Anda di halaman 1dari 4

PATAH TULANG TERBUKA DAN TRAUMA SENDI

Trauma
Pada patah tulang terbuka terdapat hubungan antara tulang dengan dunia luar.
Otot dan kulit mengalami cidera dan beratnya kerusakan jaringan lunak ini akan
berbanding lurus dengan energy yang menimpanya. Kerusakan ini disertai
kontaminasi bakteri menyebabkan patah tulang terbuka mengalami masalah
infeksi, gangguan penyembuhan dan gangguan fungsi.
Pemeriksaan
Diagnosis didasarkan atas riwayat trauma dan pemeriksaan fisik ekstremitas yang
menemukan fraktur dengan luka terbuka, dengan atau tanpa kerusakan luas otot
serta kontaminasi. Pengelolaan didasarkan atas riwayatlengkap kejadian dan
pemeriksaan trauma. Dokumentasi luka terbuka seharusnya dimulai pada saat pra
rumah sakit dengan deskripsi trauma dan pengobatan yang dilakukan pada saat pra
rumah sakit. Jika ada dokumentasi lengkap tidak diperlukan pemeriksaan luka lagi.
Bila dokumentasi tidak lengkap, penutup luka harus dibuka dalam keadaan steril,
diperiksa dan kemudian ditutup kembali secara steril. Luka jangan dikutak-katik. Jika
terdapat luka dan patah tulang disegmen yang sama, maka dianggap sebagai patah
terbuka sampai dinyatakan sebaliknya oleh ahli bedah. Jangan melakukan probing
pada luka untuk menduga dalamnya kerusakan jaringban.
Jika terdapat luka terbuka didekat sendi, harus dianggap luka ini berhubungan
dengan atau masuk kedalam sendi, dan konsultasi bedah harus dikerjakan. Tidak
boleh memasukkan zat warna atau cairan untuk membuktikan rongga sendi
berhubungan dengan luka atau tidak. Cara terbaik membuktikan hubungan luka
terbuka dengan sendi adalah eksplorasi bedah dan pembersihan luka.
Pengelolaan
Adanya patah tulang atau trauma sendi terbuka harus segera dapat dikenali.
Setelah deskripsi atau trauma jaringan lunak, serta menentukan ada/tidaknya
gangguan sirkulasi atau trauma saraf maka segera dilakukan imobilisasi. Harus
segera konsultsi bedah, pasien segera diresusitasi secara adekuat dan
hemodinamik sedapat mungkin stabil. Profilaksis tetanus segera diberikan
Antibiotika diberikan setelah konsultasi dengan dokter bedah.

TRAUMA VASKULAR, TERMASUK TRAUMATIK AMPUTASI

Trauma
Trauma vascular hars dicurigai jika terdapat insufiensi vascular yang menyertai
trauma tumpul, remuk (crushing), puntiran atau trauma tembus ekstremitas.
Penilaian
Pada mulanya ekstremitas mungkin masih tampak hidup (viable) karena sirkulasi
kolateral yang mencukupi aliran secara retrograde. Trauma vascular parsial
menyebabkan ekstremitas bagisan distal dingin, pengisian kapiler lambat, pulsasi
melemah, dan ankle/brachial indexabnormal. Aliran yang terputus menyebabkan
ekstremitas dingin, purat dan nadi tak teraba.

Pengelolaan
Ekstremitas yang avascular secara akut harus segera dapat dikenal dan ditangani.
Penggunaan turniket, walaupun kontroversial, dapat menyelamatkan nyaawa
maupun ekstremitas. Turniket yang terpasang baik, akan dapat menyelamatkan
nyawa walaupun dapat membahayakan ekstremitas. Pemasangan turniket harus
lebih tinggi dari tekanan arteri, karena bila hanya lebih tinggi dari tekanan vena
akan menambah pendarahan. Resiko pemakaian turniket berbanding lurus dengan
waktu. Bila pemasangan turniket butuh waktu lama, dokter harus sadar bahwa ini
mengganggu ekstremitas.
Otot tidak mampu hidup tanpa aliran lebih dari 6jam dan nekrosis akan segera
terjadi. Saraf juga sangat sensitive terhadap keadaan tanpa oksigen. Operasi
revaskularisasi segera diperlukan untuk mengembalikan aliran darah pada
ekstremitas distal yang terganggu. Jika gangguan vaskularisasi disertai fraktur
harus dikoreksi segera dengan meluruskan dan memasang bidai.
Jika trauma arteri disertai dislokasi sendi, dokter yang terlatih boleh melakukan
reduksi dengan hati-hati. Atau pasang bidai dan segera konsultasi bedah.
Arteriografi tidak boleh memperlambat tindakan/ konsultasi bedah. CT angiografi
dapat dipakai bila arteriografi tidak tersedia.
Gangguan vascular bisa terjadi pada ekstremitas setelah dipasang bidai atau gips
dengan tanda-tanda hilangnya atau melemahnya pulsasi. Bidai,gips dan balutan
yang menjerat harus dilepaskan dan vaskularisasi dievaluasi.
Amputasi merupakan kejadian yang traumatic bagi pasien secara fisik maupun
emosional. Traumatik amputasi merupakan bentuk terberat dan fraktur terbuka
yang menimbulkan kehilangan ekstremitas dan memerlukan konsultasi dan
intervensi bedah. Patah tulang terbuka dengan iskemia berkepanjangan, trauma
saraf dan kerusakan oton mungkin memerlukan amputasi. Amputasi pada trauma
ekstremitas dapat menyelamatkan nyawa pasien, yang mengalami gangguan
hemodinamik dan sulit dilakukan resusitasi.
Walaupun kemungkinan reimplantasi ada, harus dipertimbangkan cedera-cedera
lain yang ada. Pasien dengan multi trauma yang memerlukan resusitasi intensif dan
operasi gawat darurat bukan kandidat untuk reimplantasi.
Reimplantasi biasanya dikerjakan untuk trauma tunggal ekstremitas distal, dibawah
lutut atau siku, bersih dan akibat trauma tajam. Prosedur ini dikerjakan tim bedah
yang terlatih dalam menentukan dan menangani prosedu reimplantasi.
Anggota yang teramputasi dicuci dengan larutan isotonic dan dibungkus dengan
kasa steril dan dibasahi larutan penisilin (100.000 unit dalam 50ml ringer laktat).
Setelah dibungkus dalam kasa steril yang lembab diletakkan dalam kantong plastic.
Kantong plastic ini dimasukkan dalam termos berisi pecahan es, lalu dikirimkan
bersama pasien.

SINDROMA KOMPARTEMEN

Trauma
Sindroma kompartemen dapat ditemukan pada tempat dimana otot dibatasi oleh
rongga fasia yang tertutup. Perlu diketahui bahwa kullit juga berfungsi sebagai
lapisan penahan. Daerah yang sering terkena adalah tungkai bawah, lengan bawah,
kaki, tangan, region glutea dan paha. Sindroma kompartemen terjadi bila tekanan
diruang osteofasial menimbulkan iskemia dan berikutnya nekrosis. Iskemia dapat
terjadi karena peningkatan isi kompartemen akibat ederma yang timbul akibat
revaskularisasi sekunder dari ektremitas yang iskemi atau karena penyusutan isi
kompartemen yang disebabkan tekanan dari luar misalnya dari balutan yang
menekan. Tahap akhir dari kerusakan neuromuscular disebut Volkmans ischemic
contracture.
Pemeriksaan
Semua trauma ekstremitas potensial untuk terjadinya sindroma kompartemen.
Sejumlah cedera mempunyai resiko tinggi yaitu

Fraktur tibia dan antebrakhii


(b) Balutan kasa atau imobilisasi dengan gips yang ketat
Crush injury pada massa oto yang luas
Tekanan setempat yang cukup lama
(e) Peningkatan permeabilitas kapiler dalam kompartemen akibat reperfusi
otot yang mengalami iskemia
Luka bakar atau
Latihan berat.

Kewaspadaan yang tinggi sangat penting pada pasien dengan penurunan kesadaran
atau keadaan lain yang tidak dapat merasakan nyeri.
Gejala dan tanda-tanda Sindroma Kompartemen adalah

Nyeri bertambah dan khususnya meningkat dengan gerakan pasif yang


meregangkan otot yang bersangkutan,
Parestesia daerah distribusi saraf prefier yang terkena, menurunya sensasi
atau hilangnya fungsi dari saraf yang melewati kompartemen tersebut,
Asimetris pada daerah kompartemen
Nyeri pada pergerakan pasif
Sensasi berkurang

Tidak adanya pulsasi didaerah distal biasanya jarang ditemukan dan tidak
mendasari diagnosis sindrom kompartemen. Kelumpuhan atau parese otot dan
hilangnya pulsasi (disebabkan oleh tekanan kompartemen melebihi tekanan sistolik)
merupakan tingkat lanjut dari sindroma kompartemen.
Perubahan pulsasi distal dan penurunan pengisian kapiler bukan petunjuk diagnosis
sindroma kompartemen. Diagnosis klinik didasarkan atas riwayat trauma dan
pemeriksaan fisik serta sikap waspada akan adanya sindroma kompartemen.
Tekanan dalam kompartemen dapat diukur dan dapat membantu diagnosis. Tekanan
melebihi 35-45 mmHg menyebabkan penurunan aliran kapiler dan menimbulkan
kerusakan otot dan sarafkarena anoksia. Tekanan darah sistemik penting karena
semakin rendah tekanan darah, makin rendah pula tekanan kompartemen yang
diperlukan untuk dapat menimbulkan sindroma kompartemen. Pengukuran tekanan
diperlukan pada semua pasien dengan perubahan rasa nyeri.

Pengelolaan
Dibuka semua balutan yang menekan, gips dan bidai. Pasien harus diawasi dan
diperiksa seyiap 30 sampai 60 menit. Jika tidak terdapat perbaikan, perlu dilakukan
fasciotomi.
Sindroma kompartemen merupakan keadaan yang ditentukan oleh waktu. Semakin
tinggi dan semakin lama meningkatnya tekanan intra kompartemen, makin besar
kerusakan neuromuscular dan hilangnya fungsi. Terlambat melakukan fasiotomi
menimbulkan miogobionemia, yang dapat menyebabkan menurunya fungsi ginjal.
Bila diagnosis atau curiga sindroma kompartemen harus segera konsultasi bedah.