Anda di halaman 1dari 131

GENERAL ANESTESI

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya


Sejarah (Jaman primitif)

Strangulation
Alkohol
Hipnotik
Tanaman
Sejarah

Pertama kali General


anestesi dilakukan oleh
Crawford Long pada tahun
1842, dengan memakai
anestesi eter
Chloroform diperkenalkan
tahun 1847 oleh James
Simpson
N2O oleh Horace Wells
Abad 19 dengan memakai chloroform
William TG Morton, penemu ether untuk anestesi

The Ether Dome, Boston, Massachussets, USA, 1846


Eter pada saat ini sudah tidak dipakai , tetapi merupakan obat anestesi yang ideal.
Komponen tindakan anestesia

Pemeriksaan pre-op
Puasa
Premedikasi
Induksi anestesi
Maintenance anestesi
Post operasi dan recovery
Fase yang dilakukan di kamar operasi
Didapatkan 3 fase penting di kamar operasi,yaitu Induksi
, Maintenance dan Recovery

Induksi : Adalah suatu periode waktu dimana dimulainya


anestesi
Maintenance: Bergantung kepada keadaan dan kedalaman
dari anestesi.
Recovery: Pada akhir prosedur pembedahan dan anestesi
berhenti sampai pasien sadar kembali.
Anestesi

Tujuan Utama :
Safety is top priority

Kelemasan otot
Tidak sadar /

Analgesia /
Hypnosis: unconcious

Relaksasi /
Mati rasa
Hipnotik

Analgesia: free of pain


Relaxation

Waspada
Nyeri

Anestesia Umum
(general anesthesia)

Spinal block

Insisi
Plexus & Nerve
Block
Monitoring
Perlu monitor
-Tekanan darah
- ECG
- Suhu
- Saturasi O2
-Kedalaman stadium anestesia
-Capnography (pengukur CO2)
Perlu alat untuk bertindak
- resusitator
- defibrilator
- respirator
Tidak sadar /
Hipnotik

Waspada
Analgesia /
Mati rasa
Anestesi
Anestesia umum

Siapkan oksigen
Siap jalan nafas dan alat nafas buatan
Pasang tensimeter
Siapkan jalur infusi intra vena & cairan
Siap alat dan obat resusitasi
Induksi Anestesi
Pasien dimulai untuk tidur

Induksi
intravena
atau Inhalasi

Manajemen
airway
Induksi Anestesi
Induksi Anestesi adalah tindakan untuk membuat
pasien dari sadar menjadi tidak sadar, sehingga
memungkinkan dimungkinkan dimulainya anestesi
dan pembedahan.
Macam Induksi
1. Induksi Inhalasi (Ether, Halothane, Sevoflurane)
(Biasanya pada pediatri)
2. Induksi Intravena (Ketamine, Propofol, Tiopental)
(Induksi yang paling sering)
3. Induksi Intramuskuler (Ketamine)(Pada pasien
pediatri yang tidak kooperatif)
4. Induksi Rektal (Midazolam, Thiopental)
Induksi anestesia

Berikan oksigen 100% selama 5 menit sebelum


induksi dimulai
denitrogenasi FRC, dari 16% O2 jadi 100%
thiopental iv (Pentothal) atau propofol
dipakai jika pasien tidak hipotensi / tidak shock
ketamin iv / im
dipakai jika pasien hipotensi / pernah shock
tidak boleh dipakai jika TIK naik, trauma kepala,
hipertensi
Tindakan anestesia umum
Cara monitoring fungsi vital selama anestesia umum
Laryngoscopy dan
intubasi trachea

4a_Anesthesia 19
Setelah tube masuk,
tiup cuff, beri oksigen 100%.

Manfaat ETT:
1. menjaga jalan nafas terbuka
2. memastikan nafas buatan masuk paru
MACAM ANESTESI
Anestesi Inhalasi

Anestesi Umum / General

Anestesi Parenteral
ANESTESI

Anestesi Regional
Definisi Anestesi General

Suatu keadaan yang membuat tidak sadar yang


reversibel (dapat kembali seperti semula) yang
disebabkan oleh obat-obat anestesi dan disertai
dengan hilangnya rasa nyeri di seluruh tubuh.
Prinsip dari General Anesthesia

Meminimalisir terjadinya potensi bahaya baik secara langsung


maupun tidak langsung dari tehnik anestesi dan agen anestesi .
Mempertahankan keadaan se-fisiologis mungkin selama proses
pembedahan.
Meningkatkan kondisi umum setelah operasi
Obat anestesi Ideal
Untuk pasien
Nyaman, Tidak iritasi dan tidak membuat mual dan
muntah
Induksi dan pemulihan harus cepat
Untuk dokter bedah
Analgesi, immobilisasi dan muscle relaksan
Non explosif dan non inflammable
Untuk anestesi
Margin safety lebar
Tidak berefek terhadap organ penting : jantung,
ginjal,liver
Poten
Murah, stabil dan mudah disimpan
Tidak bereaksi dengan karet dan soda lime
Dapat diketahui kedalaman anestesinya
Tanda tanda anestesi

Tahap tahap anestesi memperhatikan tanda


Napas
Gerak bola mata
Lebar pupil
Ada atau tidaknya beberapa reflek
Tahapan General Anestesi

Stadium 1 Tahap Analgesi


Stadium 2 Tahap Eksitasi
2 stadium diatas disebut tahap induksi
Stadium 3 Tahap Pembedahan (4 plane)
Stadium 4 Tahap Kelumpuhan medulla (terjadi
kelumpuhan pada pusat pernapasan dan sirkulasi
yang letaknya di medulla oblongata)
Tahap 1 Analgesi

Tahap ini dimulai dari anestesi diberikan sampai


hilangnya kesadaran. Pada tahap ini penderita masih
sadar.Tidak ada pola tertentu dari pernapasan
maupun gerak bola mata.
Reflek pharyng yaitu penderita muntah jika dinding
belakang pharyng disinggung menghilang pada akhir
tahap 1 .Jalan napas oropharyng dapat dipasang
setelah reflek pharyng menghilang
Tahap 2 Eksitasi
Napas tidak teratur.terkadang masih tahan napas
Bola mata masih bergerak
Pupil lebar
Reflek-reflek jalan napas meningkat
(hipersalivasi, batuk-batuk,
muntah,laryngospasmus).
Reflek laring yaitu penderita batuk jika ada benda
asing di laring. Reflek ini hilang pada akhir tahap
2. ETT dipasang pada tahap ini.
Tahap 3 Pembedahan
Napas jadi teratur (gerak dan suara seperti orang tidur nyenyak)
Reflek bulu mata negatif
Otot otot jadi lemas
Plane 1
Napas teratur dan dalam(amplitudo besar). Gerak dada dan
perut serentak.
Bola mata bergerak.
Pupil kecil
Plane 2
Napas sama seperti plane 1 hanya amplitudo lebih kecil
Bola mata tidak bergerak dan pupil kecil
Tahap 3 Pembedahan
Plane 3
Napas perut lebih besar daripada dada
Bola mata tidak bergerak
Pupil mulai melebar dan reflek cahaya positif
Plane 4
Otot interkostal lumpuh. Napas hanya napas perut
Bola mata tidak bergerak
Pupil melebar sampai maksimum dan reflek cahaya negatif
Reflek bulu mata (Eyelash reflek) yaitu penderita kedip bila bulu
mata disinggung. Reflek ini hilang pada tahap 3
Tahap 4 Kelumpuhan Medulla
Mulai arrest napas sampai gagalnya sirkulasi (arrest
jantung).
Tanda peringatan sebelum masuk tahap IV
Napas hanya semata-mata napas perut, dekat arrest
napas pasien mengalami gasping
Pupil melebar hampir maksimum,reflek cahaya negatif
Nadi kecil dan tensi rendah
Kulit pucat dingin dan basah berkeringat
Macam General Anestesi

Anestesi Inhalasi
Anestesi Parenteral
Obat-obatan General Anestesi
Inhalasi Intravena
Gas : Nitrous Oxide Thiopental/Penthotal
Siklopropan Propofol
Volatile : Neuroleptik Analgesia (Fentanyl)
Eter Etomidat
Derivat Eter Dissociative Anestesi (Ketamin)
Enflurane
Isoflurane
Desfluran
Sevofluran
Derivat halogen hidrokarbon
Halothane
Anestesi Inhalasi
Rate of Entry into the Brain:
Influence of Blood and Lipid Solubility
BLOOD GAS PARTITION CO-EFFICIENT
Agents with low
solubility in blood
quickly saturate the
blood. The
additional
anesthetic
molecules are then
readily transferred
to the brain.

BLOOD GAS PARTITION COEFFICIENT


Definisi Anestesi Inhalasi
Suatu cara pemberian anestesi umum, dimana obat anestesi
masuk ke dalam sirkulasi melalui proses pernafasan.
Pembagian sistem pemberian anestesi inhalasi ada 4, yaitu
1. Sistem Tetes Terbuka (Open Drop)
2. Sistem Setengah Terbuka (Semi Open)
Sistem Rebreathing
3. Sistem( Tertutup (Closed ) memakai soda lime
4. Sistem Setengah Tertutup (Semi Closed).
Macam obat anestesi inhalasi ada 2
1.Obat anestesi yang berbentuk gas (N2O)
2.Obat anestesi yang berbentuk cair dan mudah menguap
(Volatile anesthetics agent).
Mesin anestesi (Boyles)
Continous flow
Mesin anestesi
Sumber gas untuk pipa gas dalam silinder
Flow meter
Vaporiser
Sistem sirkuit
Sistem anestesia

breathing tubes
vaporizer P

Flowmeter canister sodalime (CO2 absorber)


oksigen Sodalime berfungsi sebagai pengikat
CO2
Obat Anestesi Inhalasi Ideal
Tidak mengiritasi jalan napas
Tidak dimetabolisme tubuh
Tidak toksik
Efek pada respirasi dan kardiovaskuler minimal
Efek samping(-) Stabil pada perubahan suhu,
kelembaban, cahaya, keadaan alkali
Tidak mudah terbakar
Mudah ditranspor
Kelarutan dlm darah & jaringan rendahinduksi dan
pulih sadarnya cepat
Perjalanan obat Anestesi Inhalasi
Mesin anestesi OAI yang diinspirasi alveoli
parukapiler parujantung kiriarteri carotis
internusotak
Otak venous return paru eliminasi via ekhalasi
Metabolisme di hati & ginjal, sedikit difusi melalui kulit
Nitrous Oxide(N2O)
Satu-satunya gas anestesi yang anorganik
Harus diberikan bersama O2
Tidak berwarna dan Tidak berbau
Tidak iritatif
Tidak mudah terbakar
Jarang digunakan sebagai obat tunggal
Efek amnesia dan analgetiknya baik
Efek relaksasi(-)
Setelah anestesi selesai N2O dihentikan dan dilanjutkan dengan
Oksigen 100 % untuk menghindari terjadinya diffusion hypoxia
Humpry Davy . 1800 pertama kali dikenalkan karena punya sifat
analgetik..... Dikenal sebagai gas ketawa (Laughing gas)
Nitrous Oxide(N2O)
Eliminasi
Sebagian besar melalui ekshalasi
Sejumlah kecil berdifusi melalui kulit
0,01% di metabolisme oleh bakteri usus
Kontraindikasi
Pneumothorax, Ileus obstruksi
Emboli udara, Pneumocephalus
Intraocular air bubble,Tympanic membrane grafting
Pulmonary hypertension
Karena difusi N2O pada ruang yang mengandung udara sangat
cepat volume & tekanan
Macam Volatile Agent
Ether

Ether merupakan obat anestesiyang ideal karena


mempunyai 3 sifat, yaitu :
Daya analgesi sangat kuat
Daya relaksasi yang cukup
Daya narkosis yang kuat
Ether juga dapat diikuti dalam melihat tanda tanda
kedalamannya.
Ether
Merupakan cairan yang tidak berwarna, mudah
menguap, berbau merangsang saluran pernapasan
mudah terbakar dan meledak.
Ether diabsorbsi dan dieksresi oleh paru.sebagian
kecil lewat keringat, urine, air susu dan berdifusi
secara utuh melalui kulit
Dosis maintenance 2-4 %
Dosis induksi 15-20%
Ether
Keuntungan
Sifat farmakologis anestesi yang baik
Batas keselamatan lebar
Murah
Ether tidak mempunyai khasiat toksikterhadap alat tubuh.
Kerugian
Waktu induksi dan waktu siuman lama
Hipersalivasi(dikurangi dengan pemberian sulfas atropin 0,5 mg)
Efek mual dan muntah paska bedah
Bau tidak enak dan merangsang jalan napas
Dapat terbakar atau meledak
Halothane

Merupakan cairan yang tidak berwarna, mudah


menguap, berbau , tidak mengakibatkan terbakar
dan meledak.
Merupakan bronchodilator yang paling poten.
HALOTHANE
Daya narkosis (membuat tidak sadar) baik
bisa induksi dengan inhalasi, 5-10 menit
sadar kembali cukup cepat, 10-15 menit setelah anestesia dihentikan
lebih baik jika induksi iv dilanjutkan inhalasi agar lebih cepat 5 menit
Analgesia tidak ada
pasien yg sudah tidur, jika insisi akan bangun
perlu tambahan narkotik
premedikasi pethidin 50 mg atau morfin 5 mg im satu jam sebelum
anestesia
atau suplement pethidin 5-15 mg atau morfin 1-3 mg in sebelum insisi
dimulai
narkotik tidak dapat diganti analgesik seperti profenid, toradol dsb.
Relaksasi otot tidak ada
Dapat digunakan sebagai induksi
Halothane dapat digunakan operasi
apa saja ?
Semua operasi yang tidak perlu analgesia kuat
reposisi fraktur
kuret
Jika perlu analgesia, harus diberi narkotik iv
bisa untuk operasi ortopedi, mamma, rekonstruksi dll
Jika perlu relaksasi, harus diberi NMBA
bisa untuk laparotomi, thoracotomy, craniotomi
HATI-HATI pada Sectio, halothane menyebabkan otot
uterus sukar kontraksi mudah HPP
Efek samping halothane
Nafas akan berkurang, pCO2 akan naik
Sirkulasi akan berkurang, tekanan darah turun
pembuluh darah melebar / vasodilatasi
kontraksi jantung melemah
denyut jantung berkurang (bradikardia)
OTAK
tekanan intra kranial meningkat tinggi
untuk pasien trauma kepala / cedera otak, dpat digunakan
tetapi harus dengan nafas buatan agar pCO2 tidak naik
Apakah dapat dikombinasi dengan
obat lain ?

Dengan obat iv pentothal, recofol boleh


Dengan ketamine sebaiknya dihindari karena risiko
aritmia berbahaya
Dengan narkotik boleh
Kombinasi dengan ether, isofluran, enfluran boleh
dilakukan sebagai pertukaran
WASPADA HALOTHANE

Halothane sebaiknya jangan dipakai berulang pada


pasien yang sama dalam tenggang waktu 6 minggu.
Usahakan memakai obat anestesia lain karena
risiko halotane-hepatitis(nekrosis sentribuler)

Kombinasi succinyl choline, intubasi lalu dilanjutkan


halothane bisa risiko kejadian Malignant Hyperthermia
(1:15,000-50,000)
ENFLURANE
Derivat eter(Kombinasi ikatan eter stabil dengan
halogen).
Warna jernih, tidak mudah terbakar
Bentuk cair dalam suhu ruangan
Bau tajam, agak tidak enak seperti eter
Dapat tunggal atau kombinasi dgn N2O, opioid
Sekitar 3% enfluran mengalami metabolisme
oksidatif membentuk fluoride inorganik dan senyawa
fluoride organic
ENFLURANE
Efek pada Otak
CBF naik, ICP naik
Enfluran meningkatkan produksi CSF dan resistensi penyerapan CSF
sehingga ICP naik.
Enfluran (>2 MAC) menimbulkan frekwensi cepat & voltasi tinggi pada
EEG yang disertai kejang tonik klonik dari otot skelet wajah &
ekstremitas
Aktifitas elektrik di otak meningkat Epilepticform
Efek Pada Ginjal
RBF,GFR dan produksi urin turun
Metabolit enflurane (fluoride) sebagai hasil defluorinasi cukup tinggi
dan toksik bagi ginjal
Kontra Indikasi Enflurane

Gangguan ginjal
Peningkatan ICP
Gangguan hemodinamik
Malignant Hyperthermia
Isoflurane

Bau menyengat mirip eter


Isomer enflurane
Tidak mudah terbakar
Stabil seperti enflurane
Isoflurane
Efek pada kardiovaskuler
Sedikit memiliki efek -adrenergik
Sistemik Vascular Resistance turun
Vasodilatasi koroner
Punya efek coronary steal syndrome
(efek vasodilatasi,sehingga mendistribusikan darah dari area
iskemik ke area non iskemik)
Efek pada Respirasi
Mengiritasi refleks saluran napas atas
Bronkodilator yang baik
Isofluranee
Efek pada otak
ICP naik, bila MAC > 1
Peningkatan ICP dapat dicegah dengan hiperventilasi
(pemberiannya bersamaan)
Efek pada hepar
Supply O2 ke hepar dipertahankan baik lebih baik daripada
halotan
Gangguan fungsi hati minimal
Efek pada ginjal
Nefrotoksisitas akibat metabolit flouride tak terjadi
Kontraindikasi adalah Hipovolemia berat
Desflurane
Struktur kimianya mirip isofluran
Membutuhkan vaporiser yang dihangatkan dan bertekanan
KHAS :Tekanan uap tinggi, masa kerja sangat pendek, potensi
sedang, harganya sangat mahal
Efek pada kardiovaskuler
Mirip dengan isofluran
Efek pada respirasi
Minute volume menurun
Iritasi sal napas atas: hipersalivasi,breath holding, batuk,
laringospasme
Bronkokonstriksi terutama pada perokok
Desflurane

Kadar fluor tidak banyak berubah


Kontraindikasi
Hipovolemia berat
Riwayat Malignant hyperthermia
Hipertensi intrakranial / TIK meningkat
Sevoflurane

Kelarutan dalam darah sedikit lebih besar dari


desluran(0,69)
Tidak berbau
MAC rendah
Sangat baik untuk induksi inhalasi
Recovery dari anestesi lebih cepat
Sevoflurane
Efek pada Kardiovaskuler
Depresi kontraktilitas miokard minimal
HR sedikit meningkat, mulai pada konsentrasi 1,5 MAC
Cardiac output relatif tidak berubah
Coronary steal syndrome (-)
Efek pada respirasi
Depresi respirasi
Bronkodilatasi
Efek pada otak
ICP dan CBF sedikit meningkat
Aktifitas kejang (-)
Sevoflurane

Efek pada Neuromuskuler


Relaksasi otot baik
Ideal untuk intubasi pada anak yang diinduksi dengan sevofluran
Kontraindikasi
Hipovolemia berat
Riwayat atau dugaan malignant hyperthermia
Hipertensi intrakranial / TIK meningkat
Anestesi Parenteral

Intravenous

Propofol Ketamine

e
KETAMINE
Larutan tidak berwarna
Efek analgesinya kuat, tetapi efek hipnotiknya kurang.
Merupakan dissosiative anesthesia
Dapat menimbulkan nystagmus.
Sering mengakibatkan mimpi buruk dan halusinasi. Hal
tersebut dapat hilang dengan pemberian midazolam /
diazepam.
Bersifat simpatomimetik sehingga menaikkan tekanan
darah dan nadi.
Anesthesia dengan ketamine

Disuntikkan im (5-10 mg/kg), durasi 15-30 menit


Disuntikkan iv (1-2 mg/kg), durasi 5-10 menit

Dosis analgesia
0.1- 0.25 mg/kg
Sifat ketamine
Analgesia kuat untuk kulit, otot, tulang
Analgesia untuk organ viscera, peritoneum kurang
kuat
Tidak ada relaksasi otot
Efek samping:
tekanan darah naik (kontra indikasi hipertensi)
nadi naik
tekanan intra kranial naik (kontra indikasi trauma kepala
dan hidrocephalus)
hipersalivasi (sekresi kelenjar ludah bertambah)
Ketamine dapat digunakan untuk operasi apa saja ?
Sectio Cesaria
0.5mg/kg iv satu kali, sampai anak lahir
setelah itu boleh diulang 1 mg/kg iv tiap 15-20 menit sampai
operasi selesai
Laparotomi, dikombinasi dengan NMBA (pelumpuh otot
pavulon, tracrium)
Appendectomy, herniotomi
Dapat digunakan pada pasien shock
Fraktura tulang kecil
tidak bisa untuk fraktura femur
KETAMINE
Operasi yang tidak boleh menggunakan ketamin
Pasien trauma kepala harus dianggap mengalami
kenaikan tekanan intra kranial, karena itu tidak boleh
memakai ketamine, walaupun operasinya hanya
sebentar saja.Pasien yang pernah trauma kepala
sampai batas 2 minggu lewat, sebaiknya juga
menghindari ketamine
Operasi mata karena ketamin menimbulkan
nystagmus
Apakah ketamine dapat dikombinasi dengan
obat anestesia lain?

Sebaiknya jangan dengan halothan karena sering


keluar aritmia berupa extra-systole / PVC yang bisa
jadi berbahaya
Boleh dengan enfluran, isofluran, ether
Boleh didahului Valium (2.5-5mg iv) atau Dormicum
(1-2.5mg iv)
Berapa batas tekanan darah untuk
boleh pakai ketamine ?
Sebaiknya tekanan diatas 140/90 jangan memakai
ketamine
Kalau terpaksa sekali, boleh maksimum tekanan
160/90
gunakan dosis rendah 0.5 mg/kg iv pelan,
dilarutkan jadi 10 cc
PROPOFOL

Merupakan cairan putih seperti susu


Propofol adalah obat anestesi kerja pendek yang baik
digunakan untuk induksi dan maintenance anestesi.
Induksi sangat cepat dan mulus.
Kekuatan hipnotik 2x lebih kuat dari pada
thiopentone.
Selama induksi terjadi penurunan tekanan darah
tetapi perubahan sedikit pada nadi.
PROPOFOL
Periode apnea bisa terjadi dan beberapa penderita
memerlukan nafas buatan.
Efek kumulatif sangat minimal dibanding dengan
thiopenton.
Keadaan psychis dan fungsi koordinasi cepat kembali
normal.
Nausea dan vomiting jarang terjadi selama recovery.
Over dosis dari pada Propofol akan menyebabkan
apnea dan hipotensi.
Tidak dianjurkan untuk anak<3 th.
PROPOFOL
Propofol sangat cocok dengan obat premedikasi,obat
neuromuscular bloking agent,obat inhalasi dan
analgesik seperti fentanyl atau alfentanyl dan bisa
digabung dengan regional anestesia.
Tidak menyebabkan kerusakan vena atau nekrosis
jaringan bila terjadi ekstravasasi.
Premedikasi dengan hipnotik akan menyebabkan
efek tidur makin dalam.
PROPOFOL
Anestesi dapat diteruskan dengan tehnik injeksi
intermitent atau infus.
Pulih sadar setelah anestesi sangat cepat dan tanpa
rasa berat dikepala (clear headed),bahkan
penderita dapat ingat tanggal lahir dengan cepat
setelah pulih sadar.
Penderita bisa diperintah membuka mata berkisar 5
mnt setelah anestesi dihentikan.
PROPOFOL

Propofol intravenous akan diikuti dengan penurunan


tekanan darah dan sedikit perubahan pada nadi.
Periode apnea sering terjadi menyertai induksi
,sehingga perlu pernafasan buatan.
DOSIS INDUKSI.

Dari beberapa penelitian disimpulkan bahwa dosis


yang dianjurkan 2-2,5 mg per kg BB untuk dewasa.
Dosis untuk orang tua berkisar 1,25- 2 mg/kgBB.
MAINTENANCE ANESTESI

Infus berlajut : dosis 4-12mg/kg/jam.


Suntikan bolus berulang : dapat diberikan 25 50 mg
menurut kebutuhan klinis.
Apabila digunakan sebagai obat penenang dianjurkan
secara infus : dosis 1 4 mg /kg/jam.
Rasa nyeri waktu injeksi

Perasaan tidak enak pada tempat injeksi dirasakan


oleh semua penderita
Pada vena besar : timbul rasa nyeri pada 6%
pendrt,dan 0,6% nyeri hebat
Pada vena kecil(dorsum manus) : timbul rasa nyeri
pada 28,5% dan 8,2% nyeri hebat.
Mengurangi rasa nyeri dengan penambahan
lignocain.
Kontra indikasi.

Penderita yang allergi terhadap Propofol.


HATI HATI
Epilepsi(dapat meningkatkan resiko kejang).
Sakit jantung,saluran pernafasan,sakit ginjal,sakit hati.
Penderita hipovolemik.
Penderita manula.
Penderita gangguan metabolisme lemak.
THIOPENTAL / Penthotal :
SODIUM 5 ETHYL 5 ( 1 METHYL BUTHYL ) - 2 - THIOBARBITURATE

H
O S Na

C2H5
N
CH3(CH2)2 CH

O
CH3
THIOPENTAL
Berupa bubuk putih kekuningan
Induksi berlangsung cepat (30-60 detik pasien sudah tidak sadar)
(popular disebut ultra short acting barbiturat)
Pasien dapat cepat kembali sadar setelah 3-5 menit karena
pendistribusian obat dari otak ke jaringan lain, bukan karena
metabolisme di hati dan ekresi di ginjal
Dosis : 3 5 mg / Kg BB
Hilangnya kesadaran diakibatkan oleh depresi kortek dan
Reticular Activating System
Digunakan pada operasi yang singkat seperti
Reposisi patah tulang tertutup
Insisi Abses
Reposisi dislokasi sendi
THIOPENTAL
Thiopental bila digunakan dengan halotan maka akan
berjalan lancar anestesinya, sedangkan bila dilanjutkan
dengan eter akan menemui banyak kendala.sebab
thiopental menaikkan kepekaan reflek jalan napas dan
eter merangsang jalan napas
Tidak menyebabkan mual atau muntah
Dapat menyebabkan depresi nafas sampai pasien henti
napas
Tidak menyebabkan analgesia dan relaksasi
INDIKASI PENTOTHAL :
Obat anestesi tunggal untuk operasi yang
kecil (15 menit)
Induksi anestesi umum
Suplemen anestesi regional
Balans Anestesia
Status / Kasus Konvulsi
Hipnotik pada pasien di ruang terapi intensif
Tidak sadar /
Hipnotik

Waspada
Analgesia /
Mati rasa
Anestesi

Relaksasi /
Kelemasan otot
Neuro Muscular Blocking Agent
atau
Muscle Relaxant
atau
Obat Pelumpuh Otot
Muscle Relaxant
Curare adalah racun panah
orang Indian
Amerika Selatan
|
melumpuhkan hewan buruan
|
histamin release
menyebabkan sulit bernafas

Chondrodendron tomentosum
Curare
Tergolong non-depolarizing NMBA
Bekerja kompetitif menduduki reseptor
acetylcholine (reversible).
Reseptor akan dilepas lagi jika kadar NMBA sudah
turun (metabolized, excreted)
Dapat diantagosir dengan anti-cholinesterase
(neostigmin, prostigmin). Karena ensim cholinesterase
dihambat, kadar acetylcholine bertahan tinggi dan
mendesak NMBA keluar reseptor lebih cepat
Mekanisme kerja
Curare
(non-deploarizer)
|
mengisi reseptor
Acetylcholine
Jenis NMBA
Berdasarkan cara kerjanya
Depolarizing NMBA (depolarizer) (Succinyl
cholin/suxamethonium)
Non-depolarizing NMBA (non-depolarizer)
(pancuronium, Atracurium, vecuronium, Mivacurium)
Berdasarkan lama kerjanya
Ultra short acting (Succhynil cholin)
Short acting (Mivacurium)
Intermediate acting (atracurium, cisatracurium,
Rocuronium, Vecuronium)
Long Acting (Pancuronium)
Depolarizer
Succinylcholine atau suxamethonium
efek
mirip dengan acetylcholine, masuk ke reseptor ACh,
membuat semua otot bergaris berkontraksi
(fasikulasi)
tidak dihidrolisis cholinesterase
efek samping
peningkatan K serum (hiperkalemia)
aritma: bradycardia, PVC, Ventric fibrilasi
pencetus Malignant Hyperthermia
Succinylcholine

banyak dipakai untuk intubasi karena onset cepat (1) dan


durasi pendek (5)
risiko:
nyeri otot akibat fasikulasi
hiperkalemia (burn, paraplegia, ARF, trauma)
regurgitasi isi lambung (aspirasi paru)
IOP naik (penetrating injury to eyeball)
ICP naik (waspada pada impending herniation)
aritmia: bradiaritmia sampai VF
gagal intubasi karena airway sulit
Non-depolarizer (curare)

jenis pachycurare: pancuronium, rocuronium


rantai dengan inti steroid yang kokoh
tidak / sedikit melepaskan histamin
jenis leptocurare: curare, atra / mivacurium
rantai panjang, lentur, sebagian dapat masuk ke reseptor
mast cell memicu sekresi histamin
melepas banyak histamin, risiko hipotensi, shock,
bronchospasme
Non-depolarizer

Tidak fasikulasi
Tidak meningkatkan ICP, IOP
Onset 2 kecuali rocuronium (Esmeron) yang
sama cepat dengan succinylcholine
Masa kerja panjang (15 - 45 menit)
Indikasi NMBA

Untuk menambah relaksasi otot agar pembedahan


lebih mudah dan lebih cepat
Untuk memudahkan intubasi trachea agar lebih cepat
dan tidak traumatik
Untuk melumpuhkan otot pernafasan selama nafas
buatan dengan tujuan tertentu
Relaksasi maksimal memudahkan pembedahan
tetapi pasien harus diberi nafas buatan selama operasi
Bahaya (penyulit) NMBA

Apnea atau hipoventilasi


Apnea atau hipoventilasi berkepanjangan
(prolonged block, residual block atau re-
curarization)
Pelepasan histamin, shock, bronchospasme
Mencetuskan Malignant Hyperthermia
(succinyl choline)
Aritmia (succinyl choline)
Interaksi obat terhadap NMBA

Non-depolarizer
Potensiasi dengan antibiotika gol aminoglikosida:
streptomycin, neo / clindamycin
Pre-curarization meningkatkan kebutuhan dosis
succinylcholine

Depolarizer
Potensiasi dengan peracunan organofosfat
Interaksi penyakit dengan NMBA Non-
depolarizer
Potensiasi dengan Myasthenia gravis, penyakit otot
distrofik, Guillain Barre syndr
Antagonisme dengan tetanus, botulism
Pemanjangan pada gagal ginjal
gallamine, metocurine 100% keluar dari ginjal
pancuronium, vecuronium sebagian keluar dari ginjal
Pemanjangan pada gagal hati
pancuronium, vecuronium sebagian di metabolisir di hati
Interaksi penyakit dengan NMBA

Depolarizer
hiperkalemia dan risiko fibrilasi ventrikel pada
luka bakar terutama setelah 2-3 hari
hemi/ para plegia
denervasi otot
penyakit otot distrofik, Guillain Barre
massive trauma dan severe sepsis
Potensiasi efek Non-depolarizer

Asidosis (metabolik maupun respiratorik)


Hipotermia
Hipokalemia, hipermagnesemia
Neonatus sangat peka
Reversal/Antagonis dari NMBA

Terdiri dari prostigmin / neostigmin


Hanya efektif jika block tidak lagi 100% (sudah
ada recovery)
Obat anestesia sudah dihentikan
Prostigmin = anti-acetylcholinesterase, jika
overdose juga menyebabkan block
Durasi reversal bisa lebih pendek daripada NMBA
sehingga bisa terjadi re-curarization (waspada pada
kondisi potensiasi dan pemanjangan durasi NMBA)
Kecukupan reversal
Tanda paling aman, sisa 30% block
Sustained head-lift 5 seconds
Tanda masih tidak aman, sisa 50-80% block
Sustained hand grip
Cough
Adequate tidal volume
Vital Capacity > 15 ml/kg
Inspiratory Pressure -20 cmH2O

Yentis,SM et al: Aneshesia A to Z, 1995


Tidak sadar /
Hipnotik

Waspada
Analgesia /
Mati rasa
Anestesi

Relaksasi /
Kelemasan otot
Analgesia merupakan aspek yg penting dalam proses
anestesi
Terdiri dari opiat dan opioid
Opiat adalah alkaloid alami yang diambil dari ekstrak
bunga poppy (Papaver Somniverum) seperti morfin,
papaverin, heroin dan kodein
Opioid obat obat yang memiliki sifat sama seperti
opiat
Kegunaan dari Obat-obat analgesik
1. Digunakan sebagai bagian dari tehnik anestesi
untuk mengurangi nyeri
Analgesia /

2. Mengurangi respon autonom terhadap


Mati rasa

pembedahan
3. Menjadikan pemeliharaan /maintenance
kebutuhan yang rendah untuk keperluan obat
anestesi gas atau tiva
4. Mengurangi rasa nyeri setelah operasi
Sejarah opiat
Opiat adalah alkaloid alami yang diambil dari ekstrak
bunga poppy (Papaver Somniverum).
Morfin merupakan alakaloid murni yg berasal
langsung dari opium. Morpin berasal dari
Morpheus (dewa mimpi)
Digunakan selama beberapa abad untuk
Euphoria
Analgesia
Sedation
Relief from diarrhea
Cough suppression
Pharmacological Effects
Sedation and anxiolysis
Drowsiness and lethargy
Apathy
Cognitive impairment
Sense of tranquility
Depression of respiration
Main cause of death from opioid overdose
Combination of opioids and alcohol is especially dangerous
Cough suppression
Opioids suppress the cough center in the brain
Pupillary constriction
pupillary constriction in the presence of analgesics is characteristic of
opioid use
Efek farmakologi.
Nausea and vomiting
Stimulation of receptors in an area of the medulla called the
chemoreceptor trigger zone causes nausea and vomiting
Gastrointestinal symptoms
Opioids relieve diarrhea as a result of their direct actions on the
intestines
Other effects
Opioids can release histamines causing itching or more severe allergic
reactions including bronchoconstriction
Opioids can affect white blood cell function and immune function
Macam Opioid

Berdasarkan cara pembuatan


Obat alami (ekstraksi langsung dari tanaman) Morfin,
Kodein
Obat sintetik ( meperidin, fentanyl, sulfentanyl,
alfentanyl)
Obat semi sintetik (Heroin, Dihidro morphon, Tebain)
MORPHINE
Analgesia:
Analgesia kuat
Dosis analgesia bertambah bila ditambahkan dan lebih
efisien bila diberikan sebelum nyeri timbul
Absorbsi di GI tract jelek
Metabolisme terbanyak di hepar
Pada mata menyebabkan kontriksi pupil
Terjadi depresi napas karena sensitivitas respirasi pada
CO2 berkurang
Pada GIT Morfin menyebabkan konstriksi sphinchter
usus, pylorus dan gerakan lambung berkuranng sehingga
timbul konstipasi
MORPHINE

Pada traktus urogenital produksi urine berkurang


karena stimulus hormon ADH
Tidak berpengaruh pada uterus tetapi menembus
plasenta, sehingga menimbulkan depresi napas bagi
janin
Dapat menimbulkan allergi berupa gatal
Tensi dan nadi dapat menurun
Pemberian secara sc, im, iv
Pethidine
1/10 kekuatan analgesinya dibanding Morphine.
Memproduksi sedasi, euphoria dan depresi pernafasan sama dengan
morfin.
Dibandingkan morfin miosis, konstipasi dan retensi urine lebih sedikit.
Durasi 2 3 jam
Vagolytic effect - Tachycardia
Less histamine release safer in asthmatics
Lewat oral lebih baik daripada morphin penyerapannya
Pemberian im dan iv
Pada ibu hamil dapat menembus plasenta dan menyebabkan depresi
napas pada bayi
Metabolisme terbanyak di ginjal
Fentanyl
Opioid agonis turunan fenil piperidin
Potensi analgesia 75-125 kali dibandig morphin
Dimetabolisir di hepar
Menyebabkan depresi pernapasan dan kekakuan otot rangka
khususnya thorak dan abdomen
Depresi napas bisa terjadi
Baik untuk operasi jantung karena menurunkan kebutuhan 32
persen oksigen diotot jantung sehingga menguntungkan pada
penderita kerusakan otot jantung dan insufisiensi koroner.
Pemeberian intravena
ANTAGONIS OPIAT/OPIOID

Antagonis / Antidote Opiat Analgesik adalah


NALOKSON, Naltrexon
Efek samping Nalokson juga membalikkan efek
analgesia
Pemberian intravena
Metabolisme di hepar
Digunakan terutama untuk mengatasi efek depresi
nafas dari narkotik
Setelah Operasi
PASCA BEDAH

MELAKUKAN OBSERVASI
1. JALAN NAPAS
2. PERNAPASAN
3. SIRKULASI
4. KESADARAN
5. RASA SAKIT
PERAWATAN PASCA BEDAH

A airway
B breathing
C circulation, color, consciousness
D drainage ( fluid dan drain)
E elimination ( urine output)
F - fluid therapy
Pain management
Epidural
Analgesia drug

SITI ROHAYU ARSAT 121


Setelah anestesia selesai, pasien yang belum sadar baik
mungkin masih harys dibantu nafas buatan
Recovery & Post-op care
pengawasan teliti atas

Jalan nafas : obstruksi ?


Pernafasan : hipoventilasi ? muntah ?
sirkulasi : hipotensi, berdarah lagi ?
kesadaran: lambat sadar kembali ?
nyeri
rehabilitasi: minum, makan, mobilisasi
MASA RECOVERY
1. Posisi dijaga agar tidak muntah dan masuk
paru (aspirasi)
2. Siap suction yang berfungsi baik

1. Dijaga agar waktu gelisah tidak jatuh


2. Nafas dibantu oksigen
3. Tekanan darah dipantau
Tambahkan oksigen
Kesadaran

A-lert Sadar bicara


V-erbal Response
Sadar diperintah
P- ain to Sadar, respons thd nyeri
U- unresponsive Tidak sadar
Analgesia
Nyeri pasca bedah intensitasnya tinggi pada 6 jam
pertama dan bertahan sampai 24 jam kemudian
akan berkurang
Setelah 24 jam nyeri sudah banyak berkurang
Nyeri menyebabkan
gerak nafas menurun = hipoventilasi
tekanan darah naik, nadi cepat / aritmia
Ada 2 jenis nyeri :
nyeri diam
nyeri pada gerakan
Pilihan analgesia

Narkotik Depresi nafas,


morfin, pethidin, vasodilatasi, hipotensi,
tramadol TIK naik
NSAID Menggangu ginjal dan
ketorolac, ketoprofen, memperpanjang waktu
COX inhibitor perdarahan
Paracetamol Overdose merusak liver
Metamizol dll Menambah perdarahan
Aspirin

4a_Anesthesia 128
Postop Nausea Vomiting (PONV)
Bisa dipicu oleh
stimulasi pada chemoreceptor trigger zone (CTZ)
stimulasi pada organ keseimbangan (vestibulair)
excess serotonin
Dapat diredam dengan
anti-histamin : promethazin (phenergan), antistin
droperidol
metoclopramide (primperan)
setron (ondansetron, granisteron)

4a_Anesthesia 129
Jika sudah sadar baik, posisikan duduk

4a_Anesthesia 130
Terima Kasih