Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH

BATU BARA

diajukan untuk memenuhi tugas


Mata Kuliah Geokimia

Oleh :
Yoga Pradana NIM J2C008077
Natalia Debora Panggabean NIM 24030111150011
Tia Agustiani NIM 24030111150018
Sri Suci Ramadhani NIM 24030111150020
Muhammad Untoro NIM 24030111150007
Sofian Ansori NIM 24030111150013

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
berkat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulisan
makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Geokimia.
Makalah ini membahas mengenai Batubara meliputi, asal usul Batubara,
komposisi kimia Barubara, proses pembentukan Batubara, tambang Batubara
yang ada di Indonesia dan perusahaan yang bergerak di bidang Batubara. Ucapan
terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu baik
secara langsung maupun tidak langsung sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Saran dan kritik dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca dan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi pembaca
di masa yang akan datang.

Semarang, 5 Oktober 2012

Tim Penulis

1|
BAB I
PENDAHULUAN

Bahan galian merupakan salah satu sumber daya alam non hayati, yang
keterjadiannya disebabkan oleh proses-proses geologi. Berdasarkan keterjadian
dan sifatnya bahan galian dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu mineral
logam, mineral industri, serta batubara dan gambut. Karakteristik ketiga bahan
galian tersebut berbeda, sehingga metode eksplorasi yang dilakukan juga berbeda.
Oleh karena itu diperlukan berbagai macam metode untuk mengetahui
keterpadatan, sebaran, kuantitas, dan kualitasnya (Rachimoellah, 2002).

(Tim Kajian Batubara Nasional, 2006)

Dewasa ini pemerintah tengah meningkatkan pemanfaatan batu bara


sebagai energi alternatif baik untuk keperluan domestik seperti pada sektor
industri dan pembangkit tenaga listrik, maupun untuk ekspor. Batubara
merupakan salah satu komoditi yang diunggulkan dan merupakan produk
pertambangan andalan yang menarik bagi investor dan akan berkembang pada
tahun-tahun mendatang seiring dengan harga batubara yang bagus (Tim Kajian
Batubara Nasional, 2006).

1|
(Tim Kajian Batubara Nasional, 2006)

Potensi batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau


Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai
batubara walaupun dalam jumlah kecil, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah,
Papua, dan Sulawesi (Tekmira 2011).

2|
BAB II
ASAL USUL BATUBARA

2.1 Batubara
Batubara (coal) adalah sumber energi fosil yang paling banyak kita miliki
di dunia ini. Batubara sendiri merupakan campuran yang sangat kompleks dari zat
kimia organik yang mengandung karbon, oksigen, dan hidrogen dalam sebuah
rantai karbon serta sedikit nitrogen dan sulfur. Pada campuran ini juga terdapat
kandungan air dan mineral (Anonim1, 2010).
Batubara merupakan sisa tumbuhan dari zaman prasejarah yang berubah
bentuk yang awalnya berakumulasi di rawa dan lahan gambut. Penimbunan danau
dan sedimen lainnya, bersama dengan pergeseran kerak bumi (dikenal sebagai
pergeseran tektonik) mengubur rawa dan gambut yang seringkali sampai ke
kedalaman yang sangat dalam. Dengan penimbunan tersebut, material tumbuhan
tersebut terkena suhu dan tekanan yang tinggi. Suhu dan tekanan yang tinggi
tersebut menyebabkan tumbuhan tersebut mengalami proses perubahan fisika dan
kimiawi dan mengubah tumbuhan tersebut menjadi gambut dan kemudian batu
bara (Anonim2, 2009).
Kondisi yang baik pada proses pembentukan batubara adalah lingkungan
yang berawa dangkal. Kondisi tersebut terdapat pada cekungan sedimen yang
terbentuk sepanjang pantai, daerah delta dan danau. Batubara terbentuk oleh
adanya perubahan secara fisik dan kimia yang dipengaruhi oleh bakteri pengurai,
tekanan, temperatur, serta waktu (Anonim2, 2009).

3|
Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya
terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira
340 juta tahun yang lalu, adalah masa pembentukan batu bara yang paling
produktif dimana hampir seluruh deposit batu bara (black coal) yang ekonomis di
belahan bumi bagian utara terbentuk. Pada zaman Permian, kira-kira 270 juta
tahun lalu, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang ekonomis di belahan
bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke zaman
tersier (70 - 13 juta tahun lalu) di berbagai belahan bumi lain (Anonim2, 2009).
Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode
Pembentukan Karbon atau Batu Bara) dikenal sebagai zaman batu bara pertama
yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari
setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu
pembentukan, yang disebut sebagai maturitas organik. Proses awalnya gambut
berubah menjadi lignit (batu bara muda) atau brown coal (batu bara coklat). Ini
adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah. Dibandingkan dengan
batu bara jenis lainnya, batu bara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari
hitam pekat sampai kecoklat-coklatan. Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang
terus menerus selama jutaan tahun, batu bara muda mengalami perubahan yang
secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batubara muda
menjadi batu bara sub-bituminus. Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung
hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebih hitam dan membentuk
bituminus atau antrasit. Dalam kondisi yang tepat, penigkatan maturitas organik
yang semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit (Anonim 2,
2009).
Tingkat perubahan yang dialami batubara dalam proses pembentukannya,
dari gambut sampai menjadi antrasit disebut sebagai pengarangan memiliki
hubungan yang penting dan hubungan tersebut disebut sebagai tingkat mutu batu
bara. Batu bara dengan mutu yang rendah, seperti batu bara muda dan sub-
bituminus biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram
seperti tanah. Baru bara muda memilih tingkat kelembaban yang tinggi dan
kandungan karbon yang rendah, dan dengan demikian kandungan energinya
rendah. Batu bara dengan mutu yang lebih tinggi umumnya lebih keras dan kuat

4|
dan seringkali berwarna hitam cemerlang seperti kaca. Batu bara dengan mutu
yang lebih tinggi memiliki kandungan karbon yang lebih banyak, tingkat
kelembaban yang lebih rendah dan menghasilkan energi yang lebih banyak
(Anonim3, 2010).

5|
BAB III
PROSES PEMBENTUKAN BATU BARA

3.1 Proses Pembentukan Batubara


Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang sudah mati dengan
cara yang sangat kompleks dan memerlukan waktu yang sangat lama
(puluhan sampai ratusan juta tahun) yang dipengaruhi oleh proses fisika dan
kimia ataupun keadaan geologi. Komposisi kimia batubara hampir sama
dengan komposisi kimia jaringan tumbuhan, keduanya mengandung unsur
utama yang terdiri dari unsur C, H, O, N, S, P.

3.1.1 Skala Waktu Geologi


Proses sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang dialami oleh
material dasar pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen berjalan
selama jutaan tahun. Kedua konsep tersebut merupakan bagian dari proses
pembentukan batubara vang mencakup proses :
Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan
(decay) akibat adanya aktifitas dari bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam

6|
suasana tanpa oksigen dan menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan
seperti selulosa, protoplasma, dan pati.
Pengendapan, yakni proses dimana material halus hasil pembusukan
terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan gambut. Proses ini biasanya
terjadi pada lingkungan berair, misalnya rawa-rawa.
Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas akan
mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat keluarnya
air (H2O) dan sebagian akan menghilang dalam bentuk karbondioksida (CO 2),
karbonmonoksida (CO), dan metana (CH4).
Geotektonik, dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya
tektonik dan kemudian pada fase selanjutnya akan mengalami lipatan dan
patahan. Selain itu gaya tektonik aktif dapat menimbulkan adanya
intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah batubara low grade menjadi
high grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu, maka zona batubara yang
terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat.
Erosi, dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik berupa
pengangkatan kemudian dierosi sehingga permukaan batubara yang ada
menjadi terkupas pada permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang
dieksploitasi pada saat ini (Anonim2, 2009).

7|
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, batubara berasal dari sisa
tumbuhan yang mengalami proses pembusukan, pemadatan yang telah
tertimbung oleh lapisan diatasnya, pengawetan sisa-sisa tanaman yang
dipengaruhi oleh proses biokimia yaitu pengubahan oleh bakteri. Akibat
pengubahan oleh bakteri tersebut, maka sisa-sisa tumbuhan kemudian
terkumpul sebagai suatu masa yang mampat yang disebut gambut
(Peatification) terjadi karena akumulasi sisa-sisa tanaman tersimpan dalam
kondisi reduksi didaerah rawa dengan sistem draenase yang buruk yang
mengakibat selalu tergenang oleh air, yang pada umumnya mempunyai
kedalaman 0,5-1,0 meter. Gambut yang telah terbentuk lama-kelamaan
tertimbun oleh endapan-endapan seperti batulampung, batulanau dan
batupasir. Dengan jangka waktu puluhan juta tahun sehingga gambut ini akan
mengalami perubahan fisik dan kimia akibat pengaruh tekanan (P) dan
temperature (T) sehingga berubah menjadi batubara yang dikenal dengan
Poroses Pembatubaraan (Coalitification) pada tahap ini lebih dominan oleh
proses geokimia dan proses fisika.
Proses geokimia dan fisika berpengaruh besar terhadap pematangan
batubara yaitu perubahan gambut menjadi batubara lignit, batubara
bituminous, sampai pada batubara jenis antrasit. Pematangan bahan organik
secara normal terjadi dengan cepat apabila endapannya terdapat lebih dalam,
hal ini disebabkan karena temperatur bumi semakin dalam akan semakin
panas. Proses pengubahan tumbuh-tumbuhan menjadi batubara ini dikenal
dengan cualitification. Dengan urutan zat yang dihasilkan berupa tumbuh-
tumbuhan yaitu mulai dari:
- Gambut (Peat)
- Lignit
- Sub Bituminous
- Bituminous
- Semi Antrasit
- Antrasit
- Meta Antrasit

8|
Urutan proses pembentukan batubara tersebut secara ringkas dapat
diuraikan sebagai berikut:

a. Peat (Gambut)

Peat atau gambut adalah tumbuh-tumbuhan yang mati dan mengalami


pembusukan dan tercampur dalam paya yang dikenal dengan peat (gambut).
Jumlah air dalam gambut ini sangat besar dan jumlah kandungan air tersebut
berkisar antara 80-90 % ketika baru ditambang dari paya. Penggunaannya
sebagai bahan bakar dalam timber karena akan menghasilkan nyala yang lebih
panjang dengan suhu yang relatif rendah (Pitojo. S, 1983). Berdasarkan
lingkungan tumbuhan dan pengendapan gambut di Indonesia dapat dibagi atas
dua jenis yaitu:
Gambut Ombrogenus, yaitu gambut yang kandungan airnya hanya berasal dari
air hujan. Gambut jenis ini dibentuk dalam lingkungan pengendapan dimana
tumbuhan pembentuk dimasa hidupnya hanya tumbuh dari air hujan, sehingga
kadar abunya adalah asli (Inherent) dari tumbuhan itu sendiri.
Gambut Topogenus, yaitu gambut yang kandungan airnya berasal dari air
permukaan. Jenis gambut ini diendapkan dari sisa tumbuhan yang semasa
hidupnya tumbuh dari pengaruh air permukaan tanah, sehingga kadar abunya
juga dipengaruhi oleh bagian yang terbawa oleh air permukaan tersebut.

Daerah gambut topogenus lebih bermanfaat untuk lahan pertanian bial


dibanding dengan daerah gambut ombrogenus karena gambut topogenus
mengandung lebih banyak nutrisi.

9|
b. Lignit (Brown Coal)

Lignit yaitu suatu nama yang digunakan pada tahap pertama lapisan
Brown Coal. Pada umumnya lignit mengandung material kayu yang sedikit
mempunyai struktur yang lebih kompak bila dibandingkan dengan gambut.
Lignit mempunyai warna yang berkisar antara coklat sampai kehitaman, lignit
segar mempunyai kandungan air antara 20-45 % dan nilai bakar 3056-4611
kal/gram, sedangkan lignit yang bebas air dan abu berkisar antara 5566-111 111
kal/gram (Pitojo. S, 1983).

c. Batubara Sub Bituminous

Jenis batubara ini berwarna hitam mengkilap dan mempunyai kilapan


logam. Batubara ini saat ditambang kandungan air yang terkandung mencapai
45 % dan mempunyai nilai kalor bakar sangat rendah, kandungan karbon
sedikit, kandungan abu banyak dan kandungan sulfur yang banyak.

d. Batubara Bituminous

10 |
Batubara bituminous merupakan jenis batubara yang terpenting dan
dipakai sebagai bahan bakar karena memiliki nialai kalor, kandungan karbon
yang relative tinggi, sedangkan kandungan air, kandungan abu, dan kandungan
sulfur yang relative rendah. Jenis batubara ini juga digunakan sebagai bahan
bakar dalam pembuatan kokas dan pabrik gas.

e. Batubara Semi Antrasit


Batubara semi antrasit ini merpakan batubara yang memiliki sifat antara
batubara bitumen yang mempunyai kandungan zat terbang rendah disbanding
dengan batubara antrasit yang mempunyai zat terbang yang tinggi berkisar
antara 6-14 %. Batubara ini mudah terbakar dan warna nyalanya sedikit
kekuning-kuningan.

f. Batubara Antrasit

Batubara antrasit biasanya disebut batubara keras (hard coal) penamaan


ini berdasarkan atas dasar kekerasan dan juga kekuatannya antrasit. Batubara
antrasit ini mudah untuk ditambang karena letak lapisan didalam kerak bumi
yang tidak pasti, dimana letak lapisannya kadang-kadang tegak dan kadang-

11 |
kadang juga vertical bahkan kadang-kadang juga berlekuk. Sifat barubara ini
ditentukan dari derajat kilap atau warna.
Batubara antrasit mempunyai nilai kalor dan kandungan karbon sangat tinggi
dan memiliki kandungan air atau sulfur yang relative rendah dan kandungan zat
terbang tinggi berkisar antara 8,0 %.

g. Meta Antrasit
Batubara Meta Antrasit adalah batubara dengan kelas yang sangat tinggi
dimana nilai kalorinya sangat tinggi, berkisar antara 8000-9000 kalori. Kadar
air (Water content) sangat kecil kurang dari 1 %, warna hitam mengkilat,
pecahan concoidal, tidak mengotori tangan bila dipegang, menghasilkan api
yang biru bila dibakar, tidak mengeluarkan asap, tidak berbau, kadar abu dan
sulfur juga sangat rendah. Batubara jenis ini adalah antrasit yang mengalami
pengaruh tekanan dan suhu yang tinggi akibat proses tektonik maupun aktivitas
vulkanik yang ada di dekat endapan. Batubara jenis ini terdapat di daerah
Pensylvania, Amerika Serikat.

Semakin tinggi peringkat batubara, maka kadar karbon akan meningkat,


sedangkan hidrogen dan oksigen akan berkurang, karena tingkat pembatubaraan
secara umum dapat diasosiasikan dengan mutu atau mutu batubara, maka batubara
dengan tingkat pembatubaraan rendah disebut pula batubara bermutu rendah
seperti lignite dan sub-bituminus biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh
dan berwarna suram seperti tanah, memiliki tingkat kelembaban (moisture) yang
tinggi dan kadar karbon yang rendah, sehingga kandungan energinya juga rendah.
Semakin tinggi mutu batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta
warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan
berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan
energinya juga semakin besar.

3.2 Reaksi Pembentukan Batubara

12 |
Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang sudah mati, komposisi
utama terdiri dari cellulose. Proses pembentukan batubara dikenal sebagai
proses pembatubaraan (coalification). Faktor fisika dan kimia yang ada di alam
akan mengubah cellulosa menjadi lignit, subbitumina, bitumina atau antrasit.
Reaksi pembentukan batubara adalah sebagai berikut :
5(C6H10O5) C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO
Cellulose lignit gas metan

Keterangan :
Cellulosa (senyawa organik), merupakan senyawa pembentuk batubara.
Unsur C pada lignit jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan jumlah
unsur C pada bitumina, semakin baik kualitasnya.
Unsur H pada lignit jumlahnya relatif banyak dibandigkan jumlah unsur H
pada bitumina, semakin banyak unsur H pada lignit semakin rendah
kualitasnya.
Senyawa gas metan (CH4) pada lignit jumlahnya relatif lebih sedikit
dibandingkan dengan bitumina, semakin banyak (CH4) lignit semakin baik
kualitasnya.

3.3 Faktor-Faktor dalam Pembentukan Batubara


Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan batubara adalah :
Material dasar, yakni flora atau tumbuhan yang tumbuh beberapa juta tahun yang
lalu, yang kemudian terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi
dengan iklim clan topografi tertentu. Jenis dari flora sendiri amat sangat
berpengaruh terhadap tipe dari batubara yang terbentuk. Lingkungan
pengendapan, yakni lingkungan pada saat proses sedimentasi dari material dasar
menjadi material sedimen.
Lingkungan pengendapan ini sendiri dapat ditinjau dari beberapa aspek
sebagai berikut :
a) Struktur cekungan batubara, yakni posisi di mana material dasar diendapkan.
Strukturnya cekungan batubara ini sangat berpengaruh pada kondisi dan posisi
geotektonik.

13 |
b) Topografi dan morfologi, yakni bentuk dan kenampakan dari tempat cekungan
pengendapan material dasar. Topografi dan morfologi cekungan pada saat
pengendapan sangat penting karena menentukan penyebaran rawa-rawa di
mana batubara terbentuk. Topografi dan morfologi dapat dipengaruhi oleh
proses geotektonik.
c) Iklim, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan
batubara karena dapat mengontrol pertumbuhan flora atau tumbuhan sebelum
proses pengendapan. Iklim biasanya dipengaruhi oleh kondisi topografi
setempat.
d) Proses dekomposisi, yakni proses transformasi biokimia dari material dasar
pembentuk batubara menjadi batubara. Dalam proses ini, sisa tumbuhan yang
terendapkan akan mengalami perubahan baik secara fisika maupun kimia.
e) Umur geologi, yakni skala waktu (dalam jutaan tahun) yang menyatakan
berapa lama material dasar yang diendapkan mengalami transformasi. Untuk
material yang diendapkan dalam skala waktu geologi yang panjang, maka
proses dekomposisi yang terjadi adalah fase lanjut clan menghasilkan batubara
dengan kandungan karbon yang tinggi.
f) Posisi geotektonik, yang dapat mempengaruhi proses pembentukan suatu
lapisan batubara dari :
Tekanan yang dihasilkan oleh proses geotektonik dan menekan lapisan
batubara yang terbentuk.
Struktur dari lapisan batubara tersebut, yakni bentuk cekungan stabil, lipatan,
atau patahan.
Intrusi magma, yang akan mempengaruhi dan/atau merubah grade dari lapisan
batubara yang dihasilkan (Anonim2, 2010).

14 |
BAB IV
KOMPOSISI KIMIA BATUBARA

4.1 Komposisi Kimia Batubara


Batubara merupakan senyawa hidrokarbon padat yang terdapat di alam
dengan komposisi yang cukup kompleks. Pada dasarnya terdapat dua jenis
material yang membentuk batubara, yaitu :

4.1.1 Combustible Material


Combustible Material yaitu bahan atau material yang dapat
dibakar/dioksidasi oleh oksigen. Material tersebut umumnya terdiri dari:
karbon padat (fixed carbon)
senyawa hidrokarbon
senyawa sulfur
senyawa nitrogen, dan beberapa senyawa lainnya dalam jumlah kecil.

4.1.2 Non Combustible Material


Non Combustible Material, yaitu bahan atau material yang tidak dapat
dibakar/dioksidasi oleh oksigen. Material tersebut umumnya terdiri dari senyawa
anorganik (SiO2, A12O3, Fe2O3, TiO2, Mn3O4, CaO, MgO, Na2O, K2O, dan
senyawa logam lainnya dalam jumlah yang kecil) yang akan membentuk abu/ash
dalam batubara. Kandungan non combustible material ini umumnya diingini
karena akan mengurangi nilai bakarnya.
Pada proses pembentukan batubara/coalification, dengan bantuan faktor
fisika dan kimia alam, selulosa yang berasal dari tanaman akan mengalami
perubahan menjadi lignit, subbituminus, bituminus, atau antrasit. Proses
transformasi ini dapat digambarkan dengan persamaan reaksi sebagai berikut
5(C6Hl0O5) C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO
Selulosa lignit gas metan
6(C6H10O5) C22H20O3 + 5CH4 + 10H2O + 8CO2 + CO
Selulosa bituminous gas metan
Untuk proses coalification fase lanjut dengan waktu yang cukup lama atau dengan
bantuan pemanasan, maka unsur senyawa karbon padat yang terbentuk akan

15 |
bertambah sehingga grade batubara akan menjadi lebih tinggi. Pada fase ini
hidrogen yang terikat pada air yang terbentuk akan menjadi semakin sedikit.
Nitrogen pada batubara pada umumnya ditemukan dengan kisaran 0,5
1,5 % w/w yang kemungkinan berasal dari cairan yang terbentuk selama proses
pembentukan batubara.
Oksigen pada batubara dengan kandungan 20 30 % w/w terdapat pada
lignit atau 1,5 2,5 % w/w untuk antrasit, berasal dari bermacam-macam material
penyusun tumbuhan yang terakumulasi ataupun berasal dari inklusi oksigen yang
terjadi pada saat kontak lapisan source dengan oksigen di udara terbuka atau air
pada saat terjadinya sedimentasi.
Variasi kandungan sulfur pada batubara berkisar antara 0,5 5 % w/w
yang muncul dalam bentuk sulfur organik dan sulfur inorganik yang umumnya
muncul dalam bentuk pirit. Sumber sulfur dalam batubara berasal dari berbagai
sumber. Pada batubara dengan kandungan sulfur rendah, sulfurnya berasal
material tumbuhan penyusun batubara. Sedangkan untuk batubara dengan
kandungan sulfur menengah-tinggi, sulfurnya berasal dari air laut (Anonim 4,
2009).

16 |
BAB V
SUMBER DAYA DAN KUALITAS BATUBARA

5.1 Kelas Sumber Daya


5.1.1 Sumber Daya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal Resource)
Sumber daya batu bara hipotetik adalah batu bara di daerah penyelidikan
atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang
memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan survei tinjau.
Sejumlah kelas sumber daya yang belum ditemukan yang sama dengan cadangan
batubara yang diharapkan mungkin ada di daerah atau wilayah batubara yang
sama dibawah kondisi geologi atau perluasan dari sumberdaya batubara tereka.
Pada umumnya, sumberdaya berada pada daerah dimana titik-titik sampling dan
pengukuran serat bukti untuk ketebalan dan keberadaan batubara diambil dari
distant outcrops, pertambangan, lubang-lubang galian, serta sumur-sumur. Jika
eksplorasi menyatakan bahwa kebenaran dari hipotesis sumberdaya dan
mengungkapkan informasi yg cukup tentang kualitasnya, jumlah serta rank, maka
mereka akan di klasifikasikan kembali sebagai sumber daya teridentifikasi
(identified resources) (Sukandarrumidi, 2006).

5.1.2 Sumber Daya Batubara Tereka (Inferred Coal Resource)


Sumber daya batu bara tereka adalah jumlah batu bara di daerah
penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan
data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan
prospeksi. Titik pengamatan mempunyai jarak yang cukup jauh sehingga
penilaian dari sumber daya tidak dapat diandalkan. Daerah sumber daya ini
ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari
titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam daerah antara 1,2
km 4,8 km. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih,
sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm
atau lebih (Sukandarrumidi, 2006).

17 |
5.1.3 Sumber Daya Batubara Tertunjuk (Indicated Coal Resource)
Sumber daya batu bara tertunjuk adalah jumlah batu bara di daerah
penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan
data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi
pendahuluan. Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk melakukan
penafsiran secara relistik dari ketebalan, kualitas, kedalaman, dan jumlah insitu
batubara dan dengan alasan sumber daya yang ditafsir tidak akan mempunyai
variasi yang cukup besar jika eksplorasi yang lebih detail dilakukan. Daerah
sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan
kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam
daerah antara 0,4 km 1,2 km. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan
35 cm atau lebih, sub-bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan
ketebalan 150 cm (Sukandarrumidi, 2006).

5.1.4 Sumber Daya Batubara Terukur (Measured Coal Resourced)


Sumber daya batu bara terukur adalah jumlah batu bara di daerah
peyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data
yang memenuhi syaratsyarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi rinci.
Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk diandalkan untuk melakukan
penafsiran ketebalan batubara, kualitas, kedalaman, dan jumlah batubara insitu.
Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup,
rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti
geologi dalam radius 0,4 km. Termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan
35 cm atau lebih, sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan
ketebalan 150 cm (Sukandarrumidi, 2006).

5.2 Kualitas Batubara


Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang
mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh maseral
dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat coalification (rank) (Anonim5,
2008).

18 |
Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan analisa kimia
pada batubara yang diantaranya berupa analisis proksimat dan analisis ultimat.
Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air (moisture), zat terbang
(volatile matter), karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash), sedangkan
analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada
batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan
juga unsur jarang (Anonim5, 2008).
Kualitas batubara ditentukan dengan analisis batubara di laboratorium,
diantaranya adalah analisis proksimat dan analisis ultimat. Kualitas batubara ini
diperlukan untuk menentukan apakah batubara tersebut menguntungkan untuk
ditambang selain dilihat dari besarnya cadangan batubara di daerah penelitian.
Berikut parameter-parameter yang sering menjadi acuan dalam menentukan
kualitas batubara:
a. Kalori (Calorific Value atau CV, satuan kal/g atau kkal/kg)
Kandungan nilai kalor total batubara adalah kandungan panas pada
batubara yang dihasilkan dari pembakaran setiap satuan berat dalam jumlah
kondisi oksigen standar.
b. Kadar kelembaban (Moisture, satuan persen berat)
Hasil analisis untuk kelembaban terbagi menjadi free moisture (FM) dan
inherent moisture (IM). Adapun jumlah dari keduanya disebut dengan total
moisture (TM). Kadar kelembaban mempengaruhi jumlah pemakaian udara
primernya. Batubara berkadar kelembaban tinggi akan membutuhkan udara
primer lebih banyak untuk mengeringkan batubara tersebut pada suhu yang
ditetapkan oleh output pulveriser.
c. Zat terbang (Volatile Matter atau VM, satuan persen berat)
Kandungan VM mempengaruhi kesempurnaan pembakaran dan intensitas
api. Penilaian tersebut didasarkan pada rasio atau perbandingan antara kandungan
karbon (fixed carbon) dengan zat terbang, yang disebut dengan rasio bahan bakar
(fuel ratio). Semakin tinggi nilai fuel ratio maka jumlah karbon di dalam batubara
yang tidak terbakar juga semakin banyak. Jika perbandingan tersebut nilainya
lebih dari 1.2, maka pengapian akan kurang bagus sehingga mengakibatkan
kecepatan pembakaran menurun.

19 |
d. Kadar abu (Ash content, satuan persen berat)
Kandungan abu akan terbawa bersama gas pembakaran melalui ruang
bakar dan daerah konversi dalam bentuk abu terbang (fly ash) yang jumlahnya
mencapai 80 persen dan abu dasar sebanyak 20 persen. Semakin tinggi kadar abu,
secara umum akan mempengaruhi tingkat pengotoran (fouling), keausan, dan
korosi peralatan yang dilalui.
e. Kadar karbon (Fixed Carbon atau FC, satuan persen berat)
Nilai kadar karbon diperoleh melalui pengurangan angka 100 dengan
jumlah kadar air (kelembaban), kadar abu, dan jumlah zat terbang. Nilai ini
semakin bertambah seiring dengan tingkat pembatubaraan. Kadar karbon dan
jumlah zat terbang digunakan sebagai perhitungan untuk menilai kualitas bahan
bakar, yaitu berupa nilai fuel ratio sebagaimana dijelaskan di atas.
f. Kadar sulfur (Sulfur content, satuan persen berat)
Kandungan sulfur dalam batubara terbagi dalam pyritic sulfur, sulfate
sulfur, dan organic sulfur. Namun secara umum, penilaian kandungan sulfur
dalam batubara dinyatakan dalam Total Sulfur (TS). Kandungan sulfur
berpengaruh terhadap tingkat korosi sisi dingin yang terjadi pada elemen pemanas
udara, terutama apabila suhu kerja lebih rendah dari pada titik embun sulfur, di
samping berpengaruh terhadap efektivitas penangkapan abu pada peralatan
electrostatic precipitator.
g. Ukuran (Coal size)
Ukuran butir batubara dibatasi pada rentang butir halus (pulverized
coal ataudust coal) dan butir kasar (lump coal). Butir paling halus untuk ukuran
maksimum 3 milimeter, sedangkan butir paling kasar sampai dengan ukuran 50
milimeter.
h. Tingkat ketergerusan (Hardgrove Grindability Index atau HGI)
Kinerja pulveriser atau mill dirancang pada nilai HGI tertentu. Untuk HGI
lebih rendah, kapasitasnya harus beroperasi lebih rendah dari nilai standarnya pula
untuk menghasilkan tingkat kehalusan (fineness) yang sama (Anonim5, 2008).

20 |
BAB VI
TAMBANG DAN PERUSAHAAN BATUBARA DI INDONESIA

6.1 Tambang Batubara di Indonesia


Indonesia mengalami pertumbuhan konsumsi batubara yang cukup
signifikan dalam sepuluh tahun terakhir, yakni dari 13,2 juta ton pada 1997
menjadi 45,3 juta ton pada 2007, atau meningkat lebih dari 3 kali lipat (243%).
Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam tersebut disebabkan meningkat
tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit
listrik, baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. Jumlah perusahaan
pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa
tahun terakhir, tercatat sampai dengan 2003 misalnya tercatat 251 perusahaan
penambangan batubara di Indonesia. Tim Kajian Batubara Nasional, Kelompok
Kajian Kebijakan Mineral dan Batubara dari Pusat Litbang Teknologi Mineral dan
Batubara (2006) melaporkan perkembangan pemetaan kemajuan industry batubara
di Indonesia sebagai berikut :

(Tim Kajian Batubara Nasional, 2006)

21 |
(Tim Kajian Batubara Nasional, 2006)

22 |
(Tim Kajian Batubara Nasional, 2006)

23 |
(Tim Kajian Batubara Nasional, 2006)

24 |
6.2 Perusahaan dan Instansi yang bergerak di Bidang Batubara
Indonesia sebagai negaya yang kaya dengan potensi sumber daya Batubara
tentunya menjadi tempat yang sangat baik untuk membuka peluang usaha di
bidang Batubara, beberapa perusahaan yang bergerak di bidang batubara
diantaranya :
1 Adaro Indonesia
2 Allied Indo Coal
3 Aneka Tambang
4 Antang Gunung Meratus
5 Arutmin Indonesia
6 Bahari Cakrawala Sebuku
7 Bentala Coal Mining
8 Berau Coal
9 Bukit Baiduri Enterprise
10 Fajar Bumi Sakti
11 Gunung Bayan Pratama Coal
12 Kaltim Prima Coal
13 Kideco Jaya Agung
14 Tambang Batubara Bukit Asam
15 Tanito Harum
(Tim Kajian Batubara Nasional, 2005)
Perusahaan yang bergerak di bidang batubara yang akan dibahas dalam
makalah ini yaitu Aneka Tambang. Sedangkan instansi pemerintahan yang
bergerak di bidang batubara salah satunya adalah Pusat Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Mineral Dan Batubara (Puslitbang Tekmira).

6.2.1 PT.Aneka Tambang


6.2.1.1 Sejarah Perusahaan PT.Aneka Tambang
PT Aneka Tambang (Persero), Tbk dibentuk pada tanggal 5 Juli 1968,
sebagai perusahaan negara yang khusus bergerak dalam bidang pertambangan dan
pengolahan mineral. Ketujuh perusahaan negara yang tergabung di dalam PT
Aneka Tambang yaitu : PT Nikel Indonesia, PT Anaka Tambang Bauksit
Indonesia, PT Logam Mulia, Proyek Penambangan Intan Kalimantan Selatan,

25 |
Perusahaan Tambang Umum Negara, PN Tambang Emas Cikotok dan Proyek
Emas Pekan baru Riau (Simanjuntak 2011).
Pada tanggal 21 mei 1975, sesuai dengan keputusan Menteri Kehakiman
Republik Indonesia, status Aneka Tambang berubah dari Perusahaan Negara
menjadi Perusahaan Terbatas (PT Aneka Tambang). Unit Geologi adalah salah
satu unit PT Aneka Tambang (Persero), Tbk yang didirikan dengan maksud
sebagai suatu usaha untuk menuju kemandirian perusahaan dibidang geologi dan
eksplorasi, bahkan diarahkan pada pelayanan jasa geologi dan eksplorasi pada
pihak III. Selaras dengan semakin berkembangnya misi, sasaran serta strategi dan
kebijaksanaan yang diembannya sejak berdiri sebagaimana tertuang pada SK
Direksi PT Aneka Tambang Nomor 54/1974, 58/1976, 85/1978 dan 67/1980,
sampai saat ini telah mengalami empat kali pergantian nama serta struktur
organisasi, mulai dari Divisi Geologi, diubah menjadi Dinas Geologi, diubah lagi
menjadi Divisi Geologi dan kemudian ditetapkan menjadi Unit Geologi. Dalam
rangka mencapai visi, melaksanakan misi dan mengimplementasikan strategi
perseroan, dianggap perlu menyesuaikan susunan organisasi Unit Geologi, maka
sesuai dengan keputusan Direksi PT Aneka Tambang (Persero), Tbk nomor:
258a.k/0251/DAT/2000 Unit Geologi diubah namanya menjadi Unit Geomin
(Simanjuntak 2011).
Unit Geomin adalah suatu unit bisnis strategis yang menjadi bagian dari
unsur pelaksana dalam organisasi PT Aneka Tambang (Persero), Tbk. Tugas
pokok Unit Geomin adalah mengelola dan mengembangkan usaha jasa eksplorasi,
usaha mencari cadangan baru dan usaha jasa penambangan berdasarkan prinsip-
prinsip bisnis untuk menghasilkan keuntungan dan manfaat menurut tolak ukur
yang ditetapkan oleh direksi (Simanjuntak 2011).

6.2.1.2 Misi, Sasaran dan Strategi PT.Aneka Tambang


a. Misi
Misi utama PT Aneka Tambang (Persero), Tbk Unit Geomin adalah
sebagai ujung tombak PT Aneka Tambang (Persero), Tbk khususnya dalam
eksplorasi untuk mencari dan menemukan cadangan baru (new discovery)
komoditi mineral. Sasaran komoditi mineral adalah emas, nikel dan bauksit tanpa

26 |
mengabaikan komoditi mineral lainnya yang tentunya akan ditentukan oleh
perkembangan teknologi abad ke-21. Misi perusahaan akan diimplementasikan
dengan bertopang pada tiga pilar, yaitu: Integritas (kejujuran dan kebenaran),
Profesional (kerahasiaan dan kualitas), Kemandirian (berkembang berdasarkan
kualitas) (Simanjuntak 2011).

b. Sasaran
Untuk mempertajam misinya, Unit Geomin menetapkan sasaran pokok
sebagai berikut, inventori data yang memungkinkan diperoleh cadangan komoditi
yang potensial untuk dikembangkan sesuai dengan sasaran yang ditentukan oleh
Direktur Pengembangan PT Aneka Tambang (Persero), Tbk Unit Geomin atau
komoditas lain yang ajukan berdasarkan proposal yang dipersiapkan oleh Unit
Geomin. Penyempurnaan Organisasi dan optimasi personil Unit Geomin yang
dapat mendukung pelaksanaan misinya selaku penjual jasa yang mandiri dan
profesional.

c. Strategi
Misi dan sasaran Unit Geomin dituangkan dalam beberapa srategi pokok
sebagai berikut : pedoman kerja eksplorasi adalah sistemika yang baik, ketat
namun inovatif, peningkatan efisiensi dengan tolak ukur kualitas, kuantitas dan
standarisasi, pendataan Geomin atas kuasa pertambangan milik PT Aneka
Tambang (Persero), Tbk yang merupakan aset yang perlu dilakukan pengamanan,
investasi peralatan eksplorasi untuk mendukung sasaran yang dicapai, Pengolahan
laporan secara tertib dan professional dan pemanfaatan computer secara terpadu
disetiap bidang untuk mewujudkan sistem informasi manajemen Unit Geomin.

6.2.1.3 Lokasi dan Tata Letak Perusahaan PT.Aneka Tambang


PT Aneka Tambang (Persero), Tbk Unit Geomin berlokasi di Jalan Pemuda No 1
Pulogadung, Jakarta Timur. Lokasi ini adalah lokasi yang cukup starategis
sehingga mudah diakses dari segala arah.

27 |
6.2.2 Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral Dan Batubara
6.2.2.1 Sejarah dan Perkembangan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara
(Puslitbang Tekmira), terbentuk dari penggabungan Balai Penelitian Tambang dan
Pengolahan Bahan Galian dengan Akademi Geologi dan Pertambangan tahun
1976. Awalnya Puslitbang Tekmira bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Mineral (P3TM) sebagai perubahan dari nama Pusat Pengembangan
Teknologi Mineral (PPTM). Saat ini Puslitbang Tekmira berada di bawah Badan
Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral. Puslitbang
Tekmira memiliki empat kelompok fungsional kelitbangan, hal ini untuk
mendukung manajemen dalam aspek kelitbangan dan administratif. Empat
kelompok fungsional tersebut yaitu kelompok litbang pengolahan dan
pemanfaatan mineral, kelompok litbang pengolahan dan pemanfaatan batubara,
kelompok penerapan teknologi penambangan mineral dan batubara, dan kelompok
kajian kebijakan pertambangan mineral dan batubara (Ghozali 2011).
Puslitbang Tekmira memiliki banyak pengalaman dalam melaksanakan
penelitian dan pengembangan teknologi mineral dan batubara yang didukung oleh
tenaga profesional, laboratorium pengujian yang terakreditasi oleh Komite
Akreditasi Nasional (KAN), (ISO/IEC 17025:2005) serta sistem pengelolaan
manajemen yang telah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000. Demi menjaga
kualitas kelitbangan dan pelayanan jasa teknologi, Puslitbang Tekmira dilengkapi
oleh standar mutu yang diterapkan secara konsisten. Pelaksanaan kegiatan di
Puslitbang Tekmira didukung oleh Laboratorium Pengujian dan Laboratorium
Penelitian (Ghozali 2011).

6.2.2.2 Visi dan Misi


Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara
memiliki visi yaitu menjadi Puslitbang yang mandiri, profesional, dan unggul
dalam pemanfaatan mineral dan batubara. Visi tersebut dapat terwujud dengan
adanya misi Puslitbang Tekmira yaitu melaksanakan litbang mineral dan batubara,
melaksanakan fungsi decission support system dalam perumusan kebijakan
pemerintah, serta memberikan pelayanan jasa teknologi (Ghozali 2011).

28 |
6.2.2.3 Tugas dan Fungsi
Puslitbang Tekmira mempunyai tugas antara lain melaksanakan penelitian
dan pengembangan teknologi pertambangan, teknologi pengolahan mineral,
teknologi pemanfaatan batubara, rancang bangun dan rekayasa pertambangan,
takso-ekonomi dan informasi serta pelayanan jasa teknologi pertambangan dan
pemanfaatan batubara. Puslitbang Tekmira mempunyai fungsi penelitian dan
pengembangan teknologi tambang terbuka, tambang dalam, geomekanika
tambang, keselamatan kerja dan reklamasi tambang, serta melakukan pelayanan
jasa teknologi penambangan; pengujian kimia dan fisika mineral, penelitian dan
pengembangan pengolahan mineral industri, mineral logam, teknologi pengolahan
atau ekstraksi mineral; dan pengujian kimia dan fisika gambut, penelitian dan
pengembangan teknologi pengolahan konservasi terhadap batubara dan gambut
(Ghozali 2011).

6.2.2.4. Kegiatan Laboratorium


a) Laboratorium Pengujian Kimia Mineral
Laboratorium Pengujian Kimia Mineral melakukan analisis komposisi
kimia bahan baku maupun hasil pengolahan atau produk berbagai mineral dan
bahan galian. Hasil analisis berguna untuk menunjang kegiatan penelitian,
kegiatan eksplorasi, dan kegiatan eksploitasi bahan tambang, bahkan sampai
kegiatan pemasaran. Pengujian yang dilakukan meliputi analisis mineral lempung
(kaolin, bentonit, zeolit, ball clay, felspar, tufa, trass, perlit, mika, diatome, batu
apung, toseki, obsidian, dan sebagainya); batuan/bijih sulfida (emas, perak,
galena, pirit, kalkopirit, spalerit, antimon, dan lain-lain), kapur (batu gamping,
kalsit, dolomit, kapur tohor, marmer, kalk, dan sebagainya), batuan fosfat, pasir
kuarsa, pasir zirkon, bijih bauksit, bijih besi (pasir besi, laterit, dan pelet besi),
bijih mangan, barit, barium karbonat, batuan/bijih timah, antimon, bismuth, dan
lain-lain. Fasilitas peralatan yang digunakan ialah AAS SpectrAA 220FS lengkap
dengan VGA dan GTA, Spektrofotometer UV-Vis, Auto Titrator, Microwave
Digester, Peralatan Fire Assay, Muffle Furnace, Drying Oven dan sebagainya
(Ghozali 2011).

b) Laboratorium Pengujian Fisika Mineral

29 |
Laboratorium Pengujian Fisika Mineral menyiapkan layanan teknologi
analisis komposisi mineral yang meliputi uji mikroskopi, difraksi sinar-X (XRD),
serta melakukan pengujian sifat-sifat fisika mineral lainnya seperti distribusi
ukuran butir, daya serap air/minyak, kapasitas tukar kation dan lain sebagainya.
Pengujian yang dilakukan yaitu identifikasi mineral dengan XRD untuk
mengetahui jenis-jenis mineral yang terkandung dalam contoh batuan. Fasilitas
peralatan yang digunakan X-Ray Difraction (Ghozali 2011).

c) Laboratorium Batubara
Laboratorium Batubara melakukan layanan teknologi karakterisasi
batubara melalui analisis proksimat (air lembab, zat terbang dan kadar abu),
analisis ultimat (C, H, S, N, Cl dan O), pengujian nilai kalor, titik leleh abu dan
analisis komposisi abu batubara (SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, K2O, Na2O,
TiO2, MnO2, dan LOI). Fasilitas peralatan yang digunakan ialah Minimum Free
Space Oven, Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS), UV-Vis
Spectrophotometer, Gas Chromatography (GC), Gas Chromatography Mass
Spectrophotometer (GCMS) dan lain-lain (Ghozali 2011).

d) Laboratorium Mekanika Tanah dan Mekanika Batuan


Laboratorium Pengujian Mekanika Tanah melayani pengujian tanah,
diantaranya pengujian sifat-sifat fisik (kadar air, berat isi, berat jenis, analisis
ayak, hidrometer), sifat-sifat mekanik (kuat tekan, kuat geser, konsolidasi,
permeabilitas, Triaxial/ Unconsolidated Undrained/UU, Consolidated
Undrained/CU, Saturated Consolidated Undrained/SCU, Consolidated
Drained/CD) dan bahan jalan (Compaction, dan California Bearing Ratio/CBR).
Fasilitas peralatan yang digunakan ialah peralatan-peralatan uji sifat fisik (kadar
air, berat isi, berat jenis, analisis ayak, hidrometer, alat Atterberg), dan peralatan
uji sifat mekanik (kuat tekan, kuat geser, konsolidasi, permeabilitas, Triaxial UU,
CU, SCU, CD, Compaction, dan CBR). Laboratorium Pengujian Mekanika
Batuan melayani pengujian batuan diantaranya pengujian sifat-sifat fisik (kadar
air, berat isi, berat jenis, daya serap air, kekerasan, slake durability), sifat-sifat
mekanik (kuat tekan, kuat tarik, triaxial, kuat geser residu, point load,

30 |
ultrasionic/dynamic poisson's ratio), dan agregat (daya aus gesek dengan bejana
Los Angeles, daya aus tekan dengan bejana Rudeloff, soundness dengan larutan
natrium sulfat). Fasilitas peralatan yang digunakna ialah Peralatan uji sifat fisik,
uji sifat mekanik (kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, triaxial), dan peralatan uji
agregat (bejana Los Angeles, bejana Rudeloff) (Ghozali 2011).

31 |
DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1. 2010. Batubara. http://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara Diakses pada


tanggal 18 Maret 2010.

Anonim 2. 2009. Proses Pembentukan Batubara. http://www.geofacts.co.cc /


2009/04/ Diakses pada tanggal 18 Maret 2010.

Anonim 3. 2010. Batubara Sebagai Sedimen Organik. http://ilmubatubara.


wordpress.com/ Diakses pada tanggal 18 Maret 2010.

Anonim 4. 2009. Industri Batubara. http://sheiladefirays.blogspot.com/2009/12/


Diakses pada tanggal 17 April 2010.

Anonim 5. 2008. Analisis Batubara. http://idhamds.wordpress.com/2008/09/15/


Diakses pada tanggal 17 April 2010.

Bayuseno , A.P. 2009. Pengaruh Sifat Fisik dan Struktur Mineral Batu Bara
Lokal terhadap Sifat Pembakaran. Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro.

Dinas Pertambangan dan Energi. 2005. Sejarah dan Perkembangan Dinas


Pertambangan dan Energi Propinsi Kalimantan Selatan. Banjarbaru.

Ghozali M. 2011. Analisis Kimia Batu Gamping. IPB. Bogor

____. 2009. Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi. Banjarbaru.

Mirmanto. 2007. Nilai Kalor Sampah Hasil Produksi Masyarakat Kota


Mataram. Jurusan Teknik Mesin, Universitas Mataram.

Putrago. 2009. Pengertian Sumber Daya dan Cadangan Batubara.


http://putrago.blog.akprind.ac.id/content/ Diakses pada tanggal 18 Maret
2010.

Rachimoellah. 2002. Prospek Pemanfaatan Batubara Dan Gambut Sebagai


Bahan Baku Industri Kimia dalam Makalah Simposium Nasional Kimia.
Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

Ratna. 2009. Entalpi dan Perubahan Entalpi http://id.wikipedia.org/wiki/


Entalpi_dan_Perubahan_Entalpi Diakses pada tanggal 29 Maret 2010.

Simanjuntak B. 2011. Perbandingan Metode Fire Assay dan MIBK dalam


Penentuan Kadar Emas Menggunakan Spektofotometer Serapan Atom.
IPB. Bogor

Standar Nasional Indonesia. Analisis Kadar Abu Contoh Batubara. SNI 13-
3478-1994.

32 |
Standar Nasional Indonesia. Analisis Kadar Air Lembab dari Contoh Batubara
Kering Udara. SNI 13-3477-1994, UDC.

Standar Nasional Indonesia. Analisis Kadar Karbon Tertambat (Fixed Carbon)


Contoh Batubara. SNI 13-3998-1995, ICS.

Standar Nasional Indonesia. Analisis Kadar Zat Terbang (Volatile Matter)


Contoh Batubara. SNI 13-3999-1995, ICS.

Standar Nasional Indonesia. Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara.


Amandemen 1 - SNI 13-5014-1998, ICS 73.020.

Sukandarrumidi. 2004. Batubara dan Gambut. Gadjah Mada University Press,


Yogyakarta.

Sukandarrumidi. 2006. Batubara dan Pemanfaatannya. Gadjah Mada University


Press, Yogyakarta.

Tim Kajian Batubara Nasional. 2006. Batubara Indonesia. Kelompok Kajian


Kebijakan Mineral dan Batubara Pusat Litbang Teknologi Mineral dan
Batubara.

33 |