Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sebelum seorang wirausaha membangun sebuah usaha, mereka harus memperhatikan


resiko-resiko apa saja yang mungkin akan dihadapi oleh usahanya tersebut. Karena resiko
merupakan hal yang tidak pasti dan harus benar-benar diperhitungkan sebelum menjalankan
usaha. Seperti kendala dan hambatan yang mungkin akan dihadapi selama usaha tersebut
berlangsung. Hal ini bertujuan agar resiko yang dihadapi dapat ditekan sekecil mungkin dan
tidak menyebabkan kerugian financial perusahaan yang terlalu besar.

Di dalam perusahaan, setiap departemen akan menghadapi berbagai macam resiko sesuai
dengan hubungan bidangnya. Misalnya, departemen keuangan, resiko yang akan mereka hadapi
adalah semua hal yang berhubungan dengan penggunaan uang perusahaan selama usaha
berlangsung. Maka diperlukan perhitungan khusus untuk menemukan resiko-resiko yang akan
dihadapi di masa yang akan datang. Begitu juga dengan departemen-departemen lainnya, seperti
pemasaran, operesi dan personalia. Resiko yang dihadapi nantinya akan berbeda.

Sehingga dalam mengidentifikasi resiko, kecakapan manajer di setiap departemen dalam


perusahaan sangat mempengaruhi dalam mengambil keputusan , yang sangat berkaitan dengan
menentukan besar kecilnya resiko yang akan dihadapi perusahaan. Seorang manajer harus dapat
memutuskan metode apa yang akan digunakan dalam mengidentifikasi resiko yang ada, tentunya
dengan memperhatikan usaha apa yang sedang dijalankan.

Dengan melakukan identifikasi resiko akan memudahkan manajer dalam mengukur


seberapa besar resiko yang dihadapi nantinya. Sehingga perusahaan dapat mengantisipasi apabila
resiko tersebut benar-benar terjadi dan dapat menyiapkan rencana untuk mengatasi resiko yang
akan dihadapi nantinya. Agar tidak mengganggu kelangsungan hidup perusahaan.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan mengidentifikasi risiko?
1.2.2 Apa saja alternatif pengklasifikasian kerugian dalam suatu checklist?
1.2.3 Apa saja metode yang digunkan untuk mengidentifikasi risiko dalam suatu checklist?

1.3 Tujuan Masalah


1.3.1 Dapat mengetahui maksud dari identifikasi risiko.
1.3.2 Dapat mengetahui macam-macam alternatif pengklasifikasian dalam suatu checklist.
1.3.3 Dapat mengetahui macam-macam metode yang digunakan untuk mengidentifikasi
risiko dalam suatu checklist.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Mengidentifikasikan Risiko

Sebelum memanajemeni risiko, maka harus dapat diketahui adanya risiko itu, berarti
membangun pengertian tentang sifat risiko yang dihadapidan dampaknya terhadap aktivitas
perusahaan. Pengidentifikasian risiko sering pula disebut mengdiagnosis risiko. Jika semua
kerugian potensial yang mungkim menimpa suatu perusahaan, tidak diketahui, maka tidak
mungkin memanajeri risiko perusahaan yang bersangkutan. Dalam keadaan tidak
diidentifikasikan semua risiko, berarti perusahaan yang bersangkutan menanggung risiko
tersebut secara tak sadar. Pengidentifikasian risiko itu merupakan proses penganalisisan untuk
menemukan secara sistematis dan secara berkesinambungan risiko (kerugian yang potensial)
yang menantang perusahaan. Untuk itu diperlukan :

Pertama : suatu checklist dari pada semua kerugian potensial yang mungkin bisa terjadi pada
umumnya pada setiap perusahaan.

Kedua : untuk menggunakan checklist itu diperlukan suatu pendekatan yang sistematik untuk
menentukan mana dari kerugian potensial yang tercantum dalam checklist itu
yang dihadapi oleh perusahaan yang sedang dianalisis.

Manajer risiko seharusnya menjalankan sendiri kedua langkah itu, kalau tidak, ia harus
percaya saja pada jasa agen asuransi, broker, dan konsultan.

Sumber Checklist

Checklist itu diterbitkan oleh perusahaan asuransi, badan penerbitan asuransi, Asosiasi
Manajemen Amerika (AMA), dan Ikatan Manajemen Risiko dan Asuransi. Selain dari checklist
yang dipubikasikan itu, manajer risiko harus pula punya checklist-nya sendiri. Hal itu diperlukan
agar manajer dapat menambahkan potensi kerugian yang tidak terdapat di dalamnya, karena
biasanya checklist yang diterbitkan perusahaan asuransi hanya menyangkut risiko yang dapat
diasuransikan.

2.2 Klasifikasi Kerugian


Salah satu alternatif sistem pengklasifikasian kerugian dalam suatu checklist adalah
sebagai berikut :

Kerugian Hak Milik (Property Losses)


a. Kerugian langsung yang dihubungkan dengan kebutuhan untuk mengganti atau
reparasi atau kehilangan harta.
b. Kerugian tidak langsung, seperti kaharusan untuk menghancurkan sisa gedung
yang rusak akibat kerugian langsung.
c. Kerugian pendapatan (net income), seperti penghentian kegiatan sementara yang
disebabkan oleh suatu kerugian dimana tidak boleh ditempatinya ruangan kerja.

Kewajiban Mengganti Kerugian Orang Lain (Liability Losses)


Karena rusaknya hak milik orang lain atau terlukanya orang lain.

Kerugian Personalia (Personnel Losses)


a. Kerugian bagi perusahaan, karena kematian, cacat, atau mengundurkan dirinya
pegawai, langganan atau pemilik.
b. Kerugian bagi keluarga pegawai, yang disebabkan oleh kematian, cacat, atau
pemberhentian.

2.3 Penggunaan Suatu Checklist

Langkah kedua dalam pengidentifikasian risiko adalah menggunakan checklist yang


dibangun dalam langkah pertama untuk menemukan risiko dan menjelaskan jenis-jenis kerugian
yang dihadapi oleh suatu perusahaan. Dalam hal-hal tertentu orang yang memakaikan checklist
itu sudah begitu menguasai tentang seluk-beluk harta, operasi, dan personil perusahaan yang
bersangkutan, sehingga ia dapat mengidentifikasikan risikonya dengan mengambil tiap item
dalam checklist itu, tanpa banyak menemui kesulitan.

Kebanyakan perusahaan sifat operasintya kompleks, berdiversifikasi dan dinamis, maka


diperlukan metode yang lebih sistematis untuk mengeksplorasi semua segi dari sebuah
perusahaan tertentu. Metode yang dianjurkan untuk dipergunakan adalah sebagai berikut :
Questionnaire analisis risiko (Risk analysis questionnaire)
Metode laporan keuangan (Financial statement method)
Metode peta aliran (flow-chart)
Inspeksi langsung pada obyek
Interaksi yang terencana dengan bagian-bagian perusahaan
Catatan statistik dari kerugian masa lalu
Analisis lingkungan

Sebelum memakaikan metode-metode tersebut perlu ditekankan tiga hal berikut :


1) Masing-masing metode itu saling melengkapi. Oleh karena itu jangan percaya pada hasil
satu metode saja.
2) Risiko yang dihadapi mungkin berubah-ubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu
pengidentifikasian risiko merupakan suatu proses yang berkesinambungan.
3) Gap yang mungkin terdapat dalam checklist sebaiknya dikoreksi.

Risk Analysis Questionnaire

Analysis ini menjuruskan manajer risiko untuk memastikan bahwa informasi yang
diperlukan berkenaan dengan harta dan operasi perusahaan tidak ada yang terlupakan. Untuk
memperkuat informasi ini, manajer risiko akan mempertimbangkan semu sumber informasi yang
digunakan dalam metode-metode lainnya. Bedanya adalah bahwa pertanyaan dalam
questionnaire itu menjuruskan penyelidikan itu.

Metode Laporan Keuangan

Dengan menganalisis neraca, laporan laba-rugi dan catatan lain yang menyongkongnya,
manajer risiko bisa mengidentifikasikan semua risiko yang berkenaan dengan harat, utang, dan
personalia perusahaan. Dengan menggabungkan laporan keuangn ini dengan ramalan keuangan
dan anggaran, maka manajer dapat menemjkan risiko yang akan dihadapi, sebab setiap transaksi
bisnis pada akhirnya menyangkut baik uang maupun hak milik. Maka berdasarkan metode ini
setiap perkiraan (account) dipelajari secara mendalam mengenai kerugian potensial yang bisa
diciptakan oleh account itu. Selanjutnya pada uraian berikutnya, dapat diketahui bahwa laporan
keuangan berguna pula dalam mengukur risiko.

Analisis berikut ini menggambarkan dalam bentuk yang diringkaskan tentang bagaimana
sebuah account, dihubungkan dengan berbagai kerugian yang bisa terjadi, dapat menolong
mengidentifikasikan risiko. Tentu saja sumber-sumber informasi lainmungkin diperlukan pula
seperti, surat-surat kontrak, atau inspeksi harta yang bersangkutan. Contoh : pengidentifikasian
risiko yang bertolak dari masing-masing rekening yang terdapat dalam laporan keuangan.

Nama Barang Pemilikan, personil atau Kerugian potensial peril


kegiatan tertentu
Inventory Bahan Mentah : Kerugian harta Kebakaran, topan,
- Dalam tangan suplier. langsung tidak meledak, lain-lain
- Dalam perjalanan langsung. Pendapatan bahaya fisik.
menuju gudang dalam neto. Vandalisme,
truk milik suplier. perampokan, lain-
lain bahaya yang
Gudang : disebabkan manusia.
- Dalam perjalanan ke Kerugian yang Kealpaan.
pabrik dengan truk bersifat tanggung Pelanggaran garansi.
milik sendiri. jawab : disebabkan Kecelakaan badan
- Pabrik. oleh truk, bangunan, bagi pegawai.
produk, kecelakaan Kecelakaan lalu
Barang Jadi : yang menimpa lintas.
- Pabrik. pegawai.
- Dalam perjalanan ke
gudang dengan truk
sendiri.
- Angkutan umum.
- Gudang.
Kerugian personil Kematian, kesehatan
- Dalam perjalanan ke
terhadap perusahaan yang buruk,
pengecer dengan truk
dan keluarga. pemberhentian,
sendiri.
- Angkutan umum. pensiun.
- Dalam tangan
pengecer independen.

Metode Peta Aliran

Suatu peta aliran menggambarkan seluruh operasi dari perusahaan yang bersangkutan,
yang dimulai dari bahan mentah, listrik, dan input yang lain-lain pada lokasi suplier dan beralhir
denganproduk jadi dalam tangan langganan. Checklist dari kerugian potensial dipakaikan pada
masing-masing milik dan operasi yangterlihat dalam peta aliran itu untuk menentukan kerugian
yang mana yang daihadapi perusahaan yang bersangkutan.

Dibawah ini diberikan sebuah peta aliran yang sederhana yang menggambarkan
operasikeseluruhan.

Pemasok Gudang Pabrik Gudang Pengecer


A 1 1 3 1

Pemasok Pengecer
B 2
Pemasok Gudang Pabrik 2 Gudang Pengecer
Pengecer konsume
Dengan mempergunakan checklist dan peta aliran di atas dapat dilakukan analisis, antara lain
sebagai berikut :
Kerugian yang berkenaan dengan harta
Penggantian atau reparasi truk, pabrik, mesin, bahan mentah, barang dalam proses,
barang jadi, yang bisa di sebabkan oleh bencana fisik atau bencana yang disebabkan
manusia, baik dalam bangunan perusahaan maupun dalam perjalanan. Penutupan maupun
mengurangi operasi perusahaan disebabkan oleh kerugian langsung harta milik.

Kerugian yang berkenaan dengan tanggung jawab


Tanggung jawab mengganti kerugian terhadap kerusakan badan maupun harta pihak
langganan sebab produk yang defektif terhadap pengunjung karena bangunan yang rusak,
terhadap yang lain-lain sebab kelengahan supir truk perusahaan. Tanggung jawab
menurut undang-undang berkenaan dengan kecelakaan pegawai yang sedang bekerja, dan
seterusnya.

Kerugian personil
Kerugian bagi perusahaan karena kematian atau cacat (tidak bisa bekerja lagi) pegawai-
pegawai penting (yang menentukan). Kerugian bagi keluarga pegawai yang
bersangkutan, karena kematian, kesehatan yang buruk, pensiun atau pemberhentian.
Selanjutnya setiap bagian operasi perusahaan dapat dibuatkan peta tersendiri yang lebih
terperinci.Contoh berikut ini adalah peta aliran dari pabrik 1.

Barang Ruangan Penyimpana Proses Pengepak


dikirim dari penerim n pabrik an
gudang 1 a
dan 2 dalam
truk milik
perusahaan.

Dengan truk milik Dikirim dengan


perusahaan angkutan umum
dikirim ke gudang ke gudang 4.
3.
Inspeksi

Dengan mengamati langsung jalannya operasi, bekerjanya mesin, peralatan, lingkungan


kerja, kebiasaan kerja pegawai, dan seterusnya, manajer risiko dapat mempelajari lebih banyak
dan meyakinkan tentang hazard yang mungkin tidak di sadari oleh pekerja ataupun yang
mungkin tidak pernah ditemukan dalam laporan tertulis. Oleh karena itu inspeksi langsung ke
obyek ini merupakan suatu keharusan.

Interaksi dengan Bagian Lain

Keberhasilan manajer risiko mengidentifikasikan risiko terutama tergantung pada


kerjasama yang erat dengan bagian-bagian lain dalam perusahaan. Manajer bagian-bagian ini
secara konstan menjadi awas terhadap risiko yang dihadapinya.
Interaksi ini meliputi:
1) Untuk memperoleh pemahaman yang sempurna dari kegiatan suatu bagian
mengidentifikasikan kerugian potensial yang ditimbulkan oleh kegiatan itu, maka
manajer risiko sering mengunjungi manajernya serta dapat mengadakan tanya jawab
langsung dengan pegawai.
2) Laporan lisan maupun tertulis dari bagian-bagian perusahaan itu, baik atas inisiatif
mereka, maupun sebagai laporan rutin yang memberi informasi yang up to date mengenai
perkembangan yang relevan.

Statistik Kerugian

Pendekatan yang ke enam ini dapat memberikan petunjuk tentang kerugian yang telah
lalu dan kerugian mana di antaranya yang sering terjadi.

Analisis Lingkungan

Lingkungan yang relevan adalah (1) langganan, (2) pemasok, (3) saingan, (4) undang-
undang dan ketentuan lainnya. Dalam menganalisis masing-masing komponen pertimbangan
yang penting adalah sifat hubungannya, keanekaannya, dan kestabilannya.

Sebagai contoh, apakah produk di distribusikan langsung kepada suatu grup pembeli
ataukah secara tidak langsung, melalui grosir, pengecer dan kepada orang banyak? Apakah
langganan itu keluarga, perusahaan, ataukah pemerintah? Manakah service yang penting,
pemasok tunggal atau pemasok majemuk? Kontrak apakah yang telah dibuat dengan pemasok?
Apakah persaingan memerlukan kampanye melalui iklan dan berkemungkinan membangkitkan
klaim terhadap produk yang tidak memenuhi syarat? Kewajiban apakah yang palin penting yang
dibebankan oleh pemerintah, konsumen, asosiasi, dan sebagainya?

PENGGUNAAN PIHAK LUAR UNTUK MENGIDENTIFIKASIKAN RISIKO

Manajer risiko boleh percaya pada agen asuransi, broker atau konsultan manajemen
risiko untuk melakukan pekerjaan yang terinci mengidentifikasikan risiko. Akan tetapi
mempercayai saja sepenuhnya pihak luar untuk pengidentifikasian risiko pada suatu ketika bisa
mengandung kelemahan. Pertama, walaupun banyak dari agen asuransi dan broker lebih baik dan
lebih berpengalaman menemukan risiko pada berbagai perusahaan, tetapi kebanyakan mereka
membatasi bagi risiko yang di asuransikan saja. Kedua, disebabkan oleh waktu dan energi yang
dikerahkan dalam mempersiapkan survei menyeluruh, terutama bagi perusahaan besar, maka
kebanyakan agen asuransi dan brokeryang penghasilannya tergantung pada komisi yang
diberikan oleh perusahaan asuransi, maka dapat dimengerti mereka menolka melakukan survei
mneyeluruh.

Tetapi kelemahan ini sudah berangsur hilang, karena makin banyak konsultan manajemen
risiko yang berpraktek atas dasar kontrak kerja dengan perusahaan yang bersangkutan, dan tidak
ada hubungannyadengan perusahaan asuransi yang ingin memasaran asuransinya.

Melakukan survei sendiri memang memakan waktu, tetapi tidak lain yang lebih baik bagi
manajer risiko untuk mengamati dari dekat sumber risiko yang melekat pada hak milik, operasi
dan management phylosophy dan karena itu akan mengambil keputusan dengan hasil yang lebih
baik.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pengidentifikasian resiko merupakan proses penganalisisan untuk menemukan secara
sistematis dan secara berkesinambungan risiko yang menantang perusahaan. Pengidentifikasian
ini berguna untuk sebuah perusahaan untuk memanajeri risiko didalam kegiatatan perusahaan.
Untuk menganalisis suatu risiko yang mungkin terjadi di suatu perusahaan dapat menggunakan
checklist. Pengklasifikasian didalam checklist adalah kerugian hak milik, kewajiban mengganti
kerugian orang lain, dan kerugian personalia.
Metode-metode dalam mengidentifikasi risiko menggunakan checklist ada banyak macam,
namun yang sering digunakan oleh perusahaan kecil adalah penggunaan checklist yang siap
pakai dari pihak luar, sebab perusahaan tidak sanggup menyediakan tenaga ahli dan biaya survei.
Dalam perusahaan besarlah baru ditemui adanya bagian menajamen risiko yang melakukan
identifikasi menurut prosedurnya sendiri.

3.2 Saran
Tidak ada metode pengidentifikasian yang bebas dari kelemahan, dalam hal ini diperlukan
strategi manajemen untuk menentukan metode ataukah kombinasi metode yang cocok denngan
situasi yang dihadapi. Faktor faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan metode tersebut
adalah sifat dari bisnis, besarnya perusahaan, dan tersedianya tenaga ahli.
Menggunakan jasa pihak lain dalam pengidentifikasian risko didalam perusahaan tidaklah
buruk, namun perlu adanya tindakan pengembangan dalam pengidentifikasian risiko yang
dilakukan oleh pihak perusahaan sendiri. Hal ini dapat memberikan keuntungan didalam
perusahaan itu sendiri dalam mengambil keputusan dengan hasil yang lebih baik.