Anda di halaman 1dari 6

Mencatat Pilkada DKI: Adu Strategi Citra Diri

Proses Pilkada DKI Jakarta sebentar lagi akan memasuki masa akhir
kampanye. Stategi demi strategi dijalankan masing-masing kandidat
pasangan. Serang sana, tahan sini, pukul sana, balas sini, keriuhan
disaksikan masyarakat bahkan bukan hanya Jakarta melainkan juga
Indonesia.

Sejak awal bergulir dari penjaringan bakal calon, partai-partai sudah


memasang strategi terbaik masing-masing. Ini bukan soal menang di DKI
Jakarta semata. Ini soal Pilkada serentak dan persiapan menuju Pemilu
tahun 2019. Partai sangat serius membangun strategi bukan hanya untuk
menang di satu wilayah, melainkan upaya terobosan menuju kekuasaan
yang lebih besar. Wajar saja jika masyarakat melihat begitu kerasnya
persaingan dalam Pilkada serentak khususnya di DKI sebagai barometer
nasional.

Masyarakat Jakarta khususnya, menyaksikan bagaimana kerasnya tokoh-


tokoh nasional dan lokal berlomba mendekati kendaraan politik untuk
dapat tiket maju di Pilkada DKI. Segala upaya dilakukan untuk
memperoleh dukungan masyarakat. Mulai dari ikut pengajian, mendatangi
lokasi warga miskin, mengunjungi lokasi penggusuran dan berkeliling di
pasar dan lainnya semua dilakukan untuk menokohkan diri dekat dengan
masyarakat untuk memperoleh dukungan.

Dalam proses penjaringan bakal calon ini ada dua hal yang menarik
perhatian. Pertama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menantang
dukungan partai lewat dukungan independen 1juta KTP. Kedua,
diangkatnya kembali politik identitas, Umat Islam harus memilih
pemimpin se-Iman.

Peta politik berubah jelang penetapan calon oleh Komisi Pemilihan Umum
(KPUD) DKI Jakarta. Ahok yang awalnya digadang-gadang maju lewat jalur
independen, berubah karena PDI Perjuangan menetapkannya maju
bersama Djarot Saiful Hidayat. Tidak hanya PDI Perjuangan, Partai
NasDem, Hanura, bahkan Golkar berdiri bersama sebagai partai
pendukung. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai partai yang baru
saja lolos verifikasi KPU pun turut mendukung pasangan ini. PPP yang
masih dalam tahap rekonsiliasi pun memecah dukungannya pada dua
pasangan termasuk pasangan Ahok-Djarot.

Pada sisi yang lain, Partai Gerindra dibawah komando Prabowo Subianto
akhirnya menetapkan Anies Baswedan yang merupakan salah satu
pendukung lawannya dalam Pemilihan Presiden 2014 sebagai calon
gubernur bersama Sandiaga Uno sebagai wakilnya. Padahal sebelumnya
partai ini menjagokan Sandiaga Uno sebagai calon gubernurnya.
Beberapa tokoh yang sebelumnya dipasangkan dengan Sandiaga Uno pun
harus rela gigit jari karena tidak diberi tiket. Bersama Partai Keadilan
Sosial (PKS), Gerinda menjadi partai pendukung pasangan Anies-Sandi.
Secara mengejutkan, di hari-hari terakhir menujut penetapan, Partai
Demokrat akhirnya menetapkan Putra Mahkota Ketua Umum, Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai calon gubernur berpasangan dengan
Sylviana Murni yang merupakan mantan birokrat Pemerintah Daerah DKI
Jakarta. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), seorang mantan perwira
menengah TNI AD yang diprediksi banyak kalangan akan memiliki karir
gemilang di TNI akhirnya keluar dari dinas ketentaraan demi menjadi
calon gubernur DKI Jakarta. PKB, PAN, dan PPP kubu Romi, menjadi partai
penyokong pasangan ini.

Dilihat dari komposisi, pasangan Ahok-Djarot memang memiliki dukungan


partai yang terbanyak dan secara perhitungan matematis besar
kemungkinannya untuk memenangkan kontestasi. Disusul oleh pasangan
Agus-Sylvi, dan Anies-Sandi. Namun politik bukan hanya perhitungan
matematis. Banyak faktor yang bisa menentukan kemenangan atau
kekalahan seorang calon kepala daerah.

Strategi dilancarkan oleh masing-masing kontestan untuk memenangkan


kandidatnya. Disinilah pengalaman, kelihaian membaca situasi, dan stragi
dipertarungkan untuk memenangi pasangan calon yang diusung. Dalam
urusan ini, harus diakui kelihaian dan kemampuan strategi yang berada
dibelakang pasangan calon Agus-Sylvi. Pepo, panggilan kesayangan Agus
kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dengan tim pemenangannya di
pemilihan presiden 2 periode 2004-2014 cukup jauh diatas pasangan
Ahok-Djarot walaupun PDI Perjuangan dan Golkar adalah partai lama yang
sudah malang-melintang didalam politik Indonesia.

Membuat kejutan dihari terakhir jelang penetapan pasangan calon, baru


lah strategi awal yang dilancarkan tim Agus-Sylvi. Kecuali mereka yang
berada dalam lingkaran politik elit, penetapan Agus merupakan strategi
untuk memperoleh wow effect. Semua orang kemudian membangun
hipotesa-hipotesa dan asumsi-asumsi mengapa Partai Demokrat
memajukan Agus. Dari sini, Agus sudah memenangkan 1 tahapan untuk
memperoleh awareness dari masyarakat Jakarta. Orang-orang kemudian
mencari latar belakang, dan kiprah Agus atau setidaknya membincangkan
pencalonannya. Popularitas Agus pun langsung melesat.

Masyarakat sudah tahu Ahok-Djarot, warga Jakarta sudah kenal Anies


Baswedan, namun Agus untuk dunia politik memang baru. Kebaruan inilah
yang memicu pertanyaan masyarakat dan akhirnya menjadikannya
populer. Sedangkan Cagub yang lain cenderung sudah dikenal dan hanya
berharap tetap memiliki popularitas di masyarakat.

Sebagai mantan pemenang di Pilpres 2 Periode, tentu SBY tahu bahwa


popularitas ini belum bisa menjadi ukuran keterpilihan, elektabilitas.
Keputusan masyarakat untuk mengkonsumsi/membeli produk tidak serta
merta karena ada produk baru. Konsumen akan mencari informasi lebih
jauh keunggulan produk baru ini. Informasi produk pun disebar bersamaan
dengan distribusi diberbagai pasar. Inilah strategi yang kemudian
dimainkan. Mengenalkan Agus-Sylvi di berbagai kalangan.

Sebagaimana juga dalam promosi produk, potensial konsumen sudah


dipetakan sebelum promosi dijalankan. Dalam terminologi pemasaran,
Segmenting, Targeting, and Positioning (STP) sudah ditetapkan. Brand
Image Agus dibangun sebagai calon yang Muda-Profesional-dan Tegas.
Tagline atau pesan kunci yang disampaikan adalah Pemersatu.

Lihat saja pola kampanye yang dijalankan tim Agus-Sylvi. Simbol-simbol


Muda-Profesional-Tegas dengan mudah kita dapatkan. Misalnya, untuk
mengesankan muda dipakailah pakaian non formal, jaket tactic cool
yang selalu dikenakan dengan kancing terbuka dan celana lapangan
berkantong banyak. Jangan lupa, moshing atau loncat dari panggung
bukan hal incidental yang dilakukan, ini adalah salah satu cara branding.

Selain berkeliling kampung dan menemui komunitas masyarakat, Agus-


Sylvi juga membuat kampanye dalam ruangan dengan gayanya
menggunakan pakaian formal-profesional. Pidato-pidato visi-misi
disampaikan dalam ruangan yang di setting sedemikian rupa menunjukan
kesan profesional. Cahaya yang tidak terlalu terang, fokus cahaya di
pembicara, setting tempat duduk dan peralatan pendukung diarahkan
untuk membangun kesan profesional ini.

Dalam berbagai kesempatan Agus juga selalu menyebutkan latar


belakang militer dan pendidikan tinggi yang dilaluinya. Ini untuk
mengesankan ketegasan sekaligus profesional-ilmiah untuk konsumen
kalangan menengah yang menjadi sasarannya.

Sebagai brand baru, Agus didistribusikan ke sejumlah kalangan potensial.


Korban gusuran, warga pinggiran aliran kali dan kalangan masyarakat
kecil dikejar, karena potensi suara dari rakyat miskin ini cukup besar. BPS
DKI Jakarta mengatakan setidaknya 385.840 jiwa penduduk Jakarta adalah
warga miskin. Belum lagi warga yang terancam miskin karena
pendapatannya menurun untuk memenuhi konsumsi. Kalangan
profesional juga tidak luput dari distribusi produk bernama Agus-Sylvi.

Bagaimanapun strategi yang dijalankan tiap pasangan calon, pasar


potensial suara umat Islam merupakan pasar yang menjadi ladang
rebutan kesemuanya. Jumlah penduduk beragama Islam di DKI
berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta
(2015) berjumlah 8,533,544 atau 84% dari total penduduk Jakarta. Maka
wajar setiap pasangan calon akan memperebutkan pasar yang demikian
besar ini.

Sejak awal, pasar inilah yang terus berusaha di kuasai. Pasangan Agus-
Sylvi dan Anies-Sandi nampak tidak rela bila pasar mereka juga
diperebutkan Ahok. Itulah kenapa kedua pasangan calon tersebut
bersahut-sahutan dalam kampanye Pilih Pemimpin Islam. Apalagi
setelah mendapat resonansi dari sejumlah ormas Islam. Walau demikian
Ahok ternyata tetap berusaha untuk masuk di pasar ini dengan mendekati
sejumlah tokoh Islam seperti Nusron Wahid, Hamka Haq (PDI-P) dan
terakhir mendapat dukungan dari PPP Djan Fariz serta sejumlah tokoh
Islam lainnya.

Persaingan besar dalam pasar suara penduduk Islam ini terjadi antara
pasangan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi. Keduanya berupaya keras
mendekati kelompok kantong suara umat Islam. Anies keduanya datang
ke markas Front Pembela Islam (FPI) atau sengaja mengundang pimpinan
ormas tersebut ke markasnya. Semboyan-semboyan pimpinan umat, cinta
Islam, Cinta ulama dan seterusnya berhamburan sebagai strategi meraih
dukungan.

Namun menilik branding, Agus-Sylvi jauh lebih kuat asosiasinya dalam


pasar ini ketimbang Anies-Sandi. Kalau melihat spanduk-spanduk pemer-
Satu, Satukan Jakarta yang banyak menghiasi jalan dan gang di
Jakarta, mayoritas berasal dari pasangan Agus-Sylvi.

Strategi inilah yang juga digunakan tim Agus-Sylvi untuk meraih


dukungan. Lihat saja misalnya konferensi pers Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) setelah aksi 4 November 2016, aksi 411. Strategi SBY ini cukup
berhasil meresonansi dan memimpin isu penyelamatan Islam ketimbang
apa yang dijalankan Anies-Sandi. Tuntutan aksi untuk segera
mempidanakan Ahok digaungkan dengan rasionalisasi mencegah
perpecahan bangsa. Buah dari hal ini adalah aksi 2 Desember 2012 yang
menuntut Ahok segera di tahan. Namun kali ini aksi sedikit bisa diredam
karena aparat hukum benar-benar memproses perkara dugaan penistaan
Al Maidah dalam waktu yang cepat, walaupun diakui Kepolisian RI hal ini
telah melanggar Peraturan Kapolri yang telah dibuat jauh hari untuk
menunda proses hukum pasangan calon dalam Pilkada/Pemilu.

Tidak lama berselang, pemberitaan media massa beralih pada pendana


dugaan makar yang menyeret suami dari Sylviana Murni, pasangan Agus.
Sylviana pun kemudian juga diberitakan diduga korupsi dana hibah
Pramuka dan Pembangunan Masjid.

Melihat potensi mencuri suara, Anies mendatangi FPI dan ikut serta
dalam pertemuan di Masjid Al Azhar untuk aksi bela ulama setelah Polres
Bandung melakukan pemeriksaan terhadap Habib Riziq dengan dugaan
penistaan Pancasila (lambang negara), survei yang dilakukan sejumlah
lembaga menunjukan, elektabilitas Anies pun meningkat. Mulai dari
sinilah Anies mengubah strategi untuk secara frontal memposisikan
dirinya sebagai wakil umat Islam yang direstui kalangan ormas Islam
yang dicitrakan sebagai penjaga marwah ulama dan Habaib. Bahkan
Ketua Umum Partai Gerindra, tak segan langsung turun tangan untuk ikut
berkampanye karena menurut perhitungannya Anies-Sandi sudah
melampaui Agus-Sylvi dalam perolehan kue suara kalangan Islam.
Ahok yang masih babak belur karena setiap Selasa harus menghadapi
persidangan setelah eksepsinya ditolak, otomatis semakin mengalami
kesulitan meraih kue suara umat Islam. Persidangan yang baru
menghadirkan saksi-saksi pelapor menjadi medan perjuangan Ahok untuk
membuktikan bahwa sentimen agama yang menjeratnya adalah
sentiment politis untuk menjegalnya semata. Lahan ini pun tidak luput
menjadi pantauan kelompok yang mem-branding dirinya pimpinan dari
kalangan Islam yang tepat.

Perjuangan tim Ahok sedikit berhasil memisahkan kelompok bertendensi


politis dalam gugatan penodaan agama dengan asosiasi saksi palsu,
walaupun tidak sempurna dilakukan. Tendensi politik penodaan agama
yang sedang menjerat Ahok diarahkan sebagai tendensi politik pasangan
Agus-Sylvi, dengan sedikit melupakan pasangan lainnya yang siap
menerkam kelengahannya.
Namun harus diakui Tim Agus-Sylvi dengan komando langsung Ketua
Umum jauh lebih canggih dan massif dalam strategi meraup suara umat
Islam. Begitu ada celah disaat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia
mejadi saksi atas keluarnya Fatwa (belakangan disebut Pendapat
Keagamaan) tim Agus-Sylvi pun tidak menyianyiakan kesempatan.

Brand Pemer-Satu, kembali diperkuat. Kini bukan dikenalkan namun


sudah pada tahap membangun keyakinan calon pemilih sebelum
memutuskan pilihannya. Kembali SBY menyampaikan konfrensi pers. Kali
ini soal dugaan penyadapan illegal percakapan SBY dengan Ketua MUI
yang menurut pengacara Ahok diduga memesan keluarnya Fatwa.
Intensitasnya pun diperkuat hingga menyentuh kekuasaan tertinggi
negara. Hak Angket di DPR pun berupaya digulirkan untuk meresonansi
hal ini.

Untuk dapat terasosiasi dengan brand Pemer-Satu maka harus ada


kondisi yang terasosiasikan perpecahan. Asosiasi inilah yang kemudian
disematkan kepada Ahok. Asosiasi yang dibangun adalah Ahok biang
keladi perpecahan, Ahok bibit perpecahan dan sejenisnya. Beberapa hari
kedepan, kampanye akan berakhir, tempur strategi tentu harus di
maksimalkan.

Cukup menarik menyimak hadirnya Ketua Umum MUI di persidangan


Ahok. Jarang atau mungkin tidak pernah terjadi, Keputusan Lembaga yang
dimintakan kejelasan prosesnya langsung menghadirkan ketua lembaga
yang bersangkutan. Dalam gugatan Judicial Review produk Undang-
Undang misalnya, jika DPR Dipanggil, maka MKD atau Komisi III (Bidang
Hukum) yang akan mewakili lembaga. Begitu pula dengan Peraturan
Presiden, maka Kementerian Hukum Dan HAM, Sekretariat Negara dan
Kementerian lainnya yang hadir sebagai wakil pemerintah. Demikian juga
halnya dengan peraturan daerah dan peraturan gubernur. Namun
mengapa dalam putusan pendapat keagamaan MUI harus langsung Ketua
MUI yang hadir yang nota bene juga merupakan Rois Aam PBNU? Kemana
Zainut Tauhid (Ketua), Tengku Zulkarnain (Wakil Sekjen), atau Bachtiar
Nasir (Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan) atau Pimpinan Komisi Fatwa
seperti Prof DR H Hasanuddin AF atau Pimpinan 4 Komisi yang kabarnya
menangani masalah penodaan agama oleh terduga Ahok? Pada titik inilah
umat Islam Indonesia patut berbangga terhadap kepemimpinan Ketua
Umum MUI Dr. (HC) KH. Maruf Amin sebagai suri tauladan kepemimpinan.

Strategi dan orang-orang dibalik strategi Agus-Sylvi layak diacungi jempol


karena kecermatan dan taktik yang dibangunnya dalam setiap tahapan.
Tanpa harus berspekulasi tentang gelontoran uang yang konon tidak kecil
jumlahnya di tim Agus-Sylvi, tim ini memang solid, terkomando dan
terfokus. Tidak banyak strategi dan taktik yang dilancarkan, namun walau
sedikit terlihat fokus dan dalam komando yang sistematis dan konsisten.
Keunggulan ini yang tidak terlihat di pasangan Anies-Sandi. Jangan
tanyakan tim Ahok. Belum belum, tim ini sudah harus pecah konsentrasi
antara mengkampanyekan klaim prestasi sebagai petahana, dan
menghadapi gempuran strategi pesaingnya.

Perang pernyataan, tempur kicauan, dan segala pernak-perniknya akan


segera berakhir. Masyarakat Jakarta akan menentukan pilihannya 15
Februari nanti. Siapapun harus menerima dengan hati lapang kontestasi
ini apapun hasilnya. Awam makin banyak belajar tentang persaingan
politik, namun tidak harus memendam dendam dalam kontestasi.
Berjabat tangan dan kembali kepada persaudaraan untuk mengisi
kemerdekaan yang telah diraih bangsa ini. Karena kita semua adalah
Indonesia dengan segala kemajemukannya yang menjadi perekat
kebangsaan.