Anda di halaman 1dari 5

SOP PENJARINGAN ANAK SEKOLAH

No. Dokumen :
No. Revisi :0
SOP Tgl. Terbit
Halaman
:
: hal

SUPRIYADI, SKM.
UPT PUSKESMAS UTAN
. NIP. 9681231 198903 1 092
Pengertian 1 Penjaringan kesehatan merupakan salah satu bentuk dari pelayanan
kesehatan yang bertujuan untuk mendeteksi dini siswa yang memiliki
masalah kesehatan agar segera mendapatkan penanganan sedini mungkin.

2 Penjaringan kesehatan dilakukan pada peserta didik kelas 1 SD, kelas 7


SMP/MTs dan Kelas 10 SMA/SMK/MA yang meliputi pemeriksaan
kebersihan perorangan (rambut, kulit dan kuku) pemeriksaan status gizi
melalui pengukuran antropometri, pemeriksaan ketajaman indera
(penglihatan dan pendengaran), pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut,
pemeriksaan laboratorium untuk anemia dan kecacingan, dan pengukuran
kebugaran jasmani. Selain itu pada peserta didik di tingkat SMP/MTs dan
SMA/SMK/MA juga dilakukan skrining melalui kuisioner mengenai
keadaan kesehatan umum, kesehatan mental remaja, intelegensia dan
reproduksi melalui self assessment serta bahan edukasi/konseling.

Tujuan 1. Permasalahan kesehatan peserta didik terdeteksi secara dini.


2. Tersedianya data atau informasi untuk menilai perkembangan kesehatan
peserta didik, maupun untuk dijadikan pertimbangan dalam menyusun
program pembinaan kesehatan sekolah.
3. Termanfaatkannya data untuk perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan
evaluasi program pembinaan peserta didik
Kebijakan SK Kepala UPT Puskesmas No. 005/A.1/SK/PKM.UTAN/I/2017 Tentang
Jenis Jenis Pelayanan.
Referensi 1. UU No 23 Thn 2002 tentang Perlindungan Anak

2. UU No 32 Thn 2004 tentang Pemerintah Daerah

3. UU No.36 Thn 2009 tentang Kesehatan

4. PP No 65 Thn 2005 tentang Pedoman Penyusunan SPM

5. PP No 38 Thn 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan

6. SKB 4 Menteri No. 1/U/SKB; No 16067/Menkes/SKB/VII/2003; No


MA/230 A/2003; No 26 Thn 2003 tgl 23 Juli 2003 tentang Pembinaan &
Pengembangan UKS

7. Kepmenkes No 1611 Thn 2007 tentang Pedoman Penyelenggaraan


Imunisasi
Prosedur Alat dan Bahan:
a. Tensimeter
b. Stetoskop
c. Stopwatch
d. Alat pengukur berat badan (timbangan injak)
e. Microtoise (alat ukur tinggi badan)
f. Haemometer sahli
g. Kaca mulut
h. Sonde
i. Kartu snellen
j. Senter
k. Otoscope
l. Formulir pemeriksaan
m. Formulir rujukan
6. Langkah - langkah 1 Pemeriksaan Keadaan Umum

Penilaian keadaan umum peserta didik dimaksudkan untuk menilai


keadaan fisik secara umum, yang meliputi hygiene perorangan dan
indikasi kelainan gizi yang dapat dinilai dengan melihat rambut warna
kusam dan atau mudah dicabut, bibir kering, pecah pecah dan mudah
berdarah, sudut mulut luka, pecah pecah dan kulit tampak pucat/keriput.
Diperiksa pula tekanan darah, denyut nadi dan kelainan jantung.

2 Penilaian Status Gizi

Untuk menilai status gizi anak dapat dilakukan pemeriksaan secara


klinis, riwayat asupan makanan, ukuran tubuh (antropometri) dan
penunjang (laboratorium). Dalam kegiatan penjaringan, penilaian
status gizi siswa dilakukan melalui pengukuran antropometri yaitu
mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT). Dengan menghitung indeks
massa tubuh ini akan diketahui status gizi siswa.IMT adalah indeks
untuk menentukan status gizi. Indeks tersebut diperoleh dengan
membandingkan berat badan (BB) dalam kilogram terhadap tinggi
badan (TB) dalam meter kuadrat. Jika tidak ada kalkulator dapat
menggunakan tabel IMT yang tersedia. Selanjutnya angka indeks di
plot pada grafik BMI sesuai dengan jenis kelamin. Lihat posisi plot
tadi berada pada area mana:
a. Jika berada di garis Standar Deviasi (SD) +2 sampai -2 maka anak
tersebut
b. berstatus gizi normal
c. Jika berada di bawah garis SD -2 sampai SD -3 anak tersebut
berstatus kurus
d. Jika berada di bawah garis SD -3 berarti status kurus sekali
e. Jika berada di atas garis SD +2 sampai dengan SD +3 berarti anak
tersebut berstatus overweight atau gemuk.
f. Jika berasa diatas SD +3 berarti status obesitas.
3 Pemeriksaan Gigi dan Mulut

Pemeriksaan gigi dan mulut secara klinis yang sederhana bertujuan untuk
mengetahui keadaan kesehatan gigi dan mulut peserta didik dan
menentukan prioritas sasaran untuk dijadikan pertimbangan dalam
menyusun program kesehatan gigi dan mulut di sekolah. Pemeriksaan
yang dilakukan meliputi:
a. Keadaan rongga mulut
b. Kebersihan mulut
c. Keadaan gusi
d. Keadaan gigi
4 Pemeriksaan Indera Penglihatan dan Pendengaran
Pemeriksaan indera penglihatan dan pendengaran adalah pemeriksaan
yang dilakukan setiap awal tahn ajaran baru (penjaringan) untuk
mengetahui adanya kelainan tajam penglihatan dan kelainan tajam
pendengaran serta kelainan organik pada mata dan telinga setiap siswa
baru. Selanjutnya pada tengah tahun dilakukan pemeriksaan ulang
(berkala) untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan sebelumnya atau
menilai perbaikan atas koreksi yang dilakukan. Alat bantu yang
digunakan dalam pemeriksaan ini adalah;
a Pemeriksaan Tajam Penglihatan / Kelainan Organik
1) Snellen chart / E chart untuk memeriksa visus
2) Penutup 1 mata (okluder)
3) Pinhole (cakram berlubang)
4) Loupe
5) Senter
b Pemeriksaan Tajam Pendengaran / kelainan organik
1) Ruang yang kedap suara untuk melakukan tes berbisik
2) Garputala
3) Senter
4) Otoskop
5 Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilaksanakan dalam penjaringan peserta
didik SD/MI adalah pemeriksaan feces dan anemia. Melalui pemeriksaan
faces untuk mendeteksi ada tidaknya infeksi cacing pada seorang murid.
Tujuannya adalah:
a Untuk menjaring anak sekolah yang menderita cacingan
b Meningkatkan mutu intelektual anak sekolah
c Meningkatkan cakupan program cacingan terutama pada anak sekolah
d Meningkatkan kemitraan dalam penanggulangan cacingan dengan
melibatkan lintas program / lintas sektorBila pemeriksaan feces >50%
posiitf, maka dilakukan pengobatan secara masal (mass blanket) dan
bila pemeriksaan feces ditemukan <50% positif, maka dilakukan
pengobatan secara selektif.
6 Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional
Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan
/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental
emosional, agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi. Bila
penyimpangan mental emosional terlambat diketahui maka intervensinya
akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang
anak. Deteksi dini dilakukan pada anak peserta didik yang menurut
pengamatan guru dalam kesehariannya menunjukkan sikap dan perilaku
yang diduga perlu mendapat perhatian.Alat yang digunakan untuk
deteksi ini adalah Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME) yang
terdiri dari 12 pertanyaan untuk mengenali problem mental emosional.
Kuesioner pemantauan kelainan mental emosional terdiri dari:
a Apakah anak anda seringkali terlihat marah tanpa sebab yang jelas
(seperti banyak menangis, mudah tersinggung atau bereaksi
berlebihan terhadap hal hal yang sudah biasa dihadapinya)
b Apakah anak anda tampak menghindar dari teman teman atau
anggota keluarganya? (seperti ingin merasa sendirian, menyendiri
atau merasa sedih sepanjang waktu, kehilangan minat terhadap hal
hal yang biasa sangat dinikmati)
c Apakah anak anda terlihat berperilaku merusak dan menentang
terhadap lingkungan di sekitarnya? (seperti melanggar peraturan
yang ada, mencuri, seringkali melakukan perbuatanyang berbahaya
bagi dirinya, atau menyiksa binatang atau anak anak lainnya) dan
tampak tidak peduli dengan nasihat nasihat yang sudah diberikan
kepadanya.
d Apakah anak anda akan memperlihatkan adanya perasaan ketakutan
atau kecemasan berlebihan yang tidak dapat dijelaskan asalnya dan
tidak sebanding dengan anak lain seusianya
e Apakah anak anda mengalami keterbatasan oleh karena adanya
konsentrasi yang buruk atau mudah teralih perhatiannya sehingga
mengalami penurunan dalam aktivitas sehari hari atau keputusan.
f Apakah anak anda menunjukkan perilaku kebingungan sehingga
mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan membuat keputusan.
g Apakah anak anda menunjukkan adanya perubahan pola tidur
(seperti sulit sepanjang waktu, terjaga sepanjang hari, sering
terbangun di waktu tidur malam oleh karena mimpi buruk atau
mengigau)
h Apakah anak anda mengalami perubahan pola makan (seperti
kehilangan nafsu makan,makan berlebihan atau tidak mau makan
sama sekali)
i Apakah anak anda seringkali mengeluh sakit kepala, sakit perut atau
keluhan fisik lainnya.
j Apakah anak anda seringkali mengeluh putus asa atau berkeinginan
untuk mengakhiri hidupnya
k Apakah anak anda menunjukkan adanya kemunduran perilaku atau
kemampuan yang sudah dimilikinya ( seperti mengompol kembali,
menghisap jempol, atau tidak mau berpisah dengan orang
tua/pengasuhnya)
l Apakah anak anda melakukan perbuatan yang berulang ulang tanpa
alasan yang jelas
7 Pengukuran Kebugaran Jasmani
Adalah kesanggupan atau kemampuan tubuh untuk melakukan kegiatan
sehari hari, tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti dan masih
memiliki tenaga cadangan untuk melakukan aktifitas fisik lainnya. Hal ini
dilaksanakan untuk menentukan tingkat kebugaran jasmani peserta didik.
Instrumen tes kebugaran jasmani yang digunakan adalah Tes KeBugaran
Jasmani Indonesia (TKJI). TKJI merupakan rangkaian tes yang harus
dilakukan secara berurutan. TKJI terdiri dari 5 tes, yaitu:
a. Lari cepat
b. Gantung siku tekuk / gantung angkat tubuh
c. Baring duduk
d. Loncat tegak
e. Lari jarak sedang
Persyaratan untuk mengikuti TKJI adalah sebagai berikut:
a. Peserta dalam keadaan sehat dan siap melaksanakan tes
b. Diharapkan sudah makan sedikitnya 2 jam sebelum melakukan tes
c. Disarankan memakai pakaian dan sepatu olahraga
d. Mengerti dan memahami cara pelaksanaan tes
e. Melakukan pemanasan sebelum tes.
Tes kebugaran jasmani hanya boleh diikuti oleh peserta didik yang telah
selesai menjalankan tahap penjaringan kesehatan dan dinyatakan oleh
dokter tidak mengalami kontra indikasi untuk dites.
7. Bagan Alir
Melakukan pemeriksaan Pemeriksaan
Melakukan penilaian
kesehatan umum kesehatan gigi dan
status gizi
mulut

Deteksi dini Pemeriksaan indra


penyimpangan mental Pemeriksaan penglihatan dan
dan emosional laboratorium pendengaran

Pengukuran Dokumentasi
kesehatan jasmani

8. Unit Terkait 1. Lintas Program


2. Lintas Sektor