Anda di halaman 1dari 8

BAB I

NEFROSTOMI

1.1.Pengertian

Adalah pengangkatan total atau parsial melalui pembedahan terhadap ginjal melalui
panggul,trans abdominal,atau insisi torakoabdominal,di indikasikan pada pengobatan
malignansi ginjal,pielonefrits kronis,trauma penyakit ginjal polikistik,penyakit vaskuler
ginjal,deformitas kongital,batu ginjal.atau tujuan pendonoran

Suatu tindakan pembedahan untuk menyalirkan urin atau nanah dari sistem pelvikaliseal
melalui insisi di kulit
Suatu tindakan pemasangan alat / slang ( Ureter kateter/ NGT no 8/10 ) didaerah nepron atau
ureter diatas sumbatan

1.2. Ruang lingkup


Penderita yang datang dengan keluhan nyeri pinggang belakang, pada pemeriksaan fisik teraba massa
pada pinggang disertai nyeri ketok pinggang disertai demam atau menggigil, dan anuria. Pada
pemeriksaan USG didapatkan adanya hidronefrosis atau pyonefrosis.

1.3.Tujuan

Untuk mengeluarkan cairan / urin yang tersumbat tidak bisa turun ke VU

Mencegah infeksi

Mencegah terjadinya GGA

1.4. Pemeriksaan Penunjang


Darah lengkap

, tes faal ginjal,

sedimen urin,

kultur urin dan tes kepekaan antibiotika,

foto polos abdomen,

pyelografi intravena,

USG.

1.5. Teknik Operasi


Nefostomi dapat dilakukan dengan 2 cara:
1. Terbuka, ada 2 macam teknik:
Bila korteks masih tebal
Bila korteks sudah sangat tipis
2. Perkutan

Nefrostomi Terbuka
Dengan pembiusan umum, regional atau lokal.
Posisi lumbotomi.
Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik.
Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.
Insisi kulit dimulai dari tepi bawah arkus kosta XI sampai ke arah umbilikus sepanjang 10-15
cm, diperdalam lapis demi lapis dengan memotong fascia eksterna, muskulus interkostalis di
belakang dan muskulus oblikus abdominis di depan sampai didapatkan fascia abdominis
internus. Fasia abdominis internus dibuka, kemudian peritoneum disisihkan dari fascia.
Fascia gerota dibuka sepanjang tepi ginjal.
Bila korteks masih tebal: ginjal harus dibebaskan sampai terlihat pelvis renalis. Pelvis renalis
dibuka dengan sayatan kecil 1-1,5 cm. Klem bengkok dimasukkan melalui sayatan tersebut ke
arah kaliks inferior atau medius menembus korteks sampai keluar ginjal, kemudian dimasukkan
kateter Foley Ch 20 ke dalam pelvis dengan cara dijepitkan pada klem tersebut. Isi balon
kateter dengan air 3-5 cc.
Jahit pelvis renalis dengan jahitan satu-satu dengan benang yang dapat diserap.
Bila korteks sudah sangat tipis: korteks langsung dibuka dengan sayatan 1-1,5 cm dan
langsung dimasukkan kateter Foley Ch 20 atau 22. Sedapat mungkin ujung kateter berada di
dalam pyelum. Isi balon kateter dengan air 3-5 cc.
Buat jahitan fiksasi matras atau kantong tembakau pada tempat keluar kateter (pada dinding
ginjal) dengan benang yang dapat diserap.
Keluarkan pangkal kateter melalui insisi pada kulit, terpisah dari luka operasi, dan difiksasi.
Pasang drain vakum perirenal.
Tutup lapangan operasi lapis demi lapis dengan jahitan situasi.

Nefrostomi Perkutan
Dilakukan dengan alat fluoroskopi.
Dengan pembiusan umum, regional atau lokal.
Posisi pronasi, perut sisi yang sakit diganjal bantal tipis.
Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik.
Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.
Dilakukan pungsi ke arah ginjal, bila yang keluar urin, masukkan kontras secukupnya sehingga
tampak gambaran sistem kolekting di monitor. Bila perlu lakukan pungsi kedua ke arah yang
lebih tepat (biasanya kaliks inferior atau medius).
Mandrin (isi jarum pungsi bagian dalam) dikeluarkan, masukkan kawat penuntun (guide wire)
ke dalam bungkus (sheath) jarum pungsi.
Lakukan dilatasi dengan dilator khusus, masukkan kateter Foley Ch 20 dengan tuntunan
kanula khusus. Kembangkan balon kateter dengan air 5-10 cc.
Fiksasi kateter dengan kulit.
1.6. Komplikasi operasi
Komplikasi pasca bedah ialah perdarahan, ekstravasasi urin.
1.7. Perawatan Pascabedah
Perawatan luka pada lokasi pemasangan neprostomi tiap hari
Observasi tanda-tanda infeksi
Perawatan slang neprostomi jangan sampai tersumbat :
Spool neprostomi dengan cairan (Aqua steril,NACL, Revanol, betadin 1 %)
Cairan maksimal 20 cc
Spool dilakukan secara pelan-pelan
Bila lancar urin akan menetes secara terus-menerus/konstan
Jangan sampai terjadi penekukan slang/tampungan urin
Slang jangan sampai terlepas Ukur jumlah urin dan produksi drain sebagai pedomen terapi
cairan dan elektrolit.
Kateter jangan sampai tertekuk, terjepit atau tertarik sehingga mengganggu kelancaran aliran
urin.
Pelepasan kateter sesuai indikasi.
Pelepasan drain bila dalam 2 hari berturut-turut setelah pelepasan kateter produksinya < 20
cc/24 jam.
Pelepasan benang jahitan keseluruhan 10 hari pasca operas

BAB II

Asuhan keperawatan
2.1.PENGKAJIAN

Observasi haluaran urin :


Karakter
Jumlah
Warna
Hematuria
Piuria
Oliguria
Sedimentasi
Observasi Kateter bebas tegangan
Observasi Kepatenan sistem drainase
Observasi Hemoragik
Observasi Syok
Obsevasi sisi insisi ;
Kemerahan
Nyeri
Bengkak
Drainase
Peningkatan suhu
Berduka

2.2.Pemeriksaan Penunjang
Darah lengkap

, tes faal ginjal,

sedimen urin,

kultur urin dan tes kepekaan antibiotika,

foto polos abdomen,

pyelografi intravena,

USG.

JDL

Pemeriksaan Koagulasi

Golongan darah dan pencocokan silang

Tes kompatibilitas jaringan

Urinalisis

Ivp
Ultrasound

Arterigrafi ginjal

Pemeriksaan sinar x dada

2.3.Potensial komplikasi

Pneumonia

Pneumotoraks

Takipneu

Tidak ada bunyi nafas

Bunyi nafas atventisius

Atelaktasis

Hemoragik

Ileus paralitik

Infeksi

2.4.Penatalaksanaan medis

Puasa sampe bising usus terdengar

Pemeriksaan sinar x dada

Pemantauan keseimbangan cairan dan elektrolit

Cairan paranteral sampe diet ditoleransi

Penatalaksanaan luka

Selang neprostomi

Antibiotik

Analgesik

Laktasif.

2.5.Diagnosa yang muncul;


Diagnosa

Potensial kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan


hemoragic atau hipovolumia

Intervensi

sKaji balutan,selang, dan kateter bedah terhadap pendarahan setiap jam dan laporkan
adanya hal ini pada dokter

Instruksikan pasien mewaspadai tidak untuk mengubah posisi selang atau kateter bila
membalik dan mengubah posisinya

Pantau masukan dan haluaran setiap 4-8 jam;laporkan ketidak seimbangan

Potensial terhadap ketidak efektifan pola pernafasan yg berhubungan


dengan efek defresan dari anastetik dan obat nyeri atau berhubungan
dengan penolakan pasien untuk bernafas dalam karna nyeri insisi

Intervensi

Posisikan pasien untuk pengembangan dada optimal

Bantu pasien dalam berbalik,batuk,dan nafas dalam setiap 2 jam

Kaji bunyi nafas setiap 4 jam

Nyeri yang berhubungan dengan insisi bedah

Intervensi

Kaji tanda nyeri non verbal

Periksa kateter atau drainase selang terhadap obstruksi

Kaji sisi insisi terhadap kemerahan, nyeri tekan,bengkak, dan drainase

Perubahan pola eliminasi perkemihan yang berhubungan dengan difersi


perkemihan sementara atau retensi perkemihan yang berhungan dengan
selang nefrostomi

Intervensi

Kaji pola berkemih normal pasien

Ukur haluaran urin setip jam atau pada setiap berkemih

Ukur dan catat haluaran dari semua kateter, drain,dan selang secara terpisah,bila
ada
Potensial terhadap perubahan perfusi jaringan; perifer,kardiopulmoner,
yang berhubungan dengan resiko trombo plebitis,embolisme pulmoner
atau ileus paralitikan

Intervensi

Berikan stokoing anti embolik sesuai pesanan;lepaskan setiap hari dan kaji integritas
kulit

Hindari tekanan atau memberikan bantal dibawah kaki

Instruksikan pasien tidak menyilangkan kaki

Potensial terhadap infeksi yang berhubugan dengan insisi bedah,adanya


selang dan kateter

Intervensi

Kaji suhu setiap empat jam

Pertahankan teknik steril bila mengganti balutan dan melakukan perawatan luka

Gunakan teknik steril bila memanipulasi selang drainase,kateter

Brduka yang berhubungan dengan kehilangan organ tubuh mayor; rasa


takut bahwa resipien dapat menolak ginjal, bila pada pendonoran

Intervensi

Kaji persepsi pasien tentang efek kehilangan ginjal

Observasi terhadap prilaku dan tanda emosional


berduka(menyangkal,marah,menangis,menarik diri,tidak patuh,tergantung
dll)

Dukung prilaku adatif yang menanadakan progresi dan resulusi proses


berduka

Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang pemajanan


terhadap informasi tentang rutinitas paska operasi,gejala-gejala untuk
dilaporkan pada dokter,dan perawatan di rumah,dan instruksi evaluasi

Intervensi

Ajarkan perwatan insisi dan penggantian balutan bedah

Ajarkan nama obat-obatan dosis,jadwal,tujuan dan efek samping


Instruksikan pasien untuk menghindari aktivitas yg dapat membahayakan
ginjal misalnya olahraga kontak seperti sepak bola