Anda di halaman 1dari 53

PENGARUH KEMIRINGAN JOINT PADA PILAR TERHADAP

KESTABILAN TEROWONGAN SEJAJAR

PROPOSAL TESIS
Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Magister dari Institut
Teknologi Bandung

Oleh
Micky Kololu
22114028

PROGRAM STUDI REKAYASA PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

BAB I
Pendahuluan
1.1. LATAR BELAKANG
Penambangan emas dengan metode tambang terbuka disamping dibatasi secara
ekonomis, juga dibatasi oleh faktor lingkungan dan sosial. Ketika kendala-kendala
tersebut terjadi, maka penambangan secara tambang terbuka harus dihentikan dan
harus mencari alternatif metode penambangan yang sesuai. Salah satu alternatif
penambangan yang sesuai adalah metode penambangan bawah tanah.

Metode penambangan emas yang diterapkan di PT. Cibaliung Sumberdaya


adalah metode cut and fill. Metode ini digolongkan menjadi dua cara yaitu cara
overhand atau overcut and fill dan cara underhand atau undercut and fill. Overhand
cut and fill merupakan cara klasik dengan arah penggalian menujuh ke atas dan
material backfill sebagai lantai kerja sedangkan underhand cut and fill merupakan
cara baru yang dikembangkan untuk daerah massa batuan yang lemah, dan bijih
berkadar tinggi, arah penambangan menujuh ke bawah dengan material backfill
sebagai atap sehingga diperlukan perkuatan tambahan agar material backfill tidak
runtuh, yaitu ditambahkan kombinasi rockbolt dan wiremesh atau membuat sill
concrete dilantainya sebelum proses pengisian.

Tambang emas PT. Cibaliung Sumberdaya secara struktur geologi, prospek


emas di Cibaliung terletak dalam koridor struktur yang berarah barat-baratlaut dengan
lebar 3,5 km dan panjang 6 km. Dua struktur arah Utara-Baratlaut yang kaya
cadangan emas dengan posisi relative tegak sebagai sistem urat kuarsa, adalah
Cikoneng disebelah utara dan Cibitung disebelah selatan yang berjarak 400m. Tubuh
yang kaya cadangan emas ini memiliki ukuran tebal 1-10m, panjang 140-200m,
kedalaman sampai lebih 300m dan masih menerus kebawah.

Penambangan dengan metode ini harus dilakukan dengan cermat karena jika
suatu proses penambangan dilakukan dapat mengalami keruntuhan disebabkan
adanya interaksi antara terowongan berdekatan yang merupakan salah satu faktor
utama yang mempengaruhi kestabilan terowongan, sehingga peranan ketebalan pilar
yang ditinggalkan sangatlah mempengaruhi kestabilan terowongan. Terowongan

1
sejajar yang berdekatan dengan lebar pilar minimum dapat menghasilkan tegangan
tangensial maksimum.

Peranan pilar sangatlah penting untuk aktifitas penambangan di level tersebut


dan di sisi lain ketebalan pilar yang ditinggalkan sangat mempengaruhi perolehan
bijih. Semakin tipis pilar yang ditinggalkan, semakin besar perolehan bijih, akan
tetapi potensi terjadinya keruntuhan akan semakin besar. Hal ini menunjukan bahwa
pilar harus kuat dan mampu menahan beban dalam jangka waktu tertentu yang
diperlukan agar proses penambangan dapat berlangsung dengan baik. Pada umumnya
pendekatan-pendekatan perhitungan kekuatan pilar bertujuan untuk pemahaman
desain awal, yang meliputi dimensi terutama rasio lebar pilar terhadap tinggi pilar
(W/h).

Ketebalan urat emas yang bervariasi dan adanya kehadiran kekar pada pilar
akan menyebabkan ketidakstabilan pada pilar itu sendiri. Kehadiran kekar pada pilar
mengakibatkan terowongan membutuhkan penyanggaan buatan dan juga kemiringan
kekar dapat memiliki dampak yang signifikan pada kekuataan pilar. Pada kedalaman
yang dangkal, pilar mengalami tegangan yang jauh lebih rendah. Sedangkan, pada
kedalaman yang dalam, pilar akan mengalami tegangan yang tinggi. Dalam penelitian
ini masalah yang ingin diselesaikan adalah membuat kajian kemantapan pilar diantara
terowongan sejajar sehingga diperoleh kondisi yang aman.

1.2. PERUMUSAN MASALAH


Masalah yang dihadapi dalam penelitian ini adalah penentuan dimensi pilar
penambangan yang akan digunakan sebagai penyangga lubang bukaan untuk
mendapatkan kondisi yang aman pada penambangan bawah tanah emas dengan
metode cut and fill. Parameter yang menjadi patokan dalam menentukan kemantapan
lubang bukaan dan dimensi pilar adalah nilai faktor keamanan (FK)-nya. Sedangkan
parameter-parameter lain seperti perpindahanan tegangan, menjadi alat bantu
menganalisis perilaku pilar.

2
1.3. BATASAN MASALAH
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah :
(1) Lokasi yang diteliti adalah lokasi stope pada Crosscut di level yang akan
diteliti.
(2) Klasifikasi massa batuan yang digunakan untuk menganalisis kestabilan stope
yaitu klasifikasi massa batuan sistem geomekanika (RMR) dan Q-System.
(3) Permodelan numerik dilakukan berdasarkan hasil pengujian sampel batuan
dengan asumsi bahwa kondisi batuan homogen dan kondisi bidang lemah
menerus pada body vein sampai dengan batas kontak antara vein dan sidewall
(4) Sistem penyanggaan sesuai dengan yang digunakan pada site

1.4. TUJUAN PENELITIAN


Berdasarkan uraian permasalahan diatas, tujuan dari penelitian ini adalah :
(1) Menghitung dampak potensial dari variasi sudut kekar terhadap kekuatan pilar
(2) Melakukan evaluasi kelas massa batuan dan rekomendasi penyanggaan pada
Pilar
(3) Menganalisis perpindahan,tegangan dan faktor keamanan pada model
terowongan sejajar menggunakan permodelan numerik

1.5. METODOLOGI PENELITIAN


Agar dapat memperoleh hasil penelitian yang diharapkan, berikut merupakan metode
dan diagram alir penelitian (gambar I.1) yang akan digunakan.
1. Studi Literatur
Untuk dapat memperkuat pengetahuan dasar mengenai permasalahan penelitian
yang diangkat, maka perlu didukung dengan berbagai macam literatur yang
terkait dengan substansi permasalahan penelitian. Adapun literatur-literatur
yang dijadikan sebagai sumber referensi diantaranya buku-buku, laporan hasil
penelitian dan publikasi ilmiah internasional maupun nasional yang terkait
kemantapan pilar dan lubang bukaan tambang tambang bawah tanah, cut and
fill.
2. Kegiatan Penelitian Lapangan
Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan observasi secara langsung pada lokasi
penelitian di lapangan dan selanjutnya melakukan serangkaian kegiatan
lapangan yang bertujuan memperoleh data-data penelitian baik secara langsung
maupun tidak langsung. Secara umum, kegiatan penelitian lapangan ini terdiri
dari dua bagian yaitu pengambilan data primer dan pengambilan data sekunder.

3
a. Pengambilan data-data primer merupakan pengambilan data-data terbaru
yang sebelumnya belum tersedia dan diperoleh secara langsung di lokasi
penelitian, seperti data kondisi massa batuan disekitar lubang bukaan dan
batuan samping menggunakan metode klasifikasi massa batuan (RMR), data
pengamatan struktur-struktur geologi (kekar) dan data geometri pilar dan
lubang bukaan cut and fill.
b. Pengambilan data-data sekunder adalah pengambilan data-data yang telah
tersedia sebelumnya melalui pengujian Laboratorium seperti data jenis
batuan di PT. Cibaliung Sumberdaya (PT.CSD) data karakteristik sifat fisik
dan mekanik massa batuan dan batuan utuh (intact).
3. Pengolahan Data
Data-data yang telah diperoleh di lapangan, selanjutnya dilakukan penyusunan
dan pengolahan data secara sistematis ke dalam bentuk tabel, grafik dan input
data variabel-variabel persamaan empirik dan permodelan numerik yang
bertujuan untuk memudahkan dan membantu dalam proses analisis. Adapun
data yang dihasilkan dari proses pengolahan ini adalah kondisi massa batuan
RMR dan Q-System, rasio lebar dan tinggi pilar (W/h) dan kemiringan kekar
pada pilar. Sedangkan data-data yang diperoleh di laboratorium seperti:
pengujian kuat tekan uniaksial (UCS test), Triaxial test, uji kuat tarik tak
langsung (Brazilian test) dan uji kuat geser (direct shear test), di maksudkan
untuk penentuan kekuatan pilar.
4. Analisis Data
Tahap ini merupakan lanjutan dari tahap pengolahan data, dimana data-data
yang telah diolah, selanjutnya akan dilakukan analisis dengan menggunakan
metode-metode pendekatan yang di pilih. Untuk analisis persamaan kekuatan
yang berbeda, studi kasus dilakukan. Sampel emas dikumpulkan dari lapisan
yang berbeda dari bawah tanah lokal di dekatnya. Data terkait lainnya seperti
kedalaman cover, kepadatan overburden, kemiringan lapisan, lebar galeri,
dimensi pilar yang ada dan sifat emas lainnya juga dikumpulkan. core silinder
panjang yang memadai untuk rasio diameter disusun setelah sampel inti,
dipotong dan dipoles. Sampel ini kemudian diuji kuat tekan uniaksial (UCS)

4
untuk mencari kekuatan utama. Material juga diuji di bawah Triaxial mesin uji
kompresif untuk menentukan perilaku di bawah tekanan terkurung. Nilai UCS
bersama dengan data lain seperti kedalaman penutup, kepadatan overburden
galeri lebar kemudian diterapkan pada berbagai persamaan kekuatan pilar untuk
menentukan kekuatan pilar. Stres pada pilar dihitung dengan metode tributary
area. Rasio kekuatan pilar dengan stres pada pilar memberikan faktor
keamanan. Persentase ekstraksi juga dihitung. Kemudian grafik diplot untuk
berbagai rasio W / h, faktor keamanan dan persentase ekstraksi untuk
menentukan ukuran kecukupan pilar yang dapat memberikan faktor keamanan
yang cukup untuk mencegah runtuhnya pilar dan memaksimalkan
ekstraksi.Untuk analisis selanjutnya menggunakan permodelan numerik berupa
metode beda hingga dengan perangkat lunak yang digunakan adalah Flac3D
(Fast Lagrangian Analysis of Continua in 3 dimensions).
5. Laporan Penelitian
Penyusunan laporan ilmiah hasil penelitian dalam bentuk tesis.

5
6
BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah


PT. Cibaliung Sumberdaya merupakan perusahaan tambang emas bawah tanah
seluas 1340 hektar. Secara geografis PT. Cibaliung Sumberdaya terletak di sebelah
ujung barat daya Pulau Jawa dan secara administratif terletak di tiga kecamatan, yaitu
Kecamatan Cimanggu, Kecamatan Cibaliung dan Kecamatan Cibitung, Kabupaten
Pandeglang, Provinsi Banten. Lokasi tambang PT. Cibaliung Sumberdaya dapat
dicapai lewat jalur darat dengan kendaraan roda empat selama kurang lebih 6 jam dari
Jakarta dengan jarak kurang lebih 202,5 kilometer.

2.2.
Iklim
dan Cuaca

Daer ah

Gambar 2.1 Peta lokasi tambang emas Cibaliung (Sumber:


dokumen PT. Cibaliung Sumberdaya)
penelitian memiliki dua musim utama, yaitu musim penghujan yang berlangsung dari
bulan Oktober sampai bulan Maret C dan musim kemarau berlangsung dari bulan
April sampai bulan September. Suhu berada di kisaran 25-30 C untuk musim hujan
dan 30-32 C untuk musim kemarau. Khusus untuk daerah sekitar Cibaliung angin
bertiup keras pada bulan Agustus dari arah Selatan dan Barat. Kelembaban udara

7
sepanjang tahun di daerah penelitian ini cukup tinggi dengan kisaran 92 - 99%. Curah
hujan pada lokasi penelitian cukup tinggi yaitu dengan kisaran 329 653 mm/tahun.

2.3. Kondisi Geologi Wilayah

PT. Cibaliung Sumberdaya merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian


antara 300 hingga 620 meter dpl dengan kemiringan lereng 7 20 %. Perbukitan
tertinggi terletak di sebelah barat daerah KP. Eksplorasi Cibaliung, yakni Gunung
Honje dengan ketinggian 620 m di atas permukaan laut dan termasuk dalam kawasan
Taman Nasional Ujung Kulon.

2.3.1 Lithologi

Batuan tertua pra-mineralisasi (host) di area proyek emas Cibaliung


merupakan lapisan tebal dari batuan basaltik hingga andesitik vulkanik (ANDS),
breksi vulkanik (BRAN), breksi polymict (PLBX) dan breksi monomict (MNBX).

Tuff umumnya mempunyai tebal beberapa meter di areal tambang, tetapi juga
bisa mencapai 30 m. Lapisan tipis dari unconsolidated colluvium / alluvium yang
terdiri dari batuan pra-mineral dan kuarsa material vein umumnya berada di dasar tuff
tersebut.

2.3.2. Alterasi dan Vein

Ada beberapa tahapan alterasi hidrotermal dan baik kedua urat mineralisasi
atau nonmineralis diidentifikasi di Cibaliung (Angeles et al, 2001). Tahapan utama
yang diidentifikasi adalah:
Meresapnya klorit propilitik + perubahan adularia (disebut sebagai perubahan
klorit).
Terjadi alterasi argilik yang menyebabkan smectite illite overprinting dari
propilitik / perubahan klorit (disebut sebagai salah alterasi argilik atau smectite).
Urat kuarsa (batuan induk mineralisasi emas).
Batuan yang tidak berubah/teralterasi (terbatas pada batuan yang lebih muda dari
Dacite Tuff).

8
2.3.3. Struktur Geologi

Tambang Emas Cibaliung terletak di bagian tengah dari busur magmatik


Sunda-Banda yang berumur Neogene. Batuan asal (host rock) pembawa bijih emas-
perak adalah batuan Honje Volcanic dengan umur Akhir Miosen yang diterobos oleh
subvolcanic andesit-diorit berupa "plug" atau "dike" dan kadang terpotong oleh
"diatreme breccia". Menumpang tidak selaras di atas batuan asal ini berupa dacitic
tuff, sediment muda, dan aliran lava basalt yang berumur Miosen Kuarter.

Secara struktur geologi, prospek emas di Cibaliung terletak dalam koridor


struktur yang berarah Barat-Barat Laut dengan lebar 3,5 km dan panjang 6 km. Dua
struktur arah Utara-Barat Laut yang kaya cadangan emas dengan posisi relatif tegak
sebagai sistem urat kuarsa, adalah Cikoneng di sebelah Utara dan Cibitung di sebelah
Selatan yang berjarak 400 m. Tubuh yang kaya cadangan emas ini memiliki ukuran
tebal 1-10 m, panjang 140-200 m, kedalaman sampai lebih 300 m dan masih menerus
ke bawah. Bijih emas dan perak di Cikoneng-Cibitung terjadi oleh beberapa fase urat
kuarsa "low sulfidation adularia-sericite" dalam sistem epitermal.

2.4. Penambangan
Dalam melakukan kegiatan penambangan, PT. Cibaliung Sumberdaya
menggunakan sistem penambangan bawah tanah. Metode penambangan yang
digunakan adalah metode penambangan cut and fill. Kegiatan penambangan dimulai
pada tahun 2005 dengan dibangunnya Cibitung Box Cut.

2.4.1. Metode Penambangan Cut and Fill


PT. Cibaliung Sumberdaya menggunakan sistem penambangan bawah tanah
dengan metode cut and fill. Aktivitas penambangan dengan metode cut and fill terdiri
dari kegiatan pengeboran, kegiatan pemberaian massa batuan dari batuan induknya
(dengan proses peledakan), kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pemuatan dan

9
pengangkutan dengan alat mekanis. Stope yang telah digali nantinya akan ditimbun
kembali dengan material pengisi (kegiatan filling).

Pada awal penambangan PT. Cibaliung Sumberdaya membangun terowongan


untuk akses masuk ke dalam. Setelah terowongan terbentuk selanjutnya dilanjutkan
dengan pembuatan decline ke bawah mengitari vein. Pada metode konvensional,
penambangan bijih mengarah ke atas dari sebuah haulage way (cross cut) dengan
membuat cribed chute dan mainway. Material filling digunakan sebagai tempat
berpijak (working platform), sehingga apabila bijih telah diambil maka mainway
diperpanjang terlebih dahulu sebelum kegiatan filling untuk mengisi ruang yang
terbentuk dilakukan.

Berbeda dengan metode konvensional, pada metode mekanis digunakan ramp


sebagai akses penghubung antar haulage way. Selain itu, ore chute tidak berada pada
stope akan tetapi pada ramp sehingga tidak perlu memperpanjang ore chute sebelum
kegiatan filling dilakukan.

2.4.2 Siklus Produksi

Dalam melaksanakan proses penambangan PT. Cibaliung Sumberdaya


melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:

1) Development

Sebelum melakukan kegiatan penambangan di suatu lokasi, kegiatan


development perlu dilakukan dengan tujuan untuk pembuatan akses jalan masuk serta
keluar yang akan dilalui oleh pekerja serta alat-alat produksi.

2) Pengeboran (Drilling)

Dalam melakukan kegiatan pengeboran, alat bor yang digunakan adalah


jumbo drill TamrockMinimatic HS205D dan Terex MK35HE, dengan mata bor
berjenis button bit diameter 45 mm. Kegiatan pengeboran yang dilakukan dibagi
menjadi tiga bagian, yaitu:

10
a. Pengeboran produksi, yaitu pengeboran menggunakan pola pengeboran flat
back karena pada pengeboran produksi terdapat dua bidang bebas yang
terletak di depan serta di bawah dari bagian yang akan diledakkan.
b. Pengeboran pengamanan, pengeboran dengan pemasangan alat penyangga
(rock bolt dan wire mesh) yang disesuaikan dengan jenis serta kondisi batuan.

3) Peledakan (Blasting)
Kegiatan peledakkan diawali dengan pembersihan batuan disekitar lokasi
peledakan. Selanjutnya dilakukan kegiatan charging atau pengisian bahan peledak.
Kegiatan peledakan dilakukan di setiap akhir shift kerja. Hal ini bertujuan untuk
keamanan dan mencegah adanya waktu khusus untuk pembersihan asap atau smoke
clearing.

4) Pembersihan (Scalling)
Kegiatan ini bertujuan untuk menjatuhkan batuan yang menggantung pada
crown wall, termasuk batuan yang mungkin akan jatuh bila disekitar batuan tersebut
diganggu seperti dilakukannya pemboran pada tahap selanjutnya. Scalling
dilaksanakan setelah tahap pembersihan stope dari gas-gas hasil peledakan (smoke
clearing) dengan menggunakan fan yang dapat dipindah-pindahkan.

5) Penyanggaan (Supporting)
Tujuan utama dari penyanggaan adalah untuk memperkuat batuan agar tidak
runtuh. Selain itu penyanggan juga berfungsi untuk menghindari adanya jatuhan
akibat dari bidang lemah, baik itu akibat dari aktivitas peledakan maupun bidang
lemah yang terjadi secara alami, sehingga proses produksi dapat berjalan dengan
aman dan lancar. Sistem penyanggaan yang digunakan adalah rock bolt, wire mesh,
shortcrete, concrete, dan H-Beam.

11
Gambar 2.2 Siklus kegiatan penambangan bawah tanah (Sumber: dokumen PT.
Cibaliung Sumberdaya

6) Pemuatan dan Pengangkutan (Mucking dan Hauling)


Kegiatan ini merupakan serangkaian pekerjaan yang dilakukan untuk
mengambil dan memuat material hasil pembongkaran ke dalam suatu alat angkut atau
suatu tempat penampungan material atau batuan.
Pada kegiatan pemuatan ore yang telah terbongkar dari hasil peledakan
dimuat oleh load hauling dump (LHD) yang kemudian nantinya akan diangkut
menggunakan mine truck (MT) menuju keluar melalui portal Cikoneng yang nantinya
akan diolah di pabrik pengolahan yang berada di dekat mulut tambang.
7) Back Filling
Hampir sebagian besar stope yang telah tertambang selanjutnya diisi dengan
filling materials yang berasal dari waste dan limbah pabrik (sand tailing). Kegiatan
pengisian merupakan kegiatan yang sangat berperan dalam metode penambangan cut
and fill. Sebelum kegiatan ini dilakukan perlu dilakukan pemasangan barikade selebar
stope dan stek untuk menaikkan mainway. Setelah mainway sudah lebih tinggi dari
stope yang akan diisi, kemudian selanjutnya dilakukan penambahan pemasangan
kayu.
Barikade dibuat tidak terlalu rapat kemudian ditutup dengan filter yang
nantinya sebagai jalan air keluar dari stope yang akan diisi. Kemudian setelah itu pipa

12
backfill yang merupakan kelanjutan dari pipa pompa pabrik yang mengalirkan slurry
ke stope dinaikkan dan disambung dengan pipa horizontal yang ujungnya dikecilkan.
Pada penyelesaian akhir barikade dan mainway dibungkus geotextile atau
filter dan diperkuat dengan timbunan karung plastic yang diisi dengan waste dan
dilakukan pengecekan menyeluruh mengenai kondisi stope dan kontruksi yang telah
dikerjakan.
Pemasangan filter bermaksud agar slurry di dalam stope dapat tersaring
sehingga solid tetap tinggal dan mengendap sedangkan air dapat lolos dan keluar
melalu celah mainway dan barikade.

2.5 Pengolahan
Hasil pengolahan material hasil peledakan yang berupa waste hasil
development akan ditimbun di stockpile dan digunakan sebagai material pengisi,
sedangkan material bongkaran ore akan dimuat dengan menggunakan truck menuju
keluar portal Cikoneng.
Setelah siklus produksi selesai, dilanjutkan dengan siklus pengolahan. Bijih
yang telah ditambang dimasukkan ke dalam alat crushing dan screening kemudian
milling agar memiliki ukuran yang sesuai untuk tahap selanjutnya. Setelah ukuran
sesuai, selanjutnya melalui tahap proses-proses metalurgi. Sisa-sisa dari proses ini
nantinya akan dimasukkan ke dalam tailing treatment dan nantinya akan ditampung
dalam tailing dam atau digunakan kembali sebagai material pengisi stope.

BAB III

DASAR TEORI

13
3.1. Estimasi Kekuatan Massa Batuan

Massa batuan pada dasarnya adalah batuan utuh yang berisi diskontinuitas.
Sifat-sifat massa batuan tidak hanya tergantung pada sifat-sifat material utuh dan
diskontinuitas secara terpisah, tetapi juga pada kombinasi kedua faktor tersebut secara
bersamaan. Jika massa batuan dikenai beban maka kurva tegangan-regangan tidak
akan sama dengan batuan utuh pada kondisi beban yang sama. Modulus deformasi
massa batuan akan lebih rendah dibanding modulus elastisitas batuan utuh, demikian
juga kekuatan puncaknya (Peak Strength). Hasil pengujian laboratorium pada batuan
utuh juga tergantung pada ukuran contoh, karena setiap contoh akan mengandung
geometri diskontinuitas yang berbeda (Hudson,1989). kekuatan puncak, adalah
tegangan maksimal, pada suatu bidang, yang bisa ditahan oleh batuan pada kondisi
tertentu. Setelah kekuatannya terlampaui, batuan tetap memiliki kapasitas atau
kekuatan untuk menahan beban yang disebut minimum atau residual strength.

3.1.1. Kriteria Keruntuhan Batuan

Hoek and Brown mencoba menggabungkan semua peningkatan yang sudah ada
sebelumnya pada sebuah kriteria keruntuhan yang representatif. Hal ini menghasilkan
pengenalan akan GSI Geological Strength Index oleh Hoek et al. (1992), Hoek
(1994), dan Hoek, Kaiser and Bawden (1995) yang kemudian ditambah untuk
melingkupi massa batuan yang lemah oleh Hoek et al. (1998), Marinos and Hoek
(2000,2001) dan Hoek and Marinos (2000).

GSI dapat menentukan pelemahan massa batuan yang merupakan hubungan


antara derajat kekar dan kondisi dari permukaan kekar. Kekuatan massa batuan
bergantung pada sifat batuan utuh, dan kesempatan meluncur/runtuh pada kondisi
tegangan tertentu. Kesempatan ini dipengaruhi oleh bentuk geometri dari batuan utuh
dan kondisi separasi pada bidang diskontinuitas. Batuan tajam dengan permukaan
kekar yang bersih dan kasar akan mempunyai kekuatan yang lebih besar dibanding

14
dengan batuan berpatikel bulat yang terlapukkan. Kriteria kekuatan massa batuan
menurut The generalized Hoek-Brown (2002) sebagai berikut.
a

[ '
1 = 3 ' + c mb 3 +s
'
c ] (3.1)

mb = Konstanta m untukmassabatuan

s = Konstanta yang bergantung pada karakteristik massa batuan

c = Uniaxial Compressive Strength (UCS) batuan intact

'
1 = Tegangan efektif prinsipal major

3 ' = Tegangan efektif prinsipal minor

Kriteria asli Hoek Brown terbukti dapat digunakan pada batuan dengan kondisi baik.
Keruntuhan massa batuan tersebut dapat didefinisikan dengan memasukkan nilai a =
0.5 pada persamaan 3.1, sehingga persamaan tersebut menjadi:

0.5

1
'
3
[
'
= + c mb 3 + s
'
c ] (3.2)

Persamaan 3.1 dan 3.2 tidak memiliki nilai praktis kecuali nilai konstanta mb, s, dan
a dapat diestimasi dengan suatu cara. Hoek-Brown (1988) menyarankan bahwa
konstanta tersebut dapat diestimasi dengan menggunakan Rock Mass Rating
Bieniawski (1979) dengan mengasumsikan kondisi kering dan orientasi kekar yang
bagus. Metode ini dapat diterima pada massa batuan dengan RMR < 25, tetapi tidak
pada massa batuan yang jelek karena RMR terkecil yang dapat diasumsikan adalah
18. Untuk mengatasi keterbatasan ini, metode Geological Strength Index (GSI)
diperkenalkan. Nilai GSI berkisar antara 10 untuk massa batuan yang jelek dan 100
untuk batuan intact.

15
Hubungan antara mb/mi, s dan a dan GSI dapat dilihat pada persamaan berikut:

Untuk GSI > 25 (Massa batuan tidak terganggu)

mb GSI 100
=exp (3.3)
mi 28

GSI 100
s=exp
9 (3.4)

a=0.5 (3.5)

Untuk GSI < 25 (Massa batuan terganggu)

s=0 (3.6)

GSI
a=0.65 (3.7)
200

Klasifikasi RMR Bieniawski 1989, dapat digunakan untuk memperkirakan nilai


GSI dengan cara yang sama dengan Klasifikasi RMR Bieniawski 1976. Dalam kasus
ini, nilai air tanah = 15 dan orientasi kekar = 0. Perlu diperhatikan bahwa nilai
minimum yang bisa didapat dari klasifikasi adalah 23, yang mengakibatkan nilai
RMR Bieniawski 1989 sedikit lebih besar daripada nilai RMR Bieniawski 1976.
Untuk nilai RMR89 > 18
GSI=RMR 89' 5 (3.8)
Klasifikasi RMR Bieniawski 1989 tidak dapat digunakan untuk memperkirakan GSI
dengannilai RMR89 < 18 sehingga harus menggunakan nilai Q klasifikasi Barton,
Lein, and Lunde.

3.1.2. Estimasi Kekuatan Massa Batuan Residual

16
Untuk mendesain bukaan tanah dengan baik, diperlukan nilai kekuatan puncak
maupun residu massa batuan. Para peneliti lebih banyak terfokus untuk menentukan
kekuatan puncak massa batuan, sedangkan penelitian yang membahas cara
pengestimasian nilai residual sangat terbatas hingga saat ini.

Ruso et al. menyatakan penetapan nilai GSI residual sebesar 36% nilai GSI
peak. Selain itu, pada tahun 2000, Ribacchi menyarankan penggunaan hubungan mr =
0,65mb, sr = 0,04s, dan cr = 0.2c. berdasarkan data uji triaxial pada limestone. Wang
et al. (2012) menyatakan bahwa dengan memodelkan 35% nilai kekuatan rata-rata
intact rock untuk model ekivalen massa batuan disekitar penambangan bijih bawah
tanah, hasil pengukuran lapangan mendapatkan kecocokan dengan perhitungan
numerik

3.2. Klasifikasi Kekuatan Batuan

Klasifikasi massa batuan adalah pengelompokan massa batuan atas penilaian


yang diberikan berdasarkan berbagai informasi tentang batuan. Informasi berupa
karakteristik batuan, tegangan, kondisi hidrologi, dan komposisi batuan. Klasifikasi
massa batuan bermanfaat untuk memberikan perkiraan awal kebutuhan penyangga,
serta untuk memperkirakan kekuatan dan perubahan bentuk massa batuan.

Terdapat dua metode klasifikasi massa batuan yang paling sering digunakan,
yaitu Q-System atau Rock Tunnelling Quality Index (Barton et al., 1974) dan Rock
Mass Rating (RMR) (Bieniawski, 1989). Persamaan kedua metode klasifikasi ini
adalah, dalam pemberian nilai kuantitatif terhadap kualitas massa batuan sama-sama
memasukkan keadaan geologi, geometri, dan beberapa parameter teknik. Sementara
perbedaannya terletak pada jangkauan total nilai klasifikasi yang diberikan, dimana
Q-System memberikan rentang nilai 0,001 1000 sementara RMR memberikan
rentang nilai 0 100. Selain itu, Q memperhitungkan kuat tekan yang dialami massa
batuan untuk mengkuantifikasi pengaruh tegangan, serta Sress Reduction Factor,

17
sementara RMR mempertimbangkan faktor kuat tekan uniaksial sebagai salah satu
parameter, namun tidak memasukkan tegangan sebagai salah satu parameternya.

Masing-masing parameter pada kedua metode tersebut memiliki nilai


pembobotan yang dibuat berdasarkan pengalaman di berbagai lokasi tambang. Untuk
Q-System, bobot dari setiap parameter akan dikuantifikasi berdasarkan rumusan
tertentu, sementara pada RMR bobot dari setiap parameter nantinya akan dijumlahkan
untuk memperoleh bobot total massa batuan, dan melalui total bobot kelima
parameter RMR massa batuan nantinya akan dibagi menjadi lima kelas.

Dalam penerapan kedua metode di lapangan, massa batuan dibagi menjadi


bagian-bagian berdasarkan sturuktur geologi dan setiap bagian akan diklasifikasikan
secara terpisah. Batas antara bagian pada umumnya berupa struktur geologi mayor
atau perubahan jenis batuan (Wattimena, 2006), namun pemerian batas bagian massa
batuan dapat dibagi secara subyektif jika dinilai terdapat perubahan yang signifikan
dalam spasi atau karakteristik bidang discontinue.

3.2.1. Indeks Kualitas Massa Batuan Q-system


Q-sistem yang diusulkan oleh Barton, Lien, dan Lunde (1974), telah
dikembangkan berdasarkan evaluasi sejumlah besar kasus kestabilan bawah tanah
secara independen dan menyediakan data kuantitatif untuk memilih tindakan
perkuatan terowongan yang modern, misalnya dengan menggunakan rockbolt dan
shotcrete. Q-sistem dikembangkan secara khusus untuk terowongan dan ruang bawah
tanah.
Berikut enam parameter yang digunakan dalam klasifikasi Q-System:
1. Rock Quality Designation (RQD)
2. Jumlah famili kekar (Jn)
3. Kekasaran permukaan bidang diskontinu (Jr)
4. Tingkat alterasi bidang diskontinu (Ja)
5. Kondisi hidrologi bidang diskontinu (Jw)
6. Stress Reduction Factor (SRF)

Mengenai keenam parameter yang digunakan dalam klasifikasi geomekanika


dijelaskan sebagai berikut:

18
1. Rock Quality Designation (RQD)
Kualitas batuan berdasarkan pada nilai RQD ini telah diusulkan oleh Deere (1964)
dengan klasifikasi sebagai berikut:

Tabel 3.1 Kualitas Batuan Berdasarkan RQD (After Deere, 1964)

RQD Kualitas Batuan

< 25 % Sangat Buruk

25 50 % Buruk

50 75 % Sedang

75 90 % Baik

90 100 % Sangat Baik

Pada tahun 1976, Priest dan Hudson memberikan hubungan antara nilai RQD dengan
jarak antar bidang diskontinu yang ada di dalam massa batuan (joint spacing /Js)
dengan persamaan sebagai berikut :

RQD=100 e0,1 (0,1 +1)

(3.9)

1
Js= (3.10)

Keterangan:

Js = jarak antar diskontinu, m

= frekuensi diskontinu per meter

19
Jarak antar diskontinu merupakan parameter penting dalam menilai struktur massa
batuan. Semakin banyak kehadiran diskontinu akan berakibat mengurangi kekuatan
massa batuan.

2. Jumlah famili kekar (Jn)


Famili kekar adalah kumpulan sejumlah kekar yang memiliki jurus yang paralel
satu sama lain, hadir secara berulang, memiliki karakter spasi pengulangan yang
sama, dan umumnya merupakan pembentuk utama blok-blok pada massa batuan.
Sementara itu, kekar yang tidak terhimpun di dalam satu famili dinamakan sebagai
kekar acak.

Gambar 3.1 Pengelompokkan jumlah famili bidang diskontinu (Hutchison et al.,


1997)

3. Kekasaran permukaan bidang diskontinu (Jr)


Kondisi kekasaran permukaan sentuh bidang diskontinu akan sangat berpengaruh
kepada kestabilan massa batuan, dan dapat dikuantifikasi melalui kuat geser
bidang diskontinu. Secara kualitatif, penentuan tingkat kekasaran permukaan
bidang diskontinu dapat dilakukan dengan meraba menggunakan tangan atau
menggunakan alat yang disebut profilometer. Tingkat kekasaran struktur memiliki
skala milimeter sampai sentimeter, sementara tingkat kekasaran permukaan bidang
diskontinu memiliki skala desimeter sampai meter, lalu untuk permukaan bidang
diskontinu memiliki rentang penilaian dari rata, bergelombang, sampai terjal.

20
Gambar 3.2 Klasifikasi kekasaran permukaan (Barton dan Brandis, 1990)

4. Tingkat alterasi bidang diskontinu (Ja)


Kondisi isian akibat alterasi bidang diskontinu memiliki pengaruh yang cukup
besar pula bagi kestabilan (kuat geser) bidang diskontinu. Kompisi dan ketebalan
isian bidang diskontinu adalah dua hal yang perlu diperhatikan. Berdasarkan
ketebalan material isian, tingkat alterasi bidang diskontinu dibagi menjadi tiga
kategori, yaitu :
a. Dinding bidang diskontinu saling kontak
b. Dinding bidang diskontinu terpisah dengan jarak kurang dari 10 cm
c. Dinding bidang diskontinu terpisah dengan jarak lebih dari 10 cm
Pada setiap kategori, tingkat alterasi dievaluasi berdasarkan komposisi dari
material pengisi.

21
Gambar 3.3 Bidang diskontinu dengan dan tanpa kontak (Barton, 1987)

5. Kondisi hidrologi bidang diskontinu (Jw)


Keberadaan air pada bidang diskontinu akan menyebabkan pelapukan bahkan
pengikisan material pengisi bidang diskontinu, sehingga akan mengurangi kuat
geser. Selain itu keberadaan air juga akan mengurangi gaya normal pada
permukaan bidang diskontinu akibat adanya gaya angkat oleh air, hal ini akan
menyebabkan blok batuan yang terpisahkan oleh bidang diskontinu akan lebih
mudah bergeser maupun terlepas. Nilai Jw ditentukan berdasarkan laju tirisan air
yang terdapat pada lubang bukaan.

6. Stress Reduction Factor (SRF)


SRF menggambarkan kondisi tengangan dan kekuatan massa batuan di sekitar
lubang bukaan. Nilai SRF dapat ditentukan dari:

c
SRF=
1 , atau (3.11)


SRF= (3.12)
C

Ketrangan:

22
c = tekanan uniaksial, MPa
1 = tegangan utama maksimum saat failure, Mpa

= tegangan utama yang arahnya sejajar permukaan lubang bukaan, Mpa


Kedua parameter di atas digunakan untuk mewakili struktur menyeluruh massa
batuan, dan nisbah dari keduaparameter tersebut adalah ukuran relatif dari blok.
Sementara itu, nisbah dari parameter ketiga dan keempatan adalah nisbah antara
indikator dari kuat geser interblok antar kekar-kekar. Sementara itu, parameter
kelima adalah ukuran untuk tekanan air, dan parameter keenam yang merupakan
parameter legangan total adalah ukuran untuk:
a. Beban lepas untuk geseran dan batuan lempung
b. Tegangan batuan untuk batuan competent
c. Beban karena mengkerut dan mengembang di batuan incompetent plastis.

Nisbah dari parameter kelima dan keenam menggambarkan tegangan aktif (active
stress)

Jika data-data di atas tidak dapat dipenuhi, penentuan besarnya nilai SRF harus
diperkirakan berdasarkan pengamatan yang dilakukan di terowongan tambang
bawah tanah, maupun permukaan. Dalam membantu mengindikasikan nilai SRF,
keterangan topografi dan overburden dikombinasikan dengan kondisi geolologi
daerah sekitar.

Adapun terdapat tujuh prosedur umum dalam menerapkan metode Q-System, yaitu:
1. Memberikan penilaian numerik terhadap massa batuan dari keenam parameter
klasifikasi Q-system.

2. Menggunakan setiap nilai klasifikasi untuk menghitung nilai Q dengan


menggunakan persamaan berikut:
RQD J r J
Q= w (3.13)
Jn J a SRF

3. Menentukan tekanan penyanggaan pada atap dan dinding lubang bukaan dengan
menggunakan persamaan berikut:
a. Atap lubang bukaan (Roof)

23
Jr
Pr= 1
(20 Q ) 3
(3.14)

b. Dinding lubang bukaan (Wall)


Persamaan yang sama demgan tekanan penyanggaan atap digunakan untuk
menghitung tekanan penyanggaan dinding, dengan kondisi:

Qw =5 Q
Jika, Q > 10
Qw =2,5 Q
0,1 < Q < 10
Qw =Q
Q < 0,1

Tekanan penyanggaan pada dinding terowongan dapat dianggap nol pada


kondisi lubang bukaan berdimensi sangat kecil.
Tekanan penyanggaan juga dapat ditentukan melalui tekanan penyanga kritis

pcr
. Jika tekanan penyangga yang diberikan oleh penyangga yang

pcr
terpasang lebih kecil dari , maka lubang bukaan akan runtuh.
pcr
Besarnya ditentukan menggunakan persamaan berikut:

2 po cm
pcr = (3.15)
1+ k

Keterangan:
po
= tekanan in situ massa batuan
cm = kuat tekan uniaksial massa batuan (Mpa)

1+sin
k =
1 sin

4. Menghitung bukaan maksimum sebagai fungsi Q, dimana lubang bukaan masih


mantap tanpa adanya penyanggaan. Digunakan persamaan berikut:
0,66
Bukaan = 2Q , atau (3.16)

24
0,4
Bukaan = 2 ESR Q (3.17)

ESR (Excavation Support Ratio) adalah konstanta yang berkaitan dengan


peruntukan dari lubang bukaan dan faktor keamanan yang dikehendaki untuk
kemantapan, dimana akan mempengaruhi sistem penyanggaan yang akan
dipasang.

5. Menentukan panjang baut batuan dengan menggunakan persamaan berikut:

B
2+0,15
Atap, L= ESR (3.18)

H
2+0,15
Dinding, L= ESR

Keterangan:

B = Lebar lubang bukaan

H = Tinggi lubang bukaan

6. Menentukan Dimensi Ekivalen (Equivalent Dimension) dengan persamaan


berikut:

' '
Jarak rentang dukung lebar atau tinggi S pa n ( m )
De = (3.19)
Excavation Support Ratio(ESR )

Dimensi Ekivalen merupakan fungsi dari ukuran dan kegunaan lubang bukaan,
didapat dengan membagi rentang dukung (span), diameter atau tinggi dinding
lubang bukaan dengan harga ESR.

25
7. Menentukan kebutuhan penyangga dengan menghubungkan nilai Q dengan nilai

De
Dimensi Ekivalen pada Kurva hubungan antara dengan Q.

Gambar 3.4 Kurva hubungan antara


De dengan Q (Grimstad & Barton,

1993)

3.2.2. Rock Mass Rating


Bieniawski ( 1976 ) dalam Manik ( 2007 ) mempublikasikan suatu metode
klasifikasi massa batuan yang dikenal dengan Geomechanics Classification atau Rock
Mass Wasting ( RMR ). Metode rating digunakan pada klasifikasi ini. Besaran rating
tersebut didasarkan pada pengalaman Bieniawski dalam mengerjakan proyek
proyek terowongan dangkal. Metode ini telah dikenal luas dan banyak diaplikasikan

26
pada keadaan dan lokasi yang berbeda beda seperti tambang pada batuan kuat,
terowongan, tambang batubara, kestabilan lereng, dan kestabilan pondasi. Klasifikasi
ini juga sudah dimodifikasi beberapa kali sesuai dengan adanya data baru agar dapat
digunakan untuk berbagai kepentingan dan sesuai dengan standar internasional.
Sistem klasifikasi massa batuan Rock Mass Rating ( RMR ) menggunakan
enam parameter berikut ini dimana rating setiap parameter dijumlahkan untuk
memperoleh nilai total dari RMR :
1. Kuat tekan batuan utuh ( Strength of intact rock material )
2. Rock Quality Design ( RQD )
3. Jarak antar diskontinuitas ( Spacing of discontinuities )
4. Kondisi diskontinuitas ( Conditon of discontinuities )
5. Kondisi air tanah ( groundwater condition )
6. Orientasi diskontinuitas ( Orientation of discontinuities )
RM Rdasar =1+2+3+ 4+5 (3.20)

RM Rterkoreksi =1+ 2+ 3+4 +5+6 (3.21)

3.3. Analisis Perilaku Terowongan


Sebuah terowongan berbentuk lingkaran dengan radius r0 dikenai tegangan
hidrostatis p0 dan internal support pressure pi seragam diilustrasikan pada Gambar
3.6. Karakterisitik massa batuan asli diberikan oleh nilai Modulus Young E dan
nisbah Poisson v. Kriteria runtuhan material asli ditentukan oleh persamaan 3.2. Saat
mengalami failure, massa batuan di sekitar terowongan menjadi bersifat plastik dan
kekuatannya menurun menjadi

1
2 2
1 '= 3 ' +( mb 2 c 3 + s2 )
c (3.22)

27
Gambar 3.5 Tipe runtuhan yang terjadi pada massa batuan yang berbeda dalam
kondisi tegangan in situ yang rendah dan yang tinggi

Zona plastik diperkirakan terbentuk mencapai radius rp. Besar rp dipengaruhi oleh
nilai tegangan in situ po, tegangan penyangga pi, dan karakteristik elastik dan plastik

28
dari material. Dengan mengetahui = 1 dan r = 3, maka pada zona plastik
persamaan 3.22 menjadi

1
' ' 2 2
= + ( m b 2 c ' r +s 2
r c ) (3.23)

Pada kasus cylindrical symmetry, persamaan diferensial untuk kesetimbangan adalah

r ( r )
= =0 (3.24)
r r

Untuk mengetahui nilai tegangan rp dan radius rp zona plastik, kriteria runtuh massa
batuan asli harus terpenuhi pada batas dalam zone elastik, yaitu pada r = re = rp
dimana perbedaan nilai tegangan utama adalah

'e '=2( p0 ) (3.25)

Dengan mensubtitusi e = 1 dan re = 3 pada persamaan 3.2, maka persamaan 3.2


akan menjadi

0.5
' '
= c mb
e
c[
'
+s
] (3.26)

Persamaan 3.25 dan 3.26 akan menghasilkan

'=p 0M c (3.27)

Dimana

0.5

[( ) ]
2
1 mb p mb
M= +mb 0 +s (3.28)
2 4 c 8

29
Pengintegralan persamaan 3.24 dan pemberian nilai tegangan penyangga pada
dinding terowongan r = pi akan menghasilkan nilai tegangan radial pada batas zona
plastik sebesar

2 1


m
4
r
= r c ln e
'
r0 ( ( )) ( ) + ln
re
r0
2 2
( mr c p i+ s r c ) + pi (3.29)

Nilai re pada persamaan 3.27 dan 3.29 menghasilkan persamaan untuk menentukan
radius plastik zone

r =r e
( N
2
( m p +s 2) 2
mr c r c i r c ) (3.30)
e i

dimana

1
2
N= [ m p + s 2mr 2c M ] 2
mr c r c 0 r c (3.31)

Dari persamaan 3.27, zona plastik hanya akan terbentuk jika nilai kritis picr

pi < p icr= p0 M c (3.32)

Gambar 3.6 Terowongan berbentuk lingkaran dan tegangan-tegangan yang


bekerja padanya

30
Untuk mengetahui cara kerja tegangan penyangga, Gambar 3.7 menunjukkan reaksi
massa batuan di sekitar kemajuan sebuah terowongan. Diasumsikan tidak ada
rockbolt, schotcrete lining, atau steel set terpasang dan penyanggaan hanya diberikan
oleh batuan di muka terowongan. Dengan mempertimbangkan reaksi titik pengukuran
yang terpasang dengan baik di massa batuan di depan muka terowongan, pergerakan
massa batuan terhitung mulai dari jarak sekitar setengah kali diameter terowongan
dari di depan muka terowongan. Pergerakan meningkat secara bertahap dan, saat
muka terowongan tepat berada di titik pengamatan, pergerakan radial bernilai sekitar
sepertiga kali nilai maksimalnya. Pergerakan mencapai nilai maksimal ketika muka
terowongan maju hingga di jarak sekitar satu setengah kali diameter terowongan dan
penyanggan yang diberikan muka terowongan sudah tidak efektif lagi. Saat massa
batuan cukup kuat untuk menahan agar tidak failure, seperti saat cm > 2p0 untuk pi =
0, pergerakan bersifat elastis dan mengikuti garis putus-putus pada gambar 3.7 ketika
failure terjadi, pergerakan bersifat plastis dan mengikuti kurva tegas pada gambar 3.8.

Terjadinya failure bersifat plastis pada massa batuan di sekitar terowongan tidak
berarti massa batuan runtuh. Material yang failure masih memiliki sedikit kekuatan
dan failure hanya didindikasikan oleh beberapa rekahan baru dan sedikit ravelling
dan spalling karena ketebalan zona plastis relatif kecil dibandingkan dengan jari-jari
terowongan. Sebaliknya, saat zona plastis yang besar terbentuk dan sat terjadinya
pergerakan dinding terowongan yang besar ke arah dalam terowongan, lemahnya
massa batuan yang failure mengawali terjadinya spalling dan ravelling yang besar
hingga pada akhirnya meruntuhkan terowongan yang tidak disangga.

31
Gambar 3.7 Pola pergerakan radial pada terowongan yang tidak disangga

Gambar 3.8 Hubungan antara tegangan penyangga dan pergerakan radial batas
terowongan

Fungsi utama penyangga adalah untuk mengontrol inward displacement dinding


terowongan untuk mencegah pelemahan massa batuan yang menyebabkan runthnya

32
terowongan. Pemasangan rockbolt, shotcrete lining, atau steel set tidak dapat
mencegah massa batuan di sekitar terowongan untuk failure dikarenakan oleh
overstessing yang signifikan, tapi penyangga-penyangga jenis tersebut memainkan
peran penting mengontrol pergerakan terowongan.

3.4. Kestabilan Stope dengan Metode Grafik Stabilitas


Penetuan kestabilan lubang bukaan stope dengan metode grafik stabilitas
(Mathew,1981, Potvin,1988, Potvin dan Milne,1992, Nickson,1992). Menemukan
suatu metode untuk mengestimasi kestabilan lubang bukaan (open stope) dengan
perhitungan dari dua faktor N dan S yaitu : N, angka stabilitas termodifikasi yang
menggambarkan kemampuan massa batuan untuk berdiri sendiri dibawah kondisi
tegangan yang diberikan, dan S, merupakan faktor bentuk (jari-jari hidrolik) yang
dihitung untuk menentukan ukuran bentuk dari stope. Angka stabilitas, N
didefenisikan :
'
N =Q ' xAxBxC (III.33)

Dengan :

Q adalah Indeks kualitas terowongan termodifikasi

A adalah faktor tegangan batuan

B adalah faktor orientasi kekar

C adalah faktor pengaturan gravitasi

Indeks kualitas terowongan termodifikasi, Q, dihitung dari hasil pemetaan


struktur massa batuan dimana caranya tepat sama dengan klasifikasi Q-system,
kecuali bahwa faktor reduksi tegangan SRF dirubah menjadi 1.0, dan kondisi dengan
pengaruh air tanah atau faktor reduksi air rekahan J w adalah 1.0. data yang
dikumpulkan dari pemetaan geologi digunakan pula untuk menghitung indeks
kualitas terowongan termodifikasi, Q, yaitu Q = RQD/Jn x Jr/Ja , dimana Jw dan SRF
diasumsikan bernilai 1 karena kondisi massa batuan yang kering dan mengalami
tekanan yang sedang (medium stress). Dalam penelitian ini Q-system didapat dari

33
konversi nilai RMR sesuai dengan persamaan pada grafik hubungan RMR dengan Q-
system yaitu, RMR = 9 ln Q + 44 (Bieniawsky, 1976), atau diusulkan oleh Hoek &
Brown yang diperkirakan dari nilai GSI yaitu GSI = 9 ln Q + 44. Jadi :

exp (GSI 44 ) exp ( RM R7644 )


Q' = atauQ' = (III.34)
9 9

c / 1
Faktor tegangan batuan A, ditentukan dari , rasio dari kekuatan batuan

utuh terhadap tegangan tekanan terinduksi pada batas lubang dapat dilihat dan diplot
pada gambar 1 kurva faktor tegangan batuan dari hasil perhitungan dengan rumus :

c c c c
Untuk 1
<2 ; A=0.1,2< <10 ; A=0.1125
1 1 ( )
0.125, > 10; A=1.0
1

c
Gambar 3.3 Grafik faktor tegangan batuan A untuk nilai yang berbeda 1

34
Faktor B, yang bergantung kepada perbedaan antara orientasi kekar kritis
terhadap setiap permukaan dari setiap lubang stope, dapat dilihat dan diplot pada
kurva faktor penyesuaian orientasi kekar pada gambar 2 berikut.

Gambar 3.9 Kurva faktor pengaturan B, dihitung untuk orientasi kekar yang terkait
dengan permukaan lubang stope

Faktor C untuk kasus ini dapat dihitung dari hubungan, C = 8-6cos, atau
ditentukan dari grafik. Faktor ini memiliki nilai maksimum sebesar 8 untuk dinding
vertikal dan nilai minimum sebesar 2 untuk lubang stope yang horizontal. Dari nilai
yang diperoleh, kemudian diplot kedalam grafik penyesuaian faktor gravitasi, baik
fall dan slabbing maupun sliding pada gambar 3.10.

35
Gambar 3.10 Kurva faktor C untuk bentuk runtuhan falls, slabbing and sliding
(Diederichs & Kaiser 1999)

3.1.1. Faktor bentuk atau Jari-jari Hidrolik (S)


Jari-jari hidrolik atau faktor bentuk untuk permukaan lubang stope yang
dipertimbangkan, dihitung sebagai berikut :

Area wxh
S= =
Perimeter 2( w+h) (III.35)

Dengan :

w adalah lebar (m)


h adalah tinggi (m)

3.1.2. Grafik Stabilitas

36
Dengan angka stabilitas ( N ) dan jari-jari hidrolik (S) diperoleh, maka
stabilitas stope dapat diestimasi atau diplot pada grafik stability number dengan
hidrolik radius untuk menentukan zona kestabilannya, dimana grafik ini dihasilkan
dari pengamatan lubang stope pada beberapa tambang di negara kanada, seperti yang
ditabulasikan dan dianalisis oleh Potvin (1988) dan di update oleh Nickson (1992),
lihat gambar 3.11 berikut.

Gambar 3.11 Grafik stabilitas Mathews (after Potvin et al., 1989)

3.5. Defenisi Keruntuhan Pilar

Dalam perancangan terowongan, misalnya pada rancangan pilar, salah satu


tahapannya adalah penentuan ukuran pilar yang tepat pada suatu lokasi dengan beban
yang diharapkan. Pada rancangan pilar terdapat dua teori yaitu ultimate strength dan
progressive failure. Ultimate strength theory mengatakan bahwa pilar akan segera
runtuh setelah beban yang diaplikasikan mencapai kekuatan akhir pilaar, dengan

37
anggapan bahwa kapasitas daya dukung pilar berkurang hingga nol pada saat
kekuatannya terlewati. Sedangkan progressive failure theory menekankan adanya
kerusakan atau distribusi tegangan tidak seragam pada pilar dan failure diawali dari
titik paling kritis merambat secara bertahap hingga mencapai ultimate failure,
(Peng,1986). Dengan kata lain kekuatan akhir dicapai tidak sekaligus melainkan
bertahap secara gradual.

Pada ultimate strength theory, faktor keamanan keseluruhan atau rata-rata


didasarkan pada kekuatan dan beban pilar rata-rata, dengan konsekuensi berlaku
untuk seluruh pilar. Sebaliknya pada perhitungan dengan progressive failure theory,
faktor keamanan lokal merupakan tujuan utama dengan mempercayakan pada
kekuatan dan beban pilar yang diberikan oleh suatu titik sehingga kestabilan
menyeluruh masih dapat dipertahankan walaupun secara lokal sudah mengalami
failure. Untuk itu faktor keamanan lokal akan lebih baik dan menggambarkan
kenyataan sebenarnya karena kekuatan dan beban pilar sesungguhnya di lapangan
sangat bervariasi (Bieniawsky,1984).

3.5.1. Tegangan Rata-rata Pilar

Konsep pembebanan pada pilar menggunakan teori Tributary Area. Dalam


konsep ini daerah yang didukung oleh pilar meliputi daerah diatasnya dan daerah
tributary area itu (Obert and Duvall, 1967). Dengan kata lain, pilar menyangga
dengan seragam beban dari perlapisan batuan pilar. Gambar 3.1 mengilustrasikan
tegangan yang bekerja pada pilar.

38
Gambar 3.12 Penentuan beban pilar pada pilar bentuk memanjang (Underground
Excavation in Rock, Hoek & Brown)

Bentuk pilar diantara dua penggalian berdekatan tergantung pada bentuk


penggalian dan jaraknya. Bentuk pilar memiliki pengaruh utama pada distribusi
tegangan dalam pilar. Gambar 3.13 menunjukan tegangan vertikal rata-rata pada
terowongan melingkar seperti ditunjukan pada persamaan 3.36 berikut.

w0
(
p = 1+ )P
wp z (3.36)

39
Gambar 3.13 Tegangan prinsipal maksimum yang ditentukan oleh konsentrasi
tegangan rata-rata pilar dan konsentrasi tegangan terowongan (Underground
Excavation in Rock, Hoek & Brown)

Dari persamaan diatas dapat diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi


pembebanan pilar adalah :
a. Kedalaman. Makin dalam lokasi penggalian, beban semakin besar.
b. Lebar pilar. Makin kecil pilar, beban makin besar.
c. Lebar lubang bukaan. Makin besar lubang bukaan, beban makin besar.

3.6. Bearing
Capacity Lantai dan Atap Batuan
Pembahasan desain pilar menggunakan metode tributary area diasumsikan
secara implisit bahwa kapasitas support pilar untuk Country rock dibatasi oleh
kekuatan orebody. Dimana batuan hangingwall dan footwall relatif lemah terhadap
orebody, sistem support pilar mungkin runtuh dengan menghantam pilar pada
sekeliling batuan orebody.

Skema dan representasi konseptual masalah ini diberikan pada gambar 3.14.
Metode yang berguna untuk menghitung daya dukung, qb, dari kohesif, bahan
gesekan seperti batuan lunak diberikan oleh Brinch Hansen (1970). Kapasitas
dukungan dinyatakan dalam tekanan atau tegangan. Untuk beban strip seragam pada
half-space, kapasitas dukungan diberikan oleh analisis plastik klasis sebagai :

1
q b= w p N + c N c (3.37)
2

Dimana adalah satuan berat dari beban media, c adalah kohesi dan Nc dan
N
adalah faktor kapasitas dukungan.

Faktor kapasitas dukungan didefenisikan sebagai :

N c =( N q 1 ) cot (3.38a)

40
N =1.5 ( N q 1 ) tan (3.38b)

Nq
Dimana adalah sudut gesek dalam dari beban media, dan diberikan oleh :

N q=e tan tan 2 ([ 4 )+( 2 )] (3.38c)

Figure 3.14 Model of yield of country rock under pillar load, and
load geometry for estimation of bearing capacity.

Persamaan (3.37) menggambarkan daya dukung yang dikembangkan berdasarkan rib


pillar panjang. Untuk pilar dengan panjang lp, pernyataan untuk daya dukung
dimodifikasi untuk mencerminkan perubahan bentuk rencana pilar; yaitu :

1
q b= w p N S +c cotN q S qc cot (3.39)
2

41
S Sq
Dimana dan adalah faktor bentuk didefenisikan sebagai :

wp
S =1.00.4 ( ) lp (3.40a)

wp
S q=1.0+ sin ( )
lp (3.40b)

Faktor keamanan diberikan sebagai :

qb
FOS= (3.41)
p

yaitu diasumsikan bahwa tegangan aksial pilar rata-rata ekuivalen digunakan sebagai
beban normal terdistribusi secara merata ke country rock yang berdekatan.

3.7. Persamaa
n Kekuatan Pilar

Bebarapa persamaan empirik kekuatan pilar yang telah diusulkan antara lain :

3.7.1. Salamon dan Munro

Salamon dan Munro mempelajari 125 pilar tambang batubara Coalbrook


North Colliery di Afrika Selatan (Salamon, 1967). Untuk mengetahui kekuatan pilar
batubara, digunakan persamaan berikut :

ps =K h a W bp (3.42)

Dimana :

K = satuan kekuatan batubara

h = tinggi pilar

42
Wp = lebar pilar

A,b = konstanta empiris

Salamon dan Munro meenentukan besar konstanta untuk a dan b berturut-


turut dengan nilai -0,66 dan 0,46. Sedangkan peneliti-peeneliti lainnya memberikan
harga konstanta a dan b yang berbeda seperti yang terlihat pada tabel 3.2.

Tabel 3.2 Konstanta a dan b oleh beberapa peneliti raancangan pilar


secara empiris (Hoek & Brown, 1980)

Author a b
Salamon and Munro (1967)- analysis of collapsed -0,66 0,46
pillar areas in South Africa
Greenwald, Howard, and Hartman (1939)- in situ test -0,85 0,5
on small pillar in USA
Holland and Gaddy (1957)- extrapolation of small -1,00 0,5
scale laboratory test
Bieniawsky (1968)- interpretation of test on in situ -0,55 0,16
coal specimens in South Africa

3.7.2. Hedley dan Grant

Hedley dan Grant (1972), meneliti kemantapan pilar batuan keras pada
tambang Uranium Elliot Lake. Uranium ditemukan pada bagian batuan konglomerat
di lapisan kuarsit massive. Hedley dan Grant meneliti 25 pilar yang berasal dari
kedalaman 150 meter hingga 1040 meter. Tiga pilar dijelaskan hancur atau runtuh

43
total, dua pilar runtuh sebagian dan sementara yang 23 lagi tetap stabil. Untuk
kekuatan batuan dinyatakan dengan persamaan sbagai berikut :

a
Wp
ps =133 b (3.43)
h

Dengan nilai a dan b berturut-turut adalah 0,5 dan 0,75, sedangkan untuk
satuan kekuatan batuan digunakan 133 MPa.

Persamaan ini sama bentuknya dengan persamaan yang dibuat Salamon dan
Munro. Uji laboratorium kuat tekan uniaksial untuk pilar batuan utuh didapat 230
MPa dengan alas berbentuk bujur sangkar. Menurut Hedley dan Grant persamaan
diatas juga bias digunakan untuk pilaar yang alas persegi panjang dengan syarat
panjang tidak melebihi 10 kali lebarnya, dan bias dianggap sebagai rib pillar.

3.7.3. Potvin, Hudyma dan Miller

Potvin (1989) mempublikasikan sebuah makalah yang memperkenalkan kurva


empiris untuk rib pillar dari tambang open-stope di Kanada. Dengan melakukan
plotting pada grafik kemantapan pilar (gambar 3.15),maka garisnya akan mengikuti
persamaan berikut :

ps W
=0,4162 p (3.44)
UCS h

3.7.4. Vonn Kimmelmann, Hyde dan Madgwick

Vonn Kimmelmann (1984) melakukan studi kasus di Botswana pada tambang


Selebi dan Phikwe dan membuat grafik kemantapan pilar secara empiris. Pada
tambang ini di dapat data sebanyak 57 pilar sulfide dimana 47 pilar berbentuk bujur
sangkar dan 10 pilar persegi panjang atau rib pillar. Kuat tekan uniaksial sulfide
adalah 94,1 MPa. Vonn Kimmelmann menggunakan persamaan yang dibuat oleh

44
Salmon dan Munro (1967) tetapi mereka memakai 65 MPa untuk nilai K (kuat unit
batuan). Persamaan yang mereka gunakan menjadi sebagai berikut :

0,64
Wp
ps 65 0,66 (3.45)
h

3.7.5. Sjorberg, Krauland dan Soder

Sjorberg (1992) melakukan studi terhadap pilar pada tambang Zinkgruvan di


Swedia, sementara Krauland dan Soder melakukan studi pada tambang Black Angel
di Greenland. Mereka menggunakan persamaan kekuatan pilar sebagai berikut :

Wp
(
ps = pl 0,788+0,222
h ) (3.46)

pl
Dimana, menunjukan kekuatan pilar dengan rasio lebar terhadap tinggi

c
pilar besarnya 1. Sjoberg kuat tekan sill pilar sebesar 240 MPa ( dan 74 MPa

pl
untuk sedangkan Krauland dan Soder mendapatkan nilai 35,4 MPa untuk

pl c
dan kuat tekan sebesar 100 MPa.

3.7.6. Launder dan Pakalnis

Launder dan pakalnis (1997) menggabungkan data dari sejumlah tambang,


dengan memasukan data-data dari Launder (1994), Hudyma (1988), Hedley dan
Grant (1972), Vonn Kimmelmann (1984), Krauland dan Soder (1987), Sjoberg
(1992), dan Brady (1977). Dengan mengkombinasikan data-data tersebut didapat
persamaan sebagai berikut :

pl = ( K UCS ) ( C1 +C 2 kappa )
(3.47)

45
Dimana :

K = faktor kuat massa batuan oleh Launder dan Pakalnis dirata-ratakan 44%

UCS = kuat tekan uniaksial material pilar utuh (MPa)

C1 dan C2 = konstanta empiris yang besarnya 0,68 dan 0,52

kappa = friksi pilar tambang

friksi pilar tambang ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :

[ (
kappa=tan cos1
1C pav
1+C pav )] (3.48)

Cpav adalah rata-rata tekanan pilar, yang ditentukan dari rasio tegangan rata-rata
minor terhadap tegangan rata-rata mayor di titik tengah pilar.

Tegangan rata-rata pilar dapat dinyatakan dengan persamaan :

W
1,4
( p /h)
(3.49)
[ (
C pav =0,46 log
Wp
h
+0,75 )]

46
Gambar 3.15 Perbandingan kekuatan pilar empiris menggunakan persamaan
dalam tabel 3.3

47
Table 3.3 Persamaan-persamaan kekuatan pilar empiris oleh beberapa peneliti.

Author (s) Pillar Sterngth Equation UCS Numbers of


(MPa) Pillar in
Database
0,5
Hedley and W p
230 28
ps 133 0,75
Grant, 1972, h
Pritchard and
Hedley, 1993
Povin et al, ps W - 47
=0,4162 p
1993 UCS h
0,46
Von Wp 94,1 57
ps =65 0,66
Kimmelmann h
et al, 1984
Krauld and Wp 100 287
0,778+0,222
Soder, 1987 h
ps =35,4

Sjoberg, 1992 Wp 240 9


0,778+0,222
h
ps=74

Lunder and ps =(0,44 UCS)(0,68+0,52 kappa) - 178


Palkanis, 1997

3.8. Analisis Biasa (Ordinary Analysis) dan Analisis Balik (Back Analysis)
Secara garis besar, tujuan utama pada analisis balik adalah memodifikasi pada
parameter-parameter yang digunakan pada desain sistem penyanggaan. Analisis balik
secara model numerik merupakan metode yang berguna, dimana dapat digunakan
sebagai teknik pelengkap pada uji insitu maupun uji laboratorium untuk menentukan
parameter-parameter geoteknik. Secara keseluruhan, analisis balik dapat digunakan
sebagai metode yang reliable pada analisis stabilitas dan struktur penyanggaan
(Dehghan. A. N., dkk, 2012)

48
Bertentangan dengan analisis biasa, yang memiliki solusi yang unik dan
menghasilkan output seperti berupa perpindahan (displacement) dan tegangan dari
input seperti struktur geologi, parameter mekanik dan insitu stress, analisis balik tidak
bias menjamin keunikan solusi (Sakurai, 1993 dalam Dehghan, 2012). Analisis biasa
dan analisis balik ditunjukan pada gambar 1.

a. Ordinary Analysis

b. Back Analysis

Gambar 1 Ordinary analysis vs Back analysis

3.9. Observasi Perpindahan


Tujuan pemantauan adalah terutama mengontrol kemantapan lubang bukaan
bawah tanah dan memberikan umpan balik untuk rancangan sistem penguatan batuan.
Oleh karena itu pemantauan sangat penting ditinjau dari segi keselamatan kerja dan
segi ekonomi. (Arif. I., dkk, 1992).

49
Menurut Hoek & Brown (1980), pemantauan yang dapat dilakukan untuk tahap
selama penggalian sebagai konfirmasi validasi dari rancangan untuk memberikan
dasar penggantian rancangan. (Arif. I., dkk, 1992).

Salah satu metode observasi perpindahan batuan dalam rancangan lubang


bukaan bawah tanah yaitu pengukuran konvergen meter. (Panduan Praktikum
Pengukuran Konvergen meter. Laboratorium ITB, 2015).

Metode pengukuran konvergen meter :

- Tujuan : Sebagai pemantau pergerakan (deformasi) pada dinding dana tap lubang
bukaan apakah mengalami pelebaran (tanda negatif) atau penyempitan (tanda
positif).
- Prinsip : Melakukan pengukuran perpindahan relatif dari dua titik pantau yang
dipasang di dinding lubang bukaan yang saling berhadapan.
- Besar perpindahan dan laju perpindahan (Cording, 1974)

Batuan dikatakan stabil bila perpindahan yang diamati lebih kecil dibandingkan
dengan perpindahan yang didapatkan dari hasil permodelan. Perpindahan dengan
nilai antara 2-8 mm termasuk perpindahan normal (Cording, 1974). Perpidahan antara
12-75 mm termasuk perpindahan besar kategori bahaya sehingga diperlukan
modifikasi prosedur penggalian dan sistem penyanggaan menurut Cording, 1974
(Bieniawsky,1989). Kapasitas penyanggaan : perpindahan yang diukur tidak boleh
melebihi perpindahan yang menyebabkan sistem penyangga failure. Dari beberapa
penelitian (Pels, 1974) bahwa fully bonded rockbolt" dapat mempertahankan beban
besar dengan kekar terbuka sampai 150 mm. di metro Washington (Cording, 1974),
kisaran perpindahan yang menyebabkan failure diperkirakan antara 20 sampai 50
mm. (Bieniawsy, 1989).

Tabel 3.4 Kondisi laju perpindahan (Bieniawsky, 1989)

50
Laju Perpindahan Kondisi
0.001 mm/hari Stabil
0.05 mm/hari Relatif stabil untuk lubang kecil
> 1 mm/hari Bahaya

51
Daftar Pustaka

1. Bieniawski, Z.T., Engineering Rock Mass Classification (1989) : John


Wiley & Sons. Inc. New York

2. Brady, B.H.G dan Brown, E.T., Rock Mechanics for Underground Minings.
George Allen & Unwin, London.

3. G.S. Esterhuizen (1997) : Investigations into the effect of discontinuities on the


strength of coal pillars, Department of Mining Engineering, University of
Pretoria.
4. Hoek, E., Kaiser, P.K., Bawden, W.F (1993) : Support of Underground
Excavation in hard Rock.

5. Per John Lunder (1994) : Hard Rock Pillar Strength Estimation an Applied
Emperical Approach, the Faculty of Graduate Studies Department of Mining and
Mineral Process Engineering, the University of British Colombia.
6. Rai, Made Astawa, Suseno Kramadibrata, Ridho Kresna Wattimena 2014 :
Mekanika Batuan, Laboratorium Geomekanika Dan Peralatan Tambang, Penerbit
ITB Bandung.
7. William Gregory Maybee (2000) : Pillar Design in Hard Brittle Rocks, School of
Graduate Studies Laurentian University Sudbury, Ontario, Canada.

52

Anda mungkin juga menyukai