Anda di halaman 1dari 7

I.

Pembahasan

Pada praktikum kali ini yaitu menganalisis kadar akrilamid menggunakan metode HPLC.
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk menghasilkan kurva kalibrasi akrilamid dengan
metode HPLC. Adapun prinsip dari metode HPLC ini yaitu ketika sampel yang akan diuji
diinjeksikan ke dalam kolom, maka sampel tersebut kemudian akan terurai dan terpisah menjadi
senyawa-senyawa kimia atau analit-analitnya sesuai dengan perbedaan afinitas kepolarannya.
Akrilamid ini berdasarkan sifat fisikokimianya, ia memiliki kepolaran yang tinggi sehingga dapat
digunakan metode HPLC dengan fasa terbalik dimana fasa diam yang digunakan bersifat non
polar dan fasa gerak yang digunakan bersifat polar. Hal ini dikarenakan agar akrilamid yang
telah diinjeksikan akan terelusidasi oleh fasa gerak karena memiliki afinitas yang sama. Namun,
pada hal ini fasa gerak yang digunakan harus memiliki tingkat kepolaran yang rendah
dibandingkan akrilamid, hal ini dikarenakan agar mendapatkan waktu retensi pada fase terbalik
in, selain itu matriks dalam akrilamid akan terserap ke dalam kolom sehingga akrilamid yang
terelusidasi merupakan larutan akrilamid yang murni. Oleh karena itu, dilakukannya modifikasi
fasa gerak dengan penambahan surfaktan ke dalam eluen sehingga eluen tidak lebih polar dari
akrilamid. Adapun eluen yang digunakan yaitu Dapar fosfat pH 2,5 dengan asetonitril.
Digunakannya asetonitril yaitu karena asetonitril ini memiliki tingkat kepolaran yang tinggi,
meskipun dilihat dari stukturnya, ia tidak memiliki gugus OH yaitu CH 3=CN ,namun dapat
bersifat polar karena ikatan dipolnya tinggi sehingga disebut sebagai pelarut polar aprotic. Dan
alasan digunakannya pH asam yaitu 2,5 karena akrilamid bersifat asam lemah sehingga
diperlukan dapar fosfat dengan pH asam untuk menjaga kestabilannya dan juga agar tidak terjadi
ionisasi pada sampel sehingga sampel tidak sukar untuk diserap. Dan dalam pembuatan fasa
gerak, dilakukannya penyaringan atau filtrasi dengan menggunakan kertas saring ukuran 0,2m.
Hal ini dikarenakan partikel-partikel yang mampu diserap ke dalam kolom dalam HPLC ini
berukuran kecil sehingga diperlukan filtrasi. Lalu, untuk fasa diam diletakkan pada kolom, dan
fasa diam yang digunakan yaitu okta desisilan. Okta desisilan ini bersifat non polar.

Setelah sampel diinjeksikan, maka akan terdapat interaksi yang kuat antara pelarut polar
dan molekul polar dalam campuran yang melalui kolom. Interaksi yang terjadi tidak sekuat
interaksi antara rantai-rantai hidrokarbon yang berlekatan pada silika (fasa diam) dan molekul-
molekul polar dalam larutan. Oleh karena itu molekul-molekul polar akan lebih cepat bergerak
melalui kolom. Sedangkan molekul-molekul non polar akan bergerak lambat karena interaksi
dengan gugus hidrokarbon.

Pada perlakuannya, dibiarkan menyala 10 menit pada saat HPLC diaktifkan. Hal ini
dilakukan dengan tujuan untuk menyamakan kondisi HPLC dengan eluen yang dipakai.
Kemudian dilihat baseline-nya yang bertujuan untuk mengetahui apakah masih ada noise atau
pengganggu sehingga tidak terekam oleh detector pada saat perekaman, karena jika terekam oleh
detector, maka puncak kurva akan terbentuk banyak sehingga menyulitkan untuk mengetahui
manakah yang termasuk AUC akrilamid. Dan dari hasilnya, didapatkan nilai persamaan regresi
liniernya yaitu y = 3E+06x+16325 dengan R = 0.9912. Selain itu, pada perlakuan akhirnya juga
dilakukannya pencucian oleh metanol:air. Hal ini bertujuan untuk menyamakan kondisi HPLC ke
dalam kondisi semula.

Metode HPLC ini memiliki pemisahan analit-analit berdasarkan kepolarannya, alatnya


terdiri dari kolom (sebagai fasa diam) dan larutan tertentu sebagai fasa geraknya. Kemudian yang
paling membedakan HPLC dengan kromatografi lainnya adalah pada HPLC digunakan tekanan
tinggi untuk mendorong fasa gerak. Campuran analit akan terpisah berdasarkan kepolarannya
dan kecepatannya untuk sampai kedektetor (waktu retensinya) akan berbeda, hal ini akan
teramati pada spectrum yang puncak-puncaknya terpisah. Ukuran skala polaritas : golongan
fluorocarbon < golongan hidrokarbon < senyawa terhalogenasi < golongan eter < golongan ester
< golongan keton < golongan alcohol < golongan asam.

Kesimpulan

Dari hasil pengamatan didapatkan persamaan regresi linier dari kurva kalibrasi yang dihasilkan
yaitu y = 3E+06x + 16325 dengan R = 0.9912.
DAFTAR PUSTAKA

Gandjar Ibnu Gholib & Abdul Rohman.2007.Kimia Farmasi Analisis. Penerbit Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.

Harvey, David. 1956. Modern Analytical Chemistry.The McGraw Hill Companies. Boston.

Adnan, M. 1997. Teknik Kromatografi untuk Analisis Bahan Makanan. Penerbit Andi Offset.
Yogyakarta.

Khopkar, S.M., 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
LAMPIRAN

Gambar 1. (1 ppm)

Gambar 2. (2 ppm)
Gambar 3. (3 ppm)

Gambar 4. (4 ppm)
Gambar 5. (5 ppm)

Gambar 6. (6 ppm)
Gambar 7. Instrumen HPLC

Wadah fase
gerak

Injector dan
pompa

Kolo
m
Detect
or

Gambar 8. Peralatan Filtrasi Fasa


Gerak