Anda di halaman 1dari 53

Taisir Musthalah Hadits (1): Pengantar

Tulisan ini disusun berdasarkan kajian kitab ( Taisir Musthalah Hadits) karya
Syaikh Muhammad ibn Sholeh ibn Utsaimin rohimahullah yang dibimbing oleh Al Ustadz
Aris Munandar pada tanggal 23 Juli 27 Juli 2006, bertepatan dengan Dauroh Nasional
yang diadakan oleh Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary (LBIA sekarang YPIA; Yayasan
Pendidikan Islam Al Atsary) Yogyakarta di Masjid Pogung Raya Yogyakarta.

Penyusunan ulang pada asalnya diambil dari rekaman kajian tersebut. Namun, dengan
berbagai kendala yang dihadapi (seperti suara yang kurang jelas, dan rekaman yang
kurang lengkap) maka terdapat beberapa bagian disusun ulang berdasarkan catatan
tertulis ketika ustadz menjelaskan dan ada pula yang merupakan hasil terjemahan
penyusun sehingga tidak dilengkapi dengan penjelasan dari ustadz. Alhamdulillah, semua
hasil penyusunan ini telah dimurojaah kembali oleh Al Ustadz Aris Munandar.
Jazakumullahu khoiron atas waktu dan kesediaan beliau untuk merevisi tulisan ini. Pada
naskah asli, penjelasan tambahan dari ustadz kami tulis pada footnote. Namun, pada
website ini, maka penjelasan tersebut kami letakkan langsung di bawah kata atau kalimat
yang dijelaskan oleh ustadz agar memudahkan pemahaman dan proses membaca bagi
ikhwah.

Tulisan diserahkan kepada muslim.or.id dan muslimah.or.id agar dapat dipergunakan oleh
ikhwah. Sesungguhnya tidak ada yang sempurna dari manusia yang penuh kesalahan.
Maka, kami mengharapkan agar ikhwah memberitahukan jika terdapat kesalahan yang ada
pada tulisan ini sehingga dapat direvisi dan kami ucapkan jazaakumullahu khoiro.

Tulisan ini disusun ulang oleh Ummu Ziyad, Ummu Said, dan Ummu Hamzah. Untuk
memudahkan pertanggungjawaban dari masing-masing penyusunan, maka detail
penyusunan ulang adalah sebagai berikut:

Hal 1 16: oleh Ummu Hamzah


Hal 18 38: oleh Ummu Ziyad
Hal 38 50: oleh Ummu Said
Hal 50 94: oleh Ummu Ziyad
Hal 95 117: oleh Ummu Said

(halaman di sini merupakan halaman dari kitab asli)


Semoga Allah mengaruniakan keikhlasan dan keberkahan dalam amalan kami. Kami juga
memohon kepada Allah, agar penyusunan ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kami dan
bagi orang-orang yang membutuhkannya. Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan
salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kepada
keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti beliau dengan baik
hingga hari kiamat.

***

Segala puji bagi Allah, kami memujinya, meminta kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya
dan kami berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kami dan kejelekan amalan kami.
Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya,
dan barangsiapa yang disesatkan Allah maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Dan aku bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan tidak
ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan
rasul-Nya Shalawat, salam semoga engkau curahkan atas nabi Muhammad shollallahu
alaihi wa sallam, keluarganya, sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti jejaknya hingga
datangnya hari kiamat, dan berserah diri dengan sebenar-benarnya.

Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shollallahu alaihi wa sallam dengan petunjuk


dan agama yang haq, agar menang terhadap seluruh agama yang ada dan Allah
menurunkan padanya al-kitab dan al-hikmah. Adapun kitab adalah Al Quran dan hikmah
adalah Sunnah agar beliau menjelaskan kepada manusia segala yang diturunkan pada
mereka dan agar mereka merenung sehingga mereka mendapat petunjuk dan
termasukorang-orang yang beruntung.

Kitab dan Sunnah

Kedua-duanya adalah landasan untuk tegaknya hujjah atas hamba-Nya sehingga manusia
tidak lagi punya alasan dihadapan Allah Taala. Dan dengan keduanya terbentuklah hukum-
hukum yang berkaitan dengan itiqodiyah (keyakinan) dan amaliyah (perbuatan) yang wajib
atau terlarang. Adapun menjadikan Al Quran sebagai sandaran hanya membutuhkan satu
pertimbangan, yaitu pertimbangan kandungan nash terhadap hukum dan tidak
membutuhkan pertimbangan sandarannya (yaitu apakah itu firman Allah atau bukan,
shohih atau bukan). Karena keotentikan Al Quran adalah sebuah keniscayaan dengan
penukilan yang mutawatir baik lafadz ataupun makna.

Artinya: Kamilah yang menurunkan Ad Dzikr dan Kami pula yang menjaganya. (Qs. Al-Hijr
[15]: 9)

Sedangkan berdalil dengan As Sunnah membutuhkan dua pertimbangan : Yang pertama:


Meneliti kepastian bahwa hadits tersebut dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam. Ingat!
bahwa tidak semua yang dinisbahkan pada Nabi adalah riwayat yang shohih. Yang kedua:
Meneliti penunjukan nash pada hukum. Untuk pertimbangan yang pertama, kita
membutuhkan kaidah untuk membedakan hadits yang diterima atau ditolak berkaitan
dengan riwayat-riwayat yang dinisbahkan pada Nabi shollallahu alaihi wa sallam. Hal ini
telah dilaksanakan oleh para ulama rohimahullah dan mereka namai kaidah-kaidah
tersebut dengan Mustholah Hadits.

BAB I

Mustholah hadits ()

1. Pengertian
2. Faedah
1. Mustholah hadits adalah ilmu yang menjadi alat untuk mengetahui kondisi seorang
periwayat dan hadits yang diriwayatkan dari sisi diterima atau ditolak.
2. Faedahnya adalah untuk mengetahui riwayat-riwayat yang diterima atau ditolak dari
seorang periwayat dan hadits yang diriwayatkan.
Al Hadits, Al Khobar, Al Atsar, Al Hadits Qudsi

Al Hadits (*):
Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam baik perbuatan,
perkataan, persetujuan atau sifat** .

* Ini adalah pengertian hadtis secara istilah. Adapun pengertian secara bahasa bermakna
yang baru.
** Ada 2 sifat : sifat jasmani dan sifat akhlak
Al Khobar ():
Semakna dengan hadits, maka definisinya sama dengan definisi al hadits. Ada yang
berpendapat bahwa khobar adalah segala yang disandarkan kepada Nabi shollallahu alaihi
wa sallam atau kepada selainnya, berdasarkan definisi ini maka khobar itu lebih umum dan
lebih luas dari pada hadits.

Al Atsar ():
Segala yang disandarkan kepada para sahabat atau tabiin, tapi terkadang juga digunakan
untuk hadits yang disandarkan kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam, apabila berkait
misal dikatakan atsar dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam.

Hadits Qudsi () :
Hadits yang diriwayatkan Nabi shollallahu alaihi wa sallam dari Allah Taala, juga dinamai
juga hadits Rabbani dan hadits Ilahi. Misalnya perkataan Nabi shollallahu alaihi wa
sallam yang meriwayatkan dari Rabb Taala, Dia berkata,

Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku, dan aku bersamanya ketika mengingat-Ku, jika dia
meningat-Ku dalam dirinya: maka aku mengingatnya dalam diri-Ku, Jika dia mengingat-Ku
dalam sekumpulan orang maka Aku mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dari
sekumpulan orang tersebut. *

* Di sini ada sifat an Nafs untuk Allah Taala. Seperti dalam ayat 116 surat Al
Maaidah, Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa
yang ada pada diri Engkau.. Hadits Qudsi ini juga menjadi dalil bahwa malaikat lebih baik
dari manusia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memperinci, yaitu: jika melihat keadaan
sekarang maka malaikat lebih mulia sedang jika melihat di akherat, maka manusia lebih
mulia. Dan hadits ini bukan menjadi dalil untuk dzikir berjamaah. Jika dia mengingatku
dalam sekumpulan orang maksudnya orang-orang sekitarnya kemungkinan adalah orang
yang lalai atau dia berada di majelis ilmu dan mengingat Allah.

Urutan Hadits Qudsi itu terletak antara Al Quran dan Hadits Nabi.

Al Quran Al Karim: Dinisbatkan kepada Allah Taala baik lafadz maupun maknanya.
Hadits Nabi: Dinisbatkan kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam : lafadz dan
maknanya.
Hadits Qudsi: Dinisbatkan kepada Allah Taala maknanya tanpa lafadznya.
Maka, membaca hadits Qudsi tidak dinilai sebagi ibadah, tidak boleh dibaca dalam sholat,
tidak terwujud dengannya tantangan* dan tidak dinukil secara mutawattir seperti Al Quran
bahkan di dalamnya ada yang shohih, dhoif dan maudhu.

* Mujizat adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada Nabi dan Rasul untuk menerima
tantangan. Jika itu benar mujizat, maka tidak akan ada yang berhasil menantangnya. Dan
hal ini tidak berlaku untuk hadits qudsi.

Pembagian Khobar Berdasarkan Jalan Periwayatannya

Khobar terbagi menjadi dua berdasarkan jumlah jalan penukilannya sampai kita, yaitu
mutawatir dan ahad.

Muttawatir

1. Pengertian
2. Macam-macamnya dan contohnya
3. Faedahnya
1. Mutawattir ():
Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang yang secara adat mereka mustahil
bersepakat untuk berdusta dan mereka sandarkan pada sesuatu yang bisa diindra.

2. Mutawattir terbagi menjadi dua:


Muttawattir lafadz dan maknanya dan muttawattir maknanya saja.
Muttawattir lafadz dan maknanya ( ) adalah hadits yang disepakati oleh
para rowi lafadz dan maknanya. Misalnya sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam,

Barangsiapa yang berdusta atasku maka bersiap-siaplah bertempat dineraka.

Hadits ini diriwayatkan lebih dari 60 orang sahabat diantaranya 10 orang yang dijamin
masuk surga dan dari mereka terdapat banyak orang yang meriwayatkan hadits tersebut.
Muttawattir makna ( ) adalah hadits yang disepakati maknanya walaupun
lafadznya beda-beda. Semuanya bermuara pada satu poin yang sama. Misalnya hadits
tentang syafaat dan hadits tentang mengusap kedua khuf. Terdapat syair yang berbunyi:

Diantara hadits mutawatir adalah barangsiapa berdusta


dan barangsiapa membangun masjid dengan ikhlas
Juga hadits tentang syafaat melihat Allah diakherat, telaga
dan mengusap sepatu. Inipun baru sebagian.

c. Faedah dari dua jenis muttawattir ini:

1. Ilmu, yaitu memastikan benarnya penisbatan hadits ini kepada yang dinukil darinya.
2. Berkewajiban mengamalkan kandungan hadits dengan mempercayainya jika berupa
khobar dan menerapkannya jika berupa tuntutan.
=

Hadits Ahad

a. Pengertian
b. Macam-macamnya berdasarkan jalan periwayatan beserta contoh-contohnya.
c. Macam-macamnya berdasarkan derajatnya beserta contoh-contohnya.
d. Faedah-faedahnya.

a. Ahad ().

Ahad adalah hadits selain yang muttawattir.

b. Macam-macam hadits ahad berdasarkan jalan periwayatan itu ada 3 macam, yaitu
masyhur, aziz, dan ghorib.

1. Masyhur ( )adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rowi disetiap tingkatan,
tapi belum sampai pada derajat muttawattir.Contohnya perkataan Nabi shollallahu
alaihi wa sallam,
Muslim sejati adalah muslim yang saudaranya terbebas dari gangguan lisan dan
tangannya.

2. Aziz ( )adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua rowi saja dimasing-masing
tingkatan. Contohnya perkataaan Nabi shollallahu alaihi wa sallam,

Tidak sempurna iman kalian hingga Aku lebih dia cintai dari orang tua, anaknya
bahkan manusia seluruhnya.
3. Ghorib ( )adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang saja. Contohnya
perkataan Nabi shollallahu alaihi wa sallam,
Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah dinilai bila disertai dengan
niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh sesuai apa yang
diniatkannya(hingga akhir hadits) (HR. Bukhori dan Muslim)
Hadits ini dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam hanya diriwayatkan oleh Umar bin
Khotob rodhiallahu anhu dan yang meriwayatkan dari Umar hanya Alqomah ibn Abi
Waqosh dan yang meriwayatkan dari Alqomah hanya Muhammad ibn ibrohim
Attaimi, dan yang meriwayatkan dari Muhammad hanya Yahya ibn Said al Anshori.
Kesemuanya adalah tabiin, kemudian diriwayatkan dari Yahya oleh banyak orang.

c. Macam-macam hadits ahad berdasar derajatnya, yaitu shohih lidzatihi, shohih


lighoirihi, hasan lidzatihi, hasan lighoirihi dan dhoif.

1. Shohih lidzatihi (shohih dengan sendirinya) () . Shohih lidzatihi adalah hadits


yang rowinya:
o Adil (),
o Hafalannya kuat () ,
o Sanadnya bersambung () ,
o Terbebas dari kejanggalan dan kecacatan () .
Contohnya sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam,

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan maka akan difahamkan ilmu


agama. (HR. Bukhori dan Muslim)

Cara mengetahui keshohihan suatu hadits itu dengan 3 perkara:


o Jika diketahui penulis buku hadits tersebut hanya mencantumkan hadits-hadits
yang shohih saja dengan syarat penulis tersebut bisa dipercaya dalam
melakukan penshohihan seperti Shohih Bukhori dan Muslim.
o Hadits tersebut dinilai shohih oleh imam yang penilaiannya dalam penshohihan
itu bisa dipercaya, dan dia bukan termasuk orang yang terkenal mudah dalam
memberikan nilai shohih.
o Meneliti sendiri rowinya dan bagaimana cara periwayatan rowi tersebut
terhadap hadits.
Jika semua kriteria shohih lengkap, maka hadits tersebut dinilai sebagai hadits yang
shohih.

2. Shohih lighoirihi (shohih dengan bantuan) () .


Shohih lighoirihi adalah hadits hasan dengan sendirinya (hasan lidzatihi) apabila
memiliki beberapa jalur periwayatan yang berbeda-beda. Misalnya,
Dari Abdillah Ibn Amr bin Ash rodhiallahu anhu, Nabi shollallahu alaihi wa
sallam memerintahkannya untuk menyiapkan pasukan dan ternyata kekurangan
unta.

Maka Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Belikan untuk kita unta perang
dengan unta-unta yang masih muda. Maka ia mengambil 2-3 unta muda dan
mendapat 1 unta perang.

Hadits Ini diriwayatkan Ahmad dari jalan Muhammad bin Ishaq dan diriwayatkan
Baihaqi dari jalan Amr bin Syuaib. Setiap jalan ini jika dilihat secara bersendirian
tidak bisa sampai derajat shohih, hanya sampai hasan. Tapi jika dilihat secara total,
maka jadilah hadits shohih lighoiri. Hadits ini dinamakan shohih lighoiri, walaupun
nilai masing-masing jalan secara bersendirian tidak sampai derajat shohih, namun
karena bila dinilai secara total bisa saling menguatkan hingga mencapai derajat
shohih.

3. Hasan lidzatihi ( hasan dengan sendirinya) () .


Hasan lidzatihi adalah hadits yang diriwayatkan oleh rowi yang adil tapi hafalannya
kurang sempurna dengan sanad bersambung dan selamat dari keganjilan dan
kecacatan. Jadi, tidak ada perbedaan antara hadits ini dengan hadits shohih lidzatihi
kecuali dalam satu persyaratan, yaitu hadits hasan lidzatihi itu kalah dalam sisi
hafalan.
Misalnya perkataan Nabi shollallahu alaihi wa sallam,

Sholat itu dibuka dengan bersuci, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan
salam.<

Hadits-hadits yang dimungkinkan hadits hasan adalah hadits yang diriwayatkan Abu
Daud secara sendirian, demikian keterangan dari Ibnu Sholah.

4. Hasan lighoirihi (hasan dengan bantuan) () .


Hasan lighoirihi adalah hadits yang dhoifnya ringan dan memiliki beberapa jalan
yang bisa saling menguatkan satu dengan yang lainnya karena menimbang
didalamnya tidak ada pendusta atau rowi yang pernah tertuduh membuat hadits
palsu. Misalnya,Hadits dari Umar ibn Khatthab rodhiallahuanhu berkata
bahwasannya Nabi shollallahu alaihi wa sallam jika mengangkat kedua tangannya
dalam doa maka beliau tidak menurunkannya hingga mengusapkan kedua tangan ke
wajahnya. (HR. Tirmidzi)
Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom berkata, Hadits ini memiliki banyak hadits
penguat dari riwayat Abu Daud dan yang selainnya. Gabungan hadits-hadits tersebut
menuntut agar hadits tersebut dinilai sebagai hadits hasan.

Dan dinamakan hasan lighoirihi karena jika hanya melihat masing-masing sanadnya
secara bersendirian maka hadits tersebut tidak mencapai derajat hasan. Namun, bila
dilihat keseluruhan jalur periwayatan maka hadits tersebut menjadi kuat hingga
mencapai derajat hasan.

5. Hadits dhoif ()
Hadits dhoif adalah hadits yang tidak memenuhi persyaratan shohih dan hasan.
Misalnya,Jagalah diri-diri kalian dari gangguan orang lain dengan buruk sangka.
Dan yang kemungkinan besar merupakan hadits dhoif adalah hadits yang
diriwayatkan secara bersendirian oleh Uqaili, Ibn Adi, Khatib Al Baghdadi, Ibnu
Asakir dalam Tarikh-nya, Adailami dalam Musnad Firdaus, atau Tirmidzi Al Hakim
dalam Nawadirul Ushul dan beliau bukanlah Tirmidzi penulis kitab Sunan atau Hakim
dan Ibnu Jarud dalam Tarikh keduanya.

d. Hadits-hadits ahad (selain hadits dhoif) memberi dua faedah:

1. Dzon, yaitu sangkaan kuat tentang sahnya penyandaran penukilan hadits dari
seseorang. Dan hal ini bertingkat-tingkat sesuai tingkatnya masing-masing yang
telah disebutkan. Terkadang hadits ahad memberi faedah ilmu jika ditemukan banyak
indikator dan dikuatkan oleh ushul (kaedah pokok dalam syariat)*.

* Misalnya dengan indikator (qorinah), hadits tersebut diterima oleh seluruh umat.
Tidak ada yang menolaknya misal hadits innamal amalu biniyat. Ini termasuk hadits
ghorib, akan tetapi karena seluruh ulama menerimanya, maka ini adalah qorinah
yang menunjukkan bahwa hadits ini adalah benar-benar dari Nabi shollallahu alaihi
wa sallam. Atau hadits tersebut didukung oleh ushul, yaitu didukung oleh kaedah
pokok dalam syariat. Ada banyak ayat yang menunjukkan. kebenaran maksud dari
hadits tersebut. Maka ini merupakan indikasi kuat bahwa Nabi shollallahu alaihi wa
sallam mengucapkannya. Atau itu adalah hadits yang muttafaqun alaih. Meskipun itu
adalah hadits ahad atau ghorib. Namun itu menjadi qorinah yang kuat. Ini pendapat
yang dirojihkan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam masalah ini yaitu hadits ahad itu
memberi faidah dzon kecuali ada qorinah. Jadi, hadits ahad itu memberi faidah ilmu
(yakin) jika ada indikator-indikator pendukungnya. Dalam masalah ini ada 3 pendapat
ulama, yaitu :Jika itu adalah hadits yang shohih meskipun ahad maka memberi faidah
ilmu. Memberi makna yakin bahwa Nabi shollallahu alaihi wa
sallam mengucapkannya. Ini adalah madzhabnya Imam Ibn Hazm.Memberi faidah
dzon.
Memberi makna keyakinan (ilmu) bahwa Nabi shollallahu alaihi wa
sallam mengucapkannya jika ada indikator penguat (maka jika tidak ada penguat
maka memberi faedah dzon). Dan ini adalah pendapat yang dipilih Syaikh Islam Ibnu
Taimiyah

2. Mengamalkan kandungannya. Dengan mempercayainya jika berupa berita dan


mempraktekkannya jika berupa tuntutan*.
* Baik tuntutan untuk mengerjakannya atau tuntutan untuk meninggalkannya. Jadi
hadits ahad memberi faedah amal. Jika hadits itu berupa masalah aqidah berupa
masalah khobar maka tetap wajib menjadikannya sebagai aqidah dan
mempercayainya. Jadi ucapan ulama bahwa hadits ahad yang shahih itu memberi
makna sangkaan kuat, itu sama sekali tidak ada hubungannya bahwa dalam masalah
aqidah tidak diamalkan. Meskipun ada tiga pendapat untuk masalah ini, meskipun
ulama yang memilih dzon secara mutlak sekalipun, namun mereka tetap beramal
dengan hadits ahad dalam masalah aqidah dalam masalah khobar dengan
mempercayai dan mengimaninya sebagai bagian dari aqidah. Inilah curangnya
Hizbut Tahrir.

Ketika mereka mengatakannya bahwasannya mereka tidak mau menerima hadits


ahad dalam masalah aqidah. Lalu mereka mengatakan yang mendukung kami adalah
ulama ini, disebutkan satu dua tiga dst disebutkan. Padahal apa yang disebutkan oleh
ulama tersebut bahwa hadits ahad memberi makna (dzon) sangkaan. Dan sangkaan
yang dimaksudkan adalah sangkaan yang kuat bukan sekedar sangkaan. Sama sekali
mereka tidak bermaksud dikarenakan itu memberi makna dzon kemudian tidak
dipakai dalam masalah aqidah. Namun Hizbut Tahrir curang. Mereka katakan yang
mendukung kami adalah ulama ini dan itu. Padahal ulama tersebut membicarakan
dari segi itu memberi makna dzon atau tidak dan beliau merojihkan memberi makna
dzon. Lalu apakah beliau mengatakan itu tidak diterima sebagai dalil dalam masalah
aqidah? Tidak. Beliau tetap menerimanya sebagai dalil dalam masalah aqidah. Hanya
saja ulama tersebut memilih memberi makna dzon. Karena mengamalkan hadits
ahad dalam masalah aqidah adalah ijma ulama salaf. Sebagaimana dinukil oleh
banyak ulama. Meskipun itu adalah hadits ahad, maka itu adalah memberi faidah
amal dengan dijadikannya sebagai aqidah jika berisi masalah-masalah aqidah.

Adapun hadits yang dhoif, tidak memberi faedah dzon dan amal. Dan tidak boleh
menganggapnya sebagai dalil. Tidak boleh pula menyebutkan hadits dhoif tanpa diiringi
dengan penjelasan tentang dhoifnya. Kecuali untuk masalah motivasi dan menakuti-nakuti
(targhib wa tarhib). Maka diperbolehkan menyebutkan hadits dhoif dengan beberapa
persyaratan menurut sebagian ulama. Sejumlah ulama memberi kemudahan untuk
menyebutkan hadits dhoif dengan tiga syarat* .

*** Tiga syarat ini berasal dari Ibnu Hajar Al Asqolani. Kalau dalam masalah hukum, Imam
Nawawi mengatakan bahwa ulama ijma tidak boleh berdalil dengan hadits dhoif dalam
masalah hukum. Dan ada perselisihan dalam masalah fadhoil amal/masalah targhib dan
tarhib. Ada ulama yang menolak hadits yang dhoif untuk targhib dan tarhib sebagai dalil
secara mutlak. Ini adalah pendapat Imam Ibnu Hazm dan Imam Muslim. Inilah pendapat
yang dirojihkan Syaikh Al Imam Al bani di Muqodimmah Shohih Jami Shogir. Namun ada
ulama yang membolehkan dengan persyaratan. Semacam Ibnu Hajar Al Asqolani.
membolehkan dengan tiga persyaratan ini.

1. Dhoifnya bukan dhoif yang sangat*.



* Dhoifnya tidak sangat, mungkin karena mursal atau ada rowi yang majhul.

2. Hendaknya pokok amal yang disebutkan di dalamnya motivasi dan menakuti-nakuti


ada berdasarkan hadits yang shohih*.

* Misalnya, sholat dhuha adalah sholat yang disyariatkan berdasar hadits yang
shohih. Kemudian ada hadits dhoif yang dhoifnya ringan berkenaan keutamaan
sholat dhuha. Artinya sholat dhuhanya sudah masru (disyariatkan) berdasar hadits
yang shohih. Tsabit berdasar hadits yang shohih. Misalnya juga tentang sholat
malam. Tentang sholat malam haditsnya shohih kemudian ada hadits yang dhoifnya
ringan menceritakan tentang keutamaan orang yang melaksanakan sholat malam.
Namun amalnya sudah masru berdasar hadits yang shohih.
Jika amalnya belum jelas dalilnya, maka tidak boleh. Karena syaratnya ashlul amal
(landasan beramal) terdapat dalil yang shohih. Misalnya ada satu hadis menyatakan
keutamaan suatu amal dan tidak ada hadits shohih yang menyatakan
disyariatkannya amalan ini maka tidak boleh menyebutkan hadits dhoif ini. Karena
asal muasal amal yaitu ibadah yang hendak dimotivasi itu tidak disyariatkan sebab
dasarnya adalah hadits yang shohih.

3. Tidak diyakini bahwa Nabi shollallahu alaihi wa sallam mengucapkannya*.



* Imam Albani rohimahullah mengatakan, Jika tiga persyaratan ini diperhatikan oleh
orang yang membolehkan hadits dhoif dalam fadhoilul amal maka selesai masalah.
Karena ketika menyampaikan dia tahu, misalnya ini adalah hadits mursal. Maka dia
bisa memenuhi persyaratan ketiga karena tahu.Namun jika orangnya tidak
mengetahui, ini lemahnya seberapa atau bahkan palsu bagaimana melakukan poin
yang ketiga. Yang menjadi masalah ketika berdalil dengan hadits dhoif tentang suatu
amal kemudian diingatkan mereka menyatakan, Ini kan fadhoil amal/targhib dan
tarhib. Kan boleh menurut sebagian ulama.
Namun ketika ditanya, bagaimana dengan persyaratannyat. Pertama dhoifnya tidak
sangat dan syarat ketiga tidak boleh yakin bahwa Nabi shollallahu alaihi wa
sallam mengucapkannya, mereka bahkan tidak tahu Oleh karena itu jika tiga syarat
ini diperhatikan, maka selesai masalah. Namun tiga persyaratan tersebut tidak bisa
dipenuhi kecuali oleh pakar hadits. Sehingga dia tidak meyakini bahwa itu adalah
bukan hadits dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam.

Berdasarkan keterangan di atas, maka faedah menyebutkan hadits dhoif ketika


memotivasi suatu amal (targhib) adalah mendorong jiwa untuk melakukan amal yang
dimotivasi untuk mengharapkan pahala itu. Kemudian jika mendapatkan pahala maka
alhamdulillah dan jika tidak maka tidak menjadi masalah baginya kesungguhannya dalam
beribadah. Karena ibadahnya disyariatkan dan ada pahala di dalamnya. Karena orang
tersebut masih mendapatkan pahala yang pokok, yaitu pahala asal amal yang berdasar
hadits yang shohih yang merupakan konsekuensi melakukan suatu perkara yang
diperintahkan. Sedangkan suatu perkara yang diperintahkan pasti ada pahalanya. Maka dia
tidak kehilangan pahala yang asli.

Dan faidah menyebut hadits dhoif dalam tarhib adalah menakuti-nakuti jiwa untuk
melakukan perkara yang ditakut-takutkan. Karena khawatir terjerumus dalam hukuman
tersebut. Dan tidak masalah baginya jika dia menjauhinya dan tidak terjadi hukuman yang
disebutkan.

Telah lewat (pada penjelasan yang lalu) bahwasannya definisi hadits shohih lidzatihi adalah
hadits yang diriwayatkan oleh seorang rowi yang adil*, hafalannya sempurna, sanadnya
bersambung dan terbebas dari syadz dan terbebas daru illat (penyakit yang membuat
cacat).

* Yang dimaksud dengan adil yaitu memiliki adalah.

Adalah ( )adalah istiqomah pada din dan istiqomah pada muru-ah.

Istiqomah din adalah melaksanakan kewajiban dan menjauhi segala yang haram yang
menyebabkan kefasikan. Istiqomah muru-ah adalah melakukan segala sesuatu yang dipuji
masyarakat berupa etika dan akhlak dan meninggalkan segala adab dan akhlak yang dicela
masyarakat*.

* Pandangan masyarakat adalah yang tidak bertentangan dengan aturan syariat. Boleh
jadi itu merusak muru-ah di masa silam, tapi tidak di masa sekarang. Misalnya, dahulu, jika
seorang ulama makan di warung maka ini menurunkan muru-ah. Kalau sekarang mungkin
jika makan di restoran besar malah naik muru-ahnya. Maka muru-ah ini berbeda-beda dan
berubah sesuai zaman dan tempat. Maka, ini berarti seorang muslim memperhatikan adat
masyarakat.

Keadilan rowi diketahui dengan dua cara, yaitu dengan kemasyhuran yaitu sudah terkenal
sebagai seorang rowi yang adil, semacam para imam yang terkenal. Misalnya Imam Malik,
Imam Ahmad dan Bukhori dan yang selain mereka. Kemudian dengan tazkiyah, yaitu
dengan penegasan dari orang yang teranggap ucapannya dalam masalah ini*.

* Yaitu ulama jarh dan tadil

Sempurna hafalannya ( ) adalah ia bisa menyampaikan riwayat yang dia miliki,


baik didapatkan melalui mendengar atau melihat dalam bentuk sebagaimana dia dapatkan
tanpa ditambah atau dikurangi. Akan tetapi kesalahan yang sedikit dinilai tidak mengapa,
karena manusia tidak dapat terbebas dari kesalahan menambah atau mengurangi*.

* Dia bisa menceritakan apa yang ada dalam dirinya baik dia dapatkan dari pendengaran
atau penglihatan dan dia menceritakan kepada orang lain tanpa kesalahan atau dengan
sedikit kesalahan.

Diketahui dobt (kesempurnaan hafalan) seorang rowi dengan dua hal; keselarasannya,
yaitu selaras dengan rowi-rowi yang terkenal tsiqoh dan orang yang kuat hafalannya
meskipun hanya sesuai dengan mereka secara umum. Kemudian
mendapat tazkiyah/penegasan, yaitu dengan penegasan dari orang yang teranggap
ucapannya dalam masalah ini.

Bersambung sanadnya ( ) yaitu setiap rowi berjumpa dengan gurunya atau dari
orang yang dia mengambil riwayat darinya baik secara langsung atau statusnya berjumpa.

Adapun berjumpa secara langsung maksudnya adalah berjumpa dengan gurunya dan
mendengar dari gurunya atau melihat gurunya dan dia mengatakan, Telah menceritakan
padaku. (), Aku mendengar (), Aku melihat fulan () , dan kalimat
semacamnya.

Sedangkan statusnya berjumpa maksudnya adalah seorang rowi meriwayatkan dari orang
yang sezaman dengannya dengan menggunakan kata-kata yang mengandung
kemungkinan dia melihat atau mendengar gurunya. Misalnya dengan kata-kata, Fulan
berkata () , Dari fulan () , Fulan melakukan ( ) dan yang semacam itu.

Terdapat dua pendapat:

1. Harus ada bukti, ini adalah pendapat Imam Bukhori.


2. Cukup dengan mungkin dia bertemu, ini adalah pendapat Imam Muslim*.

* Oleh karena itulah kualitas Shohih Bukhori dinilai lebih tinggi dari Shohih Muslim.

Imam Nawawi <em>rohimahullah </em>berkata tentang pendapat Imam Muslim


di Syaroh Shohih Muslim, Pendapat Imam Muslim diingkari banyak pakar, meskipun kami
tidak menilai Imam Muslim melakukan perbuatan tersebut dalam Shohih-nya sejalan
dengan pendapat beliau ini, karena Imam Muslim mengumpulkan banyak jalur yang tidak
mungkin terwujud hukum yang dia bolehkan. Wallahu alam.

Perbedaaan ini berlaku untuk rowi yang bukan mudallis (akan datang penjelasannya, insya
Allah-ed). Adapun mudallis tidaklah divonis haditsnya bersambung kecuali jika dia
menegaskan bahwa dia mendengar atau melihat secara langsung.

Tidak bersambungnya suatu sanad diketahui dengan dua cara:

1. Tarikh (sejarah), yaitu mengetahui bahwasannya guru atau orang yang diambil
riwayat darinya sudah meninggal ketika dia belum mencapai usia tamyiz yaitu usia 7
tahun*.

* Misalnya gurunya sudah meninggal ketika ia masih berumur 3 tahun, maka ini jelas
tidak bersambung.
2. Dengan penegasan seorang rowi atau salah satu dari ulama pakar hadits
menegaskan bahwasannya rowinya tidak bersambung atau fulan ini tidak mendengar
ataumelihat dari gurunya apa yang dia ceritakan.
Keganjilan ( )yaitu seorang rowi yang tsiqoh menyelisihi rowi yang lebih kuat darinya,
bisa dengan lebih sempurna keadilannya atau hafalannya, atau lebih jumlahnya atau lebih
bermulazamah dengan gurunya atau yang semacam itu*.

* Misalnya seorang guru memiliki dua murid. Murid yang pertama sudah mulazamah dalam
waktu berpuluh-puluh tahun. Murid yang kedua hanya lima tahun. Kemudian murid yang
kedua memberikan khobar dari gurunya yang menyelisihi murid yang pertama. Maka yang
lebih tahu maksud gurunya adalah murid yang pertama. Maka boleh jadi murid yang kedua
mendengar dari gurunya akan tetapi ia tidak paham. Maka yang lebih tsiqoh adalah murid
yang pertama.
Misalnya, hadits Abdullah ibn Zaid tentang tata cara wudhu Nabi shollallahu alaihi wa
sallam bahwasannnya Nabi mengusap kepalanya dengan air yang bukan sisa dari
tangannya*.

* Artinya mengambil air baru untuk mengusap kepala, bukan air yang sebelumnya
digunakani untuk membasuh tangan.

Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dengan lafadz ini dari jalur Ibn Wahab. Dan Imam
Baihaqi meriwayatkan dari jalan Ibn Wahab juga dengan lafadz yang berbeda, yaitu
bahwasannya Nabi shollallahu alaihi wa sallam mengambil untuk kedua telinganya air
yang bukan air yang beliau ambil untuk kepalanya*.

* Artinya mengambil air baru untuk mengusap telinga.

Maka hadits Baihaqi adalah riwayat yang ganjil (syadz) karena rowi dari Ibn Wahab
memang tsiqoh*, tapi rowi ini menyelisihi para rowi yang lebih banyak jumlahnya dari dia.
Karena hadits ini diriwayatkan sejumlah orang dari Ibnu Wahab namun dengan
menggunakan lafadz Muslim. Maka berdasar hal tersebut, riwayat Baihaqi tidak shohih
meskipun perowinya tsiqoh, yaitu karena tidak terbebas dari syadz.

* Rowi yang dipakai oleh Baihaqi yang merupakan muridnya Ibnu Wahab memang tsiqoh.
Akan tetapi rowi ini menyelisihi para rowi yang lebih banyak jumlahnya daripada dia.

Illat (penyakit yang membuat cacat) () , yaitu setelah diteliti ternyata jelas
diketahui ada sebab yang membuat cacat untuk diterima suatu hadits karena diketahui
ternyata hadits tersebut munqothi (terputus), mauquf (perkataan sahabat), atau rowinya
adalah orang fasiq, jelek hafalannya, atau ahli bidah* dan haditsnya mendukung
kebidahannya dan semacam itu.

* Ada beberapa pendapat berkaitan dengan riwayat dari ahlu bidah:

1. Ditolak secara mutlak


2. Diterima secara mutlak.
3. Diperinci (tafshil). Merinci dengan melihat dia mendakwahkan bidahnya atau tidak.
Jika jawabannya ya, maka riwayatnya tidak bisa diterima.
4. Diperinci. Melihat hadits yang diriwayatkanya. Menguatkan kebidahannya atau tidak,
baik dia dai atau bukan.
Ringkasnya penjelasan di Taisir Mustholah Mahmud Thohan, persyaratan riwayat dari ahlu
bidah adalah :

1. Bukan dai
2. Bukan hadits yang mendukung bidah yang dia miliki.
Maka, hadits tersebut tidak dihukumi sebagai shohih karena tidak selamat dari penyakit
yang membuat cacat1*. Contohnya hadits Ibnu Umar rodhiallahuanhu dari
Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda,

Perempuan yang haidh dan orang yang junub tidak boleh membaca sedikitpun ayat Al
Quran.

* Ini adalah termasuk ilmu hadits yang berat, yaitu tentang masalah ilmu al illal. Terutama
jika illalnya adalah masalah yang samar.

Hadits ini diriwayatkan Tirmidzi, dan Imam Tirmidizi mengatakan kami tidak mengenal
hadits ini kecuali dari hadits Ismail ibn Iyas dari Musa ibn Uqbah*.

* Artinya hadits ini termasuk hadits ghorib (yaitu punya satu jalur saja).

Maka dari sanad yang tampak adalah shohih, akan tetapi hadits ini memiliki cacat, riwayat
Ismail ibn Iyas dari orang-orang Hijaz adalah dhoif. Jika gurunya adalah orang Hijaz maka
haditsnya adalah dhoif dan hadits ini adalah yang termasuk dia dapatkan dari Hijaz**.
Maka hadits ini tidak shohih karena tidak terbebas dari penyakit yang membuat cacat.

** Artinya Musa ibn Uqbah adalah dari Hijaz.

Jika penyakitnya tidak membuat cacat, maka tidak menghalangi hadits tersebut untuk
dinilai shohih atau hasan. Contohnya hadits dari sahabat Abu Ayyub Al
Anshori rodhiallahuanhu dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa berpuasa Romadhon, kemudian diikuti dengan 6 hari di bulan Syawal, maka
ia seakan-akan puasa dahr (puasa setiap hari, seandainya puasa dahr itu dibolehkan).*

* Ini adalah termasuk pengandaian. Karena ulama berselisih pendapat tentang puasa dahr.
Sebagian ulama melarangnya. Dan itulah pendapat yang lebih rojih karena ada hadits
tentang hal ini,Siapa yang puasa setiap hari tidak akan dinilai orang yang berpuasa dan
juga tidak dinilai sebagai orang yang tidak puasa. Jadi, dari hadits tersebut tidak
menunjukkan bolehnya puasa dahr, namun hanya sebagai pengandaian.

Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari jalan Saad ibn Said, dan pada hadits ini terdapat
illat dengan sebab rowi ini, yaitu Saad ibn Said karena Imam Ahmad mendhoifkannya.
Illat ini tidak membuat cacat, karena sebagian ulama menshohihkannya, dan dia memiliki
hadits penguat (muttabi)*. Imam Muslim menyampaikan hadits ini dalam Shohih-nya
menunjukkan keshohihan menurut Muslim, dan illatnya tidak membuat cacat.

* Hadits muttabi (penguat) adalah jika rowi hadits tersebut dari sahabat yang sama.
Sedangkan hadits syawahid, jika sumbernya beda.

Dikumpulkannya Dua Hukum, yaitu Penilaian Shohih dan Hasan dalam Satu
Hadits

Di depan telah kita bahas bahwa hadits shohih adalah satu bagian dari hadits yang
berbeda dengan hadits hasan. Maka keduanya adalah dua hal yang berbeda.

Akan tetapi sering kita dapatkan, terkadang suatu hadits diberi nilai hadits hasan shohih.
Maka bagaimana menyesuaikan dua penilaian ini padahal ada perbedaan di antara
keduanya?

Kami katakan (penulis kitab ed), Jika hadits tersebut memiliki dua jalur, maka maksud
hadits tersebut bahwa salah satu jalannya shohih dan jalur yang kedua adalah hasan. Maka
dikumpulkan antara dua sifat ini dengan melihat jalurnya*. Adapun jika hadits tersebut
hanya memiliki satu jalan, maka maknanya adalah ulama tersebut ragu-ragu, apakah
sudah mencapai derajat shohih atau derajat hasan**.

* Dimaknai hadits shohih wa hasan (shohih dan hasan). Artinya, hasan untuk jalur ini dan
shohih untuk hadits yang satunya lagi.

** Dimaknai hadits shohih aw hasan (shohih atau hasan). Misalnya dalam hadits ghorib.
Jadi ragu-ragu antara hadits ini hasan atau shohih. Adapun kalimat ( ) Hadits
ini adalah hadits yang paling shohih dalam bab ini, maka ini bukanlah menilai bahwa
hadits tersebut shohih tapi maksudnya hadits tersebut yang paling sedikit cacatnya. Bisa
jadi haditsnya dhoif. Namun hadits dhoif lainnya banyak dan yang paling ringan cacatnya
adalah hadits tersebut.

Sumber: https://muslimah.or.id/244-taisir-musthalah-hadits-4-penjelasan-untuk-shohih-
lidzatihi.html

Sanad yang Terputus1

1. Penjelasannya
2. Pembagiannya
3. Hukumnya
1. Sanad yang terputus ( ) adalah yang tidak bersambung sanadnya, dan telah
disebutkan bahwa di antara syarat hadits shohih yang berjumlah lima, salah satunya
adalah bersambung sanadnya.

2. Sanad yang terputus terbagi menjadi empat: mursal, mualaq, mudhol dan munqothi.

Mursal ()

Mursal adalah hadits yang dinisbatkan kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam oleh
sahabat atau tabiin yang tidak mendengar langsung dari Nabi shollallahu alaihi wa
sallam2.

Mualaq ()
Muallaq adalah hadits yang dihilangkan awal atau terkadang yang dimaksudkan adalah
yang dibuang semua sanadnya, seperti perkataan Imam Bukhori, Nabi shollallahu alaihi
wa sallam mengingat Allah di setiap keadaannya3. Adapun hadits yang dinukil penulis
kitab, misal Umdatul Ahkam yang dinisbatkan pada aslinya, maka tidak dinilai sebagai
hadits muallaq karena orang yang menukil tidak menyandarkan hadits tersebut pada
dirinya.Akan tetapi dinisbatkan, misal Diriwayatkan oleh Abu Daud.

Mudhol ()

Mudhol adalah hadits yang dibuang di tengah-tengah sanadnya, dua rowi secara berturut-
turut.

Munqothi4 ()

Munqothi adalah hadits yang dibuang dari tengah sanadnya satu, dua atau lebih dan tidak
berturut-turut. Terkadang maksudnya adalah hadits yang tidak bersambung sanadnya,
maka termasuk di dalamnya hadits yang empat tadi, mursal, muallaq, mudhol dan
munqothi itu sendiri5.

Misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori, ia berkata, Menceritakan pada kami
Abdullah ibn Azzubair Al Humaidi6,ia berkata, telah menceritakan pada kami Sufyan, ia
berkata, telah menceritakan pada kami Yahya ibn Said Al Anshori, ia berkata,telah
mengkhobarkanku Muhammad ibn Ibrohim At Taimi, bahwasannya ia mendengar dari
Alqomah ibn Abi Waqosh Al Laitsi mengatakan, aku mendengar Umar ibn Khottob
rodhiallahu anhu di atas mimbar berkata, Aku mendengar Rosulullah shollallahu alaihi wa
sallam bersabda, Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya hingga akhir hadits.

Maka jika dibuang dari sanad tersebut, Umar ibn Khottob rodhiallahu anhu, dinamakan
hadits mursal.
Jikayang dibuang Al Humaidi dinamakan hadits muallaq.
Jika yang dibuang Sufyan dan Yahya dinamakan hadits mudhol.
Jika yang dibuang Sufyan saja atau bersama at-Taimi dinamakan hadits munqothi.

3. Seluruh hadits munqothi ditolak dikarenakan ketidaktahuan keadaan rowi yang


dibuang. Namun berikut ini adalah munqothi yang dikecualikan dari penolakan tersebut:

1. Mursal sahabat7
2. Mursal kibar tabiin8. Menurut sebagian besar ahlu ilmi adalah shohih jika dikuatkan
oleh mursal yang lain atau diamalkan para sahabat atau dengan qiyas.
3. Mualaq.Jika dengan bentuk kata yang tegas dalam kitab yang komitmen dengan
hadits-hadits shohih, seperti Shohih Bukhori9.
4. Hadits yang diriwayatkan dengan sanad yang bersambung dari jalan yang lain yang
memenuhi semua persyaratan untuk diterimanya hadits10.
Tadlis

1. Penjelasannya
2. Pembagiannya
3. Tingkatan mudallis
4. Hukum perowi yang mudallis
1. Tadlis ( )adalah membawakan hadits dengan satu sanad sehingga dipahami bahwa
sanad tersebut lebih tinggi dari pada kualitas senyatanya.

2. Tadlis terbagi menjadi dua: tadlis isnad dan tadlis guru.

Tadlis isnad ()

Tadlis isnad adalah seorang rowi meriwayatkan dari orang yang dijumpainya, hadits yang
tidak dia dengar atau tidak dia lihat perbuatannya dengan kata-kata yang bisa dipahami
bahwa orang tersebut mendengar atau melihatnya secara langsung. Contohnya: Ia
berkata (), ia melakukan (), dari fulan () , fulan berkata (( ,fulan
melakukan ( )dan yang semisal itu.

Tadlis guru ()
Tadlis guru adalah seorang rowi menamakan gurunya, atau mensifatinya dengan nama
atau sifat yang tidak terkenal sehingga gurunya tidak dikenal. Hal ini disebabkan mungkin
karena gurunya lebih muda darinya, dan ia tidak suka jika diketahui meriwayatkan dari
yang lebih muda, atau agar orang mengira gurunya banyak, atau maksud-maksud lainnya.

3. Rowi mudallis ada banyak; ada yang dhoif dan ada yang tsiqoh seperti Hasan Al
Bashri, Humaid At Tuwaili, Sulaiman ibn Mahron Al Amasy, Muhammad ibn Ishaq dan Walid
ibn Muslim. Al Hafidz Ibnu Hajar mengklasifikasikan rowi mudallis menjadi lima tingkatan:

1. Rowi yang tidak divonis melakukan tadlis kecuali langka. Seperti Yahya ibn Said.
2. Rowi yang para imam masih berlapang dada terhadap tadlisnya (masih dimaafkan).
Oleh karena itulah para ulama masih memakai riwayatnya dalam kitab shohih karena
dia adalah seorang Imam dan sedikitnya tadlis yang dia lakukan jika dibandingkan
dengan riwayat yang dia sampaikan, semacam tadlisnya Imam Sufyan Atsauri. Atau
karena rowi tersebut tidak melakukan tadlis kecuali dari seorang rowi yang tsiqoh,
semacam Imam Sufyan ibn Uyainah.
3. Rowi yang sering melakukan tadlis tanpa membatasi diri dengan rowi-rowi yang
tsiqoh. Sehingga yang tidak disebutkan boleh jadi rowi tsiqoh
ataupun rowi yang dhoif. Semacam Abu Zubair Al Makiy.
4. Rowi yang mayoritas tadlisnya adalah rowi yang dhoif dan tidak dikenal. Seperti
Baqiyah ibn Al Walid.
5. Orang yang disamping melakukan tadlis, memiliki kelemahan karena faktor lain.
Misal, Abdulah ibn Luhaiah11.
4. Hadits mudallis tidak diterima kecuali mudallisnya adalah orang yang tsiqoh
(terpercaya), dan dia menegaskan bahwa ia mengambilnya secara langsung dari gurunya
dengan perkataan aku
mendengar fulan berkata () , aku melihat ia melakukan () , telah
menceritakan padaku ( )dan yang semacam itu. Akan tetapi riwayat yang terdapat
dalam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim dengan bentuk tadlis dari rowi tsiqoh yang
mudallis, maka haditsnya diterima karena umat Islam menerima semua riwayat dari kedua
Imam tersebut dengan tanpa perincian

Mudhthorib

1. Penjelasannya
2. Hukumnya
1. Mudhthorib ( )adalah hadits yang para rowinya berselisih dalam sanad atau
matannya yang tidak mungkin dikompromikan.

Contohnya, hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakar rodhiallahuanhu bahwasannya ia


berkata pada Nabi shollallahu alaihi wa sallam, Aku melihat engkau beruban.
Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Aku beruban karena memikirkan yang Allah
turunkan dalam surat Hud dan surat-surat sejenisnya.

Hadits ini diperselisihkan dalam 10 masalah. Hadits ini ada yang diriwayatkan secara
maushul dan mursal. Ada yang mengatakan dari Abu Bakar, ada yang dari Aisyah atau
Saad dengan perselisihan yang tidak mungkin dikompromikan atau dirojihkan (dipilih yang
lebih kuat).
Jika mungkin dikompromikan;
Maka wajib dikompromikan dan hilanglah status idhthirob12.
Contohnya:
Perbedaan riwayat tentang jenis ihrom Nabi shollallahu alaihi wa sallam pada haji
wada. Sebagian mengatakan Nabi haji ifrod saja, ada yang mengatakan haji
tammatu ada juga yang mengatakan bahwa Nabi melakukan haji qiron 13.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, Tidak ada kontradiksi dalam hal tersebut. Nabi
melakukan tamatu tamatu qiron. Qiron bisa juga disebut tamatu. Tamatu ada dua
macam, yaitu tamatu dengan makna tamatu dan tamatu dengan makna qiron.
Tamatu Nabi shollallahu alaihi wa sallam adalah tamatu qiron. Dan nabi
menyendirikan perbuatan manasik haji dan menggandengkan antara dua ibadah
yaitu umroh dan haji. Maka haji itu adalah haji qiron dengan menyatukan manasik.
Jadi, disebut haji ifrod dengan pertimbangan bahwa Nabi mencukupkan degan satu
tawaf dan sai, dan disebut mutamatu dengan pertimbangan kesenangan yang
beliau dapatkan dengan meninggalkan salah satu dari dua safar.

Jika mungkin dirojihkan;


Wajib mengamalkan yang dan hilanglah status idhthirob.
Contohnya:
Perselisihan pada riwayat hadits Barirah rodhiallahu anha ketika dia dimerdekakan
dari status budak. Nabi shollallahu alaihi wa sallam memberinya pilihan antara tetap
bersama suaminya atau berpisah dari suaminya14.
Perselisihannya: Apakah suaminya adalah orang yang merdeka atau budak?

Diriwayatkan dari Al Aswad dari Aisyah15 rodhiallahuanha bahwasannya suaminya


adalah orang yang merdeka. Tapi riwayat dari Urwah ibn Zubair16 dan Qosim ibn
Muhammad ibn Abu Bakar bahwasannya suaminya adalah seorang budak.

Yang dinilai rojih dari kedua riwayat tersebut riwayat Urwah ibn Zubair dan Qosim ibn
Muhammad ibn Abu Bakar dikarenakan kedekatan keduanya dengan Aisyah. Aisyah
adaah bibi dari Urwah dan bibi dari Qosim. Sedangkan Al Aswad tidak punya
hubungan dengan Aisyah ditambah ada keterputusan di dalam riwayatnya.

2. Hukum hadits mudhtorib adalah dhoif dan tidak dapat dijadikan hujjah. Karena
idhthirobnya menunjukkan adanya rowi yang tidak kuat hafalannya. Akan tetapi jika
idhthirob tersebut tidak berkaitan dengan pokok hadits, maka tidak mengapa.
Contohnya:
Perselisihan perowi dalam hadits dari Fadholah ibn Ubaid rodhiallahuanhu,bahwasannnya
ia membeli kalung pada perang Haibar sebanyak 12 dinar.Pada kalung tersebut terdapat
emas dan manik-manik. Ia berkata, Maka aku memisahkannya dan aku mendapatkannya
nilainya lebih dari 12 dinar. Lalu aku menceritakan kepada Nabi shollallahu alaihi wa
sallam, beliau pun bersabda, Kalung tersebut tidak boleh dijual sampai dipisah.

Maka pada riwayat yang lain, Fadholahlah yang membeli kalung tersebut. Riwayat lainnya,
ada orang lain selain Fadholah yang bertanya tentang hukum membeli kalung tersebut.
Dalam riwayat lain: Bahwasannya itu emas dan manik-manik.
Pada riwayat yang lain: Emas dan permata.
Riwayat yang lain: Manik-manik yang digantungi emas.
Riwayat yang lain: dengan nilai 11 dinar.
Riwayat yang lain: dengan nilai 9 dinar.
Riwayat yang lain: dengan nilai 7 dinar.

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, Perselisihan ini tidaklah menyebabkan kelemahan hadits,
karena maksud pokok dari berdalil dengan hadits tersebut tetap terjaga dan tidak ada
perselisihan di dalamnya, yaitu pelarangan jual beli sesuatu yang belum terpisah. Adapun
jenisnya atau kadar, ukuran harganya maka dalam hal ini tidak memiliki hubungan dengan
menjadi idththirob atau tidak.

Demikian pula bukan penyebab idhthirob, perbedaan tentang nama perowi, kunyahnya
atau yang semacam itu, padahal yang dimaksudkan adalah sama sebagaimana didapatkan
pada banyak hadits-hadits yang shohih.

1 Keterputusan sanad ada yang jelas dan tidak jelas. Yang tidak jelas akan dibahas di tadlis.
2 Maka nanti mursal ada dua.
3 Atau hadits yang dibuang di awal sanad. Awal sanad adalah orang yang berada di atas
pencatat hadits. Orang setelah Nabi shollallahu alaihi wa sallam adalah akhir sanad.
Terkadang dibuang semua sanadnya oleh Imam Bukhori. Muallaq dalam Imam Bukhori
disebutkan sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam salah
satu kitabnya.

4 Munqothi ini memiliki dua pengertian.


5 Sebagaimana Islam itu punya tingkatan, yaitu Islam, Iman, Ihsan. Jadi, Islam itu ada di
Islam itu sendiri.
6 Guru Imam Bukhori yang Imam Bukhori paling banyak meriwayatkan hadits darinya.
7 Semacam ucapan Ibnu Abbas tentang turunnya wahyu pertama kali. Ibnu Abbas lahir 3
tahun sebelum hijrah. Maka tentu dia tidak mengetahui dan tidak menyaksikan langsung
kejadian di awal wahyu, sehingga tentu dia mendapatkan dari sahabat yang lain. Mursal
shohabi tidak mempengaruhi keabsahan hadits. Karena meski kita tidak mengetahui
sahabat yang dibuang, akan tetapi itu tidaklah masalah karena semua sahabat
Nabi shollallahu alaihi wa sallam adalah adil.

8 Kibar tabiin : mereka yang mayoritas riwayatnya berasal dari para sahabat, seperti Said
ibn Musayyib, Urwah ibn Zubair. Jadi, mereka sedikit meriwayatkan dari sesama tabiin.

9 Akan tetapi, hadits mualaq dalam Shohih Bukhori bukanlah sebagai bagian dari Shohih
Bukhori meskipun ia tercantum dalam kitab Shohih Bukhori. Oleh karena itu ketika orang
menyampaikan hadits mualaq Imam Bukhori dalam Shohih Bukhori harus disebutkan,
Diriwayatkan oleh Imam Bukhori secara mualaq karena mualaq tersebut bukan bagian
dari Shohih Bukhori. Karena judul asli kitab shohih Bukhori adalah Al Jami As Shohih Al
Musnad. Al Jami yaitu kitab hadits yang mengumpulkan hadits dalam banyak bab, baik
fiqh dan selainnya. Kalau hanya dalam bab fiqh saja disebut Sunan. Mualaq dalam Shohih
Bukhoriada kata-kata yang tegas ada yang tidak tegas. Jika yang tidak tegas maka Imam
Bukhori tidak menjamin keshohihan hadits ini. Sedangkan Al Musnad adalah yang
bersanad.

10 Ada pertanyaan, Apakah semua hadits yang shohih diamalkan? Belum tentu. Dilihat
dulu, apakah hadits tersebut mansukh. Jadi masih harus melihat hal yang lainnya. Misalnya
Nabi shollallahu alaihi wa sallam berdiri ketika ada jenazah lewat. Hadits ini shohih. Tapi
kemudian mansukh. Karena setelah itu nabi shollallahu alaihi wa sallam melarang untuk
berdiri ketika jenazah lewat. Dan juga tidak setiap hadits dhoif ditinggalkan. Jika bisa naik
menjadi hadits hasan lighoiri, maka hadits dhoif tersebut bisa diamalkan.

11 Ia mulai kacau hafalannya setelah kitab-kitabnya terbakar. Namun, ia memiliki empat


murid yang bernama Abdulah yang belajar padanya sebelum kitab-kitabnya terbakar.
Sehingga riwayatnya dapat diterima melalui empat murid tersebut.
12Dan tidak lagi isebut hadits mudhtorib.
13 Berihrom untuk menjalankan haji dan umroh sekaligus dan tidak tahallulkecuali tanggal
10 dzulhijjaah.
14 Suami Barirah bernama Mughits.
15 Dan Aisyah inilah yang membeli Bariroh kemudian memerdekakannya.
16 Anak dari Asma binti Abu Bakar.
Sumber: https://muslimah.or.id/350-taisir-musthalah-hadits-5-penjelasan-untuk-sanad-yang-
terputus-tadlis-mudhthorib.html=

Idroj dalam matan

1. Definisinya
2. Kedudukannya dan contoh
3. Kapan dinilai itu sebagai hadits sisipan
1. Idroj (sisipan) dalam matan ( ) : Salah seorang rowi memasukkan kata-
kata yang berasal dari dirinya sendiri tanpa dia jelaskan bahwa itu adalah kata-katanya
sendiri. Dia melakukan itu bisa jadi untuk menjelaskan kata-kata yang asing dalam hadits
tersebut, istinbath hukum (mengambil kesimpulan hukum) atau untuk menjelaskan hikmah.

2. Idroj di awal hadits, tengah hadits atau akhir hadits.


Contoh idroj di awal matan:
Hadits dari Abu Huroiroh rodhiallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam
Muslim.

Sempurnakanlah wudhu, celakalah tumit-tumit yang tidak terkena air, celakalah karena
berada di neraka. [1]

Kata-kata sempurnakanlah wudhu adalah sisipan yaitu ucapan Abu Hurioroh rodhiallahu
anhu. Hal ini diketahui berdasarkan satu riwayat dalam Shohih Bukhori. Dalam riwayat
tersebut, Abu Huroiroh rodhiallahu anhu mengatakan,

Sempurnakanlah wudhu, karena Abul Qosim shollallahu alaihi wa sallam


mengatakan,Celakalah tumit-tumit yang tidak terkena air.'

Contoh sisipan di tengah matan:

Hadits dari Aisyah rodhiallahu anha tentang awal mula datangnya wahyu pada
Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam. Dan hadits tersebut, Nabi shollallahu alaihi wa
sallam bersepi-sepi di Gua Hiro, lalu ber-tahanus (pada asalnya artinya adalah menjauhi
dosa), namun di sini dijelaskan oleh rowi maksud dari tahanus yaitu beribadah selama
beberapa malam yang bisa di hitung.
Kata-kata tahanus adalah beribadah adalah sisipan, tepatnya merupakan perkataan az-
Zuhri. Hal ini dijelaskan satu riwayat dalam riwayat Bukhori dari jalurnya Zuhri, dengan
lafadz bahwasannya Nabi shollallahu alaihi wa sallam pergi ke Gua Hiro dan tahanus di
dalamnya, Zuhri mengatakan, makna tahanus adalah beribadah. Kemudian Zuhri
melanjutkan pada beberapa malam yang bisa dihitung.

Contoh idroj di akhir matan:

Hadits Abu Hurorioh rodhiallahu anhu sesungguhnya Nabi shollallahu alaihi wa


sallam bersabda,

Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan putih terang
wajah, tangan dan kaki, karena bekas wudhu. Oleh karena itu siapa diantara kalian yang
mampu memanjangkan cahaya putih terangnya maka hendaknya ia lakukan.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim.

Kata-kata Siapa diantara kalian yang mampu memanjangkan cahayanya maka


lakukanlah, adalah perkataaan Abu Huroiroh rodhiallahu anhu yang menyebabkan
perkataan Abu Huroiroh ini masuk ke hadits Nabi shollallahu alaihi wa sallam adalah
seorang rowi yang bernama Nuaim ibn Mujmir[2].

Disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad, dari Nuaim ibn Mujmir, beliau mengatakan,
Saya tidak tahu apakah itu sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam atau kata-kata Abu
Huroiroh [3]. Lebih dari satu pakar hadits yang menegaskan bahwa kata-kata tersebut
adalah sisipan. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan itu tidak mungkin
merupakan sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam [4].

3. Tidak bisa dinilai sebagai sisipan sampai ada bukti.

Sehingga hukum asalnya adalah bagian dari hadits dan bisa diketahui:

Dengan ucapan rowi itu sendiri.


Ucapan Imam yang teranggap ucapannya.
Dari kata-kata yang disisipkan karena mustahil Nabi mengatakannya
Ziyadah Dalam Hadits
1. Pengertiannya
2. Pembagiannya, penjelasan hukum pada masing-masing pembagian beserta
contohnya.
1. Ziyadah (tambahan) dalam hadits () :

Salah seorang rowi (periwayat hadits) menambahi redaksi (matan) hadits dengan sesuatu
yang bukan merupakan bagian dari hadis tersebut.

2. Ziyadah terbagi menjadi dua macam:

1. Ziyadah yang sejenis dengan idroj.

Merupakan tambahan yang diberikan seorang rowi dari dirinya sendiri, tanpa bermaksud
bahwa tambahan tersebut merupakan bagian dari hadits. Penjelasan hukumnya telah
disampaikan di muka.

2. Ziyadah yang diberikan oleh sebagian rowi dengan maksud bahwa tambahan tersebut
merupakan bagian dari hadits. Jenis ini terbagi menjadi dua:

Jika datang dari rowi yang tidak tsiqoh. Maka tidak diterima dikarenakan riwayat
rowi tersebut jika sendirian itu tidak diterima, maka tambahan yang dia berikan pada
riwayat orang lain lebih layak untuk ditolak.
Jika datang dari rowi yang tsiqoh: Jika bertentangan dengan riwayat lain yang
jalannya lebih banyak atau periwayatannya lebih tsiqoh, maka tidak diterima
dikarenakan riwayat ini termasuk hadits yang syadz. Misal:Hadis yang diriwayatkan
oleh Malik dalam Al Muwattho bahwasannya Ibnu Umar radhiallahu anhuma jika
memulai sholat, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua
pundaknya, dan jika mengangkat kepalanya dari ruku, beliau mengangkat keduanya
lebih rendah dari itu. Abu Daud berkata, Tidak disebutkan beliau mengangkat
keduanya lebih rendah dari itu oleh seorang pun selain Malik menurut
sepengetahuanku.
Dan riwayat yang shohih dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, marfu kepada
Nabi shollallahu alaihi wa sallam, bahwasannya beliau mengangkat kedua tangannya
sampai sejajar dengan pundaknya jika memulai sholat, dan ketika ruku, ketika
bangkit dari ruku tanpa dibeda-bedakan.
Jika tidak bertentangan dengan rowi selainnya maka diterima, dikarenakan
didalamnya terdapat tambahan ilmu. Misal:Hadis Umar radhiallahu
anhu bahwasannya beliau mendengar Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu sampai selesai dan sempurna
kemudian mengucapkan: Asyhadu allaa ilaaha illallah , wa anna muhammadan
abdullahi wa rasuuluh melainkan dibukakan baginya pintu syurga yang berjumlah
delapan, dia boleh masuk dari pintu mana yang dia inginkan.

Hadits ini telah diriwayatkan oleh Muslim dari dua jalan periwayatan. Pada salah satu
dari keduanya terdapat tambahan ( ) setelah (
) .

Meringkas Hadits

1. Pengertiannya
2. Hukumnya
1. Meringkas hadits () :

Seorang rowi atau penukil hadits membuang sebagian dari hadits.

2. Tidak diperbolehkan meringkas hadits kecuali dengan lima syarat:

1. Tidak merusak makna hadits. Seperti pengecualian, tujuan, keadaan/keterangan, syarat,


dan selainnya. Misal, sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam,


Jangan kalian menukar emas dengan emas kecuali semisal dengan semisal.


Janganlah kalian menjual buah-buahan sampai tambak baiknya.


Janganlah memutuskan hukum antara dua perkara sedangkan dia dalam keadaan emosi.

Iya, jika kalian melihat air. Perkataan nabi shollallahu alaihi wa sallam sebagai jawaban
kepada Ummu Sulaim tentang pertanyaannya, Apakah wanita wajib mandi jika bermimpi?

:
Jangan berkata salah seorang dari kalian: ya Allah, ampunilah aku jika Engkau
menghendaki.

Haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga.

Maka tidak boleh membuang perkataan


)
kecuali semisal dengan semisal (

sampai tampak baiknya ()

sedangkan dia dalam keadaan emosi ()

jika kalian melihat air ()

jika Engkau menghendaki ()

mabrur ()

Dikarenakan membuang kata-kata diatas merusak makna hadits

2. Tidak membuang redaksi hadits/matan yang hadits itu datang karenanya,

Misal:
. : :
(( )) :
Hadits Abu Huroiroh radhiallahu anhu: seseorang bertanya pada Nabi shollallahu alaihi wa
sallam Sesungguhnya kami menaiki perahu di laut dan kami membawa sedikit air. Jika
kami berwudhu dengannya, kami akan kehausan. Apakah kami boleh berwudhu dengan air
laut? Maka Nabi bersabda: Laut itu suci airnya dan halah bangkainya.
Maka tidak boleh menghapus sabda beliau shollallahu alaihi wa sallam, Laut itu suci
airnya dan halal bangkainya ( ) karena hadits ini datang karenanya, maka
dia adalah maksud pokok dari hadits tersebut.

3. Yang dibuang bukan merupakan penjelasan tentang tata cara ibadah, baik berupa
perkataan atau perbuatan.

Misal:
: ))
((

Hadits Ibnu Masud radhiyallahuanhu, Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Jika
salah seorang dari kalian duduk dalam sholat, maka hendaknya dia membaca:
Attahiyyaatu lillahi washolawaatu wathoyyibaat, Assalaamu alaika ayyuhannabiyu wa
rahmatullahi wa barakaatuh, Assalamu alainaa wa ala ibaadillahishoolihiin, Asyhadu allaa
ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuuluh

Maka tidak boleh menghapus satu bagian pun dari hadits ini karena akan merusak tata
cara ibadah yang disyariatkan, kecuali dengan menjelaskan bahwa ada bagian hadits yang
dipotong atau dibuang.

4. Hendaknya yang membuang, mempunyai ilmu tentang kandungan lafadz.

Lafadz mana yang merusak makna jika dibuang dan mana yang tidak merusak, supaya
tidak membuang lafadz yang merusak makna secara tidak sadar.

5. Rowi yang melakukan pengurangan hadits tidak akan menjadi sasaran tuduhan; karena
dikira jelek hafalannya jika dia meringkasnya, atau dikira memberi tambahan jika dia
menyempurnakannya, karena memeringkas pada keadaan ini menyebabkan orang akan
ragu-ragu untuk menerima rowi tersebut sehingga hadits menjadi lemah karenanya.
Persyaratan ke-lima ini untuk hadits yang tidak tercatat, karena jika hadits tersebut sudah
tertulis maka dapat merujuk pada kitab yang mencatatnya dan hilanglah keraguan.

Jika semua syarat-syarat tersebut sudah dipenuhi, maka diperbolehkan meringkas hadits.
Lebih-lebih memotong hadits untuk berdalil pada setiap potongan hadits pada tempat yang
tepat. Banyak ulama dari kalangan ahlul hadits dan ahlul fikih yang melakukan hal ini.
Lebih baik lagi pada saat meringkas hadits ditambahi penjelasan adanya peringkasan,
dengan perkataan hingga akhir hadits, atau sebagaimana yang disebutkan oleh suatu
hadits , dan selainnya.
Meriwayatkan Hadits dengan makna

1. Pengertiannya
2. Hukumnya
1. Meriwayatkan hadits dengan makna, yaitu menukilkan hadits dengan lafadz yang
bukan lafadz asli yang diriwayatkan.

2. Tidak boleh meriwayatkan hadits dengan makna kecuali dengan tiga syarat:

1. Dilakukan oleh orang yang mengetahui maknanya dari sisi bahasa, dan dari sisi maksud
teks yang diriwayatkan.

2. Terpaksa melakukannya, semisal karena rowi lupa dengan teks asli hadits tersebut tapi
ingat maknanya. Jika teks hadits masih ingat, maka tidak boleh merubah kecuali jika
dituntut kebutuhan untuk memahamkan orang yang diajak bicara dengan bahasa yang
lebih mudah dipahami.

3. Lafadz hadits tersebut bukan merupakan lafadz yang digunakan untuk beribadah.,
seperti lafadz dzikir, dan selainnya.

Jika meriwayatkan hadits dengan makna, maka hendaknya disampaikan sesuatu yang
menunjukkan hal itu, dengan mengatakan sesudah menyampaikan hadits:, Atau semisal
yang dikatakan oleh Nabi () , atau semisal itu () .

Seperti yang ada dalam hadits dari Anas rodhiallahu anhu tentang kisah orang Arab badui
yang kencing di dalam masjid, kemudian Rosulullah shollallahu alaihi wa
sallam memanggilnya dan berkata padanya:

Sesungguhnya masjid ini tidak sepantasnya terkena air kencing, tidak pula kotoran,
sesungguhnya ia adalah untuk mengingat Allah Azza wa Jalla , sholat, dan membaca Al
Quran, atau semisal yang dikatakan Nabi shollallahu alaihi wa sallam.
Juga seperti yang ada dalam hadits dari Muawiyah bin Hakam. Beliau berkata-kata ketika
sholat karena tidak tahu kalau hal tersebut terlarang. Setelah selesai sholat,
Nabi shollallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya:

Sesungguhnya sholat itu tidak sepantasnya di dalamnya terdapat perkataan orang.


Sesungguhnya isi sholat adalah tasbih, takbir, dan membaca al quran, atau semisal yang
dikatakan Nabi shollallahu alaihi wa sallam.

1. Artinya siksaan hanya mengenai sebagian badan. Siksa neraka ada dua macam, ada
yang meliputi sebagian badan dan ada yang meliputi seluruh badan. Dan ini adalah contoh
yang mengenai sebagian badan. Demikian juga orang yang isbal. Bagian badan yang
terjeluri kainlah yang dapat siksa di neraka. Namun, jangan remehkan siksaan neraka
walaupun sebagian badan saja. Sungguh, orang yang mendapat siksaan dengan terompah
neraka di telapak kakinya, yang mendidih adalah otaknya. Jadi, jangan diremehkan.

2 . Jadi, aslinya adalah terpisah. Akan tetapi karena Nuaim ibn Mujmir maka perkataan Abu
Huroiroh tadi tergabung dengan hadits Nabi dari Abu Hurorioh.
3. Jadi dia lupa, dan hanya dia yang membawa riwayat dengan menggabungkan antara
perkataan Abu Huroiroh dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

4. Karena Nabi adalah orang yang paling paham dan fasih bahasanya. Dan dalam bahasa
Arab yang namanya ghurron adalah putih cemerlang di wajah. Dan wajah itu sudah ada
batasannya mungkinkah dipanjangkan? Oleh karena ini jelas bahwa kata-kata tersebut
adalah hadits mudroj, maka pendapat yang paling benar, tidak ada anjuran untuk
melebihkan wudhu dari batasan yang telah ditetapkan oleh syariat.

Sumber: https://muslimah.or.id/409-irdoj-ziyadah-ringkas-hadits.html=

Al Maudhu

1. Pengertiannya
2. Hukumnya
3. Tanda-tanda untuk mengetahui hadits palsu
4. Contoh dari hadits-hadits palsu dan berbagai kitab yang memuat daftar hadits-hadits
palsu
5. Contoh orang yang memalsukan hadits
1. Al maudhu (): Hadits yang didustakan atas Nabi shollallahu alaihi wa sallam.

2. Hadits maudhu merupakan hadits yang tertolak (1). Tidak boleh disebutkan kecuali
disertai penjelasan tentang kepalsuannya dalam rangka memperingatkan bahwa hadits
tersebut palsu. Sebagaimana sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam,

Barang siapa mengucapkan dariku dengan sebuah hadits yang dia kira bahwa hadits
tersebut adalah dusta maka dia salah seorang pendusta. (HR Muslim)

3. Diantara tanda hadits palsu adalah sebagai berikut:

Pengakuan orang yang memalsukannya.


Bertentangan dengan akal. Misalnya, kandungan hadits tersebut mengumpulkan dua
hal yang bertentangan, menetapkan hal yang mustahil, meniadakan adanya sesuatu
yang harus ada, dan selainnya.
Bertentangan dengan yang diketahui secara pasti sebagai bagian dari agama.
Misalnya hadits tersebut mengingkari salah satu rukun Islam, menghalalkan riba dan
selainnya, menetapkan waktu terjadinya kiamat, atau menetapkan mungkin ada nabi
setelah nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sallam dan selainnya.
4. Hadits-hadits maudhu banyak sekali diantaranya:

Hadits-hadits tentang ziarah kubur Nabi shollallahu alaihi wa sallam


Hadits-hadits tentang keutamaan bulan Rajab dan keistimewaan sholat di bulan
tersebut.
Hadits-hadits tentang hidupnya nabi Khidhir, sahabat nabi Musa alaihissholatu
wasalam dan bahwasannya beliau datang menemui nabi serta menghadiri
pemakaman Nabi.
Hadits-hadits palsu tentang berbagai hal:
Cintailah orang arab karena tiga hal, karena aku adalah orang arab, Al Quran itu
berbahasa arab, dan bahasa penghuni surga adalah bahasa arab
Ikhtilaf umatku adalah rahmat
Bekerjalah untuk dunia seolah engkau hidup selamanya, dan bekerjalah untuk
akhirat seolah engkau akan mati esok hari
Cinta dunia adalah sumber dari segala dosa
Cinta tanah air adalah bagian dari iman
Sebaik-baik nama adalah yang mengandung pujian dan penghambaan
Aku melarang jual beli dengan syarat
Hari puasa kalian adalah hari kalian menyembelih kurban

Banyak dari ahli hadits yang menulis buku untuk menjelaskan hadits-hadits palsu dalam
rangka membela sunnah dam memperingatkan umat darinya semisal:

1. Maudhuat Kubro () . Ditulis oleh Ibnu Jauzi yang wafat pada tahun 597
H. Akan tetapi kitab ini tidak mencakup semua hadits palsu, dan di dalamnya
dimasukkan hadits-hadits yang sebenarnya tidak palsu.
2. Fawaidul Majmuatu Fil Ahadiysil Maudhuah () , ditulis oleh Asy
Syaukani yang wafat pada tahun 1250 H. Di dalamnya penulis mudah memberikan
vonis palsu sehingga beliau memasukkan hadits-hadits yang bukan maudhu ke
dalamnya.
3. Tanzihusy Syariatil Marfuatu Anil Akhbarisy Syaniatil Maudhuah (
) , ditulis oleh Ibnu Iroqi yang wafat pada tahun 963 H. Kitab ini
termasuk kitab terlengkap yang ditulis mengenai hal ini.
5. Pemalsu hadits sangat banyak

Diantara tokoh pemalsu hadits yang terkenal adalah: Ishaq bin Najh Al Malathi,
Makmun bin Ahmad Al Harowi, Muhammad ibnu As Saib Al Kulbi, Al Mughiroh bin
Said Al Kufi, Muqotil bin Abi Sulaiman, Al Waqidi, Ibnu Abi Yahya.

Pemalsu hadits itu terdiri dari beberapa kelompok, diantaranya:

1. Az Zindik

Yaitu mereka yang pura-pura masuk Islam untuk merusak akidah kaum muslimin, dan
memperburuk citra islam, dan merubah hukum Islam.

Misal: Muhammad bin Said Al Mashlub yang dibunuh oleh Abu Jafar Al Manshur. Dia
memalsukan hadits dari Anas rodhiallahu anhu yang disandarkan pada Nabi shollallahu
alaihi wa sallam, Sesungguhnya aku adalah penutup nabi, tidak ada nabi setelahku
kecuali yang Allah kehendaki.
Yang lain adalah Abdul Karim bin Abi Al Aujai yang dibunuh oleh salah seorang
gubernur Abasiyah di Bashroh. Dia berkata saat dibawa untuk dibunuh, Sesungguhnya aku
telah membuat di tengah-tengah kalian empat ribu hadits. Di dalamnya aku haramkan
yang halal dan aku halalkan yang haram.

Sungguh dikatakan bahwa orang-orang zindik telah memalsukan atas nama


Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam sebanyak 14.000 hadits.

2. Orang yang hendak mencari muka kepada kholifah atau gubernur.

Misalnya Ghiyats bin Ibrohim. Ia pergi menemui Khalifah Al Mahdi yang sedang bermain
burung merpati. Dikatakan padanya, Sampaikan hadits pada amirul mukminin, maka dia
menyebutkan sebuah sanad untuk membuat hadits palsu atas Nabi shollallahu alaihi wa
sallam bahwasannya Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidak boleh ada taruhan
kecuali pada pacuan unta, melempar tombak, memanah, atau pacuan merpati.
Mendengar itu, Al Mahdi berkata Aku yang menjadi penyebab orang itu membuat hadits
palsu, kemudian beliau meninggalkan burung merpati tersebut dan memerintahkan untuk
disembelih (2).

3. Orang yang mencari perhatian kepada orang awam, dengan menyebut cerita yang
aneh-aneh dalam rangka memotivasi mereka untuk berbuat taat, menakuti-nakuti mereka
untuk berbuat maksiat, untuk mencari harta (3), atau mencari kedudukan.,Semacam
tukang-tukang kisah di masa silam, yaitu orang-orang yang berbicara, memberikan
pengajian di masjid-masjid di tempat orang berkumpul dengan cerita yang membuat
keterpengahan, berupa cerita yang aneh-aneh.

Semisal dari Imam Ahmad ibn Hambal dan Imam Yahya ibn Main. Keduanya suatu hari
sholat di masjid Rosafah. Setelah selesai sholat berdirilah seorang tukang
kisah/penceramah yang kemudian dia bercerita dan mengatakan Bercerita kepada kami
Ahmad ibn Hambal dan Yahya ibn Main kemudian menyebutkan sanad sampai
Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam. Kemudian dia mengatakan, Barang siapa yang
mengucapkan la ilaha illallah maka Allah ciptakan untuk setiap kalimat seekor burung,
paruhnya dari emas, dan bulunya dari marjan (semacam tumbuh-tumbuhan yang indah)
kemudian dia sebutkan sebuah kisah yang panjang (4).

Ketika telah selesai bercerita, maka kemudian dia mengambil pemberian dari hadirin yang
terkesima dengan ceritanya. Kemudian Imam Yahya ibn Main berisyarat dengan tangannya
kepada orang tersebut. Maka dia datang karena mengira akan mendapat uang. Imam
Yahya ibn Main bertanya kepadanya, Siapa yang bercerita kepadamu hadits seperti ini?
Maka orang tersebut menjawab tanpa merasa bersalah, Yang bercerita adalah Ahmad ibn
Hambal dan Yahya ibn Main (5). Maka Yahya ibn Main mengatakan, Saya ini Yahya ibn
Main dan sebelah saya ini adalah Ahmad ibn Hambal. Dan kami tidak pernah mendengar
hadits seperti ini dalam haditsnya Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam.

Maka si tukang cerita itu berkata, Aku tidak pernah mengira kalau Yahya ibn Main dan
Ahmad ibn Hambal itu lebih bodoh daripada dari hari ini. Memangnya Ahmad ibn Hambal
dan Yahya ibn Main di dunia ini hanya dua saja. Maka si tukang cerita berkata dengan
beraninya, Selalu saja aku dengar bahwasannya Yahya ibn Main itu lebih dungu yang
kuperkirakan kecuali pada detik ini. Aku tidak pernah mengira Yahya ibn Main seorang
bodoh, dan tidak pernah kuperkirakan ia ternyata lebih bodoh lagi dari hari ini. Seakan-
akan di dunia ini tidak ada Yahya ibn Main dan Ahmad ibn Hambal kecuali kalian berdua.
Sungguh aku telah menulis hadits dari 17 orang yang bernama Ahmad ibn Hambal dan 17
orang yang bernama Yahya ibn Main. Maka Imam Ahmad pun meletakkan lengan bajunya
ke wajahnya dan mengatakan kepada Yahya ibn Main, Biarkan dia pergi. Lalu dia berdiri
dengan gaya seperti orang yang mengejek Yahya ibn Main dan Ahmad ibn Hambal (6).

4. Semangat membela agama (7)

Akhirnya membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan Islam dan hal-hal yang
berkaitan dengannya, tentang zuhud di dunia dan semacam itu. Maksudnya mulia, lillahita
ala tidak untuk mendapat uang tapi agar orang mempunyai perhatian terhadap agama.
Semacam yang dilakukan Abu Ishmah Nuh ibn Abi Maryam. Padahal dia seorang hakim
di daerah Marwa. Dia membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan surat-surat Al-
Quran, surat persurat (8). Kemudian diia mengatakan motivasi membuat hadits palsu,
Sungguh aku lihat banyak orang berpaling dari membaca Al-Quran. Orang sibuk
mempelajari fiqh Abu Hanifah dan kitab Siroh Ibnu Ishaq. Maka aku membuat hadits palsu
tersebu.t

5. Karena penyakit fanatik

Yaitu orang yang fanatik dengan madzhab fiqih atau suatu metode atau suatu negara yang
dia ikuti (9). Mereka membuat hadits-hadits tentang sesuatu yang mereka fanatik dengan
menyanjung-nyanjungnya, semacam perbuatan Maisaroh ibn Abdu Robbihi yang
mengaku telah memalsukan hadits Nabi sebanyak 70 hadits tentang keutamaan Ali ibn Abi
Thalib .
1. Tidak boleh dijadikan dalil
2. Dalam hadits ini, terdapat tiga jenis permainan yang itu diperbolehkan dengan
bertaruh, boleh juga tanpa bertaruh. Oleh karena itu, Syaikh Abdurrohman As Sadi
rohimahullah, membagi permainan menjadi tiga jenis,
1. Permainan yang haram, baik menggunakan taruhan atau tidak. Misal :
permainan yang menggunakan dadu, catur.
2. Permainan yang halal, yang diperbolehkan menggunakan taruhan atau tidak,
yaitu tiga jenis lomba ini.
3. Permainan yang halal jika tidak menggunakan taruhan. Yaitu perlombaan yang
selain tiga jenis ini.
Demikian yang beliau katakan di Qowaid wal Ushul Jamiah.

3. Semacam meningkatkan oplah majalah. Khusus di tempat kita majalah Hidayah.


4. Lengkapnya tentang hadits dia ini ada di Durotun Nasihin di bab Keutamaan La ilaha
illallah.
5. Dibuku yang lain ada penjelasan, mereka saling bertanya, Kamu pernah bercerita?.
Keduanya saling menjawab tidak.
6. Kalau yang ada sekarang, misalnya ada yang meninggal, kemudian tanah tidak bisa
menerimanya, tubuhnya bau, tubuhnya penuh belatung. Kemudian tukang cerita
seakan-akan tahu yang ghoib mengatakan, Ini seperti ini karena durhaka pada orang
tua. Padahal dosanya banyak sekali misalnya berjudi, tidak sholat. Darimana dia
dapat memastikan belatung itu karena durhaka pada orangtua. Darimana tahu
bahwa ini dan itu berhubungan. Adzab Allah Taala adalah sesuatu yang ghoib. Itulah
tukang kisah di zaman ini. Kalau tukang kisah di masa silam membuat sanad palsu,
hadits palsu.
7. Ulama menyebutnya, membuat hadits karena motivasi ihtisaban (karena lillahi Taala)
namun membuat hadits palsu. Mereka mengatakan yang dilarang adalah
Barangsiapa berdusta atas namaku sedangkan yang kami lakukan, Barangsiapa
berdusta yang menguntungkan Rosulullah, jadi kami tidak dosa. Ini terjadi karena
semangat tanpa ilmu. Mutahamisun terjadi karena semangat yang luar biasa
terhadap agama.
8. Yang menyedihkan, adalah ada orang yang menulis buku dan isinya mencantumkan
hadits-hadits palsu ini dan lebih menyedihkan lagi bukunya sudah diterjemahkan.
9. Bahkan karena sangat fanatiknya dengan seseorang sampai ada yang membuat
hadits palsu. Semacam hadits, Lentera umatku adalah Abu Hanifah dan akan muncul
di tengah-tengah umatku manusia yang lebih bahaya daripada Dajjal yang bernama
Muhammad ibn Idris As Syafii. Hadits-hadits ini muncul karena fantaik berat dengan
madzhab.
Sumber: https://muslimah.or.id/574-taisir-musthalah-hadits-7-maudhu.html=

JARH (CELAAN)

Definisi
Disebutkannya (keadaan) seorang rawi dengan satu pernyataan yang mengharuskan untuk
menolak riwayatnya. Dengan menetapkan sifat penolakan atau menafikan (meniadakan)
sifat untuk diterima haditsnya. Semisal dikatakan, dia adalah: pembohong () , fasiq (
) lemah () , tidak tsiqah ( ) , tidak dianggap ( ) atau tidak ditulis haditsnya
( ) .

Pembagian
Jarh terbagi menjadi dua, yaitu mutlaq dan muqayyad

Mutlaq ( )
Jika disebut seorang rawi dengan jarh (celaan) tanpa batasan, maka dia menjadi cacat di
setiap keadaan.

Muqoyyad ( )
Disebutkannya seorang rawi dengan jarh, namun jarh tersebut dikaitkan dengan hal
tertentu (ada pemberian catatan), semisal berkaitan dengan guru tertentu atau
sekelompok orang tertentu atau semacamnya, maka jarh tersebut menjadi cacat pada rawi
tersebut jika dikaitkan dengan hal tersebut dan tidak berlaku untuk yang lainnya.

Contoh :
Perkataan Ibnu Hajar dalam Taqribu Tahdzib tentang Zaid ibn Habab rawi ini dipakai Imam
Muslim Ibnu Hajar mengatakan Dia adalah orang yang jujur (1). Namun, riwayat-
riwayatnya adalah keliru jika dia dapatkan dari gurunya yang bernama Sufyan Atsauri.
Namun dia tidak dhaif untuk guru yang lain.

Contoh lain:
Perkataan penulis kitab Al Kholashoh tentang Ismail ibn Iyas, Orang ini ditsiqahkan Imam
Ahmad, Ibnu Main dan Bukhori khusus untuk riwayat dari orang Syam, akan tetapi para
ulama mendhaifkan Ismail jika gurunya adalah orang Hijaz. Jadi, dia dhaif dalam hadits
yang diambil dari orang-orang Hijaz namun tidak dhaif jika gurunya dari penduduk Syam
(2).

Dan semisal itu, jika dikatakan orang tersebut adalah dhaif jika berkenaan dengan hadits
tentang sifat Allah. Maka rawi tersebut bukan rawi yang dhaif untuk riwayat yang lain.

Akan tetapi jika maksud jarh adalah untuk membantah klaim tsiqah dalam
batasan/catatan tersebut, maka hal ini tidak menghalangi rawi tersebut sebagai orang
yang dhaif dalam keadaan lain (3).

Tingkatan jarh
Yang paling keras adalah yang menyebutkan dengan puncaknya dalam celaan.
Misalnya: orang yang paling pendusta () , sendi kedustaan ( ) .

Kemudian apa yang menunjukkan berlebih-lebihan, akan tetapi tidak sampai seperti
yang pertama. Misalnya : tukang bohong ( ) , pembuat hadits palsu ( ) , pembohong
() .

Dan yang paling ringan: lembek haditsnya () , lemah hafalannya ( ) atau orang
tersebut ada pembicaraan pada dirinya () .

Di antara tiga tingkatan tersebut terdapat berbagai tingkatan jarh yang sudah dikenal (4).

Syarat penerimaan jarh


Terdapat lima syarat penerimaan jarh, yaitu:

1. Hendaknya ia adalah orang yang adil, sehingga tidak diterima jarh dari orang fasiq.
2. Hendaknya dia adalah yang teliti, sehingga tidak diterima jarh dari orang
yang mughfil (tidak teliti).
3. Hendaknya dia adalah orang yang arif dan mengetahui sebab-sebab cacatnya
rawi. Maka tidak diterima jarh dari orang yang tidak mengetahui sebab-sebab
cacatnya seorang rawi.
4. Menjelaskan sebab-sebab jarh. Maka tidak diterima jarh yang samar, semacam
mencukupkan diri dengan mengatakan dia dhaif, tidak diterima haditsnya tanpa
menjelaskan sebab-sebabnya. Hal ini dikarenakan terkadang seseorang
menjarh seseorang dengan sebab yang tidak menyebabkan jarh. Inilah pendapat
yang masyhur.Ibnu Hajar rahimahullah memilih pendapat diterimanya jarh yang
samar (mubham) kecuali dari orang yang sudah diketahui bahwa dia adalah perawi
yang adil. Jika demikian, maka tidak diterima jarhnya kecuali dengan menjelaskan
sebab-sebabnya. Dan inilah pendapat yang rajih, khususnya jika orang yang
menjarh adalah ulama yang pakar dalam ilmu ini.
5. Hendaknya jarh tersebut tidak tertuju kepada orang yang mutawatir
keadilannya dan dia terkenal sebagai imam (dalam agama) semacam Nafi (Maula
Ibnu Umar), Syubah, Imam Malik, Imam Bukhari. Maka tidak diterima jarh untuk
orang-orang semisal mereka.
TADIL (PENILAIAN BAIK)

Defenisinya
Disebutkannya (keadaan) seorang rawi dengan perkataan yang menyebabkan wajib
diterimanya riwayat darinya, bisa berupa sifat diterimanya riwayat atau menafikan sifat
ditolaknya riwayat. Misalnya dikatakan : dia tsiqah (terpercaya) () , tidak mengapa
dengannya ( ) atau tidak ditolak hadits darinya () .

Pembagian Tadil
Tadil terbagi menjadi dua: Mutlaq dan Muqoyyad

Mutlak
Disebutkannya seorang rawi dengan tadil tanpa persyaratan. Maka rawi
tersebut tsiqah dalam setiap kondisi.

Muqayyad
Disebutkannya seorang rawi dengan tadil,namun tadil tersebut dikaitkan dengan hal
tertentu (ada pemberian catatan), baik dari guru tertentu atau sekelompok orang tertentu
atau sejwenisnya. Maka tadil ini adalah penilaian tsiqah tentang orang ini pada keadaan
tertentu tersebut dan tidak pada keadaan selainnya.

Misalnya dikatakan Dia ini tsiqah bila membawakan hadits dari Az Zuhri atau hadits yang
dia dapatkan berasal dari orang Hijaz. Maka rawi ini tidak tsiqah dalam riwayat yang dia
bawakan dari orang lain yang dia tidak ditsiqahkan.

Akan tetapi jika tadil muqayyad maksudnya adalah untuk membantah klaim dhaifnya rawi
tersebut, maka hal tersebut tidak menghalangi ketsiqahan rawi tersebut pada selain
bantahan tersebut.
Tingkatan tadil
Yang paling tinggi adalah yang menunjukkan puncaknya dalam tadil.
Semacam: manusia yang paling terpercaya ( ) , padanya terdapat puncak
ketekunan () , ()

Dengan kata-kata yang menguatkan tadilnya dengan satu sifat atau dua sifat.
Semacam tsiqah tsiqah ( ) atau tsiqah tsabat () .

Yang paling rendah adalah kata-kata pujian yang dekat dengan jarh yg paling ringan.
Semisal dikatakan dia adalah orang yang sholeh ( ) , dia adalah dekat (
) , diriwayatkan haditsnya ( ) atau kata-kata semisal.

Di antara tiga tingkatan tersebut terdapat berbagai tingkatan tadil yang sudah dikenal.

Persyaratan diterimanya tadil


Persyaratan diterimanya tadil ada empat, yaitu:

1. Orangnya adil, sehingga tidak diterima tadil dari orang fasiq.


2. Orangnya cermat, sehingga tidak diterima tadil dari orang yang tidak cermat karena
dia bisa saja tertipu dengan kondisi orang tersebut.
3. Hendaknya orang tersebut mengetahui sebab-sebab tadil. Maka tidak
diterima tadil dari orang yang tidak mengetahui sifat-sifat diterima atau ditolaknya
suatu riwayat.
4. Hendaknya tadil tersebut tidak berkenaan dengan orang yang terkenal
dengan sifat-sifat yang mengharuskan riwayatnya ditolak karena dusta,
nyata kefasiqannya atau yang selainnya.
KONTRADIKSI ANTARA JARH DAN TADIL

Definisinya
Disebutkannya (keadaan) seorang rawi dengan sesuatu yang mengharuskan untuk
menolak riwayat darinya atau mengharuskan diterima riwayatnya. Contohnya perkataan
sebagaian ulama, dia tsiqah, kemudian sebagian yang lain mengatakan, dia dhaif.

Keadaan kontradiksi antara jarh dan tadil


Keadaan kontradiksi antara jarh dan tadil ada empat
Keadaan Pertama
Antara jarh dan tadil sama-sama mubham (samar). Maksudnya tidak dijelaskan pada
keduanya sebab-sebab jarh atau tadil.

Maka jika kita katakan tidak diterima jarh yang mubham (samar), berarti kita
mengambil tadilnya (meskipun mubham) karena hakikatnya tidak terdapat jarh yang
menyelisihinya.

Sedangkan jika kita menerima jarh yang mubham (samar) dan itulah pendapat yang kuat,
maka terjadi pertentangan (antara jarh dan tadil). Jika demikian keadaannya, maka yang
kita ambil adalah yang paling mendekati kebenaran, baik dengan melihat sifat adil
pemberi jarh dan tadil, pengetahuan pemberi jarh dan tadil tentang keadaan rawi, atau
dengan sebab-sebab jarh dan tadil atau dengan melihat jumlah yang terbanyak.

Keadaan Kedua
Antara jarh dan tadil sama-sama dijelaskan (tidak mubham/samar). Maksudnya, sebab-
sebab jarh dan tadil dijelaskan. Jika demikian, maka kita mengambil jarh, karena orang
yang mengatakan jarh tersebut mempunyai tambahan ilmu (tentang perawi keadaan
tersebut). Kecuali jika ahli tadil mengatakan : Kami mengetahui sebab-sebab jarhnya
telah hilang. Maka pada saat seperti ini, kita mengambil tadil karena orang yang
mentadil mempunyai tambahan ilmu (tentang keadaan rawi) yang tidak dimiliki oleh orang
yang menjarh.

Keadaan Ketiga
Jika disebutkan tadil secara mubham (samar) dan jarh dengan penjelasan, maka
diambil jarhya. Karena pada orang yang menjarh terdapat tambahan ilmu (tentang
keadaan rawi).

Keadaan Keempat
Jika jarhnya mubham (samar) dan tadilnya dengan penjelasan, maka diambil tadil dalam
hal ini lebih kuat.

Footnote:

(1) Jujur dalam istilah Ibnu Hajar berarti haditsnya berkualitas hasan.
(2) Semacam haditsnya tentang larangan tentang membaca Al-Quran untuk orang haidh.
Gurunya adalah orang Hijaz. Maka haditsnya adalah hadits yang dhoif.
(3) Misalnya jika ada ulama yang mengatakan, rawi ini dhaif jika dia mengambil dari
orang Hijaz. Dan perkataan ini digunakan untuk membantah ulama lain yang
mengatakan dia tsiqah jika mengambil dari orang Hijaz. Maka, inilah yang
dimaksud jarh membantah klaim tsiqah. Sehingga jarh tersebut belum berarti
menunjukkan bahwa rawi tersebut tidak dhaif jika mengambil dari orang diluar Hijaz.

(4) Di antara 3 tingkatan tersebut masih ada tingkatan yang lain yang sudah maklum dan
diketahui oleh orang-orang yg mengetahui ilmu ini. Misalnya, celaan Imam Bukhari yg
keras adalah fihi nadzor (( ) perlu dilihat). Kalau sudah ada celaan ini dari Imam
Bukhari maka haditsnya tidak diterima, tidak dapat dijadikan syawahid (hadits penguat),
tidak dijadikan mutabaah. Karena setiap ulama dalam jarh ada yang secara terang-
terangan dan ada yang tidak. Karena jarh pada hakekatnya ghibah dan ini hanya
diperlukan dalam rangka membela din dan dalam keadaan terpaksa. Semacam yang
dilakukan Imam Bukari. Celaan Imam Bukhari yang paling keras adalah orang ini
bermasalah, yang artinya pada orang tersebut terdapat masalah yang besar. Sedang jika
ulama lain mengatakan padanya ada pembicaraan justru menjadi celaan yang paling
ringan.

Sumber: https://muslimah.or.id/1392-taisir-musthalah-hadits-8-jarh-dan-tadil.html

Pembagian Khabar dari Berdasarkan Individu yang Dijadikan Sandaran

Berdasarkan orang yang dijadikan sandaran, khabar terbagi menjadi tiga,


yaitu: marfu, mauquf, maqtu

1. Marfu
Marfu yaitu, khabar yang disandarkan pada Nabi shallallahu alaihi wa
sallam. Marfu terbagi menjadi dua, yaitu: marfu sharih (jelas) dan marfu
hukman (berstatus marfu)
Marfu Sharih ( ) :

Marfu sharih adalah khabar yang disandarkan pada diri Nabi shallallahu alaihi wa
sallam, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, sifat yang berupa akhlak
ataupun karakter fisiknya.
Contoh yang berupa perkataan:

Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

Barang siapa yang melakukan perbuatan yang tidak ada perintahnya dari kami
maka ia tertolak. (HR. Muslim)

Contoh yang berupa perbuatan:

Jika Nabi shallallahu alaihi wa sallam masuk ke dalam rumahnya, maka yang
dilakukan pertama kali adalah bersiwak. (HR. Muslim)

Contoh yang berupa persetujuan:

: :

Persetujuan Beliau shallallahu alaihi wa sallam pada budak wanita ketika ia bertanya
padanya, Dimana Allah. Budak itu menjawab, Di langit. Maka Nabi shallallahu
alaihi wa sallam menyetujuinya. (HR. Muslim)

Demikian pula setiap perkataan atau perbuatan yang diketahui oleh Nabi shallallahu
alaihi wa sallam, dan tidak diingkari, maka itu termasuk marfu sharih kategori
berupa persetujuan.

Contoh sifat yang berupa akhlaknya:

. :

Nabi shallallahu alaihi wa sallam itu orang yang paling dermawan, manusia yang
paling pemberani, jika diminta sesuatu tidak pernah mengatakan tidak, dan
wajahnya selalu ceria, ahlaknya enak dan orangnya mudah. Jika diberi pilihan pada
Nabi shallallahu alaihi wa sallam,, maka beliau akan memilih yang paling mudah,
kecuali kalau itu mengandung dosa, maka Beliau adalah orang yang paling menjauhi
hal tersebut.

Contoh dari sifat berupa karakter fisik Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang tingginya, tidak terlalu tinggi dan tidak
terlalu pendek. Jarak antara kedua pundaknya jauh. Beliau memiliki rambut yang
mencapai pangkal daun telinga atau terkadang sampai pundak. Jenggotnya bagus
dan terdapat beberapa uban di jenggotnya.

Marfu Hukman ()

Marfu hukman adalah khabar yang secara hukum (status) dapat disandarkan pada
Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dan ini ada beberapa macam.

Pertama :

Perkataan sahabat; jika tidak mungkin ucapan sahabat itu berdasarkan logika atau
ucapan tersebut bukan merupakan tafsir suatu ayat atau sahabat yang
mengucapkannya tidak dikenal sebagai orang yang suka mengambil berita-berita
israiliyat. Misalnya, seorang sahabat memberitakan tentang tanda-tanda kiamat,
keadaan ketika hari kiamat atau tentang balasan-balasan amal.

Jika khabar dari sahabat berdasarkan logika, maka ia adalah khabar yang
berstatus mauquf.

Jika khabar berupa tafsir, maka pada dasarnya bukan status tersendiri. Dan tafsirnya
merupakan hadits mauquf.

Dan jika sahabat tersebut dikenal suka mengambil berita israiliyat maka
perkataannya meragukan, boleh jadi merupakan berita israiliyat boleh jadi
merupakan hadits marfu. Maka haditsnya tidak bisa diterima karena meragukan.
Para ulama menyebutkan bahwa empat sahabat yang bernama Abdullah, yaitu,
Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Zubair, Abdullah ibn Umar ibn Khattab, Abdullah
ibn Amr ibn Ash mengambil berita-berita israiliyat dari Kaab Al Ahbar atau yang
selainnya (1)

Kedua :

Perbuatan sahabat; jika tidak mungkin hadits tersebut berdasarkan logika. Para
ulama (2) memberi contoh untuk hal tersebut yaitu shalat Ali radhiallahu
anhu dalam shalat kusuf, beliau melakukan ruku lebih dari dua kali dalam setiap
rakaat.

Ketiga :

Jika sahabat menyandarkan sesuatu pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
dan tidak ditegaskan apakah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, mengetahuinya atau
tidak. Seperti perkataan Asma binti Abu Bakar radhiallahu anha, Kami menyembelih
kuda di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan kami saat itu di Madinah lalu
kami memakannnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat :

Perkataan sahabat tentang sesuatu diiringi pernyataan bahwa hal tersebut adalah
bagian dari sunnah. Seperti perkataan Ibnu Masud radhiallahu anhu, Adalah
termasuk sunnah membaca tasyahud dengan lirih, yaitu tasyahud dalam shalat.

Jika yang berkata tabiin maka ulama berselisih pendapat, ada yang
mengatakan marfu dan ada yang mengatakan mauquf. Seperti perkataan Abdullah
ibn Abdullah ibn Utbah ibn Masud, Termasuk sunnah seorang imam pada sholat
hari raya berkhutbah dua kali dengan dipisahkan antara keduanya dengan duduk.

Kelima :

Perkataan sahabat, kami diperintahkan (), kami dilarang (), manusia


diperintahkan ( ) dan yang semacam itu. Misalnya :
Perkataan Ummu Athiyah radhiallahu anha, Kami diperintahkan untuk mengajak
gadis-gadis untuk menghadiri shalat hari raya.

Perkataannya Ummu Athiyah radhiallahu anha, Kami dilarang dari mengikuti


jenazah akan tetapi tidak ditegaskan bagi kami.

Perkataan Ibnu Abbas radhiallahu anhu, Para jamaah haji diperintahkan agar
kegiatan terakhir mereka adalah tawaf di Kabah.

Perkataan Anas radhiallahu anhu, Kami diberi batasan waktu dalam memotong
kumis, memotong kuku,mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan, agar
bulu-bulu tersebut tidak dibiarkan lebih dari empat puluh malam.

Keenam :

Penilaian sahabat terhadap sesuatu sebagai sebuah kemaksiatan. Seperti perkataan


Abu Hurairah radhiyallahu anhu tentang seseorang yang keluar dari masjid setelah
adzan, Orang ini telah durhaka kepada Abul Qosim shallallahu alaihi wa sallam.

Demikian pula, jika sahabat menilai sesuatu sebagai ketaatan, karena sesuatu tidak
bisa dinilai maksiat atau tidak kecuali berdasarkan dalil syariat. Dan tidaklah
mungkin para sahabat menetapkan maksiat atau ketaatan kecuali mereka memiliki
ilmu tentangnya.

Ketujuh :

Ucapan seorang rawi berkaitan dengan sahabat: Sahabat tersebut me-marfu-kan


hadits atau riwayatan.

Seperti perkataan Said ibn Jubair dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu, ia
berkata, Obat itu ada tiga, meminum madu, sayatan hijamah, dan kai dengan api.
Dan aku melarang umatku dari kai. Ibnu Abbas me-marfu-kan hadits.

Dan perkataan Said ibn Musayyib dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu sebagai
riwayat,
Fitrah itu ada lima, atau ada lima hal termasuk fitrah, yaitu khitan, mencukur bulu
kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis.

Demikianlah, jika para ulama berkata tentang sahabat : beliau menukil hadits (
), atau menyandarkan hadits (), menyampaikan hadits ( ) dan yang
semacamnya. Maka semisal ungkapan-ungkapan ini haditsnya bernilai marfu
sharih, walaupun ungkapan tersebut tidak jelas menunjukkan penyandaran kepada
pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, akan tetapi ungkapan tersebut menunjukkan
akan hal tersebut.

2. Mauquf ():Mauquf adalah khabar yang disandarkan pada sahabat dan tidak
berstatus marfu.Contohnya perkataan Umar ibn Khattab radhiyallahu anhu, Islam
akan hancur dengan ketergelinciran orang yang alim, debatnya orang munafik
dengan menggunakan Al-Quran, dan dikuasai oleh pemimpin yang menyesatkan.
3. Maqtu ( ):Maqtu adalah khabar yang disandarkan pada tabiin atau orang-
orang setelahnya.Contohnya perkataan Ibnu Sirin, Sesungguhnya ilmu ini adalah
din, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil ilmu kalian. Dan perkataan
Malik, Lakukanlah sebagian amal dengan sembunyi-sembunyi yaitu amal-amal yang
tidak bisa kau kerjakan dengan baik jika dilakukan dengan terang-terangan.
Foot note:

(1) Akan tetapi penisbahan untuk Ibnu Abbas tidaklah benar. Karena beliau keras dalam
berita-berita israiliyat. Hal ini dijelaskan Syaikh Utsaimin dalam Tafsir Ayat Kursi.

(2) Arti dari kalimat ini para ulama mengatakan berarti menisbatkan pada orang lain
yang menyatakan dan ini menjadi isyarat bahwa Syaikh Utsaimin tidak terlalu menerima
contoh tersebut.

Sumber: https://muslimah.or.id/1581-taisir-musthalah-hadits-9-khabar.html

Sahabat

Definisi sahabat
Sahabat adalah seseorang yang berkumpul dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam atau
melihatnya dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman. Maka
termasuk di dalamnya orang yang murtad kemudian kembali masuk Islam, seperti Syubah
ibn Qois. Dia murtad setelah wafatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam kemudian ia
diseret sebagai tawanan kepada Abu Bakar, maka ia bertaubat dan Abu Bakar
menerimanya.

Tidak termasuk sahabat seseorang yang beriman pada Nabi shallallahu alaihi wa
sallam ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam hidup akan tetapi tidak berkumpul
dengannya, seperti Raja Najasyi. Dan juga tidak termasuk sahabat seseorang yang murtad
dan meninggal dalam keadaan murtad, seperti Abdullah ibn Khotol yang dibunuh saat
Fathul Makkah dan Robiah ibn Umayyah ibn Khalaf, yang murtad pada zaman
pemerintahan Umar dan meninggal dalam keadaan murtad.

Sahabat berjumlah banyak, dan tidak mungkin memastikan batasan jumlah mereka. Akan
tetapi dapat dikatakan dengan perkiraan bahwasannya mereka mencapai jumlah 14000
orang.

Keadaan sahabat
Semua sahabat itu tsiqoh (terpercaya) dan adil sehingga diterima riwayat salah seorang
dari mereka walaupun tidak dikenal (majhul). Karena itu para ulama mengatakan, Tidak
dikenalnya seorang rowi dari kalangan sahabat tidaklah membahayakan.

Dalil untuk atas pensifatan sahabat tersebut adalah karena Allah dan Rasul-Nya memuji
mereka dalam banyak nash. Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam menerima perkataan
salah seorang di antara mereka jika diketahui bahwa dia Islam dan Beliau shallallahu alaihi
wa sallam tidak bertanya tentang keadaannya.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata, Seorang arab badui datang kepada
Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan mengatakan, Aku melihat hilal yaitu hilal awal
bulan Romadhon . Maka Nabi berkata,Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah
yang berhak di sembah selain Allah?. Ia menjawab, Ya. Nabi berkata lagi, Apakah engkau
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?. Ia menjawab, Ya. Maka Nabi berkata,
Wahai Bilal, umumkan pada manusia untuk berpuasa besokpagi. (Diriwayatkan oleh Al
Khomsah (1), Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menshohihkannya)

Secara umum sahabat terakhir yang meninggal


Amir ibn Watsilah Al Laits, meninggal di Mekkah pada tahun 110 H. Dia adalah sahabat
yang terakhir meninggal di Mekkah.
Yang terakhir meninggal di Madinah, Muhamad ibn Robiah Al Anshori Al Khazraji
meninggal pada tahun 99 H.

Yang terakhir meningal di Syam tepatnya di Damaskus adalah Watsilah Ibn Al Asq Al Laitsi
meninggal pada tahun 86 H.

Sedangkan yang di Khims adalah Abdullah ibn Bisri al Mazini meninggal pada tahun 96 H.

Yang terakhir meninggal di Bashrah adalah Anas ibn Malik Al Anshori Al Khazraji meninggal
pada tahun 93 H.

Yang terakhir meninggal di Kuffah adalah Abdullah ibn Abi Aufa Al Aslami meninggal pada
tahun 87 H.

Dan yang terakhir meninggal di Mesir adalah Abdullah ibn Haris ibn Juz Az Zubaidi
meninggal pada tahun 89 H.

Tidak ada seorang sahabat pun yang hidup setelah tahun 110 H, berdasarkan perkataan
Ibnu Umar radhiyallahu anhu, Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam sholat bersama
kami pada akhir hayatnya. Setelah salam, Rosulullah berdiri dan berkata, Aku teringat
kalian pada malam ini, seratus tahun semenjak hari ini tidak akan ada lagi orang yang saat
ini masih hidup di atas muka bumi ini. melihat kalian pada malam ini. (Mutafaq Alaih).
Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan itu sebulan sebelum kematiannya
sebagaimana di riwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir.

Terdapat dua faedah dari mengetahui sahabat terakhir yang meninggal :

Pertama: orang yang meninggal sesudah meninggalnya sahabat yang terakhir meninggal
tidaklah diterima pengakuan bahwa beliau adalah sahabat.

Kedua: seseorang yang belum mencapai usia tamyiz sebelum batas ini, maka hadits yang
dia sandarkan kepada sahabat adalah hadits yang munqothi (terputus).

Sahabat yang banyak meriwayatkan hadits


Diantara para sahabat, ada yang sering menyampaikan hadits sehingga banyak tabiin
yang mengambil hadits darinya. Sahabat yang meriwayatkan hadits lebih dari 1000 adalah:
Abu Huroiroh radhiyallahu anhu, diriwayatkan darinya 5374 hadits.

Abdullah ibn Umar ibn Khattab radhiyallahu anhu, diriwayatkan darinya 2630 hadits.

Anas ibn Malik radhiyallahu anhu, diriwayatkan darinya 2286 hadits.

Aisyah radhiyallahu anha, diriwayatkan darinya 2210 hadits.

Abdullah ibn Abbas radhiyallahu anhu, diriwayatkan darinya 1660 hadits.

Jabir ibn Abdullah radhiyallahu anhu, diriwayatkan darinya 1540 hadits.

Abu Said Al Khudri radhiyallahu anhu diriwayatkan darinya 1170 hadits.

Banyaknya hadits dari para sahabat ini tidaklah mesti berarti mereka adalah yang paling
banyak mengambil hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dibandingkan sahabat
yang lain. Karena sedikitnya hadits dari seorang sahabat memiliki sebab-sebab, seperti
meninggal lebih dulu, semisal Hamzah radhiyallahu anhu paman Nabi shallallahu alaihi
wa sallam, disibukkan dengan sesuatu yang lebih penting, seperti Utsman radhiyallahu
anhu, atau karena kedua sebab di atas seperti Abu Bakar radhiyallahu anhu. Beliau
meninggal lebih dahulu dan disibukkan dengan perkara kekhilafaan atau dikarenakan
sebab-sebab yang lain.

Al Mukhodrom

Mukhodrom ( ) :
Mukhodrom adalah orang yang beriman pada Nabi shallallahu alaihi wasallam pada masa
hidupnya namun tidak bertemu dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Para mukhodrom memiliki tingkatan tersendiri diantara sahabat dan tabiin. Ada yang
berpendapat bahwasannya mereka ini termasuk kibar tabiin. Sebagian ulama mengatakan
bahwa jumlah mereka kurang lebih 40 orang. Diantara mereka adalah Al Ahnif ibn Qoids, Al
Aswad ibn Yazid, Saad ibn Iyyas, Abdullah ibn Ukain, Amr ibn Matmun, atau Muslim Al
Khoulani, An Najasyi raja negeri Habasyah.

Hukum haditsnya
Hadits dari mukhodrom penerimaanya seperti mursal tabiin maka dia terputus
(munqothi), dan hukum untuk menerima hadits dari mukhodrom itu sama seperti
menerima hadits mursal tabii.

At Tabii

Tabii ()
Tabii adalah seseorang yang berkumpul dengan sahabat dalam keadaan beriman pada
Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan meninggal dalam keadaan beriman.

Tabiin sangat banyak dan tidak mungkin menghitung jumlah mereka.


Mereka memiliki tiga lapisan: kubro () , sughro ( ) dan yang berada diantara
keduanya () .

Tabiin kubro adalah seseorang yang riwayatnya paling banyak berasal dari sahabat.
Contoh : Said ibn Musayyib, Urwah ibn Zubair, dan Alqomah ibn Qois.

Tabiin sughro adalah seseorang yang banyak meriwayatkan dari sesama tabiin akan tetapi
hanya bertemu sedikit dari para sahabat. Contoh : Ibrohim An Nakhoi, Abu Aznadi, Yahya
ibn Said.

Tabiin wustho adalah yang banyak meriwayatkan dari sahabat dan kibar tabiin. Contoh :
Hasan Al Bashri, Muhammad ibn Sirin, Mujahid ibn Ikrimah, Qotadah, As Syabi, Az Zuhri,
Atha, Umar ibn Abdul Aziz, Salim ibn Abdullah ibn Umar ibn Khattab.

***
(1) Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah

Sumber: https://muslimah.or.id/2886-taisir-musthalah-hadits-bag-10-sahabat-al-
mukhadram-at-tabii.html