Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS INFANTICIDE

DISUSUN OLEH :
Aji Pramana (61111035)
Ismail Abdillah (61112110)
Rycardo Pratama (61112040)
Lidwina Nislili Manao (61112057)
Intan Delima Rizki (61112064)
Dyas Ayu Nastiti (61112013)
Mustika Rahmadianti (61112063)
Yessy Rahma Fadila (61112031)
Rani Marlyani (61112053)
Nova Ayu Sriwirawan (61112105)

PEMBIMBING
dr. Rahmawati

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK PADA


BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BATAM
MEDAN
2016
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul INFANTICIDE. Di
kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
dr. Rahmawati selaku pembimbing yang telah membantu penyelesaian laporan ini.

Penulisan juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, dan semua pihak
yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat
membangun sangat kami harapkan.

Demikianlah penulisan laporan ini, semoga bermanfaat, amin.

Medan, 20 Juli 2016

BAB I
PENDAHULUAN

Anak adalah buah hati yang sangat berharga bagi setiap keluarga, sebagai pewaris dan
penerus kedua orang tuanya. Sedangkan, seorang ibu adalah sosok yang penuh kasih sayang,
apapun dikorbankan demi anaknya. Oleh karena itu, seorang anak harus mendapatkan
perlindungan baik saat masih dalam kandungan maupun setelah dilahirkan. Namun, sekarang
ini berita-berita tentang ditemukannya bayi yang baru lahir dalam keadaan meninggal karena
dibunuh oleh ibunya, seringkali dijumpai di media massa.1
Kasus pembunuhan terhadap bayi yang baru lahir telah dikenal sejak dahulu dan
terjadi dimana saja. Pembunuhan anak sendiri adalah suatu bentuk kejahatan terhadap nyawa
dimana kejahatan ini bersifat unik. Keunikan tersebut dikarenakan pelaku pembunuhan
haruslah ibu kandungnya sendiri dan alasan atau motivasi untuk melakukan kejahatan
tersebut adalah karena ibu kandungnya takut ketahuan bahwa dia telah melahirkan anak,
salah satunya karena anak tersebut adalah hasil hubungan gelap. Selain itu, keunikan lainnya
adalah saat dilakukannya tindakan menghilangkan nyawa anaknya, yaitu saat anak dilahirkan
atau tidak lama kemudian. Patokannya dapat dilihat apakah sudah atau belum ada tanda-tanda
perawatan, dibersihkan, dipotong tali pusat, atau diberikan pakaian.2
Saat dilakukannya kejahatan tersebut, dikaitkan dengan keadaan mental emosional
dari ibu, seperti rasa malu, takut, benci, serta rasa nyeri bercampur aduk menjadi satu,
sehingga perbuatannya dianggap dilakukan tidak dalam keadaan mental yang tenang, sadar,
serta dengan perhitungan yang matang.2
Untuk dapat menuntut seorang ibu telah melakukan tindak pidana pembunuhan anak
sendiri, haruslah terbukti bahwa bayi tersebut hidup pada saat dilahirkan. Sebagai dokter
forensik, tanda-tanda kehidupan sudah tidak ditemukan lagi pada saat otopsi. Tanda yang
masih dapat ditemukan adalah tanda pernah bernapas di luar rahim. Hal tersebut menjadi sulit
bila saat otopsi dilakukan, jenazah bayi sudah berada dalam keadaan membusuk. Kesulitan
juga dijumpai pada saat menentukan sebab kematian bayi. Pada umumnya tidak terdapat
keterangan apapun mengenai jalannya persalinan dan keadaan bayi setelah dilahirkan. Bila
ditemukan tanda kematian akibat asfiksia, maka penyebabnya harus ditentukan karena
penyebab asfiksia tersebut adalah penyebab kematian bayi.3

BAB II
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
Nama :A
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 9 bulan dalam kandungan
Hari Tanggal Jenazah Masuk : 26 Mei 2011
Tanggal Pemeriksaan : 26 Mei 2011
Waktu Pemeriksaan : 11.00 WITA
Lokasi Ditemukan : Pantai Hyang Sangkur Lembeng Kecamatan
Sukawati, Kabupaten Gianyar.

B. PEMERIKSAAN LUAR
1 Label: Label dari kepolisian tidak ada.
2 Pembungkus jenazah: Kardus dengan tulisan AQUA.
3 Benda di samping jenazah:
a. Dua lembar kain putih.
b. Lima keping uang logam pecahan seratus rupiah. Sembilan lembar uang kertas
pecahan seribu rupiah. Tiga lembar uang kertas pecahan dua ribu rupiah. Lima
lembar uang kertas pecahan lima ribu rupiah. Dua uang lembar kertas pecahan
sepuluh ribu rupiah.
c. Dua buah canang sari.
d. Satu buah pisang.
e. Satu bungkus kantong plastik warna putih berisi satu lembar kain putih, satu
pasang baju dan celana warna kuning dengan corak binatang merek SA ukuran
XL.
4 Pakaian : Jenazah tidak memakai pakaian.
5 Perhiasan : Jenazah tidak memakai perhiasan.
6 Tanda Kematian:
a. Lebam mayat dibagian belakang, warna merah keunguan, tidak hilang pada
penekanan.
b. Kaku mayat tidak ada.
c. Tanda pembusukan berupa kulit ari yang mengelupas pada hampir seluruh
tubuh.
7 Pemeriksaan Rambut
a. Rambut kepala warna hitam, lurus dan mudah dipilah.
b. Alis tidak ada.
c. Bulu mata tidak ada.
8 Pemeriksaan Kepala:
a. Bentuk kepala lonjong
9 Pemeriksaan Mata:
a. Mata kanan tertutup, kiri terbuka dengan ukuran 0,5 cm.
b. Bola mata sulit dinilai karena sudah busuk.
10 Pemeriksaan Hidung:
a. Cuping hidung tampak datar.
11 Pemeriksaan Mulut dan Rongga Mulut:
a. Mulut terbuka selebar 2 cm.
b. Lidah tidak tergigit dan tidak terjulur.
c. Gigi geligi tidak ada.
12. Pemeriksaan Telinga:
a. Bentuk telinga sulit dievaluasi karena sudah busuk.
13 Alat Kelamin:
a. Jenis kelamin perempuan.
b. Bibir kelamin besar menutupi bibir kelamin kecil.
14.Lubang Pelepasan:
a. Sulit dievaluasi karena sudah busuk
15. Identifikasi Umum:
Jenazah adalah bayi perempuan, gizi cukup, umur kurang lebih 9 bulan dalam
kandungan, berat badan 2750 gram, panjang badan 51 cm.
16. Lain lain :
a. Rajah kaki sudah terbentuk sampai sepertiga bagian depan telapak kaki.
b. Tali pusat terpotong dengan tepi tidak rata tepat pada pangkalnya, disekitar
potongan tidak terdapat resapan darah.
17. Luka-luka:
a. Luka memar pada pipi kanan, 1,5 cm dari GPD, 1,5 cm dari dagu, ukuran 2x2 cm.
b. Luka memar pada selaput lendir bibir atas, ukuran 2,5x0,5 cm.
c. Luka memar pada leher bagian belakang samping kanan, 4 cm dari GPB, 2 cm
dari bawah tulang telinga, ukuran 5x1,5 cm, warna kecoklatan.
18. Patah Tulang: tampak patah tulang rahang atas dan bawah tepat pada pertengahan
depan.

C. PEMERIKSAAN DALAM
1. SEBELUM ALAT-ALAT DIANGKAT
a. Leher: Seluruh jaringan bawah kulit leher sulit dievaluasi karena sudah busuk.
b. Dada:
1) Lemak dinding dada berwarna kuning tebal nol koma tiga sentimeter.
2) Sekat rongga badan kiri setinggi sela iga ke tiga dan sekat rongga dalam
kanan setinggi sela iga ke lima.
3) Kandung jantung tampak ditutupi oleh sebagian besar paru kanan
sedangkan paru kiri berada dibelakang jantung.
c. Perut:
1) Lemak dinding perut berwarna kuning kehijauan, tebal nol koma tujuh
sentimeter.
2) Selaput dinding perut berwarna putih keabuan permukaan licin dan
mengkilap.
3) Dalam rongga perut tidak berisi cairan bebas.
4) Tirai usus menutupi sepertiga permukaan usus bagian atas.

2. SETELAH ALAT-ALAT DIANGKAT


a. Alat-alat dalam leher:
1) Lidah : sulit dievaluasi
2) Kelenjar gondok : sulit dievaluasi
3) Tulang rawan lidah : sulit dievaluasi
4) Tulang rawan gondok : sulit dievaluasi
5) Tulang rawan cincin : sulit dievaluasi
6) Kerongkongan : sulit dievaluasi
7) Tenggorokan : sulit dievaluasi

b. Alat-alat dalam rongga dada:


1) Paru-paru:
Kanan: Terdiri dari tiga bagian, warna merah muda, pada perabaan
seperti spons/lunak, pada irisan paru berwarna merah kecoklatan,
pada penekanan tidak keluar apa-apa.
Kiri: Terdiri dari dua bagian, warna merah muda, pada perabaan
seperti spons, pada irisan paru berwarna merah kecoklatan, pada
penekanan tidak keluar apa-apa.
2) Jantung:
Besar jantung satu kali genggaman tangan kanan jenazah.
Warna kuning kecoklatan mengandung sedikit lemak.
Pada penekanan lunak.

c. Alat-alat dalam rongga perut:


1) Hati : Permukaan rata, tepi tajam, warna kecoklatan, pada perabaan lunak
2) Kandung empedu : sulit dievaluasi
3) Limpa : Warna ungu, permukaan keriput pada perabaan lunak
4) Lambung : Kosong
5) Ginjal :
Ginjal kanan: lemak ginjal tipis, simpai ginjal mudah, warna coklat,
permukaan berbenjol-benjol, pada perabaan lunak
Ginjal kiri: lemak ginjal tipis, simpai ginjal mudah, warna coklat,
permukaan berbenjol-benjol, pada perabaan lunak
6) Kelenjar Liur Perut : Sulit dievaluasi
7) Saluran Kemih : Sulit dievaluasi
8) Kandung Kemih : Sulit dievaluasi
9) Usus halus : Berwarna kuning kecoklatan, permukaan licin
10) Usus besar : Berwarna coklat kekuningan

D. PEMERIKSAAN KEPALA
1 Pada kulit kepala bagian dalam terdapat resapan darah
2 Tulang tengkorak utuh
3 Selaput keras otak utuh
4 Otak besar dan kecil mulai membusuk

E. PEMERIKSAAN TAMBAHAN
Tes apung paru: Hasil dari tes apung paru kanan dan kiri adalah positif.
BAB III
PEMBAHASAN

Berdasarkan surat permintaan Visum et Repertum dari Kepolisian, jenazah bayi


ditemukan di tempat yang tidak semestinya, yaitu di Pantai Hyang Sangkur Lembeng, yang
terletak di Br. Jaya Kerta, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Jenazah
bayi tersebut mungkin adalah korban pembunuhan anak sendiri (pasal 341, 342),
pembunuhan (pasal 338, 339, 340, 343), lahir mati kemudian dibuang (pasal 181), atau bayi
yang diterlantarkan sampai mati (pasal 308). Pada kasus ini, harus dibedakan apakah bayi
lahir mati atau lahir hidup, karena bila bayi lahir mati maka kasus tersebut bukan merupakan
kasus pembunuhan atau penelantaran anak hingga menimbulkan kematian. Si ibu hanya dapat
dikenakan tuntutan menyembunyikan kelahiran dan kematian orang.
Untuk membuktikan hal tersebut, harus dilakukan pemeriksaan kedokteran forensik.
Peran dokter pada kasus pembunuhan anak sendiri adalah memeriksa jenazah bayi. Pada
kasus tersebut, penyidik secara resmi akan meminta dokter untuk membantu penyidikan.
Terdapat beberapa hal yang harus ditentukan, yaitu apakah bayi tersebut baru dilahirkan,
adanya tanda-tanda perawatan, dilahirkan hidup atau lahir mati, viable atau non-viable, cukup
bulan dalam kandungan, tanda-tanda kekerasan, dan sebab kematian.
Hal yang ditentukan pertama adalah apakah bayi tersebut baru dilahirkan. Bayi yang
tidak lama setelah dilahirkan adalah keadaan bayi baru lahir dan belum dirawat. Jika sudah
dirawat, maka bayi tersebut bukanlah bayi yang baru lahir. Pada kasus ini tidak didapatkan
adanya plasenta, namun tali pusatnya terpotong tepat pada pangkalnya dengan tepi yang tidak
rata. Meskipun tali pusat dan plasenta sudah terpisah, namun belum diikat. Hal ini
menunjukkan bayi tersebut belum dirawat. Tanda lain yang menentukan bahwa belum
dilakukannya perawatan terhadap bayi adalah tidak ditemukannya pakaian pada jenazah bayi.
Selanjutnya adalah menentukan bayi tersebut dilahirkan hidup atau lahir mati. Tanda-
tanda kehidupan pada bayi yang baru dilahirkan adalah pernapasan (paru mengembang dan
terdapat udara dalam lambung atau usus), menangis, adanya pergerakan otot, sirkulasi darah
dan denyut jantung serta perubahan hemoglobin, isi usus, dan keadaan tali pusat. Karena bayi
tersebut ditemukan dalam keadaan sudah menjadi jenazah, maka tanda kehidupan sudah tidak
ada lagi selain tanda pernah bernapas di luar rahim. Untuk menentukan hal tersebut, maka
perlu dilakukan pemeriksaan dalam. Pernapasan mengakibatkan perubahan sifat dan struktur
jaringan paru yang dapat dibuktikan dengan pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, serta
tes apung paru. Berdasarkan hasil pemeriksaan dalam, didapatkan gambaran makroskopik
dari paru kanan dan kiri berwarna merah muda, pada perabaan seperti spons/lunak, pada
irisan paru berwarna merah kecoklatan, pada penekanan tidak keluar apa-apa. Sekat rongga
dada (diafragma) kanan setinggi sela iga ke-5 sedangkan diafragma kiri setinggi sela iga ke-3.
Hal ini menunjukkan paru kanan sudah mulai mengembang dan paru kiri belum. Kemudian,
dilakukan tes apung paru yang diambil dari kedua lobus paru dan diperoleh hasil positif, yaitu
paru terapung. Ini membuktikan bahwa telah terjadi pengembangan paru atau respirasi yang
menandakan bayi tersebut sudah sempat bernafas atau menghirup udara, sehingga dapat
menunjukkan bahwa bayi tersebut lahir hidup.
Kemudian, menentukan apakah bayi tersebut mampu hidup diluar kandungan ibunya
(viable) atau tidak. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, didapatkan ukuran panjang
badan (kepala-tumit) 51 cm, berat badan 2750 gram, dan tidak ditemukan cacat bawaan yang
berat. Kondisi ini sesuai dengan kriteria bayi yang viable, berarti bahwa bayi tersebut mampu
hidup di luar kandungan setelah dilahirkan.
Setelah itu, menentukan apakah bayi tersebut cukup bulan dalam kandungan. Umur
bayi dapat ditentukan dari ciri-ciri eksternal, yaitu tulang rawan daun telinga tipis dan setelah
dilipat cepat kembali, diameter puting susu 3 mm, garis telapak tangan dan telapak kaki 2/3
depan, dan dapat juga dengan menggunakan rumus De Haas. Berdasarkan tanda-tanda yang
didapatkan pada pemeriksaan yaitu garis kaki telapak kaki sudah terbentuk sampai 1/3 kaki
bagian depan dan panjang badan janin 51 cm, dapat diperkirakan bahwa umur bayi dalam
kandungan berkisar antara 37-38 minggu yang dapat diartikan bahwa bayi tersebut dilahirkan
cukup bulan (matur). Pada jenazah bayi tersebut tidak dapat ditentukan umur ekstra uterinnya
yang disebabkan oleh sulitnya mengevaluasi warna kulit dan perubahan tali pusat karena
telah terjadi pembusukan.
Karena bayi tersebut terbukti lahir hidup, maka sebab kematiannya harus ditentukan,
apakah kematian wajar, akibat kecelakaan, atau karena tindakan pembunuhan. Pada
pemeriksaan jenazah bayi tersebut ditemukan tanda kekerasan berupa adanya luka memar
pada pipi kanan, 1,5 cm dari garis pertengahan depan, 1,5 cm dari dagu, dengan ukuran 2 x 2
cm; luka memar pada selaput lendir bibir atas, ukuran 2,5 x 0,5 cm; dan luka memar pada
leher bagian belakang samping kanan, 4 cm dari garis pertengahan belakang, 2 cm dari
bawah tulang telinga, ukuran 5 x 0,5 cm, dan berwarna kecoklatan. Selain itu, tampak patah
tulang rahang atas dan bawah tepat pada garis pertengahan depan. Sedangkan, pada
pemeriksaan dalam di daerah kepala ditemukan resapan darah pada hampir seluruh daerah
kulit kepala bagian dalam. Adanya luka memar dan resapan darah yang ditemukan pada
jenazah bayi di daerah kepala, leher, dan wajah menandakan bahwa telah terjadi kekerasan
tumpul pada daerah tersebut. Sebab kematian jenazah bayi tersebut adalah mati lemas akibat
dibekap karena ditemukan kekerasan tumpul berupa luka memar di pipi, leher bagian
belakang kanan, dan bibir atas bagian dalam yang mana tanda-tanda tersebut menyerupai
luka memar karena pembekapan. Bila pelaku nantinya adalah ibu kandung korban, maka
akan dikenakan pasal 341 atau pasal 342 KUHP.

BAB IV
KESIMPULAN

Pembunuhan anak sendiri (infanticide) adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu
atas anak kandungnya pada saat lahir atau tidak lama kemudian karena takut ketahuan telah
melahirkan anak. Berdasarkan undang-undang, terdapat tiga faktor penting mengenai
pembunuhan anak sendiri, yaitu faktor ibu, waktu, dan psikis.
Pemeriksaan kedokteran forensik pada kasus pembunuhan anak atau yang diduga
kasus pembunuhan anak ditujukan untuk memperoleh kejelasan mengenai anak tersebut
dilahirkan hidup atau lahir mati, adanya tanda-tanda perawatan, luka-luka yang dapat
dikaitkan dengan penyebab kematian, anak tersebut dilahirkan cukup bulan dalam
kandungan, dan adanya kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidupnya.
Pemeriksaan terhadap kasus pembunuhan anak sendiri dilakukan terhadap
pelaku/tertuduh (ibu kandung yang baru melahirkan) dan korban (bayi yang baru dilahirkan).
Pada ibu, diperiksa tanda telah melahirkan anak, berapa lama telah melahirkan, adanya tanda-
tanda partus precipitates, pemeriksaan golongan darah, dan pemeriksaan histopatologi
terhadap sisa plasenta dalam darah yang berasal dari rahim. Sedangkan, pada korban
diperiksa viabilitas, penentuan umur, pernah atau tidak pernah bernapas, umur ekstrauterin,
dan sebab kematian. Sebab kematian dapat berupa akibat penyakit, kecelakaan, dan tindakan
kriminal. Salah satu contoh kematian akibat tindakan criminal adalah tindakan pembunuhan
berupa sufokasi (pembekapan).
Pada kasus ini, korban dilahirkan hidup, tidak ada tanda-tanda perawatan, viable,
cukup bulan dalam kandungan, dan terdapat luka-luka akibat kekerasan tumpul. Sebab
kematian korban tersebut adalah mati lemas akibat dibekap. Oleh karena itu, bila pelakunya
adalah ibu kandung korban, maka akan dikenakan pasal 341 atau pasal 342 KUHP.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hadijah, Siti. 2008. Penegakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Pembunuhan


Bayi Di Wilayah DIY. Available from: http://eprints.undip.ac.id (accessed: 2011, Mei 28)
2. Idries, A.M. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Binarupa Aksara.
3. Budijanto, dkk. 1988.Pembunuhan Anak Sendiri. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
4. Apuranto H, Hoediyanto. 2007. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.
Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik & Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga.
5. Budiyanto, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. 1997. Edisi pertama, cetakan kedua. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal. 165 176.
6. Hoediyanto. (Last Update: 2008, September 17). Pembunuhan Anak (Infanticide).
Available from: http://www.fk.uwks.ac.id (accessed: 2011, Mei 28)