Anda di halaman 1dari 8

Nama peserta :

dr. Budi Kusumah


Nama wahana: Rumah Sakit Muhammadiah Lamongan
Topik: Autonomi
Tanggal (kasus): 4 januari 2017
Nama Pasien: Tn S No. RM:
Tanggal presentasi: Nama pendamping:
1. dr. Hj Umi Aliyah, MARS
2. dr. Suhariyanto SpBS
Tempat presentasi:
Obyektif presentasi:
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi:
Tn. S usia 38 tahun datang dengan keluhan nyeri pada lengan kanan, keluhan dirasakan pasien
setelah mengalami kecelakaan 2 jam SMRS, nyeri dirasakan hilang timbul, kesemutan pada
tangan disangkal pasien, pasien juga mengeluh lengan kanan tampak bengkok, pasien tidak
mengeluh nyeri kepala, mual dn muntah disangkal, sesak disangkal. Kronologis kejadian pasien
menggunakan motor memakai helm dalam keadaan mengantuk menabrak pengendara lain,
pasien akhirnyan dilakukan pemeriksaan radiologi hasilnya menunjukan adanya patah tulang os
radius dan ulna, oleh dokter dimotivasi untuk dilakukan operasi teteapi pasien menolak, dan
pasien meminta diberi suntikan anti nyeri saja, akhirnya setelah di motivasi beberapa kali tidak
berhasil, deokter mengikuti keinginan pasien dengan syarat harus menandatangani surat
penolakan rawat inap dan tindakan operasi. Pasien akhirnya menandatangani surat dan pulang.
Tujuan: mengobati pasien dengan skizofrenia
Bahan bahasan: Tinjauan pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas: Diskusi Presentasi Email Pos
dan diskusi
Data pasien: Nama: Tn. S Nomor RM:
Nama klinik: Puskesmas Telp: - Terdaftar sejak: 29 Oktober
Kembangbahu 2016
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/ gambaran klinis:
Closed fraktur os radius ulna, nyeri pada lengan kanan dengan deformitas
2. Riwayat kesehatan/ penyakit:
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
3. Riwayat keluarga:
tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien
4. Riwayat pekerjaan: bertani
5. Kondisi lingkungan sosial dan fisik :
Pasien tinggal serumah bersama istri dan dua anaknya. Status sosial pasien termasuk
dalam keluarga kurang mampu.
6. Lain-lain:
Pemeriksaan fisik
Kesadaran : compos mentis
Keadaan umum : tampak kesakitan
Tanda vital : TD : 110/70 mmHg
N : 87 x/m
RR : 20 x/m
S : 36,0 0C
Mata : A-I-C-D-
Thoraks :
Cor dalam batas normal
Pulmo , inspeksi = simetris kanan dan kiri
Palpasi = vokal fremitus sama kanan dan kiri
Perkusi = sonor kanan dan kiri
Auskultasi = suara napas vesikuler +/+ , rh -/- wh -/-
Abdomen : inspeksi = normal
Auskultasi = BU (+) normal
Palpasi, perkusi tidak dilakukan
Ekstremitas : dalam batas normal, AHKM
Lain lain : tampak deformitas pada antebracii dextra, tidak terdapat luka terbuka,
terba hangat, krepitasi sulit di evalusai, myeri tekan +

Hasil pembelajaran:
1. Subyektif :
Tn. S usia 38 tahun datang dengan keluhan nyeri pada lengan kanan, keluhan dirasakan pasien
setelah mengalami kecelakaan 2 jam SMRS, nyeri dirasakan hilang timbul, kesemutan pada
tangan disangkal pasien, pasien juga mengeluh lengan kanan tampak bengkok, pasien tidak
mengeluh nyeri kepala, mual dn muntah disangkal, sesak disangkal. Kronologis kejadian pasien
menggunakan motor memakai helm dalam keadaan mengantuk menabrak pengendara lain,
pasien akhirnyan dilakukan pemeriksaan radiologi hasilnya menunjukan adanya patah tulang os
radius dan ulna, oleh dokter dimotivasi untuk dilakukan operasi teteapi pasien menolak, dan
pasien meminta diberi suntikan anti nyeri saja, akhirnya setelah di motivasi beberapa kali tidak
berhasil, deokter mengikuti keinginan pasien dengan syarat harus menandatangani surat
penolakan rawat inap dan tindakan operasi. Pasien akhirnya menandatangani surat dan pulang.

Pembahasan
Pada kasus ini terdapat kasus bioetik dimana pasien dalam kondisi harus dirawat dan
diakukan tindakan operatif (ORIF) namun pasien menolak untuk dilakukan tindakan operasi,
tetapi pasien meminta dokter memberikan obat anti nyeri, dokter sempat mengedukasi
bebereapa kali namun tetap saja pasien menolak, akhirnya dokter menyerah dan lebih
mementingkan kemauan pasien. Pada kasus seperti ini dokter mempunyai dilema antara
autonomi dengan non malaificience dan benefficience, yang akhirnya lebih memilih
autonomi pasien untuk kesenangan pasien sendiri

Autonomi menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy). Menghormati


martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia
yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan kedua, setiap
manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan.
a Pandangan Kant : otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak,
memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi
dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar
(heteronomi), suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari
manusia.
b Pandangan J. Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran = otonomi individu, yakni
kemampuan melakukan pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan
kemampuan melaksanakannya), hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi.
c Menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan pasien demi
dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk bermartabat).
d Didewa-dewakan di Anglo-American yang individualismenya tinggi.
e Kaidah ikutannya ialah : Tell the truth, hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi
konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat
keputusan penting.
f Erat terkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi (termasuk untuk kepentingan
peradilan), penggunaan teknologi baru, dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak
tak laik-bayang (foreseen effects), letting die.

Selain autonomi ada tiga kaedah etika kedokteran lainnya yang perlu diperhatikan, dipahami dan
dijalani dalam praktik kedokteran antara lain:

Beneficence
Adalah berbuat baik (beneficence). Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus
mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare).
Pengertian berbuat baik diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar
memenuhi kewajiban:
Tindakan berbuat baik (beneficence). Terdapat dua macam klasifikasi beneficence,
yaitu:
1 General beneficence :
a melindungi & mempertahankan hak yang lain
b mencegah terjadi kerugian pada yang lain,
c menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain,
2 Specific beneficence :
a menolong orang cacat,
b menyelamatkan orang dari bahaya.
c Mengutamakan kepentingan pasien
d Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah
sakit/pihak lain
e Maksimalisasi akibat baik (termasuk jumlahnya > akibat-buruk)
f Menjamin nilai pokok : apa saja yang ada, pantas (elok) kita bersikap baik
terhadapnya (apalagi ada yg hidup).

Kaidah beneficence menegaskan peran dokter untuk menyediakan kemudahan dan


kesenangan kepada pasien mengambil langkah positif untuk memaksimalisasi akibat baik
daripada hal yang buruk. Prinsip prinsip yang terkandung didalam kaidah ini adalah;
a Mengutamakan Alturisme
b Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
c Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya menguntungkan
seorang dokter
d Tidak ada pembatasan goal based
e Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan suatu
keburukannya
f Paternalisme bertanggung jawab/kasih sayang
g Menjamin kehidupan baik-minimal manusia
h Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan
i Menerapkan Golden Rule Principle, yaitu melakukan hal yang baik seperti yang orang
lain inginkan
j Memberi suatu resep berkhasiat namun murah
k Mengembangkan profesi secara terus menerus
l Minimalisasi akibat buruk
Non Maleficence

Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran haruslah memilih


pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Pernyataan kuno: first,
do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti. Sisi komplementer beneficence dari sudut
pandang pasien, seperti :
a Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien
b Minimalisasi akibat buruk
c Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal :
Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting
Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut
Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif
Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal).
Norma tunggal, isinya larangan.

Justice
Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham
kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan jender
tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada
pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter.
a Treat similar cases in a similar way = justice within morality.
b Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness) yakni :
1 Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan
mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang
memerlukan/membahagiakannya)
2 Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan
beban sesuai dengan kemampuan pasien).
Jenis keadilan :
a Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima)
b Distributif (membagi sumber)
Kebajikan membagikan sumber-sumber kenikmatan dan beban bersama, dengan cara
rata/merata, sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani; secara
material kepada setiap orang andil yang sama, sesuai dengan kebutuhannya, sesuai
upayanya, sesuai kontribusinya, sesuai jasanya, sesuai bursa pasar bebas.

Assestment:
Closed fr os raius ulna 1/3 medial
Autonomi

Plan:
KIE: Pro Operasi ORIF pasien menolak, ttd surat penolakan rawat inap dan tindakan operatif
Inj Ketorolac 1mpl
PO :
Mefinal 3x500mg tab
Bcomz 2x1 tab
Pendamping,

(dr. Suhariyanto SpBS)

PORTOFOLIO
Medicolegal (Azaz Autonomi)
SEBAGAI SALAH SATU TUGAS UNTUK MELAKSANAKAN PROGRAM DOKTER
INTERNSHIP
RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2017