Anda di halaman 1dari 5

Kesadaran politik

kesadaran politik merupakan proses batin yang menampakan keinsyafan dari setiap warga
negara akan pentingnya urusan kenegaraan dalam kehidupan bernegara. Kesadaran politik
atau keinsyafan hidup bernegara menjadi penting dalam kehidupan kenegaraan, mengingat
begitu kompleks dan beratnya tugas yang dipikul negara dalam hal ini para penyelenggara
negara.
Kesadaran politik masyarakat tidak hanya diukur dari tingkat partisipasi mereka dalam
kegiatan pemilihan umum. Akan tetapi diukur juga dari peran serta mereka dalam mengawasi
atau mengoreksi kebijakan dan perilaku pemerintah selama memegang kekuasaan
pemerintahan. Setiap masyarakat mempunyai kesadaran politik yang berbeda-beda.
Kesadaran politik masyarakat sangat tergantung pada latar belakang pendidikannya.
Masyarakat yang mempunyai tingkat pendidikantinggi cenderung mempunyai kesadaran
politik yang relatif tinggi.
Sebaliknya, kelompok masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah, maka kesadaran
politiknya pun relatif rendah sehingga memerlukan pembinaan

Budaya politik yang berkembang di masyarakat akan selalu berkaitan dengan kesadaran
politik. Pada hakekatnya budaya politik merupakan cerminan dari kesadaran politik suatu
masyarakat terhadap sistem politik yang sedang berlaku

Mekanisme sosialisasi budaya politik Dengan terjadinya gerakan reformasi Indonesia


dimana ada perubahan politik secara siginifikan baik di tingkat nasional maupun lokal, maka
perlu juga adanya perubahan dalam sikap dan budaya politik di tingkat implementasinya.

Oleh karena itu, arus sentralisasi yang dibangun oleh Orde Baru di mana segala sesuatunya
selalu menuju ke pusat (Jakarta), sekarang arusnya terbalik menjadi divergan, di mana
daerah-daerah dapat menjadi pusat-pusat pertumbuhan dan kebijakan itu sendiri. Sehingga
orang-orang yang potensial atau sumber daya alam yang dimiliki daerah dapat dikembangkan
di daerah itu sendiri dan tidak harus menuju pusat.

Pemilu merupakan salah satu momentum strategis yang akan menentukan masa depan bangsa
Indonesia, karena di dalamnya terletak keputusan politik rakyat untuk memilih presiden,
wakil presiden, dan wakil rakyat yang akan menentukan jalannya pemerintahan. Hasil pemilu
diharapkan benar-benar menjadi jalan konstitusional bagi perubahan-perubahan politik dan
kehidupan nasional untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Untuk itulah rakyat dituntut memiliki kesadaran politik yang tinggi. Kesadaran bahwa
pemilihan umum adalah arena demokrasi yang menuntut sikap kritis, rasional, terbuka,
toleran, serta menghargai pluralitas dan pilihan politik orang lain.

Oleh karena itu, kesadaran politik rakyat harus dibangkitkan agar tumbuh masyarakat politik
yang kritis. Seorang individu tersosialisasikan di bidang politik tidak hanya melalui satu
sarana saja. Seorang individu dapat bersosialisasi politik melalui berbagai macam sarana atau
agen, seperti berikut :

1. Keluarga

Keluarga merupakan lembaga atau kelompok sosial paling awal dijumpai seorang anak
(individu). Nilai, sikap, kaidah yang diperkenalkan kepada anak tidak secara eksplisit
mengenai masalah politik. Dalam keluarga yang demokratis anak akan lebih banyak
mendapat kebebasan, sedangkan di dalam keluarga yang tidak demokratis, anak akan lebih
banyak tertekan.

Wadah penanaman (sosialisasi) nilai-nilai politik yang paling efisien dan efektif adalah
keluarga. Dalam keluarga, orang tua dan anak sering melakukan obrolan ringan tentang
segala hal menyangkut politik, sehingga tanpa disadari terjadi transfer pengetahuan dan nilai-
nilai politik tertentu yang diserap oleh si anak.

2. Sekolah

Di sekolah, melalui pelajaran civics education (pendidikan kewarganegaraan), siswa dan


gurunya saling bertukar informasi dan berinteraksi dalam membahas topik-topik tertentu
yang mengandung nilai-nilai politik dan praktis. Dengan demikian, siswa telah memperoleh
pengetahuan awal tentang kehidupan berpolitik secara dini dan nilai-nilai politik yang benar
dari sudut pandang akademis.

Selain melalui sarana keluarga, sekolah dan partai politik, sosialisasi politik juga dapat
dilakukan melalui peristiwa sejarah yang telah berlangsung (pengalaman tokoh-tokoh politik
yang telah tiada). Melalui berbagai seminar, dialog, debat, dan sebagainya yang disiarkan ke
masyarakat, tokoh-tokoh politik juga secara tidak langsung melakukan sosialisasi politik.

3. Kelompok bermain
Seorang individu akan tertarik kepada masalah politik apabila teman-temannya dalam
kelompok itu tertarik kepada masalah politik.

4. Pekerjaan

Organisasi yang dibentuk atas dasar pekerjaan dapat berfungsi sebagai saluran informasi
tentang hal yang menyangkut masalah politik dengan jelas, atau paling tidak akan
mempunyai pengaruh apabila yang bersangkutan terjun secara aktif di dalam organisasi
politik.

5. Media massa

Melalui media massa masyarakat dapat memperoleh informasi politik, di mana media massa
dapat mempengaruhi sikap dan keyakinan politik ataupun ideologi seseorang.
BENTUK BUDAYA POLITIK PARTISIPAN

Budaya partisipan yaitu budaya dimana masyarakat sangat aktif dalam kehidupan politik, dan
masyarakat yang bersangkutan sudah relatif maju baik sosial maupun ekonomi, tetapi masih
bersifat pasif.
Contoh budaya politik partisipan ini antara lain adalah peran serta masyarakat dalam
pengembangan budaya politik yang sesuai dengan tata nilai budaya bangsa Indonesia.

Budaya politik partisipan dapat di artikan sebagai orang orang dengan budaya politik yang
selalu ikut serta dalam proses pengambilan keputusan public untuk menentukan tujuan dan
cara cara mencapai tujuan bersama. Focus perhatian budaya politik partisipan adalah
partisipan politik, yaitu usaha terorganisir oleh para Negara untuk memilih pimpinan
pimpinan mereka dan mempengaruhi bentuk dan jalannya kebijaksanaan umum. Usaha ini di
dasarkan atas kesadaran dan tanggung jawab partisipan terhadap kehidupan bersama sebagai
suatu bangsa dan Negara.

2. Bentuk-Bentuk Budaya Partisipan


Partisipan politik merupakan penentuan sikap dan keterlibatan setiap individu
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam rangka mencapai-capai cita-
cita bangsa. Bentuknya di bedakan dalam kegiatan politik berbentuk
konvensional dan non konvensional.
Menurut Almond, Bentuk politik di bedakan :
a. Konvensional
~ Pemberian suara (voting)
~ Diskusi kelompok
~ Kegiatan Kampanye
~ Membentuk dan bergabung dalam kelompok kepentingan
~ Komunikasi individual dengan pejabat politik/admistrasi
~ pengajuan Petisi

b. Non Konvensional
~ Demokrasi
~ Konfrontasi
~ Mogok
~ Tindak kekerasan politik terhadap harta
~ Tindak kekerasan politik terhadap Manusia
~ Perang gerilya/revolusi

c. Budaya politik tidak sesuai dengan semangat pembangun politik bangsa


Adapun budaya politik yang bertentangan dengan semangat pembangunan
politik bangsa antara lain :
1. Terjadi demonstrasi yang mengganggu ketemtraman umum
2. Timbul konflik di berbagai wilayah karena ketidak adilan.
3. tindak kekerasan
4. Aksi mogok oleh elemen masyarakat
5. Berbagai macam pelanggaran HAM

d. Budaya politik partisipan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan


bernegara
Contohnya :
1. menjauhkan diri dari perbuatan perbuatan yang melanggar perbuatan
hukum
2. menciptakan disiplin dalam segala aspek kehidupan
3. berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pembangunan
4. membangun hak pilih dengan sebaik-baiknya
5. bermusyawarah untuk menyelesaikan segala permasalahan
6. taat dan patuh terhaddap aturan yang berlaku.
Contoh lainnya adalah:
1. kritis memilih partai politik anggota parlemen
2. kritis memilih presiden dan wakil presiden
3. kritisme dalam mewujudkan pemilu Luber dan Jurdil
Untuk mewujudkan pemilu yang luber dan jurdil diantaranya sebagai berikut :
1. peraturan pemilu tidak membuka peluang untuk kecurangan
2. peraturan pelaksanaan pemilu yang membuat petunjuk teknis dan petunjuk
pelaksanaan pemilu tidak membuaka peluang kecurangan
3. harus mandiri dan independen
4. parpol harus memiliki persiapan yang memadai
5. lembaga pemilu harus aktif