Anda di halaman 1dari 35

Petunjuk Pelaksanaan Kesiapan

Tanggap Darurat dan Evakuasi


Pekerja Akibat Gangguan/
Bencana di Uker BRI
DEFINISI BCM DAN FASE BENCANA
Bussiness Continuity Management (BCM)/ Manajemen Kelangsungan Usaha
(MKU) yaitu suatu mekanisme formal / rencana yang merupakan kombinasi
antara strategi, kebijakan, prosedur dan organisasi yang dikembangkan untuk
memastikan kelangsungan operasional dari fungsi-fungsi usaha yang kritikal pada
tingkat layanan tertentu pada saat terjadinya gangguan atau bencana. (Sumber:
Basel II,SE BCM/MKU).

Sebelum Bencana Bencana Pasca Bencana

Masa Rilis Contingency Recovery


/ Darurat

RPB RKU

Prevention Emergency Response Contingency & Continuity


1. Sosialisasi BCM 1. Tanggap darurat 1. Mobilisasi ke alternate
kepada Uker atas bencana/ site.
2. Penyusunan gangguan 2. Pengaktifan alternate
dokumen BCM 2. Menyelamatkan site.
3. Resosialisasi pekerja dan 3. Pemulihan sistem IT
oleh Fungsi MR stakeholder yang 4. Pemulihan data dan
kepada pekerja ada di dalam transaksi yang hilang.
4. Persiapan gedung 5. Melaksanakan BPO
alat mitigasi contingency/ offline.
bencana/ 6. Transaksi yang tertunda
gangguan akibat bencana.
5. Uji Coba 7. Pemulihan aktivitas di
lokasi utama
8. Kembali ke lokasi utama
9. Evaluasi dan pelaporan

2
Pentingnya BCM bagi Perusahaan

Tsunami Aceh 2004: 5 Kantor Cabang rusak dan kerugian sampai


ratusan Milyar (kredit&operasional)
Gempa Yogyakarta 2006: Hapus buku kredit Rp. 140M, 2 KC dan 31
BRI Unit rusak.
Erupsi Merapi 2010: 16 BRI Unit tidak operasi, kerugian kredit s.d Rp.
250 M

Untuk mengurangi dampak bencana/gangguan tsb, maka Perusahaan


membutuhkan serangkaian kegiatan terstruktur yang tercakup dalam
BUSINESS CONTINUITY MANAGEMENT
Sehingga diharapkan:

1. Perusahaan mampu melindungi/mengurangi korban pekerja, nasabah dan


stakeholder lain yang berada di dalam gedung Uker.
2. Unit Kerja dalam perusahaan mampu berkoordinasi untuk melakukan
recovery aktivitas-aktivitas yang terdampak kemudian melanjutkan usahanya
dalam rangka melayani kebutuhan nasabah.
3. Perusahaan mampu melindungi data dan sistem dengan mengaktifkan
Disaster Recovery Plan (dalam hal ini DRC).
4. Perusahaan mampu meminimalkan kerugian dari dampak bencana/
gangguan.

3
Pengertian dan Istilah
Aktivitas Bisnis/ Operasional
Terpenting (Kritikal) adalah Adalah suatu
aktivitas bisnis/operasional yang jika
terganggu atau tidak tersedia pada saat
tertentu dapat membahayakan kemampuan
dan kelangsungan Unit Kerja sehingga
menjadi prioritas untuk segera dipulihkan.
Analisis Dampak Usaha (ADU)/
Business Impact Analysis (BIA) adalah
analisis untuk mengukur dampak kuantitatif
dan/atau kualitatif dari aktivitas-aktivitas
bisnis/operasional yang ditimbulkan dari adanya bencana/gangguan.
Bencana (Disaster) adalah suatu peristiwa/kejadian yang diakibatkan dari
kecelakaan, termasuk kegagalan teknologi, alam, atau unsur kesengajaan
yang dapat mengancam atau mengganggu proses operasional dalam
kurun waktu yang cukup untuk memberikan dampak signifikan, atau
mengakibatkan kegagalan pada aktivitas usaha Bank.
Data Center (DC) adalah suatu sarana (software, hardware dan infrastruktur)
yang dirancang untuk dapat menyelenggarakan operasional TSI BRI
sehingga kesinambungan operasional TSI BRI dapat dijaga dalam rangka
mendukung kesinambungan bisnis BRI.
Disaster Recovery Planning (DRP) adalah suatu rencana penanggulangan
yang telah teruji untuk menjamin kelangsungan kegiatan Bank dan
pemulihannya apabila terjadi gangguan/bencana terhadap operasional
rutin TSI.
Disaster Recovery Center (DRC) adalah suatu sarana yang dirancang untuk
menyelenggarakan operasional TSI BRI guna menganggulangi/memulihkan
keadaan ketika operasional BRI di DC mengalami gangguan/bencana,
sehingga kesinambungan operasional TSI BRI dapat dijaga.

4
Diagram Kontak (Call Tree) adalah
daftar nama, nomor yang dapat dikontak,
dan jabatannya dalam struktur organisasi
yang merupakan informasi penting dalam
prosedur dan proses evakuasi.
Penilaian Risiko Ancaman dan Bencana
(PRAB)/Disaster Risk and Threat
Assessment adalah proses identifikasi
ancaman bencana yang ada terhadap
kelangsungan usaha sehingga BRI
mampu mengembangkan rencana
penanggulangan dan menerapkan
mitigasi yang sesuai untuk mengurangi
risiko.
Rencana Penanggulangan Bencana (RPB)/Emergency Response Plan
adalah pedoman bagi Tim Manajemen Krisis dalam merespon dan
mengambil tindakan secara efektif dan tepat waktu pada saat menghadapi
gangguan/bencana.
Rencana Kelangsungan Usaha (RKU)/Business Continuity Plan adalah
pedoman bagi Tim Manajemen Krisis untuk menghadapi dan memulihkan
aktivitas-aktivitas bisnis/operasional dari bencana/gangguan yang dapat
menghambat kelancaran berbagai aktivitas usaha normal BRI.
Strategi Pemulihan (Recovery Strategy) adalah proses penentuan strategi
yang efektif untuk mempertahankan kelangsungan usaha dalam waktu yang
paling minimal setelah terjadi gangguan / bencana.
Tim Pemelihara Manajemen Kelangsungan Usaha (TPMKU) adalah tim
yang memelihara program MKU sebelum terjadi gangguan/bencana atau
dalam situasi normal.

5
Tim Manajemen Krisis (TMK) adalah tim yang yang melakukan hal-hal
penting, seperti identifikasi bencana, keamanan dan keselamatan jiwa,
pemulihan operasional termasuk koordinasi dengan Unit Kerja dan instansi
terkait pada saat terjadi gangguan/bencana.
Tim Pemulihan Kelangsungan Usaha (TPKU) adalah sub Tim Manajemen
Krisis yang bertugas untuk melaksanakan kembali aktivitas operasional
terutama aktivitas bisnis/operasional terpenting di Unit Kerja.
Tim Pemulihan Teknologi (TPT) adalah sub Tim Manajemen Krisis yang
mengkoordinasikan dan mengelola usaha pemulihan terhadap sistem,
aplikasi dan fungsi telekomunikasi pada Unit Kerja BRI yang terkena
gangguan/bencana.
Tim Pemulihan Fasilitas (TPF) adalah sub Tim Manajemen Krisis yang
bertanggungjawab untuk menilai kerusakan yang terjadi pada fasilitas
BRI yang diakibatkan oleh gangguan/bencana, melaksanakan upaya
pemulihan fasilitas utama dan menggunakan hasil penilaian tersebut sebagai
rekomendasi bagi TMK dalam menentukan waktu untuk kembali menuju
fasilitas utama.

6
Struktur Koordinasi bcm di bri
Struktur TPMKU (Kondisi Sebelum Bencana / Normal)
Dewan Pengawas
Tugas dan tanggung jawab
DIREKSI perwakilan FMR Uker:
1. Melaporkan aktivitas BCM
kepada Koordinator TPMKU
masing-masing
Ketua 2. Menyusun dokumen-dokumen
DIREKTUR KEPATUHAN BCM (PRAB, SK TMK, Call Tree,
Alternate Site, dll)
Audit 3. Mengusulkan kebutuhan sumber
KEPALA AIN
daya untuk aktivitas BCM
KOORDINATOR 4. Memfasilitasi aktivitas/program
NASIONAL BCM (sosialisasi, ujicoba
Kepala Divisi Manajemen
Risiko evakuasi).

PERWAKILAN DIVISI/DESK/AIN/
KCK
FUNGSI MR MASING - MASING

Tugas dan tanggung


jawab Kabag MRK: KOORDINATOR WILAYAH
1. Internalisasi budaya KABAG MR KANWIL
tanggap bencana
2. Membantu TMK
Kanwil dalam situasi
bencana PERWAKILAN PERWAKILAN
PERWAKILAN PERWAKILAN
3. Mengkoordinasikan KANWIL SENDIK KANINS KANCA
aktivitas BCM di FUNGSI MR KASENDIK INSPEKTUR FUNGSI MR
KW KC
Kanwil, Kanins, Sendik,
dan KC binaan.
4. Mengelola anggaran training, sosialisasi dan uji coba BCM di Uker binaan.
5. Mengkoordinasikan penyusunan dan pengkinian dokumen di Uker binaan.
6. Dst.

7
Struktur Koordinasi BCM di bri
Struktur TMK (aktif dalam kondisi kritis)
Eskalasi TMK

Sebelum Bencana Pasca Bencana

Bencana

Masa Rilis Contingency Recovery


Aktivitas yang / Darurat
dilakukan oleh
TPMKU RPB RKU
Pengaktifan Tim Manajemen Krisis (TMK)

Ketua TMK Jabatan KW KC Kanins Sendik KCP Unit


Ketua Pinwil Pinca - - - -
MO/ MBM/
Wakil WPO Inspektur Kasendik Pincapem
Wakil Ketua AMO AMBM

Bid. Bid. Bid. Bid. Bid. Tim


Keuangan Hukum Komunikasi SDM Logistik Pemulihan

TPKU TPT TPF

Pinwil/ Kabag
Kabag Kabag Logistik Kabag
KW LO KW Pinwil Kabag SDM Kasendik/ Logistik
OPS & Umum OPS
Inspektur & Umum
MO/ Petugas
KC AMO LO KW Pinca SPO SPO SPO
AMO IT

8
Struktur Koordinasi TMK
Struktur TMK bersifat pasif dan berfungsi/ diaktifkan pada saat terjadi
gangguan/ bencana untuk melakukan langkah-langkah yang perlu diambil
meliputi identifikasi gangguan/ bencana, keamanan dan keselamatan jiwa
pekerja, nasabah dan stakeholders yang berada di lingkungan Unit Kerja
BRI, serta pemulihan operasional termausk koordinasi dengan Uker dan
Instansi yang terkait.

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB


KETUA TMK
1. Mengkoordinasikan/memimpin serta memantau
upaya pemulihan secara keseluruhan.
2. Membuat deklarasi adanya gangguan/bencana
3. Menyetujui pengeluaran biaya penanganan
gangguan/bencana.
4. Menyetujui komunikasi terhadap media dan publik.
5. Menyetujui/memulai pengumuman gangguan/
bencana melalui prosedur diagram kontak (call tree).
6. Menyetujui rencana kembali ke lokasi utama.

9
WAKIL KETUA
1. Memberikan arahan operasional serta
melakukan monitoring pelaksanaan
penanganan gangguan/bencana di
lapangan.
2. Memberikan laporan kepada Ketua
mengenai perkembangan situasi penanganan
gangguan/bencana

KOORDINATOR UTAMA TMK

1. Mengkoordinasikan pelaksanaan proses pemulihan


serta memberikan rekomendasi keputusan kepada
Ketua TMK atas situasi yang terjadi di lapangan.
2. Mengkoordinasikan TMK dengan Tim-Tim Pemulihan
untuk mencapai sasaran penanganan pemulihan
terhadap Unit Kerja yang terkena gangguan/
bencana.
3. Mengelola anggaran pengadaan back-up
peralatan IT dan peralatan khusus yang dibutuhkan
dalam pelaksanaan MKU untuk Unit Kerja Kantor
Wilayah dan Kantor Cabang.

10
TPKU
1. TPKU akan dipimpin oleh pemimpin tertinggi di
Unit Kerja dan/atau wakilnya (atau pekerja lain
yang ditunjuk sebagai pengganti).
2. Mengkomunikasikan RKU kepada anggota Unit
Kerja.
3. Memastikan ketersediaan dan kelengkapan data
non-elektronis.
4. Mengkoordinasikan penjadwalan pekerja di
lokasi alternatif.
5. Melakukan koordinasi dengan TPT untuk
memastikan bahwa aplikasi terpenting (kritikal) di
lokasi alternatif telah dapat berfungsi.
6. Melakukan koordinasi dengan TPF mengenai
rencana penempatan kembali lokasi utama.
7. Melaporkan situasi terkini kepada Ketua TMK
melalui media tercepat yang tersedia.

TPT
1. TPT mengkoordinasikan dan mengelola usaha
pemulihan terhadap sistem, aplikasi, dan fungsi
telekomunikasi pada Unit Kerja BRI.
2. Pedoman pelaksanaan pemulihan teknologi dapat
mengacu pada dokumen Disaster Recovery Plan
(DRP).
3. Menyediakan bantuan teknis (technical support)
terkait dengan operasional PC dan perangkat keras
teknologi lainnya.
4. Menyediakan dukungan teknologi selama rentang
waktu gangguan/bencana

11
TPF
1. Menentukan Pusat Komando (PK) dan alternatifnya yang dinilai aman sebagai
tempat berkumpul dan berfungsi sebagai pusat koordinasi anggota TMK
2. Menilai kerusakan yang terjadi pada fasilitas BRI yang diakibatkan dari suatu
gangguan/bencana.
3. Melaksanakan upaya pemulihan fasilitas utama dan menggunakan hasil
penilaian tersebut sebagai rekomendasi bagi TMK dalam menentukan waktu
untuk kembali menuju fasilitas utama.
4. Mengkoordinasi pelaksanaan evakuasi.
5. Mendata fasilitas BRI yang mengalami kerusakan dan yang dapat diselamatkan.
6. Melakukan koordinasi dengan TPT dalam melakukan penilaian kerusakan
peralatan teknologi.
7. Melaporkan kepada TMK tentang kondisi fasilitas, termasuk dokumen penting.
8. Menyusun dan melaporkan kondisi pekerja/keluarga pekerja yang menjadi
korban kepada Anggota Bidang SDM.
9. Melakukan koordinasi dengan pengelola gedung dan aparat keamanan
untuk memastikan keamanan atas seluruh fasilitas infrastruktur.
10. Mengkoordinasi kesiapan fasilitas infrastruktur di lokasi utama.
11. Mendokumentasikan atau mengambil gambar fasilitas yang terkena
gangguan/bencana untuk tujuan asuransi serta pendataan.

ANGGOTA BIDANG KEUANGAN


1. Mengelola pengeluaran biaya pemulihan
gangguan/bencana.
2. Melaksanakan koordinasi pembiayaan dengan
pihak internal maupun eksternal.
3. Mengusulkan biaya pemulihan gangguan/
bencana kepada Ketua TMK berdasarkan usulan
yang telah diberikan oleh Tim-Tim Pemulihan.

12
ANGGOTA BIDANG HUKUM
1. Menyediakan advis hukum kepada manajemen
dan pekerja.
2. Melakukan koordinasi penasehat hukum
eksternal yang ditunjuk oleh BRI
3. Secara kontinyu melakukan analisis dan
interpretasi mengenai permasalahan hukum,
tanggung jawab, dan kontrak perusahaan.
4. Meyakinkan kesesuaian proses dan prosedur
komunikasi eksternal.

ANGGOTA BIDANG KOMUNIKASI


1. Bertindak sebagai spokes person utama/pihak yang menyampaikan
informasi kepada pihak yang berkepentingan termasuk pers beserta
medianya .
2. Menyiapkan materi komunikasi, publikasi, press release untuk pihak
eksternal.
3. Mengkoordinasikan penyampaian informasi kepada internal BRI
menyangkut segala sesuatu yang terkait dengan gangguan/bencana.
4. Mengkoordinasikan penyampaian informasi yang terkait dengan
perkembangan situasi terkini kepada
pihak regulator yang berkepentingan
(Bank Indonesia, Bapepam, Kementrian
BUMN, dll) khususnya informasi
mengenai aktivitas perbankan,
pengalihan aktivitas operasional Unit
Kerja dan pihak/pejabat yang ditunjuk
mewakili BRI di daerah gangguan/
bencana.
5. Memberikan informasi situasi terkini
melalui sarana penyampaian informasi
seperti e-mail, public folder, website BRI
ataupun pusat informasi lainnya.

13
ANGGOTA BIDANG SDM
1. Mengelola data terkini mengenai
jumlah pekerja dan pihak eksternal
antara lain : vendor, kontraktor,
nasabah, dan lainnya yang
berada di gedung/ lokasi BRI
pada saat gangguan/bencana.
2. Mengkoordinasikan kelangsungan
komunikasi kepada anggota
keluarga pekerja.
3. Mengkoordinasikan penyediaan
bantuan darurat untuk pekerja
yang terkait dengan situasi gangguan/bencana, seperti kesehatan,
keamanan, trauma kejiwaan dan stres.
4. Menyediakan data terkini mengenai kebutuhan pekerja dan
mengkoordinasikan seleksi pekerja yang mampu terlibat dalam
melaksanakan aktivitas pemulihan.
5. Mengkoordinasikan pemenuhan pekerja sementara untuk membantu upaya
pemulihan dan kelangsungan usaha.
6. Mengkoordinasikan penyelesaian klaim kompensasi pekerja (termasuk antara
lain namun tidak terbatas pada tunjangan khusus untuk pekerja sementara,
bantuan untuk pekerja dan keluarga, pemberian cuti khusus dan lain-lain)
7. Melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk penyediaan tenaga
relawan dan kesehatan (internal/eksternal) untuk membantu upaya
pemulihan. Dalam hal penyediaan relawan, Anggota Bidang SDM
mengutamakan penyediaan relawan eksternal
8. Penyediaan relawan (internal/eksternal) untuk membantu upaya pemulihan,
TMK Kanwil dan TMK Kanca dapat melakukan koordinasi dengan TMK
pada tingkat diatasnya.

14
ANGGOTA BIDANG LOGISTIK
1. Mengkoordinasikan bantuan darurat penyediaan
sandang, pangan, tempat tinggal, sarana
transportasi, dan atau lainnya yang dibutuhkan
dalam situasi gangguan/bencana.
2. Mengkoordinasikan penyediaan kebutuhan sumber
daya minimumyang dibutuhkan yang terkait
dengan kelangsungan usaha saat gangguan/
bencana.
3. Mengkoordinasikan penyediaan kebutuhan logistik
dan transportasi pekerja ke tempat evakuasi
dan kembali ke fasilitas utama (setelah kejadian
gangguan/bencana).

15
TAHAPAN PEMULIHAN unit kerja
RPB rku
TAHAP 1 TAHAP 2 TAHAP 3 TAHAP 4 TAHAP 5 TAHAP 6 TAHAP 7
Tanggap Mobilisasi Pengaktifan Pengaktifan Pemulihan Pemulihan Kembali
darurat Menuju Lingkungan Aplikasi data pada aktivitas- kelokasi
atas Lokasi kerja pada pada Lokasi aktivitas utama
gangguan Alternatif lokasi Lokasi Alternatif bisnis/ops
/ bencana Alternatif Alternatif

Aktifitas Pemulihan Usaha


Mobilitas tim Mengaktifkan
Melaksanakan Input &
pemulihan ruang kerja &
BPO Validasi
kelangsungan mengelola proses
Contingency Data
usaha tertunda
bencana

Deklarasi Pemulihan Jaringan


Bencana Sinkronisasi &
Komunikasi dan Data melanjutkan
operasional
unit kerja

Aktifitas Pemulihan teknologi


Menghasilkan
Pemulihan Validasi
Mobilitas tim kembali
Sistem Tl. integritas
pemulihan transaksi &
Aplikasi sistem &
teknologi data yang
dan Data aplikasi
hilang
Dokumen
& Data Transaksi yang tertunda / belum diproses
Penting
Jalur Pemulihan Recovery Time (Waktu Pemulihan) Memulai
kembali Pemulihan

Maximum Allowable Outage (MAO)

16
PEMERIKSAAN KESIAPAN TERHADAP KEADAAN
DARURAT
1 Persiapan peralatan darurat baik peralatan medis, makanan,
penyelamatan dll

2 Daftar nomor telepon penting setempat (polisi, Damkar, rumah sakit


dll)

3 Terdapat Pengawas Lantai yang mengerti dan paham prosedur


evakuasi

4 Menyiapkan backup pengganti Pemimpin Uker untuk berkomunikasi


kepada semua pekerja

5 Penyiapan alternate site dan perlatan penunjang alternate site, serta


akses menuju alternate site

6 Menetapkan kesamaan pemahaman dalam kewenangan pembuatan


putusan selama bencana

7 Daftar nomor telepon pekerja di Call Tree yang update

8 Pusat Komando Tim TMK dan Tempat Berkumpul (Assembly Points)

9 Pelatihan dan Uji Coba rutin

17
CRITICAL POINT PEMERIKSAAN KESIAPAN
TERHADAP KEADAAN DARURAT
1. Menentukan hirarki pengambilan keputusan,
misal jika Ketua dan penggantinya tidak ada,
wajib ditentukan pekerja lain yang diberi
wewenang untuk mengambil keputusan.
2. Memastikan bahwa Alternate Site telah
siap dan dapat digunakan untuk proses bisnis/
operasional, baik dari pekerja, peralatan dan
akses menuju alternate site.
3. Lokasi berkumpul (Assembly Points) harus diketahui oleh seluruh Pekerja.
4. Apabila gedung merupakan gedung sewa/ dikelola oleh Pengelola
Gedung, maka Uker memastikan bahwa Pengelola Gedung memiliki manual
penanganan keadaan darurat.
5. Pengawas lantai (Warden) wajib mengetahui cara evakuasi dalam keadaan
darurat dan bertanggung jawab terhadap keamanan dan kelancaran proses
pelaksanaan evakuasi pekerja sampai semua pekerja berada di tempat
aman/ tempat berkumpul.
6. Tersedianya Buddy/ pendamping yaitu seorang pekerja yang ditunjuk untuk
membantu pekerja lain yang disabilitas atau membutuhkan.
7. Peralatan darurat yang penting untuk keselamatan pekerja wajib disiapkan.
Peralatan darurat yang disiapkan dapat disesuaikan dengan pola bencana
yang sering terjadi di aera tersebut. Misalkan banjir, maka wajib disiapkan
peralatan darurat berupa perahu, pelampung, tenda pengungsi, Peralatan
medis P3K, cadangan makanan.
8. Grab Bag untuk pekerja yang berisikan standar perlengkapan yang
tersedia dan perlu dimasukkan yaitu seperti masker, debu, senter, media
penyimpanan/ pengamanan dokumen seperti CD, flashdisk,
external disk)
9. Menyiapkan komunikasi dalam keadaan darurat baik internal
atau eksternal, untuk internal agar dipastikan bahwa Call Tree
pekerja update dan nomor tersebut dapat dihubungi. Sedangkan
untuk komunikasi eksternal, agar ditekankan kepada seluruh
pekerja bahwa mereka tidak berwenang memberikan komentar
mengenai insiden mengatasnamakan BRI kecuali Ketua Tim TMK
atau pihak yang diberikan wewenang (spokesperson).

18
PROSEDUR TANGGAP DARURAT
SEBELUM BENCANA
1. TPF harus memastikan bahwa gedung Unit Kerja BRI telah
memiliki standar keamanan dan keselamatan jiwa yang
memadai.
2. TPF berkoordinasi dengan Pengelola gedung dan pihak
berwenang (Polisi, Pemadam kebakaran, Rumah Sakit, BMG,
PMI, SAR, dll.), serta Pemimpin Unit Kerja BRI terkait untuk
menyusun rencana penanggulangan bencana (RPB)
3. TPF harus memastikan bahwa telah tersedia gambar gedung
yang memperlihatkan tata letak (layout) semua peralatan
darurat, jalur evakuasi di dalam dan luar gedung serta tempat
untuk berkumpul (assembly area).

SAAT BENCANA

1. Ketua TMK setempat harus menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai


ketentuan
2. TMK memprioritaskan keamanan dan keselamatan jiwa pekerja, nasabah
dan stakeholders lainnya yang berada di lokasi Unit Kerja BRI dan
melindungi aset serta pemulihan bisnis di Unit Kerja BRI.
3. TMK mengkomunikasikan kepada seluruh pekerja BRI yang terkena bencana,
dengan menggunakan peralatan yang tersedia seperti SMS, e-mail, BRI hot
line, dll.

TPF : TIM PEMULIHAN FASILITAS


TMK : TIM MANAJEMEN KRISIS

19
PELAKSANAAN RENCANA PENANGGULANGAN
BENCANA (RPB)
Sumber Utama
Terjadi gangguan/ Nasabah Pihak Pekerja Pengelola Polisi
bencana Eksternal lain BRI Gedung

No
Proses Resolusi Proses Resolusi Eskalasi Ke TPF
Standar adalah Standar
proses penyelesaian
masalah dalam
situasi normal tanpa Yes
perlu mengaktifkan
TMK
Melaporkan Pada Melakukan evakuasi
Ketua TMK berdasarkan prosedur

20
PELAKSANAAN RENCANA PENANGGULANGAN
BENCANA (RPB)

1. Nasabah/Pekerja/ Pihak eksternal yang mengetahui ada gangguan/


bencana menginformasikan kepada pekerja Uker/ Ketua TPF.
2. Apabila gangguan/ bencana yang dilaporkan hanya memerlukan proses
resolusi standar (tanpa perlu mengatifkan TMK), maka pekerja dapat
melaksanakan tugasnya setalah mendapatkan informasi dari TPF.
3. TPF berkoordinasi dengan Warden (pengawas lantai) untuk melakukan
evakuasi
4. Warden (pengawas lantai) mengarahkan pekerja, nasabah dan pekerja
pihak ketiga terkait yang terluka menuju area perawatan medis darurat /
tempat berkumpul (Assembly Point)
5. TPKU mengistruksikan penyelamatan data penting, formulir atau sumber daya
lain yang dapat diselamatkan jika memungkinkan
6. TPF berkoordinasi dengan anggota bidang logistik melaksanakan penilaian
awal pada fasilitas BRI yang terkena dampak gangguan/bencana untuk
menentukan kesiapan kelangsungan usaha
7. Pengaktifan TMK dan memperoleh panduan menuju lokasi pusat komando
serta berkoordinasi dengan Tim-Tim Pemulihan (TPKU,TPT, TPF) untuk
mengkaji lebih dalam gangguan/bencana

21
KRITERIA DEKLARASI BENCANA OLEH KETUA TMK
Kriteria
Indikator Jenis Bencana
Normal Waspada Bencana

Jiwa Semua Bencana 1. Tidak ada korban 1. Terdapat korban 1. Terdapat korban
jiwa atau jiwa sampai jiwa sampai >
2. Mayoritas pekerja dengan 30% dari 30% dari total
bisa bekerja; atau total pekerja atau pekerja atau
3. Untuk bencana 2. Tidak terdapat 2. Tidak terdapat
asap, status ISPU korban jiwa/ korban jiwa
=0-50 mayoritas pekerja namun semua
4. Untuk bencana dalam kondisi pekerja dalam
asap, nilai kon- trauma atau kondisi trauma
sentrasi partikulat 3. Key person atau
udara dari BMKG menjadi korban 3. Key person
kondisi terkini namunterdapat menjadi korban
(mikrogram/m3) = backup atau dan tidak ada
0-50 4. Untuk bencana backup atau
Asap, status ISPU 4. Untuk bencana
= 51-299 atau Asap, status ISPU
5. Untuk bencana >= 300 atau
Asap, nilai 5. Untuk bencana
partikulat udara Asap, nilai
dari BMKG kondisi partikulat udara
terkini => 50-350 dari BMKG kondisi
terkini = 350
Aset dan Infrastrujtur Semua bencana diluar 1. Gedung layak dan 1. Gedung 1. Gedung rusak/
non IT (Gedung dan Asap aman digunakan mengalami terbakar/ runtuh/
fasilitasnya) 2. Gedung dapat kerusakana tidak layak dan
diakses sebagian tapi atau tidak aman
masih layak digunakan
digunakan atau 2. Gedung terisolasi
2. Gedung terisolasi dan tidak dapat
namun masih diakses
dapat diakses

Jarak Uker dari Pusat Kebakaran (selain Gedung Uker BRI Geudng Uker BRI pada Gedung Uker
Bencana kebakaran mengikuti berada pada jarak >= jarak <= 100 meter BRI terbakar dan
penentuan status 300 meter dari pusat dari pusat kebakaran menghentikan
bencana dari BPNB/ kebakaran kelangsungan
BPBD) operasional bisnis

Kesimpulan Deklarasi Bencana 1. Minimal salah satu indikator berstatus Bencana (Merah); atau
2. Minimal dua indikator berstatus Waspada (Kuning); atau
3. Berdasarkan deklarasi bencana dari pemerintahan/ intsansi setempat
Catatan Deklarasi gangguan/ bencana yang disebabkan oleh Teknologi hanya
dapat ditetapkan oleh TMK Kanpus berdasarkan rekomendasi dari TPT
Kanpus

22
KESIAPAN DAN TANGGAP DARURAT KEBAKARAN

a. TPF bertanggung jawab untuk mempersiapkan terhadap ancaman


kebakaran sebagai berikut:
Memasang alat deteksi kebakaran pada gedung (misalnya smoke/ heat
detector). Adanya detektor kebakaran yang dapat berfungsi dengan baik
dapat mengurangi jumlah korban bencana secara signifikan.
Memasang alat pemadam kebakaran (APAR) sesuai ukuran ruangan pada
setiap lantai.
Memasang detektor kebakaran pada daerah penting gedung, terutama di
lorong, ruangan penyimpanan serta ruangan kerja.
Tes detektor tersebut secara berkala.
b. TPF bertanggung jawab untuk memberikan penjelasan kepada pekerja/
pengawas lantai yang ditunjuk mengenai langkah-langkah yang harus
dilakukan dalam menghadapi kondisi darurat akibat kebakaran, serta
penjelasan pencegahan bahaya kebakaran serta cara penggunaan APAR
sesuai dengan Instruksi Kerja APAR.

23
TANGGAP DARURAT KEBAKARAN
Pekerja atau orang yang pertama kali
yang mengetahui/melihat kebakaran
segera mengambil APAR yang terdekat dan
berusaha memadamkan api sambil berteriak
memberitahukan kepada Tim Pemulihan
Kelangsungan Usaha (TPKU) di Unit Kerjanya
untuk segera melaporkan adanya kebakaran
kepada Tim Manajemen Krisis (TMK)
Tim Pemulihan Kelangsungan Usaha (TPKU)
menghubungi nomor telepon Pemadam
Kebakaran yang terdekat (nomor-nomor
telepon penting agar tersedia di setiap
Unit Kerja). Jangan lupa untuk memberikan
nama dan alamat gedung, lantai dan lokasi
kebakaran. Tim Pemulihan Kelangsungan
Usaha (TPKU) memberitahu satpam gedung/
pengelola gedung dan mengaktifkan alarm
kebakaran secara manual
Apabila evakuasi/penyelamatan akan dilakukan, Pengawas lantai
mengumpulkan pekerja dan tamu serta arahkan untuk meninggalkan ruangan
dengan menggunakan sarana jalan keluar terdekat menuju assembly area
(tempat berkumpul).
Pengawas lantai memastikan semua orang telah meninggalkan lokasi tempat
kebakaran.
Pengawas lantai dapat menggunakan alat Pemadam Kebakaran untuk
mematikan api jika terjadi kebakaran kecil. (Catatan: Hanya dilakukan jika
aman dan sudah dilatih dengan baik. Pastikan harus bersama dengan
seseorang ketika mematikan kebakaran)

24
TANGGAP DARURAT KEBAKARAN
Jika kebakaran tidak mungkin dapat dikuasai atau tidak dapat
dipadamkan, pekerja dapat melakukan hal-hal
sebagai berikut:
Pecahkan Fire Alarm Break Glass pada panel hydrant
terdekat.
Simpan semua dokumen penting di lemari tahan api
(Fire Proof Cabinets) yang terdapat pada setiap lantai.
Kosongkan ruangan kerja dan tutup semua pintu di
belakang Anda.
Turun lewat tangga darurat terdekat dan jangan menggunakan lift.
Tunggu hingga instruksi selanjutnya dari petugas yang berwenang dalam
keadaan darurat, keamanan gedung, atau Ketua TPF sebelum melakukan
evakuasi (kecuali jika bahaya jelas terjadi atau bahaya yang tiba-tiba)

Jika terjebak dalam kantor, ruangan, atau lokasi, pekerja dapat melaku-
kan hal-hal sebagai berikut:
Selipkan kain dibawah pintu untuk menghindari asap.
Tutup semua pintu yang ada diantara Anda dan kebakaran tersebut.
Gunakan telepon, jika memungkinkan, dan memberitahu Pemadam Keba-
karan lokasi dan situasi yang Anda hadapi.

EXIT

25
KESIAPAN DAN TANGGAP DARURAT BANJIR
Ketua TMK memastikan kesiapan Unit Kerja dalam menghadapi bencana
banjir.
Ketua TPF agar selalu mengupdate informasi mengenai bencana melalui
situs BMKG (http://www.bmkg.go.id/) dan situs BNPB (http://www.
bnpb.go.id/) atau sarana informasi lainnya untuk mengetahui potensi risiko
terjadinya cuaca ekstrem dan potensi terjadinya banjir di lokasi masing-
masing.

Pada saat akan terjadi banjir:


a. Semua dokumen/ arsip kantor, terutama dokumen/ arsip penting dibungkus
dengan plastik termasuk kunci lemari arsip/ kluis dan dipindahkan ke
tempat yang aman/ tidak basah, terutama di tempat yang lebih tinggi dan
dipastikan air tidak bisa masuk ke dalam lemari arsip/kluis.
b. Semua peralatan elektronik yang tidak digunakan dan yang dapat rusak
dikondisikan mati (tidak berfungsi), karena banjir menyebabkan korsleting
listrik. Barang-barang tersebut dibungkus plastik dan diamankan ketempat
yang tidak terjangkau banjir.

26
TANGGAP DARURAT BANJIR
Pada saat terjadi banjir:
a. Jika bencana banjir sudah melanda maka matikan
seluruh aliran listrik dari sentralnya dan hubungi PLN untuk
mematikan listrik pada wilayah banjir.
b. Petugas pengamanan dan/atau seluruh pekerja penemu
insiden, pada kesempatan pertama segera melakukan
tindakan penanggulangan bencana banjir dengan
menghubungi Dinas/instansi Badan Penanggulangan Bencana Daerah
penanganan dampak bencana banjir dalam rangka meminimalkan risiko
kerugian BRI.
c. Petugas pengamanan secara aktif melakukan pemeriksaan keamanan
gedung kantor maupun lingkungan sekitar gedung kantor yang terkena
dampak bencana banjir.
d. Ketua TPF mengingatkan pekerja mengenai langkah keselamatan saat terjadi
banjir, antara lain:
Jangan mencoba untuk berjalan di daerah banjir dengan ketinggian
diatas lutut.
Jika berada di dalam kendaraan, segera tinggalkan
kendaraan saat air naik dengan cepat.
Jika diperlukan, lakukan evakuasi ke tempat yang lebih
tinggi.
e. Ketua TPF bertanggung jawab membuat laporan terjadinya
bencana banjir termasuk kerusakan dan korban bila ada kepada ketua TMK
dan TPMKU.

27
KESIAPAN DAN TANGGAP BENCANA ASAP
a. Bagi Unit Kerja yang terdampak
atau berada sangat dekat dengan
sumber kebakaran hutan, ladang,
kebun, yang menyebabkan level Indeks
Standar Pencemaran Udara (ISPU)
berada pada status berbahaya serta
telah berlangsung selama beberapa
hari kerja, maka Unit Kerja dapat
diusulkan untuk tidak membuka layanan
operasional. Ijin tidak membuka layanan
operasional tersebut harus mendapatkan
persetujuan dari Ketua TMK dan
dilaporkan kepada kanwil, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pemimpin Unit Kerja agar memastikan terdapat pengumuman kepada
nasabah apabila unit kerja tidak melakukan kegiatan operasional atau
terdapat perubahan jam layanan nasabah.
Pemimpin unit kerja agar memastikan ketersediaan kas di ATM sehingga
kebutuhan nasabah akan uang kas dapat tetap terlayani.
Dengan pertimbangan pelayanan kepada nasabah, Pinca dapat
menyediakan layanan Teras keliling yang ditempatkan di lokasi strategis.
b. Bagi Unit Kerja yang terpapar asap, jam operasional dapat
dipertimbangkan lebih singkat dengan memperhatikan parameter kesehatan
udara dan kondisi di masing-masing wilayah berdasarkan kebijakan dari
Ketua TMK setempat atau dari Divisi Layanan.
c. Ketua TMK Kanwil yang terpapar bencana asap dapat mengusulkan
pelaksanaan evakuasi pekerja Kanwil dan Uker Binaan kepada Divisi KPS
SDM Kantor Pusat apabila telah ada pengumuman/ pernyataan Darurat
Asap dari Gubernur/ pemerintah setempat bahwa pencemaran udara
berada pada status Berbahaya, dengan parameter sebagai berikut:
Nilai Konsentrat Partikulat Udara >350 mikrogram/m3 (Berbahaya)
Status ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) 300 (Berbahaya)
d. Pelaksanaan evakuasi dan anggarannya terlebih dahulu harus berkoordinasi
dan mendapat persetujuan dari Divisi KPS SDM Kantor Pusat secara case by
case.

28
TANGGAP BENCANA ASAP
Proses evakuasi dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Ketua TMK Kanwil setelah mendapat ijin dari Divisi KPS SDM Kantor Pusat
agar berkoordinasi dengan Sendik atau Uker terdekat yang tidak terpapar
bencana asap sebagai tempat tujuan evakuasi pekerja
2. Evakuasi dilaksanakan secara bergantian yang diatur oleh Ketua TMK
masing-masing Unit Kerja.
3. Evakuasi dilakukan maksimal selama 5 (lima) hari kerja termasuk hari
perjalanan. Bagi pekerja yang telah mendapatkan kesempatan evakuasi,
evakuasi berikutnya dilaksanakan paling cepat 1 (satu) bulan setelah
pelaksanaan evakuasi sebelumnya (memperhatikan kewajaran dan
pengawasan operasional di Unit Kerja).
4. Lokasi evakuasi adalah rumah/ domisili pekerja masing-masing atau
Sendik/ Uker terdekat yang tidak terpapar bencana asap.

29
PANDUAN PROSEDUR EVAKUASI UMUM
1. Evakuasi harus dimulai segera setelah adanya bunyi
alarm.
2. Bersikap tenang, jangan terburu-buru dan jangan
panik.
3. Hentikan seluruh pekerjaan yang sedang Anda
lakukan.
4. Jika memungkinkan, kumpulkan benda-benda pribadi
yang hanya berada di meja kerja Anda. Jangan
kembali ke meja kerja Anda untuk mengumpulkan peralatan pribadi jika
Anda berada di lantai lain ketika alarm berbunyi.
5. Jangan membawa makanan / minuman selama masa evakuasi.
6. Jika memungkinkan, tutup pintu ruangan Anda, tapi jangan mengunci pintu.
7. Lanjutkan menuju pintu keluar terdekat
dan segera menuju tangga darurat.
Segera turun, dan tetap di lajur sebelah
kiri, gunakan pegangan tangga sebagai
panduan. Jalur sebelah kanan harus tetap
diusahakan kosong agar bisa dilalui oleh
petugas penyelamatan. Jangan gunakan
lift.
8. Segera menuju Lokasi Berkumpul, dan
melapor pada Pengawas lantai untuk
melakukan penghitungan. Pastikan bahwa
nama Anda telah dihitung.
9. Pengawas lantai bertanggung jawab
untuk melaporkan hasil penghitungan
pekerja kepada TPF .
10. Tetap berada di Lokasi Berkumpul hingga mendapat pengarahan
dari Pengawas lantai atau dari pihak yang berwenang.
11. JANGAN kembali kedalam gedung hingga mendapat instruksi dari
Pengawas lantai.

30
PANDUAN EVAKUASI PEKERJA DISABILITAS/
PEKERJA YANG MEMBUTUHKAN BANTUAN KHUSUS
1. Agar pekerja yang ditunjuk sebagai buddy system bertanya terlebih dahulu
kepada pekerja yang dibantu, perihal apa yang harus dibantu, cara dan
pertimbangan khusus atau barang-
barang yang perlu dibawa.
2. Orang yang dengan disabilitas
tersebut harus menunggu di pintu yang
terhubung dengan tangga darurat
sampai mayoritas dari pekerja yang
tidak dengan disabilitas telah melewati
tangga darurat. Setelah itu, segeralah
turun tangga, tetaplah di sisi kanan
menggunakan pegangan tangga
sebagai bantuan jika diperlukan. Sisi
kiri dari tangga harus dibiarkan terbuka
untuk personel darurat menaiki tangga.
3. Jangan menggunakan lift, kecuali jika diperbolehkan untuk melakukan hal
tersebut oleh pihak yang berwenang (mis. polisi atau petugas pemadam
kebakaran). Lift dapat jatuh selama keadaan darurat yang melibatkan
gedung. Jangan membawa makanan atau minuman menuruni tangga
selama evakuasi.
4. Jika seorang pekerja dengan disabilitas tertinggal dan dalam bahaya, Pen-
gawas lantai atau penggantinya bertanggung jawab untuk memberitahu
Ketua Tim Pemulihan Fasilitas atau penggantinya segera setelah mencapai
tempat berkumpul, yang petanya dipasang di setiap lantai di dinding dekat
lift. Hanya para profesional terlatih yang harus mencoba untuk menyelamat-
kan pekerja dengan disabilitas yang tertinggal. Jika hal ini terjadi, laporkan
informasi ini kepada Ketua Tim Pemulihan Fasilitas dan / atau penggan-
tinya yang telah ditentukan. Beritahukan lantai pekerja tersebut tertinggal,
perkiraan lokasi di lantai tersebut, tangga darurat, jenis dengan disabilitas si
pekerja, kebutuhan medis jika diketahui, dan lainnya.

31
CONTOH DAFTAR CALL TREE TMK UKER
JABATAN
NAMA ALAMAT LOKASI TELEPON NOMOR
PADA TMK
<Masukkan Nama <Masukkan Ketua TMK <Masukkan Kantor <Masukkan no telp>
Ketua TMK> Alamat> Lokasi TMK>

Rumah <Masukkan no telp>

Selular/HP <Masukkan no telp>

Kantor
Rumah
Selular/HP

CONTOH DAFTAR TELEPON PENTING


Koordinator Keamanan Gedung <isi nomor telp>
gedung bri 1 Kantor Unit Keamanan BRI <isi nomor telp>
Kantor Pengelola Gedung <isi nomor telp>
Manager Gedung <isi nomor telp>

Koordinator Keamanan Gedung <isi nomor telp>


gedung bri 2 Kantor Unit Keamanan BRI <isi nomor telp>
Kantor Pengelola Gedung <isi nomor telp>
Manager Gedung <isi nomor telp>

Ambulans JKK 119


dki jaya Ambulans Kecelakaan 118
Dinas Kebakaran (021) 371-309
(021) 374-766
Informasi Layanan Pos 161
Informasi PAM JAYA (021) 392-0133
Informasi Tol PT Jasa Marga (021) 801-1735
Komnas HAM (021) 392-5230
Pelayanan Gangguan PLN 123
Penerangan HIV / AIDS 163

32
CONTOH DAFTAR WARDEN
NAMA KANTOR LOKASI LANTAI TELEPON SELULER
KANTOR
<Masukkan
<Masukkan Nama <Masukkan Nama <Masukkan Detil Nomor Telepon <Masukkan Nomor
Pekerja> Unit Kerja> Lokasi Lantai> Kantor beserta Telepon>
ext.>
Lantai 2 - Ruang
Contoh: 021 5678901 0818 567xxxx
Cabang veteran AO
Siti ext. 1234>

CHECKLIST KEAMANAN DAN KESELAMATAN JIWA


Prosedur TERPENUHI Komentar
(Beri tanda X)
Gedung memiliki sistem deteksi asap lengkap yang dirancang
untuk menunjukkan sumber asap di dalam gedung.
Pendeteksi lokal mengaktifkan alarm yang dapat didengar dan
dapat dilihat
Sistem pengaman kebakaran utama adalah sistem sprinkler
otomatis yang diaktifkan oleh panas yang abnormal dimanapun
didalam gedung.
Alarm kebakaran langsung dihubungkan dengan dinas Pem-
adam Kebakaran. Jika alarm aktif, maka dinas Pemadam Keba-
karan akan segera menanggapi.
Gedung memiliki sistem komunikasi overhead (Public Announce-
ment) yang digunakan untuk memberitahukan tenant mengenai
jenis keadaan darurat dan apakah diperlukan tindakan evakuasi
lantai /gedung.
Lokasi alarm kebakaran diletakkan pada tempat yang strategis
disetiap lantai.
Pintu sudah dilengkapi dengan sistem magnetik dan melekat
pada sistem kebakaran / keamanan dan keselamatan jiwa.
Power system dalam kedaan darurat akan aktif dalam beberapa
detik jika ada kegagalan listrik di dalam gedung.

33
DOKUMEN BCM YANG HARUS DIPERSIAPKAN
1. Penilaian Risiko Ancaman dan Bencana
(PRAB)
Merupakan penilaian Unit Kerja terhadap
risiko dan ancaman bencana spesifik yang
mungkin melanda Unit Kerja. Diperbaharui
min 1 tahun sekali

2. SK Tim Manajemen Krisis (TMK)


Merupakan Surat Keputusan
yang dikeluarkan oleh Unit Kerja
mengenai penunjukan anggota tim
penanggulangan bencana di Unit Kerja
(Tim Manajemen Krisis)
Diperbaharui min 1 tahun sekali

3. Alternate Site
Penentuan lokasi alternatif ketika lokasi utama
Unit Kerja tidak dapat digunakan karena
gangguan/ bencana

4. Call Tree
Merupakan daftar kontak pekerja di Unit
Kerja, menjelaskan kewajiban siapa
menghubungi siapa.
Diperbaharui setiap ada perubahan
pekerja

34