Anda di halaman 1dari 7

Metode perumusan masalah

Ide untuk menemukan masalah penelitian dapat diperoleh dai dua


pendekatan (Indriantoro,2006), yaitu:

1. Pendekatan formal
a. Metode analog
Penggunaan konsep analog akan membantu peneliti dalam
merumuskan masalah penelitian dengan ide dan konsep yang berasal
dari keberhasilan penerapan suatu teori atau metode pada bidang
tertentu.
b. Metode revolusi
Menurut metode penelitian dapat ditentukan dengan memperbaiki
atau mengganti komponen teori atau metode yang yang kurang
relevan dengan komponen teori atau metode lain yang lebih efektif.
c. Metode dialektis
Metode ini menentukan masalah penelitian dengan mengajukan usulan
pengembangan terhadap teori atau metode yang telah ada. Fokus
masalah yang diteliti adalah penerapan teori atau metode alternatif.
d. Metode morfologi
Metode ini digunakan untuk menemukan masalah penelitian dengan
menganalisis berbagai kemungkinan kombinasibidang maslah
penelitian yang saling berhubungan dalam bentuk matriks. Setiap sel
merupakan potensi elemen masalah yang dapat diteliti.
e. Metode dekomposisi
Berdasarkan Metode ini masalah penelitian ditemukan dengan
membagi masalah kedalam elemen-elemen yang lebih spesifik. Peneliti
da[at memilih masalah penelitian dalam elemen tertentu.
f. Metode agregasi
Metode inikebalikan metode dekomposisi, yaitu menggunakan hasil
penelitian yang berbeda untuk menentukan masalah penelitian yang
lebih kompleks.
2. Pendekatan informal
a. Metode perkiraan (conjecture method)
Metode ini menemukan masalah penelitian bisnis berdasarkan intuisi
dalam pembuat keputusan mengenai situasi tertentu yang
diperkirakan dapat berpotensi menjadi masalah. Penentuan masalah
dalam metode demikian kurang didukung oleh bukti yang cukup karena
hanya berdasar pembuat keputusan. Faktor yang mempengaruhi intuisi
pembuat keputusan antara lain hubungannya dengan lingkungan
sekitar, imajinasi, persepsi, dan kemampuan membuat kebijakan
(judgment)
b. Metode fenomenologi (phenomenology method)
Metode ini menemukan masalah penelitian berdasarkan hasil observasi
terhadap fakta tau kejadian. Pengamatan terhadap fenomena
kemungkinan dapat mengarah pada penyusunan suatu dugaan atau
hipotesis. Fakta atau kejadian yang diamati dalam lingkungn bisnis
anatara lain dapat berupa: latar belakang berdirinya perusahaan,
filosofi dan kebijakan manajemen, persepsi, sikap, dan perilaku
anggota organisasi, serta kinerja oprasional perusahaan.
c. Metode konsensus (consensus menthod)
Ide masalah penellitian dapat di temukan berdasarkan adanya
konsensus atau konvensi dalam praktik bisnis. konsensus atau
konvensi merupakan kebiasaan yang dipraktikkan dalam bisnis yang
tidak dilandasi oleh konsep atau teori yang baku.
d. Metode pengalaman (experiences method)
Masalah penelitian, seperti yang telah disebutkan, diantaranya dapat
ditemukan berdasarkan pengalaman perusahaan atau orang-orang
dalam perusahaan.

Masalah yang layak menjadi pokok penelitian

Kriteria yang dapat menjadi ukuran suatu maslah layak dijadikan pokok
penelitian (hasan, 2004) adalah

1. Baru
Masalah yang masih sangat hangat atau aktual dan masih berlangsung
serta mempunyai kaitan kepentingan dengan situasi pada saat penelitian
dilaksanakan layak diteliti. Hal ini disebabkan kesimpulan atau
generalisasi yang diperoleh dari hasil penelitian harus dapat memcahkan
masalah yang terjadi, sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki dan
mengembangkan sistem dari bidang yang diteliti.
2. Bernilai praktis
Pelaksanaan penelitian untuk kepentingan apapun membutuhkan biaya,
waktu, tenaga, dan pikiran. Bila hasil penelitian tidak memiliki manfaat
berarti dalam menunjang kegiatan praktis maka biaya, waktu, tenaga, dan
pikiran akan terbuang sia-sia. Itulah sebabnya terhadap masalah yang
tidak mempunyai kepentingan praktis tidak layak dilakukan penelitian.
3. Berada dakam batas kemampuan peneliti
Apabila peneliti tidak mempunyai kemampuan dalam bidang yang
ditelitinya, besar kemungkinan analisi terhadap masalah akan
menyimpang dari tujuan pembahasan masalah semula. Keberhasilan
pelaksanaan penelitian dapat ditunjang oleh faktor kemampuan peneliti
dalam menangani masalah. Kemampuan yang dimaksut meliputi:
a. Kemampuan akademis
b. Kesanggupan tempat
c. Kemampuan mengadakan sarana dan prasarana
d. Kesanggupan biaya
e. Kesanggupan waktu dan tenaga
f. Kemampuan mengadaan data
4. Tidak mengundang kekuatan sosial dan politik
Masalah yang bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah, UU yang
berlaku, ataupun adat istiadat masyarakat setempat bila dilakukan
penelitian banyak mengandung kekuatan sosial maupun politik yang
dapat merintangi dan menghambat penelitian. Terhadap masalah seperti
ini penelitian tidak layak dilakuka, terutama penelitian yang bertujuan
penulisan suatu karya ilmiah seperti skripsi. Kecuali dalam hal peneliti
dapat meniadakan atau memperkecil hambatan denga cara yang mampu
dilakukan.
5. Mempunyai sponsor
Dalam rangka penulisan karya ilmiah, peranan sponsor atau konsultan
sangat besar dalam menunjang keberhasilan penelitian dan penulisan
karya ilmiah yang disusun karena peneliti memerlukan biaya cukup besar.
Kemudian, biaya tersebut dapat diperoleh dari sponsor, sehingga masalah
yang layak menjadi pokok penelitian adalah masalah dengan lembaga
atau orang ahli yang bersedia untuk mensponsori atau menjadi konsultan.

Selain beberapa kriteria tadi, peneliti pun harus mengetahui beberapa ciri
masalah yang bai diantaraya menurut K. Krippendortft, (2000):

1. Masalah yang dipilih harus memiliki nilai penelitian


Masalah yang dipilih harus isi dengn nilai penelitian, yaitu mempunyai
kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Dalam
memilih masalah, masalah akan mempunyai nilai penelitian jika hal-hal
berikut diperhatikan:
a. Masalah haruslah mempunyai keaslian.
Masalah yang dipilih haruslah mengenai hal-hal up to date dan baru.
Hindarkan masalah yang sudah banyak dirumuskan orang dan sifatnya
usang. Masalah harus mempuyai nilai ilmiah atau aplikasi ilmiah dan
janganlah berisi hal-hal sepele untuk menjadi suatu masalah yang akan
dipilih untuk suatu penelitian.
b. Masalah harus menyatakan suatu hubungan.
Masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih
variabel. Masalah harus padat, definitif, dan dapat dinyatakan dalam
beberapa hipotesis alternatif. Masalah dapat mengenai hubungan
antara fenomena alam atau lebih khas lagi mengenai kondisi yang
mengontrol fakta-fakta yang diamati. Selanjutnya, pemecahan masalah
dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengetahui dan mengontrol
fenomena yang sedang diteliti.
c. Masalah harus dapat diuji.
Masalah harus dapat diuji dengan perlakuan serta data dan fasilitas
yang ada. Sekurang-kurangnya, masalah yang dipilih harus sedemikian
rupa sehingga memberiakan implikasi untuk kemungkinan pengujian
secara empiris. Suatu masalah yang tidak berisi implikasi untuk diuji
hubungan yang diformulasikan , bukanlah suatu masalah ilmiah.
d. Masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak membingungkan
dalam mebentuk pertanyaan.
e. Masalah harus merupakan hal yang penting.
Masalah yang dipilih harus mempunyai arti dan nilai, baik dalam
bidang ilmunya maupun dalam bidang aplikasiuntuk penelitian
terapan.
2. Masalah yang dipilih harus fisibel
Maksutnya suatu masalah harus dapat dipecahkan. Agar dapat
dipecahkan, maka masalah harus:
a. Data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia
Masalah yang dipilih harus mempunyai metode untuk memecahkannya
dan harus ada data untuk menunjang pemecahan. Data untuk
menunjang masalah harus pula mempunyai kebenaran standar dan
dapat diterangkan.
b. Equipment dan kondisi harus mengizinkan
Masalah yang dipilih harus sesuai dengan equipment dan alat yang
tersedia. Equipment tidak perlu muluk serta kompleks, tetapi yang
dipunyai haruslah dapat digunakan untuk memecahkan masalah.
Masalah yang dipilih harus mempunyai equipment untuk kontrol
kondisi atau untuk mencatat ketepatan.
c. Cara memecahkan masalah harus wajar
d. Biaya untuk pemecahan masalah harus seimbang
Biaya untuk pemecahan masalah harus selalu diperkirakan dalam
memilih masalah. Jika pemecahan masalah diluar jangkauan biaya,
masalah yang dipilih tidak fisibel sama sekali. Mencocokan masalah
denagn biaya merupakan seni serta keterampilan peneliti.
e. Administrasi atau sponsor harus kuat
Masalah yang dipilih harus memiliki sponsor serta administrasi yang
kuat. Lebih-lebih bagi penelitian mahasiswa, maka masalah yang dipilih
harus diperkuat dengan adviser, pembimbing, atau tenaga ahli yang
sesuai dengan bidangnya.
f. Tidak bertentangan dengan hukum adat
Masalah yang dipilih harus tidak bertentangan denga adat istiadat,
hukum yang berlaku, maupun kebiasaan. Pilihlah masalah yang tidak
menimbulkan kebencian orang lain. Jangan memilih masalah yang
dapat menimbulkan pertentangan baik fisik ataupun itikad. Oleh
karena itu, masalah yang akan menimbulkan kesulitan dan
pertentangan, baik secara individu maupun kelompok, haruslah
dihindarkan demi menjaga kesinambungan profesionalismealam
meneliti.
3. Sesuai dengan kualifikasi peneliti
Masalah yang dipilih harus mempunyai nilai ilmiah serta fisibel, harus
sesuai juga dengan kualifikasi peneliti. Dalam hal ini, masalah yang dipilih
sekurang-kurangnya menarik bagi peneliti dan cocok dengan kualifikasi
ilmiah peneliti.

Kesalahan umum yang dalam penemuan maslah penelitian

Issac dan Michael mengemukakan beberapa kesalahan yang umumnya


dilakukan peneliti dalam tahap penemuan masalah penelitian, diantaranya
adalah (Indriantoro, 2006):

1. Peneliti mengumpulkan data tanpa trencana atau tujuan penelitian yang


jelas.
2. Peneliti memperoleh sejumlah data dan berusaha untuk merumuskana
maslah penelitian sesuai dengan data yang tersedia.
3. Peneliti merumuskan masalah penelitian dalam bentuk terlalu umum dan
ambigu sehingga menyulitkan interpretasi hasil dan pembuatan
kesimpulan penelitian.
4. Peneliti merumuskan masalah tanpa terlebih dahulu menelaah hasil
penelitian sebelumnya dengan topik sejenis sehingga masalah penelitian
tidak didukung oleh kerangka teoretis yang baik.
5. Peneliti memilih masalah penelitian yang hasilnya kurang memberikan
kontribusi terhadap pengembangan teori atau pemecahan masalah
prektis.
Selain 5 tersebut, K. Krippendortft, (2000) menambahkan:

1. Melakukan penelitian tanpa landasan teori yang mapan untuk membarikan


kesempatan membandingkan hasilnya dan mengevaluasi kesimpulannya.
2. Dalam merumuskan hipotesis, tidak mengkaji secara tuntas adanya
kemungkinan hipotesis tandingan yang dapatmenjaga interpretasi atau
kesimpulan penelitian.
3. Tidak menyadari kekurangan-kekurangan metodologi penelitian yang di
gunakan untuk membatasinpenafsiran kesimpulan penelitian.
Kriteria rumusan masalah

Pembatasan masalah perlu dinyatakan dalam bentuk rumusan. Oleh sesbab


itu, terdapat tiga hal yang berhubungan dengan perumusan batas suatu
masalah (Ndraha, Talizuhu. 2004):

1. Dalam rencana kerja, setiapa istilah perlu memiliki pengertian tertentu


yang sangat jelas dan segala istilah yang samar-samar perlu dihindari.
2. Dalam rencana kerja, jangan smpai kita mengambil daerah yang sangat
luas sehingga penyelidikan menjadi samar-samar.
3. Dalam rencana kerja, kita sepatutnya tidak perlu menyempitkan maslah
sehingga kemungkinan kehilangan arti sebagai maslah penyelidikan.
Perumusan masalah hendaknya memenuhi 3 kriteria (Kerlinger,2006), yaitu:

1. Masalah yang dirumuskan menyatakan dadanya hubungan antara dua


atau lebih variabel.
2. Masalah hendaknya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, bukan
pernyataan.
3. Masalah harus mengandung implikasi untuk diuji.
Tanpa implikasi untuk diuji secara empiris, bukanlah pertanyaan ilmiah.
Pertanyaan yang bukan ilmiah terdiri atas pertanyaan yang bersifat metafisik,
bersifat penilaian dan epistemologis, serta bersifat teknis.

Dalam menetapkan kriteria untuk menilaiperumusan suatu masalah, kita


dapatmemperhatikan 5 pokok berikut (Krippendortft,K.,2000):

1. Apakah masalah telah dibatasi, dalam arti tenaga, uang, waktu, serta
kecakapan pelaksanaannya.
2. Apakah terdapat alat yang sesuai untuk pencapaian, miasalnya tes,
skala penilaian, dan sebagainya.
3. Apakah terhadap lapangan masakah yang dipilih telah disusun rencana
yang cukup dalam dan terurai.
4. Apakah jenis data yang akan dikumpyulkan dapat dianalisis dan
dipergunakan dengan ukuran kecermatan.
5. Keretangan apakah yang diharapkan akan dihasilkan oleh penyelidik
masalah dan apakah jenis keterangan itu berguna untuk diselidiki.
Pemilihan masalah
Setelah diketahui banyak masalah diperoleh dari berbagai sumber,
selanjutnya mengidentifikasi dan menyeleksi masalah yang mungkin bisa diteliti.
Cara menentukan dan memilih masalah untuk diteliti:

1. Memisahkan setiap masalah dalam file berbeda.


2. Mengumpulkan semua litelatur yang mendukung setiap masalah,
kemudian menempatkan setiap litelatur itu pada setiap file masalah.
3. Jika tiba waktunya untuk diajukan, pilihlah masalah yang telah dilengkapi
berbagai literatur dengan mempertimbangkan hal-hal berikut ini.
a. Apakah topik itu saat diajukan merupakan topik aktual dan mendesak
untuk diteliti?
b. Apakah terjangkau oleh kemampuan dan keterampilan peneliti
(manageable topic)?
c. Apakah datanya lengkap atau mudah untuk mendapatkannya sehingga
dapat dianalisis (researchable topic)?
d. Apakah waktu, tenaga, dan tenaganya cukup untuk meneliti topik?