Anda di halaman 1dari 7

Agus Rifai dan Rudi Nugroho : Kajian Pendahuluan Kelayakan Penerapan Instalasi JAI Vol.3, No.

2 2007

KAJIAN PENDAHULUAN KELAYAKAN PENERAPAN INSTALASI PENGOLAHAN


AIR LIMBAH DOMESTIK SECARA KOMUNAL DI PERMUKIMAN KOTA BOGOR
Oleh :
*) **)
Agus Rifai dan Rudi Nugroho
*) **)
Universitas Diponegoro Pusat Teknologi Lingkungan, BPPT.

Abstract

A preliminary assessment of an application of sewerage system with Upflow Anaerobic


Sludge Blanket (UASB) and Down flow Hanging Sponge (DHS) technology was
conducted in North Bogor. The Problem which often emerge in management of domestic
wastewater is the limited land area and fund to built and operate a wastewater treatment
facility. To overcome such problem, it is needed to develop a cheap wastewater
treatment technology with high efficiency, easy to operate and also should be compact.
The combination technology of UASB and DHS is proposed as an economic wastewater
treatment which easy to handling. Therefore, to make sure that the technology is
feasible or not to be built in North Bogor, there is need the preliminary assessment. The
assessment was conducted through a survey of technical and social economic aspect.
The results show that sewerage system using UASB and DHS technology is feasible.

Key word: domestic wastewater, upflow anaerobik sludge blanket, downflow hanging
sponge, preliminary assessment.

1. PENDAHULUAN prioritas penanggulangan, salah satunya yaitu


kebersihan kota dan lingkungan hidup. Sebagai
1.1. Latar Belakang salah satu upaya penanganan masalah
kebersihan kota dan lingkungan hidup, maka
Kecamatan Bogor Utara merupakan perlu dipertimbangkan adanya sistem
bagian dari Kota Bogor dengan luas administratif penanganan air limbah domestik yang meliputi
1772 Ha. Sebagai wilayah perkotaan yang sistem penyaluran dan pengolahan terpusat
berlokasi dekat dengan Ibukota Negara, yang dikenal dengan sistem off site.
mempunyai potensi yang strategis bagi Sistem penyaluran berupa sistem
perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dan perpipaan sedangkan untuk sistem pengolahan
jasa, pusat kegiatan nasional untuk industri, terpusat dipilih suatu teknologi pengolahan air
perdagangan, transportasi, komunikasi, dan limbah domestik yang efektif dan efisien dalam
pariwisata. Oleh karena itu, wajar jika tingkat rangka memperbaiki sistem kualitas sanitasi
pertumbuhan penduduk akhir-akhir ini lingkungan eksisting. Diharapkan pula bahwa
menunjukkan kemajuan yang signifikan. teknologi tersebut mengedepankan suatu produk
Sistem sanitasi yang digunakan di wilayah yang dapat didaur ulang, dalam hal ini adalah
Kecamatan Bogor Utara saat ini menggunakan produk limbah yang secara kualitas dapat
sistem on-site (sistem pembuangan setempat) digunakan kembali untuk berbagai keperluan.
yaitu dengan menggunakan septik tank dan Teknologi tersebut yaitu Upflow Anaerobik
sumur resapan untuk limbah tinja. Sedangkan Sludge Blanket (UASB) dan Downflow Hanging
limbah cair yang berasal dari kegiatan dapur, Sponge (DHS). Oleh karena itu, untuk
kamar mandi, WC langsung dialirkan ke sistem menunjukkan pembangunan sistem penyaluran
drainase lalu ke badan air penerima. Kepadatan dan pengolahan terpusat air limbah domestik
penduduk yang tinggi juga berpengaruh tersebut layak atau tidak, maka perlu dilakukan
terhadap ketersediaan lahan penempatan septik studi teknis kelayakan dan survai sosial ekonomi
tank dan sumur resapan. Meskipun septik tank yang menyoroti segala macam aspek yang
sudah dilengkapi sumur resapan, tidak tertutup diperkirakan memiliki relevansi kuat dengan
kemungkinan adanya air rembesan effluen rencana yang bersangkutan.
tangki septik yang akan mencemari air tanah
disekitarnya dan apabila air tanah tersebut 1.2 Identifikasi Masalah
dikonsumsi manusia maka dapat menyebabkan
timbulnya penyakit. Kepadatan penduduk yang tinggi
Berdasarkan analisis lingkungan strategis menyebabkan tidak tersedia lahan yang cukup
Kota Bogor terdapat lima isu-isu yang mendapat untuk membangun septik tank dan area
peresapan. Bidang peresapan yang tidak terlalu

146
Agus Rifai dan Rudi Nugroho : Kajian Pendahuluan Kelayakan Penerapan Instalasi JAI Vol.3, No.2 2007

luas dan didukung sifat tanah dengan mata air tersebut umumnya terjadi karena
permeabilitas rendah mempunyai potensi pemotongan bentuk lahan atau topografi
kemungkinan terjadi pencemaran instalasi air sehingga secara otomatis aliran air tanah
bersih oleh air limbah melalui kebocoran- tersebut terpotong dengan besaran debit
kebocoran pipa. Sistem sanitasi setempat (on bervariasi.
site) dapat menimbulkan permasalahan Sistem akuifer air tanah dalam berupa
berkaitan dengan aspek-aspek penanganan air akuifer dengan aliran melalui celahan dan ruang
limbah. Oleh karena itu untuk mengatasi dampak antar butir. Dari peta Hidrogeologi terlihat bahwa
yang akan timbul maka perlu adanya perubahan akuifer produktifitas tinggi dengan aliran melalui
penanganan air limbah dari sistem on-site celahan dan ruang antar butir dengan sebaran
menjadi sistem off-site. Penanganan air limbah yang luas terdapat hampir disemua wilayah
dengan sistem perpipaan dan unit pengolahan Bogor.
kombinasi UASB dan DHS merupakan cara yang
dapat diterapkan karena unit ini tidak 2.4 Kondisi Tata Guna Lahan
memerlukan lahan yang luas, ramah lingkungan
dan mudah dalam pengoperasiannya. Perkembangan struktur fisik kota adalah
sebagai akibat meningkatnya volume kebutuhan
2. KONDISI WILAYAH STUDI pelayanan umum yang memerlukan ruang untuk
menunjang kegiatan yang ada dan akan terjadi,
2.1 Kondisi Topografi Kecamatan Bogor sehingga pada akhirnya akan menuntut
Utara perluasan dan itensifikasi ruang kota dalam
bentuk penggunaan lahan. Pola penggunaan
Kecamatan Bogor Utara merupakan lahan identik dengan struktur penggunaan lahan
daerah perbukitan bergelombang dengan dimana wilayah Bogor Utara memiliki luas 1.772
ketinggian yang bervariasi antara 28 300 m Ha. Dari luas wilayah tersebut terdistribusi
diatas permukaan laut dengan kemiringan lereng kedalam lahan permukiman 1.118,8 Ha atau
berkisar 0 2% (datar) seluas 137,85 Ha, 2 63,14%, lahan persawahan 298,4 Ha atau
15% (landai) seluas 1.629,2 Ha dan 25 40% 16,83% dan lahan bukan persawahan 354,8 Ha
(Curam) seluas 4,95 Ha. atau 20,03%. Dalam hubungan ini, dengan
pertimbangan terhadap kecenderungan
2.2 Geologi dan Permeabilitas Tanah perkembangan struktur tata ruang yang ada,
maka untuk menetapkan kegiatan utama kota
Secara Umum Kecamatan Bogor Utara pada masa yang akan datang perlu
ditutupi oleh batuan vulkanik yang berasal dari mempertimbangkan sifat dari kegiatan-kegiatan
endapan (batuan sedimen) dua gunung berapi, yang meliputi :
yaitu Gunung Pangrango (berupa satuan breksi a. Pemusatan kegiatan (Aglomerasi)
tupaan/kpbb) dan Gunung Salak (berupa b. Orientasi kegiatan
aluvium/kal dan kipas aluvium/kpal). Lapisan c. Skala pelayanan
batuan ini berada agak dalam dari permukaan d. Pertumbuhan penduduk
tanah dan jauh dari daerah aliran sungai. e. Bentuk dan struktur kota
Endapan permukaan umumnya berupa aluvial f. Pola perkembangan
yang tersusun oleh tanah, pasir dan kerikil hasil
dari pelapukan endapan yang baik untuk 2.5. Kondisi Sosial Ekonomi Wilayah
vegetasi. Kondisi geologi secara umum memiliki
jenis tanah latosol coklat kemerahan dengan 2.5.1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk
2
permeabilitas 15-35 liter/m (Anonim, 2003).
Kepadatan penduduk di Kecamatan Bogor
2.3 Hidrologi dan Hidrogeologi Utara tidak merata karena dipengaruhi oleh
penyebaran fasilitas-fasilitas pelayanan yang
Wilayah Kecamatan Bogor Utara dialiri
lain. Jumlah penduduk Kecamatan Bogor Utara
oleh satu sungai besar yaitu Sungai Ciliwung
pada tahun 2003 sebanyak 144.590 jiwa.
dan dialiri oleh beberapa anak sungai yang
Berdasarkan data menunjukkan bahwa
membentuk pola aliran paralel-subparalel
Kelurahan Bantarjati dan Kelurahan Tegalgundil
sehingga mempercepat waktu mencapai debit
mempunyai jumlah penduduk yang paling tinggi
puncak (time to peak ) pada Sungai Ciliwung
akan tetapi mempunyai luas wilayah yang sempit
sebagai sungai utamanya. Pada umumnya aliran 2 2
yaitu cuma 1,7 km dan 1,98 km . Banyaknya
sungai tersebut dimanfaatkan oleh sebagian
jumlah penduduk merupakan salah satu akibat
masyarakat. Selain beberapa aliran sungai yang
adanya aktivitas pembangunan perumahan dan
mengalir terdapat juga beberapa mata air yang
fasilitas-fasilitas kota yang semakin tinggi
umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
dibandingkan dengan kelurahan lainnya.
kebutuhan air bersih sehari-hari. Kemunculan

147
Agus Rifai dan Rudi Nugroho : Kajian Pendahuluan Kelayakan Penerapan Instalasi JAI Vol.3, No.2 2007

2.5.2 Tingkat Pendidikan Penduduk bahwa terjadi pencemaran buangan air limbah
rumah tangga (domestik) atau bahan organik
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang dicirikan oleh parameter BOD, COD dan
penting yang berfungsi meningkatkan kualitas E.Coli. Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat
hidup masyarakat. Semakin tinggi tingkat Nomer 38 tahun 1991 tentang baku mutu
pendidikan masyarakat, menunjukan kualitas kualitas air maka terlihat bahwa nilai BOD, COD
sumber daya manusia yang semakin baik. dan E Coli telah melebihi baku mutu air golongan
Tingkat pendidikan masyarakat Kecamatan B, C dan D.
Bogor Utara sebagian mencapai perguruan
tinggi. 2.5.7 Drainase

2.5.3 Jenis Mata Pencaharian Penduduk Kondisi sistem drainase di sekitar wilayah
Kecamatan Bogor Utara secara umum
Mata pencaharian masyarakat di merupakan sistem drainase alam. Sistem
kecamatan Bogor Utara bervariasi akan tetapi drainase yang ada dibedakan sebagai berikut :
sebagian besar usaha dalam bidang jasa. Hal ini a. Sistem drainase di wilayah permukiman
erat kaitannya dengan Kota Bogor sebagai pusat Saluran-saluran alam hampir menyebar
kegiatan-kegiatan Internasional konfrensi- disetiap kelurahan yang ada. Hal ini
konfrensi antara lain seperti Informal Meeting berfungsi sebagai saluran pengumpul dari
untuk APEC yang dihadiri oleh para pemimpin saluran drainase yang ada disekeliling
negara dari Asia Pacifik termasuk Amerika area permukiman. Seperti halnya
Serikat. Kelurahan Bantarjati, Tegalgundil dan
Ciparigi dilalui Sungai Ciparigi, Kelurahan
2.5.4 Sarana Air Bersih Cibuluh, Tanahbaru dan Ciluar dilalui
Sungai Ciluar dan Kelurahan Cimahpar
Sistem penyediaan air bersih penduduk dilalui Sungai Cimahpar sedangkan
Kecamatan Bogor Utara terdiri dari sistem Kelurahan Kedunghalang dilalui Sungai
perpipaan dan nonperpipaan. Berdasarkan data Ciliwung.
dari Bidang P3KI Dinas Kesehatan Kota Bogor
tahun 2004, tingkat pelayanan sistem perpipaan b. Sistem drainase di luar wilayah
sudah mencapai 47,53%. Sistem pelayanan permukiman
perpipaan terbesar di wilayah Kelurahan Wilayah Kecamatan Bogor Utara dilalui
Bantarjati dan Tegalgundil. Sedangkan sistem oleh sungai besar yaitu Sungai Ciliwung
nonperpipaan yang terdiri dari sumur pompa yang mengalir sampai ke Jakarta. Sungai
tangan (SPT), sumur gali (SGL) dan pompa ini merupakan badan air yang menerima
listrik banyak terdapat di Kelurahan buangan akhir dari anakan-anakan sungai
Kedunghalang, Ciparigi dan Ciluar. Oleh karena yang mengalir dari Wilayah Bogor Utara
itu resiko terhadap pencemaran sarana air bersih dan sebagian Kota Bogor lainnya.
cukup rentan mengingat masih banyak sumber
air bersih yang berasal dari nonperpipaan. 3. HASIL KAJIAN TEKNIS KELAYAKAN
PENERAPAN SISTEM OFF SITE
2.5.5 Sistem Sanitasi
Kelayakan suatu sistem sanitasi dapat
Sistem pengelolaan limbah manusia dievaluasi berdasarkan kondisi fisik daerah dan
(limbah tinja) yang digunakan oleh penduduk tingkat kepadatan penduduk. Penentuan analisa
Kecamatan Bogor Utara adalah sistem kelayakan sistem sanitasi dapat dilakukan
pembuangan setempat (on site). Sedangkan air dengan skoring dan pembobotan terhadap
buangan yang berasal dari kamar mandi, dapur beberapa parameter yang berpengaruh terhadap
dan tempat cuci ada yang disalurkan ke saluran- pemilihan sistem sanitasi tersebut. Sedangkan
saluran drainase yang menuju badan sungai. skoring tiap-tiap parameter tersebut bertujuan
Akan tetapi secara keseluruhan masyarakat untuk mempermudah dalam penentuan nilai.
sudah memiliki sarana sanitasi pribadi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran
Tabel 1.
2.5.6 Kondisi Kualitas Air Badan Air Kepadatan penduduk ditentukan
Penerima Limbah berdasarkan kriteria sebagai berikut (Anonim,
2003) :
Badan air yakni Sungai Ciparigi menerima Skala 1 (<50 jiwa/ha) : sangat rendah
limbah cair rumah tangga dari permukiman Skala 2 (50 100 jiwa/ha) : rendah
disekitarnya. Berdasarkan data pengukuran Skala 3 (100 150 jiwa/ha) : sedang
kualitas air pada lokasi sampling memperlihatkan Skala 4 (150 200 jiwa/ha) : tinggi

148
Agus Rifai dan Rudi Nugroho : Kajian Pendahuluan Kelayakan Penerapan Instalasi JAI Vol.3, No.2 2007

Skala 5 (>200 jiwa/ha) : sangat tinggi menerapkan off site sistem dalam pengelolaan
Permeabilitas tanah ditentukan limbah domestik karena sistem on site dengan
berdasarkan kondisi tanah setempat yang paling tangki septik yang diresapkan akan
dominan dengan penjelasan sebagai berikut mengakibatkan pencemaran air tanah.
(Anonim, 2003) : Sedangkan daerah dengan kelulusan rendah
dan muka air tanah sangat dalam dinilai tidak
Zone 1 : permeabilitas sangat baik, 25-35 mendesak untuk menerapkan sistem off site
2
ltr/m , tanah cocok untuk karena sistem on site dengan tangki septik yang
pembuangan setempat disedot secara rutin tidak akan mencemari air
2
Zone 2 : permeabilitas baik, 15-25 ltr/m , tanah serta biaya relatif lebih murah. Secara
tanah cocok untuk pembuangan umum wilayah Kecamatan Bogor Utara memiliki
setempat kondisi permeabilitas tanah sama karena masih
2
Zone 3 : permeabilitas cukup, 10-15 ltr/m , berada dalam wilayah geologi sama.
tanah tidak cocok untuk
pembuangan air bekas mandi/cuci d. Topografi
2
Zone 4 : permeabilitas rendah, 10 ltr/m ,
tanah hanya cocok untuk kakus Sistem penyaluran air limbah perpipaan
tuang siram diupayakan dilakukan secara gravitasi sehingga
Zona 5 : permeabilitas sangat rendah, <10 kondisi topografi wilayah sangat menentukan
2
ltr/m , tanah tidak cocok untuk dalam penyusunan desain sistem penyaluran air
pembuangan setempat limbah. Kondisi topografi yang berbukit dan
Beberapa parameter yang dipakai sebagai bergelombang dengan kemiringan tanah lebih
pertimbangan adalah kepadatan penduduk, air dari 25% akan menyulitkan dalam sistem
tanah dangkal, permebilitas tanah, bentuk muka penyaluran air limbah. Daerah perbukitan tinggi
tanah dan sumber pelayanan air bersih ditujukan berlereng curam dan perbukitan bergelombang
untuk menghindari dampak lingkungan yang akan mengalami kesulitan secara teknis jika
mungkin timbul. Parameter-parameter tersebut diterapkan sistem penyaluran air limbah
dapat dijelaskan sebagai berikut : domestik secara gravitasi menuju lokasi IPAL
(sistem off site). Keadaan topografi wilayah
a. Kepadatan penduduk Kecamatan Bogor Utara bervariasi mempunyai
kemiringan lahan sampai 40% dan berada pada
Secara kualitatif, daerah pelayanan ketinggian 28-300 meter diatas permukaan air
diarahkan untuk wilayah dengan kepadatan laut.
penduduk relatif tinggi. Daerah dengan
kepadatan penduduk >150 jiwa per hektar e. Sumber air bersih
sebaiknya diterapkan sistem terpusat atau off
site sistem. Mengingat biasanya didaerah Daerah dengan pelayanan air bersih
dengan kepadatan penduduk tinggi banyak nonperpipaan tinggi dinilai sangat ditekankan
timbul masalah sanitasi. Wilayah Kecamatan untuk menerapkan sistem off site dan sebaliknya
Bogor Utara yang mempunyai tingkat kepadatan daerah dengan pelayanan air bersih perpipaan
tinggi adalah Kelurahan Bantarjati dan tinggi dinilai tidak ditekankan untuk menerapkan
Tegalgundil dengan tingkat kepadatan penduduk sistem off site. Hal ini dikarenakan untuk
masing-masing 161 jiwa per Ha dan 159 jiwa per menghindari pencemaran sumber air bersih yang
Ha. Sedangkan kelurahan Cimahpar mempunyai berasal dari sumur gali (SGL), sumur pompa
kepadatan penduduk paling rendah yaitu 30 jiwa tangan (SPT) dan pompa listrik oleh air limbah
per Ha. domestik yang dibuang langsung tanpa
disalurkan melalui pipa penyalur air limbah
b. Air tanah dangkal menuju sistem pengolahan.
Berdasarkan referensi (Inayati 2004) untuk
Berdasarkan sifat fisik dan keteknikan sistem skoring kelayakan penerapan off site,
tanah dan batuan di wilayah Kecamatan Bogor menyebutkan bahwa skor diatas 3,1 dikatakan
Utara maka kedalaman muka air tanah berkisar layak untuk dapat diterapkan off site. Hasil
antara 1-2 meter. Hal ini diperkuat dengan analisis kelayakan sistem sanitasi dapat dilihat
kondisi hidrogeologi Kota Bogor yaitu jenis pada lampiran Tabel 2, dengan metode skoring
akuifer produktifitas tinggi dengan penyebaran dengan ketentuan-ketentuan seperti pada Tabel
luas melalui celahan dan ruang antar butir. 1. Berdasarkan hasil analisa kelayakan sistem
sanitasi pada Tabel 2 maka kelurahan yang
c. Permeabilitas tanah memperoleh nilai skor total diatas 3,1 yaitu
Daerah dengan kelulusan tinggi dan Kelurahan Bantarjati, Kelurahan Tegalgundil,
kedalaman muka air rendah dinilai perlu untuk Kelurahan Cibuluh dan Kelurahan Ciparigi dinilai

149
Agus Rifai dan Rudi Nugroho : Kajian Pendahuluan Kelayakan Penerapan Instalasi JAI Vol.3, No.2 2007

layak untuk menerapkan sistem sanitasi terpusat Tabel 1. Analisis Sosial dan Ekonomi Lokasi
sedangkan kelurahan yang memperoleh nilai Studi
skor total dibawah 3,1 yaitu Kelurahan
Kriteri
Cimahpar, Kelurahan Tanahbaru, Kelurahan No Aspek yang di analisis
a
Ciluar dan Kelurahan Kedunghalang dinilai tidak 1 Kemampuan masyarakat A
layak untuk menerapkan sistem sanitasi terpusat 2 Tingkat pengguanaan air bersih B
atau masih layak menerapkan sistem sanitasi 3 Sistem pembuangan limbah tinja C
setempat. Rencana daerah layanan IPAL Sistem pembuangan limbah cair (selain
Domestik UASB dan DHS, penulis hanya 4 A
tinja)
membatasi Perumahan Perum Perumnas Keinginan adanya perbaikan sistem
6 A
Kecamatan Bogor Utara yang meliputi sanitasi
Perumahan Bantarjati I sebanyak 900 rumah, Tingkat pengetahuan tentang off site
5 A
Perumahan Indraprasta I sebanyak 1100 rumah sistem
berlokasi di wilayah Kelurahan Bantarjati dan 6 Minat terhadap off site sistem A
Perumahan Indraprasta II sebanyak 1000 rumah 7
Alasan ragu terhadap realisasi off site
A
berlokasi di wilayah Kelurahan Tegalgundil. Total sistem
pelayanan mencakup 3000 rumah yang 8 Alasan keberatan realisasi off site sistem C
terdistribusi masing-masing 2000 rumah di Sumber : Hasil Analisa Penulis, 2006
Kelurahan Bantarjati dan 1000 rumah di
Kelurahan Tegalgundil. 5. KESIMPULAN

4. ANALISIS SURVAI SOSIAL EKONOMI Berdasarkan hasil kajian teknis (topografi,


elevasi, sistem penyediaan air bersih,
Survai sosial ekonomi dilakukan di daerah permeabilitas tanah) dan survai sosial ekonomi
rencana pelayanan yaitu Perumahan Bantarjati I, yang dilakukan pada studi kelayakan penerapan
Perumahan Bumi Indraprasta I yang berlokasi di Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik UASB
Kelurahan Bantarjati dan Perumahan Bumi dan DHS di Wilayah Kecamatan Bogor Utara,
Indraprasta II yang berlokasi di Kelurahan maka dapat diambil beberapa kesimpulan
Tegalgundil. Instrumen survai berupa kuisioner sebagai berikut :
sosial ekonomi masyarakat yang berisi
pertanyaan yang bersifat tertutup maupun semi 1. Kelurahan Bantarjati dan Tegalgundil
terbuka. Kuisioner yang disebarkan sebanyak dinilai layak untuk menerapkan sistem
150 eksemplar dengan jumlah sampel offsite/terpusat. Hal ini terlihat dari hasil
responden yang dipilih adalah tiap-tiap rumah analisis kelayakan sistem sanitasi yang
tangga penduduk perumahan perumnas secara memberikan skor nilai >3,10.
proporsional random sampling yaitu 2. Hasil survai sosial ekonomi menunjukkan
pengambilan sampel secara acak dari populasi bahwa pengetahuan, kemampuan dan
penduduk. Untuk menyimpulkan analisis sosial minat masyarakat sangat tinggi untuk
ekonomi lokasi studi, maka digunakan menerapkan sistem off site dengan
penggolongan (kriteria) dengan ketentuan prosentase >50%.
sebagai berikut (Inayati, 2004) :

C : Tidak sesuai kriteria pemilihan sistem DAFTAR PUSTAKA


sarana air limbah/tingkat kemauan
masyarakat menerapkan sistem off site 0 1. Anonim. 1991. Keputusan Gubernur KDH
25% Tingkat I Jawa Barat No.38 tahun 1991
B : Mendekati kriteria pemilihan sistem sarana Tentang Peruntukan air dan Baku Mutu Air
air limbah/tingkat kemauan masyarakat pada Sumber Air di Jawa Barat
menerapkan sistem off site 25% - 50% 2. Anonim. 1999. Kebijakan dan Strategi
A : Sesuai kriteria pemilihan sistem sarana air Pengelolaan Air Limbah Domestik. Dirjen
limbah/tingkat kemauan masyarakat Cipta Karya DPU. Semarang.
menerapkan sistem off site > 50% 3. Anonim. 1999. Initial Community
Consultation and Preparation of Pilot
Berdasarkan aspek yang dianalisis pada Tabel 3 Sanitation Project, Semarang (Package-1).
menunjukkan bahwa sebagian besar masuk Dirjen Cipta Karya DPU. Semarang.
kriteria A, artinya kemauan masyarakat 4. Anonim. 2000. Final Report Consultancy
menerapkan sistem off site sangat tinggi yaitu di Services for Initial Community Consultation
atas 50%. Works and Preparation for Pilot Sanitation
Project in City of Semarang, Arkonin
Engineering MP

150
Agus Rifai dan Rudi Nugroho : Kajian Pendahuluan Kelayakan Penerapan Instalasi JAI Vol.3, No.2 2007

5. Anonim. 2001. Peraturan Pemerintah 14. Husnan, Suad & Muhammad, Suwarsono.
Republik Indonesia No.82 tahun 2001 2000.Studi Kelayakan Proyek Edisi
Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Keempat. UPP AMP YKPN. Yogyakarta
Pengendalian Pencemaran Air 15. Hindarko.S. 2003. Mengolah Air Limbah
6. Anonim. 2003. Keputusan Menteri Negara Supaya Tidak Mencemari Orang Lain,
Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003 Jakarta.
tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik
7. Anonim. 2003. Laporan Final Identifikasi 16. Inayati, Dini.2004.Perencanaan Penyaluran
Kegiatan Pengembangan Sarana Air & Pengolahan Air Buangan Daerah
Limbah Metro Semarang.Departemen Pelayanan Blok P, U, R, Z Kelurahan
Permukiman dan Pengembangan Wilayah Sendangmulyo.Tugas Akhir
Direktorat Jendral Pengembangan 17. Letinga G et.al.2002.Solid Removalin
Perkotaan. Semarang. Upflow Anaerobik Reactor. Review Paper
8. Anonim. 2003. Pedoman Pengelolaan Air Bioresources Technology. Belanda
Limbah Domestik Perkotaan.Direktorat 18. Linsley, Ray. K, et all. 1995. Teknik Sumber
Jendral Tata Perkotaan dan Pedesaan. Daya Air, Edisi Ketiga, Jilid 2. Penerbit
Jakarta Erlangga, Jakarta.
9. Anonim. 2004. Seminar of Waste Water 19. Metcalf and Eddy. 1991.Waste Water
Treatment Technology: The Time for Engineering Treatment Disposal and Reuse,
Action.Pusteklim.Yogyakarta Mc Graw-Hill, Inc, Singapura.
10. Babbit.E and Bauman.1958.Sewerage and 20. Moduto.2000. Penyaluran Air Buangan
Sewage Treatment.John Willy & Sons,Inc. Volume II, ITB, Bandung
New York 21. Nitisemito, Alex S,Drs.Ec & Burhan, Umar,
11. Bachrawi, Sanusi.2000.Pengantar Evaluasi M, Drs,M.S.2004.Wawasan Studi Kelayakan
Proyek .Fakultas Ekonomi Universitas dan Evaluasi Proyek . PT. Bhumi
Indonesia.Jakarta Aksara.Jakarta
12. Gray, Clive dkk. 2002.Pengantar Evaluasi 22. Pandebesie.2002.Pengelolaan Sistem
Proyek Edisi Kedua. PT. Gramedia Pustaka Drainase dan Penyaluran Air Limbah,
Utama. Jakarta Institut Teknologi Surabaya, Surabaya.
13. Herlambang, Ari, et all, 2002. Publikasi 23. Peavy, Howard S. 1985.Environmental
Ilmiah Teknologi Pengolahan Limbah Cair Engineering International Edition, McGraw-
Industri, Kerjasama Pusat Pengkajian Dan Hill Book Co, Singapore.
Penerapan Teknologi Lingkungan BPPT 24. Soeharto, Imam. Ir. 1995. Manajemen
Dengan Proyek Pembinaan Dan Proyek Dari Konseptual Sampai
Pengelolaan Lingkungan Hidup Operasional. Erlangga.Jakarta.
BAPEDALDA Kota Samarinda.

Lampiran 1 :

151
Agus Rifai dan Rudi Nugroho : Kajian Pendahuluan Kelayakan Penerapan Instalasi JAI Vol.3, No.2 2007

Lampiran 2 :

152