menjadikan Ibu yang telah ia dan Jokowi janjikan saat kampanye Pilkada Jakarta
tahun lalu.
Kota negara ini lebih indah dan tertata. Berdasarkan hitung-hitungan Kepala Dinas Perumahan
dan Gedung Pemerintah DKI Jakarta, lanjut Ahok, setidaknya
dibutuhkan sekitar Rp40 miliar untuk setiap kampung kumuh.
Dana untuk menghapus kawasan kumuh memang besar.
Direkorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum
telah merilis angka sekitar Rp200 triliun untuk penanganan
kawasan kumuh hingga 2019, baik dengan pencegahan maupun
peningkatan kualitas.
Dirjen Cipta Karya Imam S. Ernawi menjelaskan, pencegahan
dilakukan dengan pengawasan dan pengendalian yang
Peningkatan Kawasan Permukiman di Kota Balikpapan menekankan pada kesesuaian terhadap perizinan, standard

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 9


berita utama

wilayahnya dengan surat keputusan Walikota/Bupati sebagai sya


rat mendapatkan program Pemerintah (APBN).
Pemerintah memiliki target Rancangan Rencana Pem
bangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 di
bidang Cipta Karya untuk mengurangi kawasan kumuh 0 persen.
Saat ini, masih ada 12 persen kawasan kumuh sedangkan pada
tahun 2015 lebih dari 33 juta jiwa penduduk Indonesia tinggal di
permukiman kumuh, tutur Direktur Jenderal Cipta Karya Imam S
Ernawi.
Imam menjelaskan dua penanganan terhadap kawasan per
mukiman kumuh. Pertama, untuk kawasan kumuh di atas tanah
legal (slum area) akan dilihat apakah termasuk kumuh ringan,
sedang atau berat. Terhadap kawasan kumuh sedang sampai
berat akan dilakukan peremajaan kawasan (urban renewal), yaitu
dengan perbaikan atau peningkatan kualitas lingkungannya, dan
tidak perlu dibangun Rusunawa. Penanganan kawasan kumuh
teknis dan pemeriksaan sesuai dengan peraturan perundang- di atas tanah illegal (Squatter) seperti di bantaran sungai atau
undangan, serta melibatkan masyarakat dengan pendampingan pinggiran rel, maka Rusunawa jadi pilihannya, ujar Imam.
dan pelayanan informasi. Identifikasi tersebut menurut Hadi Sucahyono dilatarbelakangi
Sedangkan penanganan dengan peningkatan kualitas di belum tersedianya data dan informasi yang akurat di setiap daerah,
lakukan dengan tiga cara. Pertama, pemugaran, yaitu perbaikan yang dapat menginformasikan luasan kawasan kumuh yang perlu
dan pembangunan kembali menjadi permukiman layak huni. ditangani.
Kedua, peremajaan, untuk mewujudkan permukiman yang lebih Menurutnya, penanganan permukiman kumuh yang menjadi
baik guna melindungi keselamatan dan keamanan masyarakat tugas dan wewenang Pemerintah Daerah belum diimbangi
sekitar dengan terlebih dahulu menyediakan tempat tinggal dengan kemampuan Pemda dalam hal kapasitas SDM dan
bagi masyarakat. Ketiga, pemukiman kembali, yaitu pemindahan pembiayaan. Selain itu, penanganan permukiman kumuh yang
masyarakat dari lokasi yang tidak mungkin dibangun kembali/ telah berlangsung lama belum memberikan hasil yang optimal,
tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan/atau rawan bencana karena penanganan di lapangan belum terintegrasi, multi sektor
serta menimbulkan bahaya bagi barang ataupun manusia, dan berbasis kawasan, ungkap Hadi.
contohnya dengan penyediaan Rusunawa. Terkait dukungan dari daerah, belum lama ini anggota Komisi
Kawasan permukiman kumuh menurut Direktur Pengem III DPRD Kalimantan Timur, HM. Darlis Pattalongi meminta kepada
bangan Permukiman, Hadi Sucahyono, memiliki indicator yang Pemprov Kaltim dan kepala daerah di wilayahnya untuk tidak
mencakup enam aspek. Pertama kondisi bangunan hunian malu mengakui kondisi riil atas kekurangan dan kelemahan yang
dengan kriteria keteraturan, kepadatan, dan kelayakan bangunan terjadi di daerah, seperti kawasan kumuh. Darlis menyambut baik
hunian. Kedua, kondisi aksesibilitas (jalan lingkungan) dengan langkah Ditjen Cipta Karya Kementerian PU yang menetapkan
kriteria jangkauan dan kualitas jaringan jalan. Ketiga, kondisi kawasan kumuh berdasarkan Surat Keputusan Walikota/Bupati
drainase yang ditandai dengan kejadian genangan. Keempat, sebagai syarat mendapatkan alokasi anggaran untuk menangani
kondisi pelayanan air minum dengan kriteria kualitas sumber kawasan kumuh dari APBN. Ini merupakan kesempatan yang
air minum dan kecukupan pelayanan air minum. Kelima, kondisi baik. Tapi kuncinya adalah kita tidak boleh ada rasa malu apalagi
pengelolaan air limbah ditandai dengan prasarana sanitasi kekhawatiran dicap gagal terhadap apa yang menjadi kondisi riil
lingkungan. Keenam, kondisi pengelolaan persampahan ditandai di wilayahnya, ungkap Darlis kepada Kantor Berita Antara.
dengan pengelolaan persampahan lingkungan. (Teks : Buchori)
Penambahan luas kawasan kumuh banyak disebabkan
oleh pesatnya perkembangan perkotaan yang tidak diimbangi
dengan penyediaan infrastruktur permukiman yang memadai.
Kemampuan Pemerintah Kota yang tidak mampu menyediakan
layanan perumahan yang memadai serta tingginya angka
kemiskinan kemudian menciptakan kantong-kantong kawasan
kumuh di kawasan perkotaan.
Saat ini Ditjen Cipta Karya tengah memutakhirkan data
kawasan kumuh untuk menjadi baseline informasi dalam
penanganan kawasan kumuh. Dari sejumlah 511 kabupaten/
kota (termasuk lima kota di DKI Jakarta), 415 kabupaten/kota
diantaranya masuk dalam sasaran klaster A, B, C sebagai dasar
Ditjen Cipta Karya men-delivery programnya. Ada sekitar 3.088
kawasan permukiman kumuh dengan luas 34.127 Ha tersebar di
415 kabupaten/kota tersebut.
Dari 415 kabupaten/kota tersebut, sebanyak 129 kabupaten/
kota telah menetapkan kawasan permukiman kumuh di Penataan Kawasan Permukiman di Kabupaten Jeneponto

10
berita utama

100% Sanitasi Layak


Jadi Hak

Untuk mencapai universal acces sanitasi


pada tahun 2019, masih ada deviasi
40,29% jika diukur dari capaian layanan
pada akhir 2013 sebesar 59,71%. Layanan
sanitasi terdiri dari pengolahan air limbah,
pelayanan persampahan dan saluran
drainase. Pada tahun 2004 layanan
sanitasi baru mencakup 38,13% penduduk
Indonesia.

B
eberapa permasalahan dan tantangan yang 764 kawasan, infrastruktur drainase perkotaan di 53 kabupaten/
dihadapi dalam pengembangan sektor sanitasi. kota, Tempat Pemrosesan Akhir Sampah di 41 kabupaten/kota
Pertama, rendahnya kesadaran seluruh stakeholder dan infrastruktur Tempat Pengolahan Sampah Terpadu/3R di 127
terhadap peranan penanganan persampahan dan kawasan.
drainase dalam mendukung kualitas lingkungan
hidup yang baik. Kedua, masih belum optimalnya prioritas Sinergi Menuju Universal Acces
pendanaan Pemerintah Daerah dalam mendukung sektor Kemitraan menjadi kunci penting dalam meraup dukungan
sanitasi hal ini terlihat dari Laju pertumbuhan anggaran untuk pendanaan yang membentangkan gap Rp200 triliun. Menurut
penanganan layanan sanitasi hanya berkisar 1-2 persen per tahun. Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman
Ketiga, sulitnya mendapatkan areal yang memadai untuk tempat (PPLP) M. Maliki Moersid, menyebut contoh kemitraan dengan
pembuangan sampah (baik tempat pembuangan sementara kementerian/lembaga dan Pemda dalam bentuk Kelompok Kerja
maupun tempat pembuangan akhir). (Pokja) Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Nasional
Layanan sanitasi membutuhkan dorongan untuk mencapai yang melibatkan Bappenas, Kemendagri, Kemenkes, Kemen LH
MDGs. Apabila mengacu kembali pada target MDGs yaitu 62,41 dan sebagainya, Pokja Provinsi dan Kabupaten/kota.
% penduduk yang mendapatkan layanan sanitasi yang layak, Sinergi juga dapat ditempuh dengan pendayagunaan pe
maka Pemerintah membutuhkan dukungan agar langkah yang manfaatan Sanitation Partnership Group antara laiun IUWASH
tinggal sedikit lagi untuk mencapai target tersebut dapat di (pemicuan, pendampingan, kelembagaan, dan perencanaan),
wujudkan. Pemerintah berusaha mencapai target ini baik melalui INDII (fasilitasi perencanaan/masterplan air limbah), AUSAID
pembangunan infrastruktur skala besar ataupun melalui kegiatan (hibah air limbah), dan BORDA (pemberdayaan sanitasi).
pemberdayaan masyarakat. Selanjutnya menggali potensi fasilitator dan Duta Sanitasi
Untuk target akses 100% baru bisa tercapai dengan pen sebagai agen perubahan yang terdiri dari Duta Sanitasi. Fasilitator
danaan Rp295 triliun dengan harapan dianggarkan melalui APBN provinsi melalui Program Percepatan Sanitasi Permukiman (PPSP)
sebesar Rp94 triliun. Kendala pendanaan ini tergambar dari sebanyak 70 orang dan SANIMAS 50 orang. Fasilitator di tingkat
realisasi kebutuhan pendanaan tahun 2015 yang diperkirakan kabupaten terdiri dari 400 orang PPSP dan 82 orang SANIMAS,
sekitar Rp10,2 triliun menjadi Rp2,3 triliun dalam Rencana Kerja fasilitator kelurahan dengan 2.500 orang dari SANIMAS dan 500
Pemerintah (RKP). orang dari kegiatan pemberdayaan 3R, ditambah dengan Duta
Dengan modal tersebut, Direktorat Pengembangan Pe Sanitasi yang berjumlah sekitar 1.014 anak.
nyehatan Lingkungan Permukiman menetapkan rencana ke Langkah sinergi lainnya, yaitu memanfaatkan alternatif
giatan sesuai RKP yang mengacu pada Peraturan Presiden No. sumber pendanaan dari perusahaan nasional dan local melalui
43/2014. Diantaranya pembangunan insfrastruktur air limbah di program Corporate Social Responsibility (CSR). (Teks : Buchori)

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 11


liputan khusus

Gampong Pusong:
Labirin Kumuh Tak Berujung
Dody Surya Maulidi*)

G
Fasilitas air bersih, sanitasi, drainase, dan
ampong (Desa) Pusong terletak di wilayah
persampahan yang layak menjadi cerita Kecamatan Banda Sakti di utara pusat Kota
pengantar tidur bagi warga Gampong Lhokseumawe. Kawasan Gampong Pusong sejak
dulu sudah merupakan kawasan permukiman
Pusong, Kota Lhokseumawe, Aceh. Tidak nelayan karena terletak di bibir pantai yang
tersedianya sarana dan prasarana dasar langsung berhadapan dengan Selat Malaka. Setelah dibangun
Pusat Pendaratan Ikan (PPI), kawasan tersebut berubah dan ber
tersebut menambah kompleks masalah kembang menjadi sebuah permukiman baru dengan jumlah pen
permukiman, sehingga kawasan Pusong duduk lebih kurang 6.000 jiwa atau 1.500 KK.
Proporsi kemampuan ekonomi masyarakat di daerah tersebut
terlihat kumuh dan kotor. 40 persennya merupakan masyarakat yang berada di bawah garis
kemiskinan yang mendiami permukiman kumuh tidak layak huni.
Berdasarkan informasi dari perangkat desa setempat, 10 persen
dari warga Gampong Pusong ini berprofesi sebagai tukang jemur
ikan teri dengan produksi per bulan tidak kurang dari 50 ton, 10
persen lainnya berprofesi sebagai penangkap kerang serta 80
persen berprofesi sebagai nelayan tradisional.
Saat ini masyarakat Pusong merupakan pemasok utama
kebutuhan ikan seluruh warga kota Lhokseumawe. Sudah menjadi
fenomena umum, masyarakat kumuh dan miskin selalu kurang
beruntung, hal ini juga dialami oleh masyarakat Pusong. Kondisi

12
liputan khusus

mereka dari tahun ke tahun menempati rumah tidak layak huni Kondisi Infrastruktur Permukiman
yang terlihat sangat kontras dibanding dengan warga menengah Bicara infrastruktur Cipta Karya, fasilitas air bersih dan sanitasi yang
ke atas. layak menjadi cerita pengantar tidur bagi warga Pusong. Tidak
Dengan luas 6 Ha dari total 20 Ha, Pusong selalu terendam air tersedianya fasilitas air bersih, sanitasi, drainase dan persampahan
laut kala pasang purnama. Desa tersebut sering terendam oleh menambah kompleks masalah permukiman, sehingga kawasan
laut mulai dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 12.00 siang sehingga Pusong terlihat kumuh dan kotor. Tidak adanya pipa distribusi
menjadi kendala utama dalam pelaksanaan pembangunan PDAM dan kondisi lahan permukiman tidak dapat membangun
infrastruktur permukiman.
Informasi yang diperoleh dari Kabid Program dan Perencanaan
Dinas Pekerjaan Umum Kota Lhokseumawe, Tuti Indriani, melalui
program BRR pada tahun 2008, sebanyak 119 KK atau 581 Jiwa
pengungsi dari Desa Pusong pernah direlokasi ke Desa Meunasah
Blang Crum, Kecamatan Muara Dua. Sebagian dari pengungsi
Pusong sudah menempati rumah yang dibangun oleh BRR Aceh-
Nias, serta sebagian masih menempati barak. Namun, akibat
adanya masalah dengan pelaksanaan proyek pembangunan
serta sulitnya akses masyarakat menuju lokasi pekerjaan, me
nyebabkan pendapatan yang diperoleh menurun sehingga pe
ngungsi Pusong kembali ke tempat asalnya. Penduduk Pusong
beranggapan bahwa mereka adalah nelayan, yang hidupnya akan
selalu berada di pesisir pantai dan berdekatan dengan laut, maka
mereka enggan untuk direlokasi ke tempat lain selain di pesisir
pantai, ujar Tuti Indriani.

sumur gali dangkal akibat faktor pasang surut laut menyebabkan


masyarakat kesulitan dalam memperoleh air bersih. Sumur
bor pada Puskesmas setempat merupakan opsi mereka dalam
memperoleh air bersih. Namun untuk mendapatkan air bersih ini
cenderung dilakukan secara liar dan illegal dengan menyambung
pipa yang dibeli sendiri oleh warga ke sumur bor tersebut. Jarak
dari hunian ke Puskesmas lebih kurang 500 - 800 meter, sehingga
tampak sambungan-sambungan pipa liar yang tidak teratur dari
puskesmas sampai kerumah-rumah warga.
Akibat tidak adanya pipa distribusi PDAM yang melayani
kawasan tersebut sehingga untuk memperoleh air warga harus
memasang pipa ke sumur bor milik Puskesmas setempat, ujar
seorang warga.
Begitu pun dengan masalah drainase, sanitasi dan persam
pahan. Tidak adanya saluran pembuangan, banyaknya pe ng
gunaan WC cemplung pada rumah-rumah warga, serta tidak
adanya tempat pembuangan sampah sementara, membuat warga
menjadi tidak peduli akan kebersihan dan kesehatan lingkungan
mereka sendiri. Kondisi ini diperparah dengan pasang surut air
laut yang berakibat desa ini setiap saat terendam. Sudah tentu,
seluruh air genangan limbah rumah tangga dan sampah akan
terperangkap dan bercampur dengan air pasang laut sehingga
menimbulkan bau yang tidak sedap dan menjadi sumber penyakit
bagi warga Pusong.
Kondisi-kondisi di atas menambah runyam masalah sanitasi
dan kesehatan. Untuk menangani permasalahan di atas, Pemko
Lhokseumawe melalui dana APBK (Anggaran Pendapatan Belanja
Kabupaten) pernah membangun Septink Tank dan WC Komunal,
namun fasilitas ini tidak termanfaatkan oleh warga akibat tidak
tersedianya sarana air bersih, disamping tidak adanya kesadaran
warga sendiri akan kebersihan dan pengelolaan fasilitas yang
sudah terbangun.

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 13


liputan khusus

drainase dan persampahan. Dukungan Satker Pengembangan


Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP) dalam pemba
ngunan infastruktur air limbah, drainase dan penyediaan Tem
pat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) di lokasi sekitar
permukiman bisa menjadi solusi dalam penanganan masalah
sanitasi dan penyehatan lingkungan, sehingga kawasan menjadi
lebih bersih dan sehat. Adapun Satker Penataan Bangunan dan
Lingkungan (PBL) dapat merevitalisasi kawasan tersebut, sehingga
dapat dijadikan sebagai kawasan bisnis dan pariwisata kuliner.
Adanya pengunjung yang datang ke Pusong dapat mengubah
kebiasaan buruk dan pola pikir masyarakat Pusong terhadap
pentingnya menjaga kesehatan lingkungan sekitar mereka.
Pada gilirannya, kawasan mereka yang awalnya terkesan kumuh
dan kotor, dapat mejadi lebih bersih dan asri. Selain itu, dapat
membuka lapangan kerja bagi masyarakat Pusong sehingga
meningkatkan taraf hidup dan perekonomian masyarkat Pusong.

Keterpaduan Cipta Karya


UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Per
mukiman membagi tugas dan kewenangan Pemerintah Pusat,
Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Dalam
hal ini, Pemerintah kabupaten/kota menyelenggarakan fungsi
operasionalisasi dan koordinasi pelaksanaan kebijakan kabupaten/
kota dalam penyediaan rumah, perumahan, permukiman, ling
kungan hunian, dan kawasan permukiman.
Dengan keterbatasan yang dimiliki kota Lhokseumawe dalam
menangani Kawasan Kumuh Pusong ini, Satker Bangkim Direktorat
Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum selaku leading
sector penanganan kawasan kumuh melalui sumber dana APBN
tahun 2014 sedang melakukan penanganan sebagian kawasan
kumuh Pusong. Hal ini sesuai dengan target pemerintah pusat Penanganan kawasan kumuh secara menyeluruh tidak bisa
untuk mencapai kawasan bebas kumuh 100 % pada tahun 2019. dilepaskan dari perencanaan yang matang dan diiringi dengan
Seiring dengan target RPJMN 2015-2019 untuk penanganan pengendalian yang berkesinambungan agar hasil pelaksanaan
kawasan kumuh yang diharapkan 0% pada tahun 2020, dimana didapat sesuai dengan arah dan kebijakan yang tertuang dalam
juga telah didahului dengan pelaksanaan identifikasi kawasan rencana tata ruang wilayah. Disinilah peran Satker Randal sangat
kumuh perkotaan, pada prinsipnya penuntasan kekumuhan tidak strategis sebagai fasilitator pembangunan di daerah.
lagi dapat dilakukan secara sporadis. Penanganan kekumuhan Keberhasilan penanganan kawasan kumuh dapat dicapai
berbasis kawasan harus dilakukan dengan terintegrasi oleh semua apabila ada kemauan, kesadaran, perencanaan yang matang
aspek, dimana Kementerian PU adalah penyedia infrastrukturnya, dan kerjasama yang kuat antar seluruh pemangku kepentingan.
yang diikuti oleh Satker lain dari sisi sosial dan peningkatan Pemerintah dalam membangun infrastruktur permukiman harus
perekonomian masyarakat. konsisten dan sustainable (berkelanjutan) sehingga hasilnya
Terhadap kawasan kumuh Gampong Pusong ini, sejak menjadi tepat guna dan langsung bermanfaat bagi masyarakat.
awal kami sudah melakukan koordinasi kepada pihak Pemko Selain itu, masyarakat sebagai penerima manfaat dari infrastruktur
Lhokseumawe, melalui kepala daerah dan jajarannya, dengan permukiman tersebut juga harus bisa menjadi lembaga pengelola
harapan penanganan infrastruktur yang akan kita lakukan pada dari infrastruktur terbangun.
kawasan ini menjadi merupakan pemicu bagi Pemko untuk Hubungan simbiosis mutualisme harus tumbuh dan terjalin
melakukan kegiatan lannya, ujar T. Davis F. Hamid, selaku PPK dengan baik, yang menghasilkan sebuah kepercayaan antara
Satker Bangkim Provinsi Aceh. Pemko diharapkan menyadari masyarakat dan Pemerintah, dimana masyarakat akan tertib dalam
bahwa penanganan kawasan kumuh ini merupakan investasi menjaga lingkungan yang diwujudkan seperti tidak membuang
bagi daerah yang akan berperan meningkatkan pendapatan sampah sembarangan, tidak melakukan sambungan liar, dan
masyarakat, tambah Davis. menggunakan fasilitas MCK yang sudah dibangun.
Kompleksnya permasalahan kumuh ini tentu tidak bisa Butuh waktu lama dalam menumbuhkan kepercayaan
diselesaikan oleh satu satker sektor Bangkim saja, namun harus (trust), namun dalam sekejap dapat hancur jika kita keliru dalam
didukung oleh satker sektoral lainnya. Pemenuhan kebutuhan bertindak. Inilah sekelumit dinamika penanganan kawasan kumuh
air bersih harus didukung oleh Satker Peningkatan Kinerja Pe Pusong.
ngelolaan Air Minum (PKPAM) dengan melakukan pemasangan
pipa distribusi PDAM, sehingga kawasan tersebut dapat terlayani *) Asisten Perencanaan Satker Perencanan dan Pengendalian
kebutuhan air bersih. Begitu juga halnya untuk masalah sanitasi, Program Infrastruktur Permukiman (Randal PIP) Provinsi Aceh

14
info baru

Kementerian PU dan UGM


Kerjasama Bangun Air Minum
Perdesaan Lewat KKN Tematik

K
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) erjasama antar instansi yang terkait dengan program
pemerintah ini bertujuan untuk mendukung
melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya percepatan penyediaan akses aman air minum 100%
menandatangani kerjasama dengan pada tahun 2019.
Penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS)
Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk tersebut dilakukan oleh Direktur Jenderal Cipta Karya Imam
pengembangan Sistem Penyediaan S. Ernawi dan Wakil Rektor UGM Suratman usai menerjunkan
mahasiswa KKN-PPM (Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat)
Air Minum (SPAM) Perpipaan Berbasis UGM di Graha Shaba Pramana UGM. Program KKN Tematik UGM
Masyarakat di perdesaan dengan pola ini diharapkan dapat direplikasi oleh Perguruan Tinggi lain yang
menjadi mitra KKN Tematik sebagai pengembangan Tri Dharma
Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, di Perguruan Tinggi sekaligus penguatan pengelolaan SPAM Per
Yogyakarta (10/7). desaan.
Imam S. Ernawi mengungkapkan, sinergitas antara Tri Dharma

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 15


info baru

Perguruan Tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian dan Jenderal Cipta Karya selalu berupaya mendorong terwujudnya
pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat) dengan permukiman layak huni dan berkelanjutan di tiap-tiap kota dan
pembangunan infrastruktur SPAM perdesaan merupakan formula kawasan. Kedepannya model pembangunan bidang Cipta Karya
yang sempurna untuk mewujudkan SPAM Perdesaan berke akan menonjolkan entitas, melalui sinergitas antar sektornya
lanjutan untuk kesejahteraan masyarakat desa. yang terdiri dari sektor air minum, penyehatan lingkungan
Kerjasama tersebut memiliki tujuh ruang lingkup. Pertama, permukiman, pengembangan permukiman, serta penataan ba
penguatan manajemen KKN Tematik SPAM perpipaan berbasis ngunan dan lingkungan. Program permukiman yang layak huni
masyarakat. Kedua, pembentukan dan penguatan pengelolaan dan berkelanjutan dapat disederhanakan konsepnya yaitu sasaran
SPAM perpipaan berbasis masyarakat dengan pola KKN Tematik. 100-0-100 Post MDGs 2019, yang artinya adalah 100% akses aman
Ketiga, pelaksanaan replikasi program KKN Tematik kepada air minum, 0% kawasan permukiman kumuh dan 100% akses
perguruan tinggi mitra. Keempat, pelaksanaan workshop kemitraan sanitasi layak, ujar Imam.
KKN Tematik. Kelima, pelatihan kepada Perguruan Tinggi Mitra. Di hadapan sekitar 6.663 mahasiswa KKN Tematik, Dirjen
Keenam, pemantauan dan evaluasi terhadap kegiatan KKN Cipta Karya mengajak mereka untuk mewujudkan Desa Lestari
Tematik. Ketujuh, pembiayaan kegiatan pembinaan pengelolaan di daerah penempatannya. Salah satu persoalan penting di desa
SPAM perpipaan berbasis masyarakat dengan pola KKN Tematik. adalah akses air minum aman yang membutuhkan pengelolaan
Imam menambahkan, Kementerian PU melalui Direktorat yang baik. Nah adik-adik mahasiswa yang mengikuti KKN
tematik air minum perdesaan kiranya bisa membantu masyarakat
desa nantinya, bagaimana mereka lebih bisa merasakan me
miliki air minum perdesaan yang lebih baik. Mahasiswa bisa
membantu dengan perencanaan teknisnya, membantu dalam
pengorganisasian kelembagaan, mengatur iuran yang baik agar
terjangkau masyarakat. Sehingga semua itu bisa menghidupkan
untuk pemeliharaan air minumnya, dan lain-lain, ungkap Imam.
Diakuinya, bila permukiman di pedesaan saat ini masih sangat
perlu tingkatkan. Melalui pemberdayaan kemampuan masyarakat
desa, mahasiswa mewujudkan permukiman di perdesaan yang
lebih lestari atau berkelanjutan. Mereka diharapkan bisa mem
bangun desanya, dan salah satu masalah dari permukiman di
pedesaan adalah terkait air minum.

16
info baru

SPAM Perdesaan ini. Kelima lokasi tersebut akan diprioritaskan


untuk daerah-daerah pedesaaan yang sulit mendapatkan air,
seperti di Provinsi Nusa Tengagra Barat, Sulawesi Tenggara dan Bali
yang pernah menjadi lokasi kegiatan mahasiswa KKN PPM UGM.
Sumber air pada Sistem Penyediaan Air Minum Namun kita tetap melibatkan universitas lokal, ujarnya.
(SPAM) Perdesaan menjadi bagian vital untuk Sistem penyediaan air minum yang berbasis masyarakat
ini menurut Suratman tidak diarahkan berbentuk badan usaha
diperhatikan kelestariannya. seperti perusahaan air milik daerah, melainkan dikelola masyarakat
setempat lewat lembaga yang keanggotaannya terdiri dari warga

Imam berharap keterlibatan mahasiswa KKN PPM UGM dapat


mempercepat pembangunan sarana dan prasarana air minum
pedesaan. Tersedianya suplai kebutuhan air minum ini nantinya
diharapkan mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
dan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi desa setempat.
Dijelaskan, pengembangan SPAM perdesaan mengambil porsi
yang cukup signifikan dalam mengejar target 100% pelayanan air
minum pada 2019. Sarana dan prasarana air minum di perdesaan
selain untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, juga
diharapkan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan ikut
mendorong pertumbuhan ekonomi desa setempat.
UGM dan Kementerian PU telah menyelenggarakan pendam
pingan SPAM Perdesaan yang saat ini menghasilkan lebih dari 647
pengurus SPAM Perdesaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

sekitar. Air dari rakyat untuk rakyat, kita fasilitasi pengetahuan dan
teknologinya sedangkan pembangunan fisik sepenuhnya lewat
dana Kementerian PU, katanya.
Antusiasme terlihat dari peserta KKN seperti Suci Alamanda,
mahasiswi Fakultas Kehutanan yang akan ditempatkan di Sangihe
Sulawesi Utara. Dia ingin mengajak masyarakat setempat me
manfaatkan sumber air yang ada untuk disalurkan melalui
perpipaan ke rumah tangga dengan sistem sederhana yang
masyarakat bisa.

Perhatikan Sumber Air


Sumber air pada Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Perdesaan
menjadi bagian vital untuk diperhatikan kelestariannya. Ditjen
Cipta Karya menaruh harapan besar kepada para mahasiswa
melalui KKN Tematik Air Minum Perdesaan untuk membantu
para pengelolan SPAM perdesaan dari mulai menjaga sumber air
hingga pengelolaan manajemen.
Hal itu disampaikan Imam S. Ernawi saat berdialog dengan
Tantangannya saat ini adalah bagaimana mereplikasi konsep KKN Pengelola Air Bersih Sapta Tirta Manunggal Padukuhan Kepitu
Tematik ini kepada perguruan tinggi di luar DIY, kata Imam. Trimulyo Kabupaten Sleman. Dalam memanfaatkan air bersih,
Imam menegaskan, mahasiswa adalah generasi emas calon haruslah memperhatikan kelestarian sumber airnya,jangan sampai
pemimpin yang akan menentukan arah bangsa. Merupakan hal sumber air tersebut mati, kata Imam.
normal jika adik-adik menemukan cinta pada waktu KKN, namun Imam menambahkan, sumber air yang dalam hal ini adalah
merupakan hal yang luar biasa jika adik-adik dapat memahami sumur harus dijaga kelestariannya agar tidak mati. Dalam
fungsi KKN dalam membantu masyarkat, ujarnya. menggali sumur pun harus diperhatikan ketika sudah mencapai
Sementara Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian lapisan batu dasar, jangan digali lagi karena lapisan batu tersebut
kepada Masyarakat UGM, Suratman, mengungkapkan ada lima merupakan lapisan kedap air, jika dilakukan penggalian terus
lokasi di luar Jawa yang nantinya menjadi prioritas dari program menembus lapisan batu tersebut maka sumber air akan rusak atau
kerjasama Kementerian PU dan UGM dalam pengembangan hilang, jelas Imam. (Teks : Buchori)

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 17


info baru

Cipta Karya Kembali Berpartisipasi


Dalam Ekspedisi Bhakesra IV 2014

S
Ditjen Cipta Karya Kementerian PU ekretaris Direktorat Jenderal Cipta Karya Dadan
Krisnandar ditemui terpisah mengungkapkan ini
kembali berpartisipasi mensukseskan keempat kalinya Ditjen Cipta Karya mengikuti
Ekspedisi Bhakti Kesra Nusantara ekspedisi Bhakti Kesra Nusantara. Kegiatan ini
bertujuan untuk memberikan bantuan sosial dari
(Bhakesra) IV tahun 2014 bersama berbagai kementerian/lembaga/organisasi, penyuluhan dan
Kementerian Koordinator Bidang pengobatan gratis, serta memecahkan permasalahan pulau-pulau
yang dikunjungi. Dari pelaksanaan tahun 2011 sampai 2013,
Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra). sudah 27 pulau terluar dan terpencil yang dikunjungi Bhakesra
Peserta ekspedisi dilepas langsung dalam dan untuk tahun 2014 dilaksanakan di 3 pulau, yaitu Pulau Buton
di Kabupaten Buton, Pulau Obi di Kabupaten Halmahera Selatan
upacara pelepasan oleh Menko Kesra, dan di Raja Ampat, kata Dadan.
Agung laksono di Dermaga Kolinlamil Kegiatan yang dilaksanakan selama 22 hari (6-28 Juni 2014) ini
Tanjung Priok, Jakarta pada Jumat (6/6). merupakan tindak lanjut dari kunjungan kerja tiga Menteri yaitu
Menteri Perekonomian Kesejahteraan Rakyat, Menteri Pertahanan
serta Menteri Riset dan Teknologi ke pulau Marampit di Provinsi
Sulawesi Utara pada awal 2011 lalu. Dukungan nilai bantuan dari
berbagai pihak lebih besar dari tahun sebelumnya yaitu sebesar
Rp.120 miliar, selain itu jumlah peserta pendukung juga lebih
banyak yakni 90 peserta.
Pelaksanaan Ekspedisi Bhakti Kesra nusantara ini, merupakan

18
info baru

salah satu kegiatan yang memberikan manfaat kepada masyarakat.


Kegiatan semacam ini sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat
yang berada di pulau-pulau terluar dan tertinggal khususnya
masyarakat.
Contohnya di Kota Pasrwajo, Buton, Sulawesi Utara. Pemerintah
dan masyarakat Buton mengucapkan selamat datang kepada tim
Ekspedisi Bhakesra nusantara tahun 2014 di Kabupaten Buton.
Hal tersebut diungkapkan oleh Bupati Buton, Samsu Umar Abdul
Samiun saat menyambut kehadiran tim Ekspedisi Bhakesra di
kepulaun Buton, Rabu (10/06/2014).
Potensi kelautan dan perikanan serta potensi pariwasata
(wisata alam, wisata bahari, dan wisata budaya) di Kabupaten Buton
secara bertahap telah dan akan terus di kelola untuk kesejahteraan
masyarakat, selain itu Pemerintah Daerah memberikan perhatian watt, 1 unit pompa alcon 2 inchi, jerigen lipat 10 liter 500 buah.
terhadap peningkatan sumber daya manusia melalui peningkatan Luas wilayah yang ada di Raja Ampat dari utara sampai selatan
bidang pendidikan dan kesejahteraan serta pelayanan sosial. 80% laut dan 20% daratan. Infrastruktur Cipta Karya banyak
Program ini sejalan dengan program tim Ekspedisi Bhakesra terdapat di kampung-kampung, dan proyek yang sudah berjalan
yang menyalurkan bantuan sosial, pasar murah, penyuluhan, adalah air bersih, rumah rakyat dan jalan seminisasi, ungkap
pengobatan gratis, dan kegiatan lainnya. Ekspedisi Bhakesra Miklas.
kemudian melanjutkan perjalannya menuju Pulau Obi di Halma Miklas mengharapkan dengan adanya kegiatan seperti ini tiap
hera Selatan dan di Raja Ampat. tahunnya dapat membantu mendukung program yang dijalankan
Kepala Dinas Cipta Karya Raja Ampat Miklas saat menyambut oleh Dinas PU dalam membangun infrastruktur Permukiman.
kedatangan Tim Ekspedisi Bhakesra yang menaiki KRI Banjarmasin Dinas PU memilih salah satu kampung yang menjadi prioritas yang
592 pada Kamis (19/06/2014) mengungkapkan rasa terima ka akan dibenahi infrastrukturnya, kemudian dilanjutkan dengan
sihnya atas bantuan yang diberikan untuk masyarakat. Bantuan kampung yang lain karena terbatasnya anggaran yang ada.
tersebut berupa 500 meter pipa HDPE 32 mm, 1000 meter pipa Kabupaten Raja Ampat terkenal dengan potensi wisata baha
HDPE 25 mm, Hidran Umum 1000 liter 5 unit, 1 unit genset 2000 rinya karena memiliki terumbu karang dan biota laut yang terbaik

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 19


info baru

depan pada sektor unggulan yaitu perikanan dan kelautan serta


sektor pariwisata bahari.
Lebih lanjut, Marcus menyatakan hal tersebut dibuktikan
dengan akan diadakannya event besar yaitu Sail Raja Ampat 2014
sebagai gerbang yang akan mengantarkan Kabupaten Raja Ampat
ke percaturan Destinasi Internasional. Saya harap Bhakesra ini
semakin memperkuat serta mengukuhkan Kabupaten Raja Ampat
sebagai tujuan wisata dunia, dan semoga rangkaian kegiatan ini
berjalan dengan lancar, harap Marcus. (Teks: Aji)

di dunia, juga kondisi alamnya berupa pulau dan pantai yang


masih asri.
Hal tersebut diungkapkan Bupati Raja Ampat Marcus
Wanma saat menerima kedatangan Tim Bhakti Kesra Nusantara
IV (Bhakesra) 2014 di Pulau Waigeo pada Kamis (19/06/2014).
Selamat datang dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas
kunjungan di Kabupaten Raja Ampat, kata Marcus.
Marcus mengungkapkan, kunjungan ini merupakan sebuah
penghargaan dan motivasi bagi kami, sebagai kabupaten pe
mekaran yang memiliki tekad untuk mengungkapkan jati diri
sebagai Kabupaten Bahari, serta menggantungkan harapan masa

20
info baru

Groundbreaking TPS 3R
Berbasis Masyarakat
Kabupaten Tapin
Hardian Wahyudi*)

Bupati Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan


Arifin Arpan dan Wakil Bupati Sufian
Noor melakukan peletakan batu pertama
pembangunan TPS 3R skala kawasan
di daerah Kelurahan Rantau Kanan
Lingkungan, Pasar Kraton Rantau, Selasa
(15/07/2014).

Selatan menyampaikan selama ini pembangunan 3R biasanya


dilaksanakan oleh pihak ke tiga atau kontraktor, namun di tahun
2014 ini direncanakan dan dibangun serta diawasi oleh masyarakat
lewat KSM Bersemi dan tentu tidak lepas dari dukungan yang luar
biasa dari pihak Pemkab terutama Bupati dan Kepala Distakober.
Kami berharap ini bisa menjadi contoh di daerah lainnya, kata
Setyadinnoor.
Selain itu Ade dari KSM Bersemi berharap pengoperasiannya
oleh mereka juga bisa berjalan dengan sukses dan dapat membuat
sampah yang selama ini dianggap sepele bisa bernilai ekonomis
dan menjadi berkah bagi warga setempat, khususnya warga
Rantau Kanan selaku pengguna dapat berperan aktif.

A
Dalam acara peletakan batu pertama tersebut, selain dihadiri
rifin mengatakan ini awal dari proses pembangunan oleh Bupati dan Wakilnya juga turut hadir Ketua DPRD Kabupaten
TPS 3R berbasis masyarakat yang menggunakan Tapin Rasyid Ali, Kepala Dinas Tata Kota dan Kebersihan Rajudin
metode swakelola. Swakelola yang benar-benar Noor serta para Kepala SKPD Kabupaten Tapin atau yang
dikelola oleh masyarakat sehingga di dalam RKA mewakilinya, Camat Tapin Utara dan Lurah Rantau Kanan Ketua
dinamakan Bansos (Bantuan Sosial). Ini yang per serta Pengurus KSM Bersemi, Tokoh Masyarakat dari Kelurahan
tama dan satu-satunya di Kalsel bahkan di Kalimantan, ungkap Rantau Kanan.
Arifin.
Sementara Setyadinnoor, PPK pelaksanaan Satker Penye *) Staf Satker Perencanaan dan Pengendalian Program Infrastruktur
hatan Lingkungan Permukiman (PLP) Provinsi Kalimantan Permukiman (Randal PIP) Provinsi Kalimantan Selatan

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 21


info baru

Delegasi Bangladesh
Belajar Penanganan
Permukiman Kumuh Indonesia
Bupati Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan
Arifin Arpan dan Wakil Bupati Sufian
Noor melakukan peletakan batu pertama
pembangunan TPS 3R skala kawasan
di daerah Kelurahan Rantau Kanan
Lingkungan, Pasar Kraton Rantau, Selasa
(15/07/2014).

P
ara delegasi Capital Development Authority, Ministry
of Housing and Public Works, Bangladesh, yang
tergabung dalam TTT (Training and Technology
Transfer)-New Zealand melakukan studi banding ke
Rusunawa Jatinegara, Jakarta, Jumat (4/07/2014).
Di Rusunawa, mereka mempelajari praktek-praktek terbaik yang
dilakukan Indonesia dalam peningkatan kualitas permukiman
kumuh dan program pemberdayaan masyarakat.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kasubdit Perencanaan Teknis,
Dit. Pengembangan Permukiman, Ditjen Cipta Karya, Nieke
Nindyaputri saat mendampingi para delegasi ke Rusunawa. Ini
adalah suatu kehormatan bagi kami untuk menjadi tuan rumah
kunjungan studi. Pembangunan Rusunawa merupakan komitmen merupakan konsultan yang bekerjasama dengan beberapa
Ditjen Cipta Karya dalam mengentaskan hingga 0% masalah perguruan tinggi dan badan pemerintahan di New Zealand dalam
kumuh di tahun 2019, ungkap Nike. penyelenggaraan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM)
Setelah dari Rusunawa, delegasi Bangladesh berkunjung yang berbentuk training manajemen, baik berupa studi banding,
ke gedung Kementerian Pekerjaan Umum. Mereka diterima training jangka pendek, maupun penyelenggaraan program S2
oleh Kasubdit Perencanaan Teknis, Direktorat Pengembangan dan S3.
Penyehatan Lingkungan Permukiman, Kasubdit Perencanaan Kunjungan peserta pelatihan dari Bangladesh ke Kementerian
Teknis, Dit. Pengembangan Permukiman, Ditjen Cipta Karya, PU telah dilaksanakan sebanyak dua kali pada tahun 2011 dan
Kepala Bagian Kerjasama Luar Negeri Kementerian PU, dan 2013. Pada tahun 2013, kunjungan berlangsung dalam rangka
Kasubdit Kebijakan dan Strategi Dit. Bina Program, Ditjen Penataan foreign training/study tour dengan tema Latest Advancement in
Ruang, Kementerian PU. Housing, Public Works, and City Infrastructure Development.
Program TTT (Training and Technology Transfer)-New Zealand (Teks: Ari Iswanti)

22
info baru

Kementerian PU Fasilitasi
Kerjasama CSR PT Semen Padang
Kementerian Pekerjaan Umum melalui
Ditjen Cipta Karya memfasilitasi
penandatanganan kerja sama program
Corporate Social Responsibility
(CSR) PT. Semen Padang, untuk
penyediaan infrastruktur Bidang Cipta
Karya yang tersebar di Kota Padang.
Penandatanganan dilakukan di Kantor
Balaikota Padang pada hari Kamis (3/7).

yang dapat didanai melalui dana CSR, tutur Antonius. Walikota


Padang, Mahyeldi Ansyarullah menyatakan bahwa Kota Padang
sangat membutuhkan pembangunan bdang Cipta Karya seperti
penyediaan air minum, sanitasi yang layak, penyediaan akses
jalan lingkungan dan pengentasan kawasan kumuh karena
berkaitan dalam rangka mendukung program MDGs. Dana CSR
yang digelontorkan PT. Semen Padang sebesar Rp1 miliar untuk
pembangunan Infrastruktur bidang Cipta Karya diharapkan
menjadi salah satu solusi pembiayaan.
Sebagai ibukota Provinsi Sumatera Barat, Kota Padang
merupakan daerah Urban, oleh karena itu Pemerintah mesti

P
menyediakan akses infrastruktur dasar yang memadai, kami
erjanjian Kerjasama ini ditandatangani oleh Munadi harapkan melalui bantuan Kementerian Pekerjaan Umum, Dinas
Arifin selaku Direktur Utama PT. Semen Padang, PU Provinsi dan pihak swasta melalui dana CSR untuk menye
Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah, Kepala Dinas lesaikan permasalahan ini, dan mudah-mudahan program CSR ini
Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Prov terus berlanjut, imbuh Mahyeldi.
Sumatera Barat Soeprapto, Ketua Umum Corporate Ditjen Cipta Karya selalu mendorong dan berupaya agar
Forum for Community Development (CFCD) Suwandi, dan Direktur infrastruktur permukiman yang dibangun selalu didukung
Bina Program Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian oleh kelembagaan masyarakat yang mantap, yang memiliki ke
Pekerjaan Umum, Antonius Budiono. mampuan perencanaan, pelaksanaan, pengoperasian dan pe
Dalam sambutannya Antonius Budiono mengungkapkan meliharaan. Ditjen Cipta Karya sendiri di setiap Provinsi memiliki
harapannya melalui penandatanganan Perjanjian Kerjasama Satuan Kerja yang siap memberikan bimbingan dan fasilitasi
ini, program CSR yang dilakukan oleh PT. Semen Padang, pe teknis bila diperlukan, sehingga infrastruktur yang dibangun da
nyelenggaraan pembangunan bidang Cipta Karya dapat lebih pat dipertanggungjawabkan secara teknis dan berkelanjutan.
terpadu dan berkesinambungan melalui kerjasama multipihak Dalam pelaksanaannya, kerjasama bidang Cipta Karya tersebut
antara perusahaan, masyarakat dengan pemerintah kota, akan selalu mengacu pada Dokumen Rencana Program Investasi
pemerintah Provinsi maupun dukungan dana APBN dari peme Jangka Menengah (RPIJM) bidang Cipta Karya atau yang sekarang
rintah pusat. lebih dikenal sebagai Rencana Terpadu Program Investasi Jangka
Ditjen Cipta Karya telah memiliki pedoman bagi perusahaan Menengah (RPI2JM) yang bersifat multi tahun, multi sektor, dan
yang berminat menyalurkan dana CSR nya dalam pembangunan multi sumber pembiayaan.
infrastruktur bidang Cipta Karya di kabupaten/kota. Kami juga Sebelum PT. Semen Padang, Ditjen Cipta Karya juga telah
memiliki pedoman dan petunjuk, serta standar teknis dalam memfasilitasi kerjasama serupa dengan PT. Adaro Indonesia
membangun infrastruktur bidang Cipta Karya, dan memiliki di Kalimantan Selatan, PT. Pertamina di NTT, PT. Berau Coal di
pengalaman yang banyak dalam program pemberdayaan ma Kalimantan Timur, PT. Bukit Asam Tbk di Muara Enim dan beberapa
syarakat. Kami juga memiliki katalog yang memudahkan pe perusahaan yang tergabung dalam CFCD.
rusahaan untuk memahami infrastruktur bidang Cipta Karya (Teks: Ria Juni Putra/Evri Biaktama)

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 23


inovasi

Museum Sanitasi:
Mengapa Tidak ?
Roselina*) & Yustika Aristya Widyasari**)

Ide Museum Sanitasi terinsipirasi dari


Museum Lingkungan Hidup di Kota
Kitakyushu, Jepang yang menceritakan
tentang sejarah lingkungan hidup. Setiap
tindakan sekecil apapun yang dilakukan
demi perbaikan lingkungan harus dihargai
serta ditunjukkan untuk memperlihatkan
peningkatan kualitas lingkungan yang
lebih baik.

M
anusia dan kehidupannya tidak akan pernah lepas
dari limbah yang dihasilkan dan pencemaran
lingkungan yang diakibatkannya. Penyelesaiannya
tidak hanya melalui sentuhan teknis-teknologis,
namun juga melalui sosialisasi. Kegiatan Jambore
Sanitasi yang merupakan salah satu upaya untuk mendorong
partisipasi aktif masyarakat dalam sektor sanitasi, harus terus
didorong dan digalakkan. Hal ini untuk mendorong masyarakat,
agar tidak lagi merasa canggung tentang cara menangani limbah
yang dihasilkan dari kegiatan permukiman, baik air limbah
domestik maupun sampah, termasuk menangani limpasan air
hujan.

Mengatasi Pencemaran

Sosialisasi yang Telah Dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan


Umum
Jambore sanitasi merupakan sebuah program edukasi tentang
sanitasi dengan mengutamakan anak-anak sebagai sasarannya.
Dalam Jambore Sanitasi, diharapkan setiap anak untuk dapat
meneruskan dan mengkampanyekan tentang perilaku hidup
bersih dan sehat untuk orang tua, teman, dan lingkungannya.
Dilakukan juga kegiatan pameran, workshop organisasi pe
rempuan, dan lomba lingkungan peduli sanitasi.

24
inovasi

bagaimana awal dari revolusi Industri yang terjadi, hingga


dampak pencemarannya pada Teluk Dokai. Pada tahun 1960-
1970 dilakukan penanganan dan penandatanganan kesepakatan
pengendalian pencemaran, dengan total investasi perbaikan
lingkungan mencapai 804,3 Milyar .
Tersebutkan pula kisah tentang penanganan pembersihan
Teluk Dokai, pengerukan lumpur, dan investasi pengolahan sistem
air limbah, hingga kinerja pengelolaan kualitas lingkungan hidup
di Kota Kitakyushu dapat menjadi sangat baik pada hari ini. Sejarah
ini diharapkan untuk mengingatkan warga agar memperhatikan
lingkungan dan tidak mengulang hal yang serupa di kemudian
harinya.
Museum ini juga dijadikan area untuk edukasi tentang
pengelolaan sampah pada masyarakat sekitar Kitakyushu. Selain
Jambore sanitasi mulai dilakukan sejak tahun 2008 dan
merupakan program andalan untuk menumbuhkan kesadaran
sanitasi sejak dini. Program ini dimulai dengan pemilihan duta
sanitasi di tiap provinsi, selanjutnya wakil dari tiap provinsi saling
menunjukkan kemampuan untuk mengajak teman, keluarga, dan
lingkungannya agar hidup bersih dan sehat. Para duta sanitasi
cilik ini mengkampanyekan tentang pentingnya sanitasi mulai
dari sekolah mereka, bahkan sampai disampaikan kepada teman-
temen mereka di sekolah lain. Langkah ini dilakukan Kementerian
PU karena kesadaran bahwa melakukan pembangunan bukan
hanya permasalahan infrastruktur semata, namun juga terkait
dengan pembangunan mental dari masyarakat dan lingkungan di
sekeliling infrastruktur tersebut.
Dalam sosialisasi penanganan limbah dan limpasan air
hujan, selayaknya kita harus mempunyai wadah permanen
yang menjelaskan tentang sejarah dan langkah apa saja yang
telah dilakukan terhadap lingkungan. Museum dapat dijadikan
sebagai salah satu tempat edukasi permanen yang dekat difungsikan sebagai pusat promosi untuk penggunaan produk-
dengan masyarakat, juga sebagai langkah nyata sosialisasi pada produk ramah lingkungan yang tercipta dari hasil daur ulang, juga
masyarakat. terdapat pusat pakaian reuse untuk anak-anak. Hal ini dengan
mempertimbangkan bahwa perkembangan anak-anak yang
Sosialisasi Yang Dilakukan di Jepang sangat cepat biasanya mereka cenderung memakai pakaian dalam
Di Negeri Sakura, Jepang, terdapat contoh sosialisasi terkait kurun waktu yang pendek, sehingga museum ini bisa menukarkan
sanitasi di Kota Kitakyushu. Terdapat sebuah Museum Lingkungan pakaian bekas anak untuk mendapat kembali pakaian lain
Hidup, yang menceritakan tentang sejarah lingkungan hidup di dengan usia yang lebih besar. Museum juga berfungsi sebagai
kota tersebut. Museum ini didirikan untuk mengenang dampak tempat pertukaran informasi antara perusahaan, konsumen, dan
pencemaran pada Kota Kitakyushu pada awal tahun 1950. organisasi masyarakat untuk melakukan pertukaran informasi,
Pencemaran Pabrik Baja dan kepadatan dari kawasan permukiman kepedulian, dan tindakan lingkungan hidup.
penduduk, telah menyebabkan Teluk Dokai di sekitar kota Setiap tindakan sekecil apapun yang dilakukan demi perbaikan
tersebut, mengalami kerusakan parah. Banyak terlihat asap pabrik lingkungan harus dihargai serta ditunjukkan untuk memperlihatkan
mengepul di udara, yang diibaratkan dengan pelangi 7 warna, peningkatan kualitas lingkungan yang lebih baik. Diharapkan
debu diatas atap rumah yang tebal, dan warna air Teluk Dokai dengan semakin digalakkannya sosialisasi peningkatan kinerja
yang menjadi keruh akibat limbah industri dan limbah domestik. penanganan sanitasi, maka akan mempercepat pula terwujudnya
Museum ini berisikan sejarah perubahan dan penghentian permukiman yang layak huni, akses yang tinggi terhadap air
pencemaran. Dalam tiap dinding awal museum menceritakan bersih, bebas air limbah, bersih dari sampah, dan bebas genangan,
sehingga dapat mewujudkan kawasan permukiman yang sehat,
aman, dan berkelanjutan melalui peningkatan kualitas kesehatan
masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan. Jadi, sosialisasi
terkait sanitasi melalui Museum Sanitasi, adalah hal yang sangat
mungkin untuk diwujudkan !

*) & **) Staf Subdirektorat Persampahan, Direktorat Pengembangan


Penyehatan Lingkungan Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta
Karya, Kementerian Pekerjaan Umum. Kontak dengan penulis : awe.
yustika@gmail.com

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 25


inovasi

Kegiatan 3R Sampah:
Antara Teknis Teknologis
dan Sinergitas
Guntur Irawan*)

Peningkatan timbulan sampah di


Indonesia tidak diiringi dengan perbaikan
kinerja sistem penanganan sampah, yang
saat ini masih cukup jauh dari kondisi
ideal. Permasalahan sampah di Indonesia
dimulai dari belum efektifnya kinerja
pemilahan sampah pada sumbernya,
sehingga hal tersebut menyulitkan
penanganan sampah pada subsistem Kementerian Pekerjaan Umum selaku pembina keteknikan
selanjutnya. sektor persampahan di tingkat nasional, telah menjabarkannya
dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 21 Tahun 2006,
khususnya Kebijakan 1, yaitu pengurangan sampah semaksimal
mungkin dimulai dari sumbernya. Kegiatan 3R ini juga dipayungi
dengan diterbitkannya produk pengaturan yang lebuh
operasional, yaitu Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 1 Tahun
2014 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang. SPM ini dilakukan secara bertahap
dengan batas waktu pencapaian hingga tahun 2019.
SPM bidang Cipta Karya khususnya penyediaan sanitasi
mempunyai salah satu indikator yaitu target pengurangan
sampah di perkotaan sebesar 20 % sampai tahun 2019. Kegiatan
3R merupakan program yang mendukung upaya pengurangan
sampah di perkotaan, dimana untuk memenuhi nilai SPM tersebut,
Kementerian Pekerjaan Umum memfasilitasi pembangunan
prasarana dan sarana pengurangan volume sampah berbasis
masyarakat yaitu dengan membangun TPS 3R.
Untuk mewujudkan Kegiatan 3R ini, salah satu upaya
penerapan yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum adalah

B
melalui penyelenggaraan Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS
erdasarkan kondisi eksisting penanganan sampah 3R) berbasis masyarakat, yang diarahkan kepada konsep Reduce
tersebut, diperlukan suatu perubahan pola (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle
penanganan, dari prinsip kumpul-angkut-buang (daur ulang). Sejak tahun 2007 hingga tahun 2013, Kementerian
menjadi pengurangan sampah yang dimulai dari Pekerjaan Umum telah memfasilitasi pembangunan TPS 3R yang
sumbernya atau pada skala komunal/kawasan, berperan sebagai stimulan di 439 lokasi yang tersebar di seluruh
dengan penerapan kegiatan 3R (Reduce-Reuse-Recycle). Indonesia, dengan tingkat keberfungsian 38 %. Pada tahun
Pelaksanaan program pengurangan kuantitas dan daya 2014 ini, Kementerian Pekerjaan Umum merencanakan akan
cemar sampah sebagai program pada skala nasional, telah sejalan membangun TPS 3R di 55 lokasi yang tersebar di 19 provinsi di
dengan amanat Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Indonesia.
Pengelolaan Sampah, yang bertujuan untuk meningkatkan TPS 3R yang telah terbangun mempunyai fungsi untuk
kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan mereduksi kuantitas sampah (organik maupun anorganik) untuk
sampah sebagai sumber daya. kemudian dilakukan kegiatan pengolahan sampah organik baik

26
inovasi

itu secara aerobik dan/atau anaerobik, serta pendaurulangan sasaran) dapat merencanakan dan melaksanakan pekerjaan fisik,
sampah anorganik. Bahan-bahan yang tidak dapat dilakukan bahkan melakukan pengadaan barang dan/atau jasa secara
kegiatan pengolahan sampah maupun pendaurulangan dan swakelola.
sudah terpilah, merupakan sampah residu yang kemudian akan Dalam pelaksanaan pembangunan TPS 3R ini, masyarakat tidak
diangkut dan diolah di TPA sampah. Dengan pendekatan tersebut, bekerja sendirian, namun tetap akan didampingi dan difasilitasi
maka kuantitas sampah yang harus ditangani di TPA sampah oleh Tenaga Fasilitator/TFL Teknis dan TFL Pemberdayaan, yang
menjadi semakin kecil, sehingga memperpanjang umur teknis TPA akan mengawal kegiatan 3R ini hingga selesai. Sebelum kedua TFL
sampah. terjun ke lapangan, terlebih dahulu dibekali pengetahuan teknis
Seperti diketahui bersama, bahwa keterbatasan lahan di dan pemberdayaan melalui pelatihan yang diselenggarakan
perkotaan dan resistensi masyarakat akan keberadaan sebuah melalui Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan
TPA sampah, dapat diatasi dengan penyediaan TPS 3R pada Permukiman pada Kementerian Pekerjaan Umum.
skala komunal. Untuk itulah setiap kabupaten/kota diharapkan Selain itu, untuk mendukung kegiatan 3R ini, Kementerian
mempunyai fasilitas TPS 3R yang memadai baik dari segi kuantitas Pekerjaan Umum telah menyusun suatu Pedoman Umum
maupun kinerjanya, sehingga upaya mereduksi sampah sejak dari 3R dengan judul Tata Cara Penyelenggaraan Umum Tempat
sumbernya dapat terlaksana. Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) Berbasis
Pada tahun 2014, pembangunan/penyediaan TPS 3R berbasis Masyarakat di Kawasan Permukiman, yang memuat tentang tata
masyarakat berbasis pendanaan APBN, dilaksanakan melalui cara perencanaan, pelaksanaan pembangunan fasilitas, pilihan-
mekanisme penyediaan dana bantuan sosial untuk setiap lokasi pilihan teknologi, serta tata cara pengawasan dan pemantauan
sasaran, dimana pada tahun-tahun sebelumnya mekanismenya kinerja TPS 3R.
melalui belanja modal melalui Satuan Kerja Pengembangan
Penyehatan Lingkungan Permukiman yang berada di tingkat Aspek Teknis-Teknologis
provinsi. Dengan mekanisme dana bantuan sosial ini, diharapkan Selama ini banyak dari kita hanya mengenal teknologi pengolahan
penerima dana bantuan sosial (dalam hal ini masyarakat di lokasi sampah organik di TPS 3R dilakukan secara biologis dengan proses

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 27


inovasi

aerobik, yaitu open window maupun metode Caspary. Kementerian jumlah sampah yang dapat ditangani menjadi 2-6 kali lebih
Pekerjaan Umum dalam hal ini melalui Direktorat Pengembangan tinggi, untuk luas lahan yang sama ketimbang proses windrow
Penyehatan Lingkungan Permukiman pada tahun 2011 mulai composting sebagai proses konvensional yang saat ini diterapkan
mengembangkan suatu teknologi pengolahan sampah organik di banyak TPS 3R.
secara anaerobik, yaitu yang kita kenal sekarang dengan nama Dengan adanya modul SIKIPAS ini diharapkan dapat me
Modul SIKIPAS (SIstem Komunal Instalasi Pengolahan Anaerobik nambah alternatif pilihan teknologi yang akan kita terapkan di TPS
Sampah). Modul ini merupakan buah pikir putra-putri Indonesia di 3R.
Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman,
yang dikembangkan menurut kearifan lokal. Aspek Kelembagaan, Pendanaan, Peran Serta, dan Pengaturan
Modul SIKIPAS ini dikembangkan untuk menangani masalah Beberapa tahapan sebelum TPS 3R yang difasilitasi sebagai
sampah komunal, dimana Modul tersebut dirancang untuk dapat stimulan dari Kementerian Pekerjaan Umum, dibangun dengan
melayani sampah dari 400 KK yang dihasilkan perhari atau setara didahului ketersediaan minat dari Pemerintah Kabupaten/Kota,
1 m3/hari. Modul SIKIPAS tersebut tidak hanya menghasilkan untuk diusulkan melalui Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan
kompos padat, tetapi juga menghasilkan kompos cair dan gasbio, Lingkungan Permukiman di tingkat Provinsi, sebelum dibawa ke
dimana pada tanggal 21 Februari 2014 (bertepatan dengan Pemerintah Pusat untuk dianggarkan. Keterlibatan pemangku
Hari Bumi tahun 2014) telah didapatkan hasil dari pengolahan kepetingan ini menjadi sangat penting dalam perencanaan awal
sampah berupa gas bio. Gas bio yang dihasilkan ini juga dapat penyelenggaraan kegiatan 3R. Perlu adanya koordinasi yang baik
dijadikan sumber energi alternatif sebagai substitusi sebagian dari antar pemangku kepentingan tersebut, sehingga keberlanjutan
kebutuhan energi berbasis bahan bakar fosil. TPS 3R yang dibangun menjadi lebih terjamin.
Selain itu, Modul SIKIPAS menerapkan prinsip penanganan Masalah penanganan sampah komunal tidak dapat diselesaikan
sampah dengan laju alir tinggi dalam waktu detensi yang dengan memperkuat aspek teknis-teknologis saja. Masalah ke
dipersingkat. Hal ini akan mendorong peran TPS 3R untuk dapat lembagaan dan pendanaan, seringkali menjadi kendala utama
mengolah sampah dengan kuantitas yang signifikan, sehingga dalam penyelenggaraan kegiatan 3R di Indonesia. Pembiayaan
kinerja pengurangan sampah yang harus diolah di TPA sampah, dalam hal ini dana untuk pengoperasian-pemeliharaan-perawatan
dapat dikurangi secara signifikan. Tinggi tumpukan sampah yang TPS 3R mutlak diperlukan dan ini sangat terkait erat dengan
dapat dirancang untuk mencapai 2 hingga 6 kali pada Modul adanya unsur kelembagaan yang berperan mengelola TPS 3R
SIKIPAS ketimbang pada proses windrow composting, menjadikan yang ada saat ini. Dana pengoperasian-pemeliharaan-perawatan

28
inovasi

yang selama ini tersedia, hanya bergantung pada iuran warga dan Oleh karenanya, agar pengurangan kuantitas sampah dapat
hasil penjualan dari produk samping pengolahan sampah (seperti direduksi dari sumbernya dan terlaksana dengan baik serta
kompos padat, kompos cair, dan gas bio). Ketersediaan dana ini berkelanjutan, maka peran teknis-teknologis bukan menjadi aspek
masih belum memadai, sehingga tetap membutuhkan dukungan tunggal. Namun adanya sinergitas peran serta masyarakat/swasta/
dari pemerintah daerah setempat, dalam bentuk subsidi. perguruan tinggi, kelembagaan yang mumpuni, pendanaan yang
Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai lembaga swadaya mencukupi, serta penegakan pengaturan secara tegas, yang akan
yang terbentuk dari masyarakat pengelola tidak dapat berjalan menjadikan keberhasilan infrastruktur TPS 3R yang dibangun.
sendiri, karena perlu memperoleh bantuan dan dukungan dari
pemerintah daerah, termasuk bimbingan terkait masalah-masalah *) Penulis adalah staf Seksi Wilayah II, Subdirektorat Persampahan,
teknis di lapangan. Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman,
Selain dilakukan pendampingan di masyarakat oleh TFL yang Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum.
sebelumnya telah dibekali dengan pelatihan untuk meningkatkan Kontak dengan penulis : xgunturx@yahoo.com
kemampuan dan kapasitas dalam upaya penerapan kegiatan
3R sebagai batu loncatan untuk mendorong peran serta
masyarakat secara lebih tinggi, Kementerian Pekerjaan Umum
juga menyelenggarakan Konsinyasi dan Diseminasi 3R untuk
meningkatkan pemahaman dan kemampuan Pemerintah Daerah
dalam hal penanganan sampah. Harapan yang diinginkan dari
pelibatan Pemerintah Daerah sebagai pemangku kepentingan
dalam rangka keberlanjutan Kegiatan 3R ini adalah, pertama,
Pemerintah Daerah dapat mengalokasikan dana untuk membantu
pengoperasian-pemeliharaan-perawatan kegiatan 3R ataupun
penyediaan peralatan. Kedua, memfasilitasi pengangkutan sam
pah residu dari TPS 3R menuju ke Tempat Pemrosesan Akhir
(TPA) sampah. Ketiga, perlu untuk membeli produk samping dari
pengolahan sampah, seperti kompos padat/kompos cair/gas bio/
produk daur ulang, serta memfasilitasi KSM selaku pengelola,
dalam memasarkan hasil atau produk pengolahan sampah.

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 29


Gema PNPM

Kandang Sapi Sehat


yang Ramah Lingkungan
Berkat PLPBK
Sutopo*)

Kelompok peternak sapi Bhakti


Manunggal Dusun Kuncen, Desa Delingan
merupakan kelompok peternak sapi yang
didirikan oleh masyarakat peternak sapi
Desa Delingan pada 12 Juli 2009.

Pengolahan Limbah Ternak oleh Suparjo dan Sukiyo, Seksi Produksi


dan Kesehatan oleh Sukino dan Djimin, Seksi Penataan Kandang
oleh Slamet dan Sugimin, serta Seksi Penyuluhan Keterampilan
oleh Supardi dan Ismoko.
Aktivitas kegiatan kelompok ini yaitu pertemuan rutin setiap
35 hari sekali (selapanan). Rencananya mereka akan mengadakan
pengobatan rutin setiap 3 bulan sekali, bekerjasama dengan Dinas
Peternakan dan Perikanan Kabupaten Karanganyar.
Kegiatan kelompok tersebut yaitu pertama Aspek Usaha
Agribisnis Hulu meliputi, pembibitan yang berasal dari Bekonang,
Karangpandan dan Sragen. Pakan sudah tercukupi dari lahan
sendiri dan sekitarnya, sedangkan obat-obatan dibeli secara
insidentil, kedua, Aspek Usaha Budidaya dilakukan dengan sistem
dan kondisi perkandangan milik individu. Tata cara pemberian
pakan diberikan 2 kali sehari berupa hijauan dan konsentrat
(bekatul dan singkong) ampas tahu, ampas singkong. Penanganan
dan pencegahan penyakit sudah dilakukan dengan cara selalu
menjaga kebersihan kandang. Penanganan reproduksi, petugas
IB.
Ketiga, Aspek Agribisnis Hilir pemanfaatan limbah untuk

P
pembuatan pupuk organik padat dan cair, perencanaan pembuatan
emilikan ternak 2 - 4 ekor sapi per anggota. Hingga biogas, serta untuk pupuk padi di sawah. Serta keempat, Aspek
kini jumlah pemilikan ternak sapi mencapai total 83 Pendukung yaitu, sumber permodalan yaitu dengan iuran
ekor. Kelompok yang dinamai Bhakti Manunggal ini anggota. Manfaat bagi penduduk sekitar, penyerapan tenaga kerja,
diketuai oleh Warsito, Sudi sebagai Sekretaris, dan kesejahteraan anggota dan peningkatan Sumberdaya Manusia
Tukimin sebagai bendahara. (SDM). Peningkatan SDM dari anggota kelompok, yaitu dengan
Kelompok ini mempunyai tujuan memperdayakan masyarakat mengikuti pelatihan dan kursus, antara lain, Djimin dan Sukino,
dalam beternak sapi guna memperbaiki ekonomi, memanfaatkan yang telah mengikuti latihan budidaya sapi potong di Ungaran.
Sumber Daya Alam (SDA) sekitar, serta menjalin kerjasama sesama Anggota lainnya, Rohmad telah mengikuti pelatihan pengolahan
peternak sapi. Kelompok ini mempunyai seksi-seksi, yaitu Seksi kompos.

30
Gema PNPM

Salah seorang anggota kelompok Tukimin (44) menuturkan, Pada 3 Juli 2013, Kelompok Ternak Bhakti Manunggal Delingan
pertama-tama masyarakat Desa Delingan membuat kelompok terpilih untuk menjadi peserta lomba kandang sapi sehat tingkat
yang punya ternak sapi lalu diajukan dengan membuat proposal Provinsi Jawa Tengah.
kepada program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Sebagai buruh tani di Sentul RT 01 RW 07 Desa Delingan,
Komunitas (PLPBK) PNPM Mandiri Perkotaan. Tukimin mengaku merasa senang mendapat bantuan kandang
Alasan masyarakat membuat program ini adalah karena sehat dari program PLPBK PNPM Mandiri Perkotaan, sehingga
setiap kandang yang dimiliki masyarakat Delingan masih jadi satu ia bisa menambah ternak sapinya. Kandang yang dibangun
rumah. Keadaan ini membuat lingkungan menjadi tidak sehat. berukuran 4 x 6 meter, normalnya bisa berisi 4 ekor sapi. Saat ini
Setelah disosialisasikan PLPBK maka mereka mengusulkan agar masih baru memiliki 2 ekor sapi.
dibuat kandang sehat. Ternak sapi ternyata bisa menghasilkan air Setelah ada program kandang sehat ini, lingkungan Desa
seni yang bisa dimanfaatkan untuk mencegah hama dan pupuk Delingan menjadi sehat dan bersih. Serta di tepi jalan ling
cair. Untuk itu, kelompok juga mengumpulkan air seni sapi, kata kungannya sudah tertata rapi dengan adanya 3 jenis tempat
pria lulusan Sekolah Dasar (SD) itu. sampah, yaitu tempat sampah organik, tempat sampah anorganik,
Sedangkan kandang sapi berukuran 4 x 4 meter itu dibangun dan tempat sampah B3 (Barang Bekas Berbahaya). Tempat
dengan biaya Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Program sampah ini disediakan agar masyarakat bisa lebih teratur menjaga
PLPBK, dan swadaya masyarakat. lingkungan rapi, bersih, lestari dan terjaga kesehatannya.
Total biaya pembangunan kandang menghabiskan biaya Sebagai pelengkap penataan lingkungan, di tepi jalan
sekitar Rp 5 juta, terdiri atas Rp 3,5 juta dari BLM dan Rp 1,5 juta masyarakat berswadaya menanami pohon turi, yang di bina
swadaya. Proses pembangunan kandang dilakukan selama 7 - 8 Karang Taruna bekerja sama dengan TPA. Setelah berbunga,
hari. Kandang-kandang yang telah selesai dibangun ini kemudian bunga pohon turi dipetik setiap hari dan dijual. Hasilnya untuk
dimanfaatkan untuk memelihara sapi masing-masing anggota kegiatan karang taruna dan TPA.
kelompok, dengan pemilikan sapi 2-4 ekor sapi per orang. Lebih lanjut, warga masyarakat berharap lingkungan tetap
Walaupun musim kemarau, Desa Delingan tidak menemui terjaga kebersihan dan kesehatannya. Sehingga, selain menambah
masalah air untuk kebutuhan rumah tangga, persawahan maupun penghasilan ekonomi, lingkungan juga menjadi ramah, sejuk dan
untuk minum ternak sapinya, karena desa ini memiliki dua sumber nyaman.
mata air yaitu di Umbul Tirto Ngrenak dan Sumber Alam Kuncen.
Begitu juga masalah pakannya, mencukupi dari lingkungan Desa *) Fasilitator Sosial (CD). Tim 3313-005 Kabupaten Karanganyar/OSP-
Delingan dan sekitarnya. 5 Provinsi Jawa Tengah PNPM Mandiri Perkotaan

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 31


Gema PNPM

Sumbar Jalankan
Program Penataan Lingkungan
Nofrizal*)

Tahun 2014 ini banyak program


pemerintah masuk ke Provinsi
Sumatera Barat (Sumbar). Antara lain,
program Livelihood atau Program
Peningkatan Penghidupan Masyarakat
berbasis Komunitas (PPMK), GDRR
(mitigasi gempa), serta Neighborhood
Development (ND) atau Penataan
Lingkungan Permukiman Berbasis
Komunitas (PLPBK) dan setara PAKET di
Kota Pariaman.

U
ntuk itu, diharapkan pelaku PNPM Mandiri Per Sukri mengatakan, lokakarya review program dilaksanakan
kotaan dapat menyusun rumusan dan strategi guna membangun kesamaan pemahaman substansi, mereview
penanggulangan kemiskinan agar program bisa kesamaan persepsi mengenai visi, misi dan strategi juga
menjadi lebih baik dan tepat sasaran. merancang intervensi lanjutan. Dilakukan demi harmonisasi
Hal itu diungkapkan Fatma Rosa, mewakili Satker program penanggulangan kemiskinan secara partisipatif dalam
PBL Provinsi Sumbar, dalam acara Lokakarya Review PNPM Mandiri proses perencanaan (bottom-up planning).
Perkotaan di Aula Baitullah Kota Pariaman, beberapa waktu Selanjutnya, paparan dari TA Sosialisasi Afriadi mengatakan
lalu. Kegiatan yang dilakukan Pemerintah Daerah Kota (Pemkot) dana BLM PNPM Mandiri Perkotaan regular yang sudah masuk ke
Pariaman itu difasilitasi oleh Bappeda Kota Pariaman. Tujuan Provinsi Sumbar mulai tahun 2007 hingga 2011 sudah mencapai
lokakarya review tersebut adalah mengevaluasi dan menganalisis Rp 83 miliar, sedangkan Kota Pariaman mulai tahun 2006 (P2KP)
lebih jauh upaya-upaya yang telah dilakukan oleh semua pihak hingga tahun 2011 PNPM Mandiri Perkotaan, dana BLM APBN
yang terlibat dalam PNPM Mandiri Perkotaan. dan APBD mencapai Rp 27,825 miliar ditambah sharing dana dari
Hadir dalam acara lokakarya review Kota Pariaman dari Pemkot Pariaman sebesar Rp8,498 miliar. Untuk itu perlu dilakukan
berbagai unsur, diantaranya Bappeda, dinas-dinas, Lembaga evaluasi seberapa besar masyarakat miskin sudah tertanggulangi,
Swadaya Masyarakat (LSM), Forum Komunikasi Antar Badan karena besarnya dana bantuan yang dikucurkan cukup besar.
Keswadayaan Masyarakat (FKA BKM), tokoh masyarakat, insan Dalam kegiatan itu, disampaikan hasil diskusi dan kesepakatan
pers, dan lainnya. Tak ketinggalan, dari konsultan Tenaga Ahli (TA) lokakarya. Di antaranya, perumusan (review) PJM Pronangkis Kota
Kebijakan Publik Afriadi, Korkot 5 Pariaman dan Asisten Korkot. dan SPKD, siap untuk menyediakan surat kesedian PAKET ke depan,
Acara dibuka oleh Kepala Bappeda Muhammad Sukri dan Kepala penyiapan dana pendamping PAKET, FKA BKM/LKM akan selalu
BPM Kota Pariaman. Menurut Sukri, PNPM Mandiri Perkotaan, aktif dalam kegiatan siklus kota dan akan selalu berkoordinasi
yang dulunya bernama Program Penanggulangan Kemiskinan untuk program ini dan lain-lain.
di Perkotaan (P2KP) telah berlangsung di Kota Pariaman sejak Diharapkan, dengan terealisasinya kegiatan lokakarya ini
tahun 2006 hingga kini. Keberlanjutan program ke depan adalah maka terjalin pula sinergidi antara semua stakeholder yang ada,
sejauhmana sinergi program penanggulangan kemiskinan dengan baik pemerintah, masyarakat dan kelompok peduli lainnya.
program-program SKPK dan program lain yang berbasiskan
pemberdayaan masyarakat, berupaya membangun komunitas *) Asisten CD Kota Pariaman (OC-1 Sumatera Barat)/Fasilitator PNPM
dari sebuah kondisi masyarakat yang tidak berdaya menjadi Mandiri Perkotaan Kota Pariaman
berdaya, mandiri dan madani, tutur Sukri.

32
lensa ck

Pelantikan Pejabat Eselon 2 dan 3


dan Serah Terima Jabatan
di lingkungan Ditjen Cipta Karya

Foto-foto : Manti dan Aji

Edisi 074Tahun XII4Juli 2014 33


seputar kita

Rumah Pompa dan Kolam


Retensi Kali Semarang Segera
Diserahterimakan
Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman
(PPLP) mengadakan Workshop Persiapan Serah Terima Pengelolaan
Stasiun Rumah Pompa dan Kolam Retensi Kali Semarang, pekan
lalu di Semarang.
Direktur PPLP, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PU M. Maliki
Moersid mengungkapkan, masa uji coba kolam retensi dan rumah
pompa Kali Semarang akan berakhir pada September mendatang, Pemanfaatan
setelah itu Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas PSDA dan
ESDM Kota Semarang yang akan mengelola fasilitas yang telah
Sistem Air Limbah Sewerage
dibangun oleh Direktorat Pengembangan PLP Ditjen Cipta Karya di Kota Medan Dipercepat
Kementerian PU melalui Satker PPLP Provinsi Jawa Tengah.
Sementara, Walikota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan Dinas Tata Ruang dan Permukiman, Pemerintah Kota Medan
Pemkot Semarang siap untuk menjalankan operasional bangunan dan PDAM Tirtanadi Medan mengadakan Talk Show di Deli TV
yang digunakan untuk menangani rob dan banjir di kawasan live, Kamis (10/7). Talkshow dalam rangka sosialisasi program
Semarang Tengah. Kami sudah menyiapkan dana dan SDM. percepatan pemanfaatan system air limbah perpipaan terpusat
Untuk dana, tahun ini kami menyiapkan Rp 5 Miliar, sementara (sewerage) dan komitmen pelaksanaan demi menciptakan ling
untuk SDM, kami tengah melatih beberapa orang untuk kungan bersih dan sehat.
memahami operasional kolam retensi dan pompa, ujar Hendrar. Hadir sebagai narasumber Suherman (Kabid Penyehatan
(Tata_Randal Jateng) Lingkungan Dinas Tarukim Sumut/Satker Randal), Syaiful Bahri
(Sekda Kota Medan), Rawaluddin Siregar (Kabid Perkim Kota
Medan), dan Tansil Lubis (Direktur Perencanaan dan Produksi
PDAM Tirtanadi).
Suherman memaparkan, sejak tahun 1984, Kota Medan
sudah memulai program sanitasi sistem perpipaan dengan PDAM
Tirtanadi sebagia institusi pengelola. Namun sampai saat ini
masih belum mampu melayani seluruh kecamatan yang ada di
Kota Medan. Sampai tahun 2014, baru 2 kecamatan yang terlayani
yaitu, Kecamatan Medan Area dan Kecamatan Medan Kota
dengan total jumlah pelanggan 13.200 SR. Untuk itu diperlukan
usaha percepatan untuk meningkatkan pelayanan sanitasi kepada
masyarakat. (Teja_Randal Sumut/bcr)

MSM, Telkom, Vale dan Semen Tonasa


Minat Biayai Infrastruktur Cipta Karya Melalui CSR
Karya, Kementerian PU menyelenggarakan Acara Focus Group
Discussion (FGD) lanjutan di Makassar, Rabu (16/07/14).
Focus Group Discussion (FGD) ini merupakan tindak lanjut
peminatan dari beberapa perusahaan anggota Corporate
Forum for Community Development (CFCD) khususnya di wilayah
Sulawesi yang berkomitmen untuk berpartisipasi dalam
pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya melalui program
CSR, kata Dwityo A. Soeranto, Kasubdit Kerjasama Luar Negeri
(KLN) Ditjen Cipta Karya mewakili Direktur Bina Program.
Acara tersebut dihadiri oleh Sekretaris Dinas Tata Ruang
dan Permukiman Provinsi Sulawesi Selatan, CSR Manager PT.
Meares Sopotan Mining, PT. Telekomunikasi Indonesia, PT. Vale
Menindaklanjuti pelaksanaan FGD di Padang (wilayah Barat) Indonesia dan PT Semen Tonasa, perwakilan dari Kabupaten/
dan Balikpapan (wilayah Tengah) dalam rangka mendorong Kota (Bappeda dan Dinas PU) Kota Makassar, Kabupaten
pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya melalui Program Minahasa Utara dan Kabupaten Luwu Timur dan Sekjen CFCD.
Corporate Social Responsibility (CSR) di tahun 2014, Ditjen Cipta (Jamaluddin_Randal Sulsel)

34
Karya Poster Belinda Phelia
Duta Sanitasi 2014
Provinsi Kalimantan Barat