Anda di halaman 1dari 32

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Setiap tanaman memiliki tata letak daun namun tata letak daun itu

berbedabeda sesuai dengan tanamanya. Bagian batang atau cabang tempat

duduknya daun disebut buku-buku batang. Dan bagian ini seringkali tampak

sebagai bagian batang yang sedikit membesar dan melingkar batang sebagai suatu

cincin, pada umumnya duduknya daun pada batang memiliki aturan (Volk ,1984).

Daun-daun pada suatu tumbuhan biasanya terdapat pada batang dan

cabang-cabangnya, ada pula kalanya daun-daun suatu tumbuhan berjejal-jejal

pada suatu bagian batang, yaitu pada pangkal batang atau pada ujungnya. Bagian

batang atau cabang tempat duduknya suatu daun disebut buku-buku batang

(nodus), sedangkan bagian batang antara dua buku disebut ruas (internodium)

(Hidayat, 1995).

Tata letak daun ( Phyllotaxis ) adalah susunan atau pola tata letak daun

pada batang secara teratur. Bentuk batang silinder buku-buku batang sebagai

lingkaran dengan jarak yang teratur dan tempat duduk daun adalah titik pada daun

(Volk ,1984).

Susunan letak daun (Phyllotaxis atau Dispositio foliorum) merupakan

susunan letak daun diantara lembaran yang satu dengan yang lainnya atau diantara

letak lembaran yang satu terhadap letak lembaran daun yang lainnya. Tumbuhan

ada yang berdaun rindang, ada yang berdaun sedang dan ada pula yang berdaun

jarang. Dari sinilah kita akan memulai menjelaskan tentang susunan letak daun

(Phyllotaxis atau Dispositio foliorum). Tanpa melalui penelitian yang saksama


2
pada tumbuhan yang berdaun rindang, kita seakan-akan mempunyai pandangan

yang salah karena ketertiban dan keteraturan susunan daun tidak tampak dengan

jelas karena banyaknya daun yang bertumpuan pada ranting. Lain halnya dengan

berdaun jarang, susunan letak daun tampak dengan jelas (Tjitrosoepomo, 1985).

Manfaat mempelajari tata letak daun bagi dunia pertanian adalah agar

mahasiswa mampu mengetahui prosedur penetapan dan rumus duduk daun serta

aturan-aturan tata letak daun-daun satu sama lain batang, menggambar tata letak

daun dan pembagian, mengetahui umur tanaman, serta membedakan daun

berdasarkan tata letak atau letak kedudukan daun pada berbagai jenis tumbuhan

(Volk, 1998)

Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui berbagai macam tata

letak daun pada tanaman, dapat menentukan rumus daun/divergensi, ortostik,

spiral genetik, sudut divergensi, deret fibonacci dan dapat menggambar bagan tata

letak daun dan diagram tata letak daun serta memelakukan pengambilan sampel

daun yang akan digunakan dalam analisis jaringan.

TINJAUAN PUSTAKA

Untuk mengetahui bagaimana tata letak daun pada batang, harus

ditentukan terlebih dahulu berapa jumlah daun yang terdapat pada suatu buku-

buku batang. Pada tiap-tiap buku-buku batang hanya terdapat satu daun

yang dinamakan tersebar (Folia sparsa), pada tiap buku-buku terdapat dua daun
3
dinamakan tata letak daun berhadapan-bersilang yang dinamakan (Folia opposita

atau Folia decussata), dan pada tiap buku-buku terdapat lebih dari dua daun

dinamakan tata letak daun berkarang (Folia verticillata). Tata letak daun daunnya

berkarang tidak dapat ditentukan rumus daunnya, tetapi pada duduk batang yang

seperti ini dapat memeperlihatkan adanya ortostik-ortostik yang menghubungkan

daun-daun yang tegak lurus satu sama lain (Tjirosoepomo, 1988).

Rumus daun atau divergensi, untuk mencapai daun yang tegak lurus

dengan daun permulaan garis spiral mengelilingi batang a kali , dan jumlah daun

yang dilewati selama itu adalah b, maka perbandingan kedua bilangan tersebut

merupakan pecahan a/b (Tjitrosoepomo, 1985).

Garis-garis tegak lurus (garis vertikal) yang menghubungkan antara 2 daun

pada batang dinamakan ortostik. Garis spiral melingkari batang yang

menghubungkan daun-daun berturut-turut dari bawah ke atas menurut urutan tua

mudanya dinamakan spiralagenetik (Tjirosoepomo, 1988).

Pecahan a/b menunjukkan jarak sudut antara dua daun berturut-turut, jika

diproyeksikan pada bidang datar. Jarak sudut antara dua daun berturut-turut pun

tetap dan besarnya adalah a/b x 360o, yang disebut sudut divergensi (a : jumlah

putaran pada batang untuk mencapai daun yang tegak lurus/ortostik di atasnya, b :

jumlah daun yang dilewati) (Tim asisten, 2016).

Deret Fibonacci, deretan rumus-rumus daun yang memperlihatkan sifat

yang begitu karakteristik. Deret itu berupa pecahan-pecahan, yaitu 1/2, 1/3, 2/5,

3/8, 5/13, 8/21, dan seterusnya. Cara mencari deretan selanjutnya dengan

menambah pembilang dan penyebut sebelumnya dengan pembilang dan penyebut

sebelumnya lagi. (Tjitrosoepomo, 1985).


4
Roset (rosula) adalah susunan daun yang duduk daunnya rapat berjejal-

jejal, karena ruas-ruas batang amat pendek, sehingga duduk daun pada batang

tampak hampir sama tinggi (Tjitrosoepomo, 1985).

Roset akar, jika batang sangat pendek sehingga semua daun berjejal-jejal

di atas tanah, jadi roset itu sangat dekat dengan akar. Sedangkan roset batang, jika

daun yang rapat dan berjejal-jejal terdapat pada ujung batang, misalnya pada

pohon Kelapa (Cocos nucifera L.) dan bermacam-macam jenis palma lainnya

(Tjitrosoepomo, 1985).

Untuk menggambarkan bagan tata letak daun batang tumbuhan

digambarkan sebagai silinder dan padanya digambar membujur ortostik-

ortostiknya, demikian pula buku-buku batangnya. Daun-daunnya digambar

sebagai penampang melintang helaian daun yang diperkecil. Pada bagan akan

terlihat misalnya pada daun dengan rumus 2/5 maka daun-daun nomor 1, 6, 11,

dan seterusnya, atau daun-daun nomor 2, 7, 12, dan seterusnya akan terletak pada

ortostik yang sama (Tjitrosoepomo,1985).

Untuk membuat diagram tata letak daun pada batang tumbuhan harus

dipandang sebagai kerucut yang memanjang, dengan buku-buku batangnya

sebagai lingkaran-lingkaran yang sempurna. Pada setiap lingkaran berturut-turut

dari luar kedalam digambarkan daunnya, seperti pada pembuatan bagan tadi dan

di beri nomor urut. Dalam hal ini perlu diperhatikan, bahwa jarak antara dua daun

adalah 2/5 lingkaran, jadi setiap kali harus meloncati satu ortostik. Spiral

genetikya dalam diagram daun akan merupakan suatu garis spiral yang putarannya

semakin keatas digambar semakin sempit (Sutarmi, 1983).


5
Fungsi tata letak daun dalam bidang pertaian pada kelapa sawit adalah

untuk pemeliharaan kelapa sawit yang dilakukan dengan cara menciptakan

kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhannya. Untuk mengetahui unsur

hara yang dibutuhkan oleh tanaman dapat dilakukan dengan cara pengamatan

keragaman tanaman dan dengan cara pengambilan contoh kelapa sawit (Lolorain,

2012).

Lear Sampling Unit merupakan kegiatan pengambilan contoh-contoh daun

dari setiap blok dilahan untuk keperluan analisis daun dilaboraturium, ditujukan

untuk merekomendasikan pemberian pupuk pada tanaman yang belum

menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM) pada tahun berikutnya

(Tjitrosoepomo, 2003).

Adapun tujuan dari pelaksanaan pengambilan sampel daun ini adalah

untuk dapat mengidentifikasi pelepah pertama (1), tiga (3), sembilan (9), dan ke

tujuh belas (17). Dapat menilai kondisi lahan secara visual ( gejala-gejala

defisiensi hara pada tanaman, kondisi tandan, dan kondisi lahan ). Dapat membuat

sampel kering untuk dianalisa di laboratorium (Lolorain, 2012).

Dalam pembuatan rekomendasi pemupukan, hasil analisis kandungan

unsur hara di daun merupakan salah satu pertimbangan yang sangat menentukan.

Faktor yang mempengaruhi keakuratan analisis kandungan hara daun di

laboratorium sangat ditentukan oleh proses pengambilannya di lapangan. Faktor-

faktor yang harus diperhatikan dalam proses pengambilan sampel daun di

lapangan antara lain (Lolorain, 2012) :


6
1. Jenis tanah yang berbeda harus dipisahkan dalam penentuan kesatuan contoh

daun (LSU=leaf sampling unit), karena kandungan hara untuk jenis tanah

yang berbeda maka dalam perekomendasian pupuk jaga akan berbeda, jika

tidak dipisahkan, akan memberikan interpretasi yang keliru oleh

rekomendator apabila digabungkan.


2. Umur tanaman yang berbeda, seharusnya dalam proses penentuan LSUnya

juga harus dipisah. Karena umur tanaman yang berbeda, akan memiliki

kandungan (kriteria) status unsur hara daun yang berbeda pula.


3. Topografi yang datar dan bergelombang harus dipisahkan dalam penentuan

LSU. Hal ini untuk memberikan suatu gambaran status hara yang ada di

lapangan yang lebih akurat. Sehingga rekomendator dapat menentukan

rekomendasi pupuk yang lebih akurat.


4. Luasan yang kesatuan contoh daun adalah 1 blok minimal (16 Ha), yang

merupakan satu kesatuan terkecil dalam rekomendasi pemupukan atau dapat

digabung dari beberapa blok.


5. Kultur teknis yang menentuan LSU juga harus memperhatikan kultur teknis.

Untuk pola tanam yang berbeda, maka sampel daunnya juga harus dibedakan.

LSU bisa merupakan gabungan dari beberapa blok sesuai dengan

kesamaan. Diambil satu blok sebagai blok contoh, dengan syarat yang mewakili.

Bisa juga merupakan gabungan dari beberapa blok untuk memenuhi luasan

minimal 16 Ha. Dalam pengambilan sampel daun (LSU) terlebih dahulu kita

harus mengetahui Ha Statement/data pengambilan sampel daun ini untuk

memudahkan dalam pengambilan contoh daun. Ha statement merupakan data

wilayah atau area yang akan dilakukan pengambilan sampel daun. Pokok yang

dipakai sebagai ketentuan syarat pengambilan sampel daun adalah (Lolorain, 2012):

1. Bukan merupakan pokok sisipan


7
2. Tumbuh normal
3. Tidak terletak berbatasan dengan jalan atau parit/sungai
4. Tidak berdampingan dengan pohon sisipan dan
5. Tidak terserang hama dan atau penyakit

Pada pokok contoh yang ditetapkan, ditentukan daun contoh yang akan

diambil. Daun contoh yang akan diambil adalah daun no. 17 (TM) untuk tanaman

menghasilkan dan daun no. 9 untuk tanaman belum menghasilkan (TBM). Untuk

tanah gambut, yang mana tanah ini belum terdekomposisi dengan sempurna maka

dilakukan juga pengambilan sampel daun no. 3 diambil untuk menganalisa

kekurangan unsur hara mikro pada tanaman kelapa sawit dan berlaku untuk

tanaman menghasilkan maupun tanaman belum menghasilkan, jadi dalam 1 pohon

diambil 2 sampel yaitu daun no. 3 dan no. 17 untuk tanaman menghasilkan serta

daun no. 3 dan daun no. 9 untuk tanaman belum menghasilkan. Daun ke-3 berada

diantara daun ke-1 dan daun ke-6 sesuai dengan spiral dari tanaman kelapa sawit.

Daun kelapa sawit memiliki rumus daun 1/8, lingkaran atau spiralnya ada yang

berputar ke kiri (Left Handed) dan kekanan tetapi kebanyakan putar ke kanan

(Right Handed) . Pengenalan ini penting diketahui agar kita dapat mengetahui

letak daun ke-3, ke-9, dan ke-17. Daun yang ke-9 berada pada sumbu yang

sama dengan daun no.1 agak ke kanan pada spiral pelepah kiri dan agak ke kiri

pada spiral kanan. Daun no. 1 adalah daun yang paling muda dan telah terbuka

sempurna.

Dalam pengerjaannya sampel daun tidak boleh sembarang dalam

pengambilannya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan

sampel daun, diantaranya (Lolorain, 2012) :

1. Dilakukan pada akhir musim hujan.


2. Dilakukan pada pagi hari antara pukul 07.00-11.00
8
3. Jika terjadi hujan pengambilan contoh daun segera dihentikan.
4. Jarak atau waktu pengambilan dilakukan minimal 2 bulan sebelum atau

sesudah pemupukan.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan

Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

1. Alat tulis
2. Lembar postest
3. Lembar pretest
4. Lembar laporan sementara
5. Gunting
6. Cutter
7. Aquades
8. Tissue
9. Amplop cokelat ukuran sedang

Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

1. Ranting Murbei (Morus alba L.)


2. Ranting Alamanda (Allamanda cathartica)
3. Ranting Pulai (Alstonia scholaris)
4. Ranting Mawar (Rosa chinensis)
5. Ranting Lengkeng (Euphoria longana)
6. Ranting Kesturi (Mangefera Castoria)
7. Ranting Pucuk Merah (Oleina syzygium)
8. Ranting Srikaya ( Annona squamusa L.),
9. Ranting Melati Jakarta (Jasminum sambac)
10. Batang Suji (Pleomele angustifolia)
11. Batang Bambu (Bambusa tuldoides)
12. Batang Sawi (Brassica Juncea L.)
9
13. Batang Pepaya (Carica papaya L.)
14. Batang Pakis Haji (Cycas rumphii)

Untuk pengambilan sampel daun untuk analisis jaringan :

1. Pelepah utuh kelapa sawit (Elaeis guineensis).

Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 09 November 2016

jam 13.00-15.00 WITA. Tempat pelaksanaan di Lapangan Pascasarjana

Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

Prosedur Kerja

Pelaksanaan praktikum ini meliputi dua tahapan dalam pelaksanaan praktikumnya

yaitu :

Mengidentifikasi tata letak daun

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan diamati

2. Mengamati tata letak daun

3. Menentukan rumus tata letak daun seperti rumus pecahan daun, pola tata leta

daun, sudut divergensi dari masing-masing tanaman yang telah diamati

4. Mengambarkan bagan dan diagram tata letak daun yang diamati


10
5. Mengetahui dan mengamati fungsi tata letak daun dalam bidang pertanian

pada tanaman kelapa sawit

Metode pengambilan sampel daun

1. Memilih pelepah tanaman kelapa sawit sesuai dengan standar operasional

prosedur pengambilan contoh daun kelapa sawit :

a. Daun pada tanaman muda sampai umur 1,5 tahun menggunakan daun

pelepah ke-3

b. Daun pada tanaman umur 1,5-2,5 tahun menggunakan daun pelepah ke-9

c. Daun pada tanaman umur diatas 2,5 tahun menggunakan daun pelepah ke-

17

2. Memotong pelepah tanaman kelapa sawit yang akan digunakan sebagai bahan

pengambilan sampel daun

3. Mengambil daun di bagian tengah pelepah sepanjang 20 cm dari dua sisi

yaitu empat sisi kiri dan empat sisi kanan

4. Membersihkan daun yang telah diambil dengan aquades

5. Memisahkan tulang daun dari helaian daun

6. Mengikat daun yang telah dibersihkan dan dibuang tulang daunya dengan dua

kali ikatan pada bagian daun sisi kiri dan satu kali pada sisi kanan
11
7. Kemudian daun tadi dimasukan dalam amplop dan diberi label sesuai kode

blok/afdelling untuk dibawa ke laboratorium.

HASIL DAN METODE

Hasil

Hasil dari praktikum ini berupa beberapa data pengamatan yang dapat

dilihat pada beberapa tabel berikut :

Tabel 1. Hasil pengamatan tata letak daun pada batang tanaman


Tanaman Murbei (Morus alba L.) Klasifikasi Tanaman

Kingdom : Plantae
Ordo : Rosales
Family : Moraceae
Tribe : Moreae
Genus : Morus
Species : M. Alba
Nama Binomial: Morus alba L.
12
Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun

Keterangan

Tanaman Murbei (Morus alba L.) memiliki rumus 1/2 dengan sudut
divergensi 1/2 x 360o = 180o dan memiliki pola tata letak daun berseling
(Folia disticha).

Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun


13
Keterangan

Tanaman Murbei juga memiliki rumus daun 2/5 dengan sudut divergensi 2/5
x 360 = 144 dan memiliki pola tata letak daun tersebar (Folia sparsa).

Tanaman Cocor Bebek (Kalanchoe Klasifikasi Tanaman


pinnata)
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Rosales
Famili : Crassulaceae
Genus : Kalanchoe
Spesies : Kalanchoe
waldheimii Raym.-Hamet & H.
Perrier
14
Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun

Keterangan

Tanaman Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata) memiliki rumus 1/2 dengan


sudut divergensi 1/2 x 360o = 180o dan memiliki pola tata letak daun
berhadapan-bersilang (Folia opposita)

Tanaman Singkong (Manihot Klasifikasi Tanaman


utilisima)
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Traheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Manihot
Spesies : Manihot utilissima
15
Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun

Keterangan

Tanaman Singkong (Manihot utilisima) memiliki rumus 2/5 dengan sudut


divergensi 2/5 x 360o = 144o dan memiliki pola tata letak daun tersebar
(Folia sparsa)

Tanaman Suji (Pleomele Klasifikasi Tanaman


angustifolia)
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Sub Divisi :Monocotyledoneae
Ordo : Liliopsida
Kelas : Liliaceae
Genus : Dracaena
Species : Dracaena
angustifolia Roxb.
16
Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun

Keterangan

Tanaman Suji (Pleomele angustifolia) memiliki rumus 3/8 dengan sudut


divergensi 3/8 x 360o = 135o dan memiliki pola tata letak daun tersebar
(Folia sparsa)

Tanaman Asoka (Saraca asoca) Klasifikasi Tanaman

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Famili : Caesalpiniaceae
Genus : Saraca
Spesies : Saraca indica
17
Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun

Keterangan

Tanaman asoka (Saraca asoca) memiliki rumus 1/2 dengan sudut divergensi
1/2 x 360o = 180o dan memiliki pola tata letak daun berhadapan-bersilang
(Folia opposita atau Folia decussata)

Tanaman Alamanda (Allamanda Klasifikasi Tanaman


cathartica)
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Gentianales
Famili : Apocynaceae
Genus : Allamanda
Spesies : Allamanda
cathartica L.
18
Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun

Keterangan

Tanaman Alamanda (Allamanda cathartica L.) merupakan tanaman dengan

pola tata letak daun berkarang (Folia verticillata) karena terdapat lebih dari

dua daun pada tiap buku-buku dan tidak dapat ditentukan rumus daunnya
Tanaman Jati Putih (Gmelina Klasifikasi Tanaman
arborea Roxb.)
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Classis : Magnolipsida
Sub Classis : Asteridae
Ordo : Tuliflorae
Famili : Verbenaceae
Genus : Gmelina
Species : Gmelina
asiatica L.
19
Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun

Keterangan

Tanaman Jati Putih (Gmelina arborea Roxb.) memiliki rumus 1/2 dengan
sudut divergensi 1/2 x 360o = 180o dan memiliki pola tata letak daun
berhadapan bersilang (Folia opposita atau Folia decussata)

Tanaman Jepun (Nerium oleander) Klasifikasi Tanaman

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliophyta

Ordo : Gentianales

Family : Apocynaceae

Genus : Nerium

Spesies : Nerium oleander


L.
20
Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun

Keterangan

Tanaman Jepun (Nerium oleander) merupakan tanaman dengan pola tata


letak daun berkarang (Folia verticillata) karena terdapat lebih dari dua daun
pada tiap buku-buku dan tidak dapat ditentukan rumus daunnya

Tanaman Bambu (Bambusa sp.) Klasifikasi Tanaman

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Sub kelas : Commelinidae

Ordo : Cyperales

Famili : Poaceae

Genus : Bambusa

Spesies : Bambusa sp.


21
Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun

Keterangan

Tanaman Bambu (Bambusa sp.) memiliki rumus 1/2 dengan sudut divergensi

1/2 x 360o = 180o dan memiliki pola tata letak daun berseling (folia disticha)

Tanaman Mawar (Rossa sp.) Klasifikasi Tanaman

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliophyta
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Rosales
Famili : Rosaceae
Genus : Rosa
Spesies : Rosa L.
22
Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun

Keterangan

Tanaman Mawar (Rossa sinensis) memiliki rumus 1/3 dengan sudut


divergensi 1/3 x 360o = 120o dan memiliki pola tata letak daun tersebar
(Folia sparsa)

Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Klasifikasi Tanaman


guineensis Jack)
Kingdom : Plantae

Divisi :Embryophyt siphonagama

Kelas : Angiospermae

Ordo : Monocotyledonae

Family : Arecaceae

Subfamili : Cocoideae

Genus : Elaeis

Spesies : E.guineensis Jack


23
Bagan tata letak daun Diagram tata letak daun

Keterangan

Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jack) memiliki rumus 3/8 dengan
sudut divergensi 3/8 x 360o = 135o dan memiliki pola tata letak daun
berhadapan bersilang (Folia opposita atau Folia decussata)

Tabel 2. Hasil pengambilan sampel daun Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jack)

Memotong pelepah tanaman kelapa

sawit sesuai dengan ketentuan dari

PPKS.
24

Menyiapkan pelepah tanaman kelapa

sawit yang akan digunakan sebagai

bahan pengambilan sampel daun.

Memotong daun di bagian tengah

sepanjang 20 cm dari 2 sisi yaitu empat

sisi kiri dan empat sisi kanan.

Membersihkan daun yang telah

dipotong dengan aquades.


25

Memisahkan lidi dari daun yang telah

dipotong.

Mengikat daun yang telah dibersihkan

Gambar daun sebelah kiri dengan dua kali ikatan pada bagian

daun sisi kiri dan satu kali pada bagian

daun sisi kanan.

Gambar daun sebelah kanan


26

Kemudian daun dimasukkan ke dalam

amplop dan diberi label blok LSU

untuk dibawa ke laboratorium.

Pembahasan

Tata letak daun atau Phyllotaxis adalah aturan tata letak daun pada batang.

Pada batang dewasa, daun tersusun dalam pola tertentu dan berulang-ulang.

Susunan daun pada batang tersebut disebut duduk daun atau filotaksis. Istilah

filotaksis sebenarnya merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan urutan

terbentuknya daun pada batang, tetapi dikarenakan urutan daun tersebut tampak

jelas setelah daun maupun batang yang ditempatinya mengalami pendewasaan,

maka istilah tersebut digunakan secara umum untuk menyatakan susunan daun

pada batang. Susunan daun dari suatu tumbuhan biasanya bersifat konstan.

Susunan daun pada batang biasanya turut ditentukan oleh banyaknya helai

daun yang terbentuk dalam suatu buku (nodus). Untuk itu, daun dapat dibentuk

secara tunggal bila ada suatu helai daun pada setiap buku, berpasangan bila ada

dua helai daun pada setiap buku, atau dalam karangan bila terdapat tiga helai daun

atau lebih pada setiap buku. Ada beberapa jenis tanaman yang telah diidentifikasi

dalam praktikum kali ini yaitu :


27
Tanaman Murbei (Morus alba L.) merupakan tanaman dengan rumus

duduk daun 1/2 dimana bagian dari duduk daun 1 sejajar dengan duduk daun yang

ke 3, 5, 7, 9 dst. Begitu juga dengan duduk daun 2 sejajar dengan duduk daun ke

4, 6, 8, 10 dst. Tanaman murbei mempunyai sudut divergensi 1/2 x 360 o = 180o

dengan pola tata letak daun berseling (Folia disticha) karena menyerupai daun

tersebar. Tanaman Murbei juga memiliki rumus daun 2/5 dimana bagian dari

duduk daun 1 sejajar dengan duduk daun ke 6, 11, 16 dst. Duduk daun 2 sejajar

dengan duduk daun 7, 12, 17 dst. Duduk daun 3 sejajar dengan duduk daun ke 8,

13, 18 dst. Duduk daun 4 sejajar dengan duduk daun ke 9, 14, 19 dst. Duduk daun

5 sejajar dengan duduk daun ke 10, 15, 20 dst. Tanaman murbei mempunyai sudut

divergensi 2/5 x 360 = 144 dan memiliki pola tata letak daun tersebar (Folia

sparsa) karena pada buku-buku daun hanya terdapat satu daun saja.

Tanaman Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata) merupakan tanaman dengan

rumus duduk daun 1/2 dimana bagian dari duduk daun 1 sejajar dengan duduk ke

3, 5, 7, 9 dst. Begitu juga dengan duduk daun 2 sejajar dengan duduk daun ke 4, 6,

8, 10 dst. Tanaman cocor bebek mempunyai sudut divergensi 1/2 x 360o = 180o

dengan pola tata letak daun berhadapan-bersilang (Folia opposita atau Folia

decussata) karena pada tiap buku-buku terdapat dua daun.

Tanaman Singkong (Manihot utilisima) merupakan tanaman dengan rumus

duduk daun 2/5 dimana bagian dari duduk daun 1 sejajar dengan duduk daun ke 6,

11, 16, 21 dst. Begitu juga dengan duduk daun 2 sejajar dengan duduk daun ke 7,

12, 17, 22 dst. Demikian juga duduk daun ke 3 sejajar dengan duduk daun ke 8,

13, 18, 23 dst. Duduk daun ke 4 akan sejajar dengan duduk daun ke 9, 14, 19, 24

dst. Pada duduk daun yang ke 5 akan sejajar dengan duduk daun ke 10, 15, 20, 25
28
dst. Tanaman singkong mempunyai sudut divergensi 2/5 x 360 o = 144o dengan

pola tata letak daun tersebar (Folia sparsa) karena pada tiap buku-buku hanya

terdapat satu daun saja.

Tanaman Suji (Pleomele angustifolia) merupakan tanaman dengan rumus

duduk daun 3/8 dimana bagian dari duduk daun 1 sejajar dengan duduk daun ke 9,

17, 25 dst. Begitu juga dengan duduk daun 2 sejajar dengan duduk daun 10, 18,

26 dst. Demikian juga duduk daun ke 3 sejajar dengan duduk daun ke 11, 19, 27

dst. Duduk daun ke 4 akan sejajar dengan duduk daun ke 12, 20, 28 dst. Duduk

daun ke 5 akan sejajar dengan duduk daun ke 13, 21, 29 dst. Pada duduk daun

yang ke 6 akan sejajar dengan duduk daun ke 14, 22, 30 dst. Duduk daun ke 7

akan sejajar dengan duduk daun ke 15, 23, 31 dst. Duduk daun ke 8 akan sejajar

dengan duduk daun ke 16, 24, 32 dst. Tanaman suji mempunyai sudut divergensi

3/8 x 360o = 135o dengan pola tata letak daun tersebar (Folia sparsa) karena pada

tiap buku-buku hanya terdapat satu daun saja.

Tanaman Asoka (Saraca asoca) merupakan tanaman dengan rumus duduk

daun 1/2 dimana bagian dari duduk daun 1 sejajar dengan duduk ke 3, 5, 7, 9 dst.

Begitu juga dengan duduk daun 2 sejajar dengan duduk daun ke 4, 6, 8, 10 dst.

Tanaman asoka mempunyai sudut divergensi 1/2 x 360 o = 180o dengan pola tata

letak daun berhadapan-bersilang (Folia opposita atau Folia decussata) karena

pada tiap-tiap daun terdapat dua daun.

Tanaman Alamanda (Allamanda cathartica) merupakan tanaman dengan

pola tata letak daun berkarang (Folia verticillata) karena terdapat lebih dari dua

daun pada tiap buku-buku. Tata letak daun berkarang tidak dapat ditentukan

rumus daunnya, tetapi pada duduk batang yang seperti ini dapat memperlihatkan
29
adanya ortostik-ortostik yang menghubungkan daun-daun yang tegak lurus satu

sama lain.

Tanaman Jati Putih (Gmelina arborea Roxb.) merupakan tanaman dengan

rumus duduk daun 1/2 dimana bagian dari duduk daun 1 sejajar dengan duduk ke

3, 5, 7, 9 dst. Begitu juga dengan duduk daun 2 sejajar dengan duduk daun ke 4, 6,

8, 10 dst. Tanaman jati putih mempunyai sudut divergensi 1/2 x 360 o = 180o

dengan pola tata letak daun berhadapan-bersilang (Folia opposita atau Folia

decussata) karena pada tiap buku-buku terdapat dua daun.

Tanaman Jepun (Nerium oleander) merupakan tanaman dengan pola tata

letak daun berkarang (Folia verticillata) karena terdapat lebih dari dua daun pada

tiap buku-buku. Tata letak daun berkarang tidak dapat ditentukan rumus daunnya,

tetapi pada duduk batang yang seperti ini dapat memperlihatkan adanya ortostik-

ortostik yang menghubungkan daun-daun yang tegak lurus satu sama lain.

Tanaman Bambu (Bambusa sp.) merupakan tanaman dengan rumus duduk

daun 1/2 dimana bagian dari duduk daun 1 sejajar dengan duduk ke 3, 5, 7, 9 dst.

Begitu juga dengan duduk daun 2 sejajar dengan duduk daun ke 4, 6, 8, 10 dst.

Tanaman bambu mempunyai sudut divergensi 1/2 x 360 o = 180o dengan pola tata

letak daun berseling karena pada tata letak daun tersebar yang mengikuti rumus

1/2 oleh sementara dipisahkan dari tata letak daun yang tersebar umumnya,

sehingga dinamakan duduk daun berseling (folia disticha).

Tanaman Mawar (Rossa sp.) merupakan tanaman dengan rumus duduk

daun 1/3 dimana bagian dari duduk daun 1 sejajar dengan 4, 7, 10, 13 dst. Begitu

juga dengan duduk daun 2 sejajar dengan duduk daun 5, 8, 11, 14 dst. Demikian

pula duduk daun ke 3 sejajar dengan duduk daun ke 6, 9, 12, 15 dst. Tanaman
30
mawar mempunyai sudut divergensi 1/3 x 360 o = 120o dengan pola tata letak daun

tersebar (Folia sparsa) karena pada tiap buku-buku hanya terdapat satu daun saja.

merupakan tanaman dengan rumus duduk daun 3/8 dimana bagian dari

duduk daun 1 sejajar dengan duduk daun ke 9, 17, 25 dst. Begitu juga dengan

duduk daun 2 sejajar dengan duduk daun 10, 18, 26 dst. Demikian juga duduk

daun ke 3 sejajar dengan duduk daun ke 11, 19, 27 dst. Duduk daun ke 4 akan

sejajar dengan duduk daun ke 12, 20, 28 dst. Duduk daun ke 5 akan sejajar dengan

duduk daun ke 13, 21, 29 dst. Pada duduk daun yang ke 6 akan sejajar dengan

duduk daun ke 14, 22, 30 dst. Duduk daun ke 7 akan sejajar dengan duduk daun

ke 15, 23, 31 dst. Duduk daun ke 8 akan sejajar dengan duduk daun ke 16, 24, 32

dst. Tanaman suji mempunyai sudut divergensi 3/8 x 360 o = 135o dengan pola tata

letak daun tersebar (Folia sparsa) karena pada tiap buku-buku hanya terdapat satu

daun saja. Memiliki pola tata letak daun berhadapan bersilang (Folia opposita

atau Folia decussata) karena pada tiap buku-buku terdapat dua daun. Pada

tanaman kelapa sawit pengambilan contoh daun merupakan salah satu kegiatan

rutin yang dilakukan sekali dalam setahun dengan tujuan mengetahui status

terakhir kandungan unsur hara di dalam tanaman. Kegiatan ini dapat dijadikan

sebagai salah satu dasar untuk menentukan dosis pupuk per tanaman dalam

melakukan pemupukan 1 tahun ke depan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
31
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat

disimpulkan sebagai berikut :

1. Tata letak daun merupakan aturan letak daun-daun yang duduk pada batang

tumbuhan.
2. Tempat duduknya daun disebut buku-buku (nodus), sedangkan bagian batang

antara buku-buku disebut ruas.


3. Pola tata letak daun pada tumbuhan terdiri dari tata letak daun tersebar (Folia

sparsa), tata letak daun berseling (Folia disticha), tata letak daun berhadapan-

bersilang (Folia opposita atau Folia decussata) dan tata letak daun berkarang

(Folia verticillata)
4. Sudut divergensi yaitu jarak sudut antara dua daun berturut-turut, rumusnya

yaitu a/b x 360o. Dimana a/b didapat dari rumus daun atau divergensi

Saran

Sebaiknya praktikan dapat memperhatikan penjelasan dari asisten dosen

dengan baik agar cepat mengerti. Untuk kenyamanan bersama agar saling

menghargai satu sama lain, dan untuk pemberitahuan bahan sebaiknya lebih awal

agar lebih mudah menyiapkannya.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, G. 2011. Tata Letak Daun. http://www.achmadghoni.com diakses


tanggal 10 November 2015.

Azibin, 1986. Ringkasan Biologi. Ganeca Exact. Bandung.

Hidayat, E. B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB. Bandung.


32
Tim asisten 2015. Penuntun praktikum biologi pertanian. Faperta unlam.
Banjarbaru

Tjitrosoepomo, G. 1985. Morfologi Tumbuhan. Gajah Mada University.


Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai