Anda di halaman 1dari 13

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Intake
Intake atau bangunan penangkap air adalah bangunan penyadap air atau
alat yang berfungsi untuk mengambil air dari sumbernya. Pada dasarnya intake
dilengkapi dengan kisi-kisi atau saringan dimana air baku masih dapat
melewatinya. Fungsi dari bangunan penangkap air adalah untuk menampung air
sementara sebelum dialirkan melalui pipa transmisi. Hal ini untuk menjamin
kuantitas air bersih sesuai dengan kebutuhan kota.
Dalam pererencanaan bangunan penangkap air perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :

Topografi sumber
Debit yang akan diambil
Faktor teknis dan ekonomis

Dalam penentuan lokasi intake ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar
intake dapat berfungsi dengan baik, yaitu :

arus deras.
Kuantitas mencukupi (sampai akhir batas perencanaaan).
Mudah diambil dan dicapai.
Lokasi intake sebaiknya di bagian hulu (sebelum tercemar oleh kegiatan
masyarakat). Tersedia air baku yang memenuhi syarat kualitas air baku.
Tidak terancam

Struktur intake dibangun dengan tujuan untuk menangkap air untuk


pengolahan air dan penyaluran air. Kapasitas intake itu dibuat pada kebutuhan hari
maksimum sampai 50 tahun kedepan.
Faktor penting dalam pembangunan sistem intake adalah :

Faktor keamanan dan reabilitas

III-1
Biaya operasi dan perawatannya murah

III-2
III-3

Kedalaman pengambilan intake bisa mencapai 20 m untuk menghindari


mikroalgae (yang dekat permukaan air), eceng gondok (dilapisan yang
hangat), minyak (akibat polusi).
Dasar studi yang jadi prioritas dalam memilih lokasi intake, yaitu :
1. Kualitas sumber air.
2. Kondisi iklim.
3. Fluktuasi debit air.
4. Tinggi air.
5. Kondisi geografi dan geologi.

Jenis intake dibedakan berdasarkan lokasinya, yaitu intake sungai,


intake danau atau reservoir, dan intake air tanah. Crib intake dapat dipakai
untuk air sungai yang dangkal, memakai saringan sehingga seringkali
harus dibersihkan agar tidak tersumbat.

a. Intake Sungai
Pemilihan lokasi pada sistem intake ini di dasarkan pada :
1. Akses untuk perawatan dan perbaikan ke lokasi intake mudah.
2. Perkiraan perubahan debit pada sungai.
3. Titik pengambilan di tempatkan pada titik dimana kualitas airnya
paling baik.
4. Kondisi geologisnya baik.
5. Gelombang air pada titik sadapnya paling kecil.
6. Memungkinkan untuk pengembangan fasilitas.
7. Meminimalkan efek negatif terhadap kehidupan air di sekitarnya.
Jika lokasi intake ditempatkan pada belokan sungai, maka penempatan
yang paling baik adalah pada bagian dalam belokan sungai karena apabila
ditempatkan pada bagian luar belokan, dikhawatirkan dapat runtuh oleh
pukulan air, pada bagian tersebut kandungan lumpurnya lebih banyak dan
alirannya lebih fluktuatif.

b. Intake Danau dan Reservoir


III-4

Tower intake dan submerged intake adalah dua tipe dari intake danau
dan reservoir. Submerged intake secara umum biaya pembangunannya
lebih murah dibandingkan tower intake. Inlet dari submerged intake
didesain dan ditempatkan pada kedalaman 20-30 ft. Saat ketinggian air
minimum, pengambilan air tetap pada debit maksimum.
Pemilihan lokasi untuk sistem intake ini didasarkan pada :

1. Perubahan temperatur air.


2. Kondisi pertumbuhan algae pada daerah tangkapan air.
3. Kondisi pada daerah tangkapan terhindar dari polusi.
4. Tinggi air pada saat banjir.

c. Intake air tanah

Air tanah meliputi, sumur artesis, sumur dangkal dan sumur dalam.
Dalam semua kasus, kualitas dan kuantitas air akan diketahui melalui
pengetesan air itu sendiri.
Langkah pertama dalam mendesain adalah menentukan kemampuan
aquifer yang berfungsi sebagai sumber air tanah. Studi yang harus
dilakukan adalah :
1. Mencari hubungan antara tersedianya air sungai dan air tanah dari lokasi
pada saat musim kemarau.
2. Kualitas air tanah pada saat musim kemarau.
3. Kualitas air yang dihasilkan, jumlah dan kondisi geologi disekitar sumur.
4. Temperatur dan kualitas dari air.
5. Efek dari limbah industri dan kemungkinan masuknya limbah tersebut
kedalam aquifer.

Pemilihan lokasi untuk intake air tanah harus melihat pada


kemungkinan terjadinya intrusi air laut, efek penurunan air tanah karena
adanya beberapa sumur, potensi terjadinya penyerapan di timbunan limbah
toksik industri.

Setelah lokasi intake terpilih, maka dilakukan pengetesan terhadap


kualitas air sumur dan kuantitas air apakah mencakupi. Batas aman
pengambilan air sebesar 60-70 % dari jumlah maksimum air tanah. Jika
kualitas air tanah secara umum sangat baik maka tidak perlu menggunakan
III-5

sistem pengolahan air kecuali klorinasi. Sehingga desain dapat dilakukan


untuk mendistribusikannya ke konsumen.

3.1.1 Kriteria Desain Intake


Beberapa kriteria desain untuk intake yaitu intake tower, shore intake, dan
intake crib.
1. Intake Tower
Kriteria intake tower
Lokasi
Sedekat mungkin dengan tepian air namun ditempatkan dimana
kedalaman air minimum 10 ft (3 m) dengan perkecualian intake
berukuran kecil.
Bentuk dan Ukuran
Bagian puncak tower mempunyai ketinggian minimal 5 ft (1,5 m) diatas
permukaan air tertinggi. Jembatan penghubung juga mempunyai
ketinggian yang sama. Diameter dalam tower harus cukup besar untuk
meletakan dan memperbaiki pintu intake.
Struktur
Material yang dipergunakan untuk membangun tower harus kuat dan
tahan lama seperti ranforced concread dan harus dibangun diatas
pondasi yang kokoh sehingga dapat bertahan saat banjir.
Penempatan pintu intake
Pintu intake harus tersedia untuk beberapa variasi kedalaman air. Pintu
terendah terletak 2 ft dari dasar, interval vertikal pintu-pintu tersebut
10-15 ft (3-4,5 m). Kecepatan aliran yang melewati pintu pada
ketinggian yang sama tidak boleh melebihi 1 fps (0,3 m/s). Di daerah-
daerah sring terjadi pembekuan air, kecepatan aliran diharapkan
dibawah 0,5 fps (0,15 m/s).
Bar screen harus tersedia pada setiap pintu. Terletak pada baian luar
katup, diameter batang barscreen 0,5 0,75 inchi yang terbuat dari baja
dan terletak 2-3 inchi antara satu dengan yang lainnya. Pada kondisi
normal kecepatan melewati bukaan screen tidak boleh melewati 2 fps
(0,1 m/s) untuk mencegah ikan kecil terhisap.
Fine screen untuk menyisihkan benda-benda terapung dan melindungi
pada sebagian besar kasus, jarak bukaan saringan berkisar antara 3/16
III-6

3/8 inchi (5-9,5 mm) dan kecepatan maksimal 2 ft. Penggunaan


pembersih hidrolis sangat direkomendasikan.

Gambar 3.1 Tower Intake

Sumber : S. Kawamura, integrated design of water treatment facilities, 1991

2. Shore Intake
Kriteria shore intake :
Lokasi
Ditempatkan diketinggian air minimum 6 ft (1,8 m)
Tipe
Shore intake tipikal : tipe sumur shipon, tersuspensi, terapung,
tergantung situasi.
Struktur
Tergantung tipe intake, tapi pada dasarnya sama dengan intake tower.

Gambar 3.2 shore intake

Sumber : S. Kawamura, integrated design of water treatment facilities, 1991


III-7

Intake Bay merupakan bagian intake yang berfungsi sebagai penahan


sampah atau partikel yang relatif kasar.
Kriteria intake bay :
Intake bay harus dapat dilewati aliran air dengan kecepatan
maksimum ,5 fps jika terdapat sampah atau es besar kecepatan,
dapat berkurang hingga di bawah 1 fps (0,3 m/s).
Barscreen dipasang pada intake bay pada kemiringan 60 dari
arah horizontal, diameter batang screen - inchi dengan
jarak batang 2-3 inchi. Kepatan aliran yang melalui saringan
tidak boleh lebih dari 2 fps (0,6 m/s).
Fine screen untuk menyisihkan benda-benda terapung dan
melindungi pada sebagian besar kasus, jarak bukaan saringan
berkisar antara 3/16 3/8 inchi (5-9,5 mm). Dibawah kondisi
normal, kecepatan maksimum aliran yang melalui bukaan
screen harus didapatkan pada ketinggian air minimum.

3. Intake Crib
Kriteria intake crib :
Lokasi
Lebih dari 10 ft (3 m) dari permukaan dan terletak dilokasi dimna
intake crib tidak akan terbenam oleh sedimen, terbawa aliran sungai
atau terganggu es.
Struktur
Terletak pada area dimana ketinggian air lebih dari 10 ft. Puncak intake
harus berada 3 ft dari dasar. Jika ketinggian air < 10 ft. Crib harus
diletakan dibawah dasar sungai sejauh 1-3 ft semua sisi crib harus
dilindungi dan ditembok batu/lempengan beton. Kecepatan maximum
aliran yang lewat 0,25-0,5 fps (0,08-0,15 m/s)

3.1.2 Pipa Intake


Berikut ini adalah kriteria pipa yang digunakan pada bangunan intake :
Ukuran
Dalam rangka mencegah akumulasi sedimen, ukuran pipa/conduit harus
memadai untuk dapat dilewati dengan kecepatan aliran maksimum 3-4
fps (0,9-1,2 m/s).
Perlindungan
III-8

Jika pipa atau conduit harus menyebrangi sungai atau danau menuju
puncaknya harus dilindungi. Kadang-kadang pecahan batu harus
diletakan diatas selokan penghubung sebagai pelindung.
Kemiringan
Untuk menghindari terjebaknya udara dalam saluran pipa/conduit harus
diletakan dalam kondisi miring.
Izin
Untuk membangun intake pipa/conduit yang melewati sungai, danau
dan reservoir dibutuhkan izin dari badan yang bersangkutan.

3.1.3 Saluran Intake


Dalam perencanaan saluran intake perlu diperhatikan fluktuasi muka air
minimum dan maksimum, materi tersuspensi dan banyaknya kotoran yang
mengapung. Dalam perencanaan saluran intake juga perlu diperhatikan kecepatan
pengaliran air agar tidak terjadi pengendapan pasir pada saluran dan materi yang
berukuran besar dapat tertahan pada bar screen. Kecepatan yang terlalu besar
tidak dapat dibenarkan karena dapat menggerus saluran. Penentuan kecepatan
juga perlu untuk merencanakan kehilangan tekan pada bar screen. Kecepatan yang
dianjurkan untuk saluran intake adalah 0,6 sampai 1,5 m/s dengan waktu detensi
di dalam intake sekitar 20 menit (Allayla 1978).
Penentuan dimensi intake didasarkan pada persamaan kontinuitas dan
Manning, yaitu :

Q=AV (3.1)

1 2/3
xR 1/ 2
V= n x S

(3.2)

Dimana:
n = Bilangan manning
S = Slope hidrolis
R = Jari-jari hidrolis
Q = Debit influen
A = Luas penampang saluran
V = Kecepatan aliran

3.2 Bar Screen


III-9

Screening adalah unit operasi yang pertama pada sistem pengolahan air
minum yang diletakan pada intake. Pada prinsipnya, alat ini bekerja dengan cara
menginterupsi aliran air. Unit ini berfungsi untuk menyisihkan partikel-partikel
besar yang terbawa oleh air agar alat-alat yang digunakan pada proses pengolahan
selanjutnya terlindungi dari berbagai gangguan dan kerusakan sehingga proses
dapat berjalan dengan lebih baik, mudah, dan cepat. Alat-alat tersebut misalnya
pompa, valve, dan pipa.
Alat yang digunakan pada proses screening ini disebut screen, memiliki
besaran bukaan tertentu (biasanya ukurannya seragam) yang mampu menahan
material kasar berukuran besar yang terdapat pada sumber air baku maupun air
buangan. Material kasar yang tertahan pada screen disebut sebagai screening,
dapat berupa kain, plastik, dahan kayu, logam, kardus, dll.
Dalam desain bar screen, debit yang digunakan dalam perhitungan adalah
debit maksimum supaya mampu menahan keadaan paling ekstrem. Pada saat debit
air minimum dapat terjadi endapan, namun pada saat kecepatan aliran naik lagi
(minimal 0,6 m/s) endapat tersebut akan terbawa. Selain itu kemiringan perletakan
screen juga harus memperhitungkan besar aliran. Jika aliran besar, maka screen
harus memiliki kemiringan yang lebih landai supaya bukaan lebih besar dan lebih
mampu menahan aliran air dan sampah. Namun dengan demikian penggunaan
bahan menjadi lebih banyak dan biaya lebih besar.
Headloss air yang melalui screen dapat diperoleh melalui tabel manufaktur
atau menggunakan rumus sebagai berikut :

1
Hl = Q2 (3.3)
Cx
2 gA

Dimana:
H = headloss (m)
C = koefisien aliran pada screen
G = gravitasi (m/s2)
Q = debit aliran yang melalui screen (m3/s)
A = luas efektif screen dibawah permukaan air (m2)
Harga C dan A tergantug pada faktor-faktor desain screen seperti ukuran
lubang, diameter kawat/balok, susunannya, serta persen dari luas area. Harga C
untuk screen yang bersih adalah 0,6. Headloss yang melalui screen bersih relatif
III-10

tidak berarti, yang terpenting adalah headloss setelah operasi, yang tergantung
pada ukuran serta jumlah padatan dalam air, ukuran lubang, dan metode serta
frekuensi pembersihan.
Kehilangan tekanan air pada bar screen dapat dihitung berdasarkan
formula Kriscmer (parker, 1978), yaitu :
4 /3
h=x ( b/w ) x hv x sin (3.4)

V 2s
hv = 2g (3.5)

Dimana:
h = kehilangan tekanan pada bar screen (m)
w = ukuran bar maksimum yang langsung kontak dengan air (m)
b = jarak bukaan antar batang
= faktor bentuk dari batang atau faktor krishmer
= sudut kemiringan bar screen
hv = velocity head
Vs = kecepatan air melalui bar screen (m/det)
g = percepatan gravitasi (m/det)
Q = debit aliran air (m3/det)

3.2.1 Pembersihan Screen


Ada dua metode umum pembersihan screen :
Hand Cleaned Bar Racks (manual menggunakan tangan manusia)
Biasanya dilakukan sebelum pompa pada unit pengolahan yang tergolong
kecil. Tapi akhir-akhir ini unit pengolahan air yang kecil sekalipun sudah
menggunakan pembersihan bar secara mekanis. Selain bertujuan
mengurangi jumlah pekerja manual yang dibutuhkan untuk membersihkan
screen dan menyisihkan sampah yang tertahan pada bar, juga untuk
mencegah terjadinya banjir dan luapan air akibat penyumbatan (clooging).
Jika cara manual ini yang dipilih untuk digunakan, maka panjang bar
racks tidak boleh melebihi jangkauan tangan, hanya sekitar 10 ft (3 m).
Ukuran bar racks biasanya tidak kurang dari 3/8 inch (10 mm) tebalnya,
dan 2 (50 mm) dalamnya.
Mechanically cleaned (tipe yang paling umum)
Ada empat tipe utama pembersihan screen dengan cara mekanis :
a. Chain-operated, tipe yang paling umum
III-11

Terbagi lagi menjadi kategoro-kategori berdasarkan arah penggarukan,


dari depan (uptream) atau dari belakang (downstream), juga
berdasarkan alah kembalinya penggaruk kedasar rack, apakah dari
depan atau belakang. Setiap tipe memilki keuntungan dan kerugian
masing-masing walau pada umumnya cara oprasinya sama. Tipe
front-return rack adalah tipe yang lebih baru dan lebih efisien dalam
menahan solid yang tertahan, namun tidak kasar dan mudah tersumbat
oleh solid di dasar rack.

b. Reciprocating racks
Menggunakan alat penggaruk yang bergerak menirukan gerak
manusia yang menggaruk bar rack tersebut. Penggaruk bergerak ke
dasar rack, berpindah mengikuti batang dengan arah berlawanan, naik
ke atas, menuju tempat materi tersisihkan (screenings). Keuntungan
penggunaan tipe ini adalah kemudahan pembersihan dan pemeliharaan
racks karena dapat dilakukan diatas tanpa perlu melakukan
pengeringan saluran terlebih dahulu. Kerugiannya adalah penggunaan
penggaruk hanya satu sehingga kapasitasnya dalam menangani
muatan screenings yang banyak dan berat jadi terbatas.
c. Catenary
Pada front-cleaned front-returned rack catenary, pengaruk menahan
rack dengan berat rantai. Keuntungannya adalah mekanisme gerakan
tidak memiliki gigi roda yang digabung.
d. Cable
Tipe ini adalah jenis front-cleaned front-returned yang menggunakan
penggaruk berporos yang digerakan naik turun dalam rel intasan oleh
kabel dan drum. Penggaruk diturunkan dengan memanfaatkan gaya
gravitasi, memiliki sumbu untuk menghubungkan bar rack, dan
dinaikan dengan kabel. Keuntungannya adalah hanya penggark itu
sendiri saja yang alat mekanis yang memasuki air. Kerugiannya adalah
terbatasnya kapasitas penggarukan dan masalah operasional alat serta
pemeliharaan alat, antara lain yang berkaitan dengan kabel.
III-12

Penentuan cara pembersihan screen sangat tergantung pada karakteristik


air, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah :

Jumlah material yang yang tersisihkan


Jika jumahnya sedikit, maka dapat dibersihkan secara manual, namun
jika jumlahnya banyak sehingga menggunakan alat/mekanis.
Pertimbangan praktis
Jika flow besar, bar screen biasanya besar, karena itu sebaiknya
dibersihkan secara otomatis supaya lebih efisien.
Pertimbangan ekonomis
Harus diperhitungkan mana yang paling baik dan memenuhi kriteria
desain dan lebih murah baik biaya instalasi awal, biaya operasi, maupun
biaya pemeliharaan.

3.2.2 Kriteria Desain Bar Screen

Tabel 3.1 Kriteria Desain Bar Screen

N
Keterangan kriteria desain
o
1 Faktor kishmer ()
-bentuk bulat 1.79
-setengah lingkaran 1.67
-lingkaran 1.83
-persegi 2.42
2 lebar penampang batang (W) 5-15 mm
3 kecepatan aliran air (Vs) 0.3-0,6 m/s
sudut antara kisi-kisi dengan bidang
4 45-60
horizontal ()
5 jarak antara kisi-kisi (b) 25-50 mm
6 lebar saluran pembawa 75 mm
7 panjang penampang batang (p) 25-75 mm
8 kecepatan melalui bar screen (Vs) 0.9 m/s
9 dimensi bar screen
-lebar saluran n x w + (n + 1) x b
-jumlah batang n
-lebar bukaan total jumlah bukaan antar batang
x jarak bukaan antar batang
-panjang batang yang terendam r
-kedalaman saluran sebelum melalui kisi R
III-13

N
Keterangan kriteria desain
o
-pada Qmax/sin
Sumber : Metcalf and eddy, wastewater engineering, McGraw Hill, 2003

Anda mungkin juga menyukai