Anda di halaman 1dari 6

MODUL JIWA LBM 3

STEP 1

1. Hiperaktivitas otonom
Meningkatnya aktivitas syaraf otonom (simpatis maupun parasimpatis)
seperti misalnya: berdebar, kepala pusing, keringat dingin.
2. Cemas
Reaksi emosional yang timbul dengan penyebab yang tidak pasti dan
tidak spesifik yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan
rasa terancam. Biasanya dari diri sendiri, dapat menimbulkan konflik.

STEP 2

1. Mengapa pasien ini sering berdebar-debar, kepala pusing, dan keringat


dingin (hiperaktivitas otonom)?
2. Mengapa ada ketegangan motorik, kaku otot?
3. Mengapa keluhan bisa timbul saat penderita ada di tempat
umum/keramaian?
4. Mengapa penderita merasa khawatir, ketakutan, dan cemas?
5. Apa tanda dan gejala cemas selain di skenario?
6. Apa saja tingkatan cemas?
7. Apa beda ketakutan dan cemas?
8. Bagaimana fisiologi seseorang terhadap cemas?
9. DD
10.Apa saja pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan?
11.Apa penatalaksanaan cemas?

STEP 3

1. Mengapa pasien ini sering berdebar-debar, kepala pusing, dan keringat


dingin (hiperaktivitas otonom)?
Jawab:

Pada ganglion post sinaptik terjadi impuls massal sehingga meningkatkan


kemampuan tubuh dan aktivitas besar. Timbul peningkatan arteri,
peningkatan aliran darah, kecepatan metabolisme seluruh tubuh, glikolisis
hati dan otot, aktivitas mental, dan kecepatan koagulasi darah. terjadi
aktivitas yang besar. (Disebut respon stress simpatis)

Saraf otonom menekan aktivasi, ada pengaruh dari hipotalamus


hipotalamus terpengaruh saat cemas menginisiasi langsung saraf
otonom yang terdiri dari simpatis dan parasimpatis merangsang
pengeluaran ACTH dari hipofisis.

Ada di lingkungan ramai CRF keluar hipofisis mengeluarkan ACTH


korteks adrenal mengeluarkan hormon kortisol, adrenalin, noradrenalin
hormon ini akan merangsang simpatis (karena identik dengan epinefrin
dan norepinefrin)

Selain ACTH, TRF juga keluar kelenjar tiroid mengeluarkan T3 dan T4


tiroksin berpengaruh dalam meningkatkan denyut jantung, respiratory
rate, BMR

Hipotalamus pada bagian medial menstimulasi vasopresin yang akan


memvasokonstriksikan arteri. Cardiac Output meningkat, lumen arteri
mengecil, dan akan berpengaruh pada tekanan darah yang tinggi.

2. Mengapa ada ketegangan motorik, kaku otot?


Jawab:

Kecemasan ada tiga fase:


1. Fase 1: reaksi peringatan (tubuh akan merasa tidak enak karena
pengeluaran adrenalin dan noradrenalin). Cemas akan berubah
menjadi ketegangan otot.
2. Fase 2: penderita merasa tidak bisa mengontrol emosinya + fase 1.
3. Fase 3: fase 1 dan fase 2 tidak bisa dikontrol dan ditambah stressor
yang terus muncul. Mulai ada perubahan dari tingkah laku si penderita
dan kehilangan kemampuan.

3. Mengapa keluhan bisa timbul saat penderita ada di tempat


umum/keramaian?
Jawab:

Macam faktor:
- Biologis: reaksi otonom yang berlebihan, mudah tersinggung.
- Psikoanalisis: impuls di bawah sadar, jika impuls terus menerus ada
maka akan timbul reaksi ansietas.
- Sosial: karena stressor yang banyak, frustasi, yang akan menimbulkan
suatu reaksi ansietas.
- Ansietas sekunder: terjadi karena suatu penyakit.
- Obat-obatan: alkoholik, intoksisitas kafein.

Penderita mengalami kegagalan pengembangan stimulus terhadap


bahaya. Seharusnya tidak bahaya, namun dianggap sebagai bahaya.

4. Mengapa penderita merasa khawatir, ketakutan, dan cemas?


Jawab:

Jika cemas, maka mengalami peningkatan di sistem saraf otonom yang


akan memengaruhi sistem limbik (sebagai kontrol emosi).

5. Apa tanda dan gejala cemas selain di skenario?


Jawab:
- Neurologi dan vaskuler: sakit kepala, vertigo, baal, kesemutan.
- Kardiovaskuler: berdebar-debar, nyeri dada, dada terasa panas.
- Respirasi: nafas pendek, sesak nafas, hiperventilasi.
- Gastrointestinal: mulut kering, perasaan tidak enak di lambung, diare.
- Genitourinarius: sering berkemih, nyeri saat berkemih, impotensi.
- Muskuloskeletal: nyeri otot, nyeri otot kepala, trauma otot leher.
- Kulit: keringat berlebihan, telapak tangan dan kaki yang basah.
- Tanda objektif: penderita tampak gugup, gelisah, tidak dapat duduk
santai, gagap, suara bergetar.

Tanda fisik:

- Rasa gemetaran
- Rasa goyah
- Nyeri punggung
- Nyeri kepala
- Nafas pendek
- Hiperventilasi
- Mudah lelah
- Sering kaget
- Sulit menelan

Tanda kewaspadaan: waswas, respon tercengang yang berlebihan, sulit


konsentrasi, pikiran kosong karena cemas.

Iritabilitas: mudah teriritasi, mudah tersinggung, mudah nangis.

6. Apa saja tingkatan cemas?


Jawab:

Tingkat Respon fisik Respon kognitif Respon


ansietas emosional
Ringan - Ketegangan - Lapang persepsi - Perilaku
otot ringan masih luas otomatis
- Masih sadar - Terlihat tenang - Sedikit tidak
akan - Percaya diri cukup sabar
lingkungan - Ada perasaan - Aktivitas
- Terlihat rileks gagal sedikit menyendiri
atau sedikit - Mulai waspada dan
gelisah memperhatikan
- Penuh banyak hal
perhatian - Mempertimbangka
n informasi yang
masuk
Sedang - Ketegangan - Lapang persepsi - Mulai merasa
otot sedang mulai menurun tidak nyaman
- Tanda vital - Tidak perhatian - Mudah
meningkat secara selektif tersinggung
- Dilatasi pupil - Fokus terhadap - Kepercayaan
- Mulai stimulus diri goyah
berkeringat - Tidak sabar
- Sering mondar- meningkat
mandir
Berat - Ketegangan - Lapang persepsi - Sangat cemas
otot berat terbatas - Agitasi
- Kontak mata - Proses berpikir - Takut
buruk terpecah -Bingung
- Keringat dingin - Sulit konsentrasi
berlebih - Penyelesaian
- Bicara cepat masalah buruk,
- Nada suara hanya fokus pada
tinggi ancaman
- Egosentris
- Preokupasi dengan
pikiran sendiri
Panik - Menghindar - Lapang persepsi - Merasa
- Menyerang sempit terbebani
dengan - Pikiran terganggu - Tidak mampu
kekuatan - Tidak logis - Lepas kendali
penuh - Tidak rasional - Putus asa
- Mematung - Mengamuk

7. Apa beda ketakutan dan cemas?


Jawab:

Ketakutan: muncul karena adanya situasi secara subjektif di mana ada


keadaan yang dianggap membahayakan keadaan fisik orang yang
mengalaminya. Sumber ancamannya diketahui, jelas, tidak bersifat
konfliktual, biasanya bersifat akut.

Cemas: perilaku yang muncul karena adanya situasi yang dianggap


membahayakan keadaan psikologisnya. Sumber ancaman tidak diketahui,
internal, dan bersifat konfliktual. Objeknya belum ada, penderita sudah
takut.
Kriteria diagnosis:
- Selama 6 bulan
- Hendaya pada kehidupan sosial
- Ada perilaku untuk mencari perhatian
- Gejala: gelisah, mudah lelah, sulit konsentrasi/pikiran kosong,
iritabilitas, terdapat ketegangan otot, terdapat gangguan tidur.

Cemas: gejala timbul terus menerus


Fobia: gejala timbul saat melihat objek
OCD: cemas timbul saat obsesinya ada, yang nanti akan menimbulkan
kompulsif.

8. Apa perbedaan cemas normal dan cemas patologis?


Jawab:

Cemas normal: objek ada


Cemas patologis: objek tidak ada, pada suatu hal yang belum pasti,
berpotensi untuk mengancam jiwa.

9. Apa saja macam-macam gangguan cemas? Penjelasan!


Jawab:

- Gangguan cemas organik


- Gangguan cemas karena suatu obat
- Gangguan obsesif kompulsif
- Gangguan fobia
- Gangguan panik
- Gangguan cemas menyeluruh
- Reaksi terhadap stress akut
- Stress pasca trauma

10.DD
Jawab:

Gangguan fobia kecemasan yang hanya tercetus atau hanya didominasi


jika dihadapkan pada suatu objek atau situasi tertentu yang sebenarnya
tidak berbahaya. Keadaan ini dihindari atau dihadapi dengan ketakutan.

- Gangguan fobia tertentu: fobia terhadap binatang, ruangan yang


terbuka, fobia darah
- Agorafobia: ansietas timbul hanya terbatas pada setidaknya dua
dari situasi: keramaian, tempat umum, bepergian keluar rumah,
dan bepergian sendiri.
- Fobia sosial: ansietas timbul harus terbatas pada situasi sosial
tertentu yaitu: outside the family circle (kalau tidak bersama
keluarganya, tidak mau/takut).

Agorafobia & Fobia sosial: ansietas harus primer.

Gangguan neurotik: kesalahan penyesuaian diri secara emosional karena


tak dapat diselesaikannya suatu konflik yang akan menimbulkan
kecemasan yang dirasakan secara langsung/diubah melalui berbagai
mekanisme pertahanan psikologi.

11.Apa saja pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan?


Jawab:

12.Apa penatalaksanaan cemas?


Jawab:

Benzodiazepine:
- Diazepam oral dosis 10 30 mg/hr selama 2-3 kali sehari.
Diazepam parenteral, intravena, intramuskular: dosis 2-10 mg/3-
4 jam.

Efek samping: sedasi dan relaksasi otot.

Kontraindikasi: hipersensitivitas.

- Farmakoterapi: untuk menghilangkan gangguan cemas tapi


menimbulkan efek adiktif, terapeutik cepat.
- Psikososial: efek adiktif tidak ada, terapeutik lama.
Terapi kognitif perilaku: pendekatan terhadap pasien dan
pendekatan perilaku menjawab keluhan somatik secara
langsung
Terapi suportif: menawarkan ketentraman bagi pasien
Terapi berorientasi tilikan: untuk mengungkap konflik pada
pasien

Pengobatan farmakotropika dilakukan selama 2 minggu, pada


minggu kedua dilakukan psikososial. Seiring dilakukan psikososial
dilakukan farmakotropika sambil diturunkan dosisnya.

STEP 4

Anda mungkin juga menyukai