Anda di halaman 1dari 47

STEP 7

1. Mengapa pasien ini sering berdebar-debar, kepala


pusing, dan keringat dingin (hiperaktivitas
otonom)?
Jawab:

Sinyal otonomik eferen Organ

Saraf simpatis sekresi


asetilkolin (serabut kolinergik)
Saraf parasimpatis
norepinefrin(serbt adrenergik)

Neuron preganglion pada simpatik dan parasimpatik:


bersifat kolinergik
Neuron pada pada postganglion parasimpatik : Bersifat
kolinerik
Neuron pada postganglion simpatik : Bersifat Adrenergik

Sehingga asetilkolin disebut sebagai transmitter


parasimpatis
Dan Norepinefrin disebut sebagai Transmiter simpatis

Bila sebagian besar daerah sistem saraf simpatis melepaskan


impuls pada saat yang bersamaan yakni, yang disebut
pelepasan impuls secara masal dengan berbagai cara,
keadaan ini akan meningkatkan kemampuan tubuh untuk
melakukan aktivitas otot yang besar. Dengan kejadian sebagai
berikut :

a. Peningkatan tekanan arteri


b. Peningkatan aliran darah untuk mengaktifkan otot-otot
bersamaan dengan penurunan aliran darah ke organ-
organ, seperti traktus gastrointestinal dan ginjal, yang
tidak diperlukan untuk aktivitas motorik yang cepat
c. Peningkatan kecepatan metabolisme sel diseluruh tubuh
d. Peningkatan konsentrasi glukosa darah
e. Peningkatan proses glikolisis di hati dan otot
f. Peningkatan kekuatan otot
g. Peningkatan aktivitas mental
h. Peningkatan kecepatan koagulasi darah
Seluruh efek diatas menyebabkan orang tersebut dapat
melaksanakan aktivitas fisik yang jauh lebih besar daripada bila
tidak ada efek diatas. Oleh karena itu baik stress fisik
maupun mental dapat menggiatkan sistem simpatis,
seringkali keadaan tersebut dianggap merupakan tujuan dari
sistem simpatis untuk menyediakan aktivitas tambahan tubuh
pada saat stress. Keadaan ini seringkali disebut respons
stress simpatis.

Guyton and Hall edisi 11

DIAGNOSIS

Cemas umum :
Hiperaktifitas saraf otonom
Napas pendek atau rasa tercekik
Palpitasi atau takikardia
Berkeringat atau tangan dingin lembab
Mulut kering
Pening atau kepala terasa ringan
Nausea, diare, atau distress abdomen lain
Flush atau menggigil
Sering kencing
Sulit menelan atau terasa mengganjal ditenggorok

Kewaspadaan dan perhatian


perasaan was- was
respons tercengan yang berlebihan
sulit konsentrasi atau pikiran kosong karena cemas
Penimbul persoalan atau kerap tidur
Iritabilitas(mudah teriritasi, mudah
tersinggung,mudah nangis,)

Onset : 6 bulan atau lebih

Minimal 6 dr 18 gejala

Buku saku Psikiatri Klinik, Kaplan & Sadock


Dalam dekade terakhir, para peneliti otak telah
memberikan lebih banyak bukti bahwa gangguan
kecemasan umum terkait dengan faktor biologis.

Ada reseptor di otak yang menerima neurotransmiter


asam gamma-aminobutyric (GABA).
Ketika GABA ditransmisikan ke reseptor, neuron
diperintahkan untuk berhenti menembak.
Generalized Anxiety Disorder ( gangguan
kecemasan) terjadi ketika GABA tidak dapat
mengikat secara akurat ke sel reseptor, atau ketika
ada terlalu sedikit reseptor GABA. Tanpa jumlah yang
tepat dari penerimaan GABA, neuron berlebihan akan,
menyebabkan orang untuk tidak menerima pesan cukup
untuk "berhenti". Hasilnya adalah orang itu terus-
menerus tegang, menjadi terlalu cemas dan gelisah
akan memicu peningkatan saraf simpatis yang akan
menimbulkan berbagai gejala yang telah disebutkan
diatas.
Stefan Sibernagl and Florian Lang text and
color atlas of pathophysiology, EGC.2006

2. Mengapa ada ketegangan motorik, kaku otot?


Jawab:

Mekanisme Cemas dalam mempengaruhi Nyeri


Sistem limbik merupakan jaringan interaktif yang
kompleks, ini berkaitan dengan emosi, pola perilaku, sosio
seksual dan kelangsungan hidup dasar, motivasi dan
belajar. Adanya stimulasi pada daerah tertentu dalam
sistem limbik akan menimbulkan sensasi subyektif, salah
satu diantaranya adalah kecemasan. Kecemasan dapat
mempengaruhi sistem limbik sebagai kontrok emosi yang
dapat meningkatkan sistem syaraf otonom (terutama
sistem syaraf
simpatis). Syaraf otonom berkaitan dengan pengendalian
organ-organ dan secara tidak sadar. Dimana serabut-
serabut syaraf simpatis mensarafi otot jantung, otot tidak
sadar semua pembuluh darah serta semua organ dalam
seperti lambung, pankreas, dan usus. Melayani serabut-
serabut motorik pada otot tak sadar dalam kulit. Hal ini
dapat meningkatkan ketegangan otot yang akan
menyebabkan peningkatan persepsi nyeri seseorang
(Potter, 2001).
Skoring kecemasan dapat ditentukan dengan gejala yang
ada dengan menggunakan Hamilon Anxietas Rating Scale
(HARS) atau HRS-A (Hawari,2001).
a. Komponen HARS terdiri dari 14 komponen yaitu :
Perasaan cemas, ketegangan, ketakutan, gangguan tidur,
gangguan kecemasan, perasaan depresi, gejala somatik,
gejala sensorik, gejala kardiovaskuler, gejala pernafasan,
saluran pencernaan makanan, urogenital, vegetatif /
otonom, tingkah laku / sikap.
b. Cara penilaian
Dengan sistem skoring, yaitu :
Skor 0 = tidak ada gejala, Skor 1 = ringan (satu gejala),
Skor 2 = sedang (dua gejala), Skor 3 = berat (lebih dari 2
gejala), Skor 4 = sangat berat (semua gejala). Bila Skor <
14 = tidak ada kecemasan, skor 14-20 = cemas ringan,
skor 21-27 = cemas sedang, skor 28-41 = cemas berat
dan skor 42-56 = cemas berat sekali.
Pada HRS-A penting dinilai adalah intensitas dari tiap
gejala. Makin besar intensitasnya makin tinggi nilainya.
Dari satu gejala, dalam keterangan gejala mencakup
beberapa area, yang dalam penilaian dinilai mungkin satu
gejala saja tetapi dengan intensitas yang meningkat.
Suatu contoh pada gejala autonomik didapatkan
keterangan gejala, mulut kering, muka merah, sakit
kepala, bulu-bulu berdiri. Untuk menilai intensitas gejala
autonomik tidak perlu semua gejala ada, mungkin hanya
satu / dua, misalnya hanya ada sakit kepala dan
berkeringat. Bila sakit kepla sangat hebat kita dapat
memberikan nilai 3 (walaupun angka tertinggi 4). Jadi
dalam praktek skala Hamilton dari 0-4, angka 4 jarang
dipakai, karena menunjukan gejala luar biasa yang tak
mungkin dipertahankan (Hawari, 2001).

Otot memiliki tiga kemampuan khusus yaitu :


1. Kontraktibilitas : kemampuan untuk berkontraksi /
memendek.
2. Ekstensibilitas : kemampuan untuk melakukan
gerakan kebalikan dari gerakan yang ditimbulkan saat
kontraksi.
3. Elastisitas : kemampuan otot untuk kembali pada
ukuran semula setelah berkontraksi. Saat kembali pada
ukuran semula otot disebut dalam keadaan relaksasi.
Otot mempunyai 4 fungsi utama yaitu, kontraktilitas,
eksitabilitas, ekstensibilitas dan elastisitas.
1. Contractility (kontraktilitas) adalah kemampuan otot
untuk memendek dengan kekuatan tertentu. Ketika otot
berkontraksi, hal tersebut menyebabkan pergerakan
struktur internal otot (filamen otot) dan akan
menngakibatkan tekanan pada organ dan pembuluh darah.
2. Excitability (eksitabilitas) adalah kemampuan
otot untuk merespon stimulus, dimana umumnya
otot, khususnya otot rangka berkontraksi sebagai
akibat stimulasi oleh saraf. Otot polos dan jantung
dapat berkontraksi tanpa stimulus luar, tetapi
keduanya juga berkontraksi akibat stimulus saraf dan
hormon.
3. Extensibility (ekstensibilitas) adalah dapat meregang
pada panjang tertentu dengan derajat tertentu.\
4. Elasticity (elastisitas) adalah kemampuan otot untuk
kembali ke kondisi semula setelah melakukan proses
meregang
Sumber : MAKALAH ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA
SISTEM OTOT Disusun oleh : CHRISTIANI SIANTURI

3. Mengapa keluhan bisa timbul saat penderita ada di


tempat umum/keramaian?
Jawab:
Fobia
- Adalaah kecemasan yang luar biasa , terus menerus
dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan
eksternal tertentu
- Penderita biasanya menghindari keadaan-keadaan
yang bisa memicu terjadinya kecemasan atau
menjalaninya dengan penuh tekanan. Penderita
menyadari bahwa kecemasan yang timbul adalah
berlebihan dan karena itu mereka sadar bahwa
mereka memiliki masalah.
- Keadaan-keadaan yang sulit bagi penderita
agoraphobia adalah antri di bank atau pasar
swalayan, duduk di tengah-tengah bioskop atau
ruang kelas dan mengendarai bis atau pesawat
terbang. Beberapa orang menderita agorafobia
setelah mengalami serangan panik pada salah satu
keadaan tersebut. Yang lainnya hanya merasakan
tidak nyaman dan tidak pernah mengalami serangan
panik.

Agorafobia sering mempengaruhi kegiatan sehari-


hari, kadang sangat berat sehingga penderita hanya
diam di dalam rumah. Setiap periode 6 bulan, telah
terdiagnosis agorafobia pada 3,8% wanita dan 1,8%
pria. Penyakit ini paling sering muncul pada awal usia
20 tahun, jarang terjadi diatas usia 40 tahun.
Pengobatan terbaik untuk agorafobia adalah terapi
pemaparan. Dengan bantuan seorang ahli, penderita
mencari, mengendalikan, dan tetap berhubungan
degnan apa yang ditakutinya sampai kecemasannya
secara perlahan berkurang karena sudah terbiasa
dengan keadaan tersebut (proses ini
disebut habituasi). Terapi pemaparan telah
membantu lebih dari 90% penderita yang
menjalaninya secara rutin.

Kepada penderita yang mengalami depresi berat


diberikan obat anti-depresi. Psikoterapidilakukan agar
penderita lebih memahami pertentangan psikis yang
melatarbelakangi terjadinya kecemasan.
-

a. F40.0 Agorafobia
Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis
pasti :
o Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul
harus merupakan menifestasi primer dari anxietasnya
dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti
misalnya waham atau pikiran obsesif
o Anxietas yang timbul harus terbatas pada
(terutama terjadi dalam hubungan dengan)
setidaknya dua dari situasi berikut : banyak
orang/keramaian, tempat umum, bepergian
keluar rumah, dan bepergian sendiri
o Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan
gejala yang menonjol (penderita menjadi house
bound)
4. Mengapa penderita merasa khawatir, ketakutan,
dan cemas?
Jawab:

5. Apa tanda dan gejala cemas selain di skenario?


Jawab:
- Gejala psikologik:
Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata,
takut mati , takut gila, takut kehilangan kontrol
dan sebagainya.
- Gejala fisik:
Gemetar, berkeringat, jantung berdebar, kepala
terasa ringan, pusing, ketegangan otot, mual, sulit
bernafas, baal, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di
lambung dan lain-lain.
(Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.KJ,
SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA, IKATAN
DOKTER INDONESIA)

Gejala fisik yang lain :


Hiperaktifitas saraf otonom
Napas pendek atau rasa tercekik
Palpitasi atau takikardia
Berkeringat atau tangan dingin lembab
Mulut kering
Pening atau kepala terasa ringan
Nausea, diare, atau distress abdomen lain
Flush atau menggigil
Sering kencing
Sulit menelan atau terasa mengganjal ditenggorok

Kewaspadaan dan perhatian

perasaan was- was


respons tercengan yang berlebihan
sulit konsentrasi atau pikiran kosong karena cemas
Penimbul persoalan atau kerap tidur
Iritabilitas(mudah teriritasi, mudah
tersinggung,mudah nangis,)

Onset : 6 bulan atau lebih

Minimal 6 dr 18 gejala

Buku saku Psikiatri Klinik, Kaplan & Sadock

6. Apa saja tingkatan cemas?


Jawab:
7. Apa beda ketakutan dan cemas?
Jawab:

Takut

Suatu respon dari suatu ancaman, yang asalnya


sudah diketahui lalu bersifat eksternal, tidak bersifat
konfliktual, jelas dan sifatnya akut (muncul saat
bertemu dengan objek).
Cemas
Cemas adalah perasaan takut terus menerus
terhadap bahaya yang seolah-olah terus
mengancam, yang sebenarnya tidak nyata tetapi hanya
dalam perasaan penderita saja.
(Psikiatri II Simtomatologi, FK

Fobia
- Adalaah kecemasan yang luar biasa , terus menerus
dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan
eksternal tertentu
- Penderita biasanya menghindari keadaan-keadaan
yang bisa memicu terjadinya kecemasan atau
menjalaninya dengan penuh tekanan. Penderita
menyadari bahwa kecemasan yang timbul adalah
berlebihan dan karena itu mereka sadar bahwa
mereka memiliki masalah.
- Keadaan-keadaan yang sulit bagi penderita
agoraphobia adalah antri di bank atau pasar
swalayan, duduk di tengah-tengah bioskop atau
ruang kelas dan mengendarai bis atau pesawat
terbang. Beberapa orang menderita agorafobia
setelah mengalami serangan panik pada salah satu
keadaan tersebut. Yang lainnya hanya merasakan
tidak nyaman dan tidak pernah mengalami serangan
panik.

Agorafobia sering mempengaruhi kegiatan sehari-


hari, kadang sangat berat sehingga penderita hanya
diam di dalam rumah. Setiap periode 6 bulan, telah
terdiagnosis agorafobia pada 3,8% wanita dan 1,8%
pria. Penyakit ini paling sering muncul pada awal usia
20 tahun, jarang terjadi diatas usia 40 tahun.

Pengobatan terbaik untuk agorafobia adalah terapi


pemaparan. Dengan bantuan seorang ahli, penderita
mencari, mengendalikan, dan tetap berhubungan
degnan apa yang ditakutinya sampai kecemasannya
secara perlahan berkurang karena sudah terbiasa
dengan keadaan tersebut (proses ini
disebut habituasi). Terapi pemaparan telah
membantu lebih dari 90% penderita yang
menjalaninya secara rutin.

Kepada penderita yang mengalami depresi berat


diberikan obat anti-depresi. Psikoterapidilakukan agar
penderita lebih memahami pertentangan psikis yang
melatarbelakangi terjadinya kecemasan.
-

b. F40.0 Agorafobia
Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis
pasti :
o Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul
harus merupakan menifestasi primer dari anxietasnya
dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti
misalnya waham atau pikiran obsesif
o Anxietas yang timbul harus terbatas pada
(terutama terjadi dalam hubungan dengan)
setidaknya dua dari situasi berikut : banyak
orang/keramaian, tempat umum, bepergian
keluar rumah, dan bepergian sendiri
o Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan
gejala yang menonjol (penderita menjadi house bound
Perbedaan cemas, takut dan panik

Pembeda Cemas Takut Panik


Halusinasi - - +
Waham - - +
Keinginan - - +
Bunuh diri
Objek Belum Sudah Tidak bisa
bertemu bertemu menyebutka
n
Gejala + + +
somatik
Disorganisasi - - +
www.medicastore.com

8. Apa perbedaan cemas normal dan cemas patologis?


Jawab:
Cemas adalah perasaan takut terus menerus terhadap
bahaya yang seolah-olah terus mengancam, yang
sebenarnya tidak nyata tetapi hanya dalam perasaan
penderita saja.(Psikiatri II Simtomatologi, FK
UNDIP)

KECEMASAN NORMAL ( DSM IV )


Perasaan tersebut ditandai dengan rasa
ketakutan yang difus, tidak menyenangkan dan
samar-samar, diawali dengan sebuah sebab
yang jelas. seringkali disertai gejala otonom seperti
nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, kekakuan pada
dada, dan gangguan lambung ringan. Seseorang yg
cemas mungkin juga merasa gelisah. Kumpulan
gejala tertentu yg ditemukan selama kecemasan
cenderung.
Cemas Normal suatu penyerta yang
normal dari pertumbuhan, dari perubahan,
dari pengalaman sesuatu yang baru dan
belum dicoba, dan dari penemuan
identitasnya sendiri dan arti hidup.
Ex. anak masuk sekolah pertama kali
(Sinopsis Psikiatri, Kaplan & Sadock ed. 7 jilid dua)

Kecemasan normal

Rasa ketakutan yang difus tidak menyenangkan samar


samar disertai gejala otonomik (nyeri kepala, keringat,
palpitasi, kekakuan pd dada, merasa gelisah)
Sensasi kecemasan sering dialami oleh hampir semua
manusia.
Ketakutan dan kecemasan
Kecemasan sinyal yg menyadarkan, memperingatkan
adanya bahaya yg mengancam dan ambil tindakan untuk
membatasi ancaman, respon terhadap ancaman yg
sumbernya tdk diketahui, internal, samar samar,
konfliktual.
Ketakutan sinyal serupa yg menyadarkan, respon dari
suatu ancaman yg sumbernya diketahui, external, jelas,
bukan bersifat konflik.
Ketakutan didahului oleh keheranan dan berjalan bersama
sama
Fungsi adaptif dari kecemasan :
Kecemasan memperingatkan adanya ancaman external
dan internal, memilki kualitas menyelamatkan hidup,
kecemasan mencegah dengan cara menyadarkan
seseorang untuk melakukan tindakan tertentu mencegah
bahaya
Stress, konflik, kecemasan
Melibatkan ego, abstraksi kolektif untuk proses dimana
seseorang merasakan, berpikir, dan bertindak terhadap
peristiwa external dan dorongan internal. Ego yang
berfungsi dengan baik dlm keseimbangan adaptif dunia
external dan internal, ego tidak berfungsi baik dan
tidak seimbang dan cukup lama kecemasan
kronis
Ketidakseimbangan external, internal, ego impuls
konflik
Gejala psikologis dan kognitif
Kecemasan menghasilkan kebingungan dan distorsi
persepsi pd ruang, waktu, orang, peristiwa.

Buku saku Psikiatri Klinik, Kaplan & Sadock Ed.7 Jilid


2

KECEMASAN PATOLOGIS (DSM IV)


Kecemasan yang didasari tanpa sebab yang
jelas dan tidak berpotensi untuk mengancam
jiwanya. Mngkin disertai dengan gejala otonom
seperti kecemasan normal. Kecemasan yang
patologis adalah kecemasan yang berlebihan
terhadap stimuli internal atau eksternal, dan
tidak berfungsi untuk menyelamatkan
keutuhan jiwanya.
Cemas Patologis respon yang tidak sesuai
terhadap stimulus yang diberikan berdasarkan
pada intensitas atau durasinya.
- (Sinopsis Psikiatri, Kaplan & Sadock ed. 7 jilid dua)

9. Apa saja macam-macam gangguan cemas?


Penjelasan!
Jawab:

10. DD
Jawab:
DD
Gangguan Neurotik
o Gangguan Cemas
o Gangguan Somatoform
o Gangguan Dissosiasi

GANGGUAN NEUROTIK

Neurosa atau juga disebut dengan Psikoneurosa (istilah


lama, tak dipakai lagi), istilah ini kurang tepat karena
tak ada gangguan neuron (sel saraf) atau disebut
Psikogenik.

Definisi:
Prof Maramis:
Neurosa adalah kesalahan penyesuaian diri
secara emosional karena tak dapat
diselesaikannya suatu konflik a-sadar.
Kecemasan yg timbul dirasakan secara langsung
atau diubah oleh berbagai mekanisme
pertahanan psikologik (defence-mechanism) dan
muncullah gejala-gejala subjektif lain yg
mengganggu.
Karena ada konflik, maka mengganggu
sistem/susunan saraf otonom
Lubis (ahli Psikoanalisa FK UI)
Neurosa dapat dipandang sebagai suatu bentuk
khusus dari penjelmaan ansietas dan
penjelmaan ikhtiar individu untuk meniadakan
ansietas itu
Contoh : Phobia Pisau
PPDGJ III
Gangguan neurotik adalah gangguan mental yg
tidak mempunyai dasar organik (fungsional) yg
dpt ditunjukkan, pasien cukup mempunyai
tilikan (insight) serta kemampuan daya nilai
realitasnya tdk terganggu dan prilakunya
biasanya masih di dalam batas-batas normal
sosial serta kepribadiannya tetap utuh.
Contoh : Phobia Tikus.
Daya realitasnya pada Psikosa terganggu
Klasifikasi:
F.40-F.48
o F.40 Gangguan anxietas phobic. Bisa bersamaan
dengan depresi
F.40.00 Tanpa panik
F.40.01 Disertai panik
Agorafobia: Takut/ menghindari situasi sulit untuk
mnyelamatkan diri.
Phobia social: takut menghindari situasi social/
takut dikritik
Panik serangan keemasan mendadak dan hebat
Gang. Anxietas menyeluruh: kecemasan
berlebihan dari hal yang biasa.
Gangguan ini biasanya dimiliki oleh orang yang
berkepribadian Dependen & Menghindar
o F.41 Gangguan anxietas lainnya. Manifestasi
anxietas menonjol dan tidak terbatas pada saat ttt
o F.42 Gangguan obsesif kompulsif.
o F.43 Reaksi terhadap stress berat dan gangguan
penyesuaian
o F44 Gangguan dissosiatif
o F45 gangguan somatoform
o F48 Gangguan somatoform lainnya

DSM IV
o Gangguan kecemasan umum
o Agoraphobia, agorapobia spesifik dan social
o Gangguan obsesi kompulsif
o Gangguan distimik
o Gangguan konversi
o Gangguan depersonalisasi
o Gangguan Hipokondriasis
o Gangguan seksual

1.GANGGUAN CEMAS

- Definisi:
Anxietas adalah perasaan yang difius, yang
sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu
dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan
ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi
badaniah yang khas dan yang akan datang berulang
bagi seseorang tertentu. Perasaan ini dapat berupa
rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar,
keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau
kencing atau buang air besan. Perasaan ini disertai
dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. ( Harold I.
LIEF)
Anenvous condition of unrest ( Leland E. HINSIE
dan Robert S CAMBELL)
Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas
yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau
frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan
rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang
individu atau kelompok biososialnya. ( J.J GROEN)
Cemas adalah perasaan takut terus menerus terhadap
bahaya yang seolah-olah terus mengancam, yang
sebenarnya tidak nyata tetapi hanya dalam perasaan
penderita saja.(Psikiatri II Simtomatologi, FK
UNDIP)
Kecemasan : suatu sinyal yang menyatakan; ia
memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan
memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk
mengatasi ancaman. Atau respon terhadap suatu
ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal,
samar-samar, dan konfliktual
Cemas Normal suatu penyerta yang
normal dari pertumbuhan, dari perubahan, dari
pengalaman sesuatu yang baru dan belum
dicoba, dan dari penemuan identitasnya sendiri
dan arti hidup.
Ex. anak masuk sekolah pertama kali
Cemas Patologis respon yang tidak sesuai
terhadap stimulus yang diberikan berdasarkan
pada intensitas atau durasinya.
(Sinopsis Psikiatri, Kaplan & Sadock ed. 7 jilid dua)

- Etiologi
Ada 2 teori :
1) Teori Psikologis
a. Teori Psikoanalitik
Menurut Freud, kecemasan sebagai sinyal guna
menyadarkan ego untuk mengambil tindakan
defensif terhadap tekanan dari dalam diri.
Kecemasan id atau impuls berhubungan dengan
ketidaknyamanan primitif dan difus dari seorang bayi
jika mereka merasa terlanda oleh kebutuhan dan
stimuli dimana keadaan tidak berdaya mereka tidak
memungkinkan pengendalian.
Kecemasan perpisahan terjadi pada anak-anak
yang agak besar tapi masih dalam masa praoedipal,
yang takut kehilangan cinta atau bahkan
ditelantarkan oleh orangtuanya jika mereka gagal
mengendalikan dan mengarahkan impulsnya sesuai
dengan standar dan kebutuhan orangtuanya.
Kecemasan Kastrasi menandai anak oedipal,
khususnya dalam hubungan dengan impuls seksual
anak yang sedang berkembang, dicerminkan dalam
kecemasan kastrasi dari dewasa.
Kecemasan Superego merupakan akibat langsung
dari perkembangan akhir superego yang menandai
berlalunya kompleks Oedipus dan datangnya periode
latensi prapubertal.
b. Teori Perilaku
Menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon
yang dibiasakan terhadap stimuli lingkungan spesifik.
Ex : seseorang dapat belajar untuk memiliki suatu
respon kecemasan internal dengan meniru respon
kecemasan orangtuanya.
c. Teori Eksistansial
Bahwa seseorang menjadi menyadarinya adanya
kehampaan yang menonjol di dalam dirinya,
perasaan yang mungkin lebih mengganggu daripada
penerimaan kematian mereka yang tidak dapat
dihindari.
Kecemasan adalah respon seseorang terhadap
kehampaan eksistensi dan arti yang berat tersebut.
2) Teori Biologis
a. Sistem Saraf Otonom
Stimulasi sistem saraf otonom menyebabkan gejala
tertentu (cor : takikardia, muskular : nyeri kepala, GIT
: diare, pernafasan : nafas cepat)
b. Neurotransmitter
NE, serotonin & GABA
NE agonis adrenergik beta & antagonis adrenergik-
alfa2 pencetus
c. Penelitian Pencitraan Otak
Kelainan di korteks fro ntalis, occipital, dan temporal
Contoh: pada gangguan anxietas didapati kelainan di
korteks frontalis, oksipital, temporalis. Pa9;da
gangguan panik didapati kelainan pada girus para
hipokampus.
d. Penelitian Genetika
Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan
semua pasien dengan gangguan panik memiliki
sekurangnya satu sanak saudara yang juga
menderita gangguan
Sinopsis Psikiatri, Kaplan & Sadock ed. 7 jilid dua

- Manifestasi Klinis:
- Gejala psikologik:
Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata,
takut mati , takut gila, takut kehilangan kontrol
dan sebagainya.
- Gejala fisik:
Gemetar, berkeringat, jantung berdebar, kepala
terasa ringan, pusing, ketegangan otot, mual, sulit
bernafas, baal, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di
lambung dan lain-lain.
(Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.KJ,
SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA, IKATAN
DOKTER INDONESIA)
Gangguan ansietas pada dasarnya mempunyai
penyebab multifaktorial, baik dari diri sendiri,
faktor biologis, faktor sosial, psikologis,
penyalahgunaan/pemakaian obat tertentu secara
berlebihan, maupun gejala yang timbul dari suatu
penyakit lain(Fracchione, 2004).
Faktor biologis ansietas merupakan akibat
dari reaksi syaraf otonom yang berlebihan,
sebagai contoh PMS atau Pre Menstrual Syndrome,
disamping dapat terjadi gangguan fisik ternyata PMS
juga dapat memunculkan ansietas, berupa gangguan
mental seperti mudah tersinggung dan sensitif.
Sedangkan dari aspek psikoanalisis, ansietas dapat
terjadi akibat impuls-impuls bawah sadar (seks,
agresi, dan ancaman) yang masuk ke alam sadar,
atau mekanisme pertahanan jiwa yang tidak
sepenuhnya berhasil, dapat menimbulkan ansietas
yakni reaksi fobia.
Ansietas juga timbul sebagai efek sekunder
dari suatu penyakit, misalnya pasien yang menderita
penyakit kanker ternyata juga sering menderita
gangguan psikis seperti depresi, ansietas dan
gangguan lainnya, ketakutan pasien akan penyakit
yang dideritanya atau pun kesakitan fisik yang
dialaminya dari suatu penyakit itulah yang menjadi
penyebab timbulnya ansietas.
Dari pendekatan sosial, ansietas dapat
disebabkan karena frustasi, konflik, tekanan,
krisis, ketakutan yang terus menerus yang
disebabkan oleh kesusahan dan kegagalan yang
bertubi-tubi, adanya kecenderungan -kecenderungan
harga diri yang terhalang, repressi terhadap macam-
macam masalah emosional, akan tetapi tidak bisa
berlangsung secara sempurna(incomplete repress),
atau dorongan-dorongan seksual yang tidak
mendapat kepuasan dan terhambat, sehingga
mengakibatkan banyak konflik batin(Cameroon,
2004)
Ansietas juga timbul sebagai efek sekunder
dari suatu penyakit, misalnya pasien yang
menderita penyakit kanker ternyata juga sering
menderita gangguan psikis seperti depresi, ansietas
dan gangguan lainnya, ketakutan pasien akan
penyakit yang dideritanya atau pun kesakitan fisik
yang dialaminya dari suatu penyakit itulah yang
menjadi penyebab timbulnya ansietas, misal saat
sekarat mendekati kematian atau mengalami
penderitaan akibat suatu penyakit.
Penyalahgunaan atau penggunaan
obat/zat tertentu yang berlebihan juga
merupakan salah satu penyebab utama ansietas.
Seperti alkoholisme, intoksikasi kafein,
hipertiroidisme, dan feokromositoma harus
disingkirkan dalam mengatasi gejala ansietas
ini(Brust, 2007). Karena sebagian besar orang akan
berlari ke hal-hal tadi untuk menghadapi ansietas
yang timbul pada dirinya. Beberapa zat yang dapat
menyebabkan ansietas anatara lain :
-Anticonvulsants(Carbamazepine, ethosuximide)
-Antihistamines
-Antimicrobials(Cephalosporins, ofloxacin,
aciclovir, isoniazid)
-Bronchodilators(Theophyllines)
-Digitalis(pada level toksik)
-Oestrogen
-Levodopa
-Corticosteroids
-Thyroxine
-Non-steroidal anti-inflammatory
drugs(Indomethacin)
-Thyroxine
Memang mungkin dalam penggunaan beberapa
obat-obatan lain terkadang juga menyebabkan
tremor atau palpitasi seperti ansietas, namun ini
dapat dibedakan dari ansietas melalui pemeriksaan
klinis lebih lanjut
Ansietas juga dapat disebabkan karena adanya
pengaruh faktor genetik dari keluarga. Penelitian
telah melaporkan bahwa duapertiga sampai
tigaperempat pasien yang terkena ansietas memiliki
sekurang-kurangnya satu sanak saudara derajat
pertama dengan ansietas spesifik tipe spesifik yang
sama(Brust, 2007)
Meskipun demikian masih banyak penyebab
ansietas yang harus selalu dicari, untuk itu
diperlukan anamnesis yang lengkap seperti asal
timbulnya gejala dan matriks interpersonal dan
social bermulanya gejala.!! INGAT ITU... ^__^
- Klasifikasi:

BENTUK GANGGUAN ANXIETAS

Gangguan Panik
Gangguan Fobik
Gangguan Obsesif-kompulsif
Gangguan Stres Pasca Trauma
Gangguan stres Akut

Gangguan Anxietas Menyeluruh.


Ket:

1. GANGGUAN PANIK

Ada dua kriterla Gangguan panik : gangguan panik tanpa


agorafobia dan gangguan panik dengan agorofobia
kedua gangguan panik ini harus ada serangan panik.
GAMBARAN KLINIS

Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau


serangan panik, walaupun serangan panik kadang-kadang terjadi
setelah luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas seksual atau
trauma emosional. Klinisi harus berusaha untuk mengetahui tiap
kebiasaan atau situasi yang sering mendahului serangan panik.
Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat
dengan cepat selama 10 menit.

Gejala mental utama adalah ketakutan yang kuat, suatu


perasaan ancaman kematian dan kiamat. Pasien biasanya tidak
mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien mungkin
merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan
perhatian.

Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan


berkeringat. Pasien seringkali mencoba untuk mencari bantuan.
Serangan biasanya berlangsung 20 sampai 30 menit.
Agorafobma : pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi
dimana ia akan sulit mendapatkan bantuan. Pasien mungkin
memaksa bahwa mereka harus ditemani setiap kali mereka keluar
rumah.

PEDOMAN DIAGNOSTIK AGORAFOBIA

Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dimana


kemungkinan sulit meloloskan diri
Situasi dihindari, misal jarang bepergian

Kecemasan atau penghindaran fobik bukan karena gangguan


mental lain, misal fobia sosial
PEDOMAN DIAGNOSTIK GANGGUAN PANIK

Serangan panik rekuren dan tidak diharapkan


Sekurangnya satu serangan , diikuti satu atau lebih :
kekawatiran menetap akan mengalami serangan tambahan,
ketakutan tentang arti serangan, perubahan perilaku
bermakna berhubungan dengan serangan
Serangan panik bukan karena efek fisiologis langsung atau
suatu kondisi medis umum
Serangan panik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan
mental lain. misal gangguan obsesif - kompulsif.

Gangguan panik bisa dengan agorafobia atau tanpa


agorafobia
TERAPI

Konseling dan medikasi.


Konseling: ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan
panik berlalu, konsentrasikan diri untuk mengatasi anxietas bukan
pada gejala fisik, rileks, latihan pernafasan. Identifikasikan rasa
takut selama serangan. Diskusikan cara menghadapi rasa takut
saya tidak mengalami serangan jantung, hanya panik, akan berlalu.

Medikasi : banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak


membutuhkan medikasi. Bila serangan sering dan berat, atau
secara bermakna dalam keadaan depresi beri antidepresan
(imipramin 25 mg malam hari, dosis bisa sampai 100 150 mg
malam selama 2 minggu ). Bila serangan jarang dan terbatas beri
anti anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau
alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1) hindari pemberian jangka panjang
dan pemberian medikasi yang tidak perlu.

2. GANGGUAN FOBIK

Penelitian epidemiologis di Amerika Serikat menemukan 5 10


persen populasi menderita gangguan ini. FOBIA adalah suatu
ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan
penghindaran yang disadari terhadap obyek, aktivitas, atau situasi
yang ditakuti.
Fobia spesifik: takut terhadap binatang, badai, ketinggian,
penyakit, cedera, dsb
Fobia sosial: takut terhadap rasa memalukan di dalam berbagai
lingkungan sosial seperti berbicara di depan umum, dsb

PEDOMAN DIAGNOSTIK

Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak


beralasan (obyek /situasi)
Pemaparan dengan stimulus fobik hampir selalu mencetuskan
kecemasan
Menyadari bahwa rasa takut adalah berlebihan
Situasi fobik dihindari
TERAPI

Konseling dan medikasi: dorong pasien untuk dapat mengatur


pernafasan, membuat daftar situasi yang ditakuti atau dihindari,
diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut tersebut. Dengan
konseling banyak pasien tidak membutuhkan medikasi. Bila ada
depresi bisa diberi antidepresan lmipramin 50 150 mg/ hari. Bila
ada anxietas beri antianxietas dalam waktu singkat, karena bisa
menimbulkan ketergantungan. Beta blokerdapat mengurangi gejala
fisik. Konsultasi spesialistik bila rasa takut menetap

3. GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF

Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi


umum diperkirakan adalah 2-3 persen.
OBSESIF adalah pikiran, perasaan, ide yang berulang, tidak
bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
KOMPULSIF adalah tingkah-laku yang berulang, tidak bisa
dihilangkan dan tidak dikehendaki.

PEDOMAN DIAGNOSIS

= Pikiran, impuls, yang berulang


= Perilaku yang berulang
= Menyadari bahwa obsesif-kompulsif adalah berlebihan atau tidak
beralasan
= Obsesif-kompulsif menyebabkan penderitaan
= Tidak disebabkan oleh suatu zat atau kondisi medis umum.

TERAPI

Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang


pikiran yang berulang dapat mengurangi gejala obsesd, yang pada
akhirnya mengurangi perilaku kompulsif. Latihan pernafasan.
Bicarakan apa yang akan dilakukan pasien untuk mengatasi situasi,
kenali dari perkuat hal yang berhasil mengatasi situasi. Bila
diperlukan bisa diberi Klomipramin 100 - 150 mg, atau golongan
Selected Serotonin Reuptake Inhibitors.
Konsultasi spesialistik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.

4. GANGGUAN STRES PASCA-TRAUMA

Pasien dapat diklasifikasikan mendenta gangguan stres pasca-


trauma, bila mereka mengalami suatu stres yang akan bersifat
traumatik bagi hampir semua orang. Trauma bisa berupa trauma
peperangan, bencana alam, penyerangan, pemerkosaan,
kecelakaan.

Gangguan stres-pasca trauma terdiri dari:

- pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran,


penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan
penumpulan responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran
berlebihan dan persisten.

Gejala penyerta yang sering dan gangguan stres pasca-trauma


adalah depresi, kecemasan dan kesulitan kognitif(contoh
pemusatan perhatian yang buruk)

Prevalensi seumur hidup gangguan stres pasaca-trauma


diperkirakan I sampai 3 persen populasi umum, 5 sampai 15 persen
mengalami bentuk gangguan yang subklinis. Walaupun gangguan
stres pasca-trauma dapat terjadi pada setiap usia, namun
gangguan paling menonjol pada usia dewasa muda.

PEDOMAN DIAGNOSTIK STRES PASCATRAUMA

A. Telah terpapar dengan peristiwa traumatik, didapati:


o mengalami, menyaksikan, dihadapkan dengan peristiwa
yang berupa ancaman kematian, atau kematian yang
sesungguhanya atau cedera yang serius,atau ancaman
integritas fisik diri sendiri atau orang lain
o respon berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya
B. Keadan traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu
atau lebih cara berikut:
o rekoleksi yang menderitakan, rekuren dan mengganggu
tentang kejadian
o Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian
o berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik
terjadi kembali
o penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan
tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau
menyerupai suatu aspek kejadian traumatik
o reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal
atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai
aspek kejadian traumatik
C. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan
dengan trauma
D. Gejala menetap, adanya peningkatan kesadaran , seperti dua
atau lebih berikut:
kesulitan tidur, irritabilitas, sulit konsentrasi, kewaspadaan
berlebihan, respon kejut
yang berlebihan.
E. Lama gangguan gejala B,C,D adalah lebih dari satu bulan.

F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara


klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau
fungsi penting lain.
5. REAKSI STRES AKUT

Suatu gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi pada


seseorang tanpa adanya gangguan jiwa lain yang nyata, sebagai
respons terhadap stres fisik maupun mental yang luar biasa dan
biasanya menghilang dalam beberapa jam atau hari. Stresornya
dapat berupa pengalaman traumatik yang luar biasa . Kerentanan
individu dan kemampuan menyesuaikan diri memegang peranan
dalam terjadinya dan keparahannya suatu reaksi stres akut.

PEDOMAN DIAGNOSTIK

Harus ada kaitan waktu yang langsung dan jelas antara terjadinya
pengalaman stresor luar biasa dengan onset dan gejala. Onset
biasanya setelah beberapa menit atau bahkan segera setelah
kejadian. Selain itu ditemukan

(a) terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya berubah-


ubah; selain gejala permulaan berupa keadaan terpaku , semua
gejala berikut mungkin tampak: depresif, anxietas, kemarahan,
kekecewaan, overaktif dan penarikan diri, akan tetapi tidak satupun
dan jenis gejala tersebut yang mendominasi gambaran klinisnya
untuk waktu lama.

(b) pada kasus-kasus yang dapat dialihkan dan stresomya, gejala-


gejalanya dapat menghilang dengan cepat (dalam beberapa jam);
dalam hal dimana stres tidak dapat dialihkan, gejala-gejala
biasanya baru mulai mereda setelah 24 - 48 jam dan biasanya
menghilang setelah 3 hari.

6. GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH

Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang


menyeluruh dan menetap (bertahan lama), Gejala yang
dominant sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang
berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala
terasa ringan, palpitasi, pusing kepala dan keluhan epigastnik
adalah keluhankeluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan bahwa
dirinya atau anggota keluarganya akan menderita sakit atau akan
mengalami kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan
yang seringkali diungkapkan

PEDOMAN DIAGNOSTIK

Pasien harus menunjukan gejala primer anxietas yang berlangsung


hampir setiap hari selama beberapa minggu, bahkan biasanya
sampai beberapa bulan. Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-
hal berikut : kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik,
overaktivitas otonomik

7. GANGGUAN CAMPURAN ANXIETAS DAN DEPRESI

Kategori campuran ini harus digunakan bilamana terdapat gejala


anxietas maupun depresi, di mana masing-masing tidak
menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk
menegakkan diaognosis tersendiri.
(Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.KJ, SIMPOSIUM SEHARI
KESEHATAN JIWA, IKATAN DOKTER INDONESIA)

o Menurut berdasarkan DSM IV


KECEMASAN NORMAL
Perasaan tersebut ditandai dengan rasa ketakutan yang
difus, tidak menyenangkan dan samar-samar, diawali
dengan sebuah sebab yang jelas. seringkali disertai
gejala otonom seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi,
kekakuan pada dada, dan gangguan lambung ringan.
Seseorang yg cemas mungkin juga merasa gelisah.
Kumpulan gejala tertentu yg ditemukan selama
kecemasan cenderung.
KECEMASAN PATOLOGIS
Kecemasan yang didasari tanpa sebab yang jelas dan
tidak berpotensi untuk mengancam jiwanya. Mngkin
disertai dengan gejala otonom seperti kecemasan
normal. Kecemasan yang patologis adalah kecemasan
yang berlebihan terhadap stimuli internal atau eksternal,
dan tidak berfungsi untuk menyelamatkan keutuhan
jiwanya.

Menurut PPDGJ
F40 gangguan Anxietas fobik
F40.0 argofobia
F40.00 argofobia tanpa gangguan panik
F40.01 argofobia dengan gangguan panik
F40.1 fobia sosial
F40.2 fobia khas (terisolasi)
F40.8 gangguan anxietas fobik lainnya
F40.9 gangguan anxietas fobik YTT
F41 gangguan anxietas lainnya
F41.0 gangguan panik (anxietas paroksismal episodik)
F41.1 gangguan anxietas menyeluruh
F41.2 gangguan campuran anxietas dan depresif
F41.3 gangguan anxietas campuran lainnya
F41.8 gangguan anxietas lainnya YDT
F41.9 gangguan anxietas YTT
F42 Ggn Obsesif-Kompulsif
F43 Reaksi terhadap Stres Berat & Gangguan
Penyesuaian
F44 Ggn Disosiatif ( Konversi )
F44.0 Amnesia Disosiatif
F44.2 Stupor Disosiatif
F44.3 Ggn Trans dan Kesurupan
F44.7Ggn Disosiatif Campuran
F45 gangguan somatoform
F45.0 gangguan somatisasi
F45.1 gangguan somatoform tak terinci
F45.2 gangguan hipokondrik
F45.3 disfungsi otonomik somatoform
.30 jantung dan sistem kardiovaskuler
.31 saluran pencernaan bagian atas
.32 saluran pencernaan bagian bawah
.33 sistem pernafasan
.34 sistem genitourinaria
.38 sistem atau organ lainnya
F45.4 gangguan nyeri somatoform lainnya
F45.8 gangguan somatoform lainnya
F45.9 gangguan somatoform YTT
F48 Ggn Neurotik Lainnya
F48.0 Neurastenia
F48.1 Sindroma Depersonalisasi - Derealisasi

- Terapi:
Pengobatan yang paling efektif untuk pasien dengan
kecemasan menyeluruh adalah pengobatan yang
mengkombinasikan psikoterapi dan farmakoterapi.
Pengobatan mungkin memerlukan cukup banyak waktu
bagi klinisi yang terlibat
1. Psikoterapi
Pendekatan psikoterapi untuk gangguan kecemasan
menyeluruh meliputi : 2,6
a) Terapi kognitif perilaku, terapi ini memiliki
keunggulan jangka panjang dan jangka pendek.
Pendekatan kognitif secara langsung menjawab distorsi
kognitif pasien dan pendekatan perilaku menjawab
keluhan somatik secara langsung.
b) Terapi suportif, terapi yang menawarkan
ketentraman dan kenyamanan bagi pasien.
c) Terapi berorientasi tilikan, memusatkan untuk
mengungkapkan konflik bawah sadar dan mengenali
keuatan ego pasien.
2. Farmakoterapi
Golongan benzodiazepine sebagai drug of choice
dari semua obat yang mempunyai efek anti-anxietas,
disebabkan spesifitas, potensi dan keamanannya.
Spektrum klinis benzodiazepine meliputi efek antianxietas,
anti konvulsan, anti insomnia, premdikasi tindakan
operatif.
a. Diazepam : broadspektrum
b. Nitrazepam : dosis anti-anxietas dan anti insomnia
berdekatan lebih efektif sebagai anti insomnia
c. Clobazam : psychomotor performance paling kurang
terpengaruh, untuk pasien dewasa dan usia lanjut yang
ingin tetap aktif
d. Lorazepam : short half life benzodiazepine , untuk
pasien-pasien dengan kelainan fungsi hati dan ginjal.
e. Alprazolam : efektif untuk anxietas antisipatorik onset
of action lebih cepat dan mempunyai komponen efek anti
depresi.

PATOFISIOLOGI CEMAS :

Dalam dekade terakhir, para peneliti otak telah


memberikan lebih banyak bukti bahwa gangguan
kecemasan umum terkait dengan faktor biologis.

Ada reseptor di otak yang menerima neurotransmiter


asam gamma-aminobutyric (GABA). Ketika GABA
ditransmisikan ke reseptor, neuron diperintahkan untuk
berhenti menembak. Generalized Anxiety
Disorder ( gangguan kecemasan) terjadi ketika GABA tidak
dapat mengikat secara akurat ke sel reseptor, atau ketika
ada terlalu sedikit reseptor GABA. Tanpa jumlah yang
tepat dari penerimaan GABA, neuron berlebihan akan,
menyebabkan orang untuk tidak menerima pesan cukup
untuk "berhenti". Hasilnya adalah orang itu terus-menerus
tegang, menjadi terlalu cemas dan gelisah. seanjutnya
akan memicu peningkatan saraf simpatis yang akan
menimbulkan berbagai gejala yang telah disebutkan
diatas.
(Stefan Silbernagl & Florian Lang,
PATOFISIOLOGI)

2. GANGGUAN SOMATOFORM

o definisi:
Kelompok gangguan yang ditandai oleh keluhan
tentang masalah atau simtom fisik yang tidak
dapat dijelaskan oleh penyebab kerusakan fisik.
Bukan merupakan Malingering: kepura-puraan
simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil
eksternal yang jelas, misalnya menghindari
hukuman, mendapatkan pekerjaan, dsb.
Bukan pula Gangguan Factitious/Gangguan Buatan:
gangguan yang ditandai oleh pemalsuan simtom
psis atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan
yang jelas atau untuk mendapatkan peran sakit
o Klasifikasi:

ket:
1. Conversion disorder

Pada conversion disorder, gejala sensorik dan motorik,


seperti hilangnya penglihatan atau kelumpuhan secara tiba-
tiba, menimbulkan penyakit yang berkaitan dengan rusaknya
sistem saraf, padahal organ tubuh dan sistem saraf individu
tersebut baik-baik saja. Aspek psikologis dari gejala conversion
ini ditunjukkan dengan fakta bahwa biasanya gangguan ini
muncul secara tiba-tiba dalam situasi yang tidak
menyenangkan. Biasanya hal ini memungkinkan individu untuk
menghindari beberapa aktivitas atau tanggung jawab atau
individu sangat ingin mendapatkan perhatian. Istilah
conversion, pada dasarnya berasal dari Freud, dimana
disebutkan bahwa energi dari instink yang di repress dialihkan
pada aspek sensori-motor dan mengganggu fungsi normal.
Untuk itu, kecemasan dan konflik psikologis diyakini dialihkan
pada gejala fisik.

Gejala conversion biasanya berkembang pada masa


remaja atau awal masa dewasa, dimana biasanya muncul
setelah adanya kejadian yang tidak menyenangkan dalam
hidup. Prevalensi dari conversion disorder kurang dari 1 %, dan
biasanya banyak dialami oleh wanita (Faravelli et
al.,1997;Singh&Lee, 1997 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Conversion disorder biasanya berkaitan dengan diagnosis Axis I
lainnya seperti depresi dan penyalahgunaan zat-zat terlarang,
dan dengan gangguan kepribadian, yaitu borderline dan
histrionic personality disorder (Binzer, Anderson&Kullgren,
1996;Rechlin, Loew&Jorashky, 1997 dalam Davidson, Neale,
Kring, 2004).

2. Hypochondriasis

Hypochondriasis adalah gangguan somatoform dimana


individu diliputi dengan ketakutan memiliki penyakit yang
serius dimana hal ini berlangsung berulang-ulang meskipun
dari kepastian medis menyatakan sebaliknya, bahwa ia baik-
baik saja. Gangguan ini biasanya dimulai pada awal masa
remaja dan cenderung terus berlanjut. Individu yang
mengalami hal ini biasanya merupakan konsumen yang
seringkali menggunakan pelayanan kesehatan; bahkan
terkadang mereka manganggap dokter mereka tidak kompeten
dan tidak perhatian (Pershing et al., dalam Davidson, Neale,
Kring, 2004). Dalam teori disebutkan bahwa mereka bersikap
berlebihan pada sensasi fisik yang umum dan gangguan kecil,
seperti detak jantung yang tidak teratur, berkeringat, batuk
yang kadang terjadi, rasa sakit, sakit perut, sebagai bukti dari
kepercayan mereka. Hypochondriasis seringkali muncul
bersamaan dengan gangguan kecemasan dan mood.

3. Body Dysmorphic Disorder

Pada body dysmorphic disorder, individu diliputi dengan


bayangan mengenai kekurangan dalam penampilan fisik
mereka, biasanya di bagian wajah, misalnya kerutan di wajah,
rambut pada wajah yang berlebihan, atau bentuk dan ukuran
hidung. Wanita cenderung pula fokus pada bagian kulit,
pinggang, dada, dan kaki, sedangkan pria lebih cenderung
memiliki kepercayaan bahwa mereka bertubuh pendek, ukuran
penisnya terlalu kecil atau mereka memiliki terlalu banyak
rambut di tubuhnya (Perugi dalam Davidson, Neale, Kring,
2004). Beberapa individu yang mengalami gangguan ini secara
kompulsif akan menghabiskan berjam-jam setiap harinya untuk
memperhatikan kekurangannya dengan berkaca di cermin. Ada
pula yang menghindari cermin agar tidak diingatkan mengenai
kekurangan mereka, atau mengkamuflasekan kekurangan
mereka dengan, misalnya, mengenakan baju yang sangat
longgar (Albertini & Philips daam Davidson, Neale, Kring, 2004).

Beberapa bahkan mengurung diri di rumah untuk menghindari


orang lain melihat kekurangan yang dibayangkannya. Hal ini
sangat mengganggu dan terkadang dapat mengerah pada
bunuh diri; seringnya konsultasi pada dokter bedah plastik dan
beberapa individu yang mengalami hal ini bahkan melakukan
operasi sendiri pada tubuhnya. Sayangnya, operasi plastik
berperan kecil dalam menghilangkan kekhawatiran mereka
(Veale dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Body dysmorphic
disorder muncul kebanyakan pada wanita, biasanya dimulai
pada akhir masa remaja, dan biasanya berkaitan dengan
depresi, fobia social, gangguan kepribadian (Phillips&McElroy,
2000; Veale et al.,1996 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Faktor social dan budaya memainkan peranan penting pada
bagaimana seseorang merasa apakah ia menarik atau tidak,
seperti pada gangguan pola makan.

4. Somatization Disorder

Menurut DSM-IV-TR kriteria dari somatization disorder


adalah memiliki sejarah dari banyak keluhan fisik selama
bertahun-tahun; memiliki 4 gejala nyeri, 2 gejala
gastrointestinal, 1 gejala sexual, dan 1 gejala
pseudoneurological; gejala-gejala yang timbul tidak disebabkan
oleh kondisi medis atau berlebihan dalam memberikan kondisi
medis yang dialami.

Prevalensi dari somatiation disorder diperkirakan kurang


dari 0.5% dari populasi Amerika, biasanya lebih sering muncul
pada wanita, khususnya wanita African American dan Hispanic
(Escobar et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004) dan pada
pasien yang sedang menjalani pengibatan medis. Prevalensi ini
lebih tinggi pada beberapa negara di Amerika Selatan dan di
Puerto Rico (Tomassson, Kent&Coryell dalam Davidson, Neale,
Kring, 2004). Somatizaton disorder biasanya dimulai pada awal
masa dewasa (Cloninger et al., dalam Davidson, Neale, Kring,
2004)

5. Pain Disorder

Pada pain disorder, penderita mengalami rasa sakit yang


mengakibatkan ketidakmampuan secara signifikan;faktor
psikologis diduga memainkan peranan penting pada
kemunculan, bertahannya dan tingkat sakit yang dirasakan.
Pasien kemungkinan tidak mampu untuk bekerja dan menjadi
tergantung dengan obat pereda rasa sakit. Rasa nyeri yang
timbul dapat berhubungan dengan konflik atau stress atau
dapat pula terjadi agar individu dapat terhindar dari kegiatan
yang tidak menyenangkan dan untuk mendapatkan perhatian
dan simpati yang sebelumnya tidak didapat.

Diagnosis akurat mengenai pain disorder terbilang sulit


karena pengalaman subjektif dari rasa nyeri selalu merupakan
fenomena yang dipengaruhi secara psikologis, dimana rasa
nyeri itu sendiri bukanlah pengalaman sensoris yang
sederhana, seperti penglihatan dan pendengaran. Untuk itu,
memutuskan apakah rasa nyeri yang dirasakan merupakan
gangguan nyeri yang tergolong gangguan somatoform,
amatlah sulit. Akan tetapi dalam beberapa kasus dapat
dibedakan dengan jelas bagaimana rasa nyeri yang dialami
oleh individu dengan gangguan somatoform dengan rasa nyeri
dari individu yang mengalami nyeri akibat masalah fisik.
Individu yang merasakan nyeri akibat gangguan fisik,
menunjukkan lokasi rasa nyeri yang dialaminya dengan lebih
spesifik, lebih detail dalam memberikan gambaran sensoris dari
rasa nyeri yang dialaminya, dan menjelaskan situasi dimana
rasa nyeri yang dirasakan menjadi lebih sakit atau lebih
berkurang (Adler et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).

3. GANGGUAN DISSOSIASI

o Definisi:
Gangguan Disosiatif adalah sekelompok gangguan
yang ditandai oleh suatu kekacauan atau disosiasi
dari fungsi identitas, ingatan atau kesadaran.
Para individu yang menderita gangguan disosiatif
tidak mampu mengingat berbagai peristiwa
pribadi penting atau selama beberapa saat lupa
akan identitasnya atau bahkan membentuk
identitas baru.
Gejala utama gangguan ini adalah adanya
kehilangan (sebagian atau seluruh dari integrasi
normal (dibawah kendali kesadaran) antara lain:

- ingatan masa lalu


- kesadaran identitas dan penginderaan
(awareness of identity and immediate
sensations)
- kontrol terhadap gerakan tubuh
o Macam-macamnya:
o Gangguan Identitas Disosiatif
o Amnesia Disosiatif
o Fugue Disosiatif
o Gangguan Depersonalisasi
o ETIOLOGI

Istilah gangguan disosiatif merujuk pada mekanisme,


dissosiasi, yang diduga menjadi penyebabnya.
Pemikiran dasarnya adalah kesadaran biasanya
merupakan kesatuan pengalaman, termasuk kognisi,
emosi dan motivasi. Namun dalam kondisi stres,
memori trauma dapat disimpan dengan suatu cara
sehingga di kemudian hari tidak dapat diakses oleh
kesadaran seiring dengan kembali normalnya kondisi
orang yang bersangkutan, sehingga kemungkinan
akibatnya adalah amnesia atau fugue.
Pandangan behavioral mengenai gangguan disosiatif
agak mirip dengan berbagai spekulasi awal tersebut.
Secara umum para teoris behavioral menganggap
dissosiasi sebagai respon penuh stres dan ingatan
akan kejadian tersebut.

Etiologi GID. Terdapat dua teori besar mengenai


GID. Salah satu teori berasumsi bahwa GID berawal
pada masa kanak-kanak yang diakibatkan oleh
penyiksaan secara fisik atau seksual. Penyiksaan
tersebut mengakibatkan dissosiasi dan terbentuknya
berbagai kepribadian lain sebagai suatu cara untuk
mengatasi trauma (Gleaves, 1996).
Teori lain beranggapan bahwa GID merupakan
pelaksanaan peran sosial yang dipelajari.
Berbagai kepribadian yang muncul pada masa
dewasa umumnya karena berbagai sugesti yang
diberikan terapis (Lilienfel dkk, 1999; Spanos, 1994).
Dalam teori ini GID tidak dianggap sebagai
penyimpangan kesadaran; masalahnya tidak terletak
pada apakah GID benar-benar dialami atau tidak,
namun bagaimana GID terjadi dan menetap.

Etiologi dari fugue disosiatif diduga psikologis. Faktor


predisposisinya adalah:
Keinginan untuk menarik diri dari pengalaman
yang menyakitkan secara emosional,
Berbagai stresor dan faktor pribadi, seperti
finansial, perkawinan, pekerjaan, atau
peperangan,
Depresi,
Usaha bunuh diri,
Gangguan organik (khususnya epilepsi),
Riwayat penyalahgunaan zat.

o Klasifikasi
Amnesia disosiasi
Fugue dissosiasi: ada amnesia dan melakukan
perjalanan tak tertentu.
Stupor disosiasi: kehilanagn gerak volunteer
Trance dan Kesurupan: kehilangan sementara
dari penghayatan diri dan kesadarannya
Gangguan motoric dissosiasi: ketidak mampuan
untuk menggerakkan seluruh/ sebagian
Konvulsi disosiasi: mirip kejang epileptic
Anesesia dan kehilanagn sensorik
Gangguan disosiasi campuran

Etiologi: amnesia karena masalah yang dihadapi


dianggap sebagai stressor yang terlalu berat. MPJ
berupa Represi.

A. Amnesia Disosiatif
Amnesia disosiatif adalah hilangnya memori setelah kejadian
yang penuh stres. Seseorang yang menderita gangguan ini
tidak mampu mengingat informasi pribadi yang penting,
biasanya setelah suatu episode yang penuh stres.
Pada amnesia total, penderita tidak mengenali keluarga dan
teman-temannya, tetapi tetap memiliki kemampuan bicara,
membaca dan penalaran, juga tetap memiliki bakat dan
pengetahuan tentang dunia yang telah diperoleh sebelumnya.

B. Fugue Disosiatif
Fugue disosiatif adalah hilangnya memori yang disertai
dengan meninggalkan rumah dan menciptakan identitas
baru.
Dalam fugue disosiatif, hilangnya memori lebih besar dibanding
dalam amnesia disosiatif. Orang yang mengalami fugue
disosiatif tidak hanya mengalami amnesia total, namun tiba-
tiba meninggalkan rumah dan beraktivitas dengan
menggunakan identitas baru.

C. Gangguan Depersonalisasi
Gangguan depersonalisasi adalah suatu kondisi dimana
persepsi atau pengalaman seseorang terhadap diri
sendiri berubah.
Dalam episode depersonalisasi, yang umumnya dipicu oleh
stres, individu secara mendadak kehilangan rasa diri mereka.
Para penderita gangguan ini mengalami pengalaman sensori
yang tidak biasa, misalnya ukuran tangan dan kaki mereka
berubah secara drastis, atau suara mereka terdengar asing
bagi mereka sendiri. Penderita juga merasa berada di luar
tubuh mereka, menatap diri mereka sendiri dari kejauhan,
terkadang mereka merasa seperti robot, atau mereka seolah
bergerak di dunia nyata.

D. Gangguan Identitas Disosiatif


Gangguan identitas disosiatif suatu kondisi dimana seseorang
memiliki minimal dua atau lebih kondisi ego yang
berganti-ganti, yang satu sama lain bertindak bebas. Menurut
DSM-IV-TR, diagnosis gangguan disosiatif (GID) dapat
ditegakkan bila seseorang memiliki sekurang-kurangnya dua
kondisi ego yang terpisah, atau berubah-ubah, kondisi yang
berbeda dalam keberadaan, perasaan dan tindakan yang satu
sama lain tidak saling mempengaruhi dan yang muncul serta
memegang kendali pada waktu yang berbeda.
Secara singkat kriteria DSM-IV-TR untuk gangguan identitas
disosiatif ialah:
a. Keberadaan dua atau lebih kepribadian atau identitas
b. Sekurang-kurangnya dua kepribadian mengendalikan
perilaku secara berulang
c. Ketidakmampuan untuk mengingat informasi pribadi yang
penting.

o TERAPI
Gangguan disosiatif menunjukkan, mungkin lebih baik
dibanding semua gangguan lain, kemungkinan relevansi
teori psikoanalisis. Dalam tiga gangguan disosiatif,
amnesia, fugue dan GID, para penderita menunjukkan
perilaku yang secara sangat meyakinkan menunjukkan
bahwa mereka tidak dapat mengakses berbagai bagian
kehidupan pada masa lalu yang terlupakan. Oleh sebab
itu, terdapat hipotesis bahwa ada bagian besar dalam
kehidupan mereka yang direpres.
Terapi psikoanalisis lebih banyak dipilih untuk
gangguan disosiatif dibanding masalah-masalah psikologis
lain. Tujuan untuk mengangkat represi menjadi
hukum sehari-hari, dicapai melalui penggunaan
berbagai teknik psikoanalitik dasar.
Terapi GID. Hipnotis umum digunakan dalam penanganan
GID. Secara umum, pemikirannya adalah pemulihan
kenangan menyakitkan yang direpres akan difasilitasi
dengan menciptakan kembali situasi penyiksaan yang
diasumsikan dialami oleh pasien. Umumnya seseorang
dihipnotis dan didorong agar mengembalikan pikiran
mereka kembali ke peristiwa masa kecil. Harapannya
adalah dengan mengakses kenangan traumatik tersebut
akan memungkinkan orang yang bersangkutan menyadari
bahwa bahaya dari masa kecilnya saat ini sudah tidak ada
dan bahwa kehidupannya yang sekarang tidak perlu
dikendalikan oleh kejadian masa lalu tersebut.
(courtesy of Ocha Elmut, KLD XII)

Penatalaksanaan dengan menggali kondisi fisik dan


neurologiknya. Bila tidak ditemukan kelainan
fisik/neurologik, perlu dijelaskan pada pasien dan
dilakukan pendekatan psikologik terhadap penanganan
gejala-gejala yang ada.
Barbiturat kerja sedang dari kerja singkat, seperti
tiopental dan natrium amobarbital diberikan secara
intravena, dan benzodiazepin dapat berguna untuk
memulihkan ingatannya yang hilang.
Pengobatan terpilih untuk fugue disosiatif adalah
psikoterapi psikodinamika suportif ekspresif.
(Piranti Lunak Smart Doctor V2.0 Dinkes Banyuasin)

11. Apa saja pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


penunjang yang dilakukan?
Jawab:

12. Apa penatalaksanaan cemas?


Jawab: