Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH DASAR KEPENDUDUKAN

STATISTIKA FERTILITAS (KELAHIRAN)

DOSEN PEMBIMBING :
Dr. MASRIZAL Dt. MANGGUANG, SKM, M. BIOMED

Disusun Oleh :
KELOMPOK 2

MAFDHIL MUHAMMAD WARMAN 1611216019


NADRA TRISNA 1611216007
SRI YULIANTI 1611216009
AVELINI SUCI ANUGRAH 1611216014
FANI ARSYAD 1611216021
LOELIN 1611216028
SURY SAGITA RISKY 1611216035
NANDA MUSTIKA 1611216043
FLORIA ARIESKA PINEM 1611216051
HARYATI PUTRI HASIBUAN 1611216057
VINI BUNGA ANDINI 1611216071

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


PRODI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ANDALAS
2016
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT,yang telah memberikan
kami berkat, rahmat, kesehatan, kesempatan, dan kemauan hingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini. Sholawat dan salam tidak lupa kami kirimkan ke junjungan
Nabi besar Muhammad SAW Nabi yang telah membawa kita kembali ke jalan Allah
SWT hingga kita dapat menikmati indahnya dunia sekarang ini. Makalah ini dibuat
sehubungan dengan tugas mata kuliah Ilmu Dasar Kependudukan yang diberikan oleh
bapak dosen bersangkutan. Dimana di dalam makalah ini akan dibahas mengenai
Satistika Fertilitas hingga detailnya.
Kami mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang telah turut
membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan. Terlepas dari itu semua ,kami
menyadari bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai
hal. Oleh karena itu, tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sempurna dalam
makalah ini. Kami melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kami
miliki. Dimana kami juga memiliki keterbatasan kemampuan. Maka dari itu, kami
bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca sekalian. Sehingga semoga makalah
berikutnya dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini, semoga makalah Statistika
Fertilitas ini bermanfaat bagi teman-teman dan pembaca khususnya di bidang
Kesehatan.

Padang, 23 Agustus 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................ 1
1.1. Latar Belakang................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah............................................................................ 2
1.3. Tujuan Penulisan.............................................................................. 2
1.4. Metode Penulisan............................................................................. 2

BAB 2 PEMBAHASAN........................................................................................ 3

2.1 Definisi Fertilitas....................................................................................... 3


2.2 Konsep Dasar Fertilitas............................................................................. 4
2.3 Sumber Data Fertilitas............................................................................. 4
2.3.1 Registrasi............................................................................ 4
2.3.2 Sensus................................................................................. 5
2.3.3 Survai.................................................................................. 6
2.4 Ukuran Fertilitas............................................................................... 7
2.4.1 Yearly Perpormance............................................................ 7
2.4.2 Reproduction History.......................................................... 11
2.5 Ukuran Reproduksi................................................................................... 12
2.5.1 Children Ever Born ............................................................ 12
2.5.2 Gross Reproduction Rate.................................................... 13
2.5.3 Net Reproduction Rate....................................................... 13
2.5.4 Child Women Ratio............................................................. 14
2.6 Pola Fertilitas...................................................................................... 14
2.6.1 Pola Fertilitas Menurut Umur ............................................ 14
2.6.2 Pola Fertilitas Menurut Perkawinan................................... 15
2.6.3 Pola Fertilitas Menurut Paritas........................................... 16
2.7 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Fertilitas.................................. 17

BAB 3 PENUTUP................................................................................................... 21

3.1 Kesimpulan................................................................................................. 21
3.2 Saran........................................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fertilitas (kelahiran) sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya
bayi dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan misalnya
bernafas, berteriak, jantung berdenyut dan sebagainya. Salah satu masalah pokok yang
dihadapi oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia adalah masalah yang
berkaitan dengan kependudukan, karena merupakan salah satu faktor yang terkait
dengan pembangunan nasional. Masalah kependudukan tersebut antara lain jumlah
penduduk, pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi dan persebaran penduduk yang
tidak merata.
Indonesia merupakan negara yang padat penduduknya. Hal ini terlihat dari jumlah
penduduk Indonesia yang mendapati posisi keempat di dunia setelah Amerika Serikat.
Sebagai negara berkembang dengan tingkat penduduk yang cukup tinggi, ini
merupakan salah satu masalah pokok yang harus dihadapi. Menurut Badan Pusat
Statistik Indonesia pada tahun 1997 TFR di Indonesia sebesar 2,34 dan mengalami
penurunan hingga menjadi 2,27 pada tahun 2000. Kemudian pada tahun 2007 TFR di
Indonesia mengalami kenaikan menjadi 2,6. Kemudian pada tahun 2010 TFR Indonesia
mengalami penurunan kembali menjadi 2,4. Data terakhir pada tahun 2012 TFR
Indonesia mengalami kenaikan kembali menjadi 2,6. Penurunan yang terjadi dilaju
pertumbuhan penduduk Indonesia ini merupakan suatu prestasi yang cukup bagus
dalam mengontrol jumlah penduduk dari aspek penurunan jumlah fertilitas. Tetapi
penurunan ini tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, karena angka TFR pada
tahun 2012 stagnan sama dengan tahun 2007 yaitu sebesar 2,6.
Melihat dari apa yang tengah terjadi saat ini, tentu kita harus mempelajari dan
memahami mengenai fertilitas itu sendiri dan diharapkan kita sadar akan bagaimana
mengendalikan laju fertilitas di masa mendatang yang berdampak pada ketimpangan
terhadap beban pembangunan Negara.

1
1.2 Perumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan fertilitas?
2. Bagaimana konsep dasar fertilitas?
3. Apa saja sumber data yang bisa digunakan untuk mengetahui statistika fertilitas?
4. Apa saja ukuran - ukuran fertilitas?
5. Apa saja ukuran ukuran reproduksi?
6. Bagaimana cara mengetahui pola fertilitas?
7. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi angka fertilitas?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Sebagai pengetahuan kepada penulis dan pembaca dalam mengetahui apa yang
dimaksud mengenai fertilitas.
2. Untuk mengetahui dan menambah pengetahuan tentang konsep dasar fertilitas.
3. Untuk mengetahui apa saja sumber data yang dapat digunakan dalam statistika
fertilitas
4. Untuk mengetahui apa saja ukuran fertilitas
5. Untuk mengetahui apa saja ukuran reproduksi
6. Untuk mengetahui bagaimana pola fertilitas
7. Untuk mengetahui factor factor apa saja yang dapat mempengaruhi fertilitas

1.4 Metode Penulisan


Adapun metode penulisan makalah ini adalah menggunakan metode study
pustaka yaitu dalam sumber pembuatan makalah ini kami menggunakan
referensi buku-buku teks yang berkaitan dengan statistika fertilitas.

.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Fertilitas


Fertilitas merupakan istilah demografi yang diartikan sebagai suatu ukuran yang
diterapkan untuk mengukur hasil reproduksi wanita yang diperoleh dari data statistik
kelahiran anak. Dengan kata lain, fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir
hidup (Hatmadji, 1981).

2
Istilah fertilitas sering disebut dengan kelahiran hidup (live birth) yaitu terlepasnya
bayi dari rahim seorang wanita dengan adanya tanda tanda kehidupan, seperti
bernapas, berteriak, bergerak, jantung berdenyut, dan sebagainya.
Fertilitas yang bahasa inggrisnya fertility berarti reproductive
performance(Websters, 1970). Fertilitas adalah suatu pengertian yang digunakan oleh
ahli demografi untuk menunjukan tingkat pertambahan jumlah anak (Hutabarrat, 1973).
Menurut ahli lain, fertilitas adalah suatu istilah yang dipergunakan di dalam
bidang demografi untuk menggambarkan jumlah anak yang benar-benar dilahirkan
hidup. Fertilitas juga diartikan sebagai suatu ukuran yang diterapkan untuk mengukur
hasil reproduksi wanita yang diperoleh dari statistik jumlah kelahiran hidup (Pollard,
1974).
Melihat dari pendapat para ahli dalam memberi definisi mengenai fertilitas maka
dapat disimpulkan bahwa fertilitas dapat diartikan sebagai suatu ukuran dari hasil
reproduksi dan dinyatakan dengan jumlah bayi yang lahir hidup ataupun yang lahir
mati.

2.1 Konsep Dasar Fertilitas


1. Lahir hidup: (Live birth) menurut UN dan WHO, adalah suatu kelahiran seorang
bayi tanpa memperhitungkan lamanyadi dalam kandungan, dimana si bayi
menunjukkan tanda-tanda kehidupan, misalnya: bernafas, ada denyut jantungnya
atau denyut tali pusat atau gerakan-gerakan otot.
2. Lahir mati: (Still birth) adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur
paling sedikit 28 minggu, tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
3. Abortus: kematian bayi dalam kandungan dengan umur kehamilan kurang dari 28
minggu. Ada dua macam abortus: disengaja (induced) dan tidak disengaja
(spontaneous). Incuded abortion dapat terjadi berdasarkan alasan medis, misalnya:
karena mempunyai penyakit jantung yang berat sehingga membahayakan jiwa si
ibu.
4. Masa reproduksi (childbearing age): masa dimana si wanita mampu melahirkan,
yang disebut juga usia subur (15-49 tahun).

2.2 Sumber Data Fertilitas


2.3.1 Registrasi
Data yang tersedia: Statistik Kelahiran (birth statistics). Kelemahankelemahannya:
a. Ketepatan definisi yang dipakai dan aplikasinya
b. Kelengkapan registrasi

3
c. Ketepatan alokasi tempat
d. Ketepatan alokasi waktu
e. Ketepatan pengelompokan kelahiran berdasarkan karakteristik ekonomi/demografi

Untuk negara maju, kelemahan a, b, dan d sebagian besar sudah teratasi. Sedangkan
di negara yang sedang berkembang ke 5 macam kelemahan tersebut masih terasa. Yang
paling menonjol adalah kelemahan b yaitu kelengkapan registrasi. Hal ini disebabkan:
- Penduduk (baik yang mempunyai anak maupun petugas registrasi) tidak
menyadari pentingnya registrasi kelahiran
- Penduduk tidak mengerti bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti:
tanggal kelahiran anaknya, umur ibunya, dan sebagainya

2.3.2 Sensus
Data yang tersedia:
a. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin
b. Jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup
c. Jumlah anak yang dilahirkan dalam satu periode yang lalu (misal: 1 tahun yang lalu)
d. Data penduduk yang berhubungan dengan variabel fertilitas (misalnya penduduk
usia kawin).

Kelemahan kelemahannya:
a. Keterangan jumlah anak yang pernah dilahirkan sangat tergantung pada daya ingat
dari si ibu. Semakin tua umur ibu semakin besar kemungkinan melupakan jumlah
anak yang pernah dilahirkan. Hal ini dapat disebabkan anaknya mungkin sudah
menikah, meninggal, atau tinggal bersama dengan salah satu keluarganya di tempat
lain.
b. Keterangan mengenai banyaknya anak yang lahir setahun yang lalu tergantung pada
ketetapan dalam memperkirakan jangka waktu satu tahun sebelum sensus. Perkiraan
jangka waktu ini bisa terlalu panjang atau sebaliknya terlalu pendek.
c. Keterangan-keterangan penduduk yang dikaitkan dengan variabel fertilitas juga
menanggung kesalahan pelaporan umur oleh penduduk, dan biasanya sering terjadi
di negara yang sedang berkembang.

2.3.3. Survai

4
Data yang tersedia:
a. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin
b. Jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup
c. Jumlah anak yang dilahirkan dalam satu periode yang lalu (misal: 1 tahun yang lalu)
d. Data penduduk yang berhubungan dengan variabel fertilitas (misalnya penduduk
usia kawin)
e. Keterangan tambahan mengenai fertilitas yang lebih terperinci, misal:

- Riwayat kelahiran (birth history/pregnancy history) mulai dari anak pertama hingga
anak terakhir
- Status kehamilan (pregnancy status)

Kelemahan yang ditemui disensus juga berlaku di dalam survai karena kedua jenis
sumber data tersebut berdasarkan informasi mengenai kejadian kelahiran birth event))
yang sudah lampau.

Data fertilitas yang bersifat nasional:


1. Sensus penduduk 1961, BPS
2. SUSENAS (Survey Sosial Ekonomi Nasional) tahap III, 1967, BPS
3. Sensus penduduk 1971,BPS
4. Survey fertilitas dan mortalitas indonesia 1973, LD FEUI
5. SUPAS (Survey Penduduk Antar Sensus) tahap II dan III, 1967, BPS
6. SUSENAS, 1979, BPS
7. Sensus penduduk 1980, BPS

Persoalan-persoalan dalam pengukuran fertilitas:


1. Suatu angka (rate) menunjukan ukuran untuk suatu jangka waktu. Angka fertilitas
menunjukan dua pilihan jangka waktu. Pertama untuk jangka waktu pendek,
biasanya 1 tahun. Sedangkan pilihan kedua adalah jumlah kelahiran selama masa
reproduksi.
2. Suatu kelahiran melibatkan kedua orang tuanya, sehingga memungkinkan timbulnya
keinginan untuk mengukur fertilitas berdasarkan sifat-sifat ibu, ayah, atau kedua
orangtuanya. Namun informasi yang dikumpulkan, biasanya hanya yang
berhubungan dengan si ibu. Sehingga dengan sendirinya pengukuran fertilitass
hanya berdasarkan sifat-sifat ibu saja. Walaupun demikian cara yang dipakai untuk
pengukuran fertilitas terhadap wanita seperti yang telah disebutkan, sebenarnya
dapat juga dipakai untuk megukur fertilitas dari pria.

5
3. Penentuan penduduk yang exposed to risk di dalam pengukuran fertilitas sangat
sukar. Tidak setiap orang mempunyai resiko melahirkan. Walaupun yang masih
kanak-kanak dan yang tua bisa dengan mudah dipisahkan, akan tetapi tidak semua
wanita yang berumur diantara kedua kelompok tersebut menanggung resiko
melahirkan.
4. Sangat sukar membedakan live birth (lahir hidup) dan still birth (lahir mati)
5. Melahirkan lebih dari satu kali adalah hal yang bisa terjadi pada seorang istri. Oleh
karena itu ada unsur pilihan (choice) antara melahirkan lagi atau tidak. Pilihan ini
tergantung pada beberapa hal seperti pendidikan, jumlah anak yang telah mereka
miliki dan lain-lain.

2.4 Ukuran Fertilitas


2.4.1 Yearly Performance (Current Fertility)
Mencerminkan fertilitas dari suatu kelompok penduduk dari berbagai kelompok
penduduk untuk jangka waktu satu tahun tertentu.
a. Crude Birth Rate atau Angka Kelahiran Kasar
Rumus :
B
k
CBR = p

Keterangan :
B: banyaknya kelahiran selama 1 tahun
P : banyaknya penduduk pada pertengahan tahun
k : bilangan konstanta biasanya 1000

misalnya :
Banyaknya kelahiran di Jakarta pada tahun 1970 adalah 182.880 orang bayi. Sedangkan
banyaknya jumlah penduduk pada pertengahan tahun 1970 adalah 4.546.942 orang.
182.880
1000
Maka, CBR = 4.546 .942

= 40,2 perseribu penduduk

Kebaikannya :
Perhitungan ini sederhana karena hanya memerlukan tentang jumlah anak yang
dilahirkan dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun.
Kelemahan :

6
Tidak memisahkan penduduk laki-laki dan penduduk perempuan yang masih kanak-
kanak dan yang masih berumur 50 tahun keatas. Jadi angka yang dihasilkan sangat
kasar.

b. General Fertility Rate (GFR) atau Angka Kelahiran Umum


Yaitu banyaknya kelahiran tiap seribu wanita yang berumur 15 - 49 tahun atau 15 44
tahun.
Rumus :
B B
k k
GFR = P f 1549 atau GFR = Pf 1544

Keterangan :
B : banyaknya kelahiran selama 1 tahun
Pf1549 : banyaknya penduduk wanita yang berumur 14 49 tahun pada

pertengahan tahun
Pf1544 : banyaknya penduduk wanita yang berumur 14-44 tahun pada

pertengahan tahun pada pertengahan tahun


k : bilangan konstan biasanya 1000

Misalnya :
Dari contoh pada (1), apabila diketahui banyaknya penduduk wanita berumur 15-49
tahun pada pertengahan tahun sebesar 1.165.680
182.880
1000
GFR = 1.165 .80

= 156,9% perseribu penduduk wanita usia 15-49 tahun

Kebaikan :
Ukuran ini lebih cermat daripada CBR karena hanya memasukkan wanita yang berumur
15-49 tahun atau sebgai penduduk yang composed top risk ..

7
Kelemahan:
Kelemahan ukuran ini tidak membedakan resiko melahirkan dari berbagai kelompok
umur, sehingga anita yang dianggap mempunyai resiko melahirkan yang sama besarnya
dengan wanita yang berumur 25 tahun.

c. Age Spesific Fertility Rate (ASFR) atau Angka Kelahiran Menurut Kelompok
Umur
Yaitu banyaknya kelahiran tiap 1000 wanita pada kelompok umur tertentu.
Rumus :
bi
ASFR i
= p f .k ( i = 1 sampai dengan 7 )
i

Keterangan :
bi : banyaknya kelahiran dalam kelompok umur i selama 1 tahun
pfi : banyaknya wanita kelompok umur pada pertengahan tahun
k : bilangan konstanta biasanya 1000

Misal : Tabel 1 : Perhitunghan ASFR, DKI Jakarta 1970


Umur Penduduk Kelahiran ASFR
Tiap 1000 wanita
wanita wanita
(3) (4) = [(3) : (2)] 1000
(1) (2)
15 19 264.960 15.840 60
20 24 208.080 41.040 197
25 29 200.880 50.400 251
30 34 163.440 49.680 304
35 39 151.200 18.000 119
40 44 110.160 7.200 65
45 49 66.90 720 11
Kebaikannya :
1. Ukuran lebih cermat dari GFR karena sudah membagi penduduk yang exposed to
risk ke dalam berbagai kelompok umur.
2. Dengan ASFR dimungkinkan pembuatan analisa perbedaan fertilitas ( current
fertility ) menurut berbagai karakteristik wanita.
3. Dengan ASFR dimungkinkkan dilakukannya study fertilitas menurur kohor
4. ASFR merupakan dasr untuk perhitungan ukuran fertilitas dan reproduksi
selanjutnya ( TFR, GRR, dan NRR ).

8
Kelemahannya :
1. Ukuran ini membutuhkan data yang terperinci yaitu banyaknya kelahiran untuk tiap
kelompok umur sedangkan data tersebut belum tentu ada di tiap negara/daerah
terutama di negara yang sedang berkembang. Jadi, pada kenyataannya sukar sekali
mendapat ukuran ASFR.
2. Tidak menunjukkan ukuran fertilitas untuk keseluruhan wanita umur 15 49 tahun.

d. Total Fertility Rate (TFR) atau Angka Kelahiran Total


Yaitu jumlah dari ASFR, dengan catatan bahwa umur dinyatakan dalam satu tahunan.
Rumus :
7

TFR = 5 ASFR i (i= 1,2,....)


i=1

dimana :
ASFR : Angka kelahiran menurut kelompok umur
i : Kelompok umur 5 tahunan dimulai dari 15- 19 tahun
misalnya :
7

dari tabel 1, TFR = 5 ASFR i


i=1

TFR = 5 (60 + 197 + 251 + 304 +119 + 65 +11)


TFR = 5 1007
TFR = 5035 per 1000 wanita usia 15 49 tahun atau
TFR = 5,035 untuk setiap wanita usia 15 19 tahun
Ini berarti setiap wanita di Jakarta pada tahun 1970 rata rata akan mempunyai anak
sebanyak 5 orang diakhir masa reproduksinya.
Kebaikannya :
TFR merupakan ukuran untuk seluruh wanita usia 15 49 tahun yang dihitung
berdasarkan angka kelahiran menurut kelompok umur.

2.4.2 Reproduction History ( Commulative Fertility )


Pengertiannya adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan ( children ever born / CEB)
atau mencerminkan banyaknya kelahiran sekelompok tertentu atau beberapa kelompok
wanita selama reproduksinya dan disebut juga paritas.
Rumus :
CEB i
Rata rata jumlah anak dilahirkan = Pf i

Dimana :
CEBi = banyak anak yang dilahirkan hidup oleh kelompok umur i
Pfi = banyaknya wanita pada kelompok umur i

9
Umur Wanita CEB Rata rata
Anak yang CEB / wanita
dilahirkan
15 19 2.143.735 1.231.556 P1
0,574 ( )
20 24 3.681.930 6.106.510 P2
1,6691 ( )
25 29 4.702.153 14.344.629 P3
3,051 ( )
40 44 3.001.199 14.972.479 P6
4,989 ( )
45 49 2.200.035 10.777.259 P7
4,899 ( )
Catatan :
Rata rata jumlah anak yang dilahirkan untuk kelompok wanita berumur 45 49 tahun
disebut completed family size
Kebaikannya :
1. Mudah didapatkan informasinya di sensus dan survei
2. Tidak ada referensi waktu
Kelemahannya :
Angka paritas menurut kelompok umur akan mengalami kesalahan karena kesalahan
pelaporan umur penduduk, terutama di negara yang sedang berkembang.
2.5 Ukuran Reproduksi
2.5.1 Children Ever Born (CEB) / Jumlah anak yang pernah dilahirkan
Anak lahir hidup mencerminkan banyaknya kelahiran hidup sekelompok atau beberapa
kelompok wanita selama reproduksinya; dan disebut juga paritas.
Rumus :
CEBi
Rata-rata jumlah anak yang dilahirkan = Pfi

Dimana : CEBi : banyak anak yang dilahirkan hidup oleh kelompok umur i
Pfi : banyaknya wanita pada kelompok umur i

Kelebihan utama
- Mudah didapatkan informasinya (disensus atau survey)
- Tidak ada referensi waktu
Kelemahan
- Angka paritas menurut kelompok umur akan mengalami kesalahan pelaporan umur
penduduk , terutama di negara yang sedang berkembang
- Karena sifatnya data retrospektif , maka ada kecendrungan faktor memory lapse
dalam melaporkan banyaknya kelahiran terutama wanita yang berumur lebih tua.

10
2.5.2.Gross Reproduction Rate (GRR)
Adalah jumlah kelahiran bayi perempuan oleh 1000 perempuan sepanjang masa
reproduksinya, dengan catatan tidak ada seorang perempuan yang meninggal sebelum
mengakhiri masa reproduksinya. Atau banyaknya perempuan yang dilahirkan oleh
kohor perempuan.
GRR = 5 X Jumlah ASFR
Contoh :
GRR = 5 x jumlah ASFR
= 5 x 208,31 = 1041,55
Maka : 1041,55 kelahiran bayi perempuan tiap 1000 perempuan reproduksi.

Kelemahannya : tidak memperhitungkan kemungkinan mati bayi wanita tersebut


sebelum masa reproduksinya.

2.5.3 NET Reproduction Rate (NRR)


Yaitu jumlah anak wanita yang masih hidup sampai ia dapat melahirkan
(menduduki tempat sebagai ibunya) , yang diperhatikan adalah anak wanita saja yang
diperkirakan akan mencapai atau bisa mencapai usia reproduksi. Angka ini sama dengan
GRR tetapi memperhitungkan kemungkinan si bayi perempuan meninggal sebelum
masa reproduksinya. Asumsinya adalah bayi perempuan tersebut mengikuti pola
fertilitas dan mortalitas ibunya.

Interpretasi NRR = 1,01 (NRRB= GRR x survival rate)


Rata-rata banyaknya anak perempuan yang dimiliki oleh suatu kohor wanita yang akan
tetap hidup hingga masa reproduksinya adalah 1,01.

2.5.4 CWR (Child Women Ratio)


Yaitu perbandingan antara jumlah anak dibawah umur 5 tahun dengan wanita usia
reproduksi.
Rumus :
P ( 04 ) th
CWR = PF ( 1549 ) th

Kelebihan :
- Ukuran sederhana, data mudah diperoleh melalui sensus atau survey
- Berguna untuk indikasi fertilitas di daerah dengan luas wilayah yang kecil
Kekurangan :

11
- Kualitasnya dipengaruhi oleh kualitas pelaporan jumlah anak, umur anak maupun umur
ibu
- Ukuran ini tidak dapat menangkap kasus kematian anak maupun ibu, khusus tingkat
mortalitas < 1 th
- Tidak memperhitungkan tingkat kesuburan perempuan menurut umur.
2.6 Pola Fertilitas
2.6.1 Pola Fertilitas Menurut Umur
Angka kelahiran (yaitu fertilitas, dan bukan fekunditas) dimulai dari nol kira
kira pada umur 15 tahun, kemudian memuncak pada umur mendekati 30 tahun, sesudah
itu menurun sampai nol lagi kira kira pada umur 49 tahun. Puncak umur yang
sebenarnya maupun angka penurunan sesudah puncak tersebut masing- masing
penduduk maupun di dalam lingkungan penduduk itu sendiri ternyata berbeda.
Perbedaan itu tergantung dari kebiasaan perkawinan, sterilitas, praktik keluarga
berencana, maupun faktor faktor lain. Walaupun demikian perbedaan fertilitas itu
lebih sering terjadi di dalam tingkat kurva ini dan bukan dalam bentuk umum yang
senantiasa konstan untuk setiap penduduk maupun dari waktu ke waktu.

12
2.6.2Pola Fertilitas Menurut Perkawinan
Semua ukuran fertilitas yang telah diuraikan dapat memberikan hasil
perhitungan yang menyesatkan apabila angka perkawinan abnormal. Apabila karena
berbagai alasan tetentu. Perkawinan untuk sementara waktu tertunda, dan kemudian
disebabkan karena banyak fertilitas terjadi lebih awal di dalam perkawinan , maka
jumlah kelahiran akan menurun, yang kemudian diikuti pula dengan kenaikan yang
merupakan kompensasi dengan syarat bahwa fertilitas perkawinan tetap konstan.
Demikian pula apabila perkawinan secara temporer malah agak dipercepat, jumlah
kelahiran akan meningkat, yang kemudian menurun lagi. Fluktuasi jangka pendek yang
disebakan oleh perkawinan ini hendaknya dapat disingkirkan dengan meneliti fertilitas
perkawinan, dan bukan fertilitas semua wanita. Dikebanyakan Negara lebih dari 90%
kelahiran terjadi sebagai hasil ikatan perkawinan dan sisanya dapat dihitung secara
terpisah.
Salah satu pola fertilitas yang umum ialah lamanya angka fertilitas yang
menunjukkan jumlah kelahiran oleh 1000 wanita selama 0,1,2, ,dst tahun sesudah
perkawinan. Pola tersebut dapat dihitung dengan cara membagi kelahiran oleh ibu dari
pada lamanya perkawinan x dengan jumlah perkawinan x perkawinan x tahun
sebelumnya untuk nilai x = 0,1,2,,dst.
2.6.3 Pola Fertilitas Khusus Menurut Paritas
Kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan program keluarga berencana
yang semakin pesat telah cenderung menyebabkan perhatian semakin ditunjukkan ke
arah pembentukkan jumlah keluarga terakhir. Gangguan ekonomi dan sosial memang
dapat mempengaruhi kelahiran selama satu jangka waktu tertentu, tetapi bagaimanapun
jumlah keluarga yang dikehendaki akhirnya akan dapat dicapai, dan bahwa penduduk
akan mengarah kepada frekuensi distribusi tetentu menurut besarnya keluarga. Jumlah
kelahiran pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya per 1000 wanita yang berumur 15 49
tahun.

13
2.7 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Fertilitas
A. Menurut Kingsley Davis & Judith Blake
Tiga tahap penting dari proses reproduksi adalah:
a. Tahap hubungan kelamin
b. Tahap konsepsi
c. Tahap kehamilan
Faktor-faktor sosial, ekonomi dan budaya yang mempengaruhi fertilitas akan melalui
faktor-faktor yang langsung ada kaitannya dengan ketiga tahap repoduksi di atas.
Faktor-faktor yang langsung mempunyai kaitan dengan ketiga tahap disebut
VARIABEL ANTARA.
Variabel Antara terdiri atas:
1. Enam (6) intercourse variables yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan
kelamin (intercourse) yaitu:
a. Umur memulai hubungan kelamin
b. Selibat permanen: proporsi wanita yang tak pernah mengadakan hubungan kelamin
c. Lamanya berstatus kawin
d. Abstinensi sukarela
e. Abstinensi terpaksa (misal: sakit, berpisah sementara)
f. Frekuensi senggama
2. Tiga (3) oneption variables yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kemungkinan
terjaidnya konsepsi (conception).

14
g. Frekuenditas atau infrekuenditas yang disebabkan hal-hal yang tidak disengaja
h. Pemakaian kontrasepsi
i. Frekuenditas atau infekunditas yang disebabkan hal-hal yang disengaja (misal:
sterilisasi)
3. Dua (2) gestation variables yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan
j. Mortilitas janin karena sebab-sebab yang tidak disengaja
k. Mortilitas janin karena sebab-sebab yang disengaja

B. Menurut Ronald Freedman


intermediate variable sangat erat hubungannya dengan norma-norma sosial/
masyarakat. Jadi pada akhirnya perilaku seseorang akan dipengaruhi oleh norma
yang ada.

C. Menurut H. Leibenstein
Anak dilihat dari 2 segi yaitu segi kegunaannya (utility) dan biaya. Kegunaannya
ialah memberikan kepuasan, dapat memberikan balas jasa ekonomi atau membantu
dalam kegiatan berproduksi serta merupakan sumber yang dapat menghidupi orang tua
di masa depan. Sedangkan pengeluaran untuk membesarkan anak adalah biaya dari
mempunyai anak tersebut.
Apabila ada kenaikan pendapatan, aspirasi orang tua akan berubah. Orang tua
menginginkan anak dengan kualitas yang baik. Ini berarti biayanya naik. Sedangkan
kegunaannya turun sebab walaupun anak masih memberikan kepuasan akan tetapi balas
jasa ekonominya turun. Disamping itu orang tua juga tak tergantung dari sumbangan
anak. Jadi biaya membesarkan anak lebih besar daripada kegunaannya. Hal ini
mengakibatkan demand terhadap anak menurun atau dengan kata lain fertilitas turun.

D. Menurut Gary Becker


Ia menganggap anak sebagai barang konsumsi tahan lama (durable goods).
Orang tua mempunyai pilihan antara kuantitas dan kualitas anak. Kualitas diartikan
pengeluaran (biaya) rata-rata untuk anak oleh suatu keluarga yang didasarkan atas 2
asumsi:
1. Selera orang tua tidak berubah
2. Harga anak dan barang-barang konsumsi lainnya tidak dipengaruhi keputusan rumah
tangga untuk berkonsumsi.

Studi Perbedaan Fertilitas di Indonesia.

15
Dari hasil studi yang pernah dilakukan ternyata pengaruh beberapa faktor
penentu fertilitas tidak seperti yang ditemukan dalam generalisasi yang telah ada.
Beberapa faktor penentu tersebut antara lain:
1. Tempat tinggal wanita pada saat pencacahan
Pengamatan terhadap perbedaan fertilitas menurut tempat tinggal (Kota-Pedesaan),
menunjukkan bahwa fertilitas di daerah kota sedikit lebih tinggi daripada di pedesaan.
Hal ini tidak sama dengan yang diharapkan para peneliti bahwa penduduk kota akan
mempunyai tingkat fertilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat fertilitas
yang bertempat tinggal di desa.
Gavin Jones et. Al., memberikan ulasan mengenai tingginya tingkat fertilitas di kota
mungkin disebabkan oleh tingginya tingkat memory lapse wanita pedesaan
dibandingkan wanita yang tinggal di daerah kota.
Harijati Hatmadji et. Al., sebaliknya mempunyai pendapat bahwa fertilitas di Jawa-
pedesaan memang sedikit lebih tinggi daripada di Jawa-kota. Mengingat perbedaannya
hanya sedikit, ini mungkin disebabkan oleh konsep urban/rural yang dipakai. Konsep
tersebut lebih menekankan pada fertilitas fisik di suatu daerah daripada ara hidup
penduduk yang tinggal di daerah tersebut.
2. Tingkat pendidikan
Pengaruh pendidikan terhadap fertilitas tidak tepat seperti yang diperkirakan, yaitu
makin tinggi tingkat pendidikan yan dimiliki seorang wanita, makin rendah
fertilitasnya. Studi berdasarkan sensus penduduk 1971 menunjukkan gejala hubungan
antara fertilitas dan pendidikan yang ditamatkan yang berbentuk U terbalik dimana pada
tingkat pendidikan rendah hingga SLP hubungannya positif kemudian sesudah ini
hubungannya menjadi negatif.
Hull menambahkan bahwa tingkat pendidikan di mana fertilias mulai menunjukkan
penurunan berada diantara desa dan kota. Pola yang sama dilaporkan juga oleh Harijati
Hatmaji et. al., dalam studinya dengan menggunakan data hasi; survai Penduduk Antara
Sensus tahap ke II. Dalam studinya ia menggolongkan tingkat pendidikan menjadi 9
kategori, mulai dari tidak sekolah hingga tamat akafdemi/universitas.
Kesimpulan yang ditarik Kasto agak berbeda, dimana dilaporkan adanya hubungan
negatif antara variabel pendidikan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan.
Bondan Supraptilah et, al., dengan menggunakan data Survei Fertilitas Moralitas
Indonesia melaporkan bahwa hubungan antara tingkat pendidikan dan fertilitas berbeda
dari satu daerah ke daerah lainnya. Misalnya, di pedesaan di Jawa Barat dan Sulawesi

16
serta daerah kota di Jawa Tengah hubungan tersebut berbentuk U terbalik.
Sebaliknyahubungan berbentuk U terdapat di kota di Sulawesi dan pedesaan di Jawa
Tengah. Sedangkan untuk daerah lain hubungannya enderung berbentuk positif.
Hull dari studinya di desa Manguwoharjo menyimpulkan adanya gejala hubungan yang
positif antara beberapa indikator sosial ekonomi termasuk tingkat pendidikan yang
ditamatkan.
3. Umur Perkawinan Pertama
Sejalan dengan pemikiran bahwa makin muda seseorang melakukan perkawinan makin
panjang masa reproduksinya maka dapat diharapkan makin muda seseorang
melangsungkan perkawinannya makin banyak pula anak yang dilahirkan, jadi hubungan
antara umur perkawinan dan fertilitas negatif. Hipotesa ini mendapat dukungan peneliti-
peneliti dalam penemuan atas studi-studinya.
4. Pengalaman Bekerja
Ukuran yang dipakai untuk faktor pengalaman bekerja berbeda-beda, misal: jenis
pekerjaan, lapangan pekerjaaan, lapangan pekerjaan, status pekerjaan, kegiatan yang
biasanya dilakukan (usual activity).

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Fertilitas merupakan hasil reproduksi yang nyata dari seeorang wanita atau
sekelompok wanita. Fertilitas dibagi menjadi empat kelompok yaitu lahir hidup, lahir
mati, abortus dan masa reproduksi. Sumber data fertilitas yaitu registrasi, sensus dan
survei. Ukuran reproduksi dapat diukur melalui dua pendekatan yaitu yearly
performance dan reproductive history.
Pola fertilitas dimulai dari nol kira-kira pada umur 20 tahun, kemudian
memuncak pada umur mendekati 30 tahun, sesudah itu menurun sampai nol lagi kira-
kira pada umur 49 tahun.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas adalah umur, selibat permanen,
lamanya berstatus kawin, abstinensi kawin, abstinensi sukarela, abstinensi terpaksa,
frekuensi senggama, fekunditas atau infekunditas yang disebabkan hal-hal tidak

17
sengaja, pemakaian kontrasepsi, fekunditas atau infekunditas yang disebabkan hal-hal
yang disengaja, moralitas janin karena sebab-sebab yang tidak disengaja, dan moralitas
janin karena sebab-sebab yang disengaja

3.2 Saran
Dengan terbentuknya makalah ini, kami mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun bagi pembaca umumnya dan dosen pembimbing khususnya
sehingga kami dapat memahami dan mempelajari konsep dasar Statistika Fertilitas
dengan lebih baik lagi.

18
DAFTAR PUSTAKA

Hatmadji, Harijati & Budi Suradji. 1981. Fertility Diffrentials In Java

Pollard, AH, dkk. 1974. Demographic Techniques. Pergamon Press: Australia

Webster, Barclay. G. 1970. Tecniques of Population Analysis, Jhon Wilcy & Sons, Inc
New York, London. Eight Pinting: Sidney

https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1271

https://www.scribd.com/doc/246027969/makalah-fertilitas

1. Pola pola fertilitas terdiri dari..


a. Pola fertilitas menurut perkawinan, paritas, dan keturunan
b. Pola fertilitas menurut umur, keluarga berencana, dan paritas
c. Pola fertilitas menurut umur, perkawinan, dan paritas
d. Pola fertilitas menurut perkawinan, paritas, dan keluarga berencana
e. Pola fertilitas menurut umur, paritas, dan keturunan

Kunci Jawaban : C
2. Angka kelahiran (yaitu fertilitas, dan bukan fekunditas) dimulai dari nol kira
kira pada umur 15 tahun, kemudian memuncak pada..
a. umur mendekati 30 tahun, sesudah itu menurun sampai nol lagi kira kira
pada umur 49 tahun
b. umur mendekati 20 tahun, sesudah itu menurun sampai nol lagi kira kira
pada umur 49 tahun
c. umur mendekati 35 tahun, sesudah itu menurun sampai nol lagi kira kira
pada umur 50 tahun
d. umur mendekati 25 tahun, sesudah itu menurun sampai nol lagi kira kira
pada umur 50 tahun
e. umur mendekati 29 tahun, sesudah itu menurun sampai nol lagi kira kira
pada umur 49 tahun

Kunci Jawaban : A

3. Di bawah ini merupakan kelemahan dari sumber data registrasi statistika


fertilitas, kecuali...
a. Ketepatan definisi yang dipakai dan aplikasinya
b. Kelengkapan registrasi
c. Ketepatan daya ingat si ibu yang melahirkan
d. Ketepatan alokasi tempat
e. Ketepatan alokasi waktu

Jawaban : C

4. Data yang tersedia pada sumber data sensus adalah...


a. Jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup
b. Jumlah anak yang pernah dilahirkan mati
c. Jumlah penghasilan orang tua
d. Komposisi penduduk menurut tempat tinggal
e. Komposisi penduduk menurut jenis pekerjaan

Jawaban : A

5. Dibawah ini merupakan konsep-konsep fertilitas adalah..


a. Lahir hidup, lahir mati, dan abortus
b. Lahir hidup, abortus, lahir mati dan masa reproduksi
c. Lahir hidup dan masa reproduksi
d. Masa reproduksi dan abortus
e. Masa reproduksi, induced abortus, dan angka harapan hidup

Jawaban: B

6. Dibawah ini beberapa persoalan-persoalan yang dialami dalam pengukuran


fertilitas diantaranya yaitu, kecuali.
a. Kemungkinan ingin mengukur fertilitas berdasarkan sifat salah satu
orangtuanya
b. Angka dari pengkuran fertilitas menunjukkan dua pilihan jangka waktu
c. Penentuan penduduk yang exposed to risk di dalam pengukuran fertilitas
sangat sukar
d. Sukar membedakan live birtg h yadan still birth
e. Pengalaman kerja yang dimiliki seseorang dimasa lampau
Jawaban: E

7. Dibawah ini adalah factor factor yang mempengaruhi fertilitas menurut


Kingsley Davis & Judith Blake adalah..
a. Norma social yang ada dimasyarakat
b. Seorang anak dalam sebuah keluarga yang dilihat dari segi kegunaannya
(utility) dan biaya (cost)
c. Lamanya status berkawin
d. Tahapan hubungan kelamin, konsepsi, dan kehamilan yang dipengaruhi
factor social, ekonomi, dan budaya
e. Abstinensi sukarela
Jawaban : D
8. Dibawah ini yang termasuk jenis pengukuran fertilitas dengan pendekatan
Yearly Performance adalah
a. CBR, GFR, dan CEB
b. CBR, GFR, ASFR, dan dan TFR
c. CDR, ASDR, dan IMR
d. FDR, PMR, dan NMR
e. CBR, GFR, ASFR, GRR, NRR
Jawaban : B

9. Jenis pengukuran fertilitas yang digunakan karena mempunyai kelebihan yaitu


sudah membagi penduduk yang exposed to risk kedalam berbagai kelompok
umur adalah.
a. Age Specific Fertility Rate (ASFR)
b. Children Ever Born (CEB)
c. Total Fertility Rate (TFR)
d. Crude Birth Rate (CBR)
e. General Fertility Rate (GFR)
Jawaban: A

10. Dibawah ini adalah sumber data penduduk yang dikategorikan dengan cara
pengisiannya dibagi dalam 3 kategori yaitu
a. Sensus de facto, de yure dan tempat tinggal
b. Householder, kanfaser, dan survey penduduk
c. Registrasi, survey, dan sensus penduduk
d. SUSENAS, survey fertilitas, dan SUPAS
e. SDKI, SUSENAS, Householder
Jawaban: B

11. Dibawah ini termasuk kategori angka kelahiran kasar yang tergolong sedang
yaitu..
a. 9 > CBR > 13
b. 14 > CBR >18
c. 20 > CBR > 30
d. CBR > 30
e. 30 > CBR > 50
Jawaban : C

12. Dibawah ini adalah factor penghambat kelahiran adalah..


a. Sifat alami manusia yang ingin mempertahankan keturunan
b. Perasaan malu terutama penduduk pedesaan jika anak gadisnya belum
menikah
c. Anggapan bahwa anak laki-laki merupakan sumber tenaga kerja
d. Banyaknya usia remaja yang menangguhkan usia pernikahannya dengan
alasan ekonomi dan pendidikan
e. Kepercayaan terhadap sebagian penduduk bahwa banyak anak banyak rejeki
Jawaban : D

13. Metode pengisian daftar pertanyaan sensus penduduk yang dilakukan oleh
petugas sensus yang dilaksanakan di daerah mayoritas penduduknya tingkat
pendidikan rendah yaitu..
a. Metode householder
b. Metode kanfaser
c. Metode Survey Penduduk
d. Metode Sensus Deyure
e. Metode Sensus Defacto
Jawaban: B
14. Didesa Kejuden Pada tahun 2012 terdapat kelahiran hidup sebanyak 65 orang
anak dan wanita berusia 19-25 tahun sebanyak 2000 orang. Berapa besar ASFR
didesa tersebut?
a. 3.15 % c. 3.35 % e. 3.55%
b. 3.25 % d. 3.45 %
Jawaban: B

15. Dikecamatan Lemah abang terdapat kelahiran hidup 80 anak selama tahun 2012,
sementara jumlah wanita umur subur adalah 5.000 orang. Berapa GFR nya?
a. 1,4 % c. 1,6% e.1,8%
b. 1,5 % d. 1,7 %
Jawaban: C

Anda mungkin juga menyukai