Anda di halaman 1dari 7

BERCAK MERAH PADA KULIT

Kelompok 8

BLOK IMUNOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2012
SKENARIO
Seorang ibu rumah tangga berumur 20 tahun datang ke Dokter Praktek Swasta dengan
keluhan bercak kemerahan berbatas tegas di pergelangan tangan, muncul 4 hari yang
lalu. Bercak tersebut agak hangat pada perabaan, terasa gatal dan tidak ada nyeri pada
penekanan. Kelainan ini sifatnya kambuhan terutama setelah mencuci. Lokasi
kelainannya bisa disela-sela jari tangan atau disela jari kaki.

KEYWORD
Ibu rumah tangga 20 tahun
Bercak kemerahan berbatas tegas di pergelangan tangan
4 hari yang lalu
Agak hangat pada saat perabaan
Terasa gatal
Tidak ada nyeri
Kambuhan terutama setelah mencuci
Kelainan di sela-sela jari jari tangan atau di sela jari kaki

QUESTION
1. Apa definisi bercak merah pada kulit?
2. Bagaimana anatomi, histologi, dan fisiologi kulit?
3. Penyebab timbulnya bercak merah?
4. Reaksi hipersensitifitas apa yang terjadi pada skenario tersebut yang
menyebabkan bercak merah pada kulit?
5. Patomekanisme bercak merah pada kulit?
6. Apa-apa gejala yang ditimbulkan?
7. Kenapa terasa gatal?
8. Apa penyebab munculnya rasa hangat pada saat perabaan?
9. Mengapa pada saat setelah mencuci timbul kambuhan?
10. Penyakit apa saja yang bisa terjadi selain bercak merah pada kulit (Diagnosa
banding)?

JAWABAN
1. Makula eritema adalah kelainan kulit berbatas tegas berupa perubahan warna
kemerahan pada kulit disebabkan pelebaran pembuluh darah kapiler yang
reversibel.

2. * Anatomi kulit:
Kulit terbagi menjadi 2 lapisan, yaitu:
a. Epidermis, merupakan lapisan teratas pada kulit manusia dan
memiliki tebal yang berbeda-beda. Selain sel-sel epitel, epidermis
juga tersusun atas lapisan: melanosit, sel Langerhans, sel Merkel,
dan keratinosit.
b. Dermis, merupakan lapisan kulit di bawah epidermis.
* Histologi kulit:

a. Epidermis
1. Stratum Korneum, terdiri atas 15-20 lapis sel gepeng, tanpa inti
dengan sitoplasma yang dipenuhi keratin.
2. Stratum Lucidum, terdiri atas lapisan tipis sel epidermis eosinofilik
yang sangat gepeng, dan sitoplasma terdri atas keratin padat. Antar sel
terdapat desmosom.
3. Stratum Granulosum, terdiri atas 3-5 lapis sel poligonal gepeng yang
sitoplasmanya berisikan granul keratohialin. Pada membran sel
terdapat granula lamela yang mengeluarkan materi perekat antar sel,
yang bekerja sebagai penyaring selektif terhadap masuknya materi
asing, serta menyediakan efek pelindung pada kulit.
4. Stratum Spinosum, terdiri atas sel-sel kuboid. Sel-sel spinosum
saling terikat dengan filamen; filamen ini memiliki fungsi untuk
mempertahankan kohesivitas (kerekatan) antar sel dan melawan efek
abrasi. Dengan demikian, sel-sel spinosum ini banyak terdapat di
daerah yang berpotensi mengalami gesekan seperti telapak kaki.
5. Stratum Basal/Germinativum, merupakan lapisan paling bawah pada
epidermis, terdiri atas selapis sel kuboid. Pada stratum basal terjadi
aktivitas mitosis, sehingga stratum ini bertanggung jawab dalam
proses pembaharuan sel-sel epidermis secara berkesinambungan.

b. Dermis terdiri dari 2 lapisan dengan batas yang tidak nyata, yaitu Stratum
papilare dan Stratum reticular.
1. Stratum papilare, yang merupakan bagian utama dari papila dermis,
terdiri atas jaringan ikat longgar. Pada stratum ini didapati fibroblast,
sel mast, makrofag, dan leukosit yang keluar dari pembuluh
(ekstravasasi).
2. Stratum retikulare, yang lebih tebal dari stratum papilare dan tersusun
atas jaringan ikat padat tak teratur (terutama kolagen tipe I)
* Fisiologi kulit:
Fungsi proteksi
Fungsi absorspsi
Fungsi ekskresi
Fungsi persepsi
Fungsi pengaturan suhu tubuh
Fungsi pembentuka pigmen
Fungsi keratinasi
Fungsi pembentukan vitamin D

3. Penyebab timbulnya bercak merah:


Deterjen Permukaan kulit Lapisan minyak hilang Kelembaban
menurun Deterjen masuk ke lapisan kulit dalam Terjadi reaksi
peradangan.

4. Reaksi hipersensitivitas yang terjadi sehingga menyebabkan bercak merah pada


kulit berdasarkan kasus di atas:
Reaksi Hipersensitivitas tipe IV
Disebut juga reaksi lambat
Reaksi ini berlangsung sekitar 24 jam setelah terpapar dengan antigen
Hipersensitivitas tipe IV dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori :
a. tuberkulin
b. dermatitis kontak
c. granuloma

5. Patomekanisme bercak merah pada kulit


a. Fase Sensitisasi Fase Elisitasi

Sebelum seseorang pertama kali menderita dermatitis kontak alergi, terlebih


dahulu mendapatkan perubahan spesifik reaktivitas pada kulitnya.
Perubahan ini terjadi karena adanya kontak dengan bahan kimia sederhana
yang disebut hapten yang akan terikat dengan protein, membentuk antigen
lengkap. Antigen ini ditangkap dan diproses oleh makrofag dan sel
Langerhans, selanjutnya dipresentasikan ke sel T. Setelah kontak dengan
antigen yang telahdiproses ini, sel T menuju ke kelenjar getah bening
regional untuk berdiferensiasi dan berproliferasi membentuk sel T efektor
yang tersensitisasi secara spesifik dan sel memori. Sel-sel ini kemudia
tersebar melalui sirkulasi ke seluruh tubuh, juga system limfoid, sehingga
menyebabkan keadaan sensitivitas yang sama di seluruh kulit tubuh.
b. Fase Elisitasi
Sel S
Kera
Lang IL - e
IL tino
erha l
ns 1 T IFN
- sit
ga
2
mm
a
Sekr
esi
Eiko Produ
Aktifka sano ksi
n sel id ICAM
Prod Mast Vaso -1
uksi dan dilata
Permeabil Erit
Hista Makrofa si
itas p. drh em
min g meningka a
t
Merupakan periode saat terjadinya pajanan ulang dengan allergen yang
sama atau serupa sampai timbul gejala klinis. Setelah pemajanan allergen
pada kulit, antigen tersebut secara imunologik ditangkap oleh sel
Langerhans, kemudian diproses dan disajikan kepada limfosit T dengan
bantuan MHC II. Sel Langerhans dan sel keratosit akan menghasilkan IL-1
dan sel Langerhans akan mengalami perubahan morfologis menjadi sel
Langerhans yang aktif sebagai penyaji sel (APC). Sel ini akan bergerak ke
kulit, parakortikal, kelenjar limfe. Sel Langerhans menyajikan antigen
dalam bentuk yang sesuai dengan HLA DR dengan reseptor HLA DR yang
dimiliki oleh sel limfosit T, sel limfosit T itu harus diaktifkan oleh IL-1
yang dihasilkan oleh sel Langerhans dan sel keratosit. Sel T ini akan
menghasilkan IL-2 dan menyebabkan sel T berproliferasi. Kemudian terjadi
reaksi imun yang menghasilkan limfokin. Terjadi reaksi inflamasi dengan
perantaraan sel T, karena lepasnya bahan-bahan limfokin dan sitokin.

6. Gejala yang ditimbulkan : gatal atau pruritus yang umumnya konstan dan
sering kali hebat (sangat gatal), adanya lesi eksematosa berupa eritema, udem,
vesikula, dan terbentuknya papulovesikula
7. Karena ada pelepasan histamin oleh sel mast dan juga rangsangan dari sel T
sehingga sehingga pada kulit akan terasa gatal karena pengaruh adanya
histamin.

8. Penyebab munculnya rasa hangat pada saat perabaan : Karena terjadi dilatasi
pembuluh darah yang disebabkan oleh adanya histamin yang dilepaskan oleh
sel mast, sehingga pada saat diraba akan terasa panas. Akan tetapi apabila
terjadi dilatasi pembuluh darah, biasanya akan terjadi pembengkakan jaringan.
Sedangkan pada kasus di atas tidak terjadi pembengkakan jaringan. Hal itu
disebabkan karena leukosit tidak merembes keluar ke jaringan ekstraseluler.

9. Karena kulit mengalami hipersensitivitas terhadap detergen, sehingga pada saat


setelah mencuci akan timbul kambuhan.

10. Diagnosa Banding:


Dermatitis kontak
a. Dermatitis kontak iritan (DKI)
b. Dermatitis kontak alergi (DKA)
Dermatitis atopi
Scabies
Dermatitis seboroik
Psoriasis

KESIMPULAN
Diagnosis penyakit dari kasus di atas adalah DERMATITIS KONTAK ALERGI,
dan termasuk reaksi hipersensitivitas tipe IV.