Anda di halaman 1dari 69

SGD LBM 5

Gangguan perilaku pada anak


STEP 7:

1. Apa saja yang termasuk gangguan perkembangan dan adaptasi?

Gangguan Perkembangan Pervasif


Ditandai dengan masalah awal pada tiga area perkembangan utama: perilaku, interaksi
sosial, dan komunikasi.
Gangguan ini terdiri dari :
a. Autisme
Adalah kecenderungan untuk memandang diri sendiri sebagai pusat dari dunia, percaya
bahwa kejadian kejadian eksternal mengacu pada diri sendiri. Dicirikan dengan gangguan
yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang terbatas
(Johnson, 1997). Gejala-gejalanya meliputi kurangnya respon terhadap orang lain, menarik
diri dari hubungan sosial, dan respon yang aneh terhadap lingkungan seperti mengepakkan
tangan, bergoyang-goyang, dan memukul-mukulkan kepala.
b. Reterdasi Mental
Muncul sebelum usia 18 tahun dan dicirikan dengan keterbatasan fungsi intelektual
secara signifikan berada dibawah rata-rata (mis., IQ dibawah 70) dan keterbatasan terkait
dalam dua bidang keterampilan adaptasi atau lebih (mis., komunikasi, perawatan diri,
aktivitas hidup sehari-hari, keterampilan sosial, fungsi dalam masyarakat, pengarahan diri,
kesehatan dan keselamatan, fungsi akademis, dan bekerja.
c. Gangguan perkembangan spesifik
Dicirikan dengan keterlambatan perkembangan yang mengarah pada kerusakan
fungsional pada bidang-bidang dan mempengaruhi tahap perkembangan selanjutnya, seperti :
i. Gangguan belajar, ditandai dengan :
1. Gangguan menulis
Keterbatasan kemampuan menulis sehingga muncul dalam bentuk
kesalahan memgeja, kesulitan membentuk kalimat. Muncul pada usia 7
tahun
2. Gangguan membaca
Keterbatasan kemampuan dalam mengenali dan memahami rangakaian
kata kata. Biasanya tampak pada usia 7 tahun
3. Gangguan matematika
Keterbatasan kemampuan anak dalam memahami istilah matematika.
ii. Gangguan Komunikasi, ditandai dengan :
1. Gangguan bahasa ekspresif
Keterbatasan dalam menggunakan bahasa verbal
2. Gangguan bahasa campuran reseptif atau ekspresif
Keterbatasan anak dalam memahami maupun memproduksi bahasa verbal
3. Gangguan fonologis
Kesulitan dalam artikulasi suara tanpa adanya kerusakan pada mekanisme
berbicara
4. Gagap
Ganggauan pada kemampuan berbicara lancer dengan waktu yang tepat
Defisit perhatian dan gangguan perilaku disruptif
d. ADHD ( Atttention deficit hyperactivity disorder)
Dicirikan dengan tingkat gangguan perhatian yang rendah,(sulit berkonsentrasi)
impulsivitas, dan hiperaktivitas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan. Menurut DSM
IV, ADHD pasti terjadi di sedikitnya dua tempat (mis., di sekolah dan di rumah) dan terjadi
sebelum usia 7 tahun (DSM IV, 1994).
e. Conduct Disorder (CD )
Adalah munculnya cara pikir dan perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari
aturan yang berlaku di sekolah yang disebabkan sejak kecil orangtua tidak mengajarkan
perilaku benar dan salah pada anak. Ciri - cirinya, apabila ia memunculkan perikau anti sosial
baik secara verbal maupun secara non verbal seperti melawan aturan, tidak sopan terhadap
guru, dan mempermainkan temannya, menunjukkan unsur permusuhan yang akan merugikan
orang lain.
f. Oppositional defiant disorder ( ODD )
Perilaku dalam gangguan ini menunjukkan sikap menentang, seperti berargumentasi,
kasar, marah, toleransi yang rendah terhadap frustasi, dan menggunakan minuman keras, zat
terlarang, atau keduanya. Namun dalam gangguan ini tidak melanggar hak-hak orang lain
sampai tingkat yang terlihat dalam gangguan perilaku.

Kecemasan dan Depresi


Gangguan kecemasan sering terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut ke
masa dewasa biasanya berupa : gangguan obsesif kompulsif, gangguan kecemasan umum, dan
fobia banyak terjadi pada anak-anak dan remaja, yang memiliki gejala seperti pada orang
dewasa. Gangguan kecemasan akibat perpisahan adalah gangguan masa kanak-kanak yang
ditandai dengan rasa takut berpisah dari orang yang paling dekat dengannya seperti orang tua,
saudara,dll. Gejalanya antara lain berupa mimpi buruk, sakit perut, mual dan muntah saat
mengantisipasi perpisahan.gangguan kecemasan ini dapat berlanjut hingga depresi. Depresi pada
anak anak dan remaja tidaklah berbeda dengan orang dewasa, mereka memiliki perasaan tidak
berdaya,kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri. Namun depresi pada anak tidak nampak
nyata bila dibanding dengan orang dewasa. Ciri ciri depresi pada anak antara lain adalah
mereka menolak untuk masuk sekolah, tak mau pisah dengan orang tua. Depresi pada anak dan
remaja biasanya diikuti dengan gangguan lain seperti CD, ODD, masalah akademik. Depresi
pada remaja yang berkelanjutan akat berakibat ganguan depresi yang lebih serius pada masa
dewasa.
Gangguan Eliminisi
Adalah gangguan pada perkembangan anak dan remaja dimana tidak dapat mengontrol
buang air kecil ( BAK ) dan buang air besar ( BAB ) setelah mencapai usia normal untuk mampu
melakukannya. Terbagi menjadi dua yaitu:
g. Enuresis
Adalah dimana anak tidak mampu mengontrol BAKnya bukan karena akibat dari
kerusakan neurologis atau penyakit lainnya . kita sering menyebutnya dangan mengompol.
h. Enkopresis
Ketidakmampuan mengontrol BABnya yang bukan disebabkan masalah organik.

Gangguan perkembangan
Definisi gangguan perkembangan pada anak (sosialisasi,
kognisi, perilaku, emosi, komunikasi)
Komunikasi : kualitas komunikasinya yang tidak normal,
seperti ditunjukkan dibawah ini :
Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali
tidak berkembang.
Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak
atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam
kemampuan bicara.
Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau
memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.
Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau
stereotipik.
Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya
permainannya kurang variatif.
Interaksi sosial : adanya gangguan dalam kualitas
interaksi social :
Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi
fasial, maupun postur dan gerak tubuh, untuk
berinteraksi secara layak.
Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan
teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi,
aktivitas, dan interes bersama.
Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca
emosi orang lain.
Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman
untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu
bersama-sama.
Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat
terbatas, diulang-ulang dan
stereotipik seperti dibawah ini :
Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada
suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya duduk
dipojok sambil menghamburkan pasir seperti air hujan,
yang bisa dilakukannya berjam-jam.
Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual
yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci
kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki
dikeset, baru naik ketempat tidur. Bila ada satu diatas
yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan
sangat terganggu dan nangis teriak-teriak minta diulang.
Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-
ulang, seperti misalnya mengepak-ngepak lengan,
menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan
mengetok-ngetokkan sesuatu.
Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan
tertentu yang tak berguna, seperti roda sepeda yang
diputar-putar, benda dengan bentuk dan rabaan tertentu
yang terus diraba-rabanya, suara-suara tertentu.

Anak-anak ini sering juga menunjukkan emosi yang tak


wajar, temper tantrum (ngamuk tak terkendali), tertawa dan
menangis tanpa sebab, ada juga rasa takut yang tak wajar.
Kecuali gangguan emosi sering pula anak-anak ini
menunjukkan gangguan sensoris, seperti adanya kebutuhan
untuk mencium-cium/menggigit-gigit benda, tak suka kalau
dipeluk atau dielus.

Autisme Masa Kanak lebih sering terjadi pada anak laki-laki


daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 : 1

http://www.autisme.or.id/GPP_PDD/autisme_masa_kan
ak/.

Perkembangan psikoseksual (Sigmund Freud)

ORAL (birth to 12-18 months)

Kenikmatan pada mulut apapun yang dilakukan anak


pada mulutnya, bermain dan mengekspresikan
kebutuhan melalui mulutnya.

ANAL (12-18 months)


Kenikmatan ada pada anus pada saat inilah anak
diajarkan toilet training, pembuangan feses pada
anak diajarkan baik itu pada saat buang air kecil
atau buang air besar.

PHALIC (3 to 6 years)

Kemaluan pada anak laki-laki, setiap pagi akan


mengalami reaksi, karena pada umumnya pada saat
usia seperti ini anak mulai merasakan kenikmatan
dan perkembangan sexualnya mulai ada aedipus.
Contoh lain, biasanya anak laki-laki senang
berdekatan dengan ibunya dan sebaliknya, anak
perempuan senang berdekatan dengan bapaknya.

Sebagai orang tua hal yang perlu diperhatikan


adalah dapat mengalihkan perhatian anak bila anak
tersebut, sedang mengalami masturbasi dan bukan
memarahinya.

LATENCY (6 to puberty 14 years)

Pada latency ini, kegiatan sex cenderung aman


(sexualnya stabil / jarang bermasalah). Ini juga masa
penting untuk anak diperhatikan dan pada masa ini
anak-anak relatif lebih mudah untuk memberikan
masukan atau nasehat pada anak baik itu berupa
etika atau norma.
GENITAL (puberty through adulthood)

Dalam genital manusia mulai merasakan kepuasan


pada rangsangan tubuh, alat kelamin bertumbuh
dengan normal.

3. Perkembangan psikososial

PSYCHO SOCIAL STAGES (ERIKSON)

Basic Trust VS Mistrust (birth to 12-18 months)


Mencari apa yang bisa dipercaya dari seorang bayi

Autonomy VS Shame and Doubt ( 12-18 months to


3 years)
Punya keinginan dan rasa ingin tau. Bila di panggil
kadang-kadang tidak mau datang dan asik bermain.

Initiative VS Quilt (3 to 6 years)


Rasa ingin tau yang besar, anak banyak bertanya
dan sebagai pendengar janganlah kita mematahkan
pertanyaannya.

Industry VS Inferiority (6 years to puberty)


Kebutuhan yang ber afiliasi, menghasilkan sesuatu
dan takut melakukankesalahan.

Identity VS Identity Confusion (puberty to young


adulthood)
Ingin Mandiri dan segala sesuatu yang dilakukannya
ingin dikerjakan sendiri.

Intimacy VS Isolation (young adulthood)


Ingin berteman dengan akrab tetapi kadang ingin
meyendiri.
Generativity VS Stagnition (middle adulthood)
Perkembangan anak seolah-olah berhenti
berkembang.

Integrity VS Despair (late adulthood)


Post power syndrome adalah orang yang sudah
pensiun merasa masih berarti tetapi sudah tidak
kuat.

4. Perkembangan kognitif
COGNITIVES STAGES (PIAGET)

Sensori motor (birth to 2 years)

Mengenal sesuatu lewat panca indra, merangsang


pola pikirnya dengan alat-alat panca indra. Yang
bergerak, yang mengeluarkan bunyi, penciuman,
pengecapan, perabaan.
Pola berfikirnya memikat lebih baik dari pada anak
yang tidak mendapat rangsangan sensori motor
Gerakanya refleks

Pre operational (2 to 7 years)

Dominan dengan aktifitas fisik dan punya konsep


sendiri
Gerakanya menjadi terarah
Memulai berfikir atau tahap realis / mulai terarah
Munculnya kemampuan abstraksinya dan berpusat
pada dirinya.

Concrete Operasional (7 to 12 years)

mulai mengenal konsep pengelompokan, himpunan


bisa mengkategorikan / klasifikasi objek
mulai bisa memilih sendiri
mulai mengenal konsep waktu dan tempat
Formal Operations (12 years through adulthood)

konsep berfikir mulai terbentuk


di pengaruhi oleh stimulasi yang diberikan sejak
usia dini

5. Perkembangan moral
b. Pembagian kelainan temuan klinis berdasar usia :
0-2 tahun : kelainan berupa gg organic atau autis
2-4 : gg bicara dan mendengar, menarik diri dan fobia
6-11 : gg ADHD, gg belajar, agresi
12-20 : anoreksia, rasa ingin bunuh diri,
penyalahgunaan obat
Perkembangan anak normal biologis perkembangan
kognitif

2. Mengapa pada usia 7 tahun anak cenderung pasif, tidak suka main
dengan temannya, cenderung suka main dengan anak yang lebih kecil,
dll (sesuai dengan skenario)?
Pada anak RM, ada hambatan atau kegagalan pada fungsi kognitif
yang bersifat permanen, sehingga anak sulit berkembang secara
optimal, terjadi keterbatasan proses perkembangan sehingga anak
akan lebih jauh tertinggal dengan anak seusianya padahal usia
bertambah (jadi anak lebih suka main dengan anak dengan usia yang
lebih kecil).

3. Apa hubungan intoksikasi logam berat dengan keluhan?


Limbah pabrik yang mengandung logam termakan organisme laut
ibu hamil makan makanan laut yang tercemar limbah keracunan
logam berat merusak kromosom anak (mengganggu pertumbuhan
dan perkembangan anak)
IQ rendah : pasien dengan kerusakan kromosom gangguan
metabolisme phenilketonuria : tidak bisa merubah phenilalanin mjd
tirosin (karena def enzim hidroksilase) padahal tirosin mengubah
iodium mjd hormone tiroksin mengganggu perkembangan otak
disfungsi sirkuit neuron otak (ggn neurotransmitter) mengganggu
pengaturan gerak dan kontrol aktifitas diri

4. Mengapa pasien ini bicaranya terhambat dalam artikulasi huruf


tertentu (R, L, dan S)?
Gangguan bicara bisa disebabkan oleh faktor dibawah ini:
a. Retardasi mental
b. Gangguan pendengaran
c. Gangguan bicara karena kelainan organ bicara. Misal: lideh pendek, kelainan bentuk
gigi dan mandibula, kelainan bibir sumbing
d. Gangguan berbahasa sentral, yaitu tidak dapat menggabungkan kemampuan
berbahasa, namun selalu mengandalkan mimic muka (pantomim)
e. Deprivasi, yaitu tidak mendapat rangsangan yang baik dari lingkungan
f. Bilingual, yaitu penggunaan dua bahasa dalam keluarga
g. Keterlambatan fungsional. Dalam hal ini, fungsi reseotif sangat baik, dan anak hanya
mengalami gangguan dalam fungsi ekspresif
h. Mutisme selektif. Biasanya pada usia 3-5 tahun, anak tidak mau bicara pada keadaan
tertentu
i. Cerebral palsy
j. Autism

5. Factor penyebab gejala di skenario?

Penyebab Retardasi Mental

1. Faktor Prenatal

Penggunaan berat alkohol pada perempuan hamil dapat menimbulkan gangguan pada anak yang
mereka lahirkan yang disebut dengan fetal alcohol syndrome. Faktor-faktor prenatal lain yang
memproduksi retardasi mental adalah ibu hamil yang menggunakan bahan-bahan kimia, dan
nutrisi yang buruk. (Durand, 2007). Penyakit ibu yang juga menyebabkan retardasi mental
adalah sifilis, cytomegalovirus, dan herpes genital. Komplikasi kelahiran, seperti kekurangan
oksigen dan cidera kepala, menempatkan anak pada resiko lebih besar terhadap gangguan
retardasi mental. Kelahiran premature juga menimbulkan resiko retardasi mental dan gangguan
perkembangan lainnya. Infeksi otak, seperti encephalitis dan meningitis juga dapat menyebabkan
retardasi mental. Anak-anak yang terkena racun, seperti cat yang mengandung timah, juga dapat
terkena retardasi mental. (Nevid, 2003)

2. Faktor Psikososial

Seperti lingkungan rumah atau sosial yang miskin, yaitu yang tidak memberikan stimulasi
intelektual, penelantaran, atau kekerasan dari orang tua dapat menjadi penyebab atau memberi
kontribusi dalam perkembangan retardasi mental. (Nevid, 2002) Anak-anak dalam keluarga
yang miskin mungkin kekurangan mainan, buku, atau kesempatan untuk berinteraksi dengan
orang dewasa melalui cara-cara yang menstimulasi secara intelektual akibatnya mereka gagal
mengembangkan keterampilan bahasa yang tepat atau menjadi tidak termotivasi untuk belajar
keterampilan-keterampilan yang penting dalam masyarakat kontemporer. Beban-beban ekonomi
seperti keharusan memiliki lebih dari satu pekerjaan dapat menghambat orang tua untuk
meluangkan waktu membacakan buku anak-anak, mengobrol panjang lebar, dan
memperkenalkan mereka pada permainan kreatif. Lingkaran kemiskinan dan buruknya
perkembangan intelektual dapat berulang dari generasi ke generasi (Nevid, 2002).

Kasus yang berhubungan dengan aspek psikososial disebut sebagai retardasi budaya-keluarga
(cultural-familial retardation). Pengaruh cultural yang mungkin memberikan kontribusi terhadap
gangguan ini termasuk penganiayaan, penelantaran, dan deprivasi sosial. (Durand, 2007)

3. Faktor Biologis

a. Pengaruh genetik

Kebanyakan peneliti percaya bahwa di samping pengaruh-pengaruh lingkungan, penderita


retardasi mental mungkin dipengaruhi oleh gangguan gen majemuk (lebih dari satu gen)
(Abuelo, 1991, dalam Durand, 2007) Salah satu gangguan gen dominan yang disebut tuberous
sclerosis, yang relatif jarang, muncul pada 1 diantara 30.000 kelahiran. Sekitar 60% penderita
gangguan ini memiliki retardasi mental (Vinken dan Bruyn, 1972, dalam Durand 2007).
Phenyltokeltonuria (PKU) merupakan gangguan genetis yang terjadi pada 1 diantara 10.000
kelahiran (Plomin, dkk, 1994, dalam Nevid, 2002). Gangguan ini disebabkan metabolisme asam
amino Phenylalanine yang terdapat pada banyak makanan. Asam Phenylpyruvic, menumpuk
dalam tubuh menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat yang mengakibatkan retardasi
mental dan gangguan emosional.

b. Pengaruh kromosomal

Jumlah kromosom dalam sel-sel manusia yang berjumlah 46 baru diketahui 50 tahun yang lalu
(Tjio dan Levan, 1956, dalam Durand, 2007). Tiga tahun berikutnya, para peneliti menemukan
bahwa penderita Sindroma Down memiliki sebuah kromosom kecil tambahan. Semenjak itu
sejumlah penyimpangan kromosom lain menimbulkan retardasi mental telah teridentifikasi yaitu
Down syndrome dan Fragile X syndrome.

1. Down syndrome

Sindroma down, merupakan bentuk retardasi mental kromosomal yang paling sering dijumpai, di
identifikasi untuk pertama kalinya oleh Langdon Down pada tahun 1866. Gangguan ini
disebabkan oleh adanya sebuah kromosom ke 21 ekstra dan oleh karenanya sering disebut
dengan trisomi 21. (Durand, 2007). Anak retardasi mental yang lahir disebabkan oleh faktor ini
pada umumnya adalah Sindroma Down atau Sindroma mongol (mongolism) dengan IQ antar 20
60, dan rata-rata mereka memliki IQ 30 50. (Wade, 2000, dalam Nevid 2003). Menyatakan
abnormalitas kromosom yang paling umum menyebabkan retardasi mental adalah sindrom down
yang ditandai oleh adanya kelebihan kromosom atau kromosom ketiga pada pasangan kromosom
ke 21, sehingga mengakibatkan jumlah kromosom menjadi 47. Anak dengan sindrom down
dapat dikenali berdasarkan ciri-ciri fisik tertentu, seperti wajah bulat, lebar, hidung datar, dan
adanya lipatan kecil yang mengarah ke bawah pada kulit dibagian ujung mata yang memberikan
kesan sipit. Lidah yang menonjol, tangan yang kecil, dan berbentuk segi empat dengan jari-jari
pendek, jari kelima yang melengkung, dan ukuran tangan dan kaki yang kecil serta tidak
proporsional dibandingkan keseluruhan tubuh juga merupakan ciri-ciri anak dengan sindrom
down. Hampir semua anak ini mengalami retardasi mental dan banyak diantara mereka
mengalami masalah fisik seperti gangguan pada pembentukan jantung dan kesulitan pernafasan.
(Nevid, 2003)

2. Fragile X syndrome

Fragile X syndrome merupakan tipe umum dari retardasi mental yang diwariskan. Gangguan ini
merupakan bentuk retardasi mental paling sering muncul setelah sindrom down (Plomin, dkk,
1994, dalam Nevid, 2003). Gen yang rusak berada pada area kromosom yang tampak rapuh,
sehingga disebut Fragile X syndrome. Sindrom ini mempengaruhi laki-laki karena mereka tidak
memiliki kromosom X kedua dengan sebuah gen normal untuk mengimbangi mutasinya. Laki-
laki dengan sindrom ini biasanya memperlihatkan retardasi mental sedang sampai berat dan
memiliki angka hiperaktifitas yang tinggi. Estimasinya adalah 1 dari setiap 2.000 laki-laki lahir
dengan sindrom ini ( Dynkens, dkk, 1998, dalam Durand, 2007)

6. Kelainan kromosom apa saja yang dapat menyebabkan keluhan ini?


Sindrom down (trisomi 21 ; hambatan bahasa, daya ingat,
keterlambatan bina diri, memecahkan masalah pada usia 30 th, IQ <
50, mongoloid face, ada ciri khas di telapak tangan dan kaki, makin
banyak gejala, RM makin berat)
X fragile syndrome (mutasi kromosom x yang rapuh : dahi tinggi,
rahang bawah besar, telinga panjang, testis besar, kepala besar,
perawakan pendek)
Criducat (delesi kromosom 5)
Praderwilly (delesi kromosom 15)
Klinefelter (laki-laki XXY)
Turner (wanita XO)
Sindrom patau (trisomi 13)
Edward (trisomi 18)

7. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan intelegensia?


Yang dinilai : pemahaman verbal, kefasihan penggunaan kata,
kemampuan bilangan, ruang, pengingat, penalaran dan
kecepatan pengamatan
Cara pengukurannya : (intelegensi mental sekarang : intelegensi
kronologis) x 100%

8. Interpretasi pemeriksaan intelegensia (didapatkan IQ = 50)?


9. Apa saja derajat RM?

Gambaran utama
o Fungsi intelektual umum di bawah rata-rata, secara
klinis dikenal;
RM ringan jika IQ antara 50-70
RM sedang jika IQ antara 35-49
RM berat jika IQ antara 20-34
RM sangat berat jika IQ <20
o Terdapat kekurangan atau hendaya dalam perilaku
adaptif (dalam proses belajar atau adaptasi sosial) yang
dipertimbangkan berdasarkan budaya umum dan
budaya setempat
o Timbul sebelum usia 18 tahun
Gambaran penyerta
o Penyandang RM sering disertai dengan adanya
psikopatologi yang lain, misalnya agresif, iritabel,
gerakan stereotipik, dll.
o Penyandang RM mempunyai risiko lebih besar untuk di
eksploitasi, dan diperlakukan salah secara
fisik/emosional/seksual

Ket:
1 RM ringan (mampu didik)
Mulai tampak gejala pada usia sekolah dasar,
misalnya sering tidak naik kelas, selalu
memerlukan bantuan untuk mengerjakan
pekerjaan rumah atau mengerjakan hal-hal yang
berkaitan dengan kebutuhan pribadi
Anak dapat menyelesaikan pendidikan dasar
(tamat SD)
80 % dari anak dengan RM termasuk dalam
golongan ini

2 RM sedang (mampu latih)


Sudah tampak sejak anak masih kecil dengan
adanya keterlambatan dalam perkembangan,
misalnya perkembangan wicara atau
perkembangan fisik lainnya
Anak hanya mampu dilatih untuk merawat
dirinya sendiri
Pada umumnya tidak mampu menyelesaikan
pendidikan dasarnya
Angka kejadian sekitar 12 % dari seluruh kasus
RM

3 RM berat & sangat berat


Sudah tampak sejak anak lahir, yaitu
perkembangan motorik yang buruk dan
kemampuan bicara yang sangat minim
Hanya mampu untuk dilatih belajar bicara dan
keterampilan untuk pemeliharaan tubuh dasar
Angka kejadian 8 % dari seluruh RM
Derajat IQ Usia Usia sekolah Usia dewasa
RM prasekolah (0- (0-21 tahun) (>21 tahun)
5)
Sangat < 20 Retardasi jelas Beberapa Perkembang
berat perkembanga an motorik
n motorik dan bicara
dapat sangat
berespons terbatas
namun
terbatas
Berat 20-34 Perkembangan Dapat Dapat
motorik yang berbicara atau berperan
miskin belajar sebagian
berkomunikasi dalam
namun latihan pemeliharaa
kejuruan tidak n diri sendiri
bermanfaat di bawah
pengawasan
ketat
Sedang 35-49 Dapat Latihan dalam Dapat
berbicara atau ketrampilan bekerja
belajar social dan sendiri
berkomunikasi pekerjaan tanpa dilatih
, ditangani dapat namun perlu
dengan bermanfaat, pengawasan
pengawasan dapat pergi terutama
sedang sendiri ke jika berada
tempat yang dalam stress
telah dikenal
Ringan 50-69 Dapat Dapat belajar Biasanya
mengembangk ketrampilan dapat
an akademik mencapai
ketrampilan sampai kelas ketrampilan
social dan 6 SD social dan
komunikasi, kejuruan
retradarsi namun perlu
mental bantuan
terutama
bila stress

10. DD?
Retardasi Mental :
Definisi
a Definisi menurut NOYES :
Individu yang mempunyai keterbatasan kepribadian,
sehingga mengakibatkan kegagalan untuk mengembangkan
kapasitas intelektualnya, yang diperlukan untuk memenuhi
tuntutan lingkungannya, menjadi seseorang yang mandiri.
Keterbatasan kemampuan intelektual ini dapat terjadi oleh
karena gangguan perkembangan otak akibat pengaruh
genetic, malnutrisi, penyakit-penyakit tertentu, trauma pada
otak baik sebelum lahir, pada waktu proses kelahiran
maupun segera setelah kelahiran. Keterbatasan intelektual
dapat juga terjadi oleh karena konsekuensi dari gangguan
perkembangan akibat kurangnya stimulasi lingkungan, baik
yang berasal dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan
sosialnya.

b Definisi menurut ROAN :


Individu dengan keadan keterbatasan kemampuan atau
terhentinya proses perkembangan otak, yang berakibat
terhentinya proses maturasi,sehingga individu tersebut
tidak mampumenyesuaikan dirinyaterhadap lingkungannya
atau terhadap harapan dari masyarakatnya, supaya dapat
mempertahankan hidupnya tanpa dukungan dan bantuan
dari luar. Yang penting disini ialah, terhentinya
perkembangan fugsi intelek seseorang paa masa
tumbuhnya yang ditandai oleh gangguan kemampuan
belajar, penyesuaian social atau malnutrisi.

c Definisi menurut MARAMIS :


Individu dengan keadaan intelegensi yang kurang
(subnormal) sejk masa perkembangannya (sejak lahir atau
anak-anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang
kurangsecara keseluruhan (seperti juga pada demensia),
tetapi gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang.

d Definisi menurut PPDGJ-II :


Individu dalam keadaan yang terdiri dari :
1 fungsi intelektual umum di bawah rata-rata yang
cukup bermakna
2 yang mengakibatkan, atau berhubungan dengan
kekurangan atau hendaya dalam perilaku adaptif
3 timbul sebelum usia 18 tahun.

Keadaan ini ditegakkan tanpa menghiraukan apakah


terjadi bersamaan atau tidak dengan gangguan mental
atau fisik yang lain.

Suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti


atau tidak lengkap atau tidak sesuai dengan tingkat
perkembangan anak seusianya.
Ditandai oleh adanya hendaya keterampilan selama
masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada
tingkat intelegensia anak yaitu pada kemampuan
kognitif, bahasa, motorik dan sosial anak
Bukan suatu penyakit melainkan suatu kondisi yang
timbul pada usia yang dini (biasanya sejak lahir) dan
menetap sepanjang hidup individu tersebut.

Etiologi
o RM terjadi oleh karena otak tidak berkembang secara
optimal dengan latar belakang;
Adanya masalah dalam kandungan, berupa masalah pada
ibu seperti ,
Kekurangan gizi
Ketergantungan alkohol
Penyakit infeksi tertentu
Adalah masalah pada saat anak dilahirkan, seperti adanya
kesulitan dalam proses persalinan, lilitan tali pusat sehingga
mengganggu dalam proses persalianan, dsb
Masalah pada tahun-tahun pertama kehiduapan anak,
seperti infeksi pada otak, kuning yang berkepanjangan,
kejang yang tidak terkontrol, kecelakaan, serta adanya
malnutrisi
Masalah dalam pola asuh seperti kurangnya stimulasi,
kekerasan pada anak, penelantaran, dsb
Faktor genetik, seperti downs syndrome
o Pada umumnya anak dengan RM sulit dicari satu
penyebab yang pasti

Sebab utama dari retardasi mental di Indonesia adalah


penyakit infeksi pada susunan syaraf pusat, seperti
meningitis atau encephalitis, dan malnutrisi pada ibu-ibu
yang hamil maupun pada bayinya yang lahir

Sumber:

Budhiman, Melly. 1981 Masalah dan Pelayanan Dini


Retardasi Mental Ditinjau dari Kedokteran Jiwa,dalam
Majalah Psikiatri Jiwa, Thn. XVI No.3 September.
Jakarta: YKJ Dharmawangsa. hal.79-84.

Diagnosis
Gambaran utama
o Fungsi intelektual umum di bawah rata-rata, secara
klinis dikenal;
RM ringan jika IQ antara 50-70
RM sedang jika IQ antara 35-49
RM berat jika IQ antara 20-34
RM sangat berat jika IQ <20
o Terdapat kekurangan atau hendaya dalam perilaku
adaptif (dalam proses belajar atau adaptasi sosial) yang
dipertimbangkan berdasarkan budaya umum dan
budaya setempat
o Timbul sebelum usia 18 tahun
Gambaran penyerta
o Penyandang RM sering disertai dengan adanya
psikopatologi yang lain, misalnya agresif, iritabel,
gerakan stereotipik, dll.
o Penyandang RM mempunyai risiko lebih besar untuk di
eksploitasi, dan diperlakukan salah secara
fisik/emosional/seksual

Ket:
4 RM ringan (mampu didik)
Mulai tampak gejala pada usia sekolah dasar,
misalnya sering tidak naik kelas, selalu
memerlukan bantuan untuk mengerjakan
pekerjaan rumah atau mengerjakan hal-hal yang
berkaitan dengan kebutuhan pribadi
Anak dapat menyelesaikan pendidikan dasar
(tamat SD)
80 % dari anak dengan RM termasuk dalam
golongan ini

5 RM sedang (mampu latih)


Sudah tampak sejak anak masih kecil dengan
adanya keterlambatan dalam perkembangan,
misalnya perkembangan wicara atau
perkembangan fisik lainnya
Anak hanya mampu dilatih untuk merawat
dirinya sendiri
Pada umumnya tidak mampu menyelesaikan
pendidikan dasarnya
Angka kejadian sekitar 12 % dari seluruh kasus
RM

6 RM berat & sangat berat


Sudah tampak sejak anak lahir, yaitu
perkembangan motorik yang buruk dan
kemampuan bicara yang sangat minim
Hanya mampu untuk dilatih belajar bicara dan
keterampilan untuk pemeliharaan tubuh dasar
Angka kejadian 8 % dari seluruh RM
Derajat IQ Usia Usia sekolah Usia dewasa
RM prasekolah (0- (0-21 tahun) (>21 tahun)
5)
Sangat < 20 Retardasi jelas Beberapa Perkembang
berat perkembanga an motorik
n motorik dan bicara
dapat sangat
berespons terbatas
namun
terbatas
Berat 20-34 Perkembangan Dapat Dapat
motorik yang berbicara atau berperan
miskin belajar sebagian
berkomunikasi dalam
namun latihan pemeliharaa
kejuruan tidak n diri sendiri
bermanfaat di bawah
pengawasan
ketat
Sedang 35-49 Dapat Latihan dalam Dapat
berbicara atau ketrampilan bekerja
belajar social dan sendiri
berkomunikasi pekerjaan tanpa dilatih
, ditangani dapat namun perlu
dengan bermanfaat, pengawasan
pengawasan dapat pergi terutama
sedang sendiri ke jika berada
tempat yang dalam stress
telah dikenal
Ringan 50-69 Dapat Dapat belajar Biasanya
mengembangk ketrampilan dapat
an akademik mencapai
ketrampilan sampai kelas ketrampilan
social dan 6 SD social dan
komunikasi, kejuruan
retradarsi namun perlu
mental bantuan
terutama
bila stress

USIA 0 - 6 BULAN

1 Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)


2 Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
3 Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila
mandi
4 Tidak "babbling"
5 Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu
6 Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
7 Perkembangan motor kasar/halus sering tampak
normal

USIA 6 - 12 BULAN

1 Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)


2 Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
3 Gerakan tangan dan kaki berlebihan
4 Sulit bila digendong
5 Tidak "babbling"
6 Menggigit tangan dan badan orang lain secara
berlebihan
7 Tidak ditemukan senyum sosial
8 Tidak ada kontak mata
9 Perkembangan motor kasar/halus sering tampak
normal

USIA 6 - 12 BULAN

1 Kaku bila digendong


2 Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba,
da-da)
3 Tidak mengeluarkan kata
4 Tidak tertarik pada boneka
5 Memperhatikan tangannya sendiri
6 Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor
kasar/halus
7 Mungkin tidak dapat menerima makanan cair

USIA 2 - 3 TAHUN

1 Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain


2 Melihat orang sebagai "benda"
3 Kontak mata terbatas
4 Tertarik pada benda tertentu
5 Kaku bila digendong

USIA 4 - 5 TAHUN

1 Sering didapatkan ekolalia (membeo)


2 Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau
datar)
3 Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
4 Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)
5 Temperamen tantrum atau agresif

Seorang anak disebut menderita retardasi mental bila


mengalami kelainan seperti;

(1) Perkembangan intelektual yang terhambat jika


dibandingkan dengan anak normal. Dalam hal ini yang
dimaksud adalah ukuran kemajuan tingkat IQ yang
kurang dari 70, dimana nilai ini didapatkan dengan
pemeriksaan yang teliti, akurat, individual, dan telah
dilakukan secara berulang-ulang, serta keadaan klinis
mendukung hasil pemeriksaan tersebut,

(2) Terhambatnya kemampuan si anak dalam hal


adaptasi diri secara umum terhadap

lingkungan, dan

(3) Proses keterhambatan adaptasi ini cenderung terjadi


pada masa perkembangan individu dalam proses
pendewasaan atau terjadi sebelun si individu berusia
18 tahun

Sumber: Budhiman, Melly. 1981 Masalah dan


Pelayanan Dini Retardasi Mental Ditinjau dari
Kedokteran Jiwa, dalam Majalah Psikiatri Jiwa,
Thn. XVI No.3 September. Jakarta: YKJ
Dharmawangsa. hal.79-84.
SINDROM ASPERGER

DEFINISI

Gangguan Asperger ditandai dengan gangguan dalam interaksi


sosial dan terhambatnya perhatian serta perilaku seperti yang
terlihat pada autisme, tetapi tidak ada kelambatan dalam
berbicara dan berbahasa reseptif, perkembangan kognitif,
ketrampilan menolong diri sendiri, atau keingintahuan terhadap
lingkungan

ETIOLOGI

Etiologi gangguan Asperger masih menjadi perdebatan.


Gangguan Asperger merupakan kondisi yang termasuk dalam
spektrum autisme, sehingga kepustakaan menyebutkan bahwa
etiologinya sama.

Beberapa kepustakaan mengatakan bahwa etiologinya terkait


dengan genetik dan kerusakan otak.

Sedangkan Ciaranello dan Ciaranello (1995) membagi etiologi


gangguan Asperger ke dalam dua tipe yaitu genetik dan non
genetik.

Tipe genetik.

Etiologi genetik berhubungan dengan kontrol gen pada


perkembangan otak.

Hubungan genetik antara autisme dan gangguan Asperger dapat


digambarkan sebagai berikut: anak yang menderita gangguan
Asperger seringkali ayahnya memiliki kesulitan dalam interaksi
sosial.

Terdapat beberapa laporan adanya transmisi keluarga pada


gangguan Asperger.

Gillberg mengatakan terdapat patologi "Asperger Syndrome-like"


pada anggota keluarga terdekat dari penderita gangguan
Asperger.

De Long & Dwyer menemukan gangguan Asperger pada keluarga


dari anak yang menderita gangguan autistik high functioning.

Faktor genetik menunjukkan adanya hubungan antara autisme


dengan gangguan Asperger.

Sejumlah 9% anak penderita autisme mempunyai ayah sindrom


Asperger atau ciri-ciri Asperger.

Secara genetik peranan kromosom fragile-X untuk terjadinya


gangguan Asperger sangat bermakna. Studi kembar dua memberi
dukungan adanya dasar genetik gangguan ini, akan tetapi pada
studi kembar tiga tidak. Jikapun dasar etiologinya genetik, faktor
lain perlu dipertimbangkan misalnya keadaan prenatal, perinatal
dan postnatal.

Non genetik

Ciaranello (1995)mengatakan etiologi nongenetik meliputi


infeksi prenatal. Menurut Chess (1997) ada peningkatan
insidens setelah pandemi rubella. Infeksi varisela dan
toxoplasmosis prenatal berhubungan dengan terjadinya gangguan
ini. Juga berhubungan dengan riwayat ibu, riwayat kehamilan dan
persalinan. Hipotiroid pada ibu selama kehamilan berkaitan
dengan terjadinya gangguan ini.

Beberapa penelitian melaporkan hubungan antara gejala


gastrointestinal dengan gangguan autistik. D'eufemia dkk,
mengatakan bahwa terdapat peningkatan permeabilitas usus
pada pasien gangguan spektrum autistik. Ini memberi kesan
bahwa disfungsi gastrointestinal berhubungan dengan
gangguan perkembangan pervasif.

Pemeriksaan beberapa penderita Asperger menunjukkan adanya


abnormalitas makroskopis asam amino dengan peningkatan
arginin, ornitin, histidin, treonin dan serin. Jadi memperlihatkan
adanya aminoasiduria.

Davis, Fennoy (1992) menyebutkan bahwa penyalahgunaan zat


berperan untuk terjadinya gejala spektrum autistik pada anak
yang dilahirkan. Penelitian menemukan bahwa penyalahgunaan
kokain dan zat lain dapat berhubungan dengan gangguan ini.
Adanya hubungan temporal antara vaksinasi MMR dan gangguan
spektrum autistik masih diperdebatkan.

Faktor imunitas nampaknya berperan untuk terjadinya gangguan


Asperger. Beberapa penderita menunjukkan disfungsi atau
abnormalitas sejumlah sel T.
Proses penyakitnya adalah akibat langsung dari gangguan di
susunan saraf pusat.

Terjadi hipometabolisme glukosa di cingulata anterior dan


posterior pada penderita gangguan spektrum autistik. Juga
terlihat adanya penyusutan volume girus cingulata anterior
kanan, khususnya area Brodmann's 24.

Wing mengatakan ada riwayat trauma serebral pada pra, peri dan
post-natal.

Gambaran pencitraan otak, memperlihatkan adanya lesi di


substansia alba girus temporal medial kanan. Beberapa
penelitian menggambarkan adanya disfungsi hemisfer
kanan pada gangguan Asperger.

Juga memperlihatkan adanya abnormalitas fasikulus longitudinal


inferior, suatu serabut ipsilateral yang menghubungkan lobus
oksipitalis dan temporalis serta pola aktivitas abnormal di daerah
kortikal temporal ventral. Girus temporal medial dan sulkus
temporal superior yang berbatasan, berperan pada ekspresi
wajah dan kontak mata langsung. Disfungsi lobus frontalis
memperlihatkan adanya defisit fungsi eksekutif.

Pada gangguan Asperger ditemukan adanya ganglioside yang


meningkat bermakna pada cairan serebrospinal.

Semua abnormalitas yang terjadi, berhubungan dengan gejala


klinis dan neuropsikologi.

Bukti neuropatologi yang bervariasi menyebabkan perdebatan


tentang lokasi kerusakan. Laporan terakhir menyebutkan etiologi
penyakit spektrum autistik berhubungan dengan kondisi
biomedis.

GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis penderita gangguan Asperger dalam beberapa
hal sebagai berikut:

Interaksi sosial

Penderita gangguan Asperger mengalami isolasi sosial, tetapi


tidak selalu menarik diri di antara orang lain. Walaupun demikian
pendekatan mereka terhadap orang lain adalah inappropriate
atau dengan cara eksentrik. Mereka menunjukkan perhatian
untuk bersahabat bila bertemu orang lain, tapi selalu terhambat
oleh pendekatan yang kaku dan tidak sensitif terhadap perasaan
orang lain. Mereka juga tidak sensitif atas komunikasi samar-
samar dari orang lain, misalnya tidak memahami tanda
kebosanan, pergi karena terburu-buru dan keadaan yang
memerlukan privacy.

Hal ini menyebabkan kesulitan membina hubungan persahabatan.


Mereka tidak mengerti petunjuk yang halus/samar, gaya bicara
metafora, dan seringkali dianggap konkrit.

mengerti pertanyaan, tetapi tidak dapat menggunakan


pengetahuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah.

Penderita gangguan Asperger tidak dapat mengomentari tujuan


aktivitas sosial, perasaan dan elemen sosial lainnya dari suatu
cerita.

Penderita gangguan ini mampu menjelaskan dengan benar


(kognitif dan cara yang formal) tentang emosi, maksud yang
diharapkan dan aturan sosial. Namun demikian

tidak dapat menerapkan pengetahuan ini secara intuitif dan


spontan, sehingga kehilangan waktu untuk berinteraks.

Terhadap orang lain, mereka sangat kaku, bereaksi tidak sesuai


dan gagal berinterpretasi, serta kurang mempunyai ekspresi
wajah. Mereka kurang peka terhadap lingkungan,
tidak peduli dengan ekspresi emosi orang lain, dan kurang empati
dengan perasaan orang lain, sehingga Gillberg
mengklasifikasikannya ke dalam kelompok gangguan empati.

Saat sedang berbicara, penderita tidak menatap sehingga


memperlihatkan kurang atensi dan kurang berrespons dengan
isyarat sosial.

Dengan demikian menunjukkan komunikasi yang kurang


mendalam.

Gangguan Asperger menyebabkan hambatan untuk mengenal


wajah orang lain. Keadaan ini merupakan inti dari disabilitas
sosial.

Penderita gangguan ini menyenangi lingkungan yang penuh


rutinitas dan terstruktur. Mereka suka dipuji, suka memperoleh
kemenangan, dan mampu menjadi juara, akan

tetapi sering mendapatkan kegagalan, ketidaksempurnaan dan


kritik.

Motorik

Anak dengan gangguan Asperger mempunyai riwayat kemahiran


motorik yang tertunda, seperti mengayuh sepeda, menangkap
bola (tidak ada koordinasi antara kedua tangan).

membuka botol dan panjat-memanjat. Mereka sulit mengikat dasi


atau tali sepatu.

Mereka tampak kurang koordinasi serta menunjukkan pola jalan


yang resmi.

aneh dan sulit untuk berbaris. Terdapat motoric clumsiness.

Menunjukkan kesulitan menulis dengan tangan, sehingga menjadi


malu atau marah karena ketidakmampuan menulis rapi. Mereka
mempunyai kemampuan menggunakan komputer dan keyboard
sehingga lebih memilih komputer daripada menulis tangan.

Tampak jelas terdapat gangguan ketrampilan motorik-visual dan


visuospatial. Mereka mengalami kesulitan menggunting bentuk
dari kertas.

Dalam hal psikomotor mereka menunjukkan gerakan stereotipik

Kognitif

Kemampuan intelektual penderita menetap. Tidak ada defisit


kognitif, namun beberapa penelitian menggambarkan adanya
defisit daya ingat dalam beberapa aspek. Kepustakaan lain
mengatakan bahwa kemampuan daya ingat cukup baik dan
mereka mengingat tanpa berpikir. Penderita Asperger dapat
mengingat dengan seksama fakta, bentuk, data, waktu dan lain-
lain. Mereka tertarik pada topik luar biasa yang mendominasi
pembicaraan mereka.

Mereka mengumpulkan banyak informasi tentang fakta di dunia.

Sejumlah besar topik dikumpulkan dengan semangat. Mereka


mempelajari topik seperti ular, nama binatang, pemandu televisi,
musim, data pribadi anggota kongres, jadwal kereta api dan
astronomi, tanpa pengertian luas dari fenomena yang terlibat.

Mereka unggul dalam bidang matematika dan ilmu pengetahuan.


Mereka dapat mengingat banyak frasa tapi tidak dapat
menggunakannya dalam konteks yang benar.

Pada umumnya IQ mereka normal sampai superior. Verbal IQ lebih


tinggi dibandingkan dengan performance IQAkan tetapi terdapat
gangguan dalam konsep belajar.
Suatu penelitian melalui story-telling memperlihatkan adanya
gangguan imajinasi. Penelitian lain juga mendapatkan gangguan
kreativitas dan imajinasi.

Bahasa

Secara kasar perkembangan bahasa penderita gangguan


Asperger nampak normal, tidak ada kesulitan menempatkan
bahasa. Pasien berbicara agak formal dengan tata bahasa yang
tinggi, sehingga pada awal perkembangan tidak dapat
didiagnosis. Asperger menyebutkannya little professor. Ada tiga
aspek pola komunikasi yang menarik secara klinik pada gangguan
Asperger yaitu :

Pembicaraan ditandai dengan kurangnya prosodi, pola intonasi


terbatas, walaupun nada suara dan intonasi tidak sekaku dan
semonoton gangguan autistik.

Bicaranya terlalu cepat, tersentak-sentak, dengan volume yang


kurang modulasi: misalnya suara keras walaupun lawan bicara
berada dalam jarak dekat. Kurang pertimbangan untuk situasi
sosial tertentu, misalnya di perpustakaan atau pada keadaan
gaduh.

Pembicaraan tangensial dan sirkumstansial, sehingga memberi


kesan suatu asosiasi longgar dan inkoheren.

Sebagian pasien memberi kesan gangguan proses pikir. Gaya


bicara egosentris dengan menggunakan kata-kata harfiah. seperti
monolog tentang nama, kode, atribut di televisi dari berbagai
negara. Gagal memberi alasan atau komentar tentang suatu
pembicaraan dan secara jelas membatasi topik.

Gaya bicara bertele-tele tentang subyek favorit dan tidak peduli


apakah pendengar tertarik,menolak atau mencoba menyelipkan
kata-kata untuk mengganti subyek. Mereka
tidak pernah sampai pada satu titik kesimpulan. Lawan bicara
seringkali gagal mencoba menguraikan masalah atau logika,
ataupun mengalihkan topik.

KRITERIA DIAGNOSTIK

Dahulu para peneliti membuat kriteria diagnosis gangguan


Asperger sendiri yaitu: kriteria diagnostik Wing (1981), Gillberg
and Gillberg (1989), Szatmari dkk (1989), kriteria diagnostik ICD
10 (1990), kriteria diagnostik DSM IV. Sekarang ICD 10 dan DSM
IV digunakan sebagai kriteria diagnosis.

Kriteria diagnosis Gangguan Asperger menurut DSM IV:

Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti yang


ditunjukkan oleh sekurangnya dua dari berikut :

Ditandai gangguan dalam penggunaan perilaku nonverbal


multipel seperti tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan
gerak-gerik untuk mengatur interaksi sosial.

Gagal mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang


sesuai menurut tingkat perkembangan.

Gangguan untuk secara spontan membagi kesenangan, perhatian


atau prestasi dengan orang lain (seperti kurang memperlihatkan,
membawa atau menunjukkan obyek yang menjadi perhatian
orang lain).

Tidak adanya timbal balik sosial dan emosional.

Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan


stereotipik, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang kurangnya
satu dari berikut :

Preokupasi dengan satu atau lebih pola minat yang stereotipik,


dan terbatas, yang abnormal baik dalam intensitas maupun
fokusnya.
Ketaatan yang tampaknya tidak fleksibel terhadap rutinitas atau
ritual yang spesifik dan nonfungsional.

Manerisme motorik stereotipik dan berulang (menjentik dan


mengepak-ngepak tangan atau jari, atau gerakan kompleks
seluruh tubuh).

Preokupasi persisten dengan bagian-bagian obyek.

Gangguan ini menyebabkan gangguan yang bermakna secara


klinis dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.

Tidak terdapat keterlambatan menyeluruh yang bermakna secara


klinis dalam bahasa (misalnya, menggunakan kata tunggal pada
usia 2 tahun, frasa komunikatif digunakan pada usia 3 tahun).

Tidak terdapat keterlambatan bermakna secara klinis dalam


perkembangan kognitif atau dalam perkembangan ketrampilan
menolong diri sendiri dan perilaku adaptif yang sesuai dengan
usia (selain dalam interaksi sosial), dan keingintahuan tentang
lingkungan pada masa kanak-kanak.

Tidak memenuhi kriteria untuk gangguan pervasif spesifik atau


skizofrenia.

Klasifikasi gangguan perkembangan pervasif yang ada sekarang


ini kurang memuaskan orang tua yang mempunyai anak dengan
gangguan ini, klinikus dan peneliti akademik.

Karena reliabilitas dan validitas dari data empirik gangguan ini,


dianjurkan pendekatan baru untuk klasifikasinya.

PENATALAKSANAAN
Pada dasarnya adalah suportif dan simtomatis; meliputi beberapa
aspek antara lain ketrampilan sosial dan komunikasi, orangtua,
pendidikan, pekerjaan dan terapi yang lain.

Ketrampilan sosial dan komunikasi

Penderita Asperger mempunyai kecenderungan menggantungkan


diri pada aturan yang kaku dan rutinitas. Keadaan ini dapat
digunakan untuk mengembangkan kebiasaan yang positif dan
meningkatkan kualitas hidup. Strategi menyelesaikan masalah
diajarkan untuk menangani keadaan yang sering terjadi, situasi
sulit seperti terlibat dengan hal baru, kebutuhan sosial dan
frustrasi. Dibutuhkan latihan untuk mengenal situasi sulit dan
memilih strategi yang pernah dipelajari untuk situasi seperti itu.

Program Behavioral Modification dilakukan untuk melatih anak


agar bersikap lebih layak dan dapat diterima secara sosial.

Dalam program ini yang diintervensi adalah

Rutinitas harian.

Pengendalian temper tantrum

Komunikasi

Aspek emosi

Ketrampilan sosial dan komunikasi sebaiknya diajarkan oleh ahli


komunikasi untuk berbicara pragmatis. Keadaan ini dapat
dilakukan dalam terapi dua orang atau terapi kelompok kecil.

Terapi komunikasi meliputi:

Perilaku nonverbal yang sesuai (cara memandang untuk interaksi


sosial, memonitor dan mencontoh perubahan suara).

Membaca kode verbal dari perilaku nonverbal orang lain

Social awareness.
Perspective taking skill

Interpretasi yang benar untuk komunikasi yang berarti ganda.

Kelompok self support dapat membantu penderita Asperger.

Pengalaman kecil pada kelompok self-support memberi kesan


bahwa individu dengan gangguan Asperger menikmati
kesempatan tertentu dengan orang lain. Ia dapat
mengembangkan hubungan di sekitar aktivitasnya dengan orang
lain untuk membagi perhatian. Perhatian khusus dibuat untuk
menciptakan kesempatan sosial melalui kelompok minat.

Mereka membutuhkan kasih sayang, kelembutan hati, kepedulian,


kesabaran dan pengertian. Jika mereka mendapatkannya,
sedikitnya dapat lebih terlibat dalam masyarakat.

Orang tua

Orang tua berperan sangat besar dalam penatalaksanaan


gangguan Asperger. Beberapa strategi yang menolong orangtua
untuk menghadapi anaknya :

Buatlah pembicaraan yang sederhana sesuai dengan tingkat


pengertian mereka

Buatlah instruksi yang sederhana untuk pekerjaan yang rumit


dengan menggunakan daftar atau gambar.

Mencoba mengkonfirmasi apakah mereka mengerti apa yang


dibicarakan atau ditanyakan. Jangan membuat pertanyaan yang
cukup dijawabYes/No.

Jelaskan bahwa mereka harus menatap saat berbicara dengan


orang lain, beri semangat, pujian untuk prestasi, khususnya pada
saat mereka menggunakan ketrampilan sosial tanpa disuruh.

Untuk anak kecil yang tampaknya tidak mau mendengar,


berbicara dengan dinyanyikan akan lebih bermanfaat.
Berilah pilihan yang dibatasi dua atau tiga pilihan.

Pendidikan

Sangat bermanfaat jika anak dimasukkan ke sekolah yang


memahami kesulitan anak dan orangtuanya. Guru harus
menyadari bahwa muridnya mempunyai gangguan
perkembangan dan berbeda dari murid lain. Ketrampilan, konsep,
prosedur yang teratur, strategi kognitif dan norma-norma perilaku
dapat diajarkan dengan efektif.

Beberapa prinsip umum sekolah agar dapat diaplikasikan pada


anak dengan gangguan Asperger :

Rutinitas kelas harus konsisten, terstruktur, dan sebisa mungkin


dapat diramalkan. Mereka harus dipersiapkan terlebih dahulu.
Termasuk jadual istirahat, hari libur dan sebagainya.

Aturan diterapkan dengan seksama. Beberapa anak kaku dengan


aturan. Pedoman dan aturan diterangkan dengan jelas, akan
menolong jika melalui tulisan.

Guru mengambil kesempatan pada bidang yang menjadi


perhatian anak saat mengajar. Anak akan belajar dengan baik dan
memperlihatkan motivasi dan perhatian yang besar bila sesuai
dengan yang dijadualkan.

Banyak anak gangguan Asperger berespons baik secara visual


dengan alat seperti : jadual, chart, list, gambar dsb.

Secara umum mengajar dengan konkrit. Hindari gaya bahasa


yang sulit dimengerti seperti sarkasme, idiom dan sebagainya.

Strategi mengajar didaktik dan eksplisit dapat membantu anak


memperoleh kecakapannya pada bidang fungsi eksekutif.

Pastikan bahwa staf lain seperti guru olahraga, sopir bus, petugas
perpustakaan dan kafetaria mengetahui keadaan anak.
Lakukanlah pendekatan terhadap mereka.

Pekerjaan

Dalam pekerjaan, manfaatkan kemampuan mereka untuk dapat


mandiri. Kemandirian dalam berbagai bidang menjadi prioritas.

Penderita gangguan Asperger dilatih dan ditempatkan pada


pekerjaan yang mendapat dukungan dan perlindungan dengan
demikian mereka tidak akan mengalami gangguan psikologik.
Sebaiknya pekerjaan mereka tidak melibatkan tuntutan sosial
yang intensif, tekanan waktu atau membutuhkan perubahan
cepat. Jangan ditempatkan pada situasi baru yang membutuhkan
pemecahan masalah.

Terapi lain

Diberikan psikoterapi dan terapi okupasi. Psikoterapi suportif


dapat menolong penderita agar dapat beradaptasi dengan
perasaan sedih, frustrasi dan ansietas. Keadaan yang langsung
terfokus pada pemecahan masalah lebih berguna daripada
pendekatan berorientasi tilikan (insight). Terapi okupasi sangat
dibutuhkan, diberikan oleh seorang terapis yang berpengalaman,
untuk melatih koordinasi gerakan.

Intervensi farmakologi tak kalah penting untuk menghilangkan


gejala dan psikopatologi lain.

Diutamakan jika ada gejala agresivitas dan self injuries. Golongan


antagonis serotonin dopamin seperti risperidone, olanzapine,
quetiapine dan serotonin selective reuptake

inhibitor seperti fluoxetin menurut kepustakaan sangat baik untuk


gangguan Asperger. Clomipramine efektif untuk terapi gejala
obsesi kompulsi pada gangguan ini. Terapi stimulan bermanfaat
untuk mengatasi gangguan atensi.

Nutrisi dapat menolong anak dengan gangguan Asperger.


Makanan bebas gluten dan kasein sangat dianjurkan. Hal ini
berdasarkan pada hipotesis opioid pada autisme. Mega dosis
vitamin dan mineral dianjurkan pada penatalaksanaan gangguan
spektrum autisme. Diet bebas fenol dan salisilat, gula, zat aditif,
jamur/fermentasi dianjurkan dengan menggunakan rotasi diet.

Integrasi sensorik dilakukan pada anak gangguan spektrum


autisme dengan tujuan untuk memperbaiki sistem registrasi dan
modulasi dari berbagai input sensorik, memfasili-

tasi fungsi regulasi, memfasilitasi proses dari berbagai input


sensorik, dan membantu perkembangan praksis dan ketrampilan
untuk memecahkan masalah.

ADHD :
ADHD
DEFINISI
Gangguan ini ditandai dengan adanya ketidakmampuan
anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang
dihadapi, sehingga rentang perhatiannya sangat singkat
waktunya dibandingkan anak lain yang seusia,

Biasanya disertai dengan gejala hiperaktif dan tingkah laku


yang impulsif.
Kelainan ini dapat mengganggu perkembangan anak dalam
hal kognitif,
perilaku, sosialisasi maupun komunikasi.

POLA PERHATIAN
A. Over Exklusif: anak hanya fokus pada suatu yang menarik
perhatiannya
tanpa mempedulikan hal lain secara ekstrim (Autism).

B. Perhatian mudah teralihkan & hanya mampu bertahan


beberapa saat
saja oleh suatu rangsangan lain yang mungkin tidak adekuat
(ADHD).

C. Hiperaktifitas: suatu peningkatan aktifitas motorik hingga


pada tingkat
tertentu ya menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi,
setidaknya
pada dua tempat dan suasana yg berbeda.

Gejala ADHD

1. In-atensi

Tidak memperhatikan

Gagal menyelesaikan tugas

Tidak rapi

Menghindari usaha yang berkepanjangan

Kehilangan, pelupa

Perhatian mudah beralih

2. Hiperaktivitas

Gelisah

Meninggalkan kursi di kelas

Berlari / memanjat berlebihan

Tidak dapat diam dalam bermain/berkerja

Selalu dalam keadaan tergesa-gesa

Bicara berlebihan


3. Impulsivitas

Tergesa-gesa menjawab

Tidak bisa menunggu giliran

Menginterupsi orang lain

Mengganggu orang lain


PATOGENESIS DAN ETIOLOGI
Penyebab pasti dan patologi ADHD masih belum
terungkap secara jelas. Seperti halnya gangguan
autism, ADHD merupakan statu kelainan yang bersifat
multi faktorial. Banyak factor yang dianggap sebagai
peneyebab gangguan ini, diantaranya adalah faktor
genetik, perkembangan otak saat kehamilan, perkembangan
otak saat perinatal, tingkat kecerdasan (IQ), terjadinya
disfungsi metabolisme, ketidak teraturan hormonal,
lingkungan fisik, sosial dan pola pengasuhan anak oleh
orang tua, guru dan orang-orang yang berpengaruh di
sekitarnya.

Banyak penelitian menunjukkan efektifitas


pengobatan dengan psychostimulants, yang
memfasilitasi pengeluaran dopamine dan
noradrenergic tricyclics. Kondisi ini mengungatkan
sepukalsi adanya gangguan area otak yang dikaitkan
dengan kekuirangan neurotransmitter. Sehingga
neurotransmitters dopamine and norepinephrine
sering diokaitkan dengan ADHD..

Faktor genetik tampaknya memegang peranan


terbesar terjadinya gangguan perilaku ADHD.
Beberapa penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa
hiperaktifitas yang terjadi pada seorang anak selalu disertai
adanya riwayat gangguan yang sama dalam keluarga
setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Didapatkan
juga sepertiga ayah penderita hiperaktif juga
menderita gangguan yang sama pada masa kanak
mereka. Orang tua dan saudara penderita ADHD
mengalami resiko 2-8 kali lebih mudah terjadi ADHD,
kembar monozygotic lebih mudah terjadi ADHD
dibandingkan kembar dizygotic juga menunjukkan
keterlibatan fator genetic di dalam gangguan ADHD.
Keterlibatan genetik dan kromosom memang masih
belum diketahui secara pasti. Beberapa gen yang
berkaitan dengan kode reseptor dopamine dan
produksi serotonin, termasuk DRD4, DRD5, DAT, DBH,
5-HTT, dan 5-HTR1B, banyak dikaitkan dengan ADHD.

Penelitian neuropsikologi menunjukkkan kortek


frontal dan sirkuit yang menghubungkan fungsi
eksekutif bangsal ganglia. Katekolamin adalah fungsi
neurotransmitter utama yang berkaitan dengan
fungsi otak lobus frontalis. Dopaminergic dan
noradrenergic neurotransmission tampaknya
merupakan target utama dalam pengobatan ADHD.

Teori lain menyebutkan kemungkinan adanya


disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh
dopamin sebagai neurotransmitter pencetus gerakan
dan sebagai kontrol aktifitas diri. Akibat gangguan
otak yang minimal, yang menyebabkan terjadinya
hambatan pada sistem kontrol perilaku anak. Dalam
penelitian yang dilakukan dengan menggunakan
pemeriksaan MRI didapatkan gambaran disfungsi
otak di daerah mesial kanan prefrontal dan striae
subcortical yang mengimplikasikan terjadinya
hambatan terhadap respon-respon yang tidak relefan
dan fungsi-fungsi tertentu. Pada penderita ADHD
terdapat kelemahan aktifitas otak bagian korteks
prefrontal kanan bawah dan kaudatus kiri yang
berkaitan dengan pengaruh keterlambatan waktu
terhadap respon motorik terhadap rangsangan
sensoris.

Beberapa peneliti lainnya mengungkapkan teori


maturation lack atau suatu kelambanan dalam proses
perkembangan anak-anak dengan ADHD. Menurut teori ini,
penderita akhirnya dapat mengejar keterlambatannya dan
keadaan ini dipostulasikan akan terjadi sekitar usia pubertas.
Sehingga gejala ini tidak menetap tetapi hanya sementara
sebelum keterlambatan yang terjadi dapat dikejar.
Beberapa peneliti mengungkapkan penderita ADHD
dengan gangguan saluran cerna sering berkaitan dengan
penerimaan reaksi makanan tertentu. Teori tentang
alergi terhadap makanan, teori feingold yang
menduga bahwa salisilat mempunyai efek kurang baik
terhadap tingkah laku anak, serta teori bahwa gula
merupakan substansi yang merangsang hiperaktifitas
pada anak. Disebutkan antara lain tentang teori
megavitamin dan ortomolecular sebagai terapinya
Kerusakan jaringan otak atau 'brain damage yang
diakibatkan oleh trauma primer dan trauma yang
berulang pada tempat yang sama. Kedua teori ini layak
dipertimbangkan sebagai penyebab terjadinya syndrome
hiperaktifitas yang oleh penulis dibagi dalam tiga kelompok.
Dalam gangguan ini terjadinya penyimpangan struktural
dari bentuk normal oleh karena sebab yang
bermacam-macam selain oleh karena trauma.
Gangguan lain berupa kerusakan susunan saraf pusat
(SSP) secara anatomis seperti halnya yang
disebabkan oleh infeksi, perdarahan dan hipoksia.
Perubahan lainnya terjadi gangguan fungsi otak tanpa
disertai perubahan struktur dan anatomis yang jelas.
Penyimpangan ini menyebabkan terjadinya hambatan
stimulus atau justru timbulnya stimulus yang berlebihan
yang menyebabkan penyimpangan yang signifikan dalam
perkembangan hubungan anak dengan orang tua dan
lingkungan sekitarnya.
Penelitian dengan membandingkan gambaran MRI
antara anak dengan ADHD dan anak normal, ternyata
menghasilkan gambaran yang berbeda, dimana pada anak
dengan ADHD memiliki gambaran otak yang lebih
simetris dibandingkan anak normal yang pada
umumnya otak kanan lebih besar dibandingkan otak
kiri.
Dengan pemeriksaan radiologis otak PET (positron
emission tomography) didapatkan gambaran bahwa pada
anak penderita ADHD dengan gangguan hiperaktif yang
lebih dominan didapatkan aktifitas otak yang berlebihan
dibandingkan anak yang normal dengan mengukur
kadar gula (sebagai sumber energi utama aktifitas otak)
yang didapatkan perbedaan yang signifikan antara penderita
hiperaktif dan anak normal.

Sumber:

Dr Widodo Judarwanto Sp,A dalam penatalaksanaan


attention deficit hyperactive disorders pada anak,
htpp://www.childrenfamily.com dan QUANTUM SPECIAL
NEED TRAINING CENTER: PEDOMAN DIAGNOSIS
Klasifikasi :

1 1. In-atensi (paling menonjol

2 2. Hiperaktif dan impulsive)

3 3. Gabungan ketiganya

4 4. Remisi parsial

5 5. Tak tergolongkan

KRITERIA DIAGNOSIS
Kriteria diagnostik hiperaktifitas adalah ditemukannya 6
gejala atau lebih yang menetap setidaknya selama 6 bulan.
Gejala-gejala diatas biasanya timbul sebelum umur 7 tahun,
dialami pada 2 atau lebih suasana yang berbeda (di
sekolah, di rumah atau di klinik dll), disertai adanya
hambatan yang secara signifikan dalam kehidupan sosial,
prestasi akademik dan sering salah dalam menempatkan
sesuatu, serta dapat pula timbul bersamaan dengan
terjadinya kelainan perkembangan, skizofrenia atau
kelainan psikotik lainnya.

Sumber:

Dr Widodo Judarwanto Sp,A dalam penatalaksanaan


attention deficit hyperactive disorders pada anak,
htpp://www.childrenfamily.com
Beberapa obat yang dipergunakan. Menurut beberapa
penelitian dan pengalaman klinis banyak obat yang telah
diberikan pada penderita ADHD, diantaranya adalah :
antidepresan, Ritalin (Methylphenidate HCL) ,
Dexedrine (Dextroamphetamine
saccharate/Dextroamphetamine sulfate) , Desoxyn
(Methamphetamine HCL), Adderall
(Amphetamine/Dextroamphetamine), Cylert
(Pemoline), Busiprone (BuSpar), Clonidine
(Catapres). Methylphenidate, merupakan obat yang paling
sering dipergunakan, meskipun sebenarnya obat ini
termasuk golongan stimulan, tetapi pada ksus hiperaktif
sering kali justru menyebabkan ketenangan bagi
pemakainanya. Selain methylphenidate juga dipakai Ritalin
dalam bentuk tablet, memilki efek terapi yang cepat,
setidaknya untuk 3-4 jam dan diberikan 2 atau 3 kali dalam
sehari. Methylphenidate juga tersedia dalam bentuk dosis
tunggal. Dextroamphetamine merupakan obat lain yang
dipergunakan.
Ritalin atau methylphenidate, obat stimulan yang
biasa diberikan pada anak penyandang ADHD
ternyata dapat menyebabkan perubahan struktur sel
otak untuk jangka waktu lama, ilmuwan melaporkan.
Joan Baizer profesor fisiologi dan biofisika dari University of
Buffalo mengungkapkan pemberian Ritalin setiap hari
selama bertahun tahun pada sel otak tikus terlihat sama
seperti yang diakibatkan oleh amphetamin atau kokain. Para
ilmuwan tersebut melakukan penelitian pada tikus yang
diberikan susu dicampur dengan Ritalin dengan dosis yang
sama diberikan pada anak anak. Para ilmuwan mendapatkan
gen c-fos menjadi aktif setelah diberikan Ritalin. Hal yang
sama terjadi pada tikus yang diberikan amphetamin dan
kokain.

Terapi nutrisi dan diet banyak dilakukan dalam


penanganan penderita. Diantaranya adalah keseimbangan
diet karbohidrat, penanganan gangguan pencernaan
(Intestinal Permeability or "Leaky Gut Syndrome"),
penanganan alergi makanan atau reaksi simpang
makanan lainnya. Feingold Diet dapat dipakai sebagai
terapi alternatif yang dilaporkan cukup efektif. Suatu
substansi asam amino (protein), L-Tyrosine, telah diuji-
cobakan dengan hasil yang cukup memuaskan pada
beberapa kasus, karena kemampuan L-Tyrosine mampu
mensitesa (memproduksi) norepinephrin (neurotransmitter)
yang juga dapat ditingkatkan produksinya dengan
menggunakan golongan amphetamine.

Beberapa terapi biomedis dilakukan dengan pemberian


suplemen nutrisi, defisiensi mineral, essential Fatty Acids,
gangguan metabolisme asam amino dan toksisitas Logam
berat. Terapi inovatif yang pernah diberikan terhadap
penderita ADHD adalah terapi EEG Biofeed back, terapi
herbal, pengobatan homeopatik dan pengobatan tradisional
Cina seperti akupuntur.

Terapi yang diterapkan terhadap penderita ADHD


haruslah bersifat holistik dan menyeluruh. Penanganan
ini harus melibatkan multi disiplin ilmu yang dikoordinasikan
antara dokter, orangtua, guru dan lingkungan yang
berpengaruh terhadap penderita. Untuk mengatasi gejala
gangguan perkembangan dan perilaku pada
penderita ADHD yang sudah ada dapat dilakukan
dengan terapi okupasi. Ada beberapa terapi okupasi
untuk memperbaiki gangguan perkembangan dan perilaku
pada anak yang mulai dikenalkan oleh beberapa ahli
perkembangan dan perilaku anak di dunia, diantaranya
adalah sensory Integration (AYRES), snoezelen,
neurodevelopment Treatment (BOBATH), modifukasi Perilaku,
terapi bermain dan terapi okupasi lainnya

Kebutuhan dasar anak dengan gangguan perkembangan


adalah sensori. Pada anak dengan gangguan perkembangan
sensorinya mengalami gangguan dan tidak terintegrasi
sensorinya. Sehingga pada anak dengan gangguan
perkembangan perlu mendapatkan pengintegrasian sensori
tersebut. Dengan terapi sensori integration. Sensori
integration adalah pengorganisasian informasi
melalui beberapa jenis sensori di anataranya adalah
sentuhan, gerakan, kesadaran tubuh dan grafitasi,
penglihatan, pendengaran, pengecapan, dan
penciuman yang sangat berguna untuk menghasilkan
respon yang bermakna. Beberapa jenis terapi sensori
integration adalah memberikan stimulus vestibular,
propioseptif dan taktil input. Menurunkan tactile
defensivenes dan meningkatkan tactile discrimanation.
Meningkatkan body awareness berhubungan dengan
propioseptik dan kinestetik. Selain sensory integration terapi
sensori lain yang dikenbal dalam terapi gangguan
perkembangan dan perilaku adalah Snoezelen. Snoezelen
adalah sebuah aktifitas yang dirancang mempengaruhi
system Susunan Saraf pusat melalui pemberian stimuli yang
cukup pada system sensori primer seperti penglihatan,
pendengaran, peraba, perasa lidah dan pembau. Disamping
itu juga melibatkan sensori internal seperti vestibular dan
propioseptof untuk mencapai relaksasi atau aktivasi
seseorang untuk memperbaiki kualitas hidupnya

Neurodevelopment treatment (NDT) atau Bobath adalah


terapi sensorimotor dalam menangani gangguan sensoris
motor. Terapi NDT dipakai bertujuan untuk
meningkatkan kualitas motorik penderita. Tehnik
dalam terapi ini adalah untuk memfokuskan pada
fungsi motorik utama dan kegiatan secara langsung.

Terapi modifikasi perilaku harus melalui pendekatan


perilaku secara langsung, dengan lebih memfokuskan
pada perunahan secara spesifik. Pendekatan ini cukup
berhasil dalam mengajarkan perilaku yang diinginkan,
berupa interaksi sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri.
Selain itu juga akan mengurangi perilaku yang tidak
diinginkan, seperti agrsif, emosi labil, self injury dan
sebagainya. Modifikasi perilaku, merupakan pola
penanganan yang paling efektif dengan pendekatan positif
dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustrasi,
marah, dan berkecil hati menjadi suatu perasaan yang
penuh percaya diri.

Terapi bermain sangat penting untuk


mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak,
minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan
kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok.
Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk
beraktifitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain
digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana
sarana tersebut dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan
ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi.

Sumber:

Dr Widodo Judarwanto Sp,A dalam penatalaksanaan


attention deficit hyperactive disorders pada anak,
htpp://www.childrenfamily.com

Autisme :

AUTISME
Etiologi
Teori Berpandangan Psikoanalitik
Teori awal yang menjelaskan autisme dari sudut pandang
psikologis adalah teori Refrigerator Mother. Teori ini
dikembangkan oleh Bruno Bettelheim, yang berpendapat
bahwa autisme disebabkan oleh pengasuhan ibu yang
tidak hangat, sehingga anak- anak autistik cenderung
menarik diri dan bersibuk diri dengan dunianya
Oleh Margareth Mahler. Menurutnya, anak-anak autistik
mengalami kerusakan yang parah pada egonya karena
sejak lahir tidak mampu dan tidak tertarik
menjadikan ibu atau orang-orang lain sebagai patner
dalam melakukan eksplorasi terhadap dunia luar dan
dunia dalamnya.

Teori Berpandangan Kognitif


Theory of Mind (ToM) yang dikembangkan oleh Simon Baron-
Cohen, Alan Leslie, dan Uta Frith (Jordan, 1999; Frith, 2003),
anak-anak autistik memiliki kesulitan untuk
mengetahui pikiran dan perasaan orang lain yang
berakibat mereka tidak mampu memprediksi tingkah
laku orang tersebut.

Teori Berpandangan Neurologis


teori executive functioning (EF). Menurut Ozonoff (dalam
Jordan, 1999; Frith, 2003)
masalah pada anak autistik mungkin disebabkan oleh
kegagalan dalam melaksanakan tugas atau masalah
dalam melakukan fungsi eksekutif, bukan defisit
kompetensi. Fungsi eksekutif antara lain adalah
kemampuan untuk melakukan sejumlah tugas secara
bersamaan, berpindah-pindah fokus perhatian,
membuat keputusan tingkat tinggi, membuat
perencanaan masa depan, dan menghambat respon
yang tidak tepat.

Autisme
Sebagai Gejala Neurologis
(Courchesne, Redcay, Morgan, & Kennedy, 2005)
menghasilkan hipotesis baru. Para peneliti berpendapat
bahwa pada saat lahir bayi autistik memiliki ukuran
otak yang normal. Namun setelah mencapai usia dua
atau tiga tahun, ukuran otak mereka membesar
melebihi normal, terutama pada lobus frontalis dan
otak kecil, yang disebabkan oleh pertumbuhan white
matter dan gray matter yang berlebihan. Sementara
sel saraf yang ada lebih sedikit dibandingkan pada
otak normal dan kekuatannya juga lebih lemah. Kondisi
inilah yang tampaknya berkaitan dengan gangguan pada
perkembangan kognitif, bahasa, emosi dan interaksi sosial.
Sumber:
Dr Widodo Judarwanto Sp,A dalam penatalaksanaan
attention deficit hyperactive disorders pada anak,
htpp://www.childrenfamily.com

GAMBARAN KLINIS:
Gangguan dalam komunikasi verbal maupun
nonverbal meliputi kemampuan berbahasa mengalami
keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara.
Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan
arti yang lazim digunakan.Berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi
dalam waktu singkat. Kata-kata yang tidak dapat dimengerti
orang lain ("bahasa planet"). Tidak mengerti atau tidak
menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai. Ekolalia
(meniru atau membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu
tanpa tahu artinya. Bicaranya monoton seperti robot. Bicara
tidak digunakan untuk komunikasi dan imik datar

Gangguan dalam bidang interaksi sosial meliputi


gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka.
Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli.
Merasa tidak senang atau menolak dipeluk. Bila
menginginkan sesuatu, menarik tangan tangan orang yang
terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu
untuknya. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain.
Saat bermain bila didekati malah menjauh. Bila
menginginkan sesuatu ia menarik tangan orang lain dan
mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu
untuknya.

Gangguan dalam bermain diantaranya adalah bermain


sangat monoton dan aneh misalnya menderetkan sabun
menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada
mainan mobil dan mengamati dengan seksama dalam
jangka waktu lama. Ada kelekatan dengan benda tertentu
seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang
dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu mainan tidak
mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, tetapi lebih
menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang
karet, baterai atau benda lainnya Tidak spontan, reflek dan
tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru
tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan
yang bersifat pura pura. Sering memperhatikan jari-jarinya
sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak.
Perilaku yang ritualistik sering terjadi sulit mengubah
rutinitas sehari hari, misalnya bila bermain harus melakukan
urut-urutan tertentu, bila bepergian harus melalui rute yang
sama.

Gangguan perilaku dilihat dari gejala sering dianggap


sebagai anak yang senang kerapian harus menempatkan
barang tertentu pada tempatnya. Anak dapat terlihat
hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru
pertama kali ia datang, ia akan membuka semua pintu,
berjalan kesana kemari, berlari-lari tak tentu arah.
Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan
tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti
diri sendiri seperti memukul kepala atau membenturkan
kepala di dinding. Dapat menjadi sangat hiperaktif atau
sangat pasif (pendiam), duduk diam bengong dengan tatap
mata kosong. Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat
sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas
ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya.
Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri.
Gangguan kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan
perilaku lainnya.
Gangguan perasaan dan emosi dapat dilihat dari perilaku
tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab
nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum),
terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum)bila
keinginannya tidak didapatkannya, bahkan bisa menjadi
agresif dan merusak.. Tidak dapat berbagi perasaan (empati)
dengan anak lain

Gangguan dalam persepsi sensoris meliputi perasaan


sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan,
penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.
Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa
saja. Bila mendengar suara keras, menutup telinga.
Menangis setiap kali dicuci rambutnya. Meraskan tidak
nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai rabaan
atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau
melepaskan diri dari pelukan.
Sumber:
Dr Widodo Judarwanto Sp,A . Deteksi Dini dan
Skrening Autis dalam
htpp://www.alergianak.bravehost.com

DIAGNOSIS
Dalam DSM-IV-R, secara ringkas kriteria diagnostik gangguan
autistik adalah
sebagai berikut:
1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial timbal
balik:
a. gangguan yang nyata dalam berbagai tingkah laku non
verbal seperti kontak mata,
ekspresi wajah, dan posisi tubuh;
b. kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan
teman sebaya sesuai dengan
tingkat perkembangan;
c. kurangnya spontanitas dalam berbagi kesenangan, minat
atau prestasi dengan orang
lain; dan
d. kurang mampu melakukan hubungan sosial atau
emosional timbal balik.
2. Gangguan kualitatif dalam komunikasi:
a. keterlambatan perkembangan bahasa atau tidak bicara
sama sekali;
b. pada individu yang mampu berbicara, terdapat gangguan
pada kemampuan
memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang
lain;
c. penggunaan bahasa yang stereotip, repetitif atau sulit
dimengerti; dan
d. kurangnya kemampuan bermain pura-pura
3. Pola-pola repetitif dan stereotip yang kaku pada
tingkah laku, minat dan aktivitas:
a. preokupasi pada satu pola minat atau lebih;
b. infleksibilitas pada rutinitas atau ritual yang spesifik dan
non fungsional;
c. gerakan motor yang stereotip dan repetitif; dan
d. preokupasi yang menetap pada bagian-bagian obyek.
Seorang anak dapat didiagnosis memiliki gangguan
autistik bila simtom-simtom di atas telah tampak
sebelum anak mencapai usia 36 bulan.

KRITERIA DIAGNOSTIK
Autistik (Autistic Disorder) berbeda dengan gangguan Rett (Retts
Disorder), gangguan disintegatif masa anak (Childhood Disintegrative
Disorder) dan gangguan Asperger (Aspergers Disorder). Secara detail,
menurut DSM IV, kriteria gangguan autistik adalah sebagai berikut:
A. Harus ada total 6 gejala dari (1), (2) dan (3), dengan minimal 2 gejala
dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3):
1. Kelemahan kwalitatif dalam interaksi sosial, yang termanifestasi
dalam sedikitnya 2 dari beberapa gejala berikut ini:
a Kelemahan dalam penggunaan perilaku non-verbal, seperti kontak
mata, ekspresi wajah, sikap tubuh, gerak tangan dalam interaksi
sosial.
b Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman
sebaya sesuai dengan tingkat perkembangannya.
c Kurangnya kemampuan untuk berbagi perasaan dan empati
dengan orang lain.
d Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang
timbal balik.
2. Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1
dari gejala berikut ini:
a Perkembangan bahasa lisan (bicara) terlambat atau sama sekali
tidak berkembang dan anak tidak mencari jalan untuk
berkomunikasi secara non-verbal.
b Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak digunakan untuk
berkomunikasi.
c Sering menggunakan bahasa yang aneh, stereotype dan berulang-
ulang.
d Kurang mampu bermain imajinatif (make believe play) atau
permainan imitasi sosial lainnya sesuai dengan taraf
perkembangannya.
3. Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas, berulang.
Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini:
a Preokupasi terhadap satu atau lebih kegiatan dengan fokus dan
intensitas yang abnormal atau berlebihan.
b Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas
c Gerakan-gerakan fisik yang aneh dan berulang-ulang seperti
menggerak-gerakkan tangan, bertepuk tangan, menggerakkan
tubuh.
d Sikap tertarik yang sangat kuat atau preokupasi dengan bagian-
bagian tertentu dari obyek.
B. Keterlambatan atau abnormalitas muncul sebelum usia 3 tahun minimal
pada salah satu bidang (1) interaksi sosial, (2) kemampuan bahasa dan
komunikasi, (3) cara bermain simbolik dan imajinatif.
C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa
Anak.

PEDOMAN DALAM MELAKUKAN OBSERVASI UNTUK KEPERLUAN


DIAGNOSIS ANAK DENGAN GANGGUAN AUTIS.

Ada beberapa gejala yang harus diperhatikan sebagai pedoman dalam


melakukan diagnosis, sebagai berikut:
A Kemungkinan simptom atau gejala diusia 3-5 tahun
1 Tidak melakukan kontak mata dengan baik.
2 Tidak tertarik dengan orang lain dan lebih suka bermain sendirian.
3 Menunjukka respon yang tidak biasa yang mengganggu orang lain.
4 Menggunakan bahasa yang berbeda dengan anak-anak lain (sangat
sedikit berbahasa, berbahasa dengan baik tapi diulang-ulang,
mengulangi kata-kata dari film, video atau program TV, ekolalia, sulit
mengerti perkataan orang lain.
5 Punya sedikit atau tidak tertarik dengan permainan imajinasi.
6 Tidak tertarik bergabung dalam permainan kelompok.
7 Sangat terpaku pada beberapa permainan atau permainan tertentu.
8 Perilaku sangat rutinitas.
9 Membuat gerakan tidak biasa seperti berputar atau berayun.
10 Sangat senditif dengan suara
11 Sangat sensitif dengan bau-bauan.
12 Sangat sensitif dengan sentuhan.
B Kemungkinan simptom atau gejala diusia 6 11 tahun
1 Melakukan kontak mata yang buruk.
2 Tidak suka menggunakan sikap seperti menunjuk, memberi tanda,
melambai.
3 Tidak punya teman sebaya.
4 Tidak menunjukkan pekerjaannya kepada guru meskipun diminta.
5 Lebih sulit berbagi dengan anak-anak lain.
6 Sulit untuk saling bergantian, dan selalu ingin menjadi yang pertama.
7 Tampak tidak peduli dengan perasaan anak-anak lain.
8 Mengatakan hal yang sama berulang-ulang.
9 Tidak ingin dan tidak menikmati permainan berpura-pura.
10 Tidak mudah berbicara dengannya, tentang apa yang ingin anda
bicarakan.
11 Bicara dengan cara yang tidak biasa (intonasi).
12 Ingin bermain dengan benda yang sama selama periode waktu yang
panjang.
13 Mengepakkan tangannya atau membuat gerakan aneh saat kesal
atau bersemangat.
C Kemungkinan simptom atau gejala diusia 12 17 tahun
1 Sulit membuat kontak mata.
2 Membuat ekspresi wajah yang datar atau tidak biasa.
3 Sulit memiliki atau mempertahankan teman.
4 Menunjukkan pemahaman buruk atas kebutuhan orang lain dalam
pembicaraan.
5 Mengalami kesulitan memperkirakan apa yang orang lain pikirkan.
6 Menunjukkan sikap yang tidak dapat diterima secara sosial.
7 Menunjukkan kebutuhan obsesif atau rutinitas.
8 Menunjukkan sikap kompulsif.
PENYEBAB AUTISME
Sampai dengan saat ini belum ada ketentuan yang pasti tentang
penyebab gangguan autism ini, ada beberapa anggapan sebagai berikut:
A Teori Psikoanalitik (efrigerator mother). Menurut teori ini, Autism
disebabkan pengasuhan ibu yang tidak hangat (Bruno Bettelheim).
B Teori berpandangn kognitif (Theory of Mind). Menurut teori ini, Autis
disebabkan ketidak mampuan membaca pikiran orang lain
mindblindness (Baron-Ohen, Alan Leslie).
C Autisme sebagai gejala neurologis atau gangguan Neuro-Anatomi dan
Bio-Kimiawi Otak. Menurut penelitian yang ada, 43% dari penyandang
autism mempunyai kelainan yang khas didalam lobus parientalisnya
(menyebabkan keterbatasan perhatian terhadap lingkungan), menurut
Eric Courchesne dari Department of Neurososciences, School of Medicine,
University of California, SanDiego, para penyandang autisme memiliki
cerebellum yang lebih kecil (bertanggung jawab terhadap proses sensori,
daya ingat, berpikir, bahasa, dan perhatian).
D Teori Biologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh Faktor genetik.
E Teori Imunologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh infeksi virus.
BEBERAPA GANGGUAN YANG MENYERTAI AUTIS
A Gangguan sulit tidur dan makan.
B Gangguan afek dan mood.
C Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
D Gangguan kejang (10 25 %).
E Kondisi fisik yang khas (anak autis 2 -7 tahun lebih pendek dibanding
anak seusianya).

PENGGOLONGAN AUTISM
A Autism (autisme masa anak-anak).
B Autisme atipikal atau Pervasive Develompmental Disorder-Not Otherwise
Specified atau PDD-NOS (Diagnosis ini dibuat jika anak tidak memenuhi
semua kriteria untuk diagnosis autis dan asperger, tapi ada kecacatan
parah dan menetap di area yang dipengaruhi ASD.
C High Functioning Autism (Autisme dengan IQ tinggi).
D Low Functioning Autism (Autisme dengan IQ rendah).

PENANGANAN
Autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable),
namun bisa diterapi (treatable). Maksudnya kelainan yang terjadi pada otak
tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi
semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan
anakanak lain secara normal. (Wenar, 1994)
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
A Berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.
B Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak
saat dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
C Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
D Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara
seumur hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara
dengan kefasihan yang berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan
bicara yang baik mempunyai prognosis yang lebih baik.
E Terapi yang intensif dan terpadu.

TERAPI YANG TERPADU


Penanganan atau intervensi terapi pada penyandang autisme harus
dilakukan dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya
dilakukan antara 4-8 jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat
untuk memacu komunikasidengan anak. Penanganan penyandang autisme
memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin
ilmu antara lain psikiater, psikologneurolog, dokter anak, terapis bicara dan
pendidik. Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain:
A Terapi medikamentosa. Obat-obatan yang sering dipakai di Indonesia
adalah:
1 Vitamin (Efek samping: Hiperaktivitas, marah-marah, agresif, sulit
tidur dan lain sebagainya).
2 Obat-obatan untuk memperbaiki keseimbangan neorutransmitter
serotonin dan dopamin (Efek samping: Ngiler,ngantuk, kaku otot).
B Terapi Wicara
C Terapi Perilaku
D Terapi Okupasi
E Terapi Edukatif atau Pendidikan Khusus.
Sumber:
Dr Widodo Judarwanto Sp,A dalam penatalaksanaan
attention deficit hyperactive disorders pada anak,
htpp://www.childrenfamily.com
11. Apa saja pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan intelegensia
yang dilakukan?

12. Tatalaksana?
- Pengoptimalan diri : dididik secara sederhana
- Farmakologi :
- Metil fenidat : keseimbangan emosi dan fungsi kognitif
- SSRI
- Asam glutamate
- Tioridazone
- GABA
- Aspek fisik (Simtomatik, Koreksi cacat)
- Aspek psikologi/psikiatri (emosional penderita dan psikologi
keluarga)
- Aspek pendidikan (mampu didik dan mampu latih, tidak mampu
didik dan mampu latih, tidak mampu keduanya)
- Aspek social (menjadi putas kebersihan, petugas keamanan,
petugas pengantar surat, dsb)
Pencegahan :

- Primer : pendidikan kesahatan masyarakat, perbaikan sos-ek,


konseling genetic, tindakan kedokteran (kehamilan dan
persalinan)
- Sekunder : pen-diagnosis-an dini dan penatalaksanaan dini