Anda di halaman 1dari 24

LOGIKA MATEMATIKA

I. PENDAHULUAN

Logika adalah dasar dan alat berpikir yang logis dalam matematika dan pelajaran-
pelajaran lainnya, sehingga dapat membantu dan memberikan bekal tambahan untuk
menyampaikan pelajaran di sekolah. Dalam Logika dipelajari metode-metode dan prinsip-
prinsip yang dapat dipakai untuk membedakan cara berpikir benar (correct) atau tidak benar
(incorrect), sehingga dapat membantu menyatakan ide-ide tepat dan tidak mempunyai arti
ganda. Jadi, dalam ilmu logika hanya mempelajari atau memperhatikan kebenaran dan
kesalahan dari penalaran, dan penarikan kesimpulan dari sebuah pernyataan atau lebih.

II. PERNYATAAN
Pernyataan adalah suatu kalimat yang mempunyai nilai kebenaran benar saja atau
salah saja dan tidak kedua-duanya.
Istilah-istilah lain dari pernyataan adalah kalimat matematika tertutup, kalimat tertutup,
kalimat deklaratif, statement atau proposisi.

III. PERNYATAAN TUNGGAL DAN MAJEMUK


Suatu kalimat selain dibedakan atas pernyataan dan bukan pernyataan, kalimat juga
dibedakan pula atas pernyataan tunggal dan pernyataan majemuk. Pernyataan tunggal atau
pernyataan sederhana adalah pernyataan yang tidak memuat pernyataan lain atau sebagai
bagiannya, sedangkan pernyataan majemuk dapat merupakan kalimat baru yang diperoleh
dengan cara menggabungkan beberapa pernyataan tunggal.
Dua pernyataan tunggal atau lebih dapat digabungkan menjadi sebuah kalimat baru
yang merupakan pernyataan majemuk, sedangkan tiap pernyataan bagian dari pernyataan
majemuk disebut komponen-komponen pernyataan majemuk. Komponen-komponen dari
pernyataan majemuk itu tidak selamanya harus pernyataan tunggal, tetapi mungkin saja
pernyataan majemuk. Namun yang terpenting adalah bagaimana menggabungkan pernyataan-
pernyataan tunggal menjadi pernyataan majemuk.
Untuk menggabungkan pernyataan-pernyataan tunggal menjadi pernyataan majemuk
dapat dipakai kata gabung atau kata perangkai yang disebut operasi-
operasi logika matematika.

Contoh:
1. Jakarta adalah ibukota negara RI
2. Merah putih adalah bendera negara RI
3. 2 adalah bilangan prima yang genap
4. Jika suatu bilangan habis dibagi dua maka bilangan itu genap

Soal:
Buatlah contoh pernyataan tunggal dan majemuk, kemudian tentukan nilai kebenarannya!

IV. OPERASI LOGIKA

Adapun operasi-operasi yang dapat membentuk pernyataan majemuk adalah


1. Negasi atau ingkaran, dengan kata perangkai tidaklah benar, simbol ~
2. Konjungsi, dengan kata perangkai dan, simbol
3. Disjungsi, dengan kata perangkai atau, simbol
4. Implikasi, dengan kata perangkai Jika , maka .., simbol
5. Biimplikasi, dengan kata perangkai .jika dan hanya jika ., simbol

Contoh pernyataan majemuk:


1. Bunga mawar berwarna merah dan bunga melati berwarna putih
2. Ani dan Ana anak kembar
3. Cuaca hari ini mendung atau cerah
4. Jika x = 0 maka
5. Suatu segitiga dikatakan segitiga sama sisi jika dan hanya jika ketiga sudutnya sama

V. TABEL KEBENARAN

1. Operasi Negasi
Operasi negasi atau ingkaran adalah operasi yang dikenakan hanya pada sebuah
pernyataan. Operasi negasi dilambangkan ~
Jika p adalah pernyataan tunggal, maka ~p adalah pernyataan majemuk.
Negasi dari suatu pernyataan yang bernilai benar adalah salah dan negasi dari suatu
pernyataan yang bernilai salah adalah benar.

Definisi: Suatu pernyataan dan negasinya mempunyai nilai kebenaran yang


berlawanan

Definisi diatas dapat ditulis dalam tabel kebenaran sbb:

p ~p

B S

S B

Contoh:
p : Jakarta ibukota negara Republik Indonesia
~ p : Jakarta bukan ibukota negara Republik Indonesia

2. Operasi Konjungsi

Suatu pernyataan majemuk yang dibentuk dengan cara menggabungkan dua


pernyataan tunggal dengan memakai kata perangkai dan disebut konjungsi. Operasi
konjungsi dilambangkan dengan

Definisi: Sebuah konjungsi bernilai benar jika komponen-komponennya bernilai


benar, dan bernilai salah jika salah satu dari komponennya bernilai salah
Definisi diatas dapat ditulis dalam tabel kebenaran sbb:

q p q p

B B B
B S S
S B S
S S S

3. Operasi Disjungsi
Suatu pernyataan majemuk yang dibentuk dengan cara menggabungkan dua
pernyataan tunggal dengan memakai kata perangkai atau disebut disjungsi. Operasi
disjungsi dilambangkan dengan

Definisi: Sebuah disjungsi inklusif bernilai benar jika paling sedikit salah satu
komponennya bernilai benar, sedangkan disjungsi eksklusif bernilai benar
jika paling sedikit komponennya bernilai benar tetapi tidak kedua-duanya.

Definisi diatas dapat ditulis dalam tabel kebenaran sbb:

Disjungsi Inklusif: Disjungsi Eksklusif:

q p q p q p q p

B B B B B S
B S B B S B
S B B S B B
S S S S S S

4. Operasi Implikasi
Suatu pernyataan majemuk yang dibentuk dengan cara menggabungkan dua
pernyataan tunggal dengan memakai kata perangkai Jika . maka .. disebut implikasi.
Operasi implikasi dilambangkan dengan
Definisi: Sebuah pernyataan implikasi hanya salah jika antesedennya benar dan
konsekwennya salah, dalam kemungkinan lainnya implikasi bernilai benar.
Definisi diatas dapat ditulis dalam tabel kebenaran sbb:

q p q p

B B B
B S S
S B B
S S B
5. Operasi Bi-implikasi
Suatu pernyataan majemuk yang dibentuk dengan cara menggabungkan dua
pernyataan tunggal dengan memakai kata perangkai jika dan hanya jika disebut
biimplikasi. Operasi biimplikasi dilambangkan dengan

Definisi: Sebuah pernyataan biimplikasi bernilai benar jika komponen-koponennya


mempunyai nilai kebenaran sama, dan jika komponen-koponennya
mempunyai nilai kebenaran tidak sama maka biimplikasi bernilai salah.
Definisi diatas dapat ditulis dalam tabel kebenaran sbb:

q p q p

B B B
B S S
S B S
S S B

VI. BENTUK-BENTUK PERNYATAAN


Bentuk-bentuk pernyataan dalam logika dibedakan dalam:
1. Kontradiksi
2. Tautologi
3. Kontingensi

Kontradiksi adalah suatu bentuk pernyataan yang hanya mempunyai contoh substitusi yang
salah, atau sebuah pernyataan majemuk yang salah dalam segala hal tanpa memandang nilai
kebenaran dari komponen-komponennya.
Tautologi adalah sebuah pernyataan majemuk yang benar dalam segala hal, tanpa
memandang nilai kebenaran dari komponen-komponennya.
Kontingensi adalah sebuah pernyataan majemuk yang bukan suatu tautologi maupun
kontradiksi.

Contoh:
Selidiki pernyataan di bawah ini apakah suatu tautologi, kontradiksi atau kontingensi!
p ) q ) v ( q ( ~p

p ( ~p q q p q ~p ~ p p ) q ) v ( q

B B S S B B
B S S S B B
S B B B S B
S S B S B B

Karena pada tabel kebenaran di atas benar semua, maka pernyataan di atas suatu tautologi
Soal:
Selidiki apakah pernyataan-pernyataan di bawah ini suatu tautologi, kontradiksi atau
kontingensi!

1. p q ) ( p
2. p ) ] ( r r ) [ ( ~ q q ) ( p
3. q ) ( ~ p ( p v q )

VII. IMPLIKASI LOGIS DAN EKWIVALEN LOGIS


Suatu bentuk pernyataan implikasi yang merupakan tautologi disebut implikasi logis.

Contoh:

q p q p p p ] q ) p [(pq) (p

B B B B B
B S S S B
S B B S B
S S B S B

Dua atau lebih pernyataan majemuk yang mempunyai nilai atau kebenaran
sama disebut ekwivalen logis dengan notasi

Contoh:

p) (qq)p (pq q q p p q p

B B B B B B
B S S S B S
S B S B S S
S S B B B B

q mempunyai nilai kebenaranKarena p p ), maka kedua pernyataan majemuk di atas


disebut ekwivalen logis. ( q q ) sama dengan ( p
p ) ( q q ) ( p q Jadi, p

Soal:
Selidiki apakah pernyataan di bawah ini apakah implikasi logis atau ekwivalen logis!
1. ~ q ) v r] [( p q ) v r ] [( p
2. q ) ( p q )] [ ~ ( p

VIII. KONVERS, INVERS DAN KONTRAPOSISI


p disebut konvers q diubah menjadi q Jika suatu bentuk implikasi p
~ q disebut invers q diubah menjadi ~ p Jika suatu bentuk implikasi p
~ p disebut kontraposisi q diubah menjadi ~ q Jika suatu bentuk implikasi p
Skema konvers, invers dan kontraposisi dapat dilihat sbb:

konvers
p q q p

invers kontraposisi invers

~p ~q ~q ~p
konvers

Contoh:
Carilah konvers, invers dan kontraposisi dari pernyataan:
Jika binatang itu bertubuh besar maka binatang itu disebut gajah

Konvers : Jika binatang itu disebut gajah maka binatang itu bertubuh besar
Invers : Jika binatanag itu tidak bertubuh besar maka binatang itu bukan gajah
Kontraposisi: Jika binatang itu bukan gajah maka binatang itu tidak bertubuh besar

Soal:
Buatlah konvers, invers dan kontraposisi dari pernyataan:
1. Jika dua buah garis saling tegak lurus maka kedua garis itu membentuk sudut siku-
siku
2. Jika x = 3 maka = 9

IX. PENGERTIAN KUANTOR


Suatu Kuantor adalah suatu ucapan yang apabila dibubuhkan pada suatu kalimat
terbuka akan mengubah kalimat terbuka tersebut menjadi suatu kalimat tertutup atau
pernyataan.
Kuantor dibedakan atas:
1. Kuantor Universal/ Umum ( Universal Quantifier ), notasinya :
2. Kuantor Khusus ( Kuantor ( Eksistensial Quantifier ), notasinya :

Contoh:
Jika p(x) kalimat terbuka: x + 3 > 5
Apabila pada kalimat terbuka di atas dibubuhi kuantor, maka: x, x + 3 > 5 ( S )
atau x, x + 3 > 5 ( B )

bilangan bulat, maka tentukan nilai kebenaran dari pernyataan-pernyataan di bawah ini!
Jika x
1. ( x) ( y ) ( x + 2y = 7 )
2. ( x) ( y) (x + 2y = x)
3. ( x) ( y) ( x > y )
4. ( x) ( y) ( x.y = 1 )

X. PERNYATAAN BERKUANTOR
Contoh pernyataan berkuantor:
1. Semua manusia fana
2. Semua mahasiswa mempunyai kartu mahasiswa
3. Ada bunga mawar yang berwarna merah
4. Tidak ada manusia yang tingginya 3 meter
Untuk memberikan notasi pada pernyataan berkuantor maka harus dibuat fungsi proposisinya
terlebih dahulu, misalnya untuk pernyataan Semua manusia fana maka kita buat fungsi
proposisi untuk manusia M(x) dan fana F(x), sehingga notasi dari semua manusia fana
adalah x, M(x) F(x)

Buatlah notasi untuk pernyataan berkuantor di bawah ini!


1. Semua pedagang asongan adalah pejalan kaki ( A(x), K(x) )
2. Ada mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas ( M(x), T(x) )
3. Beberapa murid ikut lomba Porseni ( M(x), L(x) )
4. Semua guru diharuskan berpakaian seragam ( G(x), S(x) )

XI. NEGASI PERNYATAAN BERKUANTOR


Negasi pernyataan berkuantor adalah lawan/ kebalikan dari pernyataan berkuantor
tersebut.
Contoh:
Negasi dari pernyataan: Semua mahasiswa tidak mengerjakan tugas adalah
Ada mahasiswa yang mengerjakan tugas

Jika diberikan notasi, maka pernyataan di atas menjadi:


T(x) , negasinya x, M(x) x, M(x)

Soal:
Buatlah negasi dari pernyataan-pernyataan berkuantor pada soal sebelumnya!

XII. ARGUMEN
Argumen adalah kumpulan pernyataan, baik tunggal maupun majemuk dimana
pernyataan-pernyataan sebelumnya disebut premis-premis dan pernyataan terakhir disebut
konklusi/ kesimpulan dari argumen.
Contoh:
1. qp
2. qp /

1. s ) ( r q ) ( p
2. ~ p v ~ r~ q v ~ s /

1. p
2. qp q /

XIII. BUKTI KEABSAHAN ARGUMEN


Bukti keabsahan argumen dapat melalui:
1. Tabel Kebenaran
2. Aturan Penyimpulan
Untuk argumen sederhana atau argumen yang premis-premisnya hanya sedikit bukti
keabsahan argumen dapat menggunakan tabel kebenaran, namun untuk argumen yang
premis-premisnya kompleks harus menggunakan aturan-aturan yang ada pada logika
diantaranya aturan penyimpulan.
Contoh:
Buktikan keabsahan argumen
1. q1. p
2. ~ q / ~p

2. b1. a
d 2. c
3. ~a v ~c ( ~a v ~b )/ ( ~b v ~d )

Bukti:
Soal no. 1 menggunakan tabel kebenaran

~p ~q] q) ~q] [(p q) q [( p p q ~p ~q p

B B S S B S B
B S S B S S B
S B B S B S B
S S B B B B B

Karena dari tabel kebenaran di atas menunjukkan tautologi, maka argumen sah

Soal no. 2 menggunakan aturan penyimpulan

b 1. a
d 2. c
3. ~a v ~c ( ~a v ~b )/ ( ~b v ~d )
4. d ) 1,2 Conj ( c b ) ( a
5. ( ~b v ~d ) 3, Simpl
6. ~ a v ~c 4,5 DD

Soal:
Buktikan keabsahan argumen:
1. ~g) ( f e
2. h( f v g )
3. he /

XIV. ATURAN PENYIMPULAN

1. Modus Ponens (MP)


q p
q p /
2. Modus Tolens (MT)
q p
~p ~q /

3. Hypothetical Syllogisme (HS)


q p
rp r / q

4. Disjunctive Syllogisme (DS)


pvq
q ~ p /

5. Constructive Dillema (CD)


s ) ( r q ) ( p
q v s pvr/

6. Destructive Dillema (DD)


s ) ( r q ) ( p
~p v ~r ~ q v ~ s /

7. Conjunction (Conj)
p
qp q /

8. Simplification (Simpl)
q p
p

9. Addition ( Add)
p
p v q

XV. ATURAN PENGGANTIAN


1. De Morgan
a. ~ p V ~ q ) ~ ( p q
b. ~ q ~ p ~ ( p V q )
2. Komutatif
a. p ) ( q q ) ( p
b. ( q V p )( p V q )
3. Asosiatif
a. p V ( q V r )( p V q ) V r
b. r ) ( q p r q ) ( p
4. Distributif
a. r ) r ) V ( q ( p r ( p V q )
b. ( q V r ) ( p V r ) q ) V r ( p
5. Dobel Negasi
p ~(~p)

6. Implikasi
~ p V q q p
7. Material Equivalen
a. p ) ( q q ) ( p q p
b. ~ q ) q ) V ( ~ p ( p q p
8. Eksportasi
r q ) ( p r ) ( q p
9. Transposisi
~ p ~ q q p
10. Tautologi
a. p( p v p )
b. p p ) ( p
Contoh:
Selidiki keabsahan argumen di bawah ini!
1. c ) ( ba
2. d ) ( b a e ) / ( d c
3. c 1, Eksportasi b ) ( a
4. e) 3,4, Hypothetical ( d b ) ( a Syllogisme
5. e) 4, Implikasi b ) V ( d ~ ( a
6. e) 5, De Morgan( ~ a V ~ b ) V ( d
7. [(~ a V ~ b ) V e ] 6, Distribusi[(~ a V ~ b ) V d ]
8. (~ a V ~ b ) V d 7, Simplifikasi
9. ~aV(~bVd) 8, Asosiasi
10. d) 9, Implikasi ( b a

Soal:
Buktikan keabsahan argumen di bawah ini!
1. n ) ~ ( m ( k V l )
2. p ) ( o ( ~ m V ~ n )
3. q ) ( r ( l V k ) r ) / ( q p ) ( o

XVI. HUBUNGAN ANTARA LOGIKA DAN HIMPUNAN


1. Semua bilangan bulat adalah bilangan real ( B(x); R(x) )

R(x) x, B(x)
B(x)

R(x)

2. Ada bilangan prima yang genap ( P(x); G(x) )

G(x) 2 x, P(x)
P(x) G(x)
3. Tidak ada bilangan ganjil yang genap ( J(x); G(x) )
Ekuivalen dengan: Semua bilangan ganjil bukan bilangan genap

~ G(x) J(x) ~ G(x) x, J(x)

LEMBAR KERJA

1. Selidiki apakah pernyataan di bawah ini tautologi, kontradiksi atau kontingensi


a. r ) ( ~ p ( p v q )
b. q ) ( p p )] ( q q ) [( p
c. ~q ) ( p q ) ( p
2. Selidiki apakah pernyataan di bawah ini implikasi logis, ekwivalen logis atau tidak
kedua-duanya
a. ~q ) v r] [( p r] q ) [( p
b. ( p v q ) r] q ) [( p
c. r] q ) [( p r )] ( q [p
3. Buktikan keabsahan argumen di bawah ini!
k 1. j
2. j v ( k v ~l )
3. ~l v ~k~ k /
4. Ubahlah kalimat di bawah ini ke dalam notasi logika!
a. Tidak semua bunga mawar berwarna merah (B(x), M(x))
b. Semua mahasiswa baru harus mendaftar ulang (M(x), U(x))
c. Ada bilangan prima yang genap (P(x), G(x))
d. Beberapa tamu yang datang pejabat negara (T(x), P(x))
e. Tidak semua penumpang memiliki karcis (P(x), K(x))

SELAMAT BEKERJA
KOMBINATORIK, PELUANG DAN STATISTIKA

1. KOMBINATORIK
Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai persoalan-persoalan sebagai berikut:
1. Dengan berapa cara dapat disusun n obyek menurut aturan tertentu?
2. Dengan berapa cara pengambilan sejumlah r obyek dari n obyek yang ada, bila
r < n?
3. Dengan berapa cara sesuatu kejadian kejadian dapat terjadi?
Persoalan-persoalan di atas dapat diselesaikan dengan menggunakan kombinatorik
Ada 2 (dua) prinsip pokok yang dipakai untuk menyelesaikan persoalan kombinatorik, yaitu
prinsip penjumlahan dan prinsip perkalian.

Contoh:

Untuk Prinsip Penjumlahan


Suatu klub sepak bola mempunyai 40 anggota sedangkan klub bulutangkis
mempunyai 20 anggota.
a. Jika tidak ada anggota sepak bola yang merangkap menjadi anggota bulutangkis,
maka jumlah anggota kedau klub adalah 40 + 20 = 60 anggota
Jika kedua himpunan tidak beririsan, maka jumlah anggota kedua klub
ditambahkan.
b. Jika ada 7 anggota yang merangkap menjadi anggota kedua klub, maka dibentuk 3
himpunan yang saling lepas atau tidak beririsan, yaitu:
(i) Himpunan I terdiri dari pemain sepak bola saja
(ii) Himpunan II terdiri dari pemain bulutangkis saja
(iii) Himpunan III terdiri dari pemain sepak bola dan bulutangkis
Ketiga himpunan ini saling lepas dengan masing-masing anggota 40-7, 20-7
dan 7, dengan demikian jumlah anggota dari kedua klub adalah 33+13+7= 53
Cara lain untuk memperoleh hasil di atas adalah dengan rumus

B ) B ) = n ( A ) + n ( B ) - n ( A n(A

Untuk Prinsip Perkalian


Ahmad pergi dari kota A ke kota C dan harus melalui kota B. Dari kota A ke kota B ada 3
jalan alternatif dan dari kota B ke kota C ada 2 jalan alternatif. Dengan berapa banyak cara
Ahmad bepergian dari kota A ke kota C?

A B C

Dengan demikian, menurut prinsip perkalian banyaknya cara bepergian dari kota
A ke kota C adalah 3 . 2 = 6 cara
Soal:
Diketahui empat angka 1, 2, 5, 8
a. Tentukan banyaknya bilangan yang terdiri dari dua angka diketahui.
b. Tuliskan semua bilangan tersebut
c. Berapa banyak bilangan yang bernilai ganjil

1.1. Permutasi
Definisi:
Susunan n unsur berbeda dengan memperhatikan urutannya disebut permutasi dari n
unsur tersebut.

Definisi:
Misalkan n bilangan asli. n faktorial atau n! adalah 1.2.3. . . . . . n
dan 0! = 1
Sifat 1:
n ) yang diambil dari n unsur berbeda Banyaknya permutasi dari r unsur ( r
adalah :

Sifat 2:
Banyaknya permutasi dari n unsur dimana terdapat k unsur yang masing-
masing muncul kali adalah:
Sifat 3:
Banyaknya permutasi siklis dari n unsur adalah: ( n - 1 )!

1.2. Kombinasi
Kombinasi adalah permutasi yang tidak memperhatikan urutan obyek.
Sifat :
n ) dari n unsur adalah: Kombinasi r unsur ( r
1.3. Binomium Newton

Soal:
1. Diketahui enam angka yaitu: 0, 1, 2, 3, 4 dan 5
a. Berapa banyak bilangan yang dapat dibentuk dari enam angka yang diketahui terdiri
dari tiga angka (digit), bila tiap angka hanya dapat digunakan sekali
b. Berapa banyak daripadanya yang merupakan bilangan genap
c. Berapa banyak yang lebih besar dari 330
2. Dengan berapa carakah enam pohon dapat ditanam membentuk lingkaran?

3. Dari kelompok yang yang terdiri atas lima pria dan tiga wanita, berapa banyak panitia
yang beranggotakan tiga orang dapat dibentuk:
a. tanpa pembatasan?
b. dengan dua pria dan seorang wanita?
c. dengan seorang wanita dan dua orang wanita bila seorang wanita tertentu harus ikut
dalam panitia?
4. Tentukan koefisien dari (2x - 3)
2. PELUANG

2.1. Pendahuluan
Teori Peluang dikembangkan pada abad ke XVII oleh ahli
matematika dari Perancis yang bernama Pierre de Fermat dan Blaise
Pascal. Awalnya teori peluang dimulai dari permainan judi atau permainan
yang bersifat untung-untungan. Dalam teori peluang banyak dijumpai
soal-soal yang berkaitan dengan uang logam, dadu, kartu bridge dan lain-
lain.
Adapun tujuan mempelajari teori peluang agar siswa dapat menjelaskan konsep-konsep dasar
teori peluang supaya lebih mudah dipahami dan melatih kemampuan siswa dalam hal berolah
pikir.

2.2. Pengertian Ruang Sampel dan Kejadian


Ruang Sampel adalah seluruh kemungkinan yang terjadi dalam suatu
percobaan
Ruang Sampel biasanya dilambangkan dengan huruf besar S
Contoh:
1. Pada percobaan melempar sebuah dadu, maka ruang sampelnya ditulis:
S = { 1, 2, 3, 4, 5, 6 }
2. Pada percobaan melempar sebuah mata uang logam
S = { Angka, Gambar } atau S = { A, G }
S = { Muka , Belakang } atau S = { M, B }

Kejadian adalah bagian dari ruang sampel, biasanya untuk melambangkan suatu kejadian
digunakan huruf besar.
Contoh:
1. Pada percobaan melempar sebuah dadu.
a. Jika A adalah kejadian muncul mata dadu bilangan genap, maka:
A = { 2, 4, 6 }
b. Jika B adalah kejadian muncul mata dadu bilangan prima, maka:
B = { 2, 3, 5 }
c. Jika C adalah kejadian muncul mata dadu yang merupakan faktor dari 12, maka:
C = { 1, 2, 3, 4, 6 }
2. Pada percobaan melempar dua mata uang logam.
a. Jika P adalah kejadian kedua mata uang muncul Angka, maka:
P = { AA }
b. Jika Q adalah kejadian muncul 1 Angka dan 1 Gambar, maka:
Q = { AG, GA }
Latihan 1:
1. Jika 3 buah uang logam dilempar, tentukan:
a. Ruang Sampel S
b. Kejadian R yaitu kejadian muncul semuanya gambar
c. Kejadian S yaitu kejadian muncul satu angka dan dua gambar
2. 2 buah dadu dilempar, yaitu dadu I dan dadu II, tentukan:
a. Ruang Sampel S
b. Kejadian A yaitu kejadian muncul jumlah kedua mata dadu sama dengan 7
c. Kejadian B yaitu kejadian muncul mata dadu I angka 2
2.3. Peluang Suatu Kejadian
Menghitung Peluang dengan menggunakan Pendekatan Frekuensi Nisbi atau Frekuensi
Relatif
Contoh:
1. Jika sebuah uang logam dilempar sebanyak 15 kali, kemudian pada setiap lemparan
hasilnya dicatat dan diperoleh frekuensi muncul angka sebanyak 7 kali, maka frekuensi relatif
muncul angka =
2. Jika sebuah uang logam dilempar sebanyak 50 kali, kemudian pada setiap
lemparan hasilnya dicatat dan diperoleh frekuensi muncul gambar sebanyak 28
kali, maka frekuensi relatif muncul gambar =

Jadi, peluang suatu kejadian secara frekuensi relatif adalah perbandingan banyaknya kejadian
yang muncul dengan banyaknya percobaan yang dilakukan dalam waktu tertentu.

Latihan 2:
Lakukan percobaan di bawah ini dengan kelompokmu !
1. Melempar sebuah uang logam sebanyak: 25 kali, 30 kali, 50 kali, dan 100 kali
Kemudian hitung peluang secara frekuensi relatif munculnya gambar!
2. Melempar sebuah dadu sebanyak 10 kali, kemudian hitung peluang secara frekuensi
relatif
a. munculnya mata dadu bilangan prima
b. munculnya mata dadu 5
c. munculnya mata dadu 2

Menghitung Peluang Secara Klasik


Pada percobaan melempar sebuah mata uang logam, maka peluang muncul gambar =

Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:


Ruang Sampel pada percobaan melempar sebuah uang logam adalah S = { A, G }
banyaknya anggota S atau n (S) = 2, sedangkan kejadian muncul gambar sebanyak 1 atau n
(G) = 1, sehingga peluang kejadian muncul gambar pada percobaan melempar sebuah mata
uang logam: p =
Jadi, p =

Menghitung Peluang dengan Definisi Aksioma Peluang


Setiap kejadian di ruang sampel dikaitkan dengan bilangan antara 0 dan 1, bilangan ini
disebut peluang.
a. Kejadian yang tak mungkin terjadi mempunyai peluang nol
b. Kejadian yang pasti terjadi mempunyai peluang satu
c. Peluang dari kejadian A bernilai antara 0 dan 1
d. , maka B = Jika A dan B dua kejadian sehingga A
B ) = P ( A ) + P ( B ) P(A
e. , maka B Jika A dan B dua kejadian sehingga A
B ) B ) = P ( A ) + P ( B ) - P ( A P(A
Soal:
1. Sebuah dadu dilempar 100 kali. Hasil lemparan dicatat dalam bentuk tabel sbb:

Muncul
mata dadu 1 2 3 4 5 6
Frekuensi 14 17 20 18 15
16

Tentukan frekuensi relatif muncul mata dadu 3


a. Tentukan frekuensi relatif muncul mata dadu 1
b. Tentukan frekuensi relatif muncul mata dadu bilangan genap
c. Tentukan frekuensi relatif muncul mata dadu bilangan prima
2. Seorang dokter menggunakan obat Y untuk penyakit Z dengan peluang 0,8. Tentukan
jumlah orang yang diharapkan sembuh jika ia menggunakan obat Y untuk penyakit Z pada
300 orang
3. Dua buah dadu dilantunkan secara bersama-sama. Tentukan peluang:
a. Jumlah mata dadu yang muncul 7
b. Dadu I muncul mata dadu 2 dan dadu II muncul mata dadu 3
c. Dadu I muncul mata dadu 2 atau dadu II muncul mata dadu 5

2.4. Kejadian Majemuk


,B= Sifat 1 : Misalkan A dan B dua kejadian pada ruang sampel dengan A
B ) = P ( A ) + P ( B ) maka : P ( A
,B Sifat 2 : Misalkan A dan B dua kejadian pada ruang sampel dengan A
B ) B ) = P ( A ) + P ( B ) - P ( A maka : P ( A

2.5. Peluang Komplemen suatu Kejadian


Sifat : Misalkan A kejadian pada ruang sampel, maka P ( A ) = 1 - P ( A )
2.6. Kejadian Bersyarat
Definisi: Dua kejadian A dan B pada ruang sampel dikatakan kejadian bersyarat
yaitu Kejadian B terjadi dengan syarat kejadian A terjadi lebih dahulu
atau B/A, maka peluangnya adalah: P(B/A) = atau
B) = P(A). P(B/A) P(A

2.7. Kejadian Saling Bebas


Definisi: Dua kejadian A dan B pada ruang sampel dikatakan saling bebas jika
B) = P(A) . P(B) P(A

Soal:
1. Suatu pengiriman 10 pesawat TV 3 diantaranya dinyatakan cacat. Berapakah
peluang sebuah hotel membeli 4 pesawat TV tersebut dan 2 TV ternyata cacat?
2. Tiga buah buku diambil secara acak dari suatu rak yang berisi empat novel, tiga buku
syair dan sebuah kamus. Berapakah peluang
a. kamus terpilih?
b. dua novel dan sebuah buku syair yang terpilih?
3. Dua kartu diambil secara berturutan tanpa dikembalikan dari suatu
kotak kartu bridge. Berapakah peluang kartu yang terpilih lebih besar dari
2 tetapi lebih kecil dari 9?
4. Bila A dan B dua kejadian yang saling asing dengan P(A) = 0,4 dan P(B) = 0,5,
hitunglah:
a. B)P(A
b. P(A)
c. B)P(A
5. Dalam sebuah kotak berisi 15 telur 5 telur diantaranya rusak. Untuk
memisahkan telur baik dan telur yang rusak dilakukan pengetesan satu
persatu. Berapakah peluang diperoleh telur rusak ke 3 pada pengetesan
ke 5?

3. STATISTIKA
Pengertian Statistika dan Statistik
Statistika adalah ilmu yang merupakan cabang dari matematika. Dalam statistika
terdiri dari dua kegiatan:
a. Mengumpulkan data, menyajikan data dalam bentuk diagram dan menghitung nilai-
nilai ukuran data sehingga menjadi satu nilai yang mudah dimengerti makna dari data
tersebut.
b. Menggunakan pengolahan data pada (a) untuk membuat kesimpulan atau meramalkan
hasil yang akan datang.
Kegiatan (a) disebut Statistika Deskriptif dan kegiatan (b) disebut Statistika Inferensial.
Nilai-nilai ukuran data sehingga mudah dimengerti maknanya disebut statistik.
Statistik memberikan karakteristik-karakteristik tertentu dari data. Nilai ukuran terkecil, nilai
ukuran terbesar, nilai rataan, median, modus, jangkauan data, kuartil, desil dan persentil
disebut statistik.

3.1. Pengertian Populasi, Sampel dan Data


Definisi:
Populasi adalah kumpulan dari semua obyek atau benda yang akan diteliti. Sampel
adalah sub kumpulan obyek atau benda yang merupakan bagian dari populasi. Data adalah
bentuk jamak dari datum. Datum adalah suatu informasi yang diperoleh dari suatu
pengamatan. Dengan demikian data adalah kumpulan dari datum-datum.

3.2. Statistik Lima Serangkai (Ukuran terkecil, Ukuran Terbesar, Kuartil Bawah, Median dan
Kuartil Atas)
Median adalah data tengah dari suatu kumpulan data yang telah diurutkan.
Jika n ganjil, maka merupakan bilangan bulat, sehingga median adalah datum yang ke
, sedangkan jika n ganjil, maka median adalah

Contoh:
Tentukan statistik lima serangkai dari data:
79, 63, 94, 100, 83, 92, 78, 62, 53, 84, 76
Jawab:
Data diurutkan terlebih dahulu: 53, 62, 63, 76, 78, 79, 83, 84, 92, 94, 100
Ukuran terkecil : 53
Ukuran terbesar : 100
Kuartil 1 (Q1) :
Median : 79
Kuartil 3 (Q3) :

3.3. Rataan Kuartil dan Rataan Tiga


Rataan Kuartil =
Rataan Tiga =

3.4. Jangkauan Data, Jangkauan Antar Kuartil, Langkah, Pagar Dalam dan Pagar Luar.
Definisi:
Jangkauan data atau Rentangan data adalah selisih antara nilai
maksimum dan nilai minimum dari data.
J=
Jangkauan antar kuartil adalah selisih antara kuartil atas dan kuartil
bawah.
H = , Jangkauan antar kuartil disebut juga hamparan
Satu langkah didefinisikan sebagai satu setengah panjang hamparan. Jika H
menyatakan hamparan dan L menyatakan satu langkah maka:
L = 1,5 x H
Pagar Dalam dan Pagar Luar
Pagar dalam (PD) adalah suatu nilai yang letaknya satu langkah di bawah nilai
kuartil bawah dan Pagar Luar (PL) adalah suatu nilai yang letaknya satu langkah di atas
kuartil atas
PD = - L dan PL = + L

3.5. Penyajian Data dalam bentuk Diagram


Penyajian data dalam bentuk diagram, misalnya:
a. Diagram Kotak Garis
b. Diagram Batang Daun
c.
Diagram Batang
d. Diagram Garis
e. Diagram Lingkaran

3.6. Daftar Distribusi Frekuensi, Frekuensi Relatif, Frekuensi Kumulatif,


Histogram
Frekuensi, Poligon Frekuensi dan Ogive
Daftar Distribusi Frekuensi adalah suatu cara mengorganisasikan data dengan
membagi data menjadi beberapa kelompok atau kelas, kemudian setiap kelompok atau kelas
dari data dicatat mengenai banyaknya data atau frekuensi yang masuk dalam kelompok
tersebut.
Frekuensi Relatif adalah frekuensi tiap kelas dibagi frekuensi total dikalikan 100%
Frekuensi Kumulatif adalah menjumlahkan setiap frekuensi dengan frekuensi kelas
sebelumnya.
Histogram adalah salah satu cara menyatakan daftar distribusi frekuensi atau
distribusi frekuensi relatif.
Poligon Frekuensi adalah garis yang menghubungkan titik tengah titik tengah pada
histogram
Ogive adalah kurva distribusi frekuensi kumulatif
3.7. Data Statistika Deskriptif
Ukuran-ukuran Tendensi Sentral
Rataan Hitung, Rataan Geometris, Rataan Harmonis dan
Rataan Kuadratis
Rataan Hitung
Misalkan suatu data disajikan dalam bentuk data tunggal yaitu:
, rataan hitung adalah
atau

Rataan untuk data dalam daftar distribusi frekuensi

Rataan Geometris
Misalkan data bernilai positif terdiri atas . Rataan geometris
dinyatakan oleh g adalah akar ke n dari perkalian nilai-nilai data:

Rataan Harmonis
Misalkan data bernilai positif terdiri atas . Rataan harmonis
dinyatakan oleh h adalah nilai yang memenuhi

Hubungan antara rataan hitung, rataan geometris dan rataan harmonis


Misalkan diketahui data bilangan-bilangan positif. Rataan
geometris lebih kecil atau sama dengan rataan hitung tetapi lebih besar atau
sama dengan rataan harmonis
g Jadi: h

Rataan Kuadratis
Misalkan data terdiri atas . Rataan kuadratis dinyatakan
oleh k adalah akar kuadrat dari rata-rata kuadrat data yang diketahui atau

Modus, Median, Kuartil, Desil dan Persentil


Modus adalah nilai yang paling banyak muncul.
Modus data dalam bentuk daftar distribusi frekuensi
Nilai Modus :
L = batas bawah limit kelas modus
= selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sebelumnya
= selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sesudahnya
c = panjang kelas modus

Median data dalam daftar distribusi frekuensi


Median ( M
L = batas bawah limit kelas median
n = ukuran data
frekuensi kumulatif sebelum kelas median
f = frekuensi kelas median
c = panjang kelas median

Kuartil, Desil dan Persentil


Untuk data tunggal kuartil adalah nilai data yang ke , i =1, 2, 3
Jika i = 1 disebut kuartil bawah (Q1)
Jika i = 2 disebut kuartil tengah (Q2) atau Median
Jika i = 3 disebut kuartil atas (Q3)

Untuk data dalam daftar distribusi frekuensi


Kuartil (Qi) = dimana i = 1, 2, 3

L = batas bawah limit kelas Qi


n = ukuran data
frekuensi kumulatif sebelum kelas Qi
f = frekuensi kelas Qi
c = panjang kelas Qi

Untuk Desil dan Persentil caranya sama, yaitu


Desil nilai data yang ke Persentil nilai data yang ke

3.8. Ukuran Penyebaran Data


Ukuran penyebaran data yang akan dibahas adalah
a. Simpangan Rata-rata
b. Ragam (Variansi) dan Simpangan baku
c. Koefisien Keragaman
d. Angka Baku

a. Simpangan Rata-rata
Definisi:
Misalkan nilai-nilai data tunggal: , maka simpangan rata-rata
SR = , dimana = rataan hitung dan n = ukuran data

Untuk data dalam daftar distribusi frekuensi simpangan rata-rata adalah


SR = , dimana

n = ukuran data, k = banyaknya kelas dan = frekuensi kelas ke i


dan titik tengah kelas ke i

Ragam (Variansi) dan Simpangan baku


Misalkan nilai-nilai data tunggal: , maka ragam (variansi)
adalah:
sedangkan simpangan baku adalah

Ragam dan simpangan baku data dalam daftar distribusi frekuensi adalah

sedangkan simpangan baku adalah


, dimana frekuensi kelas ke i dan
titik tengah kelas ke i

Koefisien Keragaman
Koefisien Keragaman (V) =
Koefisien Keragaman dinyatakan dalam prosen:
V=

Angka Baku
Misalkan suatu nilai datum x dari kumpulan data mempunyai rataan hitung
dan simpangan baku s, maka angka dari nilai x diberikan oleh

LEMBAR KERJA

Kerjakan soal-soal di bawah ini!


1. a. Berapa carakah dapat dibuat antrian masuk ke bis yang terdiri atas lima
orang?
b. Bila dua orang tidak saling mengikuti, ada berapa cara antrian yang dapat terjadi?
2. Dalam berapa macam cara yang berbedakah suatu ujian yang terdiri atas delapan soal
dengan jawaban benar salah dapat dijawab?
3. Dari suatu kotak yang berisi empat bola hitam dan dua bola hijau, tiga bola diambil
secara berturutan. Tiap bola dikembalikan sebelum pengambilan berikutnya. Tentukan
peluang bola hijau yang terambil!
4. Suatu kota mempunyai dua mobil pemadam kebakaran yang bekerja saling bebas.
Peluang suatu mobil tertentu tersedia bila dibutuhkan adalah 0,99
a. Berapakah peluang keduanya tidak tersedia bila dibutuhkan?
b. Berapakah peluang suatu mobil tersedia bila dibutuhkan?
5. Skor berikut menyatakan nilai ujian akhir mata pelajaran statistika:
23 60 79 32 57 74 52 70 82 36
80 77 81 95 41 65 92 85 55 76
52 10 64 75 78 25 80 98 81 67
41 71 83 54 64 72 88 62 74 43
60 78 89 76 84 48 84 90 15 79
34 67 17 82 69 74 63 80 85 61
Susunlah skor nilai di atas ke dalam daftar distribusi frekuensi, kemudian buatlah
histogram, poligon frekuensi dan ogive
Hitunglah:
a. Rataan hitung
b. Modus
c. Median
d. Simpangan Kuartil
e. Koefisien Keragaman (V)
f. Selidiki pula apakah skor nilai di atas mengandung pencilan atau tidak!

SELAMAT BEKERJA

PRETES LOGIKA, PELUANG DAN STATISTIKA

1. Selidiki apakah pernyataan di bawah ini tautologi, kontradiksi atau kontingensi!


~p) [ ( p ~ r q ]

2. Tunjukkan bahwa pernyataan di bawah ini implikasi logis!


r)] (q [ p r] [( p q )

3. Tunjukkan bahwa pernyataan di bawah ini ini ekwivalen logis!


r) r)] ( p q) (q [ (p

4. Buktikan keabsahan argumen di bawah ini!


Jika dia mempelajari science maka dia akan mempersiapkan dirinya untuk mempersiapkan
penghasilan yang baik dan jika dia mempelajari kemanusiaan maka dia mempersiapkan diri
bagi suatu kehidupan yang baik.
Jika dia mempelajari science atau mempersiapkan diri bagi suatu kehidupan yang baik, maka
tahun-tahun ajarannya dimanfaatkan secara baik.
Tahun-tahun ajarannya tidak dimanfaatkan secara baik.
Oleh karena itu, dia tidak mempelajari science dan tidak mempelajari kemanusiaan. (s, p, m,
h, t)

5. Sebuah mata uang yang tidak setimbang dilantunkan sebanyak 3 kali. Peluang muncul
angka dua kali peluang muncul gambar, tentukan peluang:
a. muncul tepat 2 gambar
b. paling sedikit muncul 1 angka
6. Dalam sebuah kotak terdapat 3 kelereng warna hijau, 2 kelereng warna merah dan 4
kelereng warna biru. Lima kelereng diambil secara acak dari dalam kotak tersebut, tentukan
peluang diperoleh 2 kelereng biru dan paling sedikit satu kelereng hijau !

7. Terdapat angka-angka: 0, 1, 2, 3, 4 dan 5 akan disusun bilangan yang terdiri dari


3 digit (tanpa pengulangan), berapakah banyaknya bilangan ganjil yang
terbentuk?

8. Dari kelompok yang terdiri dari lima pria dan tiga wanita, berapa banyak panitia yang
beranggota tiga orang dapat dibuat
a. tanpa pembatasan?
b. dengan dua pria dan satu wanita?
c. dengan seorang pria dan dua wanita, bila seorang wanita tertentu harus ikut
dalam panitia?

9. Disajikan data sbb: 60, 60, 75, 70, 45, 50, 65, 85
Hitung rataan, modus dan median dari data di atas!

10.
Rata-rata nilai matematika dari 35 siswa adalah 67. Bila seorang siswa mengikuti
ulangan susulan dan nilainya digabung, maka rata-ratanya menjadi 67,5. Berapakah nilai
siswa yang mengikuti ujian susulan?

POSTES LOGIKA, PELUANG DAN STATISTIKA

1. Selidiki apakah pernyataan di bawah ini tautologi, kontradiksi atau kontingensi!


( p ~ q)] ~ r] [ r [ (~p V q)

2. Tunjukkan bahwa pernyataan di bawah ini implikasi logis!


[ ( p q ) v (~ p ~ q)]( p q )

3. Tunjukkan bahwa pernyataan di bawah ini ini ekwivalen logis!


r) ] r ) ( q [ ~ ( p v q ) v r ] [ ( p

4. Buktikan keabsahan argumen di bawah ini!


Jika harga jatuh atau upah naik maka pedagang eceran meningkat dan kesibukan iklan akan
meningkat. Jika pedagang eceran meningkat maka pedagang kecil akan mendapat banyak
uang. Pedagang kecil tidak mendapat banyak uang.
Oleh karena itu, harga tidak jatuh ( h, u, c, i, k )

5. Sebuah dadu yang tidak setimbang dilantunkan. Peluang muncul mata dadu ganjil dua kali
peluang muncul mata dadu genap. Tentukan peluang muncul mata dadu bentuk kuadrat bila
lebih besar dari 3?
6. Sebuah kelereng diambil secara acak dari kotak I yang berisi 4 kelereng warna putih dan 5
kelereng warna merah, kemudian kelereng tersebut dimasukkan ke dalam kotak II yang berisi
5 kelereng warna putih dan 5 kelereng warna merah. Jika sebuah kelereng diambil secara
acak dari dalam kotak II, berapakah peluang kelereng yang terambil berwarna putih?

7. Terdapat angka-angka: 0, 1, 2, 3, 4 dan 5 akan disusun bilangan yang terdiri dari


3 digit (tanpa pengulangan), berapakah banyaknya bilangan yang lebih besar dari
330?

8. Suatu himpunan mahasiswa asing beranggotakan dua orang Kanada, tiga Jepang, lima Itali
dan dua Jerman. Bila suatu panitia yang terdiri dari empat orang dibentuk secara acak,
berapakah peluang tiap bangsa terwakili?

9. Disajikan data sbb: 60, 60, 75, 70, 45, 50, 65, 85
Hitung: rata-rata simpangan dan simpangan kuartil

10. Disajikan data sbb:

31 - 40 1
41 - 50 2
51 - 60 5
61 70 5
71 80 6
81 90 4
91 - 100 2

Tentukan:
a. rataan
b. modus
c. median