Anda di halaman 1dari 127

TropMed, Infeksi, dan Intoksikasi

Wisda Kusuma
Daftar isi

Infeksi Tetanus
ISPA Rabies
Dengue
Typhoid fever Imunologi
Leptospirosis Reaksi hipersensitivitas
Malaria SLE
Helminthes HIV-AIDS
Trematoda
Nematoda
Cestoda
Intoksikasi
Filaria
ISPA
Infeksi saluran Pernafasan Akut
ISPA

ISPA = Infeksi Saluran Pernafasan Akut


Common Cold = Rhinitis Akut / Rhinofaringitis Akut
Faringitis Akut
Tonsilitis Akut, Diphteria
Epiglottitis
Croup (Laringotrakeobronkitis)
Pertusis [kronik]
Bronkitis akut
Pneumonia (CAP) Ringan / Berat
Bronkiolitis, dsb
Batuk dan Pilek
Common Cold = Acute Coryza
(Indonesia: Selesma, Pilek)
It's an illness caused by a tiny, living thing called a virus. More than 200
types lead to your misery, but the most common one is the rhinovirus,
which brings on 10% to 40% of colds. The coronavirus is responsible
for about 20% of cases, while the respiratory syncytial virus (RSV) and
parainfluenza virus cause 10% of colds.

Coryza = Rhinitis

http://www.webmd.com/cold-and-flu/cold-guide/understanding-common-cold-basics
Avian Influenza
Suspek H5N1

Kasus suspek adalah seseorang yang menderita infeksi saluran


respiratorik atas dengan gejala demam (suhu 380 C), batuk dan
atau sakit tenggorokan, sesak napas dengan salah satu keadaan di
bawah ini dalam 7 hari sebelum timbul gejala klinis:
Kontak erat dengan pasien suspek, probable, atau confirmed seperti
merawat, berbicara atau bersentuhan dalam jarak <1 meter.
Mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit KLB flu burung.
Riwayat kontak dengan unggas, bangkai, kotoran unggas, atau produk
mentah lainnya di daerah yang satu bulan terakhir telah terjangkit flu burung
pada unggas, atau adanya kasus pada manusia yang confirmed.
Bekerja pada suatu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia
atau binatang yang dicurigai menderita flu burung dalam satu bulan terakhir.
Memakan/mengkonsumsi produk unggas mentah atau kurang dimasak
matang di daerah diduga ada infeksi H5N1 pada hewan atau manusia dalam
satu bulan sebelumnya.
Kontak erat dengan kasus confirmed H5N1 selain unggas (misal kucing,
anjing).
WHO, Depkes
Probable H5N1
Adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan:
Infiltrat atau terbukti pneumonia pada foto dada + bukti gagal napas
(hipoksemia, takipnea berat) ATAU
Bukti pemeriksaan laboratorium terbatas yang mengarah kepada
virus influenza A (H5N1), misalnya tes HI yang menggunakan antigen
H5N1.
Dalam waktu singkat, gejala berlanjut menjadi pneumonia atau gagal
napas /meninggal dan terbukti tidak terdapat penyebab yang lain.
Confirmed H5N1

Adalah kasus suspek atau kasus probable didukung salah satu hasil
pemeriksaan laboratorium di bawah ini:
Isolasi/Biakan virus influenza A/H5N1 positif
PCR influenza A H5 positif
Peningkatan titer antibodi netralisasi sebesar 4 kali dari spesimen
serum konvalesen dibandingkan dengan spesimen serum akut
(diambil 7 hari setelah muncul gejala penyakit) dan titer antibodi
konvalesen harus 1/80
Titer antibodi mikronetralisasi untuk H5N1 1/80 pada spesimen
serum yang diambil pada hari ke 14 atau lebih setelah muncul gejala
penyakit, disertai hasil positif uji serologi lain, misal titer HI sel darah
merah kuda 1/160 atau western blot spesifik H5 positif.
Pharyngitis

Pharyngitis is defined as an infection or irritation of the pharynx or


tonsils. The etiology is usually infectious, with most cases being of viral
origin and most bacterial cases attributable to group A streptococci
(GAS). Other causes include allergy, trauma, toxins, and neoplasia.

http://emedicine.medscape.com/article/764304-overview
Antibiotic Options for GABHS Pharyngitis

Drug Class of antimicrobial Route of administration


Penicillin (broad
Amoxicillin Oral
spectrum)
Penicillin G benzathine
Penicillin Intramuscular
(Bicillin L-A)
Treatment for patients with penicillin allergy (recommended by current
guidelines)
Erythromycin
Macrolide Oral
ethylsuccinate
Diphteria
Croup
Croup (laringotrakeobronkitis viral)
menyebabkan obstruksi/penyumbatan Anak dengan Croup berat harus
saluran respiratorik atas, jika berat, dapat dirawat di rumah sakit untuk perawatan
mengancam jiwa. Paling berat terjadi sebagai berikut:
pada masa bayi. Di bawah ini dibahas croup
Steroid. Beri dosis tunggal
yang disebabkan berbagai
virus respiratorik.
deksametason (0.6 mg/kgBB IM/oral)
atau
Diagnosis jenis steroid lain dengan dosis yang
Croup ringan ditandai dengan: sesuai, dan dapat diulang dalam 6-24
demam jam (lihat lampiran 2 untuk
suara serak deksametason dan prednisolon).
batuk menggonggong Epinefrin (adrenalin). Beri 2 ml
stridor yang hanya terdengar jika anak
adrenalin 1/1 000 ditambahkan ke
gelisah.
Croup berat ditandai dengan:
dalam
Stridor terdengar walaupun anak tenang 2-3 ml garam normal, diberikan dengan
Napas cepat dan tarikan dinding dada nebulizer selama 20 menit.
bagian bawah ke dalam. Antibiotik. Tidak efektif dan seharusnya
tidak diberikan.
Tatalaksana
Croup ringan dapat ditangani di rumah
dengan perawatan penunjang, meliputi
pemberian cairan oral, pemberian ASI atau
pemberian makanan yang sesuai.
Pertusis

Diagnosis: klinis (batuk persisten, whooping cough, konjungtiva


kemerahan).
Pertusis

Etiologi: Bordetella pertusis

http://www.cdc.gov/pertussis/images/pertussis-timeline.jpg
Pertusis
Perawatan penunjang
Hindarkan sejauh mungkin segala tindakan
Tatalaksana yang dapat merangsang terjadinya batuk
Antibiotik: eritromisin oral (12.5 Jangan memberi penekan batuk, obat sedatif,
mg/kgBB/kali, 4 kali sehari) mukolitik atau antihistamin.
selama 10 hari atau jenis makrolid Obat antitusif dapat diberikan bila batuk amat
lainnya. sangat mengganggu.
Oksigen: bila pernah terjadi Jika anak demam ( 39 C) yang dianggap
sianosis atau berhenti napas atau dapat menyebabkan distres, berikan
batuk paroksismal berat. parasetamol.
Tatalaksana jalan napas: Selama Beri ASI atau cairan per oral. Jika anak tidak
bisa minum, pasang pipa nasogastrik dan
batuk paroksismal, letakkan anak berikan makanan cair porsi kecil tetapi sering
dengan posisi kepala lebih rendah untuk memenuhi kebutuhan harian anak.
dalam posisi telungkup, atau
miring, untuk mencegah aspirasi
muntahan dan membantu
pengeluaran sekret.

http://www.ichrc.org/47-pertusis
Pneumonia

Definisi: peradangan pada parenkim paru, distal dari bronkiolus


terminalis menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan
pertukaran gas setempat.

Etiologi:
Infeksi saluran napas bagian bawah mikroorganisme bakteri
Berbeda-beda letak berdasarkan negara, lokasi, dan lainnya.
CAP di Amerika S. pneumoniae (60-70%)
CAP di Indonesia Klebsiella pneumoniae (45,18%), S. pneumoniae
(14,04%).

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf
Diagnosis Pneumonia

Diagnosis pasti:
Foto toraks infiltrat baru atau infiltrat progresif + dengan 2 atau
lebih gejala di bawah:
Batuk-batuk bertambah
Perubahan karakteristik dahak/ purulen
Suhu tubuh 38C (aksila)/ riwayat demam
Ditemukan tanda-tanda konsolidasi, suara nafas bronkial dan ronki
Leukosit 10.000 atau < 4500

http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-pneumoniakom/pnkomuniti.pdf
Pneumonia
Bronchiolitis
Dengue
Kriteria diagnosis DBD
DERAJAT DEMAM DENGUE + DEMAM
BERDARAH DENGUE
Demam dengue (DD)
demam akut 2-7 hari disertai gejala satu atau lebih: nyeri kepala, retroorbita,
mialgia, artralgia, ruam kulit, manifestasi perdarahan(jarang), leukopenia,
IgM/IgG positif.
Tidak ada kebocoran plasma (hemokonsentrasi, efusi pleura, asites,
hipoproteinemia)
DBD derajat 1 gejala DD + uji tourniquet (+)
DBD derajat 2 gejala DD + perdarahan spontan
DBD derajat 3 gejala DD + kegagalan sirkulasi (nadi melemah)
DBD derajat 4 gejala DD + syok berat, nadi tidak terukur

Cek NS1 di hari 1-3


Cek IgM/IgG anti dengue di hari 4-7
Typhoid fever
Typhoid vs Typhus
Typhus refers to a group of infectious diseases that are caused by rickettsial
organisms and that result in an acute febrile illness. Arthropod vectors transmit
the etiologic agents to humans. The principle diseases of this group are epidemic
or louse-borne typhus and its recrudescent form known as Brill-Zinsser disease,
murine typhus, and scrub typhus.
Patients with typhus may have a history that includes the following:
Patients may have had exposure to an endemic area.
Occupational exposure: Medical and military personnel are potentially at higher
risk for typhus than the general population in endemic areas.
Overcrowding leads to close personal contact and spread of arthropod vectors
(particularly lice) among individuals.
Lack of personal hygiene: Infrequent bathing and changing of clothes provides a
hospitable environment for body lice.
Appropriate season: Cold weather may lead to overcrowding indoors and
infrequent bathing and changing of clothes, which are advantageous for lice.
Flea vectors are more abundant in warmer weather, when their hosts are more
plentiful.
Abrupt onset of fever, headache, and rash are common symptoms in rickettsial
infections.
Patients may have a history of flea bite.
History may include exposure to natural disaster or war.
Other less common symptoms of typhus include nonproductive cough and
deafness/tinnitus.
Typhoid Fever
PATOGENESIS
Typhoid
Gejala khas pada typhoid
Stepwise fever pattern pola demam dimana suhu akan turun di pagidan suhu
semakin tinggi dari hari ke hari.
Minggu pertama: gejala gastrointestinal (nyeri perut, konstipasi), batuk, sakitkepala.
Akhir minggu pertama: suhu masuk fase plateau (39-400C), muncul rose spot (salmon-
colored, blanching, truncal, maculopapules)
Minggu kedua: gejala di atas meningkat, dapat ditemukan splenomegali.
Bradikardirelatif, dicrotic pulse (double beat, the second beat weaker than the first)
Minggu ketiga: takipneu, distensi perut, diarehijau-kuning (pea soup diarrhea), dapat
masuk thypoid state(apatis, confusion, psychosis), dapat terjadi perforasi ususdan
peritonitis
Minggu keempat: jika individu tersebut bertahan, gejala akan membaik
Pemeriksaan Tifoid

1) Tubex test Minggu pertama


2) Widal Minggu kedua
Hasil positif jika terjadi kenaikan titer 4x lipat atau Anti-O 1/320 atau anti-H
1/640 (bOdy and flagHel)
3) Serologis IgM / IgG anti-Salmonella
4) Kultur :
Aspirat sumsum tulang terlalu invasif.
Darah minggu 1 (media empedu)
Feses minggu 2,3
Urin minggu 3,4
Bahan sediaan Penunjang
Pemeriksaan tifoid: pada minggu pertama dapat dilakukan
pemeriksaan tubex atau Pada minggu kedua, mengalami bakteremia
sehingga dapat diperiksa menggunakan tes widal
Hasil positif jika terjadi kenaikan titer 4x lipat atau Anti-O 1/320 atau anti-H
1/640
Tatalaksana Demam Tifoid pada kehamilan
Pilihan antibiotik pada ibu hamil
Leptospirosis
Leptospirosis

Leptospirosis: zoonosis yg disebabkan L.


Interrogans .
Harus dicurigai pada pasien yg berkontak dgn air,
tanah, atau lumpur yg terkontaminasi urin binatang.
Gejala: demam, menggigil, sakit kepala, mual,
muntah, nyeri abdomen, nyeri otot betis,
ikterus, hepatomegali, anoreksia, fotofobia,
gagal ginjal.
Tatalaksana : doksisiklin 2 x 100 mg.
Berat : injeksi penisilin G 1,5 juta unit/6 jam IV.
10% kasus leptospirosis
dapat berkembang menjadi sangat berat, disebut Weil's syndrome.
Gejala: tidak ada batasan jelas
masalah pada hati, ginjal, dan pembuluh darah. (jaundice, penurunan urin,
hipotensi, ruam, anemia, sputum berdarah, perdarahanpadamata)
Muncul 3-7 hari setelah munculnya penyakit.

Terapi :
Ringan: doxycycline
Berat: penicillin G
Malaria
Malaria
Trias malaria :
demam >2 hari
Menggigil
Berkeringat

Cari tahu riwayat berpergian ke tempat endemis


malaria.

Penunjang
Menemukan parasit malaria pada sediaan darah tepi.
Rapid test
Sediaan dibuat sebaiknya pada waktu demam.
Identifikasi etiologi malaria melalui pola demam

Malaria dengan pola demam selang tiga hari


(tiap 72 jam) malariae (kuartana)

Malaria dengan pola demam selang dua hari


(tiap 48 jam) vivax/ovale (tertiana)

Malaria dengan pola demam tidak teratur


falciparum (tropicana)
P.falciparum P.vivax P.ovale P.malariae
Malaria
Malaria Malaria
Penyakit falsiparum/tropika Malaria ovale
vivax/tersiana malariae/kuartana
/tersiana maligna
Vektor Anopheles sp.
Distribusi geografik Seluruh kepulauan Seluruh kepulauan Irian Jaya, Pulau Papua Barat, NTT,
di Indonesia di Indonesia di Indonesia Timor Sumatera Selatan
Hipnozoit - + + -
Daur eritrosit Tiap 48 jam Tiap 48 jam Tiap 48 jam Tiap 72 jam
Eritrosit yang Muda, normosit, Retikulosit, Retikulosit,
Normosit
dihinggapi tua normosit normosit muda
Pembesaran
- ++ + -
eritrosit
Titik-titik di
Maurer Schuffner Schuffner (James) Ziemann
eritrosit
Cincin, marginal, Bulat/oval (1/3 Band/pita,
Bentuk trofozoit
accole (1/6 Cincin (1/3 eritrosit) eritrosit) basket/keranjang,
intra eritrosit
eritrosit) rossete, bulat
Bentuk gametosit Pisang Bulat Bulat Bulat
Pigmen warna Hitam Kuning tengguli Tengguli tua Tengguli hitam
P. falciparum
P. malariae

Band form Basket form


P. vivax
Terapi Malaria tanpa Komplikasi
Jenis
Lini Obat
Malaria
Artesunat(H1-3; 4mg/kgBB) + Amodiakuin(H1-3; 10mg/kgBB) + Primakuin(H1; 0,75mg/kgBB), atau
I
Malaria Dihidroartemisinin(H1-3; 2-4mg/kgBB) + Piperaquin(H1-3;16-32mg/kgBB) + Primakuin(H1;0,75mg/kgBB)
Falsiparum
II Kina(H1-7; 30mg/kgBB) + Doksisiklin(H1-7; 2-4mg/kgBB)/Tetrasiklin(H1-7; 16-20mg/kgBB) + Primakuin(H1;0,75mg/kgBB)

Malaria I Artesunat(H1-3; 4mg/kgBB) + Amodiakuin(H1-3; 10mg/kgBB) + Primakuin(H1-14; 0,25mg/kgBB)


Vivax II Kina(H1-7; 30mg/kgBB) + Primakuin(H1-14; 0,25mg/kgBB)

Malaria I Artesunat(H1-3; 4mg/kgBB) + Amodiakuin(H1-3; 10mg/kgBB) + Primakuin(H1-14; 0,25mg/kgBB)


Ovale II Kina(H1-7; 30mg/kgBB) + Primakuin(H1-14; 0,25mg/kgBB)
Malaria Artesunat(H1-3; 4mg/kgBB) + Amodiakuin(H1-3; 10mg/kgBB)atau Dihidroartemisinin(H1-3; 2-4mg/kgBB) +
-
Malariae Piperaquin(H1-3;16-32mg/kgBB)

NB:
- KI primakuin: ibu hamil, anak <1 tahun, G6PD
- Dosis adalah dosis per hari
- DHP hanya diperuntukkan bagi daerah Papua
Terapi profilaksis malaria

Doksisiklin 1x100 mg sejak 1 minggu sebelum sampai 1 bulan setelah


kembali
Kontraindikasi: ibu hamil dan usia< 8 tahun
Mefloquine 250 mg/mgg, 2 mgg sblm1 bln stlh
KI: gangguan jiwa, epilepsi
Atovaquone/proguanil 1x1 tab, 1 hr sblm1 mgg stlh
KI: ibu hamil, menyusui bayi<5 kg, gagal ginjal berat
Chloroquine 300 mg/mgg, 1 mgg sblm1 bln stlh
Di Indonesia sudah resisten
Primaquine 1x30 mg, 1 hr sblm1 mgg stlh
Harus skrining defisiensi G6PD dulu
KI: ibu hamil, defisiensi G6-PD, menyusui bayi yang belum skrining G6PD
Helminthes
Trematoda (cacing pipih)
Nematoda (cacing gilig)
Cestoda (cacing pita)
Trematoda

Semua telur beroperkulum, kecuali schistosoma mansoni/haematobium


Telur besar beroperculum fasciola hepatica / fasciolopsis buski
Schistosoma

Blood flukes
Triple S:
Schistosoma
Spina
terminalis
Serkaria
Fasciolopsis buski

Intestinal flukes
Oper-Bus jalur
12:
Operculum
F. Buski
B12
Duodenum
Metaserkaria
Nematoda

Prutitus ani 3 T: Telur bulat-oval Ancylostoma


Bentuk Trichuris dinding berlapis duodenale &
huruf D Tempayan Keluar cacing Necator
(ingat (bentuk) Obstruktif americanus
dubur) Turun Loeffler Segmented ovum
Scotch (prolapsus syndrome Anemia
tape test recti) (sesak nafas) Harada mori test
Cestoda

Nana masak baso pake sasa bikin ngeces


Hymenolepis Nana
Babi T. Solium
Sapi T. Saginata
Cestoda
H. nana

Telur bulat, 6 kait &


filamen polar
Telur = infektif &
diagnostik
Taenia
Filaria
Filariasis

Agent: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori


Vector: culex, anopheles, etc
Acute (limfedenitis, limfangitis, fever)
Chronic (elephantiasis): obstruction of lymphatic vessels by adult
worms
W. bancrofti
Perbandingan cephalic ratio
W. Bancrofti 1:1
Brugia malayi 2:1
Brugia timori 3:1
Diagnosis dan Terapi

Mikrofilaria dalam darah pada


malam hari (22.00-02.00)
Giemsa stain (MDT)

Terapi: Diethyl Carbamazine (DEC) 3 x 6mg/kgBB per hari (12 hari)

Profilaksis: DEC 6mg/kgBB + Albendazol 400mg per tahun (5 tahun)


Tetanus
T Etiologi: Clostridium tetani Spasme:
Patogenesis: Toksin tetanus Otot napas & laring: asfiksia & sianosis
e (tetanolysin dan tetanospasmin) Otot uretral: retensio urin
t tetanospasmin terikat pd
motor neuron presinaps
M.mastikatoris: trismus
M.erector trunki: kuduk kaku,
a membuat pori ke dalam neuron
epistotonus
bermigrasi aksonal retrogade
n ke medspin ant. horn vesikel M.rectus abdominis: perut papan
berisi GABA dan glisin tidak M.fasialis: risus sardonikus
u dapat dilepaskan loss of Ekstremitas inferior: ekstensi, lengan
s inhibitory action on motor &
autonomic neurons spasme &
kaku, tangan mengepal.

hiperaktivitas otonom
Tetanus Gejala Klinis & Tatalaksana
Tampilan klinis:
Trismus, kaku leher, disfagia, kakuan abdomen,
opistotonus, fleksi lengan, ekstensi tungkai, disfungsi
otonom
Bisa terjadi kejang, baik akibat rangsangan maupun
spontan
Pasien tetap sadar dan merasa kesakitan
Jarang terjadi demam Imunoglobulin tetanus manusia (TIG) /
Tetagam,
Penunjang: tes spatula Antitetanus serum (ATS) 50.000 IU
(im) + 50.000 IU (iv) single dose ATAU

Tata laksana: 20.000 IU/hari selama 5 hari

Metronidazole (untuk membunuh bakteri yang


memproduksi toksin)
ATS atau TIG (untuk mengikat toksin bebas)
TT (untuk menginduksi imunitas)
Diazepam (meringankan gejala spasme)
Opistotonus
Ablett Classification of Tetanus Severity

Grade 1 (mild): mild trismus, mild rigidity without spasms, no


respiratory embarrassment, no spasms, no dysphagia.
Grade 2 (moderate): moderate trismus, rigidity with short
spasms, mild dysphagia, moderate respiratory involvement
with respiratory rate more than 30 per minute, mild
dysphagia.
Grade 3 (severe): Severe trismus, generalized spasticity with
prolonged spasms, respiratory rate more than 40 per minute
and intercurrent apnoeic spells, severe dysphagia, pulse
above 120.
Grade 4 (very severe): grade 3 with severe autonomic
disturbances involving the cardiovascular system.
Rabies
Rabies

Infeksi virus rabies manusia Gejala klinis:


terinfeksi melalui jilatan atau Gejala prodormal (nonspesifik:
gigitan hewan yang terjangkit demam, sakit kepala, malaise,
rabies (anjing, kucing, kera, mialgia, gejala saluran
musang, serigala, kelelawar) pernafasan dan gastrointestinal,
Rentang inkubasi virus rabies berlangsung 1-4 hari)
mulai 7 hari-1 tahun, rata-rata 1- Gejala ensefalitik (furious)
2 bulan
Gejala paralitik (dumb)

Sumber: eMedicine bagian Rabies


Gambaran Klinis Rabies
Gejala Ensefalitik Gejala Paralitik
Peningkatan aktivitas motorik, Tidak ditemukan hidrofobia,
eksitasi, confusion aerofobia, hiperaktivasi dan
Halusinasi kejang
Spasme muskular, meningismus Gejala awal: ascending paralysis
atau kuadriparesis
Postur epistotonik, kejang,
paralisis fokal Gejala meningeal (sakit kepala,
kaku kuduk)
Patognomonik: hidrofobia dan
aerofobia Komplikasi:
Hiperaktivasi otonom SSP meningoensefalitis
hipersalivasi + kesulitan menelan koma (paling sering, dan
mulut berbusa ditakutkan)
Gejala ensefalitik dapat Cardiac-respiratory failure
berkembang menjadi gejala Poikilothermia
paralitik Aritmia
Electrolyte imbalance
Sumber: eMedicine bagian Rabies, BMJ Best Practice
Patofisiologi Rabies
Tatalaksana Rabies
Kategori 2: luka tidak berbahaya
3 unsur penting dalam Post (jilatan pada kulit luka, garuka,
Exposure Praphylaxis (PEP): erosi/ekskoriasi, luka kecil)
Perawatan luka luka risiko rendah berikan
VAR
Serum anti rabies (SAR)
Kategori 3: jilatan/luka pada
Vaksin anti rabies (VAR)
mukosa, luka diatas daerah bahu
Rekomendasi WHO dalam (muka,kepala,leher), luka pada
mencegah rabies menurut jari tangan/kaki, genitalia, luka
kontaknya: dalam, multiple atau kontak
Kategori 1: menyentuh, dengan kelelawar berikan VAR
memberi makan hewan pada dan SAR
kulit intak karena tidak terpapa
tidak perlu profilaksis
Sumber: Kementrian Kesehatan RI
Pencegahan Rabies
Tidak ada terapi yang terbukti efektif menurunkan angka kematian
rabies.
Pencegahan pasca terekspos:
- Pembersihan luka segera mungkin
- Imunisasi aktif dan pasif paling efektif dalam 3 hari pasca terekspos
Serum anti Rabies 20 IU/kg BB infiltrasi pada luka, separuhnya lagi IM:
pada luka gigitan parah, gigitan di daerah leher ke atas, jari tangan,
genitalia.
Vaksin anti Rabies 0,5 cc IM deltoid pada hari 0,7, 21 (regimen Zagreb/
rekomendasi Depkes).

RUJUKAN : PANDUAN LAYANAN PRIMER, Ferrys Clinical Advisor


Hypersensitivity
HIV-AIDS
Stadium Klinis HIV (WHO)

Stadium 1: asimtomatik, limfadenopati generalisata persisten


Stadium 2: BB turun <10%, herpes zoster, ulkus oral berulang,
dermatitis seboroik, infeksi jamur kuku
Stadium 3: BB turun >10%, diare kronik >1 bulan, demam >1 bulan,
kandidiasis oral, TB paru
Stadium 4: HIV wasting syndrome (BB turun >10%+ [diare kronik >1
bulan atau demam >1 bulan]), PCP, TB ekstra paru
Strategi diagnostik HIV oleh UNAIDS dan WHO 2001
Sumber: Guideline for Using HIV Testing WHO/UNAIDS

Indonesia pakai yang Strategi III ini


Bagan di samping kiri adalah alur tes antibodi
HIV (Strategi III) yang dipakai Kemenkes
untuk standar nasional
Tes antibodi yang dipakai boleh Rapid Test
atau ELISA, sebanyak 3 kali tes untuk
diagnosis pasti (apablagi sudah disertai gejala
AIDS)
Western Blot tidak diwajibkan pada pedoman
nasional sebagai standar diagnostik karena
secara teknis sulit dilakukan secara rutin

Sumber: Pedoman Nasional


Tatalaksana HIV Kemenkes
2011
Terapi ARV

Pada pasien HIV denga ko-infeksi TB, mulai terapi ARV sesegera mungkin setelah terapi TB
dapat ditoleransi (dalam 2-8 minggu pertama setelah memulai terapi OAT untuk TB)
NRTI (Nucleoside Reverse NVP = Nevirapine
Transcriptase
Inhibitor
AZT = Zidovudine
3TC = Lamivudine
TDF = Tenofovir
NNRTI (Non-Nucleoside Reverse
Transcriptase Inhibitor
EFV = Efavirenz
Systemic Lupus Erythematosus
Intoksikasi
Opioid

Trias penurunan kesadaran + miosis pupil + depresi napas adalah


khas untuk intoksikasi opioid
Contoh opioid: heroin, kodein, morfin

Antidotum:
nalokson 0,4-2 mg IV/IM/SC/ET, boleh diulang tiap 3 menit, tidak boleh
melebihi 10 mg

11/6/2016 Sumber : Panduan praktis penggunaan klinis obat psikotropik


Tanda Intoksikasi (Toxidromes)
Tekanan Frekuensi Frekuensi Ukuran Bising
Tanda Suhu Keringat
darah nadi napas pupil usus

Antikolinergik ~ Naik ~ Naik Naik Turun Turn

Kolinergik ~ ~ ~ ~ Turun Turun Naik

Halusinogenik Naik Naik Naik ~ Naik Naik ~

Opioid Turun Turun Turun Turn Turun Turun Turun

Simpatomimeti
Naik Naik Naik Naik Naik Naik Naik
k

Sedatif-hipnotik Turun Turun Turun Turun ~ Turun Turun


Gejala Intoksikasi
Antikolinergik
Contoh: antipsikotik, antidepresan,
Sedatif-hipnotik
antiparkinson
Contoh: antikonvulsan, barbiturat,
Gejala: pandangan kabur, penurunan
benzodiazepine, GABA, etanol
kesadaran, halusinasi, flushing,
demam, kulit kering, ileus, retensi urin, Gejala: penurunan kesadaran,
takikardia pandangan kabur, ataxia, parastesia,
halusinasi, nistagmus
Kolinergik
Simpatomimetik
Contoh: organofosfat (obat nyamuk,
obat hama) Contoh: amfetamin, kokain,
metamfetamin, efedrin,
Gejala: bronkorea, bronkospasme,
fenilpropanolamin
salivasi, lakrimasi, urinasi, diare,
muntah Gejala: cemas, waham, hiperrefleks,
piloeereksi, kejang
Halusinogenik
Contoh: amfetamin, kokain, fensiklidin
Gejala: disorientasi, halusinasi, bising
usus meningkat, panik, kejang
Alcohol Withdrawal
Botulisme

Gangguan neurologis akut neuroparalisis akibat


neurotoxin Clostridium botulinum.
3 tipe
infant botulism (IB) madu
foodborne botulism (FBB) makanan kaleng
wound botulism (WB) luka
> 90% punya 3-5 gejala berikut: Sistem saraf otonom:
Nausea Ileus paralitik
Vomiting Dilatasi gaste
Dysphagia Distensi kandung kencing
Diplopia
Hipotensi orthostatik
Dilated/fixed pupils
Penurunan salivasi
Mulut kering
Penurunan lakrimasi
Perjalanan penyakit:
Gejala nonspesifik: nausea, vomitus,
Gejala lain:
nyeri perut, malaise, pusing, mulut Deep tendon reflexes: positif atau
kering, nyeri tenggorok berkurang
Paralisis n.kranial: penglihatan buram, Inkoordinasi tubuh
diplopia, ptosis, fixed/dilated pupils, Pemeriksaan sensorik dan gait
dysarthria, dysphagia, penurunan gag
reflex normal
Symmetrical descending paralysis Mental status examination normal
Respiratory muscle weakness: ringan
berat

http://emedicine.medscape.com/article/21331
1-overview#a0101
Lain-lain

Sianida tiosulfat
Jengkolat Bikarbonat
Organofosfat sulfas atropin
Methanol-Induced Optic Neuropathy

Diduga metabolit metanol: asam format rusak saraf optik


Perubahan funduskopi: edema diskus optikus, hiperemia
Metanol mengakibatkan asidosis metabolik

http://emedicine.medscape.com/article/1174890-overview
Methanol-Induced Optic Neuropathy

Gejala awal intoksikasi terhadap okular: fotofobia, pandangan kabur,


nyeri saat pergerakan bola mata, pupil tidak reaktif

Right (A) and left (B) optic discs of the patient with
pseudoglaucomatous optic neuropathy secondary to
methanol intoxication (optic disc area both eyes: 2.6
mm2; neuroretinal rim area right eye: 1.1 mm2; left eye:
0.92 mm2). Note intensely pale appearance of the optic
disc with alteration of neuroretinal rim configuration and
(most likely) pre-existing peripapillary atrophy zone. Note
also the washboard-like pattern of the internal limiting
membrane (arrow) secondary to acute loss of retinal
nerve fibres.

Br J Ophthalmol 2002;86:1064-1065 doi:10.1136/bjo.86.9.1064


Treatment of poison ingestion
Gastric lavage Activated charcoal
Flexible tube is inserted through In conscious patients
Adsorbs toxic substances or
the nose into the stomach irritants, thus inhibiting GI
Stomach contents are then absorption
suctioned via the tube Addition of sorbitol laxative effect
A solution of saline is injected Oral: 25-100 g as a single dose
into the tube repetitive doses useful to enhance
the elimination of certain drugs (eg,
Recommended for up to 2 hrs in theophylline, phenobarbital,
trichloroacetate & up to 4hrs in carbamazepine, aspirin, sustained-
Salicylate OD release products)
not effective for cyanide, mineral
acids, caustic alkalis, organic
Induced Vomiting solvents, iron, ethanol, methanol
Not routinely recommended poisoning, lithium
Risk of aspiration
Renal elimination
Medication to stimulate urination or defecation may be given to
try to flush the excess drug out of the body faster.

Forced alkaline diuresis


Infusion of large amount of NS+NAHCO3
Used to eliminate acidic drug that mainly excreted by the kidney
eg salicylates
Serious fluid and electrolytes disturbance may occur
Need expert monitoring

Hemodialysis or haemoperfusion:
Reserved for severe poisoning
Drug should be dialyzable i.e. protein bound with low volume of
distribution
may also be used temporarily or as long term if the kidneys are
damaged due to the overdose.